Anda di halaman 1dari 18

Penyakit kelamin disebut juga penyakit venerik. Kata "venerik" berasal dari "venus", atau dewi cinta Romawi.

Jadi penyakit kelamin ialah penyakit yang ditularkan melalui hubungan kelamin. Ilmu yang mempelajari tentang penyakit menular seksual dan cara pengobatannya disebut Venereoloigi. Kejadian penyakit kelamin ini sangat tinggi. Pusat pengawasan penyakit di Amerika Serikat memperkirakan bahwa setiap tahunnya paling sedikit ada sekitar 8-10 juta orang Amerika Serikat terserang penyakit kelamin. Penyakit kelamin sering menjangkiti kelompok usia dengan kegiatan orang yang aktif, yaitu usia 15 sampai 30 tahun. Namun setiap orang yang pernah berhubungan kelamin dengan seseorang yang menderita penyakit kelamin kemungkinan besar akan ketularan, makin banyak kawan yang dikencaninya makamakin besar kemungkinan baginya untuk terjangikti penyakit venerik. Penyakit kelamin ditemukan pada semua tingkatan sosial ekonomis. Secara umum, jumlah kasus pria yang dilaporkan lebih banyak daripada kasus wanita. Hal ini mungkin disebabkan karena pada wanita penyakit ini tidak menunjukkan gejala dan kadang-kadang lrbih sulit didiagnosis dibandingkan dengan para pria. A. PENULARAN PENYAKIT KELAMIN Semua penyakit kelamin ditularkan melalui kontak tubuh yang intim. Hubungan kelamin dengan seseorang yang terinfeksi membawa resiko terinfeksi pula. Sayangnya, beberapa infeksi, termasuk sifilis dapat ditularkan ke janin di dalam rahim. Adapun penyakit lain diperoleh oleh bayi yang baru lahir pada waktu dilahirkan, seperti halnya penyakit radang selaput mata oleh gonokokus serta infeksi-infeksi sejenis dari pencemaran dengan tangan dan fomit 9setiap benda yang sudah terinfeksi dan dapat menimbulkan infeksi serupa). Hal ini mungkin disebabkan karena bayi sangat rentan dan karena pemindahan patogen terjadi hampir segera. Pada orang dewasa, kemungkinan terjadinya infeksi oleh fomit (misalnya toilet

tercemar) kecil sekali karena bakteri tersebut mudah rusak, dan tidak dapt hidup lama di luar tubuh manusia. Penyakit venerik dapa ditularka melalui hubungan kelamin dengan ara apa saja. Mikroba penyebabnya dapat berpindah dari satu orang yang terinfeksi ke orang lain. B. MIKROORGANISME PENYEBAB PENYAKIT KELAMIN Penyakit kelamin yang paling umum ialah gonore, sedangkan yang paling tua ialah sifilis, tetapi selain ini masih ada penyakit kelamin lain yang disebabkan oleh bakteri lain, virus, dan protozoa. Organisme Neisseria gonorrhoeae Gonore, Penyakit radang selaput mata,

penyakit panggul yang meradang, infeksi gonokokal yang menyebar. Uretritis bukan gonokokal, infeksi mulut rahim, radang selaput mata Chlamydia trachomatis pada bayi yang baru lahir, dan orang Ureaplasma urealyticum dewasa, trakoma, bukan limfogranuloma venerium. Kemungkinan uretritis

(Mikroplasma T) gonokokal. Treponema pallidum Sifilis. Haemophillus ducreyi Syankroid. Calymmatobacterium granulomatis Granula inguinale. Haemophilus vaginalis Kemungkinan infeksi vagina. Streptococcus hemolytic Infeksi darah pada bayi baru lahir. Golongan B shigella sp. Shigelosis pada pria homoseksual. Tabel 2.1 mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit kelamin dan beberapa penyakit yang dapat disebebkannya. C. PENGENDALIAN PENYAKIT KELAMIN Sebab utama tingginya kejadian penyakit kelamin di berbagi negara di dunia pada masa kini (beberapa bahkan menyebutkan epidemi) ialah perilaku seksual moderen diantara manusia. Namun masalah

pengendaliannya yang utama tidaklah terlepas pada cara pengobatan penyakit kelamin tersebut, tetapi membuat sipenderita untuk mau berobat. Penisilin dan antibiotik lain dapat menyembuhkan sebagian besar penyakit kelamin secara efektif. Langak pertama dalam menyembuhkan penyakit kelamin secara efektif ialag mengetahui bahwa seseorang memang menderita penyakit tersebut. Sayangnya, pada banyak wanita dan bebnerapa pria gejalanya tidak jelas. Walaupun demikian bila rekanan yang satu memperlihatkan gejalanya, maka yang lain harus segara menjalani pemeriksaan medis. Dengna perkataan lain, perhatian medis yang diberikan setelah tereksposi secara potensial pada penyakit kelamin dan sebelum melanjutkan kegiatan seksual berikutnya, dapat mengurangi akibat yang harus ditanggungnya serta penularan penyakit yang didapatnya. Penting untuk ditekankan bahwa kedua rekan harus menjalani pemeriksaan medis untuk mencegah penularan lebih lanjut di masyarakat serta mengurangi infeksi "ping-pong", yaitu penularan infeksi bolak-balik antara pasangan tersebut. D. GONORE Gonore ialah penyakit bernanah yang sangat menular. Sering kali disebut pula urettritis spesifik (radang aliran kandung kemih khusus). Gejala gonore bergantung kepada situs infeksi, jenis kelamin dan usia korban, lamanya menderita infeksi, serta terjadinya penyebaran sel-sel bakteri penyebabnya. Pada pria, gonore menyebabkan uretritis akut (infeksi pada uretra, yaitu saluran tempat lewatnya air kemih dari kandung kemih keluar tubuh). Tanda pertama dapat berupa rasa panas mendadak pada waktu kencing dan keluarnya cairan bernanah pada 2 sampai 8 hari setelah tereksposi. Pada wanita biasanya terjadi infeksi pada uretra dan mulut rahim. Hal ini dapat menyebabkan rasa sakit pada waktu kencing dan keluarnya cairan dari vagina,walaupun kebanyakan wanita (dan cukup banyak pria) tidak memperlihatkan gejala yang dapat dilihat dengan jelas pada infeksi dini.

Infeksi tanpa gejala semacam itu mungkin merupakan satu sebab bagi penyebaran penyakit ini. Penyakit ini terutama menyerang saluran kemih kelamin. Namun, kontaminasi pada bayi pada waktu dilahirkan dapat menimbulkan radang selaput mata gonokokal, yang mempengaruhi mata. Dapat juga timbul berbagai komplikasi gonore, diantaranya ialah endokarditis (radang pada lapisan dalam jantung) dan meningitis (radang selaput otak). 1. Biologi Neisseria gonorrhoeae Gonore disebabkan oleh Nesseria gonorrhoeae, suatu diplokokus gram negatif, tidak bergerak, dengan sisi yang bersebelahan mendatar. Olesan yang dibuat dari eksudat sering kali menunjukka adanya bakteri didalam leukosit polimorfonuklir. Pertumbuhan yang terbaik ialah pada suhu 36o C pada media yang diberi serum darah atau serum yang telah dipanaskan, dan dalam udara yang mengandung 5 sampai 10 CO2. Koloni yang bundar dan berwarna kelabu keputihan pada agar coklat (medium yang mengandung darah yang telah dipanaskan) dapat diperkirakan sebagai Neisseria dengan cara menguji adanya pembentukan oksidase indofenol, atau reaksi oksidase. Neisseria akan menghasilkan reaksi positif. Gonokokus (sel-sel Neisseria gonorrheae) berbeda dari Neisseria lain karena ketidakmampuannya menguraikan maltosa, sikrosa atau fruktosa, tetapi dapat memetabolisme glukosa. Hanya glukosa, piruvat, dan laktat dapat digunakan sebagai sumber energi. Gonokokus adalah mikroorganisme yang tidak kuat. Pengeringan selama 1 sampai 2 jam dapat mematikannya. Ini merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan bila ingin berhasil mengisolasinya dari spesimen klinis. Larutan perak nitrat dapat membunuh organisme ini dalam waktu 2 menit. Itulah sebabnya pencegahan rutin dengan dengan obat tetes mata yang mengandung 1 persen perak nitrat telah mengurangi dengan nyata kekerapan terjadinya radang selaput mata oleh gonokokus, yang disebut

juga opthalmia neonatorum atau peradangan akut pada mata bayi yang baru lahir. 2. Sifat Patogenitas Gonore Tidak semua orang yang tereksposi pada gonore menjadi terinfeksi oleh penyakit tersebut. Apa sebabnya masih belum jelas. Mikrobiota normal yang terdapat pada alat kelamin mungkin turut menimbulkan kekebalan terhadap infeksi oleh gonokokus. Juga belum diketahui apakah terjangkitnya oleh gonore secara alamiah dapat menimbulkan kekebalan terhadap reinfeksi (infeksi ulang) oleh galur-galur Neisseria gonorrheae yang sama ataupun yang berbeda. Menempelnya gonokokus dengan bantuan pili telah diperkirakan merupakan faktor virulensi. Setelah pelekatan pada mukosa (selaput lendir), gonokokus tiba pada jaringan penghubung subepitel dengan cara menembus ruang-ruang epitel interselular. Gonokokus mengandung endotoksin, dan juga dapat mengeksresikan toksin yang dapat merembes yang menginduksi terjadinya kerusakan pada selaput lendir. Sel-sel gonokokus juga terdapat pada dan didalam leukosit polimorfonuklir. Walaupun kebanyakan sel gonokokus yang tertelan (oleh leukosit itu) terbunuh, tetapi banyak mikrobiologiwan berpendapat bahwa beberapa gonokokus dapat bertahan hidup dan berkembang biak didalam fagosit. Bayi yang melewati saluran rahim seorang ibu yang telah terinfeksi dapat menderita infeksi yang dapat menyebabkan kebutaan (Ophthalmia neonatorum). Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, infeksi semacam ini dapat dicegah dengan meneteskan larutan perak nitrat pada mata bayi segera setelah lahir. Pada pria maupun wanita, infeksi dapat menyebar disepanjang saluran kelamin. Pada pria, bila infeksi meluas sampai ke prostat, epididimis (bagian saluran sperma yang terletak dibelakang buah zakar), dan buah zakar, maka dapat mengakibatkna kemandulan. Pada wanita, penyebaran lebih umum terjadi dan akibat lanjutannya lebih gawat. Pada kira-kira 15

wanita yang terinfeksi, infeksi menjalar sampai ke tuba falopii (saluran yang membawa telur dari kandung telur ke rahim), dan menyebabkan peradangan (salpingitis) pada masa haid pertama, timbul rasa sakit dibagian perut sebelah bawah. Salpingitis menyebabkan penyumbatan tuba falopii, yang mengakibatkan kehamilan dalam tuba, atau kemandulan. Tertanamnya telur yang telah dibuahi didalam tuba falopii dapat mematikan dan biasanya membutuhkan pembedahan secepatnya. Gonore tidak selalu terbatas pada saluran kelamin dan kemih. Pada beberapa penderita, bakteri penyebabnya masuk ke dalam darah dan menyebar ke seluruh tubuh sehingga menginduksi demam, rasa menggigil, serta hilangnya nafsu makan. Bakteri-bakteri tersebut kemudian berkumpul di berbagai bagian tubuh, mereka menyebabkan bisul merah kecil pada kulit atau artitis pada persendian (lutut, pergelangan tangan, serat sendi-sendi pada jari dan tangan). Komplikasi endokarditis dan meningitis dapat pula terjadi. Infeksi oleh gonokokus juga mungkin terjadi di dalam dubur dan tenggorokan dan mungkin disebabkan oleh berubahnya preferensi dan cara-cara melakukan hubungan kelamin. Gonore dapat diobati dengan larutan penisilin prokain disertai dengan probenesid oral atau dengan kombinasi ampisilin dan probenesid oral, probenesid memperlambat atau menghambat pengeluaran kembali antibiotik lewat air kemih. Sayang sekali, pada tahun 1976 telah diisolasi gonokokud yang dapat menghasilkan penisilinase dari daerah-daerah yang terpisah jauh di Inggris dan Amerika Serikat. Galur-galur ini mempunyai kemamopuan menghancurkan penilsilin sehingga tahan terhadap antibiotik tersebut. 3. Diagnosis Laboratoris Gonore Diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopis bakteri penyebabnya di dalam spesimen dari pengelepasan dengan cara menumbuhkan serta mengamati gonokokus di dalam bahan-bahan yang diperoleh dari bagaia dalam uretra pada pria, dari mulut rahim dan uretra

pada wanita, dan dari situs lain manapun yang di curigai. Pewarnaan gram eksudat dari uretra dan endoserviks dianggap diagnostik bagi gonore bila teramati adanya diplokokus yang khas gram negatif didalam leukosit. Gonokokus dibiakan pada medium agar coklat atau medium Thayer dan Martin. Biakan harus diinkubasikan pada 36 oC selama 48 jam dengan CO2 (5-10%). Koloni gonokokus yang khas diperkuat oleh reaksi oksodase, pewarnaan gram, dan uji peragian gula-gula. Reaksi oksidase dilakukan dengan menggenangi koloni dengan 1% tetrametil-pmetilendiamin; koloni-koloni neisseria akan berubah dari putih jerih menjadi ungu. 4. Epidemiologi Gonore Meningkatnya kejadian gonore dan penyakit kelamin lainnya dinegaranegara barat bertepatan dengan mulai dipakainya obat pencegah kehamilan yang diminum dan alat pencegah kehamilan yang diletakkan dirahim pada tahun 1960an. Hal ini turut menyebabkan bertambahnya kebebasan seks diantara kaum wanita, dan tentunya juga berkurangnya penggunaan siapan-siapan spremisida (membunuh sperma) dan kondom, keduanya ini memungkinkan perlindungan terhadap gonore. Inang satu-satunya untuk neisseria gonorrhoeae ialah manusia. Jadi penyakit ini ditularkan lewat kontak langsung dengan rekan seks dan infeksi yang merupakan pembawa penyakit. 5. Pencegahan Gonore Sekarang ini belum ada vaksin terhadap gonore. Kondom dan spermisida yang dimasukkan kedalam vagina tetap merukan cara terbaik untuk mengurangi resiko infeksi. Kondom adalah selubung dari latex yang di pakai oleh pria ketika mengadakan koitus sebagai alat kontrasepsi atau untuk melindungi pria atau wanita dari suatu penyakit seksual. Cara-cara pencegahan lain terhadap gonore sama seperti cara-cara pencegahan

penyakit kelamin lain dan telah diuraikan terdahulu. E. SIFILIS Sifilis disebabkan oleh bakteri yang disebut Spirochata. Penyebarannya tidak seluas gonore, tetapi lebih menakutkan karena kerusakan yang mungkin ditimbulkannya lebih besar. Seperti gonore, penyakit ini disebarkan melalui kontak langsung dengan luka-luka pada orang yang ada dalam stadium menular. Spirocheta, seperti gonokokus, adalah mikroba yang tidak tahan berada di luar tubuh manusia, sehingga kemungkinan tertulari dari benda mati sangat kecil. Treponema pallidum masuk kedalam tubuh sewktu terjadi hubungan kelamin melalui luka goresan yang amat kecil pada epitel, dengan cara menembus selaput lendir yang utuh ataupun mungkin melalui kulit yang utuh lewat kantung rambut. Masa inkubasi sifilis berkisar 10 sampai 90 hari (rata-rata 21 hari) setelah infeksi. Jika tidak diobati, sifilis dapat timbul dalam beberapa stadium penyakit. 1. Sifilis Primer Gejala pertamanya ialah munculnya bisul kecil keras yang disebut syanker pada situs infeksi. Biasanya diujung batang pelir pada pria dan di leher rahim atau vagina pada wanita. Syanker itu terlihat jelas pada pria, tetapi pada wanita seringkali tersembunyi. Bisul itu tidak gatal ataupun sakit. Jadi sifilis primer dapat berkembang tanpa diketahui. Treponema pallidum biasanya dapat ditemukan di dalam syanker semacam itu melalui pemeriksaan mikroskopis medan gelap. Juga dalam stadium ini, spirochaeta menyerang kelanjar getah bening, menyebabkan menjadi lebih besar dan keras. Setelah 3 sampai 5 minggu, syanker itu sembuh secra spontan, dan penyakit itu dari luar tampak biak-baik saja. Tetapi sementara disebarkan lewat aliran darah keseluruh tubuh. 2. Sifilis Sekunder itu organisme tersebut

Stadium penyakit ini didahului oleh ruam (pemunculan pada kulit) yang timbul setiap saat pada 2-12 minggu setelah hilangnya syanker. Penyakit itu sekarang tersebar secara umum, dan juga terjadi limfadenopati (kelenjar getah bening yang berpenyakit) yang tersebar luas. Sifilis disebut pula "peniru besar" karena gejala-gejala yang timbul pada stadium ini mirip dengan yang ditimbulkan oleh penyakit lain seperti flu atau mononukleosis menular. Selain ruam, gejala-gejala lainnya mengikuti radang tenggorokan, kelenjar getah bening yang lembek, demam, lesu, dan pusing. Kadang-kadang disertai rontoknya rambut sedikit-sedikit. Luka patogenik terjadi pada selaput lendir, mata, tulang dan sistem saraf pusat; luka-luka ini penuh dengan treponema pallidum. Korban dapat menderita hanya 1 atau 2 dari seluruh gejala penyakit ini atau semua gejala. Stadium ini berlangsung beberapa minggu, dan gejalagejalanya termasuk luka-luka patogenik, hilang tanpa pengobatan. Tetapi sementara itu, treponema mungkin sudah mulai menyerang orang-organ lain dalam tubuh. Seorang penderita dapat menularkan penyakit ke orang lain hanya bila menderita sifilis stadium primer dan stadium sekunder, yang berlangsung sampai selama 2 tahun. 3. Sifilis Laten Jika tidak diobati, sifilis sekunder berlanjut menjadi sifilis laten selam stadium ini penderita sama sekali tidak menujukkan gejala yang jelas. Stadium ini dapat berlangsung berbulan-bulan, bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup. Stadium laten ini hanya dapat diketahui dengan melakukan uji darah (serologi). 4. Stadium Tersier atau Lanjut Stadium ini timbul pada sekitar 30 dari orang-orang yang tidak diobati dan dapat terjadi 5-40 tahun sesudah infeksi mula-mula. Hasil kerja Spirochaeta secara diam-diam tetapi mematikan selama stadium laten

menjadi jelas. Luka-luka petogenik tersier terjadi pada sistem saraf pusat, sistem pembuluh darah jantung, kulit dan organ-organ vital lain seperti otak, mata, tulang, ginjal, dan hati. Luka-luka ini disebut gumata, lalu pecah dan menjadi borok. Penderita dapat terserang sakit jiwa, kebutaan atau penyakit jantung dan akhirnya meninggal. 1. Biologi Treponema pallidum Penyebab sifilis adalah spirochete tereponeme pallidum. Mikroorganisme ini halus,berpilin ketat dengan ujung meruncing dan terdiri dari 6 sampai 14 spiral, berukuran lebar 0,25 sampai 0,3 m dan panjang 6sampai 15 m. organisme ini dapat di kenali paling jelas pada suatu specimen klinis yang berasal dari luka sifilitik stadium primer dan skunder di bawah mikroskop medan gelap, ini jelas terlihat dari bentuk spiral dan pergerakannya yang seperti putaran pembuka sumbat. Treponema pallidum mempunyai membrane luar atau selongsong,yang di sebut periplas yang melingkungi komponenkomponen dalam sel (keseliruhannya di sebut silinder protoplasma). Suatu filamen aksial, yang terdiri dari 3 sampai 6 fibril, terletak di antara periplas dan silinder protoplasma. Treponema pallidum yang virulen belum berhasil di biakkan secara invitro. Galur-galur treponema palladum yang non virulen (tidak patogen), seperti galur raited dan noguchi, telah berhasil di biakkan invitro dan menjadi sumber antigen untuk uji-uji diagnostic laboratories 2. Sifat Patogenisitas Sifilis Sifat berjangkit secara alamiah hanya pada manusia dan terutama di tularkan lewat hubungan kelamin atau dari ibu yang terinfeksi kepada janinnya (sifilis bawaan atau sebelum lahir) lewat ari-ari.pada kasus-kasus yang tidak di obati, 25% diantara janin meninggal sebelum lahir, 25-30% meninggal segera setelah di

lahirkan, yang lain menunjukkan gejala komplikasi lanjut, misalnya menjadi tuli. Sejumlah besar treponema pallidum di dalam darah dan jaringan musnah selama sifilis sekunder. Mekanisme untuk ini belum diketahui dengan tepat. Dianjurkan bahwa spirochaeta hendaknya dimusnahkan dengan proses litik yang melibatkan antibody spesifik dan komplemen. Penisilin adalah antibiotic yang di pilih untuk pengobatan sifilis. Antibiotic lain kadang-kadang di pakai juga. Keefektifan pengobatan harus di amati untuk waktu yang lama. 3. Diagnosis Laboratories Sifilis Diagnosis sifilis biasanya dapat di temukan dari gabungan informasi mengenai gejala, sejarah eksposif, dan uji darah yang positif, atau dengan pemeriksaan mikroskopis medan gelap. Hasil positif dari pengamatan luka dengan mikroskop medan gelap(untuk sifat morfologis dan pergerakan spirochaeta) adalah cara satu-satunya untuk membuat diagnosis sifilis primer yang pasti. Selain itu untuk sifilis sekunder, diagnosis yang pasti bergantung pada pemeriksaan yang dilakukan dengan mikroskop medan gelap terhadap eksudat dari luka basah pada kulit dan bukan pada mulut. Rongga mulut mungkin mengandung banyak spirochaeta yang bukan penyebab sifilis. Untungnya, persebaran pada serologis sifilis itu reaktif atau dapat diandalkan pada stadium kedua penyakit ini. Percobaan ini pun sangat penting pada diagnosis laboratories. Sejak digunakannya reaksi fiksasi komplemen mula-mula oleh wasserman dan rekan-rekanna pada tahun 1906, lebih dari 200 macam uji untuk sifilis telah dilaporkan. Walaupun demikian, hanya bebeapa di antarannya yang umum di pakai dewasa ini. Macam antigen yang di pakai berlaku sebagai criteria bagi pembedaan mula-mula uji serologis untuk sifilis. Yaitu, ada uji untuk

treponema

dan

bukan

treponema,

masing-masing

dengan

menggunakan antigen non treponema dan antigen treponema. Jadi, di ukur dua macam antibody salah satu dari dua tipe atibodi yang dihasilkan oleh inang sebagai respon terhadap infeksi oleh treponema pallidum ialah antibody regain atau atibodi wesserman. Pembentukannya merupakan akibat dari infeksi antara treponema dangan jaringan inangnya. Antibody ini bereaksi dengan berbagai substansi(antigen)non treponema. Salah satu substansi semacam itu ialah kardiolipin suatu ekstrak sangat murni dari jantung sapi. Tipe antibody kedua dihasilkan sebagai respon terhadap antigen treponema yang spesifik, yang dapat berupa treponema yang spesifik, yang dapat berupa treponema pallidum yang ditumbuhkaan kedalam buah zakar kelinci atau treponema galur reiter yang ditumbuhkan pada medium buatan. Pada umumnya uji pada non treponema yang dikembangkan selama bertahun-tahun termasuk uji wesserman, eagle, hinton, khan, kline, dan kolmer. Sekarang uji ini hanya mempunyai kepentingan historis saja. Ujipada non treponema yang kini di pakai di amerika serikat ialah prosedur flokukulasi, termasuk uji slide venereal disease rearch laboratory (VDRL) dan percoban regain cepat. Uji serologi non treponema bagi sifilis yang digunakan paling luas ialah percobaan slide-slide VDRL. Uji ini mudah dikendalikan dan dilakukan, serta dapat di kuantitasi secara tepat. Selain itu, uji ini dilakukan dengan mencampurkan suspense kardiolisin dalam air garam berisikan larutan penyangga, ditambah dengan lesitin dan kolesterol, pada kaca objek yang di beri serum penderita. Kaca objek ini digoyangkan pada peranti mekanis selama beberapa menit. jika hasil uji positif maka akan ditunjukan oleh adanya penggumpalan, atau flokulasi kardiolipin. Hasilnya dilaporkan sebagai reaktif, sedikit reaktif, atau tidak reaktif.

Uji

treponema

secara

teknik

lebih

sulit

dan

lebih

mahal

dibandingkan dengan uji non treponema. Namun spesifitasnya lebih tinggi karena itu digunakan sebagai prosedur verifikasi. Uji treponema dikelompokan menurut cara yang dipakai untuk menemukan adanya kompleks antigen-antibody. Uji imobilisasi treponema pallidum (treponema pallidum in mobilization, atau TPI) adalah uji verifikasi treponema pertama yang diterima. Akan tetapi uji ini tidak sepia teknik antibody fluoresens. Uji absorbs antibody fluoresens treponema(pluorescent treponemal antibody absorption atau FTA-ABS), yang dilakukan secara normal (tanpa mesin) telah berkembang menjadi uji treponema standar yang di pakai dewasa ini. Langkah absorbs pada uji ini diperlukan untuk meniadakan reaksi- reaksi tidak spesifik yang terjadi akibat terbentuknya antibody terhadap antigen bersama yang ada baik pada treponema patogenik maupun yang saprofiti. Ini di lakukan dengan cara mencampurkan serum penderita dengan ekstrak treponema. Reiter yang nonpatogenik di standardisasi. Serum yang di serap itu kemudian dipergunakan untuk menutupi olesan treponema patogenik yang ditumbuhkan dalam buah zakar kelinci. Setelah 30 menit pada 37oC, kaca objek sebaiknya dibilas untuk menghilangkan protein serum yang tidak bereaksi, dan olesan ini lalu di genangi dengan globulin gama anti-manusia yang di beri label floresens. Setelah itu, sebelum dibilas dibiarkan lagi selama 30 menit untuk bereaksi.kaca objek itu kemudian di periksa di bawah mikroskop fluoresens untuk melihat adanya treponema yang fluoresens. Karena globulin gama anti-manusia yang berlabel fluoresens hanya dapat bereaksi dengan spirochaeta berlapiskan antibody manusia, maka dengan adanya fluoresens menunjukkan adanya antibody spesifik terhadap treponema pallidum. Uji FTAABS dilaporkan sebagai tidak reaktif, perbatasan, atau reaktif .

uji ini merupakan uji serologi paling peka untuk semua stadia sifilis. Selain itu, uji ini lebih reaktif pada waktu yang lebih dini pada sifilis primer, dan tetap positif untuk lebih lama pada sifilis lanjut dibandingkan dengan percobaan VDRL atau TPI. 4. Epidemologi sifilis Sejak tahun 1962, kasus-kasus sifilis di amerika serikat yang dilaporkan telah bertambah sejak tahunnya sekitar 4,7 persen. Dalam tahun 1976, kasus sifilis primer dan skunder yang dilaporkan telah menurun sebanyak 74 persen dibandingkan dengan kasuskasus yang dilaporkan selama tahun 1975. Sekali lagi, seperti gonore, penurunan ini mungkin disebabkan karena meningkatnya usaha-usaha pengendalian yang digalakan sejak tahun 1972 oleh pemerintah federal amerika serikat. Seperti gonore, jumlah kasus sifilis dini(kasus primer, kasus skunder dan laten dini) yang dilaporkan tidak merupakan indikasi insiden yang sebenarnya, karena kebanyakan kasus tidak dilaporkan. Insiden yang sebenarnya mungkin lebih dari 6 kali jumlah kasus yang dilaporkan. Dalam tahun 1977, telah dilaporkan 64473 kasus sifilis dari semua stadia di amerika serikat. 5. Pencegahan Sifilis Tidak ada vaksin terhada sifilis. Untuk perseorangan, penggunaan kondom sangat efektif. Untk masyarakat, cara utama pencegahan sifilis ialah melalui program pengendalian yang meliputi pemeriksaan serologis dan pengobatan penderita. Sifilis bawaan dapat dicegah dengan perawatan prenatal(sebelum kelahiran) yang semestinya. F. PENYAKIT KELAMIN LAIN 1. Herpes Kelamin Herpes kelamin adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh virus herpes simpleks, herpes virus hominis. Ada dua macam galur virus ini berkerabat dekat dinamakan tipe 1 dan tipe 2. Tipe 1

dikenal sebagai penyebab lepuh demam dibibir. Tipe 2 menyerang alat kelamin. Infeksi kelamin oleh herpes yang pertama atau primer ditularkan lewat hubungan kelamin. Setelah masa inkubasi selama 10 hari sampai 20 hari, situs yang terserang terasa gatal atau panas dan terbentuklah lepuh. Lepuh ini terdapat pada batang pelir, bibir, alat kelamin wanita, vagina dan bagian-bagian lainnya. Lepuh itu segera pecah dan meninggalkan borok dangkal yang terasa pedih. Sindrom klnisnya meliputi demam infeksi tubuh umum lainnya. Lepuh itu biasanya sembuh sendiri dalam waktu 10 sampai 14 hari. Walaupun demikian, gejala-gejal herpes kelamin primer dapat kambuh kembali tanpa adanya hubungan kelamin. Frekuensi kambuhnya infeksi herpes berpariasi untuk periode waktu tak tertentu; infeksi ini cenderung lebih melumpuhkan dibandingkan dengan infeksi primer. Komplikasi herpes kelamin yang paling berbahaya ialah infeksi pada bayi yang baru lahir selama proses persalinan. Pada umumnya infeksi pada bayi sangat berbahaya dan bahkan dapat mematikan. Adapun yang bertahan hidup mungkin hanya menderita kerusakan pada system syaraf pusat atau mata. Jika seorang ibu menderita herpes kelamin pada waktu melahirkan, pembedahan perut untuk melahirkan anaknya dapat mengurangi kemungkinan infeksi neonatal. Telah dipertunjukan adanya hubungan antara infeksi herpes kelamin dan kanker leher rahim, walaupun dibuktikan bahwa kanker itu disebabkan oleh virus herpes. Telah diperkirakan bahwa ada 300.000 kasus baru herpes kelamin setiap tahunnya di amerika serikat 2. Uretritis Non - Spesifik Penyakit uretrits non spesifik menyerang sekitar 2,5 juta pria

di amerika serikat setiap tahunnya, dan sekitar setengah dari kasus-kasus ini disebabkan oleh bakteri kecil yang dinamakan Chlamydia trachomatis. Penyebab pada kasus-kasus lainnya tidak diketahui. Pada pria, gejala-gejala uretritis menspesifik menyerupai gejala-gejala gonore; yaitu meliputi sering buang air kemih disertai rasa sakit, keluarnya cairan bernanah dari uretra, serta peradangan pada mata, persendian, mulut atau buah zakar. Pada wanita, penyakit ini tidak mempunyai batasan yan begitu jelas. Banyak wanita tidak memperlihatkan gejala sama sekali; beberapa mungkin mengeluarkan cairan bernanah, perdarahan pada leher rahim, atau infeksi pada leher rahim. 3. Lymphogeranuloma Venereum Lymphogeranuloma venereum (LGV) juga disebabkan oleh galur-galur tertentu Chlamydia trachomatis. Merupakan suatu penyakit yang penting didaerah tropika dan semi tropika. Banyak kasus di amerika serikat berasal dari Vietnam. Gejala akan timbul 1 sampai 3 minggu setelah tereksposi. Selain itu, luka kecil akan timbul pada alat kelamin atau dubur. Jika infeksi terjadi pada kelenjar getah bening, maka dapat timbul darah, yaitu luka bernanah, dan kadang-kadang terbentuk banyak borok, penyempitan dubur, dan elephantiasis(pembesaran kronis) alat kelamin. Penderita biasanaya menderita demam, menggigil, pusing, dan sakit pada perut serta penderitaan. 4. Syankroid atau Syanker Lunak Penyakit syankroid hanya umum didaerah tropika. Namun jumlah kasus di amerika serikat semakin bertambah. Penyebabnya ialah bakteri haemophilus ducreyi, suatu bakteri terbentuk batang gram negative yang sangat kecil, dan tidak bergerak. 1 sampai 5 hari setelah tereksposi timbul borok yang sakit pada situs kontak. 5. Granuloma Inguinale

Granuloma inguinale adalah infeksi bakteri yang disebabkan oleh calymmatobacterium granulomatis, berbentuk batang gram negative pleomorfik. Penyakit ini menimbulkan borok kecil, menyebar dan penuh dengan nanah pada alat kelamin. Sekurangkurangnya diperlukan waktu 3 bulan untuk timbulnya gejala-gejala ini. Sementara itu, banyak orang dapat menjadi terinfeksi sebelum penderita berobat. 6. Trichomoniasis Trichomoniasis adalah infeksi parasitic yang disebabkan oleh protozoa trichomonas vaginalis. diprkirakan 2,5 sampai 3 juta orang amerika menderita penyakit ini setiap tahunnya. Pada manusia organism ini hanya menginfeksi saluran kemih kelamin. Pada wanita, gejala umum yang timbul oleh vaginitis(peradangan pada vagina). Walaupun mungkin tidak memperlihatkan gejala, vaginitis biasanya menyebabkan rasa gatal yang parah dan mengeluarkan cairan yang ber bau busuk. Pada pria, trichomoniasis biasanya tidak menunjukan gejala, sehingga lebih sulit untuk didiagnosis. Gejala trichomoniasis muncul dalam waktu 4 sampai 20 hari setelah protozoa berbahaya. terkena. di Diagnosis biakan dilakukan dengan pemeriksaan terasa mikroskopis cairan yang dikeluarkan atau dengan menumbuhkan dalam laboratorium. Kecuali mengganggu, penyakit ini tidak menimbulkan komplikasi yang

DAFTAR PUSTAKA Ernest, Jawetz. 1986. Mikrobiologi untuk Profesi Kesehatan. Bandung : Yrama Widya Imam Supardi. 1986. Mikrobiologi Umum. Bandung : FK Universitas Padjadjaran Irianto, Koes. 2007. Mikrobiologi Menguak Dunia Mikroorganisme Jilid 2. Bandung : Yrama Widya Ludfi Santoso. 1999. Mikrobiologi Umum. Semarang : Universita Diponegoro