Anda di halaman 1dari 8

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Waham 2.1.1 Definisi Waham adalah suatu keyakinan yang salah didasarkan pada kesimpulan salah mengenai realita eksterna yang sangat kuat, tidak sejalan dengan inteligensia pasien dan latar belakang cultural, yang tidak dapat dikoreksi dengan suatu alasan. Dalam definisi waham menegaskan bahwa keyakinan harus dipegang teguh.9 2.1.2 Etiologi Penyebab gangguan waham tidak diketahui. Berdasarkan factor biologis keadaan medis non psikiatri dapat menyebabkan waham, tetapi tidak setiap penderita tumor otak mempunyai waham. Factor yang unik dan masih belum dipahami dalam otak dan kepribadian pasien mungkin ikut berperan dengan patofisiologi spesifik gangguan waham. Keadaan neurologis yang paling sering disertai waham adalah keadaan yang mengenai system limbic dan ganglia basalis. Gangguan waham juga dapat timbul sebagai respon normal terhadap pengalaman abnormal pada lingkungan, system saraf tepi, atau system saraf pusat.3 Teori psikodinamik spesifik mengenai penyebab dan evolusi gejala waham melibatkan anggapan mengenai orang hipersensitif dan mekanisme ego spesifik pembentukan reaksi, proyeksi, dan penyangkalan. Dinamika yang mendasari pembentukan waham untuk pasien perempuan sama seperti pasien laki-laki. Teori yang dikemukakan oleh Freud berdasarkan autobiografi yang ditulis Daniel Paul Schreber menyatakan bahwa kecendrungan homoseksual yang tidak didasari akan dipertahankan melalui penyangkalan dan proyeksi. Kontribusi utama teori Freud, memperlihatkan peran proyeksi pada pembentukan pikiran waham.8 Norman Cameron menguraikan tujuh situasi yang dapat mempermudah berkembangnya gangguan waham: 1. Peningkatan harapan mendapatkan perlakuan yang sadistic. 2. Situasi yang meningkatkan ketidakpercayaan dan kecurigaan. 3. Isolasi social.

4. Situasi yang meningkatkan rasa iri dan cemburu. 5. Situasi yang merendahkan harga diri. 6. Situasi yang menyebabkan orang untuk melihat kekurangan mereka dalam diri orang lain. 7. Situasi yang meningkatkan potensi untuk perenungan terhadap kemungkinan arti dan motivasi. Factor tambahan seperti isolasi sensorik dan social, deprivasi sosioekonomi, dan gangguan kepribadian. Orang yang tuli,buta, dan kemungkinan imigran dengan kemampuan bahasa setempat yang terbatas dapat lebih rentan mengalami waham daripada populasi normal. Kerentanan meningkat seiring pertambahan usia.2 Bila frustasi akibat setiap kombinasi keadaan tersebut melebihi batas yang dapat ditoleransi seseorang, maka dia akan menarik diri, merasa cemas, mencari penjelasan masalah dan mengkristalkan waham sebagai solusi, walaupun seseorang tersebut menyadari ada sesuatu yang salah.7 2.1.3 Gambaran Waham. 1. Waham menurut konsep dasar. a. Waham sistematis : keyakinan yang palsu yang digabungkan oleh suatu tema atau peristiwa tunggal, melibatkan situasi yang menurut pikiran dapat terjadi di kehidupan nyata. Sebagai contohnya pasien dimata-matai oleh agen rahasia, mafia atau bos.9 b. Waham yang kacau (bizarre delusion) : keyakinan palsu yang aneh, mustahil, dan sama sekali tidak masuk akal, tidak berasal dari pengalaman hidup pada umumnya. Sebagai contohnya orang dari luar angkasa menanamkan suatu elektroda kedalam kepala pasien.2 2. Waham menurut onsetnya. a. Waham primer (autochthonous) : waham yang muncul secara tiba-tiba dan dengan keyakinan penuh namun tanpa peranan prilaku kejiwaan kearah itu. Sebagai contohnya seorang pasien mungkin tiba-tiba dan penuh keyakinan bahwa dia sedang mengalami perubahan kelamin, tanpa pernah memikirkan hal itu sebelumnya dan tanpa ada ide atau kejadian sebelumnya yang dapat dimengerti atas kesimpulan tersebut. Hal tersebut

merupakan ekspresi langsung dari proses patologi penyebab penyakit jiwa.5 b. Waham sekunder : keyakinan waham dapat dijelaskan atau dinilai sebagai perluasan dari keyakinan kultur atau mood dan dapat dimengerti saat diperoleh dari beberapa pengalaman yang tidak wajar sebelumnya. Beberapa waham sekunder Sebagai contohnya pasien yang mendengar suara-suara mungkin akan percaya bahwa ia telah diikuti. Beberapa waham sekunder memiliki fungsi intregratif yang membuat pengalaman asli lebih dapat dimengerti pasien.5 3. Kesesuaian waham dengan mood. a. Waham sejalan dengan mood : waham dengan isi yang sesuai dengan mood. Jika mood depresi isi waham akan melibatkan tema

ketidakmampuan seseorang, rasa bersalah, penyakit, kematian, nihilisme, atau hukuman yang pantas diterima. Jika mood manic isi waham akan mencakup masalah penghargaan, kekuatan, pengetahuan, atau identitas yang berlebihan, atau hubungan khusus dengan dewa atau orang terkenal.3 b. Waham yang tidak sejalan dengan mood : waham dengan isi yang tidak mempunyai hubungan dengan mood atau merupakan mood netral. Sebagai contohnya pasien depresi mempunyai waham control pikiran atau siar pikiran.3 4. Waham berdasarkan temanya. a. Waham kejar : waham dengan tema bahwa seseorang (atau orang yang dekat dengannya) diserang, diganggu, dicurangi, disiksa, atau menjadi korban persekongkolan. Sering ditemukan pada seorang pasien yang senang menuntut dan mempunyai kecendrungan patologis untuk mengambil tindakan hukum karena penganiayaan yang dibayangkan.7 b. Waham referensi : keyakinan palsu bahwa prilaku orang lain ditujukan pada dirinya, bahwa peristiwa, benda-benda, atau orang lain mempunyai kepentingan tertentu dan tidak biasanya, umumnya dalam bentuk negative. Berdasarkan ide referensi dimana seseorang secara salah merasa bahwa dia sedang dibicarakan oleh orang lain. Sebaga contohnya mempercayai

bahwa orang di televisi atau radio berbicara kepada dirinya atau membicarakan dirinya.7 c. Waham kebesaran : waham identitas, pengetahuan, kekuatan, penghargaan yang berlebihan, atau hubungan khusus dengan orang yang terkenal atau dewa.5 d. Waham nihilistic: keyakinan tentang ketiadaan orang atau sesuatu, termasuk ide-ide pesimis bahwa karier pasien akan berakhir, dia akan mati, tidak memiliki uang, atau bahwa dunia adalah sebuah malapetaka. Waham ini dihubungkan dengan derajat ekstrim dari mood depresi.9 e. Waham somatic: keyakinan yang palsu menyangkut fungsi tubuh pasien. Terdapat tiga tipe utama yaitu, 1) Waham infestasi (termasuk parasitosis). Pasien dengan waham ini memiliki usia awitan lebih dini (rata-rata 25 tahun), sebagian besar pada laki-laki, berstatus belum menikah dan tidak ada riwayat pengobatan psikiatri. 2) Waham dismorfobia, seperti bentuk tidak indah, merasa diri jelek, atau ukuran tubuh bertambah besar. 3) Waham bau tubuh yang tidak sedap atau halitosis.2 f. Waham cemburu: keyakinan palsu yang didapatkan dari kecemburuan patologis bahwa kekasih pasien adalah tidak setia. Cemburu adalah emosi yang kuat. Bila terjadi pada gangguan waham atau sebagai bagian keadaan lain, secara potensial sangat berbahaya dan menyebabkan kekerasan, baik membunuh maupun bunuh diri.9 g. Waham erotomania: waham bahwa seseorang sangat mencintai dirinya. Paling sering dialami oleh wanita, tetapi laki-laki juga rentan terhadap waham tersebut. Pasien waham ini sering memperlihatkan ciri khas tertentu seperti penampilan tidak menarik, bekerja ditingkat rendah, menarik diri, perasaan kesepian hidup sendiri dan mempunyai sedikit kontak seksual. Seseorang yang dicintainya biasanya berasal dari status social yang lebih tinggi yang tidak bisa dia gapai.9

h. Waham pengendalian: keyakinan bahwa tindakan, perasaan, dan kemauan pasien benar-benar berasal dan dipengaruhi atau dikendalikan oleh orang atau kekuatan dari luar.9 1) Penarikan pikiran (thought withdrawal): waham bahwa pikiran pasien telah ditarik keluar dari ingatannya oleh orang lain atau kekuatan lain. 2) Penanaman pikiran (thought insertion): keyakinan bahwa beberapa pikirannya adalah bukan miliknya tetapi ditanamkan kedalam pikirannya oleh orang lain atau kekuatan lain. 3) Penyiaran pikiran (thought broadcasting): keyakinan bahwa pikirannya telah diketahui oleh orang lain, seolah-olah setiap orang dapat membaca pikirannya. 4) Pengendalian pikiran (thought control): keyakinan bahwa pikiran pasien dikendalikan oleh orang lain atau kekuatan dari luar. i. Waham kemiskinan: keyakinan palsu bahwa pasien kehilangan atau akan terampas semua harta miliknya.3 j. Waham rasa bersalah dan ketidakberhargaan: keyakinan palsu tentang penyesalan yang dalam dan bersalah tentang kesalahan kecil dimasa lalu yang dapat membawa malu kepada pasien atau kesalahannya dapat membawa ganti rugi pada keluarganya.4 k. Waham Agama: waham yang berisi nilai agama.

2.2 Gangguan Waham Induksi Gangguan waham induksi adalah gangguan waham yang dialami oleh dua orang atau lebih, yang mempunyai hubungan emosional yang sangat erat dalam jangka waktu lama dan hidup bersama dalam isolasi sosial. Waham ini ditandai dengan adanya transfer waham dari satu orang ke orang lain, tetapi hanya seorang individu saja yang menderita gangguan psikotik. Seseorang yang pertama kali mengalami waham (kasus primer) seringnya menderita secara kronis dan biasanya merupakan anggota yang berpengaruh dalam hubungan dekat dengan orang yang lebih mudah tersugesti (kasus sekunder) yang juga mengalami waham.2 Orang yang dapat terkena kasus sekunder mempunyai ciri-ciri: 1. Intelegensia rendah.

2. Lebih mudah tertipu. 3. Lebih pasif. 4. Kurang menghargai diri sendiri. 5. Terisolasi dari orang lain, baik oleh karena bahasa, budaya atau letak geografis. 6. Memiliki ketergantungan kepada orang dengan kasus primer. 7. Berada dibawah kekuasaan orang dengan kasus primer. Jika kedua orang tersebut dipisahkan, orang dengan kasus sekunder mungkin tidak mengalami lagi wahamnya, namun hal ini tidak selalu terjadi. Waham terjadi karena adanya pengaruh yang kuat dari anggota yang lebih dominan. Factor resiko yang mungkin menyebabkan gangguan waham induksi adalah usia tua, intelegensia rendah, gangguan sensorik, penyakit serebrovaskular, kecanduan alcohol dan kecacatan fisik. Perdisposisi genetic terhadap psikosis idiopatik telah diusulkan sebagai factor resiko yang mungkin.3 Maradon De Montyel membagi kedalam tiga kelompok.1 1. Folie impose Bentuk gangguan yang paling sering dan klasik. Orang yang dominan mengembangkan suatu system waham dan secara progresif menanamkan system waham tersebut kedalam orang yang biasanya lebih muda dan lebih pasif. 2. Folie simultanee System waham yang serupa dikembangkan secara terpisah pada dua orang yang berhubungan erat. Pada keadaan tersebut dua orang menjadi psikotik secara bersamaan dan memiliki waham yang sama. Perpisahan kedua orang tersebut tidak menyebabkan perbaikan pada keduanya. 3. Folie communiquite Orang yang dominan terlibat dalam mengakibatkan system waham yang mirip pada orang yang tunduk, tetapi orang yang tunduk mengembangkan system wahamnya sendiri, yang tidak menghilang setelah perpisahan kedua pihak.

2.3 Kriteria Diagnostik gangguan waham terinduksi. Diagnosis gangguan waham karena induksi harus dibuat hanya jika:

1. Dua orang atau lebih mengalami waham atau system waham yang sama, dan saling mendukung dalam keyakinan waham itu. 2. Mereka mempunyai hubungan dekat yang tak lazim dalam bentuk seperti yang diuraikan diatas. 3. Ada bukti dalam kaitan waktu atau konteks lainnya bahwa waham tersebut diinduksi pada anggota yang pasif dari suatu pasangan atau kelompok melalui kontak dengan anggota yang aktif (hanya satu orang anggota aktif yang menderita gangguan psikotik yang sesungguhnya, waham diinduksi pada anggota pasif, dan biasanya waham tersebut menghilang bila mereka dipisahkan). Jika ada alasan untuk percaya bahwa dua orang yang tinggal bersama mempunyai gangguan psikotik yang terpisah maka tidak satupun diantaranya boleh dimasukkan dalam kode diagnosis ini, walaupun beberapa diantara wahamwaham itu diyakini bersama.

2.4 Planning Tujuan pengobatan adalah mengurangi atau menghilangkan gejala, intervensi yang sesuai, dan menangani komplikasi. Pada gangguan waham induksi, pasien harus dipisahkan. Jika diindikasikan rawat inap, sebaiknya ditempatkan di unit berbeda dan tidak dapat melakukan kontak.2 Psikoterapi yang efektif adalah menegakkan suatu hubungan yang menyebabkan pasien untuk mempercayai terapis. Seorang terapis harus memiliki sikap dapat dipercaya dan dapat membentuk empati terhadap pengalaman internal pasien agar tujuan akhir terapi untuk membantu pasien meragukan persepsinya dapat tercapai. Bila ada anggota keluarga, terapis dapat memutuskan untuk melibatkan mereka dalam rencana pengobatan. Tanda pengobatan yang berhasil dapat berupa penyesuaian social yang memuaskan bukan pengurangan waham pasien.3 Pasien dengan gangguan waham dapat menjalani pengobatan sebagai pasien rawat jalan, tetapi klinisi harus mempertimbangkan rawat inap untuk beberapa alasan. Pertama, pasien mungkin memerlukan evaluasi neurologis dan medis lengkap untuk menentukan apakah keadaan medis nonpsikiatri menyebabkan

10

gejala waham. Kedua, pasien memerlukan penilaian kemampuan untuk mengontrol impuls kekerasan, seperti melakukan pembunuhan dan bunuh diri, yang mungkin disebabkan oleh isi waham. Ketiga, prilaku pasien mengenai waham secara signifikan dapat mempengaruhi kemampuannya berfungsi dalam keluarga atau pekerjaannya, sehingga diperlukan intervensi professional untuk menstabilkan hubungan social atau pekerjaan.4 Dalam farmakoterapi, sebagian besar klinisi berpikir bahwa obat antipsikotik adalah pengobatan pilihan gangguan waham. Riwayat pasien terhadap respon pengobatan adalah petunjuk terbaik untuk memilih obat. Penyebab tersering kegagalan pengobatan adalah ketidakpatuhan dalam meminum obat.5