Anda di halaman 1dari 19

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pada bagian ini akan dibahas tentang penelitian dengan tema serupa yang sudah

dilakukan peneliti terdahulu sebagai rujukan dalam penyelesaian penelitian ini. Selain itu dituliskan juga dasar teori yang terkait dengan pokok bahasan penelitian yang akan dilakukan. 2.1 Penelitian Pendahulu Penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan variabel dari laporan akhir ini adalah penelitian dari Shannaz Natia dan Budi Aswoyo, yang merupakan mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Jurusan teknik Telekomunikasi. Dengan judul PERBANDINGAN EFISIENSI ANTENA HORN KONIKAL DENGAN BERBAGAI BAHAN UNTUK APLIKASI WIRELESS LAN 2,4 GHz. Dalam penelitian tersebut secara garis besar membahas tentang kinerja efisiensi antena horn konikal sebagai antena penerima untuk wireless LAN. Hal tersebut sangat erat kaitannya dengan penelitian ini, karena pada penelitian ini juga menggunakan antena horn konikal. Terdapat pula perbedaan penelitian diatas adalah dimana elemen driven pada antena horn konikal tersebut menggunakan USB Adapter. Sedangkan pada penelitian ini menggunakan antena monopole 1/4. 2.2 Teori Dasar Antena Menurut Budi Aswoyo adalah Antena dan Propagasi, antena merupakan perangkat yang berfungsi untuk memancarkan atau menerima gelombang elektromagnetik dari media kabel ke udara atau sebaliknya dari udara ke media kabel. Karena antena adalah perangkat yang menghubungkan media kabel dengan media udara, antena harus memiliki impedansi yang cocok antara media kabel yang digunakan dengan impedansi output dari antena. Apabila terjadi ketidak cocokan maka akan terjadi gelombang pantul yang akan berakibat buruk bila terlalu besar karena informasi yang dikirim akan dipantulkan kembali. Untuk

5 membuat antena tersebut matching dengan saluran kabel maka digunakan stub ataupun matching patch. 2.3 Parameter Dasar Antena Dalam perancangan suatu antena, baberapa hal yang harus diperhatikan. Beberapa hal yang dimaksud adalah parameter antena. Parameter ini digunakan untuk menentukan performan dari antena yang dibuay. Performan ini juga berkaitan dengan frekuensi kerja dari antena. Untuk antena yang bekerja pada band VLF, LF, HF, VHF dan UHF bawah, jenis antena kawat ( wire antenna) ,antena loop, antena Yagi-Uda array dan sebagainya yang sering digunakan, karena antena jenis ini, dimensi fisiknya disesuaikan dengan panjang gelombang dimana sistem bekerja. Semakin tinggi frekuensi kerja, maka semakin pendek panjang gelombangnya, sehingga semakin pendek panjang fisik suatu antena. Macam-macam parameter antena ada 15, sebagai berikut: a. Pola radiasi b. Radiasi power desity c. Intensitas radiasi d. Beamwidth e. Directivity f. Efisiensi antena g. Gain h. Faktor pantulan Namun dari seluruh parameter tersebut tidak akan seluruhnya ada pada antena pada realisasinya. Berikut ini adalah parameter yang sering muncul sebagai spesifikasi dari antena: 2.3.1 Pola Radiasi Pola radiasi antena merupakan gambaran secara grafis sifat-sifat radiasi (medan jauh) antena sebagai fungsi koordinat ruang (Balanis, 1982:17). Radiasi patch pada medan fringing menghasilkan pola radiasi medan jauh dalam arah tertentu. Pola radiasi ini menunjukkan antena meradiasikan lebih banyak daya pada arah tertentu dibanding arah lainnya sehingga antena dikatakan mempunyai i. Beam eficiency j. Bandwith k. Polarisasi l. Impedansi input m. Efisiensi radiasi antena n. Return loss o. SWR

6 keterarahan tertentu (menggambarkan daya yang diradiasikan per satuan sudut ruang). Medan fringging pada sisi-sisi radiasi dapat dipandang sebagai dua slot radiasi (untuk patch segiempat) ditempatkan diatas bidang pentanahan. Semua radiasi diasumsikan terjadi dalam setengah hemisphere dan menghasilkan keterarahan 3 dB (perbandingan front to back sempurna) yakni semua radiasi ke arah depan dan tidak ada radiasi ke arah belakang. Front to back ratio ini sangat tergantung pada ukuran dan bentuk bidang pentanahan (ground plane). 3 dB berikutnya dapat ditambahkan karena ada 2 slot radiasi. Slot ini mempunyai panjang sama dengan panjang impedansi patch dan lebar sama dengan ketinggian substrat. Slot seperti ini biasanya mempunyai gain antara 2 3 dB sehingga gain totalnya dapat mencapai 8-9 dB. Patch segiempat yang tereksitasi dalam mode fundamentalnya mempunyai keterarahan maksimum (maximum directivity) dalam arah tegak lurus terhadap patch. Bagian-bagian pola radiasi secara umum adalah sebagai berikut;

Gambar 2.1 Pola radiasi antena directional


Sumber : Balanis, 2005:30

Gambar 2.2 Pola radiasi pada antena dalam tampilan 2 dimensi


Sumber : Balanis, 2005 : 30

a. HPBW (Half Power Beamwidth) didefinisikan sebagai sudut yang terbentuk oleh titik setengah daya dari main lobe, yang dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut : HPBW= | HPBW left - HPBW right | titik-titik pada setengah pola daya dalam main lobe. Sedangkan menurut Balanis (2005 : 42), Half Power Beamwidth (HPBW) didefinisikan sebagai sudut yang memisahkan dua arah yang memiliki nilai intensitas radiasi setengah dari beam. Beam tersebut memiliki nilai maksimal pada power pattern. Hal ini seperti yang terlihat pada gambar 2.3. HPBW dapat ditemukan dengan mencari garis dengan nilai -3dB dari nilai maksimum yang ada pada pola radiasi atau garis dengan nilai 0,707 dari nilai maksimum yang ada pada power pattern. (2.1) Menurut Stutzman (1980 : 31), HPBW adalah sudut dari selisih

Gambar 2.3 Penggambaran power pattern secara 2 dimensi


Sumber: Balanis, 2005: 42

8 b. Main Lobe adalah bagian dari radiasi dengan arah radiasi antena maksimum. c. Minor Lobe adalah bagian yang menyatakan daerah radiasi yang tidak diinginkan. d. Back Lobe adalah bagian dari minor lobe yang berlawanan dengan main lobe. e. Side Lobe adalah bagian dari monor lobe yang bersebelahan dengan main lobe.

Ada beberapa jenis pola radiasi antena yaitu : a. Pola radiasi isotropis adalah pola radiasi dari sebuah antena yang memiliki pancaran radiasi yang sama ke segala arah. Meskipun pola radiasi ini sangat ideal namun tidak bisa direalisasikan secara fisik, sehingga hanya sering diambil sebagai referensi untuk mengekspresikan sifat direktif antena sebenarnya. b. Pola radiasi directional adalah pola radiasi dari sebuah antena yang memancarkan atau menerima gelombang elektromagnetik lebih efektif hanya di beberapa arah saja. c. Pola radiasi omnidirectional adalah pola radiasi dari sebuah antena yang memiliki pola dasar nondirectional pada bidang tertentu (dalam hal ini di azimut) dan pola yang terarah pada setiap bidang ortogonal (dalam hal ini di ketinggian). (Balanis, 2005: 32) 2.3.2 Keterarahan (Directivity) Directivity sebuah antena didefinisikan sebagai perbandingan antara intensitas radiasi antena pada arah tertentu dengan intensitas radiasi rata-rata kesegala arah. Keterarahan (Directivity) adalah kemampuan sebuah antena untuk mengkonsentrasikan energinya pada satu arah pilihan. Radiator isotropik mempunyai nilai keterarahan sama dengan satu, sehingga radiator isotropik dapat pula disebut sebagai antena sempurna yang dapat meradiasikan energi yang sama pada semua arah. Radiator ini digunakan sebagai antena referensi pada penentuan keterarahan suatu antena. (Balanis, 2005:44) :

9
4Umax Prad

D0 = 10 log

(2.2)

Keterangan : D0 = directivity (dB) Umax = intensitas radiasi maksimum (watt) Prad = daya radiasi total (watt) Nilai keterarahan sebuah antena dapat diketahui dari pola radiasi antena tersebut, semakin sempit main lobe maka keterarahannya semakin baik dibanding main lobe yang lebih lebar. (Balanis, 2005:51)
180 4 D0 = 10 log HP .HP
2

(2.3)
D0 = 10 log 41252 .96125 HP .HP

(2.4)

Keterangan : DdB = keterarahan (directivity) (dB) HP = lebar berkas daya pada bidang horisontal ( 0 ) = lebar berkas daya pada bidang vertikal ( 0 ) HP

Gambar 2.4 Bentuk pola radiasi dalam menghitung nilai directivity


Sumber : Balanis, 2005:52

2.3.3 Gain (Penguatan)

10 Gain antena didefinisikan sebagai perbandingan rapat daya maksimum suatu antena terhadap rapat daya maksimum dari antena referensi dengan daya masuk yang sama besar (Balanis, 2005:25). Pengukuran gain menggunakan metoda perbandingan (Gain Comparison Method). Prinsip pengukuran ini adalah menggunakan antena referensi dipole standar yang sudah diketahui nilai gainnya. Prosedur ini memerlukan dua kali pengukuran yaitu terhadap antena yang diukur dan terhadap antena referensi. Nilai gain obsolute isotropic dinyatakan. (Balanis: 2005:60)
G = 10 log 4U m (dB) Pin

(2.5)

Keterangan : G = penguatan antena (dB) Um = intensitas radiasi antena (watt) Pin = daya input yang diterima antena (watt) 0 = panjang gelombang yang merambat pada ruang bebas (m) 2.3.4 Return Loss Return loss atau rugi-rugi balik merupakan parameter yang mengindikasikan power (daya) yang hilang ke beban dan kembali sebagai pantulan. Nilai dari return loss yang baik adalah di bawah -10 dB, nilai ini diperoleh untuk nilai VSWR 2 (Punit, 2004: 19). Sehingga dapat dikatakan nilai gelombang yang direfleksikan tidak terlalu besar dibandingkan dengan gelombang yang dikirimkan atau dengan kata lain, saluran transmisi sudah matching. Nilai parameter ini menjadi salah satu acuan untuk melihat apakah antena sudah dapat bekerja pada frekuensi yang diharapkan atau tidak. Sehingga rumus return loss dalam satuan dB adalah (Huang, 2008 : 124) : RL = 20 log | | Rumus mencari nilai | | adalah (Kraus, 1988 : 83) : = Vr/Vi = Keterangan : = koefisien pantul (tanpa satuan) Vr = tegangan gelombang pantul (volt) Vi = tegangan gelombang datang (volt) (2.7) (2.6)

11 Untuk matching sempurna antara transmitter dan antena, maka nilai = 0 dan RL =

yang berarti tidak ada daya yang dipantulkan, sebaliknya jika = 1

dan RL = 0 dB maka semua daya akan dipantulkan. 2.3.5 Voltage Standing Wave Ratio (VSWR) VSWR adalah perbandingan antara tegangan maksimum dan minimum pada suatu gelombang berdiri akibat adanya pantulan gelombang yang disebabkan tidak cocoknya impedansi input antena dengan saluran feeder. (Balanis, 2005: 64)
VSWR = 1+ V max = V min 1

(2.8) Keterangan : V max V min || = tegangan maksimum (volt) = tegangan minimum (volt) = koefisien pantul

Besarnya koefisien pantul () menentukan besarnya VSWR. Persamaan untuk koefisien pantul adalah (Kraus, 1988 : 83) :
= Z Zs Vr = in Vi Z in + Z s

(2.9) Keterangan : = koefisien pantul Zin = impedansi masukan antena Zs = impedansi sumber 2.3.6 Impedansi Masukan Impedansi masukan adalah impedansi yang ditunjukkan antena pada terminalnya atau perbandingan antara tegangan dan kuat arus pada terminal antena. Perbandingan tegangan dan kuat arus pada terminal antena memberikan impedansi masukan yang mempunyai komponen resistansi masukan dan reaktansi masukan (Balanis,1982: 54);

12

Gambar 2.5 Antena penerima yang dinyatakan dengan rangakaian ekuivalen


Sumber: Buku antena dan propagasi

(2.10) (2.11) Keterangan : Zin = impedansi input () Rin = resistansi input () Xin = reaktansi input () 2.3.7 Bandwidth Bandwidth antena didefinisikan sebagai range frekuensi antena dengan beberapa karakteristik, sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Untuk Broadband antena, lebar bidang dinyatakan sebagai perbandingan frekuensi operasi atas (upper) dengan frekuensi bawah (lower). Sedangkan untuk narrowband antena, maka lebar bidang antena dinyatakan sebagai persentase dari selisih frekuensi di atas frekuensi tengah dari lebar bidang (Balanis, 1982: 47).

Gambar 2.6 Grafik return loss terhadap Frekuensi


Sumber: Balanis, 2005: 984

13 Dari gambar 2.6 dapat diketahui bahwa sebuah antena bekerja pada frekuensi tengah sebesar fC, namun ia juga masih dapat bekerja dengan baik pada frekuensi f1 (dibawah fC) sampai dengan f2 (diatas fC), maka lebar bandwidth dari antena tersebut adalah f1 hingga f2. Untuk persamaan bandwidth dalam persen (Bp) atau sebagai bandwidth rasio (Br) dinyatakan sebagai:
Bp = fh fl 100% fc

fc =

Br =

fh + fl 2 fh

(2.12) (2.13) (2.14)

fl

Keterangan : Bp = bandwidth dalam persen (%) Br = bandwidth rasio fu = jangkauan frekuensi atas (Hz) fl = jangkauan frekuensi bawah (Hz) fc = jangkauan frekuensi tengah (Hz) 2.3.8 Polarisasi Polarisasi sebuah antena dalam arah yang diberikan didefinisikan sebagai polarisasi gelombang teradiasi ketika antena dieksitasi. Jika arah tidak dinyatakan, polarisasi yang dimaksud adalah dalam arah penguatan maksimum. Polarisasi dari energi teradiasi bervariasi dengan arah dari pusat antena sehingga beda bagian dari polarisasi mungkin mempunyai polarisasi yang berbeda (Balanis, 1982:48). Polarisasi antena bersesuaian dengan arah medan listrik yang dipancarkan oleh suatu antena 2.7 : seperti gambar

14

Gambar 2.7 Polarisasi Gelombang Elektromagnetik


Sumber : Balanis, 2005: 71

Polarisasi dapat klasifikasi sebagai polarisasi linear, lingkar atau ellips seperti ditunjukkan gambar 2.8.

Gambar 2.8 (a) Polarisasi linier (vertikal). (b) Polarisasi linier (horizontal). (c) Polarisasi lingkaran tangan kanan. (d) Polarisasi

15 lingkaran tangan kiri. (e) Polarisasi ellips tangan kanan. (f) Polarisasi ellips tangan kiri.
Sumber : Stutzman, 1981 : 54

Polarisasi suatu antena pada arah tertentu didefinisikan sebagai polarisasi gelombang yang diradiasikan bila antena sebagai pemancar, atau polarisasi gelombang datang yang menghasilkan daya maksimum pada terminal-terminal antena bila antena sebagai penerima (Balanis, 2005 :70-71). Polarisasi dari antena tergantung oleh polarisasi vektor medan listrik yang diradiasikan. Dengan kata lain, posisi dan arah dari medan listrik dengan referensi permukaan bumi atau tanah menggambarkan bentuk polarisasi gelombang tersebut. Polarisasi dari gelombang yang teradiasi, merupakan sifat-sifat gelombang elektromagnetik yang menggambarkan perubahan arah dan nilai relatif vektor medan listrik sebagai fungsi waktu.

Gambar 2.9 Polarisasi linear (vertikal)


Sumber: http://phys.unpad.ac.id. 12 Mei 2013

Vektor yang dilukiskan pada suatu titik sebagai fungsi dari waktu selalu terarah pada suatu garis, gelombang ini dikatakan terpolarisasi linear. Bila jejaknya berbentuk elips, maka terpolarisasi elips. Suatu keadaan khusus dari polarisasi elips adalah polarisasi circular dan linear. Polarisasi Linear Vektor yang menggambarkan medan listrik pada suatu titik di dalam ruang sebagai fungsi waktu, bergerak searah atau tegak lurus terhadap saluran maka medan ini dikatakan terpolarisasi secara linear (Stutzman, 1981: 53). Polarisasi Lingkaran

16 Vektor medan listrik berputar secara lingkaran dengan jarak yang konstan sepanjang saluran maka hal ini disebut terpolarisasi secara lingkaran (Stutzman 1980 : 53). Dengan frekuensi rotasi radian adalah , jika gelombang bergerak menuju pengamat dan vektor berotasi berlawanan dengan arah jarum jam, itu disebut dengan polarisasi tangan kanan (Right-hand polarized), begitu juga sebaliknya untuk polarisasi tangan kiri (Left-hand polarized). (Stutzman, 1981:54) Polarisasi Ellips Vektor medan listrik berputar secara ellips sepanjang saluran maka hal ini disebut terpolarisasi ellips, baik untuk berpolarisasi tangan kanan atau tangan kiri. (Stutzman, 1981 : 55) Axial Ratio Axial ratio adalah perbandingan magnitudo major dengan magnitudo minor, yang dirumuskan sebagai berikut (Balanis, 1982:74) : Axial Ratio = (2.15)

Dimana E(major) ditunjukkan pada sudut 900 atau posisi horizontal dan E(minor) ditunjukkan pada sudut 00 atau posisi vertikal. 2.4 Antena Horn Konikal Antena Horn Konikal merupakan antenna celah (aperture anntena) berbasis saluran pandu gelombang lingkaran (circular waveguide) dengan bentuk akhir antena ini menyerupai kerucut, yang mulutnya melebar ke arah bidang medan listrik (E) dan bidang magnet (H). Antena Horn Konikal memiliki dimensi dari bentuk geometri antena, mulai dari dimensi saluran pandu gelombang (waveguide) pencatunya, dimensi panjang antena dari pencatu ke bidang aperture, sampai dengan dimensi pelebaran ke arah masingmasing bidang-E dan bidang-H.

17 Gambar 2.10 Antena Horn Konikal


Sumber : Antena Magus Professional

Dimana Dg Lg Df Lf Lp S Dp

: = = = = = = = Diameter waveguide konikal Panjang waveguide konikal Diameter Horn konikal Panjang Horn konikal Panjang antena monopole Panjang dari dinding belakang Diameter antena monopole

Utuk menentukan dimensi diameter waveguide (Dg) horn konikal yang baik antara (Radio Laboratary Handbook, 2004: 111) : 0,6 0,75 (Radio Laboratary Handbook, 2004 : 111) : 0,75 g atau g. (2.17) (2.16) Untuk menentukan panjang Lg waveguide (Lg) horn konikal yang baik antara

Dimana g adalah panjang gelombang guide.

(2.18)

Keterangan : g = panjang gelombang guide 0 = panjang gelombang cut-off Dan untuk menentukan panjang dari dinding belakang (S) horn konikal (Radio Laboratary Handbook, 2004 : 111) : 0,25 g atau g. (2.19)

18

Gambar 2.12 Direktivitas optimum Antena Horn Konikal


Sumber : Antennas For All Aplications, JD Kraus

Pada Gambar 2.12, terlihat bahwa karakteristik Horn Konikal mirip dengan horn pyramidal atau horn sektoral. Ketika sudut pelebaran semakin meningkat, direktivitas antenna Horn Konikal juga semakin meningkat hingga mencapai nilai maksimum maka nilai direktivitas akan menurun. Di sini direktivitas optimum dapat terlihat. 2.4.1 Circular Waveguide Pada dasarnya dalam sebuah waveguide terdapat tiga karakteristik yang penting, yaitu : a. Frekuensi cut off b. Panjang gelombang cut off c. Mode propagasi

Gambar 2.13 Circular Waveguide


Sumber: Radio Laboratary Handbook

Tabel 2.1 di bawah adalah tabel mode TE dan TM pada circular waveguide :

19 Mode TE0.1 TE1.1 TE2.1 TE0.2 TE1.2 Mode TM0.1 TM1.1 TM2.1 TM0.2 TM1.2 m.n 2,405 3,832 5,136 5,520 7,016

m.n 3,832 1,841 3,050 7,016 5,330

Sumber: microwave communication, Edgar Hend

Panjang gelombang cut off (Marcuvitz, 1965 : 67) :

0
dimana: ` = um.n = r = 2.5 Wireless-LAN

(2.20)

panjang gelombang cut-off fungsi Bessel jari-jari circular waveguide

WLAN atau Wi-Fi (Wifi atau WiFi) adalah sebuah teknologi terkenal yang memanfaatkan peralatan elektronik untuk bertukar data secara nirkabel(menggunakan gelombang radio) melalui sebuah jaringan komputer, termasuk koneksi Internet berkecepatan tinggi. Wi-Fi Alliance mendefinisikan Wi-Fi sebagai "produk jaringan wilayah lokal nirkabel (WLAN) apapun yang didasarkan pada standar Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) 802.11". Meski begitu, karena kebanyakan WLAN zaman sekarang didasarkan pada standar tersebut, istilah "Wi-Fi" dipakai dalam bahasa Inggris umum sebagai sinonim "WLAN". Sebuah alat yang dapat memakai Wi-Fi (seperti komputer pribadi, konsol permainan video, telepon pintar, tablet, atau pemutar audio digital) dapat terhubung dengan sumber jaringan seperti Internet melalui sebuah titik akses jaringan nirkabel. Titik akses (atau hotspot) seperti itu mempunyai jangkauan sekitar 20 meter (65 kaki) di dalam ruangan dan lebih luas lagi di luar ruangan. Cakupan hotspot dapat mencakup wilayah seluas kamar dengan dinding yang

20 memblokir gelombang radio atau beberapa mil persegi ini bisa dilakukan dengan memakai beberapa titik akses yang saling tumpang tindih. "Wi-Fi" adalah merek dagang Wi-Fi Alliance dan nama merek untuk produkproduk yang memakai keluarga standar IEEE 802.11. Hanya produk-produk WiFi yang menyelesaikan uji coba sertifikasi interoperabilitas Wi-Fi Alliance yang boleh memakai nama dan merek dagang "Wi-Fi CERTIFIED". Wi-Fi mempunyai sejarah keamanan yang berubah-ubah. Sistem enkripsi pertamanya, WEP, terbukti mudah ditembus. Protokol berkualitas lebih tinggi lagi, WPA dan WPA2, kemudian ditambahkan. Tetapi, sebuah fitur opsional yang ditambahkan tahun 2007 bernama Wi-Fi Protected Setup (WPS), memiliki celah yang memungkinkan penyerang mendapatkan kata sandi WPA atau WPA2 router dari jarak jauh dalam beberapa jam saja. Sejumlah perusahaan menyarankan untuk mematikan fitur WPS. Wi-Fi Alliance sejak itu memperbarui rencana pengujian dan program sertifikasinya untuk menjamin semua peralatan yang baru disertifikasi kebal dari serangan AP PIN yang keras. Tabel 2.2 Spesifikasi WiFi
Spesifikasi 802.11b 802.11a 802.11g 80.211n Kecepatan 11 Mb/s 54 Mb/s 54 Mb/s 100 Mb/s Frekuensi 2,4 GHz 5 GHz 2,4 GHz 2,4 GHz Cocok dengan b a b,g b,g,n

Sumber : Denny Charter

Tabel 2.3 Kanal Frekuensi WiFi


Channel Frekuensi Nominal (MHz) 1 2 2412 2417 8 9 Channel Frekuensi Nominal (MHz) 2447 2452

21

3 4 5 6 7
Sumber : Denny Charter

2422 2427 2432 2437 2442

10 11 12 13 14

2457 2462 2467 2472 2484

2.6 Mikrotik

Gambar 2.14 Mikrotik RB751U-2HnD


Sumber : http://routerboard.com/RB751U-2HnD Kamis, 31-01-2013. 17:46

MikroTik adalah suatu RouterOS (Router Operating System) yaitu sistem operasi atau software yang dapat digunakan menjadi komputer router network yang handal dengan berbagai fitur yang dibuat untuk mengatur ip network dan jaringan wireless. Router adalah sebuah alat yang mengirimkan paket data melalui sebuah jaringan atau Internet menuju tujuannya, melalui sebuah proses yang dikenal sebagai routing. Proses routing terjadi pada lapisan 3 (Lapisan jaringan seperti Internet Protocol) dari protokol tumpukan (stack protocol) model OSI. Router berfungsi sebagai penghubung antar dua atau lebih jaringan untuk meneruskan data dari satu jaringan ke jaringan lainnya. Router berbeda dengan switch. Switch merupakan penghubung beberapa alat untuk membentuk suatu Local Area Network (LAN). Sebagai ilustrasi perbedaan fungsi dari router dan switch merupakan suatu jalanan, dan router merupakan penghubung antar jalan. Masing-masing rumah berada pada jalan yang memiliki alamat dalam suatu

22 urutan tertentu. Dengan cara yang sama, switch menghubungkan berbagai macam alat, dimana masing-masing alat memiliki alamat IP sendiri pada sebuah LAN. Fitur-Fitur Mikrotik Berikut fitur dari MikroTik : Firewall dan NAT Routing Static routing Data Rate Management Hotspot Point-to-Point tunneling protocols Simple tunnels IPsec Web proxy Caching DNS client DHCP Universal Client VRRP UPnP NTP Monitoring/Accounting SNMP M3P MNDP Tools Tabel 2.4 Spesifikasi Mikrotik Product code CPU speed RAM LAN ports Integrated wireless Wireless standards USB Power jack Dimension Operating System Temperatur range RouterOS License Antenna TX power CPU Max power consumption
Sumber : Datasheet RB751U-2HnD

Details RB751U-2HnD 400MHz 32MB 5 1 802.11b/g/n 1 8-30V DC 113x138x29mm RouterOS -20C..+50C L4 Impedance 50, 2x2 MIMO PIF, external antennas, max gain 2,5 dBi 30dBm Atheros AR7241 10W

Beri Nilai