Anda di halaman 1dari 6

Title : 女の男の子/ Onna no Otoko no Ko / Boys and Girls

Author : Dila (di LA —SAFE, BoA-Indo, Sujunesia, TVXQ-Indo—) Rating : PG-15 Pairing : Boa ♥ Jaejoong Location : Japan Cast : Boa, TVXQ, Yui Cameo : Meisa Kuroki, Tablo (Epik High), Iwasa Mayuuko Length : series Genre : romance, school drama Language : Indonesian, Japanese (a little) A/N : The title was taken from Yuko Ogura’s song , which used for School Rumble’s soundtrack.

song , which used for School Rumble’s soundtrack. 女の男の子 wrote by di LA @

女の男の子 wrote by di LA @ dila-no-nikki.livejournal.com

(SAFE, BOA-INDO, THE GRACE-INDO, TVXQ-INDO, SUJUNESIA, WONDERLAND INDO, etc)

CHAPTER 4

Paginya aku memaksa Boa agar tetap di rumah dasar Boa keras kepala, dia tetap saja memaksa untuk masuk sekolah. “Joudan janai yo… jangan bercanda! Bagaimana kamu bisa jalan kalau kakimu seperti itu?” tanyaku sambil berusaha melepaskan pegangan Boa di lenganku. “Sou da yo, Boa-chan… nanti kita bilang kalau kamu sakit, tenang saja…” kata Yunho. “Demo… tapi…” “Tunggu sampai lukamu benar-benar sembuh,” kataku sambil keluar dari kamar Boa. “Demo… tapi…” “Ja!!!” “Hoi chotto! Tunggu!” Aku tidak mendengarkan lagi teriakannya. Aku berangkat sekolah bersama Yunho-tachi seperti biasa dan di sakuku sudah ada surat izin Boa. Ketika aku masuk kelas, berita Boa luka rupanya belum menyebar. Tapi ketika aku meletakkan tas, Yui datang menghampiriku. “Boa wa?” “Byouki… sakit…” “Nani byouki? Sakit apa?” tanya Yui. “Kakinya luka…” “Maji??? Benarkah? Parah nggak?” desal Yu. “Urusai… cerewet… jenguk sendiri kenapa sih?!” kataku sedikit membentak. Tidak seperti perempuan lain, Yui tidak tersinggung dan malah tersenyum. “Ii wa. Nanti pulang sekolah aku ke apartemen kalian,” kata Yui sambil kembali ke tempat duduknya. “Oi, Yui…” panggilku. “Nani? Apa?” “Ini, bawa kunci apartemenku, soalnya Boa tidak mungkin berdiri. Nanti aku pulang agak telat karena harus mengurusi sesuatu di klub sepak bola,” kataku sambil menyerahkan kunci. “Oh… okay…” Aku kembali duduk di tempatku dan memandang jendela. Aku sangat suka tempat ini karena ini adalah tempat paling strategis untuk melihat langit dengan jelas. “Ne, Jaejung-kun…” panggil Yunho sambil duduk di depanku, di bangku Boa yang kosong. “Hm?” “Kore… ini…” kata Yunho sambil menyerahkan 4 amplop padaku. “Nani sore? Apaan nih?!” tanyaku kaget. Aku mengambil keempat amplop itu dan membolak baliknya. “Rabuu reta… surat cinta…” kata Yunho mendengus. “Sejak kamu dekat dengan Boa, banyak yang menganggap kalau kamu sudah tidak benci lagi dengan perempuan. Jadi tadi pagi banyak yang titip surat ini,” kata Yunho. Aku membukanya satu-persatu. Rasanya isinya sama semua. Mereka senang karena aku sudah membuka hatiku dan sudah bersikap biasa pada perempuan. Dan seterusnya. Dan seterusnya. Initinya mereka mau jadi pacarku. Baka janai? Bodoh bukan? Menilai orang hanya dari luarnya saja. Are? Eh? Kono tegami… Chotto, Yunho…” kataku sambil membaca lagi surat keempat. “Hm?” “Yang ini surat buat kamu…” kataku sambil memberikan surat berwarna pink padanya. “Arienai… mana mungkin…” kata Yunho. Dia mengambil surat dari tanganku dan membaca. “Ah… benar… buat aku.” “Hyuu hyuu… Yunho dapat surat cinta nih…” goda Junsu yang datan entah darimana. (A/N :

“hyuu” adalah sfx Jepang buat nggodain orang. Kalo di Indonesia kayak “suit suiiiit” gitu^^) “Dari siapa?” tanyaku.

女の男の子 wrote by di LA @ dila-no-nikki.livejournal.com

(SAFE, BOA-INDO, THE GRACE-INDO, TVXQ-INDO, SUJUNESIA, WONDERLAND INDO, etc)

Ichinen… anak kelas satu…” jawab Yunho. Entah mengapa dia tidak semangat. Padahal Yunho yang aku kenal, kalau sudah berhadapan dengan cewek, atau ditembak cewek, wajahnya langsung berseri-seri. Tapi Yunho yang sekarang tidak seperti Yunho yang aku kenal dulu. Duuuh, sebenarnya ada apa sih? Pertama Boa, sekarang Yunho. “Yunho-kun, dou? Apa kau terima?” tanya Changmin yang duduk di jendela, menutupi sinar matahari. Yunho menggeleng. “Aaah, iya juga sih. Kan kamu belum kenal dia,” celetuk Yuchun sambil membaca surat cinta itu. “Sonna koto janai… bukan karena itu…” kata Yunho sambil mendesah. “Aku suka perempuan lain.” “HEEEE??? DARE??? SIAPA???” tanya kami berempat kaget. Jarang-jarang tampang Yunho seserius ini bicara tentang perempuan. TEEEEEET!!!! Bel masuk berbunyi. “Yaaaah…” semua yang mendengar kecewa tidak mendengar kelanjutan kisah cinta Yunho. Tapi rasanya… aku tahu siapa yang disukai Yunho. Siapa lagi kalau bukan Boa. Sejak kedatangan Boa, Yunho jadi pendiam. Sekarang aku tahu kenapa dia dulu pernah menanyaiku kenapa aku berubah, apa aku suka Boa. Itu karena dia suka Boa.

Aku sendiri tidak menganggap Boa lebih dari sekedar orang lain yang menumpang tinggal di apartemenku. Jadi aku tidak masalah kalau Yunho pacaran dengan Boa. Tapi… kenapa surat cinta yang aku terima jadi semakin banyak. Mereka semua bilang aku berubah. Apa benar begitu? Apa begitu berebedanya aku sampai mereka menilai kalau aku sudah tidak benci perempuan? Iie. Aku dekat dengan Boa karena dia ada di satu apartemen denganku. Mana mungkin akhirnya kita tidak dekat. Tapi kalau begitu, benar apa yang dikatakan teman-teman. Aku tidak suka perempuan karena aku tidak pernah mendekati mereka. Aaaaah… wakaranai… nggak tau ah…. “Oi, Jaejung-kun… kamu dari tadi melamun terus. Ada apa sih?” tanya Junsu sambil mengapit bola di lengannya. “Ah, gomen… maaf…” Aku sekarang sedang membantu melatih junior di klub sepak bola. Junsu wa fukubuchou. Dia wakil ketua. “Kalau kamu khawatir dengan Boa, kamu bisa pulang duluan,” kata Junsu. “Ii yo. Tidak apa-apa. Toh sebentar lagi juga selesai,” kataku sambil melatih lagi anak kelas satu. Aku tidak boleh pulang cepat. Aku harus tahu siapa yang melukai Boa.

Akhirnya aku selesai dengan kegiatan di klub sepak bola. Sebelum aku ke ruangan klub dance, aku ke toilet dulu. Sekolah mulai sepi, tapi di dalam masih ada beberapa cowok kelas 2. Karena penuh, aku masuk toilet. Waktu aku mau keluar tak sengaja aku mendengar percakapan mereka. “Yah, apa boleh buat, aku menunggu pacarku, dia kan sibuk di klub dance.” Nani?! Apa? Klub dance? Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Boa? Aku buru-buru mengeluarkan cellphone-ku dan merekam pembicaraan mereka. “Ngomong-ngomong soal klub dance, katanya anak baru itu masuk klub dance ya?” “Iya, anak kelas 2-3 itu. Sugeee bijin!!! Benar-benar cantik!”

“Oh itu… kata pacarku sih dia memang sangat berbakat. Makanya pacarku sebal sekali. Selama ini di klub dance dia masih menjadi trainee, tapi si Boa itu begitu masuk langsung jadi tim inti dan sudah dilatih untuk pertunjukan minggu depan. Padahal kalau tidak ada Boa, pacarku yang akan jadi tim inti.” “Sore de? Lalu?”

Sore de

sambil tertawa.

lalu dia dan teman-temannya memasukkan paku ke sepatunya Boa,” kata si cowok

女の男の子 wrote by di LA @ dila-no-nikki.livejournal.com

(SAFE, BOA-INDO, THE GRACE-INDO, TVXQ-INDO, SUJUNESIA, WONDERLAND INDO, etc)

Woa, hidoi na!!! Jahat banget pacar—“ BRAK!!!! Aku membanting pintu di hadapan mereka. Aku lengsung mencengkram kerah si cowok yang bercerita tadi. “Dare omae no kanojo?! Siapa pacarmu?!” tanyaku. “Na, nanda?! Kenapa?” “Kamu kan pacarnya. Harusnya kamu beritahu pacarmu kalau itu perbuatan tercela. Atau jangan-jangan kamu nggak lulus SD? Tidak tahu mana yang benar mana yang salah?” tanyaku. “Ta, tapi itu kan pacarku yang melakukan…” “PENGECUT!!! Aku memojokkanmu sekarang dan kamu mengalihkannya ke pacarmu?!” “I, itu…” “SIAPA PACARMU?!” “Iwasa Mayuuko. Ninen-ichi. Kelas 2-1,” jawab cowok itu ketakutan. Aku melepas cengkramanku lalu segera berlari ke klub dance. (A/N : Iwasa Mayuuko = pemeran Sonoko di Detective Conan Live Action, juga pemeran Hibari di Hanazakari no Kimitachi e)

Dare Iwasa Mayuuko?! Siapa Iwasa Mayuuko?” tanyaku tanpa permisi. Kebetulan latihan mereka sudah selesai dan mereka sedang berbenah. Seorang perempuan berambut panjang bergelombang menghampiriku. “Watashi Iwasa Mayuuko. Ada apa?” tanya cewek itu sambil tersenyum. Senyum yang memuakkan. “Chotto… aku mau bicara sebentar.” Setelah dia selesai berbenah, kami bicara di depan ruang klub dance yang sepi. “Ayo ikut ke apartemenku,” kataku. “Eee? Demo, Jaejung-kun. Kita kan belum saling kenal. Maksudku… aku juga sudah punya pacar… jadi…” “Jangan salah sangka. Aku mengajakmu ke apartemenku dan menyuruhmu minta maaf pada Boa,” kataku. “Heee? Apa salahku?” “APA SALAHMU?! Kamu pikir aku tidak tahu siapa yang memasukkan paku ke dalam sepatu Boa?” tanyaku balik. “Memangnya kau punya bukti?!” “Douzen! Tentu saja!” aku mengangkat cellphone yang dari tadi kugenggam. Yabai!!! Gawat! Dari tadi aku terus merekam. Aku buru-buru menghentikannya dan memutarnya kembali. Terdengar lagi percakapan dari aku di toilet sampai aku menyetopnya barusan. Sebelum Iwasa mengambil cellphone-ku, aku langsung memasukkannya ke dalam saku. Iwasa terlihat pucat. “Maa ii. Sudahlah. Aku tunggu tiga hari. Kalau dalam waktu tiga hari kau belum minta maaf pada Boa, aku akan menyebarkan ini. Ja!” aku meninggalkannya sendirian.

Aku berjalan pulang dengan lega. Tidak kusangka aku menemukan pelakunya secepat ini. Ah! Udon! Pasti Boa kelaparan di rumah. Aku menghampiri warung udon dan membeli 3 bungkus. Untukku, Boa, dan Yui. (A/N : udon is a type of thick wheat-flour noodle, popular in Japanese cuisine. WIKIPEDIA)

Aku membuka pintu apartemen. Tidak dikunci. Are? Kenapa ada sepatu cowok? Bukannya yang ke sini tadi Yui? Perasaanku tidak enak dan aku langsung menuju ke kamar Boa. Aku mendapati Boa sedang duduk di futonnya dan Yunho memegang tangannya, duduk di kursi di depan Boa. Begitu melihatku, Yunho langsung melepas genggamannya. “Oh, Jaejung-kun… okaeri… selamat datang…” kata Yunho salah tingkah. Aku diam saja. Tanpa bicara aku menyiapkan udon dan menatanya di meja ruang tengah.

女の男の子 wrote by di LA @ dila-no-nikki.livejournal.com

(SAFE, BOA-INDO, THE GRACE-INDO, TVXQ-INDO, SUJUNESIA, WONDERLAND INDO, etc)

Gohan yo… ini ada makanan…” kataku. Yunho keluar dari kamar Boa sambil menuntun Boa. “Aku pikir Yui yang datang,” sindirku. “Ah, tadi tepat sebelum Yui pulang, Yunho datang,” kata Boa dengan nada biasa saja. Dia mengambil sumpit. “Itadakimaaasu!” Aku berusaha bersikap biasa saja. “Oooh, untung saja Yui sudah pulang. Soalnya tadi aku cuma beli 3 udon. Ini Yunho!” kataku sambil menyerahkan sumpit ke Yunho.

Perasaan apa ini? Masa ka… tidak mungkin aku cemburu kan? Aku sama sekali tidak ada perasaan apa pun pada Boa. Bukankah aku benci perempuan? Tapi kenapa mukaku rasanya panas sekali? “Jaejung-kun…” panggil Yunho. “Hm?” “Daijoubu ka? Kao aka da yo… kau baik-baik saja? Mukamu merah…” kata Yuho sambil memakan udonnya. “Da, daijoubu…” jawabku. Kami makan dalam diam. Lalu… “Ah, sudah jam 9. Soro soro kaero ka… sudah waktunya pulang,” kata Yunho. Dia mengambil tas lalu berdiri. Aku juga ikut berdiri. “Ki o tsukete ne, Yunho-kun! Hati-hati di jalan!” kata Boa. Yunho tersenyum padanya lalu berjalan ke arah pintu masuk. Rasanya mukaku makin panas saja. “Mata ashita, Jaejung-kun! Sampai besok!” kata Yunho. Aku memaksakan diri tersenyum. Setelah mengunci pintu, aku masuk lagi ke ruang tengah dan duduk di samping Boa. “Ano…” aku memulai pembicaraan. “Tadi kamu… bicara apa sama Yunho?” tanyaku. “Hm, nandemonai… tidak bicara apa-apa. Tadi dia datang bawa bunga dan katanya dia khawatir karena kamu tidak pulang awal untuk merawatku,” cerita Boa. “Go, gomen… maaf… aku tadi…” “Daijoubu yo! Watashi heiki dakara… sudahlah, lagipula kau baik-baik saja kok,” kata Boa sambil memandangku. Entah mengapa aku tidak berani memandangnya. Benar juga kata Yunho. Harusnya aku tadi pulang awal dan merawat Boa. Hhh, aku jadi kelihatan kecil sekali dibandingkan Yunho. “Jaejung-kun!!! Daijoubu? Kamu nggak pa-pa? Mukamu merah sekali. Jangan-jangan kamu demam!” kata Boa sambil memandang wajahku dengan cemas. Aku memalingkan muka. “Daijoubu yo,” kataku. “Daijoubu janai. Apanya yang baik-baik saja. Jangan-jangan kamu terlalu capek ikut bermacam- macam kegiatan, lalu kamu demam,” kata Boa. “Iie. Nggak kok…” Boa menyibakkan poniku, lalu menempelkan dahinya di dahiku. Ga, gawat, kenapa jantungku berdebar kencang sekali. “Are? Tidak panas. Tapi kenapa mukamu merah sekali?” gumam Boa. Tanpa sadar aku menyentuhkan bibirku ke bibirnya. Begitu aku sadar, aku langsung menunduk dan memalingkan mukaku. “Go, gomen… maaf… tadi…anoo… wajahmu dekat sekali jadi… gomen…” kataku terbata-bata. “Masa ka ore… omae ga su— jangan jangan aku suk—” Menit demi menit berlalu dengan keheningan sampai akhirnya Boa tersenyum dan menggenggam tanganku. “Jaejung-kun, kita jalani saja seperti biasa. Aku tahu kamu belum terbiasa hidup bersama perempuan. Tolong jangan pikirkan kejadian tadi. Dengan berjalannya waktu kamu pasti akan mengerti perasaanmu sendiri. Ne?

女の男の子 wrote by di LA @ dila-no-nikki.livejournal.com

(SAFE, BOA-INDO, THE GRACE-INDO, TVXQ-INDO, SUJUNESIA, WONDERLAND INDO, etc)

Aku mengangguk. Masih dengan perasaan bercampur antara bingung dan malu. Bagaimanapun aku pasti terpikirkan kejadian tadi. Kenapa aku melakukannya dengan reflek? Kenapa jantungku berdebar kencang sekali? Masa ka ore Boa ga suki? Apa aku suka Boa?

CHAPTER 4 おしまい

女の男の子 wrote by di LA @ dila-no-nikki.livejournal.com

(SAFE, BOA-INDO, THE GRACE-INDO, TVXQ-INDO, SUJUNESIA, WONDERLAND INDO, etc)