Anda di halaman 1dari 109

PEDOMAN UMUM

PELAKSANAAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA TAHUN 2012

PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA TAHUN 2012 KEMENTERIAN PERTANIAN DIREKTORAT JENDERAL HORTIKULTURA 2011

KEMENTERIAN PERTANIAN

DIREKTORAT JENDERAL HORTIKULTURA

2011

Direktorat Jenderal Hortikultura

DAFTAR ISI

KATA PENGAN TAR

i

DAFTAR ISI

iii

BAB I

PENDAHULUAN

1

A. Latar Be lakang

1

B. Tujuan da n Sasara n

4

C. Ruang Li ngkup

5

BAB II

SASARAN, PROGRAM, ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN HORTIKULTURA TAHUN ANGGAR AN 2012

7

A. Sasaran

7

B. Program Pengembang an Hortikultura

14

C. Arah Ke bijakan

15

D. Strategi

18

E. Langkah Op erasional

24

BAB III

KEGIATAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA TAHUN ANGGAR AN 2012

27

BAB IV

STRUKTUR PENGELOLAAN ANGGARAN DIREKTORAT JENDERAL HORTIKULUR A TAHUN 2 012

33

Direktorat Jenderal Hortikultura

BAB V

SISTEM PELAPORAN KEUANGAN DAN PERLENGKAPAN

35

BAB VI

MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN KINERJA

41

A. Monitoring da n Evaluasi

41

B. Pelaporan SIMONEV

45

BAB VII

PENU TUP

51

LAMPIRAN

53

Direktorat Jenderal Hortikultura

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan hortikultura telah memberikan sumbangan yang berarti bagi sektor pertanian maupun perekonomian nasional, yang dapat dilihat dari nilai Produk Domestik Bruto (PDB), jumlah rumah tangga yang mengandalkan sumber pendapatan dari sub sektor hortikultura, penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat. Pembangunan hortikultura juga meningkatkan nilai dan volume perdagangan internasional atas produk hortikultura nasional dan ketersediaan sumber pangan masyarakat. Kontribusi sub sektor hortikultura ke depan akan dapat lebih ditingkatkan melalui peningkatan peran dan tanggung jawab Direktorat Jenderal Hortikultura, bersinergi dengan para pemangku kepentingan lainnya.

Pembangunan hortikultura pada berbagai sentra dan kawasan telah difasilitasi pemerintah melalui berbagai program dan kegiatan baik dengan dana dari pusat (APBN) maupun daerah (APBD), serta dukungan dari masyarakat (petani dan swasta). Pembangunan hortikultura bertujuan untuk mendorong berkembangnya agribisnis hortikultura yang mampu menghasilkan produk hortikultura yang berdaya saing, mampu menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan petani dan pelaku, memperkuat perekonomian wilayah serta mendukung pertumbuhan pendapatan nasional.

Direktorat Jenderal Hortikultura

Pengembangan hortikultura dalam perspektif paradigma baru tidak hanya terfokus pada upaya peningkatan produksi komoditas saja tetapi terkait juga dengan isu-isu strategis dalam pembangunan yang lebih luas. Pengembangan hortikultura merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya; 1) Pelestarian lingkungan, penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan, 2) Menarik investasi skala keci menengah, 3) Pengendalian inflasi dan stabilisasi harga komoditas strategis (cabe merah dan bawang merah), 4) Pelestarian dan pengembangan identitas nasional (anggrek, jamu, dll), 5) Peningkatan ketahanan pangan melalui penyediaan karbohidrat alternatif, dan 6) Menunjang pengembangan sektor pariwisata

Komoditas hortikultura juga mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, sehingga usaha agribisnis hortikultura (buah, sayur, florikultura dan tanaman obat) dapat menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat dan petani baik berskala kecil, menengah maupun besar, karena memiliki keunggulan berupa nilai jual yang tinggi, keragaman jenis, ketersediaan sumberdaya lahan dan teknologi, serta potensi serapan pasar di dalam negeri dan internasional yang terus meningkat. Pasokan produk hortikultura nasional diarahkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen dalam negeri, baik melalui pasar tradisional, pasar modern, maupun pasar luar negeri (ekspor).

Usaha agribisnis hortikultura (buah-buahan, sayuran, florikultura dan tanaman obat) merupakan sumber pendapatan tunai bagi

Direktorat Jenderal Hortikultura

masyarakat dan petani skala kecil, menengah dan besar dengan keunggulan berupa : nilai jualnya yang tinggi, jenisnya beragam, tersedianya sumberdaya lahan dan teknologi, serta potensi serapan pasar di dalam negeri dan internasional yang terus meningkat. Produk hortikultura dalam negeri saat ini telah mampu memasok kebutuhan konsumen dalam negeri melalui pasar tradisional dan pasar moderen serta pasar luar negeri.

Ketersediaan sumberdaya hayati yang berupa jenis tanaman dan varietas yang banyak dan ketersediaan sumberdaya lahan, apabila dikelola secara optimal akan menjadi sumber kegiatan usaha ekonomi yang bermanfaat untuk penanggulangan kemiskinan dan penyediaan lapangan kerja di pedesaan. Kondisi ini ternyata belum dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat pembangunan subsektor hortikultura. Beberapa permasalahan masih dihadapi oleh pelaku usaha hortikultura diantaranya : rendahnya produktivitas, lokasi yang terpencar, skala usaha sempit dan belum efisien, kebijakan dan regulasi di bidang perbankan, transportasi, ekspor dan impor belum sepenuhnya mendukung pelaku agribisnis hortikultura nasional. Hal ini menyebabkan produk hortikultura nasional kurang mampu bersaing dengan produk hortikultura yang berasal dari negara lain. Oleh karena itu untuk meningkatkan kontribusi sub sektor hortikultura ke depan diperlukan dukungan semua pihak secara terintegrasi sesuai tugas dan fungsinya.

Penerapan sistem penganggaran terpadu berbasis kinerja, membawa konsekuensi akan pentingnya pengaturan sistem dan

Direktorat Jenderal Hortikultura

mekanisme perencanaan pembangunan yang mengakomodasi semangat reformasi yang lebih demokratis, desentralistik, sinergis, komprehensif dan berkelanjutan. Sistem penganggaran yang lebih responsif diperlukan guna memenuhi tuntutan peningkatan kinerja dalam bentuk hasil pembangunan, kualitas layanan, dan efisiensi pemanfaatan sumberdaya serta mempermudah pencapaian sasaran program pembangunan pertanian, khususnya subsektor hortikultura secara efektif, efisien, akuntabel dan terukur.

Dalam rangka mencapai efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan anggaran kinerja subsektor hortikultura dan untuk menselaraskan antara rancangan program dengan pelaksanaan kegiatan di lapangan serta untuk mengurangi terjadinya perubahan rancangan kegiatan yang semula sudah tersusun, diperlukan suatu acuan pelaksanaan kegiatan pengembangan agribisnis hortikultura.

B. Tujuan dan Sasaran

Tujuan yang ingin dicapai dari Pedoman Umum Pelaksanaan Pengembangan Hortikultura Tahun 2012 adalah:

1. Memberikan acuan dan pedoman bagi pelaksanaan kegiatan pengembangan hortikultura yang berbasis kinerja.

2. Meningkatkan

kegiatan

pemahaman

bagi

para

pelaksana

dalam menyusun kegiatan dan anggaran berbasis kinerja.

Direktorat Jenderal Hortikultura

3. Meningkatkan koordinasi dan keterpaduan pelaksanaan program dan kegiatan pengembangan hortikultura .

4. Meningkatkan efisiensi, efektivitas, ketertiban, transparansi serta tanggung jawab bagi pelaksana kegiatan sehingga memudahkan pelaporan dan evaluasi kinerja pelaksanaan pengembangan sub sektor hortikultura.

Sasaran yang ingin dicapai dari buku Pedoman Umum Pelaksana- an Pengembangan Hortikultura Tahun 2012 adalah:

1. Terlaksananya kegiatan pembangunan sub sektor hortikultura.

2. Meningkatnya koordinasi dan keterpaduan perencanaan serta pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan sub sektor hortikultura.

C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup subtansi Pedoman Umum Pelaksanaan Pengembangan Hortikultura Tahun 2012 meliputi:

1. Sasaran, Program, Kebijakan dan Strategi Pengembangan Hortikultura Tahun 2012

2. Kegiatan Pengembangan Hortikultura Tahun 2012

3. Sistem Pelaporan Keuangan dan Perlengkapan

4. Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan Kinerja

Direktorat Jenderal Hortikultura

BAB II SASARAN, PROGRAM, ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN HORTIKULTURA TAHUN ANGGARAN 2012

A. Sasaran

Bappenas telah mencanangkan 11 (sebelas) prioritas nasional yang menjadi fokus pembangunan di Indonesia, sektor pertanian masuk ke dalam prioritas ketahanan pangan. Kementerian Pertanian menjabarkan lebih lanjut ke dalam 4 (empat) target utama yang akan dicapai, diantaranya: Swasembada pangan, peningkatan diversifikasi pangan, peningkatan daya saing dan ekspor, serta peningkatan kesejahteraan kepada petani.

Dalam mendukung capaian (4) empat target sukses Kementerian Pertanian maka Direktorat Jenderal Hortikultura menjabarkan lebih detail sasaran yang akan dicapai oleh Direktorat Jenderal Hortikultura yang disesuaikan dengan tupoksi unit organisasi dan kepercayaan anggaran yang diberikan.

Sesuai dengan nafas pembangunan yang dinamis, pada saat ini peran pemerintah lebih fokus sebagai fasilitator dan dinamisator, dan lebih mendorong peranan swasta dan masyarakat. Sinergi pemerintah dan swasta serta masyarakat akan menghasilkan kinerja berupa peningkatan produksi, produktivitas dan mutu produk hortikultura di dalam negeri yang aman konsumsi,

Direktorat Jenderal Hortikultura

berdaya saing dan berkelanjutan yang pada gilirannya, melalui sinergi seluruh jajaran pemerintah, akan dicapai tingkat pendapatan yang semakin hari semakin baik, sehingga tingkat kesejahteraan masyarakat juga semakin baik.

Dalam rangka melaksanakan tugas pokok dan fungsi, Direktorat Jenderal Hortikultura mengalokasikan sejumlah anggaran melalui pola dekonsentrasi bagi Dinas Pertanian Provinsi beserta UPT nya dan dana tugas pembantuan kepada Dinas Pertanian kabupaten/kota. Dana APBN tahun 2012 yang sangat terbatas tersebut, harus digunakan dengan sebaik-baiknya dengan mengacu kepada prinsip efesiensi dan efektivitas agar sasaran pengembangan hortikultura tahun 2012 dapat dicapai.

Oleh karena itu, sasaran program pengembangan hortikultura di tahun 2012 adalah meningkatnya produksi, produktivitas dan mutu produk tanaman hortikultura yang aman konsumsi berdaya saing dan berkelanjutan. Sedangkan sasaran kegiatan per eselon II lingkup Ditjen Hortikultura adalah :

1. Meningkatnya luas areal, perbaikan pengelolaan kebun dan penanganan pascapanen buah.

2. Meningkatnya luas areal, perbaikan pengelolaan unit usaha dan penanganan pascapanen tanaman florikultura.

3. Meningkatnya luas areal, perbaikan pengelolaan lahan usaha dan penanganan pascapanen sayuran dan tanaman obat.

4. Berkembangnya sistem perbenihan hortikultura dalam mendukung pengembangan kawasan hortikultura.

Direktorat Jenderal Hortikultura

5. Terkelolanya serangan OPT dalam pengamanan produksi hortikultura dan terpenuhinya persyaratan teknis yang terkait dengan perlindungan tanaman dalam mendukung ekspor hortikultura.

6. Meningkatnya kapasitas manajemen administrasi, sumberdaya manusia, sarana dan prasarana anggaran serta piranti lunak organisasi pengembangan produksi hortikultura.

Secara rinci target produksi dan kinerja pengembangan hortikultura disajikan pada Tabel 1 dan Tabel 2.

Tabel 1. Target Produksi Hortikultura Tahun 2012

 

KOMODITAS

PRODUKSI

a.

Buah

 

1)

Jeruk (ton)

2.138.688

2)

Mangga (ton)

2.351.473

3)

Manggis (ton)

102.361

4)

Durian (ton)

766.150

5)

Pisang (ton)

6.399.335

6)

Buah Pohon dan Perdu lainnya (ton)

3.705.287

7)

Buah Semusim dan Merambat (ton)

762.001

8)

Buah Terna lainnya (ton)

2.445.805

 

Total Buah (ton)

18.671.100

Direktorat Jenderal Hortikultura

 

KOMODITAS

PRODUKSI

b.

Sayuran

 

1)

Cabe (ton)

1.423.500

2)

Bawang Merah (ton)

1.122.000

3)

Kentang (ton)

1.128.100

4)

Jamur (ton)

67.100

5)

Sayuran Umbi lainnya (ton)

494.600

6)

Sayuran Daun (ton)

3.313.100

7)

Sayuran Buah lainnya (ton)

4.043.500

 

Total Sayuran (ton)

11.591.900

c.

Tanaman Obat

 

1)

Temulawak (ton)

28.903

2)

Tanaman Obat Rimpang lainnya (ton)

351.636

3)

Tanaman Obat Non Rimpang (ton)

73.625

 

Total Tanaman Obat (ton)

454.200

d.

Tanaman Florikultura

 

1)

Anggrek (Tangkai)

14.948.699

2)

Krisan (Tangkai)

201.368.750

3)

Tan. Hias Bunga dan Daun lainnya (tangkai)

215.205.222

4)

Tan. Pot dan Tan. Taman (pohon)

15.711.863

5)

Tan. Bunga Tabur (melati) (kg)

23.943.123

Direktorat Jenderal Hortikultura

Tabel 2.

Target Kinerja Pengembangan Hortikultura Tahun 2012 *)

No

Kegiatan/Indikator

Target

2012

I.

Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Produk Tanaman Buah Berkelanjutan

 

A. Pengembangan Kawasan Tanaman Buah (Ha)

8.041

B. Pengembangan Registrasi Kebun Tanaman Buah (Kebun)

810

C. Perbaikan Mutu Pengelolaan Kebun Tanaman Buah (Klp)

418

D. Perbaikan Mutu Pengelolaan Pascapanen Tanaman Buah (unit)

162

E. Pengembangan Registrasi Packing House

26

(packing house)

F. Peningkatan Jumlah Kelembagaan Usaha Tanaman Buah (Lembaga)

253

II.

Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Produk Florikultura Berkelanjutan

 

A. Pengembangan Kawasan Florikultura (M2)

354.850

B. Pengembangan Registrasi Unit Usaha Tanaman Florikultura (Lahan Usaha)

26

C. Perbaikan Mutu Pengelolaan Unit Usaha Tanaman Florikultura (Klp)

139

D. Perbaikan Mutu Pengelolaan Pascapanen Florikultura (unit)

148

E. Peningkatan Jumlah Kelembagaan Usaha Tanaman Florikultura (Lembaga)

99

Direktorat Jenderal Hortikultura

No

Kegiatan/Indikator

Target

2012

III.

Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Produk Tanaman Sayuran dan Tanaman Obat Berkelanjutan

 

A. Pengembangan Kawasan Tanaman Sayuran dan Tanaman Obat (Ha)

5.148

B. Pengembangan Registrasi Lahan Usaha Tanaman Sayuran dan Tanaman Obat (Lahan Usaha)

630

C. Perbaikan Mutu Pengelolaan Lahan Usaha Tanaman Sayuran dan Tanaman Obat (Klp)

278

D. Perbaikan Mutu Pengelolaan Pascapanen Tanaman Sayuran dan Tanaman Obat (unit)

470

E. Pengembangan Registrasi Packing House

9

(packing house)

F. Peningkatan Jumlah Kelembagaan Usaha Tanaman Sayuran dan Tanaman Obat (Lembaga)

274

IV.

Pengembangan Sistem Perbenihan Hortikultura

 

A. Peningkatan Ketersediaan Benih Tanaman Sayuran Bermutu (Kg)

467.292

B. Peningkatan Ketersediaan Benih Tanaman Florikultura Bermutu (Benih)

10.143.982

C. Peningkatan Ketersediaan Benih Tanaman Obat Bermutu (Kg)

10.737

D. Peningkatan Ketersediaan Benih Tanaman

929.860

Buah Bermutu (Batang)

E. Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Perbenihan Hortikultura (lembaga)

133

Direktorat Jenderal Hortikultura

No

 

Kegiatan/Indikator

Target

2012

 

F.

Peningkatan Kapasitas Lab Perbenihan Hortikultura (unit)

427

V.

Pengembangan Sistem Perlindungan Tanaman Hortikultura.

 

A. Peningkatan pengelolaan OPT (kali)

1.074

B. Pengelolaan Dampak Perubahan Iklim (Rekomendasi)

65

C. Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Perlindungan Tanaman Hortikultura (unit)

169

D. Peningkatan Kapasitas Lab. Perlindungan Tanaman Hortikultura. (unit)

164

E. Peningkatan Pemenuhan Persyaratan Teknis SPS mendukung Ekspor Produk Hortikultura (Draft Pest List)

13

F. Pengembangan SLPHT (Klp)

540

VI.

Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Hortikultura

 

A. Pelayanan Manajemen (Bulan)

12

B. Pengelolaan Laporan (Laporan)

695

C. Pengelolaan Dokumen (Dokumen)

173

D. Pemberdayaan LM3 (Lembaga)

80

E. Pemberdayaan Konsorsium Hortikultura (Kelompok PMD)

220

*) Keterangan : Data POK/DIPA Tahun 2012

Direktorat Jenderal Hortikultura

B. Program Pengembangan Hortikultura

Sesuai dengan Pedoman Reformasi Perencanaan dan Penganggaran, maka Direktorat Jenderal Hortikultura mempunyai satu program yaitu “Peningkatan Produksi, Produktivitas, dan Mutu Produk Tanaman Hortikultura Berkelanjutan”

Secara ringkas program dan kegiatan prioritas Direktorat Jenderal Hortikultura disajikan pada Tabel 3 berikut.

Tabel 3. Program dan Kegiatan Utama Direktorat Jenderal Hortikultura Tahun 2012

KODE

PROGRAM DAN KEGIATAN UTAMA

018.04.07

Program Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Produk Tanaman Hortikultura Berkelanjutan

1769

Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Produk Tanaman Buah Berkelanjutan.

1770

Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Produk Tanaman Florikultura Berkelanjutan.

1771

Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Produk Tanaman Sayuran dan Tanaman Obat Berkelanjutan.

1772

Pengembangan Sistem Perbenihan Hortikultura

1773

Pengembangan Sistem Perlindungan Tanaman Hortikultura

1774

Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Hortikultura

Direktorat Jenderal Hortikultura

C. Arah Kebijakan

Arah kebijakan pengembangan hortikultura mengacu pada arah kebijakan pengembangan pertanian yang diselaraskan dengan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Hortikultura. Adapun arah kebijakan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Peningkatan produksi, produktivitas dan mutu produk hortikultura untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri (konsumsi, industri dan substitusi impor) dan meningkatkan ekspor melalui penerapan GAP/SOP, penerapan PHT, GHP, perbaikan kebun, penerapan teknologi maju, penggunaan benih bermutu varietas unggul.

2. Peningkatan kualitas dan kuantitas produk hortikultura melalui perbaikan dan pengembangan infrastruktur serta sarana budidaya dan pascapanen hortikultura.

3. Penguatan kelembagaan perbenihan hortikultura melalui revitalisasi Balai Benih, penguatan kelembagaan penangkar, penataan Blok Fondasi (BF) dan Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT), meningkatkan kapasitas kelembagaan pengawasan dan sertifikasi benih hortikultura

peran swasta dalam membangun industri

4. Peningkatan

perbenihan

5. Pemberdayaan petani/pelaku usaha hortikultura melalui bantuan sarana, sekolah lapang, magang, studi banding dan pendampingan.

Direktorat Jenderal Hortikultura

6. Penguatan akses petani/pelaku usaha hortikultura terhadap teknologi maju antara lain kultur jaringan, rekayasa genetik, somatik embrio genetik, nano teknologi dan teknologi pascapanen serta pengolahan hasil;

7. Penguatan akses petani/pelaku usaha hortikultura terhadap pasar modern, pasar ekspor melalui pembenahan manajemen rantai pasokan, pembenahan rantai pendingin, kemitraan usaha.

8. Penguatan akses petani/pelaku usaha hortikultura terhadap permodalan bunga rendah seperti Program Kemitraan dan

Bina Lingkungan

(CSR), Skim kredit bersubsidi Kredit Ketahanan Pangan dan

Energi (KKPE), skim kredit penjaminan Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta bantuan sosial seperti Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP), Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3), Penggerak Membangun Desa (PMD).

9. Mendorong investasi hortikultura melalui fasilitasi investasi terpadu, promosi baik di dalam maupun di luar negeri dan dukungan iklim usaha yang kondusif melalui pengembangan dan penyempurnaan regulasi.

10. Pembangunan dan pengutuhan kawasan hortikultura yang direncanakan dan dikembangkan secara terintegrasi dengan instansi terkait.

11. Promosi dan kampanye meningkatkan konsumsi buah dan sayur dalam rangka mendukung diversifikasi pangan serta

(PKBL)/Corporate

Social

Responsibility

Direktorat Jenderal Hortikultura

mendorong upaya pencapaian standar konsumsi perkapita

yang ditetapkan oleh Food & Agriculture Organitation (FAO).

12. Peningkatan keseimbangan ekosistem dan pengendalian hama penyakit tumbuhan secara terpadu melalui pengembangan SLPHT, pengembangan agen hayati, mitigasi dampak iklim.

13. Peningkatan perlindungan dan pendayagunaan plasma- nutfah nasional melalui konservasi, domestikasi dan komersialisasi. Penanganan pascapanen yang berbasis kelompok tani, pelaku usaha dan industri untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing.

14. Berperan aktif dalam meningkatkan daya saing produk hortikultura di pasar internasional melalui pemenuhan persyaratan perdagangan dan peningkatan mutu produk dan mendorong perlindungan tarif dan non tarif perdagangan internasional.

15. Peningkatan promosi citra petani dan pertanian guna menumbuhkan minat generasi muda menjadi wirausahawan agribisnis hortikultura.

16. Pengembangan kelembagaan yang dapat membantu petani/ pelaku usaha dalam mengakselerasi pertumbuhan agribisnis hortikultura.

17. Peningkatan dan penerapan manajemen pembangunan per- tanian yang akuntabel, tranparansi, disiplin anggaran, efisien dan efektif, pencapaian indikator kinerja secara optimal.

Direktorat Jenderal Hortikultura

D. Strategi

1. Pengembangan Kawasan/Penataan Kebun

Tujuan pengembangan kawasan hortikultura adalah (1) Meningkatkan produksi, produktivitas dan mutu, (2) Mengembangkan keanekaragaman usaha hortikultura yang menjamin kelestarian fungsi dan manfaat lahan, (3) Menciptakan lapangan kerja, (4) Meningkatkan efektifitas dan efisiensi pelayanan, (5) Meningkatkan kesempatan berusaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat dan negara, maupun kesejahteraan, kualitas hidup, kapasitas ekonomi dan sosial masyarakat petani, dan (6) Meningkatkan ikatan komunitas masyarakat disekitar kawasan yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestarian dan keamanannya.

Manfaat dari pengembangan kawasan hortikultura diantaranya: (1) mempermudah penanganan berbagai komoditas hortikultura secara terpadu sesuai dengan kesamaan karakteristiknya, (2) Membuka kesempatan semua komoditas hortikultura yang penting di suatu kawasan ditangani secara proposional serta mengurangi keinginan daerah menangani komoditas prioritas nasional yang tidak sesuai untuk daerahnya, (3) Menjadi wahana bagi pelaksana desentralisasi pembangunan secara nyata dengan pembagian dan keterkaitan fungsi antar tingkatan pemerintah secara lebih proporsional, (4) Mendorong sinergi dari berbagai sumberdaya, dan (5) memberikan insentif bagi para

Direktorat Jenderal Hortikultura

pelaksana di kabupaten, (6) mempercepat pertumbuhan pendapatan, penyerapan tenaga kerja dan tumbuhnya sektor-

sektor usaha terkait (Backward and forward linkages).

2. Perbaikan Mutu Produk

Perbaikan mutu produk akan difokuskan pada penerapan GAP

(Good

Agricultural

Practices)

dan

GHP

(Good

Handling

Practices), registrasi kebun/lahan usaha, registrasi packing

house dan penerapan teknik budidaya yang ramah lingkungan.

Penerapan GAP melalui Standard Operation Procedure (SOP)

yang spesifik lokasi, spesifik komoditas dan spesifik sasaran pasarnya, dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produk yang dihasilkan petani agar memenuhi persyaratan konsumen dan memiliki daya saing tinggi bagi produk-produk tertentu, dibandingkan dengan produk padanannya dari luar negeri.

Penerapan GAP di Indonesia didukung dengan telah terbitnya Peraturan Menteri Pertanian No. 48/Permentan/OT.140/10/2009, tanggal 19 Oktober 2009 tentang Pedoman Budidaya Buah

dan Sayur yang Baik (Good Agricultural Practices For Fruit and

Vegetable). Dengan demikian penerapan GAP oleh pelaku usaha/ petani mendapat dukungan legal dari pemerintah pusat maupun daerah.

Direktorat Jenderal Hortikultura

Tujuan dari penerapan GAP/SOP diantaranya; (1) Meningkatkan produksi dan produktivitas, (2) Meningkatkan mutu hasil hortikultura termasuk keamanan konsumsi, (3) Meningkatkan daya saing, (4) Memperbaiki efisiensi penggunaan sumberdaya alam, (5) Mempertahankan kesuburan lahan, kelestarian lingkungan dan sistem produksi yang berkelanjutan, (6) Mendorong petani dan kelompok tani untuk memiliki sikap mental yang bertanggung jawab terhadap kesehatan dan keamanan diri dan lingkungan, (7) Meningkatkan peluang penerimaan oleh pasar internasional, (8) Memberi jaminan keamanan terhadap konsumen, sedangkan sasaran yang akan dicapai adalah terwujudnya keamanan pangan, produktivitas tinggi, jaminan mutu, usaha agribisnis hortikultura berkelanjutan dan peningkatan daya saing.

Beberapa kegiatan dalam rangka mendukung perbaikan mutu produk meliputi : fasilitasi sarana panen, sarana pascapanen, rantai pendingin dan sarana penyimpan dan distribusi. Disamping itu perlu pembandingan (benchmarking) standar berupa sistem produksi berbasis GAP dan standar mutu produk dengan negara tujuan ekspor.

3. Penguatan Sistem Perlindungan Tanaman

Penguatan sistem perlindungan tanaman akan diarahkan

dalam rangka pengembangan penerapan Pengendalian Hama

Terpadu

(PHT)

skala

luas

(Area

Wide

Integrated

Pest

Direktorat Jenderal Hortikultura

Management/IPM, Area Low Pest Prevalance/ALPP untuk lalat

buah), pengembangan agro klinik, pengembangan Musuh Alami dan Agens Hayati, pengembangan Biopestisida serta Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT).

4. Penguatan Sistem Perbenihan

Penguatan sistem perbenihan akan diarahkan dalam rangka pengembangan sistem perbenihan yang murah, tepat waktu dan mudah dijangkau petani. Penguatan kelembagaan terdiri dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) dan Balai Benih Hortikultura (BBH). Penguatan sistem perbenihan juga difokuskan pada revitalisasi balai benih melalui penyediaan benih sumber sesuai dengan masterplan pengembangan kawasan dan koleksi varietas serta pembinaan penangkar, asoasi penangkar, koperasi penangkar dan perusahaan benih lokal.

5. Penguatan Kelembagaan

Kelembagaan usaha sangat penting untuk meningkatkan daya saing dan tawar petani di dalam rantai pasokan. Untuk itu perlu dibangun kelembagaan yang mampu memperkuat kerjasama antara kelompok tani/Gapoktan ataupun kerjasama antar pedagang. Integrasi vertikal merupakan kerjasama antara pelaku usaha dalam segmen yang berbeda, yaitu antara kelompok tani dengan pedagang, termasuk di

Direktorat Jenderal Hortikultura

dalamnya kerjasama tri-partite antara kelompok tani, pedagang dan asosiasi.

Untuk meningkatkan daya tawar petani dan meningkatkan efektivitas dan efisiensi usaha diperlukan pembentukan dan pengaktifan kelompok-kelompok tani dan gabungan kelompok tani (gapoktan). Keberadaan gabungan kelompok tani juga akan memudahkan dalam mensosialisasikan, menerapkan teknologi dan mengakses pembiayaan, dengan demikian skala usaha menjadi lebih besar dan ekonomis. Pemberdayaan kelompoktani dan Gapoktan diarahkan pada peningkatan kemampuan agribisnis secara keseluruhan, sehingga tidak terfokus pada aspek budidaya saja.

6. Penanganan Pascapanen

Karakteristik komoditas hortikultura adalah bersifat volumunios (membutuhkan tempat yang besar) dan perishable (mudah rusak), sehingga dibutuhkan penanganan pascapanen yang cepat dan tepat. Hal utama yang timbul akibat penanganan yang kurang tepat dan cepat tersebut adalah tingginya kehilangan atau kerusakan hasil. Hal ini disebabkan antara lain penanganan pascapanen produk hortikultura yang masih dilakukan secara tradisional atau konvensional dibandingkan kegiatan pra panen. Terlihat bahwa masih rendahnya penerapan teknologi, sarana panen/pascapanen yang terbatas, akses informasi dalam penerapan teknologi dan sarana pascapanen juga terbatas

Direktorat Jenderal Hortikultura

sehingga menjadi kendala dalam peningkatan kemampuan dan pengetahuan petani/pelaku usaha. Penanganan pascapanen hortikultura secara umum bertujuan untuk memperpanjang kesegaran dan menekan tingkat kehilangan hasil yang dilaksanakan melalui pemanfaatan sarana dan teknologi yang baik.

7. Akselerasi Akses Pembiayaan dan Kemitraan

Akselerasi akses pembiayaan akan diarahkan dalam rangka fasilitasi kemudahan mendapatkan akses skim kredit seperti KKPE, KUR. Disamping itu juga diberikan fasilitasi penguatan/modal usaha bagi LM3 dan kelompok binaan PMD tetap menjadi perhatian terutama dalam mendukung penguatan modal pengembangan usaha agribisnis hortikultura. Penguatan kemitraan juga akan tetap dibangun dengan membangun program CSR dari perusahaan swasta dan BUMN.

8. Pemasyarakatan Produk Hortikultura

Pemasyarakatan produk hortikultura dimaksudkan sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengkonsumsi produk hortikultura nasional. Pemasyarakatan merupakan investasi jangka panjang yang dampaknya baru dapat dirasakan pada periode mendatang. Kegiatan pemasyarakatan hortikultura akan dilakukan secara

Direktorat Jenderal Hortikultura

berkelanjutan sehingga diharapkan mendorong motivasi pelaku usaha dalam pengembangan hortikultura.

E. Langkah Operasional

Beberapa langkah operasional untuk pengembangan hortikultura yang dilaksanakan adalah :

a. Pengembangan kawasan perkotaan, untuk lebih mendekatkan lokasi pengembangan (seperti kawasan kota/pekarangan) hortikultura dengan konsumen.

b. Kerjasama petani dengan swasta untuk percepatan perluasan areal tanaman semusim (melon, semangka) untuk memenuhi permintaan ekspor.

c. Pengembangan kawasan sentra, dengan membentuk skala luasan ekonomis minimal 50 ha per kecamatan, terutama komoditas sayuran (bawang merah, cabai) dan buah-buahan (manggis, jeruk, durian, alpukat, dll), terutama di agroekosistem yang memungkinkan untuk produksi di masa

off season.

d. Peningkatan investasi swasta, melalui ekspansi usaha (HGU) dan kemitraan petani baik dengan swasta maupun BUMN.

e. Perbaikan mutu produk, antara lain melalui penerapan GAP serta GHP, penerapan teknologi budidaya ramah lingkungan, fasilitasi sarana panen dan pascapanen.

f. Penguatan sistem perlindungan tanaman, melalui pengem- bangan penerapan PHT, antara lain dengan memperkuat

Direktorat Jenderal Hortikultura

surveillance dengan dukungan teknologi informasi, pengembangan agroklinik, fasilitasi sarana laboratorium.

g. Penguatan sistem perbenihan melalui peningkatan produksi/ ketersediaan benih yang murah, tepat waktu dan mudah dijangkau petani serta peningkatan kapasitas kelembagaan (BPSB dan BBH).

h. Penguatan kelembagaan, antara lain melalui perbaikan manajemen kelembagaan petani (gapoktan, asosiasi, koperasi) dan pemberdayaan.

i. Fasilitasi kemitraan dengan eksportir, pemasok pasar modern dan industri pengolahan.

j. Akselerasi akses pembiayaan melalui kredit khusus (KKPE, KUR) dan meningkatkan peran swasta untuk investasi hortikultura.

k. Fasilitasi bantuan peralatan pascapanen dan penataan rantai distribusi berupa peralatan pascapanen (rak kemasan, alat

petik, mobile cooling box, gerobak, copper).

l. Pengaturan pola produksi terutama sayuran utama (cabe dan bawang merah).

m. Pemasyarakatan produk hortikultura nasional melalui media cetak dan elektronik, pameran dan gerakan konsumsi buah dan sayur.

Direktorat Jenderal Hortikultura

BAB III KEGIATAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA TAHUN ANGGARAN 2012

Pengembangan hortikultura dalam perspektif paradigma baru tidak hanya terfokus pada upaya peningkatan produksi saja tetapi juga terkait dengan isu-isu strategis dalam pembangunan yang lebih luas lagi. Sejalan dengan sasaran yang ingin dicapai dan untuk mendukung pembangunan hortikultura berkelanjutan, maka pada tahun anggaran 2012 telah dialokasikan dana pembangunan melalui 6 (enam) kegiatan dengan rincian sebagai berikut :

1. Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Produk Tanaman Buah Berkelanjutan (Kode 1769)

Tujuan dari kegiatan ini adalah fasilitasi dalam rangka :

pengembangan kawasan tanaman buah, pengembangan registrasi kebun, perbaikan mutu pengelolaan kebun tanaman buah, perbaikan mutu pengelolaan pascapanen tanaman buah, pengembangan registrasi packing house dan peningkatan jumlah kelembagaan usaha tanaman buah.

Sasaran dari kegiatan ini adalah : meningkatnya luas areal, perbaikan pengelolaan kebun tanaman buah dan penanganan pascapanen buah.

Direktorat Jenderal Hortikultura

Indikator output dari kegiatan ini adalah: a) Pengembangan kawasan tanaman buah (ha), b) Pengembangan registrasi kebun tanaman buah, c) Perbaikan mutu pengelolaan kebun tanaman buah, d) Perbaikan mutu pengelolaan pascapanen tanaman buah, e) Pengembangan registrasi packing house, f) Peningkatan jumlah kelembagaan usaha tanaman buah.

2. Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Produk Tanaman Florikultura Berkelanjutan (Kode 1770)

Tujuan dari kegiatan ini adalah fasilitasi dalam rangka pengutuhan kawasan tanaman florikultura, pengembangan registrasi unit usaha, perbaikan mutu pengelolaan unit usaha, perbaikan mutu pengelolaan pascapanen tanaman florikultura, dan peningkatan jumlah kelembagaan usaha tanaman florikultura.

Sasaran dari kegiatan ini adalah : meningkatnya luas areal, perbaikan pengelolaan lahan usaha dan penanganan pascapanen tanaman florikultura.

Indikator output dari kegiatan ini adalah: a) Pengembangan kawasan tanaman florikultura, b) Pengembangan registrasi unit usaha tanaman flrorikultura, c) Perbaikan mutu pengelolaan unit usaha tanaman florikultura, d) Perbaikan mutu pengelolaan pascapanen tanaman florikultura, e) Peningkatan jumlah kelembagaan usaha tanaman florikultura.

Direktorat Jenderal Hortikultura

3. Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Produk Tanaman Sayuran dan Tanaman Obat Berkelanjutan (Kode 1771)

Tujuan dari kegiatan ini adalah fasilitasi dalam rangka pengembangan kawasan tanaman sayuran dan tanaman obat, pengembangan registrasi, perbaikan mutu pengelolaan lahan usaha tanaman sayuran dan tanaman obat, perbaikan mutu pengelolaan pascapanen tanaman sayuran dan tanaman obat, pengembangan registrasi packing house dan peningkatan jumlah kelembagaan usaha tanaman sayuran dan tanaman obat.

Sasaran dari kegiatan ini adalah : meningkatnya luas areal, perbaikan pengelolaan lahan usaha dan penanganan pascapanen sayuran dan tanaman obat.

Indikator output dari kegiatan ini adalah: a) Pengembangan kawasan tanaman sayuran dan tanaman obat, b) Pengembangan registrasi lahan usaha tanaman sayuran dan obat, c) Perbaikan mutu pengelolaan lahan usaha tanaman sayuran dan tanaman obat, d) Perbaikan mutu pengelolaan pascapanen sayuran dan tanaman obat, e) Pengembangan registrasi packing house, f) Peningkatan jumlah kelembagaan usaha tanaman sayuran dan tanaman obat.

Direktorat Jenderal Hortikultura

4. Pengembangan Sistem Perbenihan Hortikultura (Kode

1772)

Tujuan dari kegiatan ini adalah fasilitasi dalam rangka peningkatan ketersediaan benih tanaman sayuran bermutu, benih tanaman florikultura bermutu, benih tanaman obat bermutu, benih tanaman buah bermutu, peningkatan kapasitas kelembagaan perbenihan hortikultura dan peningkatan kapasitas laboratorium perbenihan hortikultura.

Sasaran dari kegiatan ini adalah : berkembangnya sistem perbenihan hortikultura dalam mendukung pengembangan kawasan hortikultura.

Indikator output dari kegiatan ini adalah: a) Peningkatan ketersediaan benih tanaman sayuran bermutu, b) Peningkatan ketersediaan benih tanaman florikultura bermutu, c) Peningkatan ketersediaan benih tanaman obat bermutu, e) Peningkatan ketersediaan benih tanaman buah bermutu, e) Peningkatan kapasitas kelembagaan perbenihan hortikultura, f) Peningkatan kapasitas laboratorium perbenihan hortikultura.

5. Pengembangan Sistem Perlindungan Tanaman Hortikultura (Kode 1773)

Tujuan dari kegiatan ini adalah fasilitasi dalam rangka peningkatan pengelolaan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), pengelolaan dampak perubahan iklim, peningkatan kapasitas kelembagaan perlindungan tanaman hortikultura,

Direktorat Jenderal Hortikultura

peningkatan kapasitas laboratorium perlindungan tanaman hortikultura, peningkatan pemenuhan persyaratan teknis Sanitary and Phyto Sanitary (SPS) mendukung ekspor produk hortikultura dan pengembangan Sekolah Lapang Pengelolaan Hama Terpadu (SLPHT).

Sasaran dari kegiatan ini adalah : terkelolanya serangan OPT dalam pengamanan produksi hortikultura dan terpenuhinya persyaratan teknis yang terkait dengan perlindungan tanaman dalam mendukung ekspor produk hortikultura.

Indikator output dari kegiatan ini adalah: a) Peningkatan pengelolaan OPT, b) Pengelolaan dampak perubahan iklim, c) Peningkatan kapasitas kelembagaan perlindungan tanaman hortikultura, d) Peningkatan kapasitas laboratorium perlindungan tanaman hortikultura, e) Peningkatan pemenuhan persyaratan teknis SPS mendukung ekspor produk hortikultura, f) Pengembangan SLPHT.

6.

Dukungan

Direktorat Jenderal Hortikultura (Kode 1774)

Tujuan dari kegiatan ini adalah fasilitasi dalam rangka pelayanan manajemen, pengelolaan laporan, pengelolaan dokumen, pemberdayaan LM3 dan pemberdayaan konsorsium hortikultura/PMD.

pada

Manajemen

dan

Teknis

Lainnya

Sasaran dari kegiatan ini adalah : meningkatnya kapasitas manajemen administrasi, sumberdaya manusia, sarana dan

Direktorat Jenderal Hortikultura

prasarana anggaran serta piranti lunak organisasi pengembangan produksi hortikultura.

Indikator output dari kegiatan ini adalah: a) Pelayanan manajemen, b) Pengelolaan laporan, c) Pengelolaan dokumen, e) Pemberdayaan LM3, e) Pemberdayaan konsorsium hortikultura/PMD.

6 (enam) kegiatan dari Ditjen Hortikultura di atas, secara rinci diimplementasikan ke dalam beberapa rangkaian kegiatan dalam mendukung kinerja Ditjen Hortikultura.

Adapun Agenda Nasional kegiatan Ditjen Hortikultura tahun 2012 secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 1.

Direktorat Jenderal Hortikultura

BAB IV STRUKTUR PENGELOLAAN ANGGARAN DIREKTORAT JENDERAL HORTIKULURA TAHUN 2012

Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2012 merupakan tahun ke tujuh dari pelaksanaan Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang mengatur pola penganggaran terpadu (unified budget) dan berbasis kinerja (performance budget). Implementasi anggaran terpadu berbasis kinerja dimaksud harus didasarkan pada capaian indikator kinerja sehingga program pembangunan hortikultura dapat dilaksanakan secara efektif, efisien dan akuntabel. Kegiatan pembangunan hortikultura di daerah di stimulasi oleh APBN yang dibagi ke dalam dua pola yaitu pola dekonsentrasi dan pola tugas pembantuan.

Pembiayaan dengan anggaran dekonsentrasi digunakan untuk memfasilitasi kegiatan yang bersifat non fisik dan dilaksanakan oleh dinas yang membidangi tanaman hortikultura tingkat propinsi, BPSBTPH dan BPTPH, sebagai pihak yang diberi tugas oleh Gubernur yang mendapat pelimpahan tugas dari pemerintah pusat. Anggaran dekonsentrasi untuk tahun 2012 dilaksanakan oleh 33 satker pada pertanian propinsi .

Sedangkan pembiayaan dengan anggaran Tugas Pembantuan digunakan untuk memfasilitasi kegiatan yang bersifat fisik dan sebagian non fisik yang dilaksanakan oleh dinas yang membidangi

Direktorat Jenderal Hortikultura

tanaman hortikultura tingkat kabupaten/kota. Anggaran tugas pembantuan untuk tahun 2012 dilaksanakan oleh 150 satuan kerja (satker) pada Dinas Pertanian Kabupaten/Kota dan 27 Dinas Pertanian Provinsi.

Mengacu kepada kebijakan Kementerian Pertanian mengenai efisiensi jumlah Satker pada dinas pertanian kabupaten/kota serta kemampuan sumber daya manusia (SDM) di beberapa Dinas Pertanian kabupaten/kota dalam melaksanakan DIPA, maka Direktorat Jenderal Hortikultura di TA 2012 menetapkan bahwa kabupaten/kota yang mendapatkan dana Tugas Pembantuan (TP) diatas Rp. 750 juta merupakan satker tersendiri, sedangkan di bawah Rp. 750 juta akan dialokasikan menjadi TP provinsi. Anggaran TP di Provinsi dalam pelaksanaannya harus mengedepankan koordinasi antara dinas pertanian di tingkat kabupaten dan kota yang mendapatkan alokasi tersebut.

Direktorat Jenderal Hortikultura

BAB V SISTEM PELAPORAN KEUANGAN DAN PERLENGKAPAN

Dalam rangka mewujudkan pertanggungjawaban keuangan sebagaimana ditetapkan Undang-undang RI Nomor : 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Peraturan Pemerintah Nomor : 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah, Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat dan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor : PER.51/PB/2008 tentang Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga, maka perlu dibuat suatu mekanisme dan peraturan yang mengatur tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat.

Sistem Akuntansi Instansi (SAI) berlaku untuk seluruh unit organisasi Pemerintahan Pusat dan unit akuntansi pada Pemerintah Daerah dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi dan/atau Tugas Pembantuan. SAI dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga dengan memproses transaksi keuangan yang meliputi arus uang maupun barang. SAI terdiri dari Sistem Akuntansi Keuangan (SAK) dan Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAKBMN). SAK dilaksanakan untuk menghasilkan laporan keuangan sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran sedangkan SIMAKBMN sebagai pertanggungjawaban pengelolaan Barang Milik Negara.

Disamping mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran/ barang yang berada dalam tanggung jawabnya, Menteri/Pimpinan

Direktorat Jenderal Hortikultura

Lembaga juga melaporkan penggunaan dana Dekonsentrasi maupun Tugas Pembantuan. Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan merupakan bagian dari anggaran Kementerian Negara/Lembaga yang dialokasikan kepada daerah dan/atau desa. Gubernur, bupati atau walikota mengusulkan daftar Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan mendapatkan alokasi dana Dekonsentrasi maupun Tugas Pembantuan kepada Kementerian Negara/Lembaga untuk ditetapkan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang. SKPD selanjutnya akan mempertanggungjawabkan pelaksanaan dana Dekonsentrasi kepada Kementerian Negara/Lembaga melalui Gubernur.

Pertanggungjawaban pelaksanaan Dana Dekonsentrasi maupun Tugas Pembantuan dilakukan terpisah dari pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Pertanggungjawaban pelaksanaan dimaksud berupa laporan Keuangan dan Laporan Barang Milik Negara (BMN).

Kementerian Negara/Lembaga membentuk unit akuntansi sesuai dengan hirarki organisasi, baik untuk pertanggungjawaban pengelolaan Keuangan maupun pengelolaan barang. Unit akuntansi pengelolaan keuangan/barang terdiri dari :

1. Unit Akuntansi Pengguna Anggaran/Barang (UAPA/B)

UAPA/B merupakan unit akuntansi pada tingkat Kementerian Negara/Lembaga penanggungjawabnya adalah Menteri/Pimpinan Lembaga.

2. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran/Barang Eselon I (UAPPA/B) – EI)

Direktorat Jenderal Hortikultura

UAPPA/B – EI merupakan unit akuntansi pada tingkat Eselon I penanggungjawabnya adalah Pejabat Eselon I.

3. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran/Barang Wilayah (UAPPA/B – W)

UAPPA/B – W merupakan unit akuntansi yang berada pada tingkat Kantor Wilayah atau unit kerja yang ditetapkan sebagai UAPPA/B – W, penanggungjawabnya adalah Kepala Kantor Wilayah atau Kepala Unit Kerja yang ditetapkan sebagai UAPPA/B – W, untuk UAPPA/B – W Dekonsentrasi penanggungjawabnya adalah Gubernur sedangkan untuk UAPPA/B – W Tugas Pembantuan penanggungjawabnya adalah Bupati atau Walikota sesuai dengan penugasan yang diberikan oleh pemerintah melalui kementerian negara/lembaga.

Dalam hal ini untuk Kementerian Pertanian BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) ditunjuk sebagai sekretariat wilayah sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor :

41/Permentan OT.140/9/2008. Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas UAPPA/B-W maka ditetapkan organisasi dan tata kerja yang dalam pelaksanaan kegiatan laporan keuangan tersebut menerima dari seluruh dana dari bagian anggaran (BA) 018 (Kementerian Pertanian), BA 069 (Belanja Lain-lain)

4. Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran/Barang (UAKPA/B)

UAKPA/B merupakan unit akuntansi pada tingkat satuan kerja (Kuasa Pengguna Anggaran/Barang) yang memiliki wewenang menguasai anggaran/barang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Penanggung jawab UAKPA/B adalan kepala satuan kerja.

Direktorat Jenderal Hortikultura

Untuk UAKPA/B Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan penanggung- jawabnya adalah kepala SKPD.

Untuk

memberikan

gambaran

secara

menyeluruh

tentang

pelaksanaan

Sistem

Akuntansi

Instansi,

dapat

dilihat

pada

Gambar 2.

SAK dan SIMAKBMN yang mengacu kepada Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi Keuangan dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat dapat dilihat pada Lampiran 3.

Direktorat Jenderal Hortikultura

PUSATALUR ALUR PENYUSUNAN PENYUSUNAN LAPORAN LAPORAN KEUANGAN KEUANGAN PEMERINTAH PEMERINTAH PUSAT MENTERI/PIMPINAN
PUSATALUR
ALUR PENYUSUNAN
PENYUSUNAN LAPORAN
LAPORAN KEUANGAN
KEUANGAN PEMERINTAH
PEMERINTAH PUSAT
MENTERI/PIMPINAN LEMBAGA SEBAGAI PENGGUNA ANGGARAN/BARANG
DPRDPR
Sistem Akuntansi Instansi (SAI)
SatkerSatker
LKKLLKKL
Wilayah/Wilayah/
Eselon 1 1Eselon
KLKL
LRALRA
ProvinsiProvinsi
NeracaNeraca
CaLKCaLK
BLUSatker
Satker BLU
PresidenPresiden
LKPP:
LRALRA
KONSOLIDASIKONSOLIDASI
NeracaNeraca
LAKLAK
KPPN/Dit PKN
Kanwil DJPB
Dit APK-DJPB
CaLKCaLK
BUN
PenerusanPenerusan
Transaksi
Utang & Hibah
Belanja
BPKBPK
PinjamanPinjaman
Khusus
Subsidi &
LKBUNLKBUN
Belanja
Investasi
keTransfer
Transfer ke
Arus KasBadan KasLap.
Lainnya
Lap. Arus
Lain-lain
Pemerintah
DaerahDaerah
LRALRA
NeracaNeraca
Sistem Akuntansi BUN
CaLKCaLK
MENTERI KEUANGAN SEBAGAI BENDAHARA UMUM NEGARA
Gambar 2. Mekanisme Pelaporan Sistem Akuntansi Instansi

Direktorat Jenderal Hortikultura

BAB VI MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN KINERJA

A. Monitoring dan Evaluasi Prosedur monitoring dan evaluasi (monev) mengacu pada hierarki

sistem Monev, dimana hierarki yang lebih tinggi melakukan

monitoring dan evaluasi kepada hierarki di bawahnya secara

berjenjang sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing.

Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk melihat perkembangan

kegiatan, mengamati permasalahan dan hambatan yang dihadapi,

juga dalam rangka menyatukan sistem kepemerintahan yang baik

dan akuntabel mengenai pelaksanaan kegiatan dan penggunaan

anggaran. Hierarki sistem monitoring dan evaluasi dapat dilihat

pada Gambar 3.

Direktorat Jenderal Hortikultura

BAPPENAS Kementerian Pertanian
BAPPENAS
Kementerian
Pertanian
Unit Eselon I Kegiatan (Provinsi) Kegiatan (Kabupaten/Kota)
Unit Eselon I
Kegiatan
(Provinsi)
Kegiatan
(Kabupaten/Kota)

Keterangan :

(Provinsi) Kegiatan (Kabupaten/Kota) Keterangan : = Monev Nasional Sektor/program Sub-sektor/Sub- program

= Monev

Nasional

Sektor/program

Sub-sektor/Sub-

program

Program/kegiatan

Program/Kegiatan = Laporan
Program/Kegiatan
= Laporan

Gambar 3.

Hierarki Sistem Monitoring dan Evaluasi

Dalam pelaksanaan program lingkup Ditjen Hortikultura, monitoring dan evaluasi punya peranan penting antara lain: 1) memberikan informasi dan gambaran keberhasilan/kegagalan dan kinerja program dan institusi, 2) bahan pertanggungjawaban pelaksanaan program dan kegiatan, 3) bahan rujukan perencanaan, alokasi anggaran dan kegiatan serta penyusunan

Direktorat Jenderal Hortikultura

kebijakan, 4) sebagai bahan referensi untuk perbaikan, tindaklanjut perbaikan pelaksanaan kegiatan, 5) sebagai referensi pelaksanaan kegiatan sejenis di tempat lain (analogi).

Dengan demikian kegiatan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan merupakan hal penting untuk menjamin kegiatan dilaksanakan sesuai dengan rencana dan pedoman yang ditetapkan, penggunaan input sesuai dengan keperluan dan dilaksanakan sesuai jadwal, sehingga tujuan dan sasaran dapat tercapai. Dengan monitoring dan evaluasi maka diharapkan dapat diketahui : 1). Pencapaian kinerja, 2). Output, outcome dan keberhasilan program dan kegiatan, 3). Gambaran potensi pengembangan, dan 4). Permasalahan yang dihadapi.

Kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan dengan metode seperti : kunjungan lapang, wawancara, serta melakukan pengkajian terhadap laporan dan hasil pelaksanaan. Kajian dan analisis dilakukan terhadap perkembangan kegiatan, capaian pemanfaatan dana dan fisik kegiatan, manfaat dan dampak, permasalahan serta kendala yang dihadapi. Hasil monitoring dan evaluasi akan disajikan dalam bentuk laporan monitoring dan evaluasi.

Pelaksana kegiatan juga diwajibkan menyusun laporan sesuai SK Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas No. 120/KET/7/1994 tentang Sistem Pemantauan dan Pelaporan Pelaksanaan Kegiatan-Kegiatan Pembangunan dan laporan insidentil bilamana diperlukan. Jadwal penyampaian laporan dapat dilihat pada Gambar 4.

Direktorat Jenderal Hortikultura

BAPPENAS
BAPPENAS
Sekjen Kementerian Pertanian (Biro yg Membidangi Monev) Unit Eselon I SKPD Provinsi
Sekjen Kementerian
Pertanian (Biro yg
Membidangi Monev)
Unit Eselon I
SKPD Provinsi
SKPD Kab/Kota
SKPD Kab/Kota

Nasional (tgl 25 bulan berikutnya)

Sektor/program (tgl 20 bulan berikutnya)

Sub-sektor/Sub-program (tgl 15 bulan berikutnya)

Kompilasi Kegiatan Dana TP (tgl 10 bulan berikutnya)

Kegiatan Dana Dekonsentrasi (tgl 5 bulan berikutnya)

Kegiatan Dana TP (tgl 5 bulan berikutnya)

Gambar 4. Hierarki dan Jadwal Penyampaian Laporan

Pelaksanaan monitoring dan evaluasi oleh petugas pusat ke daerah (terutama pemantapan pelaksanaan kegiatan dari Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan dilakukan secara intensif.

Direktorat Jenderal Hortikultura

Sehubungan dengan hal tersebut, maka Dinas Pertanian di provinsi dan kabupaten/kota juga diminta melakukan monitoring dan evaluasi ke daerah binaannya, serta menyampaikan laporannya.

B. Pelaporan SIMONEV

Dalam melaksanakan program pengembangan agribisnis hortikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura secara berkala harus menyampaikan laporan perkembangan, kinerja keberhasilan, masalah dan hambatan ke Menteri Pertanian, Presiden, DPR dan Publik. Oleh karena itu, penyiapan laporan perkembangan kegiatan dan kinerja pelaksanaan program pengembangan agribisnis hortikultura harus dilakukan secara berkala dengan konsisten.

Pelaporan hasil kegiatan program dan anggaran kinerja ini, merupakan suatu bentuk penyampaian informasi dari serangkaian kegiatan yang dilakukan sejak dari persiapan kegiatan sampai pada akhir pelaksanaan. Melalui laporan itu juga akan dapat dilihat sejauhmana tingkat keberhasilannya.

Kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian No: 31/2010 tentang Pedoman Sistem Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan Pembangunan Pertanian. Hal ini dirumuskan dengan mengacu kepada Peraturan Pemerintah (PP) No. 39 tahun 2006 tentang Tatacara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. Selanjutnya dalam pelimpahan pengelolaan anggaran dana

Direktorat Jenderal Hortikultura

dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan ke gubernur, bupati dan walikota, masalah ini juga ditegaskan lagi.

Oleh karena itu penyampaian laporan harus menjadi perhatian serius bagi satker pengelola anggaran pembangunan hortikultura di daerah. Berdasarkan Surat Edaran (SE) tersebut maka tata cara, waktu dan format pelaporan kinerja kegiatan APBN diatur sebagai berikut :

1. SKPD Kabupaten/Kota dengan menggunakan data Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) menyusun dan menyampaikan laporan kinerja pelaksanaan kegiatan pembangunan pertanian (termasuk hortikultura) dalam rangka pengelolaan dan tanggung jawab pelaksanaan Tugas Pembantuan Kabupaten/Kota kepada Dinas lingkup Pertanian Provinsi yang tugas dan kewenangannya sama, dengan menggunakan Formulir A sebagaimana yang terdapat dalam lampiran PP RI No 39 tahun 2006 yang telah dimodifikasi dan disesuaikan dengan menggunakan aplikasi software SIMONEV, dan menyampaikan copy file data ke Eselon I terkait (dalam hal ini Ditjen Hortikultura). Laporan disusun setiap bulan dan disampaikan paling lambat tanggal 5 (lima) bulan berikutnya setelah berakhirnya bulan yang bersangkutan.

Laporan kinerja berisi tentang realisasi keuangan dan fisik kegiatan utama dalam kegiatan pengembangan hortikultura. Laporan Simonev disusun oleh petugas Sekretariat Dinas yang menangani pelaporan dan berkoordinasi dengan bidang yang

Direktorat Jenderal Hortikultura

menangani

hortikultura

dan

Pejabat

Pembuat

Komitmen

(PKK).

2. Kepala SKPD Provinsi dengan menggunakan data SP2D menyusun dan menyampaikan Laporan Kinerja Pelaksanaan Kegiatan APBN Pembangunan Pertanian (termasuk Hortikultura) dalam rangka pelaksanaan pengelolaan dan tanggung jawab dana Dekonsentrasi (termasuk BPSBTPH dan BPTPH) dan Tugas Pembantuan Provinsi kepada Eselon I terkait dengan menggunakan Formulir A sebagaimana yang terdapat pada lampiran PP RI No 39 Tahun 2006, yang telah dimodifikasi dan disesuaikan dengan menggunakan aplikasi software SIMONEV, dan menyampaikan copy file data ke Eselon I terkait. Laporan disusun setiap bulan dan disampaikan paling lambat tanggal 5 (lima) bulan berikutnya setelah berakhirnya bulan yang bersangkutan.

3. Kepala SKPD Provinsi disamping menyampaikan Laporan Kinerja Pelaksanaan Kegiatan APBN Pembangunan Pertanian (termasuk Hortikultura) sebagaimana diatur dalam butir (2) diatas juga menyampaikan Laporan Evaluasi Kinerja Pelaksanaan Kegiatan APBN Pembangunan Pertanian dalam rangka pengelolaan dan tanggung jawab dana Tugas Pembantuan Kabupaten/Kota setelah menerima laporan dari kabupaten/kota di lingkup provinsi sebagaimana diatur dalam butir(1). Laporan disusun setiap bulan dan disampaikan paling lambat tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya kepada Eselon I

Direktorat Jenderal Hortikultura

terkait dengan menggunakan Formulir B sebagaimana yang terdapat pada lampiran PP RI No 39 tahun 2006.

4. Kepala unit kerja pusat (Eselon II dan unit kerja pusat di daerah) berdasarkan SP2D menyusun dan menyampaikan laporan kinerja pelaksanaan kegiatan pembangunan pertanian dalam rangka pelaksanaan pengelolaan APBN dan kegiatan di daerah sesuai tugas dan fungsi binaan masing-masing kepada Eselon I dengan menggunakan formulir A sebagaimana yang terdapat pada lampiran PP RI. No. 39 tahun 2006 yang telah dimodifikasi dan disesuaikan dengan menggunakan aplikasi software Simonev, dan menyampaikan copy file data. Laporan disusun setiap bulan dan disampaikan paling lambat tanggal 5 (lima) bulan berikutnya setelah berakhirnya bulan yang bersangkutan.

5. Kepala unit organisasi (Eselon I) menyusun dan menyampaikan Laporan Kinerja Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Pertanian dalam rangka pelaksanaan Pengelolaan Dana APBN masing-masing Eselon I kepada Menteri Pertanian melalui Sekretaris Jenderal dengan menggunakan Formulir B sebagaimana yang terdapat pada lampiran PP RI No 39 tahun 2006, dengan aplikasi software SIMONEV. Laporan disusun berdasarkan Laporan Kinerja Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Pertanian dari SKPD Provinsi dan Kabupaten/Kota sebagaimana diatur pada butir (3). Laporan disusun setiap bulan dan disampaikan paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja setelah berakhir bulan yang

Direktorat Jenderal Hortikultura

bersangkutan dengan menyertakan copy file data aplikasi simonev.

6. Menteri Pertanian akan menyusun dan menyampaikan laporan Kinerja Pembangunan Pertanian kepada Menteri Negara/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), Menteri Keuangan, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, disusun setiap triwulan dan disampaikan paling lambat tanggal 14 (empat belas) bulan berikutnya setelah berakhirnya triwulan yang bersangkutan, setelah menerima laporan Kinerja Pembangunan Pertanian dari Eselon I lingkup Kementerian Pertanian sebagaimana diatur pada butir (5).

Dalam upaya memudahkan pengisian dan penyampaian laporan, serta mengakomodir beberapa informasi yang diperlukan, maka Biro Perencanaan dan PUSDATIN setiap tahunnya melakukan revisi dan penyempurnaan Format SIMONEV DEPTAN, namun tetap mengacu kepada SE Sekjen 484 / 2007 tersebut.

Software SIMONEV ditetapkan bersama antara PUSDATIN dan Biro Perencanaan Kementerian Pertanian dan dibahas bersama dengan unit kerja pengelola pelaporan. Selanjutnya dilakukan pelatihan Training of Trainer (TOT) kepada petugas pengelola pelaporan dari masing-masing unit eselon I. Setiap tahun dilakukan perbaikan dan penyempurnaan SIMONEV mengikuti dan mengakomodir perubahan pada perencanaan dan perubahan struktur RKA-KL. Sebelum software SIMONEV

Direktorat Jenderal Hortikultura

baru (revisi) dirumuskan, maka format pelaporan masih tetap menggunakan format lama yang disesuaikan dengan kondisi yang ada dan tetap dilaporkan secara berkala sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Pengiriman laporan SIMONEV dilakukan secara konvensional (melalui surat) ataupun melalui email ke alamat Sekretariat Direktorat Jenderal Hortikultura, Jl. AUP No. 3, Pasar Minggu, Jakarta Selatan cq. Bagian Evaluasi dan Pelaporan; monevhorti@yahoo.com, simonevhorti@deptan.go.id. Contoh pelaporan SIMONEV versi 2010 dikemukakan pada Lampiran 2.

Direktorat Jenderal Hortikultura

BAB VII

PENUTUP

Komoditas hortikultura diharapkan dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi regional yang secara signifikan dapat meningkatkan kesejahteraan petani/pelaku bisnis. Untuk itu diperlukan adanya pemahaman yang sama tidak hanya pada aparat pertanian, akan tetapi juga pada seluruh pemangku kepentingan. Persepsi ini sangat penting untuk dijadikan landasan dalam memotivasi unsur pemerintah dan masyarakat untuk menggerakkan secara serius upaya pembangunan sub sektor hortikultura secara berkelanjutan.

Program dan strategi kebijakan pembangunan hortikultura harus dapat dijadikan sarana untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan yang pada akhirnya ditujukan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Oleh karena itu diperlukan adanya koordinasi, sinergisme dan sinkronisasi antar sektor dan sub sektor serta pemangku kepentingan lainnya.

LAMPIRAN

Direktorat Jenderal Hortikultura

Lampiran 1. Rancangan Agenda Kegiatan Nasional/ Regional T.A. 2012 Lingkup Direktorat Jenderal Hortikultura

1. Sekretariat Direktorat Jenderal Hortikultura

   

Kegiatan

Peserta Daerah

Tempat

Waktu

1

Sinkronisasi

Kadis Provinsi, Kabid Hortikultura,Kepala BPSBTPH, Kepala BPTPH dan Kepala BBI (17 Provinsi) :

Aceh, Sumut, Jambi, Riau,

Bengkulu, Kep. Riau, Sumbar, Lampung, Sumsel, Babel, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Kalimantan Barat, Kalteng

Sumatera

Februari

Pelaksanaan

Barat

Pengembangan Hortikultura Tahun 2012 dan Koordinasi Perencanaan Tahun

2013

wilayah Barat

2

Sinkronisasi

Kadis Provinsi, Kabid Hortikultura,Kepala BPSBTPH, Kepala BPTPH dan Kepala BBI

(16 Provinsi)

Sulawesi

Januari

Pelaksanaan

Tengah

Pengembangan Hortikultura Tahun 2012 dan Koordinasi Perencanaan Tahun

2013

wilayah Timur

Bali. NTB, NTT, Maluku, Maluku Utara, Sulsel, Sulteng, Sultra, Sulbar, Sulut, Gorontalo, Papua, Papua Barat, Kaltim, Kalsel, Jatim

3

Koordinasi Perencanaan Pengembangan Hortikultura 2013 (RKAKL awal)

Kabid. Hortikultura, Kabid. Perencanaan Seluruh Indonesia

D.I.Y.

Mei/Juni

Direktorat Jenderal Hortikultura

 

Kegiatan

Peserta Daerah

Tempat

Waktu

4

Workshop Pemantapan

Kabid Hortikultura, Kasubbag Perencanaan Seluruh Indonesia dan Operator RKA-KL (Dinas Provinsi, BPSB, BPTPH)

Kalsel

Oktober

RKA-KL 2013

5

Sinkronisasi Angka

Pejabat/ Petugas yang menangani data hortikultura seluruh Indonesia (Dinas Provinsi, BPS Provinsi)

Jateng

Maret

Sementara Hortikultura

Tahun 2011

6

Sinkronisasi Angka

Pejabat/ Petugas yang menangani data hortikultura

Banten

Juli

Tetap Hortikultura Tahun

2011

seluruh Indonesia (Dinas Provinsi, BPS Provinsi) 33 Provinsi

7

Sosialisasi SIMONEV

Petugas Dinas Pertanian yang menangani SIMONEV 33 Provinsi

Bogor

April

Hortikultura

8

Apresiasi Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Satker Lingkup Ditjen Hortikultura

Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan Satker Penerima Dana Dekonsentrasi Tahun 2012 di 33 provinsi

Batam

April

9

Workshop Penyusunan Laporan SAI dan SABMN tahun 2011 Semester I

Dinas Provinsi/Petugas yang menangani SAI dan SABMN di Provinsi di 33 provinsi

Jateng

Juli

10

Workshop Penyusunan Laporan SAI dan SABMN Semester II

Dinas Provinsi/Petugas yang menangani SAI dan SABMN di 33 Provinsi

Jabar

Desember

Direktorat Jenderal Hortikultura

 

Kegiatan

Peserta Daerah

Tempat

Waktu

11

Apresiasi Bidang

Kasubbag Keuangan dan Perlengkapan Dinas Pertanian Provinsi di 33 provinsi

Makassar

Maret

Keuangan dan

Perlengkapan

12

PF2N

Seluruh Indonesia

Sumatera

Juni

Utara

13

HPS

Seluruh Indonesia

Sumatera

Oktober

Utara

14

Penyelenggaraan Pemberian Penghargaan

Dinas Pertanian Provinsi Penerima Penghargaan

Jakarta

Oktober

15

Workshop Peningkatan Investasi di Bidang Hortikultura

Dinas Pertanian Provinsi Sentra Hortikultura

Jawa Barat

Mei

16

E-Learning Course on Global Good Agricultural Practices (GAP)

Dinas Pertanian Provinsi yang sudah melaksanakan GAP

Jakarta

September

17

E-Learning Course on Benchmarking for Good Agricultural Practices (GAP)

Dinas Pertanian Provinsi yang sudah melaksanakan GAP

Jakarta

Oktober

18

TOT Refreshing

Petugas data Dinas Pertanian Provinsi seluruh Indonesia

Jawa Barat

September

19

Workshop LM3

Petugas Kabupaten dan LM3 terpilih

Jawa Barat

April

20

Workshop TL LHP

Sekretaris Dinas Pertanian Provinsi seluruh Indonesia

Jawa Barat

Juni

21

Workshop PMD

Petugas Kabupaten dan PMD terpilih

Jawa Barat

April

Direktorat Jenderal Hortikultura

2. Direktorat Budidaya dan Pasca Panen Buah

No

Kegiatan

 

Peserta Daerah

Tempat

Waktu

1

Fasilitasi Promosi Buah Tropika Nusantara (ITF2)

33

Provinsi

D.I.Y.

Juni

2

Pekan Flora dan Flori Nusantara PF2N

33

Provinsi

Medan

Juni

3

TOT SL-GAP

Petugas yang aktif melakukan penerapan GAP dari 15 Provinsi :

D.I.Y.

Februari

Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, Sulawesi Selatan, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat

4

Fasilitasi Pertemuan

Kadis, Kabid Hortikultura (22 Provinsi) :

D.I.Y.

April

Pembangunan Kebun

Buah

NAD, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, Banten, NTB, NTT, Bali, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Papua,

Direktorat Jenderal Hortikultura

No

Kegiatan

Peserta Daerah

Tempat

Waktu

5

TOT Petugas Penilai Kebun

Petugas yang aktif berpotensi untuk melakukan regitrasi kebun dari 14 Provinsi :

Bandung

Februari

Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan Lampung, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, NTT, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, NTB

6

Pertemuan

Kadis, Kabid Hortikultura (18 Provinsi) :

Jawa Tengah

Maret

Pengembangan Buah

Pemasok Perkotaan

Sumatera Barat,Sumatera Selatan,Jambi,Bengkulu,Ria u,Kepulauan Riau,Lampung,Jawa Barat,Jawa Tengah,Jawa Timur,DIY,Banten,Nusa Tenggara Barat,Nusa Tenggara Timur,Kalimantan Timur,Kalimantan Barat,Sulawesi Utara,Sulawesi Selatan

7

Fasilitasi Pengembangan Kebun Buah ASEAN GAP

Petugas Lapang yang aktif terlibat dalam kegiatan Kebun Buah ASEAN GAP (3 Provinsi, 4 Kabupaten) :

D.I.Y.

Mei

Prov Jateng,Kabupaten Karanganyar,Kabupaten Sleman,Prov DIY,Kabupaten Cirebon,Prov Jawa Barat,Kabupaten Bogor

Direktorat Jenderal Hortikultura

No

Kegiatan

Peserta Daerah

Tempat

Waktu

8

Sosialisasi Penerapan GAP/ SOP Tanaman Pisang dan Melon (2 paket)

- Petugas dan Petani Pesawaran (31 orang)

- Lampung

- Oktober

- Petugas dan Petani Brebes (31 orang)

-Jawa

- Juni

 

Ctt: Belanja bahan di RAB, pencetakan disesuaikan dengan judul

Tengah

9

Workshop Upaya Peningkatan Daya saing Untuk Kebutuhan Pasar Modern

(2 paket)

Eselon I / II terkait :

DKI Jakarta

Juni

Direktorat Budidaya dan pascapanen Buah, Sekretariat Ditjen Hortikultura,Badan Karantina Pertanian, Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian, Ditjen PSP, Ditjen P2HP, Kementerian Perdagangan, Kementerian PU, Kemen- terian Nakertrans, Dinas Pertanian Jabodetabek

10

Workshop Penyediaan Buah-Buahan Berorientasi Ekspor (2 paket)

Eselon I / II terkait :

DKI Jakarta

Juni

Direktorat Budidaya dan pascapanen Buah, Sekretariat Ditjen Horti- kultura, Badan Karantina Pertanian, Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian, Ditjen PSP, Ditjen P2HP, Kementerian Perdagangan, Kementerian PU, Kementerian Nakertrans, Dinas Pertanian Jabodetabek, Dinas Pertanian Jawa Barat

Direktorat Jenderal Hortikultura

No

Kegiatan

Peserta Daerah

Tempat

Waktu

11

TOT SL Pascapanen

Petugas Lapang I (provinsi) : Jabar, Jateng, DIY, Jatim, Sumbar, Riau, Lampung,

Jatim

Maret

12

Sosialisasi Teknologi Peningkatan Pascapanen Pisang

Petugas yang aktif terlibat dalam pascapanen pisang Provinsi Jawa Tengah

Jawa Tengah

Maret

Kabupaten Lampung Timur, Cianjur, Kendal, Malang dan Bantul

16

Sosialisasi Teknologi Penanganan Pascapanen Melon

Petugas yang aktif terlibat dalam pascapanen Melon Provinsi DIY Kabupaten Sragen, Grobogan, Karanganyar, Pekalongan, Kulon Progo dan Blitar

DIY

Maret

17

Pertemuan Sistem

Direktorat Budidaya dan Pascapanen Buah

Bogor

Maret

Pengendalian Intern

(SPI)

 

18

Sosialisasi Teknologi

Petugas yang aktif terlibat dalam pascapanen

Jawa Barat

April

Pascapanen Tanaman

Terna

tanaman terna Provinsi Jawa Barat

Kabupaten Bogor, Sukabumi, Cianjur, Subang, Sragen, Sleman, Lampung Timur, Lumajang dan Malang

19

TOT Petugas Jaminan Sistem Mutu Buah Indonesia

PPHP, Pusdatin, BKP, Swasta, Petani mangga, manggis, salak dari Sukabumi, Bogor, Garut, DIY

Jabar

Maret

Direktorat Jenderal Hortikultura

No

Kegiatan

Peserta Daerah

Tempat

Waktu

20

Sosialisasi Teknologi

Petani manggis, Balit Pascapanen, PKBT, Bogor, Purwakarta, Tasikmalaya, Sukabumi

Jabar

Mei

Pascapanen Manggis

21

Gerakan Peningkatan

Anak Sekolah tingkat SD dan Masyarakat Umum

Bogor

Juni

Konsumsi Buah

22

Pemasyarakatan Buah

 

Jakarta

Agustus

Nusantara

23

Fruit Day

 

Jakarta

April

24

Lomba Kebun Buah

23 Provinsi yaitu :NAD, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, Banten, NTB, NTT, Bali, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Papua, Kepulauan Riau

Jakarta

Desember

25

Gelar Buah

 

Jakarta

Juli

Direktorat Jenderal Hortikultura

3. Direktorat Budidaya dan Pasaca Panen Sayuran dan Tanaman Obat

No

Kegiatan

Peserta Daerah

Tempat

Waktu

1

Sosialisasi Registrasi Online Lahan Usaha Sayuran dan Tanaman Obat (Wilayah Barat)

Aceh, Sumut, Riau, Babel, Kepri, Jambi, Sumbar, Bengkulu, Lampung, Sumsel, Banten, DKI, Jabar, Jateng, DIY, Kalbar, Kalteng (17 Prov)

Bandung

Feb

2

Sosialisasi Registrasi Online Lahan Usaha Sayuran dan Tanaman Obat (Wilayah Barat)

Jatim, Kaltim, Kalsel, Sulut, Gorontalo, Sulteng, Sulbar, Sulsel, Sultra, Maluku, Maluku Utara, Bali, NTB, NTT, Papua, Papua Barat (16 Prov)

Surabaya

Maret

3

Sosialisasi Penerapan GHP Sayuran dan Tanaman Obat

Prov. Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sumut, Sumbar,Riau, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali,NTB, Sulawesi Utara, dan DIY

Jatim

April

4

Evaluasi Penetapan Pola Produksi Sayuran

Aceh, Sumut, Sumbar, Sumsel, Riau, Bengkulu, Lampung, Jambi, Jabar, Jateng, Jatim, DIY, Banten, NTB, Bali, Kaltim, Kalsel, Kalbar, Sulsel, Sulut, Gorontalo

Bandung

April

5

Koordinasi Pengembangan Sayuran Organik

Prov NTB, Kab. Lotim Prov Sulut, Kab. Minahasa Prov Sulsel, Kab. Bantaeng Prov Bali, Kab. Tabanan dan Buleleng Prov Kalbar, Kota Pontianak Prov Jabar, Kab. Cianjur

Bali

Mei

Direktorat Jenderal Hortikultura

No

Kegiatan

 

Peserta Daerah

Tempat

Waktu

   

Prov Jatim, Kab. Malang dan Kota Batu Prov Jateng, Kab.

   

Semarang Prov Sumbar, Kab. Agam,

50

Kota, dan Tanah Datar

6

Apresiasi Pemandu Lapangan Penerapan GAP dan GHP Sayuran dan Tanaman Obat

Aceh, Sumut, Riau, Babel, Kepri, Jambi, Sumbar, Bengkulu, Lampung, Sumsel, Banten, DKI, Jabar, Jateng, DIY

Palembang,

Mei

7

Apresiasi Pemandu Lapangan Penerapan GAP dan GHP Sayuran dan Tanaman Obat

Kalbar, Kalteng, Jatim, Kaltim, Kalsel, Sulut, Gorontalo, Sulteng, Sulbar, Sulsel, Sultra, Maluku, Maluku Utara, Bali, NTB, NTT, Papua, Papua Barat

Mataram

Juni

8

Koordinasi Kawasan Jamur (festival jamur)

Petugas dan Petani Banten, Jabar, Jateng, Jatim, DIY, DKI, Jakarta, Lampung, Bali, NTB

Jabar

Juni

9

Evaluasi Laporan Kinerja Pengembangan Sayuran dan Tanaman Obat

(PF2N)

33

Provinsi seluruh

 

Juli

Indonesia

Sumut

10

Konsolidasi Pemberdayaan Sayuran, Tanaman Obat dan Pekarangan

Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Lampung, Petugas dari Provinsi Penerima Dana PMD Sayuran 2011 dan penerima PMD Pekarangan tahun 2012,

Palembang

Juli

Direktorat Jenderal Hortikultura

No

Kegiatan

Peserta Daerah

Tempat

Waktu

11

Koordinasi Kawasan

Petugas dan Petani , Sumut, Sumbar, Sumsel, Jambi, Bengkulu, Riau, Kepri,

Batam

Agustus

Sayuran Sumatera

Mendukung Ekspor

(KASS)

12

Gerakan Makan Sayur

33 Provinsi (kecuali Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat)

Sulsel

Oktober

13

Koordinasi Penetapan Pola Produksi Sayuran

Aceh, Sumut, Sumbar, Sumsel, Riau, Bengkulu, Lampung, Jambi, Jabar, Jateng, Jatim, DIY, Banten, NTB, Bali, Kaltim, Kalsel, Kalbar, Sulsel, Sulut, Gorontalo

DIY

Oktober

4. Direktorat Budidaya dan Pasca Panen Florikultura

No

Kegiatan

Peserta daerah

Tempat

Waktu

1

Temu Evaluasi

DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Banten, Sulawesi

Medan,

Juni

Program

Sumatera Utara

Pengembangan

Tanaman Florikultura

(PF2N)

Direktorat Jenderal Hortikultura

No

Kegiatan

Peserta daerah

Tempat

Waktu

   

Barat, Bengkulu, Nusa Tenggara Timur

   

2

Apresiasi Peningkatan Kapasitas Pemandu Lapang (PL1, PL2)

DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Banten, Sulawesi Barat, Bengkulu, Nusa Tenggara Timur.

Jawa Tengah

Juni

Jakarta, Kab. Bandung, Kab. Cianjur, Kab. Purwakarta, Kab. Sumedang, kota bogor, kota depok, kab. Sukabumi, kab. Bogor, kab. Bandung barat, kota bandung, kab. Bekasi, kab. Magelang, Kab. Wonosobo, Kab. Semarang, Kab. Boyolali, Kab. Pekalongan, Kab. Pemalang, Kab. Tegal, Kota Semarang, Kab. Batang, Kab. Sleman, Kota yogyakarta, Kota Blitar, Kab. Malang, Kab. Pasuruan, Kota batu, Kab. Kediri, Kab. Bangkalan, Kota surabaya, Kota malang, Kota medan, Kab. Agam,

Direktorat Jenderal Hortikultura

No

Kegiatan

Peserta daerah

Tempat

Waktu

   

Kab. Solok, Kota bukit tinggi, Kota padang panjang, Kota padang, Kota payakumbuh, Kab. Kampar, Kota pekan baru, Kota pagar alam, Kota palembang, Kab. Lampung barat, Kota pontianak, Kota balikpapan, Kota samarinda, Kota tomohon, Kota manado, Kota makassar, Kab. Maros, kota palu, Kab. Poso, kab. Gianyar, kab. Karangasem, Kab. Tabanan, Kota denpasar, Kota mataram, kota gorontalo, Kota pangkal pinang, Kab. Bintan, kota Batam, kab. Tangerang, Kota tangerang, Kota tangerang selatan, Kota serang, kab serang, kab. Kepahiang.

   

3

Workshop

Petugas Dinas Pertanian dan pelaku usaha Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Jawa Barat dan Jawa Timur

Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Jawa Barat dan Jawa Timur

Juni, Agustus

Pembinaan Kawasan

Integrasi Anggrek

4

Workshop

Kab. Magelang, Kab. Wonosobo, Kab. Semarang, Kab. Boyolali

Jateng

Februari,

Pengembangan

September

Kawasan Plasma

Ekspor Leatherleaf

 

5

Workshop Integrasi

Kab. Pasuruan, Kab. Sleman, Kab. Bandung

D.I.Y, Bandung

April

Krisan

Nopember

Direktorat Jenderal Hortikultura

No

Kegiatan

Peserta daerah

Tempat

Waktu

   

Barat, Kab. Sukabumi, Kab. Cianjur, Kab. Wonosobo, Kab. Semarang, Kab. Tabanan, Kota Tomohon

   

6

Konsorsium Melati

Kab. Tegal, Kab. Pemalang, Kab. Pekalongan, Kab. Batang, Kab. Bangkalan

Bangkalan,

Februari

Semarang

7

Workshop Pengembangan Kawasan Budidaya Tanaman Pot dan Lansekap

Petugas Dinas Pertanian dan Pelaku Usaha Jawa Barat

Jawa Barat

Juli

8

Temu Koordinasi Pengembangan Kawasan Budidaya Tanamanan Daun dan Bunga Potong

Petugas Dinas Pertanian dan Pelaku Usaha Kab. Bandung Barat, Kab. Cianjur, Kab. Sukabumi, Kab. Bogor

Bandung

Maret

9

Temu Koordinasi

Petugas Dinas Pertanian dan Pelaku Usaha DIY, Kab. Sleman

DIY

Maret

Pemulihan Tanaman

Krisan Pasca

Bencana Erupsi

 

Gunung Merapi

(SKR)

10

Pembahasan

Pelaku Usaha Anggrek Jawa Barat, Jawa Timur, DKI, Banten dan Stakeholder terkait

Jawa Barat

September

Roadmap Anggrek

Indonesia

11

Workshop Gerbang

Petugas Dinas Pertanian, PL1, PL2 dan Pelaku Usaha Riau, Kepri dan Sumbar

Riau, Kepri dan Sumbar

Januari,

Ekspor

Februari,

 

Maret

Direktorat Jenderal Hortikultura

No

Kegiatan

Peserta daerah

Tempat

Waktu

12

Workshop

Petugas Dinas Pertanian dan Pelaku Usaha Bali dan NTB

Bali

Maret, Oktober

Pembinaan Kawasan

Florikultura Tropis

13

Konsorsium Tanaman Daun dan Bunga Potong

Petugas Dinas Pertanian dan Pelaku Usaha Kab. Sukabumi, Cianjur, Bandung Barat dan Kab. Sleman

Jawa Barat,

September

DIY

14

Fasilitasi Inisiasi Kawasan Kawasan Krisan di Sentra Baru

Petugas Dinas Pertanian dan Pelaku Usaha Lampung dan Sumatera Selatan

Lampung

Mei, Juli

15

Workshop

Petugas Dinas Pertanian dan Pelaku Usaha Kab. Tegal, Kab. Pemalang, Kab. Pekalongan, Kab. Batang

Jateng

Mei

Pembinaan Kawasan

Melati

16

Konsorsium Anggrek

Kaltim, Kalbar, Jatim

Jabar

April

17

Konsorsium Tanaman Pot dan Lansekap

Pelaku Usaha Jawa Barat, Banten dan DKI

Jawa Barat

Februari

18

Apresiasi Kampung

Pelaku Usaha Jawa Barat, Banten, DKI, Sumatera Barat dan Bali

Jawa Barat

Maret

Flori

19

Workshop Teknologi Pascapanen Tanaman Daun dan Bunga Potong

Petugas Dinas Pertanian dan Pelaku Usaha Kab. Bandung Barat, Kab. Cianjur, Kab. Sukabumi, Kab. Bogor

DKI Jakarta

Mei

20

Workshop Pengembangan Kawasan Pasca panen Tanaman Pot dan Lansekap.

Petugas Dinas Pertanian dan Pelaku Usaha Jawa Barat

Jawa Barat

April

Direktorat Jenderal Hortikultura

No

Kegiatan

Peserta daerah

Tempat

Waktu

21

Workshop hasil identifikasi preferensi tanaman pot dan lansekap

Pelaku usaha Jawa Barat, Banten dan DKI

Jawa Barat

Juni

22

Workshop hasil identifikasi preferensi tanaman daun dan bunga potong

Pelaku usaha Jawa Barat, Banten dan DKI

Jawa Barat

September

23

Sosialisasi

Petugas Dinas Pertanian dan Pelaku Usaha DKI, Banten, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Bali, Makasar, DIY, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah

Jawa Barat

Agustus

pemasyarakatan

green city

24

Sosialisasi GPOP

Petugas Dinas Pertanian dan Pelaku Usaha Kota Depok, Kota Bogor, Kab. Tangerang, Kota Tangerang, Tangerang Selatan

Jawa Barat,

Februari,

Banten

Maret

Direktorat Jenderal Hortikultura

5. Direktorat Perbenihan Hortikultura

No

Kegiatan

Peserta Daerah

Tempat

Waktu

1

Koordinasi Sentra

 

DIY

Agustus

Produksi Benih Tanaman Florikultura

Kabid Hortikultura Provinsi dan Kab/Kota:

DKI Jakarta, Jawa Barat (Kab.Bandung Barat, Kab. Cianjur, Kab. Sukabumi), Jawa Tengah (Kab. Semarang, Kab. Wonosobo), DIY (Kab. Sleman), Jawa Timur (Kab. Pasuruan), Bali (Kab. Tabanan), Banten, NTB, NTT, Papua, Kalbar, Kaltim, Kalsel, Sulsel, Sul tengah, Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Jambi, Sumsel, Sulut (Kota Tomohon)

2

Apresiasi pengelolaan

Petugas Laboratorium

Jakarta

Juli

laboratorium kultur

seluruh BBH

jaringan hortikultura

3

Apresiasi Pengawas Benih Tanaman (PBT)

Pengawas Benih Seluruh BPSB/Dinas Provinsi

Malang

Juli

4

Koordinasi Perbenihan Sayur (Kentang, Bawang Merah dan Bawang Putih, Jamur)

Aceh, Sumatera Utara, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, NTB, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara, DIY, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Papua, Lampung, Banten.

Medan

Maret, April,

(Sumatera

Juni, Mei

Utara)

Direktorat Jenderal Hortikultura

No

Kegiatan

Peserta Daerah

Tempat

Waktu

5

 

Kabid Hortikultura seluruh Indonesia, Ka BPSB, Ka BBH Seluruh Indonesia

Sumatera

Juni

Forum Perbenihan

(PF2N)

Utara

6

Revitalisasi Perbenihan Jeruk Bebas Penyakit

Petugas dan Penangkar (Jawa, Bali, Lampung, Bengkulu, NTT, NTB, Sulbar, Sulsel, Kalbar, Kalsel, Kaltim, Aceh, Sumbar, Sumut, Jambi, Riau)

Kalbar

Maret

7

Temu Koordinasi Pengembangan Durian Multi Varietas dan Alpukat

Lampung, Kalimantan, Sulsel, Sulteng, Sumatera, Banten, Jateng, Jatim, Jabar

Kaltim

Agustus

(Petugas dan Penangkar)

8

Sosialisasi Peraturan

Ka. BPSB, Ka. BBH Seluruh Indonesia

Jawa Barat

Agustus

Perbenihan

9

Workshop Penyusunan Rencana Produksi dan Kebutuhan Benih Buah Unggul tropis

Kabid Horti, Ka BBH, Ka BPSB Seluruh Indonesia

Jawa Barat

Oktober

10

Evaluasi Realisasi

Kabid Hortikultura, Ka BBH, Ka BPSB seluruh Indonesia

Jawa Barat

Nopember

Ketersediaan Benih

Hortikultura 2012

11

Pertemuan APSA

Seluruh Stakeholder

Bali

November

Perbenihan Hortikultura

perbenihan

12

Pemantapan Teknologi Top Working untuk Penggantian Varietas

Petugas dan Penangkar Benih

Jawa Barat

Juni

Direktorat Jenderal Hortikultura

6. Direktorat Perlindungan Hortikultura

No

 

Kegiatan

 

Peserta Daerah

Tempat

Waktu

A.

Pertemuan Nasional

     

1.

Evaluasi Perlindungan

Kepala BPTPH seluruh Indonesia (33 Provinsi)

Jawa Tengah

Nopember

Tanaman Hortikultura

2.

Pemetaan Wilayah Sebar OPT Hortikultura

32

Provinsi BPTPH

Jabar

Juni

3.

Sistem Peringatan Dini dalam Penerapan Sistem Informasi Perlindungan Hortikultura

32

Provinsi BPTPH

Jawa Barat

Juni

4.

Pertemuan Koordinasi

32

Provinsi BPTPH

Jatim

Juli

Adaptasi terhadap

 

Perubahan Iklim

B.

Pertemuan

     

Petugas/Petani dalam

Penanggulangan OPT

Hortikultura

5.

Gerakan Penanggulangan OPT Sayur :

(13 Provinsi) : Jabar, Jateng, Jatim, Aceh, Sumut, Sumbar, Jambi, Sumsel, Bengkulu, NTB, Bali, Sulsel, Sulut, BBPOPT Jatisari

Jawa Tengah

Maret

-

Kentang

6.

Gerakan Penanggulangan OPT Sayur :

(19 Provinsi) : Jabar, Jateng, Jatim, DIY, Lampung, Aceh, Sumut, Sumbar, Jambi, Bengkulu, NTB, NTT, Kalsel, Sulut, Sulteng, Sultra, Sulbar, Sulsel, Banten, BBPOPT Jatisari

Sumbar

September

-

Cabai

Direktorat Jenderal Hortikultura

No

 

Kegiatan

Peserta Daerah

Tempat

Waktu

7.

Gerakan Penanggulangan OPT Buah :

(17 provinsi) : Aceh, Sumut, Sumbar, Jambi,

Kalsel

Maret

-

Pisang

Sumsel, Lampung, Jabar,

 

Jateng, Jatim, Bali, NTB, Kalsel, Sulsel, Sultra, Sulteng, Sulut, Maluku Utara, BBPOPT Jatisari

8.

Gerakan Penanggulangan OPT Buah :

(22 provinsi) : Sumut, Sumbar, Lampung,

Jatim

Maret

-

Mangga

Banten, DKI Jakarta,

 

Jabar, Jateng, DIY, Jatim, Bali, NTB, NTT, Kalsel, Kalbar, Kalteng, Kaltim, Sulsel, Sulut, Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, BBPOPT Jatisari

9.

Gerakan Penanggulangan OPT Jeruk

(19 provinsi) : Aceh, Sumut, Sumbar, Jambi, Sumsel, Lampung, Jabar, Jateng, DIY, Jatim, Bali, NTB, NTT, Kalsel, Kalbar, Sulsel, Sulbar, Maluku Utara, Papua, BBPOPT Jatisari

Jatim

April

10.

Gerakan Penanggulangan OPT Duku

(17 provinsi) : Jambi, Bengkulu, Sumsel, Babel, Lampung, Banten, Jabar, Jateng, DIY, Jatim, Bali, NTB, Kalsel, Kalbar, Kaltim, Sulsel, Sulut, BBPOPT Jatisari

Jambi

Februari

Direktorat Jenderal Hortikultura

No

Kegiatan

P