Anda di halaman 1dari 26

Supervisor Prof.dr.

Amri Amir,SpF(K),DFM,SH,SpAK

Beberapa Pengertian yang bhub. Dg narkotika


Drug abuse (Penyalahgunaan obat) : pemakaian obt2an/ bh.kimia diluar bidang kedokteran,u menimbulkan st ketentraman atau eforia bg pemakainya.
Narkotika : stp obt yng dpt mhlgkan rasa nyeri yang bsifat tumpul & menimbulkan st keadaan stupor. Addiksi : tdk hy barti ketergantungan seseorang scr mental atau fisik thd st obt atau bh.kimia, yg pggunaannya bulang dg kecenderungan me takaran.

UU No.23/1992 : Kesehatan, pasal 80 ayat (4) huruf b: pasal ini ditujukan terhadap produsen, pengedar narkotika/psikotropika dengan asumsi adanya obat palsu dan obat-obat jalanan sebagaimana putauw yang bukan merupakan obat (versi WHO). UU No.23/1992 : Kesehatan, pasal 81 ayat (2) huruf c: pasal ini ditujukan kepada (pelaku) pengedar NAPZA. Pasal 204 KUHP ayat (1): pasal ini ditujukan kepada tersangka pengedar atau pembuat narkotika/psikotropika yang mengetahui sifat berbahaya obat tersebut namun didiamkan saja, seperti para pelaku dari kalangan profesi maupun orang yang sudah pernah belajar tentang bahaya obat tersebut. Perlu diungkap dan dibuktikan terlebih dahulu bahwa pengetahuan tentang efek berbahaya

Aspek medikolegal

Pasal 85 UU No. 22/1997 Barang siapa tanpa hak dan melawan hukum : Menggunakan narkotika Golongan I bagi diri sendiri, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun, Menggunakan narkotika Golongan II bagi diri sendiri, dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun, Menggunakan narkotika Golongan III bagi diri sendiri, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun

Pasal 99 UU No. 22/1997 Dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) bagi : Pimpinan rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, sarana penyimpanan sediaan farmasi untuk pemerintah, apotek dan dokter yang mengedarkan narkotika Golongan II dan III bukan untuk kepentingan pelayanan kesehatan. Pimpinan lembaga Ilmu pengetahuan yang menanam, membeli, menyimpan, atau menguasai tanaman narkotika bukan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan.

Penggolongan narkotika berdsrkan struktur kimianya

Morfin dan turunannya contoh : morfin, heroin, kodein, dilaudid, nalorfin, dan naloxone. Morfinan dan derivate- derivat Benzomorfan contoh : pentazosine dan levorfanol. Golongan 4- phenylpiperidine contoh : pethidin (meperidin) dan trimeperidin. Golongan Diphenylpropylamines dan acyclicanalgesic contoh : methadone dan ticarda. lain-lain contoh : derivate dari fenothiazin : levoprom dan derivate dari benzimidazol.

Tabel Klasifikasi zat adiktif menurut UU R.I no. 5/1997 dan 22/1997
Nama Zat Golongan Karakteristik Contoh
Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan Heroin, kokain dan tidak digunakan ganja dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi menimbulkan ketergantungan

Narkotika

II

Narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam Morfin, petidin, serta terapi dan/ atau untuk turunannya tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi menimbulkan

Continue. .

III

Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/ atau tujuan pengembangan ilmu pengatahuan, serta mempunyai potensi ringan menimbulkan ketergantungan

Kodein, dan garam-garam narkotika dalam golongan tersebut

Psikotropika

Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak MDMA, ekstasi, LSD, digunakan dalam STP terapi, serta mempunya potensi amat kuat menimbulkan sindroma ketergantungan

p s i k o t r o p i k a

II

Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan/ atau untuk tujuan ilmu pengetahuan, serta mempunya potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan

Amfetamin, fensiklidin, sekobarbital, metakalon, metilfenidat (Ritalin)

III

Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/ atau untuk tujuan ilmu pengetahuan, serta Fenobarbital, flunitrazepam mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/ atau untuk tujuan ilmu pengetahuan, serta mempunyai potensi ringan menimbulkan sindroma ketergantungan

IV

Diazepam, klobazam, bromazepam, klonazepam, klordiazepoksida, nitrazepam (BK. DUM, MG)

Untuk dapat menentukan sebab kematian seseorang karena keracunan diperlukan kriteria sebagai berikut :

bahwa korban benar kontak dengan racun, ada yang melihat sedang menyuntik atau meminum racun. Adanya tanda dan gejala klinis yang sesuai dengan tanda dan gejala keracunan racun yang diduga Secara pemeriksaan laboratoris dapat dibuktikan adanya racun dalam benda bukti yang berupa sisa makanan atau sisa obat. Pem.bedah mayat, ditemukan yg sesuai dg kelainan yg di temukan pd kasus keracunan yg sama --> pd pem. Mikroskopis.

farmakokinetik

Absorbsi : disaluran cerna, selaput lendir hidung dan paru, suntikan IV, IM, SC dan kulit yang luka. Morfin sangat cepat hilang dari darah (2,5 menit pada binatang percobaan) dan terkonsentrasi pada jaringan parenkim seperti ginjal, paru, hati dan limpa. Hampir 90% morfin dalam tubuh terdapat sebagai bentuk terikat (konjugasi) dengan asam glukoronat. morfin dalam jumlah kecil masih dapat ditemukan dalam urin setelah 48 jam, 90 % dari ekskresi total berlangsung dalam 24 jam pertama.

farmakodinamik
Memp. Khasiat depresi Susunan Saraf Pusat Efek terhadap SSP --> analgetik dan narkose, perasaan mengantuk, tidak dapat berkonsentrasi, sukar berpikir, apatis, penglihatan kurang tajam, letargi, badan terasa panas dan muka terasa gatal, mulut terasa kering, depresi pernafasan dan pupil miosis. Dosis fatal : Opium mentah : 1-2 gram Opium tingtur : 3- 4 ml Morfin : 60- 180 mg (disuntikkan) Kodein : 200- 400 mg Heroin : 20- 30 mg

Shabu- shabu
kristal putih o dikonsumsi dengan cara membakarnya diatas aluminium foil o sering dikeluhkan sebagai penyebab paranoid (rasa takut yang berlebihan).
o

Rumus kimia : XTC adalah 3-4 MethyleneDioxyMethilAmphetamine (MDMA). XTC mulai bereaksi setelah 20- 60 menit diminum. Efeknya berlangsung maks. 1 jam tbh terasa melayang, pupil mbsr, jtg bdebar kencang, mual, kepala terasa kosong, rileks,asyik, bangsur hilang 4- 6 jam

Ectasy

Codein

Pd opium mentah, kodein dihasilkan dari morphine. menghasilkan analgesia yang kurang, ketenangan dan penurunan pernafasan.

Ganja
canabis Sativa, atau mariyuana dikenal di Amerika Utara dan Selatan mgndng zat THC (tetra Hydrocannabinol) yaitu suatu zat eleven aktif sebagai factor penyebab halusinasi/khayalan pada penggunanya.

Gejala bisa terdapat dalam 3 tahap :


Tahap eksitasi : merupakan tahap dimana pasien mempunyai perasaan yang tenang, aktivitas fisik dan mental meningkat dengan gejala : Bebas dari perasaan gelisah Tidak bisa istirahat Halusinasi Wajah berwarna merah Kerja jantung meningkat Pada anak- anak bisa disertai kejang Perasaan senang kadang berlebihan, sehingga pasien bisa menjadi maniak.

Continue..
Tahap stupor : blangsung bbrp menit - bbrp jam dan hampir selalu muncul pada setiap kasus keracunan opium, efek depresi dg gejala : Sakit kepala, Tubuh terasa berat, Merasa lelah, Pusing Mengantuk dan selalu ingin tidur, pasien bisa dibangunkan akan tetapi akan tidur kembali. Konstriksi pupil --> pin point pupil. Wajah dan bibir sedikit mengalami sianosis. Denyut nadi dan pernafasan normal.

Continue..
Tahap koma : pasien tidak bisa dibangunkan lagi, tidak ada reaksi terhadap suara dan guncangan --> rangsangan nyeri (-) --> Otot- otot mengalami relaksasi dan refleks menghilang, Pupil pin point. Pernafasan cheyne- stokes. Denyut nadi lemah dan lambat, kejang- kejang.

Sebab kematian pada morfinis dapat dibagi menjadi dua, yaitu : Kematian langsung : depresi pusat pernafasan --> edema pulmonum --> o/k cairan serebrospinal & tek. Intrakranial --> syok anafilaktik. Kematian tdk langsung : akibat dari pemakaian alatalat (jarum, spuit) --> infeksi yang dapat mendatangkan kematian, paru-paru --> emboli / pneumonia, endokarditis, hepatitis, Infeksi lainnya seperti tetanus, malaria dan sepsis.

Mekanisme kematian

Bilas lambung dg KMNO4 0,25 % Jaga jalan nafas --> memasang endotrakeal Suhu tubuh dipertahankan --> kantung air hangat dan selimut. Jika keracunannya karena opium --> suntikan gol. Nalorfin hidrobromida 5 mg iv. Untuk antidotum yang spesifik dapat diberikan antagonis narkotika seperti : Nalorfin HCl (Nalline), dengan dosis 0,1 mg/Kg (IV) Naloxone HCl (Narcan), dengan dosis 0,005 mg/Kg (IV)

Penatalaksanaan

Continue..

Pasien syok --> glukosa 5% dlm lar. garam fisiologis iv Berikan coramin (niketamid) --> perangsang susunan saraf pusat. Usus besar dikosongkan dengan pencahar --> magnesium sulfat. lakukan kateterisasi jika dianggap perlu.

Pemeriksaan luar : o Bekas suntikan (needle mark) : fossa ante-cubiti, lengan atas, punggung tangan dan tungkai. o Pem. Kel. Getah bening --> daerah aksiler, disertai adanya bekas- bekas suntikan. o Skin blister --> telapak tgn & kaki o Tanda2 asfiksia : keluarnya busa halus putih dari lubang hidung dan mulut

Pemeriksaan Autopsi

Pemeriksaan dalam
Makroskopis

Mikroskopis

paru-paru voluminous emfisema akut yang difus dengan aspirasi benda asing didalam bronkhi. paru-paru sangat mengembang, trakea dan cabangcabangnya berisi busa halus

kongesti dan edema disertai adanya sebukan sel-sel mononuklear di dalam dan pada dinding alveoli,narcotic lung (khas) kongesti dan sebukan sel makrofag perdarahan-perdarahan alveolar, intrabronkhioler, dan perdarahan subpleural, tampak pula sebukan sel

Alat- alat suntik, botol, bh. Pelarut yg dipakai Sample biologis : urine, cairan empedu, darah, daerah tempat suntikan (diambil sampai radius 5- 10 cm dr tempat suntikan). lendir dr lubang hidung --> bila korban menggunakan cara sniffing.

Pengambilan sample / barang bukti

Pemeriksaan toksikologis
Uji Marquis : Reagen (3 ml as. Sulfat pekat + 2 tts formaldehida 40 % Narkotika --> warna ungu o > Morfin, heroin & Codein + marquis --> ungu o > Pethidin + marquis --> jingga Heroin : (uji yg lbh khas) 10 tts camp. As. Nitrit pekat + 85 % as. Fosfor --> 12 : 38 --> tab. Sentrifuge uk 5 ml + 3,25 ml kloroform --> sentrifuge selama 30 --> lap. warna dsr tab. Stlh 10 mnt.--> hijau muda (-), kuning muda : 10 ug, kuning coklat 1 mg, merah coklat gelap : 10 mg.

Penutup
Obat bius atau Narkotika sering disalah gunakan, yaitu untuk membius korban yang dilanjutkan dengan tindakan- tindakan yang melanggar hukum lainnya. keracunan morfin dan heroin merupakan keracunan yang paling banyak didapatkan khususnya pada keracunan yang berakibat fatal, bila dibandingkan dengan keracunan narkotika lainnya. Keracunan dapat terjadi secara akut maupun kronik, keracunan akut biasanya akibat bunuh diri dapat pula karena kecelakaan dan pembunuhan.