Anda di halaman 1dari 54

DAFTAR ISI

Daftar Isi ................................................................................................................... Dari Redaksi ............................................................................................................. Paradigma Karir : Protean Career Melalui Continuous Learning Yudhistira Utama ...................................................................................................... Gaya Kepemimpinan, Desentralisasi Sebagai Variabel Moderating Dalam Hubungan Antara Partisipasi Penyusunan Anggaran Dengan Kinerja Manajerial Rosyati dan Anni Fajriyah ....................................................................................... Pengaruh Pelatihan Dan Pengembangan Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Pada PD. BPR BAPAS 69 Magelang Muhdiyanto dan Afandy Wahyuanto ......................................................................... Pembangunan Dan Keterlibatan Perempuan Lestari Sukarniati ..................................................................................................... Analisis Pengaruh FaktorFaktor Fundamental Terhadap Price To Book Value Pada Industri Barang Konsumsi Di BEJ Muljono dan Prasetyo .............................................................................................. Pengaruh Kinerja Keuangan Dan Faktor Ekonomi Makro Terhadap Return Saham Perusahaan Real Estate Dan Property Tahun 2001 2004 Dahli Suhaeli dan Sartono Tri Nugroho .................................................................... Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Dalam Memilih Surat Kabar Jawa Pos Di Wilayah Kota Magelang Marlina Kurnia dan Carolina Aprilliani ................................................................... i ii 1

14

31 46

55

72

88

Aturan Penulisan Naskah 1. Redaksi menerima tulisan dari para praktisi, dosen dan mahasiswa. 2. Tulisan berupa tinjauan literatur atau tulisan ilmiah populer. Jika berupa hasil seminar, diskusi, harus disebutkan dengan jelas. 3. Naskah ditulis dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia disertai abstrak. dengan bahasa Inggris kurang lebih terdiri dari 200 kata, diberi Key word, dan naskah ditulis dalam kuarto antara 12 sampai dengan 24 halaman satu setengah spasi dan dikirim dalam bentuk printout dan disket, serta dilampiri biodata penulis 4. Keputusan pemuatan karangan dalam jurnal ini sepenuhnya diserahkan pada sidang redaksi 5. Naskah diketik rangkap dua. Naskah yang tidak dimuat akan dikembalikan

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

DARI REDAKSI

PARADIGMA KARIR : PROTEAN CAREER MELALUI CONTINUOUS LEARNING Yudhistira Utama

Assalamualaikum Wr. Wb. Pembaca yang terhormat, Jurnal Analisis Bisnis dan Ekonomi yang diterbitkan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Magelang, kembali hadir dalam edisi: volume 3 No. 1 April 2005. Beberapa artikel yang hadir dalam edisi ini antara lain, yang pertama ditulis oleh Yudhistira Utama dengan judul Paradigma Karir : Protean Career Melalui Continuous Learning. Artikel kedua, ditulis oleh Rosyati dan Anni Fajriyah dengan judul Gaya Kepemimpinan, Desentralisasi Sebagai Variabel Moderating Dalam Hubungan Antara Partisipasi Penyusunan Anggaran Dengan Kinerja Manajerial. Tulisan berikutnya berjudul Pengaruh Pelatihan dan Pengembangan Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Pada PD. BPR BAPAS 69 Magelang, yang ditulis oleh Muhdiyanto dan Afandy Wahyuanto. Artikel selanjutnya berjudul Pembangunan dan Keterlibatan Perempuan, yang ditulis oleh Lestari Sukarniati. Tiga artikel selanjutnya berturut-turut adalah Analisis Pengaruh FaktorFaktor Fundamental Terhadap Price To Book Value Pada Industri Barang Konsumsi di BEJ ditulis oleh Muljono dan Prasetyo, Pengaruh Kinerja Keuangan dan Faktor Ekonomi Makro Terhadap Return Saham Perusahaan Real Estate dan Property Tahun 2001 2004, ditulis oleh Dahli Suhaeli dan Sartono Tri Nugroho , dan artikel terakhir berjudul Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Dalam Memilih Surat Kabar Jawa Pos di Wilayah Kota Magelang, ditulis oleh Marlina Kurnia dan Carolina Aprilliani Demikian Redaksi mengucapkan selamat membaca dan selanjutnya redaksi sangat mengharap kritik dan saran dari pembaca. Terima kasih. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Abstract The rapid changes of the business environment has causing the shifting organization structure and the career development of the individual. Career has shifting from the traditional careers into the modern careers. Protean career as the new paradigm st of careers precisely answered the need of the modern careers in 21 century. Career will be driven by the individual not the organization, in which every individual responsibility on his or her career and to accomplish the protean careers, all individual needs to apply the continuous learning in his or her careers. This paper describes the paradigm of career along with development in organization structure and provides the protean careers with st continuous learning as the career of 21 century. Keyword : organization structure, career development, protean career, continuous learning

Redaksi

Pendahuluan Saat ini organisasi dihadapkan pada lingkungan yang serba tidak pasti. Perubahan kondisi lingkungan yang begitu dinamis akhir-akhir menuntut organisasi untuk dapat lebih adaptif dan fleksibel dalam menyesuaikan perubahan tersebut. Sebagai langkah awal yang dapat dilakukan oleh organisasi adalah dengan merubah struktur organisasi dalam merespon perubahan tersebut. Perubahan struktur organisasi secara langsung maupun tidak akan berdampak pada seorang individu, khususnya terhadap pengelolaan karir individu. Karir telah mengalami pergeseran menuju karir tanpa batas (the boundaryless career). Individu akan dituntut untuk dapat mengembangkan segala kompetensinya secara maksimal, selanjutnya organisasi akan menfasilitasi kompetensi tersebut dengan memberikan kesempatan kepada individu dalam mengembangkan karir individunya. Kompetensi yang diperlukan oleh individu untuk mengembangkan karirnya telah mengalami peningkatan sejalan dengan perkembangan struktur organisasi (Erkaningrum, 2002). Allred, et. al., (1996) mengatakan bahwa secara internal pengelolaan karir sangat dipengaruhi oleh struktur organisasi. Dalam hal ini ada tiga faktor kunci keterkaitan antara struktur organisasi dengan pengelolaan karir, yaitu :

ii

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Paradigma Karir : Protean Career Melalui Continuous Learning

Yudhistira Utama

1. Struktur organisasi akan mengarahkan pada terbentuknya core managerial competencies. 2. Struktur organisasi yang berbeda akan mensyaratkan komposisi managerial competencies yang berbeda pula. 3. Struktur organisasi memberi arah pada model pengelolaan karir. Bertolak dari ketiga faktor tersebut diatas, jelas bahwa untuk menentukan kecenderungan model pengelolaan karir dimasa yang akan datang dapat dilihat dari kecenderungan model struktur organisasi traditional, network dan cellular. Suatu aspek penting yang melekat pada struktur traditional adalah adanya sebuah tataran-tataran hirarkis dari setiap fungsi perusahaan. Model yang demikian tersebut dapat mengakibatkan rendahnya fleksibilitas tenaga kerja, dikarenakan pada struktur tersebut pengetahuan dan keterampilan pegawai terpisah dari masing-masing spesialisasi teknis seperti produksi, penjualan dan keuangan. Sedangkan dalam struktur organisasi matrix dan divisional terdapat kemungkinan terjadinya karir lintas fungsional, namun hanya sedikit karyawan yang memiliki pengetahuan yang menyeluruh dan terintegrasi. Ruang gerak karyawan akan menjadi sempit yang selanjutnya akan menyulitkan perusahaan untuk menjawab tantangan-tantangan yang lebih jauh akan menyebabkan perusahaan akan sulit untuk berkembang. Banyak usaha yang dilakukan oleh perusahaan dalam melakukan perombakan organisasi untuk mengatasi permasalahan tersebut, seperti downsizing, delayering, righsizing, layoff dan restructuring untuk meningkatkan kinerja organisasi. Perombakan tersebut diharapkan agar perusahaan dapat lebih gesit dalam merespon peluang-peluang yang ada (fast response). Namun perombakan tersebut tidak menjamin sepenuhnya perusahaan dapat fast response (Hamidi, 2000). Walaupun dari berbagai penelitian menunjukkan hasil yang berbeda, tetapi kebijakan tersebut sering menimbulkan persepsi mengenai jenjang karir yang datar bagi karyawan dan tentunya akan berpengaruh pada kinerja (Chao, 1990). Semakin terpangkasnya struktur organisasi akan menyebabkan sempitnya peluang jenjang karir karyawan yang bersangkutan. Perubahan eksternal yang sangat cepat tidak cukup hanya dengan melakukan perombakan struktur organisasi, tetapi yang terpenting adalah adanya dukungan pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja yang memadai. Perkembangan Struktur Organisasi dan Dampaknya Terhadap Karir Struktur organisasi yang pertama atau yang lebih dikenal dengan struktur organisasi traditional meliputi struktur organisasi functional, divisional dan matrix. Pengelolaan karir pada struktur organisasi traditional secara esensial akan digerakkan menuju sebuah hirarki piramid. Serangkaian kemampuan individu yang terbatas (dalam hal ini pengetahuan dan kemampuan teknis) akan dipergunakan dalam organisasi traditional. Pada awalnya bentuk struktur organisasi traditional adalah organisasi functional. Struktur organisasi traditional pada organisasi ini lebih cocok digunakan pada organisasi

yang dalam lingkungan yang stabil dan dapat diprediksi. Pada struktur ini manajer hanya mengejar karirnya dalam spesialisasi pekerjaan dan tidak tertuju untuk bidang keunggulan lain, sehingga akan sulit untuk mencapai posisi puncak dalam hirarki organisasi. Individu hanya akan dapat bekerja dengan lebih baik apabila bekerja dengan individu lain yang memiliki minat dan keterampilan yang sama. Berbeda dengan struktur sebelumnya, struktur organisasi divisional muncul ketika organisasi mengalami perkembangan yang disertai dengan peningkatan jumlah produk di pasar, sehingga produk merupakan dasar bagi struktur ini. Struktur organisasi divisional memiliki beberapa divisi yang bersifat independen. Masing-masing divisi akan bertanggungjawab terhadap pengalokasian sumber daya serta implementasi strateginya. Manajer pada struktur ini cenderung mempunyai pengalaman yang bersifat cross disciplinary dan kemampuan mengaplikasikan kemampuan mereka untuk menempati posisi puncak perusahaan. Para manajer divisi dituntut untuk menguasai masalah teknis, self governance , serta kemampuan bisnisnya dalam mendesentralisasikan tanggungjawab pengambilan keputusan. Selanjutnya muncul organisasi matrix yang pertama kali dikembangkan oleh industri yang menggunakan teknologi canggih. Struktur ini mencoba menggabungkan elemen-elemen kunci yang ada pada struktur organisasi functional dan divisional. Sumber daya dari departemen functional dimanfaatkan untuk menciptakan aktivitas pelayanan terhadap konsumen tertentu. Organisasi matrix juga memungkinkan individu berkembang dan merubah keunggulan teknis dalam departemen functional. Untuk menjaga kepuasan konsumen maka dilakukan dengan pengaturan sumber daya multi functional dengan konsep keahlian manajemen umum. Dampak struktur organisasi traditional terhadap pengelolaan karir dan kompetensi dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini : Tabel 1 Traditional Organization and Careers
Organizational Structur Functional Function Divisional Matrix Career Path Single firm, Within Single firm, Across divisions Single firm, Across project Key Competencies Resposibility for Career Planning Functional department Division, Firm Department, Project, Firm

Technical Technical, Commercial Technical, Commercial

Sumber : Allred, Brent B. et al (1996). Characteristic of Managerial Careers in the 21st Century. Academy of Management Executive. Vol 10 No. 4. p. 18 and 21

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Paradigma Karir : Protean Career Melalui Continuous Learning

Yudhistira Utama

Seiring berjalannya waktu, maka struktur organisasi traditional mulai ditinggalkan. Kompetisi domestik dan internasional telah menuntut suatu organisasi merubah struktur organisasinya yang dapat merespon ancaman dan kesempatan global dengan sangat cepat. Struktur itu disebut dengan struktur organisasi modern yang berbentuk network dan cellular (Allred, et. al., 1996). Struktur ini menjawab kekurangan pada struktur traditional yaitu lambatnya respon dan fleksibilitas terhadap perubahan. Struktur network merupakan struktur organisasi yang berhubungan dengan perusahaan secara bebas untuk suatu penyediaan tenaga kerja yang berkeahlian khusus baik untuk suatu proyek atau produk tertentu. Snow, Miles dan Coleman seperti yang dikutip oleh Erkaningrum (2002), struktur organisasi yang bersifat network, dimana organisasi jaringan (network organizations) merupakan entitas yang digerakkan oleh mekanisme pasar, dikarenakan kompetisi domestik dan internasional telah menuntut sutau organisasi yang dapat merespon ancaman dan kesempatan global. Kompetensi inti yang maksimal akan tercapai oleh organisasi network dikarenakan adanya hubungan eksternal dan internal untuk melakukan kegiatan lain dalam rantai nilai. Kepercayaan dianggap sebagai suatu mekanisme penting yang terjadi diantara perusahaan partner. Struktur ini memberikan beberapa keuntungan diantaranya bagi perusahaan kecil dapat membantu pekerjaan yang tidak dimungkinkan dilakukan dengan sumber daya yang dimilikinya, sedangkan bagi perusahaan besar dapat semakin tanggap dan terciptanya penghematan biaya tentang apa yang harus dilakukan. Penggunaan struktur network memungkinkan karyawan berkarir diluar perusahaan sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, sebaliknya perusahaan juga dapat memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan tanpa harus memiliki karyawan tersebut secara tetap. Karyawan dituntut untuk mampu mengelola sendiri karir lintas perusahaan, sehingga karir tidak tergantung pada perusahaan akan tetapi menjadi tanggungjawab kedua pihak. Organisasi network membutuhkan sebuah kompetensi baru bagi manajer diantaranya adalah kemampuan teknis, bisnis dan self governance. Kemampuan yang tidak kalah penting adalah kemampuan untuk dapat berkolaborasi (bekerjasama). Menurut Allred et. al., (1996) kolaborasi menyangkut tiga jenis keahlian yaitu : 1. Referal Skill Kemampuan menganalisa masalah dan menentukan solusi dalam organisasi network maupun partner-partner nya 2. Partnering Skill Kemampuan menkonseptualisasi, menegoisasi, dan mengimplementasikan hasilhasil yang saling menguntungkan. 3. Relationship Management Kemampuan untuk memberikan prioritas tinggi bagi kebutuhan dan preferensi pelanggan dan partner utama Tahapan selanjutnya adalah struktur organisasi cellular yang merupakan pengembangan dari struktur organisasi network. Struktur ini merupakan struktur

minimalis yang muncul untuk mendukung aktivitas-aktivitas kewirausahaan profesional. Struktur organisasi cellular yaitu struktur organisasi yang dibentuk oleh kelompok-kelompok yang mandiri atau unit-unit bisnis yang berotonomi yang dapat menunjukkan keberadaannya secara mandiri sebagai layaknya sebuah sel organisme (Allred, et. al., 1996). Kelompok kerja atau unit bisnis itu dapat bergabung dan berinteraksi satu dengan lainnya untuk membuat sebuah organisme yang lebih besar (Allred et. al., 1996). Dalam struktur ini perusahaan bukanlah sebagai majikan melainkan sebagai penyedia atau pemberi suatu mekanisme untuk mengembangkan knowledge intensive skill para anggotanya. Karir pada organisasi cellular tidak melibatkan hirarki manajerial. Para anggota bertanggungjawab secara penuh terhadap karir mereka sendiri. Hal ini mengindikasikan adanya suatu pergeseran menunju karir tanpa batas (the boundaryless career). Struktur cellular ini mensyaratkan kemampuan bukan hanya pada teknis, bisnis dan keahlian kolaborasi yang kuat tetapi juga kepemimpinan dan pengendalian diri (self governance) pada setiap karyawannya. Karir pada struktur organisasi modern dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini : Tabel 2 Modern Organization and Careers
Organizational Structur Network Career Path Within and Across Firm Independent Professional Key Competencies Technical, Commercial, and Collaborative Technical, Commercial, Collaborative and Self-Governance Resposibility for Career Planning Firm and Individual

Cellular

Individual

Sumber : Allred, Brent B. et al (1996). Characteristic of Managerial Careers in the 21st Century. Academy of Management Executive. Vol 10 No. 4. p. 18 and 21 Karir dalam organisasi network maupun cellular memerlukan multiskill yaitu sebuah coreskill dan skill lainnya, sehingga seseorang bisa berpindah-pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya secara fleksibel (Nicholson, 1996). Hal ini dikarenakan karir dalam organisasi network maupun cellular menyerahkan sepenuhnya tanggungjawab karir terhadap individu. Protean Career : Paradigma Pengembangan Karir di Masa Mendatang Seperti dijelaskan diatas bahwa perubahan struktur karir akan menyebabkan pula terjadinya perubahan paradigma karir. Paradigma lama, karir diartikan sebagai suatu rangkaian atau urutan kerja seseorang sepanjang kehidupan kerjanya, sedangkan

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Paradigma Karir : Protean Career Melalui Continuous Learning

Yudhistira Utama

paradigma baru mengartikan karir sebagai suatu rangkaian kerja seseorang yang tidak beraturan bentuknya sepanjang kehidupan kerjanya dan lebih mengarah pada pencapaian prestasi. Paradigma karir baru memberikan tanggungjawab pada setiap individu bukan organisasi untuk mengembangkan karirnya (the boundaryless career). Hall (1996) menyatakan bahwa karir yang didorong oleh seorang individu dan bukan oleh organisasi, serta akan disesuaikan oleh individu itu sendiri dan perubahan lingkungannya, itulah yang disebut dengan protean career. Protean berasal dari nama salah seorang dewa Mesir kuno Proteus yang dapat berubah bentuk sekehendak hatinya dengan mudah. Noe, et. al., 2000, mendefinisikan protean career sebagai karir yang sering mengalami perubahan, seiring dengan perubahan yang terjadi yaitu perubahan kepentingan, kemampuan dan nilai seseorang serta perubahan lingkungan kerja itu sendiri. Perubahan karir ini memberikan tanggungjawab yang besar kepada setiap individu terhadap pengembangan karirnya sendiri dalam menghadapi perubahan dari pengelolaan karir traditional menuju pengelolaan karir modern. Menurut Allred, et al (1996) kompetensi yang diperlukan bagi individu untuk menghadapi karir tanpa batas adalah sebagai berikut : 1. Knowledge-Based Technical Specialty Model pengembangan karir dimasa yang akan datang tidak lagi ditentukan oleh organisasi, individu-individu akan bertanggungjawab untuk mengelola karirnya atau dapat bekerjasama dengan yang lainnya. Perhatian organisasi pada pengembangan karir akan beralih pada inisiatif individu dalam melaksanakan pekerjaan dan aktivitasaktivitas pengembangan lainnya (Walker,1998). Karir akan dibangun dengan mempergunakan spesialisasi dalam bidang teknis dan kemampuan dibidang teknologi informasi. Informasi akan menjadi mekanisme kunci untuk bekerjasama dalam melakukan pemecahan masalah. Kualitas, kuantitas serta kemampuan untuk mengakses dan memanfaatkan informasi akan menempatkan organisasi dalam memenangkan kompetisi. 2. Cross-Functional and International Experience Para manajer dimasa yang akan datang dituntut untuk memiliki pengalaman yang bersifat antar fungsi (Cross-Functional Experience). Manajer akan memerlukan pemahaman yang mendasar dari berbagai paradigma fungsi lain dan pendekatan yang multi disiplin dalam pemecahan masalah. Disamping itu manajer juga dituntut akan pengalaman internasional serta multikultural. 3. Collaborative Leadership Kemampuan untuk dapat bekerjasama yang baik antar fungsi maupun dengan bawahan, terutama bagi struktur organisasi yang berbentuk network dan cellular menjadi sesuatu yang sangat penting untuk menjaga kelangsungan hidup organisasi. Misalnya, kemampuan kolaborasi seperti referal skill, partnering skill dan relationship management merupakan faktor utama dalam mencapai efektifitas organisasi dalam organisasi network, begitu pula dengan organisasi cellular, sangat tergantung pada kemampuan kolaborasi antar bagian organisasi. Kemampuan individu untuk secara cepat berintegrasi dalam lingkungan kerja merupaka faktor penting bagi keberhasilan tim.

4. Self-Management Skill Keberhasilan individu dalam karir dipengaruhi oleh kemampuannya untuk mengatur dirinya sendiri. Individu harus me-manajemen diri sendiri (Self-Management) dengan berinvestasi pada suatu proses belajar yang terus menerus (continuous learning process) yang dapat memberikan mereka kesempatan dan berkembang dalam karir mereka. Penekanan karir perlu menekankan pada proses pembelajaran secara terus menerus (Blackburn dan Rosen, 1993) 5. Personal Traits Berhubungan dengan sifat individu yang akan selalu memainkan peranan penting dalam pengembangan profesional mereka. Salah satu atribut yang diperlukan adalah fleksibilitas. Fleksibilitas diperlukan ketika terjadi pergeseran dari organisasi yang bersifat birokratik ke organisasi celluler, dimana seorang individu tidak hanya menfokuskan pada satu spesialisasi ataupun satu karir, tetapi menuju pada fleksibilitas yang dapat bergabung pada berbagai tugas.sifat lain seperti integritas dan keyakinan diri juga merupakan atribut personal yang diperlukan dalam mengelola dan menjalin kerjasama. Kompetensi diatas haruslah didukung oleh organisasi dengan memberikan sebuah kesempatan dan keleluasaan yang tinggi bagi setiap karyawannya untuk meningkatkan kompetensinya. Kecenderungan bentuk organisasi akan lebih datar, ramping dan fleksibel (Walker, 1998). Organisasi harus bersifat fleksibel dan mampu memberikan sebuah lingkungan yang mendukung selama karyawan tersebut masih berada dalam organisasi (Widowati, 1998). Sehingga karyawan akan lebih bertanggungjawab terhadap karir mereka sendiri dan organisasi bertanggungjawab akan penyediaan lingkungan dan kesempatan untuk perkembangan para karyawannya. Perusahaan dapat memberikan tantangan pekerjaan dan hubungan secara formal maupun informal dalam lingkungan kerja. Hal ini menunjukkan bahwa karir individu sudah seharusnya didukung oleh karir organisasi, sehingga akan tercipta sebuah win-win solution. Karakteristik Protean Career Hall (1996) menggambarkan bahwa kontrak karir pada awal milenium mendatang akan berbeda dengan kontrak karir sebelumnya. Karyawan tidak lagi terikat dengan kontrak kerja tradisional dimana mereka masuk perusahaan, bekerja keras, menunjukkan kinerja yang baik, loyal dan memiliki komitmen, kemudian mereka menerima kompensasi yang lebih tinggi dan seterusnya. Kontrak karir yang baru lebih didasarkan pada continuous learning dan perubahan identitas, dimana Hall (1996) menyebutnya sebagai the path with a heart. Kuznia (2000) mendefinisikan karir yang berhubungan dengan continuos learning sebagai seorang individu yang dihubungkan dengan proses yang dikarakteristikkan oleh sebuah inisatif sendiri, kebebasan dalam menentukan, pola yang proaktif dan direncanakan dari aktivitas formal dan informal yang didukung sepanjang waktu dengan tujuan untuk menerapkan atau mentransfer knowledge. Tabel III berikut ini merupakan karakteristik protean career pada abad 21 (Hall,1996).

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Paradigma Karir : Protean Career Melalui Continuous Learning

Yudhistira Utama

Tabel III The Protean Career of the 21st Century


l The goal : Psychological Success l The Career is Managed by the Person, not the Organization l The Career is a Lifelong Series of Identity Changes and Continuous learning l Career Age Counts, not Chronological Age l The Organization provides : l Work Challenges and l Relationships l Development is not Necessarily : l Formal training l Retraining l Upward Mobility l Profile for Success : l From Know-How.To Learn-How l From Job security.To Employability l From Organizational Careers...To Protean Careers l From Work SelfTo Whole Self

Sumber : Douglas T. Hall, Protean Careers of the 21 Century, Academy of Management Executive, Vol. 10 No. 4, 1996 Protean career memiliki tujuan yang berbeda dengan organizational career. Organizational career lebih bertujuan pada pencapaian uang dan tingkatan tertinggi dari suatu piramida perusahaan, sedangkan protean career lebih kepada kesuksesan psikologis (psychological success), perasaan bangga dan keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan cita-cita hidup sehingga tidak sekedar pencapaian tangga-tangga karir dalam suatu struktur organisasi atau sekedar faktor keuangan semata. Protean career tidak diukur dengan usia kronologis (chronological age) dan tingkatan kehidupan, melainkan diukur dengan sebuah proses pembelajaran yang berkelanjutan (continuous learning) dan perubahan identitas (identity change). Karir akan terbentuk dari serangkaian tahap-tahap pembelajaran yang singkat. Proses pembelajaran yang berkelanjutan akan didukung oleh kombinasi person, tantangan pekerjaan, dan relasi individu dengan lingkungan kerjanya (baik rekan kerja, bawahan, pelanggan, atasan) maupun dengan anggota dari berbagai jaringan formal maupun informal. Sebagai tambahan sebuah pelatihan formal dianggap tidak relevan pada suatu proses pembelajaran yang berkelanjutan dikarenakan pertimbangan biaya, waktu, dan kurang berkaitan dengan sebuah bisnis yang berkembang. Selanjutnya, permintaan pasar tenaga kerja akan mengalami pergeseran dari knowhow menjadi learn-how. Keamanan kerja akan mengalami pergeseran digantikan oleh kemampuan untuk dipekerjakan (employability). Individu diharapkan dapat bekerja dengan lebih kreatif. Protean career tidak terikat dengan organisasi melainkan

st

merupakan kesepakatan diri sendiri dengan pekerjaannya. Puncak karir seseorang akan dicapai dengan menggunakan talenta-talenta yang paling dihargai oleh dirinya sendiri, namun seringkali para individu kesulitan dalam mencapai kesuksesan organisasi dan pandangan yang mendalam dari nilai-nilai individu, sehinnga protean career membutuhkan sebuah kesadaran diri yang tinggi dan sebuah tanggungjawab personal. Susanto (2000) menjelaskan lebih jauh tentang sebuah penelitian yang dilakukan oleh Roffey Park Management Institute yang menyebutkan bahwa employability terbentuk dari gabungan antara pengalaman, track record, dan kemampuan utama, termasuk didalamnya adalah fleksibilitas, kreativitas, change management, team-work, serta keinginan untuk terus belajar. Beberapa manajer membentuk employability-nya melalui peningkatan pelatihan, networking, dan mengerjakan tugas yang sulit. Proses mendapatkan potensi karir protean menuntut individu untuk mengembangkan sebuah kompetensi baru yang berkaitan dengan manajemen diri dan karir (management of self and career). Protean career merupakan sebuah proses pembelajaran yang berkelanjutan, sehingga orang harus belajar bagaimana mengembangkan self-knowledge dan adaptability. Inilah yang disebut dengan metaskill, yang merupakan keterampilan yang dibutuhkan dalam mempelajari how to learn. Menurut Hall (1996), pembelajaran terdiri atas dua dimensi yaitu rentang waktu pembelajaran (jangka pendek maupun jangka panjang) dan bidang yang dipelajari (baik tugas maupun personal). Penggabungan dua dimensi pembelajaran ini akan diperoleh matrik empat sel (four-cell matrix) seperti pada tabel IV. Tabel IV Four-cell Matrix

Object of Learning Task Short Term Time Span Long Term Improving Adaptability Improving Performance Self Changing Attitudes Developing and Extending Identity

Sumber : Douglas T. Hall, Protean Careers of the 21st Century, Academy of Management Executive, Vol. 10 No. 4, 1996 Pembelajaran jangka pendek terhadap tugas disebut dengan performance atau skill learning. Pembelajaran jangka pendek tentang diri sendiri akan melibatkan pembelajaran

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Paradigma Karir : Protean Career Melalui Continuous Learning

Yudhistira Utama

yang meliputi pembelajran mengenai sikap-sikap individu seseorang. Perubahan kinerja dan sikap akan mempengaruhi pengalaman kerja sekarang pada saat bekerja. Pembelajaran untuk meningkatkan kinerja tugas pada jangka panjang memerlukan adaptasi terhadap kondisi pekerjaan yang berubah-rubah dan pembelajaran jangka panjang terhadap perspektif diri berarti mempelajari tentang identitas seseorang dan bagaimana identitas tersebut akan membentuk pandangan diri mengenai realitas. Adaptability dan identity adalah merupakan kompetensi yang diperlukan bagi protean career dimasa yang akan datang. Adaptability dan identity tidak dapat dipelajari sendiri, tetapi membutuhkan hubungan dan interaksi dengan orang lain atau yang disebut dengan relational learning. Bantuan dari orang lain pada dasarnya akan membangkitkan sumber-sumber kemampuan dirinya dan dalam prosesnya dimungkinkan juga dapat membantu orang lain. Kedepannya perusahaan tidak akan mengatur karir para karyawannya melainkan memberikan penyediaan kesempatan dan sumber-sumber kepada para karyawannya untuk mengembangkan identity dan adaptability pada karirnya. Hall (1998) menambahkan bahwa dengan adaptability memungkinkan seseorang untuk mengoreksi dirinya untuk merespon pada sebuah permintaan baru dari lingkungannya, tanpa menunggu pelatihan formal dan pengembangan dari organisasi. Adaptability tanpa self awareness akan menyebabkan seseorang akan beresiko melakukan perubahan yang tidak sesuai dengan nilai (value) dan tujuannya (goal). Lebih jauh Anakwe (2000) mengatakan bahwa protean career membutuhkan sebuah utilisasi dan akuisisi dari sekumpulan keterampilan (skill) yang dapat diidentifikasi dimana dapat mempercepat perubahan identity dan adaptability di setiap lingkungan. Hutton (2004) menambahkan bahwa kompetensi dari continuous learning melibatkan dua tahapan yaitu pencarian kesempatan untuk memperluas knowlwedge atau skill dan menerapkan prinsip-prinsip belajar pada lingkungan tempat kerja untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi organisasi. Lebih jauh Hutton mengemukakan bahwa pembelajaran yang berkelanjutan (continuous learning) merupakan kunci untuk adaptasi (adapting) Joyce Fletcher (1995) seperti yang dikutip oleh Hall (1996) mengemukakan bahwa bentuk pembelajran utama dimasa datang adalah bersifat kolaboratif dari para individual. Fletcher berargumen bahwa interaksi relasional dapat dibedakan menjadi tiga sifat : 1. Interdependence Merupakan sebuah keyakinan dimana sikap saling ketergantungan merupakan suatu yang ideal untuk mencapai seseuatu dan merupakan tanggungjawab terhadap kontribusi perkembangan orang lain. 2. Mutuality Pertumbuhan relasional tergantung pada kelompok-kelompok yang melakukan pendekatan interaksi dan berharap untuk dapat tumbuh dan mengambil keuntungan darinya.

3. Reciprocity Mengacu pada sebuah harapan dimana kedua kelompok akan dapat memiliki keterampilan dengan menggunakan model pertumbuhan dua arah sehingga akan menimbilkan motivasi. Sumber pembelajaran yang lainnya pada protean career adalah perbedaan sumber pembelajaran (diversity learning). Perbedaan (diversity) ini akan memberikan keuntungan kompetitif yang kuat bukan hanya pada organisasi melainkan juga bagi individu protean yang efektif. Barbara walker seperti yang dikutip oleh Hall (1996) menunjukkan serangkaian kemampuan relasional yang memungkinkan individu belajar dari perbedaan (diversity), yaitu belajar memahami orang yang dianggap berbeda, belajar memahami diri sendiri dan mempelajari bagaimana bekerja dengan orang yang berbeda dengan cara yang berbeda. Kanji (1996) menguraikan strategi efektif yang dapat dilakukan organisasi terhadap pembelajaran (learning) yaitu : 1. Memahami bagaimana dan mengapa seseorang belajar 2. Mempromosikan sebuah lingkungan pembelajaran yang sehat 3. Mengidentifikasi kebutuhan belajar individu 4. Menyiapkan sebuah perencanaan pembelajaran dengan obyek yang disetujui 5. Mempromosikan kesempatan belajar 6. Mengevaluasi hasil dari pembelajaran Peran Organisasi dalam Protean Career Hall (1998) berpendapat bahwa dalam pola karir yang dikendalikan oleh individu, organisasi diharapkan menggunakan pendekatan relasional dalam pengembangan karir karyawannya dan mendukung terciptanya continuous learning. Ada 10 tahapan yang disarankan oleh Hall (1998) agar organisasi mampu lebih cepat beradaptasi dengan perubahan pola karir ini, yaitu : 1. Organisasi hendaknya memulainya dengan sebuah pemahaman bahwa setiap individu mempunyai karirnya sendiri-sendiri. 2. Menciptakan informasi dan dukungan bagi upaya pengembangan karir individu 3. memahami bahwa pengembangan karir individu merupakan proses relasional, organisasi dan praktisi karir memainkan peran sebagai perantara 4. Integrasikan informasi karir, assessment technology, pembinaan karir dan konsultasi 5. Menyediakan program komunikasi karir yang unggul 6. Mengutamakan perencanaan kerja dan melupakan perencanaan karir 7. Fokuskan pada hubungan dan tantangan kerja bagi pengembangan 8. Menyediakan program intervensi karir melalui hubungan dan tantangan kerja 9. Mengutamakan learner identity daripada senioritas 10. Mengembangkan mindset yang mengutamakan penggunaan sumber daya yang alami bagi pengembangan

10

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Paradigma Karir : Protean Career Melalui Continuous Learning

Yudhistira Utama

11

Kesimpulan Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perubahan lingkungan yang semakin cepat yang membutuhkan fleksibilitas dan mobilitas yang tinggi, menuntut organisasi untuk lebih responsif, fleksibel dan adaptif dalam menghadapi perubahan tersebut dengan cara melakukan perubahan struktur organisasi. Perubahan Struktur organisasi berdampak pada pengelolaan karir individu. Struktur organisasi tradisional yang mencerminkan model pengelolaan karir menjadi tidak lagi relevan pada struktur organisasi cellular, dimana karir dalam organisasi cellular telah mengarah pada karir tanpa batas (the boudaryless career). Karir tanpa batas menuntut individu untuk melakukan kontrol terhadap karir mereka, sehingga tanggungjawab pengembangan karir akan berpindah dari organisasi kepada individu atau karyawan. Protean career muncul sebagai solusi dari adanya karir tanpa batas (the boudaryless career), dimana karir dikendalikan oleh individu bukan oleh organisasi. Organisasi akan lebih bersifat sebagai fasilitator bagi pengembangan karir seseorang. Pada protean career setiap individu akan bertanggungjawab terhadap karirnya masingmasing. Individu bertanggungjawab untuk dapat menciptakan kompetensi-kompetensi yang dapat meningkatkan keterampilan dan karir mereka serta kemajuan organisasi. Kompetensi pada protean career menuntut sebuah proses pembelajaran yang berkelanjutan (continuous learning) dan perubahan identitas (identity change) didalam meningkatkan karir mereka. Daftar Pustaka Allred, B. B., Snow, C. C., & Miles, R. E. 1996. Characteristic of Managerial Careers in the 21st Century. Academy of Management Executive, 10 (4): 18-21 Anakwe,U. P., Hall, J. C., and Schor, S. M. (2000). Knowledge-Related Skills and Effective Career Management. International Journal of Manpower, Vol 21 No.7. Blackburn, R and Rosen, B. 1993). Total Quality and Human Resources Management: Lesson Learned from Baldrige Award-Winning Companies. Academy of Management Executive, 7 (3) : 49-66 Chao, Georgia T. 1990. Exploration of the Conceptualization and Measurement of Career Plateau. Journal of Management, 16 (1) : 181-193 Erkaningrum, I. F. 2002 . Paradigma Baru Manajemen Sumber Daya Manusia. Amara Books. Hamidi, Masyhuri, 2000. Protean Career: Pengembangan Karir Menuju Struktur Organisasi Modern, Usahawan, 09 (29) September : 10 15 Hall, D. T. 1996. Protean Careers in the 21st Century. Academy of Management Executive, 10 (4) : 8-16 Hall, D. T., and Moss J. E.1998. The New Protean Career Contract : Helping Organizations and Employees Adapt. Organizational Dynamics, Winter 1998 : 2236

Kuznia, Kevin. The Antecedents and Influemces of Career Related Continuous Learning: Implication for Management Profesionals. www.search.epnet.com, 2003 Kanji, G. K.1996. Quality Learning. Total Quality Management, 7 (2) : 147-151 Nicholson, N.1996. Career Systems in Crisis Change and Opportunity in the Information Age. Academy of Management Executive, 10 (4) : 40-51 Widowati, Mustika, 1998. Karir Lentur Model Pengelolaan Karir Masa Depan, Usahawan, 02 (27) Februari : 33 37 Noe, R. A., Hollenbeck, J.R., Gerhart, B., and Wright, P. M. 2000. Human Resource Management. Gaining a Competitive Advantage. Third Edition. McGraw-Hill Companies, Inc Susanto, A. B. Employability. www.google.com Jakarta Consulting Group, 2000. Walker, J.W.1998. Managing Human Resource in Flat, Lean and Flexible Organizations: Trends for the 1990s. Human Resource Planning, 11 (2) : 125-132

12

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Paradigma Karir : Protean Career Melalui Continuous Learning

Yudhistira Utama

13

GAYA KEPEMIMPINAN, DESENTRALISASI SEBAGAI VARIABEL MODERATING DALAM HUBUNGAN ANTARA PARTISIPASI PENYUSUNAN ANGGARAN DENGAN KINERJA MANAJERIAL Rosyati dan Anni Fajriyah

Abstract Planning in an company, budget is top-drawer component. Budget is containing planning concerning monetary plans summary of organization in the future. Budget personate performance criterion weared as operation system to measure performance of manajerial. Effective performance is if intention of tired budget and participation of subordinate hold important role in attainment of target. This research will test factors influencing relation between participation compilation of performance and budget of manajerial by using approach of contingency. Factor the used is leadership style relate to factor of situasional decentralization and as factor of kontekstual organisasional. Leadership style and decentralization used as by approach of contingency in this research because both the factor can influence environment planning of organization. Target to reach in this research is to test empirically how far leadership style and decentralized authority what overflows degree the functioningness as variable of moderating influence relation between budget participationwith performance of manajerial. To support and reach target and also intend this research is used by method analyse simple linear regression and interaction test for the model of research. Test the quality of data use validity test and test of reliabilitas. Level of independent variable contribution to variable of dependen shown with coefficient test of determinasi (test R ). Test Hypothesis use test of F and test t. Research result obtained by evidence that there is relation which isnt it between budget participation with performance of manajerial, existence of positive relation between budget participation with decentralization to performance of manajerial, and there no relation between budget participation with style leadership of performance between of manajerial. Pursuant to research result, suggested that by manufacturing business in Magelang, Temanggung, and Purworejo in compilation of budget entangle middle manager so to be can participate and apply system decentralize so that will improve performance of manajerial.
2

Keyword : budget participation, leadership style, decentralization, and manajerial performance.

Pendahuluan Anggaran merupakan salah satu komponen penting dalam perencanaan perusahaan. Anggaran adalah suatu rencana rinci yang memperlihatkan bagaimana sumber-sumber daya yang diharapkan akan diperoleh dan dipakai selama periode waktu tertentu (Simamora, 1999;190). Anggaran merupakan suatu rencana finansial yang dipakai untuk pengelolaan sumber daya organisasi. Penyusunan anggaran pada dasarnya merupakan proses penetapan peran setiap manajer dalam melaksanakan program atau sebagian dari program. Penyusunan anggaran memerlukan kerja sama para manajer dari berbagai jenjang organisasi Kegiatan terakhir dari proses pengendalian manajemen adalah menilai kinerja manajer. Mahoney et al (1963) dalam Puspaningsih (2003) melihat kinerja manajer berdasar pada kemampuan manajer dalam pelaksanaan tugas manajerialnya. Manajer akan dinilai berprestasi apabila dapat mewujudkan apa yang menjadi tujuan organisasi. Manajer puncak dapat mengevaluasi kinerja bawahannya dengan memberikan reward (penghargaan), imbalan, bahkan hukuman. Argyris (1952) dalam Riyadi (2000) menyatakan, bahwa kunci kinerja yang efektif adalah apabila tujuan dari anggaran tercapai dan partisipasi dari bawahan memegang peranan penting dalam pencapaian tujuan tersebut. Hubungan antara partisipasi dalam penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial banyak menjadi objek penelitian. Penelitian sebelumnya mengenai hubungan antara partisipasi anggaran dengan kinerja manajerial masih menunjukkan hasil yang belum konsisten dan banyak mengalami perdebatan antara satu peneliti dengan peneliti yang lain. Hasil penelitian Brownell (1981); Brownell dan Mc Innes (1986); Indriantoro (1993) dalam Sayekti, dkk (2002) menunjukkan bahwa partisipasi dalam penyusunan anggaran mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja. Sedangkan penelitian Milani (1975); Kenis (1979); Riyanto (1996) dalam Sayekti, dkk (2002) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang tidak signifikan antara partisipasi dalam penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial. Hasil berlawanan ini mendorong untuk dilakukannya penelitian kembali hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dan kinerja manajerial. Peneliti berpendapat bahwa kemungkinan ada variabel lain yang mempengaruhi hubungan partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial. Penelitian ini akan menggunakan dan mengadopsi pendekatan kontinjensi (contingency approach). Pendekatan ini secara sistematis mengevaluasi berbagai kondisi atau variabel yang dapat mempengaruhi hubungan antara kedua variabel tersebut. Pendekatan kontinjensi akan diadopsi untuk mengevaluasi keefektifan hubungan antara partisipasi dalam penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial. Faktor kontijensi yang digunakan dalam penelitian ini adalah gaya kepemimpinan sebagai variabel situasional (Fidler, 1965 dalam Amin, 2004) dan pelimpahan wewenang yang terdesentralisasi sebagai faktor konstektual organisasional ( Gul et al, 1995 dalam Riyadi, 2000). Para manajer atau bawahan yang berada dalam struktur yang terdesentralisasi diberikan wewenang dan tanggung jawab yang lebih besar dalam pengambilan

14

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Gaya Kepemimpinan, Desentralisasi Sebagai Variabel Moderating Dalam Hubungan Antara Partisipasi Penyusunan Anggaran Dengan Kinerja Manajerial

Rosyati dan Anni Fajriyah

15

keputusan dan melakukan kegiatan daripada struktur yang tersentralisasi. Gul et.al (1995) dalam Coryanata (2004) menemukan bahwa partisipasi dalam penyusunan anggaran terhadap kinerja manajerial akan berpengaruh positif dalam organisasi yang pelimpahan wewenangnya bersifat desentralisasi, dan akan berpengaruh negatif pada organisasi yang pelimpahan wewenangnya bersifat sentralisasi. Sedangkan Riyanto (1996) dalam Coryanata (2004) menemukan sebaliknya, yaitu desentralisasi tidak dapat mempengaruhi hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial. Organisasi atau perusahaan dengan gaya kepemimpinan yang demokratis dan organisasi yang terdesentralisasi memungkinkan partisipasi manajemen yang lebih besar dalam keputusan penetapan anggaran dan kemungkinan dapat memotivasi kinerja yang optimal. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas, maka terdapat masalah yang perlu dibahas dalam penelitian ini adalah: apakah gaya kepemimpinan dan desentralisasi mempengaruhi secara kontinjensi hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial. Tujuan Penelitian Menguji secara empiris apakah gaya kepemimpinan mempengaruhi hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial dan menguji secara empiris apakah pelimpahan wewenang yang terdesentralisasi dalam organisasi mempengaruhi hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial. Landasan Teori 1. Pengertian Anggaran Anggaran adalah suatu rencana terinci yang disusun secara sistematis dan dinyatakan secara formal dalam ukuran kuantitatif, biasanya dalam bentuk uang untuk menunjukkan perolehan dan penggunaan sumber-sumber suatu organisasi dalam jangka waktu tertentu biasanya satu tahun (Supriyono, 2000; 40). Anggaran merupakan suatu pernyataan formal yang dibuat oleh manajemen tentang rencana-rencana yang akan dilakukan pada masa yang akan datang dalam suatu periode tertentu, yang akan digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan selama periode tersebut (Hanson, 1966 dalam Riyadi, 2000). 2. Partisipasi Penyusunan Anggaran Penyusunan anggaran pada dasarnya merupakan proses penetapan peran setiap manajer dalam melaksanakan program. Penyusunan anggaran memerlukan kerja sama para manajer dari berbagai jenjang organisasi untuk menghasilkan anggaran yang dapat berfungsi sebagai alat perencanaan dan sekaligus sebagai alat pengendalian, penyusunan anggaran memerlukan persyaratan tertentu (Mulyadi, 2001; 502).

3. Kinerja Manajerial Kinerja manajerial merupakan faktor yang mendukung keefektifan organisasi. Mahoney et al (1963) dalam Puspaningsih (2002) melihat kinerja manajer berdasar pada kemampuan manajer dalam melaksanakan tugas manajerialnya. Kinerja manajer meliputi kemampuan manajer dalam: perencanaan, investigasi, pengkoordinasian, evaluasi, pengawasan, pemilihan staff, negosiasi, perwakilan dan kinerja secara menyeluruh. 4. Gaya Kepemimpinan Gaya kepemimpinan adalah pola perilaku konsisten yang diterapkan pemimpin dengan dan melalui orang lain, yaitu pola perilaku yang ditunjukan pemimpin pada saat mempengaruhi orang lain, seperti yang dipersepsikan orang lain (Fleisman dan Peters,1962 dalam Halimatusyadiah, 2003). 5. Desentralisasi Desentralisasi dalam organisasi berkaitan erat dengan struktur organisasi yang memberi gambaran mengenai kekuasaan dalam suatu organisasi. Struktur desentralisasi menunjukkan manajemen puncak mendelegasikan wewenang dan tanggung jawab kepada manajer menengah dan bawah dalam bentuk pembuatan keputusan (Gordon dan Narayan, 1984 dalam Gaspersz, 2003). 6 Penelitian Terdahulu Penelitian tentang pengaruh partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manjerial telah dilakukan oleh beberapa peneliti, namun kesimpulan akhir yang dihasilkan tidak konsisten. Hasil penelitian Brownell dan Mc Innes (1986) dalam Sayekti, dkk (2002) menunjukkan bahwa ada hubungan positif dan signifikan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajer, sementara Milani (1975); Kenis (1979) dalam Sayekti, dkk (2002) mengungkapkan bahwa ada hubungan yang tidak signifikan diantara kedua variabel tersebut. Pengembangan Hipotesis 1. Hubungan Antara Partisipasi Anggaran dan Kinerja Manajerial Kinerja manajerial adalah kinerja manajer dalam kegiatan-kegiatan manajerial yang meliputi: perencanaan, investigasi, pengkoordinasian, evaluasi, pengawasan, pengaturan staff (staffing), negosiasi dan representasi (Mahoney dkk,1963 dalam Coryanata, 2004). Partisipasi bawahan dalam penentuan anggaran mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja manajerial karena dengan adanya partisipasi bawahan dalam menyusun anggaran, maka bawahan merasa terlibat dan harus bertanggung jawab pada pelaksanaan anggaran, sehingga diharapkan bawahan dapat melaksanakan anggaran dengan lebih baik (Anthony dan Govindarajan, 2001 dalam Sumadiyah dan Susanta, 2004). Kunci dari kinerja yang efektif adalah apabila tujuan dari anggaran tercapai dan

16

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Gaya Kepemimpinan, Desentralisasi Sebagai Variabel Moderating Dalam Hubungan Antara Partisipasi Penyusunan Anggaran Dengan Kinerja Manajerial

Rosyati dan Anni Fajriyah

17

partisipasi dari bawahan memegang peranan penting dalam pencapaian tujuan tersebut (Argyris, 1952 dalam Riyadi, 2000). 2. Interaksi antara Partisipasi Anggaran dan Gaya Kepemimpinan terhadap Kinerja Manajerial Gaya kepemimpinan seorang manajer akan sangat berpengaruh terhadap efektifitas seorang pemimpin. Gaya Kepemimpinan adalah suatu cara pemimpin untuk mempengaruhi bawahannya (Sukanto dan Handoko, 1996 :296). Sweringa dan Moncur (1972) dalam Amin (2004) melakukan penelitian terhadap 26 manajer untuk mengetahui bagaimana penyusunan anggaran yang dikaitkan dengan sikap dan posisi manajer, hasilnya menunjukkan bahwa aspek perilaku berpengaruh terhadap pelaksanaan penganggaran dan ini menunjukkan adanya pengaruh kuat gaya kepemimpinan terhadap penyusunan anggaran. Sebaliknya, hasil penelitian Amin (2004) menunjukan bahwa gaya kepemimpinan tidak mempengaruhi hubungan antara partisipasi anggaran dan kinerja manajerial. 3. Interaksi antara Partisipasi Anggaran dan Desentralisasi terhadap Kinerja Manajerial Struktur organisasi memberi gambaran mengenai kekuasaan dalam suatu organisasi. Burns dan Waterhouse (1975) dalam Riyadi (2000) menunjukkan bahwa manajer atau bawahan dalam organisasi yang tingkat desentralisasinya tinggi merasa dirinya orang yang lebih berpengaruh, lebih berpartisipasi dalam perencanaan anggaran dan merasa dipuaskan dengan kegiatan yang berhubungan dengan anggaran. Sebaliknya Brownell (1982) dalam Riyadi (2000) berpendapat bahwa dalam organisasi dengan tingkat desentralisasi rendah (cenderung sentralisasi) manajer merasa dirinya dianggap kurang bertanggung jawab, sedikit terlibat dalam perencanaan anggaran dan mengalami tekanan dari atasan, mereka merasa anggaran sebagai sesuatu yang kurang berguna dan membatasi keleluasaan mereka. Model Penelitian Variabel independen yang digunakan penelitian ini adalah partisipasi anggaran (X ) dan variabel dependen yang diteliti adalah kinerja manajerial (Y). Sedangkan gaya kepemimpinan (X ) dan desentralisasi (X ) berfungsi sebagai variabel moderating.
1 2 3

Motode Penelitian 1. Jenis dan Sumber Data Data primer yaitu data yang diperoleh dari sumber penelitian secara langsung dengan menggunakan kuesioner. Data primer yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah jawaban atau pernyataan responden terhadap atribut atau faktor-faktor yang diteliti meliputi pernyataan responden tentang kinerja manajerial, partisipasi penyusunan anggaran, gaya kepemimpinan dan desentralisasi. 2. Teknik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan convenience sampling yang merupakan pengambilan sampel secara nyaman yang dilakukan dengan memilih sampel bebas sekehendak perisetnya (Jogiyanto, 2004:79). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 100 manajer menengah yang berasal dari 25 perusahaan di wilayah Magelang, Temanggung dan Purworejo. Manajer menengah dijadikan subyek dalam penelitian ini karena manajer tersebut mempunyai atasan dan bawahan dan bertanggung jawab atas divisi yang dipimpinnya (Mulyasari dan Sugiri, 2004). 3. Teknik Pengumpulan Data Data dalam penelitian ini diperoleh dengan mengirimkan kuesioner atau daftar pertanyaan kepada manajer tingkat menengah pada perusahaan manufaktur yang berada di wilayah Magelang, Temanggung dan Purworejo. Setiap perusahaan dikirimkan 4 kuesioner yang masing-masing untuk manajer tingkat menengah, sehingga jumlah kuesioner yang akan dikirim berjumlah 100. Tingkat pengembalian (response rate) dalam penelitian ini diperkirakan 50% dengan alasan kuesioner didistribusikan sendiri secara langsung dan mengambilnya kembali sesuai dengan jangka waktu yang telah disepakati bersama. Kuesioner ini dikirimkan ke masing-masing responden disertai dengan surat permohonan pengisian kuesioner. 4. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel a. Partisipasi Anggaran Partisipasi anggaran adalah luasnya manajer yang terlibat dan memiliki pengaruh dalam penentuan anggaran yang kinerjanya akan dievaluasi dan dihargai atas pencapaian target anggaran mereka (Brownell,1982 dalam Riyadi, 2000). b. Kinerja Manajerial Kinerja manajerial merupakan kinerja manajer dalam kegiatan manajerial yang meliputi perencanaan, investigasi, pengkoordinasian, evaluasi, pengawasan, pengaturan staff, negosiasi dan perwakilan atau representasi (Mahoney et al, 1963) dalam Riyadi (2000).

Gaya Kepemimpinan (X2) Desentralisasi (X3) Partisipasi Anggaran (X1)


Gambar Model Penelitian

Kinerja Manajerial (Y)

18

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Gaya Kepemimpinan, Desentralisasi Sebagai Variabel Moderating Dalam Hubungan Antara Partisipasi Penyusunan Anggaran Dengan Kinerja Manajerial

Rosyati dan Anni Fajriyah

19

c. Gaya Kepemimpinan Gaya kepemimpinan merupakan perilaku manajer dalam berinteraksi dengan lingkungan organisasinya. Gaya kepemimpinan ini diukur dengan menggunakan kuesioner yang dikembangkan oleh Yeh, Quey-Jen (1996) dalam Masud (2004 d. Desentralisasi Desentralisasi merupakan pendelegasian wewenang dan tanggung jawab kepada jajaran manajemen yang lebih rendah di dalam sebuah operasi (Heller dan Yulk, 1969 dalam Mardiyah dan Gudono, 2000). Analisis Data dan Pembahasan 1. Hasil Survei Jumlah kuesioner yang dikirimkan sebanyak 100 buah. Kuesioner kembali sebanyak 68 buah, dari kuesioner yang kembali 16 kuesioner tidak digunakan untuk penelitian karena pengisian tidak lengkap, sehingga kuesioner yang digunakan sebanyak 52 kuesioner.Jadi tingkat pengembalian kuesioner sebesar 68% untuk keseluruhan kuesioner yang kembali, dan tingkat pengembalian kuesioner yang dapat digunakan untuk penelitian sebanyak 52%. 2. Statistik Deskriptif Responden Rata-rata umur responden berkisar antara 36 sampai dengan 45 tahun sebanyak 25 orang (48,08 %). Dua puluh sembilan orang (55,77%) dari responden adalah pria dan 23 orang (44,23%) adalah wanita. Lama bekerja di perusahaan rata-rata 6 sampai 10 tahun dan telah menempati posisi sebagai manajer tingkat menengah rata-rata 1 sampai 5 tahun. Pendidikan terakhir para responden rata-rata Strata 1 (S1) yaitu sebanyak 24 orang (46,15%). Jabatan responden di perusahaan antara lain manajer keuangan, manajer produksi, manajer akuntansi, manajer pemasaran, serta manajer lainnya yang menjabat sebagai kepala bagian yang dapat diidentifikasi sebagai manajer tingkat menengah yang semuanya memiliki atasan dan bawahan. 3. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian Nilai minimum dari partisipasi anggaran (X ) adalah 17, nilai maksimum adalah 33, dengan nilai rata-rata adalah 23,6731 dan nilai deviasi standar 5,87023. Gaya kepemimpinan (X ) memiliki nilai minimum 10, nilai maksimum 37, dengan nilai ratarata sebesar 24,6538 dan nilai deviasi standar sebesar 7,95301. Desentralisasi (X ) memiliki nilai minimum 17, nilai maksimum 33, dengan nilai rata-rata sebesar 23,5577 dan nilai deviasi standar sebesar 5,77830. Sedangkan kinerja manajerial (Y) memiliki nilai minimum 20, nilai maksimum 50, dengan nilai rata-rata sebesar 35,9615 dan deviasi standar sebesar 7,61825.
1 2 3

4. Uji Kualitas Data a. Uji Validitas Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Uji validitas dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Uji signifikansi dilakukan dengan membandingkan nilai rhitung dengan rtabel untuk df = n - 2, dalam hal ini n adalah jumlah sampel, dengan alpha 0.05 jika rhitung > dari rtabel dan nilai r positif, maka butir pertanyaan tersebut dikatakan valid (Ghozali, 2001: 45). Uji validitas dilakukan dengan program SPSS for Windows versi 11.00. Tabel Hasil Uji Validitas Variabel Penelitian
Item Pertanyaan Partisipasi Anggaran PA1 PA2 PA3 PA4 PA5 Gaya Kepemimpinan GY1 GY2 GY3 GY4 GY5 GY6 Desentralisasi D1 D2 D3 D4 D5 Kinerja Manajerial KM1 KM2 KM3 KM4 KM5 KM6 KM7 KM8 Sumber : Data primer yang diolah Hasil uji validitas rhitung Kesimpulan 0,9190 0,8945 0,9634 0,9267 0,9112 0,8423 0,7772 0,8361 0,9288 0,8331 0,7772 0,9160 0,2768 0,9594 0,9283 0,9123 0,8212 0,8435 0,8601 0,9335 0,7760 0,8417 0,8505 0,8361 Valid Valid Valid Valid Vali d Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

20

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Gaya Kepemimpinan, Desentralisasi Sebagai Variabel Moderating Dalam Hubungan Antara Partisipasi Penyusunan Anggaran Dengan Kinerja Manajerial

Rosyati dan Anni Fajriyah

21

Pengujian validitas dapat dilihat dengan membandingkan rhitung dengan rtabel, dimana rhitung dengan jumlah sampel sebanyak 52, maka nilai df dapat dihitung 52 2 = 50, dengan df = 50 dan tingkat signifikansi (alpha) 0,05 didapat rtabel 0,2730. Tabel di atas menunjukkan bahwa semua item pertanyaan masing-masing variabel memiliki nilai lebih dari 0,2730 sehingga dapat disimpulkan bahwa semua item pertanyaan masingmasing variabel adalah valid/sahih dan dapat memenuhi validitas untuk dilakukan perhitungan lebih lanjut. b. Uji Reliabilitas Pengambilan kesimpulan uji reliabilitas adalah dengan uji statistik cronbach alpha. Semua variabel penelitian memiliki nilai cronbach alpha lebih dari 0,60 sehingga dapat disimpulkan bahwa semua instrumen dalam variabel penelitian ini reliabel/handal dan dapat memenuhi reliabilitas untuk digunakan dalam penelitian selanjutnya. 5. Hasil Uji Regresi Linier Sederhana Partisipasi Penyusunan Anggaran Terhadap Kinerja Manajerial Uji regresi linear sederhana digunakan untuk menguji hipotesis satu (H1), yaitu pengaruh antara partisipasi penyusunan anggaran terhadap kinerja manajerial. Formula yang digunakan adalah: Y= a + b 1X1 + a adalah konstanta, b 1 menunjukkan koefisien regresi, X1 adalah partisipasi anggaran dan Y adalah kinerja manajerial. Tabel Hubungan antara Partisipasi Anggaran dan Kinerja manajerial
Simbol Variabel Nilai Koefisien (Constant) X1 Partisipasi Anggaran 19.038 0.715 Standar Error 3.734 0.153 5.099 4.667 0.000 0.000 t value Sig (P)

peningkatan satu satuan partisipasi anggaran maka kinerja manajerial akan meningkat sebesar 0,715. a. Koefisien Determinasi (R ) Tabel Hasil Regresi Partisipasi Anggaran dan Kinerja Manajerial
2

Model 1

R ,551a

R square ,303

Adjusted R square ,289

Std. Error of the Estimate 6,42152

Sumber : Data Primer yang diolah Berdasarkan hasil tabel di atas didapat nilai R atau koefisien determinasi sebesar 0,289. Hal ini berarti bahwa variabel independen partisipasi anggaran memberikan pengaruh sebesar 28,9 % terhadap variabel dependen kinerja manajerial, sedangkan sisanya (100% - 28,9% = 71,1%) dipengaruhi oleh variabel lain, yang tidak masuk dalam model regresi. b. Pengujian uji t Proses pengujian ini dilakukan dengan cara membandingkan antara nilai thitung dan ttabel pada derajat kebebasan n-k-1 dan tingkat kepercayaan tertentu. Kriteria diterima dan ditolaknya hipotesis adalah bahwa jika nilai thitung berada pada area Ha diterima , maka dapat disimpulkan adanya pengaruh yang signifikan diantara kedua variabel. Sebaliknya jika thitung berada pada area Ha ditolak berarti tidak ada pengaruh. 6. Hasil Uji Interaksi Partisipasi Anggaran dan Gaya Kepemimpinan Terhadap Kinerja Manajerial Hipotesis kedua (H2) diuji dengan regresi berganda yang dalam persamaan regresinya mengandung unsur interaksi, dengan rumus persamaan sebagai berikut: Y=a +b 1X1 + b 2X2 + b 4X1X2 + a adalah konstanta, b 1, b 2, b 4 menunjukkan koefisien regresi, Y adalah kinerja manajerial, X1 adalah partisipasi anggaran, X2 adalah gaya kepemimpinan, sedangkan X1X2 menunjukkan interaksi partisipasi anggaran dan gaya kepemimpinan.
2

Dependent Variabel : Kinerja Manajerial Adjusted R (R2) = 0.289, F = 21.780, P = 0.000, n = 52

Sumber : Data primer yang diolah Berdasarkan hasil perhitungan yang didapat maka diperoleh persamaan regresi sebagai berikut : Y = 19,038 + 0,715 X1 + Konstanta sebesar 19,038 menyatakan bahwa jika tidak ada partisipasi dalam penyusunan anggaran maka tingkat kinerja manajerial adalah optimal sebesar 19.038. Sedangkan 0,715 merupakan koefisien regresi yang menunjukan bahwa setiap ada

22

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Gaya Kepemimpinan, Desentralisasi Sebagai Variabel Moderating Dalam Hubungan Antara Partisipasi Penyusunan Anggaran Dengan Kinerja Manajerial

Rosyati dan Anni Fajriyah

23

Tabel Interaksi antara Partisipasi Anggaran dan Gaya Kepemimpinan Terhadap Kinerja Manajerial
Simbol Variabel (Constant) Partisipasi Anggaran Gaya Kepemimpinan Moderat (Interaksi X1X2) Nilai Koefisien 26.411 0.651 0.309 0.372 Standar Error 4.874 0.283 0.106 1.660 T value 5.419 2.304 2.904 0.224 Sig (P) 0.000 0.026 0.006 0.824

b. Pengujian Secara Simultan (Uji F) Hasilnya menunjukkan nilai uji Fhitung sebesar 11,016 dan Ftabel dengan derajat kebebasan 3 dibanding 48 dan tingkat kepercayaan 5 % didapatkan nilai sebesar 2,7981, karena Fhitung lebih besar dari Ftabel atau 11,016 > 2,7981, akan Ha diterima yang berarti bahwa partisipasi anggaran, gaya kepemimpinan, moderat (interaksi partisipasi anggaran dan gaya kepemimpinan) secara bersama-sama berpengaruh terhadap kinerja manajerial. c. Pengujian Secara Partial (uji t) Proses pengujian ini dilakukan dengan cara membandingkan antara nilai thitung dan ttabel pada derajat kebebasan nk-1 dan tingkat kepercayaan tertentu. Kriteria diterima dan ditolaknya hipotesis adalah bahwa jika nilai thitung berada pada area Ha diterima , maka dapat disimpulkan adanya pengaruh yang signifikan diantara kedua variabel. Sebaliknya jika thitung berada pada area Ha ditolak berarti tidak ada pengaruh. 1. Pengaruh Partisipasi Anggaran terhadap Kinerja Manajerial Hasilnya menunjukkan bahwa thitung > ttabel yaitu 2,304 > 2,011 maka Ha diterima berarti partisipasi anggaran berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja manajerial. Nilai koefisien paramater variabel partisipasi anggaran sebesar 0,651 dengan tingkat signifikansi 0,026. Hal ini berarti bahwa partisipasi anggaran berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial. 2. Pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap Kinerja Manajerial Hasilnya menunjukkan bahwa thitung > ttabel yaitu 2,904 > 2,011 maka Ha diterima, berarti variabel gaya kepemimpinan berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja manajerial. Nilai koefisien paramater variabel gaya kepemimpinan sebesar 0,309 dengan tingkat signifikansi 0,006. Hal ini menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan mempunyai hubungan positif terhadap kinerja manajerial. 3. Pengaruh variabel Moderating (X1X2) terhadap Kinerja Manajerial Hasilnya menunjukkan bahwa thitung < ttabel yaitu 0,224 < 2,011 maka Ha ditolak. Berarti variabel moderat yang merupakan interaksi antara partisipasi anggaran dan gaya kepemimpinan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja manajerial. Nilai koefisien paramater variabel moderat yang merupakan interaksi antara partisipasi anggaran dan gaya kepemimpinan sebesar 0,372 dengan tingkat signifikansi 0,824. H2 menyatakan bahwa terdapat hubungan yang positif antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial yang dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan tidak terbukti dalam penelitian ini. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel gaya kepemimpinan tidak merupakan variabel moderating.

X1 X2 X1X2

Dependent Variabel : Kinerja Manajerial Adjusted R (R2) = 0.371 F = 11.016, P = 0.000,n = 52

Sumber : Data primer yang diolah Berdasarkan hasil perhitungan yang didapat maka diperoleh persamaan regresi sebagai berikut: Y = 26,411+ 0,651 X1 + 0,309 X2 + 0,372 X1X2 + Konstanta sebesar 26,411 menyatakan bahwa jika tidak ada partisipasi anggaran, gaya kepemimpinan dan variabel moderating (interaksi antara partisipasi anggaran dengan gaya kepemimpinan), maka tingkat kinerja manajerial adalah optimal sebesar 26,411. Pengaruh yang ditunjukkan oleh koefisien regresi adalah positif, artinya bahwa setiap peningkatan satu satuan variabel partisipasi anggaran, variabel gaya kepemimpinan, dan variabel moderat (interaksi antara partisipasi anggaran dan gaya kepemimpinan) maka kinerja manajerial akan meningkat secara berturut-turut sebesar 0,651, 0,309 dan 0,372. a. Koefisien Determinasi (R ) Tabel Hasil Regresi Moderat (X1X2) Terhadap Kinerja Manajerial
2

Model 1

R .639a

R square .408

Adjusted R square .371

Std. Error of the Estimate 6.04320

Sumber: Data primer yang diolah Berdasarkan hasil tabel di atas didapat nilai adjusted R atau koefisien determinasi sebesar 0,371. Hal ini berarti bahwa variabel independen partisipasi anggaran, gaya kepemimpinan dan moderat (interaksi antara partisipasi anggaran dan gaya kepemimpinan) memberikan pengaruh sebesar 37,1 % terhadap variabel dependen kinerja manajerial, sedangkan sisanya (100% - 37,1% = 62,9%) dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak masuk dalam model regresi.
2

24

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Gaya Kepemimpinan, Desentralisasi Sebagai Variabel Moderating Dalam Hubungan Antara Partisipasi Penyusunan Anggaran Dengan Kinerja Manajerial

Rosyati dan Anni Fajriyah

25

7. Hasil Uji Interaksi antara Partisipasi Anggaran dan Desentralisasi terhadap Kinerja Manajerial Hipotesis ketiga (H3) diuji dengan regresi berganda yang dalam persamaan regresinya mengandung unsur interaksi, dengan rumus persamaan sebagai berikut: Y= a + b 1X1 + b 3X3 + b 5X1X3 + a adalah konstanta, b 1, b 3, b 5 menunjukkan koefisien regresi, Y adalah kinerja manajerial, X1 adalah partisipasi anggaran, X3 adalah desentralisasi, sedangkan X1X3 menunjukkan interaksi partisipasi anggaran dan desentralisasi. Tabel Interaksi antara Partisipasi Anggaran dan Desentralisasi terhadap Kinerja Manajerial
Simbol Variabel (Constant) Partisipasi Anggaran Desentralisasi Moderat (Interaksi X1X3) Nilai Koefisien 26.411 0.997 0.037 3.400 Standar Error 4.874 0.192 0.166 1.171 t value 5.419 5.185 0.224 2.904 Sig (P) 0.000 0.000 0.824 0.006

Tabel Hasil Regresi Moderat (X1X3) Terhadap Kinerja Manajerial

Model 1

R .639a

R square .408

Adjusted R square .371

Std. Error of the Estimate 6.04320

Sumber: Data primer yang diolah Berdasarkan hasil tabel di atas didapat nilai adjusted R2 atau koefisien determinasi sebesar 37,1 %. Hal ini berarti bahwa variabel independen partisipasi anggaran, desentralisasi dan moderat (interaksi antara partisipasi anggaran dan desentralisasi) memberikan pengaruh sebesar 37,1 % terhadap variabel dependen kinerja manajerial, sedangkan sisanya (100% - 37,1% = 62,9%) dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak masuk dalam model regresi. b. Pengujian Secara Simultan (Uji F) Nilai Fhitung sebesar 11,016 dan Ftabel dengan derajat kebebasan 3 dibanding 48 dan tingkat kepercayaan 5% didapatkan nilai sebesar 2,7981, karena Fhitung lebesar dari Ftabel atau 11,016 > 2,7981 maka Ha diterima yang berarti variabel partisipasi anggaran, desentralisasi, moderat (interaksi antara partisipasi anggaran dan desentralisasi) secara bersama-sama berpengaruh terhadap kinerja manajerial. c. Pengujian Secara Partial (uji t) Proses pengujian ini dilakukan dengan cara membandingkan antara nilai thitung dan ttabel pada derajat kebebasan n-k dan tingkat kepercayaan tertentu. Kriteria diterima dan ditolaknya hipotesis adalah bahwa jika nilai thitung berada pada area Ha diterima , maka dapat disimpulkan adanya pengaruh yang signifikan diantara kedua variabel. Sebaliknya jika thitung berada pada area Ha ditolak berarti tidak ada pengaruh. 1. Pengaruh Partisipasi Anggaran terhadap Kinerja Manajerial Hasilnya menunjukkan bahwa thitung > ttabel yaitu 5,185 > 2,011 maka Ha diterima berarti partisipasi anggaran berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja manajerial. Nilai koefisien paramater variabel partisipasi anggaran sebesar 0,997 dengan tingkat signifikansi 0,000. Hal ini berarti bahwa partisipasi anggaran berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial. 2. Pengaruh Desentralisasi terhadap Kinerja Manajerial Hasilnya menunjukkan bahwa thitung < ttabel yaitu 0,224 < 2,011 maka Ha ditolak, berarti variabel desentralisasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel kinerja manajerial. Nilai koefisien paramater variabel desentralisasi sebesar 0,037 dengan tingkat signifikansi 0,824. Hal ini menunjukkan bahwa desentralisasi tidak mempunyai hubungan yang positif terhadap kinerja manjerial.

X1 X3 X1X3

Dependent Variabel : Kinerja Manajerial Adjusted R (R2) = 0.408, F = 11.016, P = 0.000,n = 52

Sumber: Data primer yang diolah Berdasarkan hasil perhitungan yang didapat maka diperoleh persamaan regresi sebagai berikut: Y = 26,411 + 0,997 X1 + 0,037 X3 + 3,400 X1X3 + Konstanta sebesar 26,411 menyatakan bahwa jika tidak ada partisipasi anggaran, desentralisasi dan variabel moderating (interaksi antara partisipasi anggaran dengan desentralisasi), maka tingkat kinerja manajerial adalah optimal sebesar 26,411. Pengaruh yang ditunjukkan oleh koefisien regresi adalah positif, artinya bahwa setiap peningkatan satu satuan variabel partisipasi anggaran, desentralisasi, dan variabel moderat (interaksi antara partisipasi anggaran dan gaya kepemimpinan) maka kinerja manajerial akan meningkat secara berturut-turut sebesar 0,997, 0,037 dan 3,400. a. Koefisien Determinasi (R ) Uji determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar sumbangan pengaruh 2 variabel independen terhadap variabel dependen. Uji R dilakukan dengan program SPSS for Windows versi 11.00. Hasil dari pengolahan data dapat dilihat sebagai berikut:
2

26

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Gaya Kepemimpinan, Desentralisasi Sebagai Variabel Moderating Dalam Hubungan Antara Partisipasi Penyusunan Anggaran Dengan Kinerja Manajerial

Rosyati dan Anni Fajriyah

27

3. Pengaruh Moderat (X1X3) Terhadap Kinerja Manajerial Hasilnya menunjukkan bahwa thitung > ttabel yaitu 2,904 > 2,011 maka Ha diterima, berarti variabel moderat yang merupakan interaksi antara partisipasi anggaran dan desentralisasi ternyata bepengaruh secara signifikan terhadap kinerja manajerial. Kesimpulan Hasil penelitian ini berhasil mendukung hipotesis pertama (H1) yang diajukan, bahwa partisipasi penyusunan anggaran mempunyai hubungan positif dan signifikan dengan kinerja manajerial yang berarti bahwa partisipasi penyusunan anggaran mempengaruhi kinerja manajerial. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Sayekti, dkk (2002) dan Riyadi (2000) yang menunjukkan bahwa secara signifikan partisipasi dalam penyusunan anggaran mempengaruhi kinerja manajerial. Hasil penelitian ini tidak berhasil mendukung hipotesis kedua (H2) yang diajukan. Hasil penelitian yang ditunjukkan dalam analisis data menunjukkan bahwa interaksi antara partisipasi penyusunan anggaran dan gaya kepemimpinan tidak signifikan. Hal ini berarti bahwa gaya kepemimpinan yang diterapkan atasan tidak mempengaruhi hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial. Hubungan yang tidak signifikan ini mungkin memperkuat variabel gaya kepemimpinan sebagai variabel moderating yang fungsinya memperkuat atau memperlemah variabel lainnya dan mungkin variabel gaya kepemimpinan ini hanya sebagai variabel independen. Ketidak signifikan hasil penelitian ini mungkin dikarenakan perusahaan di dalam kegiatan proses penyusunan anggaran telah mengikut sertakan manajer tingkat menengah untuk berpartisipasi dalam menyusun anggaran, sehingga dengan adanya partisipasi tersebut maka gaya kepemimpinan yang dimiliki oleh atasan atau top manajer tidak mempengaruhi kinerja manajerial. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Amin (2004) yang menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan tidak mempengaruhi hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dan kinerja manajerial. Hasil penelitian ini berhasil mendukung hipotesis ketiga (H3) yang diajukan, bahwa partisipasi dalam proses penyusunan anggaran terhadap kinerja manajerial akan tinggi apabila pelimpahan wewenang yang diberikan pada tingkat desentralisasi tinggi. Hal ini berarti desentralisasi mampu bertindak sebagai variabel moderating di dalam hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manjerial. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Gul et, al dalam Riyadi (2000) yang dapat membuktikan bahwa partisipasi dalam penyusunan anggaran terhadap kinerja manajerial akan berpengaruh positif dalam organisasi yang pelimpahan wewenangnya bersifat desentralisasi dan akan berpengaruh negatif dalam organisasi yang pelimpahan wewenangnya bersifat sentralisasi.

Daftar Pustaka Amin. 2004. Hubungan Antara Partisipasi Penyusunan Anggaran dan Managerial Performance : Motivasi, Desentralisasi dan Style Leadership Sebagai Variabel Moderating., Jurnal Analisis Bisnis Dan Ekonomi. Vol. 2, No.1, April, hal 15-29. Coryanata. 2004, Pelimpahan Wewenang dan Komitmen Organisasi Dalam Hubungan Antara Partisipasi Penyusunan Anggaran Dan Kinerja Manajerial, Simposium Nasional Akuntansi VII. Desember, hal 616-624. Fitri Yulia. 2004, Pengaruh Informasi Asimetri, Partisipasi Penganggaran dan Komitmen Organisasi Terhadap Timbulnya Senjangan Anggaran., Simposium Nasional Akuntansi VII. Desember: hal 581-593. Gaspersz,. 2003. Analisis Hubungan Antara Srtuktur desentralisasi, Partisipasi Anggaran Dengan Job Relevant Informatio, VOI Manajer Serta Pengaruhnya Terhadap Job Related Outcome, Simposium Nasional Akuntansi VI. Oktober: hal 1129-1139. Ghozali, Imam.2001. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS. Universitas Diponegoro, Semarang. Ikhsan dan Ishak. 2005. Akuntansi Keperilakuan, Salemba Empat. Jakarta Jogiyanto. H.M. 2004. Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan PengalamanPengalaman. BPFE. Yogyakarta. Halimatusyadiah. 2003. Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Kultur Organisasi Terhadap Komunikasi Dalam Tim Audit. Simposiun Nasional Akuntansi VI. Oktober : hal 1061-1071. Henry Simamora .1999. Akuntansi Manajemen, Salemba Empat, Jakarta. Mardiyah dan Gudono.,2000. Pengaruh Ketidakpastian Lingkungan Dan Desentralisasi Terhadap Karakteristik Sistem Akuntansi Manajemen. Ikatan Akuntansi Indonesia, Simposium Nasional Akuntansi III. Masud. F.,2004. Survai Diagnosis Organisasional Konsep dan Aplikasi. Universitas Diponegoro. Semarang Mulyadi. 2001. Akuntansi Manajemen. Edisi 3. Salemba Empat. Jakarta. Mulyadi dan Jony Setiawan. 2001. Sistem Perencanaan dan Pengendalian Manajemen Sistem Pelipat Ganda Kinerja Perusahan. Salemba Empat. Jakarta Mulyasari. W dan Slamet.S, 2004. Pengaruh Keadilan Persepsian, Komitmen pada Tujuan, dan Job-relevant Information Terhadap Hubungan Antara Penganggaran partisipatif Dan Kinerja Manajerial. Simposium Nasional Akuntansi VII. Desember: hal 439-459. Nugrahani dan Sugiri, 2004. Pengaruh Reputasi, Etika, dan Self Esteem Pada Budgeting Slack. Simposium Nasional Akuntansi VII. Desember: hal 408-419 Puspaningsih Abriyani. 2003. Pengaruh Partisipasi Dalam Penyusunan Anggaran terhadap Kepuasan Kerja dan Kinerja Manajer : Role Ambiguity Sebagi Variabel Antara. JAAI. No.2, Desember : hal 95-115.

28

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Gaya Kepemimpinan, Desentralisasi Sebagai Variabel Moderating Dalam Hubungan Antara Partisipasi Penyusunan Anggaran Dengan Kinerja Manajerial

Rosyati dan Anni Fajriyah

29

Riyadi. 2000. Motivasi Dan Pelimpahan Wewenang sebagai Variabel Moderating dalam Hubungan antara Partisipasi Penyusunan anggaran dan Kinerja Manajerial., Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol III, No.2, Juli, hal 134-150. Sayekti dkk. 2002. Pengaruh Informasi Job Relevan Dan Desentralisasi Terhadap Hubungan Antara Partisipasi Dalam Penyusunan Anggaran Dan Kinerja Manajerial,. Kompak . No.4. Januari, hal 71-88. Sukanto dan Handoko. 1996. Organisasi Perusahaan, Teori, Struktur dan Perilaku. BPFE. Edisi 2. Yogyakarta. Sumadiyah dan Sri Susanta. 2004. Job Relevant information dan Ketidakpastian Lingkungan Dalam Hubungan Partisipasi Penyusunan Anggaran Dan Kinerja Managerial. SNA VII. Desember. Supriyono, R.A. 2000. Sistem Pengendalian Manajemen. Buku 2. Edisi 2. BPFE.Yogyakarta

PENGARUH PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN TERHADAP PRESTASI KERJA KARYAWAN PADA PD. BPR BAPAS 69 MAGELANG Muhdiyanto dan Afandy Wahyuanto

Abstract The title of this research is Influence of Training and Development to Work performance of PD BPR BAPAS 69 Magelang. The researcher choose this title because of the industrial condition of banking which progressively tighten in its competition, so that each bank need the skilled to analyze and solving problem faced. This improvement conducted through education, training and development that show the form of readiness to be more skilled and eclectic. Variable will investigate training and development as independent variable and work performance as dependent variable. The aim of this research wants to know the influence of training and development to work performance both partial and also simultaneous. The dates collected use the purposive sampling, the population about 150 people, while the samples are 50 people which have been do the training management. Research during July November 2006. Result of research indicate that the independent variable influence the dependent variable. The value of coefficient determination shows the value equal to 23,4%, the other equal to 76,6%. Its mean the independent variable influences is 23,4%, 76,6% by another variable out of this models. By partial method, training does not have effect to work performance, while development has an effect on to work performance . Development is dominant variable has effect o work performance of PD BPR BAPAS 69.employees Recommendation for company should give an opportunity to the employees to more improve their potencies by education and training. Training suggested to give intensively to the employees, because the professionalism. Through the training can be conduct to its work performance . Key words : training, development, work performances, purposive sampling.

Pendahuluan Dunia perbankan semakin dituntut kinerjanya seiring dengan perjalanan waktu dan tuntutan globalisasi yang semakin marak. Industri perbankan memerlukan tenaga terampil dan cekatan dalam menganalisis dan memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya, terutama sebagai upaya meningkatkan kemampuan sumber daya manusia

30

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Pengaruh Pelatihan dan Pengembangan Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Pada PD. BPR BAPAS 69 Magelang

Mudhiyanto dan Afandy Wahyuanto

31

yang ada. Upaya peningkatan ini merupakan bentuk kesiapan perbankan dalam menghadapi tingkat persaingan yang demikian ketat, sehingga sumber daya manusia harus dipersiapkan sedemikian rupa agar trampil, berwawasan luas dan pengetahuan karyawan selalu ditingkatkan sesuai dengan perkembangan jaman maupun perubahan lingkungan yang ada. Oleh karena itu kualitas dan kuantitas sumber daya manusia yang dimiliki menjadi tolok ukur utama keberhasilan . Pelatihan dan pengembangan merupakan serangkaian perubahan yang terjadi dalam berbagai aspek, misalnya keahlian, pengetahuan, sikap atau perilaku. Aktivitas dalam hal pelatihan dan pengembangan merupakan serangkaian program terencana dalam usaha perbaikan organisasi dan aktivitas dalam organisasi direncanakan secermat mungkin dengan tujuan mengaitkan pelatihan dengan perilaku kerja yang dikehendaki. PD BPR Bapas 69 Magelang sebagai salah satu pelaku bisnis perbankan ikut terlibat dalam persaingan yang begitu ketat diantara pelaku perbankan lainnya, baik bank sejenis maupun bank umum swasta nasional. PD BPR Bapas 69 Magelang mengharuskan karyawannya untuk terus belajar dan membenahi diri agar tidak ketinggalan dalam kemajuan peradaban. Persaingan antar bank semakin kompetitif dan tuntutan masyarakat atas pelayanan yang maksimal semakin banyak, sehingga peningkatan kualitas semakin tinggi merupakan masalah utama yang perlu dipertimbangkan. Manajer sumber daya manusia dituntut selalu mengembangkan caracara baru untuk dapat menarik dan mempertahankan para karyawan yang diperlukan organisasi agar tetap mampu bersaing. Adanya keterkaitan antara program pelatihan dan pengembangan terhadap prestasi kerja karyawan. Oleh karenanya dirasa perlu untuk melakukan penelitian tentang hal tersebut, maka peneliti mengambil judul Pengaruh Pelatihan dan Pengembangan Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Pada PD BPR Bapas 69 Magelang. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas, maka pokok permasalahan dalam penelitian ini, adalah : 1. Apakah pelatihan dan pengembangan berpengaruh baik secara parsial maupun simultan terhadap prestasi kerja karyawan di PD.BPR Bapas 69 Magelang ? 2. Variabel apakah yang dominan berpengaruh terhadap prestasi kerja karyawan di PD.BPR Bapas 69 Magelang ? Tujuan Penelitian Penelitian ini mempunyai tujuan-tujuan sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui apakah pelatihan dan pengembangan berpengaruh secara parsial maupun simultan terhadap prestasi kerja karyawan di PD.BPR Bapas 69 Magelang. 2. Untuk mengetahui variabel apakah yang dominan berpengaruh terhadap prestasi kerja karyawan di PD.BPR Bapas 69 Magelang.

Kajian Teori Prestasi kerja Faktor kritis yang berkaitan dengan keberhasilan jangka panjang organisasi adalah kemampuannya mengukur seberapa baik karyawan bekerja dan menggunakan informasi tersebut guna memastikan bahwa pelaksanaan tugasnya memenuhi standar dan meningkat sepanjang waktu. Penilaian prestasi kerja dalam rangka pengembangan sumber daya manusia sangatlah penting, artinya hal ini mengingat bahwa dalam kehidupan organisasi setiap orang ingin mendapatkan penghargaan dan perlakuan yang adil dari pemimpin organisasi yang bersangkutan. Berikut ini beberapa pengertian tentang prestasi kerja : Prestasi kerja adalah hasil yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugastugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan serta waktu (Malayu Hasibuan, 2003:94). Pendapat lain mengatakan penilaian prestasi kerja adalah proses melalui mana organisasi-organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kerja karyawan. Kegiatan ini dapat memperbaiki keputusan-keputusan personalia dan memberikan umpan balik kepada para karyawan tentang pelaksanaan kerja mereka. (Hani Handoko, 1999 : 135) Tujuan penilaian prestasi kerja karyawan Penilaian prestasi kerja dijabarkan oleh Dressler (Agus Dharma, 1998) sebagai berikut : a. Sebagai dasar pengambilan keputusan untuk promosi, demosi, pemberhentian, dan penetapan besarnya balas jasa. b. Untuk mengukur prestasi kerja yaitu sejauhmana karyawan bisa sukses dalam pekerjaannya. c. Sebagai dasar untuk mengevaluasi efektifitas seluruh kegiatan di dalam perusahaan. d. Sebagai dasar untuk mengevaluasi program latihan dan keefektifan jadwal kerja, metode kerja, struktur organisasi, gaya , kondisi kerja, dan peralatan kerja. e. Sebagai indikator untuk menentukan kebutuhan akan latihan bagi karyawan yang berada di dalam organisasi. f. Sebagai alat untuk meningkatkan motivasi kerja karyawan sehingga dicapai tujuan untuk mendapatkan performance kerja yang baik g. Sebagai alat untuk mendorong atau membiasakan para atasan untuk mengobservasi perilaku bawahan supaya diketahui minat dan kebutuhan-kebutuhan bawahannya. h. Sebagai alat untuk bisa melihat kekurangan atau kelemahan-kelemahan dimasa lampau dan meningkatkan kemampuan karyawan selanjutnya. i. Sebagai kriteria dalam seleksi dan penempatan karyawan. j. Sebagai alat untuk mengidentifikasi kelemahan-kelemahan personil dan sebagai bahan pertimbangan agar bisa diikutsertakan dalam program latihan kerja tambahan. k. Sebagai alat untuk memperbaiki atau mengembangkan kecakapan karyawan. l. Sebagai dasar untuk memperbaiki dan mengembangkan uraian pekerjaan (Job description )

32

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Pengaruh Pelatihan dan Pengembangan Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Pada PD. BPR BAPAS 69 Magelang

Mudhiyanto dan Afandy Wahyuanto

33

Faktor faktor yang mempengaruhi Prestasi Kerja Prestasi kerja adalah faktor yang penting bagi menajemen instasi dan bagi karyawan itu sendiri. Prestasi kerja merupakan suatu proses yang melibatkan seluruh komponen dalam organisasi dalam mengevaluasi atau menilai prestasi kerja karyawan, sehingga kegiatan ini dapat memberikan umpan balik kepada karyawan tentang pelaksanaan kerja mereka. Menurut Ghiselli dan Brown (Martanti, 2001) faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi kerja dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: a. Faktor individual, yaitu masa kerja, umur, sifat kepribadian, sifat fisik, jenis kelamin, pendidikan dan motivasi kerja. b. Faktor situasional (lingkungan), yaitu metode kerja, pengaturan dan kondisi perlengkapan kerja, penataan ruang kerja, lingkungan fisik, kebijaksanaan perusahaan, jenis latihan, pengawasan, hubungan dengan teman dan sebagainya. Menurut Stoner (1996 : 79), prestasi kerja karyawan dipengaruhi kondisi lingkungan kerja, motivasi, komunikasi, kepemimpinan, pendidikan, pelatihan, pengembangan dan kepuasan kerja secara obyektif sebagai pertimbangan masa yang akan datang. Sependapat dengan Stonner, Simamora (1995 : 440) Stonner mengemukakan tentang faktor yang mempengaruhi prestasi kerja yaitu kondisi lingkungan kerja, motivasi, komunikasi, kepemimpinan dan kepuasan kerja. Lingkungan kerja Faktor lingkungan kerja berhubungan dengan dapat tidaknya seseorang dapat bekerja dengan baik. Banyak faktor yang mempengaruhi terbentuknya suatu lingkungan kerja yang terkait dengan kemampuan manusia sebagai pekerja. Faktor-faktor yang dimaksud antara lain : a. Faktor fisik seperti ruang kerja, penerangan, suhu udara, kelembaban, ventilasi, peralatan. b. Faktor kimia seperti gas, uap debu, dan sebagainya. c. Faktor biologi. d. Faktor fisiologi seperti konstruksi, isi kantor dan cara kerja. e. Faktor mental, psikologis, sosial, ekonomis, gaji/upah, kesempatan memperoleh penghasilan (Sumamur, 1986). Motivasi Motivasi atau dorongan untuk bekerja adalah suatu hal yang sangat penting dalam mencapai tujuan suatu organisasi. Tanpa adanya motivasi kerja para pegawai, tujuan organisasi akan sangat sulit untuk dicapai, sebaliknya apabila dalam organisasi terdapat motivasi yang tinggi dari para pegawainya maka hal tersebut suatu jaminan atas keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan. Motivasi berkaitan dengan kepribadian seseorang, sebagaimana diungkapkan Hani Handoko (1996) bahwa motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu melakukan suatu kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan.

Menurut pengertian umum, motivasi diartikan sebagai kebutuhan yang mendorong perbuatan ke arah suatu tujuan tertentu. Setiap manusia pada hakikatnya mempunyai sejumlah kebutuhan yang pada saat-saat tertentu menuntut adanya pemuasan dimana hal-hal yang dapat memberikan pemuasan pada suatu kebutuhan adalah menjadi tujuan dari kebutuhan tersebut. Prinsip yang umum berlaku bagi kebutuhan manusia adalah, setelah kebutuhan itu terpuaskan, maka setelah beberapa waktu kemudian muncul kembali dan menuntut pemuasan lagi. Kekuatan motivasi bagi seseorang dapat berubah sewaktu-waktu. Perubahan tersebut terjadi karena kepuasan kebutuhan, yakni jika seseorang telah mencapai kepuasan atas kebutuhannya. Kebutuhan yang sudah terpuaskan akan memotivasi perilaku seseorang. Penyebab lain adalah terhalangnya pencapaian pemuasan kebutuhan. Jika usaha pemuasan kebutuan terhalang, maka seseorang akan mencoba mencari jalan untuk memuaskannya. Komunikasi Komunikasi penting di dalam suatu organisasi. Komunikasi merupakan suatu mata rantai koordinasi antara karyawan dan fungsi-fungsi organisasi yang lainnya. Banyak organisasi menyadari semakin pentingnya komunikasi organisasi karena merupakan bagian vital bagi operaisonal suatu perusahaan dan menjadi bagian integral dari proses manajemen, baik yang berkaitan dengan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pengendalian atau pemotivasian. Dijelaskan Manullang (2001 : 230), bahwa komunikasi merupakan pertukaran informasi yang dipandang sebagai pengertian antara pihak-pihak yang bersangkutan. Informasi yang dipertukarkan meliputi fakta, ide, emosi atau apa saja yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan manajemen. Operasional organisasi yang efektif tergantung pada keefektifan komunikasinya. Komunikasi dapat meningkatkan kerjasama, kepercayaan dan entusiasme. Tiga komponen dasar dari komunikasi adalah pengirim pesan (informasi), dan penerima pesan (pengertian). Kepemimpinan Menurut Stonner (1996), batasan kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain dengan rasa bersemangat demi tercapainya tujuan yang telah ditentukan. Kepemimpinan adalah faktor manusia yang mengikat suatu kelompok secara brsama-sama dan mendorong mereka ke arah suatu tujuan. Susilo Martoyo (1987) mendefiniskan kepemimpinan adalah keseluruhan aktivitas dalam rangka mempengaruhi orang-orang agar mau bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan bersama. Seorang pemimpin berasal dari berbagai latar belakang budaya yang berbedabeda. Pada saat yang berbeda pimpinan itu dinilai karena apa yang ingin mereka kerjakan, bagaimana mereka merealisasikan sasaran, dan apa yang mereka capai. Lebih dari segalanya, kriteria ini merupakan ukuran fundamental pemimpin, sesuai bobot

34

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Pengaruh Pelatihan dan Pengembangan Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Pada PD. BPR BAPAS 69 Magelang

Mudhiyanto dan Afandy Wahyuanto

35

karakternya. Walaupun kepribadian dan sasaran pemimpin beraneka ragam karakter, mereka tetap konstan. Pemimpin sejati bersifat adil dan jujur, dan bukan hanya karena hukum dan aturan, orang yang beretika, terbuka, berlogika, dan dapat dipercaya. Kepemimpinan merupakan fenomena yang sangat kompleks, bukan hanya memahami pengoperasiannya, melainkan juga definisinya. Ciri-ciri kepemimpinan tak berdiri sendiri, tetapi merupakan kombinasi dalam upaya mempengaruhi bawahan. Pendidikan Pendidikan menurut pendapat M. Noor Syam, adalah sebagai berikut : Pendidikan adalah aktifitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya yaitu rohani (pikir, rasa, karsa, dan cipta) dan jasmani. Pendidikan berarti juga lembaga yang bertanggung jawab menetapkan tujuan atau cita-cita pendidikan, isi pendidikan, sistem dan organisasi pendidikan, lembagalembaga pendidikan ini meliputi : keluarga, sekolah dan masyarakat. Pendidikan adalah suatu kegiatan yang mengupayakan dan direkayasa sekolah terhadap anak atau remaja yang diserahkan padanya agar mereka mempunyai kemampuan sempurna dan kesadaran penuh terhadap hubungan, tugastugas sosial (Redja Mudyaharja : 2001). Pendidikan menurut Heidjrachman (2000) bahwa kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan umum seseorang termasuk didalamnya peningkatan penguasaan teori dan ketrampilan memutuskan terhadap persoalan yang menyangkut kegiatan mencapai tujuan. Pelatihan Pelatihan adalah suatu kegiatan untuk memperbaiki kemampuan kerja seseorang dalam memahami suatu pengetahuan praktis dan penerapannya, guna meningkatkan ketrampilan, kecakapan dan sikap yang diperlukan oleh organisasi dalam usaha mencapai tujuannya. (Heidjrachman dan Suad Husnan, 1990:77). Menurut Dreisler (Agus Dharma, 1996 : 248), bahwa pelatihan merupakan upaya pembinaan ketrampilan dasar yang diperlukan oleh setiap karyawan untuk melakukan pekerjaan (Soekidjo Notoatmodjo, 2003 :28). Menurut Henry Simamora (1998 : 343), pelatihan juga merupakan sebuah proses pengubahan perilaku para karyawan guna meningkatkan tujuan organisasi. Selama masa pelatihan diciptakan sebuah lingkungan dimana para karyawan dapat memperoleh atau mempelajari sikap, kemampuan, keahlian, pengetahuan dan perilaku yang spesifik berkaitan dengan pekerjaan. Pelatihan berbeda dengan pendidikan. Pelatihan lebih sebagai upaya pencapaian segera, yang dirancang dan dibatasi sesuai kebutuhan perusahaan. Idealnya setiap pelatihan terdiri empat tahap yang bertujuan menentukan apakah terdapat kemunduran prestasi karyawan yang dapat diperbaiki. Tahapan tersebut adalah analisis kebutuhan, penyusunan tujuan pelatihan, pelatihan dan evaluasi. Jadi pelatihan adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk memperbaiki kemampuan kerja karyawan dalam menguasai berbagai ketrampilan dan teknik dalam

melaksanakan kegiatan. Pelatihan merupakan bagian dari strategi peningkatan kemampuan karyawan. Sebelum menentukan adanya pelatihan, langkah pertama adalah menentukan jenis kebutuhan pelatihan yang diperlukan. Penilaian kebutuhan ini dilakukan agar pelatihan yang dilakukan apabila ada penurunan prestasi atau untuk karyawan baru. Pelatihan bagi karyawan merupakan sebuah proses mengajarkan pengetahuan dan keahlian tertentu (Bahdin Nur Tanjung, 2004), serta sikap agar karyawan semakin trampil dan mampu melaksanakan tanggung jawabnya dengan semakin baik, sesuai standar. Pelatihan merujuk pada pengembangan kemampuan, ketrampilan dan pengetahuan karyawan tentang bidang pekerjaannya (vocational) yang dapat digunakan dengan segera. Pengembangan Kualitas karyawan suatu perusahaan perlu dikembangkan karena berguna atau tidak berguna tergantung dari pengetahuan, keahlian, dan sikapnya. Pengetahuan adalah mengetahui bagaimana mengerjakan sesuatu, keahlian adalah kesanggupan mengerjakan sesuatu, sedangkan sikap adalah meliputi kemauan untuk mengerjakan sesuatu. Pengembangan karyawan adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan pengetahuan, kemampuan, sikap, dan sifat-sifat kepribadian (T.Hani Handoko, 1999:104). Pengembangan karyawan dijelaskan oleh Donnely et al dalam (Gibson, 1996) juga berarti membuat suatu orientasi ke masa depan dalam diri karyawan dan membuat percaya diri dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang diembannya. Dinyatakan juga bahwa pengembangan biasanya berkaitan dengan peningkatan kemampuan intelektual atau emosional yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan yang lebih baik. Pendapat Malayu SP Hasibuan (2003 : 69) mengatakan pengembangan adalah suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan teknis, teoritis, konseptual, dan moral karyawan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan atau jabatan melalui pendidikan dan latihan. Pengembangan merupakan bagian dari sebuah system manajemen yang didalamnya menyangkut upaya untuk meningkatkan prestasi kerja pada saat sekarang atau masa depan dengan memberikan pengetahuan, merubah sikap atau meningkatkan ketrampilan (Henry Simamora, 1996). Program pengembangan mencakup masalah pembuatan program perusahaan misalnya seperti kursus, bimbingan dalam pekerjaan, rotasi, promosi dan mutasi karyawan. Pengembangan karyawan, memungkinkan kelanjutan organisasi perusahaan menyiapkan para pegawai dan manajer yang ada untuk menduduki jabatan secara lancar. Beberapa aspek pengembangan diuraikan berikut ini : Promosi Promosi terjadi pada saat seorang karyawan berpindah dari suatu pekerjaan ke posisi lainnya yang lebih tinggi baik dari segi gaji, tanggung jawab, dan / atau jenjang

36

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Pengaruh Pelatihan dan Pengembangan Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Pada PD. BPR BAPAS 69 Magelang

Mudhiyanto dan Afandy Wahyuanto

37

organisasional (Henry Simamora, 1996). Sebagian besar karyawan merasa positif karena dipromosikan, tetapi bagi setiap individu yang memperoleh promosi terdapat kemungkinan orang yang tidak terseleksi. Promosi bermanfaat untuk mendayagunakan keahlian dan kemampuan karyawan semaksimal mungkin. Promosi juga diberikan sebagai langkah untuk mengimbangi karyawan yang berkinerja menonjol. Kriteria promosi antara lain karakteristik pribadi, nepotisme, faktor sosial dan persahabatan Mutasi Mutasi adalah sebuah proses pemindahan pegawai yang merupakan pergerakan dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain yang biasanya mengakibatkan perubahan dalam hal gaji atau posisi. Dijelaskan Agus Dharma (1998), bahwa ada beberapa alasan dilakukannya mutasi, yaitu karena pengembangan potensi pribadi, mencari pekerjaan yang lebih sesuai, menghendaki kesenangan lebih besar . Rotasi Rotasi yaitu proses pemindahan dari satu departemen ke departemen lain sebagai usaha memperluas pemahaman tentang semua bagian perusahaan Agus Dharma (1998). Rotasi perusahaan dapat digunakan sebagai alat melakukan evaluasi atau penilaian terhadap kemampuan seseorang pada bidang tertentu. Bimbingan terhadap karyawan Bimbingan dalam pekerjaan dimaksudkan agar karyawan dapat bekerja langsung di semua bagian perusahaan. Pengembangan sebagai sebuah pendekatan memudahkan tugas eksekutif dan karyawan sendiri bekerja di tempat yang baru. Manajemen ganda Manajemen ganda dimaksudkan sebagai pemberian pengalaman dalam menganalisis perusahaan. Action learning Action learning dimaksudkan sebagai upaya memberikan kesempatan bekerja secara penuh dalam proyek serta menganalisis dan memecahkan persoalan dalam pekerjaan secara langsung. Pengalaman Kerja Pengalaman kerja yang dimaksudkan adalah lamanya seseorang bekerja di suatu organisasi atau instansi. Makin lama seseorang bekerja. Pegawai tersebut semakin dianggap berpengalaman, dalam arti dapat mengetahui lebih jauh mengenai berbagai aspek pekerjaannya, sehingga diharapkan dapat lebih produktif atau memiliki kinerja yang lebih baik dari mereka yang baru memiliki pengalaman kerja yang relatif pendek.

Pengalaman kerja bukan hanya diperoleh selama bekerja dalam perusahaan (masa kerja) dimana dia bekerja sekarang, namun dapat ditambah dengan pengalaman yang diperoleh dari perusahaan lain pada jenis pekerjaan yang sejenis. Kepuasan kerja Kepuasan kerja (job satisfaction) adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak dengan mana karyawan memandang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja merupakan hal yang penting yang harus diperhatikan oleh pemimpin, suatu instansi. karena kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya. Terlihat dari sikap positif karyawan terhadap pekerjaan dan merasa harmonis dilingkungan kerjanya. Bagi individu penelitian tentang kepuasan kerja yang baik akan memungkinkan timbulnya usaha peningkatan kebahagiaan hidup mereka, sehingga tujuan yang ditetapkan instansi tercapai. Setiap individu mempunyai tingkat kepuasan berbeda-beda dan ada sejumlah alasan yang melatar belakangi kepuasan kerja mereka, seperti pengharapan-pengharapan yang lebih rendah dan penyesuaian yang lebih baik terhadap situasi kerja, karena mereka lebih pengalaman. Karyawan yang tidak memperoleh kepuasan kerja tidak akan pernah mencapai kematangan psikologis, dan pada gilirinnya akan menjadi frustasi. Karyawan yang mendapat kepuasan kerja biasanya mempunyai catatan kehadiran dan perputaran yang lebih baik (T. Hani Handoko, 1995 : 193). Hipotesis Hipotesis adalah suatu pendapat atau kesimpulan yang sifatnya masih sementara, belum berstatus sebagai tesis. Sifat sementara dari hipotesis ini mempunyai arti bahwa suatu hipotesis dapat diubah atau diganti dengan hipotesis lain yang lebih tepat (Soeratno dan Lincolin Arsyad, 1995 : 22). Penulis merumuskan hipotesa sebagai berikut : 1. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara pelatihan dan pengembangan baik secara parsial maupun simultan terhadap prestasi kerja karyawan di PD.BPR Bapas 69 Magelang. 2. Pelatihan adalah variabel yang dominan berpengaruh terhadap prestasi kerja karyawan di PD.BPR Bapas 69 Magelang. Metodologi Penelitian 1. Identifikasi Variabel Penelitian Variabel yang digunakan terdiri dari dua macam variabel yaitu variabel independen atau variabel bebas (X), yaitu Pelatihan (X ), dan pengembangan (X ), sedangkan variabel dependen adalah prestasi kerja karyawan (Y).
1 2

2. Jenis Sumber Data a. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari responden melalui kuisioner yang disebarkan kepada karyawan PD BPR Bapas 69 Keterangan yang diperlukan meliputi :

38

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Pengaruh Pelatihan dan Pengembangan Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Pada PD. BPR BAPAS 69 Magelang

Mudhiyanto dan Afandy Wahyuanto

39

- Identitas responden terdiri dari nama, umur, alamat, jenis kelamin dan pendidikan terakhir. - Persepsi karyawan tentang variabel pertanyaan dalam penelitian ini. b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari informasi yang telah ada pada suatu tempat dan telah dikumpulkan dan diperoleh dari pihak atau instansi lain. Data sekunder yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah sejarah berdirinya perusahaan, struktur organisasi dan personalia maupun kebijaksanan lain yang berkaitan dengan operasional perusahaan. Metode Pengumpulan Data Data dalam penelitian ini didapatkan dengan cara menyebarkan kuesioner. Metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawab, berupa angket terbuka dan tertutup (dalam penelitian ini berupa angket tertutup). Metode Pengambilan Sampel Populasi adalah sejumlah kasus yang memenuhi seperangkat kriteria yang ditentukan peneliti. Peneliti menentukan sendiri kriteria bagi populasi yang akan diteliti. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 150 orang karyawan yang semuanya adalah karyawan PD BPR Bapas 69. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Purposive sampling, artinya bahwa sampel yang dipilih dilandasi oleh pertimbangan, yaitu sejumlah responden yang dipilih berdasarkan masa kerja lebih dari 5 tahun dan sudah menjalani pelatihan, dalam hal ini terdapat 50 orang karyawan. Teknik Analisis Data Setelah data terkumpul dan ditabulasi kemudian dianalisis dengan metode yang sesuai dengan tujuan penelitian. Ada 2 analisis data yang dilakukan: a. Uji coba instrument menggunakan uji validitas dan reliabilitas untuk mengukur kesahihan dan reliabilitas data. b. Analisis deskriptif, yaitu analisis yang tidak berbentuk angka, yang digunakan untuk mengartikan hasil dari analisis data sehingga terbaca. c. Analisis Kuantitatif, yaitu suatu analisis yang berupa angkaangka dalam bentuk tabulasi (mengatur data dalam bentuk tabel tertentu) atau suatu analisis dengan menggunakan data-data angka perhitungan. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi. Hasil dan Pembahasan 1. Uji Validitas Instrumen dikatakan valid apabila nilai validitasnya tinggi, dimana koefisien korelasi validitas lebih besar daripada r tabel (n = 50, r tabel = 0,297) yang berarti pengungkapan datanya valid dan sudah diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas

instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran dan tentang variabel yang dimaksud. Koefisien korelasi untuk hasil perhitungan koefisien korelasi (r ) mempunyai r hitung yang lebih 0,297 ada tiga kuesioner yang tidak valid yaitu 3, 10 dan 13, kuesioner tersebut dianggap gugur. Kesimpulannya adalah kuesioner yang disebarkan dapat digunakan dalam penelitian, dan masing-masing variabel dapat diikutkan untuk uji lanjutan.
xy

2. Uji Reliabilitas Instrumen Tingkat reliabilitasnya diketahui berdasarkan hasil perhitungan rumus alpha dikonsultasikan dengan tabel interpretasi nilai r yang tersirat berikut ini. Berdasarkan hasil perhitungan uji reliabilitas diperoleh hasil sebesar 0,4444, variabel pelatihan (X1), r = 0,3617 untuk variabel pengembangan (X2) dan r = 0,6292 untuk variabel prestasi kerja, dimana nilai reliabilitas dari ketiga variabel bersifat reliabel karena lebih besar daripada 0,297. Artinya bahwa dalam melakukan penelitian kita tidak akan membuat sebuah kesalahan arah (mis leading). Data penelitian bersifat reliabel artinya adalah instrumen tersebut cukup baik sehingga mampu mengungkap data yang bisa dipercaya. (Suharsini Arikunto, 1998). 3. Analisis Regresi Linier Berganda Hasil perhitungan dengan regresi linear berganda menunjukkan pengaruh variabel independen yaitu pelatihan dan pengembangan terhadap variabel dependen prestasi kerja. Hasil perhitungan dengan regresi berganda maka dapat diperoleh persamaan model matematika sebagai berikut : Y = b 0+b 1X1 +b 2X2 Y = 10,816 + 0,313X1 + 0,401 X2 Persamaan regresi berganda di atas terlihat nilai koefisien regresi yang terjadi adalah positif baik pada variabel pelatihan (X ) sebesar 0,313 maupun pengembangan (X ) sebesar 0,401. penjabaran dari model matematika diatas adalah bahwa apabila ada kenaikan 1 tingkat dari masing-masing variabel bebas dengan asumsi variabel lainnya konstan, maka prestasi kerja akan naik sebesar angka tersebut. Kenaikan prestasi kerja dapat terjadi pada karyawan yang sudah mengalami pelatihan, karena sudah terjadi peningkatan ketrampilan, pengetahuan dan kemampuan, sehingga pengembangan diri karyawan dapat berjalan optimal.
1 2

4. Pengaruh Pelatihan (X ) dan Pengembangan (X ) terhadap Prestasi Kerja Karyawan (Y) secara simultan Berdasarkan perhitungan data dengan menggunakan alat analisis regresi linier berganda, diketahui bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara Pelatihan (X ) dan Pengembangan (X ) secara bersama-sama terhadap Prestasi Kerja Karyawan (Y), yang dibuktikan dengan nilai F hitung sebesar 8,475 > F tabel 3,1866 pada n = 50, df1 = 2 dan df2 = 49. Berkaitan dengan data tersebut berarti hipotesis yang menyatakan
1 2 1 2

40

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Pengaruh Pelatihan dan Pengembangan Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Pada PD. BPR BAPAS 69 Magelang

Mudhiyanto dan Afandy Wahyuanto

41

bahwa H yaitu tidak ada pengaruh antara variabel independen secara simultan ditolak, dan hipotesis Ha yang menyatakan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara variabel independen secara simultan diterima. Apabila dilihat dari hasil analisis dimana kedua variabel berpengaruh secara simultan, maka berarti pelatihan dan pengembangan merupakan dua variabel yang saling menunjang untuk mencapai tujuan organisasi. Pelatihan dan pengembangan merupakan tanggung jawab bersama dan utamanya bagi manajemen puncak serta harus mendapat dukungan dari berbagai pihak, misalnya : penyelia, departemen SDM, dan karyawan. Organisasi dan orang-orang yang terlibat didalamnya selalu berubah, perubahan berkaitan dengan tujuan baru atau revisi atas tujuan lama, penciptaan departemen baru atau adanya restrukturisasi. Adanya perubahan pelatihan dan pengembangan karyawan mutlak diperlukan untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi.
0

Hal ini berarti, variabel independen yaitu pelatihan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi kerja karyawan (Y). Keadaan tersebut dapat disebabkan karena sebagian besar karyawan (responden) sudah menjalani pelatihan perusahaan sehingga para responden tidak merasakan adanya peningkatan kemampuan dan penambahan wawasan yang berarti setelah menjalani pelatihan tersebut. Sesuai dengan salah satu tujuan diadakannya pelatihan yaitu memperbaiki kinerja, maupun memutahirkan ketrampilan, maka dapat dikatakan bahwa sebetulnya begitu banyak manfaat pelatihan bagi peningkatan prestasi karyawan. Program pelatihan memang tidak dapat menyembuhkan semua permasalahan, tetapi program pelatihan mempunyai potensi memperbaiki beberapa situasi jika program tersebut dilaksanakan dengan benar (Ambar Teguh dan Rosidah, tta). b. Pengaruh Pengembangan (X ) Terhadap Prestasi Kerja Karyawan (Y) Pengaruh pengembangan terhadap prestasi kerja karyawan dengan sebesar 5% pada uji dua sisi, memperoleh nilai t hitung sebesar 2,901 > t tabel 2,0269. merujuk pada gambar nilai kritis uji t, hasil tersebut berada di daerah yang diarsir, atau berada di daerah penolakan Ho yang berarti variabel pengembangan (X ) berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi kerja karyawan (Y). Keadaan tersebut menunjukkan bahwa pada dasarnya karyawan PD. BPR BAPAS 69 membutuhkan sebuah ruang gerak atau kesempatan untuk dapat mengembangkan kemampuannya, sehingga dapat meningkatkan prestasi kerja yang pada akhirnya akan membantu perusahaan mencapai tujuannya. Selain berkaitan dengan peningkatan prestasi pengembangan karyawan juga berkaitan dengan efektifitas dan efisiensi organisasi. Bagi organisasi pengembangan berarti adanya sumber daya manusia yang akan siap dan menjadi jaminan bahwa ada ketersediaan karyawan yang akan menempati posisi dengan kapabilitas yang dibutuhkan. Bagi karyawan pengembangan memberikan gambaran pada mereka untuk menata karir dan merencanakannya dengan baik (Faustino Gomes, 2000).
2 2

5. Uji R Square Uji R digunakan untuk mengetahui prosentase prestasi kerja yang dapat dijelaskan dalam model (melalui variabel pelatihan (X ) dan pengembangan (X ) secara bersamasama. Uji R untuk regresi linier berganda dapat dilihat dari nilai Adjusted R Square, yaitu sebesar 0, 220. Artinya pengaruh variabel independen yang terdiri dari pelatihan (X ) dan pengembangan (X ) terhadap prestasi kerja karyawan PD. BPR BAPAS 69 (Y) adalah sebesar 23,4% dan sisanya sebesar 76,6% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak tercakup dalam penelitian ini. Hal ini bukan berarti bahwa faktor pelatihan (X ) dan pengembangan (X ) saja yang mempengaruhi prestasi kerja karyawan PD. BPR BAPAS 69, akan tetapi terdapat variabel lain yang juga berpengaruh terhadap prestasi kerja karyawan PD. BPR BAPAS 69. Seperti yang dijelaskan oleh Simamora (1995), bahwa faktor yang mempengaruhi prestasi kerja antara lain kondisi lingkungan kerja, motivasi, komunikasi, kepemimpinan dan kepuasan kerja untuk kurun waktu kedepan sesuai permintaan masyarakat, juga proses belajar (Learning), kemampuan persepsi, dan motivasi. Faktor lainnya juga harus dioptimalkan untuk mendukung peningkatan prestasi kerja.
2 1 2 2 1 2 1 2

6. Pengaruh Pelatihan Dan Pengembangan Terhadap Prestasi Kerja Secara Parsial a. Pengaruh Pelatihan terhadap prestasi kerja karyawan Nilai t yang terletak dibawah setiap koefisien regresi dalam persamaan regresi linear berganda dapat digunakan untuk menguji hipotesis. Hal ini terjadi kalau t hitung > t tabel, berdasarkan hasil bantuan komputer program SPSS 11.0 for windows, diketahui nilai t hitung untuk variabel pelatihan sebesar 1,581 < t tabel sebesar 2,0269, yang berarti H yang diasumsikan bahwa tidak ada pengaruh antara variabel pelatihan secara parsial diterima, dan H yang menyatakan ada pengaruh dari variabel pelatihan secara parsial ditolak.
0 a

c. Pengaruh Variabel Paling Dominan Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Berdasarkan hasil analisis regresi yang dilakukan dengan bantuan komputer program SPSS, maka diperoleh hasil regresi secara parsial terhadap masing-masing variabel yaitu pelatihan (X ) dengan nilai t test sebesar 1,581 dan variabel pengembangan (X ) memiliki nilai t test paling besar yaitu 2,901.
1 2

Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa pengembangan mempunyai pengaruh yang paling dominan terhadap prestasi kerja karyawan PD BRP BAPAS 69. Apabila memungkinkan perusahaan dapat memberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki karyawan melalui pendidikan lanjutan maupun pelatihan dari perusahaan. Perhatian terutama berkaitan dengan

42

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Pengaruh Pelatihan dan Pengembangan Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Pada PD. BPR BAPAS 69 Magelang

Mudhiyanto dan Afandy Wahyuanto

43

perbaikan dan peningkatan prestasi kerja yang pada akhirnya bertujuan meningkatkan pencapaian tujuan organisasi.

Daftar Pustaka Agus Dharma, 1998, Manajemen Personalia, Edisi Ketiga, PT. Gelora Aksara Pratama : Bandung A.A Anwar Prabu Mangkunegara, 2000, Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan, Penerbit PT. Remaja Rosdakarya, Bandung Bahdin Nur Tanjung, 2004, Memahami Arti Penting Pelatihan Dan Pengembangan Dalam Organisasi Perusahaan, Jurnal Manajemen Dan Kewirausahaan, Edisi September Djarwanto dan Pangestu Subagyo, 1995, Statistik Induktif, Edisi 4, Yogyakarta, BPFE Fandi Tjiptono, 2001, Manajemen Jasa, Cetakan Kedua, Yogyakarta : Penerbit Andi Fandi Tjiptono, 2001, Total Quality Manajemen, Yogyakarta : Penerbitan STIE YKPN Faustiono Cardoso Gomes, 2000, Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogyakarta, Andi Offset Gibson Ivanisevich, Dkk, 1996, Organisasi, Jakarta : Bina Aksara Hasibuan, Malayu, 2003, Manajemen Dasar Pengertian dan Masalah, Jakarta, CV. Haji Masagung. Heidjarachman Ranupandojo dan Suad Husnan, Manajemen Personalia, Yogyakarta, BPFE Henry Simamora, 1995, Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogyakarta, Bagian Penerbitan STIE YKPN. James A.F. Stoner, 1996, Manajemen, Erlangga , Bandung Marini, 2004, Pengaruh Pelatihan dan Pengembangan Terhadap Penilaian Prestasi Kerja Pegawai di PT.PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat Dan Banten, Undergraduate Thesis, Fakultas Ekonomi UNIKOM, Surabaya, http://digilib.unikom.ac.id Soekidjo Notoatmodjo, 2003, Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta : Rineka Cipta Sondang P. Siagian, 1995, Teori Pengembangan Organisasi, Jakarta, Bumi Aksara. Sri Nugraheni, 2001, Pengaruh Pelatihan dan Pengembangan Terhadap Prestasi Kerja Karyawan (Studi Kasus Pada PT. BPD Jawa Tengah Cabang Magelang, Skripsi, Universitas Muhammadiyah Magelang Suad Hasnan dan Suwarsono, 1991, Studi Kelayakan Proyek, Yogyakarta, UPP AMP YKPN. Sugiyono, 2001, Metode Penelitian Bisnis, Bandung, CV. Alfabeta. Suharsimi Arikunto, 1998, Proses Penelitian, Jakarta : Rineka Cipta Sunusmo, 2004, Pengaruh Kondisi Pelatihan dan Pengembangan Terhadap Tingkat Prestasi Kerja Operator Forklift Pada Unit Usaha Terminal Serbaguna Di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Penelitian Eksperimental Laboratories, Thesis, Universitas Airlangga Surabaya, library@lib.unair.ac.id

Suratno dan Lincoln Arysad, 1996, Metodologi Penelitian, UPP AMP YKPN. Suryani, dkk, 2002, Analisis Mutu Total Dan Pengaruhnya Terhadap Kinerja Usaha Perbankan Di Indonesia, Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Indonesia Vol 16 No. 13, Jakarta Syafaruddin Alwi, 2001, Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogyakarta, BPFE UGM Syaifudin Azwar, 2004, Metodologi Penelitian, BPFE UGM T. Hani Handoko, 1999, Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia, Yogyakarta, BPFE.

44

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Pengaruh Pelatihan dan Pengembangan Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Pada PD. BPR BAPAS 69 Magelang

Mudhiyanto dan Afandy Wahyuanto

45

PEMBANGUNAN DAN KETERLIBATAN PEREMPUAN Lestari Sukarniati


Development have the meaning and give the big expectation for resident in expanding nations. But in so many development case in some developing countries process this have caused the woman experience of the marginalization. In development fact in Indonesia, woman role exactly progressively mount posed at increasing the woman labor force participation larger from the men job participation level in same range of time.

1. Pendahuluan Kata pembangunan menjadi suatu kata yang bermakna besar menurut anggapan banyak orang. Kata pembangunan seolah-olah memberikan harapan akan perubahan yang signifikan atas peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup semua penduduk dalam suatu negara sehingga banyak negara berkembang menjadikan kata tersebut sebagai alat pengayom bagi pemberian harapan untuk masyarakatnya. Dengan usainya perang dunia II, konsep pembangunan menjadi wacana baru bagi negara-negara yang baru saja merdeka untuk mengejar ketertinggalannya dari negaranegara yang telah lama memperoleh kemerdekaan. Pembangunan dianggap bisa memberikan harapan akan pemecahan berbagai masalah yang muncul dalam kehidupan sosial, ekonomi dan kemasyarakatan seperti masalah kemiskinan, keterbelakangan, ketimpangan distribusi pendapatan. Dalam perkembangannya kata pembangunan telah dijadikan sebagai alat politik terutama bagi Amerika Serikat dalam merebut simpati dari negara yang hancur akibat perang dunia II melalui bantuan pembangunan yang popular disebut sebagai Marshall Plan. Di Indonesia wacana pembangunan mulai dikenal begitu kemerdekaan diraih yaitu dengan disusunnya beberapa konsep perencanaan pembangunan seperti pembangunan Semesta Berencana namun dalam pelaksanaannya konsep-konsep yang disusun tersebut gagal dilaksanakan karena belum stabilnya politik pada awal kemerdekaan yaitu karena antara lain seringnya terjadinya pergantian kabinet. hal tersebut dapat dimaklumi mengingat kebijakan-kebijakan makroekonomi tak bisa luput dari keputusan-keputusan politis. Barulah setelah disusunya konsep rencana pembangunan Lima Tahun ( repelita) pada tahun 1969 istilah tersebut menjadi tidak asing lagi. Program pembangunan jangka panjang tersebut terbagi menjadi beberapa tahapan yang disebut Rencana pembangunan lima tahun. Selama pelaksanaan pembangunan, arah dari jalannya pembangunan tersebut ditujukan pada tiga sasaran yaitu yang disebut sebagai Trilogi pembangunan yaitu stabilitas perekonomian, pertumbuhan ekonomi dan pemerataan hasil-hasil pembangunan. Hanya saja prioritasnya berubah-ubah sesuai dengan perkembangan masalah yang dihadapi. Dalam pelita I (1967-1974) prioritas pertama diarahkan pada penciptaan stabilitas baru kemudian prioritas kedua adalah

pertumbuhan kemudian pemerataan hasil-hasil pembangunan. Dalam Pelita II sasaran pertumbuhan mendapatkan prioritas yang pertama baru pemerataan dan kemudian. Sejak Pelita III (1979-1984) hingga Repelita VI (1994-1999) urutan prioritas menjadi pemerataan, pertumbuhan dan stabilitas. Perubahan komposisi trilogi pembangunan menunjukkan adanya pergeseran strategi pembangunan dari penekanan pada pertumbuhan beralih pada penekanan pemerataan. ( Dumairy,1996) Selain menetapkan trilog pembangunan, ditetapkan pula delapan jalur pemerataan yang meliputi (1) pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat banyak khususnya pangan, sandang dan perumahan (2) pemerataan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan (3) pemerataan pembagian pendapatan (4) pemerataan kesempatan kerja (5) pemertataan kesempatan berusaha (6) pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita (7) pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh tanh air (8) kesempatan memperoleh keadilan. 2. Makna Pembangunan Kata pembangunan memiliki beberapa makna. Meier & Baldwin (1957 : 2) memaknai kata pembangunan sebagai proses yang mendorong peningkatan pendapatan nasional riil dalam jangka panjang. Dalam hal ini ukuran yang dipakai untuk melihat keberhasilan ekonomi adalah dengan menggunakan pendapatan nasional riil sehingga dalam jangka panjang jika pendapatan nasional riil semakin tinggi maka dapat dikatakan pembangunan tersebut dapat berhasil terlaksana. Pembangunan juga diartikan sebagai industrialisasi, seperti yang dikemukakan Rostow (1960) misalnya. Dia mengemukakan bahwa terdapat lima tahap pertumbuhan ekonomi sebagai berikut 1) Masyarakat tradisional 2) Prakondisi lepas landas 3) Kondisi lepas landas 4) Menuju kematangan 5) Konsumsi masa tinggi Tahapan pembangunan yang dikemukakan Rostow tersebut didasarkan pada revalusi Industri yang terjadi di Inggris. Pada tahapan pertumbuhan ekonomi yang lebih atas penggunaan teknologi dan capital lebih tinggi daripada tahap sebelumnya sampai pada tahap pertumbuhan yang terakhir sektor unggulannya bukan lagi barang modal tetapi telah beralih ke barang konsumsi dan jasa yang sangat kapital intensif Menurut Todaro (2003), pembangunan adalah proses yang bersifat multidimensi. Suatu proses yang berupaya mengejar pertumbuhan ekonomi sekaligus melakukan proses perubahan yang bersifat mendasar kearah yang lebih baik terhadap struktur sosial, kelembagaan serta sikap masyarakat. Pada hakekatnya pembangunan ekonomi adalah melakukan perubahan total suatu masyarakat ke arah yang lebih baik, menyeluruh dengan tanpa mengabaikan keberagaman kebutuhan dasar dan keinginan setiap individu maupun kelompok-kelompok sosial yang ada di dalamnya. Untuk itu terdapat tiga tujuan inti pembangunan yaitu :

46

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Pembangunan dan Keterlibatan Perempuan

Lestari Sukarniati

47

1. Peningkatan ketersediaan serta perluasan distribusi berbagai macam barang kebutuhan hidup yang pokok seperti pangan, sandang, papan, kesehatan dan perlindungan keamanan 2. Peningkatan standar hidup yang tidak hanya berupa peningkatan pendapatan tetapi juga penambahan penyediaan lapangan kerja,perbaikan kualitas pendidikan serta peningkatan perhatian atas nilai-nilai cultural dan kemanusiaa untuk memperbaiki kesejahteraan materiil dan menumbuhkan jati diri pribadi bangsa 3. Perluasan pilihan-pilihan ekonomi dan sosial setiap individu serta bangsa secara keseluruhan ( Todaro, 2003) Ketiga tujuan tersebut selayaknya diupayakan untuk dicapai secara bersamaan sehingga tujuan pembangunan yang tidak hanya mengedepankan masalah ekonomi tetapi juga masalah sosial masyarakat dapat terwujud.Uuntuk itu ada tiga hal yang menjadi nilai inti dari pembangunan yang harus tetap menjadi arahan dalam pelaksanaan, nilai inti tersebut adalah: 1. Kecukupan (sustenance) : kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar, yang dimaksud dengan kebutuhan dasar yaitu segala sesuatu yang jika tidak dipenuhi akan meyebabkan terhentinya kehidupan seseorang. Kebutuhan dasar tersebut meliputi. pangan, sandang, papan, kesehatan dan keamanan. Proses pembangunan harus dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar teresut. Tidak terpenuhinya salah satu kebutuhan dasar tersebut akan muncul kondisi keterbelakangan absolute. Dalam hal ini proses pembangunan dimaknai sebagai proses peningkatan pendapatan per kapita, pengentasan kemiskinan absolute, penambahan lapangan pekerjaan, pemerataan pendapatan 2. Jati diri (self esteem): menjadi manusia seutuhnya Proses pembangunan harus mampu menciptakan dorongan dari dalam diri sendiri untuk maju, untuk menghargai diri sendiri,merasa dirinya pantas untuk melakukan dan mangejar sesuatu 3. Kebebasan dari sikap menghamba ( freedom): kemampuan untuk memilih Pembangunan harus menumbuhkan kemampuan untuk berdiri sendiri, tidak diperbudak oleh pengejaran terhadap aspek material ( Todaro, 2003) Menurut Rosenstein- Rodan ( 1953) dan Nurkse (1953) dalam Arsyad, Lincolin (1999:91),dengan melakukan industrialisasi di daerah yang kurang berkembang merupakan cara yang tepat untuk menciptakan pembagian pendapatan yang lebih merata.Tujuan utama dari strategi ini adalah menciptakan berbagai jenis industri yang berkaitan satu sama lain sehingga setiap industri akan memperoleh eksternalitas ekonomi. Menurut Rosenstein-Rodan pembangunan industri secara besar-besaran akan menciptakan tiga macam eksternalitas ekonomi yaitu: 1) Yang diakibatkan oleh perluasan pasar 2) Karena industri yang sama letaknya berdekatan 3) Karena adanya industri lain dalam perekonomian tersebut

Adanya pembangunan yang menciptakan eksternalitas menyebabkan terjadinya peningkatan pendapatan golongan miskin. Peningkatan pendapatan golongan ini mendorong pula peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa kebutuhan pokok yang kemudian berdampak pada peningkatan produksi, kesemptan kerja dan selanjutnya pada peningkatan investasi. Jadi dengan semakin meratanya pendapatan maka diharapkan akan tercipta masyarakat yang lebih sejahtera dalam arti makin banyak masyarakat yang menikmati pembangunan sehingga semaksimal mungkin dapat dihindari masyarakat yang frustrasi yang akan melakukan tindakan destruktif terhadap hasil pembangunan karena merasa terpinggirkan dalam proses pembangunan itu sendiri. Maka kemudian dikenallah strategi pembangunan yang berorientasi pada pemerataan yang antara lain dikemukakan oleh Rosenstein- Rodan, Nurkse, Lewis yang kemudian strategi-strategi mereka dikenal sebagai strategi pembangunan seimbang atau karena strategi tersebut memerlukan investasi yang sangat besar maka strategi tersebut biasa disebut dengan big push theory. Adapun dasar pemikiran strategi ini adalah supaya tidak timbul hambatan-hambatan yang bersumberdari penawaran maupun permintaan. Dalam realita ternyata laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak dengan sendirinya mengurangi kemiskinan. Hal tersebut terjadi karena tidak adanya trickle down effect yang terjadi secara otomatis. Selain itu dampak dari adanya demonstration effect yang melanda banyak anggota masyarakat negara berkembang dengan meniru pola konsumsi masyarakat negara maju telah pula mengakibatkan tingkat tabungan rendah sehingga sumber pendanaan investasi juga minim. Tabel 1 Rasio Pendapatan 20 Persen Penduduk Terkaya Terhadap 20 Persen Penduduk Termiskin
Tahun 1960 1970 1980 1991 2000 Rasio Bagian Pendapatan Penduduk Terkaya Dengan Penduduk Termiskin 30 to 1 32 to 1 45 to 1 61 to 1 70 to 1

Sumber : United development Program1992,1994,2001 ( dalam Todaro, 2003) Dari table di atas terlihat bahwa ketimpangan distribusi pendapatan antara anggota masyarakat di dunia semakin melebar. Pada tahun 1960, income rasionya sebesar 30:1, artinya pendapatan orang kaya 30 kali besarnya pendapatan orang miskin. Namun pada tahun 2000 rasio tersebut telah berubah menjadi 70:1. Itu artinya pada tahun 2000 pendapatan orang kaya 70 kali dari pendapatan orang miskin.

48

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Pembangunan dan Keterlibatan Perempuan

Lestari Sukarniati

49

Dalam hal pembangunan, permasalahan di negara berkembang lebih besar karena tidak hanya sekedar mempertahankan pertumbuhan ekonomi seperti di negara-negara maju tetapi bagaimana negara tersebut dapat menciptakan akselerasi bagi pembangunannya untuk mengejar ketertinggalannya dengan negara-negara maju sehingga disparitas diantara kedua negara tersebut tidaklah menjadi semakin lebar. 3. Pandangan tradisional tentang peran perempuan Di sebagian belahan dunia, keterlibatan perempuan dalam kegitan ekonomi dan pembangunan menggambarkan tentang adanya perubahan peran. Keikutsertaan perempuan dalam berbagai kegiatan kerja produktif menyebabkan kekosongan / tidak adanya tenaga kerja yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan domestic karena pekerjaanpekerjaan tersebut ditinggalkan oleh perempuan yang secara normative punya peran domestic. Dalam kondisi kosong tersebut bisa jadi peran domestic diambil alih oleh lakilaki dan peran produktif diambil oleh perempuan. Sebelum terjadinya perubahan peran tersebut perempuan hanyalah melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik yang tidak dapat menghasilkan pendapatan secara tunai sehingga perempuan didudukkan sebagai tenaga kerja non produktif sedangkan pria sajalah yang bisa melakukan pekerjaan produktif dan dapat menghasilkan income, langsung didudukkan pada kelompok produktif. Dalam teori Peran Gender, individu/ kelompok yang mampu menguasai sumbersumber ekonomi didudukkan pada status yang tinggi yang biasanya diidentikkan dengan laki-laki, sedang individu yang tidak dapat menguasai sumber-sumber ekonomi kedudukannya dianggap lebih rendah seperti perempuan misalnya. Menurut Harton & Hunt (1977) peran maskulin dan feminine memiliki keanekaragaman yang tidak ada batasnya di dalam masyarakat, atau setiap masyarakat telah memiliki sepasang peran seks yang diakui dan setiap orang diharapkan akan mengakui. Perbedaan kedudukan peran perempuan dalam berbagai asapek kehidupan yang dilihat melalui perbedaan gender terjadi pada seluruh masyarakat baik masyarakat tradisional maupun pada masyarakat yang sudah relatif lebih maju. Parson (1964) menjelaskan bahwa dalam konteks struktur keluarga, peran perempuana khususnya dan peran anggota keluarga pada umumnya telah mengalami perubahan. Perempuan pada masa kini tidak sematamata menjadi ibu rumah tangga tetapi juga aktor penunjang atau bahkan mungkin penopang utama perekonomian keluarga sehingga jika dikembalikan pada teori peran gender maka perempuan pada masa kini dapat berdiri sejajar dengan kaum laki-laki. 4 Perempuan Dalam Proses Pembangunan Adanya ketimpangan distribusi pendapatan terutama yang terjadi di negara-negara berkembang akibat dari kebijakan pembangunan yang terlalu berorientasi pada pertumbuhan telah menimbulkan kesadaran akan pentingnya dimensi manusia dan masyarakat dalam pembangunan serta mempermasalahkan harkat dan martabat manusia dan masyarakat di hadapan manusia dan masyarakat yang lain seperti yang dikemukakan Mosse (1993), seharusnya pembangunan memiliki tujuh elemen-elemen. Elemenelemen tersebut adalah:

Penanggulangan kemiskinan Keterlibatan semua orang secara demokratis dan adil Perbaikan aksesibilitas laki-laki dan perempuan terhadap barang dan jasa essensial Penciptaan berbagai basis produktif Pembentukan kembali pembagian kerja secara seksual Perbaikan pranata politik untuk melindungi hak manusia ( termasuk perempuan ) dan masyarakat g) Penghargaan terhadap nilai kultural dan aspirasi kelompok Kontribusi perempuan dalam bidang ekonomi dan pembangunan terutama bidang pertanian di negara-negara berkembang tidak dapat diragukan lagi. Di Afrika yang sistem pertaniannya masih bersifat subsisten dan memakai sistem perladangan berpindah, hampir seluruh tugas dalam memproduksi pangan dikerjakan oleh perempuan, sementara tugas laki-laki hanya membuka lahan untuk ditanami. Selain tugas di atas perempuan masih memilki tugas sehari-hari yang lain yakni memelihara ternak, pengumpul kayu bakar,menekuni industri rumah tangga untuk menambah penghasilan dan lain-lain selain tugas yang bersifat kodrati yaitu menjalani fungsi reproduksi, menyusui dan mengurus rumah tangga. Namun dalam kenyataannya pembangunan terutama di negara-negara sedang berkembang yang masih memegang erat nilai-nilai feodalistik dan patriakal seringkali peran perempuan yang sangat berat tersebut hanya diabaikan. Mereka hanya dianggap sebagai obyek dari pembangunan, obyek yang perlu diberdayakan tanpa peluang untuk berperan sesuai dengan kemampuannya. Pembangunan yang seperti itu hanya menempatkan posisi perempuan di pinggiran (termarginalisasi) sebagai contoh misalnya apa yang terjadi dengan pembangunan pertanian di Afrika India dan Pakistan yang telah menghilangkan peran tradisional dari para perempuannya di bidang pertanian karena dialihkan kepada kaum laki-laki. Kaum laki-laki memperoleh kesempatan memperoleh pelatihan di bidang pertanian lebih besar sehingga kesempatan bagi perempuan untuk meningkatkan kemampuan teknisnya terhambat. Sehingga perempuan justru dirugikan dengan adanya modernisasi. Selain pendekatan di atas, perempuan hanya ditonjolkan perannya sebagai ibu rumah tangga, kelompok terbelakang dalam masyarakat yang dianggap sebagai penghambat dalam proses pembangunan. Inilah yang menyebabkan peran ekonomis perempuan dalam pelaksanaan pembangunan menjadi terabaikan . Dalam tahap berikutnya dimana pembangunan sangat mementingkan pertumbuhan ekonomi, perhatian pembangunan terhadap perempuan hanyalah sebatas melihat masalah reproduksi mengingat jumlah populasi merupakan variabel yang krusial dalam penentuan keberhasilan pembangunan ekonomi melalui variabel besarnya pendapatan per kapita (Rissy, Yafet, 1999). Oleh karena itu selanjutnya pemerintah NSB mengikutsertakan perempuan dalam proses pembatasan kelahiran melalui melalui penggunaan alat kontrasepsi, program kesehatan ibu dan anak serta program-program yang sejenis. Namun menurut Mosse(1996: 199-200) program ini lebih merupakan program yang ditujukan untuk peningkatan pendapatan nasional per kapita dan

a) b) c) d) e) f)

50

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Pembangunan dan Keterlibatan Perempuan

Lestari Sukarniati

51

meningkatkan pertumbuhan. Dengan demikian keterlibatan perempuan dalam pembangunan bukan ditujukan pada peningkatan kesejahteraan kaum perempuan dan peningkatkan kesempatan menikmati kue pembangunan lebih banyak bagi perempuan itu sendiri, melainkan untuk mengejar tujuan-tujuan praktis untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi. Buserup (1970) dalam Ina Hunga (1999) dan Saptari (1996) juga mengajukan kritik terhadap hampiran pembangunan yang terlalu mengedepankan pertumbuhan ekonomi tersebut. Kritik yang dikemukakannya adalah : a) Dengan terlalu mengandalakan GNP dalam mengukur perubahan maka akan menjadi tidak terlihat ketimpangan sosial yang ditimbulkan oleh kebijakan pembangunan tersebut, antara lain ketimpangan yang terjadi antara tenaga kerja laki-laki dan tenaga kerja perempuan. b) Adanya penggeseran penggunaan tenaga kerja perempuan akibat penggunaan teknologi dan akibat dari adanya anggapan bahwa tenaga kerja laki-laki lebih terampil dari pada pekerja perempuan. Karena kelemahan pendekatan pembangunan seperti yang dikemukakan di atas maka muncullah pendekatan pembangunan berikutnya yang lebih memperhatikan kaum perempuan. Pendekatan ini muncul tahun 1970-an yang kemudian disebut dengan konsep Women In Development (WID). WID ini memberikan penekanan kepada bagaimana kaum perempuan diintegrasikan dalam pembangunan dengan cara memberikan tekanan pada sisi produktif kerja dan tenaga perempuan sehingga perempuan mampu menjadi penghasil pendapatan (Mosse, 1996). Namun demikian konsep WIP tersebut dianggap mengandung kelemahan sehingga mendapatkan kritikan karena (1) melulu menganggap bahwa sumber dari ketidak adilan yang terjadi pada pembangunan ada pada diri individu si perempuan, padahal justru seringkali sistemlah yang menciptakan ketidak adilan tersebut. (2) banyak perempuan yang telah menempati posisi sebagai pengambil kebijakan justru menelurkan keputusan yang bias dan tidak adil bagi kaumnya (3) nilai kerja dan posisi perempuan masih belum mendapatkan penghargaan yang jelas dalam masyarakat (Saptari dan Holzner (1997) dalem Rissy, Yafet, 1999). Karena kelemahan konsep WID tersebut maka muncul konsep baru yaitu Woman and Development (WAD) pada akhir tahun 1970-an kemudian disusul oleh konsep Gender and Development (GAD). Kehadiran WAD adalah reaksi dari kelemahan WID. WAD mendasarkan teorinya pada analisis neo-Marxis yang melihat lemahnya posisi perempuan adalah akibat dari struktur internasional tentang keadilan kelas. Pendekatan WAD dititikberatkan pada bagaimana mengubah struktur internasional dan terjadinya masyarakat tanpa kelas (Mosse, 1996) . GAD memberikan pendekatan yang bersifat multidimensi. Menurut konsep ini kerangka pikir dan teori tentang pembangunan harus dipertanyakan dan dikoreksi sehingga sejak awal perempuan dianggap sebagai bagian yang integral dari pembangunan. Dengan demikian tujuan strategis dari konsep ini adalah kesejahteraan

perempuan secara menyeluruh. Perempuan dan laki-laki bersama-sama sejak awal setara dalam pembangunan. 5. Realitas Posisi Perempuan dalam Pembangunan di Indonesia Dalam realitas pembangunan di Indonesia, perempuan masih merupakan bagian terbesar dari kelompok miskin di Indonesia. Namun demikian sebenarnya perempuan memiliki potensi besar dalam proses pembangunan yang dilaksanakan (Sutrisno, Lukman. 1997). Sektor yang paling tinggi daya serapnya terhadap perempuan adalah sektor pertanian 49,2%), kemudian diikuti sektor perdagangan (20,6%) selanjutnya disusul oleh sektor manufaktur (14,2%). Sensus Penduduk (1990). Namun demikian apa yang dirasakan oleh kaum perempuan Indonesia tidaklah sama dengan apa yang dirasakan oleh perempuan India dan Afrika. Hasil pembangunan yang dicapai telah berhasil meningkatkan peran perempuan dalam masyarakat umumnya dan dalam kegiatan ekonomi pada khususnya. Jika sebelumnya perempuan hanya berperan sebagai pengurus rumah tangga maka kini semakin banyak perempuan yang bekerja. Adapun faktor yang mempengaruhinya tersebut diantaranya adalah peningkatan pendidikan perempuan serta adanya pergeseran budaya akibat dari adanya dampak globalisasi. Dampak dari perubahan itu terlihat dari peningkatan jumlah angkatan kerja. Tahun 2003 sebanyak 35% dari seluruh angkatan kerja adalah perempuan (Supenti, Titin, 2004). Sumbangan perempuan terhadap perekonomian di Indonesia terlihat dari tingkat partisipasi kerja (TPAK) perempuan yang merupakan rasio antara jumlah angkatan kerja terhadap tenaga kerja. Dan Selama kurun waktu 1980 -1990 tingkat partisipasi kerja perempuan meningkat sebesar 55% sementara tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki meningkat 35,5% (Indraswari, 2005) Namun demikian, dalam dunia kerja sebagian besar perempuan masih memiliki kualitas yang rendah sehingga banyak pangkatan kerja perempuan hanya dapat bekerja pada jenis pekerjaan yang memerlukan ketrampilan yang rendah. Berdasarkan hasilkan Sakernas 2003 menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja perempuan yang tidak dibayar jauh lebih tinggi (41% dari pekerja) dari pekerja laki-laki yang tidak dibayar (8% dari pekerja) ( Supenti, Titin, 2004). Pada umumnya ketrampilan yang mereka miliki terbatas, lagipula mereka masih dibatasi oleh nilai-nilai kultural mengenai jenis pekerjaan yang digeluti yang berbeda dengan kaum lelaki yang bebas memperoleh pekerjaan dan pendidikan untuk menunjang pekerjaannya ( Sutrisno, Lukman. 1997). Profil perempuan dalam masa sekarang ada dalam situasi yang dilematis. Disatu sisi perempuan dituntut untuk berperan di semua sektor tetapi dihadapkan pula pada tuntutan agar perempuan tidak melupakan kodratnya yang menempel pada citra perempuan itu sendiri. Citra tersebut akhirnya oleh pemerintah dilembagakan dalam program pembangunan yang kemudian disebut menjadi Panca Tugas Perempuan yakni (1) sebagai pendamping suami, (2) sebagai pendidik generasi muda (3) sebagai pengatur rumah tangga (4) sebagai tenaga kerja, dan sebagai anggota organisasi masyarakat.

52

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Pembangunan dan Keterlibatan Perempuan

Lestari Sukarniati

53

6. Penutup Fenomena tentang keterlibatan perempuan dalam pembangunan ekonomi baik di negara maju maupun di Negara berkembang tidak dapat dipungkiri. Walaupun di Indonesia perempuan adalah masih merupakan sebagian besar dari kelompok miskin yang ada tetapi keterlibatan mereka dalam bidang pembangunan semakin meningkat. Keterlibatan perempuan aktifitas ekonomi tersebut tercermin dalam tingkat partisipasi kerja (TPAK) perempuan, namun demikian keterlibatan peremuan dalam bidang ekonomi masih sering mendapat kendala berupa kecenderungannya untuk mendapatkan posisi yang terpinggirkan. Hal itu khususnya bagi perempuan berpendidikan menengah ke bawah terutama mereka yang bekerja di sektor industri. Namun terlepas dari semua kelemahan di atas ternyata keterlibatan perempuan dalam aktifitas publik semakin meningkat hal itu ditunjukkan oleh peningkatan TPAK perempuan.

ANALISIS PENGARUH FAKTORFAKTOR FUNDAMENTAL TERHADAP PRICE TO BOOK VALUE PADA INDUSTRI BARANG KONSUMSI DI BEJ Muljono dan Prasetyo

Abstract Price to book value represent one of variable which can be used for the decision making of in doing an invesment. price to book value used to identify an share price by comparing with its book value. This research aim to to test to return the research conducted by A.Y.B Santosa (1997) and also give the empirical evidence for factors influencing price to book value. This Research is used to know the influence of factors funadamental that is : Dividend Payout Ratio, Financial Laverage, Earnings Growth Rate, and Return On Equity to Price to Book Value. This Research also aim to to know the most dominant variable its link by price is to book value. Data used in this research is secondary data that is in the form of data of time series-cross section consisted of by 10 companies deputizing that is peripatetic company at industrial sector consumer goods. Method of data collecting use the method of purposive sampling. While technical analyse in this research use the technique analyse the doubled linear regresi to know the independent variable influence to variable of dependennya and technique analyse the correlation coefficient of]parsial used to know the most dominant independent variable to variable dependennya. To test the hypothesis use the test F, test the t, and test the determinant which is entire/all its processing is conducted by using SPSS version 10.0 windows. Result of data analysis with the technique analyse the multiple linear regresssion indicate that by simultan is price to book value influenced by its his independent variable that is: Dividend Payout Ratio, Financial Leverage, Earnings Growth Rate, and Return On Equity. Assess the Adjusted R2 of equal to 0,242 showing change PBV influenced by together equal to 24,2% by variable DPR Keywords : Halted. Crossing Paragraph Limitation

Daftar Pustaka Arsyad, Linkolin,1999. Ekonomi Daerah, Yogyakarta:BPFE Dumairy,1996, Perekonomian Indonesia,Jakarta: Erlangga Fakih, Mansour,1999.Analisis Gender, Yogyakarta:Pustaka Pelajar Hunga, Ina , 1999. Perempuan Dalam Pembangunan, Dian Ekonomi, Maret 1999 I n d r a s w a r i , 2 0 0 5 . D i k o t o m i G e n d e r - S e b u a h Ti n j a u a n S o s i o l o g i s . http://home.Unpar.ac.id/-indras Meier, Gerald M & Robert E Baldwin, 1957. Economic Development: Theory, History, Policy, New York:John Wiley & Sons Mosse, Julia Claves, 1996. Gender dan Pembangunan,Yogyakarta: Pustaka Pelajar Rissy, Telnoni,1999. Investasi Human Capital dan Pembangunan Ekonomi, Makalah tidak dipublikasikan Saptari, Ratna & Brigitte Holzver,1997. Perempuan Kerja dan Perubahan Sosial; Sebuah Pengantar Studi Perempuan,Jakarta: Grafiti1996 Sutrisno, Lukman, 1997. Kemiskinan , Perempuan dan Pemberdayaan, Yogyakarta: Kanisius. Todaro, Micel P dan Stepen C Smith , 2003. EconomicDevelopment, Eight edition, Pearson Yuono, Prapto,1999.Konsepsi Pembangunan dalam Perspektif Historis,Salatiga: Dian Ekonomi 1999

Pendahuluan Pasar modal merupakan tempat untuk melakukan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan penanaman modal atau lebih dikenal dengan kegiatan investasi. Investasi merupakan salah satu sarana untuk mendapatkan keuntungan yang optimal melalui cara penanaman atau penjualan serta pembelian surat-surat berharga.

54

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Analisis Pengaruh FaktorFaktor Fundamental Terhadap Price To Book Value Pada Industri Barang Konsumsi di BEJ

Muljono dan Prasetyo

55

Disamping itu pasar modal mempunyai peran penting bagi pembangunan ekonomi suatu negara sebagai salah satu pembiayaan eksternal bagi dunia usaha dan pasar modal juga dipakai sebagai wahana bagi inventor dalam melakukan investasinya. Dalam pasar modal banyak diperjual belikan berbagai jenis surat berharga, yaitu: saham, warran, obligasi, dan obligasi konversi. Dari instrumen yang diperdagangkan di pasar modal, jual beli saham merupakan alternatif yang paling banyak dipilih oleh para investor dalam menentukan investasinya. Para investor umumnya menggunakan berbagai model dan pendekatan untuk menaksir kewajaran harga saham. Hasil dari taksiran terhadap nilai kewajaran suatu saham digunakan oleh para investor sebagai dasar untuk melakukan keputusan investasi. Para investor umumnya akan membeli saham jika harganya dinilai rendah (undervalued) dan akan menjual saham tersebut pada waktu harganya mengalami kenaikan (overvalued). Beberapa model atau pendekatan ada yang menggunakan rasio Price Book to Value untuk mengidentifikasi saham mana yang harganya wajar, terlalu rendah (undervaluade) atau terlalu tinggi (overvaluade). Banyak strategi yang mnengaitkan rasio Price to Book Value dengan nilai intrisik saham yang diperkirakan berdasar model penilaian saham, hal ini menunnjukkan kemungkinan terdapatnya ketidakwajaran harga saham dan membuka peluang bagi investor untuk menentukan strategi investasinya sehingga menghasilkan menghasilkan imbal hasil (stock return) yang relatif tinggi. Rasio Price to Book Value mencampurkan dua perpektif perusahaan yang berbeda. Pada sisi penyebut (denominator), nilai buku (book value) dari perusahaan merupakan prespektif akuntan dimana sangat berhubungan pengukuran secara historikal. Sedangkan pada sisi pembilang nilai dari sebuah harga (price value) merupakan prespektif investor dimana berhubungan dengan penaksiran nilai yang akan datang. Banyak faktor yang mempengaruhi rasio harga nilai buku (Price to Book Value Ratio), faktor fundamental merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi rasio harga nilai buku (Price to Book Value Ratio). Faktor fundamental merupakan alat analisis sekuritas dengan mencoba untuk memperkirakan harga saham dimasa yang akan datang. Faktor fundamental tersebut terdiri dari : Deviden Payout Ratio, Financial Laverage, Earnings Growth Rate, Debt Equity Ratio, Return On Asset, Cost Of Equity, dan Return Of Equity. Secara mendasar faktor-faktor tersebut menggambarkan bahwa perusahaan mempunyai pertumbuhan yang konstan tiap tahunnya. Model ini menunjukkan bahwa walaupun perusahaan tidak memenuhi asumsi tersebut, hasil model masih tetap berguna. Hasil penelitian A.Y.B Santoso pada tahun 1997 tentang pengaruh beberapa faktor fundamental terhadap Price to Book Value ditemukan bahwa variabel Earnings Growth Rate dan Return On Equity merupakan variable yang secara konsisten berhubungan positif terhadap rasio Price to Book Value. Sedangkan faktor-faktor lain, misalnya : Financial Leverage, dan Deviden Payout Ratio memberikan hasil yang tidak signifikan.

Berbagai model banyak digunakan oleh para investor untuk menaksir harga saham yang berguna sebagai pengukur atau proxy dalam pengambilan suatu keputusan investasi yang diperlukan oleh para investor. Rasio Price to Book Value merupakan salah satu alternatif dalam menentukan strategi investasi. Dalam penulisan penelitian ini peneliti mengulas tentang beberapa faktor fundamental perusahaan yang mempengaruhi rasio Price to Book Value dan dituangkan dalam bentuk penelitian dengan judul Analisis Pengaruh Faktor-Faktor Fundamental Terhadap Price to Book Value Pada Industri Barang Konsumsi Di BEJ Perumusan Masalah Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang masalah, maka perumusan masalah pada penelitian ini adalah : 1. Faktor faktor fundamental apakah yang mempengaruhi Price to Book Value pada industi barang konsumsi yang telah terdaftar di BEJ ? 2. Faktor manakah yang mempunyai pengaruh yang paling kuat terhadap Price to Book Value Ratio? Tujuan Penelitian Tujuan secara umum dari penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor fundamental yang akan mempengaruhi Price to Book Value, yang akan di jabarkan sebagai berikut: 1. Mengetahui faktor-faktor fundamental apakah yang mempengaruhi Price to Book Value Ratio pada industri barang konsumsi yang terdaftar di BEJ. 2. Mengetahui faktor fundamental manakah yang mempunyai pengaruh paling kuat terhadap Price to Book Value Ratio. Tinjauan Pustaka Penelitian Terdahulu Penelitian mengenai Price to Book Value Ratio dan kaitannya terhadap penilaian harga saham telah banyak dilakukan oleh para peneliti. Rosenberg (1985), Fama and French (1992) melakukan penelitian tentang hubungan rasio Price to Book Value dengan imbal hasil saham. Dari penelitian tersebut ditemukan suatu kesimpulan bahwa rasio Price to Book Value mempunyai hubungan negatif dengan imbal hasil saham. Hal ini menyatakan bahwa, semakin tinggi rasio Price to Book Value maka semakin rendah imbal hasil saham tersebut demikian juga sebaliknya. Hasil ini mengindikasikan bahwa rasio Price to Book Value merupakan pengukur dari faktor non diversifiable. Chan and Chen tahun 1991 (Respati A. tahun 2002) menemukan bahwa efek rasio Price to Book Value disebabkan oleh anggapan pasar terhadap perusahaan. Keadaan perusahaan yang dianggap mempunyai prospek yang buruk akan berakibat pada penurunan harga saham yang secara otomatis akan menurunkan nilai Price to Book Value.

56

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Analisis Pengaruh FaktorFaktor Fundamental Terhadap Price To Book Value Pada Industri Barang Konsumsi di BEJ

Muljono dan Prasetyo

57

Penelitian lain oleh A.Y.B Santoso pada tahun 1997 tentang seberapa jauh rasio tersebut berguna dalam pengambilan keputusan investasi dengan melibatkan faktorfaktor fundamental, seperti: Return On Equity, Financial Laverage, Earnings Growth Rate, dan Return On Equity. Hasil penelitian tersebut mengemukakan bahwa, rasio tersebut dapat digunakan untuk menentukan strategi investasi. Dengan menggunakan rasio Price to Book Value, investor dapat memperkirakan saham yang mengalami undervaluade atau overvaluade sehingga dapat menentukan strategi investasi yang tepat. Disamping itu penelitian ini juga menemukan bahwa Earnings Growth Rate dan Return On Equity merupakan variable yang secara konsisten dan signifikan mempunyai hubungan positif terhadap rasio Price to Book Value. Sedangkan untuk variabel yang lain memberikan hasil yang tidak signifikan terhadap rasio Price to Book Value. Landasan Teori 1. Pengertian Price to Book Value Price to Book Value merupakan rasio yang menghubungkan harga saham suatu perusahaan dengan nilai buku per lembar sahamnya. Price to Book Value merupakan perbandingan antara harga saham suatu perusahaan dengan nilai buku sahamnya atau rasio harga saham terhadap nilai perusahaan. Nilai buku merupakan harga menurut pembukuan perusahaan emiten. Dengan mengetahui nilai buku maka dapat diketahui pertumbuhan perusahaan tersebut (Jogiyanto,2000). 2. Varibel-variabel yang berpengaruh terhadap Price to Book Value Dilihat dari penelitian terdahulu dapat diketahui variabel-variabel apa saja yang mempengaruhi Price to Book Value, antara lain: a. Deviden Payout Ratio b. Financial Laverage c. Earnings Growth Rate d. Return On Equity Kerangka Pikir Dalam penelitian terdahulu dikatakan bahwa Price to Book Value dipengaruhi oleh beberapa variable antara lain : Deviden Payout Ratio, Financial Laverage, Earnings Growth Rate, dan Return On Equity. Berdasarkan penelitian terdahulu keempat variable tersebut menunjukkan hasil yang signifikan terhadap Price to Book Value. Dalam kerangka berpikir dapat dilihat hubungan keempat variable itu dengan Price to Book Value:

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

Deviden Payout Ratio Financial Laverage Earnings Growth Rate Return On Equity Price to Book Value

Hubungan antara Deviden Payout Ratio, Financial Laverage, Earnings Growth Rate dan Return On Equity dengan Price to Book Value menurut Ratna Listya (1999) menunjukkan hasil yang signifikan. Hipotesis Berdasarkan pernyataan diatas maka hipotesis dari penelitian ini : 1. Variabel Deviden Payout Ratio, Financial Laverage, Earnings Growth Rate dan Return On Equity mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Price to Book Value secara simultan. 2. Variabel Deviden Payout Ratio, Financial Laverage, Earningd Growth Rate dan Return On Equity mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Price to Book Value secara parsial. 3. Ada variabel independen yang paling dominan atau paling kuat mempengaruhi Price to Book Value. Metoda Penelitian A. Populasi Populasi pada penelitian ini adalah semua perusahaan yang bergerak pada bidang industri barang konsumsi dan telah terdaftar ada Bursa Efek Jakarta (BEJ). B. Sampel Penelitian ini menggunakan sample perusahaan yang bergerak dalam bidang industri barang konsumsi yang telah terdaftar dalam (BEJ). Teknik pengambilan sample dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, artinya sample dipilih berdasarkan kriteria tertentu sesuai dengan keinginan peneliti, yaitu: a. Sample perusahaan yaitu perusahaan yang telah terdaftar di Bursa Efek Jakarta dan telah dipublikasikan di Indonesian Capital Market Directory pada periode tahun 2000-2004. b. Perusahaan tersebut memiliki periode laporan keuangan yang berakhir pada tanggal 31 Desember, hal ini untuk memastikan bahwa sample yang digunakan tidak meliputi perusahaan dengan laporan keuangan yang berbeda-beda periode laporannya. c. Sample perusahaan tersebut harus diketahui Devidend Payout Ratio, Financial Laverage, Earnings Growth Rate, Return On Equity, dan Price to Book Value selama periode 2000-2004.

58

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Analisis Pengaruh FaktorFaktor Fundamental Terhadap Price To Book Value Pada Industri Barang Konsumsi di BEJ

Muljono dan Prasetyo

59

Pembahasan A. Gambaran Umum Perusahaan Industri Barang Konsumsi merupakan sektor sekunder dalam Bursa Efek Jakarta yang terdiri dari lima sektor industri yaitu: industri makanan dan minuman, rokok, farmasi, kosmetik dan keperluan rumah tangga serta industri peralatan rumah tangga. Berikut ini adalah gambaran umum perusahaan berdasarkan variabel-variabel yang diteliti yaitu, Price To Book Value, Dividend Payout Ratio, Financial Laverage, Earnings Growth Rate, serta Return On Equity. 1. Gambaran Umum perusahaan berdasarkan Price to Book Value Price to Book Value merupakan rasio yang menunjukkan apresiasi investor terhadap suatu saham. Perusahaan-perusahaan pada sektor barang konsumsi berdasarkan Price to Book Value, dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1 Price to Book Value tahun 2000-2004

2. Gambaran Umum perusahaan berdasarkan Devidend Payout Ratio Dividend Payout Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengetahui prosentase dari pendapatan yang akan dibayarkan kepada pemegang saham sebagai cash dividend. Perusahaan-perusahaan berdasarkan Dividend Payout Ratio dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2 Devidend Payout Ratio periode 2000-2004
DPR (%) 1.26-25.56 25.57-49.86 49.87-716 717-98.46 98.47-122.76 Jumlah 2000 Jumlah perush 5 4 0 0 1 10 2001 Jumlah Perush 7 3 0 0 0 10 2002 Jumlah perush 4 4 1 1 0 10 2003 Jumlah perush 5 2 2 1 0 10 2004 Jumlah perush 5 4 0 1 0 10 Total Perush 26 17 3 3 1 50

PBV ( x) 0.43-6.83 6.84-13.23 13.24-19.63 19.64-26.03 26.04-32.26 Jumlah

2000 Jumlah perush 5 2 0 1 2 10

2001 Jumlah Perush 6 2 1 1 0 10

2002 Jumlah perush 9 0 1 0 0 10

2003 Jumlah perush 9 1 0 0 0 10

2004 Jumlah perush 7 2 0 1 0 10

Tot perush 36 7 2 3 2 50

Sumber: ICMD tahun 2003, 2004 dan data diolah Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa Devidend Payout Ratio antara 1,26%25,56% pada tahun 2000 sebanyak 5 perusahaan, untuk tahun 2001 sebanyak 7 perusahaan, untuk tahun 2002 sebanyak 4 perusahaan, pada tahun 2003 terdapat 5 perusahaan dan untuk tahun 2004 terdapat 5 perusahaan. Untuk perusahaan yang mempunyai Devidend Payout Ratio antara 25,57%-49,86% pada tahun 2000 sebanyak 4 perusahaan, pada tahun 2001 sebanyak 3 perusahaan, tahun 2002 sebanyak 4 perusahaan, tahun 2003 sebanyak 2 perusahaan, sedangkan tahun 2004 sebanyak 4 perusahaan. Untuk perusahaan yang mempunyai Devidend Payout Ratio antara 49,87%-74,16% pada tahun 2000 dan tahun 2001 terdapat 0 perusahaan, untuk tahun 2002 sebanyak 1 perusahaan, tahun 2003 sebanyak 2 perusahaan dan tahun 2004 sebanyak 0 perusahaan. Untuk perusahaan yang memiliki Devidend Payout Ratio antara 74,17%-98,46% pada tahun 2000 dan 2001 adalah sebanyak 0 perusahaan, tahun 2002 hingga tahun 2004 masingmasing tahun hanya terdapat 1 perusahaan saja. Dan untuk perusahaan yang memiliki Devidend Payout Ratio antara 98,47%-122,76% pada tahun 2000 sebanyak 1 perusahaan, pada tahun berikutnya tidak terdapat satu perusahaanpun yaitu pada tahun 2001, 2002, 2003 dan 2004.

Sumber: ICMD tahun 2003, 2004 dan data diolah Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa Price to Book Value antara 0,43-6,83 pada tahun 2000 sebanyak 5 perusahaan, pada tahun 2001 terdapat 6 perusahaan, tahun 2002 sebanyak 9 perusahaan, tahun 2003 sebanyak 9 perusahaan, dan tahun 2004 terdapat 7 perusahaan. Untuk Price to Book Value antara 6,84-13,23 pada tahun 2000 sebanyak 2 perusahaan, untuk tahun 2001 sebanyak 2 perusahaan, tahun 2002 sebanyak 0 perusahaan, tahun 2003 sebanyak 1 perusahaan, serta tahun 2004 sebanyak 2 perusahaan. Untuk Price to Book Value antara 13,24-19,63 pada tahun 2000 terdapat 0 perusahaan, pada tahun 2001 sebanyak 1 perusahaan, tahun 2002 sebanyak 1 perusahaan, untuk tahun 2003 dan tahun 2004 tidak ada satu perusahaanpun yang mempunyai PBV antara 13,2419,63. Price to Book Value antara 19,64-26,03 pada tahun 2000 terdapat 1 perusahaan, untuk tahun 2001 terdapat 1 perusahaan, untuk tahun 2002 dan 2003 terdapat 0 perusahaan, dan untuk tahun 2004 terdapat 1 perusahaan. Sedangkan untuk Price to Book Value antara 26,04-32,26 pada tahun 2000 terdapat 2 perusahaan, sedangkan untuk tahuntahun berikutnya yaitu tahun 2001, 2002, 2003, dan tahun 2004 tidak terdapat satu perusahaanpun.

60

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Analisis Pengaruh FaktorFaktor Fundamental Terhadap Price To Book Value Pada Industri Barang Konsumsi di BEJ

Muljono dan Prasetyo

61

3. Gambaran Umum perusahaan berdasarkan Financial Laverage Financial Laverage menunjukkan tingkat hutang perusahaan dalam membiayai atau mendanai investasinya. Perusahaan-perusahaan bidang barang konsumsi berdasarkan financial laveragenya dapat dilihat dalam tabel berikut: Tabel 3 Financial Laverage tahun 2000-2004

4. Gambaran Umum Perusahaan berdasarkan Earnings Growth Rate Earnings Growth Rate menunjukkan rasio pertumbuhan laba perusahaan. Earnings Growth Rate menunjukkan tingkat pertumbuhan laba per lembar sahamnya. Earnings Growth Rate dari perusahaan sektor industri barang konsumsi dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 4 Earnings Growth Rate tahun 2000-2004

FL (%) 18-29.8 29.9-41.6 41.7-53.4 53.5-65.2 65.3-77 Jumlah

2000 Jumlah perush 1 3 2 2 2 10

2001 Jumlah Perush 1 1 3 3 2 10

2002 Jumlah perush 2 2 2 2 2 10

2003 Jumlah perush 2 2 2 2 2 10

2004 Jumlah perush 3 3 3 0 1 10

Total Perush 9 11 12 9 9 50

EGR (%) -41-283.2 283.3-607.4 607.5-931.6 931.7-1225.8 1225.9-1580 Jumlah

2000 Jml perus 9 0 0 0 1 10

2001 Jml perus 9 1 0 0 0 10

2002 Jml perus 10 0 0 0 0 10

2003 Jml perus 10 0 0 0 0 10

2004 Jml perus 10 0 0 0 0 10

Total Perush 48 1 0 0 1 50

Sumber: ICMD tahun 2003, 2004 dan data diolah Sumber: ICMD tahun 2003, 2004 dan data diolah Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa Financial Laverage antara 18%-29,8% adalah sebanyak 1 perusahaan untuk tahun 2000, untuk tahun 2001 terdapat 1 perusahaan, tahun 2002 sebanyak 2 perusahaan, pada tahun 2003 sebanyak 2 perusahaan dan untuk tahun 2004 terdapat 3 perusahaan. Untuk Financial Laverage antara 29,9%41,6% pada tahun 2000 sebanyak 3 perusahaan, untuk tahun 2001 sebanyak 1 perusahaan, tahun 2002 sebanyak 2 perusahaan, tahun 2003 sebanyak 2 perusahaan, dan tahun 2004 sebanyak 2. Untuk Financial Laverage antara 41,7%-53,4% pada tahun 2000 adalah sebanyak 2 perusahaan, tahun 2001 sebanyak 3 perusahaan, tahun 2002 sebanyak 2 perusahaan, pada tahun 2003 sebanyak 2 perusahaan dan tahun 2004 sebanyak 3 perusahaan. Untuk Financial Laverage antara 53,5%-65,2% untuk tahun 2000 adalah sebanyak 2 perusahaan, tahun 2001 sebanyak 3 perusahaan, tahun 2002 sebanyak 2 perusahaan, tahun 2003 sebanyak 2 perusahaan dan untuk tahun 2004 tidak terdapat satu perusahaanpun. Financial Laverage antara 65,3%-77% periode tahun 2000 adalah sebanyak 2 perusahaan, pada tahun 2001 sebanyak 2 perusahaan, pada tahun 2002 sebanyak 2 perusahaan, tahun 2003 sebanyak 2 perusahaan, dan tahun 2004 terdapat 1 perusahaan. Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa Earnings Growth Rate perusahaan antara -41%-283,2% selama periode tahun 2000 sebanyak 9 perusahaan, untuk tahun 2001 sebanyak 9 perusahaan, tahun 2002 sebanyak 10 perusahaan, tahun 2003 sebanyak 10, dan pada tahun 2004 terdapat 10 perusahaan. Untuk Earnings Growth Rate antara 283,3%-607,4% hanya terdapat 1 perusahaan yaitu pada tahun 2001, sedangkan untuk tahun 2000, 2002, 2003 dan 2004 tidak terdapat satu perusahaanpun. Untuk Earnings Growth Rate antara 607,5%-931,6% tidak terdapat satu perusahaanpun pada masingmasing tahun, yaitu 2000 hingga 2004. Untuk Earnings Growth Rate antara 931,7%1225,8% pada tahun 2000,2001, 2002, 2003, dan 2004 tidak ada satu perusahaanpun. Sedangkan Earnings Growth Rate antara 1225,9%-1580% pada tahun 2000 terdapat 1 perusahaan sedangkan untuk tahun-tahun yang lain tidak terdapat satu perusahaanpun. 5. Gambaran Umum perusahaan berdasarkan Return On Equity Return on Equity merupakan variabel yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan model saham tertentu. perusahaan-perusahaan pada sektor industri barang konsumsi berdasarkan Return On Equity dapat dilihat dalam tabel berikut

62

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Analisis Pengaruh FaktorFaktor Fundamental Terhadap Price To Book Value Pada Industri Barang Konsumsi di BEJ

Muljono dan Prasetyo

63

Tabel 5 Return On Equity tahun 2000-2004


ROE (%) 11.67-21.71 21.72-31.75 31.76-41.79 41.80-51.83 51.84-61.88 Jumlah 2000 Jumlah perush 3 2 1 2 2 10 2001 Jumlah Perush 2 3 2 2 1 10 2002 Jumlah perush 2 6 1 0 1 10 2003 Jumlah perush 2 5 2 1 0 10 2004 Jumlah perush 4 3 2 0 1 10 Total Perush 13 19 8 5 5 50

Tabel 6 Analisis Statistik Deskriptif

Nama Variabel PBV DPR FL EGR ROE

N 50 50 50 50 50

Nilai Minimum 0.43 1.26 18 -41 11.67

Nilai Maksimum 32.26 122.76 77 1580 61.88

Nilai Rata-rata 5.889 30.0078 46.74 69.54 30.1172

Standar Deviasi 7.37670 23.33079 16.711 232.162 12.43205

Sumber: data yang diolah Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa variabel Price to Book Value rata-ratanya sebesar 5,889, ini berarti bahwa rata-rata perubahan PBV pada 50 perusahaan dalam sektor industri barang konsumsi selama tahun 2000-2004 adalah sebesar 5,889 kali. Dengan rata-rata tersebut, maka perusahaan dalam bidang industri barang konsumsi berdasarkan variabel PBVnya selama periode tahun 2000-2004 adalah sebanyak 14 perusahaan yang berada di atas rata-rata, sedangkan sebanyak 36 perusahaan selama periode 2000-2004 berada di bawah rata-rata. Nilai minimum sebesar 0,43 kali dan nilai maksimum sebesar 32,26 kali. Nilai standar deviasinya adalah sebesar 7,37670 yang berarti variabel Price to Book Value menyimpang 7,37670 kali dari rata-ratanya. Variabel Devidend Payout Ratio (DPR) dengan rata-rata sebesar 30,0078, ini berarti perubahan DPR pada 50 perusahaan sektor industri barang konsumsi adalah sebesar 30,0078% selama periode 2000-2004. Dengan rata-rata tersebut berarti perusahaan sektor industri barang konsumsi berdasarkan variabel Deviden Payout Ratio selama tahun 2000-2004 yang berada di atas rata-rata adalah sebanyak 23 perusahaan sedangkan 27 perusahaan berada di bawah rata-rata. Nilai minimum sebesar 1,26% dan nilai maksimumnya sebesar 122.76%. Nilai standar deviasinya sebesar 23,33079% yang berarti bahwa variabel Devidend Payout Ratio (DPR) menyimpang sebesar 23,3307% dari rata-ratanya. Variabel Financial Laverage (FL) dengan rata-rata 46,74, ini berarti perubahan FL sebesar 46,74% pada periode 2000-2004 terhadap 50 perusahaan sektor industri barang konsumsi. Dengan rata-rata sebesar 46,74, maka perusahaan sektor industri barang konsumsi yang berada di atas rata-rata menurut variabei Financial Laverage selama periode 2000-2004 adalah sebanyak 23 perusahaan, sedang yang berada di bawah ratarata sebanyak 27 perusahaan. Nilai minimumnya sebesar 18% dan nilai maksimumnya sebesar 77%. Nilai deviasi standarnya sebesar 16,711 yang berarti bahwa variabel Financial Laverage (FL) menyimpang sebesar 16,711% dari rata-ratanya. Variabel Earnings Growth Rate (ROE) dengan rata-rata sebesar 69,54, ini berarti perubahan ROE sebesar 69,54% pada periode 2000-2004 terhadap 50 perusahaan sektor industri barang konsumsi. Dengan rata-rata sebesar 69,54, maka perusahaan sektor industri barang konsumsi yang berada di atas rata-rata menurut variabel Earnings Growth

Sumber: ICMD tahun 2003, 2004 dan data diolah Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa Return On Equity antara 11,67%-21,71% pada tahun 2000 adalah sebanyak 3 perusahaan, untuk tahun 2001 sebanyak 2 perusahaan, tahun 2002 sebanyak 2 perusahaan, untuk tahun 2003 sebanyak 2 perusahaan dan pada tahun 2004 terdapat 4 perusahaan. Return On Equity antara 21,72%31.75% pada tahun 2000 sebanyak 2 perusahaan, pada tahun 2001 sebanyak 3 perusahaan, tahun 2002 sebanyak 6 perusahaan, tahun 2003 sebanyak 5 perusahaan dan pada tahun 2004 sebanyak 3 perusahaan. Return On Equity antara 31,76%-41,79% pada tahun 2000 adalah sebanyak 1 perusahaan, untuk tahun 2001 sebanyak 2 perusahaan, untuk tahun 2002 adalah sebanyak 1 perusahaan, tahun 2003 sebanyak 2 perusahaan dan pada tahun 2004 sebanyak 2 perusahaan. Return On Equity antara 41.80 %-51.83% pada tahun 2000 adalah 2 perusahaan, tahun 2001 sebanyak 2 perusahaan, tahun 2002 sebanyak 0 perusahaan, tahun 2004 sebanyak 1 perusahaan dan tahun 2004 sebanyak 0 perusahaan. Sedangkan Return On Equity antara 51,84%-61,88% sebanyak 2 perusahaan untuk tahun 2000, pada tahun 2001 terdapat 1 perusahaan, untuk tahun 2002 terdapat 1 perusahaan, untuk tahun 2003 terdapat 0 perusahaan,dan tahun 2004 sebanyak 1 perusahaan. B. Analisa Deskriptif Analisis Deskriptif untuk variabel Price to Book Value (PBV), Devidend Payout Ratio (DPR), Financial Laverage (FL), Earnings Growth Rate (EGR) serta Return On Equity (ROE) perusahaan-perusahaan sektor industri barang konsumsi selama periode 2000-2004 yang berjumlah 50 perusahaan yang telah diteliti dapat diketahui dalam tabel berikut:

64

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Analisis Pengaruh FaktorFaktor Fundamental Terhadap Price To Book Value Pada Industri Barang Konsumsi di BEJ

Muljono dan Prasetyo

65

Rate selama periode 2000-2004 adalah sebanyak 11 perusahaan, sedangkan yang berada dibawah rata-rata sebanyak 39 perusahaan. Nilai minimumnya sebesar -41% dan nilai maksimumnya sebesar 1580%. Nilai deviasi standarnya sebesar 232.162 yang berarti bahwa variabel Earnings Growth Rate (ROE) menyimpang sebesar 232.162 % dari rataratanya. Variabel Return On Equity (ROE) dengan rata-rata sebesar 30,1172, ini berarti perubahan ROE sebesar 30,1172% pada periode 2000-2004 terhadap 50 perusahaan sektor industri barang konsumsi. Dengan rata-rata sebesar 30,1172, maka perusahaan sektor industri barang konsumsi yang berada di atas rata-rata menurut variabel Return On Equity (ROE) selama periode 2000-2004 adalah sebanyak 21 perusahaan, sedangkan yang berada dibawah rata-rata sebanyak 29 perusahaan. Nilai minimumnya sebesar 11,67% dan nilai maksimumnya sebesar 61,88%. Nilai deviasi standarnya sebesar 12,43205 yang berarti bahwa variabel Retun On Equity (ROE) menyimpang sebesar 12,43205 % dari rata-ratanya. C. Analisa Regresi Linear Berganda Model analisa regresi linier berganda merupakan model yang digunakan untuk menguji pengaruh dari variabel independent terhadap variabel dependennya. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Price to Book Value, sedangkan variabel independennya adalah Devidend Payout Ratio, Finanacial Laverage, Earnings Growth Rate serta Return On Equity. Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 7 Hasil Analisa Regresi Linier Berganda

Hasil Uji Hipotesis Dan Penafsirannya Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda di atas, maka diperoleh persamaan sebagai berikut: PBV = 1,956 + 0,001714 DPR 0,04852 FL +0,01229EGR + 0,76ROE Model regresi tersebut merupakan model yang di estimasi menggunakan data sampel. Untuk mengetahui reliabilitas parameter model tersebut, berikut ini diakukan 2 pengujian statistik yaitu meliputi statistik uji F, R , dan uji t. 1. Statistik Uji F Statistik Uji F digunakan untuk menguji pengaruh dari seluruh variable independen secara bersamasama (simultan) terhadap variable dependen. Dalam penelitian ini digunakan tingkat signifikasi yang umum digunakan dalam penelitian social, yaitu 1%, 5%, atau 10%. Dari hasil analisis data diperoleh F sebesar 4,910 dengan r -value sebesar 0,002<a sebesar 5%. Nilai F hitung sebesar 4,910 > F tabel sebesar 2,5787, ini berarti Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya, dengan tingkat keyakinan 99% (a = 5%) Price to Book Value dipengaruhi secara bersama-sama oleh variabel-variabel independennya yaitu Devidend Payout Ratio, Finanacial Laverage, Earnings Growth Rate, dan Return On Equity. 2. Uji Determinasi ( adjusted R2 ) Uji ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar variable independent secara simultan dapat menjelaskan variable dependen, maka perlu diketahui nilai koefisien 2 determinasi (R2). Dalam penelitian ini digunakan Adjusted R karena dalam penelitian 2 ini digunakan lebih dari satu variable independent. Nilai koefisien determinasi (R ) 2 berkisar antara 0 1, ini berarti bahwa nilai R semakin besar mendekati 1 merupakan indikator yang menunjukkan semakin kuat kemampuan variable independent menjelaskan perubahan varibel dependen. Dari data diperoleh Adjusted R2 sebesar 0,242 yang berarti bahwa Price to Book Value dapat dipengaruhi oleh variabel independennya yaitu: Devidend Payout Ratio, Financial Laverage, Earnings Growth Rate dan Return On Equity secara bersama-sama sebesar 24,2% dan sisanya 75,8% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model. 3. Statistik Uji t Statistk uji t digunakan untuk menguji koefisien regresi ( bi ) dari variable independent secara individual (parsial). Pengujian ini menggunakan tingkat signifikasi yang umum digunakan dalam penelitian sosial yaitu 1%, 5%, 10%. a. Deviden Payout Ratio (DPR) Koefisien regresi untuk Deviden Payout Ratio adalah sebesar 0,0001714 dengan nilai r -value sebesar 0,966 dengan tingkat a = 10%. Nilai t hitung untuk koefisien regresi tersebut sebesar 0,043 sedangkan t tabelnya sebesar 1,6794, berarti t hitung 0,0463 < t

Variabel Constant DPR FL EGR ROE

Koefisien Regresi 1.956 0.001714 -0.04852 0.0229 0.176

Standard Error 3.714 0.040 0.056 0.004 0.077

t-test 0.527 0.043 -0.866 2.954 2.272

p-value 0.601 0.966 0.391 0.005 0.028

Keterangan Tidak signifikan Tidak signifikan Tidak signifikan Signifikan ( = 1 %) Signifikan ( = 5 %)

R2 Adjusted R2 F-test

: 0.304 : 0.242 : 4.910

F signifikan

: 0.002

Sumber: Data Yang Diolah

66

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Analisis Pengaruh FaktorFaktor Fundamental Terhadap Price To Book Value Pada Industri Barang Konsumsi di BEJ

Muljono dan Prasetyo

67

tabelnya 1,6794, ini berarti Ho diterima dan Ha ditolak. Dari pengujian ini dapat disimpulkan bahwa variabel Devidend Payout Ratio (DPR) tidak bermakna atau tidak berpengaruh terhadap Price to Book Value (PBV). Hasil ini sesuai dengan penelitian terdahulu bahwa Devidend Payout Ratio (DPR) tidak mempunyai pengaruh terhadap Price to Book Value (PBV). b. Finanacial Laverage (FL) Koefisien regresi untuk Financial Laverage adalah sebesar -0,004852 dengan nilai r -value sebesar 0,391 dengan tingkat a = 10%. Nilai t hitung untuk koefisien regresi tersebut sebesar -0,866 sedangkan t tabelnya sebesar 1,6794, berarti t hitung -0,866 < t tabelnya 1,6794, ini berarti Ho diterima dan Ha ditolak. Dari pengujian ini dapat disimpulkan bahwa variabel Finanacial Laverage (FL) tidak bermakna atau tidak berpengaruh terhadap Price to Book Value (PBV). Hasil ini sesuai dengan penelitian terdahulu bahwa variabel Finanacial Laverage (FL) tidak mempunyai pengaruh terhadap Price to Book Value (PBV). c. Earnings Growth Rate (EGR) Koefisien regresi untuk Earnings Growth Rate adalah sebesar 0,001229 dengan nilai r -value sebesar 0,005 dengan tingkat a = 1 %. Nilai t hitung untuk koefisien regresi tersebut sebesar 2,954 sedangkan t tabelnya sebesar 1,6794, berarti t hitung 2,954 > t tabelnya 1,6794, ini berarti Ho ditolak dan Ha diterima. Dari pengujian ini dapat disimpulkan bahwa variabel Earnings Growth Rate (EGR) bermakna atau berpengaruh terhadap Price to Book Value (PBV) karena Earnings Growth Rate merupakan kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba sehingga dengan meningkatnya laba akan meningkatkan nilai buku per lembar sahamnya. Hasil ini sesuai dengan penelitian terdahulu bahwa variabel Earnings Growth Rate (EGR) mempunyai pengaruh positif terhadap Price to Book Value (PBV). d. Return On Equity (ROE) Koefisien regresi untuk Return On Equity adalah sebesar 0,176 dengan nilai r value sebesar 0,028 dengan tingkat a = 5 %. Nilai t hitung untuk koefisien regresi tersebut sebesar 2,272 sedangkan t tabelnya sebesar 1,6794, berarti t hitung 2,954 > t tabelnya 1,6794, ini berarti Ho ditolak dan Ha diterima. Dari pengujian ini dapat disimpulkan bahwa variabel Return On Equity (ROE) bermakna atau berpengaruh terhadap Price to Book Value (PBV) karena Return On Equity (ROE) merupakan tingkat pengembalian dana berdasarkan nilai bukunya. Semakin tinggi Return On Equitynya maka semakin tinggi pula Price to Book Valuenya . Hasil ini sesuai dengan penelitian terdahulu bahwa variabel Return On Equity (ROE) mempunyai pengaruh positif terhadap Price to Book Value (PBV).

Analisa Koefisien Korelasi Parsial Setelah pengujian pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dengan model regresi linier berganda yang bertujuan untuk mengetahui derajat pengaruh varibel independen terhadap variabel dependennya baik secara simultan maupun secara parsial, kemudian variabel-variabel tersebut dianalisis lagi dengan menggunakan model koefisien korelasi parsial. Penggunaan model analisis ini bertujuan untuk mengetahui tingginya derajat hubungan masing-masing variabel independennya yaitu Deviden Payout Ratio (DPR), Finanacial Laverage (FL), Earnings Growth Rate (EGR), dan Return On Equity (ROE) terhadap variabel dependennya yaitu Price to Book Value (PBV). Berdasarkan hasil analisis koefisien korelasi parsial diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 8 Hasil Analisa Koefisien Korelasi Parsial

Vari abel independen DPR FL EGR ROE


Sumber: Data Yang Diolah

Koefisien Korelasi 0,0847 -0,0590 0,4663 0,3934

- value 0,559 0,684 0,001 0,005

Dari tabel hasil analisis koefisien korelasi parsial diatas, dapat diketahui nilai koefisien korelasi parsial ( r ) Deviden Payout Ratio sebesar 0,0847 dengan r value sebesar 0,559 dengan a = 10%. Ini berarti variabel Deviden Payout Ratio tidak mempunyai hubungan atau berkorelasi dengan variabel dependennya yaitu Price to Book Value karena nilai koefisien korelasi parsialnya ( r ) mendekati 0 dan tidak signifikan. Untuk variabel Financial Laverage (FL) mempunyai nilai koefisien korelasi parsial sebesar -0,0590 dengan r = 0,684 pada tingkat signifikasi a = 10%. Ini berarti bahwa variabel Financial Laverage tidak mempunyai hubungan dengan variabel dependennya atau tidak berkorelasi, hal ini dikarenakan nilai koefisien korelasi parsialnya mendekati nilai 0 dan tidak signifikan. Koefisien korelasi parsial untuk variabel Earnings Growth Rate sebesar 0,4663 dengan r -value sebesar 0,001 pada a = 1 %. Ini berarti bahwa variabel Earnings Growth Rate (EGR) mempunyai hubungan atau berkorelasi dengan Price to Book Value (PBV), hal ini dikarenakan nilai koefisien korelasi parsial Earnings Growth Rate mendekati 1 dan signifikan pada a = 1 %. Koefisien korelasi parsial untuk variabel Return On Equity sebesar 0,3934 dengan r -value sebesar 0,005 pada a = 1 %. Ini berarti bahwa variabel Return On Equity (ROE) mempunyai hubungan atau berkorelasi dengan Price to Book Value (PBV), hal ini

68

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Analisis Pengaruh FaktorFaktor Fundamental Terhadap Price To Book Value Pada Industri Barang Konsumsi di BEJ

Muljono dan Prasetyo

69

dikarenakan nilai koefisien korelasi parsial Return On Equity mendekati 1 dan signifikan pada a = 1 %. E. Uji Variabel Dominan Dari tabel analisis diatas, dapat diketahui bahwa variabel Earnings Growth Rate mempunyai nilai t hitung paling tinggi yaitu sebesar 2,954 dan memiliki koefisien korelasi yang paling tinggi yaitu sebesar 0,4663 dengan a = 1 %. Hal ini berarti variabel Earnings Growth Rate (EGR) mempunyai hubungan yang paling dominan terhadap Price to Book Value (PBV) Simpulan Dari penelitian ini dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu antara lain: 1. Secara serentak (simultan) hasil analisis regresi yang dilakukan dengan statistik uji F menunjukkan bahwa, variabel Devidend Payout Ratio (DPR), Financial Laverage (FL), Earnings Growth Rate (EGR) dan Return On Equity (ROE) terbukti berpengaruh terhadap Price to Book Value (PBV) pada perusahaan yang bergerak pada sektor industri barang konsumsi di BEJ pada periode tahun 2000-2004. 2. Dari hasil uji determinasi menunjukkan bahwa nilai Adjusted R2 sebesar 0,242 yang berarti bahwa Price to Book Value (PBV) dapat dipengaruhi oleh variabel independennya yaitu: Devidend Payout Ratio (DPR), Financial Laverage (FL), Earnings Growth Rate (EGR) dan Return On Equity (ROE) secara bersama-sama sebesar 24,2% dan sisanya 75,8% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model. 3. Secara parsial variabel Devidend Payout Ratio (DPR) tidak berpengaruh terhadap Price to Book Value (PBV). 4. Secara parsial variabel Financial Laverage (FL) tidak berpengaruh terhadap Price to Book Value (PBV). 5. Secara parsial variabel Earnings Growth Rate (EGR) berpengaruh positif terhadap Price to Book Value (PBV). 6. Secara parsial variabel Return On Equity (ROE) berpengaruh positif terhadap Price to Book Value (PBV). 7. Dari hasil uji dominan dengan model koefisien korelasi parsial dapat diketahui bahwa variabel Earnings Growth Rate (EGR) mempunyai hubungan paling kuat atau dominan terhadap variabel Price to Book Value (PBV).

Husnan, Suad, 1995. Dasar dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas. UPP AMP YKPN, Yogyakarta. Imam Ghozali, 2002. Aplikasi Analisis Multi Variat Dengan Program SPSS. BPFE Undip, Semarang. Jogiyanto, HN, 2000. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi 2. BPFE UGM, Yogyakarta. R. Agus. Sartono, 2001. Managemen Keuangan Teori dan Aplikasi. BPFE. Yogyakarta. Respati, Andriani, 2002, Pengaruh Size, PER, PBV, Beta terhadap Return Saham di Indonesia, MM UGM, Yogyakarta. Risty, Listya, 1999, Pengaruh PBV , PER, ROI, Terhadap Deviden, Thesis MM UGM, Yogyakarta. Santosa,A.Y.B,1999, Strategi Invesstasi Pada BEJ Melalui Penggunaan Rasio Price To Book Value, Thesis MM UI, Jakarta. Sunarto,2001, Pengaruh Rasio Profittabilitas dan Laverage Terhadap Return Saham Perusahaan Manufaktur di BEJ, GEMA STIKUBANK, Edisi : 3 Sofyan Syafri Harahap, Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan, PT Raja Grafindo. Jakarta

Daftar Pustaka Bambang Riyanto, Dasar dasar Pembelanjaan Perusahaan BPFE Yogyakarta. Brigham,Houston, Manajemen Keuangan,Erlangga, Jakarta. Gito Sudarmo. I dan Basri, 2000. Managemen Keuangan, Edisi 3, BPFE. Yogyakarta.

70

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Analisis Pengaruh FaktorFaktor Fundamental Terhadap Price To Book Value Pada Industri Barang Konsumsi di BEJ

Muljono dan Prasetyo

71

PENGARUH KINERJA KEUANGAN DAN FAKTOR EKONOMI MAKRO TERHADAP RETURN SAHAM PERUSAHAAN REAL ESTATE DAN PROPERTY TAHUN 2001 2004 Dahli Suhaeli dan Sartono Tri Nugroho

Abstract Return Share represent one of factor to motivate investor and represent reward of invesment which share done. Return can assess from level of basal factor company specified period. As for intention of this research that is to know what is basal factor macro factor and company economics have influence really, to share return In this research there are 16 company taken as sample that is from year 2001 until 2004. macro and Basal factor economics in this research Current Ratio, Return On equity, On Asset return, Net Profit Margin, ratio earning price, earning per value book price share, inflation, rupiah rate to American Dollar, Indonesia bank rate that is as independent variable while as variable of dependen share return. Result of research indicate that at a time independent variable in this research have influence really and very signifikan to share return. As for variation of return share capable to be explained by independent variable equal to 67.7% and the rest equal to 32.3% explained by other variable which not covered in this research. While by parsial, variable of Return On equity, On Asset return, Net Profit Margin, ratio earning price, earning per share, value book price, rupiah rate to American Dollar, Indonesia bank rate have and influence of signifikan to share return while variable which not have an effect on to share return variable of curren inflation and ratio. Keyword : Current Ratio, Profit Margin, Price Earning ratio, Earning per share, Price Book Value, Inflation, Return Share.

analisis rasio laporan keuangan (Penman, 1991: 763). Rasio merupakan alat yang dinyatakan dalam artian relatif maupun absolut untuk menjelaskan hubungan tertentu antara faktor yang satu dengan faktor yang lain dari suatu laporan finansial. Rasio dapat dihitung berdasarkan finansial statement yang telah tersedia yang terdiri dari neraca (balance sheet) dan rugi laba (income statement). Analisis rasio merupakan bentuk atau cara yang umum digunakan dalam analisis laporan finansial. Diantara alat-alat analisis yang selalu digunakan untuk mengukur kekuatan atau kelemahan yang dihadapi perusahaan dibidang keuangan, adalah analisis rasio (Financial ratio analysis). Analisis rasio memungkinkan manajer keuangan untuk memperkirakan reaksi kreditur atau investor terhadap perusahaan. Rasio yang dihitung dan dianggap baik dapat dijadikan pedoman dalam pengendalian keuangan sedangkan rasio yang dianggap kurang menguntungkan merupakan petunjuk yang perlu dilakukan dimasa yang akan datang. Berinvestasi dalam saham lebih rumit, karena hasilnya berupa deviden dan perubahan harga saham lebih sulit diperkirakan. Para pemegang saham atau investor dalam melakukan analisa terhadap pergerakan saham harus melakukan pendekatan fundamental maupun pendekatan tehnikal (Info Finansial, 1996 :32). Apabila investor membeli saham, maka yield ditunjukkan oleh besarnya dividen yang diperoleh. Sedangkan capital gain (loss) merupakan kenaikan (penurunan) harga suatu surat berharga (saham) yang dapat memberikan keuntungan (kerugian) bagi investor. Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Return dapat berupa return realisasi (realized return) dan return ekspektasi (expected return). Return realisasi merupakan return yang telah terjadi. Return realisasi dihitung berdasarkan data historis. Return ekspektasi merupakan return yang diharapkan akan diperoleh dimasa yang akan datang. Return ekspektasi sifatnya belum terjadi. Lingkup Studi Penelitian ini dilakukan pada perusahaan Property dan Real Estate yang terdafttar pada Bursa Efek Jakarta dari tahun 2001 sampai 2004. Perumusan Masalah Investor akan memberikan kepercayaan yang besar kepada emiten untuk membeli saham pihak emiten dengan adanya kinerja keuangan perusahaan yang baik dilihat dari rasio-rasio keuangan dan rasio saham perusahaan tersebut termasuk melihat faktor makro ekonomi pada saat itu. Hal ini mendasari dilakukanya penelitian ini, dengan perumusan masalah sebagai berikut : Apakah kinerja keuangan perusahaan dan faktor makro ekonomi berpengaruh terhadap return saham Perusahaan Properti di Bursa Efek Jakarta? Tujuan penelitian 1. Mengetahui kinerja keuangan perusahaan Properti dan Real Estate di Bursa Efek Jakarta.

Pendahuluan Citra perusahaan dapat dilihat dari kinerja keuangannya. Kinerja keuangan suatu perusahaan dapat dianalisa melalui laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan. Pemegang saham adalah pemilik perusahaan, yang tentunya sangat berkepentingan dengan maju mundurnya perusahaan. Informasi mengenai hal-hal yang menyangkut perusahaan tersebut dapat diperoleh dengan meneliti dan menganalisa laporan keuangan dari perusahaan yang bersangkutan. Seperangkat laporan keuangan utama dalam bentuk neraca, laporan rugi-laba, laporan perubahan modal dan aliran kas belum dapat memberikan manfaat maksimal bagi pemakai sebelum pemakai menganalisis laporan keuangan tersebut dalam bentuk

72

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Pengaruh Kinerja Keuangan dan Faktor Ekonomi Makro Terhadap Return Saham Perusahaan Real Estate dan Property Tahun 2001 2004

Dahli Suhaeli dan Sartono Tri Nugroho

73

2. Mengetahui pengaruh kinerja keuangan dan faktor Makro Ekonomi terhadap return saham perusahaan Property dan Real Estate di Bursa Efek Jakarta. Tinjauan Pustaka Harga saham atau return saham suatu perusahaan tertentu dipengaruhi oleh kondisi ekonomi (Fisher and Douglas, 1995:21). Hasil penelitian Sugeng Sulistiono, 1994 (dalam Natarsyah : 2000) tentang beberapa faktor yang berpengaruh terhadap harga saham pada perusahaan farmasi yang go publik di Bursa Efek Jakarta menyatakan bahwa ROA mempunyai pengaruh nyata secara parsial terhadap harga saham. Sidharta Utama dan Anto Yulianto Budi Santoso, 1998 (dalam Sunarto : 2000) menemukan bahwa return on equity (ROE) secara konsisten dan signifikan mempunyai hubungan positif dengan price book value (PBV) tetapi tidak ditentukan hubungan antara PBV dengan return saham. (Siegel,1991:dalam Tandelilin ; 2001) menyimpulkan adanya hubungan yang kuat antara harga saham dan kinerja ekonomi makro, serta menemukan bahwa perubahan harga saham selalu terjadi sebelum terjadinya perubahan ekonomi. Hal tersebut terjadi karena (i) harga saham yang terbentuk merupakan cerminan ekspektasi investor terhadap earning, dividen maupun tingkat bunga yang terjadi, (ii) kinerja pasar modal akan bereaksi terhadap perubahan-perubahan ekonomi makro, seperti perubahan tingkat bunga, inflasi ataupun jumlah uang beredar. Hipotesis Hipotesis adalah sebagai kesimpulan sementara terhadap masalah penelitian yang kebenaranya harus diuji secara empiris. Hipotesis dalam penelitian ini adalah : 1. Secara simultan diduga faktor ROE, ROA, EPS, PER, PBV, Profit Margin, Current Ratio, Suku Bunga, Inflasi dan Kurs berpengaruh secara nyata terhadap Return Saham. 2. Secara parsial a. Diduga apabila PER mengalami kenaikan maka akan berpengaruh positif terhadap return saham. b. Diduga apabila PBV mengalami kenaikan maka akan berpengaruh positif terhadap return saham. c. Diduga apabila faktor tingkat Suku Bunga Deposito meningkat maka akan berpengaruh negatif terhadap Return saham. d. Diduga apabila faktor EPS meningkat maka akan berpengaruh positif terhadap Return saham. e. Diduga apabila Inflasi mengalami tingkat kenaikan yang tinggi akan berpengaruh negatif terhadap Return Saham. f. Diduga apabila tingkat Kurs Rupiah terapresiasi terhadap nilai mata uang asing (Dollar Amerika) maka akan berpengaruh positif terhadap retur saham. g. Diduga apabila faktor ROE meningkat maka akan berpengaruh positif terhadap Return saham.

h. Diduga apabila faktor ROA meningkat maka akan berpengaruh positif terhadap Return saham. i. Diduga apabila faktor Profit Margin meningkat maka akan berpengaruh positif terhadap Return saham. j. Diduga apabila faktor Current Ratio meningkat maka akan berpengaruh positif terhadap Return saham. Metode Penelitian Data dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa data tahunan untuk ROE, ROA, EPS, PER, PBV, Closing price, Current Ratio, Profit Margin, inflasi, kurs Rupiah terhadap Dollar Amerika serta Suku Bunga Deposito dan suku bunga SBI periode 2001 s/d 2004. Data diperoleh dari Indonesia Capital Market Directory, Weekly Report terbitan Urusan Ekonomi dan Statistik Bank Indonesia, laporan Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia terbitan Urusan Ekonomi dan Statistik Bank Indonesia, The Jakarta stock Exchange Monthly Statistic, pojok BEJ. Populasi penelitian ini adalah perusahaan yang bergerak disektor industri properti yang terdiri dari 37 perusahaan. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 16 perusahaan. Tehnik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah purposive sampling, artinya sampel dipilih berdasarkan kriteria tertentu sesuai dengan keinginan peneliti. Kriteria tersebut antara lain: a. Perusahaan sampel dari perusahaan properti yang sudah terdaftar di BEJ b. Perusahaan-perusahaan tersebut telah terdaftar sejak 1 Januari 2001 sampai dengan 31 Desember 2004 c. Perusahaan tersebut melaporkan keuangan dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2004 selama periode penelitian. Data yang dianalisa dengan menggunakan analisa rasio, uji normalitas, uji linieritas, analisis regresi dan diolah dengan menggunakan program SPSS. Dalam pengumpulan data sebagai pendukung penelitian ilmiah ini, penulis menggunakan prosedur dan tehnik pengumpulan data melalui : literatur, bahan kuliah, tulisan dari para ahli, buku-buku. Definisi Operasional Variabel 1. Return Saham Pehitungan return realisasi (actual return) yang diambil dari pengamatan harga saham historis.

Ri = Return realisasi Pt = harga saham pada periode t Pt-1 = harga saham pada awal periode t

74

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Pengaruh Kinerja Keuangan dan Faktor Ekonomi Makro Terhadap Return Saham Perusahaan Real Estate dan Property Tahun 2001 2004

Dahli Suhaeli dan Sartono Tri Nugroho

75

2. Current Ratio adalah perbandingan antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Mengukur seberapa jauh aktiva lancar perusahaan bisa dipakai memenuhi kewajiban lancarnya. Current Ratio = aktiva lancar kewajiban lancar 3. Profit Margin merupakan kemampuan perusahaan memperoleh keuntungan yang akan diterima investor jangka panjang. Digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasikan laba bersih dari kegiatan-kegiatan operasi pokok perusahaan. Profit Margin = Laba bersih / Penjualan 4. Return on Equity merupakan kemampuan perusahaan memperoleh laba yang tersedia bagi pemegang saham perusahaan. Digunakan mengukur kemampuan manejemen dalam mengelola modal tersedia untuk mendapatkan laba bersih. ROE = laba bersih yang tersedia Equity 5. Return On Asset menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan. Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan manejemen perusahaan dalam memperoleh profitabilitas dan efisiensi manajerial. (Munawir 1996 p71-75). ROA = Laba bersih yang tersedia x 100% Total Aktiva 6. Earning Per Share merupakan kemampuan perusahaan memperoleh laba dari setiap jumlah lembar saham yang beredar. Ratio ini untuk mengetahui kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan per lembar saham bagi pemiliknya. EPS = laba bersih x 100% Saham biasa yg beredar 7. Price Earning Ratio merupakan ukuran seberapa jauh investor bersedia untuk membayar saham setiap rupiah pendapatan yang dihasilkan perusahaan. PER = Closing Price x 100% Laba bersih per lembar saham 8. Price to Book Value merupakan perbandingan harga saham perlembar saham dengan nilai buku perlembar saham PBV = Harga saham x 100% Nilai buku perlembar saham

9. Inflasi adalah setiap kenaikan tingkat harga secara umum (Case:1994, p.583). 10. Tingkat suku bunga merupakan ukuran keuntungan investasi yang dapat diperoleh pemodal dan juga merupakan ukuran biaya modal yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk menggunakan dana dari pemodal (Farid dan Siswanto, 1998) 11. Nilai tukar adalah suatu nilai dari mata uang relatif terhadap mata uang yang lain tergantung dari permintaan dan penawaran masing-masing mata uang dipasar valuta asing(Trimiati ; 2001) Tehnik Analisis 1. Analisis Statistik Analisis ini digunakan untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara kinerja keuangan dan faktor ekonomi terhadap return saham. Statistik parametrik digunakan apabila data yang diperoleh memenuhi beberapa syarat yaitu : jenis datanya interval/rasio, sebaranya normal, homogen, dipilih secara acak (random ) dan linier. Analisis statistik parametrik meliputi pengujian hipotesis, regresi dan korelasi, uji t, dan anova Data-data yang ada harus diuji terlebih dahulu sebelum analisis regresi dilakukan. Uji-uji yang dilakukan dalam penelitian ini adalah normalitas, heterokedastisitas, multikolinearitas, autokolerasi, kolinieritas. (Uji asumsi Klasik). 2. Analisis Regresi Tehnik yang umum digunakan untuk menganalisis hubungan antara dua atau lebih variabel adalah analisis regresi. Hubungan linier lebih dari dua variabel dinyatakan dalam bentuk persamaan matematis adalah:

76

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Pengaruh Kinerja Keuangan dan Faktor Ekonomi Makro Terhadap Return Saham Perusahaan Real Estate dan Property Tahun 2001 2004

Dahli Suhaeli dan Sartono Tri Nugroho

77

Pengujian Hipotesa Uji signifikasi (pengaruh nyata) variabel bebas terhadap variabel terikat baik secara bersama-sama (simultan) maupun secara individu (parsial) dilakukan dengan uji statistik F (F-test) dan uji statistik t (t-test) 1) Statitistik uji F 2) Statistik uji R 3) Statistik uji t Pembahasan / Hasil a). Pengujian kriteria Ekonometrika 1. Uji Multikolinearitas Uji multikolinaeritas menunjukkan hubungan linear diantara variabel-variabel bebas dalam model regresi. Istilah multikolinearitas dimaksud untuk menunjukkan adannya derajat kolinaeritas yang tinggi terhadap variabel bebas. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas didalam model regresi adalah sebagai berikut : a. Nilai R2 yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi sangat tinggi, tetapi secara individual variabel-variabel bebas banyak yang tidak signifikan mempengaruhi variabel terikat. b. Menganalisis matrik korelasi variabel-variabel bebas jika antar variabel bebas ada korelasi yang cukup tinggi (umumnya diatas 0.90) maka hal tersebut merupakan indikasi adannya multikolinearitas. Tidak adanya korelasi yang yang tinggi antar variabel bebas tidak berarti bebas dari multikoleniaritas. Multikoleniaritas dapat disebabkan karena adanya kombinasi antara dua atau lebih variabel bebas. c. Multikolinearitas dapat juga dilihat dari nilai tolerance dan Variance Inflution Factor (VIF). Nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi dan menunjukkan kolinearitas yang tinggi. Nilai yang umum dipakai adalah nilai tolerance 0,10 atau sama dengan nilai VIF diatas 10. Dari hasil perhitungan nilai tolerance menunjukkan tidak ada variabel bebas yang memiliki nilai tolerance kurang dari 10% yang berarti tidak ada korelasi antar variabel bebas yang nilainya kurang dari 95%. Selain itu, berdasarkan hasil besaran korelasi antar variabel bebas menunjukkan bahwa korelasi antar variabel tersebut masih dibawah 90% maka dapat dikatakan tidak terjadi multikolinearitas yang serius. Hasil perhitungan perhitungan nilai Variance Inflation Faktor (VIF) juga menunjukkan hal yang sama, tidak ada satu variabel bebas yang memiliki nilai VIF lebih dari 10. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinaeritas dalam model regresi.

2. Uji Autokorelasi Uji autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lain. Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antar kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi adalah dengan membandingkan nilai Durbin Watson statistik hitung dengan nilai Durbin Watson Statistik tabel. Adapun pengambilan keputusan ada tidaknya autolorelasi adalah sebagai berikut
Daerah I Daerah II Daerah III Daerah IV Daerah V DW < 1,10 1,11 < DW < 1,59 1,55 < DW < 2,46 2,47 < DW < 2,90 DW >2,91 Autokorelasi Ragu Ragu Non Autokorelasi Ragu Ragu Auto korelasi

Berdasarkan hasil uji autokorelasi. Hasil perhitungan diperoleh nilai DW 1.997, sehingga dapat disimpulkan tidak adanya autokorelasi dalam model regresi. Uji autokorelasi yang kedua yaitu menggunkan uji Lagrange Multiplier (LM) yaitu statistik Breusch-Godfrey. Hasil tampilan output menunjukkan bahwa koefisien parameter untuk variabel RES_2 (residual) memberikan probabilitas diatas 0.05, hal ini menunjukkan tidak adanya autokorelasi. 3. Uji Heterokedastisitas Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan kepengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan kepengamatan yang lain tetap, maka disebut homokedastisitas dan jika berbeda disebut heterokedastisitas. Salah satu cara untuk mendeteksi ada atau tidakadanya heterokedastisitas adalah dengan melihat grafik plot nilai prediksi variabel terikat (2 PRED) dengan residualnya (SRESID). Dasar analisis ada tidaknya heterokedastisitas adalah : a. jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar, kemudian menyempit) maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. b. jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka nol pada sumbu y maka tidak terjadi heteroskedastisitas. Berdasarkan hasil uji heteroskedastisitas, menunjukkan bahwa pada grafik scatter plot terlihat titik-titik menyebar secara acak serta tersebar baik diatas maupun dibawah angka nol pada sumbu y. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi, sehingga model regresi layak dipakai untuk memprediksi return saham berdasarkan masukan variabel bebas CR, ROE, ROA, NPM, PER, EPS, PBV, Inflasi, suku bunga, kurs.

78

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Pengaruh Kinerja Keuangan dan Faktor Ekonomi Makro Terhadap Return Saham Perusahaan Real Estate dan Property Tahun 2001 2004

Dahli Suhaeli dan Sartono Tri Nugroho

79

Cara lain yang dapat dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya heteroskedastisitas pada model regresi adalah dengan melakukan uji Glejser dengan meregres nilai absolut residual terhadap variabel bebas (Gujarati: 2000). Apabila variabel bebas signifikan secara statistik mempengaruhi variabel terikat, maka ada indikasi terjadi heteroskedastisitas. Hasil output dengan jelas menunjukkan bahwa tidak ada satupun variabel bebas yang signifikan secara statistik mempengaruhi variabel terikat absolut Ut (Absres) /absolut residual. Hal ini terlihat dari probabilitas signifikansinya diatas 0.05 (5%). Jadi dapat disimpulkan model regresi tidak mengandung adanya heteroskedastisitas. 4. Uji normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel bebas dan variabel terikat, keduanya mempunyai distribusi normal ataukah tidak. Untuk menguji apakah distribusi data normal atau tidak dapat dilakukan dengan cara: a. melihat Histogram yang membandingkan antara data observasi dengan distribusi yang mendekat distribusi normal. b. melihat normal probability plot, dimana distrbusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal. Jika distribusi data adalah normal, maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti diagonalnya . Berdasarkan hasil uji normalitasnya dapat dilihat bahwa grafik histoggram memberikan pola distribusi yang mendekati nomal. Sedangkan pada grafik normal plot terlihat titik-titik menyebar disekitar garis diagonal serta penyebarannya mengikuti arah garis diagonalnya, sehingga menunjukkan bahwa model regresi layak dipakai karena memenuhi asumsi normalitas. B. Analisis Regresi Berganda Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel independend (variabel bebas) yaitu CR, PM, ROE, ROA, PBV, EPS, Inflasi, SBI, Kurs Rupiah terhadap Dollar AS terhadap variabel dependend (variabel terikat) yaitu Return saham (RI) maka dalam penelitian ini digunakan model Regresi linear berganda dan hasilnya (lihat lampiran), model regresi linear berganda juga dapat dituliskan dalam bentuk matematis yaitu : Return Saham = -1.360 + 0.0053 CR + 0.0116 NPM + 0.0002 ROE + 0.0010 ROA + 0.0001 EPS - 0.0001 PER + 0.0041 PBV 0.0014 inflasi 0.0097 suku bunga + 0.0002 kurs Uji Statistik 1. Statistik uji R, F (Multiple) Untuk pengujian kontribusi kemampuan menjelaskan variabel independen (CR, NPM, ROE, ROA, PBV, EPS, PER, Inflasi, kurs, Suku bunga ) secara bersama terhadap 2 variabel dependen ( Return saham ) nilia koefisien antara 0 1, hal ini berarti bahwa R yang semakin besar mendekati 1 merupakan indikator yang menunjukkan semakin kuatnya kemampuan menjelaskan perubahan variabel independen terhadap variansi

variabek dependen. Hasil komputasi dengan menggunakan perangkat lunak SPSS 11.00, menunjukkan bahwa koefisien Determinasi ( Adjusted R2 ) untuk model ini sebesar 0,677. Artinya 67,7 % variasi return saham mampu dijelaskan oleh variasi himpunan variabel independen dalam model persamaan regresi. Sisanya, 32 % diterangkan oleh variabel lain diluar model, yang terangkum dalam kesalahan random. Statistik uji F digunakan untuk menguji keberartian pengaruh dari variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Dari hasil komputasi dengan menggunakan perangkat lunak SPSS 11.00 hasil perhitungan ANOVA menunjukkan bahwa model regresi ini memiliki r -value sebesar 0.000 < alpha (a = 0.05). Artinya bahwa variabel return saham (Ri) dipengaruhi secara simultan oleh variabel CR, NPM, ROE, ROA, EPS, PER, PBV, Inflasi, suku bunga, kurs. 2. Analisis Partial Uji keberartian Return Saham (Ri) dilakukan dengan statistik uji-t. Uji-t digunakan untuk menguji koefisien regresi secara parsial dari variabel bebasnya. a) Current Ratio Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel current ratio memiliki p value sebesar 0.137 > alpha sebesar 0.05. Ini berarti Ho diterima dan Ha ditolak. Artinya, dengan tingkat keyakinan 95 % koefisien b 1 = 0.0053 tidak berpengaruh secara statistik (tidak signifikan), sehingga variabel current ratio tidak berpengaruh secara nyata terhadap return saham. Interpretasi dari parameter a 1 = 0.0053 adalah bahwa dengan menjaga variabel yang lain konstan, kenaikan setiap 1% dari variabel current ratio mengakibatkan kenaikan return saham sebesar 0.0053. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa variabel Current ratio mempunyai hubungan yang positif, namun tidak signifikan terhadap return saham . Implikasinya adalah bahwa terdapat kecenderungan saat variabel current ratio mengalami kenaikan, return saham juga mengalami kenaikan, maka return saham perusahaan sektor property dan real estate di BEJ selama tahun 2001 sampai dengan 2004 tidak terpengaruh oleh tinggi rendahnya variabel current ratio perusahaan. Karena current ratio dalam penelitian ini hanya mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban finansial, tetapi tidak mencerminkan perolehan laba perusahaan. b) Net Profit Margin Variabel Net Profit Margin memiliki p- value sebesar 0.002 < alpha sebesar 0.05. Ini berarti Ho ditolak dan Ha ditterima. Artinya, dengan tingkat keyakinan 95% koefisien b 2= 0.0116 berpengaruh secara statistik (signifikan), sehingga variabel Net Profit Margin berpengaruh secara nyata terhadap return saham. Interpretasi dari parameter b 2= 0.0116 adalah bahwa dengan menjaga variabel lain konstan, kenaikan setiap 1% dari variabel Net Profit Margin mengakibatkan kenaikan return saham sebesar 0.0116. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa variabel net profit margin mempunyai hubungan yang positif dan

80

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Pengaruh Kinerja Keuangan dan Faktor Ekonomi Makro Terhadap Return Saham Perusahaan Real Estate dan Property Tahun 2001 2004

Dahli Suhaeli dan Sartono Tri Nugroho

81

signifikan terhadap return saham. Implikasinya adalah bahwa terdapat kecenderungan saat variabel net profit margin mengalami kenaikan, return saham juga mengalami kenaikan, sehingga return saham perusahaan sektor property dan real estate di BEJ selama tahun 2001 sampai dengan 2004 dipengaruhi oleh tinggi rendahnya net profit margin perusahaan, atau dengan kata lain tinggi rendahnya net profit margin perusahaan mempengaruhi para investor untuk membeli atau menjual sahamnya. c) Return On Equity Koefisien regresi untuk ROE sebesar 0.0002 dengan nilai p-value sebesar 0.003 yang berarti < alpha (a = 0.05). Ini berarti bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya, dengan tingkat keyakinan sebesar 95% koefisien b 3= 0.0002 berpengaruh berpengaruh secara statistik ( signifikan ), sehingga variabel return on equity berpengaruh secara nyata terhadap return saham. Interpretasi dari parameter b 3= 0.0002 adalah bahwa dengan menjaga variabel lain konstan, kenaikan setiap 1% dari variabel return on equity mengakibatkan kenaikan return saham sebesar 0.0002. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa variabel net profit margin mempunyai hubungan yang positif dan signifikan terhadap return saham. Implikasinya adalah bahwa terdapat kecenderungan saat variabel return on equity mengalami kenaikan, return saham juga mengalami kenaikan, sehingga return saham perusahaan sektor property dan real estate di BEJ selama tahun 2001 sampai dengan 2004 dipengaruhi oleh tinggi rendahnya return on equity perusahaan, atau dengan kata lain tinggi rendahnya return on equity perusahaan mempengaruhi para investor untuk membeli atau menjual sahamnya. d) Return On Asset Sedangkan koefisien regresi untuk variabel ROA sebesar 0.001 dengan nilai pvalue sebesar 0.20 yang berarti > alpha (a = 0.05). Ini berarti bahwa Ho diterima dan Ha ditolak. Artinya, dengan tingkat keyakinan 95 % koefisien b 4 = 0.0010 tidak berpengaruh secara statistik ( tidak signifikan ), sehingga dalam penelitian ini variabel return on asset tidak berpengaruh secara nyata terhadap return saham. Interpretasi dari parameter b 4 = 0.0010 adalah bahwa dengan menjaga variabel yang lain konstan, kenaikan setiap 1% dari variabel return on asset mengakibatkan kenaikan return saham sebesar 0.0053. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa variabel return on asset mempunyai hubungan yang positif, namun tidak signifikan terhadap return saham Implikasinya adalah bahwa terdapat kecenderungan saat variabel return on asset mengalami kenaikan, return saham juga mengalami kenaikan, maka return saham perusahaan sektor property dan real estate di BEJ selama tahun 2001 sampai dengan 2004 tidak terpengaruh oleh tinggi rendahnya variabel return on asset perusahaan atau dengan kata lain tinggi rendahnya variabel return on asset perusahaan tidak mempengaruhi para investor dalam usaha untuk membeli atau menjual sahamnya.

e) Earning Pre Share EPS mempunyai koefisien regresi sebesar 0.0001 dengan nilai p-value 0.015 yang berarti < alpha (a = 0.05). Ini berarti bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya, dengan tingkat keyakinan 95% koefisien b 5= 0.0001 berpengaruh secara statistik (signifikan), sehingga variabel earning per share berpengaruh secara nyata terhadap return saham. Interpretasi dari parameter b 5= 0.0001 adalah bahwa dengan menjaga variabel lain konstan, kenaikan setiap 1% dari variabel earning per share mengakibatkan kenaikan return saham sebesar 0.0001. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa variabel earning per share mempunyai hubungan yang positif dan signifikan terhadap return saham. Implikasinya adalah bahwa terdapat kecenderungan saat variabel earning per share mengalami kenaikan, return saham juga mengalami kenaikan, maka return saham perusahaan sektor property dan real estate di BEJ selama tahun 2001 sampai dengan 2004 dipengaruhi oleh tinggi rendahnya earning per share perusahaan, atau dengan kata lain tinggi rendahnya earning per share perusahaan mempengaruhi para investor untuk membeli atau menjual sahamnya. f) Price Earning Ratio Koefisien regresi untuk PER sebesar -0.0001 dengan nilai p-value sebesar 0.011 ini berarti < alpha (a = 0.05). Ini berarti bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya, dengan tingkat keyakinan 95% koefisien b 6= -0.0001 berpengaruh secara statistik (signifikan), sehingga variabel price earning ratio berpengaruh secara nyata terhadap return saham. Interpretasi dari parameter b 6= -0.0001 adalah bahwa dengan menjaga variabel lain konstan, kenaikan setiap 1% dari variabel price earning ratio mengakibatkan kenaikan return saham sebesar -0.0001. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa variabel price earning ratio mempunyai hubungan yang negatif dan signifikan terhadap return saham. Implikasinya adalah bahwa terdapat kecenderungan saat variabel price earning ratio mengalami kenaikan, return saham mengalami penurunan, maka return saham perusahaan sektor property dan real estate di BEJ selama tahun 2001 sampai dengan 2004 dipengaruhi oleh tinggi rendahnya price earning ratio perusahaan, atau dengan kata lain tinggi rendahnya price earning ratio perusahaan mempengaruhi para investor untuk membeli atau menjual sahamnya. g) Price Book Value Koefisien regresi PBV sebesar 0.0041 dengan nilai p-value sebesar 0.006<alpha (a = 0.05). Berarti bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya, dengan tingkat keyakinan sebesar 95% koefisien b 7= 0.0041 berpengaruh berpengaruh secara statistik (signifikan), sehingga variabel price book value berpengaruh secara nyata terhadap return saham. Interpretasi dari parameter b 7= 0.0041 adalah bahwa dengan menjaga variabel lain konstan, kenaikan setiap 1% dari variabel price book value mengakibatkan kenaikan return saham sebesar 0.0041. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa variabel price

82

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Pengaruh Kinerja Keuangan dan Faktor Ekonomi Makro Terhadap Return Saham Perusahaan Real Estate dan Property Tahun 2001 2004

Dahli Suhaeli dan Sartono Tri Nugroho

83

earning ratio mempunyai hubungan yang positif dan signifikan terhadap return saham. Implikasinya adalah bahwa terdapat kecenderungan saat variabel price book value mengalami kenaikan, return saham juga mengalami kenaikan, maka return saham perusahaan sektor property dan real estate di BEJ selama tahun 2001 sampai dengan 2004 dipengaruhi oleh tinggi rendahnya price book value perusahaan, atau dengan kata lain tinggi rendahnya price book value perusahaan mempengaruhi para investor untuk membeli atau menjual sahamnya. h) Inflasi Koefisien regresi inflasi sebesar -0.0014 dengan nilai p-value sebesar -0.554 berarti > alpha (a = 0.05). Sehingga Ho diterima dan Ha ditolak. Dari pengujian ini variabel Inflasi tidak signifikan secara statistik dalam mempengaruhi return saham. Interpretasi dari parameter b 8 = -0.0014 adalah bahwa dengan menjaga variabel yang lain konstan, kenaikan setiap 1% dari variabel inflasi mengakibatkan kenaikan return saham sebesar -0.0014. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa variabel return on asset mempunyai hubungan yang negatif, dan tidak signifikan terhadap return saham Implikasinya adalah bahwa terdapat kecenderungan saat variabel inflasi mengalami kenaikan, return saham mengalami penurunan, karena pada saat inflasi naik maka pendapatan investor menurun sehingga investor kurang berminat dalam melakukan investasi. i) Suku Bunga Koefisien regresi untuk variabel suku bunga sebesar -0.0097 dengan nilai p-value sebesar 0.000 yang berarti < tingkat signifikasi 5% berarti bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya, dengan tingkat keyakinan 95% koefisien b 9 = -0.0097 berpengaruh secara statistik ( signifikan ), sehingga variabel suku bunga berpengaruh secara nyata terhadap return saham. Interpretasi dari parameter b 9= -0.0097 adalah bahwa dengan menjaga variabel lain konstan, kenaikan setiap 1% dari variabel suku bunga mengakibatkan kenaikan return saham sebesar -0.0097. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa variabel suku bunga mempunyai hubungan yang negatif dan signifikan terhadap return saham. Implikasinya adalah bahwa terdapat kecenderungan saat variabel suku bunga mengalami kenaikan, return saham mengalami penurunan, sehingga return saham perusahaan sektor property dan real estate di BEJ selama tahun 2001 sampai dengan 2004 dipengaruhi oleh tinggi rendahnya suku bunga, atau dengan kata lain tinggi rendahnya suku bunga mempengaruhi para investor untuk membeli atau menjual sahamnya dan investor saat suku bunga tinggi cenderung untuk berinvestasi ke tabungan ataupun deposito. j) Kurs Koefisien regresi untuk variabel kurs rupiah terhadap Dollar AS sebesar 0.0002 dengan nilai p-value sebesar 0.000 yang berarti < tingkat signifikasi 5% berarti bahwa Ho

ditolak dan Ha diterima. Artinya, dengan tingkat keyakinan sebesar 95% koefisien b 10= 0.0002 berpengaruh secara statistik ( signifikan ), sehingga variabel kurs Rupiah terhadap US Dollar berpengaruh secara nyata terhadap return saham. Interpretasi dari parameter b 10= 0.0002 adalah bahwa dengan menjaga variabel lain konstan, kenaikan setiap 1% dari variabel kurs Rupiah terhadap US Dollar mengakibatkan kenaikan return saham sebesar 0.0002. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa variabel kurs Rupiah terhadap US Dollar mempunyai hubungan yang positif dan signifikan terhadap return saham. Implikasinya adalah bahwa terdapat kecenderungan saat variabel Kurs Rupiah mengalami kenaikan, return saham juga mengalami kenaikan, maka return saham perusahaan sektor property dan real estate di BEJ selama tahun 2001 sampai dengan 2004 dipengaruhi oleh tinggi rendahnya kurs Rupiah terhadap US Dollar, atau dengan kata lain tinggi rendahnya kurs Rupiah terhadap US Dollar mempengaruhi para investor untuk membeli atau menjual sahamnya. Kesimpulan 1. Dengan menggunakan uji determinasi Rsquare diperoleh hasil bahwa variabel current ratio, net profit margin, return on equity, return on asset, earning per share, price earning ratio, price book value, inflasi, suku bunga dan kurs Rupiah terhadap Dollar Amerika secara bersama-sama mempunyai pengaruh terhadap return saham (Ri ) sebesar 67,7% sedangkan sisanya sebesar 33,3% dijelaskan oleh variabel bebas lain diluar model ini. Secara serentak (simultan) hasil analisis regresi yang dilakukan dengan statistik uji F, menunjukkan bahwa variabel current ratio, net profit margin, return on equity, return on asset, earning per share, price earning ratio, price book value, inflasi, suku bunga dan kurs Rupiah terhadap Dollar Amerika terbukti berpengaruh terhadap return saham pada perusahaan sektor property dan real estate selama periode 2001 sampai dengan 2004. 2. Secara parsial, dari hasil analisis dengan uji-t statistik variabel yang berpengaruh positif terhadap return saham adalah variabel NPM, ROE, ROA, EPS, PBV, Kurs, hal ini diperkuat dengan hasil analisis uji-t dengan p-value < alpha (a =0.05), sedangkan variabel yang berpengaruh negatif adalah vaariabel PER, Inflasi, Suku Bunga. Berdasarkan hasil analisis data, maka dapat diuraikan beberapa implikasi penelitian sebagai berikut : 1. Bagi para investor dan analisis yang akan melakukan investasi ataupun memprediksi return saham dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi return saham maka perlu menjadikan variabel-variabel NPM, ROE, ROA, EPS, PER, PBV, SBI dan KURS sebagai acuan dalam pengambilan keputusan, sebab faktor-faktor yang mempengaruhi return saham dalam penelitian ini ditentukan oleh variabel tersebut. 2. Bagi emiten yang ingin meningkatkan return sahamnya maka bisa menempuh langkah dengan memperbaiki kinerja perusahaan dengan meningkatkan NPM, ROE,

84

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Pengaruh Kinerja Keuangan dan Faktor Ekonomi Makro Terhadap Return Saham Perusahaan Real Estate dan Property Tahun 2001 2004

Dahli Suhaeli dan Sartono Tri Nugroho

85

ROA, EPS, PER, PBV 3. Bagi peneliti selanjutnya simpulan diatas memberikan bukti empiris yang bisa digunakan sebagai pijakan gagasan ke arah penelitian lebih mendalam tentang faktorfaktor yang mempengaruhi return saham. Akan lebih menarik apabila dalam penelitian selanjutnya dipeertimbangkan variabel-variabel fundamental yang lain serta faktor-faktor makro lain karena saham dipengaruhi oleh berbagai macam variabel.

Daftar Pustaka ________, 1000. Manual SPS Paket Midi, , UGM Yogyakarta Kurs Hantam Sektor Riil, 2001, Jawa Pos, 4 Oktober, p. 7. Anoraga, P dan Pakarti, P, 2001, Pengantar Pasar Modal, Rineka Cipta Jakarta. Arifin, A, 2001,Membaca Saham, Andi Yogyakarta. Asosiasi Rasio Keuangan Dengan Return Saham : Pertimbangan Ukuran Perusahaan Serta Pengaruh Krisis Ekonomi di Indonesia 1999, Simposium Nasional Akunansi IV, pp. 923-951. Damodar Gurajati, 2000, Ekonomi Dasar, Jakarta : Erlangga. Edurdus Tandelilin, 2001, Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio, Yogyakarta :BPFE. Gujarati, D. 2001. Ekonometrika Dasar, Erlangga Jakarta. Hasan I 1999, Pokok-Pokok Materi Statistik 2, Bumi Aksara Jakarta. J. Fred Weston dan Thomas E. Copeland, 1996, Manajemen Keuangan Jilid I (Terjemahan), Erlangga, Jakarta. James C. VanHome & Jhon M Wachowicz, Jr., 1997, Prisip-prinsi Manajemen Keuangan, Buku 1, Edisi Indonesia. Jogiyanto, 2000, Metode Portofolio dan Analisis Investasi, Yogyakarta, BPFE. Mudrajad Kuncoro, 2001, Metode Kuantitatif Teori dan Aplikasi untuk Bisnis dan Ekonomi UPP AMP YKPN, Yogyakarta. Munawir, 1998, Analisa Laporan Keuangan, Liberty Yogyakarta. Nur Fajhilah Asyik & Soelistiyo, Kemampuam rasio Keuangan dalam memproduksi laba (Penerapan Rasio Keuangan sebagai Discriminator), Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, 2000, Vol. 15, No.3,pp.313-331 Prasetya, T. 2001. Analisa Rasio Keuangan dan Nilai Kapitalisasi Pasar Sebagai Prediksi Harga Saham di BEJ pada periode Bullish dan Bearish, Rasio Keuangan Sebagai Prediktor Kinerja. R. Agus Sartono, 2001, Manajemen Keuangan Teori dan Aplisikasi, BPEE, Yogyakarta. Ruben Trevino & Fiona Robetson, P E Ratio and Stock Market Returns, Jurnal of Finansial Planing, February 2002, pp.76-84

Samuelson, P.A and Nordhaus, W.D 1995, Makro Ekonomi, edisi keempat belas, Penerbit Erlangga, Jakarta. Simanungkalit, P. 2000, Prospek Pasar Perumahan dan Bisnis Properti Era Indonesia Baru tahun 2001, Jurnal Properti edisi VII, Desember. Sjahrir, 1998, Analisa Bursa Efek, Gramedia Pustaka Utama Jakarta. Suad Husnan, 2001, Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas, Yogyakarta : UPP-AMP YKPN. Subekti, S, 2001, Kiat Bermain Saham, Gramedia Jakarta. Sumodiningrat, G. 2001. Econometrika Pengantar, BPFE Yogyakarta. Syahib Natarsyah,200, Analisis Pengaruh Beberapa faktor Fundamental dan Resiko Sistematik Terhadap Harga Saham : Kasus Industri Barang Kosumsi yang Go Publik di Pasar Modal Indonesia, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol.15, No. 3,294-312 Tajus Subqi, 2003, Pengaruh Faktor-Faktor Fundamental dan Resiko Sistematik Terhadap Harga Saham di BES, Thesis, Program Pasca Sarjana UGM. Tuasikal, A, 1999, Manfaat Informasi Akuntansi Dalam Memprediksi Return Saham, Simposium Nasional Akuntansi IV. Usman, H and Akbar, RPS. 1995, Pengantar Statistika, Bumi Aksara, Jakarta. Zaenal Mustafa, 1995, Pengantar Statistik Terapan untuk Ekonomi, Edisi 2, BPFE UII Yogyakarta.

86

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Pengaruh Kinerja Keuangan dan Faktor Ekonomi Makro Terhadap Return Saham Perusahaan Real Estate dan Property Tahun 2001 2004

Dahli Suhaeli dan Sartono Tri Nugroho

87

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN DALAM MEMILIH SURAT KABAR JAWA POS DI WILAYAH KOTA MAGELANG Marlina Kurnia dan Carolina Aprilliani

Abstract The economy situation are getting growth rapidly, everyone have opportunity to create any goods with various types and patterns also they free to use their money to purchase any goods they want, so it can influence the companies to take the market compartment on very tight competition. This research aim to get some information about is there any relationship between news quality, news actulization, print quality, distribution dan good taste and consument behaviour either through partial and simultant, And also to know what factors that dominantly influence againts consument behaviour. Population is the subject of research entirely. The population of this research amount to 310 consument which subscriber to Jawa Pos newspaper in Magelang. The methods which used in this research was purposive quota sampling. The samples which used in this research amount to 100 respondent from some respondent who qualified with criteria above. The method analysis which used in this research is double regretion linear method. The result of this research shows either through simultant and partial between news quality, news actuality, print out quality, distribution and readers taste againts consument behaviour. It shown that the variable of news quality have dominant influence againts consumer behaviour, There is suggested The Jawa Pos newspaper to improve and keep the quality, news actualization, print out quality, distribution and readers taste betterly to influence consument. Key word : consument behaviour, Newspaper.

A. Latar Belakang Masalah Memasuki awal abad 21, dewasa ini membawa pengaruh yang besar terhadap persaingan perusahaan dalam merebut pangsa pasar, apalagi kondisi perekonomian yang ada sekarang sering tidak stabil dan berpengaruh pada kehidupan perusahaan. Menurut Engel dkk (1973) dalam Kotler (1995 : 43), pada hakekatnya perilaku konsumen tidak sama dengan sifat konsumen. Melalui tindakan-tindakan belajar, seseorang akan mendapatkan kepercayaan dan sikap yang akan mempengaruhi perilaku konsumen. Perilaku konsumen adalah kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat

dalam mendapatkan, mengkonsumsi serta menghabiskan produk atau jasa termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusul tindakan tersebut. Persaingan dalam suatu industri merupakan bagian penting bagi setiap perusahaan untuk tetap mempertahankan serta meningkatkan keuntungan dari usahanya. Perusahaan menyadari dengan adanya persaingan tersebut menuntut untuk berupaya lebih giat dalam meningkatkan volume penjualan. Meningkatnya volume penjualan bisa disebabkan oleh kondisi lingkungan pemasaran yang mendukung, atau juga prestasi perusahaan lebih baik dari pesaingnya. Perkembangan volume penjualan merupakan perkembangan jumlah produk yang mampu terjual sampai ke konsumen. Situasi perekonomian yang semakin pesat, orang dapat bebas menciptakan barang dengan berbagai corak dan ragam serta leluasa menggunakan uangnya untuk membeli barang yang mereka inginkan, sehingga hal ini mempengaruhi perusahaan untuk dapat merebut pangsa pasar dalam persaingan yang ketat. Faktor lingkungan yang amat berpengaruh bagi kegiatan perusahaan, karena semua faktor yang ada di sekeliling perusahaan merupakan kekuatan yang berpengaruh baik secara langsung maupun tak langsung terhadap kehidupan perusahaan. Faktor-faktor tersebut berperngaruh dalam bentuk memberikan peluang maupun menimbulkan hambatan dan ancaman bagi perusahaan. Mengingat betapa besarnya pangaruh bagi kelangsungan hidup perusahaan maka sangat penting bagi pimpinan perusahaan untuk segera terus-menerus memantau setiap perubahan lingkungan yang terjadi. Perusahaan Koran Jawa Pos sebagai salah satu media informasi harus mempersiapkan strateginya baik dalam produksi maupun pemasaran. Penyajian dan tata letak berita diperhatikan sebagai daya tarik konsumen. Walaupun dalam kenyataannya media cetak sudah mulai tersisih oleh kehadiran media elektronik tetapi bagi sebagian orang kebiasaan menikmati barita lewat media cetak masih dirasakan. Gaya bahasa, kelengkapan penyajian dan kesederhanaannya sering dirindukan oleh sebagian penikmat media cetak. Informasi merupakan bahan baku yang sangat penting dalam merumuskan dan mengimplementasikan strategi pemasaran yang sukses. Perilaku konsumen adalah aspek psikologis mengenai tanggapan konsumen tentang suatu produk yang dihasilkan perusahaan. Perilaku konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah kualitas barang, harga, promosi dan lain sebagainya. Perusahaan informasi seperti Koran Jawa Pos, informasi yang disajikan harus masih dikaji dalam tata letak dan volume berita tertentu, agar menarik minat baca konsumen dan memberikan rasa ingin tahu yang besar dan terus membaca dan mengerti kelanjutan dari berita. Konsumen dalam memutuskan mendapatkan produk dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu konsumen individual artinya pilihan untuk mendapatkan produk dipengaruhi oleh hal-hal yang ada pada diri konsumen, lingkungan dan strategi pemasaran. Kualitas, aktualisasi berita, mutu cetakan, distribusi yang baik merupakan strategi dalam usaha membidik pasar sasaran yang sudah terpenuhi ataupun yang masih menjadi target. Aktualisasi berita merupakan cerminan segmentasi pasar, pada siapa koran

88

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Dalam Memilih Surat Kabar Jawa Pos di Wilayah Kota Magelang

Marlina Kurnia dan Carolina Aprilliani

89

tersebut akan dijual. Hal itu sangat terkait dengan tingkat sosial konsumen yang menjadi sasaran, dan tidak akan lepas dengan pengaruhnya terhadap penentuan harga jual. Mutu cetakan akan berpengaruh pada bentuk yang mengandung dan sekaligus mengungkapkan isi berita. Mutu cetakan harus bagus, sehingga pembacanya memiliki kesan komplet yang memuaskan, perasaan bahwa segala yang ada dalam tulisan mengalir ke arah konklusi yang tak terhindarkan. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka topik yang akan dianalisis, yaitu FaktorFaktor Yang Mepengaruhi Perilaku Konsumen Dalam Memilih Surat Kabar Jawa Pos di wilayah Kota Magelang. B. Perumusan Masalah a. Apakah ada pengaruh antara kualitas berita, aktualisasi berita, mutu cetakan, distribusi dan selera baik secara parsial maupun simultan terhadap perilaku konsumen? b. Faktor manakah yang dominan berpengaruh terhadap perilaku konsumen? C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan-tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara kualitas berita, aktualisasi berita, mutu cetakan, distribusi dan selera baik secara parsial maupun simultan terhadap perilaku konsumen. b. Untuk mengetahui faktor manakah yang dominan berpengaruh terhadap perilaku konsumen?. D. Landasan Teoritik 1. Perilaku Konsumen Perilaku konsumen adalah aspek psikologis mengenai tanggapan konsumen tentang suatu produk yang dihasilkan perusahaan. Perhitungan yang matang dalam suatu perusahaan mengenai perilaku konsumen sangat diperlukan tentang kemungkinankemungkinan konsumen mau membeli hasil produksi tersebut. Perhitungan tersebut tidak didasarkan pada dugaan-dugaan yang tidak beralasan, tetapi harus mempunyai dasar yang obyektif dan empiris. Menurut Swastha (1997) untuk mempengaruhi konsumen agar mau membeli produk yang ditawarkan seorang produsen harus menentukan produk apa yang saat ini dirasakan dan sangat dibutuhkan, dalam bentuk apa produk tersebut disajikan, bagaimana kualitas barang agar konsumen merasa puas dibandingkan dengan barang sejenis yang telah ada. Beberapa cara menciptakan suatu hasil produksi untuk menarik daya beli konsumen, tidak lepas dari aktivitas-aktivitas yang diarahkan kepada konsumen (Anonim, 2002). Perusahaan jasa yang dikelola dengan sangat baik percaya bahwa hubungan karyawan akan mempengaruhi hubungan dengan pelanggan. Manajemen

melaksanakan pemasaran internal dan menciptakan lingkungan yang mendukung dan menghargai kinerja pelayanan yang baik. Perusahaan tidak boleh terlalu memaksakan produksi, sehingga mengurangi mutu yang dipersepsikan. Beberapa metode peningkatan produktivitas mengakibatkan standardisasi yang berlebihan sehingga konsumen kehilangan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhannya. Beberapa teori tentang perilaku konsumen menurut Basu Swasta dan Hani Handoko (1997 : 28) dijelaskan sebagai berikut : a. Teori Ekonomi Mikro Mendekatkan pada faktor-faktor ekonomi saja, sedangkan faktor lain kurang diperhatikan. b. Teori Psikologis Teori ini mendasarkan pada faktor psikologis individu yang dipengaruhi oleh kekuatan lingkungan. Manusia selalu didorong oleh kebutuhan dasarnya sebagai bagian dari pengaruh lingkungan. c. Teori Sosiologis Teori ini menitikberatkan pada ubungan pengaruh antar individu yang berhubungan dengan perilakunya, keinginan dan perilaku individu dibentuk oleh kelompok masyarakat tempat individu itu menjadi masyarakat. d. Teori Antropologi Teori ini menekankan pembelian dari suatu kelompok masyarakat yang ruang lingkupnya luas. Proses pengambilan keputusan dilakukan konsumen dimulai dari tahap pengenalan masalah berupa keinginan untuk memenuhi kebutuhan, mencari informasi tentang produk jasa yang dibutuhkan dan selanjutnya tahap keputusan pembelian yang diakhiri dengan perilaku setelah pembelian akan membeli atau tidak dari kepuasan yang diperoleh dari suatu produk atau jasa. Konsep perilaku konsumen secara singkat dapat dijelaskan sebagai bidang ilmu pengetahuan yang meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen melakukan tindakan menggunakan atau tidak menggunakan suatu produk. Setiap usaha penerbitan surat kabar hendaknya mengetahui unsur-unsur yang dapat menimbulkan konsumen melakukan pembelian, karena perilaku knsumen yang loyal terhadap suatu produk saja akan menguntungkan bagi produsennya karena konsumen akan terus berusaha mencari produk yang diinginkannya, karena dengan mengetahui apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen akan menuntut pemasaran pada kebijakan yang tepat (Sutisna, 2001 : 34). Pengambilan keputusan merupakan pendekatan masalah bagi konsumen, antara lain dalam memenuhi motif yang timbul akibat rangsangan dari lingkungan sekitarnya. Rangsangan itu menyebabkan terjadinya suatu kegiatan. Permintaan konsumen membeli terhadap suatu barang mengandung arti kesediaan membeli dengan daya beli tertentu. Berkenaan dengan proses pengambilan keputusan konsumen untuk membeli surat kabar, komponen motivasi timbul atas dasar :

90

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Dalam Memilih Surat Kabar Jawa Pos di Wilayah Kota Magelang

Marlina Kurnia dan Carolina Aprilliani

91

a. Motif pembeli Gerakan yang ditimbulkan oleh kebutuhan dan keinginan konsumen dalam menanggapi berbagai barang atau jasa. b. Gambaran Kesan Produk Kemampuan untuk mengorganisasikan pengangkatan terhadap berbagai produk sejenis yang erat hubungannya dengan proses berpikir konsumen secara simbolis dan asosiatif. Keputusan membeli tidak berdiri sendiri. Keputusan ini sangat dipengaruhi oleh faktor kepribadian dan psikologis (Kotler, 1995 : 231). 2. Faktor-Faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen a. Faktor Ekstern 1) Pengaruh kebudayaan Perilaku konsumen ditentukan oleh kebudayaan yang melingkupi. Pengaruh akan selalu berubah setiap waktu sesuai perkembangan zaman dari masyarakat tersebut. Kebudayaan dianggap sebagai bagian dari lingkungan manusia dalam masyarakat. 2) Pengaruh kelas sosial Kelas sosial adalah sebuah elompok yang relatif homogen dan bertahan lama dalam sebuah masyarakat yang mempunyai nilai minat dan tingkah laku yang sama. Masyarakat dapat digolongkan menjadi 3 golongan, yaitu : a) Golongan atas Golongan yang termasuk dalam kelas ini antara lain : pengusaha, pejabat tinggi. b) Golongan menengah Golongan yang termasuk dalam kelas ini antara lain : karyawan instansi pemerintah. c) Golongan rendah Golongan yang termasuk dalam kelas ini antara lain : buruh pabrik, pedagang kecil. 3) Pengaruh kelompok referensi Kelompok referensi adalah kelompok yang memberikan pengaruh langsung ataupun tidak langsung terhadap sikap dan tingkah laku manusia, sehingga menjadikan seseorang mudah terpengaruh membeli suatu barang. Golongan yang termasuk kelompok referensi adalah keluarga, sahabat, tetangga. 4) Pengaruh Keluarga Anggota keluarga dapat memberikan pengaruh yang kuat terhadap perilaku pembeli sebagai pengambil keputusan dan sebagai pelaku dalam memaki produk.

b. Faktor Intern 1) Motivasi Motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan. 2) Pengamatan Pengamatan adalah suatu proses dimana manusia menyadari dan menginterprestasikan aspek lingkungannya. Terjadinya pengamatan dipengaruhi oleh pengalaman masa lampau, sikap dari individu. 3) Belajar Belajar didefinisikan sebagai perubahanan tingkah perilaku yang terjadi sebagai hasil akbat adanya pengalaman. Proses belajar terjadi karena adanya interaksi yang dasarnya bersifat individual dengan lingkungan khusus tertentu. 4) Kepribadian dan konsep Kepribadian dapat didefinisikan sebagai pola sifat individu yang dapat menentukan anggapan untuk bertingkah laku. Pengaruh sifat dan kepribadian konsumen terhadap perilaku pembeliannya adalah sangat umum, sedangkan konsep diri adalah cara seseorang untuk melihat dirinya dan pada saat yang sama ia mempunyai gambaran tentang diri orang lain. 5) Sikap Sikap adalah suatu keadaan jiwa yang dipersiapkan memberikan tanggapan terhadap objek yang diorganisir melalui pengalaman serta mempengaruhi secara langsung dan dinamis pada perilaku. 3. Faktor-Faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam pembelian surat kabar Faktor-faktor yang dapat berpengaruh terhadap perilaku konsumen dalam pemilihan surat kabar adalah : a. Faktor kualitas berita Kualitas berita sangat menentukan perilaku konsumen dalam membeli koran. Dewasa ini pola pikir masyarakat semakin kritis, sehingga dalam menyajikan informasi mereka menginginkan berita atau informasi yang aktual yaitu berita yang berbobot dan berdasarkan fakta-fakta /sumber berita yang jelas. b. Faktor Aktualisasi berita Berbeda dengan majalah yang sifat beritanya lebih analisis, berita tidak boleh beropini, sehingga tulisan hanya menyajikan fakta-fakta dan waktu juga menjadi perhatian lainnya. Berita koran yang terbit harian sifat beritanya pun terbatas oleh waktu. Esok harinya, sudah ada berita baru sebagai perkembangan berita sebelumnya, apalagi media dotcom yang melaporkan perkembangan dari jam ke jam bahkan dari menit ke menit. c. Mutu Cetakan Mutu cetaan memegang peranan penting dalam pengembangan surat kabar, walaupun isi redaksionalnya hebat, tetapi kalau pencetakannya tidak baik, maka

92

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Dalam Memilih Surat Kabar Jawa Pos di Wilayah Kota Magelang

Marlina Kurnia dan Carolina Aprilliani

93

rusaklah mata pembacanya, mereka pasti akan berpindah koran lain (Sunardim 1999 : 9). Mutu cetakan dari surat kabar dipengaruhi oleh teknologi yang digunakan dan kualitas kertas korannya. Pembaca tentunya menginginkan surat kabar yang baik hasil cetakannya, sehingga mudah dibaca. d. Distribusi Mencapai sukses diperlukan unsur produksi dan distribusi yang baik. Kegiatannya sehari-hari mereka saling tergantung dalam satu kelompok kerja. Kelancaran dalam bidang distribusi merupakan salah satu oplah, sehingga perlu suatu kebijakan bagaimana menyebarkan atau menyampaikan produk pers yaitu koran agar dibaca dan dibeli orang banyak (Handoko, 1989: 144). Kemudahan dan kecepatan surat kabar sampai ke konsumen akan berpengaruh terhadap keputusan mereka dalam membeli surat kabar. Tujuan distribusi atau penyaluran adalah ketepatan waktu penyampaian koran kepada pelanggannya (Rusilah, 1991: 31). Kepuasan konsumen dipengaruhi penyaluran barang. Konsumen akan merasa puas apabila barang yang dibutuhkan tersedia setiap waktu. Perusahaan sebagai sistem terbuka tidak pernah dapat dipisahkan dengan lingkungannya. Karena fungsi pemasaran merupakan salah satu fungsi dari keseluruhan fungsi yang ada dalam perusahaan, maka efektivitasnya juga dipengaruhi oleh lingkungannya. Lingkungan yang sulit dijangkau, akan mempengaruhi distribusi penyaluran barang sampai ke konsumen. Narver dan Slater (1990) menandaskan bahwa penyaluran barang sampai ke pelanggan adalah salah satu faktor penting dalam orientasi pasar. Sementara Hoffman dan Ingram (1992) menyatakan bahwa praktek nyata dari sebuah orientasi pasar adalah orientasi pelanggan yang tujuannya adalah membangun rasa percaya (trust) pelanggan, membangun dan memperkokoh hubungan pelanggan serta memperlakukan pelanggan sebagai bagian dari perusahaan, yang dalam konsepsi Hogan dkk (2002) dipandang sebagai langkah strategik untuk membentuk costumer equity - modal pelanggan dari sudut pandang perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan harus memperhatikan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan konsumen, sehingga distibusi dan penyaluran barang akan terus berkelanjutan. e. Selera Faktor penting dalam penerbitan surat kabar adalah pembaca. Pembaca terdiri dari mereka yang berkedudukan rendah ataupun tinggi. Masalah yang serius adalah bagaimana caranya menciptakan suatu hasil produksi yang dapat memenuhi selera para konsumen secara maksimal. Masalah ini tidak lepas dari masalah marketing, sebab marketinglah yang menjajagi semua aktivitas-aktivitas yang diarahkan kepada konsumen. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menilai keinginan para konsumen, merubah keinginan dan kebutuhan tersebut ke dalam bentuk barang serta menyajikannya dalam cara-cara yang khas, membuat jaring-jaring saluran

yang efektif dari produsen ke konsumen dengan mempertimbangkan faktor laba (profit) yang rasional. Orientasi strategik penting dalam pengembangan kebijakan pemasaran. Salah satu dimensi superior performance tersebut adalah keunggulan kinerja pemasaran yang dicapai bila perusahaan mengembangkan filosofi kerja yang berorientasi pasar dan berorientasi pada penguasaan informasi pelanggan, pesaing serta kesadaran mengembangkan informasi tersebut melalui koordinasi dalam perusahaan (Narver dan Slater 1994). Banyak studi telah dilakukan yang menunjukkan bahwa orientasi pasar dan orientasi pemasaran, secara spesifik orientasi pelanggan, pada kenyataannya memberi dampak yang positif pada pencapaian kinerja pemasaran yang berorientasi pada pengembangan nilai pelanggan. E. Hipotesis a. Ada pengaruh antara kualitas berita, aktualisasi berita, mutu cetakan, distribusi dan selera konsumen baik secara parsial maupun simultan terhadap perilaku konsumen. b. Faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap perilaku konsumen adalah kualitas berita. F. Definisi Operasional Variabel a. Kualitas berita Adalah pendapat konsumen mengenai bobot dari berita, isi berita, bahasa yang dipergunakan yang disajikan oleh surat kabar Jawa Pos. b. Aktualisasi berita Adalah pendapat konsumen mengenai berita atau informasi yang disajikan oleh surat kabar Jawa Pos berkenaan dengan peristiwa yang belum lama terjadi, peristiwa yang masih berlangsung dan keaktualan berita. c. Mutu cetakan Adalah pendapat konsumen mengenai kejelasan, minimalnya kesalahan tulisan serta kejelasan hasil cetakan yang disajikan. d. Distribusi Adalah pendapat konsumen mengenai kemudahan mendapatkan surat kabar, tersedianya koran di agen-agen dan mudah didapatkan. e. Selera pembaca Adalah pendapat konsumen mengenai surat kabar yang mampu memenuhi kebutuhan informasi, yaitu sesuai keinginan dan harapan pembaca, menarik perhatian pembaca dan sesuai dengan yang diperlukan pembaca. f. Perilaku konsumen Adalah pengambilan keputusan oleh konsumen mengenai pembelian surat kabar Jawa Pos, yaitu mengenai mutu, aktual dan kualita berita.

94

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Dalam Memilih Surat Kabar Jawa Pos di Wilayah Kota Magelang

Marlina Kurnia dan Carolina Aprilliani

95

G. Metode Penelitian 1. Populasi dan sampel Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Suharsimi Arikinto, 1996 : 65). Populasi dalam penelitian ini berjumlah 310 konsumen yang berlangganan koran Jawa Pos di Magelang. Metode yang dipakai dalam penelitian adalah teknik purposive quota sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan kriteriakriteria dan tujuan tertentu. Adapun kriteria tersebut meliputi konsumen yang berlangganan koran Jawa Pos atau minimal sudah berlangganan. Sampel yang dipergunakan sebanyak 100 responden dari sejumlah responden yang telah memenuhi kriteria di atas. 2. Metode pengumpulan data a. Kuesioner Mengumpulkan data dengan cara membagikan daftar pertanyaan kepada responden untuk mengetahui tanggapan berbagai hal tentang kualitas berita, aktualisasi berita, mutu cetakan, distribusi dan selera konsumen. b. Observasi Metode pengumpulan data dengan melakukan pengamatan secara langsung pada konsumen yang berlangganan koran Jawa Pos yang terpilih sebagai responden. c. Wawancara Yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan cara tanyajawab untuk mengetahui informasi yang lebih jelas guna melengkapi pencarian data dengan cara membagikan kuesioner. 3. Jenis Data a. Data Primer Data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh organisasi yang menerbitkan atau menggunakan. Data primer meliputi data tentang persepsi responden terhadap kualitas berita, aktualisasi berita, mutu cetakan barang, distribusi dan selera. b. Data sekunder Data yang diterbitkan atau digunakan oleh organisasi yang bukan pengolahnya. Data ini diperoleh dari Kantor Harian Sore Jawa Pos wilayah pemasaran Kedu Utara, yaitu mengenai gambaran umum perusahaan, meliputi sejarah berdirinya, struktur organisasi dan kebijakan yang berhubungan dengan perusahaan. H. Metode Analisis Data Untuk dapat mengetahui hasil dari suatu penelitian, maka harus dilakukan analisis terhadap data yang diperoleh. Alat analisis yang digunakan adalah : a. Analisis Kualitatif b. Analisis Kuantitatif 1. Uji validitas Uji Validitas dipergunakan untuk mengukur tingkat kesahihan suatu instrumen. Instrumen yang sahih mempunyai validitas tinggi sebaliknya intrumen yang kurang baik memiliki validitas yang rendah.

2. Uji Relibilitas Reliabitas dipergunakan untuk mengetahui tingkat keajegan instrumen penelitin. Instrumen yang reliabel menunjukkan cukup dapat dipercaya untuk digunakan atau dipakai sebagai suatu alat pengumpul data (Sudjana, 1996 : 82). 3. Analisis Regresi Linier Berganda Analisis Regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh antara variabel bebas, yaitu : kualitas berita (X1), aktualisasi berita (X2), mutu cetakan (X3), distribusi (X4) dan selera (X5) terhadap variabel terikat, yaitu perilaku konsumen (Y), maka digunakan analisis regresi linier berganda. Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 (Sudjana, 1992). Dimana : Y = Perilaku konsumen a = Konstanta b1, b2, b3, b4 = Koefisien regresi X1 = Kualitas berita X2 = Aktualisasi berita X3 = Mutu cetakan X4 = Distribusi X5 = Selera Kebenaran pengaruh digunakan uji hipotesa sebagai berikut : a. Uji statistik H0 : b1=b2=b3=b4 = b5 = 0, tidak ada pengaruh yang positif dan bermakna dari variabel X1, X2, X3,X4 dan X5 terhadap Y. H0 : b1 b2 b3 b4 b5 0, ada pengaruh yang positif dan bermakna dari variabel X1, X2, X3, X4, dan X5 terhadap Y. b. Level of significant = 0,05 c. df = n k - 1 d. Test statistik 1. Uji parsial (Statistik uji t) Adalah uji parameter secara individu. Uji ini dilakukan untuk mengetahui berarti tidaknya suatu variabel bebas (Variabel Independen) terhadap variabel terikat (Variabel Dependen) (Sudjana, 1996 ; 380). Nilai statistik t ditentukan dengan :

Dimana : = Koefisien regresi Se () = Standar deviasi

96

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Dalam Memilih Surat Kabar Jawa Pos di Wilayah Kota Magelang

Marlina Kurnia dan Carolina Aprilliani

97

Daerah penolakan H0 Daerah penolakan H0 Daerah penerimaan H0

Daerah penerimaan Ho

Daerah penolakan Ho

-t tabel

-t hitung

t tabel

t hitung
Ftabel Fhitung

Kriteria pengambilan keputusan : a. Apabila thitung > ttabel atau -thitung < -ttabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima berarti terdapat pengaruh yang bermakna dari variabel X1, X2, X3, X4 dan X5 terhadap variabel Y. b. Apabila thitung d ttabel atau -thitung e -ttabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak berarti tidak terdapat pengaruh yang bermakna dari variabel X1, X2, X3, X4 dan X5 terhadap variabel Y. 2. Uji Serentak (Statistik Uji F) Adalah uji signifikansi /kebermaknaan parameter secara bersama-sama. Uji F dilakukan untuk mengetahui berarti tidaknya variabel bebas (Variabel Independen) secara keseluruhan mempengaruhi variabel terikatnya (Variabel dependent) (Sudjana, 1996 : 385). Rumus uji F :

Kriteria pengambilan keputusan : a. Apabila Fhitung > Ftabel maka variabel X1, X2, X3, dan X4 secara bersamasama mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap variabel Y. b. Apabila Fhitung < Ftabel maka variabel X1, X2, X3, dan X4 secara bersamasama tidak mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap variabel Y. 3. Uji R (Statistik uji R) Uji ini merupakan uji kesesuaian untuk mengetahui sejauh mana perubahan variabel terikat (Variabel dependen) dipengaruhi variabel bebasnya (Variabel independen) Nilai statitik dari R diperoleh dengan rumus = R = r 100% Dimana : R = Koefisien determinasi r = Koefisien korelasi Pengujian secara statistik baik itu merupakan uji statistik t, uji statistik F maupun uji statistik R dapat dilakukan dengan program khusus dalam komputer yaitu dengan program SPSS. I. Analisis Deskriptif 1. Kualitas berita (X1) Hasil analisis pada pelanggan tentang variabel Kualitas berita dari sejumlah 100 responden diketahui bahwa kualitas berita yang meliputi koran Jawa Pos mengupas berita-berita berbobot, dikupas secara tuntas dan bahasa yang dipergunakan mudah dipahami sebagian besar responden menyatakan sangat setuju, yaitu sebanyak 94 responden (94%), sedangkan sisanya sebanyak 6 responden (6%) menyatakan sangat tidak setuju.

Dimana : F = Hasil test X1, X2, X3 danX3 terhadap Y R2 = Koefisien determinasi berganda n = Jumlah responden k k = Jumlah variabel bebas

98

} Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Dalam Memilih Surat Kabar Jawa Pos di Wilayah Kota Magelang

Marlina Kurnia dan Carolina Aprilliani

99

2. Aktualisasi berita (X2) Hasil analisis pada responden pada variabel Aktualisasi berita dari sejumlah 100 pelanggan dapat diketahui bahwa jawaban responden tentang aktualisasi berita yang meliputi mengupas berita-berita terkini, mengupas berita yang sedang berlangsung dan berita yang dimuat sangat aktual, sebagia besar responden menyatakan sangat setuju, yaitu sebanyak 95 responden (95%), sedangkan sisanya sebanyak 5 responden (5%) menyatakan sangat tidak setuju. 3. Mutu cetakan (X3) Hasil analisis pada responden tentang variabel mutu cetakan dari sejumlah 100 pelanggan menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan sangat setuju, yaitu sebanyak 97 responden (97%) dan sisanya sebanyak 3 responden (3%) menyatakan sangat tidak setuju bahwa mutu cetakan yang meliputi desain cetakan sangat bagus, kesalahan tulisan sangat minim dan cetakannya jelas. 4. Distribusi (X4) Hasil analisis pada responden tentang variabel distribusi dari sejumlah 100 pelanggan dapat diketahui bahwa sebagian besar responden pada variabel distribusi, yaitu mengenai mudah didapatkan, tersedia di agen-agen koran dan penyaluranya tidak pernah terlambat menyatakan sangat setuju sebanyak 94 responden (94,0 %), sedangkan sisanya sebanyak 6 (6,0 %) menyatakan sangat tidak setuju. 5. Selera Pembaca (X5) Hasil analisis pada responden tentang variabel selera pembaca dari sejumlah 100 responden dapat diketahui bahwa sebagian besar responden pada variabel selera pembaca, yaitu mengenai mampu memenuhi kebutuhan informasi, menarik untuk dibaca, dan memenuhi selera pembaca dari 100 responden yang menyatakan sangat setuju sebanyak 96 responden (96,0 %), sedangkan sisanya sebanyak 4 (4,0 %) menyatakan sangat tidak setuju. 6. Perilaku konsumen (Y) Hasil analisis pada pelanggan tentang variabel Perilaku konsumen dari sejumlah 100 responden dapat diketahui bahwa sebagian besar responden pada variabel perilaku konsumen menyatakan sangat setuju, yaitu sebanyak 96 responden (96%) dan sisanya sebanyak 4 responden (4%) menyatakan sangat tidak setuju bahwa membeli koran karena mutunya bagus, berita aktual membuat keputusan membeli dan kualitas berita mendorong untuk membeli. Uji Validitas dan Reliabilitas 1. Uji Validitas Uji validitas merupakan alat analisis untuk mengukur tingkat kevalitan tiap item kuesioner yang digunakan. Pengujian validitas menggunakan bantuan komputer program SPSS release 10.0. Berdasarkan hasil analisis validitas diperoleh bahwa semua item pada masing-masing variabel yaitu variabel kualitas berita, aktualisasi berita, mutu cetakan, distribusi, selera pembaca dan perilaku konsumen diperoleh

nilai r hitung > r tabel (Lampiran). Berdasarkan hasil tersebut, maka item kuisioner tersebut dinyatakan valid karena nilai koefisien korelasi (r) lebih besar dari r tabel. 2. Uji Reliabilitas. Uji reliabilitas digunakan untuk mengukur setiap item kuesioner apakah reliabel atau tidak. Pengujian reliabilitas untuk masing-masing variabel dalam penelitian ini dianalisa dengan bantuan komputer program SPSS releaase 10.0 for windows Berdasarkan nilai Cronbach Alpha (Lampiran) menunjukkan bahwa nilai Cronbach Alpha bernilai mempunyai nilai lebih besar dari 0,5, sehingga pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini reliabel. 3. Pengaruh Kualitas Berita, Aktualisasi Berita, Mutu Cetakan, Distribusi dan Selera Pembaca terhadap PK Berdasarkan perhitungan data dengan menggunakan metode dengan analisis linier berganda terhadap pengaruh signifikan a = 0,05 antara kualitas, aktualitas, mutu cetakan, distribusi, selera secara keseluruhan terhadap perilaku konsumen. Dimana Fhitung = 12,405 dan Ftabel = 2,32, sehingga kedudukan Fhitung berada di daerah penolakan Ho, maka keputusan menolak Ho dan menerima Ha. Hal ini berarti hipotesis di atas terbukti bahwa semua variabel independen yaitu Kualitas (X1), Aktualitas (X2), Mutu Cetakan (X3), Distribusi (X4), Selera (X5), secara sama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perilaku konsumen (Y). Sehingga penelitian ini terbukti bahwa kualitas, aktualitas, mutu cetakan, distribusi, selera, apabila kesemua itu dilakukan dengan baik akan meningkatkan minat konsumen dalam memilih surat kabar. Pengukuran prosentase pengaruh promosi, aktualitas, mutu cetakan, distribusi, selera, apabila kesemua itu dilakukan dengan baik akan meningkatkan minat konsumen dalam memilih surat kabar. Pengukuran prosentase pengaruh promosi Kualitas (X1), Aktualitas (X2), Mutu Cetakan (X3), Distribusi (X4), Selera (X5) terhadap Perilaku Konsumen (Y) ditunjukkan 2 oleh besarnya koefisien determinasi yang disesuaikan (R adj). Pada hasil perhitungan data dengan menggunakan metode analisis regresi linier berganda diperoleh besarnya 2 koefisien determinasi yang disesuaikan (R adj) adalah 0,365, artinya bahwa pengaruh semua variabel independen yaitu Kualitas (X1), Aktualitas (X2), Mutu Cetakan (X3), Distribusi (X4), Selera (X5) terhadap Perilaku Konsumen (Y) adalah sebesar 96% dan 4,0% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yaitu keinginan untuk membeli surat kabar Jawa Pos dan adanya pengaruh pesaing terhadap surat kabar lain. Berdasarkan hasil analisis diperoleh persamaan regresi berganda sebagai berikut : Y = 0,701 + 0,231X1 + 0,235X2 + 0,216X3 + 0,207X4 + 0,264X5 a = 0,541 nilai konstanta 0,701 adalah estimasi dari perilaku konsumen apabila variabel-variabel independent, yaitu kualitas berita, aktualisasi berita, mutu cetakan, distribusi dan selera pembaca tetap atau sama dengan nol, maka perilaku konsumen positif.

100 } Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Dalam Memilih Surat Kabar Jawa Pos di Wilayah Kota Magelang

Marlina Kurnia dan Carolina Aprilliani

101

artinya bahwa kualitas berita mempunyai pengaruh positif terhadap perilaku konsumen atau dapat dikatakan jika kualitas berita meningkat dapat berakibat positif terhadap perilaku konsumen dengan anggapan variabel lain tetap. X2= 0,235 artinya bahwa aktualisasi berita mempunyai pengaruh positif terhadap perilaku konsumen atau secara fungsional dapat dikatakan jika aktualisasi berita meningkat berakibat positif terhadap perilaku konsumen dengan anggapan variabel lain tetap. X3 = 0,216 artinya bahwa mutu cetakan mempunyai pengaruh positif terhadap perilaku konsumen atau secara fungsional dapat dikatakan jika mutu cetakan meningkat dapat berakibat positif terhadap perilaku konsumen dengan anggapan variabel lain tetap. X4= 0,207 artinya bahwa distribusi mempunyai pengaruh positif terhadap perilaku konsumen atau secara fungsional dapat dikatakan jika distribusi meningkat dapat berakibat positif terhadap perilaku kosumen dengan anggapan variabel lain tetap. X5= 0,264 artinya bahwa selera pembaca mempunyai pengaruh positif terhadap perilaku konsumen atau secara fungsional dapat dikatakan jika selera pembaca meningkat dapat berakibat positif terhadap perilaku kosumen dengan anggapan variabel lain tetap. Adjusted R Square digunakan untuk mengetahui sumbangan pengaruh kualitas berita, aktualisasi berita, mutu cetakan, distribusi dan selera pembaca terhadap perilaku konsumen. Berdasarkan hasil analisis menggunakan program SPSS release 10 diperoleh dari nilai adjusted R Square = 0,365. Hal ini berarti bahwa kualitas berita (X1) aktualisasi berita (X2), mutu cetakan (X3), distribusi (X5) dan selera pembaca (X5) memberikan sumbangan pengaruh terhadap perilaku konsumen (Y) sebesar 36,5 %, sedangkan sisanya 63,5 % dipengaruhi oleh variabel lain selain variabel dalam penelitian ini. 1. Uji F Uji F digunakan untuk menguji pengaruh variabel bebas (independent) secara simultan atau bersama-sama terhadap variabel dependent (Y). Dari hasil perhitungan tersebut dapat diketahui F hitung > F tabel yaitu 12,405 > 2,32, maka hipotesis nol (Ho) ditolak, sedangkan hipotesa alternatif (Ha) diterima, maka dapat dikatakan bahwa variabel kualitas berita (X1) aktualisasi berita (X2), mutu cetakan (X3), distribusi (X4) dan selera pembaca (X5) secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel perilaku konsumen (Y). Hal tersebut menunjukkan bahwa kualitas berita, aktualisasi berita, mutu cetakan, distribusi dan selera pembaca akan meningkatkan terhadap perilaku konsumen. 2. Pengaruh Variabel Independent secara Pasial Uji parsial digunakan untuk mengetahui pengaruh secara parsial pengaruh kualitas berita, aktualisasi berita, mutu cetakan, distribusi dan selera pembaca terhadap perilaku

X1= 0,231

konsumen. Statistik uji t menggunakan a = 5% (0,05), dua sisi two tail. Nilai t tabel = t 1 1 ( /2a , n k), sehingga /2 a = 0,025 dengan jumlah sampel 100 dan jumlah variabel bebas 6, untuk itu df = n k - 1 (100 5 - 1 = 94), maka didapat t tabel = 1,99. a. Pengaruh kualitas berita terhadap perilaku konsumen Hasil perhitungan diketahui bahwa t hitung > t tabel yaitu 3,017 > 1,99 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Berarti ada pengaruh yang bermakna antara kualitas berita terhadap perilaku konsumen. Kualitas berita yang meningkat, yaitu mengupas berita berbobot, dikupas secara tuntas, dan bahasa mudah dipahami meningkat akan berpengaruh terhadap perilaku konsumen. b. Pengaruh aktualisasi berita terhadap perilaku konsumen Hasil perhitungan menunjukkan bahwa t hitung > t tabel yaitu 2,479 > 1,99 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Berarti ada pengaruh yang bermakna antara aktualisasi berita terhadap perilaku konsumen di wilayah Kota Magelang. Adanya aktualisasi berita yang meliputi koran Jawa Pos mengupas berita-berita terkini, mengupas berita-berita yang sedang berlangsung, dan berita yang dimuat aktual meningkat akan berpengaruh terhadap perilaku konsumen. c. Pengaruh mutu cetakan terhadap perilaku konsumen Hasil perhitungan diketahui bahwa t hitung > t tabel yaitu 2,283 > 1,99 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Berarti ada pengaruh yang bermakna antara mutu cetakan terhadap perilaku konsumen di wilayah Kota Magelang. Mutu cetakan yang meliputi desain cetakan bagus, kesalahannya minim dan cetakannya jelas akan berpengaruh terhadap perilaku konsumen. d. Pengaruh variabel distribusi terhadap perilaku konsumen Hasil perhitungan diketahui bahwa t hitung > t tabel yaitu 2,524 > 1,99 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Berarti ada pengaruh yang bermakna antara distribusi terhadap perilaku konsumen di wilayah Kota Magelang. Distribusi yang meliputi mudah didapatkan, tersedia di agen koran, penyaluran tidak pernah terlambat meningkat akan berpengaruh terhadap perilaku konsumen. e. Pengaruh selera pembaca terhadap perilaku konsumen Hasil perhitungan diketahui bahwa t hitung > t tabel yaitu 2,400 > 1,99 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Berarti ada pengaruh yang bermakna antara selera pembaca terhadap perilaku konsumen di wilayah Kota Magelang. Selera pembaca yang meliputi koran Jawa Pos memenuhi kebutuhanh memperoleh informasi, menarik untuk dibaca dan memenuhi selera pembaca meningkat akan berpengaruh terhadap perilaku konsumen. 3. Analisis Faktor Dominan Analisis faktor dominan digunakan untuk mengetahui faktor yang berpengaruh secara dominan terhadap perilaku konsumen. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa variabel yang dominan terhadap perilaku konsumen, dengan melihat hasil perhitungan nilai thitung masing-masing variabel. Hasil analisis faktor dominan menunjukkan bahwa kualitas berita merupakan faktor yang paling dominan berpengaruh

102 } Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Dalam Memilih Surat Kabar Jawa Pos di Wilayah Kota Magelang

Marlina Kurnia dan Carolina Aprilliani

103

terhadap perilaku konsumen. Faktor kualitas berita tersebut menyangkut kupasan beritaberita yang ditampilkan berbobot, terutama berkaitan dengan masalah-masalah aktual, isi berita dikupas secara tuntas dan bahasa yang digunakan mudah dipahami. Hal ini dapat diketahui dari hasil t hitung variabel kualitas berita mempunyai thitung (3,017) lebih besar dibandingkan dengan variabel lainnya. Hal tersebut dapat diketahui dari nilai thitung pada variabel aktualisasi (thitung = 2,479), mutu cetakan (thitung = 2,283), distribusi (thitung = 2,524) dan selera pembaca (thitung = 2,400). J. Simpulan Berdasarkan hasil analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam memilih surat kabar Jawa Pos di wilayah kota Magelang dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Ada pengaruh yang signifikan antara kualitas berita (X1), aktualisasi berita (X2), mutu cetakan (X3), distribusi (X4) dan selera pembaca (X5) secara parsial terhadap perilaku konsumen. Hal ini ditunjukkan nilai thitung > ttabel. 2. Ada pengaruh yang signifikan antara kualitas berita (X1), aktualisasi berita (X2), mutu cetakan (X3), distribusi (X4) dan selera pembaca (X5) secara simultan terhadap perilaku konsumen. Hal ini ditunjukkan hasil Fhitung > Ftabel. 3. Variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap perilaku konsumen adalah kualitas berita. Hal ini ditunjukkan nilai t hitung variabel kualitas berita lebih besar dibandingkan dengan variabel lain.

Nugroho. 1999. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Konsumen Dalam Membeli Surat Kabar Suara Merdeka. Skripsi (Tidak dipublikasikan) Fakultas Ekonomi. Universitas Muhammadiyah Magelang. Sadono Sukirno, 1996. Pengantar Teori Makro Ekonomi. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Sondang Siagian, P, 2003, Manajemen Sumber Daya Manusia. Bumi Aksara. Jakarta. Sudjana, 1992, Metode Statistik, Edisi Revisi, Tarsito, Bandung. Sutrisno, H. 2001. Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran, Rosdakarya, Bandung.

Daftar Pustaka Agung Budiman. 2000. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Konsumen. Skripsi (Tidak dipublikasikan). Fakultas Ekonomi. Universitas Muhammadiyah Magelang. Asad, M., 1995. Psikologi Industri, Liberty, Yogyakarta. Anonim, 2002. Ekonomi dan Bisnis. Dian Ekonomi. Jurnal. Vol. VIII No. 2 September 2002. Anto Dajan, 1992. Pengantar Metode Statistik. LP3ES. Jilid II, Jakarta. Basu Swastha, 1990. Pergeseran Paradigma dalam Pemasaran : Tinjauan Manajerial dan Perilaku Konsumen. Kelola No. 15/VI/1997. 12 13. Djarwanto, P.S dan Pangestu, 1996, Statistik Induktif, BPFE, Yogyakarta. Hani Handoko, T, 1997, Manajemen Pemasaran. BPFE, Yogyakarta. ___________, 1989. Manajemen, BPFE, Yogyakarta, Henry Simamora, 1995, Manajemen Sumber Daya Manusia, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, Yogyakarta. Kotler, Philip. 1994. Manajemen Pemasaran, Erlangga, Jakarta.

104 } Volume 3 No. 1 April 2005

Jurnal Analisis Bisnis & Ekonomi

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Dalam Memilih Surat Kabar Jawa Pos di Wilayah Kota Magelang

Marlina Kurnia dan Carolina Aprilliani

105