Anda di halaman 1dari 16

KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT PALANG MERAH INDONESIA Nomor: 002 /KEP/PP PMI/I/2011 TENTANG STATUTA UNIT DONOR DARAH

PALANG MERAH INDONESIA PENGURUS PUSAT PALANG MERAH INDONESIA Menimbang : a. bahwa Upaya Kesehatan Transfusi Darah adalah merupakan kegiatan yang ditugaskan kepada Palang Merah Indonesia berdasarkan Peraturan Perundang-undangan; b. bahwa penyediaan darah harus dikelola secara profesional, berkualitas, aman dan efektif, serta memenu hi ketentuanketentuan/kaidah-kaidah Nasional maupun Internasional; c. bahwa Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia perlu dikembangkan menjadi Unit yang profesional dan memberi perlindungan hukum dalam pelayanan penyediaan darah; d. bahwa untuk maksud tersebut dipandang perlu menyusun Statuta Penyelenggaraan Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan penyediaan darah dan untuk menumbuhkan kepastian hukum pengelolaan Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia; e. bahwa Statuta Penyelenggaraan Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia perlu dituangkan dalam Keputusan Pengurus Pusat Palang Merah Indonesia. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan; 2. Undang-Undang Nomor 10 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik; 3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 478/Menkes/Per/X/1990 tentang Upaya Kesehatan di Bidang Transfusi Darah; 4. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 423/Menkes/SK/IV/2007 tentang Kebijakan Peningkatan Kualitas dan Akses Pelayanan Penyediaan Darah; 5. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Perhimpunan Palang Merah Indonesia; f. Kesimpulan Musyawarah Kerja Nasional Palang Merah Indonesia tanggal 28-30 Maret 2010 di Bandung; g. Keputusan Pengurus Pusat Palang Merah Indonesia Nomor: 118/KEP/Pengurus Pusat/VIII/2009 tanggal 26 Agustus tahun

2009, tentang Pokok-pokok Penyelenggaraan Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia. Memperhatikan : Masukan dari para Pengurus Pusat Palang Merah Indonesia tentang penyempurnaan rancangan Statuta Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia. MEMUTUSKAN Menetapkan : STATUTA UNIT DONOR DARAH PALANG MERAH INDONESIA

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan: a. Palang Merah Indonesia adalah satu-satunya organisasi Kepalangmerahan yang berstatus badan hukum dan disahkan dengan Keputusan Presiden Nomor 25 tahun 1950 dan Keputusan Presiden Nomor 246 tahun 1963 yang diberi tugas oleh Pemerintah untuk melaksanakan Upaya Kesehatan Transfusi Darah atau UKTD berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 1980 Tentang Transfusi Darah dan selanjutnya disebut PMI; b. Pelayanan Penyediaan Darah adalah upaya kesehatan yang terdiri dari serangkaian kegiatan mulai dari pengerahan dan pelestarian donor, penyediaan darah, dan pendistribusian darah transfusi untuk tindakan medis pemberian darah kepada resipien dengan tujuan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan; c. Pendonor darah adalah orang yang menyumbangkan darahnya untuk maksud dan tujuan transfusi darah dan selanjutnya disebut donor darah; d. Unit Transfusi Darah PMI adalah sarana pelayanan kesehatan yang melaksanakan kegiatan penyediaan darah untuk transfusi untuk selanjutnya disebut Unit Donor Darah PMI atau disingkat UDD PMI; e. Standar pelayanan penyediaan darah adalah ketentuan yang berisi persyaratan tentang gedung, tenaga, peralatan, bahan habis pakai serta prosedur pelayanan penyediaan darah; f. Pengurus Pusat Palang Merah Indonesia adalah kepengurusan PMI yang dipilih oleh Musyawarah Nasional PMI yang selanjutnya disebut Pengurus Pusat; g. Kepala adalah pimpinan UDD PMI di tingkat Pusat, UDD PMI Tipe A dan UDD PMI Tipe B yang selanjutnya disebut Direktur;

h. Biaya Penggantian Pengolahan Darah adalah biaya yang dibebankan kepada pasien pemakai darah sebagai biaya pengganti pengolahan darah yang tidak terbiayai oleh pemerintah, dan digunakan untuk pengolahan darah guna menjaga kesinambungan pelayanan penyediaan darah oleh PMI tanpa mencari keuntungan dan selanjutnya disebut BPPD; i. Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, selanjutnya disebut Pemerintah; dan j. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati, atau Walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. BAB II ASAS, TUJUAN DAN KEDUDUKAN Pasal 2 Asas UDD PMI berasaskan Pancasila. Pasal 3 Tujuan UDD PMI mempunyai tujuan: a. meningkatkan derajat kesehatan melalui pengelolaan darah yang berkualitas; b. terwujudnya pelayanan penyediaan darah yang aman, tepat waktu, terjangkau dan berkesinambungan; dan c. meningkatkan kinerja UDD PMI. Pasal 4 Kedudukan UDD PMI merupakan unit pelayanan teknis yang berkedudukan di bawah masing-masing tingkat Kepengurusan PMI. BAB III KEWENANGAN Pasal 5 Kewenangan PMI Pusat (1) PMI Pusat mempunyai kewenangan menetapkan norma, standar, prosedur, kriteria, dan pengawasan pelayanan penyediaan darah secara nasional. (2) Melakukan pembinaan terhadap PMI Provinsi, Kabupaten/Kota yang mengelola UDD.

Pasal 6 Kewenangan PMI Provinsi (1) PMI Provinsi mempunyai kewenangan menetapkan kebijakan teknis operasional dan teknis administratif pelayanan penyediaan darah UDD PMI di wilayah Provinsi. (2) Membantu melakukan pembinaan terhadap PMI Kabupaten/Kota yang mengelola UDD. Pasal 7 Kewenangan PMI Kabupaten/Kota PMI Kabupaten/Kota mempunyai kewenangan menetapkan kebijakan teknis administratif pelayanan penyediaan darah UDD PMI di wilayah Kabupaten/Kota. Pasal 8 Ketentuan tentang Kewenangan sebagaimana diatur dalam pasal 5, pasal 6 dan pasal 7 ditetapkan lebih lanjut oleh Pengurus Pusat. BAB IV ORGANISASI Pasal 9 Tipologi (1) UDD PMI dibagi dalam tipologi yang wilayah kerjanya tidak mengikuti batasan wilayah administrasi Pemerintahan. (2) Tipologi UDD PMI terdiri dari: a. UDD PMI Pusat; b. UDD PMI Tipe A; c. UDD PMI Tipe B; dan d. UDD PMI Tipe C. (3) Penentuan tipologi UDD PMI dan wilayah kerjanya ditetapkan oleh Pengurus Pusat. Pasal 10 Persyaratan Pembentukan (1) Syarat umum pembentukan UDD PMI sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (2) adalah: a. tenaga yang kompeten di bidang pelayanan penyediaan darah; b. gedung dan fasilitas sesuai dengan standar pelayanan penyediaan darah; c. ijin pendirian; d. ijin operasional dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia/Dinas Kesehatan setempat; dan e. kejelasan potensi donor dan kebutuhan darah. (2) UDD PMI dibentuk dan ditetapkan oleh Pengurus di tingkatannya berdasarkan persetujuan dari Pengurus Pusat.

(3) Persyaratan teknis pembentukan UDD sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (2) ditetapkan lebih lanjut oleh Pengurus Pusat. Pasal 11 Ketentuan tentang persyaratan pembentukan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 10 diatur lebih lanjut oleh Pengurus Pusat. Pasal 12 Tugas UDD PMI Pusat UDD PMI Pusat mempunyai tugas antara lain: a. melakukan pembinaan teknis dan manajemen; b. melakukan pemantauan dan penerapan sistem kualitas; c. melakukan pendidikan dan pelatihan; d. sebagai rujukan; e. melakukan penelitian/pengembangan; f. koordinator sistem jejaring penyediaan darah; g. penyediaan logistik; dan h. penyedia darah transfusi secara nasional. Pasal 13 Tugas UDD PMI Tipe A UDD PMI Tipe A mempunyai tugas antara lain: a. sebagai penyedia darah transfusi; b. melakukan pembinaan teknis dan manajemen; c. menerapkan sistem kualitas; d. melakukan pendidikan dan pelatihan; e. sebagai rujukan; f. melakukan penelitian/pengembangan; dan g. koordinator sistem jejaring penyediaan darah di wilayahnya. Pasal 14 Tugas UDD PMI Tipe B UDD PMI Tipe B mempunyai tugas antara lain: a. sebagai penyedia darah transfusi; b. menerapkan sistem kualitas; c. melakukan penelitian/pengembangan; dan d. pengelolaan sistem jejaring penyediaan darah di wilayahnya. Pasal 15 Tugas UDD PMI Tipe C UDD PMI Tipe C mempunyai tugas antara lain melaksanakan kegiatan pengelolaan pengambilan darah.

Pasal 16 Ketentuan tentang pembinaan teknis sebagaimana dalam pasal 12 dan ketentuan tentang tugas sebagaimana dimaksud dalam pasal 13, pasal 14 dan pasal 15 diatur lebih lanjut oleh Pengurus Pusat. Pasal 17 Struktur Kepengurusan UDD PMI Pusat Struktur Kepengurusan UDD PMI Pusat terdiri dari: a. Dewan Pembina; b. Direktur; c. Kepala Bidang; dan d. Kepala Sub Bidang. Pasal 18 Dewan Pembina (1) Dewan Pembina berjumlah 5 (lima) orang yang terdiri dari: a. 3 (tiga) orang dari Pengurus Pusat; b. 1 (satu) orang dari Organisasi Profesi di Bidang Pelayanan Penyediaan Darah; dan c. 1 (satu) orang dari Klinisi di Bidang Hematologi. (2) Dewan Pembina terdiri dari Ketua, Sekretaris dan Anggota. (3) Ketua Dewan Pembina dipilih oleh anggota dewan pembina. (4) Dewan Pembina dapat dibantu oleh staf sekretariat. (5) Dewan Pembina bertanggung jawab kepada Ketua Umum PMI. Pasal 19 Tugas Dewan Pembina Dewan Pembina mempunyai tugas: a. menetapkan kebijakan umum pelayanan penyediaan darah oleh PMI; b. melakukan pembinaan dan pengawasan; c. melakukan evaluasi program kerja pimpinan UDD PMI Pusat; d. menyempurnakan kebijakan pimpinan UDD PMI Pusat; dan e. melakukan evaluasi kinerja UDD PMI secara nasional. Pasal 20 Rapat Dewan Pembina (1) Rapat dewan pembina dilaksanakan sekurang-kurangnya sekali dalam 3 (tiga) bulan. (2) Rapat dewan pembina dengan pimpinan UDD PMI Pusat dilaksanakan sekurangkurangnya sekali dalam 1 (satu) bulan.

Pasal 21 Pimpinan UDD PMI Pusat (1) UDD PMI Pusat dipimpin oleh seorang Direktur dan dapat dibantu oleh seorang Wakil Direktur serta Kepala Bidang sesuai dengan kebutuhan. (2) Direktur UDD PMI Pusat mempunyai tugas: a. menetapkan kebijakan teknis pelaksanaan tugas UDD PMI Pusat; b. melakukan koordinasi pelaksanaan teknis dan manajemen di semua tingkatan UDD PMI; c. melakukan pembinaan teknis kepada semua tingkatan UDD PMI; d. melakukan pembinaan manajemen keuangan dan kepegawaian kepada semua tingkatan UDD PMI; e. melakukan koordinasi teknis dengan lembaga pemerintah dan non pemerintah di tingkat pusat; dan f. mewakili UDD PMI Pusat di dalam dan di luar pengadilan. (3) Dalam melaksanakan tugasnya Direktur UDD PMI Pusat bertanggung jawab kepada Pengurus Pusat melalui Dewan Pembina. (4) Tugas dan tanggung jawab Wakil Direktur dan Kepala Bidang ditetapkan dengan keputusan Direktur UDD PMI Pusat. Pasal 22 Pimpinan UDD PMI Tipe A (1) UDD PMI Tipe A dipimpin oleh seorang Direktur dan dibantu oleh Kepala Bagian sesuai dengan kebutuhan. (2) Direktur UDD PMI Tipe A mempunyai tugas: a. menetapkan kebijakan teknis pelaksanaan tugas UDD PMI Tipe A; b. melakukan koordinasi pelaksanaan teknis dan manajemen di UDD PMI Tipe B dan C; c. melakukan pembinaan teknis kepada UDD PMI Tipe B dan C; d. melakukan pembinaan manajemen keuangan dan kepegawaian kepada UDD PMI Tipe B dan C; e. melakukan koordinasi teknis dengan lembaga pemerintah dan non pemerintah di wilayahnya; dan f. mewakili UDD PMI Tipe A di dalam dan di luar pengadilan. (3) Dalam melaksanakan tugasnya Direktur UDD PMI Tipe A bertanggung jawab kepada Pengurus setempat. (4) Ketentuan tentang pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf (c) dan huruf (d) diatur lebih lanjut oleh Direktur UDD Pusat. Pasal 23 Pimpinan UDD PMI Tipe B (1) UDD PMI Tipe B dipimpin oleh seorang Direktur dan dibantu oleh Kepala Bagian sesuai dengan kebutuhan.

(2) Direktur UDD PMI Tipe B mempunyai tugas: a. menetapkan kebijakan teknis pelaksanaan tugas UDD PMI Tipe B; b. melakukan koordinasi pelaksanaan teknis dan manajemen di UDD PMI Tipe C; c. melakukan pembinaan teknis kepada UDD PMI Tipe C; d. melaksanakan manajemen keuangan dan kepegawaian di UDD PMI Tipe B dan UDD PMI Tipe C; e. melakukan koordinasi teknis dengan lembaga pemerintah dan non pemerintah di wilayahnya; dan f. mewakili UDD PMI Tipe B di dalam dan di luar pengadilan. (3) Dalam melaksanakan tugasnya Direktur UDD PMI Tipe B bertanggung jawab kepada Pengurus setempat. (4) Tugas dan tanggung jawab Kepala Bagian ditetapkan dengan keputusan Direktur UDD PMI Tipe B. Pasal 24 Pimpinan UDD PMI Tipe C (1) UDD PMI Tipe C dapat dibentuk jika di wilayah administrasi pemerintah yang bersangkutan terdapat UDD PMI Pusat atau UDD PMI Tipe A atau UDD PMI Tipe B. (2) UDD PMI Tipe C sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat dibentuk di tempat keramaian umum seperti: Pusat Perbelanjaan, Kampus, Stasiun, Terminal. (3) UDD PMI Tipe C dipimpin oleh seorang Koordinator dan dibantu oleh staf teknis sesuai dengan kebutuhan. (4) Koordinator UDD PMI Tipe C mempunyai tugas: a. melaksanakan dan mengawasi kegiatan pengelolaan pengambilan darah; b. melakukan sosialisasi kegiatan donor darah sukarela; dan c. melakukan pembagian tugas staf teknis. Pasal 25 Persyaratan Direktur Persyaratan Direktur adalah: a. memiliki ijasah dokter umum/spesialis; b. memiliki pengalaman di bidang pelayanan kesehatan; c. berusia maksimal 55 (lima puluh lima) tahun; d. sehat jasmani dan rohani; dan e. bukan pengurus PMI. Pasal 26 Masa Jabatan Direktur (1) Masa jabatan Direktur 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang untuk 1 (satu) kali masa jabatan. (2) Masa jabatan Direktur adalah terhitung sejak tanggal ditetapkan. (3) Masa pengabdian sebagai Direktur berakhir sejak tanggal ditetapkan.

Pasal 27 Pengangkatan Direktur (1) Direktur UDD PMI Pusat diangkat oleh Pengurus Pusat. (2) Direktur UDD PMI Tipe A dan UDD PMI Tipe B diangkat oleh Pengurus PMI di setiap tingkatan. (3) Koordinator UDD PMI Tipe C diangkat oleh Pengurus setempat. (4) Pengangkatan sebagaimana dimaksud ayat (2) setelah berkonsultasi dengan Pengurus PMI satu tingkat di atasnya dan dilakukan setelah mendapat persetujuan dari Pengurus Pusat. (5) Pengangkatan koordinator sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berdasarkan usul Direktur UDD PMI Pusat, atau Direktur UDD PMI Tipe A, atau Direktur UDD PMI Tipe B. Pasal 28 Pemberhentian Direktur UDD (1) Direktur UDD diberhentikan apabila: a. mendapat promosi jabatan; b. dipindahkan dalam jabatan yang setara; c. melanggar AD/ART dan kebijakan Pengurus; d. sakit berkepanjangan yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter yang ditunjuk; e. mengundurkan diri; f. berhalangan tetap; dan g. diancam dengan hukuman pidana setinggi-tingginya 5 (lima) tahun. (2) Ketentuan tentang pemberhentian Direktur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut oleh Pengurus Pusat. Pasal 29 Persyaratan pegawai (1) Persyaratan Calon Pegawai UDD PMI adalah: a. Warga Negara Indonesia (WNI); b. berusia minimal 18 (delapan belas) tahun atau sudah pernah menikah dan maksimal 30 (tiga puluh) tahun; c. memiliki ijasah sekurang-kurangnya Diploma-1 (D1) di bidang teknologi transfusi darah untuk tenaga teknis; d. memiliki ijasah sekurang-kurangnya Diploma-3 (D3) untuk bidang administrasi, keuangan, kepegawaian dan logistik; dan e. bersedia mengikuti peraturan kepegawaian PMI. (2) Ketentuan tentang persyaratan pegawai UDD PMI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan lebih lanjut oleh Pengurus Pusat.

Pasal 30 Pengangkatan pegawai (1) Pegawai UDD PMI di segenap tingkatan adalah pegawai PMI pada tingkat kepengurusan masing-masing. (2) Pegawai UDD PMI diangkat oleh Pengurus atas usul Direktur UDD PMI di tingkat masing-masing. (3) Pengurus tidak diperkenankan merangkap menjadi Pegawai UDD. (4) Rekrutmen sumber daya manusia untuk UDD PMI dapat dari umum dan atau Pegawai Negeri Sipil yang dipekerjakan/diperbantukan berdasarkan persyaratan yang diatur dalam pokok-pokok kepegawaian PMI. Pasal 31 Pemberhentian Pegawai (1) Pemberhentian Pegawai UDD PMI harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: a. berhalangan tetap; b. melanggar AD/ART; c. sakit berkepanjangan yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter yang ditunjuk; d. mengundurkan diri; dan e. diancam dengan hukuman pidana setinggi-tingginya 5 (lima) tahun. (2) Pegawai UDD PMI diberhentikan oleh Pengurus PMI setiap tingkatan atas persetujuan Pengurus Pusat. Pasal 32 Perlindungan Pegawai (1) Pegawai UDD PMI mempunyai hak untuk mendapatkan perlindungan hukum di bidang teknis medis pelayanan penyediaan darah. (2) Pengurus Pusat mempunyai kewajiban untuk melakukan koordinasi dengan instansi pemerintah dan atau instansi lainnya untuk memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 33 Penggajian Pegawai (1) Gaji pegawai UDD PMI terdiri dari penghasilan dan tunjangan yang merupakan bagian dari sistem penggajian PMI. (2) Pejabat struktural UDD PMI diberikan tunjangan jabatan struktural yang disesuaikan dengan jabatannya. (3) Pegawai Negeri Sipil yang dipekerjakan di UDD PMI selain menerima gaji sebagai Pegawai Negeri Sipil dapat diberikan tambahan penghasilan.

(4) Sistem penggajian pegawai UDD PMI ditetapkan oleh Keputusan PMI Pusat berdasarkan ketentuan yang diatur dalam pokok-pokok kepegawaian PMI. Pasal 34 Penghargaan Pegawai Pemberian penghargaan kepada pegawai UDD PMI ditetapkan oleh Pengurus sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam pokok-pokok Kepegawaian PMI. Pasal 35 Ketentuan tentang pensiun pegawai UDD adalah sebagaimana diatur dalam pokok-pokok Kepegawaian PMI. Pasal 36 Hubungan UDD dengan Markas PMI Hubungan UDD dengan Markas PMI merupakan hubungan administrasi yang meliputi kepegawaian, keuangan, dan perlengkapan. Pasal 37 Perlengkapan (1) Standarisasi dan pengadaan perlengkapan untuk UDD dilaksanakan oleh PMI Pusat. (2) Ketentuan mengenai standarisasi dan pengadaan perlengkapan UDD PMI dan pengadaannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan lebih lanjut oleh Pengurus Pusat. Pasal 38 Sumber Dana Sumber dana UDD PMI diperoleh dari: a. subsidi/hibah dari Pemerintah Pusat dan Daerah; b. subsidi dari PMI Pusat dan Daerah; c. jasa pelayanan logistik; d. jasa pelayanan produk darah; dan e. bantuan/sumbangan yang tidak mengikat. Pasal 39 Dalam melaksanakan ketentuan tentang jasa pelayanan logistik sebagaimana dimaksud dalam pasal 38 huruf c, UDD dapat memperoleh selisih jasa pelayanan.

Pasal 40 Ketentuan tentang jasa pelayanan logistik sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 38 dan tentang selisih jasa pelayanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 39 ditetapkan lebih lanjut oleh Pengurus Pusat. Pasal 41 Pengelolaan Keuangan (1) Pengelolaan Keuangan UDD PMI tertuang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja UDD PMI. (2) Anggaran Pendapatan dan Belanja UDD PMI disahkan oleh Pengurus sesuai dengan tingkatannya. (3) Tahun anggaran UDD PMI adalah sama dengan tahun anggaran Pemerintah. (4) Pengelolaan keuangan UDD PMI dilakukan dengan sistem akuntansi yang akuntabel dan transparan. (5) Keuangan UDD PMI harus dikelola oleh staf UDD PMI dan tidak diperkenankan untuk dikelola oleh pengurus. Pasal 42 Penghitungan BPPD (1) Penghitungan BPPD didasarkan pada biaya investasi dan operasional UDD PMI. (2) Sumber dana yang berasal dari BPPD digunakan untuk pengelolaan donor darah, penyediaan darah transfusi dan pengembangan pelayanan penyediaan darah. (3) Ketentuan mengenai dasar perhitungan dan besaran BPPD ditetapkan lebih lanjut oleh Pengurus Pusat setelah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan. Pasal 43 Penyimpanan Keuangan (1) Keuangan UDD PMI disimpan di Bank Pemerintah atas nama UDD PMI. (2) Pengeluaran keuangan harus di tanda tangani sekurang-kurangnya 2 (dua) orang yaitu Direktur UDD PMI dan satu orang lainnya dari UDD PMI yang ditunjuk. Pasal 44 Laporan Keuangan (1) Laporan keuangan UDD PMI dibuat setiap bulanan, triwulan, semester, dan tahunan dan disahkan oleh Pengurus setempat sesuai dengan tingkatannya dan dilaporkan pada Pengurus setingkat diatasnya. (2) Sistem pelaporan keuangan ditetapkan oleh Pengurus Pusat.

Pasal 45 Pemeriksaan Keuangan Pemeriksaan keuangan dilakukan oleh: a. Unit Internal Audit PMI Pusat; atau b. Tenaga Akuntan Bawasda; atau c. Jasa tenaga ahli akuntan publik. Pasal 46 Kualitas Penyediaan Darah (1) Kualitas penyediaan darah di UDD PMI didasarkan pada Standar Kualitas Penyediaan Darah Nasional. (2) Penilaian kualitas penyediaan darah UDD PMI Tipe A dan Tipe B dilakukan oleh UDD PMI Pusat. (3) Ketentuan mengenai penilaian kualitas penyediaan darah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan lebih lanjut oleh Pengurus Pusat. BAB V KERJASAMA, PENGHARGAAN DONOR DAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN Pasal 47 Kerjasama (1) Pengurus Pusat dapat melakukan kerjasama dengan Pemerintah, Pemerintah Daerah dan atau pihak lain untuk menjamin dan meningkatkan kualitas serta terpenuhinya kebutuhan darah. (2) UDD PMI dapat melakukan kerjasama teknis dengan Rumah Sakit sesuai dengan kebutuhan. Pasal 48 Penghargaan (1) Donor darah sukarela dapat diberikan penghargaan. (2) Pemberian penghargaan dapat dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan PMI. (3) Mekanisme dan prosedur pemberian penghargaan kepada donor darah sukarela sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Pengurus Pusat. Pasal 49 Sistem Informasi Manajemen (1) Data UDD PMI dikelola dengan Sistem Informasi Manajemen.

(2) Sistem Informasi Manajemen UDD PMI meliputi antara lain: pelaporan dan pengolahan data donor, pengambilan, pengolahan, penyimpanan, dan pendistribusian darah, serta pengelolaan logistik dan keuangan. (3) Ketentuan tentang Sistim Informasi Manajemen UDD PMI ditetapkan lebih lanjut oleh Pengurus Pusat. BAB VI DEWAN ETIK Pasal 50 (1) Pengurus Pusat dapat membentuk Dewan Etik. (2) Dewan Etik berjumlah 5 (lima) orang yang terdiri dari 3 (tiga) orang dari Pengurus Pusat, 1 (satu) orang dari bidang hukum yang sesuai dengan keahliannya, 1 (satu) orang dari UDD PMI. (3) Dewan Etik diketuai oleh Pengurus Pusat. (4) Dalam melaksanakan tugasnya Dewan Etik dapat dibantu oleh tenaga administrasi dan tenaga ahli. Pasal 51 Tugas Dewan Etik Dewan Etik mempunyai tugas: a. melakukan investigasi terjadinya permasalahan teknis penyediaan darah pada UDD PMI; dan b. memberikan rekomendasi kepada Ketua Umum PMI hasil investigasi permasalahan penyediaan darah. BAB VII LARANGAN DAN SANKSI Pasal 52 Larangan Pegawai PMI dilarang: a. memperjual belikan darah; b. melakukan pelayanan penyediaan darah yang tidak memenuhi persyaratan; c. melakukan penelitian terkait pelayanan penyediaan darah tanpa memiliki perijinan dari instansi yang berkompeten; dan d. mengeluarkan dan memasukkan darah untuk kepentingan transfusi dari dan ke wilayah Republik Indonesia tanpa mengikuti aturan yang berlaku.

Pasal 53 Sanksi (1) Pegawai PMI yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 52 huruf a dan huruf b dikenakan sanksi sesuai dengan Ketentuan Peraturan Perundangundangan. (2) Pegawai PMI yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 52 huruf c dan huruf d dikenakan sanksi administrasi berupa: a. teguran; b. peringatan tertulis; c. penggantian atau pengembalian dana; d. pemberhentian dari jabatan; dan e. pemutusan hubungan kerja. (3) Pemberian sanksi terhadap pelanggaran sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan oleh Pengurus Pusat. Pasal 54 UDD yang melanggar ketentuan tentang pembentukan UDD sebagaimana dimaksud dalam pasal 10 dapat dikenakan sanksi berupa: a. teguran; b. peringatan tertulis; c. pencabutan ijin operasional sementara; dan d. penghentian kegiatan. Pasal 55 Ketentuan mengenai sanksi sebagaimana dimaksud dalam pasal 53 dan pasal 54 ditetapkan lebih lanjut oleh Pengurus Pusat. BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 56 (1) Penyebutan nama dari Unit Transfusi Darah/UTD PMI menjadi Unit Donor Darah/UDD PMI dilakukan paling lambat 6 (enam) bulan setelah ditetapkannya statuta ini. (2) Peraturan Pengurus Pusat dan Keputusan Direktur UDD PMI Pusat sebagai tindak lanjut dari statuta ini diselesaikan paling lambat 1 (satu) tahun setelah ditetapkannya statuta ini. (3) Perubahan kedudukan UTD Provinsi, Kabupaten/Kota yang ada menjadi UDD PMI Tipe A atau UDD PMI Tipe B ditetapkan oleh Pengurus Pusat paling lambat 1 (satu) tahun setelah ditetapkannya statuta ini. (4) Peraturan Pengurus Pusat dan Keputusan Direktur UDD PMI Pusat yang sudah ada tetap berlaku sepanjang tidak dicabut atau dirubah dengan statuta ini.

BAB IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 57 (1) Dengan berlakunya Keputusan Statuta ini maka Keputusan Pengurus Pusat Nomor: 118/KEP/Pengurus Pusat/VII/2009 tanggal 1 Juli 2009 dinyatakan tidak berlaku. (2) Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan mengikat untuk dilaksanakan di seluruh jajaran PMI.

Ditetapkan di Pada tanggal

: Jakarta : 6 Januari 2011

PENGURUS PUSAT PALANG MERAH INDONESIA Ketua Umum

H.M. JUSUF KALLA


Tembusan kepada Yth: 1. Pengurus Pusat PMI 2. UDD PMI diseluruh Indonesia 3. Pengurus Provinsi PMI di seluruh Indonesia 4. Pengurus Kabupaten/Kota PMI di seluruh Indonesia.