Anda di halaman 1dari 15

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian 5.1.1 Analisis Univariat 1. Distribusi Frekuensi Jenis Lantai Rumah di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2011
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Jenis Lantai Rumah di Wilayah Kerja

UPTD Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kabupaten Majalengka Tahun 2011


No. 1. 2. Jentis Lantai Rumah Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi Syarat Jumlah f 156 116 272

Kadipaten
% 57,4 42,6 100

Berdasarkan tabel 5.1 di atas diketahui bahwa lebih dari setengahnya jenis lantai rumah tidak memenuhi syarat kesehatan yaitu sebanyak 156 responden (57,5%) dan kurang dari setengahnya jenis lantai rumah memenuhi syarat kesehatan yaitu sebanyak 116 responden (42,6%). 2. Distribusi Frekuensi Dinding Rumah di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2011
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Dinding Rumah di Wilayah Kerja UPTD

Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2011


No. 1. 2. Dinding Rumah Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi Syarat Jumlah f 156 116 272 % 57,4 42,6 100

52

53

Berdasarkan tabel 5.2 di atas diketahui bahwa lebih dari setengahnya dinding rumah tidak memenuhi syarat kesehatan yaitu sebanyak 156 responden (57,5%) dan kurang dari setengahnya dinding rumah memenuhi syarat kesehatan yaitu sebanyak 116 responden (42,6%). 3. Distribusi Frekuensi Ventilasi Rumah di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2011
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Ventilasi Rumah di Wilayah Kerja UPTD

Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2011


No. 1. 2. Ventilasi Rumah Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi Syarat Jumlah f 137 135 272 % 50,4 49,6 100

Berdasarkan tabel 5.3 di atas diketahui bahwa lebih dari setengahnya dinding rumah tidak memenuhi syarat kesehatan yaitu sebanyak 137 responden (50,4%) dan kurang dari setengahnya ventilasi rumah memenuhi syarat kesehatan yaitu sebanyak 135 responden (49,6%). 4. Distribusi Frekuensi Tingkat Kepadatan Hunian di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2011
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Tingkat Kepadatan Hunian di Wilayah

Kerja UPTD Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2011
No. 1. 2. Tingkat Kepadatan Hunian Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi Syarat Jumlah f 159 113 272 % 58,5 41,5 100

54

Berdasarkan tabel 5.4 di atas diketahui bahwa lebih dari setengahnya tingkat kepadatan hunian tidak memenuhi syarat kesehatan yaitu sebanyak 156 responden (58,5%) dan kurang dari setengahnya tingkat kepadatan hunian memenuhi syarat kesehatan yaitu sebanyak 113 responden (41,5%). 5. Distribusi Frekuensi Kelembaban di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2011
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Kelembaban di Wilayah Kerja UPTD

Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2011


No. 1. 2. Kelembaban Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi Syarat Jumlah f 153 119 272 % 56,2 43,8 100

Berdasarkan tabel 5.5 di atas diketahui bahwa lebih dari setengahnya kelembaban tidak memenuhi syarat kesehatan yaitu sebanyak 153 responden (56,2%) dan kurang dari setengahnya kelembaban memenuhi syarat kesehatan yaitu sebanyak 119 responden (43,8%). 5.1.2 Analisis Bivariat 1. Hubungan Antara Lantai Rumah Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2011
Tabel 5.6 Hubungan Antara Lantai Rumah Dengan Kejadian Pneumonia

Pada Balita di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2011
Ventilasi Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi Syarat Jumlah Kejadian Pneumonia Pneumina Bukan Pneumonia n % n % 93 68,4 63 46,3 43 31,6 73 53,7 136 100 136 100 Total n 156 116 272 % 57,4 42,6 100 p value 0,000 OR 95%CI

2,506 1,529-4,108

55

Hasil analisis tabulasi silang pada tabel 5.6 memperlihatkan bahwa pada responden yang mempunyai ventilasi tidak memenuhi syarat, proporsi kejadian pneumonia pada balita lebih besar (68,4%) dibandingkan dengan yang bukan pneumonia (46,3%). Pada responden yang mempunyai ventilasi memenuhi syarat, proporsi kejadian pneumonia lebih kecil (31,6%) dibanding yang bukan pneumonia (53,7%). Risiko mengalami terjadinya pneumonia pada balita yang mempunyai ventilasi tidak memenuhi syarat adalah 2,506 kali lebih besar dibandingkan responden yang mempunyai ventilasi memenuhi syarat, secara statistik bermakna dengan 95%CI; 1,529 - 4,108 dan nilai p = 0,000. 2. Hubungan Antara Kondisi Dinding Rumah Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2011
Tabel 5.7 Hubungan Antara Kondisi Dinding Rumah Dengan Kejadian

Pneumonia Pada Balita di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2011
Kejadian Pneumonia Pneumina Bukan Pneumonia n % n % 91 66,9 65 47,8 45 33,1 71 52,2 136 100 136 100 Total n 156 116 272 % 57,4 42,6 100 p value 0,002

Kondisi Dinding Rumah Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi Syarat Jumlah

OR 95%CI

2,209 1,352-3,608

Hasil analisis tabulasi silang pada tabel 5.7 memperlihatkan bahwa pada responden yang mempunyai kondisi dinding rumah tidak memenuhi syarat, proporsi kejadian pneumonia pada balita lebih

56

besar (66,9%) dibandingkan dengan yang bukan pneumonia (47,8%). Pada responden yang mempunyai kondisi dinding rumah memenuhi syarat, proporsi kejadian pneumonia lebih kecil (33,1%) dibanding yang bukan pneumonia (52,1%). Risiko mengalami terjadinya pneumonia pada balita yang mempunyai kondisi dinding rumah tidak memenuhi syarat adalah 2,209 kali lebih besar dibandingkan responden yang mempunyai kondisi dinding rumah memenuhi syarat, secara statistik bermakna dengan 95%CI; 1,352 3,608 dan nilai p = 0,002. 3. Hubungan Antara Luas Ventilasi Rumah Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2011
Tabel 5.8 Hubungan Antara Luas Ventilasi Rumah Dengan Kejadian

Pneumonia Pada Balita di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2011
Kejadian Pneumonia Pneumina Bukan Pneumonia n % n % 89 65,4 48 35,3 47 34,6 88 64,7 136 100 136 100 Total n 137 135 272 % 50,4 49,6 100 p value 0,000

Luas Ventilasi Rumah Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi Syarat Jumlah

OR 95%CI

3,472 2,109-5,716

Hasil analisis tabulasi silang pada tabel 5.8 memperlihatkan bahwa pada responden yang mempunyai luas ventilasi rumah tidak memenuhi syarat, proporsi kejadian pneumonia pada balita lebih

besar (65,4%) dibandingkan dengan yang bukan pneumonia (35,3%). Pada responden yang mempunyai luas ventilasi rumah memenuhi

57

syarat, proporsi kejadian pneumonia lebih kecil (34,6%) dibanding yang bukan pneumonia (64,7%). Risiko mengalami terjadinya pneumonia pada balita yang mempunyai luas ventilasi rumah tidak memenuhi syarat adalah 3,472 kali lebih besar dibandingkan responden yang mempunyai luas lantai rumah memenuhi syarat, secara statistik bermakna dengan 95%CI; 2,109 5,716 dan nilai p = 0,000. 4. Hubungan Antara Tingkat Kepadatan Hunian Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2011
Tabel 5.9 Hubungan Antara Tingkat Kepadatan Hunian Dengan

Kejadian Pneumonia Pada Balita di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2011
Kejadian Pneumonia Pneumina Bukan Pneumonia n % n % 95 69,9 64 47,1 41 30,1 72 52,9 136 100 136 100 Total n 159 113 272 % 58,5 41,5 100 p value 0,000

Tingkat Kepadatan Hunian Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi Syarat Jumlah

OR 95%CI

2,607 1,585-4,287

Hasil analisis tabulasi silang pada tabel 5.9 memperlihatkan bahwa pada responden dengan tingkat kepadatan hunian tidak memenuhi syarat, proporsi kejadian pneumonia pada balita lebih

besar (69,9%) dibandingkan dengan yang bukan pneumonia (47,1%). Pada responden dengan tingkat kepadatan hunian memenuhi syarat, proporsi kejadian pneumonia lebih kecil (30,1%) dibanding yang bukan pneumonia (52,9%).

58

Risiko mengalami terjadinya pneumonia pada balita dengan tingkat kepadatan hunian tidak memenuhi syarat adalah 2,607 kali lebih besar dibandingkan responden dengan tingkat kepadatan hunian memenuhi syarat, secara statistik bermakna dengan 95%CI; 1,585 4,287 dan nilai p = 0,000. 5. Hubungan Antara Kelembaban Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2011
Tabel 5.10 Hubungan Antara Kelembaban Dengan Kejadian

Pneumonia Pada Balita di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2011
Kejadian Pneumonia Pneumina Bukan Pneumonia n % n % 91 66,9 62 45,6 45 33,1 74 54,4 136 100 136 100 Total n 153 119 272 % 56,2 43,8 100 p value 0,001

Kelembaban Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi Syarat Jumlah

OR 95%CI

2,414 1,477-3,945

Hasil analisis tabulasi silang pada tabel 5.10 memperlihatkan bahwa pada responden dengan kelembaban tidak memenuhi syarat, proporsi kejadian pneumonia pada balita lebih besar (66,9%) dibandingkan dengan yang bukan pneumonia (45,6%). Pada responden dengan kelembaban memenuhi syarat, proporsi kejadian pneumonia lebih kecil (33,1%) dibanding yang bukan pneumonia (54,4%). Risiko mengalami terjadinya pneumonia pada balita dengan kelembaban tidak memenuhi syarat adalah 2,414 kali lebih besar

59

dibandingkan responden dengan kelembaban memenuhi syarat, secara statistik bermakna dengan 95%CI; 1,477 3,945 dan nilai p = 0,001.

5.2

Pembahasan

5.2.1 Hubungan Antara Lantai Rumah Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2011 Hasil uji statistik diperoleh kesimpulan lantai rumah mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian pneumonia (p = 0,000). Besarnya risiko menderita pneumonia dilihat dari nilai OR = 2,506 yang artinya balita yang tinggal di rumah dengan lantai rumah tidak memenuhi syarat memiliki risiko terkena pneumonia sebesar 2,506 kali lebih besar dibandingkan balita yang tinggal di rumah dengan lantai memenuhi syarat. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa risiko balita terkena pneumonia akan meningkat jika tinggal di rumah yang lantainya tidak memenuhi syarat. Lantai rumah yang tidak memenuhi syarat tidak terbuat dari semen atau lantai rumah belum berubin. Rumah yang belum berubin juga lebih lembab dibandingkan rumah yang lantainya sudah berubin. Risiko terjadinya pneumonia akan lebih tinggi jika balita sering bermain di lantai yang tidak memenuhi syarat. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan hasil penelitian di Puskesmas Merden Kabupaten Banjarnegara tahun 2000 yang menyimpulkan bahwa jenis lantai mempunyai hubungan dengan kejadian pneumonia pada balita.8 Penelitian lainnya yang mendukung adalah hasil penelitian di Kabupaten Salatiga tahun 2002 menyimpulkan bahwa jenis lantai berhubungan dengan kejadian pneumonia pada

60

balita.10 Hubungan antara jenis lantai dengan kejadian pneumonia pada balita bersifat tidak langsung, artinya jenis lantai yang kotor dan kondisi status gizi balita yang kurang baik memungkinkan daya tahan tubuh balita rendah sehingga rentan terhadap kejadian sakit. Secara hipotesis jenis lantai tanah (tidak kedap air) memiliki peran terhadap proses kejadian pneumonia, melalui kelembaban dalam ruangan karena lantai tanah cenderung menimbulkan kelembaban. Lantai yang tidak kedap air dapat mempengaruhi kelembaban di dalam rumah dan kelembaban dapat mempengaruhi berkembangbiaknya penyebab pneumonia. 5.2.2 Hubungan Antara Kondisi Dinding Rumah Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2011 Hasil penelitian tentang kondisi dinding rumah diperoleh data bahwa responden pada kelompok kasus ada 33,1% yang memenuhi syarat dan 66,9% tidak memenuhi syarat. Hasil uji statistik diperoleh kesimpulan kondisi dinding rumah mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian pneumonia (p = 0,013). Besarnya risiko menderita pneumonia dilihat dari nilai OR = 2,209 artinya balita yang tinggal di rumah dengan kondisi dinding rumah tidak memenuhi syarat memiliki risiko terkena pneumonia sebesar 2,209 kali lebih besar dibandingkan balita yang tinggal di rumah dengan kondisi dinding rumah memenuhi syarat. Hasil penelitian yang relevan adalah penelitian tahun 2005 yang dilakukan di Kecamatan Cilacap Tengah Kabupaten Cilacap yang menyimpulkan bahwa kondisi fisik rumah berhubungan dengan kejadian ISPA dengan OR = 2,2.

61

Perilaku hidup bersih dan sehat berhubungan dengan kejadian ISPA dengan OR = 2,3.11 Kondisi dinding rumah tidak dilengkapi dengan luas ventilasi rumah yang berfungsi untuk pengaturan udara, karena kondisi dinding rumah dapat memberikan kontribusi terciptanya kelembaban dan temperatur yang

memungkinkan suatu bibit penyakit akan mati atau berkembangbiak. Jenis dinding rumah yang dibuat secara tidak permanen dapat mempengaruhi kelembaban di dalam rumah dan kelembaban dapat mempengaruhi

berkembangnya penyebab pneumonia. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa risiko balita terkena pneumonia akan meningkat jika tinggal di rumah yang kondisi dinding rumahnya tidak memenuhi syarat. Kondisi dinding rumah yang tidak memenuhi syarat ini disebabkan status sosio ekonomi yang rendah, sehingga keluarga hanya mampu membuat rumah dari dinding yang terbuat dari anyaman bambu atau belum seluruhnya terbuat dari bahan yang tidak mudah terbakar. Dinding rumah yang yang terbuat dari anyaman bambu maupun dari kayu umumnya banyak berdebu yang dapat menjadi media bagi virus atau bakteri untuk terhirup penghuni rumah yang terbawa oleh angin. Status gizi balita yang rendah meningkatkan risiko terjadinya pneumonia. 5.2.3 Hubungan Antara Luas Ventilasi Rumah Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2011 Hasil penelitian tentang luas ventilasi rumah diperoleh data bahwa responden pada kelompok kasus ada 34,6% yang memenuhi syarat dan 65,6%

62

tidak memenuhi syarat. Hasil uji statistik diperoleh kesimpulan luas ventilasi rumah mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian pneumonia (p = 0,000). Besarnya risiko menderita pneumonia dilihat dari nilai OR = 2,607 artinya balita yang tinggal di rumah dengan luas ventilasi rumah tidak memenuhi syarat memiliki risiko terkena pneumonia sebesar 2,607 kali lebih besar dibandingkan balita yang tinggal di rumah dengan luas ventilasi memenuhi syarat. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa risiko balita terkena pneumonia akan meningkat jika tinggal di rumah yang luas ventilasi rumahnya tidak memenuhi syarat. Luas ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat disebabkan karena tipe rumah yang kecil karena kepemilikan tanah yang sempit. Ventilasi rumah lebih banyak hanya di rumah bagian depan. Sementara pada bagian samping sudah berhimpitan dengan dinding rumah tetangga. Ventilasi rumah berkaitan dengan kelembaban rumah, yang mendukung daya hidup virus maupun bakteri. Sinar matahari dapat membunuh bakteri atau virus, sehingga dengan pencahayaan yang memadai akan mengurangi risiko terjadinya pneumonia.37 Hasil penelitian yang mendukung hasil penelitian ini adalah penelitian di Puskesmas Merden Kabupaten Banjarnegara tahun 2000 yang menyimpulkan bahwa luas jendela mempunyai hubungan dengan kejadian pneumonia pada balita.8 Penelitian di 5 (lima) Puskesmas Kabupaten Boyolali pada tahun 2000 menyimpulkan bahwa ventilasi kurang mempunyai hubungan dengan kejadian pneumonia pada anak balita.9 Hasil penelitian di Kabupaten Magelang tahun 1997

63

menyimpulkan bahwa ventilasi berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita.10 Perhawaan (ventilasi) yang cukup untuk proses pergantian udara dalam ruangan. Ukuran ventilasi yang memenuhi syarat yaitu 10 % luas lantai.32 Luas ventilasi rumah yang berfungsi untuk pengaturan udara, karena kondisi dinding rumah dapat memberikan kontribusi terciptanya kelembaban dan temperatur yang memungkinkan suatu bibit penyakit akan mati atau berkembangbiak. Luas ventilasi rumah selain bermanfaat untuk sirkulasi udara tempat masuknya cahaya ultraviolet juga mengurangi kelembaban dalam ruangan. Kelembaban tinggi dapat disebabkan karena uap air dari keringat manusia maupun pernapasan. Kelembaban dalam ruang tertutup dimana banyak terdapat manusia di dalamnya lebih tinggi kelembaban dibanding diluar ruang. Hal ini makin membahayakan kesehatan misalnya jika terdapat penyebab pneumonia. 5.2.4 Hubungan Antara Kepadatan Hunian Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2011 Hasil penelitian tentang kepadatan hunian diperoleh data bahwa responden pada kelompok kasus ada 30,1% yang memenuhi syarat dan 69,9% tidak memenuhi syarat. Hasil uji statistik diperoleh kesimpulan kepadatan hunian mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian pneumonia (p = 0,000). Besarnya risiko menderita pneumonia dilihat dari nilai OR = 2,607 artinya balita yang tinggal di rumah dengan kepadatan hunian tidak memenuhi syarat memiliki risiko terkena pneumonia sebesar 2,607 kali lebih besar dibandingkan balita yang tinggal di rumah dengan kepadatan hunian memenuhi syarat.

64

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian di 5 (lima) Puskesmas Kabupaten Boyolali pada tahun 2000 yang menyimpulkan bahwa kepadatan hunian mempunyai hubungan dengan kejadian pneumonia pada anak balita.9 Hasil penelitian di Kabupeten Magelang tahun 1997 dan di kota Salatiga tahun 2002 juga menyimpulkan bahwa kepadatan hunian berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita. Jumlah kamar tidur dan pengaturannya disesuaikan dengan umur dan jenis kelaminnya.10,22 Ukuran kamar tidur anak yang berumur lebih kurang 5 tahun minimal 4.5 m2 dan yang lebih dari 5 tahun minimal 9 m2. Kepadatan hunian ditentukan dengan
jumlah kamar tidur dibagi jumlah penghuni (sleeping density).32

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa risiko balita terkena pneumonia akan meningkat jika tinggal di rumah dengan tingkat hunian padat. Tingkat kepadatan hunian yang tidak memenuhi syarat disebabkan luas rumah yang tidak sebanding dengan jumlah keluarga yang menempati rumah. Luas rumah yang sempit dengan jumlah anggota keluarga yang banyak menyebabkan rasio penghuni dengan luas rumah tidak seimbang. Kepadatan hunian ini memungkinkan bahteri maupun virus dapat menular melalui pernapasan dari penghuni rumah yang satu ke penghuni rumah lainnya. 5.2.5 Hubungan Antara Kelembaban Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Majalengka Tahun 2011 Hasil penelitian tentang luas ventilasi rumah diperoleh data bahwa responden pada kelompok kasus ada 33,1% yang memenuhi syarat dan 66,9% tidak memenuhi syarat. Hasil uji statistik diperoleh kesimpulan kelembaban

65

mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian pneumonia (p = 0,001). Besarnya risiko menderita pneumonia dilihat dari nilai OR = 2,414 artinya balita yang tinggal di rumah dengan kelembaban tidak memenuhi syarat memiliki risiko terkena pneumonia sebesar 2,414 kali lebih besar dibandingkan balita yang tinggal di rumah dengan kelembaban memenuhi syarat.
Kualitas udara dalam rumah yang memenuhi syarat adalah bertemperatur ruangan sebesar 18 300C dengan kelembaban udara sebesar 40 % - 70 %.32 Kelembaban berkaitan dengan tempat hidup virus dan bahteri. Rumah yang memenuhi syarat bila nilai kelembabannya antara 40% - 70%.33 Hasil yang sejalan dengan penelitian ini adalah penelitian di 5 (lima)

Puskesmas Kabupaten Boyolali pada tahun 2000 yang kelembaban tinggi mempunyai hubungan dengan kejadian penumonia pada anak balita.9 Kelembaban merupakan sarana baik untuk perkembangan penyebab pneumonia. Di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kadipaten termasuk daerah dengan kepadatan rumah dan penduduk yang padat. Hal ini akan berpengaruh pada kelembaban di dalam rumah yang dapat berpengaruh terhadap berkembangnya penyebab pneumonia.

5.3

Keterbatasan Penelitian

5.3.1 Bias Seleksi Bias seleksi adalah kesalahan sistematik dalam memilih subjek, dimana pemilihan subjek menurut status pneumonia dipengaruhi oleh status paparannya. Bias seleksi yang terjadi dalam penelitian ini kemungkinan disebabkan oleh;

66

1.

Bias deteksi Bias deteksi disebabkan perbedaan dalam mendeteksi pneumonia dan bukan pneumonia yang kemungkinan terjadi karena seleksi responden yang masuk ke dalam kategori pneumonia dan bukan pneumonia berdasarkan catatan medik yang ada. Untuk mengurangi bias ini maka peneliti melakukan konfirmasi antara catatan medik dan hasil pemeriksaan penunjang.

2.

Bias non respons. Bias non respons terjadi bila responden menolak untuk diobservasi (menolak berpartisipasi dalam penelitian) sehingga mempengaruhi tingkat partisipasi kasus dan kontrol. Untuk mengatasi hal ini, maka responden diganti dengan cadangan/pengganti yaitu pasien lain.

5.3.2 Bias Informasi Bias informasi adalah bias dalam cara mengamati, melaporkan, mengukur, mencatat, mengklasifikasi dan menginterpretasi status paparan dan penyakit. Bias informasi yang kemungkinan terjadi dalam penelitian ini adalah bias pengukuran, yaitu pemeriksaan sampel hanya dilakukan pada parameter luas ventilasi dan kelembaban, tanpa melihat pencahayaan dan suhu.