P. 1
Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Pola Tidur Klien Preoperasi

Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Pola Tidur Klien Preoperasi

|Views: 688|Likes:
Dipublikasikan oleh Panz CoLenz
Kecemasan (ansietas) adalah respon psikologik terhadap stres yang mengandung komponen fisiologik dan psikologik. Tingkat kecemasan klien preoperasi menunjukkan dari 40 orang responden yang mengalami tingkat kecemasan kategori sedang sebanyak 40%, kategori ringan 37,5% , yang mengalami kecemasan berat sebesar 17,5% dan responden yang tidak mengalami cemas 5%. Keadaan pasien yang cemas akan mempengaruhi kebutuhan tidur dan istirahat.
Kecemasan (ansietas) adalah respon psikologik terhadap stres yang mengandung komponen fisiologik dan psikologik. Tingkat kecemasan klien preoperasi menunjukkan dari 40 orang responden yang mengalami tingkat kecemasan kategori sedang sebanyak 40%, kategori ringan 37,5% , yang mengalami kecemasan berat sebesar 17,5% dan responden yang tidak mengalami cemas 5%. Keadaan pasien yang cemas akan mempengaruhi kebutuhan tidur dan istirahat.

More info:

Published by: Panz CoLenz on Jul 19, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial
Harga Terdaftar: $4.99 Beli Sekarang

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

10/21/2014

$4.99

USD

pdf

text

original

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dalam dunia kesehatan tindakan bedah atau operasi menjadi salah satu alternatif pengobatan yang sering dilakukan dalam kasus-kasus tertentu. Tindakan ini berbeda dengan terapi-terapi lainnya. Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang sulit bagi hampir semua pasien. Berbagai kemungkinan buruk bisa saja terjadi yang akan membahayakan bagi pasien. Maka tidak heran keluarganya menunjukkan sikap yang agak berlebihan dengan kecemasan yang dialami. Kecemasan yang mereka alami biasanya terkait dengan segala macam prosedur asing yang harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa pasien akibat segala macam prosedur pembedahan (Asrob, 2009). Pada pasien operasi dapat mengalami berbagai ketakutan, takut terhadap anestesi, takut terhadap nyeri atau kematian, takut tentang ketidaktahuan atau takut tentang derformitas atau ancaman lain terhadap citra tubuh dapat menyebabkan ketidaktenangan atau ansietas (Asrob, 2009). Keperawatan preoperatif merupakan tahapan awal dari keperawatan perioperatif. Kesuksesan tindakan pembedahan secara keseluruhan sangat bergantung pada fase ini. Hal ini disebabkan fase ini merupakan awal yang menjadi landasan untuk kesuksesan tahapan-tahapan berikutnya. Kesalahan yang dilakukan pada tahap ini akan berakibat fatal pada tahap berikutnya. Pengakajian

2

secara integral dari fungsi pasien meliputi fungsi fisik biologis dan psikologis sangat diperlukan untuk keberhasilan dan kesuksesan suatu operasi. Fase pre operatif dari peran keperawatan dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien dikirim ke ruang operasi. Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang sulit bagi hampir semua pasien. Berbagai kemungkinan buruk bisa saja terjadi yang akan membahayakan bagi pasien. Maka seringkali pasien dan keluarganya menunjukkan sikap yang agak berlebihan dengan kecemasan yang dialami. Kecemasan dialami pasien dan keluarga biasanya terkait dengan segala macam prosedur asing yang harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat segala macam prosedur pembedahan dan tindakan pembiusan (Asrob, 2009). Dampak yang mungkin muncul bila kecemasan pasien preoperatif tidak segera ditangani, harapan pasien terhadap hasil, pasien mungkin sudah memiliki gambaran tersendiri mengenai pemulihan setelah pembedahan. Pasien dengan tingkat kecemasan tinggi tidak akan mampu berkonsentrasi dan memahami kejadian selama perawatan dan prosedur. Menurut Carpenito (1999), menyatakan 90% pasien preoperatif berpotensi mengalami kecemasan. Menurut Long (1996), kecemasan (ansietas) adalah respon psikologik terhadap stres yang mengandung komponen fisiologik dan psikologik. Reaksi fisiologis terhadap kecemasan merupakan reaksi yang pertama timbul pada sistem saraf otonom, meliputi peningkatan frekuensi nadi dan respirasi, pergeseran tekanan darah dan suhu, relaksasi otot polos pada kandung kemih dan usus, kulit dingin dan lembab. Manifestasi yang khas pada pasien pre

3

operatif tergantung pada setiap individu dan dapat meliputi menarik diri, membisu, mengumpat, mengeluh dan menangis. Respon psikologis secara umum berhubungan adanya kecemasan menghadapi anestesi, diagnosa penyakit yang belum pasti, keganasan, nyeri, ketidaktahuan tentang prosedur operasi dan sebagainya. Prevalensi sindrom cemas diperkirakan dalam masyarakat sekitar 2% sampai 4%, dari populasi yang datang ke institusi pelayanan umum, baik yang rawat jalan maupun yang rawat inap, terdapat sekitar 17% sampai 27% menunjukkan adanya sindrom cemas. Keadaan ini mempengaruhi lamanya penyembuhan penyakit, jumlah pemeriksaan diagnostik yang dibutuhkan dan jenis pengobatan yang diberikan (Asrob, 2009). Berdasarkan penelitian Makmur (2007) tentang tingkat kecemasan klien preoperasi menunjukkan dari 40 orang responden yang mengalami tingkat kecemasan kategori sedang sebanyak 40%, kategori ringan 37,5% , yang mengalami kecemasan berat sebesar 17,5% dan responden yang tidak mengalami cemas 5%. Keadaan pasien yang cemas akan mempengaruhi kebutuhan tidur dan istirahat (Asrob, 2009). Tidur merupakan kebutuhan yang sangat penting pada pasien preoperasi yang mengalami kecemasan. Proses biokimia dan biofisika tubuh manusia mempunyai irama dengan puncak fungsi atau aktifitas yang terjadi dengan pola yang konsisten dalam siklus sehari – hari. Bila irama ini terganggu seperti gangguan pola tidur pada pasien preoperasi dapat mempengaruhi proses biokimia dan proses biofisika yang dapat menyebabkan penyimpangan dari norma kehidupan (Hidayat, 2006).

2 Perumusan Masalah Rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana hubungan tingkat kecemasan pada klien preoperasi dengan gangguan tidur di Rumah Sakit Umum Sahudin Kotacane Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2013. 1. 1. sedangkan kebutuhan tidur dan istirahat normal adalah antara 7 – 8 jam.3. Tujuan khusus Mengetahui tingkat kecemasan yang terjadi pada klien preoperasi di Rumah Sakit Umum Sahudin Kotacane Kabupaten Aceh Tenggara. 1.2 1.3.1 Tujuan umum Mengetahui hubungan tingkat kecemasan pada klien preoperasi dengan gangguan tidur di Rumah Sakit Umum Sahudin Kotacane Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2013. Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan tingkat kecemasan klien preoperasi dengan gangguan tidur di Rumah Sakit Umum Sahudin Kotacane Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2013. Pada pasien preoperasi yang terencana mengalami kecemasan yang mengakibatkan terjadinya gangguan pola tidur antara 3 – 5 jam. .3 Tujuan Penelitian 1.4 Berdasarkan data yang didapatkan dari Rumah Sakit Sahudin Kotacane Kabupaten Aceh Tenggara jumlah pasien bedah pada tahun 2007-2011 sebanyak 750 orang dan data yang diperoleh peneliti terdapat sebanyak 30 orang klien bedah.

4 Manfaat Penelitian 1.3 Bagi Institusi Pendidikan Hasil penelitian diharapkan dapat dapat menjadi informasi dan bahan yang berguna untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan sebagai informasi bagi pendidikan.4. . 1. 1.4.5 2.1 Bagi Rumah Sakit Penelitian ini memberi masukan bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien preoperasi sehingga mampu mengatasi masalah gangguan tidur dan mengurangi tingkat kecemasan klien. Mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan pada klien preoperasi dengan gangguan tidur di Rumah Sakit Umum Sahudin Kotacane Kabupaten Aceh Tenggara. 1.4.4 Bagi Peneliti Selanjutnya Sebagai bahan masukan dan data awal bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan tingkat kecemasan klien bedah dengan gangguan tidur.2 Bagi Pasien Sebagai masukan bagi klien untuk dapat mengurangi kecemasan dan bagaimana mengatur pola tidur yang benar dalam mendukung proses penyembuhan.4. 1. 3. Mengetahui gangguan tidur yang dialami oleh klien preoperasi di Rumah Sakit Umum Sahudin Kotacane Kabupaten Aceh Tenggara.

Secara fisiologis respon tubuh terhadap kecemasan adalah dengan mengaktifkan system saraf otonom (simpatis dan parasimpatis). tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas. akan dikirim melalui saraf simpatis ke kelenjar adrenal yang akan mele paskan adrenal/epineprin sehingga efeknya antara lain: nafas menjadi lebih dalam.6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Bila korteks otak menerima rangsang. dkk.1 Kecemasan 2. perilaku dapat terganggu tetapi masih dalam batas‐batas normal (Hawari.1. nadi meningkat dan tekanan darah meningkat. Kecemasan berbeda dengan rasa takut. kepribadian masih tetap utuh.1 Pengertian Kecemasan Kecemasan adalah menunjukan reaksi terhadap bahaya yang memperingatkan orang “dari dalam “ secara naluri. bahwa ada bahaya dan orang yang bersangkutan mungkin kehilangan kendali dalam situasi tersebut. sedangkan system saraf pa rasimpatis akan menimbulkan respon tubuh. 2005). Kecemasan adalah gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan ketaku tan dan kekuatiran yang mendalam dan berkelanjutan. Darah akan 6 . Kecemasan dapat diekspresikan melalui respon fisiologis dan psikologis (Suliswati. System saraf simpatis akan mengaktivasi proses tubuh. cemas adalah respon emosi tanpa objek yang spesifik yang secara subjektif dialami dan dikomunikasikan inter personal secara langsung. 2008).

kecemasan terjadi karena adanya konflik yang terjadi antara emosional eleman kepribadian yaitu id dan super ego. Teori Psikoanalitik Menurut pandangan psikoanalitik. . 2005). Id mewakili insting.7 tercurahkan terutama ke jantung. kecemasan merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. susunan saraf pusat dan otak. super ego mewakili hati nurani sedangkan ego menengahi konflik yang terjadi antara kedua elemen yang bertentangan. dkk. Kecemasan dapat membuat individu menarik diri dan menurunkan keterlibatan dengan orang lain (Suliswati. b. Beberapa teori yang mengemukakan faktor predisposisi (pendukung) terjadinya kecemasan antara lain : a. c. Secara akan mempengaruhi akan aspek interpersonal maupun koordinasi atau meningkat mempengaruhi gerak reflek. atau mengganggu hubungan dengan orang lain. Teori Interpersonal Menurut pandangan interpersonal kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal. Kesulitan mendengar. dengan peningkatan psikologis kecemasan glikogenolisis kecemasan yang maka gula darah akan meningkat. Teori Behavior Berdasarkan teori behavior (perilaku). dan timbulnya kecemasan merupakan upaya dalam memberikan tanda adanya bahaya pada elemen ego.

Rentang respon yang paling adaptif adalah antisipasi dimana individu siap siaga untuk beradaptasi dengan cemas yang mungkin muncul. e. Teori Perspektif Keluarga Kajian keluarga menunjukkan pola interaksi yang terjadi di dalam keluarga. Respon Adaptif Respon Maladaptif Antisipasi Ringan Sedang Berat Panik . Kecemasan menunjukkan adanya pola interaksi yang tidak adaptif dalam sistem keluarga.2 Rentang Respon Kecemasan Menurut Stuart (2007). rentang respon induvidu terhadap cemas berfluktuasi antara respon adaptif dan maladaptif. Sedangkan rentang yang paling maladaptif adalah panik dimana individu sudah tidak mampu lagi berespon terhadap cemas yang dihadapi sehingga mengalami ganguan fisik dan psikososial. Teori Perspektif Biologi Kesehatan umum seseorang menurut pandangan biologis merupakan faktor predisposisi timbulnya kecemasan.1. 2.8 d.

dan binggung dan afektif.1.konsentrasi buruk. tandanya: gelisah.9 2.3 Faktor – faktor Penyebab Kecemasan Beberapa faktor pencetus yang dapat menyebabkan terjadinya kecemasan antara lain : a. ketegangan fisik. perubahan peran.gugup dan bicara cepat. emosi. intelektual. sosial serta spiritual. tandanya: mudah terganggu. tandanya: perhatiaan terganggu. Cemas ringan Ketegangan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lapangan persepsinya.4 Manisfestasi Klinis Kecemasan Manifestasi cemas dapat meliputi aspek perilaku. nerves dan ketakutan teror (Gunawan. Tingkat – Tingkat Kecemasan Tingkat – tingkat kecemasan adalah antara lain : a. b. 2006). trauma fisik.1. 2007). Menurut Rawin dan Heacock manifestasi kecemasan dapat meliputi dimensi fisik.pelupa. dan pembedahan yang akan dilakukan. 2. Ancaman terhadap integritas biologi seperti : penyakit.tremor. gelisah tegang. tidak sabar.5 . Ancaman terhadap konsep diri seperti proses kehilangan. 2. perubahan lingkungan atau status sosial ekonomi (Stuart and Sundeen.1. Kognitif.

persepsi penyimpangan pemikiran rasional. teror. Cemas panik Kecemasan yang berhubungan dengan ketakutan. Individu ini perlu banyak pengarahan untuk dapat memusatkan perhatiannya pada yang lain. d. . Cemas berat Kecemasan ini menyebabkan persepsi terkurangi sehingga cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci. Cemas sedang Seseorang masih memungkinkan untuk memusatkan pada sesuatu yang penting dan mengesampingkan yang lainnya sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun masih dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. Individu mengalami panik tidak mampu mengontrol persepsi walaupun dengan pengarahan. menurunkan kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. spesifik dan tidak dapat berfikir tentang hal lain. Cemas ini jika berlangsung terus menerus dalam waktu yang lama dapat mengakibatkan terjadinya kelelahan dan kematian( Gunawan. Perilaku ditunjukan untuk mengurangi ketegangan. terjadi peningkatan aktivitas motorik. 2006). b. Panik merupakan disorganisasi kepribadian.10 Kecemasan dapat memotivasi belajar serta menghasilkan pertumbuhan serta aktivitas. c.

1. Lesu c. baik secara fiosiologis maupun psikologis.11 2. Mudah tersinggung Ketegangan a.1.1. Takut akan pikiran sendiri c.6 Mekanisme Koping Terhadap Kecemasan Menurut Asmadi (2009). 2. Sumber koping merupakan modal kemampuan yang dimiliki individu guna mengatasi kecemasan. maka secara otomatis muncul upaya untuk mengatasinya dengan berbagai mekanisme koping. Tidak bisa istirahat 2. Penggunaan mekanisme koping menjadi efektif bila didukung oleh kekuatan lain dan adanya keyakinan pada individu yang besangkutan bahwa mekanisme koping yang digunakan dapat mengatasi kecemasan nya. Gejala kecemasan Perasaan cemas a. . Firasat buruk b.7 Alat Ukur Kecemasan Alat ukur yang dipakai untuk mengetahui tingkat kecemasan menggunakan Hamilton Rate Scale For Anxiety (HRSA) yang sudah dikembangkan oleh kelompok psikiatri Biologi Jakarta (KPBJ) dalam bentuk Anxiety Analog Scale (AAS). Apabila individu tidak mampu mengatasi kecemasan secara konstruktif. maka ketidakmampuan tersebut dapat menjadi penyebab utama terjadinya perilaku patologis. Setiap ada stressor penyebab individu mengalami kecemasan. 14 Kriteria Penilaian Gejala Kecemasan Skala HARS No. Kecemasan perlu diatasi untuk mencapai keadaan homeostatis dalam diri individu. tegang b.

Sukar konsentrasi b. Muka merah atau pucat d. 5. Nyeri di dada . Pada kerumunan orang banyak Gangguan tidur a. Bangun dengan lesu e. Perasaan di tusuk. 4. Berkurangnya kesenangan c. Daya ingat menurun c. Daya ingat buruk Perasaan depresi (murung) a. Penglihatan kabur c. Suatu tidak stabil Gejala somatik atau fisik (sensori) a. Perasaan berubah.debar c. Pada keramain lalu lintas f. Kaku c. Mudah menangis f. Gemetar g. Takikardi (denyut jantung cepat) b. Terbangun malam hari c. Mudah terkejut e. Merasa lemas e. Ditinggal sendiri d. Banyak mimpi – mimpi f. Kedutan otot d. 8. Pada binatang besar e. 7. d. Tidur tidak nyenyak d. Gelisah Ketakutaan a.otot b. Sakit dan nyeri di otot. Tinitus (telinga berdenging) b. Hilangnya minat b.tusuk Gejala kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) a. Berdabar. Mimpi menakutkan Gangguan kecerdasan a. Sedih d. 9.ubah sepanjang hari Gejala somatik atau fisik (otot) a. Bangun tidur dini e. 6. Sukar masuk tidur b. Pada gelap b. Pada orang asing c.12 3. Mimpi buruk g. Gigi gemerutuk e.

Mudah berkeringat d. Kehilangan BB Gejala urogenital (perkemihan dan kelamin) a. Muka merah c. Kepala pusing e. Sering menarik nafas d. Nafas pendek atau sesak Gejala gastrointestinal (pencernaan) a. Rasa tertekan atau sempit di dada b. Denyut nadi mengeras e. Tidak dapat menahan air seni c. 11.bulu berdiri Tingkah laku (sikap) pada wawancara a. Jari gemetar 12. Tidak tenang c. Haid beberapa kali dalam sebulan i. Menjadi dingin (frigid) j. Perut melilit c. Gelisah b. Nyeri sebelum dan sesudah makan e. Rasa lesu atau lemas sprt mau pingsan f. Masa haid amat pendek h. Sulit menelan b. Sukar BAK (kontipasi) k. Sering BAK b. Mulut kering b. Masa haid berkepanjangan g. Kepala terasa berat dan sakit f. BAB lembek j. Rasa tercekik c. Ereksi hilang m. Gangguan pencernaan d. Muntah i. Bulu. Impotensi Gejala autonom a.13 10. Perasaan terbakar diperut f. Detak jantung menghilang (berhenti sekejap) Gejala respiratori (pernafasan) a. 13. Darah haid amat sedikit f. Rasa penuh atau kembung g. Darah haid berlebihan e. . d. 14. Ejakulasi dini k. Mual h. Ereksi melemah l. Tidak datang bulan (tidak ada haid) d.

memelihara manfaat untuk memperbaharui & memulihkan tubuh baik secara fisik maupun emosional serta diperlukan untuk bertahan hidup. . h. kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi membuat keputusan serta melakukan kegiatan sehari – harinya dapat menurun (Potter & Perry. 2006). 1: gejala cemas ringan. f. e. 4: gejala cemas berat sekali atau panik.2 Gangguan Pola Tidur 2. memelihara energi dan kesehatan. Kerut kening Muka tegang Otot tegang atau mengeras Nafas pendek dan cepat Muka merah Penilaian atau pemakaian alat ukur ini menggunakan melalui tehnik wawancara langsung. 2. 3: gejala cemas berat. Tidur adalah keadaan relatif tanpa sadar yang penuh ketenangan tanpa kegiatan yang merupakan urutan siklus berulang – ulang dan masing – masing menyatakan fase kegiatan otak dan badaniah yang berbeda.1 Definisi Tidur Tidur merupakan kebutuhan dasar manusia yang merupakan mekanisme untuk memulihkan tubuh dan fungsinya. g. 2: gejala cemas sedang. Sehingga tanpa tidur yang cukup.2. maka dapat di ketahui derajat kecemasan seseorang menurut Hawari yaitu : 0: tidak ada cemas.14 d.

Tidur yang dangkal merupakan karakteristik dari tahap satu dan tahap dua dan pada tahap ini seseorang lebih mudah terbangun. Selain itu. neuron dalam RAS akan melepaskan katekolamin sepert inorepineprin. nyeri dan perabaan juga dapat menerima stimulasi dari korteks serebri termasuk rangsangan emosi dan proses pikir. Tahap tiga dan empat . disebabkan adanya pelepasan serum serotonin dari sel khusus yang berada di pons dan batang otak tengah. sedangkan bangun tergantung dari keseimbangan impuls yang diterima di pusat otak dan system limbik. Salah satu aktvitas tidur ini diatur oleh sistem pengaktivasi retikularis yang merupakan sistem yang mengatur seluruh tingkatan kegiatan susunan saraf pusat termasuk pengaturan kewaspadaan dan tidur. system pada batang otak yang mengatur siklus atau perubahan dalam tidur adalah RAS dan BSR (Hidayat.15 2. 2006). Tidur NREM terdiri dari empat tahapan. yaitu Bulbar Synchronizing Regional (BSR).2 Fisiologi Tidur Fisiologi tidur merupakan pengaturan kegiatan tidur oleh adanya hubungan mekanisme serebral yang secara bergantian untuk mengakt ifkan dan menekan pusat otak agar dapat tidur dan bangun. Kualitas dari tahap satu sampai tahap empat menjadi semakin dalam. Dalam keadaan sadar. 2.2. Demikian juga pada saat tidur.3 Tahapan Tidur Tahapan tidur dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu Non Rapid Eye Movement (NREM) dan Rapid Eye Movement (REM). pendengaran. Pusat pengaturan kewaspadaan dan tidur terletak dalam mesensefalon dan bagian atas pons. reticular activating system (RAS) dapat memberi visual. Dengan demikian.2.

Tahap dua merupakan tahap tidur ringan dan proses tubuh terus menurun dengan ciri: tanda – tanda vital menurun. Pada tahap ini seseorang terbangun masih relative mudah. Tahap satu NREM merupakan tahap transisi antara bangun dan tidur dimana seseorang masih sadar dengan lingkungannya.16 melibatkan tidur yang dalam disebut tidur gelombang rendah. merasa mengantuk. dan berlangsung selama 10 – 20 menit (Potter & Perry. Kualitas tidur tahap ini sangat ringan. Menurut Potter & Perry (2006).1 Tidur Non Rapid Eye Movement (NREM) Tahapan tidur NREM dibagi menjadi 4 tahap : 1. metabolisme menurun dan tahap ini berlangsung 10 – 20 menit (Hidayat. . Hubungan dengan dengan lingkungan terputus secara aktif dan hampir seluruh menusia yang dibangunkan pada tahap ini mengatakan bahwa mereka benar – benar tertidur. seseorang dapat mudah terbangun karena stimulasi sensori seperti suara (Potter & Perry. 2006). dan seseorang sulit terbangun. 50% total waktu tidur manusia dewasa normal dihabiskan pada tahap dua NREM. 2.2.3. Tahapan tidur memiliki karakteristik tertentu yang dianalisis dengan bantuan Electroencefalograph (EEG) yang menerima dan merekam gelombang otak. frekuensi nadi dan nafas sedikit menurun. dan berlangsung selama lima menit. Tidur REM merupakan fase terakhir siklus tidur dan terjadi pemulihan psikologis (Potter & Perry. 2006). 2006). 2006). electrooculograph (EOG) yang merekam pergerakan mata dan electromyograph (EMG) yang merekam tonus otot (Potter & Perry. 2006). 2.

2 Tidur Rapid Eye Movement (REM) Tahap tidur REM terjadi setelah 90 – 110 menit tertidur ditandai dengan peningkatan denyut nadi.17 3. Tahap ini mempunyai nilai dan fungsi perbaikan yang sangat penting untuk penyembuhan fisik kebanyakan hormon perkembangan manusia diproduksi malam hari dan puncaknya selama tidur pada tahap ini. Karakteristik tidur REM adalah pernafasan ireguler. menurun pada dewasa muda. 2006). Tahap tiga yaitu menunjukkan medium deep sleep yang merupakan tahap awal dari tidur yang dalam. 2006). Orang yang tidur pada tahap ini sulit untuk dibangunkan dan jarang terjadi pergerakan tubuh dan mata. lebih menurun pada dewasa pertengahan dan dapat hilang pada lansia (Hidayat. 2. otot – otot relaksasi serta peningkatan sekresi gaster (Hidayat.3. sekresi gaster meningkat. 2006). pernafasan dan tekanan darah.2. sehingga ketika bangun dari tidur yang dalam. otot – otot dalam keadaan relaksasi penuh. mata cepat tertutup dan terbuka. seseorang tidak dapat langsung sadar sempurna dan memerlukan waktu beberapa saat untuk memulihkan dari rasa bingung dan disorientasi. . sulit dibangunkan. 2006). Tahap ini jumlahnya 25% dari total jam tidur anak – anak. 4. adanya dominasi sistem saraf parasimpatis tanda – tanda vital menurun namun tetap teratur (Potter & Perry. Tahap empat merupakan deep sleep yaitu tahap tidur terdalam yang biasanya diperlukan rangsangan lebih kuat untuk membangunkan. metabolisme meningkat dan biasanya disertai mimpi akt if (Hidayat.

2. peningkatan konsumsi oksigen dan pelepasan epinefrin. Tidur REM dihubungkan dengan perubahan dalam aliran darah serebral. 2006). peningkatan aktivitas kortikal. tubuh melepaskan hormone pertumbuhan manusia untuk memperbaiki dan memperbaharui sel epitel dan khusus seperti sel otak (Potter & Perry. ada dua efek fisiologis dari tidur yaitu efek pada sistem saraf yang dapat memulihkan kepekaan dan keseimbangan diantara berbagai susunan saraf dan efek pada struktur tubuh dengan memulihkan kesegaran dan fungsi organ tubuh (Hidayat. Secara umum. .18 Mimpi terjadi selama tidur baik NREM maupun REM. 2006).4 Fungsi Tidur Salah satu teori menyatakan bahwa tidur adalah saat memulihkan dan mempersiapkan energi untuk periode bangun berikutnya. denyut nadi saat tidur juga menurun yang dapat memelihara jantung (Potter & Perry. 2006). 2006). Selama tidur gelombang rendah yang dalam (NREM 4). 2006). tetapi mimpi dari tidur REM lebih nyata dan diyakini penting secara fungsional untuk konsolidasi memori jangka panjang (Potter & Perry. Tidur diperlukan untuk memperbaiki proses biologis secara rutin. Hubungan ini dapat membantu penyimpanan memori dan pembelajaran (Potter & Perry. 2. Tidur REM terlihat penting untuk pemulihan kognitif.

tiba selama tidur atau yang terjadi .19 2. atau gangguan tidur yang membuat penderita merasa belum cukup tidur pada saat terbangun. tidak mampu bergerak waktu mula-mula bangun. mata sembab. yang tampak secara tiba. Insomnia Insomnia adalah kesulitan untuk tidur atau kesulitan untuk tetap tidur. lambat menghadapi rangsangan dan sulit berkonsentrasi. gugup. badan lemas dan daya tahan tubuh menurun sehingga menjadi mudah terserang penyakit. 2006). Gangguan ini dikenal sebagai narkolepsi yaitu pasien tidak dapat menghindari untuk tidur. hargadiri rendah. b. depresi.Gejala fisik: mengantuk yang hebat.tapi paling sering pada awal remaja atau dewasa muda. Hipersomnia Hipersomnia adalah gangguan jumlah tidur yang berlebihan dan selalu mengantuk di siag hari.Gejala fisik : Muka pucat. c. Dapat terjadi pada setiap usia. dan gejala psikisnya : Lesu.2.Gejala psikis: halusinasi visual atau audio (pendengaran). Parasomnia Parasomnia adalah gangguan tidur yang tidak umum dan tidak diinginkan. Beberapa gangguan tidur yaitu : a.5 Gangguan Tidur Gangguan tidur ialah merupakan suatu keadaan seseorang dengan kuantitas dan kualitas tidur yang kurang (Gunawan L. hilangnya tonus otot dipicu oleh emosi mengakibatkan immobilisasi.

mereka juga membutuhkan istirahat dan tidur yang memadai. Gejala psikis: penderita jarang mengingat kejadianya (Hidayat. merasa diterima. Tidur ditandai dengan aktifitas fisik minimal.20 pada ambang terjaga dan tidur.mendadak duduk ditempat tidur dan matanya tampak membelalak liar. . Sebagian besar orang dapat istirahat sewaktu mereka merasa bahwa segala sesuatu dapat diatasi. yang dapat dibangunkan kembali dengan indera atau rangsangan yang cukup. 2009). Gejala fisik: jalan waktu tidur. perubahan proses fisiologis tubuh dan penurunan respon terhadap rangsangan dari luar (Asrob. Sering muncul dalam bentuk mimpi buruk yang ditandai mimpi lama dan menakutkan. Namun dalam keadan sakit pola tidur seseorang biasanya terganggu (gangguan pola tidur). Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadar yang dialami seseorang. sehingga perawat perlu berupaya untuk memenuhi kebutuhan tidur yang normal. mengetahui apa yang sedang terjadi.6 Istirahat dan tidur Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh semua orang. kadang-kadang bicara waktu tidur. Untuk dapat berfungsi secara optimal maka setiap orang memerlukan istirahat dan tidur yang cukup. mempunyai rencana–rencana kegiatan yang memuaskan mengetahui adanya bantuan sewaktu diperlukan. rileks tanpa tekanan emosional dan bebas dari kegelisahan atau kecemasan.2. Demikian pula orang yang sedang menderita sakit. bebas dari gangguan dan ketidaknyamanan. 2006). tingkat kesadaran yang bervariasi. 2. Istirahat merupakan keadaan yang tenang.

gerakan mata cepat. tekanan darah turun. gerakan mata lambat. kecepatan jantung dan pernafasan turun secara jelas. Seseorang merasa kabur dan rileks. ereksi penis pada pria. yaitu REM (Rapid Eye Movement = gerakan mata cepat) dan tidur NREM (Non Rapid Eye Movement = gerakan mata tidak cepat). . Tidur NREM merupakan tidur yang nyaman dan dalam tidur gelombang pendek karena gelombamg otak selama NREM lebih lambat dari pada gelombang alpha dan beta pada orang yang sadar atau dalam keadan tidur. Tanda–tanda tidur NREM dalam mimpi berkurang.21 Pada dasarnya ada 2 macam tidur. perubahan tekanan darah. kecepatan denyut jantung dan pernafasan tidak teratur sering lebih cepat. Seseorang yang tidur pada tahap pertama dapat di bangunkan dengan mudah. keadaan istirahat. pembebasan steroid. kecepatan pernafasan turun. metabolisme turun. Tidur REM merupakan tidur dalam kondisi aktif yang ditandai dengan mimpi bermacam–macam. otot–otot kendor. Tidur NREM mempunyai 4 tahapan yang masing – masing tahap ditandai dengan pola gelombang otak : 1. Gelombang alpha sewaktu seseorang masih sadar di bantu dengan gelombang beta yang lambat. mata bergerak ke kanan dan ke kiri. Tahap I Merupakan tahapan transisi. gerakan otot tidak teratur. sekresi lambung meningkat. berlangsung selama lima menit yang mana seseorang beralih dari sadar menjadi tidur.

Kecepatan jantung dan pernapasan turun.2. Formasi retikulum ditemukan didalam batang otak. Tahap II Merupakan tahap tidur ringan dan preses tubuh terus menurun. diyakini bekerja bersama mengontrol sifat siklik pada tidur. Selama tidur seseprang mengalami 4 sampai 6 kali siklus tidur dalam waktu 7 sampai 8 jam. Gelombang otak ditandai dengan sleep spindles dan gelombang K kompleks. 3. Ini terdiri dari banyak sel saraf dan serabut. Tahap IV Merupakan tahap tidur dalam yang ditandai dengan redominasi gelombang delta yang melambat. Saraf mempuyai hubungan yang merelay impuls ke . suhu tubuh dan metabolisme menurun. Seseorang lebih sulit dibangunkan. 2.7 Fisiologis Tidur Dua sistem didalam batang otak. Tahap III Pada tahap ini kecepatan jantung dan pernapasan serta proses tubuh berlanjut mengalami penurunan akibat dominasi sistem saraf parasimpatis.22 2. Gelombang otak menjadi teratur dan terdapat penambahan gelombang delta yang lambat. pons. Tahap kedua berlangsung pendek dan berakhir dalam waktu 10 – 15 menit. 4. otak tengah dan kemudian ke hipotalamus. Ini membetang ke atas sampai ke medula. Siklus tidur sebagian besar merupakan tidur NREM dan berakhir dengan tidur REM. sistem pengaktivasi retikulum dan daerah sinkronisasi bulbar. Mata masih bergerak–gerak kecepatan jantung dan pernapasan turun dengan jelas.

2. Cedera pada hipotalamus dapat menyebabkan seseorang tertidur untuk periode yang abnormal atau panjang. Sensasi seperti nyeri. Formasi retikulum membantu refleks dan gerakan volunter. Keadaan terbangun terjadi apabila sistem retikulum diaktivasi dengan stimulasi dari korteks serebral dan dari sel dan organ sensori tepi. diikuti oleh dopamine. Hipotalamus mempunyai pusat kontrol untuk beberapa aktivitas tubuh. . stimulasi dari korteks adalah minimal. salah satunya adalah mengenai tidur dan terbangun. Mengurangi stres dan kecemasan.8 Manfaat Tidur Tidur akan terlihat lebih baik setelah tidur malam yang baik adalah berdasarkan pada keyakinan bahwa tidur : a. Sejumlah senyawa berperan sebagai neurotransmitter dan terlibat dalam proses tidur. Selama tidur. tekanan dan suara menimbulkan keadaan terbangun melalui sel dan organ tepi. Norepinefrin asetilkolin. Keadaan terbangun diaktivasi oleh korteks serebral dan sensasi tubuh. maupun aktivitas korteks yang berkaitan dengan keadaan sadar penuh.2. sistem retikulum mengalami beberapa stimulasi dari korteks serebral dan dari tepi tubuh. serotonin dan histamin. Sebagai contoh: jam alam membangunkan kita dari tidur ke keadaan sadar apabila kita menyadari bahwa kita harus mempersiapkan diri untuk hari itu. Memulihkan kondisi fisik b. Selama tidur.23 dalam kerteks serebral dan ke dalam medula spinalis. terlibat dalam inhibisi GaBa (gamma aminobutyric acid ) tampaknya perlu untuk inhibisi.

Kebiasaan tidur Yang perlu diperhatikan kebiasaan banyaknya tidur pasien. waktu yang diperlukan untuk dapat tidur. Tahap perkembangan Lama tidur yang dibutuhkan oleh seseorang tergantung pada usia. dan kurang santai. konjungtiva merah. kebiasaan menjelang tidur. persepsi pasien terhadap kebutuhan tidur. 2. . Semakin tua usia seseorang semakin sedikit pula lama tidur yang diperlukan. posisi waktu tidur. apatis.24 c. lingkungan tidur sehari-hari. Ada beberapa hal yang berhubungan dengan kebutuhan tidur dan istirahat : 1. pasien mengungkapkan rasa capek. jumlah terjaga selama tidur. pasien mudah tersinggung. obat-obatan yang diminum pasien dan pengaruhnya terhadap tidur. 3. Tanda-tanda klinis kekurangan istirahat dan tidur Ada beberapa tanda klinis yang perlu diketahui terhadap pasien yang kurang istirahat dan tidur. pusing dan mual. warna kehitam-hitaman di sekitar mata. jam berangkat tidur. Memulihkan kemampuan untuk mengatasi dan berkonsentrasi pada aktifitas kehidupannya sehari-hari.

gerakan tubuh sedikit. 20 % tidur REM.1 Pola Tidur Berdasarkan Tingkat Usia/Perkembangan Tingkat Perkembangan Bayi baru lahir Pola Tidur Normal Tidur 14-18 jam/hari.25 Tabel 2. Dewasa Tua (Diatas 60 tahun) Tidur sekitar 5-6 jam/hari. 25 % tidur REM. Dewasa pertengahan Tidur 7-8 jam/hari. 20-25 % tidur REM. 20-30 % tidur NREM mungkin tidur sepanjang malam 1-3 tahun Tidur sekitar 11-12 jam/hari. 50 % tidur NREM siklus tidur 45-60 menit Bayi Tidur 13-16 jam/hari. mungkin mengalami insomnia dan sering bangun sewaktu tidur. 20 % tidur REM. (Lumban Tobing. 20 % tidur REM Dewasa Muda Tidur sampai 7-8 jam/hari. 3-6 tahun Akil baligh Tidur sekitar 11jam/hari. pernapasan teratur.5 jam/hari. 20-50 % tidur REM. Tidur sekitar 7-8. Mungkin mengalami insomnia dan sulit untuk dapat tidur. 2004) .

e. Implikasi kultural Penting bagi perawat mengetahui bahwa pekerjaan dan praktek kultural dapat mempengaruhi istirahat dan tidur. ini menambah kecemasan dan stres.9 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Tidur Beberapa faktor mempengaruhi tidur baik kualitas maupun kuantitas tidur: a. biasanya akan diikuti oleh tidur. b. Penyakit dan situasi dalam kehidupan sehari – hari yang menyebabkan srtess psikologis cencerung mengganggu tidur. 2) Tidur REM Berkurang jumlahnya. Pertimbangan tentang perkembangan Variasai karena usia terjadi pada siklus tidur – bangun. tampak bahwa aktivitas fisik meningkatkan baik tidur REM maupun NREM.26 2.2. Motivasi Keinginan untuk bangun dan sadar penuh membantu mengatasi mengantuk dan tidur. Biasanya stress psikologis mempengaruhi tidur melalui dua cara : 1) Orang yang mengalami stres cenderung sulit memperoleh jumlah tidur yang dibutuhkan. d. Stres psikologis. Apabila motivasi untuk tetap terbangun adalah minimal. c. Aktivitas fisik Aktivitas dan olah raga mempengaruhi tidur dengan cara meningkatkan kelelahan. Walaupun tahap-tahap .

Pasien yang mengalami kecemasan menunjukkan gejela mudah tersinggung. Berbagai kemungkinan buruk bisa saja terjadi yang akan membahayakan bagi pasien. gelisah. mudah menangis dan tidur tidak nyenyak. takut terhadap nyeri atau kematian.3 Kecemasan Dan Gangguan Tidur Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang bisa menimbulkan kecemasan. Pada pasien operasi dapat mengalami berbagai ketakutan. Kecemasan dialami pasien dan keluarga biasanya terkait dengan segala macam . takut tentang ketidaktahuan atau takut tentang derformitas atau ancaman lain terhadap citra tubuh dapat menyebabkan ketidaktenangan atau ansietas (Hidayat. pola tidur mungkin bervariasai sesuai dengan budaya (Asrob. susah tidur. 2009). Kecemasan yang mereka alami biasanya terkait dengan segala macam prosedur asing yang harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa pasien akibat segala macam prosedur pembedahan (Asrob. 2009). Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang sulit bagi hampir semua pasien. 2.27 perkembangan adalah serupa. lesu. Maka seringkali pasien dan keluarganya menunjukkan sikap yang agak berlebihan dengan kecemasan yang dialami. takut terhadap anestesi. Kecemasan biasanya berhubungan dengan segala macam prosedur asing yang harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat prosedur pembedahan dan tindakan pembiusan. Fase pre operatif dari peran keperawatan dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien dikirim ke ruang operasi. 2006). tetapi tempat tidur.

. 2006). 2006). Kondisi psikologis dapat terjadi pada seseorang akibat ketegangan jiwa. Sebagian besar orang dapat istirahat sewaktu mereka merasa bahwa segala sesuatu dapat diatasi. merasa diterima.28 prosedur asing yang harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat segala macam prosedur pembedahan dan tindakan pembiusan. Kurang tidur juga mengakibatkan penurunan kemampun mental. mengetahui apa yang sedang terjadi. Pada status cemas keadaan pola tidur seseorang biasanya terganggu (gangguan pola tidur). Pada orang normal. bebas dari gangguan dan ketidaknyamanan. Kemampuan otak untuk menghafal mungkin masih optimal. menurunkan daya tahan tubuh serta menurukan prestasi kerja. yang pada akhirnya dapat mempengaruhi keselamatan diri sendiri atau orang lain. produktivitas juga ikut menurun dan stabilitas emosional terganggu (Prasadja. Keadaan pasien yang cemas akan mempengaruhi kebutuhan tidur dan istirahat (Gunawan. mudah tersinggung. Istirahat merupakan keadaan yang tenang. Hal tersebut terlihat ketika seseorang yang memiliki masalah psikologis mengalami kegelisahan sehingga sulit untuk tidur (Harry. Selain itu. kelelahan. kurang konsentrasi. rileks tanpa tekanan emosional dan bebas dari kegelisahan atau kecemasan. gangguan tidur yang berkepanjangan akan mengakibatkan perubahan pada siklus tidur biologinya. 2009). depresi. sehingga perawat perlu berupaya untuk memenuhi kebutuhan tidur yang normal. mempunyai rencana–rencana kegiatan yang memuaskan mengetahui adanya bantuan sewaktu diperlukan. tetapi kreativitas untuk menggunakan bahan hapalan tersebut akan menurun.

2 Kerangka Konsep Penelitian 2. maka ada hubungan tingkat kecemasan pada klien preoprasi dengan gangguan tidur di Rumah Sakit Umum Sahudin Kotacane Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2013.29 2. b. Panik Gangguan Tidur Gambar 2.5 Hipotesis Penelitian Hipotesis pada penelitian ini adalah : a. maka tidak ada hubungan tingkat kecemasan pada klien preoprasi dengan gangguan tidur di Rumah Sakit Umum Sahudin Kotacane Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2013. Ringan 2. . Jika Ho ditolak dan Ha diterima. Sedang 3. Jika Ho diterima atau ditolak.4 Kerangka Konsep Penelitian Kerangka konsep penelitian ini adalah : Variabel Independen Variabel Dependen Tingkat kecemasan 1. Berat 4.

1 Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik dengan tujuan mengetahui hubungan tingkat kecemasan pada klien preoprasi dengan gangguan tidur di Rumah Sakit Umum Sahudin Kotacane Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2013.2. 3.2.1 Populasi Populasi penelitian ini adalah klien preoprasi yang berada di ruang perawatan bedah Rumah Sakit Sahuddin Kuta Cane Kabupaten Aceh Tenggara yaitu sebanyak 30 orang.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.3. 3.3.1 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini direncanakan di Ruang Perawatan Bedah Rumah Sakit Sahuddin Kuta Cane Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2013.30 BAB III METODE PENELITIAN 3. 3.3 Populasi dan Sampel 3. 3.2 Waktu Penelitian Waktu penelitian ini direncanakan pada bulan Juni 2013.2 Sampel Teknik pengambilan sampel yang digunakan penelitan ini menggunakan Puporsive Sampling yaitu mengambil sampel penelitian berdasarkan kehendak 30 .

1 Data Primer Data primer adalah data yang diperoleh sendiri oleh peneliti dari hasil pengukuran. survei dan lain-lain. Data sekunder pada penelitian ini diperoleh dari Rumah Sakit Sahuddin Kuta Cane Kabupaten Aceh Tenggara. 3. Prinsip etika dalam penelitian adalah (Nursalam. 3. Sampel penelitian yang diambil pada penelitian ini adalah pasien dewasa dengan status preoperasi yang berada di Ruang Perawatan Bedah Rumah Sakit Sahuddin Kuta Cane Kabupaten Aceh Tenggara dan jumlah sampel pada penelitian ini adalah pasien dewasa sebanyak 30 orang. badan atau instansi lain yang rutin mengumpulkan data. 3. 2008): 1. Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan metode kuisioner yang diisi sendiri oleh responden. maka peneliti harus memahami prinsip-prinsip etika penelitian. pengamatan.4 Metode Pengumpulan 3.2 Data sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain.4.5 Etika Penelitian Masalah etika penelitian yang menggunakan subjek manusia menjadi isu sentral yang berkembang saat ini. karena hampir 90% subjek yang dipergunakan adala manusia. Hak untuk ikut/tidak menjadi responden (Right To Self Determination) 2. Informed consent .4.31 peneliti. Pada penelitian ilmu keperawatan.

Kecemasan adalah gengguan alam perasaan yang dialami oleh klien bedah pada saat akan menghadapi proses tindakan pembedahan dengan tanda berupa rasa khawatir. 2011) yaitu : Nilai 0 : tidak ada gejala Nilai 1 : satu gejala dari pilihan yang ada Nilai 2 : separuh dari gejala yang ada Nilai 3 : lebih dari separuh dari gejala yang ada Nilai 4 : semua gejala ada .32 3. 2. 1. tegang dan takut.6 Defenisi Operasional Defenisi operasional merupakan penjelasan semua variabel dan instilah yang akan digunakan dalam penelitian secara operasional sehingga akhirnya mempermudah pembaca dalam mengartikan makna penelitian (Setiadi.7. 2007). Gangguan tidur adalah tidak tercapainya kuantitas dan kualitas tidur klien bedah.1 Kecemasan Aspek pengukuran data penelitian ini menggunakan alat ukur kecemasan HARS (Halminton Anxiety Rating Scale) (Hawari. Klien prebedah adalah pasien yang akan dilakukan tindakan operasi dan dirawat ruang perawatan bedah rumah sakit.7 Aspek Pengukuran 3. 3. Hak dijaga kerahasiaannya (Right To Privacy) 3. 3.

Maka kategori tingkat kecemasan adalah : 1. yaitu ada gangguan tidur dan tidak ada gangguan tidur.2 Gangguan Tidur Penilaian atau pemakaian alat ukur ini di lakukan menggunakan kuesioner. 5 P merupakan panjang kelas dengan rentang nilai tertinggi dikurangi nilai terendah dengan rentang kelas sebesar 10 dan banyak kelas 2. Jika responden menjawab tidak diberi skor 0 dan jika ya diberi skor 1.33 Penilaian derajat kecemasan : < 14 14-20 21-27 28-41 42-56 : tidak ada kecemasan : kecemasan ringan : kecemasan sedang : kecemasan berat : kecemasan berat sekali / panik 3.7. Sehingga diperoleh p = 5. Terdiri dari 10 pertanyaan tentang kecemasan gangguan tidur. Tidak ada Gangguan Tidur skor skor : 6-10 : 0-5 . Ada gangguan tidur 2.

9.1 Pengolahan Data Pengolahan data dilakukan setelah pengumpulan data dilaksanakan dengan maksud agar data yang dikumpulkan memiliki sifat yang jelas. . Editing Editing adalah pemeriksaan data yang telah dikumpulkan utnuk menyesuaikan terhadap apa yang seharusnya. Tabulating Tabulating adalah proses yang akan dilakukan untuk menghitung setiap variabel berdasarkan kategori-kategori yang telah ditetapkan sebelumnya sesuai dengan tujuan penelitian (Zaluchu. 4. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan langkah-langkah berikut : 1. Coding Coding adalah memberi kode pada jawaban-jawaban responden atau ukuran-ukuran yang diperoleh dari umti analisis sesuai dengan rancangan awal. 2010). 2.8 Pengolahan dan Teknik Analisa Data 3. 3.34 3. Scoring Skoring adalah menghitung skor yang diperoleh setiap responden berdasarkan jawaban atas pernyataan yang diajukan. baik pengisian kuesioner maupun terhadap ukuran-ukuran dan kejelasan yang harus dilakukan sedini mungkin.

Ho diterima atau ditolak. Ho ditolak dan Ha diterima.05. maka tidak ada hubungan tingkat kecemasan . 2 x2 = ∑ d = (b-1) (k-1) Keterangan : x2 = Chi-Square = Frekuensi yang diperoleh dari sampel = Frekuensi yang diharapkan dalam sampel sebagai pencerminan dari frekuensi yang diharapkan dalam tabel. maka ada hubungan tingkat kecemasan pada klien preoperasi dengan gangguan tidur di Rumah Sakit Umum Sahudin Kotacane Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2013. yaitu nilai x2 hitung > x2 tabel atau nilai probabilitas (p) < 0.35 3. d b k = Derajat kebebasan = Baris = Kolom Menguji penerimaan atau penolakan hipotesis penelitan ini maka dapat dilihat dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa : 1. 2.2 Teknik Analisa Data Analisa data kemudian dilanjutkan menggunakan uji statistic Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0. 2006).05 dengan rumus sebagai berikut : (Arikunto.05. yaitu nilai x2 hitung < x2 tabel atau nilai probabilitas (p) > 0.9.

.36 pada klien preoperasi dengan gangguan tidur di Rumah Sakit Umum Sahudin Kotacane Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2013.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->