Anda di halaman 1dari 7

Petruk

Dunia Petruk merupakan sebuah dunia kepolosan, dunia rakyat jelata yang tidak memiliki banyak pengetahuan sehingga Petruk memiliki caranya sendiri untuk melakukan kehidupan yang sesuai dengan kenyataan daya nalar yang dimilikinya. Banyak orang beranggapan bahwa dunia Petruk adalah sebuah dunia kecil yang lucu dan lugu, mereka memiliki caranya sendiri untuk mengejawantahkan segala kemungkinan yang akan terjadi dalam kehidupannya. Petruk dengan sendirinya memiliki daya humor yang juga bisa membuat orang lain senang padanya. Meskipun Petruk adalah orang yang bodoh, akan tecapi janganlah menyepelekannya, sebab Petruk juga memiliki cara nalarnya sendiri yang mampu membuat kehidupan Petruk menjadi tenang dan senang. Pada asalnya Petruk adalah putra dari Raja Gandawa yang diambil anak oleh Semar. Petruk juga memiliki nama Dawala. Dawa artinya panjang dan La artinya jelek. Ia memiliki tubuh yang panjang dan tampilan fisiknya memang jelek. Akan tetapi Petruk bisa menerima kenyataan hidup yang demikian, karena ia beranggapan bahwa kehidupan adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa ditolak. Petruk juga memiliki nama Petruk Kantong Bolong. Nama ini menggambarkan bahwa Petruk memiliki kesabaran yang sangat luas, hatinya bak samudra, hatinya longgar, plong dan perasaannya bolong tidak ada yang disembunyikan, tidak suka menggerutu dan ngedumel (Fauzi Dhafir, 2000). Tentu saja tidak semua orang bisa meniru kesabaran yang dimiliki oleh Petruk, segala kenyataan hidupnya bisa

diterimanya dengan baik, ia juga mampu menghadapi sebuah tantangan kehidupan dengan cara yang baik. Mampu menjadikan ruang kehidupannya menjadi lebih baik dan sempurna. Ia meyakini bahwa kehidupan di dunia ini adalah sebuah kehidupan sementara, kehidupan ini hanya membutuhkan waktu untuk hancur. Karena itulah Petruk kemudian menyadari perjalanan hidupnya sebagai sebuah kenyataan hidup yang sepatutnya bisa dijalani dengan cara yang lebih baik. Orang yang mengerti, apa yang sesungguhnya menjadi tanggung jawab dirinya, tentu saja mereka akan melakukannya dengan sebaik mungkin, hanya saja bagi orang yang tidak bisa sabar dan tidak bisa menerima segala sesuatu yang berkaitan dengan kenyataan kehidupan, ia akan selalu menggerutu. Kenyataan yang demikian tidak terjadi pada diri Petruk. Ia adalah sosok yang tidak suka menggerutu dalam menghadapi kenyataan hidup, meskipun ia menjalaninya dengan cara yang lebih pahit. Ia mencoba untuk terus menerus bertahan, mencoba untuk terus menerus berada dalam sebuah rangsangan kehidupan yang tetap bersemangat sepanjang masa. Orang yang menggerutu dalam hidupnya tentu saja mencerminkan sebuah kehidupan yang bertumpu pada kenyataan hidup yang kurang bisa menerima terhadap segala kenyataan. Cobalah Anda terus menerus belajar untuk selalu tabah mengatasi berbagai macam kenyataan yang disuguhkan pada diri Anda. Dan Anda selaku manusia yang memiliki pikiran, tentu saja Anda tidak akan kalah pada karakter yang dimiliki Petruk, tentu saja tidak akan menyerah begitu saja pada berbagai macam problem yang disodorkan di hadapan Anda. Menurut Supriadi Masykur (2000:56) mengatakan bahwa Petruk memang salah seorang tokoh punakawan yang memiliki ketangguhan mengatasi berbagai macam tantangan dalam kehidupan. Hal itu menunjukkan bahwa Petruk memiliki kematangan mental, sehingga kenyataan apapun yang dihadapkan padanya, ia tidak akan pernah menyerah.

Nilai itulah yang sesungguhnya harus dipelajari oleh semua manusia, sehingga manusia kemudian menjadi mengerti apa yang seharusnya dilakukan dalam kehidupannya. Sifat Dawala dalam kehidupan Petruk juga mencerminkan bahwa Petruk memiliki kekuatan batin yang langsung bersambung ke kahyangan. Tentu saja orang-orang yang tangguh dalam kehidupannya pasti memiliki kekuatan batin yang luar biasa, termasuk Petruk ini. Ia justru mau menjadi seorang abdi dalem, tidak akan malu-malu dan tidak akan gengsi. Bagi Petruk kehidupan seseorang di dunia ini tidak ada artinya apaapa. Segala sesuatu yang bisa dimaknai adalah apakah menjadi manusia di dunia ini mampu bermanfaat pada orang lain atau tidak. Atau secara eksistensial, ia memiliki sesuatu yang sangat berharga dalam dirinya, memiliki nilai-nilai penting yang patut dihargai oleh orang lain. Salah satunya adalah kematangan pribadi yang akan membuat orang lain senang berhadapan dengannya. Tentu saja tidak semua orang kecil itu mampu menjadi orang kecil yang sekaligus menjadi orang besar. Petruk adalah salah satu tokoh yang sangat dikagumi, memiliki keleluasaan pikiran. Ia mampu menjadi seorang penasihat dan seorang kesatria, sekaligus tidak akan menyerah jika mendapatkan berbagai macam ujian dalam kehidupannya. Dalam menata kehidupan, tentu saja Anda memiliki cara tersendiri untuk menjadi manusia yang sempurna. Anda memiliki cara berpikir yang baik dalam kehidupan Anda yang akan membuat ruang hidup Anda menjadi lebih baik. Anda bisa melihat ke dalam diri Anda sehingga Anda betul-betul memiliki kedirian yang matang. Menurut Haryono Utomo (1994) mengatakan bahwa Petruk adalah salah satu tokoh yang bisa diteladani oleh orang-orang kecil yang ada di negeri ini, bagaimanapun pelajaran yang ada dalam kehidupannya banyak menyangkut kearifan yang bertumpu pada bagaimana nilai-nilai kehidupan itu dibangun sedemikian rupa untuk menciptakan sebuah harmony yang lebih baik dan lebih segar. Tentu saja Petruk memiliki

cara tersendiri yang bisa dibangun dalam kehidupan manusia, agar antara manusia yang satu dengan manusia yang lain bisa tersenyum bersama. Namun tentu saja tokoh Petruk juga memiliki kelemahan yang bisa dipelajari, yakni kelemahan yang berupa nggursah-nggrusuh (terburuburu), sehingga tindakan apapun yang ada dalam kehidupannya tanpa dipikirkan lebih panjang lagi. Ia hanya berupaya untuk melakukan berbagai macam hal tanpa adanya kontrol yang jelas. Jika Anda mengerti apa yang sesungguhnya bisa dilakukan oleh Anda, maka tentu saja Anda harus mengerti cara-cara yang paling tepat, cara-cara yang lebih efektif yang bisa menjadikan kehidupannya menjadi lebih baik dan lebih sempurna. Ada beberapa sifat penting yang bisa Anda teladani dalam diri seorang Petruk. Wajah Petruk selalu tersenyum, bahkan pada saat sedang berdukapun selalu menampakkan wajah yang ramah dan murah senyum dengan penuh ketulusan. Petruk mampu menyembunyikan kesedihannya sendiri di hadapan para kesatria. Sehingga kehadiran Petruk benar-benar membangkitkan semangat dan kebahagiaan tersendiri di tengah kesedihan. Prinsip laku hidup Ki Lurah Petruk adalah kebenaran, kejujuran dan kepolosan dalam menjalani kehidupan. Bersama semua anggota punakawan, lurah, dan Petruk membantu para kesatria Pandhawa Lima (terutama Raden Arjuna) dalam perjuangannya menegakkan kebenaran dan keadilan. Oleh karena itulah, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan dalam diri Petruk, di antaranya yaitu: A. B. C. d. Setia Benar Dan Jujur Dalam Menjalani Kehidupan Polos Dan Selalu Terbuka Mampu memperhitungkan positif dan negatif langkah yang dilakukannya

*********************

Nama lain

: Dawala, Kantong Bolong, Dublajaya, Pentungpinanggul Posisi : Punakawan Jenis kelamin : Pria Ciri-ciri : Berhidung panjang dan berkulit hitam Keistimewaan : Senang bergurau Senjata : Kapak

Masa lalu
Menurut pedalangan, ia adalah anak pendeta raksasa di pertapaan dan bertempat di dalam laut bernama Begawan Salantara. Sebelumnya ia bernama Bambang Pecruk Panyukilan. Ia gemar bersenda gurau, baik dengan ucapan maupun tingkah laku dan senang berkelahi. Ia seorang yang pilih tanding/sakti di tempat kediamannya dan daerah sekitarnya. Oleh karena itu ia ingin berkelana guna menguji kekuatan dan kesaktiannya. Di tengah jalan ia bertemu dengan Bambang Sukodadi dari pertapaan Bluluktiba yang pergi dari padepokannya di atas bukit, untuk mencoba kekebalannya. Karena mempunyai maksud yang sama, maka terjadilah perang tanding. Mereka berkelahi sangat lama, saling menghantam, bergumul, tarik-menarik, tendang-menendang, injak-menginjak, hingga tubuhnya menjadi cacat dan berubah sama sekali dari wujud aslinya yang tampan. Perkelahian ini kemudian dipisahkan oleh Smarasanta (Semar) dan Bagong yang mengiringi Batara Ismaya. Mereka diberi petuah dan nasihat sehingga akhirnya keduanya menyerahkan diri dan berguru kepada Smara/Semar dan mengabdi kepada Sanghyang Ismaya. Demikianlah peristiwa tersebut diceritakan dalam lakon Batara Ismaya Krama. Karena perubahan wujud tersebut masing-masing kemudian berganti nama. Bambang Pecruk Panyukilan menjadi Petruk, sedangkan Bambang Sukodadi menjadi Gareng

Istri dan keturunan


Petruk mempuyai istri bernama Dewi Ambarwati, putri Prabu Ambarsraya, raja Negara Pandansurat yang didapatnya melalui perang tanding. Para pelamarnya antara lain: Kalagumarang dan Prabu Kalawahana raja raksasa di Guwaseluman. Petruk harus menghadapi mereka dengan perang tanding dan akhirnya ia dapat mengalahkan mereka dan keluar sebagai pemenang. Dewi Ambarwati kemudian diboyong ke Girisarangan dan Resi Pariknan yang memangku perkawinannya. Dalam perkawinan ini mereka mempunyai anak lelaki dan diberi nama Lengkungkusuma.

Petruk dalam lakon pewayangan


Oleh karena Petruk merupakan tokoh pelawak/dagelan (Jawa), kemudian oleh seorang dalang digubah suatu lakon khusus yang penuh dengan lelucon-lelucon dan kemudian diikuti dalang-dalang lainnya, sehingga terdapat banyak sekali lakon-lakon yang menceritakan kisah-kisah Petruk yang menggelikan, contohnya lakon Ptruk Ilang Pethl ("Petruk kehilangan kapaknya"). Dalam kisah Ambangan Candi Spataharga/Saptaraga, Dewi Mustakaweni, putri dari negara Imantaka, berhasil mencuri pusaka Jamus Kalimasada dengan jalan menyamar sebagai kerabat Pandawa (Gatutkaca), sehingga dengan mudah ia dapat membawa lari pusaka tersebut. Kalimasada kemudian menjadi rebutan antara kedua negara itu. Di dalam kekeruhan dan kekacauan yang timbul tersebut, Petruk mengambil kesempatan menyembunyikan Kalimasada, sehingga karena kekuatan dan pengaruhnya yang ampuh, Petruk dapat menjadi raja menduduki singgasana Kerajaan Lojitengara dan bergelar Prabu Welgeduwelbeh. Lakon ini terkenal dengan judul Petruk Dadi Ratu ("Petruk Menjadi Raja"). Prabu Welgeduwelbeh/Petruk dengan kesaktiannya dapat membuka rahasia Prabu Pandupragola, raja negara Tracanggribig, yang tidak lain adalah kakaknya sendiri, yaitu Nala Gareng. Dan sebaliknya Bagong-lah yang menurunkan Prabu Welgeduwelbeh dari tahta kerajaan Lojitengara dan terbongkar

rahasianya menjadi Petruk kembali. Kalimasada kemudian dikembalikan kepada pemilik aslinya, Prabu Puntadewa.

Hubungan dengan punakawan lainnya


Petruk dan panakawan yang lain (Semar, Gareng dan Bagong) selalu hidup di dalam suasana kerukunan sebagai satu keluarga. Bila tidak ada kepentingan yang istimewa, mereka tidak pernah berpisah satu sama lain. Mengenai Punakawan, punakawan berarti kawan yang menyaksikan atau pengiring. Saksi dianggap sah, apabila terdiri dari dua orang, yang terbaik apabila saksi tersebut terdiri dari orang-orang yang bukan sekeluarga. Sebagai saksi seseorang harus dekat dan mengetahui sesuatu yang harus disaksikannya. Di dalam pedalangan, saksi atau punakawan itu memang hanya terdiri dari dua orang, yaitu Semar dan Bagong bagi trah Witaradya. Sebelum Sanghyang Ismaya menjelma dalam diri cucunya yang bernama Smarasanta (Semar), kecuali Semar dengan Bagong yang tercipta dari bayangannya, mereka kemudian mendapatkan Gareng/Bambang Sukodadi dan Petruk/Bambang Panyukilan. Setelah Batara Ismaya menjelma kepada Janggan Smarasanta (menjadi Semar), maka Gareng dan Petruk tetap menggabungkan diri kepada Semar dan Bagong. Disinilah saat mulai adanya punakawan yang terdiri dari empat orang dan kemudian mendapat sebutan dengan nana parepat/prapat.