Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS

KATARAK SENILIS IMATUR

Disusun oleh :

Tantri Agusleani (1110221105) Fajar Ayu (1210221039)

Diajukan kepada :

dr. Achmad C. Siregar, Sp.M


SMF ILMU PENYAKIT MATA FAKULTAS KEDOKTERAN UPN VETERAN JAKARTA RSUP PERSAHABATAN PERIODE 1 JULI 2013 3 AGUSTUS 2013

LEMBAR PENGESAHAN
1

LAPORAN KASUS

KATARAK SENILIS IMATUR

Diajukan untuk memenuhi syarat Ujian Kepaniteraan Klinik di bagian Ilmu Penyakit Mata RSUP Persahabatan

Telah disetujui dan dipresentasikan pada tanggal: Juli 2013

Disusun oleh : Tantri Agusleani Fajar Ayu (1110221105) (1210221039)

Mengetahui Dokter Pembimbing,

dr. Achmad C. Siregar, Sp.M

KATA PENGANTAR
2

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas karuniaNyalah, penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul Katarak Senilis Imatur dengan baik. Penulisan laporan kasus ini merupakan salah satu syarat mengikuti ujian Program Pendidikan Profesi di bagian Ilmu Penyakit Mata RSUP Persahabatan. Penulis berharap laporan kasus ini dapat bermanfaat untuk kepentingan pelayanan kesehatan, pendidikan, penelitian dan dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya oleh berbagai pihak yang berkepentingan. Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ungkapan terima kasih kepada: 1. 2. Dr. Achmad C. Siregar, Sp.M selaku dokter pembimbing yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan laporan kasus ini Teman-teman serta semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan kasus ini Penulis sadar sepenuhnya bahwa dalam penyusunan laporan kasus ini masih banyak dijumpai kekurangan. Oleh karena itu, segala masukan yang bersifat membangun dari para penelaah sangat diharapkan demi proses penyempurnaan laporan kasus ini.

Jakarta,

Juli 2013

Penulis

DAFTAR ISI
3

HALAMAN JUDUL .. 1 HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ 2 KATA PENGANTAR .................................................................................... 3 DAFTAR ISI ................................................................................................... 4 BAB I. LAPORAN KASUS 6

1.1 Identitas ....................................................................................................

1.2 Anamnesa .................................................................................................. 6 1.3 Pemeriksaan fisik ....................................................................................... 7 1.4 Status oftalmologi....................................................................................... 7 1.5 Resume ....................................................................................................... 11 1.6 Diagnosis banding ....................................................................................... 12 1.7 Diagnosis kerja ............................................................................................ 12 1.8 Usulan pemeriksaan...................................................................................... 12 1.9 Usulan terapi ................................................................................................ 12 1.10 Prognosis ....................................................................................................12 BAB II. PEMBAHASAN ............................................................................... 13 BAB III. TINJAUAN PUSTAKA 3.1 Definisi ...................................................................................................... 15 3.2 Etiologi....................................................................................................... 15

3.3 Patofisiologi .............................................................................................. 15 3.4 Gejala Klinis............................................................................................... 16 3.5 Diagnosis ................................................................................................... 17 3.6 Diagnosis Banding..................................................................................... 18 3.7 Penatalaksanaan ...................................................................................... 3.8 Komplikasi............................................................................................... 3.9 Prognosis.................................................................................................. DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 18 20 21 22

BAB I LAPORAN KASUS


5

1.1 Identitas Pasien Nama Umur Alamat Jenis Kelamin Pekerjaan Pendidikan Agama Suku Bangsa No. RM 1.2 Anamnesa Keluhan Utama : Penglihatan kedua mata kabur Keluhan Tambahan : Pusing Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke poliklinik mata dengan keluhan penglihatan kedua mata kabur sejak 1 bulan yang lalu. Mata kanan pasien dirasa lebih kabur dibandingkan dengan mata kirinya. Kabur dirasa perlahan-lahan dan semakin lama semakin memberat hingga mengganggu aktivitas pasien. Pasien merasa lebih sulit melihat bendabenda yang terletak jauh dibandingkan dengan sebelumnya. Pasien juga mengeluh pandangan berbayang pada kedua mata serta seperti melihat kabut atau asap. Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Riwayat alergi, trauma, penggunaan kaca mata dan penyakit sistemik seperti hipertensi dan diabetes mellitus disangkal oleh pasien. Riwayat Penyakit Keluarga : Keluarga pasien tidak ada yang mengalami keluhan serupa. : Islam : Jawa : 494691 : Ny. Sumiyati binti Sarijo : 55 tahun :Jl. Kemuning II No.21 RT 010 RW 002 Kelurahan Pulogadung Kecamatan Pulogadung Jakarta Timur : Perempuan : Ibu rumah tangga : SMP

Riwayat Sosial : Pasien sehari-harinya merupakan seorang ibu rumah tangga. Pendidikan terakhir pasien adalah Sekolah Menengah Pertama. Riwayat Kebiasaan : Pasien mengaku sering mengkonsumsi jamu dua kali sehari sejak usia muda.

1.3 Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum Kesadaran Tekanan darah : Tampak sakit ringan : Compos mentis : 100/70 mmHg

1.4 Pemeriksaan Fisik Khusus / Status Oftalmologi Okuli Dekstra (OD) Kedudukan bola mata Gerak bola mata Supra cilia Madarosis Sikatriks Palpebra superior Edema Hiperemi Enteropion Ekteropion Benjolan Palpebra inferior Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ortho Baik ke segala arah Okuli Sinistra Ortho Baik ke segala arah

Edema Hiperemi Enteropion Ekteropion Benjolan Konjungtiva palpebra superior Sekret mata Hiperemi Folikel Papil Sikatriks Benjolan Lain-lain Konjungtiva palpebra inferior Sekret mata Hipermi Folikel Papil Sikatriks Benjolan Konjungtiva bulbi

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Kemosis Hiperemi Konjungtiva Silier

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Perdarahan di bawah konjungtiva Pterigium Pingueculae Kornea Sikatriks Infiltrat Ulkus Keratik presifitat Bilik Mata Depan Kedalaman Hifema Hipopion Iris Pupil Bentuk Letak Warna

Tidak ada Tidak ada

Tidak ada Tidak ada

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Dangkal Tidak ada Tidak ada

Dangkal Tidak ada Tidak ada

Bulat, reguler Ditengah Cokelat kehitaman

Bulat, reguler Ditengah Cokelat kehitaman


9

Refleks cahaya langsung RAPD Lensa Subluksasi Dislokasi Tes bayangan iris Vitreus humor Funduskopi Visus dan refraksi Visus Koreksi Cyl Axis Add Tonometri Tensi okuli Tonometri schiotz

+ Keruh Tidak ada Tidak ada + Tidak dilakukan Refleks fundus +

+ Keruh Tidak ada Tidak ada + Tidak dilakukan Refleks fundus +

3/60 S-4,00 -150 90 2,50

6/60 S-2,00 2,50

Hipertensi okuli 6/7,5

Hipertensi okuli 6/7,5

1.5 Resume Pasien perempuan 55 tahun, datang ke poliklinik mata dengan keluhan penglihatan kedua mata kabur sejak 1 bulan lalu. Pasien merasa lebih sulit melihat benda-benda yang terletak jauh dibandingkan dengan sebelumnya. Pasien juga mengeluh pandangan berbayang pada kedua mata seperti melihat kabut atau asap.

10

Pasien memiliki kebiasaan sering mengkonsumsi jamu sejak usia muda. Riwayat alergi, trauma, diabetes mellitus dan hipertensi disangkal oleh pasien. Keluarga pasien tidak ada yang mengalami hal yang serupa. Pemeriksaan fisik: Keadaan umum Kesadaran OD 3/60 Normal Tenang Tenang Normal Dangkal Bulat, reguler, bayangan iris positif Rp (+) Keruh (+) 21,9 : tampak sakit ringan : compos mentis Visus Palpebra Konjungtiva Sklera Kornea BMD Iris Pupil Lensa Reflek fundus TIO OS 6/60 Normal Tenang Tenang Normal Dangkal Bulat, reguler, bayangan iris positif Rp (+) Keruh (+) 21,9

1.6 Diagnosis Banding Kekeruhan badan kaca Endopthalmitis Glaukoma kronis

1.7 Diagnosis Kerja ODS Katarak senilis imatur 1.8 Usulan Pemeriksaan Funduskopi Slit lamp

11

1.9 Usulan Terapi ODS Ekstraksi Lensa 1.10 Prognosis Dubia ad bonam

BAB II PEMBAHASAN Pasien perempuan berumur 55 tahun dengan keluhan utama pasien adalah penglihatan kedua mata kabur secara perlahan-lahan sejak 1 bulan yang lalu. Keluhan dirasakan semakin memberat hingga mengganggu aktivitasnya. Pasien merasa lebih sulit melihat benda-benda yang terletak jauh dibandingkan dengan sebelumnya. Pasien juga mengeluh pandangan berbayang pada kedua mata seperti melihat kabut atau asap. Gejala-gejala yang dialami pasien ini sesuai dengan kepustakaan yang menuju kearah katarak. Katarak merupakan kekeruhan pada lensa sehingga mengakibatkan penurunan tajam penglihatan. Tingkat kekaburan yang dialami pasien bervariasi tergantung dari tingkat kekeruhan lensa. Lensa pasien katarak akan
12

semakin cembung akibat proses hidrasi korteks, sehingga indeks refraksi berubah karena daya biasnya bertambah dan mata menjadi myopia. Usia pasien yang lebih dari 50 tahun merupakan salah satu penentu jenis katarak. Jenis katarak yang sesuai adalah katarak senilis. Pada pemeriksaan fisik didapatkan visus pasien kurang dari 6/6, terdapat kekeruhan pada kedua lensa yang jika disinari dengan menggunakan senter pada kemiringan 45o menimbulkan bayangan iris. Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan bahwa pada lensa normal yang tidak terdapat kekeruhan, sinar dapat masuk kedalam mata tanpa ada yang dipantulkan. Jika kekeruhan lensa hanya sebagian saja, maka sinar obliq yang mengenai bagian yang keruh ini, akan dipantulkan lagi, sehingga pada pemeriksaan, terlihat dipupil, ada daerah yang terang sebagai reflek pemantulan cahaya pada daerah lensa yang keruh dan daerah yang gelap, akibat bayangan iris pada bagian lensa yang keruh. Keadaan ini disebut bayangan iris (+). Pada pemeriksaan opthalmologi, tidak ditemukan adanya hiperemi pada konjungtiva serta rasa nyeri pada mata (-). Pada funduskopi, didapatkan reflex fundus yang (+),. Adanya bayangan iris mengarah kepada katarak senilis imatur. Dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik, didapatkan diagnosis yang sesuai adalah katarak senilis imatur. Usulan pemeriksaan yang dilakukan pada pasien ini adalah pemeriksaan funduskopi dan slit lamp untuk lebih memastikan kekeruhan yang terjadi pada lensa dan segmen posterior bola mata serta menilai keadaan retina pasien. Penatalaksanaan pada katarak imatur adalah penggunaan kaca mata sehingga pasien mampu beraktivitas dengan baik. Namun jika hal ini masih dirasa mengganggu oleh pasien, dapat dilakukan ekstraksi lensa. Ekstraksi lensa dapat dilakukan dengan metode ECCE + IOL atau Fakoemulsifikasi + IOL. Dimana pemilihan teknik operasi ini juga diserahkan pada pasien, namun sebelumnya kita harus memberikan edukasi mengenai kelebihan ataupun kekurangan dari masingmasing teknik tersebut. Pada ECCE + IOL, pembedahan yang dilakukan lebih lebar dibandingkan dengan teknik fakoemulsifikasi sehingga proses penyembuhan akan berlangsung lebih lama dan kemungkinan terjadinya astigmatisma juga lebih besar.
13

Sementara teknik fakoemulsifikasi memiliki komplikasi astigmatisma yang lebih kecil hanya saja biayanya lebih mahal dibandingkan dengan ECCE. Prognosis pasien ini baik, hal ini disebabkan karena katarak merupakan suatu kekeruhan pada lensa yang dapat diperbaiki. Sehingga tajam penglihatan pasien setelah dioperasi akan lebih baik dibandingkan dengan sebelum dioperasi.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 Definisi Katarak senilis imatur merupakan salah satu stadium katarak senilis, dimana pada stadium ini kekeruhan lensa belum terjadi disemua bagian lensa. Kekeruhan pada stadium ini utamanya terjadi di bagian posterior dan belakang nukleus lensa. Pada katarak imatur, volume lensa dapat bertambah akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan degeneratif lensa. Pada keadaan ini, lensa akan mencembung dan dapat menimbulkan hambatan pupil sehingga terjadi glaukoma sekunder.1,2 3.2 Etiologi
14

Penyebab katarak senilis sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti dan diduga multifaktorial. Beberapa penyebab katarak diantaranya adalah:5 Faktor biologi, yaitu karena usia tua dan pengaruh genetik Faktor fungsional, yaitu akibat akomodasi yang sangat kuat sehingga mempunyai efek buruk terhadap serabu-serabut lensa Faktor imunologik Gangguan yang bersifat lokal pada lensa, seperti gangguan nutrisi, gangguan permeabilitas kapsul lensa, efek radiasi cahaya matahari. Gangguan metabolisme umum

3.3 Patofisiologi Kekeruhan lensa dapat terjadi akibat hidrasi dan denaturasi protein lensa. Dengan bertambahnya usia, ketebalan dan berat lensa akan meningkat sementara daya akomodasinya akan menurun. Dengan terbentuknya lapisan konsentris baru dari kortek, inti nucleus akan mengalami penekanan dan pengerasan. Proses ini dikenal sebagai sklerosis nuclear. Selain itu terjadi pula proses kristalisasi pada lensa yang terjadi akibat modifikasi kimia dan agregasi protein menjadi highmolecular-weight-protein. Hasil dari agregasi protein secara tiba tiba ini mengalami fluktuasi refraktif index pada lensa sehingga menyebabkan cahaya menyebar dan penurunan pandangan. Modifiaksi kimia dari protein nukleus lensa juga menghasilkan pigmentasi progresif yang akan menyebabkan warna lensa menjadi keruh. Perubahan lain pada katarak terkait usia juga menggambarkan penurunan konsentrasi glutatin dan potassium serta meningkatnya konsentrasi sodium dan calcium.2 Terdapat berbagai faktor yang ikut berperan dalam hilangnya transparasi lensa. Sel epithelium lensa akan mengalami proses degeneratif sehingga densitasnya akan berkurang dan terjadi penyimpangan diferensiasi dari sel-sel fiber. Akumulasi dari sel-sel epitel yang hilang akan meningkatkan pembentukan serat-serat lensa yang akan menyebabkan penurunan transparasi lensa. Selain itu, proses degeneratif pada epithelium lensa akan menurunkan permeabilitas lensa
15

terhadap air dan molekul-molekul larut air sehingga transportasi air, nutrisi dan antioksidan kedalam lensa menjadi berkurang. Peningkatan produk oksidasi dan penurunan antioksidan seperti vitamin dan enzim-enzim superoxide memiliki peran penting pada proses pembentukan katarak.6 3.4 Gejala Klinis Seorang pasien dengan katarak senilis biasanya datang dengan riwayat kemunduran secara progesif dan gangguan penglihatan. Penyimpangan penglihatan bervariasi, tergantung pada jenis dari katarak ketika pasien datang.2 Penurunan visus, merupakan keluhan yang paling sering dikeluhkan pasien dengan katarak senilis. Silau, Keluhan ini termasuk seluruh spektrum dari penurunan sensitivitas kontras terhadap cahaya terang lingkungan atau silau pada siang hari hingga silau ketika mendekat ke lampu pada malam hari. Perubahan miopik, Progesifitas katarak sering meningkatkan kekuatan dioptrik lensa yang menimbulkan myopia derajat sedang hingga berat. Sebagai akibatnya, pasien presbiopi melaporkan peningkatan penglihatan dekat mereka dan kurang membutuhkan kaca mata baca, keadaan ini disebut dengan second sight. Secara khas, perubahan miopik dan second sight tidak terlihat pada katarak subkortikal posterior atau anterior. Diplopia monocular. Kadang-kadang, perubahan nuclear yang terkonsentrasi pada bagian dalam lapisan lensa, menghasilkan area refraktil pada bagian tengah dari lensa, yang sering memberikan gambaran terbaik pada reflek merah dengan retinoskopi atau ophtalmoskopi langsung. Fenomena seperti ini menimbulkan diplopia monocular yang tidak dapat dikoreksi dengan kacamata, prisma, atau lensa kontak. Noda, berkabut pada lapangan pandang. Ukuran kaca mata sering berubah

3.5 Diagnosis
16

Diagnosis katarak senilis imatur dapat diperoleh dari gejala-gejala klinis yang dialami serta pemeriksaan oftalmologi. Pasien pada katarak senilis imatur biasanya datang dengan keluhan pandangan mata kabur serta silau. Sementara pemeriksaan oftalmologi dapat dilakukan dengan menggunakan senter, slit lamp dan funduskopi. Berikut merupakan hasil temuan pemeriksaan oftalmologi pada katarak senilis dan katarak stadium lainnya. Insipien Ringan Normal Imatur Matur Sebagian Komplit Bertambah (air Normal masuk) Terdorong Dangkal Sempit Positif < Glaukoma Normal Normal Normal Negatif << Hipermatur Masif Berkurang (air+masa lensa keluar) Tremulans Dalam Terbuka Pseudopositif <<< Uveitis+glaucoma

Kekeruhan lensa Cairan Lensa Iris Bilik Depan Sudut

Normal Mata Normal Bilik Normal Negatif (+) -

Mata Shadow Test Visus Penyulit

Pada katarak senilis imatur, terdapat kekeruhan pada sebagaian lensa yang dapat menimbulkan gangguan visus. Dengan koreksi, visus masih dapat mencapai 1/60-6/6. Pada stadium ini, kekeruhan belum mengenai seluruh lapisan lensa. Pada lensa normal yang tidak terdapat kekeruhan, sinar dapat masuk kedalam mata tanpa ada yang dipantulkan. Oleh karena kekeruhan dibagian posterior lensa, maka sinar obliq yang mengenai bagian yang keruh ini, akan dipantulkan lagi, sehingga pada pemeriksaan, terlihat dipupil, ada daerah yang terang sebagai reflek pemantulan cahaya pada daerah lensa yang keruh dan daerah yang gelap, akibat bayangan iris pada bagian lensa yang keruh. Keadaan ini disebut shadow test (+). 3.6 Diagnosis Banding Diagnosis Banding Katarak Senillis Imatur :
17

Kekeruhan badan kaca Endopthalmitis Glaukoma kronis

3.7 Penatalaksanaan Katarak hanya dapat diatasi melalui prosedur operasi. Akan tetapi jika gejala katarak tidak mengganggu, tindakan operasi tidak diperlukan. Kadang kala cukup dengan mengganti kacamata sehingga didapatkan penglihatan maksimal. Sejauh ini tidak ada obat-obatan yang dapat menjernihkan lensa yang keruh. Namun, aldose reductase inhibitor, diketahui dapat menghambat konversi glukosa menjadi sorbitol dan sudah memperlihatkan hasil yang menjanjikan dalam pencegahan katarak gula pada hewan. Obat anti katarak lainnya sedang diteliti termasuk diantaranya agen yang menurunkan kadar sorbitol, aspirin, agen glutathione-raising, dan antioksidan vitamin C dan E. Penatalaksanaan definitif untuk katarak senilis adalah ekstraksi lensa. Terdapat 2 tipe ekstraksi lensa yaitu intra capsuler cataract ekstraksi (ICCE) dan ekstra capsuler cataract ekstraksi (ECCE). ECCE sendiri terdiri dari dua teknik yaitu Small Incision Cataract Surgery (SICS) dan Phakoemulsifikasi.7 Intra Capsuler Cataract Ekstraksi (ICCE) Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsulnya. Seluruh lensa dibekukan di dalam kapsulnya dengan cryophake dan depindahkan dari mata melalui incisi korneal superior yang lebar. Sekarang metode ini hanya dilakukan hanya pada keadaan lensa subluksatio dan dislokasi. Pada ICCE tidak akan terjadi katarak sekunder dan merupakan tindakan pembedahan yang sangat lama populer. ICCE tidak boleh dilakukan atau kontraindikasi pada pasien berusia kurang dari 40 tahun yang masih mempunyai ligamen hialoidea kapsular. Penyulit

18

yang dapat terjadi pada pembedahan ini astigmatisme, glukoma, uveitis, endoftalmitis, dan perdarahan. Extra Capsular Cataract Extraction (ECCE) Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan pengeluaran isi lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior sehingga massa lensa dan kortek lensa dapat keluar melalui robekan. Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak muda, pasien dengan kelainan endotel, bersama-sama keratoplasti, implantasi lensa intra ocular posterior, perencanaan implantasi sekunder lensa intra ocular, kemungkinan akan dilakukan bedah glukoma, mata dengan prediposisi untuk terjadinya prolaps badan kaca, mata sebelahnya telah mengalami prolap badan kaca, sebelumnya mata mengalami ablasi retina, mata dengan sitoid macular edema, pasca bedah ablasi, untuk mencegah penyulit pada saat melakukan pembedahan katarak seperti prolaps badan kaca. Penyulit yang dapat timbul pada pembedahan ini yaitu dapat terjadinya katarak sekunder. Phakoemulsifikasi Phakoemulsifikasi merupakan suatu teknik ekstraksi lensa dengan memecah dan memindahkan kristal lensa. Pada tehnik ini diperlukan irisan yang sangat kecil (sekitar 2-3mm) di kornea. Getaran ultrasonik akan digunakan untuk menghancurkan katarak, selanjutnya mesin phako akan menyedot massa katarak yang telah hancur sampai bersih. Sebuah lensa Intra Okular yang dapat dilipat dimasukkan melalui irisan tersebut. Karena incisi yang kecil maka tidak diperlukan jahitan dan irisan akan pulih dengan sendirinya sehingga memungkinkan pasien dapat dengan cepat kembali melakukan aktivitas sehari-hari. Tehnik ini bermanfaat pada katarak kongenital, traumatik, dan kebanyakan katarak senilis. Tehnik ini kurang efektif pada katarak senilis padat.

19

Small Incision Cataract Surgery SICS Teknik ini dipandang lebih menguntungkan karena lebih murah dan proses penyembuhannya lebih cepat.

3.8 Komplikasi Komplikasi Intra Operatif Edema kornea, COA dangkal, ruptur kapsul posterior, pendarahan atau efusi suprakoroid, pendarahan suprakoroid ekspulsif, disrupsi vitreus, incacerata kedalam luka serta retinal light toxicity.1,6,7 Komplikasi dini pasca operatif COA dangkal karena kebocoran luka dan tidak seimbangnya antara cairan yang keluar dan masuk, adanya pelepasan koroid, block pupil dan siliar, edema stroma dan epitel, hipotonus, brown-McLean syndrome (edema kornea perifer dengan daerah sentral yang bersih paling sering) Ruptur kapsul posterior, yang mengakibatkan prolaps vitreus Prolaps iris, umumnya disebabkan karena penjahitan luka insisi yang tidak adekuat yang dapat menimbulkan komplikasi seperti penyembuhan luka yang tidak sempurna, astigmatismus, uveitis anterior kronik dan endoftalmitis. Pendarahan, yang biasa terjadi bila iris robek saat melakukan insisi

Komplikasi lambat pasca operatif Ablasio retina Endoftalmitis kronik yang timbul karena organissme dengan virulensi rendah yang terperangkap dalam kantong kapsuler Post kapsul kapacity, yang terjadi karena kapsul posterior lemah Malformasi lensa intraokuler, jarang terjadi.

20

3.9 Prognosis Dengan tehnik bedah yang mutakhir, komplikasi atau penyulit menjadi sangat jarang. Hasil pembedahan yang baik dapat mencapai 95%. Pada bedah katarak resiko ini kecil dan jarang terjadi. Keberhasilan tanpa komplikasi pada pembedahan dengan ECCE atau fakoemulsifikasi menjanjikan prognosis dalam penglihatan dapat meningkat hingga 2 garis pada pemeriksaan dengan menggunakan snellen chart.

DAFTAR PUSTAKA 1. Ilyas, Sidarta. 2009. Ilmu Penyakit Mata. 3 rd ed. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2. Khalilullah, Said Alvin. 2010. Patologi dan Penatalaksanaan pada Katarak Senilis. 3. Vaughan, Daniel G; Asbury, Taylor and Eva, Paul Riordan. 2000. Oftalmologi Umum. 14th ed. Jakarta : Widya Medika. 4. Victor, Vicente. 2012. Senile Cataract. Available from : www.medscape.com. 5. Faradila, Nova. 2009. Glaukoma dan Katarak Senilis. Riau: Fakultas Kedokteran Universitas Riau 6. Zulkifli, MS. 2009. Katarak Senilis. Available from : www.blogsehat.com

21

7. Riordan-Eva, P, Whitcher, J P : Vaughan & Asburys General Ophthalmology, Sixteenth edition, Mc Graw Hill Companies, Inc, Boston, Singapore, International Edition 2004.

22