Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Fenomena krisis energi saat ini terjadi di seluruh dunia, meliputi krisis energi minyak bumi dan gas alam, bahan bakar fosil, serta energi listrik. Pemenuhan energi listrik di Indonesia menuju ambang kritis sejak tahun 2004, dimana pertumbuhan perekonomian mencapai lebih dari 5%, yang mendorong kebutuhan akan sumber energi primer terutama listrik juga semakin meningkat. Energi listrik merupakan kebutuhan primer yang vital untuk pembangunan ekonomi dan pembangunan sosial. Ketersediaan tenaga listrik yang mencukupi, andal, aman, dengan harga yang terjangkau merupakan faktor penting dalam rangka menggerakkan perekonomian yang dapat meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat. Penyediaan tenaga listrik dimaksud tidak terlepas dari pembangunan pembangkit tenaga listrik. Berdasarkan data historis, mulai pada tahun 2005, konsumsi energi final di sektor ketenagalistrikan mengalami peningkatan dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 7% per tahun. Dari total konsumsi energi final tersebut, sebagian besar disuplai dari pembangkit tenaga listrik yang menggunakan energi fosil yang merupkan energi tak terbarukan sebagai bahan bakar. Sebaliknya dalam kurun waktu yang sama pemanfaatan energi terbarukan belum optimal disebabkan energi terbarukan belum kompetitif dibanding dengan energi konvensional minyak bumi dan gas alam. Salah satu penyebab kurang berkembangnya pemanfaatan energi terbarukan adalah harga listrik yang dibangkitkan masih lebih tinggi daripada yang dibangkitkan dengan energi fosil. Untuk itu, perlu diusahakan agar dapat memanfaatkan sumber daya energi tak terbarukan secara bijaksana, sebaliknya mengusahakan pemanfaatan energi terbarukan secara optimal, sehingga pengurangan BBM dapat terlaksana. Kebijakan pemanfaatan energi primer setempat untuk pembangkit tenaga listrik dapat terdiri dari fosil (migas) maupun non-fosil (air, panas bumi, biomassa, angin, panas dan cahaya matahari, arus dan gelombang pasang surut laut, dan nuklir). Pemanfaatan energi primer tersebut memprioritaskan pemanfaatan energi terbarukan dengan tetap memperhatikan aspek teknis, ekonomi, dan keselamatan lingkungan hidup. Sedangkan kebijakan di sisi

pelaku usaha pembangkitan tenaga listrik antara lain: kebijakan diversifikasi energi untuk tidak bergantung pada satu sumber energi khususnya energi fosil. Sumber sumber energi tersebut di atas, perlu dioptimalkan berdasarkan kajian pemerintah mengenai Skenario Energi Mix Nasional dalam jangka waktu tertentu (2005-2025), yang tertuang dalam PerPres No. 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang mentargetkan peningkatan peran energi panas bumi menjadi 5% pada tahun 2025. Indonesia dengan potensi energi panas bumi terbesar di duni, secara geografis terletak di antara 6 LU 11 LS dan 95 BT - 141 BT, adalah peretemuan antara dua jalur pegunungan Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediteranian yang erat kaitannya dalam kerangka tektonik dunia, yang merupakan negara dengan potensi panas bumi terbesar didunia sebanyak 27000 MW. Sebanyak 252 lokasi panas bumi di Indonesia tersebar mengikuti jalur pembentukan gunung api yang membentang dari Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi sampai Maluku yang merupakan jalur mediteranian, dan potensi panas bumi di Jawa Barat adalah yang terbasar, tersebar di 44 lokasi dan 11 kabupaten. Potensi sebesar ini diharapkan dapat memenuhi target pengembangan panas bumi untuk membangkitkan energi listrik sebesar 6000 MWe di tahun 2025 . Jawa Barat sebagai propinsi dengan jumlah penduduk terbesar, yang merupakan salah satu pusat kegiatan industri manufaktur dan lokasi instalasi vital nasional (pendidikan, litbang dan hankam) serta berbatasan dengan Ibu Kota Negara merupakan daerah pengkonsumsi energi listrik yang terbesar dengan laju permintaan yang tinggi, dengan komposisi konsumsi menurut sektor: industri, rumah tangga, transportasi dan komersial. Seiring semakin berkembangnya perekonomian dan perencanaan pemerintahan daerah Jawa Barat terkait pembangunan ketersediaan dan kualitas infrastruktur wilayah khususnya rencana pembangunan, pengembangan wilayah, pemukiman, dan industri dan tingkat laju pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi maka diperlukan pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik Baru. Untuk itu pembangunan PLTP Subang 150 MW Di Gunung Tangkuban Perahu Jawa Barat Diharapkan mampu menyumbangkan pasokan daya sebesar 150 MW untuk mendukung kebutuhan energi listrik pada rencana

pembangunan tersebut, dan memberikan pengaruh terhadap tarif listrik regional Jawa Barat. 1.2 Permasalahan Permasalahan yang akan dibahas dalam Tugas Akhir ini adalah : 1. Latar belakang di bangunnya PLTP Subang 150 MW di Gunung Tangkuban Perahu Jawa Barat 2. Pemanfaatan potensi alam panas bumi sehingga bisa memberikan manfaat secara langsung untuk masyarakat kususnya berupa energi listrik 3. Bagaimana kebutuhan listrik di Jawa Barat dan kapasitas cadangan daya yang terpasang dari pembangkit saat ini dan tahun tahun mendatang 4. Kelayakan suatu pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi untuk memenuhi kebutuhan daya listrik yang meningkat tiap tahunnya di Jawa Barat. 5. Pengaruh pembangunan PLTP Subang 150 MW di Gunung Tangkuban Perahu Jawa Barat terhadap tariff listrik regional Jawa Barat 1.3 Batasan Masalah Karena ruang lingkup permasalahan yang sangat luas, maka dalam penulisan tugas akhir ini, permasalahan akan dibatasi pada : 1. Pembahasan mengenai kelayakan suatu pembangunan PLTP Subang 150 MW di Gunung Tangkuban Perahu Jawa Barat dan pengaruhnya terhadap tarif listrik regional Jawa Barat. 2. Pembahasan prinsip kerja pembangkitan PLTP hanya dibahas secara umum. 1.4 Tujuan Tujuan dari penulisan ini adalah mempelajari dan menganalisa pembangunan PLTP Subang 150 MW di Gunung Tangkuban Perahu Jawa Barat dalam usaha pemenuhan kebutuhan tenaga listrik di Jawa Barat dan pengaruhnya terhadap tarif listrik regional Jawa Barat melalui program 12000 MW.

1.5 Metodologi Adapun metode yang digunakan dalam penulisan tugas akhir ini adalah: 1. Metode pengumpulan data yaitu dengan studi literatur melalui data-data sekunder. 2. Pengumpulan data menggunakan pertumbuhan beban serta aspek ekonomis pembangkit dengan mengkaji data yang ada di Subang Gunung Tangkuban Perahu Jawa Barat. 3. Metode menganalisa data data yang ada. 4. Metode pengaruh pembangunan PLTP Subang 150 MW di Gunung Tangkuban Perahu Jawa Barat terhadap tarif listrik di Jawa Barat. 5. Solusi dan kesimpulan. 1.6 Sistematika Pembahasan Penulisan tugas akhir ini disusun dengan sistematika pembahasan sebagai berikut : a. Bab satu membahas mengenai latar belakang, permasalahan, batasan masalah, tujuan, metodologi, sistematika pembahasan, dan relevansi. b. Bab dua berisi Teori dasar sistem pembangkit tenaga listrik, jenis dan kualitas panas bumi, teknologi pembangkit tenaga listrik panas bumi, ekonomi teknik dan indek pembangunan manusia (IPM). c. Bab tiga berisi Data-data mengenai sistem tenaga listrik Propinsi Jawa Barat dan data untuk prediksi, data pembangkit tenaga listrik, kebutuhan sampai dengan tahun 2007. d. Bab empat berisi Analisa sistem ketenagalistrikan di Propinsi Jawa Barat dengan menggunakan metode Regresi dan metode DKL, analisa teknologi dan ekonomi pembangkitan berupa biaya investasi, biaya subsidi serta penentuan harga pokok penjualan energi listrik setelah pembangunan PLTP, analisa indek pembangunan manusia (IPM) dan pengaruh pembangunan PLTP Subang terhadap tarif listrik Jawa Barat. e. Bab lima merupakan penutup yang berisi kesimpulan dan rekomendasi sehubungan dengan penulisan tugas akhir ini 1.7 Relevansi Dari hasil pembahasan Pembangunan PLTP Subang 150 MW di gunung Tangkuban Perahu Jawa Barat ini, maka

diharapkan dapat memberikan masukan untuk PT. PLN, Pemerintah daerah ataupun pihak swasta untuk memanfaatkan Panas Bumi sebagai bahan bakar ramah lingkungan dari PLTP guna mengatasi krisis listrik di Jawa kususnya Jawa Barat dan pengaruhnya terhadap tarif listrik regional Jawa Barat, dan guna mengatasi krisis BBM sekaligus krisis Energi Listrik. Selain itu diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan informasi tentang proyeksi kondisi supply dan demand di Jawa Barat pada tahun-tahun mendatang sehingga krisis tenaga listrik dapat diantisipasi sejak dini sekaligus mengatasi krisis Energi Listrik di Indonesia dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan hidup.

Halaman Ini Sengaja Dikosongkan

Anda mungkin juga menyukai