Anda di halaman 1dari 31

MODEL PENDIDIKAN MONTESSORI Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas kelompok yang diberikan oleh: Dr.

Badru Zaman, M.Pd

Oleh: Ani Kartini Sumarni NIM 1202782 Santi Yulianti NIM 1200120 Zaenal Mutaqin NIM 1202579 Mardiana Putri Sukmawati NIM 1200355

JURUSAN PEDAGOGIK PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2013

KATA PENGANTAR

Al-Hamdulillah, puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini. Dengan judul; Model Pendidikan Montessori ini dilatarbelakangi oleh kurikulum atau metode yang berubah-ubah sering tidak mengakar dan membuat bingung para siswa. Pendidikan yang seharusnya memberi peluang bagi anak untuk berkembang dalam setiap aspek kehidupannya, kadang hanya menyentuh satu aspek saja. Misalnya kurikulum yang terus berganti membuat anak hanya belajar untuk mengejar nilai tanpa peduli akan lingkungan dan kehidupan sosialnya. ini menjadi titik permulaan bagi kami. Sebelumnya kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuannya; keluarga, kerabat serta teman-teman semua. Semoga Allah membalas setiap jasa yang telah diberikan pada kami Penulisan ini terbagi ke dalam empat bab. Bab I mengemukakan permasalahan yang diangkat dalam penulisan. Bab II berisi pembahasan. Bab III simpulan dan saran. Bab IV Daftar pustaka. kami berharap semoga Penulisan ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca pada umumnya. Bandung, Januari 2013 Kelompok V

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................... i DAFTAR ISI ............................................................................................................ ii BAB I PENDAHULUAN............................................................................................. 1 A.Latar Belakang Masalah .................................................................................1 B.Perumusan dan Pembatasan Masalah.............................................................2 C.Tujuan Penulisan............................................................................................. 2 D.Metode Penulisan............................................................................................ 3 E.Sistematika Penulisan...................................................................................... 3 BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................. 4 A.Sejarah dan Filsafat Pendidikan Montessori....................................................4 1.Sejarah Maria Montessori............................................................................. 4 2.Konsep-konsep Filsafat ................................................................................ 5 B.Prinsip-prinsip Umum...................................................................................... 8 1.Jasmani dan Jiwa Anak Wajib Berkembang Sebebas-Bebasnya....................8 2.Anak Harus Dididik untuk Mandiri.................................................................8 3.Penghapusan Hadiah dan Hukuman.............................................................9 4.Alat-alat Indera Anak Harus Berkembang.....................................................9 C.Implementasi Model...................................................................................... 10 1.Kurikulum .................................................................................................. 10 2.Langkah-langkah Pembelajaran.................................................................15 3.Prinsip Interaksi.......................................................................................... 16 4.Sistem Pendukung ..................................................................................... 17 D.Keunggulan dan Kelemahan Model .............................................................24 BAB III PENUTUPAN.............................................................................................. 25 A.Kesimpulan.................................................................................................... 25 B.Saran-saran................................................................................................... 26 BAB IV DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 27 ii

iii

BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan yang terdiri dari proses, cara, serta perbuatan mendidik dengan tujuan membantu anak agar mampu melaksanakan tugas hidupnya sendiri. Pendidikan yang dimulai sejak usia dini sampai dengan usia 6 tahun merupakan upaya pembinaan yang dilakukan melalui pemberian rangsangan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pendidikan pra sekolah yang juga disebut Taman Kanak-kanak sudah diajarkan dasar-dasar cara belajar lewat bermain yang diarahkan. Dengan banyak permainan mereka bisa belajar seperti cara bersosialisasi, beradaptasi, berkomunikasi dan dapat mengatasi masalahnya. Namun dewasa ini pendidikan dengan kurikulum atau metode yang berubahubah sering tidak mengakar dan membuat bingung para siswa. Pendidikan yang seharusnya memberi peluang bagi anak untuk berkembang dalam setiap aspek kehidupannya, kadang hanya menyentuh satu aspek saja. Misalnya kurikulum yang terus berganti membuat anak hanya belajar untuk mengejar nilai tanpa peduli akan lingkungan dan kehidupan sosialnya. Dari permasalahan diatas ini kami ingin membahas sebuah model Montessori untuk pengembangan kurikulum anak usia dini (AUD). Montessori sebagai pakar pendidikan yang sekaligus peduli akan kehidupan anak mengembangkan metode pendidikan yang tidak hanya memperhatikan aspek kognitif, tetapi juga melalui latihanlatihan praktis yang menyentuh jiwa anak. Ia mengemukakan bahwa kemandirian seseorang harus dilatih sejak dini khususnya pada masa kanak-kanak. Ia melatih kemandirian anak lewat latihan-latihan yang sederhana misalnya di sekolahnya ia merancang berbagai alat sederhana yang menunjang anak dalam belajar atau melakukan aktivitas yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian anak tidak hanya menerima pengetahuan dari gurunya tetapi mengembangkan diri dengan berbagai sarana yang ada. Semuanya ini menjadi satu kebutuhan bersama dalam kehidupan anak. Jika anak hanya berkembang pada satu sisi 1

akan mempengaruhi sisi yang lain. Maka pentinglah pendidikan mencakup semua aspek tersebut di atas. Dari pemaparan diatas kami ingin mengkaji lebih dalam mengenai Model Montessori, sehingga bisa diterapkan di sekolah TK atau PAUD. B. Perumusan dan Pembatasan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, perumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Apa sejarah dan filsafat pendidikan Montessori? 2. Apa saja prinsip-prinsip umum model pendidikan Montessori? 3. Bagaimana implementasi model pendidikan Montessori di Sekolah TK atau PAUD? 4. Apa kelemahan dan keunggulan model pendidikan montessori? Sedangkan, ruang lingkup pembatasan masalah dari penelitian ini adalah; 1. Penerapan model pendidikan Montessori dalam pendidikan TK atau PAUD 2. Penerapan model pendidikan Montessori, dibatasi pada materi yang sesuai dengan model tersebut 3. Yang menjadi objek penelitian adalah 2 (dua) buku, serta sumber-sumber yang relefan lainnya. C. Tujuan Penulisan Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian secara keseluruhan ialah ingin menghasilkan model pembelajaran Montessori di Sekolah kanakkanak. Akan tetapi, penulis rincikan tujuan penelitian ini sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui sejarah dan filsafat pendidikan Montessori. 2. Untuk mengetahui prinsip-prinsip umum model pendidikan Montessori. 3. Untuk mengetahui implementasi model pendidikan Montessori di Sekolah TK atau PAUD. 4. Untuk mengetahui kelemahan dan keunggulan model pendidikan montessori.

D. Metode Penulisan Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi literatur. Nazir (1999) mendefinisikan bahwa: Metode deskriptif merupakan perencanaan fakta dengan interpretasi yang tepat. Sementara secara harfiah metode deskriptif merupakan metode penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian sehingga metode ini berkehendak mengadakan akumulasi dasar belaka. Sedangkan studi literatur menurut Sofian Effendi (1989) adalah suatu teknik pengumpulan data dengan cara mendayagunakan sumber informasi yang terdapat di perpustakaan dan jasa informasi yang disediakan. E. Sistematika Penulisan Dalam penelitian ini agar lebih diketahui pokok-pokok isinya, maka perlu dikemukakan dengan jelas susunan sistematika pembahasannya. Adapun sistematika pembahasan yang dimaksud adalah sebagai berikut: BAB I : Pendahuluan yang merupakan gambaran secara umum, meliputi latar belakang masalahnya, perumusan masalah, tujuan penelitian, metode penulisan, dan sistematika penulisan. BAB II : Kajian teori yang meliputi: sejarah dan filsafat pendidikan Montessori, prinsipprinsip umum model pendidikan Montessori, implementasi model pendidikan Montessori di Sekolah TK atau PAUD, dan kelemahan serta keunggulan model pendidikan montessori. BAB III : Berisi kesimpulan dan saran yang disampaikan oleh penulis sebagai hasil penelitian. BAB IV : Daftar Pustaka

BAB II PEMBAHASAN PEMBAHASAN A. Sejarah dan Filsafat Pendidikan Montessori 1. Sejarah Maria Montessori Maria Montessori lahir di Italia pada tahun 1870 di Chiaravalle, sebuah propinsi kecil di Ancona, karena sebagai anak muda, dia mempunyai minat dan bakat yang besar pada matematika, orang tuanya mengirimkannya ke Roma agar Maria memperoleh kelebihan-kelebihan pendidikan sebuah kota besar. Meski orang tuanya ingin Maria menjadi guru, dia justru memutuskan untuk menekuni bidang engineering. Namun bidang ini pun bukanlah kesukaannya dan setelah perkenalan yang singkat pada bidang biologi, kemudian dia memutuskan menekuni bidang kedokteran. Pada tahun 1896, dia menjadi wanita pertama di Itali yang mendapatkan gelar Doctor of Medicine. Setelah lulus dari sekolah kedokteran, Maria bekerja di klinik psikiatrik Universitas Roma dan pekerjaannya yang berhubungan dengan masalah cacat mental ini sangat membantunya dalam menuangkan gagasan-gagasan pendidikan pada masa-masa yang akan datang. Dia sangat yakin bahwa defisiensi mental lebih merupakan masalah pedagogis daripada gangguan medis dan merasa bahwa dengan latihan pendidikan khusus orang-orang cacat ini akan dapat dibantu. Dan, pada gilirannya, pendidikan dan pemahamannya terbukti memberikan kontribusi sangat besar dalam pengembangan kemampuan anak yang menderita cacat mental. Casa dei Bambini, atau "Children's House" didirikan pada tahun 1907 di Roma yang diperuntukkan bagi anak-anak cacat mental ini, semuanya berumur di bawah lima tahun. Pada tahun 1909, sebagai hasil minatnya yang besar terhadap Casa dei Bambini, Maria Montessori menerbitkan Scientific Pedagogy as Applied to Child Education in the Children's Houses. Karyanya ini menarik perhatian masyarakat dan orang-orang Amerika yang pertama memberikan tanggapan. Namun, gagasangagasannya segera mendapatkan kritik, sebagian besar karena fakta bahwa bangsa Amerika telah mendapatkan bentuk pendidikan yang mapan dan tidak beranggapan bahwa latihan-latihan ekstensif untuk perkembangan anak lebih lanjut seperti tidak perlu bagi anak usia pra-sekolah. Diantara pengkritik ini adalah pengikut Darwinisme konservatif yang sangat percaya pada " fixed intellegence" dan yakin bahwa faktor keturunan adalah satu-satunya penentu perkembangan anak. Teori-teori Freud 4

(Psikoanalitis) juga mendapat perhatian di awal revelasi Montessori bahwa materimateri pendidikannya membangkitlkan minat Spontaneous anak dalam belajar. Pada tahun 1915, Maria Montessori secara antusias di terima di Amerika. Dia memberikan kuliah dan mengadakan kursus-kursus bagi para guru di California. Untuk memperkenalkan lebih lanjut metodenya kepada masyarakat luas, sebuah kelas Montessori didirikan di San Fransisco World Exhibition pada tahun 1915. Setelah kembali ke eropa, dia memberikan kuliah di beberapa negara dan juga menghabiskan banyak waktunya dalam penelitian lebih lanjut. Dr. Montessori meninggal di Belanda tahun 1952 pada umur 81 tahun. Setelah kematiannya, anak laki-Iakinya Mario Montessori menggantikannya sebagai direksi Association Montessori Internationale dengan kantor pusat di Amsterdam. 2. Konsep-konsep Filsafat Bermula dari pengkritikan montessori terhadap metode konvensional. Montessori (2002) mengkritik pendekatan dikarenakan: Pengetahuan eksak tentang kondisi fisik anak tidak dengan sendirinya dapat dijadikan dasar untuk merumuskan metode pendidikan, karena keduanya merupakan dua masalah yang berbeda. Bagi Montessori, tahu ukuran kepala anak ataupun tahu panjang kaki dan tangan secara eksak tidak dengan sendirinya membuat orang mengerti metode pendidikan yang tepat bagi anak. Pendekatan tersebut terlalu berat sebelah, karena pendekatan tersebut hanya menerapkan pengetahuan ilmiah untuk memahami anak secara materialistis dan mekanis. Fakta tersebut membuktikan bahwa proses "memanusiakan manusia" dalam dunia pendidikan menurut Maria Mentessori adalah proses pembelengguan yang menciptakan kultur pendidikan satu arah. Anak dianggap bukan potensi diri yang masing-masing mempunyai kekhasan dan kelebihan tersendiri. Lantas, ia pun menciptakan sebuah metode Montessori. Ia bergerak ke arah filsafat pendidikan. Filsafat tersebut dijadikan pendekatan dengan gagasan untuk memberikan anak ruang berekspresi dan kebebasan berkreasi dalam lingkungan yang kaya pertualangan dan kesenangan yang terencana dan terstruktur. Filosofi dari Montessori adalah membangun ide bahwa perkembangan dan pola pikir anak berbeda dengan anak dewasa, mereka bukan miniatur orang dewasa. Montessori menyatakan persamaan hak anak didik, maka anak akan belajar untuk 5

berkembang sendiri menjadi dewasa, akan tetapi tetap dengan bimbingan dari guru. Montessori tidak begitu setuju dengan tes pengukuran kemampuan anak pada akhir masa persekolahan. Karena hal ini akan mengganggu pertumbuhan anak sedari dalam. Umpan balik dan analisis kualitatif terhadap penampilan anak lebih di utamakan. (Wikipedia.com, 2007) Pandangan Montessori tentang anak dipengaruhi pemikiran Rouseau, Pestalozzi dan Froebel yang menekankan pentingnya kondisi lingkungan yang bebas dan penuh kasih sayang untuk dapat berkembangnya potensi bawaan anak. Dibawah ini kami membuat sebuah gambaran mengenai model pendidikan Montessori, sebelum penjelasan yang lebih mendalam mengenai konsep tentang anak serta Memp konsep-konsep yang mempengaruhi Montessori.
Anak-anak keterbelakangan mental Belajar dengan metode konvesional elajari apa yang dihara pkan oleh masya rakat Anak-anak kesulitan mempelajari apa yang diinginkan

Montessori

Dengan metode yang tepat, anak-anak akan belajar dengan sendirinya

Mengamati dan mencatat kecenderungankecenderungan alamiah anak untuk belajar

Menstimulasi anak untuk belajar apa yang mereka sukai

Dari gambar di atas menjelaskan bahwa Montessori sangat menekankan eksistensi anak dan ia juga menggagaskan konsep tentang self-construction dalam perkembangan anak. Menurutnya, suatu fase kehidupan di awal sangat berpengaruh terhadap fase-fase kehidupan selanjutnya artinya bahwa pengalaman-pengalaman yang dialami oleh seorang anak di awal kehidupannya sangat berpengaruh terhadap kedewasaannya kelak begitu juga perlakuan yang didapatkan anak sejak kecil akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak selanjutnya. Pandangan Montessori tentang anak dapat difahami melalui konsepkonsepnya. Anak mengkonstruksi sendiri perkembangan jiwanya (Child's Selfconstruction) Masa-masa sensitif (Sensitive Periodes) Jiwa Penyerap (Absorben mind) Hukum-hukum perkembangan ( The natural laws governing the child's psychic growth) 6

Seperti telah diungkapkan di atas bahwa Montessori meyakini bahwa anak secara bawaan telah memiliki suatu pola perkembang psikis. Selain itu, anak juga memiliki motif yang kuat ke arah pembentukan sendiri jiwanya (self construction). Dengan dorongan ini anak secara spontan berupaya mengembangkan dan membentuk dirinya melalui pemahaman terhadap lingkungan. Beliau pun mengungkapkan bahwa meskipun anak sudah memiliki pola psikis bawaan dan dorongan vital untuk mencapainya, tidak berarti bahwa ia membawa model-model perilakunya yang sudah jadi. Dengan demikian anak mengembangkan pola-pola perkembangan dan kekuatannya itu sejak lahir melalui pengalamanpengalaman interaksional pendidikan. Ada dua kondisi yang diperlukan dalam perkembangan anak (Lillard, 1972 dalam Sollehudin, 2000); yakni pertama adalah adanya suatu interaksi yang terpadu antara anak dengan lingkungannya (baik benda maupun orang) dan ke dua adalah adanya kebebasan bagi anak. Montessori yakin bahwa dalam tahun-tahun awal seorang anak mempunyai apa yang dia sebut sebagai "sensitive periods" artinya selama masa ini seorang individu mudah menerima stimulus-stimulus tertentu. Masa-masa sensitif yang diungkapkan Montessori yaitu : Lahir - 3 tahun Pikiran dapat menyerap Pengalaman (pengalaman sensoris) 1,5 3 tahun Perkembangan bahasa 1,5 4 tahun Koordinasi dan perkembangan otot serta minat pada benda-benda kecil 2 4 tahun Peneguhan gerakan, minat pada kebenaran dan realitas menyadari urutan dalam waktu dan ruang 2,5 6 tahun Peneguhan sensoris 3 6 tahun Rawan pengaruh orang dewasa 3,5 4,5 tahun Menulis 4 4,5 tahun Kepekaan indera 4,5 5,5 tahun Membaca Selain itu, montessori meyakini bahwa jiwa anak masih belum terbentuk. Dengan pengetahuan yang dimilikinya, orang dewasa dapat membangun pengetahuan-pengetahuan lainnya. Gejala psikis yang memungkinkan anak untuk membangun pengetahuannya itu dikenal dengan konsep absorbent mind. Dengan 7

gejala psikis ini anak dapat melakukan penyerapan tak sadar terhadap lingkungan. Kemudian anak menggabungkan pengetahuan secara langsung ke dalam kehidupan psikisnya. Kesan-kesan yang diperolehnya melalui proses ini tidak semata-mata memasuki jiwa anak, tetapi juga membentuknya. Proses tak sadar tersebut selanjutnya diganti secara berangsur-angsur oleh proses atau aktivitas jiwa yang disadari. B. Prinsip-prinsip Umum Ada pun mengenai prinsip-prinsip umum dari Montessori, menurut Florentinabe'o (2009) antara lain yaitu : 1. Jasmani dan Jiwa Anak Wajib Berkembang Sebebas-Bebasnya Montessori berpendapat bahwa kemerdekaan dalam pendidikan merupakan hal yang penting terutama bagi anak yang masih sangat muda. Hal ini tidak hanya sekedar ide belaka tetapi sungguh dikembangkan Montessori untuk sekolahnya. Tiap pendidikan harus berpedoman pada pribadi yang hidup, karena tugas pendidikan adalah membantu anak untuk semakin dapat mandiri dalam hidup dengan mengembangkan seluruh kemampuannya secara maksimal. Kemerdekaan bukanlah kesibukan yang tidak bertujuan yang sering dipertunjukkan anak tetapi merupakan basis untuk membentuk sikap disiplin dalam diri anak. Menurut Montessori konsep kebebasan dalam pendidikan semestinya dimengerti sebagai kebebasan yang menuntut kondisi yang paling mendukung perkembangan seluruh kepribadian anak bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental termasuk perkembangan kemampuan otak.

2. Anak Harus Dididik untuk Mandiri Menurut Montessori syarat utama untuk menjadi pribadi yang merdeka adalah kemandirian. Oleh karena itu, anak harus dibantu supaya menjadi pribadi yang merdeka sejak kecil. Itu berarti sejak anak-anak memasuki fase awal untuk aktif, aktivitas mereka itu semestinya menjadi dasar untuk mengarahkan mereka agar semakin mandiri. Misalnya anak dibiasakan mengenakan pakainnya sendiri, mengambil keperluannya sendiri dan lain-lain. Itulah gambaran pendidikan yang menuju kebebasan sekaligus membantu anak. Pendidikan yang efektif semestinya membantu anak untuk menjadi pribadi yang semakin mandiri. Semua bantuan yang tidak perlu justru menghambat proses 8

makin mandiri yang semestinya dicapai anak. Pendidikan semestinya membantu anak untuk semakin dapat melakukan sendiri segala sesuatu yang berguna untuk kelangsungan hidupnya, dengan demikian sebagai individu ia semakin mengembangkan begitu banyak kemampuan untuk masa depannya. Membentuk pribadi yang kompeten tidak lain adalah membentuk pribadi yang mandiri dan merdeka. Hal ini seharusnya menjadi prinsip fundamental bagi pendidikan. 3. Penghapusan Hadiah dan Hukuman Penghapusan hadiah dan hukuman merupakan konsekuensi dari penerapan prinsip di atas. Anak yang terbiasa untuk beraktivitas akan lebih menghargai hadiah yang tidak meremehkan kemampuannya untuk melakukan sesuatu, karena ia sadar bahwa perkembangan kemampuan dan kemerdekaan batin menjadi asal usul bagi aktivitasnya. Hal ini tampak jelas pada setiap sekolah Montessori. Hadiah-hadiah yang ada tidak lagi menarik perhatian anak, karena pemberian hadiah justru dirasakan melukai harga diri anak. Berkaitan dengan hukuman, Montessori mengemukakan bahwa ketika ada anak yang nakal, dan mengganggu teman lain, anak ditempatkan di sudut ruangan untuk bermain sendiri dengan mainan kesenangannya sambil duduk di kursi yang empuk. Pada awalnya ia merasa senang berada di situ namun makin lama ia melihat teman-temannya melakukan banyak hal bersama-sama, ia akan menyadari betapa bermanfaatnya bekerja sama dengan yang lainnya. Dengan demikian ia akan bergabung kembali dengan rekan-rekannya. Dari pengalaman itu ia akan menemukan sendiri pentingnya disiplin dan menghargai orang lain tanpa harus diatur oleh guru. Menurut Montessori hukuman semacam ini jauh lebih mendidik dibandingkan dengan hukuman fisik yang sering diterapkan di sekolah tradisional. 4. Alat-alat Indera Anak Harus Berkembang Ciri sistem Montessori yang terpenting adalah besarnya perhatian yang dicurahkan kepada perkembangan penginderaan. Menurut Montessori masa peka pertumbuhan alat-alat indera manusia terdapat antara usia 3-6 tahun . Oleh karena itu semua latihan untuk menyempurnakan pertumbuhan alat indera anak hendaknya dijalankan pada masa itu. Bersamaan dengan pertumbuhan alat indera anak, mulailah anak tertarik pada hal-hal di sekelilingnya.

Pendidikan alat indera manusia bertujuan menciptakan manusia yang dapat beradaptasi dengan alam sekitarnya. Anak harus dididik untuk hidup sesuai dengan kenyataan. Menurut Montessori kecerdasan otak akan tetap rendah tingkatnya jika tidak ada pendidikan alat indera. Sebab alat indera itulah yang menangkap bayangan dari luar yang dibutuhkan oleh otak. Apabila alat indera kita dihaluskan maka otak akan memperoleh pengaruh yang baik sekali. Menurut Montessori pendidikan penginderaan merupakan dasar bagi pembentukan konsep-konsep intelektual serta menyiapkan anak untuk menjadi pengamat yang tidak hanya mampu menyesuaikan diri dengan peradaban modern tetapi juga untuk keperluan sehari-hari. Inti dari pendidikan penginderaan adalah melatih anak mempertajam kemampuan untuk menangkap dan membeda-bedakan berbagai rangsangan inderawi secara tepat sehingga dapat memberikan penilaian secara tepat pula. Singkatnya prinsip dasar umum dalam metode Montessori adalah anak harus dihormati sebagai individu yang bebas serta perkembangan pribadi anak baik jasmani maupun jiwa merupakan perhatian pokok dalam pendidikan. C. Implementasi Model 1. Kurikulum Dalam kurikulum yang dibuat oleh Montessori Children's Houses, beliau lebih menekankan pentingnya arti disiplin pada awal-awal pembelajaran tanpa mengurangi kebebasan anak untuk memilih aktivitas-aktivitas yang telah disediakan di kelas Montessori. Kurikulumnya antara lain:
a. Anak-anak di kelas Montessori dikelompokkan secara

vertikal, mereka tidak

dikelompokkan berdasarkan umur. Setiap kelas terdiri dari beragam kelompok dengan rentang 2 sampai 6 tahun, di mana mereka berbagi kelas dan guru-guru yang sama. Pengelompokkan anak berdasarkan umur memberikan kesempatan yang sangat baik bagi anak untuk berinteraksi dengan beragam cara. Anak-anak yang lebih tua merupakan model/contoh bagi anak yang lebih muda, hal ini akan meningkatkan kepercayaan diri dan pengetahuan mereka, selain itu menjadi pemimpin di kelas akan mendorong anak mempunyai rasa tanggung jawab yang pada akhirnya meningkatkan citra diri. Di sisi lain, anak-anak yang lebih muda dibuka/diarahkan untuk bekerja lebih baik dengan cara mengobservasi anak-anak yang lebih tua. Metode ini memungkinkan anak-anak dapat bekerja sesuai dengan

10

kemampuan dan prestasi dikembangkan dan sebagai konsekuensinya kepercayaan diri akan terpellihara dengan baik. b. Memiliki area-area yang menjadi pusat latihan, antara lain; 1) Latihan Kehidupan Praktis (LKP), Pada tahap perkembangan usia antara 2 sampai 6 tahun merupakan fase dimana anak-anak mempunyai keinginan yang kuat untuk meniru orang dewasa dan hal ini sangat diperlukan untuk pengembangan mereka. Pada fase ini, anak-anak diberi kesempatan untuk meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitar mereka setiap hari. Misalnya, mereka menyapu, mencuci, memindahkan suatu barang dengan berbagai alat yang berbeda ( sendok, sumpit dan lain-lain), membersihkan kaca, membuka dan menutup kancing atau resleting, membuka dan menutup botol/kotak/kunci, mengelap gelas yang sudah di cuci dan sebagainya. Melalui berbagai aktivitas yang menarik ini, anak-anak belajar untuk membantu diri mereka sendiri (self help), berkonsentrasi dan mengembangkan kebiasaan bekerja dengan baik.
2) Penginderaan, bahan-bahan tentang penginderaan dirancang untuk memperbaiki

perasaan/kepekaan anak-anak akan waktu pada saat terutama sensitif untuk mempelajari keahlian. Anak-anak dapat belajar untuk menilai, memisahkan dan membedakan dimensi, tinggi, berat, warna, suara, bau, barang tenunan dan mengembangkan bahasa dan kosa kata. Melalui bahan-bahan tentang penginderaan, anak-anak dapat mengembangkan kontrol otot untuk hal-hal tertentu, misalnya mengontrol pinsil pada saat menulis, memperkuat jari penjepit melalui alat yang dikenal dengan nama knobbed/cylinders dan melukis dengan jari untuk mengkoordinasikan mata dengan tangan. 3) Pengenalan akan matematika dilakukan melalui penyesuaian, pemilahan dan penyusunan terhadap apa yang anak-anak hadapi sehari-hari di area LKP dan area penginderaan. Matematika diperkenalkan kepada anak-anak melalui konsep-konsep yang jelas dan menarik. Metode yang dirancang dan disesuaikan dengan kebutuhan anak untuk merekayasa bahan-bahan yang nyata/jelas sebelum mereka sampai pada tahap konsep abstrak yang berkaitan dengan dunia angka. Setelah anak-anak memahami konsep dasar kuantitas/jumlah dan hubungannya dengan lambang-lambang, hal lain yaitu mempelajari angkaangka yang lebih besar dan operasi matematika seperti penjumlahan, 11

pengurangan, perkalian dan pembagian akan menjadi lebih alami. Selain itu, anak dapat belajar matematika melalui pengukuran, seperti mengukur jarak, mengukur literan, mengukur besar kecil dan lain-lain. 4) Bahasa, kelas pra sekolah Montessori menekankan bahasa lisan sebagai dasar dalam semua ekspresi bahasa. Melalui seluruh lingkungan Monessori, anakanak mendengar dan menggunakan kosa kata yang tepat untuk seluruh kegiatan, mempelajari nama-nama susunan, bentuk geometris, komposisi, tumbuhtumbuhan, operasi matematika dan sebagainya. Selain itu, bahan-bahan tertentu di area bahasa sangat mendukung dalam berbahasa secara lisan. Bahan-bahan untuk bahasa tulisan diperkenalkan pertama kali kepada anak-anak melalui huruf-huruf yang dapat dipindahkan. Setelah itu, anak-anak mulai diperkenalkan tentang komposisi/susunan kata, kalimat dan seluruh cerita dengan menggunakan bahan-bahan tersebut guru dan orang tua sebaiknya mulai mengenalkan bahasa kedua pada anak. 5) Kebudayaan, anak-anak diperkenalkan mempelajari Geografi, Sejarah, IImu tentang tumbuh-tumbuhan dan IImu pengetahuan yang sederhana. Anak-anak belajar melalui latihan individual, kelompok dan aktivitas-aktivitas latihan seperti diskusi mengenai dunia sekitar mereka, pada saat ini dan masa lalu. Pengenalan akan tumbuh-tumbuhan dan kehidupan binatang seperti juga pengalaman sederhana untuk mengetahui lebih jauh tentang ilmu pengetahuan alam. Selain itu, anak-anak pun diperkenalkan tentang masakan khas daerah, melalui 'cooking'. Lima area ini saling berkaitan dan diperkenalkan secara bersamaan kepada anak. Anak-anak tidak diwajibkan untuk menguasai satu area sebelum berpindah ke area yang lain, namun banyak latihan yang harus dikuasai sebelum melangkah ke matematika dasar dan pemahaman bahasa. Area LKP dan penginderaan merupakan fondasi yang mendasar bagi area-area yang lain. c. Metode pembelajaran dibagi menjadi 3 bagian: pendidikan motorik, sensorik, dan bahasa melalui pengembangan lima indera. Anak belajar dengan tahapan yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan dan kecakapan-kecakapan individunya. Metode Montessori mengembangkan kepribadian anak secara keseluruhan. Metode Learning to Learn merupakan metode yang dilatihkan pada anak di sekolah Montessori. 12

Selama tahap awal pembelajaran, anak memerlukan motivasi dari orang dewasa, maka berikanlah pujian untuk memperoleh kepercayaan dalam dirinya. Aturan dan disiplin serta kontrol diri harus dilatihkan pada anak. Keteladan dari orang dewasa merupakan metode yang menonjol dalam Montessori, sebab anak belajar segala hal dengan cara meniru orang dewasa. Perluas wawasan anak dengan mengadakan kegiatan untuk memberikan pengalaman-pengalaman baru, bertemu orang-orang baru, dan melihat hal-hal baru. Sejalan dengan kurikulum diatasmenurut George s. Morrison (2012) mengatakan bahwa montessori pun membuat kurikulum terpadu. Kurikulum tersebut disediakan agar anak dapat terlibat secara aktif dalam menggunakan materi konkret sepanjang kurikulum (menulis, membaca, ilmu pengetahuan, matematika, geografi, dan seni) kurikulum montessori Isi Kurikulum Meliputi Aspek sebagai berikut : a. Language and Vocabulary (LV) Mengembangkan kosa kata dan keterampilan menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari dan mengembangkan kemampuan mendengar, berbicara, membaca, menulis dan berkomunikasi b. Fine Motor (FM) Anak dilatih untuk menghaluskan rasa dengan keterampilan tangan, menggunakan otot jari, koordinasi tangan dan mata. c. Gross Motor (GM) Anak dilatih untuk memanfaatkan potensi geraknya yang disalurkan dalam berbagai olah raga permainan. Dimaksudkan untuk mengembangkan keseimbangan tubuh, kekuatan dan korrdinasi otot d. Perception (PC) Anak dilatih untuk mengasah daya pikinya sehingga dapat membedakan, dapat menyusun kembali atau menguraikan berbagai hal yang sederhana. Anak juga dilatih untuk mengerti sebab akibat dari suatu kejadian yang diamatinya dengan mengembangkan konsep berpikir logis, analitik dan kreatif e. 0bservation (OB):

13

Anak diajak untuk mengamati beberapa kejadian sehingga dapat merasakan dan melihat langsung bagaimana perubahan, perbedaan dan proses alam itu terjadi. Anak dilatih untuk melakukan beberapa percobaan sederhana. f. Practical life / Self Help (SH): Melatih konsentrasi, motorik halus, koordinasi visual motorik, intelegensi, disiplin dan control diri serTa mengembangkan keterampilan menolong diri sendiri berkaitan dengan kehidupan sehari-hari seperti berpakaian sendiri, makan sendiri, membuat makanan sendiri, toilet training dll g. Premath (PM): Kegiatan bereksplorasi dan berinteraksi dengan benda-benda untuk mengembangkan konsep matematika (memahami konsep kongkrit, kuantitas dan simbol). Program yang dikembangkan antara lain: memasangkan, memilah, menyesuaikan, membandingkan, mengelompokkan, mengurutkan, mengukur dan membuat grafik. h. Cooking and Recipes (CR): Fokus dari kegiatan ini meliputi pengalaman, eksplorasi dan memanipulasi melalui kegiatan meraba, merasa, mencium, membandingkan. Anak dikenalkan dengan aneka masakan. Skill yang dikembangkan adalah : motorik halus, matematika dasar, bahasa, sosialisasi melalui kegiatan memasak. i. Sensory Experience (SE): Anak dilatih untuk mengeksplorasi benda benda dengan menggunakan seluruh proses indranya : melihat, merasakan bentuk , mendengar bunyinya, membaui sabun dll. Disediakan meja eksplorasi yang memungkinkan anak bebas bereksplorasi di bak air atau bak pasir baik sendiri maupun berkelompok. Isi meja ini diganti secara reguler. Kegiatan beragam dilakukan dengan menyimpan benda- benda berbeda di meja misalnya alat makan untuk mencampur dan menimbang, boneka plastik, material yang dapat mengapung dan tenggelam, pewarna makanan, lap untuk mencuci dll. j. Agama Anak diperkenalkan dengan agamanya dan mulai melakukan peribadatan sederhana k. Dramatik play /song & finger play

14

Dilakukan

secara

individu

atau

kelompok

sehingga

anak

dapat

mengekspresikan dirinya melalui pekerjaan dan mainannya. Hal ini dapat mengembangkan kemampuan bahasa dan sosialisasi anak. l. Musik Meningkatkan kepekaan anak terhadap suara-suara yang ada di lingkungan mereka dan mengeksplorasi bahwa setiap benda mempunyai suara yang berbeda. Misalnya suara petikan jari, ketukan kaki, gesekan tangan , suara mulut untuk digunakan dalam mengikuti irama lagu. Melalui musik anak dapat mengiringi nyanyian dan tarian Montessori menyebutkan tiga ciri utama pelajaran yang diberikan secara individual yaitu: a. Pelajaran yang diberikan harus singkat. Semakin banyak kata-kata yang tidak berguna dihilangkan, semakin baik suatu pelajaran. Ketika mempersiapkan pelajaran yang akan diberikan, pendidik mesti mempertimbangkan bobot katakata yang akan diucapkan. b. Pelajaran harus sederhana. Kata-kata yang sudah dipilih dengan seksama haruslah yang paling sederhana yang bisa ditemukan dan mengacu pada kebenaran. c. Pelajaran harus objektif. Guru tidak boleh menarik perhatian anak-anak pada dirinya sendiri sebagai guru, melainkan hanya pada objek yang ingin diterangkan. Penjelasan singkat itu harus merupakan penjelasan mengenai objek yang akan dipelajari anak-anak. 2. Langkah-langkah Pembelajaran Setiap proses belajar mengajar seorang guru mengupayakan agar suasana kelas/lingkungan belajar yang ia kelola dapat memunculkan aktifitas siswa dengan memberikan stimulus yang cukup kepada seluruh siswa sehingga potensi siswa dapat berkembang dengan baik sesuai dengan level-level perkembangan mereka masingmasing. Langkah-langkah berikut ini mungkin bisa dilakukan untuk mengelola pembelajaran dengan menerapkan konsep Montessori yaitu :
a.

Children Center : Dalam prinsip Montessori siswa diberi kebebasan untuk beraktivitas dengan lingkungan belajar sehingga dalam aktivitas tersebut siswa 15

akan mengkonstruksi sendiri perkembangan jiwanya (childs self contruction) dengan guru sebagai penguat atau penekanan konsep ia dapat. Sehingga semakin siswa sibuk dengan aktivitasnya dalam mencari, menemukan, menyimpulkan berbagai pengetahuan dan keterampilan belajarnya maka semakin baik proses belajarnya.
b.

Eksperimen dan Demonstrasi : Metode ini memang menuntut keaktifan siswa untuk melakukan aktifitas sendiri dengan media yang ada dan dilengkapi dengan prosedur langkah-langkah kerja yang jelas yang telah disusun oleh guru secara sistematis. Sehingga siswa akan memiliki pengalaman tersendiri dari aktifitasnya tersebut. Sebelum melakukan eksperimen ada baiknya, diawali dengan demonstrasi dengan cara memperlihatkan langkah-langkah proses percobaan sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Sehingga sebelum siswa beraktifitas mereka telah melihat dan mendengarkan rambu-rambu praktik yang akan dilaksanakan sehinga tujuan belajar dapat tercapai.

c.

Media Pembelajaran : Dalam konsep Montessori media pembelajaran berpusat pada seluruh aktifitas panca indra karena dengan panca indra ini awal pintu masuknya berbagai pengetahuan dalam otak manusia. Seluruh panca indra harus memperoleh kesempatan untuk berkembang sesuai dengan fungsinya. Olehkarena itu dalam konsep ini seorang guru harus kreatif mengolah, membuat media pembelajaran dalam bentuk alat peraga, alat praktik, permainan, tulisan disertai gambar, buku atau artikel dengan ilustrasi gambar, video pembelajaran dan segudang media lainnya sehingga seluruh siswa akan melakukan aktifitas belajar dan proses pembelajaran akan lebih mudah dan menyenangkan.

3. Prinsip Interaksi Morrisson (2012) mengatakan bahwa montessori mempunyai keyakinan bahwa guru harus bisa menunjukan perilaku tertentu untuk menerapkan prinsip pendekatan yang berpusat pada anak ini. Berikut ini enam peran utama guru dalam program montessori. a. Menghormati anak dan pemelajarannya. b. Membuat anak sebagai pusat pembelajaran. c. Mendorong pemelajaran anak. d. Mempersiapkan lingkungan pembelajaran e. Memperkenalkan materi pembelajaran dan mendemostrasikan pelajaran. 16

Dan bahkan Montessori pun menyatakan. Penting bagi guru untuk memandu anak tanpa membuat anak terlalu merasakan kehadirannya, sehingga guru selalu siap memberikan bantuan yang di inginkan, tetapi tidak menjadi penghalang antara anak dan pengalamannya. Guru sebagai pemandu merupakan pilar praktik montessori. 4. Sistem Pendukung Dengan konsep memanfaatkan setiap lahan yang tersedia maka pengaturan ruangan dapat diatur sesuai kebutuhan pada setiap tema. Ruangan yang penting dan perlu ada adalah : a. Ruang kegiatan Di ruangan ini dibagi beberapa area kegiatan . Area Practical Life Area Circle Time Area Pre math and perception Area Dramatic Play Area Language and Vocabulary

b. Ruang Serba guna Ruangan ini dapat dipakai untuk kegiatan : Library Gross motor Music Pertemuan

c. Ruang makan Di ruang makan ini tersimpan peralatan makan, meja dan kursi serta washtafel d. Ruang bengkel Tempat ini digunakan untuk kegiatan : Fine motor Cooking Art Display Sensory Experience

e. Ruang tidur Dilengkapi dengan peralatan tidur untuk anak-anak yang ikut kegiatan hingga sore hari f. Kamar mandi 17

Untuk keperluan Mandi, huang air besar dan kecil g. Play ground Untuk tempat bermain di luar ruangan untuk melatih motorik kasar anak h. Mushola Sebagai tempat khusus untuk sholar berjamaah dan mengaji Perlengkapan Media Ruang kegiatan a. Dramatic play area 1 bh rak kotak kotak besar Mainan bongkar pasang - Alat masak-masakan Aneka macam boneka Gambar -gambar profesi Jenis jenis pakaian profesi dan alatnya Rambu rambu lalu lintas Berbagai jenis mainan anak Miniatur binatang dan kendaraan Alat timbang badan Pengukur tinggi badan Jas hujan/mantel Berbagai jenis sepatu Rak barang kotak kotak kecil Stories belling dari plastic (10 bh) . Berbagai jenis botol Berbagai jenis batu Berbagai jenis kancing Kartu bilangan Box pernak pernik berwarna Papan geobord (3 bh) Gambar -gambar himpunan bilangan Balok balok Alat bermain konstruksi Lotto - Berbagai macam puzzle 18

b. Premath and perception area

Manik manik Alat untuk meronce Tempat telur Komputer Boneka bongkar pasang

c. Language and vocabulary area - Rak barang - Kartu huruf - Folder anak - Macam -macam gambar - Kartu kata - Kertas, alat tulis Gambar seri Karpet puzzle huruf Karpet puzzle benda-benda 1 bh rak Karpet lingkaran Papan tulis Kalender

d. Circle time area

e. Practical life area Kursi Kertas Kacang kacangan Teko/botol Beras Air Sendok Suntikan pipet Kulit/cangkang Penjepit/catut 19

Biji bijian Kancing berbagai warna dan ukuran Spans dan tusukan Berbagai macam bentuk benda Lem Kuas Kertas kertas garis lurus, zigzag, lengkung, geometris, bentuk binatang Bingkai baju, kancing besar, kancing kecil, prepet, kancing cetet, tali, kait, risleting, pita,tali sepatu, peniti, gesper,kancing sepatu Sepatu dan alat semir Cotton buds dan tissue Gunting kuku Shampoo anak dan sisir - Karet rambut , pita dll Lap kaca, kayu, perak,kuningan Meja Timbangan dan bahan bahan untuk ditimbang Alat ukur Saringan /ayakan

f. Library area - 2 bh rak buku - Berbagai macam buku cerita - Ensiklopedia anak - Meja bundar - Bantal baca g. Ruang bengkel 1 set meja kerja clan locker Meja kerja di tengah ruangan Kursi Easel Bak air Bak pasir (apabila playground tidak berpasir) Kertas berbagai ukuran dan warna Cat 20

Alat gambar/lukis/mencap Alat pertukangan - Alat elektronik Plastisin Tanah liat Alat eksperimen IP A Tempat sampah Tempat cuci tangan Lap Gelas ukuran 2 bh Timbangan kue Alat bermain air Lem kecil (I dus) Pinset/alat suntik Beras Teko Berbagai jenis botol belling Corong air Ranjang tidur berlocker Kasur Sprei Bantal Sarung bantal Selimut Cermin Ruang serba guna Matras ukuran 2 x 120 Lemari TV TV VCD Kaset VCD Bantalan tinju Ring basket Macam macam gambar olahraga 21

h. Ruang tidur

Rak barang barang olahraga Macam macam bola Mini bowling Partitur Tape recorder Organ Gitar Perkusi Panggung pentas

i. Mushola Locker pakaian sholat Karpet Gambar mesjid/kabah Gambar gerakan sholat Jadwal surat pendek - Folder IQRA Rak sandal Meja dan kursi makan Gambar 4 sehat 5 sempurna Alat makan Mangkuk sayur Mangkuk nasi Piring buah Piring lauk Centong nasi Sendok sayur Penjepit lauk Taplak meja plastik Tempat sampah Kitchen set Perlengkapan masak Alat kebersihan 22

j. Ruang makan dan dapur

a. b. c. -

Parutan keju Pengoles roti Pengupas wortel Cetakan roti Pembulat buah Tusuk sate - Kompor Gayung Sabun dan tempatnya Ember kecil Tisue holder Tempat sampah Rak piring basah Ember piring kotor . Wadah sabun Rak odol dan alat mandi Cermin Gambar gerakan wudhu

k. Kamar mandi

l. Tempat cuci piring

m. Tempat wudhu

23

D. Keunggulan dan Kelemahan Model 1. Kelebihan pendekatan Montessori Konsep-konsep pendekatan Montessori dapat diberikan pada anak dari berbagai latar belakang dan kondisi yang beragam. Berhasil menghasilkan konsep dan material / alat pendidikan yang sistematis dan operasional sesuai dengan tahapan perkembangan dan kemampuan anak. Memiliki laboratorium sekolah dan sistem penyelenggaraan yang terkontrol terhadap seluruh sistem pendidikan Montessori. Mengeluarkan panduan-panduan tentang sistem pembelajaran di sekolah Montessori. 2. Kekurangan Pendekatan Montessori Terlalu bersifat perseorangan, sehingga memerlukan rasio perbandingan antara guru dan murid yang kecil. Memerlukan media pembelajaran yang sangat beragam , serta harga material yang sangat mahal sulit terjangkau oleh sekolah-sekolah umum. Pelatihan penyelenggaraan konsep pendidikan Montessori sangat mahal bagi guru-guru di sekolah umum. Mengacu pada ke dua poin di atas, maka secara umum dapat disimpulkan bahwa : tidak ada satu pendekatan pun yang lebih baik dari pendekatan-pendekatan yang lain, begitu pula sebaliknya tidak ada satu pendekatan pun yang tidak baik dari pendekatan-pendekatan yang lain, karena dari masing-masing pendekatan memiliki kelebihan dan kekurangan. Dan tentunya hal ini sangat dipengaruhi oleh cara pandang terhadap anak

24

BAB III PENUTUPAN PENUTUPAN A. Kesimpulan Pendidikan merupakan usaha dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu atau membantu anak agar mampu melaksanakan tugas hidupnya sendiri secara mandiri. Menurut Montessori untuk menjadi pribadi yang mandiri, seseorang harus dilatih sejak dini khususnya pada masa kanak-kanak karena pada masa itu merupakan masa peka dimana anak mampu menerima segala sesuatu yang diajarkan. Pendidikan dalam metode Montessori memberikan tempat bagi anak untuk beraktivitas sebebas-bebasnya sesuai dengan kemampuan masing-masing yang sekaligus merupakan basis pembentukan kemandirian dan kedisiplinan bagi anak. Bagi Montessori pendidikan tidak berarti anak hanya menerima dari guru melainkan anak juga bisa menemukan sendiri apa yang berguna bagi mereka melalui aktivitas mereka sendiri. Kebebasan dalam metode Montessori adalah kebebasan yang mendukung perkembangan seluruh kepribadian anak bukan hanya secara fisik tetapi juga mental termasuk perkembangan otak. Bahkan menurut Proffessor Puan Sri (pensyarah di Fakultas Pendidikan Universitas Kebangsaan Malaysia), beliau menyatakan bahwa pendidikan Montessori yang diaplikasikan kepada kanak-kanak adalah pendekatan yang lebih fleksibel berbanding dengan corak pendidikan yang lain. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tujuan pendidikan dalam metode Montessori adalah mengembangkan seluruh potensi anak yang dapat dilakukan melalui proses pembelajaran di kelas maupun melalui berbagai latihan praktis yang berkaitan dengan kehidupan anak itu sendiri.

25

B. Saran-saran Secara khusus saran-saran ini diperuntukkan bagi guru-guru TK dan praktisi pendidikan, bahwa dalam mengaplikasikan suatu pendekatan pembelajaran, sebaiknya : Guru harus merumuskan tujuan yang hendak dicapai oleh anak. Guru harus memahami tahapan perkembangan anak Guru harus memahami karakteristik anak Guru harus memahami konsep dasar , kelebihan dan kekurangan setiap pendekatan pembelajaran, sehingga tidak terjadi kesalahan dalam penerapan konsepnya di lapangan. Guru harus dapat memilih pendekatan pembelajaran sesuai dengan situasi dan kondisi anak didik, kondisi keuangan, dan kemampuan guru itu sendiri.

26

BAB IV DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA Solehudin (2002) , Konsep Dasar Pendidikan Anak Prasekolah , Bandung: FIP UPI Florentinabe'o. (2009). Prinsip Dasar dan Penerapan Metode. (Online) http://watujaji.blogspot.com/20 09/02/prinsip-dasar-dan-penerapan-metode.html Morrison, S George (1988). Early Childhood Educational To Day. New Jersey: Pearson Education Morrison, S George. (2012). Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta : Pt Indeks (Online) http://www.bjgp-rizal.com/2013/05/menerapkan-konsep-montessori-di-sekolah. html#. UdEIjt jJTIU http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PGTK/197408062001121-BADRU_ZAMAN/ Bahan_Perkuliahan_Pendekatan_Montessori.pdf Hunt, J . MCV (1971) ,The Montessori Method , New York : Schocken Book Wikipedia.com.(2007). Montessori Method. Free Encyclopedia. Kurikulum montessori "Scientific Paedagogy as applied to child education in the children's house.

27