Anda di halaman 1dari 59

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dikenal sebagai salah satu penyebab kematian utama pada bayi dan anak balita di negara berkembang. Hasil penelitian di negara berkembang menunjukkan bahwa 20-30% kematian balita di berbagai negara setiap tahun disebabkan karena menderita ISPA. (1) Pneumonia yang merupakan infeksi saluran pernafasan bawah akut umumnya menyebabkan hampir semua kematian ISPA pada balita. Di negara berkembang pneumonia merupakan penyakit yang terabaikan (the neglected disease) atau penyakit yang terlupakan (the forgotten disease) karena begitu banyak anak yang meninggal pneumonia, namun sangat sedikit perhatian yang diberikan kepada masalah pneumonia. Menurut WHO tahun 2008, insidens pneumonia balita di negara berkembang adalah 151,8 juta kasus pneumonia/tahun, 10% di antaranya merupakan pneumonia berat dan perlu perawatan di rumah sakit. Di negara maju terdapat 4 juta kasus setiap tahun sehingga total insidens pneumonia di seluruh dunia ada 156 juta kasus pneumonia balita setiap tahunnya.(2) Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menyebutkan bahwa Angka Kematian Balita (AKBAL) adalah 44/1000 kelahiran hidup. Jika kita melihat ke belakang, hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2003 yang menyebutkan bahwa Angka Kematian Balita (AKBAL) adalah 46/1000 kelahiran hidup. Dari pernyataan tersebut, maka telah terjadi penurunan angka kematian dalam kurun waktu 5 tahun walaupun penurunannya sangat kecil, namun hal tersebut masih cukup jauh dari salah satu di antara delapan target Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tentang menurunkan angka kematian anak. Dalam program tersebut target yang ingin dicapai pemerintah Indonesia pada tahun 2015 adalah Angka Kematian Balita (AKBAL) sebanyak 32/1000 kelahiran hidup atau 2/3 dari AKBAL tahun 1990 dengan AKBAL 1990 yaitu 91/1000 kelahiran hidup. (3)

Berdasarkan Kemenkes, proporsi pneumonia balita di Indonesia tahun 2008 adalah 49,45%, tahun 2009 adalah 49,23%, dan tahun 2010 adalah 39,38% dari jumlah balita di Indonesia. Pada tahun 2007 dan 2008 perbandingan kasus pneumonia pada balita dibandingkan dengan usia 5 tahun adalah 7:3. Artinya bila ada 7 kasus pneumonia pada balita maka akan terdapat 3 kasus pneumonia pada usia lebih dari atau sama dengan 5 tahun. Pada tahun 2009 terjadi perubahan menjadi 6:4. Namun pneumonia pada balita masih tetap tinggi. Salah satu penyebab kematian terbesar pada balita menurut Riset Kesehatan Desa (Riskesdas) tahun 2007 adalah pneumonia. Pneumonia merupakan kematian kedua tertinggi setelah diare dimana diare sebesar 25,2% dan pneumonia sebesar 15,5%.(4) Berdasarkan Dinkes Jateng, insidens pneumonia di Jawa Tengah tahun 2008 adalah 23,63%, tahun 2010 adalah 40,63%, tahun 2011 adalah 25,5% sedangkan jumlah kematian akibat pneumonia di Jawa Tengah adalah 113 orang tahun 2007, 134 orang pada tahun 2008, 105 orang pada tahun 2009, 116 orang pada tahun 2010 dan 101 orang pada tahun 2011.(4) Untuk mencapai target MDGs, diperlukan kerjasama dan kinerja yang baik antara unit-unit fungsional kesehatan mulai dari yang cakupan wilayah kerjanya dari yang kecil sampai besar. Puskesmas merupakan unit fungsional yang cakupan wilayah kerjanya kecil dan merupakan ujung tombak dalam pembangunan kesehatan di Indonesia karena Puskesmas menyelenggarakan pelayanan kesehatan terdepan dan terdekat dengan masyarakat dalam bentuk kegiatan pokok menyeluruh dan terpadu. Oleh karena itu kinerja Puskesmas haruslah baik.(3) Kinerja Puskesmas diukur dari tingkat keberhasilannya dengan

membandingkan kegiatan yang ada di Puskesmas dengan target yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM). Salah satu bagian penilaian yang ada di SPM adalah cakupan balita dengan pneumonia yang ditenukan atau ditangani sesuai standar dengan target yang harus tercapai adalah 100%. Adapun sasaran balita dengan pneumonia yang harus ditemukan atau ditangani sesuai standar menurut SPM adalah 5,12% x 10 % x jumlah penduduk. Di Puskesmas Tempuran, berdasarkan perhitungan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bulan Januari sampai dengan Mei 2013 didapatkan cakupan

Balita dengan pneumonia yang ditemukan atau ditangani sesuai standar masih jauh dibawah target yaitu 12,74%. Desa Tugurejo merupakan desa di wilayah kerja Puskesmas Tempuran dengan kasus pneumonia Balita yang tertinggi dengan 6 kasus (proporsi 46,1%). Desa Tempurejo merupakan desa di wilayah kerja Puskesmas Tempuran dengan kasus ISPA balita cukup tinggi dengan 177 kasus (proporsi 21,5%).

B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka didapatkan perumusan masalah adalah apa yang menyebabkan Program P2ISPA cakupan Balita dengan pneumonia yang ditemukan di Puskesmas Tempuran periode Januari-Mei 2013 belum memenuhi target, bagaimana alternatif pemecahan masalah jika disesuaikan dengan penyebab permasalahan serta kegiatan apa saja yang dapat dilakukan untuk memecahkan permasalahan tersebut.

C. Tujuan 1. Tujuan Umum Mengetahui, mengidentifikasi, dan menganalisis penyebab serta menyusun rencana tidak lanjut pemecahan masalah belum tercapainya target program P2ISPA cakupan Balita dengan pneumonia yang ditemukan di Puskesmas Tempuran periode Januari-Mei 2013. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui penyebab belum tercapainya target P2 ISPA cakupan Balita dengan pneumonia yang ditemukan di Puskesmas Tempuran periode Januari-Mei 2013. b. Mengidentifikasi penyebab belum tercapainya target P2 ISPA cakupan Balita dengan pneumonia yang ditemukan di Puskesmas Tempuran periode Januari-Mei 2013. c. Mampu menganalisis penyebab masalah yang telah diidentifikasi. d. Mampu memberikan alternatif pemecahan masalah yang ditemukan.

e. Mampu menyusun rencana tindak lanjut atau Plan Of Action dari alternatif pemecahan masalah yang ditemukan.

D. Manfaat 1. Melatih kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat. 2. Melatih kemampuan analisis dan pemecahan terhadap masalah yang ada. 3. Meningkatkan pengetahuan tentang penyakit pneumonia khususnya pada Balita. 4. Memberikan informasi mengenai kemungkinan penyebab rendahnya cakupan balita dengan pneumonia yang ditemukan di Puskesmas Tempuran. 5. Sebagai bahan evaluasi perencanaan kegiatan Puskesmas untuk Program P2ISPA. 6. Masyarakat khususnya yang mempunyai balita diharapkan dapat lebih mengetahui tentang penyakit pneumonia dan bahaya penyakit tersebut bila tidak ditangani secara baik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. ISPA dan Pneumonia 1. Definisi ISPA ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut, yang meliputi saluran pernafasan bagian atas dan bawah. Penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu atau lebih bagian dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran nafas bagian atas) hingga jaringan di dalam paru-paru (saluran bagian bawah).(3) Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan, dan akut, dimana pengertiannya adalah sebagai berikut: 1) Infeksi Adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit. 2) Saluran pernafasan Yang dimaksud dengan saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung sampai alveoli, termasuk adneksanya yaitu sinus, rongga telinga tengah, dan pleura. 3) Akut Adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut.(4)

2. Definisi Pneumonia Pneumonia adalah penyakit infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli) yang disebabkan terutama oleh bakteri dan merupakan penyakit saluran pernafasan akut yang sering menyebabkan kematian. Penyebab p neumonia adalah infeksi bakteri, virus maupun jamur. Pneumonia mengakibatkan jaringan paru mengalami peradangan. Pada penderita pneumonia, alveoli terisi nanah dan cairan menyebabkan

kesulitan penyerapan oksigen sehingga terjadi kesulitan bernafas. Anak dengan pneumonia menyebabkan kemampuan paru mengembang

berkurang sehingga tubuh bereaksi dengan bernafas cepat agar tidak terjadi hipoksia. Apabila pneumonia bertambah parah, paru akan menjadi kaku dan timbul tarikan dinding bawah ke dalam. Anak dengan pneumonia dapat meninggal karena hipoksia dan sepsis. Akibatnya kemampuan paru untuk menyerap oksigen menjadi
(5,6)

berkurang.

Kekurangan oksigen membuat sel- sel tidak bisa bekerja.

3. Hubungan ISPA dan Pneumonia ISPA yang berlanjut dapat menjadi pneumonia dimana sering terjadi pada balita terutama apabila mengalami gizi kurang atau gizi buruk dan dikombinasi dengan keadaan lingkungan yang tidak higienis.(3)

4. Klasifikasi ISPA dan Pneumonia Program Pemberantasan Penyakit (P2) ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan yaitu pneumonia dan bukan pneumonia. Pneumonia dibagi atas derajat beratnya yaitu pneumonia berat dan pneumonia tidak berat. Penyakit batuk pilek seperti rinitis, faringitis, tonsilitis, dan penyakit jalan napas bagian atas lainnya digolongkan sebagai bukan pneumonia. Etiologi dari sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini ialah virus dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik. Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang ditemukan pada Balita. Bila ditemukan harus diobati dengan antibiotik penisilin. Semua radang telinga akut harus mendapat antibiotik. (7) Klasifikasi berdasarkan frekuensi nafas, tarikan dinding dada bagian bawah, bunyi nafas (stridor): a) Pneumonia Batuk, demam lebih dari 380 C disertai sesak nafas. Frekuensi nafas lebih dari 40 x / menit, ada tarikan dinding dada bagian bawah. Pada auskultasi didapati bunyi stridor pada paru.(8)

b) Non Pneumonia Bila bayi dan Balita batuk, demam 380 C tidak disertai nafas cepat lebih dari 40 x / menit, tidak ada tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada bunyi stridor pada paru.(8) Tabel 1. Frekuensi Nafas Sesuai Umur No 1 2 3 Umur 0 2 bulan 2 12 bulan 1 5 tahun Nafas Normal 30 50 x / menit 25 40 x / menit 20 30 x / menit
(8)

Nafas Cepat (tachypnoe) 60 x / menit 50 x / menit 40 / menit

Sumber: Pedoman Perhitungan Frekuensi Nafas

Program P2ISPA mengklasifikasi penderita keadaan ke dalam 2 kelompok usia: dibawah 2 bulan (Pneumonia berat dan bukan Pneumonia). Usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun menjadi pneumonia berat dengan tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam, pneumonia dan bukan pneumonia. Tabel 2. Klasifikasi ISPA menurut kelompok umur (7) Kelompok Kriteria Gejala Klinis Umur Batuk bukan Tidak ada napas cepat dan tidak ada pneumonia tarikan dinding dada bagian bawah Adanya nafas cepat dan tidak ada 2 bulan Pneumonia tarikan dinding dada bagian bawah <5 tahun ke dalam Adanya tarikan dinding dada bagian Pneumonia berat bawah ke dalam Tidak ada napas cepat dan tidak ada Bukan pneumonia tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam yang kuat < 2 bulan Adanya napas cepat dan tarikan Pneumonia berat dinding dada bagian bawah ke dalam yang kuat
Sumber: Ditjen P2PL, Depkes RI. 2007. Bimbingan Keterampilan Tatalaksana Pneumonia Balita

5. Gambaran Klinis Sebagian besar gambaran klinis pneumonia anakbalita berkisar antara ringan sampai sedang hingga dapat berobat jalan saja. Hanya sebagian kecil berupa penyakit berat mengancam kehidupan dan perlu rawat-inap. Secara umum gambaran klinis pneumonia diklasifikasi menjadi 2 kelompok. Pertama, gejala umum misalnya demam, sakit kepala, maleise, nafsu makan kurang, gejala gastrointestinal seperti mual, muntah dan diare. Kedua, gejala respiratorik seperti batuk, napas cepat (tachypnoe/ fast breathing), napas sesak (retraksi dada/chest indrawing), napas cuping hidung, air hunger dan sianosis. Hipoksia merupakan tanda klinis pneumonia berat. Anak pneumonia dengan hipoksemia 5 kali lebih sering meninggal dibandingkan dengan pneumonia tanpa hipoksemia. Pada foto thorak menunjukkan infiltrasi melebar.(8)

6. Cara Penularan Penyakit Pneumonia Pada umumnya pneumonia termasuk kedalam penyakit menular yang ditularkan melalui udara. Sumber penularan adalah penderita pneumonia yang menyebarkan kuman ke udara pada saat batuk atau bersin dalam bentuk droplet. Inhalasi merupakan cara terpenting masuknya kuman penyebab pneumonia kedalam saluran pernapasan yaitu bersama udara yang dihirup, di samping itu terdapat juga cara penularan langsung yaitu melalui percikan droplet yang dikeluarkan oleh penderita saat batuk, bersin dan berbicara kepada orang di sekitar penderita, transmisi langsung dapat juga melalui ciuman, memegang dan menggunakan benda yang telah terkena sekresi saluran pernapasan penderita (Azwar, 2002). (7)

7. Sumber dan Penyebab Terjadinya Pneumonia Sebagian besar penyebab pneumonia adalah mikroorganisme (virus, bakteri dan sebagian kecil oleh penyebab lain hidrokarbon (minyak tanah, bensin, atau sejenisnya) dan masuknya makanan, minuman, susu, isi lambung kedalam saluran pernafasan. Berbagai penyebab pneumonia

tersebut dikelompokkan berdasarkan golongan umur, berat ringannya penyakit dan penyakit yang menyertainya. (5) Penyebab Pneumonia adalah sebagai berikut : (6,8) 1) Mikroorganisme Mikroorganisme paling sering sebagai penyebab pneumonia adalah virus, terutama Respiratory Synsial Virus (RSV) yang mencapai 40%. Golongan bakteri yang ikut berperan terutama Streptococcus pneumonia dan Haemofillus influenza type B (HIB). Awalnya mikroorganisme masuk ke dalam percikan ludah (droplet) kemudian terjadi penyebaran mikroorganisme dari saluran nafas bagian atas jaringan (parenkim paru) dan sebagian lagi karena penyebaran melalui aliran darah. 2) Faktor intrinsik Faktor intrinsik yang dapat meningkatkan risiko kejadian dan risiko kematian akibat pneumonia pada balita adalah: a. Umur Umur mempengaruhi mekanisme pertahanan tubuh seseorang. Bayi dan Balita mempunyai mekanisme pertahanan tubuh yang masih lemah dibanding dengan orang dewasa sehingga Balita masuk ke dalam kelompok yang rawan terkena infeksi, misalnya diare, ISPA dan pneumonia. b. Status gizi Status gizi sangat berpengaruh terhadap daya tahan tubuh. Balita yang mempunyai status gizi baik maka akan mempunyai daya tahan tubuh yang lebih baik dibandingkan dengan anak yang mempunyai status gizi kurang maupun buruk. Keadaan gizi yang buruk muncul sebagai bagian dari faktor risiko kejadian pneumonia.(8) c. Status imunisasi Cakupan imunisasi akan berperan besar dalam upaya

pemberantasan pneumonia. Cara yang paling efektif saat ini adalah dengan pemberian imunisasi DPT dan Campak. Pemberian imunisasi Campak dapat mencegah kematian pneumonia sekitar 11%, sedangkan
9

imunisasi DPT dapat mencegah kematian pneumonia sekitar 6%. (8) d. Jenis kelamin Di dalam buku pedoman P2 ISPA, disebutkan bahwa anak lakilaki adalah faktor risiko yang mempengaruhi kesakitan pneumonia. Penelitian di Srilanka memperlihatkan bahwa balita berjenis kelamin laki-laki mempunyai risiko 2,19 kali lebih tinggi dibandingkan perempuan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Koblinski (1997) bahwa sesungguhnya anak perempuan mempunyai kebutuhan biologis dan pada lingkungan yang optimal mempunyai keuntungan yang diperkirakan sebesar 0,151 kali lebih di atas anak laki- laki dalam hal tingkat kematian. (6) e. ASI eksklusif Kolustrum mengandung zat kekebalan 10-17 kali lebih banyak dari susu buatan. Zat kekebalan pada ASI melindungi bayi dari diare, alergi dan infeksi saluran nafas terutama pneumonia. Bayi yang diberi ASI eksklusif akan lebih sehat dan jarang sakit dibandingkan dengan bayi yang tidak mendapat ASI ekslusif. (8) f. Defisiensi vitamin A Pada kasus kekurangan vitamin A, fungsi kekebalan tubuh menurun sehingga m udah terserang infeksi. Lapisan sel yang menutupi trakea dan paru mengalami keratinisasi sehingga mudah dimasuki oleh kuman dan virus yang menyebabkan infeksi saluran nafas terutama pneumonia.(6,8) g. Berat badan lahir rendah ( BBLR ) Berat badan lahir rendah menentukan pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental pada masa Balita. Bayi dengan BBLR mempunyai risiko kematian yang lebih besar dibandingkan dengan bayi dengan berat lahir normal terutama pada bulan-bulan pertama kelahiran karena pembentukan zat kekebalan kurang sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit infeksi terutama pneumonia dan infeksi saluran pernafasan lainnya.(6)

10

3) Faktor ektrinsik Faktor ektrinsik yang dapat meningkatkan risiko kejadian dan risiko kematian akibat pneumonia pada Balita adalah: a. Kondisi fisik rumah Kondisi rumah yang berhubungan dengan kejadian pneumonia: 1. Kelembaban Kelembaban adalah banyaknya uap air yang terkandung dalam udara yang biasanya dinyatakan dalam persen. Faktor-faktor kelembaban udara meliputi : a. Keadaan bangunan a) Dinding Air hujan masuk dan meresap melalui pori-pori dinding sehingga akan mengakibatkan kelembaban udara dalam ruangan. b ) Iklim dan Cuaca Kelembaban udara secara menyeluruh dipengaruhi oleh iklim dan cuaca. Syarat-syarat kelembaban yang memenuhi standar kesehatan adalah sebagai berikut: a) Lantai dan dinding harus kering b) Kelembaban udara berkisar antara 40% sampai 70% Keterkaitan antara kelembaban dan penyakit pneumonia adalah saling berpengaruh terhadap kejadian pneumonia. Kelembaban ini sangat erat kaitannya dengan

pertumbuhan etiologi pneumonia yang berupa virus, bakteri dan jamur. Faktor etiologi tersebut dapat tumbuh dengan baik jika kondisi optimal. Penghuni ruangan biasanya akan mudah menderita sakit infeksi saluran nafas karena situasi tersebut. (8) 2. Ventilasi Ventilasi adalah proses penyediaan udara segar dan

11

pengeluaran udara kotor secara alamiah atau mekanis harus cukup. Berdasarkan keputusan tentang menteri persyaratan Kesehatan kesehatan

No.829/Menkes/SK/VII/1999

perumahan, luas penghawaan atau ventilasi alamiah yang permanen minimal 10% dari luas lantai. Pada penelitian Herman (2002), diketahui bahwa balita yang tinggal di rumah dengan ventilasi yang tidak sehat akan memiliki risiko 4,2 kali lebih besar untuk terkena pneumonia dibandingkan yang tinggal di rumah dengan ventilasi sehat. 3. Kepadatan hunian Kepadatan hunian adalah banyaknya penghuni yang tinggal di dalam rumah dibandingkan dengan luas ruangan. Berdasarkan keputusan menteri Kesehatan RI No. 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan perumahan, luas ruang tidur minimal 8 meter, dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari 2 orang tidur dalam satu ruangan tidur kecuali anak umur dibawah 5 tahun. Foster menjelaskan bahwa kepadatan orang dalam rumah berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita. Herman (2002) juga mendapatkan hubungan yang bermakna antara kepadatan hunian dengan insidens pneumonia. (8) 4. Polusi Udara Pencemaran udara yang terjadi di dalam rumah umumnya disebabkan oleh polusi di dalam dapur. Asap dari bahan bakar kayu merupakan faktor risiko terhadap kejadian pneumonia pada balita. Polusi udara di dalam rumah juga dapat disebabkan oleh karena asap rokok, kompor gas, alat pemanas ruangan dan juga akibat pembakaran yang tidak sempurna dari kendaraan bermotor. Anak-anak yang lebih sering berada di dapur atau kamar tidur yang berdekatan dengan dapur lebih berisiko untuk mengalami gangguan pernapasan.(8)

12

Hasil penelitian menunjukkan bahwa balita yang terpajan asap pembakaran berisiko 1,27 kali lebih besar untuk terkena pneumonia dibandingkan dengan yang tidak terpajan. Selain itu, balita dengan adanya perokok di dalam rumah berisiko 2,9 kali lebih besar untuk terkena pneumonia.(8,9) b. Pendidikan ibu Pendidikan ibu mempunyai pengaruh besar dalam tumbuh kembang bayi dan Balita, karena pada umumnya pola asuh anak di tentukan oleh ibu. Tingginya mortalitas dan morbiditas pneumonia lebih disebabkan oleh kurangnya informasi dan pemahaman yang diperoleh dari seorang ibu.(8) c. Tingkat jangkauan pelayanan kesehatan yang rendah Rendahnya tingkat jangkauan pelayanaan kesehatan sangat mempengaruhi risiko morbiditas dan mortalitas pneumonia, karena akan terlambat memperoleh diagnosa sehingga akan mempengaruhi upaya pertolongan yang dibutuhkan. (8,9)

8. Bahaya Pneumonia Pada Bayi dan Anak balita Pneumonia bisa menyebabkan kematian pada bayi dan anak balita. Pneumonia sering kali dimulai dengan batuk pilek biasa, tetapi karena daya tahan tubuh anak lemah, hygiene sanitasinya rendah dan terlambat mendapatan pertolongan maka resiko kematian akibat pneumonia menjadi meningkat.(3)

9. Pencegahan dan Penanggulangan Pneumonia 1) Pencegahan penyakit menular pneumonia Upaya pencegahan penyakit pneumonia meliputi kelengkapan imunisasi, perbaikan gizi anak termasuk promosi ASI, peningkatan kesehatan ibu hamil untuk mencegah BBLR, mengurangi kepadatan hunian rumah, dan memperbaiki ventilasi rumah.(10) 2) Penanggulangan penyakit menular pneumonia

13

Yang dimaksud dengan penanggulangan penyakit menular adalah upaya untuk menekan penyakit menular di masyarakat serendah mungkin sehingga tidak menjadi gangguan kesehatan bagi masyarakat. Ada tiga kelompok sasaran yaitu: 1. Kelompok sasaran langsung pada sumber penularan pejamu Sumber penularan pneumonia adalah manusia maka cara yang paling efektif adalah dengan memberikan pengobatan. 2. Sasaran ditujukan pada cara penularan Penularan penyakit pneumonia dapat berlangsung melalui perantaran udara maupun kontak langsung. Upaya pencegahan melalui kontak langsung biasanya dititikberatkan pada

penyuluhan kesehatan. Pencegahan penularan melalui udara dapat dilakukan dengan perbaikan sistem ventilasi serta aliran udara dalam ruangan. 3. Sasaran ditujukan pada pejamu potensial Peningkatan kekebalan khusus dapat dilakukan dengan pemberian imunisasi dasar sebagai bagian dari program pembangunan kesehatan yang ternyata cukup berhasil dalam usaha meningkatkan derajat kesehatan serta menurunkan angka kematian bayi dan balita. Saat ini vaksinasi yang dapat mencegah pneumonia pada bayi dan balita yang diterapkan di Indonesia sebagai program imunisasi dasar baru DPT dan Campak saja. Penanggulangan penyakit pneumonia menjadi fokus kegiatan utama program P2 ISPA. Program ini mengupayakan agar istilah pneumonia lebih dikenal di masyarakat sehingga memudahkan kegiatan penyuluhan dan penyebaran informasi tentang penanggulangan pneumonia. (7,11)

B. Program P2ISPA Program P2ISPA adalah suatu program pemberantasan penyakit menular yang ditujukan untuk menurunkan angka kesakitan dan angka kematian akibat

14

infeksi saluran pernapasan akut, terutama pneumonia (infeksi paru akut) pada usia dibawah lima tahun. Program P2ISPA dikembangkan dengan mengacu pada konsep menajemen terpadu pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan berbasis wilayah. Konsep terpadu meliputi penanganan pada sumber penyakit, faktor risiko lingkungan, faktor risiko perilaku dan kejadian penyakit dengan memperhatikan kondisi lokal. Tugas pemberantasan penyakit ISPA merupakan tanggung jawab bersama. Kepala Puskesmas bertanggung jawab bagi keberhasilan pemberantasan di wilayah kerjanya. Dokter puskesmas mempunyai tugas sebagai berikut : Membuat rencana aktifitas pemberantasan ISPA sesuai dengan dana atau sarana dan tenaga yang tersedia. Melakukan supervisi dan memberikan bimbingan penatalaksanaan standar kasus-kasus ISPA kepada perawat atau paramedis. Melakukan pemeriksaan pengobatan kasus-kasus pneumonia berat / penyakit dengan tanda-tanda bahaya yang dirujuk oleh perawat / paramedis dan merujuknya ke rumah sakit bila dianggap perlu. Memberikan pengobatan kasus pneumonia berat yang tidak bisa dirujuk ke rumah sakit. Bersama dengan staf puskesmas memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu yang mempunyai anak balita perihal pengenalan tanda-tanda penyakit pneumonia serta tindakan penunjang di rumah, Melatih semua petugas kesehatan di wilayah puskesmas yang diberi wewenang mengobati penderita penyakit ISPA, Melatih kader untuk bisa, mengenal kasus pneumonia serta dapat memberikan penyuluhan terhadap ibu-ibu tentang penyakit ISPA, Memantau aktifitas pemberantasan dan melakukan evaluasi keberhasilan pemberantasan penyakit ISPA. Mendeteksi hambatan yang ada serta menanggulanginya termasuk aktifitas pencatatan dan pelaporan serta pencapaian target.

15

Paramedis Puskesmas Puskesmas pembantu mempunyai tugas sebagai berikut: Melakukan penatalaksanaan standar kasus-kasus ISPA sesuai petunjuk yang ada. Melakukan konsultasi kepada dokter Puskesmas untuk kasus-kasus ISPA tertentu seperti pneumonia berat, penderita dengan wheezing dan stridor. Bersama dokter atau dibawah petunjuk dokter melatih kader. Memberi penyuluhan terutama kepada ibu-ibu. Melakukan tugas-tugas lain yang diberikan oleh pimpinan Puskesmas sehubungan dengan pelaksanaan program pemberantasan penyakit ISPA. Kader kesehatan mempunyai tugas sebagai berikut: Dilatih untuk bisa membedakan kasus pneumonia (pneumonia berat dan pneumonia tidak berat) dari kasus-kasus bukan pneumonia. Memberikan penjelasan dan komunikasi perihal penyakit batuk pilek biasa (bukan pneumonia) serta penyakit pneumonia kepada ibu-ibu serta perihal tindakan yang perlu dilakukan oleh ibu yang anaknya menderita penyakit Merujuk kasus pneumonia berat ke Puskesmas / rumah sakit terdekat. Mencatat kasus yang ditolong dan dirujuk (6)

C. Urutan Dalam Siklus Pemecahan Masalah Setelah didapatkan data maka dilakukan penyelesaian masalah

menggunakan pendekatan manajemen, berikut adalah langkah-langkahnya: 1) Identifikasi masalah Menetapkan keadaan spesifik yang diharapkan, yang ingin dicapai, menetapkan indikator tertentu sebagai dasar pengukuran kinerja, kemudian mempelajari keadaan yang terjadi dengan menghitung atau mengukur hasil pencapaian. Yang terakhir membandingkan antara keadaan nyata yang terjadi, dengan keadaan tertentu yang diinginkan atau indikator tertentu yang sudah ditetapkan.

16

2)

Penentuan penyebab masalah Penentuan penyebab masalah digali berdasarkan data atau kepustakaan dengan curah pendapat. Penentuan penyebab masalah dilakukan dengan menggunakan fishbone. Hal ini hendaknya jangan menyimpang dari masalah tersebut.

3)

Memilih penyebab yang paling mungkin Penyebab masalah yang paling mungkin harus dipilih dari sebabsebab yang didukung oleh data atau konfirmasi dan pengamatan.

4)

Menentukan alternatif pemecahan masalah Sering kali pemecahan masalah dapat dilakukan dengan mudah dari penyebab yang sudah diidentifikasi. Jika penyebab sudah jelas maka dapat langsung pada alternatif pemecahan masalah.

5)

Penetapan pemecahan masalah terpilih Setelah alternatif pemecahan masalah ditentukan, maka dilakukan pemilihan pemecahan terpilih. Apabila ditemukan beberapa alternatif maka digunakan metode matriks untuk menentukan/ memilih pemecahan terbaik.

6)

Penyusunan rencana penerapan Rencana penerapan pemecahan masalah dibuat dalam bentuk POA (Plan Of Action atau rencana kegiatan).

7)

Monitoring dan evaluasi Ada dua segi pemantauan yaitu apakah kegiatan penerapan pemecahan masalah yang sedang dilaksanakan sudah diterapkan dengan baik dan menyangkut masalah itu sendiri, apakah permasalahan sudah dapat dipecahkan.(12)

17

Identifikasi Masalah

Penentuan Penyebab Masalah

Monitoring Dan Evaluasi

Memilih Penyebab Yang Paling Mungkin

Penyusunan Rencana Penerapan Penetapan Pemecahan Masalah Terpilih

Menentukan Alternatif Pemecahan Masalah

Gambar 1. Diagram Analisis Masalah Analisis masalah dilakukan berdasarkan kerangka pemikiran pendekatan sistem yang diawali dari input yang meliputi 5M, yaitu man, money, method, material, machine, kemudian dilanjutkan dengan proses yang meliputi fungsi manajemen (P1, P2, P3) dan manajemen mutu sehingga didapatkanlah output. Input dan proses dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan. (12) 1. Efektivitas program Pedoman untuk mengukur efektivitas program: Magnitude (M) : Artinya besarnya penyebab masalah yang dapat diselesaikan, semakin besar atau banyak penyebab masalah dapat diselesaikan maka akan semakin efektif. Importancy (I) : Artinya pentingnya penyelesaian masalah, semakin penting cara penyelesaian dalam mengatasi penyebab masalah maka akan semakin efektif.

18

Vulnerability (V) : Artinya sensitifitas cara penyelesaian masalah, semakin sensitif maka akan semakin efektif.

2. Efisiensi pogram Biaya yang dikeluarkan untuk menyelesaikan masalah (Cost). Kriteria cost (C) diberi nilai 1-5. Bila cost- nya makin kecil, maka nilainya mendekati 1. Skor : Tabel 3. Kriteria Matriks Magnitude 1 = Tidak magnitude 2 = Kurang magnitude 3 = Cukup magnitude 4 = Magnitude 5 = Sangat magnitude Importancy 1 = Tidak penting 2 = Kurang penting 3 = Cukup penting 4 = Penting 5 = Sangat penting Vulnerability 1 = Tidak sensitif 2 = Kurang sensitif 3 = Cukup sensitif 4 = Sensitif 5 = Sangat sensitif Cost 1 = Sangat murah 2 = Murah 3 = Cukup murah 4 = Kurang Murah 5 = Tidak murah

19

BAB III ANALISIS MASALAH

Cakupan Balita dengan pneumonia yang ditemukan/ditangani sesuai standar dari bulan Januari-Mei 2013 adalah 12,74% dan didapatkan target SPM yang kurang dari 100%.

Tabel 4. Cakupan Balita dengan pneumonia yang ditemukan/ditangani sesuai standar


No Indikator kinerja Target Sasaran 1 tahun Sasaran bulan berjalan Hasil kegiatan Cakupan (%) Pencapaian

Cakupan balita dengan pneumonia yang ditemukan/ditan gani sesuai standar

100%

245

102

13

12,74%

12,74%

1. Data khusus balita yang menderita pneumonia yang ditangani /ditemukan di seluruh desa di Kecamatan Tempuran Periode Januari-Mei 2013 Data cakupan balita yang menderita pneumonia yang

ditangani/ditemukan di seluruh desa di kecamatan Tempuran periode Januari-Mei 2013 diperoleh melalui data sekunder dari laporan proram P2ISPA.

Tabel 5. Balita dengan pneumonia yang ditemukan/ditangani di Puskesmas Tempuran NO 1 2 3 4 DESA Tempurejo Prajegsari Sidoagung Jogomulyo Jumlah Balita dengan Pneumonia yang Ditangani
Jan Feb Mar Apr Mei

Jumlah 2 3 0 2

Proporsi % 15,3% 23% 0% 15,3%

0 2 0 0

1 0 0 1

0 0 0 0

0 1 0 1

1 0 0 0

20

5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Tanggulrejo Ringinanom Sumberarum Girirejo Kalisari Tugurejo Growong Temanggal Bawang Kemutuk Pringombo Jumlah

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2

0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 5

0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2

0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 3

0 0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 13

0% 0% 0% 0% 0% 46,1% 0% 0% 0% 0% 0% 100%

Dari seluruh desa Kecamatan Tempuran, desa dengan jumlah kasus pneumonia tertinggi periode Januari-Mei 2013 adalah Desa Tugurejo dengan 6 kasus (proporsi 46,1%). Desa dengan jumlah kasus pneumonia tertinggi kedua adalah Desa Prajegsari dengan 3 kasus (proporsi 23%), sementara Desa Tempurejo dan Jogomulyo didapatkan 2 kasus (proporsi 15,3%). Sedangkan di Desa Sidoagung, Tanggulrejo, Ringinanom, Sumberarum, Girirejo, Kalisari, Growong, Temanggal, Bawang, Kemutuk, dan Pringombo tidak ditemukan kasus pneumonia.

2. Data khusus balita yang menderita ISPA yang ditangani /ditemukan di seluruh desa Kecamatan Tempuran Periode Januari-Mei 2013

Tabel 6. Balita dengan ISPA yang ditemukan/ditangani di Puskesmas Tempuran


NO

DESA Tempurejo Prajegsari Sidoagung Jogomulyo Tanggulrejo Ringinanom Sumberarum

Jumlah Balita dengan ISPA yang Ditangani


Jan Feb Mar Apr Mei

Jumlah 177 73 78 124 80 81 64

Proporsi (%) 21,5% 8,8% 9,4% 15% 9,7% 9,8% 7,7%


21

1 2 3 4 5 6 7

18 16 10 13 10 12 11

52 28 26 41 31 28 20

50 22 11 22 14 11 14

25 2 16 24 15 19 11

32 5 15 24 10 11 8

8 9 10 11 12 13 14 15

Girirejo Kalisari Tugurejo Growong Temanggal Bawang Kemutuk Pringombo Jumlah

5 7 3 1 0 0 0 0 106

17 8 5 5 1 2 1 8 273

11 16 3 0 0 3 2 1 180

8 9 0 0 0 0 2 2 133

5 8 8 0 2 1 0 1 130

46 48 19 6 3 6 5 12 822

5,6% 5,8% 2,3% 0,7% 0,1% 0,7% 0,6% 1,4% 100%

Dari seluruh desa Kecamatan Tempuran, desa dengan jumlah kasus ISPA tertinggi periode Januari-Mei 2013 adalah Desa Tempurejo dengan 177 kasus (proporsi 21,5%). Sedangkan desa dengan jumlah kasus ISPA terendah periode Januari-Mei 2013 adalah Desa Temanggal dengan 3 kasus (proporsi 0,1%).

22

BAB IV KERANGKA PENELITIAN A. Kerangka Teori INPUT Man : Koordinator program P2ISPA Dokter, perawat, bidan Money : Dana Operasional Puskesmas Method : Pasien balita dibawa ke ruangan MTBS dan akan diperiksa oleh bidan Terdapatnya SOP mengenai pneumonia Material : ruang Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dan Balai Pengobatan Umum serta 74 Posyandu yang tersebar di 15 desa Machine : stetoskop, termometer, ARI (Acute Respiratoryt Infection) Timer, media promosi (poster, brosur) PROSES P1 : Perencanaan dan penjadwalan pemeriksaan di MTBS puskesmas dan posyandu, perencanaan penyuluhan P2 : Pelaksanaan program P2ISPA di MTBS dan di Balai Pengobatan Umum sesuai SOP Pelaksanaan posyandu dengan koordinasi perangkat dusun dan kader Pelaksanaan penyuluhan P3 : Pencatatan dan pelaporan kasus pneumonia oleh koordinator P2M Pengawasan bulanan oleh kepala puskesmas CAKUPAN BALITA DENGAN PNEUMONIA YANG DITEMUKAN

LINGKUNGAN Pengetahuan masyarakat tentang penyakit pneumonia Perilaku berobat masyarakat untuk pergi ke pelayanan kesehatan Sarana akses masyarakat untuk menjangkau Puskesmas Gambar 2. Kerangka Teori
23

B. Kerangka Konsep Faktor Intrinsik Balita: Umur Jenis kelamin Status gizi Status imunisasi Riwayat BBLR Riwayat ASI eksklusif Faktor Ektrinsik: Kondisik fisik rumah Perilaku ibu Balita Pengetahuan ibu Balita Tingkat jangkauan ke pelayanan kesehatan Faktor tenaga kesehatan (dokter, perawat, bidan) : Tingkat kepatuhan SOP untuk penanganan pneumonia di puskesmas dan wilayah kerja puskesmas

Cakupan Balita Dengan Pneumonia yang Ditemukan di Puskesmas Tempuran

Faktor Koordinator P2ISPA: Pencatatan dan pelaporan balita dengan pneumonia di puskesmas dan wilayah kerja puskesmas

Gambar 3. Kerangka Konsep

24

BAB V METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian menggunakan metode observasional, dengan rancangan penelitian cross sectional. B. Jenis Data yang Diambil Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 5 Juli 2013 sampai 8 Juli 2013. Jenis data yang diambil adalah: 1. Data primer, diperoleh melalui: a) Pengamatan kepada petugas kesehatan di Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) untuk menilai tingkat kepatuhan terhadap SOP. b) Daftar pertanyaan (kuesioner) terstruktur kepada orang tua balita dengan riwayat ISPA yang bertempat tinggal di Dusun Punduhsari I, Desa Tempurejo tentang identitas diri, data umum dana pelayanan kesehatan, data umum mengenai jangkauan pelayanan kesehatan, riwayat penyakit Balita, tingkat pengetahuan mengenai penyakit pneumonia, dan perilaku. Kuesioner ditanyakan kepada 30 responden. c) Hasil wawancara terhadap koordinator P2 ISPA. 2. Data sekunder diperoleh dari laporan yang ada di petugas koordinator program P2 ISPA Puskesmas Tempuran. Data yang diperoleh dianalisa secara deskriptif untuk menentukan penyebab masalah rendahnya cakupan Balita dengan pneumonia yang ditemukan. Data kemudian diolah untuk mengidentifikasi permasalahan.

B. Batasan Pengkajian 1. Batasan Judul Laporan kegiatan dengan judul Rencana Peningkatan Cakupan Balita dengan Pneumonia yang Ditemukan di Puskesmas Tempuran Kabupaten Magelang, Evaluasi Program P2ISPA Puskesmas Tempuran. Penulisan tugas mandiri ini dilakukan untuk menganalisis faktorfaktor yang menyebabkan rendahnya cakupan balita dengan pneumonia yang ditemukan, menentukan alternatif pemecahan masalah dan prioritas pemecahan masalah serta merencanakan kegiatan yang akan
25

dilakukan. Cakupan yang dianalisis hanya 5 bulan, yaitu bulan Januari Mei 2013, sesuai dengan hasil cakupan bulan berjalan SPM 2013, dimana pencapaian cakupan yang diraih Puskesmas Tempuran masih di bawah target pencapaian yang ditetapkan Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang.

2. Definisi Operasional a. Program P2 ISPA Adalah salah satu program yang ada di Puskesmas tentang Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi Saluran Pernafasan Akut yang dibagi dalam 2 golongan yaitu pneumonia dan bukan pneumonia. b. Sasaran Adalah perkiraan kasus pneumonia pada Balita di Puskesmas Tempuran (5,12% x 10% x jumlah penduduk). c. Cakupan Adalah persentase hasil perbandingan antara jumlah Balita dengan pneumonia yang ditemukan atau ditangani sesuai standar dengan jumlah perkiraan kasus pneumonia pada balita di Puskesmas Tempuran Kabupaten Magelang (5,12% x 10% x jumlah penduduk). d. Balita Adalah istilah umum bagi anak usia 1-3 tahun (Batita) dan anak usia 3-5 tahun (prasekolah). e. Pneumonia Adalah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing. f. Ditemukan atau Ditangani Sesuai standar Adalah penemuan atau penanganan suatu masalah atau penyakit sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang ada. g. SOP Adalah penetapan tertulis mengenai apa yang harus dilakukan, kapan, dimana, dan oleh siapa. SOP dibuat untuk menghindari terjadinya variasi dalam proses pelaksanaan kegiatan yang akan mengganggu kinerja organisasi secara keseluruhan. SOP merupakan mekanisme penggerak organisasi/lembaga agar dapat berjalan/berfungsi secara efektif dan efisien.
26

h. Kepatuhan Adalah tingkat seseorang dalam melaksanakan suatu aturan dan perilaku yang disarankan. Tingkat kepatuhan baik bila CR (compliance rate) > 80%. i. Puskesmas Tempuran Puskesmas yang beroperasi di kecamatan Tempuran. j. Kabupaten Magelang Adalah salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Tengah. k. Periode Januari-Mei 2013 Kurun waktu selama lima bulan yang dimulai dari bulan Januari 2013 hingga Mei 2013. l. Pelatihan Adalah sebuah proses sistematis untuk mengubah perilaku kerja seorang/sekelompok pegawai dalam usaha meningkatkan kinerja organisasi. Pelatihan terkait dengan keterampilan dan kemampuan yang diperlukan untuk pekerjaan yang sekarang dilakukan. m. Pencatatan Adalah kegiatan atau proses pendokumentasian suatu aktifitas dalam bentuk tulisan. Pencatatan dilakukan di atas kertas, disket, pita nam, pita film. Bentuk catatan dapat berupa tulisan, grafik, gambar dan suara. n. Pengetahuan Adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri. Dalam peristiwa ini yang mengetahui (subjek) memiliki yang diketahui (objek) di dalam dirinya sendiri sedemikian aktif sehingga yang mengetahui itu menyusun yang diketahui pada dirinya sendiri dalam kesatuan aktif. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan tingkatan di atas (Notoadmojo, 2003). o. Kesadaran Adalah suatu tingkat kesiagaan individu terhadap stimulus internal maupun eksternal, yaitu terhadap peristiwa peristiwa lingkungan dan sensasi tubuh, memori dan pikiran.
27

Tingkat pengetahuan baik bila skor >80%-100% Tingkat pengetahuan cukup bila skor 60%-80% Tingkat pengetahuan kurang bila skor <60%

p. Perilaku Adalah tanggapan atau reaksi individu yang terwujud dalam gerakan atau sikap, tidak saja badan atau ucapan, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar.

3. Ruang Lingkup Ruang lingkup pengkajian yang dilakukan meliputi : a. Lingkup lokasi : Puskesmas Tempuran, Kabupaten Magelang b. Lingkup waktu : Januari 2013 sampai Mei 2013 c. Lingkup sasaran : Perkiraan kasus pneumonia pada Balita yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tempuran (5,12% x 10% x jumlah penduduk) d. Lingkup metode : Wawancara, kuesioner, pencatatan, dan pengamatan

4.Batasan Masalah Batasan masalah ditujukan untuk mempermudah pemahaman agar lebih terarah, jelas dan tidak menyimpang dari permasalahan yang ada. Maka dalam hal ini hanya dibatasi menegenai tinjauan belum tercapainya target cakupan Balita dengan pneumonia yang ditemukan di Puskesmas Tempuran Kabupaten Magelang periode Januari 2013-Mei 2013.

5. Kriteria Inklusi dan Kriteria Eksklusi a. Kriteria Inklusi Dokter, perawat, dan bidan yang ada di MTBS dan Balai Pengobatan Umum di Puskesmas Tempuran. Ibu yang mempunyai Balita yang menderita ISPA selama 5 bulan terakhir yang bertempat tinggal di Dusun Punduhsari I, Desa Tempurejo, yang bersedia diwawancarai. b. Kriteria Eksklusi Ibu yang mempunyai balita yang pernah menderita ISPA di luar jangka waktu 5 bulan terakhir, yang bertempat tinggal di Dusun Punduhsari I, Desa Tempurejo.

28

Ibu yang mempunyai balita yang menderita ISPA selama 5 bulan terakhir yang bertempat tinggal di dusun Punduhsari I, desa Tempurejo, yang tidak bersedia diwawancarai.

29

BAB VI HASIL PENELITIAN

A. Data Umum Desa Tempurejo 1. Keadaan Geografis 1) Letak Wilayah Desa Tempurejo Desa Tempurejo berada di Kecamatan Tempuran Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. 2) Peta Wilayah Desa Tempurejo Peta wilayah Desa Tempurejo Kecamatan Tempuran adalah sebagai berikut :

Gambar 4. Peta Desa Tempurejo

3) Batas Wilayah Desa Tempurejo Desa Tempurejo merupakan salah satu desa di Jawa Tengah yang terletak di wilayah industri Kabupaten Magelang dengan batas desa : Sebelah Utara Magelang. : Desa Prajegsari Kecamatan Tempuran Kabupaten

30

Sebelah Timur Magelang.

Sungai

Progo

Kecamatan

Tempuran

Kabupaten

Sebelah Selatan: Desa Sumber Arum Kecamatan Tempuran Kabupaten Magelang. Sebelah Barat Magelang. Secara Geografis terletak pada 703233 LS dan 1101050 BT. : Desa Jogomulyo Kecamatan Tempuran Kabupaten

4) Luas Wilayah Desa Tempurejo Luas wilayah Desa 342,6 Ha, yang terbagi menjadi 10 dusun dengan 12 RW dan 52 RT yang meliputi : Tabel 7. Jumlah RT dan RW di masing-masing Dusun No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah Dusun Ngandong Semirejo Tempursari Banjaran Banjarsari Bolobatur Punduhsari I Punduhsari II Jambu Turus RW 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 12 RT 3 7 8 6 4 3 5 6 6 4 52

2. Keadaan Demografi 1) Data Penduduk Jumlah penduduk Desa Tempurejo tercatat berjumlah 6.995 jiwa.

2) Jumlah Penduduk Menurut Dusun Tabel 8. Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin No 1 2 3 4 5 6 Dusun Ngandong Semirejo Tempusari Banjaran Banjarsari Bolobatur Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan 187 187 368 345 505 549 545 570 209 215 227 203
31

7 8 9 10

Punduhsari I Punduhsari II Jambu Turus Jumlah

478 393 359 275 3546

429 389 320 242 3449

3) Jumlah Balita periode Januari-Mei 2013

Tabel 9. Jumlah Balita periode Januari-Mei 2013


No. 1 Desa Tempurejo Jan 555 Feb 547 Jumlah Balita Mar Apr 543 523 Mei 538

4) Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian Tabel 10. Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian No 1 2 3 4 5 6 7 8 Mata Pencaharian PNS ABRI/POLRI Pensiunan Petani Swasta Pedagang Buruh Tani Tukang Jumlah 78 43 112 288 954 465 228 81

5) Kesehatan Tabel 11. Jumlah Sarana Kesehatan No 1 2 3 Sarana Polindes Bidan Klinik kesehatan Jumlah 1 4 2

6) Pendidikan Tabel 12. Jumlah Sarana Pendidikan No 1 2 3 4 5 Sarana Play group/ PAUD TK SD SMP/MTs Pondok pesantren Jumlah 1 6 6 2 4

32

B. Hasil Survei 1. Hasil Pengamatan Tingkat Kepatuhan terhadap SOP dalam

Penatalaksanaan ISPA pada Balita Tabel dibawah ini menunjukan pengamatan yang dilakukan di balai Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Puskesmas Tempuran selama 3 hari, yaitu pada hari Jumat, Sabtu, dan Senin pada tanggal 58 Juli 2013 terhadap 3 bidan yang berbeda mengenai tingkat kepatuhan SOP penatalaksanaan ISPA,

mendapatkan 6 orang pasien balita yang dipilih dengan keluhan batuk.

Tabel 13. Checklist pengamatan terhadap bidan di MTBS dengan menggunakan SOP Kementrian Kesehatan RI 2010 dalam menangani pasien dengan ISPA No 1. SOP dalam penatalaksanaan ISPA Petugas melakukan anamnesis : I. Identitas : - Nama - Umur II. Keluhan utama a. Batuk b. Demam c. Sesak nafas d. Kejang e. Makan/minum/BB III.RPD - Gejala ini sebelumnya - Kapan - Berapa lama - Tindakan yang diperoleh/diberikan Petugas melakukan pemeriksaan - Frekwensi nafas dengan ARI Timer - Suhu badan dengan termometer - Nadi - Tarikan dinding dada - Stridor - Wheezing - Timbang BB
HARI KE-1 Pasien 1 Pasien 2 Y T Y T HARI KE-2 Pasien 1 Pasien 2 Y T Y T HARI KE-3 Pasien 1 Pasien 2 Y T Y T

2.


33

3.

4.

5. 6.

7.

8.

Petugas menentukan klasifikasi dan diagnosa secara tepat (pneumonia, peumonia berat, non pneumonia) Petugas menentukan terapi sesuai klasifikasi dan diagnosa ISPA Petugas mendeteksi tanda bahaya Petugas merujuk/ merawat inap pasien bila ada salah 1 tanda bahaya Petugas melaksanakan konseling - Menjelaskan tanda dan gejala serta bahaya ISPA - Dua hari kontrol untuk pneumonia - Anjurkan kembali bila keadaan umum memburuk - Jelaskan cara pemberian obat - Jelaskan cara perawatan di rumah - Jelaskan tentang gizi balita - Jelaskan tentang kebersihan diri dan lingkungan Petugas memasukan ke status rawat jalan Total

16

14

16

14

13

17

13

17

14

16 14

16

Keterangan : ya Tingkat Kepatuhan = ------------------- X 100% ya + tidak Tingkat kepatuhan baik > 80 %

34

Tabel 14. Tingkat kepatuhan SOP terhadap pasien Bidan 1 Pasien 1 16 X 100% =53% (16+14) 16 X 100% =53% (16+14) 13 X 100% =43% (13+17) Bidan 2 14 X 100% =46% (14+16) Bidan 3

Pasien 2

13 X 100% =43% (13+17)

14 X 100% =46% (14+16)

Compliance Rate rata-rata = 53% + 43% + 46% = 47,33% 3

Dari tabel dan perhitungan diatas menunjukan bahwa tingkat kepatuhan dari 3 bidan yang berbeda terhadap SOP dalam penatalaksanaan ISPA di MTBS Puskesmas Tempuran adalah kurang baik berdasarkan compliance rate rata-rata yang kurang dari 80% yaitu 47,33%.

2. Hasil Wawancara dengan Pengelola Program P2ISPA Puskesmas Tempuran Menurut informasi yang di dapatkan dari pengelola Program P2 ISPA yaitu Bapak Noor Hidayanto, penemuan kasus pneumonia hanya bersifat pasif yaitu hanya terbatas di Puskesmas ataupun Posyandu, namun jumlahnya lebih banyak yang ditemukan di Puskesmas. Penanganan kasus tersebut sepenuhnya dilakukan di Puskesmas. Kemudian belum adanya pelatihan khusus mengenai pneumonia kepada perawat atau bidan. Dari hasil wawancara juga didapatkan SOP (Standard Operational Procedure) tertulis untuk penangan balita dengan pneumonia yang dapat digunakan sebagai acuan standar pelayanan, namun setelah dilakukan pengamatan secara langsung, SOP kurang dipatuhi petugas kesehatan. Hasil wawancara secara lengkap dirangkum dalam format sebagai berikut :

Tabel 15. Hasil wawancara dengan Koordinator Program P2ISPA secara lengkap No. Input Pertanyaan Jawaban 1. 1. Siapa saja yang 1. Dokter, perawat, bidan Man termasuk dalam 2. Di puskesmas, dilakukan program P2ISPA? oleh bidan di MTBS dan
35

2.

Machine

3.

Material

2. Siapa yang melakukan pemeriksaan awal pneumonia? 3. Siapa yang menegakkan diagnosis, klasifikasi dan pengobatan pneumonia? 4. Apakah terdapat pelatihan khusus mengenai pneumonia kepada bidan, perawat dan koordinator P2ISPA? 5. Alat apa saja yang dgunakan untuk mendiagnosis pneumonia? 6. Apakah tersedia obat di apotek untuk pengobatan pneumonia? 7. Apakah terdapat buku pedoman khusus untuk penyakit ataupun program pneumonia dan SOP (Standard Operational Procedure) bagi petugas? 8. Apakah terdapat media promosi seperti poster maupun brosur tentang pneumonia yang terdapat di lingkungan puskesmas? 9. Perlengkapan apa saja yang disediakan puskesmas untuk balita dengan penyakit pneumonia?

3. 4. 5.

6. 7.

8.

perawat di Balai Pengobatan Umum. Untuk di Posyandu sendiri hanya dilakukan oleh bidan desa dan apabila ditemukan bayi yang dicurigai terdapat gejalagejala pneumonia maka disarankan dilakukan pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut ke Puskesmas Dilakukan sepenuhnya oleh dokter Tidak ada pelatihan khusus tentang pneumonia Stetoskop anak, ARI timer, termometer namun fasilitas rontgen beulm tersedia Iya, tersedia Terdapat SOP untuk penanganan ISPA namun tidak ada buku pedoman khusus untuk penyakit ataupun program pneumonia Terdapat poster dan brosur di MTBS namun tidak dibagikan untuk masyarakat

4.

Money

5.

Method

9. Terdapat ruangan khusus yaitu ruang Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dan Balai Pengobatan Umum untuk penanganan balita dengan pneumonia 10. Darimana dana berasal 10. Dana untuk program untuk menjalankan P2ISPA berasal dari program P2ISPA? Bantuan Operasional Kesehatan 11. Bagaimana cara 11. Penemuan kasus balita penemuan kasus balita dengan pneumonia hanya
36

dengan pneumonia di Puskesmas Tempuran? 12. Bagaimana penggunaan SOP ISPA untuk kasus balita dengan pneumonia?

6.

Proses P1

7.

P2

8.

P3

bergantung pada kunjungan balita dengan pneumonia ke Puskesmas Tempuran. Pertama kali pasien balita datang ke puskesmas akan diarahkan ke ruang MTBS dan ditangani oleh bidan kemudian akan dikirim ke Balai Pengobatan Umum untuk dilakukan pemeriksaan oleh dokter. 12. Untuk penggunaan SOP mengenai pneumonia dirasakan belum maksimal yang seharusnya dapat menjadi acuan standar bagi para petugas kesehatan untuk penangan kasus tersebut Pertanyaan Jawaban 13. Apakah dilakukan 13. Ya, setiap bulan perencanaan kegiatan 14. Belum terdapat perencanaan program P2ISPA? kegiatan penyuluhan Kapan? langsung ke masyarakat dan 14. Apakah salah satunya pembuatan poster ataupun ada perencanaan untuk brosur untuk memberikan dilakukan penyuluhan informasi ke masyarakat atau pembuatan mengenai pneumonia poster? 15. Kapan dilaksanakan 15. Pelaksanaan program program P2ISPA? P2ISPA di Puskesmas Tempuran dilakukan setiap hari baik di MTBS maupun Balai Pengobatan Umum. Sementara posyandu dilaksanakan rutin setiap bulan. 16. Siapa yang melakukan 16. Kepala puskesmas pengawasan terhadap melakukan pengawasan program P2ISPA dan langsung melalui laporan bagaimana caranya? bulanan yang diberikan 17. Bagaimana cara koordinator program P2 koordinator P2ISPA ISPA dalam mengawasi 17. Dilakukan evaluasi terhadap kasus pneumonia? data pasien pneumonia yang 18. Apakah pencatatan ada di SIMPUS setiap dari kasus pneumonia minggu itu sudah termasuk 18. Tidak pernah dilakukan kasus pneumonia dari pencatatan dan pelaporan
37

9.

pelayanan kesehatan kasus balita dengan lain di wilayah kerja pneumonia dari pelayanan puskesmas Tempuran? kesehatan lain seperti dokter 19. Setelah dilakukan praktek swasta, klinik pelaporan ke kepala kesehatan, bidan praktek di puskesmas, apakah wilayah kerja Puskesmas data tersebut Tempuran dilaporkan ke DinKes? 19. Iya, data yang telah dilaporkan ke kepala puskesmas kemudian akan dilaporkan ke DinKes setiap bulannya. 20. Dari segi pengetahuan, Lingkungan 20. Bagaimana pengetahuan mayoritas warga belum masyarakat mengenai mengetahui tentang penyakit pneumonia? pneumonia. 21. Bagaimana perilaku 21. Perilaku masyarakat untuk masyarakat untuk berobat ke puskesmas sudah berobat ke puskesmas? cukup baik. 22. Apakah menurut anda 22. Dari segi akses untuk adakah hambatan menjangkau Puskesmas dalam sarana Tempuran tidak terdapat transportasi maupun hambatan, baik transportasi jarak bagi masyarakat ataupun jarak ke Puskesmas untuk menjangkau Tempuran. Puskesmas Tempuran?

3. Hasil Survei Dengan Pengisian Kuesioner Dari hasil survei yang dilaksanakan pada tanggal 7 Juli 2013 di Dusun Punduhsari I, dengan jumlah 30 responden yaitu orang tua balita yang memiliki riwayat ISPA. Kuesioner meliputi identitas diri, data umum dana pelayanan kesehatan, data umum mengenai jangkauan pelayanan kesehatan, riwayat penyakit, tingkat pengetahuan mengenai penyakit tersebut, dan perilaku. Tujuan dari pembuatan kuesioner adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat

mempengaruhi kunjungan balita dengan pneumonia ke Puskesmas. Tabel 16. Hasil Survei Identitas Diri dan Data Umum Pertanyaan IDENTITAS/DATA DIRI Nama Orangtua : Umur Orangtua : Pendidikan : Nama Balita : Umur Balita : DATA UMUM
38

Jumlah

Presentase

30

100%

1.Apakah anda termasuk peserta Jamkesmas? a. Ya b. Tidak 2. Dimana tempat pelayanan kesehatan yang dikunjungi jika Balita anda sakit? a. Puskesmas b. Posyandu c. Rumah Sakit Umum d. Praktek dokter umum swasta e. Praktek dokter spesialis swasta f. Bidan g. Lain-lain................................ 3. Berapa jarak ke Puskesmas dari rumah anda? a. 1 3 km b. > 3 km 4.Kendaraan apakah yang anda gunakan ke tempat tersebut? a. Angkutan Umum b. Motor c. Jalan Kaki 5. Berapa berat badan anak anda saat dilahirkan? a. > 2500 gram b. < 2500 gram

25 5

83,3% 16,6%

24 2 4

80% 6,6% 13,3%

30 -

100% -

22 8 30 -

73,3% 26,6% 100% -

Kesimpulan dari Tabel 16, dari 30 responden didapatkan bahwa 24 responden (80%) yang membawa balitanya ke Puskesmas jika sakit, selebihnya 2 responden (6,6%) membawa balitanya ke praktek dokter swasta dan 4 responden (13,3%) ke bidan. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua ibu Balita membawa anaknya ke Puskesmas jika sakit. Dari segi akses, didapatkan jarak Puskesmas yang cukup terjangkau dari rumah yaitu kurang dari 3 km (100%) dan Puskesmas dapat dijangkau dengan angkutan umum (73,3%) maupun motor (26,6%). Dari 30 responden, tidak ada yang memiliki riwayat BBLR, dimana BBLR merupakan salah satu faktor intrinsik yang dapat meningkatkan risiko terjadinya pneumonia pada Balita.

Tabel 17. Hasil Survei Tentang Perilaku PERILAKU 6. Apakah anda selalu membawa anak anda ke Posyandu? a. Ya b. Tidak, alasan................ 7. Apakah anda segera membawa anak anda ke pelayanan kesehatan bila mengalami batuk pilek?

30 -

100%

39

a. Ya b. Tidak, alasan...................... 8. Apakah anda tidak menggunakan kayu bakar untuk memasak sehari-hari? a. Ya b. Tidak 9. Apakah terdapat lubang pembuangan asap di dapur anda? a. Ya b. Tidak 10. Apakah anda membuka jendela minimal 1 jam setiap hari? a. Ya b. Tidak 11. Apakah tidak ada anggota keluarga yang mempunyai kebiasaan merokok di dalam rumah? a. Ya b. Tidak 12. Apakah balita anda mendapatkan ASI ekslusif saat berusia 0-6 bulan? a. Ya b. Tidak, alasan............................ 13. Apakah anak anda mendapatkan imunisasi sesuai usianya? a. Ya b. Tidak 14. Apakah anda akan membawa balita anda ke pelayanan kesehatan jika balita anda mengalami sesak napas? a. Ya b. Tidak Tabel 18. Jawaban Kuesioner Tentang Perilaku KK 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 6 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 7 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Nomor Pertanyaan 8 9 10 11 12 1 0 1 0 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 1 0 0 1 0 1 0 0 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1

30 -

100%

19 11

63,3% 36,7%

30

0%

24 6

80% 20%

13 17

43,4% 56,6%

30 -

100%

30 -

100%

30 -

100%

Skoring 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 7 7 8 7 6 7 5 8 7 7 7 8

Kriteria penilaian B B B B B B B B B B B B
40

13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 0 1

1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 = Jawaban Tidak = Jawaban ya

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1

0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 Perilaku baik

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 : 5-9

6 7 7 8 7 6 8 6 8 7 7 7 6 7 7 5 7 6

B B B B B B B B B B B B B B B B B B

Perilaku buruk : 1-4

Tabel 19. Kriteria Penilaian Perilaku Kriteria Penilaian Perilaku baik Perilaku buruk Total Jumlah Responden 30 0 30 Persentase 100% 0% 100%

Kesimpulan dari Tabel 17 mengenai perilaku, dari 30 responden semua rutin membawa Balita-nya ke Posyandu, anaknya diberikan ASI eksklusif dan imunisasi sesuai usia (100%). Seluruh responden mengatakan akan membawa anaknya ke pelayanan kesehatan jika mengalami batuk pilek maupun sesak napas (100%). Dari 30 responden, masih ada 11 responden yang menggunakan kayu bakar untuk memasak (36,7%). Seluruh responden juga tidak memiliki lubang pembuangan asap dapur (100%). 17 responden yang Balita-nya tinggal dengan orang yang memiliik kebiasaan merokok (56,6%). Diketahui Balita yang terpapar asap pembakaran seperti asap dapur dan rokok diketahui lebih berisiko mengalami pneumonia. Dari segi ventilasi rumah, 24 responden (80%) membuka jendela minimal 1 jam sehari. Berdasarkan kriteria penilaian yang ada, hasil survei menunjukkan seluruh responden berperilaku baik (100%).

41

Tabel 20. Hasil Survei Tentang Pengetahuan Ibu PENGETAHUAN 15. Apakah anda mengetahui penyakit dengan gejala sesak napas pada anak yang disertai dengan demam (pneumonia)? a. Ya b. Tidak, lanjut ke no.16 16. Apakah anda mengetahui gejala-gejala lain penyakit tersebut? a. Ya b. Tidak 17. Apakah menurut anda jika balita anda mengalami sesak dan panas tinggi itu berbahaya? a. Ya b. Tidak 18. Apakah anda tahu penyakit batuk pilek dapat berkembang menjadi pneumonia? a. Ya b. Tidak 19. Apakah anda pernah mendapatkan penjelasan atau penyuluhan dari Puskesmas mengenai penyakit tersebut? a. Ya b. Tidak Tabel 21. Jawaban Kuesioner Tentang Pengetahuan Ibu KK 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Nomor Pertanyaan 15 16 17 18 19 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1 1 0 0 0 1 0 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1 1 0 0 0 1 0 0 Skoring 1 1 1 1 1 1 3 1 2 1 1 1 1 4 1 1 1 2 3 1

6 24

20% 80%

28 2

23,4% 6,6%

30 -

100%

4 26

13,3% 86,6%

30

0%

Kriteria penilaian K K K K K K B K K K K K K B K K K K B K
42

21 0 0 1 22 0 0 1 23 0 0 1 24 0 0 1 25 1 0 1 26 0 0 1 27 0 0 1 28 1 1 1 29 0 0 1 30 0 0 1 0 = Jawaban Tidak 1 = Jawaban Ya

0 0 0 0 1 0 0 0 0 0

0 1 0 1 0 1 0 1 0 3 0 1 0 1 0 3 0 1 0 1 Pengetahuan baik

K K K K B K K B K K : 3-5

Pengetahuan kurang : 1-2

Tabel 22. Kriteria Penilaian Pengetahuan Ibu Kriteria Penilaian Pengetahuan baik Pengetahuan kurang Total Jumlah Responden 5 25 30 Persentase 16,6% 83,3% 100%

Kesimpulan Tabel 20, dari 30 responden, 24 responden (80%) tidak mengetahui apa itu penyakit pneumonia. Hanya 4 responden yang mengetahui jika batuk pilek dapat berkembang menjadi pneumonia. Seluruh responden mengaku belum pernah mendapat pneyuluhan mengenai pneumonia dari Puskesmas. Sehingga dapat disimpulkan hasil survei menunjukkan 5 responden (16,6%) mempunyai pengetahuan yang baik, dan 25 responden (83,3%) mempunyai pengetahuan yang kurang. C. Kesimpulan Hasil Penelitian Dari hasil pengamatan tingkat kepatuhan SOP dalam penatalaksanaan ISPA terhadap 3 bidan yang berbeda, didapatkan hasil compliance rate rata-rata sebesar 47,33% dimana hal tesebut menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan petugas terhadap SOP masih belum maksimal. Dari hasil kuesioner didapatkan tidak semua masyarakat berobat ke Puskesmas. Dari segi akses, dapat disimpulkan tidak terdapat hambatan, baik sarana transportasi ataupun jarak untuk menjangkau Puskesmas Tempuran. Dari 30 responden seluruhnya berperilaku baik. Dari 30 responden hanya 5 responden yang memiliki pengetahuan baik. Hal ini menunjukkan bahwa masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pneumonia.

43

BAB VII PEMBAHASAN

A. Analisis Penyebab Masalah Berdasarkan hasil penelitian, yang menjadi penyebab masalah dari kurangnya cakupan balita dengan pneumonia yang ditemukan adalah kurangnya tingkat kepatuhan petugas kesehatan terhadap SOP penatalaksanaan ISPA, kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pneumonia, serta tidak semua masyarakat berobat ke Puskesmas. Berdasarkan pendekatan sistem, dapat ditelaah penyebab-penyebab dari kurangnya balita dengan pneumonia yang ditemukan. Masalah tersebut dapat disebabkan oleh input, lingkungan dan proses. Input terdiri dari 5 komponen, yaitu: Man, Money, Method, Material, dan Machine. Sedangkan pada proses terdiri dari P1 (perencanaan), P2 (pergerakkan dan pelaksanaan), dan P3 (pengawasan, pengendalian, dan penilaian). Disamping itu, lingkungan dapat mempengaruhi input dan proses.

Tabel 23. Kemungkinan Penyebab Masalah Berdasarkan Pendekatan Sistem INPUT MAN KELEBIHAN - Sumber daya manusia yang ada di program P2 ISPA terdiri dari dokter, perawat dan bidan - Terdapat koordinator P2ISPA KEKURANGAN 1.Yang melakukan pemeriksaan awal tidak selalu dokter, namun juga perawat yang belum mendapatkan pelatihan mengenai P2ISPA 2. Belum semua tenaga medis dan perawat mendapatkan pelatihan P2ISPA 3. Kurangnya tingkat kepatuhan terhadap SOP 4. Kurang dipatuhinya SOP yang ada

MONEY METHOD

MATERIAL

- Dana tersedia dari Puskesmas untuk Operasional - Pasien Balita dibawa ke ruangan MTBS dan akan diperiksa oleh Bidan - Terdapatnya SOP mengenai pneumonia - Tersedia 74 buah Posyandu di 15 desa yang termasuk ke dalam wilayah kerja Puskesmas Tempuran

44

MACHINE

- Puskesmas mempunyai ruangan khusus yaitu ruangan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dan Balai Pengobatan Umum untuk penangan balita pneumonia - Terdapat stetoskop, termometer, ARI Timer - Tersedia obat-obatan termasuk antibiotik yang dibutuhkan untuk pengobatan pneumonia - Terdapat SOP di buku panduan MTBS KELEBIHAN - Setiap bulan selalu dilakukan penyusunan rencana untuk kegiatan berikutnya

5.Tidak terdapat media promosi seperti poster dan brosur tentang pneumonia untuk masyarakat

PROSES P1
(Perencanaan)

- Pelaksanaan program P2ISPA (Penggerakan, dipuskesmas dilakukan setiap Pelaksanaan) hari di MTBS dan di balai pengobatan umum - Posyandu dilakukan setiap bulan P3
(Penilaian, pengawasan, Pengendalian)

P2

KEKURANGAN 6. Belum ada perencanaan untuk penyuluhan dan pembuatan poster dan brosur tentang pneumonia 7.Dalam pelaksanaan program petugas di MTBS kurang maksimal dalam penggunaan SOP

- Kepala puskesmas melakukan 8.Tidak ada umpan balik pengawasan langsung melalui dalam pencatatan dan laporan bulan yang diberikan pelaporan kasus balita oleh koordinator program dengan pneumonia dari - Dilakukan evaluasi terhadap data pelayanan kesehatan lain pasien pneumonia yang ada di seperti RSU dan praktek SIMPUS dokter swasta yang termasuk wilayah kerja Puskesmas Tempuran KELEBIHAN - Sarana transportasi untuk menjangkau puskesmas relatif mudah dan jarak tidak begitu jauh (1-3 km) - Tingkat perilaku berobat masyarakat yang baik KEKURANGAN 9.Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pneumonia 10.Tidak semua masyarakat berobat ke puskesmas, ada juga yang ke pelayanan kesehatan lain

LINGKUNGAN

B. Rekapitulasi Penyebab Masalah Berdasarkan analisis pendekatan sistem, maka didapatkan penyebab masalah adalah sebagai berikut : 1. Yang melakukan pemeriksaan awal tidak selalu dokter, namun juga perawat yang
45

belum mendapatkan pelatihan mengenai P2ISPA 2. Belum semua tenaga medis dan perawat mendapatkan pelatihan P2ISPA 3. Kurangnya tingkat kepatuhan terhadap SOP 4. Kurang dipatuhinya SOP yang ada 5. Tidak terdapat media promosi seperti poster dan brosur tentang pneumonia untuk masyarakat 6. Belum ada perencanaan untuk penyuluhan dan pembuatan poster dan brosur tentang pneumonia 7. Dalam pelaksanaan program petugas di MTBS kurang maksimal dalam penggunaan SOP 8. Tidak ada umpan balik dalam pencatatan dan pelaporan kasus balita dengan pneumonia dari pelayanan kesehatan lain seperti RSU dan praktek dokter swasta yang termasuk wilayah kerja Puskesmas Tempuran 9. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pneumonia 10. Tidak semua masyarakat berobat ke puskesmas, ada juga yang ke pelayanan kesehatan lain

46

P3

PROSES

Tidak adanya umpan balik dalam pencatatan dan pelaporan kasus balita dengan pneumonia dari pelayanan kesehatan lain

P1

o Belum ada perencanaan untuk penyuluhan dan pembuatan poster dan brosur tentang pneumonia

P2

Belum maksimalnya penggunaan SOP di MTBS

Man

o o

Yang melakukan pemeriksaan awal tidak selalu dokter, namun terkadang perawat yang belum mendapatkan yang belum mendapatkan pelatihan mengenai P2ISPA Belum semua tenaga medis dan perawat mendapatkan pelatihan P2ISPA Kurangnya tingkat kepatuhan SOP di MTBS
Money

Method

Belum maksimalnya penggunaan SOP di MTBS

Cakupan Balita dengan Pneumonia yang ditemukan/dita ngani sesuai standar di Puskesmas Tempuran 12,74% dari target 100%

Machine

pelatihan mengenai pneumonia.

Material

o Tidak terdapat poster dan brosur tentang pneumonia yang dibagikan untuk masyarakat INPUT

Lingkungan

- Tidak semua masyarakat berobat ke puskesmas, ada juga yang ke pelayanan kesehatan lain - Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pneumonia

47 Gambar 5. Diagram Fish Bone

C. Alternatif Pemecahan Masalah Tabel 24. Alternatif Pemecahan Masalah PENYEBAB MASALAH 1. Yang melakukan pemeriksaan awal tidak selalu dokter, namun juga perawat yang belum mendapatkan pelatihan mengenai P2ISPA 2. Belum semua tenaga medis dan perawat mendapatkan pelatihan P2ISPA 3. Kurangnya tingkat kepatuhan terhadap SOP ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH 1. Usulan pelatihan bagi petugas kesehatan tentang P2ISPA

2. Usulan pelatihan bagi petugas kesehatan tentang P2ISPA

3. Penyegaran kembali penggunaan SOP kepada petugas kesehatan di MTBS 4. Kurang dipatuhinya SOP yang ada 4. Penyegaran kembali penggunaan SOP kepada petugas kesehatan di MTBS 5.Tidak terdapat media promosi 5.Membuat media promosi seperti seperti poster dan brosur tentang poster atau brosur tentang pneumonia untuk masyarakat pneumonia yang dibagikan untuk masyarakat 6.Belum ada perencanaan untuk 6. Menyusun jadwal penyuluhan dan penyuluhan dan pembuatan poster membuat poster dan brosur mengenai dan brosur tentang pneumonia pneumonia untuk masyarakat 7.Dalam pelaksanaan program petugas di MTBS kurang maksimal dalam penggunaan SOP 8. Tidak ada umpan balik dalam pencatatan dan pelaporan kasus balita dengan pneumonia dari pelayanan kesehatan lain wilayah kerja Puskesmas Tempuran 9. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pneumonia 7. Penyegaran kembali penggunaan SOP kepada petugas kesehatan di MTBS 8. Koordinasi dengan pelayanan kesehatan lain yang masih termasuk ke dalam wilayah kerja Puskesmas Tempuran 9. Mengadakan penyuluhan terhadap masyarakat mengenai pneumonia terkait cara penularan dan penanganannya 10. Koordinasi dengan pelayanan kesehatan lain yang masih termasuk ke dalam wilayah kerja Puskesmas Tempuran

10. Tidak semua masyarakat berobat ke puskesmas, ada juga yang ke pelayanan kesehatan lain

48

D. Penggabungan Alternatif Pemecahan Masalah Tabel 25. Penggabungan Alternatif Pemecahan Masalah PENYEBAB MASALAH 1. Yang melakukan pemeriksaan awal tidak selalu dokter, namun juga perawat yang belum mendapatkan pelatihan mengenai P2ISPA 2. Belum semua tenaga medis dan perawat mendapatkan pelatihan P2ISPA 3. Kurangnya tingkat kepatuhan terhadap SOP 4. Kurang dipatuhinya SOP yang ada 5.Tidak terdapat media promosi seperti poster dan brosur tentang pneumonia untuk masyarakat 6.Belum ada perencanaan untuk penyuluhan dan pembuatan poster dan brosur tentang pneumonia 7. Dalam pelaksanaan program petugas di MTBS kurang maksimal dalam penggunaan SOP 8. Tidak ada umpan balik dalam pencatatan dan pelaporan kasus balita dengan pneumonia dari pelayanan kesehatan lain wilayah kerja Puskesmas Tempuran 9. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pneumonia 10. Tidak semua masyarakat berobat ke puskesmas, ada juga yang ke pelayanan kesehatan lain ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH 1. Usulan pelatihan bagi petugas kesehatan tentang P2ISPA

2. Sosialisasi penggunaan SOP kepada petugas kesehatan di MTBS

3. Menyusun jadwal penyuluhan dan membuat poster dan brosur mengenai pneumonia untuk masyarakat 4. Koordinasi dengan pelayanan kesehatan lain yang masih termasuk ke dalam wilayah kerja Puskesmas Tempuran 5. Mengadakan penyuluhan terhadap masyarakat mengenai pneumonia terkait cara penularan dan penanganannya

E. Alternatif Pemecahan Masalah Terpilih 1) Mengadakan pelatihan bagi petugas kesehatan tentang P2ISPA 2) Sosialisasi penggunaan SOP kepada petugas kesehatan di MTBS 3) Menyusun jadwal penyuluhan dan membuat media promosi seperti poster dan

49

brosur mengenai pneumonia 4) Koordinasi dengan pelayanan kesehatan lain yang masih termasuk ke dalam wilayah kerja Puskesmas Tempuran 5) Mengadakan penyuluhan terhadap masyarakat mengenai pneumonia serta melakukan pembagian poster dan brosur mengenai pneumonia

F. Penentuan Prioritas Alternatif Pemecahan Masalah Setelah menemukan alternatif pemecahan masalah, maka selanjutnya dilakukan penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah. Penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah dapat dilakukan dengan menggunakan metode matriks. Penentuan pemecahan masalah dengan kriteria matriks menggunakan rumus : Tabel 26. Penentuan Prioritas Pemecahan Masalah Nilai Kriteria M I V C 1) Usulan pelatihan bagi petugas 4 5 3 3 kesehatan tentang P2ISPA 2) Sosialisasi penggunaan SOP 3 4 4 2 3) Menyusun jadwal penyuluhan dan 3 3 2 1 membuat media promosi seperti poster dan brosur mengenai pneumonia 4) Koordinasi dengan pelayanan 3 2 4 4 kesehatan lain yang masih termasuk ke dalam wilayah kerja Puskesmas Tempuran 5) Mengadakan penyuluhan terhadap 2 5 3 4 masyarakat mengenai pneumonia serta melakukan pembagian poster dan brosur mengenai pneumonia Penyelesaian Masalah Nilai akhir (MxIxV/C) 20 24 18 Urutan 2 1 3

7,5

Urutan prioritas masalah setelah dilakukan perhitungan dengan metode matriks terdapat urutan skala prioritas penyelesaian masalah, yaitu : 1. Sosialisasi penggunaan SOP 2. Pelatihan bagi petugas kesehatan tentang P2ISPA 3. Menyusun jadwal penyuluhan dan membuat media promosi seperti poster dan brosur mengenai pneumonia

50

4. Mengadakan penyuluhan terhadap masyarakat mengenai pneumonia serta melakukan pembagian poster dan brosur mengenai pneumonia 5. Koordinasi dengan pelayanan kesehatan lain yang masih termasuk ke dalam wilayah kerja Puskesmas Tempuran

G. Strategi Pemecahan Masalah Berdasarkan urutan prioritas masalah diatas, strategi pemecahan masalah yang digunakan adalah sebagai berikut: Tabel 27. Strategi Pemecahan Masalah No. 1 2. 3. Strategi Pemecahan Masalah Sosialisasi penggunaan SOP Bentuk Kegiatan - Pertemuan membahas SOP - Penilaian tingkat kepatuhan SOP - Usulan pelatihan ke Dinas Kesehatan tentang P2ISPA - Penyusunan jadwal penyuluhan dan pembuatan poster dan brosur tentang pneumonia

4.

5.

Pelatihan bagi petugas kesehatan tentang P2ISPA Menyusun jadwal penyuluhan dan membuat media promosi seperti poster dan brosur mengenai pneumonia Mengadakan penyuluhan - Penyuluhan kepada masyarakat terhadap masyarakat mengenai mengenai penyakit pneumonia, cara pneumonia serta melakukan penularan, dan penanganan serta pembagian poster dan brosur pembagian poster dan brosur tentang mengenai pneumonia pneumonia Koordinasi dengan pelayanan - Koordinasi dengan pelayanan kesehatan lain yang masih kesehatan menggunakan pelaporan termasuk ke dalam wilayah kerja bulanan atau rapat koordinasi Puskesmas Tempuran

51

H. Penyusunan Rencana Kegiatan Tabel 28. Plan Of Action


No. 1. Kegiatan Pertemuan membahas SOP Tujuan Menyebarluaskan SOP Sasaran Dokter, bidan, perawat baik yang terlatih maupun belum terlatih Pelaksana Kepala puskesmas Dokter yg telah terlatih Koordinator program P2ISPA Waktu 6 bulan sekali Lokasi Puskesmas Pendanaan Dana operasional puskesmas Metode Tatap muka, diskusi, tanya jawab Tolak Ukur Proses Hasil Terlaksananya Tersebarluaskanpertemuan nya SOP membahas SOP

Penilaian tingkat kepatuhan SOP

Menilai tingkat kepatuhan petugas terhadap SOP

Dokter, bidan, perawat

Petugas yang ditunjuk

4 bulan sekali

Puskesmas

Dana operasional puskesmas

Pengamata n dan pengisian daftar tilik Mengirimk an petugas kesehatan yang akan dilatih ke dinas kesehatan

Terlaksananya Meningkatnya Penilaian tingkat kepatuhan petugas kepatuhan SOP terhadap SOP

3.

Usulan pelatihan ke dinas kesehatan

Meningkatkan keterampilan petugas kesehatan tentang P2ISPA

Dokter, bidan, perawat

Dinas kesehatan

1 tahun sekali

Dinas Kesehatan

Dana operasional Dinas Kesehatan

Terlaksananya kegiatan pelatihan bagi petugas kesehatan

Meningkatnya keterampilan petugas kesehatan tentang P2ISPA

52

4.

Penyusunan jadwal penyuluhan dan pembuatan poster dan brosur

Didapatkan jadwal terstruktur untuk melakukan kegiatan penyuluhan dan pembuatan brosur tentang pneumonia

Masyara kat Desa Tempur ejo

Koordinator program P2ISPA

1 tahun sekali

Puskesmas

Pembuatan jadwal penyuluhan dan pembuatan poster dan brosur

Terlaksananya kegiatan penyusunan jadwal penyuluhan dan pembuatan brosur

Jadwal yang terstruktur untk kegiatan penyuluhan dan pembuatan poster dan poster tentang pneumonia Meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit pneumonia

5.

Penyuluhan dan pembagian poster dan brosur

Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pneumonia

Masyara kat Desa Tempur ejo

Dokter fungsional, koordinator program P2ISPA, kader

6 bulan sekali

Balai Desa Tempurejo

Dana operasional Dinas Kesehatan

Tatap Terlaksananya muka, kegiatan tanya jawab penyuluhan disetai pembagian poster dan brosur tentang pneumonia Rapat, pengiriman data setiap bulan Terlaksananya koordinasi dengan pelayanan kesehatan lain

6.

Koordinasi dengan pelayanan kesehatan

Terdapat data balita dengan pneumonia yang ditangani/ditemukan dari seluruh pelayanan kesehatan yang terdapat di wilayah kerja Puskesmas Tempuran

Praktek dokter swasta, klinik kesehata n, bidan praktek

Koordinator program P2ISPA

Setahun sekali

Puskesmas

Dana operasional Dinas Kesehatan

Terkumpulnya data balita dengan pneumonia yang ditemukan/ ditangani dari seluruh pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Tempuran

53

I. Gantt Chart

Agustus No 1 Kegiatan 1 Pertemuan membahas SOP 2 3 4 1

September 2 3 4 1

Oktober 2 3 4 1

November 2 3 4 1

Desember 2 3 4

Penilaian tingkat kepatuhan SOP

Pelatihan bagi petugas kesehatan program P2 ISPA tentang pneumonia dan penanganannya serta mensosialisasikan penggunaan SOP Penyusunan jadwal penyuluhan dan pembuatan poster dan brosur tentang pneumonia Penyuluhan kepada masyarakat mengenai penyakit pneumonia, cara penularan, dan penanganan serta pembagian brosur tentang pneumonia Koordinasi dengan pelayanan kesehatan lain Rapat Laporan tertulis

Gambar 5. Gantt Chart


54

BAB VIII PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan perhitungan yang dilakukan dalam menyusun SPM Puskesmas Tempuran pada bulan Januari 2013 hingga Mei 2013, didapatkan hasil cakupan balita dengan pneumonia yang ditemukan atau ditangani sesuai standar sebesar 12,74% dengan target yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang tahun 2010 adalah sebesar 100%. Terdapat beberapa penyebab masalah, yaitu : petugas kesehatan yang melakukan pemeriksaan awal tidak selalu dokter, tidak semua perawat telah mendapatkan pelatihan khusus mengenai pneumonia, belum maksimalnya penggunaan SOP di MTBS, tidak adanya media promosi seperti poster dan brosur untuk dibagikan kepada masyarakat, tidak ada umpan balik dalam pencatatan dan pelaporan kasus balita dengan pneumonia dari pelayanan kesehatan lain yang termasuk wilayah kerja Puskesmas Tempuran, tidak semua masyarakat berobat ke puskesmas, melainkan ada juga yang ke pelayanan kesehatan lain, dan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pneumonia. Masalah-masalah tersebut dapat diatasi dengan melaksanakan strategi pemecahan masalah sebagai berikut, mensosialisasikan penggunaan SOP, pelatihan bagi petugas kesehatan program P2ISPA tentang pneumonia dan penanganannya, koordinasi dengan pelayanan kesehatan lain yang masih termasuk ke dalam wilayah kerja Puskesmas Tempuran, serta penyuluhan dan pembuatan media promosi untuk dibagikan kepada masyarakat tentang pneumonia.

B. Saran Sehubungan untuk meningkatkan angka cakupan kasus balita dengan pneumonia yang ditemukan atau ditangani sesuai standar di wilayah kerja Puskesmas Tempuran, disarankan : Petugas terkait menindaklanjuti rencana-rencana sesuai POA (plan of action). Pengadaan buku-buku pedoman khusus mengenai penyakit pneumonia. Kepada Kepala Puskesmas Tempuran beserta staf-staf terkait diharapkan untuk meningkatkan komitmen dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, terutama dalam hal penemuan kasus pneumonia pada balita. Harapannya adalah
55

untuk mengurangi angka kematian, penderitaan, dan penularan pneumonia. Sehingga pada pencapaian akhirnya mampu menurunkan angka kesakitan pada balita dan menciptakan masyarakat yang sehat dan sejahtera.

56

DAFTAR PUSTAKA

1. Anom S., Soedjajadi K, Lilis S., Determinan Sanitasi Rumah. Dalam; JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN, VOL. 3, NO.1. Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Surabaya, 2006 : 49 58. 2. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Pada World Pneumonia Day (Hari Pneumonia Dunia) 2009. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). 2009. Cited 2013 July 4. Available at : www.idai.co.id/kegiatanidai.asp 3. Wijaya Awi Muliadi. MDG 4, Angka Kematian Bayi Dan Angka Kematian Balita. 2009. Cited 2013 July 4. Available from: http://www.infodokterku.com/index.php?option=com_content&view=article&id=53 :mdg-4-angka-kematian-bayi-dan-angka-kematian-balita&catid-35:opinisebelumnya&Itemid=30 4. Dinkes Jateng. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011. Cited 2013 July 4.Available from: http://www.dinkesjatengprov.go.id/dokumen/profil2011/Bb%20IVI%202011.pdf 5. Departemen Kesehatan RI, 2008, Modul MTBS Revisi tahun 2008 6. Riskianti A. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pneumonia. Cited 2013 July 3. Available from: http://www.lontar.ui.ac.id/file=digital/126560-S-5738-Faktor-

faktor%20yang-Literatur 7. Rasmliah. Infeksi Saluran Pernafasan Alut (ISPA) dan Penanggulangannya. Cited 2013 July 3. Available from: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3775/1/fkm-rasmaliah9.pdf. 8. Wijaya Awi Muliadi. Kondisi Angka Kematian Neonatal (AKN), Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKBAL), Angka Kematian Ibu (AKI) Dan Penyebabnya Di Indonesia. 2009. Cited 2013 July 4. Available from: http://www.infodokterku.com/index.php?option=com_content&view=article&id=92 :kondisi-angka-kematian-neonatal-akn-angka-kematian-bayi-akb-angka-kematianbalita-akbal-angka-kematian-ibu-aki-dan-penyebabnya-diindonesia&catid=36:yang-perlu-anda-ketahui&ltemid-28 9. Univ Sumatera Utara. Tinjauan Pustaka ISPA. Cited 2013 July 4. Available from: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19913/4/Chapter%20II.pdf

57

10. Pneumonia.

2007.

Cited

2013

July

4.Available

from:

http://www.infeksi.com/article.php?Ing-en&pg-48&id-14 11. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. PDPI. Pneumonia Komuniti. Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan Di Indonesia. 2003. 12. Hartoyo, Mkes. Handout Instrumen Dalam Proses Pemecahan Masalah. Salaman, Magelang, 2012. 13. Hartoyo, Mkes. Handout Manajemen Program/Pelayanan Di Puskesmas, Salaman. Magelang, 2012.

58

LAMPIRAN

59

Anda mungkin juga menyukai