Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN Kasus tutorial 1 pada modul hukum, agama, dan moral dengan judul seorang perempuan muda

yang gagal dalam pernikahan dibagi menjadi dua sesi, yaitu sesi 1 yang dilaksanakan pada hari Senin, 24 Juni 2013 pukul 13.00-15.00 WIB dan sesi 2 pada Kamis, 26 Juni 2013 pk. 08.00-10.00 WIB. Tutorial pertama di pimpin oleh Doddy dan Bernard sebagai sekretaris. Tutorial kedua dipimpin oleh Prasada dan Nyimas sebagai sekretaris serta dr. Suweino selaku tutor pada tutorial 1 ini. Hal-hal yang menonjol pada tutorial sesi 1 yaitu membahas tentang berbagai aspek tentang KDRT, pernikahan, perceraian, dan homoseksual dilihat dari berbagai sudut pandang hukum, agama, dan moral. Sedangkan hal-hal yang menonjol pada tutorial sesi 2 yaitu membahas tentang perlu atau tidaknya dilakukan analisis struktur kromosom dan hormonal dan juga tentang transgender yang juga dilihat dari berbagai sudut pandang hukum, agama, dan moral.

BAB II LAPORAN KASUS 2.1 Skenario 1 Ny. Dita, 27 tahun, bercerai dari suaminya akibat KDRT yang sering dilakukan suaminya. Ia adalah anak perempuan tunggal dari suatu keluarga yang terpandang. Ny. Dita menceritakan riwayat hidupnya sebagai berikut: Menjadi anak perempuan tunggal dari keluarga yang amat terpandang ternyata tidak mudah. Segala sesuatu dipersiapkan untuk menjaga status orang tuaku di masyarakat. Hingga pada akhirnya mereka mengetahui bahwa aku seorang lesbian dari surat pacarku yang mereka temukan. Mama menangis dan papa marah besar. Sejak saat itu penjagaan terhadapku diperketat. Pulang pergi kuliah, aku ditunggui oleh supir yang sudah diwanti-wanti untuk mengawasi gerak-gerikku. Siapa temanku, ke mana saja aku pergi, dan berapa lama, itu semua harus dilaporkan pada orang tuaku. Bahkan secara berkala mama membawaku berobat ke seorang psikolog dengan harapan sewaktu-waktu aku bisa berubah. Setelah lulus kuliah, papa memaksaku untuk menikah dengan seorang pria, anak dari relasi bisnisnya. Papa khawatir kalau-kalau aku masih berhubungan dengan pacarku itu. Aku menangis dan memohon kepada mama untuk membatalkan pernikahan itu. Tetapi mama tidak berdaya, malah menangis menyesali mengapa melahirkan anak sepertiku, seorang lesbian. Seminggu sebelum pernikahan, aku nekat mendatangi pacarku. Kami menangis berdua dan ia meminta aku untuk tabah. Pesta perkawinan pun berlangsung denga/n sangat meriah. Aku mencoba menjalani perkawinan normalku dan berharap aku bisa berubah. Tetapi semua usahaku sia-sia. Suamiku sering memperlakukanku dengan kasar dan puncaknya ketika mengetahui bahwa aku seorang lesbian. Aku sering dipukul dan dianiaya, apalagi ketika menurutnya aku tidak melayani dengan baik di ranjang. Aku pernah diperkosa beberapa kali. Ketika tidak tahan lagi, aku sering menelpon pacarku untuk mengadukan penderitaanku. Pacarku menyarankan aku mengadukan pada yang berwajib, apalagi luka dan memar di tubuhku bisa dijadikan alat bukti. Aku tidak berani melakukan itu, apa jadinya kalau keluargaku tahu dan ini lalu jadi bahan berita. Aku hanya diam, mungkin memang lebih baik seperti itu, toh aku merasa lama-lama tubuhku menjadi imun terhadap kekerasan yang dilakukan suamiku. Tetapi lama-lama kekerasan itu terbongkar juga, ketika aku harus masuk rumah sakit. Akhirnya aku bercerai dengan suamiku, tetapi hidupku tetap tidak berubah. Aku hanya berpikir, seandainya saja dalam hidup ini setiap orang boleh

bebas memilih, termasuk untuk tidak jadi lesbian, mungkin hidupku tidak akan seburuk ini. 2.2 Skenario 2 Pasca perceraian, Ny. Dita kembali tinggal di rumah orang tuanya. Melihat kondisi anaknya yang penuh penderitaan baik fisik maupun psikologis, ayah ibunya merasa tidak tega dan mau menerima kembali anaknya. Ibunya malah sekarang sering menangis dan merasa tidak mengerti mengapa hal yang demikian memalukan terjadi pada keluarganya, pada anaknya sendiri. Sering ibunya berpikir, apakah ini suatu takdir. Apakah ini suatu hukuman dan teguran dari Yang Maha Kuasa? Apakah ini suatu ujian kesabaran? Apakah ini suatu karma? Apa dosa-dosa yang telah aku lakukan sehingga aku mendapat hukuman sedemikian beratnya ini. Sebaliknya, ayahnya tetap tegar dan merasa yakin bahwa dalam keluarganya tidak ada keturunan seperti kelakuan anaknya. Ia ingin sekali mencari penyebab yang membuat anaknya berperilaku demikian. Oleh karena itu ayahnya lalu pergi menemui dokter yang mengobati anaknya saat dirawat di Rumah Sakit. Menurut dokter, banyak faktor yang dapat menyebabkan penyimpangan perilaku seksual seperti yang terjadi pada Ny. Dita, mungkin bisa dari aspek medis, psikologis, sosiokultural, dan mungkin pula tidak diketahui penyebabnya. Yang paling obyektif untuk dicari adalah aspek medis, yaitu dengan menganalisis bagaimana struktur kromosom dan hormonalnya, apakah menunjukkan ciri-ciri ke arah pria atau wanita. Kalau ada ketidaksesuaian dengan bentuk fisik organ seksnya, bisa dikoreksi dengan operasi ganti kelamin. Setelah mendengar penjelasan dokter, keesokan harinya, ayahnya mengajak Ny. Dita ke Rumah Sakit. Namun Ny. Dita serta merta tidak mau diperiksa dan menolak menandatangani informed consent. Ayahnya marah dan memaksa anaknya agar mau diperiksa dan menandatangani informed consent. Ny. Dita tetap menolak dan mengatakan bahwa Ia memang benar anak ayah, namun yang berhak atas tubuhnya adalah Ia, bukan ayahnya. Biarlah apa-apa yang sudah diberikan oleh Tuhan pada dirinya, tetap terjadi seperti kehendakNya, apakah itu baik atau buruk menurut penilaian orang. Akhirnya ayahnya mengalah dan mengajak Ny. Dita pulang.

BAB III PEMBAHASAN 3.1. Identitas Pasien Nama Umur Agama Alamat Jumlah saudara pasien. 3.2. Anamnesis Setelah memperoleh informasi dari skenario diatas maka hal pertama yang dilakukan sebagai seorang dokter adalah anamnesis. Pada kasus ini anamnesis yang perlu ditanyakan adalah sebagai berikut : 3.2.1 3.2.2 3.2.3 Sejak kapan pasien mulai merasakan terjadinya penyimpangan perilaku seksual yang dialaminya? Sejauh apa tindakan yang telah pasien lakukan terhadap pasangan sejenisnya? Apakah terdapat suatu kejadian sebelumnya yang membuat pasien merasa trauma terhadap lawan jenisnya sehingga menyebabkan pasien berperilaku menyimpang? 3.2.4 3.2.5 3.2.6 3.2.7 3.2.8 3.2.9 Apakah pasien merasakan dirinya sebagai pria atau wanita? Bagaimana pola asuh orang tua sejak kecil? Apakah sering mengekang, memaksa, atau justru otoriter terhadap pasien? Bagaimana lingkungan sekitar pasien, pendidikan sekolahnya dahulu dan bagaimana pergaulannya? Apakah pasien termasuk seseorang yang taat beragama? Apakah pasien telah melakukan kewajibannya sebagai seorang istri setelah menikah? Apakah pasien pernah merasakan hasrat ingin bunuh diri (suicide) ketika mengetahui segala hal yang dialaminya? 4 : Ny. Dita : 27 tahun ::: - (anak tunggal)

Status Pernikahan : Bercerai Dari data diatas maka diperlukan informasi yang lebih untuk melengkapi identitas

3.3. Masalah 3.3.1 Pasien mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya berupa KDRT dan berujung pada perceraian. 3.3.2 Pasien mengalami suatu penyimpangan seksual, yaitu pasien seorang lesbian 3.3.3 Pasien merupakan anak tunggal, yang selalu dipersiapkan segala sesuatunya agar menjaga status keluarganya di masyarakat 3.3.4 Pasien dipaksa menikah oleh keluarganya 3.4. Analisis Masalah a. Menurut Pandangan Agama Islam Pernikahan dalam Islam berarti sebuah ibadah, mengerjakan perbuatan yang baik, dan yang paling penting adalah sebuah pekerjaan sakral. Syarat yang paling utama mendapatkan kemuliaan Allah SWT dalam pernikahan dengan calon pasangan yang sah ialah adanya ketulusan hati. Ketulusan hati tersebut didasarkan pada keikhlasan dalam menjalani hubungan rumah tangga, dan memahami tujuan utama pernikahan, agar nantinya tak terjadihal-hal yang tak diinginkan dari kedua belah pihak (suami-istri). Ny.Dita seharusnya harus yakin dan tulus dalam pernikahannya tanpa ada unsur paksaan sekalipun dari orangtuanya. KDRT dalam Islam, Allah juga telah menegur bagi suami yang melanggar perjanjian (isi ikrar pernikahan), berbuat dzalim dan melanggar hak istrinya, dalam hal ini juga termasuk perbuatan kekerasan kepada istri. Suami dalam Islam berarti pemegang tanggung jawab (imam). Suami Ny.Dita dalam hal ini seharusnya tidak bertindak sewenang-wenang, tapi harus membina keluarganya dan saling mengerti kondisi masing-masing. Perceraian sangat dibenci oleh Allah. Prinsip perceraian dalam Islam, salah satunya suami tiada hendak mengawini istrinya karena pemaksaan dan juga suami jangan terlalu menuruti perasaannya untuk meninggalkan istrinya jika ada hal yang tidak disukai mengenai istrinya. Dalam kasus ini Ny. Dita mengalami perceraian karena selain mendapatkan kekerasan fisik sehingga Ny.Dita harus dirawat di Rumah Sakit dan tidak bisa 'memuaskan' suaminya secara bathiniah. Sebagai suami, ia harus mengerti bahwa pernikahan yang menyertai unsur pemaksaan tidak akan membawa kebahagiaan selamanya.

Ny.Dita sebaiknya tahu hak-haknya tentang perceraian; hal-hal yang membolehkan perceraian dan yang tidak. Ny.Dita, yakni sebagai istri, bahwasanya ia telah mempunyai hak untuk menggugat cerai sejak awal pernikahan, menceraikan suaminya apabila suaminya lemah syahwat mutlak yang sulit mengkaruniakan keturunan dan memenuhi nafkah batiniah, serta apabila perilaku suaminya berbahaya, mengancam dirinya, dan suka menyiksa, yang lebih parahnya lagi jika suaminya suka menyiksa tanpa alasan yang benar. Homoseksual sesuai firman Allah SWT (termasuk lesbian) merupakan kaum yang melampaui batas dan binasa. Melampaui batas karena cara mereka melampiaskan hasrat seksualnya dipandang haram dan istingtif (tanpa kebutuhan fisik, tapi dengan dorongan seksual) dan mencoreng kesucian diri dan makna seksualitas itu sendiri. Walaupun kaum homoseks ini sangat buruk dalam pandangan Islam namun mereka tidak sepatutnya dibenci. Karena Ny.Dita mengakui bahwa ia lesbian, mungkin hal itulah yang membuat ia kehilangan hasrat seksualnya dengan suaminya dan 'terpaksa kawin'. Seharusnya Ny.Dita harus jujur kepada suaminya (walau ini agak sulit) karena justru sesudah menikahlah solusi mengurangi kelainan orientasi seksualnya, asalkan kedua belah pihak saling ikhlas, tidak saling bergunjing dan mencari jalan keluar yang positif. Ny.Dita harus bisa mengurangi hasrat seksual karena rangsangan 'negatif' (yang bisa memunculkan hasrat seksualnya yang menyimpang) dengan memperbanyak siraman rohani dan ibadah serta memperbanyak kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Meyakini seksualitas bukan hanya sekedar rekreasi (namun juga prokreasi, yaitu meneruskan keturunan dan memperbaiki keturunan itu) adalah hal yang sangat penting. b. Menurut Pandangan Agama Kristen Protestan Pernikahan menurut agama ini adalah persekutuan laki-laki dan perempuan menurut tata penciptaan suatu ikatan kerohanian antara pria dan wanita yang menikah. Pernikahan adalah sesuatu yang suci dengan tujuan untuk prokreasi yaitu melanjutkan karya Allah menciptakan generasi penerus. KDRT atau kekerasan dalam rumah tangga merupakan hal yang tidak disetujui oleh agama Kristen. Sebagai seorang suami, maka suami Ny.Dita

berkewajiban memelihara seisi rumahnya seperti yang tertulis di 1 Timotius 5:8, selain itu juga berkewajiban untuk mengasihi istrinya. Efesus 5:25 menuliskan: "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya". Tapi karena kekerasan sudah terjadi maka yang harus dilakukan oleh Ny.Dita ialah mengampunisuaminya. Perceraian menurut pandangan agama Kristen dengan alasan apapun tidak dapat dibenarkan karena suami dan istrinya sudah dipersatukan oleh Tuhan, namun karena Ny.Dita sudah bercerai dengan suaminya hal yang perlu dia lakukan ialah tidak menikah lagi dan berdamai dengan sang suami. Homoseksualitas menurut agama Kristen merupakan dosa dan kekejian di mata Tuhan. Ny.Dita dalam hal ini perlu bertobat, mencari Tuhan, dan tidak lagi memuaskan dirinya dengan hubungan homoseksual yang ia jalin dengan pacarnya. Sebagai seorang lesbian bukanlah kehendak Tuhan (takdir) tetapi merupakan akibat dari keinginan Ny.Dita yang harus bisa ia atasi dengan anugrah Tuhan. Solusi yang tepat bagi Ny.Dita, menurut agama Kristen, bukanlah menerima keadaan homoseksualitasnya ataupun operasi ganti kelamin, melainkan sungguh-sungguh bertobat, meninggalkan kehidupan homoseksualitasnya dan bergantung kepada rahmat Tuhan untuk berubah. Dalam hal ini penting juga didapatkan dukungan keluarga dan gereja bagi Ny.Dita. c.Menurut Pandangan Agama Katolik Perkawinan sebagai persekutuan antara pria dan wanita yang menjadi satu pribadi, yang merupakan kehendak Allah, sehingga Gereja Katolik tidak menerima adanya perceraian dengan alasan apapun. KDRT dalam bentuk apapun dinilai sebagai suatu hal yang merusak kesucian janji perkawinan. Homoseksual menurut Gereja Katolik juga merupaakan hal yang ditenentang dan operasi transgender, karena merusak kemurnian ciptaan Allah yang telah dibuat sesuai kehendak dan citraNya. d. Menurut Pandangan Agama Hindu

Pernikahan menurut Hindu adalah sesuatu prosesi yang sakral. Dimana setelah melakukan upacara perkawinan (wiwaha) barulah suami dan istri dapat melakukan hubungan seksual dan tujuannya adalah untuk mendapatkan keturunan (prokreasi). Walau pernikahan yang dilakukan oleh Ny. Dita sah dalam pandangan agama hindu, namun tujuan pernikahan Ny. Dita yang sebenarnya adalah bukan untuk prokreasi melainkan karena dipaksa mengikuti ego sang ayah, jadi pernikahan itu pula akan mendatangkan kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan pada Ny. Dita yang salah satunya adalah KDRT. Perceraian dalam agama hindu sesungguhnya sangat dihindari, karena termasuk dalam perbuatan dosa atau Adharma. Perceraian dalam agama hindu dipercaya akan mendatangkan kesengsaraan bagi pihak-pihak yang bercerai. Dalam Manawa Dharma Sastra Bab XI Sloka 77 disebutkan bahwa suami hendaknya bertahan dengan istri yang membencinya selama 1 tahun, namun apabila sudah lewat dari 1 tahun dan masih ada rasa benci perceraian boleh dilakukan. Homoseksual menurut Hindu merupakan lebih dari sekedar

kecendrungan-kecendrungan yang ada dalam diri mereka. Mereka juga adalah atman yang indah. Kasus yang dialami oleh Ny. Dita ini merupakan salah satu dari sekian banyak kecendrungan-kecendrungan yang ada dalam (diri) manusia. Jenis kelamin menurut Hindu hanya bersifat sementara dan dalam wujud Atman tidak ada pemisahan kelamin. e.Menurut Pandangan Agama Budha Pernikahan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga bahagia yang sesuai Dhamma. Jadi apabila dari salah satu pihak sudah merasa terpaksa untuk hidup dalam suatu perkawinan maka sebaiknya tidak dilakukan atau dengan kata lain lebih baik hidup sendiri. KDRT yang dialami Ny. Dita akibat perbuatan suaminya dalam Budha sangat tidak dibenarkan. Karena Budha sangat menolak sekali tindak kekerasan, apalagi terhadap kaum wanita. Budha mengajarkan untuk menghormati dan tidak berbuat kasar terhadap kaum wanita.

Perceraian yang terjadi antara Ny. Dita dan suaminya tidak dilarang oleh Budha, walau Budha juga tidak mendukung pereceraian. Perceraian harus menjadi jalan terakhir yang ditempuh dalam menyelesaikan suatu permasalahan keluarga. Homoseksual yang terjadi pada Ny. Dita dipercaya merupakan akibat dari pelanggaran sila ke 3 di masa lalu. Sila merupakan salah satu landasan moral buddhis, dimana sila ke 3 nya diperintahkan untuk tidak melakukan perbuatan asusila. f. Menurut Pandangan Hukum Pernikahan menurut hukum di Indonesia diatur dalam UU RI Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga/ rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan yang maha esa. KDRT dalam hukum di Indonesia jelas dilarang, hal ini dibuktikan dengan adanya UU no. 23 tahun 2004 Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.. Di dalam UU ini melarang setiap tindak kekerasan dalam rumah tangga khususnya untuk perempuan dan anak. Oleh karena itu suami Ny. Dita dapat terjerat hukum berdasarkan UU tersebut. Perceraian pada kasus ini dinyatakan sah karena memenuhi beberapa alasan-alasan perceraian yang terdapat dalam UU. UU yang mengatur mengenai perceraian ini adalah UU RI Nomor 1 Tahun 1974, dan didalamnya dituliskan tata cara perceraian memiliki peraturannya sendiri yang ada dalam PP No. 9 Tahun 1975. Alasan-alasan yang dapat diajukan Ny. Dita dan suami untuk bercerai adalah karena salah satu pihak (suami) melakukan kekejaman atau penganiyaan yang membahayakan pihak lain (istrinya), salah satu pihak (istri) memiliki gangguan orientasi seksual yang mengakibatkan tidak dapat menjalankan kewajibannya melayani suaminya.

Homoseksual sendiri dalam hukum tidak diterangkan. Namun menurut hukum di Indonesia tidak mengakui adanya perkawinan antara sesama jenis. Hal ini diatur pula dalam UU RI Nomor 1 tahun 1974 pasal 1. Mungkin hal ini pula yang menjadi alasan mengapa ayah Ny. Dita segera menikahkan Ny. Dita dengan seorang pria. g. Menurut Pandangan Moral dan Etika Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik-buruk atau benarsalahnya suatu sikap dan perbuatan seseorang dilihat dari moralitas. Sementara moral adalah istilah untuk tindakan yang memiliki nilai-nilai positif. Pada dasarnya moral sudah di ajarkan sejak kecil dengan tujuan memberikan pengertian-pengertian yang baik dalam bersosialisasi dengan sesame manusia. Pernikahan dengan paksaan seperti yang terjadi pada Ny. Dita tidak memenuhi etika yang berlaku di masyarakat dan juga tidak bermoral karena pernikahan adalah suatu hal yang harus disetujui oleh kedua belah pihak yang melangskungkan pernikahan tersebut tanpa ada paksaan dari pihak manapun. KDRT merupakan hal yang jelas melanggar etika yang berlaku di masyarakat karena dengan melakukan KDRT, berarti melanggar hak asasi manusia. Orang yang melakukan tindak KDRT merupakan orang yang mempunyai krisis moral. Perceraian dapat terjadi karena krisis moral dari pasangan tersebut sehingga mereka tidak dapat menghargai satu sama lain. Perceraian dianggap bertentangan dengan norma-norma agama yang ada di Indonesia. Homoseksual merupakan tindakan imoral dan tindakan yang harus dipertanggung jawabkan.

3.5. Penanganan Masalah Dari informasi yang ada indakan medis yang akan dilakukan adalah menganalisis struktur kromosom dan hormonalnya, namun Ny. Dita menolaknya. Maka dari itu sebagai dokter umum, segera merujuk pasien dan keluarganya ke psikiater karena kemungkinan Ny. Dita dapat mengalami depresi jika masalah ini tidak diselesaikan dan bukan hanya masalah gangguan orientasi seksual saja,

10

namun Ny. Dita pun dipojokkan dari keluarganya terutama ayahnya yang tetap merasa yakin bahwa keturunanya tersebut tidak mungkin mengalami hal seperti ini. Disamping itu pula kita harus menasehati orang tuanya untuk tetap mencoba menerima keadaan dan berusahalah menjadi orang tua yang dapat dipercaya, sehingga Ny. Dita dapat mencurahkan isi hatinya kepada orang tuanya tanpa ada rasa segan, dengan begitu akan lebih mudah untuk mengajak Ny. Dita ke psikiater yang kita rujuk tadi. Apabila orang tua Ny. Dita dan Ny. Dita sendiri telah berkonsultasi dengan psikiater, diharapkan akan terbangun rasa sayang dan percaya, setelah itu apabila Ny. Dita setuju untuk memeriksakan penyebab gangguannya dari aspek medis, barulah pemeriksaan itu dapat dilakukan.

11

BAB IV TINJAUAN PUSTAKA

OPERASI GANTI KELAMIN 4.1 Sudut Pandang Hukum Untuk transgender sendiri belum ada undang-undang yang jelas. Tetapi jika ingin operasi ganti kelamin harus lewat pengadilan untuk mengeluarkan akta baru. Sebelumya harus dibuat putusan pengadilan yang didasarkan oleh para ahli dan tidak bisa sembarangan.

4.2 Sudut Pandang Agama Islam Pada dasarnya Allah menciptakan manusia ini dalam dua jenis saja, yaitu laki laki dan perempuan, sebagaimana firman Allah swt: Dan Dia (Allah) menciptakan dua pasang dari dua jenis laki laki dan perempuan. (Qs An Najm : 45) Wahai manusia Kami menciptakan kamu yang terdiri dari laki laki dan perempuan. (Qs Al Hujurat : 13) Kedua ayat di atas, dan ayat ayat lainnya menunjukkan bahwa manusia di dunia ini hanya terdiri dari dua jenis saja, laki laki dan perempuan, dan tidak ada jenis lainnya. Tetapi di dalam kenyataannya, kita dapatkan seseorang tidak mempunyai status yang jelas, bukan laki laki dan bukan perempuan. Dalam dunia kedokteran dikenal tiga bentuk operasi kelamin, masing-masing mempunyai hukum tersendiri dalam fikih:

12

Pertama: Masalah seseorang yang lahir dalam kondisi normal dan sempurna organ kelaminnya yaitu penis (dzakar) bagi laki-laki dan vagina (farj) bagi perempuan yang dilengkapi dengan rahim dan ovarium tidak dibolehkan dan diharamkan oleh syariat Islam untuk melakukan operasi kelamin. Oleh karena itu kasus ini sebenarnya berakar dari kondisi kesehatan mental yang penanganannya bukan dengan merubah ciptaan Allah melainkan melalui pendekatan spiritual dan kejiwaan (spiritual and psychological therapy). Kedua: Operasi kelamin yang bersifat tashih atau takmil (perbaikan atau penyempurnaan) dan bukan penggantian jenis kelamin menurut para ulama diperbolehkan secara hukum syariat. Jika kelamin seseorang tidak memiliki lubang yang berfungsi untuk mengeluarkan air seni dan mani baik penis maupun vagina, maka operasi untuk memperbaiki atau menyempurnakannya dibolehkan bahkan dianjurkan sehingga menjadi kelamin yang normal karena kelainan seperti ini merupakan suatu penyakit yang harus diobati. Ketiga : Apabila seseorang mempunyai alat kelamin ganda, yaitu mempunyai penis dan juga vagina, maka untuk memperjelas dan memfungsikan secara optimal dan definitif salah satu alat kelaminnya, ia boleh melakukan operasi untuk mematikan dan menghilangkan salah satu alat kelaminnya. Misalnya, jika seseorang memiliki penis dan vagina, sedangkan pada bagian dalam tubuh dan kelaminnya memiliki rahim dan ovarium yang menjadi ciri khas dan spesifikasi utama jenis kelamin wanita, maka ia boleh mengoperasi penisnya untuk memfungsikan vaginanya dan dengan demikian mempertegas identitasnya sebagai wanita.

4.3 Sudut Pandang Agama Kristen Protestan Sama seperti homoseksualitas, operasi ganti kelamin merupakan suatu tindakan yang menentang rancangan Allah bagi seksualitas manusia. Dituliskan dalam Kejadian 1:27: Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. (7) Yeremia 1:5 juga menuliskan bahwa Allah sudah mengenal ciptaan-Nya sebelum Ia membentuk manusia di dalam rahim seorang ibu. Dari sini dapat disimpulkan bahwa penciptaan sudah direncanakan oleh Allah dan dia tidak mungkin salah menciptakan seorang laki13

laki menjadi seorang perempuan dan sebaliknya, apa lagi manusia diciptakan menurut gambaran Allah. Maka atas dasar ini operasi ganti kelamin tidak dapat dibenarkan. 4.4 Sudut Pandang Agama Kristen Katolik Dalam menyikapi hal ini, Gereja Katolik kembali kepada pengajaran Tuhan sendiri. Kita mengetahui pada saat penciptaan, Tuhan hanya menciptakan dua jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan. Pria dan wanita diciptakan, berarti dikehendaki Allah dalam persamaan yang sempurna di satu pihak sebagai pribadi manusia dan di lain pihak dalam kepriaan dan kewanitaannya. Kepriaan dan kewanitaan merupakan sesuatu yang baik dan dikehendaki Allah. Pria dan wanita memiliki martabat yang tidak dapat hilang, yang diberi kepada mereka langsung oleh Allah, Penciptanya (Kejadian 2 : 7.22). Dengan demikian, Gereja Katolik tidak membenarkan adanya operasi transgender. Namun dalam misi cinta kasihnya, Gereja Katolik tetap harus merangkul mereka yang telah melakukan operasi transgender.

4.5 Sudut Pandang Agama Hindu Ajaran hindu memandang keberadaan 3 (tiga) jenis kelamin, yaitu pums-prakriti (pria), stri-prakriti (perempuan), tritiya-prakriti (seks ketiga). Jenis seks ketiga ini terdiri dari shanda (male to female) dan shandi (female tomale). Karena adanya pengakuan, pemilik tritiya prakriti diijinkan hidup bebas dan terbuka. Contohnya dalam kisah Baratayudha terdapat masa dimana Arjuna berperan sebagai Brihannala. Dengan begitu, operasi pergantian kelamin pun bebas dilakukan.

4.6 Sudut Pandang Agama Budha Operasi ganti kelamin boleh dilakukan sepanjang tidak ada ada pelanggaran terhadap Sila dan Dhamma serta sesuai dengan prosedur yang berlaku dan memperhatikan status hukum yang berlaku

4.7 Pandangan dari Segi Moral dan Etika

14

Operasi penggantian kelamin atau yang disebut transeksual adalah operasi yang bertujuan untuk mengubah gender seseorang. Tindakan ini merupakan tindakan yang melanggar hukum moral dan etika yang berlaku di Indonesia. BAB V KESIMPULAN Ny. Dita, 27 tahun, bercerai dari suaminya akibat KDRT yang sering dilakukan suaminya. Ia adalah anak perempuan tunggal dari suatu keluarga yang terpandang. Pasien adalah seorang lesbian dan dari sudut pandang ke hukum, agama, moral dan etika itu perbuatan yang menyimpang. Pasien mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya berupa KDRT dan berujung pada perceraian. Dari sudut pandang hukum dan semua agama penikahan merupakan hal yang suci yang tidak dapat dipaksakan. Sementara KDRT yang terjadi secara agama moral etika dan hukum jelas dilarang dibuktikan dengan adanya UU no. 23 tahun 2004. Operasi ganti kelamin berdasakan sudut pandang hukum untuk transgender sendiri belum ada undang-undang yang jelas. Sementara suduut pandang agama tidak membenarkan adanya operasi transgender kecuali hindu dan budha operasi ganti kelamin boleh dilakukan sepanjang tidak ada ada pelanggaran.

15

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3. 4. 5. Qardhawi Y. Sistem Masyarakat Islam dalam Al-Quran dan Sunnah. Jakarta: Citra Islami Press;1997.p.12-20 Lewis CS. Mere Christianity (Kekristenan Asali). Bandung: Pionir Jaya; 2006. p.97-104, 151-65. Walker DF. Konkordansi Alkitab. 3rd ed. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia; 2008. Budiyanto MW. Pandangan Alkitab tentang Homoseksualitas, Gay, dan Lesbian. Available at: http://martianuswb.com/?p=65. Accessed on Juni, 2013 Tedjo T. Hukum Karma dan Hukum Tabur Tuai. Available at: http://agapemedia.blogspot.com/2009/04/hukum-karma-dan-hukum-taburtuai.html. Accessed on Juni, 2013 6. Kolibonso RS. Penegakkan Hukum Dalam Kekerasan Rumah Tangga. Available at: 7. http://www.djpp.depkumham.go.id/hukum-pidana/677-penegakan-hukumkejahatan-kekerasan-dalam-rumah-tangga.html. Accessed on Juni, 2013 Akbar AN. Hakikat Cinta dan Pernikahan dalam Islam. Last Updated 27 May 2011. Available at: http://www.republika.co.id/berita/duniaLast islam/hikmah/11/05/27/lluu6v-hakikat-cinta-dan-pernikahan-dalam-islam. Accessed on Juni, 2013 8. Rahayu N. Undang-undang No 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. (UU-PKDRT). Available at: http://www.djpp.depkumham.go.id/hukum-pidana/653-undang-undang-no-23tahun-2004-tentang-penghapusan-kekerasan-dalam-rumah-tangga-uu-pkdrt.html. Accessed on Juni, 2013

16