Anda di halaman 1dari 14

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN STROKE

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kecenderungan pola penyakit neurologi terutama gangguan susunan saraf pusat tampaknya mengalami peningkatan penyakit akibat gangguan pembuluh darah otak, akibat kecelakaan serta karena proses degenerative system saraf tampaknya sedang merambah naik di Indonesia. Walaupun belum didapat data secara konkrit mengenai hal ini namun dari pengalaman terlihat sangat mencolok adanya perubahan ini. Kemungkinan yang menjadi faktor penyebab munculnya masalah ini adalah adanya perkembangan ekonomi dan perubahan gaya hidup terutama msayarakat perkotaan. Kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup terlihat semakin mudah sehingga meningkatkan hasratmereka untuk terus berjuang mencapai tujuan dengan penuh persaingan dalam perjuangan tersebut, mereka mendapatkan benturan-benturan fisik maupun psikologis akibatnya mereka tidak lagi memikirkan efek bagi kesehatan jangka panjang. Usia harapan hidup di Indonesia sekarang kian meningkat sehingga semakin banyak terdapat lansia. Dengan bertambahnya usia maka permasalahan kesehatan yang terjadi akan semakin kompleks. Salah satu penyakit yang sering dialami oleh lansia adalah stroke. Usia merupakan factor resiko yang paling penting bagi semua jenis stroke. Insiden stroke meningkat secara eksponensial dengan bertambahnya usia dan 1,25 kali lebih besar pada pria dibanding wanita. Sementara itu di Rumah Sakit Angkatan Laut Tanjungpinang mulai bulan Januari sampai dengan Juni 2008, jumlah penderitanya adalah 43 orang. Sementara jumlah penderita stroke di paviliun nipah Rumah Sakit Angkatan Laut Midiyato S Tanjungpinang berjumlah 12 orang. Dalam menangani masalah klien dengan stroke diperlukan keikutsertaan perawat dalam mengatasi masalah yang dihadapi oleh klien. Adapun peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan meliputi pendidik tenaga masyarakat, koordinator dalam pelayanan pasien, kolaborator dalam membina kerjasama dengan profesi lain, konsultan atau penasehat pada tenaga kerja dan klien, serta pembaharu sistem, metodologi dan sikap. Berdasarkan kasus diatas maka penulis tertarik untuk membahas tentang perawatan klien dengan stroke sebagai bahan karya tulis ilmiah dengan judul Asuhan Keperawatan Pada Klien Tn. J Dengan Diagnosa Medis stroke. Berdasarkan kasus di atas maka penulis tertarik untuk membahas tentang perawatan klien dengan stroke sebagai bahan Karya Tulis Ilmiah,dengan judul Asuhan keperawatan

pada klien S dengan stroke di ruangan Paviliun nipah Rumah Sakit Dr. Midiyato S Tanjungpinang. 2.1 Tujuan 1. Tujuan Umum Untuk memperoleh pengalaman secara nyata dalam merawat pasien stroke dengan penerapan pelaksanaan asuhan keperawatan secara langsung pada klien dengan kasus stroke. 2. Tujuan Khusus a. Mampu melakukukan pengkajian pada klien stroke. b. Mampu menganalisa data, menentukan diagnosa keperawatan serta memprioritaskan masalah. c. Mampu menyususun reana tindakan keperawatan yang nyata sesuai dengan masalah dan kebutuhan klien stroke. d. Mampu menerapkan rencana tindakan keperawatan yang nyata sesuai dengan masalah dan kebutuhan klien dengan kasus stroke. e. Mampu melaksanakan evaluasi dari tindakan keperawatan yang dilakukan terhadap klien dengan stroke. f. Mampu mengidentifikasi faktor-faktor kesenjangan yang terdapat pada teori dan kasus. g. Mampu mengidentifikasi factor-faktor pendukung, penghambat serta mencari solusinya. h. Mempu mendokumentasikan semua kegiatan keperawatan dalam bentuk narasi. 3.1 Sistematika Penulisan Adapun sistematika penulisan karya tulis ilmiah ini terdiri dari 5 bab, yaitu : BAB I : PENDAHULUAN Bab ini terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, lingkup, metode penulisan dan sistematika penulisan. BAB II : TINJAUAN TEORITIS Dalam bab ini terdiri dari sub Bab yaitu :

ruang

a. Konsep Dasar penyakit Konsep dasar penyakit stroke terdiri dari pengertian penyakit, anatomi dan fisiologi, Vektor penyakit stroke, patofisiologi, etiologi, manifestasi, klinis, pemeriksaan diagnostik, komplikasi, pengobatan dan pencegahan b. Konsep Dasar Keperawatan Konsep dasar keperawatan terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi.

BAB III : TINJAUAN KASUS Bab ini merupakan uraian dari hasil penerapan Asuhan Keperawatan Komprenhensif pada kasus stroke yang meliputi 5 langkah yaitu : pengkajian (format pengkajian dan CP 1A dan CP 1B), diagnosa keperawatan (CP 2), perencanaan (CP 3), pelaksanaan (CP 4) dan evaluasi (CP 5). BAB IV : PEMBAHASAN Pada bab ini berisikan perbandingan antara teori dengan kenyataan yang ada dilapangan selama penulis melakukan asuhan keperawatan dan disesuaikan dengan tujuan pada bab I. BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1 Konsep Dasar Medik 2.1.1 Pengertian Stroke adalah suatu penyakit gangguan fungsi anatomi otak yang terjadi secara tiba-tiba dan cepat, disebabkan karena gangguan perdarahan otak. Stroke atau Cerebro Vasculer Accident (CVA) adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak ( Brunner dan Suddarth, 2002 : hal. 2131 ). Stroke adalah cedera otak yang berkaitan dengan obstruksi aliran darah otak ( Elizabeth J. Corwin, 2001 : hal. 181 ). Stroke terdiri dari 2 jenis yaitu : Stroke adalah sindrom yang awal timbulnya mendadak, progresif cepat, berupa deficit neurologis fokal atau global yang langsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian, dan semata-mata disebabkan oleh gangguan peredaran otak non traumatic (Mansjoer 2000: 17). Stroke adalah gangguan neurologik fokal yang dapat timbul sekunder dari proses patologis pada pembuluh darah serebral, misal: Trombosis, embolis, ruptura dinding pembuluh atau penyakit vaskuler dasar (Prince, 1995 : 964). Menurut WHO stroke adalah manifestasi klinik dari gangguan fungsi serebral, baik fokal maupun menyeluruh yang berlangsung dengan cepat. Berlangsung lebih dari 24 jam atau berakhir dengan maut tanpa ditemukannya penyebab selain daripada gangguan vaskuler. Persoalan pokok pada stroke adalah gangguan peredaran darah pada daerah otak tertentu (Mardjono, 2000: 54) yang menyatakan bahwa stroke adalah gangguan darah di pembuluh arteri yang menuju ke otak.

2.1.2 Patofisiologi a. Stroke Hemoragic Perdarahan serebri termasuk urutan ketiga dari semua penyebab utama kasus gangguan pembuluh darah otak. Perdarahan serebral dapat terjadi di luar duramater (hemoragi ekstradural atau epidural), dibawah duramater, (hemoragi subdural), diruang subarachnoid (hemoragi subarachnoid) atau di dalam substansi otak (hemoragi intraserebral). Hemoragi ekstradural (epidural) adalah kedaruratan bedah neuro yang memerlukan perawatan segera. Ini biasanya mengikuti fraktur tengkorak dengan robekan arteri dengan arteri meningea lain. Hemoragi subdural (termasuk hemoragi subdural akut) pada dasarnya sama dengan hemoragi epidural, kecuali bahwa hematoma subdural biasanya jembatan vena robek. Karenanya, periode pembentukan hematoma lebih lama ( intervensi jelas lebih lama) dan menyebabkan tekanan pada otak. Beberapa pasien mungkin mengalami hemoragi subdural kronik tanpa menunjukkan tanda dan gejala. Hemoragi subarachnoid dapat terjadi sebagai akibat trauma atau hipertensi, tetapi penyebab paling sering adalah kebocoran aneurisma pada area sirkulus wilisi dan malformasi arteri-vena kongenital pada otak. Arteri di dalam otak dapat menjadi tempat aneurisma. Hemoragi intraserebral paling umum pada pasien dengan hipertensi dan aterosklerosis serebral, karena perubahan degeneratif karena penyakit ini biasanya menyebabkan ruptur pembuluh darah. pada orang yang lebih muda dari 40 tahun, hemoragi intraserebral biasanya disebabkan oleh malformasi arteri-vena, hemangioblastoma dan trauma, juga disebabkan oleh tipe patologi arteri tertentu, adanya tumor otak dan penggunaan medikasi (antikoagulan oral, amfetamin dan berbagai obat aditif). Perdarahan biasanya arterial dan terjadi terutama sekitar basal ganglia. Biasanya awitan tiba-tiba dengan sakit kepala berat. Bila hemoragi membesar, makin jelas defisit neurologik yang terjadi dalam bentuk penurunan kesadaran dan abnormalitas pada tanda vital. Pasien dengan perdarahan luas dan hemoragi mengalami penurunan kesadaran dan abnormalitas pada tanda vital. b. Stroke Non Hemoragic Terbagi atas 2 yaitu : 1) Pada stroke trombotik, oklusi disebabkan karena adanya penyumbatan lumen pembuluh darah otak karena thrombus yang makin lama makin menebal, sehingga aliran darah menjadi tidak lancar. Penurunan aliran arah ini menyebabkan iskemik yang akan berlanjut menjadi infark. Dalam waktu 72 jam daerah tersebut akan mengalami edema dan lama kelamaan akan terjadi nekrosis. Lokasi yang tersering pada stroke trombosis adalah di percabangan arteri carotis besar dan arteri

vertebra yang berhubungan dengan arteri basiler. Onset stroke trombotik biasanya berjalan lambat. 2) Sedangkan stroke emboli terjadi karena adanya emboli yang lepas dari bagian tubuh lain sampai ke arteri carotis, emboli tersebut terjebak di pembuluh darah otak yang lebih kecil dan biasanya pada daerah percabangan lumen yang menyempit, yaitu arteri carotis di bagian tengah atau Middle Carotid Artery ( MCA ). Dengan adanya sumbatan oleh emboli akan menyebabkan iskemik. 2.1.4 Etiologi Stroke non haemoragi merupakan penyakit yang mendominasi kelompok usia menengah dan dewasa tua karena adanya penyempitan atau sumbatan vaskuler otak yang berkaitan erat dengan kejadian. a. Trombosis Serebri Merupakan penyebab stroke yang paling sering ditemui yaitu pada 40% dari semua kasus stroke yang telah dibuktikan oleh ahli patologis. Biasanya berkaitan erat dengan kerusakan fokal dinding pembuluh darah akibat anterosklerosis. b. Embolisme Kebanyakan emboli serebri berasal dari suatu flowess dalam jantung sehingga masalah yang dihadapi sesungguhnya merupakan perwujudan dari penyakit jantung. Sedangkan menurut prince (1995 : 966) mengatakan bahwa stroke haemoragi disebabkan oleh perdarahan serebri. Perdarahan intracranial biasanya disebabkan oleh ruptura arteria serebri. Ekstravasali darah terjadi dari daerah otak dan atau subaracnoid, sehingga jaringan yang terletak di dekatnya akan tergeser. Perdarahan ini dibedakan berdasarkan tempat terjadinya perdarahan. Menurut Harsono ini dibedakan berdasarkan tempat terjadinya perdarahan antara lain: Perdarahan Sub Arachnoid (PSA) Kira-kira harus perdarahan sub arachnoid disebabkan oleh pecahnya seneusisma 5-6% akibat malformasi dari arteriovenosus. c. Perdarahan Intra Serebral (PIS). d. Penyebab yang paling sering adalah hipertensi, dimana tekanan diastolic pecah. Harsono (1999 : 60) membagi factor risiko yang dapat ditemui pada klien dengan Stroke yaitu: Faktor risiko utama yaitu : a. Hipertensi Hipertensi dapat mengakibatkan pecahnya maupun menyempitnya pembuluh darah otak. Apabila pembuluh darah otak menyempit maka aliran darah ke otak akan terganggu dan sel-sel otak akan mengalami kematian. b. Diabetes Mellitus Debetes mellitus mampu ,menebalkan dinding pembuluh darah otak yang berukuran

besar. Menebalnya pembuluh darah otak akan menyempitkan diameter pembuluh darah yang akan mengganggu kelancaran aliran darah ke otak, pada akhirnya akan menyebabkan kematian sel- sel otak. c. Penyakit Jantung Beberapa Penyakit Jantung berpotensi menimbulkan stroke. Dikemudian hari seperti Penyakit jantung reumatik, Penyakit jantung koroner dengan infark obat jantung dan gangguan irama denyut jantung. Faktor resiko ini pada umumnya akan menimbulkan hambatan atau sumbatan aliran darah ke otak karena jantung melepaskan sel- sel / jaringan- jaringan yang telah mati ke aliran darah. d. Transient Ischemic Attack (TIA) TIA dapat terjadi beberapa kali dalan 24 jam/ terjadi berkali- kali dalam seminggu. Makin sering seseorang mengalami TIA maka kemungkinan untuk mengalami stroke semakin besar. Faktor Resiko Tambahan 1) Kadar lemak darah yang tinggi termasuk Kolesterol dan Trigliserida. Meningginya kadar kolesterol merupakan factor penting untuk terjadinya arteriosklerosis atau menebalnya dinding pembuluh darah yang diikuti penurunan elastisitas pembuluh darah. 2) Kegemukan atau obesitas 3) Merokok Merokok dapat meningkatkan konsentrasi fibrinogen yang akan mempermudah terjadinya penebalan dinding pembuluh darah dan peningkatan kekentalan darah. 4) Riwayat keluarga dengan stroke 5) Lanjut usia 6) Penyakit darah tertentu seperti polisitemia dan leukemia. Polisitemia dapat menghambat kelancaran aliran darah ke otak. Sementara leukemia/ kanker darah dapat menyebabkan terjadinya pendarahan otak. 7) Kadar asam urat darah tinggi 8) Penyakit paru- paru menahun. 2.1.6 Manifestasi Klinis Stroke ini menyebabkan berbagai defisit neurologik, bergantung pada lokasi lesi (pembuluh darah mana yang tersumbat), ukuran area yang perfusinya tidak adekuat, dan jumlah aliran darah kolateral (sekunder atau aksesori) a. Kehilangan motorik : hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi) karena lesi pada sesi otak yang berlawanan, hemiparesis atau kelemahan salah satu sisi tubuh.

b. Kehilangan komunikasi : disartria (kesulitan bicara), disfasia atau afasia (bicara defektif atau kehilangan bicara), apraksia (ketidakmampuan untuk melakukan tindakan yang dipelajari sebelumnya) c. Gangguan persepsi: disfungsi persepsi visual, gangguan hubungan visual-spasial, kehilangan sensori d. Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologis e. Disfungsi kandung kemih Gejala - gejala CVA muncul akibat daerah tertentu tidak berfungsi yang disebabkan oleh terganggunya aliran darah ke tempat tersebut. Gejala itu muncul bervariasi, bergantung bagian otak yang terganggu. Gejala-gejala itu antara lain bersifat: a. Sementara Timbul hanya sebentar selama beberapa menit sampai beberapa jam dan hilang sendiri dengan atau tanpa pengobatan. Hal ini disebut Transient ischemic attack (TIA). Serangan bisa muncul lagi dalam wujud sama, memperberat atau malah menetap. b. Sementara,namun lebih dari 24 jam Gejala timbul lebih dari 24 jam dan ini dissebut reversible ischemic neurologic defisit (RIND) c. Gejala makin lama makin berat (progresif). Hal ini desebabkan gangguan aliran darah makin lama makin berat yang disebut progressing stroke atau stroke inevolution. d. Sudah menetap/permanent. 3.1.6 Komplikasi Komplikasi utama pada stroke yaitu : a. Hipoksia Serebral b. Penurunan darah serebral c. Luasnya area cedera 2.1.7 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa stroke antara lain adalah: a. Angiografi Arteriografi dilakukan untuk memperlihatkan penyebab dan letak gangguan. Suatu kateter dimasukkan dengan tuntunan fluoroskopi dari arteria femoralis di daerah inguinal menuju arterial, yang sesuai kemudian zat warna disuntikkan. b. CT-Scan CT-scan dapat menunjukkan adanya hematoma, infark dan perdarahan.

c. EEG (Elektro Encephalogram) Dapat menunjukkan lokasi perdarahan, gelombang delta lebih lambat di daerah yang mengalami gangguan. d. Pungsi Lumbal Menunjukan adanya tekanan normal, tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukan adanya perdarahan. e. MRI : Menunjukan daerah yang mengalami infark, hemoragik. f. Ultrasonografi Dopler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena g. Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal (Doenges E, Marilynn,2000 hal 292). 2.1.9 Klasifikasi Menurut Lumbantobing (1994 : 5) kelainan yang terjadi akibat gangguan peredaran darah. Stroke dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu: a. Infark Ischemik (Stroke non Hemoragi). Hal ini terjadi karena adanya penyumbatan pembuluh darah otak. Infark iskemic terbagi menjadi dua yaitu : stroke trombotik, yang disebabkan oleh thrombus dan stroke embolik, yang disebabkan oleh embolus. Membagi stroke non haemoragi berdasarkan bentuk klinisnya antara lain : 1) Serangan Iskemia sepintas atau transient ischemic Attack (TIA). Pada bentuk ini gejala neurologik yang timbul akibat gangguan peredaran darah di otak akan menghilang dalam waktu 24 jam. 2) Defisit Neurologik Iskemia Sepintas/ Reversible Ischemic Neurologik Defisit (RIND). Gejala neurologik timbul 24 jam, tidak lebih dari seminggu. 3) Stroke Progresif (Progresive Stroke/ Stroke in evolution). Gejala makin berkembang ke otak lebih berat. 4) Completed Stroke Kelainan saraf yang sifatnya sudah menetap, tidak berkembang lagi. b. Perdarahan (Stroke Hemoragi). Terjadi pecahnya pembuluh darah otak. 2.1.9 Penatalaksanaan a. Perawatan umum stroke Penatalaksanaan awal selama fase akut dan mempertahankan fungsi tubuh. Mengenai penatalaksanaan umum stroke, konsensus nasional pengelolaan stroke di Indonesia, 1999, mengemukakan hal-hal berikut 1) Bebaskan jalan nafas dan usahakan ventilasi adekuat, bila perlu berikan oksigen 02 L/menit sampai ada hasil gas darah. 2) Kandung kemih yang penuh dikosongkan, sebaiknya dengan kateterisasi intermiten.

3) Penatalaksanaan tekanan darah dilakukan secara khusus. Asia Pacific Consensus on Stroke Manajement, 1997, mengemukakan bahwa peningkatan tekanan darah yang sedang tidak boleh diobati pada fase akut stroke iskemik. Konsensus nasional pengelolaan stroke di Indonesia, 1999, mengemukakan bahwa tekanan darah diturunkan pada stroke iskemik akut bila terdapat salah satu hal berikut : (a) Tekanan sistolik > 220 mmHg pada dua kali pengukuran selang 30 menit. (b) Tekanan diastolik > 120 mmHg pada dua kali pengukuran selang 30 menit. (c) Tekanan darah arterial rata-rata > 130-140 mmHg pada dua kali pengukuran selang 30 menit. (d) Disertai infark miokard akut/ gagal jantung atau ginjal akut. Pada umumnya peningkatan tekanan darah pada fase akut stroke diakibatkan oleh stress dari pada stroke, jawaban fisiologis dari otak terhadap keadaan hipoksia, tekanan intrakranial yang tinggi, kandung kencing yang penuh, rasa nyeri. Tekanan darah dapat berkurang bila penderita dipindahkan ke tempat yang tenang, kandung kemih dikosongkan, rasa nyeri dihilangkan, dan bila penderita dibiarkan beristirahat. Hiperglikemia atau hipoglikemia harus dikoreksi. Keadaan hiperglikemia dapat dijumpai pada fase akut stroke, disebabkan oleh stres dan peningkatan kadar katekholamin di dalam serum. Dari percobaan pada hewan dan pengalaman klinik diketahui bahwa kadar glukosa darah yang meningkat memperbesar ukuran infark. Oleh karena itu, kadar glukosa yang melebihi 200 mg/ dl harus diturunkan dengan pemberian suntikan subkutan insulin. Konsensus nasional pengelolaan stroke di Indonesia mengemukakan bahwa hiperglikemia ( >250 mg% ) harus dikoreksi sampai batas gula darah sewaktu sekitar 150 mg% dengan insulin intravena secara drips kontinyu selama 2-3 hari pertama. Hipoglikemia harus diatasi segera dengan memberikan dekstrose 40% intravena sampai normal dan diobati penyebabnya. Suhu tubuh harus dipertahankan normal. Suhu yang meningkat harus dicegah, misalnya dengan obat antipiretik atau kompres. Pada penderita iskemik otak, penurunan suhu sedikit saja, misalnya 2-3 derajat celsius, sampai tingkat 33C atau 34 C memberi perlindungan pada otak. Selain itu, pembentukan oxygen free radicals dapat meningkat pada keadaan hipertermia. Hipotermia ringan sampai sedang mempunyai efek baik, selama kurun waktu 2-3 jam sejak stroke terjadi, dengan memperlebar jendela kesempatan untuk pemberian obat terapeutik. Nutrisi peroral hanya boleh diberikan setelah hasil tes fungsi menelan baik,

bila terdapat gangguan menelan atau penderita dengan kesadaran menurun, dianjurkan melalui pipa nasogastrik. Keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan. Pemberian cairan intravena berupa cairan kristaloid atau koloid, hindari yang mengandung glukosa murni atau hipotonik. Bila ada dugaan trombosis vena dalam, diberikan heparin dosis rendah subkutan, bila tidak ada kontra indikasi. Terapi farmakologi yang dapat diberikan pada pasien stroke : 1) Antikoagulasi dapat diberikan pada stroke non haemoragic, diberikan sdalam 24 jam sejak serangan gejala-gejala dan diberikan secara intravena. 2) Obat antipletelet, obat ini untuk mengurangi pelekatan platelet. Obat ini kontraindikasi pada stroke haemorhagic. 3) Bloker kalsium untuk mengobati vasospasme serebral, obat ini merilekskan otot polos pembuluh darah. 4) Trental dapat digunakan untuk meningkatkan aliran darah kapiler mikrosirkulasi, sehingga meningkatkan perfusi dan oksigenasi ke jaringan otak yang mengalami iskemik. 5) Kebutuhan psikososial Gangguan emosional, terutama ansietas, frustasi dan depresi merupakan masalah umum yang dijumpai pada penderita pasca stroke. Korban stroke dapat memperlihatkan masalah-masalah emosional dan perilakunya mungkin berbeda dari keadaan sebelum mengalami stroke. Emosinya dapat labil, misalnya pasien mungkin akan menangis namun pada saat berikutnya tertawa, tanpa sebab yang jelas. Untuk itu, peran perawat adalah untuk memberikan pemahaman kepada keluarga tentang perubahan tersebut. Hal-hal yang bisa dilakukan perawat antara lain memodifikasi perilaku pasien seperti seperti mengendalikan simulasi di lingkungan, memberikan waktu istirahat sepanjang siang hari untuk mencegah pasien dari kelelahan yang berlebihan, memberikan umpan balik positif untuk perilaku yang dapat diterima atau perilaku yang positif, serta memberikan pengulangan ketika pasien sedang berusaha untuk belajar kembali satu ketrampilan. b. Rehabilitasi selama di rumah sakit Rehabilitasi di rumah sakit memerlukan pengkajian yang sistematik dan evaluassi dari defisit dan perbaikan fungsi pasien. Fokus perawatan adalah langsung membantu pasien belajar kembali kehilangan keterampilan yang dapat membentu kembali kemungkinan kemandirian pasien. Pada fase ini pasien dimonitor secara hati-hati

untuk mencegah berkembangnya komplikasi yang lebih lanjut. Adapun intervensi yang dapat kita lakukan adalah sebagai berikut : 1) Anjurkan pasien untuk mengerjakan sendiri personal Hygiene semampunya. 2) Ajarkan aktivitas kehidupan sehari-hari dengan menghargai cara pasien mengkompensasi ketidakmampuan pasien. 3) Anjurkan pasien untuk latihan di tempat tidur. 4) Berikan spesial perawatan kulit. 5) Berikan privacy dengan menggunakan penutup jika ia belajar keahlian baru seperti belajar makan sendiri. 6) Berikan support emosional. 7) Berikan empati pada perasaan klien.anjurkan keluarga untuk berpartisipasi. c. Perencanaan pasien pulang. Untuk mencegah kembalinya klien ke rumah sakit, diperlikan suatu program untuk membimbing klien dan keluarga yang tercakup dalam perencanaan pulang. Perencanaan pulang dilakukan segera setelah klien masuk rumah sakit, yang dilakukan oleh semua anggota tim kesehatan. Perencanaan pulang yang baik adalah perencanaan pulang yang tersentralisasi, terorganisir, dan melibatkan berbagai anggota tim kesehatan. Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan melalui asuhan keperawatan mutlak harus mengikuti dan berperan aktif dalam mementukan rencana pemulangan klien, sehingga klien mendapatkan pelayanan yang holistik dan komprehensif. d. Tujuan perencanaan pulang : 1) Mempersiapkan klien untk menyesuaikan diri dengan rumah dan masyarakat. 2) Agar klien dan keluarga mempunyai pengetahuan dan ketrampilan serta sikap dalam memperbaiki dan mempertahankan status kesehatannya. 3) Agar klien dan keluarga dapat menerima keadaan diri klien jika terdapat gejala sisa ( cacat ). 4) Membantu merujuk klien ke pelayanan kesehatan lain. Mengingat banyaknya informasi dan pendidikan yang harus diterima oleh klien selama perawatan maupun dalam persiapan untuk pulang, maka prinsip belajar mengajar juga harus diperhatikan dalam proses rencana pemulangan. Informasi untuk klien dan keluarga : (a) Gunakan bahasa yang sederhana, jelas dan ringkas. (b) Jelaskan langkah-langkah dalam melaksanakan perawatan. (c) Perkuat penjelasan lisan dengan instruksi tertulis, jika klien bisa membaca.

(d) Motivasi klien mengikuti langkah-langkah tersebut selama perawatan dan pengobatan. (e) Kenali tanda-tanda dan gejala komplikasi yabg harus dilaporkan kepada tim kesehatan. (f) Anjurkan keluarga untuk berpartisipasi aktif dalam pengawasan dan perawatan klien. (g) Berikan keluarga nomor penting yang dapat dihubungi bila klien perlu pertolongan medis. 2.2 Konsep Dasar Keperawatan Untuk mendapatkan asuhan keperawatan pada klien stroke digunakan suatu pendekatan yang sistematis menggunakan proses keperawatan, dengan menggunakan pendekatan ini diharapkan dapat mengindentifikasi masalah klien serta cara pencegahan yang dilakukan dalam rangka pencegahan penyembuhan, peningkatan kesehatan dan rehabilitasi, adapun tahap-tahap proses keperawatan meliputi: pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Proses keperawatan ini merupakan pedoman untuk melaksanakan asuhan keperawatan diruangan dengan uraian masing-masing sebagai berikut : 2.2.1 Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan yang dilakukan secara sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya, sehingga dapat mengindentifikasi masalah-masalah keperawatan yang dialami pasien dengan tahap pengkajian ini data dikumpulkan selengkap mungkin yang diperoleh dari pasien langsung maupun keluarganya serta catatan keperawatan, catatan medis dan sumber lainnya : a. Data demografi 1. Indentitas pasien, terdiri dari : nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, agama suku/bangsa alamat, tanggal masuk dan diagnosa medis. 2. Identitas penanggungjawab, terdiri dari nama, umur, pekerjaan, alamat, agama, pendidikan. b. Riwayat kesehatan 1. Riwayat kesehatan sekarang (a) Alasan pasien masuk rumah sakit (b) keluhan utama (c) Lama keluhan (d) Akibat timbulnya penyakit (e) Upaya untuk mengatasinya 2. Riwayat kesehatan sebelumnya

(a) Penyakit yang pernah diderita (b) Adanya alergi terhadap makanan dan obat-obatan (c) Riwayat pernah dirawat dirumah sakit 3 .Riwayat Kesehatan keluarga a. Komposisi keluarga b. Lingkungan rumah dan komunitas c. Kultur dan kepercayaan d. Fungsi dan hubungan keluarga perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan e. Persepsi keluarga tentang penyakit pasien f. Apakah ada anggota keluarga lain yang mengidap penyakit menular c. Kebiasaan sehari hari Kebiasaan sehari-hari sebelum dan selama sakit. 1. Pemenuhan nutrisi Hal yang perlu dikaji yaitu frekwensi makan, jenis makanan, makanan pantangan, alergi makanan dan nafsu makan pasien 2. Pemenuhan cairan Hal yang perlu dikajinyaitu frekwensi minum, jenis minuman yang disukai dan tidak disukai, jumlah cairan yang masuk kedalam tubuh. 3. Pola aktifitas Hal yang perlu dikaji yaitu kegiatan sehari-hari, kebiadaan bekerja klien 4. Pola tidur Pengkajian terhadap pola tidur meliputi tidur siang dan malam, masalah waktu tidur dan kebiasaan menjelang tidur 5. Pola kebiasaan diri Pengkajian terhadap kebiasaan diri meliputi frekwensi mandi, menggosok gigi, menggunting kuku dan berpakaian 6. Pola eliminasi Pengkajian terhadap pola eliminasi meliputi kebiasaan buang air besar, frekwensi, warna, bau, konsistensi, apakah terdapat darah dan lendir serta terdapat eliminasi. d. Pengkajian fisik 1. Keadaan umum Pengkajian terhadap tingkat kesadaran pasien, vital sign (tanda-tanda vital) tinggi badan dan berat badan 2. Keadaan fisik Pengkajian dengan head to toe atau persistem dimulai dari kepala, mata,

hidung, telinga, mulut dan faring. Kemudian leher, dada abdomen, genetalia, moskuloskeletal, ekstermitas neorologi dan integument. 2.2.2 Diagnosa Keperawatan 2.2.2.1 Resiko bersihan jalan napas tidak efektif b.d akumulasi skret sekunder adanya kelemahan neuromuskuler. 2.2.2.2 Gangguan perfusi jaringan cerebral b.d adanyan oklusi/perdarahan daerah serebral. 2.2.2.3 Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit: kurang dari yang dibutuhkan berhubungan dnegan.intake yang tidak adequate. 2.2.2.4 Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan Intke in adekuat