Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Katarak adalah setiap kekeruhan yang terjadi pada lensa.

Penuaan merupakan penyebab katarak terbanyak, tetapi banyak juga faktor lain yang mungkin terlibat, antara lain : trauma, toksin, penyakit sistemik (diabetes), merokok, dan adanya faktor herediter. Katarak merupakan penyebab utama berkurangnya penglihatan pada usia 55 tahun atau lebih.5,4 Secara umum dianggap bahwa katarak hanya mengenai orang tua, padahal katarak dapat megenai semua umur dan pada orang tua, katarak merupakan bagian umum pada usia lanjut. Makin lanjut usia seseorang makin besar pula kemungkinan menderita katarak. Berbagai studi cross-sectional melaporkan prevalensi katarak pada individu berusia 65-75 tahun adalah sebanyak 50%, prevalensi ini meningkat hingga 70% pada individu di atas 75 tahun. Di Amerika Serikat, katarak yang terjadi akibat usia lanjut dilaporkan mencapai 42% dari orang-orang usia 52-64 tahun, 60% dari orang-orang antar usia 65 dan 74 tahun dan 91% dari mereka antara usia 75 dan 85 tahun.5,4,8 Menurut usia, katarak dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu katarak kongenital, katarak juvenilis dan katarak senilis. Jumlah terbanyak adalah katarak senilis yaitu penyakit gangguan penglihatan yang ditandai dengan kekeruhan lensa yang terjadi secara gradual dan progresif. Katarak senilis terus menjadi penyebab utama terjadinya penurunan penglihatan dan kebutaan di dunia. Setidaknya 5-10 juta kasus baru terjadi setiap tahunnya dan dengan teknik bedah modern, sebanyak 100.000-200.000 kasus masih mengalami kebutaan yang ireversibel. Diperkirakan sebanyak 1,2% dari seluruh populasi Afrika mengalami kebutaan, dengan 36% disebabkan oleh katarak. Survei yang dilakukan pada 3 distrik di lembah Punjai menunjukkan bahwa terjadinya katarak senilis adalah sebesar 15,3% dari 1269 orang usia antara 30 tahun keatas, dan sebanyak 4,3% dari keseluruhan usia. Jumlah ini meningkat secara signifikan sebanyak 67% pada usia 70 tahun atau lebih. Analisis kebutaan pada Skotlandia barat juga menunjukkan bahwa katarak senilis merupakan kausa utama dari kebutaan di daerah tersebut.6 Patogenesis katarak belum sepenuhnya dimengerti. Walaupun demikian, pada lensa katarak secara karakteristik terdapat agregat-agregat protein yang 1

menghamburkan berkas cahaya dan mengurangi transparasinya. Perubahan protein lainnya akan mengakibatkan perubahan warna lensa menjadi kuning atau coklat. Pembentukan katarak secara kimiawi ditandai oleh penurunan penyerapan oksigen dan mula-mula terjadi peningkatan kandungan air diikuti oleh dehidrasi. Kandungan natrium dan kalsium meningkat, sedangkan kandungan kalium, asam askorbat dan protein berkurang. Pada katarak tidak ditemukan glutation. 4,5 Pterigium merupakan penebalan konjungtiva bulbi yang berbentuk segitiga, mirip dengan daging yang menjalar ke arah kornea. Umumnya terjadi pada usia 20-30 tahun dan sering terdapat pada orang yang sebagian besar hidupnya berada di lingkungan tropis. Etilogi dari pterigium sendiri belum jelas namun diduga disebabkan oleh suatu paparan ultraviolet pada daerah nasal konjungtiva khususnya sebelah lateral. Masalah yang disebabkan oleh pterigium ini terakadang dapat menimbulkan suatu gangguan visus misalnya astigmatisme pada komplikasi lebih lanjut dan masalah kosmetik menjadi sangat terganggu. Untuk itu perlu dijelakan mengenai terapi lebih lanjut pada bagian selanjutnya (Pedoman DIAGNOSIS DAN TERAPI UNAIR, 2006).

1.2. Rumusan Masalah 1. Bagaimana mendiagnosis katarak dan pterigium. 2. Bagaimana penatalaksaan katarak dan pterigium.

1.3. Tujuan 1. Mengetahui cara mendiagnosis katarak dan pterigium. 2. Mengetahui penatalaksanaan katarak dan pterigium.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Katarak adalah kekeruhan pada lensa mata yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan. Katarak umumnya merupakan proses penuaan. Paparan sinar ultraviolet jangka panjang, penggunaan obat-obatan dan penyakit tertentu seperti diabetes juga dapat mempercepat timbulnya katarak. Katarak juga dapat terjadi pada saat lahir atau karena trauma pada mata. 2 2.2. Anatomi dan Fisiologi Lensa 2.2.1. Anatomi Lensa Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular tak berwarna dan transparan. Tebal sekitar 4 mm dan diameternya 9 mm. Di belakang iris, lensa digantung oleh zonula (Zonula Zinii) yang menghubungkan dengan korpus siliare. Di sebelah anterior lensa terdapat humor aqueous dan di sebelah posterior terdapat vitreus. Kapsul lensa adalah suatu membrane semipermeabel yang dapat dilewati air dan elektrolit. Di sebelah depan terdapat selapis epitel subkapsular. Nukleus lensa lebih keras daripada korteksnya. Sesuai dengan bertambahnya usia, serat-serat lamellar subepitel terus diproduksi, sehingga lensa lama-kelamaan menjadi kurang elastik. Lensa terdiri dari 60 % air, 35 % protein, dan sedikit sekali mineral yang biasa ada di jaringan tubuh lainnya. Kandungan kalium lebih tinggi di lensa daripada di kebanyakan jaringan lainnya. Asam askorbat dan glutation terdapat dalam bentuk teroksidasi maupun tereduksi. Pada lensa tidak terdapat serat nyeri, pembuluh darah atau pun saraf.
3

2.2.2. Fisiologi Lensa Lensa kristalina adalah sebuah struktur yang pada kondisi normalnya berfungsi untuk memfokuskan gambar pada retina. Mata dapat mengubah fokusnya dari obyek jarak jauh ke jarak dekat karena kemampuan lensa untuk mengubah bentuknya, suatu fenomena yang dikenal sebagai akomodasi. Elastisitasnya yang alami memungkinkan lensa untuk menjadi lebih atau kurang bulat (sferis), tergantung besarnya tegangan serat-serat zonula pada kapsul lensa. Tegangan zonula dikendalikan oleh aktivitas muskulus siliaris, yang bila berkontraksi akan mengendurkan tegangan zonula. Dengan demikian, lensa 3

menjadi lebih bulat dan dihasilkan daya dioptri yang lebih kuat untuk memfokuskan obyek-obyek yang lebih dekat. Relaksasi muskulus siliaris akan menghasilkan kebalikan rentetan peristiwa-peristiwa tersebut, membuat lensa mendatar dan memungkinkan obyek-obyek jauh terfokus. Dengan bertambahnya usia, daya akomodasi lensa akan berkurang secara perlahan-lahan seiring dengan penurunan elastisitasnya.5

Gambar 2.1.2 Skema penampang anatomi mata yang menujukkan posisi lensa mata

2.2.3. Metabolisme Lensa Normal Transparansi lensa dipertahankan oleh keseimbangan air dan kation sodium dan kalium). Kedua kation berasal dari humor aqueous dan vitreus. Kadar kalium di bagian anterior lensa lebih tinggi di bandingkan posterior dan kadar natrium di bagian posterior lebih besar. Ion K bergerak ke bagian posterior dan keluar ke humor aqueous. Dari luar, ion Na masuk secara difusi dan bergerak ke bagian anterior untuk menggantikan ion K dan keluar melalui pompa aktif Na-K ATPase, sedangkan kadar kalsium tetepa dipertahankan di dalam oleh Ca-ATPase. Metabolisme lensa melalui glikolisis anaerob (95%) dan HMP-shunt (5%). Jalur HMP shunt menghasilkan NADPH untuk biosintesis asam lemak dan ribose, juga untuk aktivitas glutation reduktase dan aldose reduktase. Aldoe reduktase adalah enzim yang merubah glukosa menjadi sorbitol, dan sorbitol dirubah menjadi fruktosa oelh enzim sorbitol dehidrogenase.4

2.3.

Etiologi 4

Beberpa hal yang dapat menyebabkan terjadinya katarak seperti usia lanjut (terjadinya sklerosis nuklear), penyakit mata (glaucoma, ablasi, uveitis, retinitis pigmentosa, dan penyakit intraocular lain), bahan toksis khusus (kimia dan fisik), keracunan obat (eserin, kortikosteroid, ergot dan asetilkolinesterase topikal), kelainan sistemik atau metabolik (DM, hipokalsemi, distrofi miotonik,dermatitis atopik), genetic dan gangguan perkembangan, infeksi dimasa pertumbuhan janin4,5 Faktor risiko dari katarak antara lain : 4,5 a. Diabetes Mellitus b. Riwayat keluarga dengan katarak c. Penyakit infeksi atau cedera mata terdahulu d. Pembedahan mata e. Pemakaian kortikosteroid jangka panjang f. Terpajan sinar UV g. Merokok 2.4. Patogenesis Patogenesis katarak belum sepenuhnya dimengerti. Walaupun demikian, pada lensa katarak secara karakteristik terdapar agregat-agregat protein yang menghamburkan berkas cahaya dan mengurangi transparasinya. Perubahan protein lainnya akan mengakibatkan perubahan warna lensa menjadi kuning atau coklat. Temuan tambahan mungkin berupa vesikel diantara serat-serat lensa atau migrasi sel epitel dan pembesaran sel-sel epitel yang menyimpang. Pembentukan katarak secara kimiawi ditandai oleh penurunan penyerapan oksigen dan mula-mula terjadi peningkatan kandungan air diikuti oleh dehidrasi. Kandungan natrium dan kalsium meningkat, sedangkan kandungan kalium, asam askorbat dan protein berkurang. Pada lensa yang mengalamu katarak tidak ditemukan glutation. Lensa katarak memiliki cirri berupa edema lensa, perubahan protein, dan keruskan kontinuitas normal serat-serat lensa. Secara umum, edema lensa bervariasi sesuai dengan stadium perkembangan katarak. Katarak imatur (insipient) hanya sedikit opak, katarak matur yang keruh total (tahap menengah lanjut) mengalami edema. Apabila kandungan air maksimal dan kapsul lensa terenggang, katarak disebut mengalami intumesensi (membengkak). Pada katarak hipermatur (sangat

lanjut), air telah keluar dari lensa dan meninggalkan lensa yang sangat keruh, relative mengalami dehidrasi dengan kapsul yang berkeriput.4

Gambar 2.2.
Gambar 2.2 Jernih
2

Gambar 2.3.
Gambar 2.32 Mata tampak depan dengan lensa yang keruh (katarak)

Mata tampak depan dengan lensa yang

2.5. Gejala dan Diagnosis Semua sinar yang masuk ke mata harus terlebih dahulu melewati lensa. Karena itu setiap bagian lensa yang menghalangi, membelokkan atau menyebarkan sinar bisa menyebabkan terjadinya gangguan penglihatan. Beratnya gangguan penglihatan tergantung pada lokasi dan kematangan katarak. Katarak berkembang secara perlahan dan tidak menimbulkan nyeri disertai gangguan penglihatan yang muncul secara bertahap. Gangguan penglihatan akibat hilangnya transparansi lensa bisa berupa : 1 a. Penurunan ketajaman penglihatan (bahkan pada siang hari), b. Kesulitan melihat pada malam hari, c. Melihat lingkaran di sekeliling cahaya atau cahaya terasa menyilaukan mata. Gejala lainnya adalah sering berganti kacamata dan penglihatan pada salah satu mata. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata. Pemeriksaan dignostik yang biasa dilakukan adalah : 5 a. Pemeriksaan mata standar, termasuk pemeriksaan dengan slitlamp. Lensa paling baik diperiksa dalam keadaan pupil yang berdilatasi. Gambaran lensa yang diperbesar dapat terlihat dengan menggunakan slitlamp atau dengan oftalmoskop direk dengan pengaturan plus tinggi (+10) b. USG mata sebagai persiapan untuk pembedahan katarak 6

2.6. Klasifikasi Katarak Berdasarkan usia, katarak dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu : a. Katarak Kongenital Adalah katarak yang mulai terjadi sebelum atau segera setelah lahir dan bayi berusia kurang dari 1 tahun. Katarak kongenital merupakan penyebab kebutaan pada bayi yang cukup berarti terutama akibat penanganannya yang kurang tepat.Katarak kongenital sering terjadi pada bayi yang dilahirkan dari ibu yang menderita penyakit rubella, galaktosemia, homosisteinuria, toksoplasmosis, inklusi sitomegalik, dan histoplasmosis. Katarak congenital dapat diklasifikasikan lagi menjadi katarak kapsulolentikular (katarak kapsul dan katarak Polaris) dan katarak lentikular (katarak yang mngenai kortek atau nukleus saja).6 b. Katarak Juvenil Adalah katarak yang mulai terbentuk pada usia kurang dari 9 tahun dan lebih dari 3 bulan. Katarak juvenile biasanya merupakan kelanjutan dari katarak congenital dan biasanya merupakan penyulit penyakit sistemik ataupun metabolik dan penyakit lainnya seperti, trauma, radiasi maupun pengaruh obatobatan.6 c. Katarak Senil Adalah semua kekeruhan lensa yang tedapat pada usia lanjut, yaitu usia diatas 50 tahun. Penyebabnya sampai sekarang tidak diketahui secara pasti. 6 Menurut morfologinya,katarak senilis dibagi diklasifikasikan menjadi 5,7 1. Katarak Nuklear Proses kondensasi normal dalam nucleus lensa menyebabkan terjadinya sklerosis nuclear setelah usia pertengahan. Gejala yang paling dini mungkin berupa membaiknya penglihatan dekat tanpa kacamata (penglihatan kedua). Ini merupakan akibat meningkatnyankekuatan lensa bagian sentral, menyebabkan refraksi bergesar ke myopia (penglihatan dekat). Gejala lain dapat berupa diskriminasi warna yang buruk atau diplopia monocular. Sebagian besar katarak nuclear adalah bilateral, tetapi bisa asimetrik. 2. Katarak subkapsular posterior Terdapat pada korteks di dekat kapsul posterior bagian sentral. Di awal perkembangannya, katarak ini cenderung menimbulkan gangguan penglihatan. Gejala-gejala yang umum, antara lain glare dan penurunan penglihatan pada 7

kondisi pencahayaan yang terang. Kekeruhan lensa dapat timbul akibat trauma, penggunaan kortikosteroid, peradangan, atau pajanan radiasi pengion. 3. Katarak kortikal Adalah kekeruhan pada korteks lensa. Perubahan hidrasi serat lensa menyebabkan terbentuknya celah-celah dakan pola radial di sekeliling daerah equator. Katarak ini cenderung bilateral, tetapi sering asimetris. Derajat gangguan fungsi penglihatan bervariasi, tergantung seberapa dekat kekeruhan lensa dengan sumbu penglihatan.

Gambar 2.4.7 Tiga tipe katarak senile berdasarkan pada morfologinya.

Katarak senile secara secara klinik dikenal dalam 4 stadium, yaitu : 5,6,7 1. Katarak insipien Kekeruhan dimulai dari tepi ekuator berbentuk jeruji menuju korteks anterior dan posterior (katarak kortikal). Kekeruhan ini dapat menimbulkan poliopia oleh karena indeks refraksi yang tidak sama pada semua bagian lensa. 2. Katarak imatur Hanya sebagian lensa saja yang mengalami kekeruhan (katarak belum mengenai seluruh lapisan lensa). Pada katarak imatur akan dapat bertambah volume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang degenerative. Pada keadaan lensa mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil, sehingga terjadi glaucoma sekunder. 3. Katarak matur 8

Adalah bentuk katarak yang seluruh proteinnya telah mengalami kekeruhan. Tidak terdapat bayangan iris pada lensa yang keruh, sehingga uji bayangan iris negatif. 4. Katarak hipermatur Protein-protein di bagian korteks lensa telah mencair. Cairan ini bisa keluar dari kapsul yang utuh, meninggalkan lensa yang mengerut dengan kapsul keriput. Katarak hipermatur yang nukleus lensanya mengambang dengan bebas di dalam kantung kapsulnya disebut sebagai katarak morgagni Tabel 2.1 6
Perbedaan stadium katarak senile

Kekeruhan Cairan lensa Iris COA Sudut COA Shadow test Penyulit

Insipiens Ringan Normal Normal Normal Normal Negatif -

Imatur Sebagian Bertambah masuk) Terdorong Dangkal Sempit Positif Glaucoma

Matur Seluruh (air Normal Normal Normal Normal Negatif -

Hipermatur Masif Berkurang

(air

massa lensa keluar Tremulans Dalam Terbuka Pseudopositif Uveitis+glaukoma

Klasifikasi lainnya adalah klasifikasi Burrato: Grade I o o o o o Refleks fundus positif Visus lebih dari 6/12 Nukleus lunak Lensa nampak sedikit keruh dan warnanya agak keputihan Usia kurang dari 50 tahun

Grade II o o o o Refleks fundus positif Visus 6/12 hingga 6/30 Nukleus sedikit keras, tampak sedikit kekuningan Gambaran seperti katarak subkapsular posterior

Grade III o o Refleks fundus negatif Visus 6/30 hingga 3/60

o o

Nukleus agak keras, warna kekuningan Korteks berwarna abu-abu

Grade IV o o o o Refleks fundus negatif Visus 3/60 hingga 1/300 Nukleus keras, warna kuning kecoklatan Usia lebih dari 65 tahun

Grade V o o o o Refleks fundus negatif Visus kurang dari 1/300 Nukleus sangat keras, warna kecoklatan hingga kehitaman

(brunescent cataract / black cataract) Usia lebih dari 65 tahun

2.7. Penatalaksanaan Pengobatan terhadap katarak adalah pembedahan. Pembedahan dilakukan apabila tajam penglihatan sudah menurun sedemikian rupa sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari atau bila katarak ini menimbulkan penyulit seperti glaucoma dan uveitis. 6 Metode operasi yang umum yang dipilih untuk katarak dewasa atau ankbesar adalah dengan meninggalkan bagian posterior kapsul lensa sehingga dikenal sebagai ekstraksi katarak ekstrakapsular (EKEK). Sehingga, berdasarkan integritas dari kapsula lensa posterior, terdapat dua tipe utama operasi lensa, yaitu ekstraksi katarak intrakapsular (EKIK) dan ekstraksi katarak ekstrakapsular (EKEK).5 Ekstraksi katarak ekstrakapsular - Meninggalkan bagian posterior kapsul lensa - Penanaman lensa intraokular merupakan bagian dari prosedur ini - Insisi dibuat pada limbus atau kornea perifer, bagian superior atau Temporal Pada EKEK bentuk ekspresi nucleus, nucleus lensa dikeluarkan dalam keadaan utuh, tetapi prosedur ini memerlukan insisi yang relatif besar. Korteks lensa disingkirkan dengan penghisapan manual atau otomatis. Ekstraksi katarak intrakapsular 10

- Mengangkat seluruh lensa berikut kapsulnya - Sudah jarang dilakukan Insiden terjadinya ablation retina pascaoperasi jauh lebih tinggi dengan tindakan ini daripada dengan pasca bedah ekstrakapsular, namun bedah intrakapsular tetap merupakan suatu prosedur yang berguna, khususnya bila tidak tersedia fasilitas untuk melakukan bedah ekstrakapsular. Fakoemulsifikasi - Bagian dari teknik EKEK yang saat ini paling sering digunakan - Menggunakan vibrator ultrasonik genggam untuk menghancurkan nukleus yang keras hingga substansi nucleus dan korteks dapat diaspirasi melalui suatu insisi berukuran sekitar 3 mm. - Menggunakan foldable intraocular lens Keuntungan-keuntungan dari tindakan bedah insisi kecil : a. Kondisi intraoperasi lebih terkendali b. Menghindari penjahitan c. Perbaikan luka yang lebih cepat dengan derajat distorsi kornea yang lebih rendah d. Mengurangi peradangan intraocular pascaoperasi e. Rehabilitasi penglihatan lebih singkat Selain keuntungan-keuntungan di atas, teknik fakoemulsi juga menimbulkan risiko lebih tinggi untuk terjadinya pergeseran materi nukleus ke posterior melalui suatu robekan kapsul posterior, sehingga dibutuhkan tindakan vitreoretina yang komplek.5 2.8. Perawatan Pascaoperasi Jika digunakan teknik insisi kecil, masa penyembuhan pascaoperasi biasanya lebih pendek. Pasien umumnya boleh pulang pada hari operasi, tetapi dianjurkan untuk bergerak hati-hati dan menghindari mengangkat benda berat selama kurang lebih satu bulan. 5

2.9. PTERIGIUM 11

2.9.1. Definisi Merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif. Pertumbuhan ini biasanya terletak pada celah kelopak bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang meluas ke daerah kornea. Pterigium berbentuk segitiga dengan puncak di bagian sentral atau di daerah kornea. Pterigium mudah meradang dan bila terjadi iritasi, maka bagin pterigium akan berwarna merah. Pterigium dapat mengenai kedua mata. 6 2.9.2. Epidemiologi Umumnya terjadi pada usia 20-30 tahun dan sering terdapat pada orang yang sebagian besar hidupnya berada di lingkungan tropis 6 2.9.2. Klasifikasi Pterigium Tipe 1 Meluas kurang dari 2 mm di atas kornea. Timbunan besi (ditunjukkan dengan Stocker line) dapat terlihat di epitel kornea bagian anterior/depan pterigium. Lesi ini bersifat asimptomatis, meskipun sebentar-sebentar dapat meradang (intermittently inflamed). Jika memakai soft contact lens, gejala dapat timbul lebih awal karena diameter lensa yang luas bersandar pada ujung kepala pterigium yang sedikit terangkat dan ini dan ini menyebabkan iritasi. 3 Tipe 2 Melebar hingga 4 mm dari kornea, dapat kambuh (recurrent) sehingga perlu tindakan pembedahan. Dapat mengganggu precorneal tear film dan menyebabkan astigmatisme 3 Tipe 3 Meluas hingga lebih dari 4 mm dan melibatkan daerah penglihatan. Lesi/jejas yang luas (extensive), jika kambuh dapat berhubungan dengan fibrosis subkonjungtiva dan meluas hingga ke fornix yang terkadang dapat menyebabkan keterbatasan pergerakan mata 3

12

Gambar 2.5.7 Pterygium

2.9.2. Faktor Predisposisi Pterigium diduga disebabkan oleh iritasi kronis akobat debu, cahaya sinar matahari (sinar UV), dan udara yang panas. Etiologinya tidak diketahui dengan jelas dan di duga merupakan suatu neoplasma, radang, dan degenerasi. 6 2.9.3. Tanda dan Gejala Pterigium dapat tidak memberikan keluhan atau akan memberikan keluhan mata iritatif, merah, dan mungkin menimbulkan astigmatisme yang akan memberikan keluhan gangguan penglihatan. Pterigium dapat disertai keratitis pungtata dan dellen (penipisan kornea akibat kering), dan garis besi ( iron line dari Stocker) yang terletak di ujung pterigium. 6 2.9.4. Diagnosis Banding Diagnosis banding pterigium adalah pseudopterigium, pannus, dan kista dermoid.6 2.9.5. Penatalaksanaan Pengobatan tidak diperlukan karena sering bersifat rekure, terutama pada pasien yang masih muda. Bila pterigium meradang dapat diberikan steroid atau tetes mata dekongestan. Pengobatan pterigium adalah dengan konservatif atau dilakukan pembedahan bila terjadi gangguan penglihatan akibat terjadinya astigmatisme irregular atau pterigium yang telah menutupi media penglihatan.6

BAB III

13

LAPORAN KASUS

3.1

Identitas Nama Jenis kelamin Usia Alamat Pekerjaan Agama/Suku No. Register : Tn. M. R : Laki-laki : 50 tahun : Dsn. Pasarean Pasuruan : Swasta : Islam/Jawa : 10343192

Tgl. Pemeriksaan : 23 Desember 2010

3.2

Anamnesa (Autoanamnesa dan Heteroanamnesa)

3.2.1 Keluhan utama Keluhan utama pasien ini adalah penglihatan kabur. Penglihatan kabur dirasakan pasien pertama kali sejak 1 tahun yang lalu. Pasien mengatakan penglihatannya tiba-tiba seperti berkabut (berselaput) tanpa sebab yang jelas. Sejak pandangan kabur tersebut pasien mengatakan jika pandangannya sering silau jika membaca diruangan bercahaya dan merasa lebih baik jika pasien berada pada ruangan yang agak gelap. Hal ini terjadi secara periodik (hilang timbul). Setelah kejadian tersebut pasien berinsiatif membeli kaca mata baca di sekitar rumahnya, menurut pasien agak membaik. Setelah hari raya, mata sebelah kanan pasien menjadi sangat kabur sekali, pasien mengatakan kabutnya semakin menebal secara cepat. Pasien berinsiatif membeli obat tetes mata Aito di pasar, tapi menurut pasien tidak ada perubahan. Pasien mengatakan dalam waktu 3 bulan pasien sudah tidak dapat melihat lingkungan sekitar, tapi masih dapat membedakan siang hari (terang) atau malam hari (gelap). Pasien juga mengatakan sejak 3 bulan terakhir mata sebelah kanan sering merah dan terasa mengganjal. Mata merah menurut pasien muncul tiba-tiba dan hilang dengan 14

sendirinya, terkadang disertai rasa gatal pada mata kanan pasien. Pasien menyangkal adanya riwayat terbentur sesuatu sebelumnya. Mata mengganjal dirasakan 3 bulan bersamaan dengan mata merah. Pada saat mata merah muncul pasien merasakan panas dan cenut-cenut. Setalah mata merah mereda keluhan-keluhan tersebut juga ikut hilang. 3.2.2 Riwayat Terapi Pasien sempat meneteskan obat Aito yang diperoleh dari apotek sekitar. Pasien menggunakan 3x sehari selama 1 minggu tapi tidak terjadi perubahan. Pasien sempat menggunakan kacamata baca tanpa resep dokter mata yang digunakan sejak timbul keluhan, tetapi keluhan tidak membaik, Pasien pernah berobat ke RS. Bangil untuk memeriksakan ke SpM dinyatakan sakit katarak serta dirujuk untuk operasi, namun pasien menolak baru dating ke RSU. Saiful Anwar 3 bulan setelah hari raya. Dari RSU. Bangil pasien mengatakan mendapatkan obat tetes (namanya tidak tahu) digunakan 3x sehari selama 2 bulan 3.2.3 Riwayat Penyakit Terdahulu Pasien menyangkal pernah mengalami hal serupa sebelumnya. Riwayat menggunakan kacamata sebelum mncul keluhan juga disangkal. Pasien mendierita Diabetes tipe II 5 tahun, pasien tidak rutin mengkonsumsi obat diabetesnya. Pasien juga jarang memeriksakan kadar gula darahnya. Pasien pernah MRS di RSU. Bangil karena kadar gula darahnya 550 mg/l (setelah lebaran). Menurut pasien hal tersebut dapat terjadi karena psien tidak mampu mengngontrol konsumsi makan yang selama lebaran. 3.2.4 Riwayat Kontak Riwayat kontak dengan penderita marah sebelumnya disangkal oleh penderita.

15

3.2.5 Pemeriksaan Fisik

5/12

VISUS POSISI BM Orthoporia GERAKAN BM

1/300

Oedem (-), spasme (-) CI (-), PCI (-) Jernih, jaringan fibrovascular (+) Dalam Rad line (+) Bulat, 3mm, RP (+),

PALPEBRA CONJUNCTIVA CORNEA

Oedem (-), spasme (-) Hiperemis, CI (-), PCI (-) Jaringan fibrovaskuler (+) > limbus, fluorecen (-) Dalam Rad line (+) Bulat, 3mm, RP (+),Irish shadow (-) Keruh rata n/p

C.O.A. IRIS PUPIL

Keruh tidak rata n/p

LENSA T.I.O.

16

3.2.6 Assesment OD Katarak Br.Gr. II + Pterigium Gr. I OS Katarak Br. Gr. IV + Pterigium Gr. III

3.2.7 Planning Theraphy ODS Anti-steroid topical. KIE operasi katarak dan pterigium

3.2.8 Planning Edukasi Memberitahukan kepada pasien bahwa penyakit yang diderita adalah katak matur. Katarak dapt disebabkan salah satunya oleh kerana kompilikasi dari DM tipe II dan aging proses. Pengobatan yang dapat diberikan pada pasien ini adalah dengan operasi untuk mengangkat lensa mata yang keruh dan diganti dengan lensa mata buatan sehingga mata pasien dapat kembali berfungsi, tetapi pasien juga harus mampu untuk menjaga kadar gula darah dengan cara mengkonsumsi obat DM secara rutin dan melakuakan cek up gula darah secara periodik.

17

BAB IV PEMBAHASAN

Pasien Tn. MR / 50 tahun datang ke poliklinik Ilmu Kesehatan Mata RSSA pada tanggal 23 Desember 2010 dengan keluhan utama mata kabur sebelah kanan. Pasien mengeluh mengalami kabur pada mata kanannya sejak sekitar 12 bulan (1 tahun) yang lalu, sedikit demi sedikit semakin kabur. Pasien dengan usia tua (50 tahun), disebutkan dalam literatur bahwa penuaan dalam jaringan tubuh akan terjadi seiring bertambahnya usia. Prevalensi katarak adalah sebesar 20% pada usia 45-65 tahun. Prevalensi ini meningkat pada usia 65-74 tahun menjadi 50%. Sebanyak 75% kasus katarak ditemukan pada pasien diatas 65 tahun keatas. Pasien ini dapat diklasifikasikan katarak senilis dimana dalam literatur semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut (diatas 50 tahun) dapat dikategorikan sebagai katarak senilis.4,5,8 Selain itu ditemukan penyulit bahwa pada pasien ini terdapat penyakit sistemik yaitu DM type II yang tidak terkontrol selama 3 bulan terakhir dan telah diderita selama 5 tahun.4,5 Dari hasil anamnesa didapatkan bahwa keluhan penglihatan kabur terjadi sekitar 12 bulan yang lalu, pasien mulai merasakan kabur pada mata kirinya, yang semakin memberat dalam 3 bulang terakhir, akan tetapi mata kirinya tidak mengalami keluhan apapun. Karakteristik katarak salah satunya adalah adanya riwayat penurunan penglihatan yang terjadi secara gradual dan progresif. 1 Gejala ini merupakan gejala paling umum pada kasus katarak. Pasien tidak mengeluhkan penglihatan yang menurun secara cepat. Abnormalitas yang mungkin menunjukkan adanya gangguan sistemik ataupun lokal yang menyebabkan pertumbuhan katarak adalah dengan adanya penurunan visus naturalis pada pasien dan ditemukannya kekeruhan pada lensa. Pada katarak imatur, maka refleks fundus masih positif. Refleks fundus akan hilang pada katarak matur. Dari klasifikasi Burrato grade II adalah visus 6/12 hingga 6/30, nukleus sedikit keras, tampak sedikit kekuningan, gambaran seperti katarak subkapsular posterior dan refleks fundus positif. Dan hasil klasifikasi Burrato Grade IV adalah reflek fundus negative, visus 3/60 sampai 1/300, nucleus keras 18

dan warna kuning kecoklatan. Hasil anamnesa dan gambaran klinis yang dimiliki oleh pasien menjadi dasar penegakkan diagnosa katarak OD Katarak Burrato grade II dan OS katarak Burrato Grade IV. Keluhan penglihatan berupa kabur, beberapa literatur menyatakan bahwa epitel lensa akan mengalami penuaan dan densitasnya akan menurun. Epitel lensa yang mengalami katarak mengalami pengurangan jumlah apoptosis sehingga terjadi penurunan signifikan pada densitas sel, namun akumulasi selsel epitel yang mati akan menyebabkan perubahan pada formasi serabut lensa dan homeostasisnya sehingga menyebabkan kekeruhan. Seiring dengan penuaan lensa, metabolit water-soluble low molecular weight dapat memasuki nukleus lensa lewat epitel dan korteks, disertai dengan penurunan rasio transfer cairan, nutrien dan antioksidan. Mekanisme lain yang turut berperan adalah konversi dari protein lensa soluble sitoplasmik dengan low molecular weight menjadi agregat solubel high molecular weight yang insoluble dan matriks protein membrane insolubel. Perubahan protein ini menimbulkan fluktuasi mendadak pada indeks refraksi lensa, sehingga terjadi pembiasan cahaya dan penurunan kejernihan lensa. Area lain yang diamati mencakup peran nutrisi dalam perkembangan katarak, sebagian berkaitan dengan kadar glukosa, mineral trace dan vitamin.9 Pasien diberikan planning edukasi berupa operasi ekstraksi katarak pada mata kanan yang diikuti dengan pemasangan lensa intra okular. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa pada katarak hanya dapat diatasi dengan melakukan pembedahan. Di harapkan mata kiri pasien setelah dilakukan operasi ekstraksi katarak dengan teknik phacoemulsifikasi yang diikuti pemasangan lensa intra okular didapatkan perbaikan visus yang signifikan. Literatur menyebutkan bahwa katarak yang kemudian dilakukan ekstraksi lensa dan pemasangan lensa intra okular dapat memberikan perbaikan visus yang baik dengan catatan tidak didapatkannya kelainan pada jaringan okular yang lain.
9.

Selain informasi tersebut pasien di anjurkan untuk kontrol gula darah secarah teratur agar dapat menguarangi kejadian rekurensin dari katarak. Hal ini sesuai dengan kondisi yang ada pada pasien. Masalah lain pada pasien ini adalah adanya jaringan fibrovaskular di kedua mata kanan dan kiri pasien. Dari anamnesa jaringan fibrovaskuler ini pertumbuhannya tidak diketahui karena gejala yang muncul dianggap ringan oleh 19

pasien. Gejala-gejala yang dirasakan pasien yaitu berupa mata merah yang berulang pada mata kanan dan kiri secara bergantian tapi lebih sering yang kanan, kemudian diikuti rasa kemeng-kemeng pada kedua mata dan ada perasaan mengganjal, dari anamnesa dan pemeriksaan fisik inilah kita dapat mendiangnosis ini suatu pterigium grade I pada mata kanan dan pterigium gr. III pada mata kiri. Peda pterigium ringan tidak diperlukan suatu terapi, tetapi pada pterigium yang lebih berat dapat diberikan terapi medikamentosa yaitu dengan memberikan obat anti-inflamasi topikal dan vasokonstriktor mata (dekongestan), sedangkan untuk terapi defitifnya berupa operasi ekstirpasi. Terapi ekstipasi ini perlu dilakukan pada pasien ini karena pada pasien ini pterigium kiri telah menjalar sampai 3 mm dari limbus, Pterigium juga sering memberikan keluhan mata merah yang berulang pada pasien ini dan untuk kebutuhan kosmetik dari pasien ini.6

20

BAB V PENUTUP

Telah dilaporkan suatu kasus mengenai OD Katarak Burrato grade II+Pterigium grade I dan OS Katarak Burrato grade IV + pterigium grade III Dari anamnesis dan pemeriksaan status oftalmologis pada pasien didapatkan hasil yang mendukung suatu diagnosa OD Katarak Burrato grade II+Pterigium grade II dan OS Katarak Burrato IV + Pterigium garde III. Penatalaksanaan katarak pada pasien ini adalah dengan melakukan ekstraksi lensa diikuti pemasangan lensa intra okular dan langkah tersebut telah memberikan perbaikan visus yang signifikan. Sedangkan penatalaksanan pterigium perlu dilakukan tindakan ekstirpasi untuk mengurangi gejal yang di timbulkan.

21

DAFTAR PUSTAKA 1. Anonimous. 2000. Katarak. http://www.indonesiaindonesia.com/f/13178 katarak/. Diakses : Sabtu, 18 Desember 210. Pukul : 17.30 WIB 2. Anonimous. 2008. Katarak. http://www.klinikmatanusantara.com/index.php? option=com_content&task=view&id=32&Itemid=9. Diakses : Sabtu, 18 Desember 2010. Pukul : 17.50 WIB. 3. Anurogo Dito. 2007. Tips Praktis memahami Pinguecula dan Pterygium. http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=3&dn=20071129225743. Diakses : Sabtu, 18 Desember 2010. Pukul : 17.45 WIB 4. Fajaru. 2008. Semua Tentang Katarak. http://kinton.multiply.com/reviews/item/5. Diakses : Sabtu, 18 Desember 2010. Pukul : 18.00 WIB 5.Harper, R.A. and J.P. Shock. 2008. Lens in P. Riordan-Eva and J.P. Whitcher (Eds). Vaughan and Ashbury General Ophtalmology. Mc Graw Hill Co, New York, p.169-177 6. Ilyas, S. 2008. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Balai Penerbit FKUI. Jakarta, hal: 200-211 7. Kanski, J. J. 2003. Clinical Ophtalmology, A Systematic Approach. Fifth Edition. Butterworth Heinemann. Edinburg, p:96 ; 286 8. Santosa Budi. 2010. Penegakkan Diagnosis pada Pasien Katarak Matur. http://www.fkumyecase.net/wiki/index.php? page=Penegakan+Diagnosis+Pada+Pasien+Katarak+Matur. Diakses : Sabtu, 18 Desember 2010. Pukul : 19.00 WIB. 9. Ocampo, Vicente V. D. 2009. Senile Cataract. http://emedicine.medscape.co m/article/1210914-overview.Diakses : Sabtu, 01 Januari 2011. Pukul 20.35 WIB

22

23