Anda di halaman 1dari 54

LAPORAN KASUS MANAJEMEN PENANGANAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) PUSKESMAS BANGETAYU PERIODE 30 JULI 29 SEPTEMBER 2012

2 Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung Semarang

..

Disusun oleh: 1. Aji Setiyo Budi 2. Manik Permatasari 3. Erlita Yuliana 4. Nian Puspita KW 5. Reza Rahardian 6. Ryan Dwi Prabowo (01.202.4310) (01.207.5517) (01.208.5647) (01.208.5732) (01.208.5762) 01.208.5776)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG 2012

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat Puskesmas Bangetayu 30 Juli 29 September 2012 Telah Disahkan

Semarang,

Agustus 2012

Mengetahui,

Kepala Puskesmas Bangetayu

Pembimbing

dr. Ninik Relaningsih

dr. Yuni Susanti

Mengetahui,

Pembimbing Kepaniteraan Klinik

Kepala Bagian IKM FK Unissula

Siti Thomas Zulaikah, SKM

dr. Budioro Broto Saputro, MPH

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan YME, yang telah memberikan rahmat karunia dan hidayah, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Puskesmas Bangetayu. Laporan kasus ini disusun untuk memenuhi tugas Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat. Laporan ini memuat data tentang kasus ISPA di Puskesmas Bangetayu, Kota Semarang. Laporan ini dapat terselesaikan berkat kerjasama tim dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk ini kami mengucapkan terima kasih sebesar - besarnya kepada yang terhormat : 1. Prof. dr. Budioro Broto Saputro, MPH, kepala departemen IKM FK Unissula Semarang 2. dr. Ophi Indria Desanti, Koordinator Pendidikan IKM FK Unissula Semarang 3. dr. Ninik Relaningsih, Kepala Puskesmas Bangetayu Semarang 4. dr. Dian Rukmorini selaku pebimbing di Puskesmas Bangetayu Kota Semarang. 5. Seluruh Staf Puskesmas Bangetayu Semarang 6. Semua pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan laporan kasus ini. Kami menyadari bahwa hasil penulisan Laporan kasus ini masih jauh dari kata sempurna karena keterbatasan waktu dan kemampuan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun guna kesempurnaan dan perbaikan laporan kasus ini agar lebih baik. Akhir kata kami berharap semoga laporan kasus ISPA di Puskesmas Bangetayu Kota Semarang ini bermanfaat bagi semua pihak. Semarang, Agustus 2012

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Usaha peningkatan kesehatan masyarakat pada kenyataannya tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan saja, karena masalah ini sangatlah kompleks, dimana penyakit yang terbanyak diderita oleh masyarakat terutama pada yang paling rawan yaitu ibu dan anak, ibu hamil dan ibu menyusui serta anak bawah lima tahun. Salah satu penyakit yang diderita oleh masyarakat terutama adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) yaitu meliputi infeksi akut saluran pernapasan bagian atas dan infeksi akut saluran pernapasan bagian bawah. ISPA adalah suatu penyakit yang terbanyak diderita oleh anak- anak, baik dinegara berkembang maupun dinegara maju dan sudah mampu. dan banyak dari mereka perlu masuk rumah sakit karena penyakitnya cukup gawat. Penyakit-penyakit saluran pernapasan pada masa bayi dan anak-anak dapat pula memberi kecacatan sampai pada,masa dewasa. dimana ditemukan adanya hubungan dengan terjadinya Chronic Obstructive Pulmonary Disease. ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang terjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya. 40 % -60 % dari kunjungan di Puskesmas adalah oleh penyakit ISPA. Dari seluruh kematian yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20 % -30 %.

Menurut data dari puskesmas Bangetayu semarang pada tahun 2011 sejumlah 1117 merupakan penderita ISPA dengan presentase 26,36% yang berat mengalami peningkatan dari tahun 2010 yaitu sejumlah 905 atau 23,39%. Dari uraian di atas, penulis bermaksud ingin mengetahui faktor faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya penyakit ISPA berdasarkan pendekatan H.L. Blum. 1.2.Tujuan 1.2.1. Tujuan Umum : Mengetahui dan menganalisa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penemuan penyakit ISPA dari aspek lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan kependudukan 1.2.2. Tujuan khusus Untuk memperoleh informasi mengenai faktor perilaku yang mempengaruhi terjadinya penyakit ISPA. Untuk memperoleh informasi mengenai faktor lingkungan yang mempengaruhi terjadinya penyakit ISPA. Untuk memperoleh informasi mengenai faktor pelayanan kesehatan yang mempengaruhi terjadinya penyakit ISPA. Untuk memperoleh informasi mengenai faktor genetik yang mempengaruhi terjadinya penyakit ISPA. Untuk melakukan proses tindak lanjut pada pasien ISPA.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi ISPA Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit saluran pernapasan atas atau bawah, biasanya menular, yang dapat menimbulkan berbagai spektrum penyakit yang berkisar dari penyakit tanpa gejala atau infeksi ringan sampai penyakit yang parah dan mematikan, tergantung pada patogen penyebabnya, faktor lingkungan, dan faktor pejamu. Namun demikian, di dalam pedoman ini ISPA didefinisikan sebagai penyakit saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh agen infeksius yang ditularkan dari manusia ke manusia. Timbulnya gejala biasanya cepat, yaitu dalam waktu beberapa jam sampai beberapa hari. Gejalanya meliputi demam, batuk, dan sering juga nyeri tenggorok, coryza (pilek), sesak napas, mengi, atau kesulitan bernapas. Contoh patogen yang menyebabkan ISPA yang dimasukkan dalam pedoman ini adalah rhinovirus, respiratory syncytial virus, paraininfluenzaenza virus, severe acute respiratory syndromeassociated coronavirus (SARS-CoV), dan virus Influenza (WHO, 2007). 2.2 Penyebab Penyakit ISPA Infeksi saluran pernafasan akut merupakan kelompok penyakit yang komplek dan heterogen, yang disebabkan oleh berbagai etiologi. Kebanyakan infeksi saluran pernafasan akut disebabkan oleh virus dan mikroplasma. Etiologi ISPA terdiri dari 300 lebih jenis bakteri, virus,dan

jamur. Bakteri penyebab ISPA misalnya: Streptokokus Hemolitikus, Stafilokokus, Pneumokokus, Hemofilus Influenza, Bordetella Pertusis, dan Korinebakterium Diffteria (Achmadi dkk., 2004). Bakteri tersebut di udara bebas akan masuk dan menempel pada saluran pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung. Biasanya bakteri tersebut menyerang anak-anak yang kekebalan tubuhnya lemah misalnya saat perubahan musim panas ke musim hujan (PD PERSI, 2002). Untuk golongan virus penyebab ISPA antara lain golongan miksovirus (termasuk di dalamnya virus para-influensa, virus influensa, dan virus campak), dan adenovirus. Virus para-influensa merupakan penyebab terbesar dari sindroma batuk rejan, bronkiolitis dan penyakit demam saluran nafas bagian atas. Untuk virus influensa bukan penyebab terbesar terjadinya terjadinya sindroma saluran pernafasan kecuali hanya epidemi-epidemi saja. Pada bayi dan anak-anak, virus-virus influenza merupakan penyebab terjadinya lebih banyak penyakit saluran nafas bagian atas daripada saluran nafas bagian bawah (PD PERSI, 2002). 2.3 Faktor Resiko ISPA Penyakit ISPA dapat disebabkan oleh berbagai penyebab seperti bakteri, virus, mycoplasma, jamur dan lain-lain. ISPA bagian atas umumnya disebabkan oleh Virus, sedangkan ISPA bagian bawah dapat disebabkan oleh bakteri , virus dan mycoplasma. ISPA bagian bawah yang disebabkan oleh bakteri umumnya mempunyai manifestasi klinis yang berat sehingga menimbulkan beberapa masalah dalam penanganannya.

Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus streptcocus, Stapilococcus, Pneumococcus, Hemofillus, Bordetella dan Corinebacterium. Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, Adenovirus, Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus dan lain-lain

(Anonim, 2002). ISPA ditularkan lewat udara. Pada saat orang terinfeksi batuk, bersin atau bernafas, bakteri atau zat virus yang menyebabkan ISPA dapat ditularkan pada orang lain (orang lain menghirup kuman tersebut). 2.3.1 Faktor yang dapat memudahkan penularan 2.3.1.1 Kuman (bakteria dan virus) yang menyebabkan ISPA mudah menular dalam rumah yang mempunyai kurang ventilasi (peredaran udara) dan ada banyak asap (baik asap rokok maupun asap api). 2.3.1.2 Orang yang bersin/batuk tanpa menutup mulut dan hidung akan mudah menularkan kuman pada orang lain. 2.3.1.3. Kuman yang menyebabkan ISPA mudah menular dalam rumah yang ada banyak orang (mis. banyak orang yang tinggal di satu rumah kecil). 2.3.2 Faktor Risiko ISPA Berdasarkan hasil penelitian dari berbagai negara termasuk Indonesia dan berbagai publikasi ilmiah, dilaporkan berbagai faktor baik untuk meningkatkan insiden (Morbiditas) maupun kematian (Mortalitas) akibat pneumonia (Anonim, 2003). Berbagai faktor risiko

yang meningkatkan kematian akibat pneumonia adalah umur di bawah 2 bulan, tingkat sosial ekonomi rendah, gizi kurang, berat badan lahir rendah, tingkat pendidikan ibu rendah, tingkat jangkauan pelayanan kesehatan rendah, imunisasi yang tidak memadai, menderita penyakit kronis dan aspek kepercayaan setempat dalam praktek pencarian pengobatan yang salah (Anonim, 2003). 2.3.2.1. Faktor host (diri) 2.3.2.1.1 Usia Kebanyakan infeksi saluran pernafasan yang sering mengenai anak usia dibawah 3 tahun, terutama bayi kurang dari 1 tahun. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak pada usia muda akan lebih sering menderita ISPA daripada usia yang lebih lanjut (Koch et al, 2003). 2.3.2.1.2 Jenis kelamin Meskipun secara keseluruhan di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia masalah ini tidak terlalu diperhatikan, namun banyak penelitian yang menunjukkan adanya perbedaan prevelensi penyakit ISPA terhadap jenis kelamin tertentu. Angka kesakitan ISPA sering terjadi pada usia kurang dari 2 tahun, dimana angka kesakitan ISPA

anak perempuan lebih tinggi daripada laki-laki di negara Denmark (Koch et al, 2003) 2.3.2.1.3 Status gizi Interaksi antara infeksi dan Kekurangan Kalori Protein (KKP) telah lama dikenal, kedua keadaan ini sinergistik, saling mempengaruhi, yang satu merupakan predisposisi yang lainnya (Tupasi, 1985). Pada KKP, ketahanan tubuh menurun dan virulensi pathogen lebih kuat sehingga

menyebabkan keseimbangan yang terganggu dan akan terjadi infeksi, utama sedangkan dalam salah satu

determinan

mempertahankan

keseimbangan tersebut adalah status gizi anak. 2.3.2.1.4 Status imunisasi Tupasi ketidakpatuhan peningkatan (1985) imunisasi mendapatkan berhubungan walaupun bahwa dengan tidak

penderita

ISPA

bermakna. Hal ini sesuai dengan penelitian lain yang mendapatkan bahwa imunisasi yang lengkap dapat memberikan peranan yang cukup berarti dalam mencegah kejadian ISPA (Koch et al, 2003). 2.3.2.1.5 Pemberian suplemen vitamin A

Pemberian vitamin A pada balita sangat berperan untuk masa pertumbuhannya, daya tahan tubuh dan kesehatan terutama pada penglihatan, reproduksi, sekresi sel mukus epitel dan untuk

mempertahankan diferensiasi.

yang

mengalami

2.3.2.1.6 Pemberian air susu ibu (ASI) ASI adalah makanan yang paling baik untuk bayi terutama pada bulan-bulan pertama

kehidupannya. ASI bukan hanya merupakan sumber nutrisi bagi bayi tetapi juga sebagai sumber zat antimikroorganisme yang kuat, karena adanya beberapa faktor yang bekerja secara sinergis membentuk sistem biologis. ASI dapat memberikan imunisasi pasif melalui penyampaian antibodi dan sel-sel imunokompeten ke permukaan saluran pernafasan atas (William and Phelan, 1994). 2.3.2.2 Faktor lingkungan 2.3.2.2.1 Rumah Rumah merupakan stuktur fisik, dimana orang menggunakannya untuk tempat berlindung yang dilengkapi dengan fasilitas dan pelayanan yang diperlukan, perlengkapan yang berguna untuk

kesehatan jasmani, rohani dan keadaan sosialnya yang baik untuk keluarga dan individu (WHO, 1989). Anak-anak yang tinggal di apartemen memiliki faktor resiko lebih tinggi menderita ISPA daripada anak-anak yang tinggal di rumah culster di Denmark (Koch et al, 2003). 2.3.2.2.2 Kepadatan hunian (crowded) Kepadatan hunian seperti luar ruang per orang, jumlah anggota keluarga, dan masyarakat diduga merupakan faktor risiko untuk ISPA. Penelitian oleh Koch et al (2003) membuktikan bahwa kepadatan hunian (crowded) mempengaruhi secara bermakna prevalensi ISPA berat. 2.3.2.2.3 Status sosial ekonomi Telah diketahui bahwa kepadatan penduduk dan tingkat sosioekonomi yang rendah mempunyai hubungan yang erat dengan kesehatan masyarakat. Tetapi status keseluruhan tidak ada hubungan antara status ekonomi dengan insiden ISPA, akan tetapi didapatkan korelasi yang bermakna antara kejadian ISPA berat dengan rendahnya status sosioekonomi (Darmawan,1995).

2.3.2.2.4 Kebiasaan merokok Pada keluarga yang merokok, secara statistik anaknya mempunyai kemungkinan terkena ISPA 2 kali lipat dibandingkan dengan anak dari keluarga yang tidak merokok. Selain itu dari penelitian lain didapat bahwa episode ISPA meningkat 2 kali lipat akibat orang tua merokok (Koch et al, 2003) 2.3.2.2.5 Polusi udara Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh pusat penelitian kesehatan Universitas

Indonesia untuk mengetahui efek pencemaran udara terhadap gangguan saluran pernafasan pada siswa sekolah dasar (SD) dengan membandingkan antara mereka yang tinggal di wilayah pencemaran udara tinggi dengan siswa yang tinggal di wilayah pencemaran udara rendah di Jakarta. Dari hasil penelitian tidak ditemukan adanya perbedaan kejadian baru atau insiden penyakit atau gangguan saluran pernafasan pada siswa SD di kedua wilayah pencemaran udara. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pencemaran menjadi tidak berbeda dengan wilayah dengan tingkat pencemaran tinggi sehingga tidak ada lagi tempat yang aman untuk semua orang

untuk tidak menderita gangguan saluran pemafasan. Hal ini menunjukkan bahwa polusi udara sangat berpengaruh terhadap terjadinya penyakit ISPA. Adanya ventilasi rumah yang kurang sempurna dan asap tungku di dalam rumah seperti yang terjadi di Negara Zimbabwe akan mempermudah terjadinya ISPA anak (Mishra, 2003). 2.4 Tanda dan Gejala ISPA Sebagian besar anak dengan ISPA memberikan gejala yang sangat penting yaitu batuk. Infeksi saluran nafas bagian bawah memberikan beberapa tanda lainnya seperti nafas yang cepat dan retraksi dada. Semua ibu dapat mengenali batuk tetapi mungkin tidak mengenal tanda-tanda lainnya dengan. Selain batuk gejala ISPA pada anak juga dapat dikenali yaitu flu, demam dan suhu tubuh anak meningkat lebih dari 38,5 0 Celcius dan disertai sesak nafas (PD PERSI, 2002). Menurut derajat keparahannya, ISPA dapat dibagi menjadi tiga golongan yaitu ISPA ringan bukan pneumonia; ISPA sedang, pneumonia; ISPA berat, pneumonia berat (Suyudi, 2002). Khusus untuk bayi di bawah dua bulan, hanya dikenal ISPA berat dan ISPA ringan (tidak ada ISPA sedang). Batasan ISPA berat untuk bayi kurang dari dua bulan adalah bila frekuensi nafasnya cepat (60 kali per menit atau lebih) atau adanya tarikan dinding dada yang kuat. Pada dasarnya ISPA ringan dapat berkembang menjadi ISPA sedang atau ISPA berat jika

keadaan memungkinkan misalnya pasien kurang mendapatkan perawatan atau daya tahan tubuh pasien sangat kurang. Gejala ISPA ringan dapat dengan mudah diketahui orang awam sedangkan ISPA sedang dan berat memerlukan beberapa pengamatan sederhana. 2.4.1 Gejala ISPA ringan Seorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan gejala sebagai berikut: a. Batuk. b. Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misalnya pada waktu berbicara atau menangis ). c. Pilek yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung. d. Panas atau demam, suhu badan lebih dari 370C atau jika dahi anak diraba dengan punggung tangan terasa panas. 2.5 Patogenesis ISPA Perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan berinteraksinya virus dengan tubuh. Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernafasan menyebabkan silia yang terdapat pada permukaan saluran nafas bergerak ke atas mendorong virus ke arah faring atau dengan suatu tangkapan refleks spasmus oleh laring. Jika refleks tersebut gagal maka virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa saluran pernafasan (Kending dan Chernick, 1983).

Iritasi virus pada kedua lapisan tersebut menyebabkan timbulnya batuk kering (Jeliffe, 1974). Kerusakan stuktur lapisan dinding saluran pernafasan menyebabkan kenaikan aktifitas kelenjar mukus yang banyak terdapat pada dinding saluran nafas, sehingga terjadi pengeluaran cairan mukosa yang melebihi noramal. Rangsangan cairan yang berlebihan tersebut menimbulkan gejala batuk (Kending and Chernick, 1983). Sehingga pada tahap awal gejala ISPA yang paling menonjol adalah batuk. Adanya infeksi virus merupakan predisposisi terjadinya infeksi sekunder bakteri. Akibat infeksi virus tersebut terjadi kerusakan mekanisme mukosiliaris yang merupakan mekanisme perlindungan pada saluran pernafasan terhadap infeksi bakteri sehingga memudahkan bakteri-bakteri patogen yang terdapat pada saluran pernafasan atas seperti streptococcus pneumonia, haemophylus influenza dan staphylococcus menyerang mukosa yang rusak tersebut (Kending dan Chernick, 1983). Infeksi sekunder bakteri ini menyebabkan sekresi mukus bertambah banyak dan dapat menyumbat saluran nafas sehingga timbul sesak nafas dan juga menyebabkan batuk yang produktif. Invasi bakteri ini dipermudah dengan adanya fakor-faktor seperti kedinginan dan malnutrisi. Suatu laporan penelitian menyebutkan bahwa dengan adanya suatu serangan infeksi virus pada saluran nafas dapat menimbulkan gangguan gizi akut pada bayi dan anak (Tyrell, 1980). Virus yang menyerang saluran nafas atas dapat menyebar ke tempattempat yang lain dalam tubuh, sehingga dapat menyebabkan kejang, demam, dan juga bisa menyebar ke saluran nafas bawah (Tyrell, 1980).

Dampak infeksi sekunder bakteripun bisa menyerang saluran nafas bawah, sehingga bakteri-bakteri yang biasanya hanya ditemukan dalam saluran pernafasan atas, sesudah terjadinya infeksi virus, dapat menginfeksi paruparu sehingga menyebabkan pneumonia bakteri (Shann, 1985). Penanganan penyakit saluran pernafasan pada anak harus diperhatikan aspek imunologis saluran nafas terutama dalam hal bahwa sistem imun di saluran nafas yang sebagian besar terdiri dari mukosa, tidak sama dengan sistem imun sistemik pada umumnya. Sistem imun saluran nafas yang terdiri dari folikel dan jaringan limfoid yang tersebar, merupakan ciri khas system imun mukosa. Ciri khas berikutnya adalah bahwa IgA memegang peranan pada saluran nafas atas sedangkan IgG pada saluran nafas bawah. Diketahui pula bahwa sekretori IgA (sIgA) sangat berperan dalam mempertahankan integritas mukosa saluran nafas (Siregar, 1994). Dari uraian di atas, perjalanan klinis penyakit ISPA ini dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu: a. Tahap prepatogenesis, penyebab telah ada tetapi penderita belum menunjukkan reaksi apa-apa. b. Tahap inkubasi, virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya memang sudah rendah. c. Tahap dini penyakit, dimulai dari munculnya gejala penyakit. Timbul gejala demam dan batuk.

d. Tahap lanjut penyakit, dibagi menjadi empat, yaitu dapat sembuh sempurna, sembuh dengan ateletaksis, menjadi kronis dan dapat meninggal akibat pneumonia. 2.6 Klasifikasi ISPA Banyaknya mikroorganisme yang menyebabkan infeksi saluran pernafasan akut ini cukup menyulitkan dalam klasifikasi dari segi kausa, hal ini semakin nyata setelah diketahui bahwa satu organisme dapat menyebabkan beberapa gejala klinis penyakit serta adanya satu macam penyakit yang bisa disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme tersebut (Mandal, dkk, 1984). Oleh karena itu klasifikasi ISPA hanya didasarkan pada : 2.6.1 Lokasi Anatomis a. Infeksi saluran pernafasan bagian atas. Merupakan infeksi akut yang menyerang hidung hingga faring. b. Infeksi saluran pernafasan bagian bawah. Merupakan infeksi akut yang menyerang daerah di bawah faring sampai dengan alveolus paru-paru. 2.6.2 Derajat keparahan penyakit WHO (1986) telah merekomendasikan pembagian ISPA menurut derajat keparahannya. Pembagian ini dibuat

berdasarkan gejala-gejala klinis yang timbul, dan telah

ditetapkan dalam lokakarya Nasional II ISPA tahun 1988. Adapun pembagiannya sebagai berikut : a. ISPA ringan Ditandai dengan satu atau lebih gejala berikut: 1. Batuk 2. Pilek dengan atau tanpa demam b. ISPA sedang Meliputi gejala ISPA ringan ditambah satu atau lebih gejala berikut: 1.Pernafasan cepat. 2. Wheezing (nafas menciut-ciut). 3. Sakit/keluar cairan dari telinga. 4. Bercak kemerahan (campak). c. ISPA berat Meliputi gejala sedang/ringan ditambah satu atau lebih gejala berikut: 1. Penarikan sela iga ke dalam sewaktu inspirasi. 2. Kesadaran menurun. 3. Bibir / kulit pucat kebiruan. 4. Stridor (nafas ngorok) sewaktu istirahat. 5. Adanya selaput membran difteri. Depkes RI (1991) membagi ISPA berdasarkan atas umur dan tandatanda klinis yang didapat yaitu :

a. Untuk anak umur 2 bulan - 5 tahun. Untuk anak dalam berbagai golongan umur ini ISPA

diklasifikasikan menjadi 3 yaitu : Pneumonia berat, tanda utama : 1. Adanya tanda bahaya, yaitu tak bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor, serta gizi buruk. 2. Adanya tarikan dinding dada ke belakang. Hal ini terjadi bila paru-paru menjadi kaku dan mengakibatkan perlunya tenaga untuk menarik nafas. 3. 4. 5. Nafas cuping hidung Suara rintihan Sianosis (pucat)

Pneumonia (tidak berat), tanda : 1. Tak ada tarikan dinding dada ke dalam Disertai nafas cepat: Lebih dari 50 kali / menit untuk usia 2 bulan 1 tahun. Lebih dari 40 kali / menit untuk usia 1 tahun 5 tahun. Bukan Pneumonia, tanda : 1. Tak ada tarikan dinding dada ke dalam. 2. Tak ada nafas cepat: Kurang dari 50 kali / menit untuk anak usia 2 bulan 1 tahun. Kurang dari 40 kali / menit untuk anak usia 1 tahun 5 tahun.

b. Anak umur kurang dari 2 bulan Untuk anak dalam golongan umur ini, diklasifikasikan menjadi 2 yaitu Pneumonia berat, tanda : 1. Adanya tanda bahaya yaitu kurang bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor, wheezing, demam atau dingin. 2. Nafas cepat dengan frekuensi 60 kali / menit atau lebih, atau 3. Tarikan dinding dada ke dalam yang kuat. Bukan Pneumonia, tanda : 1. Tidak ada nafas cepat. 2. Tak ada tarikan dinding dada ke dalam. 2.7 Penatalaksanaan Penyakit ISPA Penemuan dini penderita pneumonia dengan penatalaksanaan kasus yang benar merupakan strategi untuk mencapai dua dari tiga tujuan program (turunnya kematian karena pneumonia dan turunnya penggunaan antibiotik dan obat batuk yang kurang tepat pada pengobatan penyakit ISPA). Pedoman penatalaksanaan kasus ISPA akan memberikan petunjuk standar pengobatan penyakit ISPA yang akan berdampak mengurangi penggunaan antibiotik untuk kasus-kasus batuk pilek biasa, serta mengurangi penggunaan obat batuk yang kurang bermanfaat. Strategi penatalaksanaan kasus mencakup pula petunjuk tentang pemberian makanan dan minuman sebagai bagian dari tindakan penunjang yang penting bagi pederita ISPA. Penatalaksanaan ISPA meliputi langkah atau tindakan sebagai berikut:

2.7.1

Pemeriksaan Pemeriksaan artinya memperoleh informasi tentang penyakit tersebut dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada yang bersangkutan orang tua misalkan penderita ISPA pada anak-anak atau balita.

2.7.2

Klasifikasi ISPA dalam pencegahan Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai berikut: 2..7.2.1 Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada kedalam (chest indrawing). 2.7.2.2 Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat. 2.7.2.3 Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat. Rinofaringitis, faringitis dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia.

2.7.3

Pengobatan 2.7.3.1 Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik parenteral, oksigen dan sebagainya. 2.7.3.2 Pneumonia: diberi obat antibiotik kotrimoksasol peroral. Bila penderita tidak mungkin diberi kotrimoksasol atau ternyata dengan pemberian kontrmoksasol keadaan

penderita menetap, dapat dipakai obat antibiotik pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin atau penisilin prokain. 2.7.3.3 Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan perawatan di rumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang merugikan seperti kodein, dekstrometorfan dan, antihistamin. Bila demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol. Penderita dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan didapat adanya bercak nanah (eksudat) disertai

pembesaran kelenjar getah bening dileher, dianggap sebagai radang tenggorokan oleh kuman streptococcuss dan harus diberi antibiotik (penisilin) selama 10 hari. 2.7.4 Perawatan dirumah 2.7.4.1 Mengatasi panas (demam) Untuk anak usia 2 bulan samapi 5 tahun demam diatasi dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres, bayi dibawah 2 bulan dengan demam harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es). 2.7.4.2 Mengatasi batuk Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk nipis sendok teh dicampur dengan kecap atau madu sendok teh , diberikan tiga kali sehari. 2.7.4.3 Pemberian makanan Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika muntah. Pemberian ASI pada bayi misalkan yang menyusui tetap diteruskan. 2.7.4.5 Pemberian minuman

Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih banyak dari biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak, kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang diderita. 2.7.5 Pencegahan dan Pemberantasan Pencegahan dapat dilakukan dengan : a. Menjaga keadaan gizi agar tetap baik. b. Immunisasi. c. Menjaga kebersihan prorangan dan lingkungan. d. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA. Pemberantasan yang dilakukan adalah : a. Penyuluhan kesehatan yang terutama di tuj ukan pada para ibu. b. Pengelolaan kasus yang disempurnakan. c. Immunisasi

BAB III ANALISA SITUASI A. Lingkungan 1. Data Wilayah a. Batas Wilayah Puskesmas Bangetayu Utara : Kelurahan Bandardowo Barat : Kelurahan Muktiharjo Lor Selatan : Kecamatan Pedurungan Timur : Kabupaten Demak

b. Luas Wilayah Luas wilayah kerja Puskesmas Bangetayu adalah 11,67 km2 c. Jumlah Kelurahan Jumlah kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Bangetayu adalah 6 (enam) kelurahan, yaitu: 1) Bangetayu Kulon 2) Bangetayu Wetan 3) Sembungharjo 4) Penggaron Lor 5) Kudu 6) Karangroto

2. Keadaan Geografis Secara Geografis puskesmas Bangetayu berada pada ketinggian tanah dari permukaan laut 1,5-2 meter yang makin kearah utara makin rendah sehingga bila hujan lebat di beberapa daerah akan tergenang air. 3. Transportasi 1) 2) Jarak Puskesmas - Ke Dinas Kesehatan Kota Jaak Puskesmas - Ke Kota : 8,5 Km : 8,4 Km

3)

Alat Transportasi untuk mencapai kota adalah bus dan angkutan kota

(angkot). 4. Sarana Komunikasi Sarana komunikasi dari puskesmas ke luar adalah telepon, radio, surat kabar. 5. Keadaan Penduduk Berdasarkan sumber dari kantor statistik tahun 2010, jumlah penduduk di wilayah Puskesmas Bangetayu sebanyak 47.535 terdiri dari : Laki-laki Perempuan Jumlah KK Jumlah jiwa per KK rata rata Kepadatan penduduk Sex ratio : 23.711 jiwa : 23.826 jiwa : 12.519 KK : 3,8 jiwa : 4073 jiwa/km2

: Laki laki : perempuan = 49,88 % : 50,12 %

Tabel 1. Komposisi penduduk menurut produktivitas di wilayah kerja Puskesmas Bangetayu tahun 2010 INTERVAL UMUR 0 4 tahun 5 9 tahun 10 - 14 tahun 15 - 19 tahun 20 - 24 tahun 25 - 29 tahun 30 - 34 tahun 35 39 tahun' JML PENDUDUK PERSENTASE (%) 6.679 jiwa 4.340 jiwa 3.868 jiwa 3.852 jiwa 4.240 jiwa 4.275 jiwa 3.673 jiwa 3.655 jiwa 14,05 9,13 8,14 8,10 8,92 8,99 7,73 7,69

40 - 44 tahun 45 - 49 tahun 50 - 54 tahun 55 - 59 tahun 60 - 64 tahun 65 - 69 tahun 70 - 74 tahun > 75 tahun IL

3.299 jiwa 2.784 jiwa 2.271 jiwa 1.897 jiwa 1.353 jiwa 1.349 jiwa -

6,94 5,23 4,78 3,99 2,85 2,84 -

Sumber : Data Dinas Kependudukan Kecamatan Bangetayu tahun 2010

6. Sosial Budaya a. Tingkat Pendidikan

Tabel 2. Tingkat Pendidikan usia 5 Tahun ke atas di Wilayah Puskesmas Bangetayu tahun 2010 Tingkat Pendidikan TK A TK B SD/MI SMP/MTs SMU/SMK/MA Jumlah 832 641 4.414 2.126 1.669

Sumber : Data Dinas Kependudukan Kecamatan Bangetayu tahun 2010

b.

Sarana Keagamaan

Tabel 3. Sarana Keagamaan di Wilayah Puskesmas Bangetayu tahun 2010 Sarana Keagamaan Masjid/Mushola Gereja Pura Klenteng/Wihara Jumlah 43 0 0 0

Sumber : Data Dinas Kependudukan Kecamatan Tahun 2010 c. Sarana Pendidikan : TK SD/MI SMP/MTs : 28 buah : 20 buah : 8 buah

SMU/SMK/MA : 6 buah Pondok Pesantren : 7 buah

7. Kesehatan Lingkungan a. Air bersih Tabel 4. Sarana Pelayanan Air Bersih No 1. 2. 3. 4 5. 6. Sarana Pelayanan Air Bersih Penampungan Mata Air dengan Perpipan Perlindungan mata air Sumur Pompa Tangan Dangkal Sumur Pompa Tangan Dalam Sumur Artesis Sumur Gali JUMLAH 0 0 200 156 31 1766

7. 8. 9. 10.

Kran Umum Terminal Air Sambungan Rumah Tangga PDAM Penampungan Air Hujan

0 0 0 0

Sumber : Data Kesehatan Lingkungan Puskesmas Bangetayu tahun 2010

b. Sarana Pembuangan Kotoran Tabel 5. Sarana Pembuangan Kotoran No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Sarana Pembuangan Kotoran Jamban Keluarga Jamban Jamak Mandi Cuci Kakus Sarana Tempat Air Limbah RT Tempat Pembuangan Sampah Sementara Tempat Pembuangan Akhir Sampah Instalansi Pengolahan Air Limbah Jumlah 11.088 33 16 11 2 0 0

Sumber : Data Kesehatan Lingkungan Puskesmas Bangetayu tahun 2010

B. Masukan 1. Tenaga Tabel 6. Tenaga Kerja di Wilayah Kerja Puskesmas Bangetayu tahun 2011 Tenaga kerja Puskesmas induk Puskesmas Pembantu Dokter umum Dokter gigi Bidan puskesmas Perawat Kesehatan Perawat gigi HS Petugas gizi Asisten Apoteker Staf TU Pengemudi TPHL Penyuluh Epidemolog Wiyata Jumlah Keteranagan 1 2 5 1 6 7 2 1 1 2 4 0 1 1 1 1 Tenaga Titipan Pustu Kudu dan Karangroto Termasuk Kepala Puskesmas

Sumber : Profil Tenaga Kerja Puskesmas Bangetayu Tahun 2011

Tabel 7. Spesifikasi Kepegawaian Puskesmas Bangetayu No Jenis Tenaga Jumlah Nama dr. Ninik Relaningsih dr. Sri Wahyuningrum 1. Dokter Umum 4 dr. Yuni Susanti dr. Dian Rukmorini 2. Dokter Gigi 1 drg. Nugraheni P.I. Marfuatun Sri Mulyati Mulyo Widayati 3. Perawat 7 Sukati Siti Nurkhasanah, A. Mk. Djasmani Siti Nurkhamah, A. Mk. 4. Perawat Gigi 1 Ida Hamidah Sri Supartinah Fariatun 5. Bidan 6 Nur Sri Pujiati Ambarwati Esti Wijayanti

Putu Widyadnyani P. 6. 7. Epidemiolog HS 1 1 Betty Kathalina, SKM Henny Tavifi, SKM Eny Setyawati 8. Farmasi 2 Sri Anggraini, A. Md. F. 9. 10. Gizi Penyuluh 1 1 Yetty Agustina E. Wahyu Suryaningsih, SKM Siti Zulaechah 11. Analis Kesehatan 2 Suyutinah

Deskripsi Kerja a. Kepala Puskesmas Tugas Pokok : Melaksanakan kegiatan teknis operasional dan atau kegiatan teknis penunjang di bidang pelayanan kesehatan, penggerakan

pengembangan kesehatan, serta usaha pemberdayaan masyarakat dan keluarga secara paripurna dan mandiri sesuai wilayah kerjanya. Rincian : 1) Mempelajari peraturan perundang-undangan, kebijakan teknis, pedoman teknis maupun pedoman pelaksanaan lainnya yang berhubungan dengan tugasnya. 2) Melaksanakan pelayanan kesehatan tingkat pertama yang bermutu melalui upaya rawat jalan, rawat inap, dan penunjang.

3) Melaksanakan usaha penggerakan pembangunan berwawasan kesehatan melalui upaya penyehatan lingkungan, pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, serta upaya khusus sesuai dengan program spesifik 4) Melaksanakan usaha pemberdayaan masyarakat dan keluarga melalui upaya penyuluhan kesehatan masyarakat, kesehatan keluarga, kesehtaan ibu dan anak, keluarga berencana, dan perbaikan gizi 5) Melaksanakan penyelenggaraan monitoring tugas dan evaluasi serta pelaporan kesehatan,

operasional

pelayanan

penggerakan pengembangan kesehatan serta usaha pemberdayaan masyarakat dan keluarga secara paripurna dan mandiri. 6) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan sesuai dengan tugas dan fungsinya.

b. Dokter Umum Tugas Pokok : Mengusahakan agar pelayanan pengobatan di wilayah kerja Puskesmas dapat berjalan dengan baik. Fungsi : 1) Mengawasi pelaksanaan pelayanan obat di Puskesmas 2) Memberikan pelayanan pengobatan di wilayah Puskesmas baik di Puskesmas, Pustu atau Pusling 3) Memberikan bimbingan dan supervisi teknis kepada penderita dan masyarakat 4) Membentuk membina lintas sektoral dalam pengembangan peran masyarakat 5) Melakukan pencatatan dan pelaporan

c. Dokter Gigi Tugas Pokok : Mengusahakan agar pelayanan gigi dan mulut di wilayah kerja Puskesmas agar dapat berjalan dengan baik. Fungsi : 1) Mengawasi pelaksanaan kesehatan gigi di Puskesmas 2) Memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di dalam wilayah kerja Puskesmas secara teratur 3) Supervisi dan bimbingan teknis pada program gigi di Puskesmas 4) Memberikan penyuluhan kesehatan gigi pada penderita dan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas 5) Membantu dan membina kerjasama lintas sektoral dalam

pengembangan peran serta masyarakat 6) Memberikan penyuluhan kesehatan 7) Melaksanakan pencatatan dan pelaporan d. Perawat Gigi Tugas Pokok: Melaksanakan pelayanan kesehatan gigi di Puskesmas. Fungsi : 1) Membantu dokter gigi dalam pelayanan kesehatan di Puskesmas. 2) Memeriksa, menambal, membersihkan karang gigi dan mengoati gigi yang sakit. 3) Merujuk kasus yang perlu ditindaklanjuti dari seorang dokter gigi 4) Melaksanakan UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) dan UKGS (Usaha Keluarga Gigi Sekolah) 5) Melaksanakan kunjungan kesehatan gigi e. Tata Usaha Tugas Pokok : 1) Menghimpun dan menyusun semua laporan kegiatan Puskesmas

2) Menghimpun, mengatur dan menyimpan semua surat masuk Fungsi : 1) Mengumpulkan, membuat surat yang masuk/keluar yang didisposisi 2) Mengumpulkan laporan berkala setiap petugas Puskesmas 3) Penyiapan dan pengaturan tata usaha kepegawaian Puskesmas 4) Melakukan laporan berkala ketatausahaan f. Petugas Puskesmas Tugas Pokok : Melaksanakan dan megkoordinir pelaksanaan kegiatan Puskesmas di wilayah kerja Puskesmas agar berjalan dengan baik. Fungsi : 1) Melaksanakan kegiatan Puskesmas baik di dalam maupun luar gedung 2) Menyiapkan blangko-blangko dan pencatatan untuk kegiatan Perkesmas 3) Melaksanakan pencatatan daan pelaporan 4) Memantau masyarakat/kasus-kasus rawan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas 5) Melakukan pendataan sasaran secara periodik g. Petugas Pengobatan Tugas Pokok : 1) Melaksanakan pengobatan rawat jalan di wilayah Puskesmas 2) Memeriksa dan mengobati penyakit menular secara pasif atas delegasi dari dokter 3) Melaksanakan penyuluhan kesehatan 4) Melakukan rujukan kasus bila tidak mampu mengatasi 5) Melakukan pencatatan dan pelaporan

h. Petugas P2P Tugas Pokok : Melaksanakan dan mengkoordinir kegiatan pencegahan dan

pemberantasan penyakit menular di wilayah kerja Puskesmas Fungsi : 1) Melaksanakan tindakan pemberantasan penyakit menular 2) Melaksanakan pengamatan penyakit di wilayah kerja Puskesmas 3) Melaksanakan penyuluhan kesehatan tentang penyakit menular 4) Melakukan penyuluhan, pencatatan dan pelaporan 5) Melakukan pengobatan terhadap penderita penyakit menular atas delegasi dari dokter 6) Melakukan kunjungan rumah 7) Ikut dalam kegiatan Puskesling dan kegiatan terpadu lain yang terkait P2P 8) Memberikan penyuluhan kesehatan 9) Melakukan pencatatan dan pelaporan i. Petugas KIA Tugas Pokok : Melaksanakan kegiatan pelayanan KIA di wilayah kerja Puskesmas agar dapat berjalan dengan baik Fungsi : 1) Melaksanakan pemeriksaan secara berkala ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan anak 2) Mengatur dan menjaga tempat kerja dengan rapi 3) Memberikan jelang imunisasi pada bayi dan ibu hamil 4) Melakukan pembinaan dukun bayi 5) Melakukan pembinaan kepada bidan desa

6) Melaksanakan kegiatan Posyandu dan kegiatan terpadu lain yang terkait dengan KIA 7) Melakukan penyuluhan kesehatan 8) Melakukan pencatatan dan pelaporan 9) Melakukan rujukan kasus bila tidak mampu mengatasi j. Petugas Gizi Tugas Pokok : Melaksanakan kegiatan dan mengkoordinir perbaikan gizi di wilayah Puskesmas Fungsi : 1) Melaksanakan pemberian makanan tambahan 2) Memantau keadaan gizi di masyarakat khususnya kasus-kasus kurang gizi 3) Membantu meningkatkan kerja sama lintas sektoral terkait dengan gizi 4) Memberikan penyuluhan gizi, melatih kader gizi 5) Melakukan pencatatan dan pelaporan 6) Melakukan pembinaan Posyandu 7) Melakukan rujukan kasus gizi 8) Melakukan monitoring garam beryodium secara periodik k. Petugas Sanitarian Tugas Pokok : Merubah, mengendalikan atau menghilangkan semua unsur fisik dan lingkungan yang memberikan pengaruh buruk terhadap kesehatan masyarakat. Fungsi :

1) Penyuluhan terhadap masyarakat tentang penggunaan air bersih, jamban keluarga, rumah sehat, kebersihan lingkungan dan pekarangan 2) Membantu masyarakat dalam pembuatan sumur, perlindungan mata air, penampungan air hujan dan sarana air bersih lainnya 3) Pengawasan higiene, perusahaan dan tempat-tempat minum 4) Melakukan pencatatan dan pelaporan 5) Aktif memperkuat kerjasama lintas sektoral 6) Ikut serta dalam Puskesling dan kegiatan terpadu yang terkait dengan HS 7) Memberikan penyuluhan kesehatan 8) Pengawasan, penyehatan perumahan 9) Pengawasan pembuangan sampah 10) Pengawasan makanan dan minuman l. Petugas Imunisasi Tugas Pokok : Melaksanakan dan mengkoordinir imunisasi di wilayah kerja Puskesmas Fungsi : 1) Melaksanakan kegiatan imunisasi di lapangan dan Puskesmas 2) Melakukan penyuluhan kepada pasien tentang imunisasi 3) Melakukan pencatatan dan pelaporan 4) Menyediakan persediaan vaksin secara teratur 5) Melakukan sweeping untuk daerah-daerah yang cakupannya kurang 6) Memberikan penyuluhan kesehatan m. Petugas Apotek Tugas Pokok : Memeriksa, meracik dan membungkus obat

Fungsi : 1) Membantu pelaksanaan kegiatan petugas gudang obat 2) Membantu dalam penyimpanan obat dan administrasi dari obat di apotek 3) Membantu distribusi obat ke Puskesling, Pustu, dan PKD 4) Melakukan pencatatan dan pelaporan obat 5) Mengatur kebersihan dan kerapihan kamar obat n. Petugas Laboratorium Tugas Pokok : Melakukan pemeriksaan laboratorium di wilayah kerja Puskesmas Fungsi : 1) Membantu menegakkan diagnosa penyakit 2) Melaksanakan pemeriksaan spesimen 3) Membantu rujukan specimen 4) Ikut membantu kegiatan lain yang berhubungan dengan kegiatan laboratorium 5) Memberikan penyuluhan kesehatan 6) Melakukan pencatatan dan pelaporan o. Petugas Pendaftaran Tugas Pokok : Melakukan proses pelayanan di pendaftaran pada semua pengunjung Puskesmas Fungsi : 1) Melakukan pelayanan pendaftaran secara berurutan 2) Memberikan penjelasan kepada pasien tentang proses pendaftaran 3) Memberikan gambar status/catatan medis untuk setiap pasien 4) Mencatat semua kunjungan pasien pada buku

5) Menata kembali dengan rapi status yang sudah dipergunakan hari tersebut 6) Melakukan pencatatan dan pelaporan p. Petugas Gudang Obat Tugas Pokok : Mengelola obat-obat yang ada di Puskesmas Fungsi : 1) Membantu dokter atau Kepala Puskesmas dalam pengelolaan obat di Puskesmas 2) Mempersiapkan pengadaan obat Puskesmas 3) Mengatur penyimpanan obat 4) Mengatur administrasi obat dan mengatur distribusi obat 5) Menyediakan obat untuk Puskesling, Pustu dan Poliklinnik Kesehatan Desa (PKD) 6) Mengatur dan menjaga kerapihan, kebersihan dan pencahayaan dalam obat. 2. Dana Dana puskesmas diperoleh dari yankesda dan dana BOK. 3. Sarana Fisik dan Sarana Kesehatan Lain a. Sarana Fisik Gedung puskesmas meliputi : loket pendaftaran, laboratorium, apotek, ruang KIA/KB, BP umum, BP gigi, kantor administrasi, tata usaha, ruang MTBS, ruang rawat inap, kamar mandi, tempat parkir, musholla, dan ruang tunggu. b. Sarana Penunjang Medis - Dental unit dan dental chair : dalam keadaan lengkap (satu unit) - Perlengkapan medik umum : KIA set, KB set, poliklinik set terbatas, peralatan operasi, obstetry dan neonatal kid, perlengkapan

laboratorium,USG, EKG dan alat periksa.

c. Sarana Penunjang Mobil puskesling Sepeda motor Komputer Lemari es Alat komunikasi (LCD) 4. Material Obat-obat berasal dari obat Instalasi Farmasi Kota Semarang : 1 buah : 5 buah : 8 buah : 1 buah : radio, telepon, dan alat-alat penyuluhan

5. Metode Sistem pelayanan di Puskesmas Bangetayu sesuai standar operating prosedur (SOP). Setelah dihitungg cakupan hasil kegiatan selama 9 bulan berjalandari bulan Januari September 2011, masih terdapat beberapa cakupan hasil kegiatan yang belum memenuhi harapan (target bulan berjalan). Sudah dilakukan pendataan kunjungan pasien dalam catatan medik. C. Proses Manajemen 1. Perencanaan (P1) Tim perencana terdiri dari Kepala Puskesmas dan para pemegang program, dimana sumber data didapat dari laporan bulanan Puskesmas, yang direkapitulasi pada akhir tahun. Laporan akhir tahun memuat hasil kegiatan, namun dalam melakukan perencanaan kepala puskesmas dibantu oleh para pemegang program, dimana sumber data didapat dari laporan bulanan Puskesmas, yang direkapitulasi pada akhir tahun. Laporan akhir tahun memuat hasil kegiatan dari 6 upaya kesehatan pokok yang dilaksanakan di Puskesmas Bangetayu. Laporan akhir tahun di Puskesmas Bangetayu disajikan dalam bentuk tabel yang

didokumentasi secara rapi dan grafik untuk dapat lebih menilai naik turunnya perjalanan kegiatan dalam 1 tahun. Kemudian data dianalisa

dibandingkan dengan target. Masalah timbul jika pencapaian kegiatan tidak memenuhi target yang ditetapkan. 2. Penggerakkan dan Pelaksanaan (P2) Dalam manajemen penggerakan dan pelaksanaan komponen-komponen yang merupakan bagian terdapat dari

terpenting

manajemen tersebut. Komponen tersebut meliputi: a. Pengorganisasian Penentuan para penanggung jawab dan para pelaksana untuk setiap kegiatan dengan pertemuan penggalangan tim pada awal tahun kegiatan (mini lokakarya). Penggalangan kerjasama lintas sektoral, antara dua sektor maupun antara berbagai sektor yang terkait, antara lain : 1) Pendidikan nasional (UKS) 2) Kantor Urusan Agama (TT calon pengantin) 3) Kependudukan dan catatan sipil (KB) 4) Perekonomian dan kesra (ASKESKIN)

b. Penyelenggaraan Penyelenggaraan kegiatan dari upaya 6 kesehatan wajib dilakukan dengan jadwal kegiatan yang disusun oleh masing-masing

penanggung jawab dengan koordinasi dengan kepala Puskesmas agar penyelenggaraan kegiatan di Puskesmas Bangetayu tetap

memperhatikan azas penyelenggaraan puskesmas, berbagai standar dan pedoman pelayanan puskesmas, kendali mutu dan biaya. Penyelenggaraan kegiatan dilaksanakan dengan kerjasama lintas program maupun lintas sektoral. c. Pemantauan 1) Pengkajian internal lintas program dilakukan dalam bentuk pertemuan rutin bulanan yang membahas mengenai kinerja

Puskesmas Bangetayu, bagaimana kendali mutu dan kendali biaya. Pengkajian eksternal secara Triwulanan (lokakarya mini triwulanan) bersama lintas sektoral tentang penyelenggaraan kegiatan dan hasil yang telah dicapai. 2) Menyusun saran peningkatan penyelenggaraan kegiatan sesuai dengan pencapaian kinerja Puskesmas serta masalah dan hambatan yang ditemukan dalam telaah bulanan dan triwulanan. 3. Pengawasan, Pengendalian, dan Penilaian (P3) Adalah proses memperoleh kepastian, kesesuaian penyelenggaraan dan pencapaian tujuan Puskesmas terhadap rencana dan undang-undang yang berlaku. Pengawasan terdiri atas pengawasan internal dari atasan langsung (Kepala Puskesmas) terhadap seluruh staf dan pengawasan eksternal yang dilakukan sebagian masyarakat dan dinas kesehatan terhadap kegiatan yang dilaksanakan puskesmas, dengan ruang lingkup administratif, keuangan, teknis pelayanan yang dilakukan di Puskesmas Bangetayu. Penilaian dilakukan pada akhir tahun meliputi penilaian terhadap penyelenggaraan kegiatan dan hasil yang dicapai, dibandingkan dengan rencana tahunan dan standar pelayanan. Untuk program KIA dan Imunisasi, penilaian hasil kegiatan adalah dengan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) yaitu pemantauan adanya kenaikan kasus. Pertanggungjawaban dilakukan melalui laporan pertanggungjawaban tahunan yang berisi tentang pelaksanaan kegiatan, perolehan sumber dana (keuangan) dan penggunaan sumberdaya. Laporan

pertanggungjawaban dibuat oleh kepala Puskesmas pada setiap lokakarya mini yang mencakup di dalamnya pelaksanaan kegiatan serta perolehan dan penggunaan berbagai sumber daya termasuk keuangan, disampaikan kepada Dinas Kesehatan Kota serta pihakpihak terkait lainnya, termasuk masyarakat.

D. Keluaran Hasil kegiatan berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Puskesmas Bangetayu periode Januari September 2011 meliputi 6 upaya pokok pelayanan kesehatan wajib. Tidak ada kegiatan yang cakupannya kurang dari target, bahkan hampir seluruhnya lebih dari target. E. Dampak 1. Data kematian a. Jumlah kematian penduduk (Januari September 2011) : - jiwa b. Jumlah kematian bayi (Januari - September 2011) : 4 jiwa

c. Jumlah kematian ibu bersalin (Januari - September 2011): 3 jiwa 2. Data kelahiran a. Jumlah kelahiran hidup (Januari September 2011) b.Jumlah lahir mati (Januari September 2011) 3. Data penyakit Tabel 8. Pola Sepuluh Besar Penyakit Pasien Rawat Jalan Puskesmas Bangetayu Semua Kelompok Umur Periode September Tahun 2011 (Semua Kunjungan Baru) No 1 2 3 4 5 6 7 8 Nama Penyakit ISPA Hipertensi Gangguan Otot DKA Gastritis dan Duodenitis DM tipe II TB Paru Nyeri Kepala JumlahPenderita 1117 215 150 149 134 128 115 115 : 377 jiwa : 2 jiwa

9 10

Penyakit kuman dan periakpikal Diare dan gastroenteritis o.k penyakit infeksi tertentu

112 86

Sumber : Data SIMPUS Tahun 2011 di Puskesmas Bangetayu

STATUS PRESENT a. Identitas Pasien Nama : Achmad Nur Ruchim

Tempat Tanggal Lahir : 24 Januari 1995 Pekerjaan Agama Status pernikahan Pendidikan terakhir Alamat a. Keluhan Utama Suara serak b. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien merasa tenggorokan serak dan sakit, sejak 3 hari yang lalu, nafsu makan menurun, Pasien juga batuk-batuk, oleh orangtuanya diabwa ke puskesmas untuk diperiksakan. c. Riwayat penyakit dahulu Pasien sudah pernah sakit seperti itu 4 bulan yang lalu. Belum pernah dirawat inap di rumah sakit atau puskesmas. d. Riwayat Penyakit Keluarga Keponakan pasien yang tinggal serumah juga mengalami sakit yang sama. e. Riwayat Sosial Ekonomi Pasien merupakan murid kelas 2 SMA. Kedua orang tuanya bekerja sebagai pedagang. Serumah tinggal dengan kedua orang tua, kedua saudaranya, dan keponakan. : Pelajar : Islam : Belum Menikah : SLTA : Penggaron Lor I/IV

DATA PERKESMAS 1. Identitas Keluarga Jumlah anggota keluarga yang tinggal di rumah An. Achmad berjumlah 5 orang No 1 2 3 Nama Mujiyanto Endang Warti Achmad Rachim 4 Dian Artika Semarang, 15-10-2000 SMP Tempat Tanggal Lahir Semarang , 20-07-1963 Semarang, 23-08-1971 Pendidikan SMA SLTP SMA KK Istri Anak kandung ke 1 Anak kandung ke 2 5 Febriani Astuti Semarang, 14-02-2000 SMP Keponakan Status

Nur Semarang, 24-01-1995

2.

Data Lingkungan a. Individu / Keluarga - Lingkungan disekitar rumah lembab, kotor dan berdebu. Rumah pasien kurang ventilasi (pertukaran udara), ada banyak asap (rokok) didalam rumah. b. Ekonomi - Pasien adalah siswa SMA kelas 2 - Orang tua pasien bekerja sebagai - Sumber penghasilan keluarga bergantung pada ayah pasien. - 1 rumah di tempat i oleh 5 orang (tidak sesuai antara ukuran rumah dan jumlah penghuni)

3.

Data Perilaku a. Individu / Keluarga Pasien dan keluarga tidak segera berobat apabila merasa sakit dan berobat apabila sakit yang dirasakan baru mengganggu. Anggota keluarga yang bersin atau batuk tidak menutup mulut dan hidung.

b. Masyarakat Kebersihan rumah masyarakat kurang. Kebersihan lingkungan kurang. Belum ada kegiatan olahraga bersama.

4.

Data Pelayanan Kesehatan yang Terdekat

Promotif - Posyandu lansia - Poskesdes - Puskesmas Preventif - Posyandu lansia - Puskesmas Kuratif - Dokter praktik swasta - Puskesmas - Rumah Sakit Swasta - RSUD - Apotek - Posyandu lansia Rehabilitatif - Puskesmas - RSUD : Puskesmas Bangetayu : RSUD Kota Semarang : (+) : Puskesmas Bangetayu : RS Islam Sultan Agung : RSUD Kota Semarang : (+) : (+) : (+) : (+) : (-) : (+) : (+)

5.

Data Genetika Tidak diketahui adanya riwayat genetik.

BAB IV PEMBAHASAN

4.1

Perilaku a. Data : pasien dan keluarga tidak segera berobat bila menderita ISPA - Teori : Kuman yang menyebabkan ISPA mudah menular dalam rumah yang ada banyak orang sehingga apabila tidak cepat diatasi akan memungkinkan adnya penularan dan bertambah parahnya penyakit (Kocht et al, 2003). - Pembahasan : pada kasus ini kemungkinan yang memperberat terjadinya penyakit ISPA disebabkan karena pasien terlambat berobat.

4.2

Genetik a. Data : pasien tidak mengetahui ada riwayat penyakit penyakit ISPA pada keluarga. - Teori : salah satu faktor penyebab penyakit ISPA adalah genetic. Akan tetapi, gejala hanya akan muncul jika ada factor pemicu lain. - Pembahasan : pada pasien ini tidak diketahui adanya factor resiko genetic karena pasien tidak mengetahui riwayat alergi ataupun ISPA pada keluarga, namun terdapat factor pemicu lain yaitu kondisi lingkungan rumah pasien yang tidak memenuhi criteria rumah sehat.

4.3

Lingkungan a. Data :Rumah pasien tidak memenuhi criteria rumah sehat misalnya tidak cukupnya ventilasi, kurangnya pencahayaan, terlalu lembab dan berdebu. - Teori : Diketahui bahwa penyebab terjadinya ISPA dan penyakit gangguan pernafasan lain adalah rendahnya kualitas udara didalam rumah ataupun diluar rumah baik secara biologis, fisik maupun kimia (Mishra, 2003). - Pembahasan : pada pasien ini mempunyai factor resiko terjadinya ISPA karena kondisi rumah pasien tidak memenuhi criteria rumah sehat.

- Data : pasien tinggal di rumah bersama kedua orang tua, kedua saudaranya dan ponakannya dengan luas hunian rumah yang tidak sesuai dan terlalu padatnya jarak antar rumah. - Teori : Kepadatan hunian seperti luar ruang per orang, jumlah anggota keluarga, dan masyarakat diduga merupakan faktor risiko untuk ISPA. Penelitian oleh Koch et al (2003) membuktikan bahwa kepadatan hunian (crowded) mempengaruhi secara bermakna prevalensi ISPA berat. - Pembahasan : Tidak ada jarak antar rumah pasien dan tetangga. Dari data tersebut penulis menyimpulkan pasien tinggal di lingkungan pemukiman padat penduduk dan tempat tinggal pasien tidak memenuhi syarat rumah sehat. MASALAH Menurut pendekatan HL. Blum dan data-data yang diperoleh, didapatkan :
LINGKUNGAN Rumah tidak memenuhi Kriteria Rumah Sehat Kepadatan jarak antar rumah PERILAKU -Tidak segera berobat jika sakit

- Anggota keluarga yang bersin atau batuk tidak menutup mulut dan hidung.

ISPA

PELAYANAN KESEHATAN

GENETIKA Tidak Diketahui

Tersedia sarana pelayanan kesehatan

PEMECAHAN MASALAH NO. MASALAH LINGKUNGAN - pada pasien ini mempunyai factor resiko karena Rumah
tidak memenuhi Kriteria Rumah Sehat dan Kepadatan jarak antar rumah

PEMECAHAN MASALAH Edukasi pada pasien untuk memenuhi kriteria rumah sehat dan pengetahuan tentang hubungan kepadatan jarak antar rumah dengan penyakit ISPA.

PERILAKU - Pasien adalah perokok pasif - Anggota keluarga yang bersin atau batuk tidak menutup mulut dan hidung. PELAYANAN KESEHATAN - Akses tempuh rumah pasien dengan puskesmas Bangetayu tidak mudah. GENETIKA Tidak diketahui

-Edukasi terhadap keluarga yg perokok untuk tidak merokok di dalam rumah -Edukasi kepada pasien dan keluarga pasien agar menutup mulut dan hidung saat bersin atau batuk.

Edukasi kepada anggota keluarga pasien agar bisa mengantar pasien ke puskesmas untuk kontrol

Pemecahan Masalah 1. Edukasi pada pasien untuk memenuhi kriteria rumah sehat dan pengetahuan tentang hubungan kepadatan jarak antar rumah dengan penyakit ISPA. 2. Edukasi terhadap keluarga yg perokok untuk tidak merokok di dalam rumah . 3. Edukasi kepada pasien dan keluarga pasien agar menutup mulut dan hidung saat bersin atau batuk. 4. Edukasi kepada anggota keluarga pasien agar bisa mengantar pasien ke puskesmas untuk kontrol

BAB V KESIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan laporan, maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya ISPA pada kasus ini berdasarkan pendekatan HL Blum adalah : Perilaku Tidak segera berobat ketika sakit ISPA Tidak menutup hidung dan mulut saat bersin dan batuk

Lingkungan - Rumah pasien tidak memenuhi rumah sehat - Kepadatan jarak antar rumah Genetik - Riwayat Penyakit keluarga : Tidak didapatkan data Pelayanan Kesehatan - Tidak terdapat masalah

BAB VIII PENUTUP Demikianlah laporan dan pembahasan mengenai hasil peninjauan manajemen dalam pengelolaan penyakit ISPA di Puskesmas Bangetayu Semarang. Dengan meninjau puskesmas dari segi perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, pengawasan dan pertanggungjawaban ditemukan penyebab masalah yang ditinjau dari segi manajemen dan mutu pelayanan serta ditemukannya prioritas penyebab masalah dan alternatif pemecahan masalah. Manajemen puskesmas sangat penting karena puskesmas sebagai unit pelaksana teknis dari dinas kesehatan yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan mempunyai keterbatasan-keterbatasan dalam hal tenaga kesehatan, dana, sarana-prasarana penunjang, sehingga puskesmas perlu dikelola dengan sebaik-baiknya agar dapat mencapai hasil yang maksimal. Dimensi mutu pelayanan juga penting karena pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan harus memperhatikan kualitas. Kedua kegiatan tersebut saling terkait dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena cakupan atau kuantitas yang tinggi belum tentu disertai dengan mutu atau kualitas yang baik, begitu pula sebaliknya. Kami menyadari bahwa kegiatan ini sangat penting dan bermanfaat bagi para calon dokter, khususnya yang kelak akan terjun di puskesmas sebagai Health Provider, Manager, Decision Maker, dan Communicator sebagai wujud peran serta dalam pembangunan kesehatan. Akhir kata kami berharap laporan ini bermanfaat sebagai bahan masukan dalam usaha peningkatan derajat kesehatan masyarakat di wilayah Puskesmas Bangetayu Semarang.

DAFTAR PUSTAKA 1. Departemen kesehatan RI, 2003, Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/ Kota Sehat, Jakarta. 2. Departemen Kesehatan, 2004, Keputusan Mentri Kesehatan RI Nomor : 128 /Menkes/SK/V/2004 Tahun 2004 tentang Tujuan Pembangunan 3. Hasil Survey Dan Demografi Kesehatan Indonesia 2007, Aidsindonesia, Februari 2009, Availablefrom: www.aidsindonesia.or.id/webcontrol/documents/200903031136130.de mograFI%2007.Html 4. Manajemen Kesehatan Teori Dan Praktik Di Puskesmas. Ending Sutisna Sulaeman. 2009 Fk Uns