Anda di halaman 1dari 3

BAB I PENDAHULUAN

Tanatologi adalah ilmu yang mempelajari segala macam aspek yang berkaitan dengan mati; meliputi pengertian (definisi), cara-cara melakukan diagnosis, perubahan-perubahan yang terjadi sesudah mati serta kegunaannya.1 Dalam ilmu tanatologi akan dipelajari mengenai penentuan kematian, perubahanperubahan sesudah mati, saat kematian, dan kegunaan tanatologi. Penentuan kematian dilakukan berdasarkan konsep mati otak dan mati batang otak, yang ditandai dengan tidak berespon terhadap semua rangsangan, tidak sadarnya pasien, hilangnya refleks pupil, hilangnya refleks kornea, tidak ada refleks menelan, tidak ada refleks vestibulokoklearis dan tidak adanya pernafasan spontan.1 Ada beberapa perubahan yang terjadi pada saat manusia mengalami kematian, yaitu perubahan pada kulit muka, relaksasi otot, perubahan pada mata, penurunan suhu tubuh, lebam jenazah, dan kaku jenazah. Perubahan yang terjadi pada muka yaitu berubahnya warna wajah menjadi lebih pucat, akan tetapi pada jenazah yang mengalami kematian karena keracunan gas CO (karbon monooksida), perubahan warna kulit muka menjadi pucat terjadi lebih lambat. Pada saat mati sampai beberapa saat sesudahnya, otot-otot polos akan mengalami relaksasi sebagai akibat dari hilangnya tonus. Pada orang yang sudah mati pandangan matanya terlihat kosong, refleks cahaya dan reflek kornea menjadi negatif. Venavena pada retina akan mengalami kerusakan dalam waktu 10 detik sesudah mati. Jika sesudah kematiannya keadaan mata tetap terbuka maka lapisan kornea yang paling luar akan mengalami kekeringan. Sesudah mati, metabolisme yang menghasilkan panas akan terhenti sehingga suhu tubuh akan turun menuju suhu udara atau medium sekitarnya. Penurunan ini disebabkan oleh adanya proses radiasi, konduksi, dan pancaran panas.1 Untuk menentukan saat kematian dapat dilihat dari perubahan pada mata, lambung, kuku, rambut, cairan serebrospinal, dan adanya reaksi supravital. Pada mata kita dapat melihat perubahan warna menjadi lebih keruh, pada lambung kita bisa melihat waktu pengosongan lambung meski tidak memberikan banyak arti, pada rambut kita dapat mengukur saat kematian dilihat dari pertambahan panjang rambut, begitu pula yang dapat kita liat pada kuku. Pada cairan serebrospinal saat kematian dapat dilihat dari kadar nitrogen

yang menurun setelah 10 jam kematian, sedangkan reaksi supravital yaitu reaksi jaringan tubuh sesaat pasca mati klinis yang masih sama seperti reaksi jaringan tubuh pada seseorang yang hidup.1,2,3 Referat ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai thanatologi, definisi kematian, perubahan yang terjadi setelah kematian dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut dan menerapkan tanatologi pada pemecahan kasus.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Tanatologi berasal dari dua buah kata, yaitu thanatos yang berarti mati dan logos yang berarti ilmu. Jadi arti sesungguhnya dari tanatologi adalah ilmu yang mempelajari segala macam aspek yang berkaitan dengan mati; meliputi pengertian (definisi), cara-cara melakukan diagnosis, perubahan-perubahan yang terjadi sesudah mati serta kegunaannya.1,2

DAFTAR PUSTAKA

1. Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Jakarta: Binarupa Aksara, 1997; p.131-168. 2. Hueske E. Firearms and Tool Mark The Forensic Laboratory Handbooks, Practice and Resource. 2006. 3. Abdussalam. Forensik. Jakarta: Restu Agung, 2006; p. 41-43.