Anda di halaman 1dari 21

PENGEMBANGAN OPEN SOURCE PEMEROSESAN DAN PEMODELAN DATA SEISMIK UNTUK EKSPLORASI HIDROKARBON

T. A. Sanny*, Budi Raharjo**, Ditya P.*, M. Rachmat*, N. Burhan. *Teknik Geofisika, Fakultas Teknologi Pertambangan dan Teknik Perminyakan (FTTM), ITB ** Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI), ITB

Abstrak Pengembangan piranti lunak (software) dengan opensource seismik untuk eksplorasi hidrokarbon yang kami kembangkan kemungkinan merupakan hal yang pertama kali di Indonesia, yang kami mulai sejak tiga tahun yang lampau. Selama ini penggunaan piranti lunak seismik masih memerlukan biaya yang tinggi karena mahalnya harga piranti lunak yang dijual di pasaran. Tentu badan-badan riset, perguruan tinggi, bahkan perusahaan-perusahaan Migas BUMN tidak mampu terus menerus menaruh ketergantungan pada pada pengembangan piranti lunak tersebut, mengingat metoda-metoda seismik terus berkembang pesat pada beberapa tahun terakhir ini. Dengan adanya riset piranti lunak open source seismik ini, diharapkan kita dapat berdiri sendiri dalam memecahkan permasalahan reservoar migas dan tidak perlu bergantung pada piranti lunak buatan luar negeri, karena ketergantungan ini akan menjadi hambatan di masa mendatang bagi pengembangan Iptek dan tak baik pula bagi pengembangan bisnis di Indonesia. Selain itu, penggunaan piranti lunak yang bersifat open source ini dapat menghemat pengeluaran negara dalam penyediaan berbagai piranti lunak di kantor pemerintahan, badan penelitian, perguruan tinggi, dan BUMN. Dalam penelitian ini, kami telah berhasil membuat platform software, yang akan diusulkan menjadi standard pengembangan software-software geofisika eksplorasi, yaitu dalam hal standarisasi API (Application Programming Interface), file format, visualisasi dan Graphical User Interfaces.

Pendahuluan Dalam dunia industri minyak dan gas bumi, eksplorasi dengan teknologi seismik merupakan suatu standar dalam pencarian hidrokarbon yang terletak jauh di bawah permukaan bumi. Metodologi pemerosesan data seismik terus menerus berubah setiap saat sesuai dengan kemajuan metodologi yang dikembangkan para ahli seismik dan kemajuan komputer yang membutuhkan kecepatan yang tinggi dalam mengolah data seismik dalam jumlah yang besar. Dengan demikian hampir semua stakholder yang berkaitan dengan pengolahan data seismik terus menerus harus membeli perangkat lunak baru untuk meningkatkan kecepatan pengolahan dan peningkatan resolusi citra seismik. Sehingga dalam sudut pandang ekonomi hal ini membutuhkan biaya yang besar (high cost) dan ketergantungan terus menerus. Dengan adanya pengembangan open source diharapkan selain dapat menjadi solusi dalam masalah anggaran, open source juga memberikan banyak keuntungan lainnya. Berikut ini beberapa manfaat open source dalam dunia geofisika dilihat dari berbagai sudut pandang. Bertambah lagi dengan adanya krisis moneter piranti lunak seismik berlisensi sulit untuk dimiliki karena terbentur oleh masalah mahalnya harga piranti lunak tersebut. Hal ini menjadi masalah besar bagi kalangan akademisi dan para peneliti dan imbasnya terhadap penggunaan teknologi pada industri Migas nasional. Perguruan tinggi harusnya menjadi pihak terdepan dalam penggunaan dan pengembangan teknologi baru berbasis open source sehingga industri Migas nasional dapat mengejar ketertinggalan teknologi saat ini dengan anggaran yang terjangkau. Dalam konteks ini kami bekerjasama dengan berbagai perguruan dan badan peneliti dunia yang telah lebih dahulu mengembangkan open source antara lain ; Karlsruch University, Hamburg University-Germany, Stanford University dan Colorado Scholl of Mine-USA. Sehingga diharapkan dari penelitian ini muncul paper-paper dan kemungkinan paten kelas dunia. Pembelajaran Piranti lunak yang berbasis open source akan memperlihatkan dan sekaligus memberikan kode program kepada publik. Hal ini merupakan keuntungan yang luar biasa bagi dunia pendikan. Para akademisi dapat mempelajari bagaimana caranya membuat kode program untuk

algoritma tertentu misalnya. Dan pada akhirnya open source akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia bidang geofisika di Indonesia. Dengan adanya open source, pengembangan sangat mungkin untuk dilakukan dan tidak perlu dimulai dari awal. Para pengembang tinggal mempelajari sampai dimana kemajuan yang ada untuk kemudian dikembangkan sesuai dengan kemajuan penelitian dan tuntutan maupun tantangan-tantangan baru di masa depan. Penggunaan open source yang massif dalam dunia geofisika akan mengurangi ketergantungan terhadap piranti lunak yang biasanya dikeluarkan oleh perusahaan asing. Dari segi finansial selain akan menghemat anggaran untuk membeli perangkat lunak dari pihak asing juga akan menjadikan perputaran uang terjadi di negara sendiri. Open source juga akan mengurangi monopoli perusahaan asing dalam memasarkan perangkat lunaknya di Indonesia. Ketahanan Nasional Ketergantungan terhadap piranti lunak buatan asing sebenarnya mengancam ketahanan nasional. Hal ini disebabkan oleh data-data yang ada pada piranti lunak tersebut dapat diakses dengan mudah oleh organisasi pembuat piranti lunak tersebut. Gerakan Go Open Source yang dicanangkan oleh Kementerian Negara Riset dan Teknologi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan ketahanan nasional. Upaya ini dapat didorong secara riil dalam pengembangan piranti lunak untuk pendidikan dan penelitian dengan tingkat keamanan yang tinggi sehingga data dalam piranti lunak tidak dapat diakses begitu saja oleh pihak asing terutama data rahasia negara.

Manfaat pengembangan open source Dengan adanya pengembangan opensource sesungguhnya memberikan banyak keuntungan yang tidak saja berpijak pada permasalahan biaya akan tetapi banyak keuntungan lain yang bisa dikembangkan antara lain dapat melakukan kolaborasi dengan perguruan tinggi dan pusat penelitian kelas dunia dengan adanya akses bebas terhadap perangkat lunak kelas dunia. Dalam kontek ini kami bekerjasama dengan berbagai perguruan dan badan peneliti dunia yang telah lebih dahulu mengembangkan open source antara lain; Karlsruch University, Hamburg University-Germany, Stanford University dan Colorado Scholl of Mine-USA. Sehingga

diharapkan dari penelitian ini muncul paper-paper dan kemungkinan paten kelas dunia. Perangkat lunak yang berbasis open source akan memperlihatkan dan sekaligus memberikan kode program kepada publik. Hal ini merupakan keuntungan yang luar biasa bagi dunia pendidikan khususnya dalam pembelajaran pengembangan algoritma. Para akademisi dapat mempelajari bagaimana caranya membuat kode program untuk algoritma tertentu misalnya. Dan pada akhirnya open source akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia bidang geofisika di Indonesia. Selain itu dengan adanya open source, pengembangan sangat mungkin untuk dilakukan dan tidak perlu dimulai dari awal. Para pengembang tinggal mempelajari sampai dimana kemajuan yang ada untuk kemudian dikembangkan sesuai dengan kemajuan penelitian dan tuntutan maupun tantangan-tantangan baru. Penggunaan open source yang massif dalam dunia geofisika akan mengurangi ketergantungan terhadap perangkat lunak yang biasanya dikeluarkan oleh perusahaan asing. Dari segi finansial selain akan menghemat anggaran untuk membeli perangkat lunak dari pihak asing juga akan menjadikan perputaran uang terjadi di negara sendiri. Open source juga akan mengurangi monopoli perusahaan asing dalam memasarkan perangkat lunaknya di Indonesia sehingga diharapkan dapat membangun Kemandirian Ketergantungan terhadap piranti lunak buatan asing sebenarnya mengancam ketahanan nasional. Hal ini disebabkan oleh data-data yang ada pada piranti lunak tersebut dapat diakses dengan mudah oleh organisasi pembuat piranti lunak tersebut. Gerakan Go Open Source yang dicanangkan oleh Kementerian Negara Riset dan Teknologi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan ketahanan nasional. Upaya ini dapat didorong secara riil dalam pengembangan piranti lunak untuk pendidikan dan penelitian dengan tingkat keamanan yang tinggi sehingga data dalam piranti lunak tidak dapat diakses begitu saja oleh pihak asing terutama data rahasia negara.

Tahapan Pengembangan Penelitian Pertama kali kami melakukan sosialisasi open source di lingkungan Teknik Geofisika, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung, sebagai salah satu bagian

masyarakat geofisika di Indonesia, dengan tahapan sebagai berikut : Melakukan migrasi dari Windows ke Linux yang dilakukan secara bertahap. Pada tahapan ini akan banyak dilakukan workshop-workshop tentang berbagai aplikasi di Linux yang ditujukan untuk dosen dan mahasiswa. Distro Linux yang akan digunakan diantaranya Fedora, OpenSUSE, Scientific Linux dan Ubuntu. Mengembangkan kode program dalam bahasa C atau fortran untuk melakukan pemodelan seismik 2 dimensi dan 3 dimensi dalam media homogen isotropis dan homogen anisotropis baik akustik maupun elastik. Mengembangkan kode program dalam bahasa C atau fortran untuk melakukan seismic inversion. Mengembangkan kode program untuk pengolahan data seismik dengan pendekatan anisotropis. Pengolahan data seismik dengan pendekatan anisotropis ini dibatasi untuk tahapan velocity analysis saja. Mengembangkan perangkat lunak pengolahan data seismik yang memiliki interface sehingga dapat mudah digunakan (user friendly) oleh semua orang. Perangkat lunak pengolahan data seismik ini akan bersifat open source juga. Membuat suatu group dalam lingkungan geofisika yang dapat digunakan sebagai media komunikasi dan berbagi untuk pengembangan perangkat lunak pengolahan data seismik ini selanjutnya.

Hasil Pengembangan Salah satu metode seismik yang saat ini sedang berkembang adalah metode seismik tomografi. Metode tomografi digunakan dalam eksplorasi minyak dan gas bumi (untuk keperluan EOR dan mendeteksi karakteristik reservoir). Seismik tomografi adalah metode untuk merekonstruksi struktur bawah permukaan bumi dengan menghitung waktu tempuh atau amplitudo gelombang seismik yang menyebar ke segala arah diantara sumber seismik dan penerima yang diletakkan di permukaan bumi atau di dalam lubang bor. Metode ini digunakan untuk mendapatkan penyebaran profil detil sifat-sifat fisik batuan seperti kecepatan dan redaman. Seismik tomografi memerlukan beberapa pengukuran lintasan gelombang seismik.

Untuk mendapatkan lintasan-lintasan gelombang seismik tersebut digunakan beberapa sumber dan penerima yang diletakkan di sekitar daerah-daerah penelitian yang pada umumnya menggunakan asumsi struktur 2 dimensi, yaitu sruktur bawah permukaan yang hanya memiliki pernyebaran cepat rambat gelombang dalam 2 arah (X dan Z). Apabila medium memiliki penyebaran cepat rambat dalam 3 arah (X, Y, dan Z) maka hasil yang diperoleh tentunya akan lebih realistik. Dalam pengolahan data, sebelum melakukan proses inversi, pertama-tama harus dilakukan pelacakan dengan menggunakan metode lintasan gelombang (ray tracing methodology) dan perhitungan waktu tempuh dari setiap sumber ke masing-masing penerima.

Metode Common Reflection Surface (CRS) Stack Metode ini dinamakan Common Refflection surface (Mler, 1998; Hubral, 1998; Hcht, 1998; Jger, 1998). Metode ini adalah metode yang dimasukkan dalam kelompok metode macro-model independent imaging method , karena metode ini tidak membutuhkan informasi kecepatan selain informasi mengenai kecepatan medium dekat permukaan. Metode ini memiliki keunggulan dari metode konvensional, NMO/DMO/CMP stack. Pada metode stacking konvensional, kualitas imaging sangat ditentukan oleh model kecepatan, biasanya analiasa kecepatan dilakukan secara iterative dan interactive dengan melakukan picking pada semblance kecepatan. Lebih jauh lagi, metode stacking konvensional tidak memakai semua data multicoverage, metode ini hanya menggunakan beberapa gather tertentu saja dalam proses stackingnya. Padahal sejumlah besar trace yang diabaikan tersebut dapat digunakan untuk menggambarkan bawah permukaan. Didasarkan pada ray method dari erven, 1985, parameter dari surface stacking CRS diturunkan. Dengan mengekspresikan penjalaran gelombang dalam Normal Incidence Point (NIP) wave dan Normal (N) wave (Hubral, 1983), traveltime hiperbolik disebut sebagai traveltime aproksimasi CRS, adalah ekspansi deret Taylor orde dua dari traveltime refleksi untuk gelombang paraxial di sekitar gelombang normal incident. Dalam pengolahan data menggunakan metode CRS stacking, dimana operator stacking ditentukan oleh lebar segmen dari reflektor atau aperture dari reflektor, maka zona Fresnel

adalah optimum aperture dalam melakukan stacking CRS. Namun, konsep zona Fresnel ini berada dalam depth domain, padahal data seismik berada dalam time domain. Ternyata first interface Fresnel zone dalam domain waktu identik dengan proyeksi first interface dari Fresnel zone pada kawasan kedalaman. Sehingga hubungan ini bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan aperture operator CRS yang optimum.

CRS Tomography Proses stacking dengan menggunakan metode Common Reflection Surface seperti yang dijelaskan pada bab sebelumnya dapat dikatakan sebagai metode yang lebih baik dalam menghasilkan data stacking dibandingkan dengan metode pengolahan data seismik dengan cara yang konvensional. Selain menghasilkan penampang stack, metode CRS stack juga dapat digunakan untuk mengolah data waktu tempuh dari data seismik dalam bentuk atribut kinematik wavefield. Atribut ini seperti dijelaskan pada bab sebelumnya, merupakan parameter yang menyimpan informasi posisi, kelengkungan, dan orientasi dari reflektor, selain itu atribut kinematik wavefield, sesuai dengan sebutannya, mengandung informasi penjalaran gelombang yang nantinya dapat dipergunakan untuk merekonstruksi model kecepatan makro dari data seismik, dengan menggunakan konsep tomografi. Keunggulan hasil keluaran pengolahan data dengan menggunakan CRS stack dari sisi tingginya S/N ratio, akibat penggunaan gather CMP yang lebih banyak, dapat dimanfaatkan sebagai input data tomografi untuk pembuatan model kecepatan makro. Selain tingginya S/N rasio dari data CRS stack, pengambilan data picking pada penampang yang telah di stack akan memudahkan proses pemilihan data berdasarkan kualitas dari tiap tiap data tersebut. Selama ini pembuatan model kecepatan makro dengan menggunakan metode tomografi, hanya memanfaatkan picking data untuk data yang belum di stack. Hal tersebut yang menjadi hambatan dalam pemilihan kualitas data dari input tomografi pada metode konvensional. Hambatan yang terjadi antara lain pemilihan data berdasarkan kemenerusan reflektor yang sangat sulit dilakukan apabila berhadapan dengan data yang memiliki struktur lapisan bawah permukaan yang sangat kompleks.

Salah satu faktor penting yang harus diperhatikan dalam pembuatan model kecepatan adalah penentuan karakteristik dari model kecepatan. Data seismik yang direkam pada permukaan bumi tidak mengandung data yang cukup untuk memberikan informasi mengenai sebaran nilai kecepatan yang sebenarnya pada setiap titik (Claerbout, 1985). Untuk mengatasi kekurangan tersebut dibuatlah model kecepatan untuk memahami sebaran kecepatan di bawah permukaan bumi, dengan berbagai asumsi. Dalam pembuatannya, untuk mendapatkan suatu model kecepatan yang unik dan konsisten dengan data awal dari rekaman seismik, dibutuhkan beberapa asumsi terhadap sebaran kecepatan di bawah permukaan bumi. Salah satu asumsi yang mungkin dipakai adalah memberikan suatu constraint atau batasan terhadap model kecepatan yang kita inginkan. Constraint dari model kecepatan dapat berupa perubahan kecepatan di bawah permukaan bumi yang bersifat smooth, atau dapat pula berupa asumsi keberadaan ketidakmenerusan pada beberapa bagian dari reflektor.

Beberapa jenis karakterisasi model kecepatan diperkenalkan dalam proses perkiraan distribusi kecepatan, jenis karakterisasi ini berdasarkan tipe constraint yang digunakan dibagi menjadi tiga jenis, yaitu; Model kecepatan yang berupa layered (lapisan lapisan) atau blocky

Model kecepatan ini memiliki asumsi dimana kecepatan pada tiap lapisan atau blok adalah konstan atau bervariasi sehubungan dengan aturan kecepatan yang sederhana (gradien kecepatan horizontal atau vertikal). Perubahan kecepatan pada model jenis ini mungkin akan diskontinu pada batas lapisan atau blok Model kecepatan yang blocky seperti ini umumnya akan sangat efektif digunakan pada kasus dimana kita mengharapkan gambaran kontras kecepatan dari tiap lapisan dari daerah dengan lapisan sedimen yang berlapis lapis dimana terjadi diskontinuitas batas lapisan pada bagian yang dikenali sebagai reflektor. Model kecepatan grid atau smooth

Model kecepatan ini tidak mengandung diskontinuitas kecepatan. Kecepatan pada model tersebut didefinisikan pada sebuah grid yang rapat (dens) dari titik di bawah permukaan bumi, bervariasi secara halus dari tiap titik grid satu ke yang lain, atau didefinisikan secara analitis pada semua titik pada model dengan menggunakan fungsi smooth. Akibat asumsi mengenai

keberadaan bidang batas kecepatan yang disimbolkan melalui diskontinuitas perubahan kecepatan, sehingga posisi reflektor dengan keberadaan diskontinuitas perubahan kecepatan dapat dipisahkan. Model kecepatan yang digunakan memiliki asumsi dasar yang sama dengan tipe model kecepatan smooth, namun yang membedakan adalah model kecepatan ini mengandung bentuk tubuh yang irregular dengan kontras kecepatan yang sangat tinggi, diantara lapisan kecepatan yang berubah secara halus di sekitarnya. Model kecepatan dengan asumsi constraint seperti ini umumnya digunakan dalam estimasi model kecepatan dimana terdapat struktur diapir garam atau salt-diapir. Pembuatan model kecepatan dengan metode tomografi pada penelitian ini menggunakan asumsi model kecepatan yang smooth dimana antara reflektor dan perubahan distribusi kecepatan dapat dipisahkan hubungan antara keduanya. Dengan asumsi tersebut maka dimungkinkan untuk membuat algoritma inversi tomografi yang hanya memanfaatkan data refleksi yang koheren secara lokal (Laily & Sinoquet, 1996), mengingat bahwa atribut kinematik wavefield dari pengolahan data dengan menggunakan metode CRS stack, memang berdasarkan event yang koheren secara lokal.

Gelombang NIP dalam estimasi model kecepatan Model kecepatan merupakan bagian yang penting dalam proses migrasi khususnya pada Pre stack epth Migration (PreSDM). Model kecepatan yang baik merupakan model kecepatan yang dianggap konsisten dengan data seismik awal yang ada, sehingga perlu dibuat suatu kriteria khusus untuk menilai tingkat konsistensi model kecepatan terhadap data seismik awal. Duveneck, 2004, menyatakan bahwa suatu model kecepatan dianggap konsisten apabila semua sinyal refleksi dari data seismik yang berhubungan dengan titik CRP (Common Reflection Point) yang sama di bawah permukaan bumi dapat di migrasi kan kembali ke satu titik yang sama. Pernyataan tersebut merupakan pembuktian kriteria konsistensi suatu model kecepatan dengan cara menganalisa hasil migrasi terhadap model kecepatan tersebut. Tomografi dengan menggunakan atribut CRS dalam penelitian ini sebenarnya merupakan metode pencarian model yang optimum dengan cara mencari nilai misfit yang paling minimum antara data poin sebagai data awal dengan data hasil forward modeling pada model. Forward modeling atau pemodelan ke depan adalah suatu metode perhitungan data teoritis di permukaan

bumi dengan mengetahui harga parameter model bawah permukaan tertentu. Pernyataan tentang definisi tersebut berarti dilakukan pencarian atas data secara teoritis terhadap model yang digunakan dengan memanfaatkan parameter parameter model yang ada. Dalam hal ini parameter model yang digunakan adalah parameter yang digunakan untuk membangun model smooth. Tahapan forward modeling dilakukan melalui dua proses ray tracing, yaitu kinematik ray tracing dan ray tracing dinamis. Ray tracing merupakan suatu metode pendeteksian jejak sinar yang dirambatkan ke dalam permukaan bumi, untuk mengetahui informasi harga waktu tempuh sinar tersebut. Metode ray tracing ini menggunakan azas fermat, dimana gelombang akan melalui jalur yang paling cepat untuk merabat di dalam permukaan bumi. Tahapan pemodelan inversi adalah untuk mencari model optimum dimana respons dari model yang diberikan memiliki misfit yang minimum bila dibandingkan dengan data pengamatan yang ada. Oleh karena itu perlu dibuat persamaan fungsi obyektif yang dapat digunakan untuk meminimumkan misfit antara respons pada model dengan data pengamatan. Jika data dapat dituliskan ke dalam bentuk matriks d dan m, formulasi penyelesaian proses inversi dapat dinyatakan dengan pencarian model optimum dengan parameter model m dengan cara meminimumkan misfit antara data d dan nilai respons dari model dmod = f(m). Operator f(m) merupakan operator non linear yang mewakili hasil forward modeling dengan menggunakan dynamic ray tracing. Jika formulasi penyelesaian proses inversi dilakukan dengan menggunakan metode L2 Norm dalam perhitungan misfit (Tarantola, 1987), model optimum akan didapat dengan meminimumkan fungsi cost sebagai fungsi obyektif yang dituliskan sebagai berikut :

(1) Dimana d(m) = d - f(m) dan merupakan matriks positif simetris yang bertindak sebagai pembobot (weight) yang diaplikasikan untuk setiap data poin pada perhitungan nilai S. Pembobotan dilakukan untuk menstabilkan proses inversi dengan cara memberikan nilai secara numeric pada setiap tipe data yang ada.Matriks sering disebut pula sebagai matriks kovariansi (Tarantola, 1987). Komponen diagonalnya merupakan variansi yang berhubungan dengan nilai parameter data poin yang berbeda. Pembobotan dilakukan pada tiap parameter pada data poin yaitu pembobotan terhadap

waktu tempuh gelombang normal , pembobotan terhadap turunan spasial pertama p, terhadap turunan spasial kedua M, dan terhadap emergence location . Langkah tersebut dapat dilakukan dengan menambahkan aspek parameter model dalam fungsi cost. Seperti sebagaimana diketahui bahwa komponen model memiliki dua bagian yaitu :

(2) Dengan menambahkan pembobotan untuk parameter model, maka fungsi cost yang dipengaruhi faktor pembobotan terhadap parameter model, dapat dituliskan sebagai berikut :

(3) Dengan matriks D merupakan pembobotan yang diberikan terhadap parameter model dari fungsi -spline. Matriks D dibuat berdasarkan normalisasi terhadap arah lateral xx dan arah vertical zz, dimana kedua nilai tersebut diberikan sebagai input oleh pengguna software pada program yang digunakan dalam penelitian ini. Dengan begitu maka persamaan diatas dapat diselesaikan dengan menggunakan metode least square (kuadrat jarak terkecil) dan digambarkan melalui persamaan:

(4) Persamaan ini merupakan solusi persamaan obyektif yang dapat diselesaikan dengan metode least square dengan mencari nilai update model m. Matriks F tersebut dapat dituliskan secara lengkap dalam bentuk matriks :

Matriks ini merupakan matriks turunan Frechet yang dapat dibagi menjadi 4 bagian. Bagian pertama yaitu bagian sebelah kiri atas dari matriks mengandung matriks ndata x ndata yang merupakan matriks turunan Frechet terhadap parameter model NIP. Bagian matriks sebelah kanan atas dari matriks yang mengandung matriks ndata x nxnz yang merupakan matriks turunan Frechet terhadap parameter model vjk. Bagian kanan bawah dari matriks tersebut mengandung matriks yang berhubungan dengan turunan Frechet terhadap constraint (batasan) tambahan bagi data poin yang ada. Gambar dibawah ini, merupakan penampang atribut RNIP yang dihasilkan pada penelitian ini, Gambar 1.a, merupakan penampang atribut RNIP berasal dari CRS stack, sedangkan gambar 1.b, merupakan penampang atribut RNIP yang berasal dari proses smoothing.

Gambar 1. Penampang RNIP. (a). Penampang RNIP hasil proses CRS stack, (b). Penampang RNIP hasil proses moothing. Bentuk elips biru pada kedua penampang menunjukkan daerah yang pada awalnya mengalami fluktuasi (a) hingga proses smoothing untuk penghilangan efek tersebut (b)

Penampang RNIP merupakan penampang yang mengalami efek perubahan yang paling besar, sehingga analisa hasil dari proses smoothing ini hanya dilakukan pada hasil penampang RNIP yang telah mengalami proses smoothing saja. Pada gambar 1 terdapat elips berwarna biru pada kedua penampang. Elips tersebut digunakan untuk menandai daerah yang menjadi daerah pengamatan terhadap perubahan nilai pada kedua penampang. Pada 1.a terlihat bahwa terdapat fluktuasi nilai dari atribut RNIP sehingga nilai atribut tersebut pada event reflektor cenderung memberikan tampilan berupa sebaran yang tidak merata. Sedangkan pada 1.b fluktuasi nilai tersebut dapat dihilangkan menjadikan atribut pada event yang berkaitan memiliki distribusi nilai atribut yang bervariasi secara halus. Gambar 2 merupakan penampang emergence angle () yang telah mengalami proses smoothing. Akibat kecilnya perubahan nilai antara penampang () sebelum dan sesudah mengalami proses smoothing, maka tidak diberikan analisa yang mendetail pada atribut tersebut. Pengaruh yang kecil terhadap nilai pada proses smoothing terjadi akibat kecilnya nilai dip difference yang menjadi

input sebagai dip threshold (acuan) yang digunakan pada proses ini.

Gambar 2. Penampang hasil proses smoothing

Selain keberadaan nilai stacking envelope, perbedaan yang lain terletak pada perhitungan bentuk window yang dihitung berdasarkan panjang dari window, sejumlah sampel yang digunakan pada proses smoothing. Gambar 3 merupakan hasil automatic picking yang telah di overlay dengan penampang CRS stack yang telah dioptimasi. Terlihat bahwa titik titik hitam yang menggambarkan lokasi picking berada tepat pada event relektor pada model yang bersangkutan. Jumlah picking yang dilakukan bergantung pada jumlah data yang memiliki koherensi yang sama atau lebih besar dari koherensi threshold yang dimasukan.

Gambar 3. Penampang CRS stack yang telah di overlay terhadap lokasi picking. Titik titik hitam merupakan representasi dari lokasi picking

Inversi Tomografi Tahapan inversi tomografi ini dilakukan dengan menggunakan program Niptomo2D, yang merupakan program open source yang berbasis sistem operasi linux. Input yang digunakan

terdiri dari data poin yang dihasilkan pada proses automatic picking, lokasi dari grid yang akan digunakan, dan model inisial yang menjadi model awal pada saat proses inversi. Data masukan pertama merupakan data poin, dimana data tersebut disimpan ke dalam file berbentuk ascii yang terdiri dari empat kolom, dimana setiap kolom tersebut merupakan nilai dari masing masing parameter pada data poin tersebut. Perlu d iingat bahwa nilai 0 memiliki satuan 10-3 s, MNIP memiliki satuan 10-9 s/m2, p memiliki satuan 10-6 s/m, dan 0 memiliki satuan dalam meter. Hal tersebut nantinya juga akan berguna saat menentukan nilai pembobotan yang akan dikenakan bagi masing masing parameter di dalam data poin. Data masukan yang kedua merupakan informasi letak dari grid baik secara lateral maupun secara vertical. Lokasi bagi letak grid ini memiliki dimensi dalam satuan meter baik ke arah lateral, maupun vertical. Nantinya model kecepatan yang dihasilkan secara lateral akan sama dimensinya dengan bentangan offset dan secara vertical akang sama dengan kedalaman pada model awal geologi yang digunakan. Data masukan yang ketiga merupakan model kecepatan inisial yang dijadikan sebagai model awal pada inversi tomografi. Model kecepatan inisial ini, seperti halnya keluaran dari proses inversi ini, merupakan model kecepatan yang berada pada domain kedalaman. Dalam penelitian ini berdasarkan pada model geologi awal maka di gunakan kecepatan di dekat permukaan sebesar 1500 m/s dan gradient kecepatan yang bernilai 1 m/s untuk setiap perubahan kedalaman satu meter. Secara lengkap nilai nilai dari parameter yang lain yang dijadikan sebagai input dalam inversi tomografi, adalah sebagai berikut: Tabel 1. Parameter inversi tomografi

Selain memberikan input seperti yang telah ditunjukkan pada table B.1, diberikan pula sebuah additional constraint yang berupa informasi kecepatan a priori. Informasi kecepatan ini didasari atas model geologi awal yang dipergunakan. Walaupun menggunakan informasi model geologi awal, namun data yang dijadikan informasi kecepatan a priori hanya data kecepatan yang berada di dekat permukaan. Dalam hal ini di berikan informasi kecepatan sebanyak delapan titik yang berada di dekat permukaan (z=0) dengan nilai kecepatan 1500 m/s. Dengan menggunakan nilai dari masukan didapatkan model kecepatan hasil inversi tomografi yang cukup baik. Kriteria penilaian suatu model kecepatan yang dianggap baik nantinya akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian analisa. Walaupun model kecepatan yang

dihasilkan dan dipilih sebagai model akhir hanya berasal dari satu kumpulan percobaan, ditampilkan pula hasil model kecepatan dengan variasi nilai dari parameter yang sama seperti xx dan zz guna melihat pengaruh yang ditimbulkan oleh besarnya parameter tersebut. Analisa berikutnya merupakan analisa terhadap penambahan informasi kecepatan a priori sebagai constraint tambahan. Fungsi informasi kecepatan a priori ini juga nantinya akan memudahkan penentuan distribusi nilai dari variasi kecepatan. Dilakukan percobaan dengan tiga jenis model kecepatan yang akan dihasilkan (gambar 4). Data pertama merupakan data yang tidak menggunakan informasii kecepatan a priori (4a), data kedua merupakan data yang menggunakan kecepatan a priori yang terletak di dekat permukaan saja (4b), data yang ketiga atau yang terakhir merupakan data dengan menggunakan informasi

Gambar 4. Model kecepatan dengan nilai xx dan zz yang bervariasi. (a). xx = 0.01, zz = 0.01, (b). xx = 0.05, zz = 0.01, (c). xx = 0.01, zz = 0.05, (d). xx,zz = 0.05, (e). xx = 0.1, zz = 0.05, (f). xx = 0.05, zz = 0.1, (g). xx,zz = 0.1 kecepatan a priori pada setiap titik di dalam model sejumlah 45 titik (4c). Secara kualitatif tidak ada perubahan yang signifikan antara data 4.a dengan data 4.b, hanya saja mungkin pada model kecepatan 6a masih terdapat kekurangan pada pola sebaran distribusi kecepatan (elips berwarna merah). Kekurangan tersebut merupakan anomali nilai kecepatan pada daerah yang lebih dalam, dimana justru mengalami penurunan nilai kecepatan. Hal tersebut bukanlah sesuatu yang normal mengingat asumsi semakin bertambahnya kedalaman semakin besar kecepatan suatu lapisan. Sehingga secara kualitatif 6b lebih baik dibanding dengan 4.a. Namun

jika dibandingkan dengan 6c, model kecepatan yang dihasilkan secara kualitatif lebih baik dibandingkan dengan kedua model awal. Hal tersebut disimpulkan dengan melihat keberadaan sebaran nilai kecepatan yang mampu menunjukkan apa yang dianggap sebagai lokasi struktur wedge out (elips merah), dan juga pola sebaran distribusi kecepatan yang semakin besar sejalan dengan bertambahnya kedalaman.

Gambar 5. Model kecepatan dengan menggunakan variasi nilai dari informasi kecepatan a priori. (a). Model kecepatan yang tidak menggunakan informasi kecepatan a priori, (b). Model kecepatan yang menggunakan kecepatan a priori yang terletak di dekat permukaan, (c). Model kecepatan merupakan data dengan menggunakan informasi kecepatan a priori pada setiap titik di dalam model sejumlah 45 titik Jika hanya melihat dari segi kualitatif, maka dapat disimpulkan bahwa model kecepatan dengan nilai parameter seperti pada model kecepatan 4.c merupakan model kecepatan yang paling baik. Namun hal tersebut perlu dibuktikan kembali dengan melakukan analisa kuantitatif. Gambar 6. merupakan model akhir yang terbaik dalam penelitian ini.

Gambar 6. Model akhir kecepatan seismik terbaik

Data Format Seismik Dari hasil eksplorasi internet yang kami lakukan, terdapat beberapa format file data seismic yang sudah menjadi standar industri eksplorasi migas, di antaranya adalah SEG-Y (.segy), Seismic Unix (.su), RSF File Format (.rsf), dan Data Dictionary System. Sampai saat ini penelitian telah menghasilkan source code berbahasa pemrogramman java untuk membaca dan memanipulasi format data segy dan format data su Perancangan User Interfaces Pada penelitian ini telah dilakukan studi literature tentang cara pembuatan Graphical User Interfaces yang baik, yaitu graphical user interface yang mempertimbangkan faktor ergonomi, faktor interaksi manusia dan mesin, efisiensi line of code, alur kerja software, dan kualitas respon user interface. Beberapa literatur yang dipergunakan dalam kegiatan studi literatur ini diantaranya The Essential Guide to User Interface Design: An Introduction to Gui Design Principles and Techniques Wilbert O. Galitz John Wiley & Sons 1996 ISBN-10 / ASIN: 0471157554 GUI Bloopers: Don'ts and Do's for Software Developers and Web Designers (Interactive Technologies) Jeff Johnson, Morgan Kaufmann, 2000 ISBN-10 / ASIN: 1558605827

Diagram di bawah ini menjelaskan alur kerja yang digunakan penelitian dalam mengembangkan user interfaces :

Penelitian ini hanya mentargetkan keluaran source code hanya sampai versi beta, karena pada dunia open source kondisi source code program yang stable hanya dapat dicapai apabila source code tersebut mampu diterima oleh komunitas pengguna program dan pengembangan source code itu sendiri dilakukan secara kontinu Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam evaluasi adalah faktor ergonomi, faktor interaksi manusia dan mesin, efisiensi line of code, alur kerja software, portabilitas, dan kualitas respon user interface. Sementara itu tim anggota yang melakukan evaluasi terdiri dari berbagai kalangan, diantaranya Geophysisicst, Dosen, Mahasiswa, Software Engineer, dan dari kalangan industri eksplorasi migas. Pengembangan konsep Platform Open Source Geophysics Telah dikemukakan sebelumnya bahwa software opensource yang dibuat haruslah mudah di adopsi oleh industri, dan mudah dipelajari dan dikembangkan oleh akademisi dan

mahasiswa. Maka software yang akan dikembangkan pada penelitian ini adalah softwaresoftware metoda seismic yang dikembangkan diatas platform pengolahan data seismic seperti SU, SEPLib. Gambar berikut menjelaskan arsitektur software open source yang akan dikembangkan.

Dengan menggunakan konsep seperti pada gambar diatas para peneliti dan pengembang software metoda seismic dapat dengan mudah mengembangkan programmnya melalui IDE (Integerated Development Environtment) dan compiler yang diberikan. Di dalam IDE tersebut terdapat interfaces dengan Knowledge Base yang berisi tentang teori-teori dan metoda-metoda seismic. Melalui IDE tersebut peneliti dapat merekam pengetahuannya, bahkan tidak menutup kemungkinan pengguna industri juga dapat melakukannya. Dengan keberadaan user interfaces yang baik dan didukung dengan sistem pakar, maka software ini diharapkan sangat membantu pengguna industri dan akademisi dalam mempelajarinya. Kesimpulan 1. Kelebihan yang didapatkan dalam menggunakan open source seismik adalah cepatnya dalam beradaptasi memahami permasalahan karena dalam tahap pengerjaannya kita dapat berkomunikasi langsung dengan pencipta dan programer yang pertama kali mengembangkan secara terbuka. 2. Terjalinnya komunikasi aktif dengan peneliti kelas dunia dari berbagai negara dan terjalinnya networking yang kuat antara para peneliti. 3. Terbangunnya keterbukaan antara para peneliti sehingga pula dihasilkannya percepatan pengembangan penelitian. 4. Dengan penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai tahap awal mengurangi ketergantungan lingkungan akademisi dan industri terhadap perangkat lunak yang tertutup yang diciptakan oleh pihak asing. 5. Penghematan biaya yang sebelumnya digunakan untuk membayar lisensi dapat digunakan untuk menambah dan mengembangkan sumber daya manusia. Mengingat masih adanya keterbatasan di Indonesia dalam komunikasi dengan opensource

maka diperlukan beberapa hal sebagai berikut : 1. Perlu memasyarakatkan open source di kalangan akademisi, peneliti dan mahasiswa. 2. Perlu dan dapat dikembangkan open source di kalangan akademisi, peneliti dan mahasiswa. 3. Perlu pengembangan open source untuk pengajaran dan praktikum mahasiswa Daftar Pustaka Berryman, J.G., 1991, Lecture Notes on Nonlinear Inversion and Tomography; LLNL, Livermore, CA. Cao, S., and Greenhalgh, S. 1994. Finite-Difference Solution of Eikonal Equation using an Efficient, First Arrival, Wavefront Tracking Scheme; Geophysics, 59 4,632-643 Cerveny, V and Soares, J.E.P., 1992. Fresnel Volume Ray-Tracing; Geophysics, 57,7,902-912 Ettrich, N., 1998, FD. Eikonal Solver for 3-D Anisotropic Media; SEG Expanded Abstracts Hcht, G.,1998. The Common Reflection Surface Stack. Masters thesis, Universitt Karlsruhe. Hcht, G., de Bazelaire, E., Majer, P., and Hubral, P. ,1999, Seismics and optics: hyperbolae and curvatures. J. Appl. Geoph., 42(3,4):261281. Hubral, P., Hcht, G., and Jger, R. ,1999, Seismic illumination. The Leading Edge, 18(11):12681271. Jger, R. 1999, The Common Reflection Surface Stack - Theory and Application. Masters thesis, Universitt Karlsruhe. Jger, R., Mann, J., Hcht, G., and Hubral, P. ,2001, Common-reflection-surface stack: Image and attributes. Geophysics, 66(1):97109. Mann, J. (2002). Extensions and applications of the Common-Reflection-Surface Stack method. Logos Verlag, Berlin. Mann, J., Hcht, G., Jager, R., and Hubral, P. ,1999, Common Reflection Surface Stack an attribute analysis. 61st Mtg. Eur. Assn. Geosci. Eng., Extended Abstracts. Session P140. Mann, J., Jger, R., Muller, T., Hocht, G., and Hubral, P. ,1999, Commonreflectionsurface stack a real data example. J. Appl. Geoph., 42(3,4):301318. Mller, T. (1999). The common reflection surface stack seismic imaging without explicit knowledge of the velocity model. Der Andere Verlag, Bad Iburg. Sage,S., Grandjean, G., JaTS: A Fully Portable Seismic Tomography Software Based on Fresnel Wavepath and Probabilistic Reconstruction Approach; No Published Sanny, T.A., and Sassa, K., 1996, Improvement of Simultaneous Iterative Reconstruction

Technique and Its Initial Model for Seismic Tomography Inversion; HAGI/SEG/ASEG/EAGE International Geophysical Conference and Exposition Vasco, D.W., Peterson, J.E., Jr. and Majer, E.L., 1995, Beyond Ray Tomography; Wave Path and Fresnel Volumes; Geophysics, 60, 1790-1804 Vidale, J.E., 1990, Finite-Difference Calculation of Traveltimes in Three Dimension; Geophysics, 55, 521-526 Vidale, J.E., 1988, Finite-Difference Calculation of Traveltimes; Bull. Seis. Soc. Am., 78, 20622076 Yang, W., 2003. A Basical Study on Two-point Seismic Ray Tracing, www.ees.nmt.edu/Geop/Classes/GEOP523/Docs/yang.pdf Zhao, P., 1996. An Efficient Computer Program For Wavefront Calculation by the FiniteDifference Method; Computers and Geosciences, 22,3,293-251. http://www.cwp.mines.edu/cwpcodes/ http://sepwww.stanford.edu/software/seplib/