Anda di halaman 1dari 25

SEJARAH MEDIKO-LEGAL

2980-2900 SM : IMHOTEP 1700 SM : HAMMURABI 1400 SM : HITTITES 44 SM : ANTHITIUS, JULIUS CAESAR, FORUM 600 M : MING YUANG SHIH LU 1241-1253 M : Kematian yg mencurigakan : Record of Washing Away of Wrongs (Cina) 1302 M : Autopsi Medikolegal di Bologna 1823 M : SIDIK JARI 1958 M : Patologi Forensik sebagai spesialis

Prosedur mediko-legal

Prosedur mediko-legal adalah tata-cara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek yang berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum.Secara garis besar prosedur mediko-legal mengacu kepada peraturan perundangundangan yang berlaku di Indonesia, dan pada beberapa bidang juga mengacu kepada sumpah dokter dan etika kedokteran

LINGKUP PROSEDUR MEDIKO-LEGAL pengadaan visum et repertum, tentang pemeriksaan kedokteran terhadap tersangka. pemberian keterangan ahli pada masa sebelum persidangan dan pemberian keterangan ahli di dalam persidangan, kaitan visum et repertum dengan rahasia kedokteran, tentang penerbitan Surat Keterangan Kematian dan Surat Keterangan Medik , tentang fitness / kompetensi pasien untuk menghadapi pemeriksaan penyidik,

AUTOPSI FORENSIK DALAM PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA MENURUT KUHAP A. Autopsi Forensik 1. Definisi Autopsi Autopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat, yang meliputi pemeriksaan terhadap bagian luar maupun dalam, dengan tujuan menemukan proses penyakit dan atau adanya cedera, melakukan interpretasi atas penemuan-penemuan tersebut, menerangkan penyebab kematian serta mencari hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian 2. Jenis Autopsi Berdasarkan Tujuan a. Autopsi Klinik Dilakukan terhadapat mayat seseorang yan diduga terjadi akibat suatu penyakit. Tujuannya untuk menentukan penyebab kematian yang pasti, menganalisis kesesuaian antara diagnosis klinis dan diagnosis postmortem, patogenesis penyakit, dan sebagainya. Untuk autopsi ini mutlak diperlukan izin keluarga terdekat mayat tersebut. Sebaiknya autopsi klinik dilakukan secara lengkap, namun dalam keadaan amat memaksa dapat juga dilakukan autopsi parsial atau needle necropsy terhadap organ tertentu meskipun pada kedua keadaan tersebut kesimpulannya sangat tidak akurat b. Autopsi Forensik/Medikolegal Dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga meninggal akibat suatu sebab tidak wajar seperti pada kasus kecelakaan, pembunuhan, maupun bunuh diri. Tujuan pemeriksaan autopsi forensik adalah untuk: 1) Membantu penentuan identitas mayat 2) Menentukan sebab pasti kematian, mekanisme kematian, dan saat kematian 3) Mengumpulkan dan memeriksa benda bukt i untuk penentuan identitas benda penyebab dan pelaku kejahatan 4) Membuat laporan tertulis yang objektif berdasarkan fakta dalam bentuk visum etrepertum Autopsi forensik harus dilakukan sedini mungkin, lengkap, oleh dokter sendiri, dan seteliti mungkin c. Autopsi Anatomi Dilakukan terhadap mayat korban meninggal akibat penyakit, oleh mahasiswa kedokteran dalam rangka belajar mengenai anatomi manusia. Untuk autopsi ini diperlukan izin dari korban (sebelum meninggal) atau keluarganya. Dalam keadaan darurat, jika dalam 2 x 24 jam seorang jenazah tidak ada keluarganya maka tubuhnya dapat dimanfaatkan untuk autopsi anatomi

3. Faktor-faktor penghambat autopsi forensic Berdasarkan kenyataannya pihak kepolisian terdapat beberapa hambatan-hambatan didalam melaksanakan autopsi kehakiman antara lain a. Masyarakat kurang mengerti akan autopsi itu sendiri b. Masyarakat kurang mengerti tentang administrasi autopsy Apabila pihak polisi menghadapi tuntutan / hambatan dari pihak keluarga korban, maka petugas porli yang mengadakan pengusutan dalam perkara tersebut selalu berusaha dengan menjelaskan dan menyadarkan pihak keluarga korban akan perlu pentingnya autopsi yang hanya dapat dibuat berdasarkan hasil bedah mayat tersebut akan digunakan sebagai alat pembuktian dalam usaha mencari pembuktian kebenaran materiil dalam peristiwa yang menyangkut si korban. tetapi biasanya keluarga koban memberikan alasan agama melarang pembedahan terhadap mayat, tetapi kalau kematiannya tidak wajar bahwa sangat mencurigakan walaupun keluarganya menolak dilakukan autopsi polisi akan tetap memaksa kalau perlu ditunjukkan hukumnya yakni pasal 222 KUHP. Jadi perbuatan yang dilarang adalah perbuatan yang mempunyai tujuan untuk merintangi penegak hukum dalam pemeriksaan atas suatu kejahatan dalam hal mana pemeriksaan mayat, pada umumnya dilakukannya pembedahan mayat itu terhadap tanta-tanda atau petunjukpetunjuk bahwa kematian seseorang adalah sebagai akibat dari perbuatan / tindakan kekerasan. ketentuan ini tidak hanya diperlukan terhadap mayat yang belum dikubur yang digali kembali untuk pemeriksaan. oleh karena itu demi kelancaran pengadaan bedah mayat atau biasa disebut visum et repertum jenazah untuk kepentingan peradilan, Visum et repertum adalah keterangan yang dibuat oleh dokter atas permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap manusia, baik hidup atau mati ataupun bagian atau diduga bagian dari tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah, untuk kepentingan peradilan Sedangkan peranan dan fungsi visum et repertum adalah salah satu alat bukti yang sah sebagaimana tertulis dalam pasal 184 KUHAP. Visum et repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia. Visum et repertum menguraikan segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medik yang tertuang di dalam bagian Pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap sebagai pengganti benda bukti. Visum et repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter mengenai hasil pemeriksaan medik tersebut yang tertuang di dalam bagian Kesimpulan Dengan demikian visum et repertum secara utuh telah menjembatani ilmu kedokteran dengan ilmu hukum, sehingga dengan membaca Visum et Repertum, dapat diketahui dengan jelas apa yang telah terjadi pada seseorang dan para praktisi hukum dapat menerapkan norma-norma hukum pada perkara pidana yang menyangkut tubuh/jiwa manusia.

Apabila visum et repertum belum dapat menjernihkan duduknya persoalan di sidang Pengadilan, maka hakim dapat meminta keterangan ahli atau diajukannya bahan baru, seperti yang tercantum dalam KUHAP, yang memberi kemungkinan dilakukannya pemeriksaan atau penelitian ulang atas barang bukti, apabila timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasehat hukumnya terhadap suatu hasil pemeriksaan (ps 180 KUHAP) Maka dari itu dikeluarkan Intruksi kapolri No.pol: Ins / E / 20 /IX / 1975 tentang tata cara permohonan / pencabutan visum et repertum yang pada pokoknya berisi ketentuan-ketentuan administrasi yang harus ditempuh dalam permohonan pencabutan visum et repetum jenazah yaitu : Bahwa permintaan visum et repertum terhadap mayat atau visum et repertum susulan setelah seseorang meninggal dunia tidak dibenarkan dengan pemeriksaan luar saja. Bila keluarga korban keberatan maka kewajiban polri menjelaskan secara persuasive arti penting dari bedah mayat dan bila perlu dapat menggunakan pasal 222 KUHP a. Pada dasarnya tidak dibenarkan pencabutan kembali visum et repertum kecuali bila terpaksa dan hal ini hanya boleh dilakukan oleh pejabatpejabat tertentu saja. b. Petugas C4, pemeriksa wajib dating menyaksikan dan mengikuti jalannya pemeriksaan mayat oleh dokter. c. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan pada waktu dokter melakukan bedah mayat perlu dilakukan pengamanan oleh polri setempat. Salah satu aspek penting yang dapat mempengaruhi kelancaran proses autopsi kehakiman di pengadilan adalah aspek kesadaran masyarakat sendiri, kenyatan praktek membuktikan bahwa masyarakat Indonesia sebagian masih blum dapat menerima, pemeriksaan bedah mayat yang sering dugunakan sebagai alasan untuk menolak autopsi oleh keluarga korban adalah agama/adapt yang mana membedah berarti tidak menghormati jenazah untuk kepentingan peradilan dibolehkan. terdapat dalam Surat Edaran Fatwa No.4 tahun 1955. Sebagai alasan pembenaran terhadap tindakan yang dianggap tidak menghormati jenazah sekaligus mengilangkan keragu-raguan umat untuk dapat memahami permasalahannya dengan jelas. Maka wajarlah bila seseorang cenderung untuk mempertahankan pendapat atau keyakinannya bahwa pembedahan terhadap mayat merupakan hal terlarang, jenazah itu harus dihormati. namun demikian dalam ketentuan pasal 222 KUHP dan pasal 133, 134, 135 KUHAP merupakan hukum nasional maka ketentuan-ketentuan hukum inilah yang harus dipergunakan untuk dilaksanakan bagi seluruh warga Indonesia. 4. Dasar Hukum Autopsi Forensik Beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur pekerjaan dokter dalam membantu peradilan: Pasal-pasal KUHAP yang mengatur tentang produk dokter yang

sepadan dengan visum et repertum adalah pasal 186 dan 187, yang berbunyi : a. Pasal 186 Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan. b. Pasal 187 Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya. Keduanya termasuk ke dalam alat bukti yang sah sesuai dengan ketentuan dalam KUHAP Pasal 184, Alat bukti yang sah adalah : a. Keterangan saksi b. Keterangan ahli c. Surat d. Petunjuk e. Keterangan terdakwa Dari pasal-pasal di atas tampak bahwa yang dimaksud dengan keterangan ahli maupun surat (butir c) dalam KUHAP adalah visum et repertum. a. Pasal 133 KUHAP a) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. b) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. c) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yg memuat identitas mayat diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat. b. Pasal 134 KUHAP a) Dalam hal sangat diperlukan di mana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga korban. b) Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan sejelas-jelasnya tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut. c) Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak yang perlu diberitahu tidak ditemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini. c. Pasal 179 KUHAP a) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan. b) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa

mereka mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang sebenarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya. d. Pasal KUHP 222: Yang menyatakan barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat forensik, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah e. Fatwa Kedokteran (Majelis Ulama Indonesia) : Di samping soal teknis metodologi, terbukti pula bahwa Ulama Indonesia dalam merumuskan dan menetapkan fatwa terikat oleh beberapa faktor. Pada umumnya setiap fatwa atas satu isu terikat oleh beberapa faktor atau ciri, salah satunya yaitu berkaitan dengan lebih mementingkan kebutuhan orang hidup daripada kehormatan orang mati. Fatwa tentang bolehnya donor organ, transplantasi organ manusia, bedah mayat untuk pendidikan dan pengadilan, dan autopsi terkait dengan faktor ini. 5. Kewenangan Melakukan Autopsi Autopsi dikerjakan oleh dokter umum di Rumah Sakit pemerintah dan tiap dokter harus dapat melaksanakannya. Seorang ahli ilmu kedokteran kehakiman ialah seorang dokter yang telah memperoleh keterangan keahlian (bravet) dan biasanya mereka bekerja di fakultas kedokteran di kota-kota besar dan jumlahnya hanya beberapa orang saja kedudukan dokter umum dan dokter ahli kedokteran kehakiman menurut hukum adalah sama, mereka itu adalah seorang ahli 1 keterangan ahli surat keterangan dokter. Kebanyakan dokter umum merasa dirinya bukan ahli, sedangkan ia dalah seorang ahli dalam hal ini tidak ada alasan bagi dokter menganggap dirinya bukan ahli, dan harus melakukannya sebagai ahli, sedangakan polisi kurang memahami arti autopsi untuk menentukan sebab kematian dari luar saja. selain itu meskipun polisi memahami arti autopsi, ia kadang-kadang tidak dapat mengatasi desakan keluarga jenazah agar tidak dapat dilakukan autopsi dan jalan yang paling mudah ialah melemparkan kesulitan tersebut kepada dokter adakalanya keluarga jenazah dihadapkan polisi menerima penjelasan manfaat autopsi dan menyetujuinya tetapi setelah kemabali d RS lalu ia menolak.2 Padahal seharusnya pihak keluarga tidak boleh mencegak atau menolak dilakukannya autopsi. karena dalam pasal 222 KUHP sudah di jelaskan. barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat forensik, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah B. Pembuktian 1. Definisi Pembuktian Pembuktian dalam hukum acara pidana (KUHAP) dapat diartikan sebagai upaya mendapatkan keterangan-keterangan melalui alat-alat bukti dan barang bukti guna memperoleh suatu keyakinan atas benar tidaknya perbuatan pidana yang didakwakan serta dapat mengtahui ada tidaknya kesalahan pada diri terdakwa. Menurut Bambang Poernomo pembuktian adalah suatu pembuktian

menurut hukum pada dasarnya merupakan proses untuk menentukan substansi atau hakekat adanya fakta-fakta yang diperoleh melalui ukuran yang layak dengan pikiran yang logis terhadap fakta-fakta pada masa lalu yang tidak terang menjadi fakta-fakta yang terang dalam hubungannya perkara pidana.4 Menurut Yahya Harahap pembuktian adalah ketentuan yang membatasi sidang pengadilan dalam usahanya mencari dan mempertahankan kebenaran.5 Mencarai suatu pembukitian dalam pemecahan permasalahan dapat menyangkut berbagai hal yang menjadi alat ukur dalam menyelenggarakan pekerjaan pembuktian Adapun alat ukur tersebut antara lain adalah : a. Bewijsgronden yaitu dasar-dasar atau prinsip-prinsip pembuktian yang tersimpul dalam pertimbangan keputusan pengadilan b. Bewijsmiddelen yaitu alat-alat pembuktian yang dapat digunakan hakim untuk memperoleh gambaran tentang terjadinya perbuatan pidana yang sudah lampau. c. Bewijsvoering yaitu penguraian cara bagaimana menyampaikan alat-alat bukti kepada hakim disidang pengadilan d. Bewijskracht yaitu kekuatan pembuktian dari masing-masing alat bukti dalam rangakaian penilaian terbuktinya suatu dakwaan. e. Bewijslast yaitu beban pembuktian yang diwajibkan oleh undang-undang untuk membuktian tentang dakwaan di muka sidang pengadilan. 2. Sistem Pembuktian perkara Pidana Didalam hukum pidana di kenal beberapa macam, pembuktian yang menjadi pegangan bagi hakim didalam melakukan pemeriksaan terhadap terdakwa disidang pengadilan berdasarkan praktek peradilan pidana. Dalam perkembangannya.dikenal ada 4 (macam) sistem atau teori pembuktian. adapun teori-teori tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :6 a. Conviction Intime Sistem ini dapat diartikan sebagai pembuktian berdasarkan keyakinan hakim belaka, sistem ini lebih memberikan kebebasan kepada hakim untuk menjatuhkan suatau putusan. Tidak ada alat bukti yang dikenal selain alat bukti berupa keyakinan seorang hakim b. Conviction Rasionne Sistem pembuktian yang tetap menggunakan keyakinan hakim tetapi keyakinan hakim didasarkan pada alasan-alasan (reasoning) yang rasional Berbeda dengan sistem conviction intime dalam sistem ini hakim tidak lagi memiliki kebebasan untuk menentukan keyakinannya, keyakinannya itu harus diikuti dengan alasan-alasan yang mendasari keyakinannya itu dan alasan-alasan itupun haris (reasonable) yakni berdasarkan alasan yang dapat diterimah oleh akal pikiran. c. Positief Wetlelijk Bewijstheorie adalah sistem pembuktian berdasarkan alat bukti menurut UU secara positif . pembuktian menurut sistem ini dilakukan dengan

menggunakan alat-alat bukti yang sebelumnya telah ditentukan dalam UU untuk menetukan ada tidaknya kesalahan seseorang, hakim harus mendasarkan pada alat-alat bukti yang tersebut dalam UU jika alat bukti tersebut telah terpenuhi, maka hakim sudah cukup beralasan untuk menjatuhkan putusannya tanpa harus timbul keyakinan terlebih dahulu atas kebenaran ala-alat bukti yang ada. d. Negatif Wetlelijk Bewijstheorie Pembuktian berdasarkan UU secara negatif adalah pembuktian yang selain menggukana alat-alat bukti yang dicantumkan didalam Undang-undang juga menggunakan keyakinan hakim, sekalipun menggunakan keyakinan hakim yang mana keyakinan tersebut terbatas pada alat bukti yang tercantum dalam Undang-undang. C. Macam-macam Alat Bukti dalam KUHAP Alat Bukti diatur dalam Pasal 184 KUHAP, yaitu: a. Keterangan saksi; b. keterangan ahli; c. surat; d. petunjuk; e. keterangan terdakwa. Dalam ketentuan pasal 184 tersebut ternyata keterangan ahli termasuk sebagai salah satu alat bukti yang sah. sedangkan dalam Pasal 1 butir 28 KUHAP menyatakan bahwa keterangan yang diberikan oleh seseorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang sesuatu perkara pidana guna kepentingan umum.. Selanjutnya dalam Pasal 186 KUHAP disebutkan: keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan. penjelasan pasal 186 KUHAP ini adalah bahwa keterangan ahli dapat juga sudah diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan dibuat dengan mengingat sumpah pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum maka pada pemeriksaan di sidang pengadilan diminta untuk memberikan keterangan dan dicatat dalam berita acara pemeriksaan (BAP). Keterangan tersebut diberikan setelah ia mengucapkan sumpah atau janji dihadapan hakim. Demikian juga pemeriksaan pasal 133 ayat (1) KUHAP bahwa keterangan diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli, sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan. Yang menjadi pertanyaan sekarang ini adalah apakah dari dokter sebagai seorang ahli dapat berperan sebagai alat bukti? tentu saja dalam hal ini tergantung dari cara dokter dalam memberikan keterangannya. apabila persyaratan yang di berikan terpenuhi maka keterangan dokter tersebut dapat berperan sebagai alat bukti yang sah, tetapi apabila persyaratan itu tidak terpenuhi maka keterangan tersebut tidak dapat berlaku sebagai alat bukti. Ada beberapa kemungkinan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dari keterangan dokter pada sidang pengadilan antara lain sebagai berikut : a. Sebagai alat bukti a) Alat bukti surat, dalam hal ini keterangan itu di berikan secara tertulis dengan mengingat sumpah. b) Alat bukti keterangan ahli, dalam hal ini di berikan secara lisan di

sidang pengadilan dengan sumpah / janji.


.

b. Sebagai keterangan yang disamakan nilainya dengan alat bukti Pengertiannya adalah dalam hal keterangan dokter dibawah sumpah dihadapan penyidik, dibacakan di sidang pengadilan karena dokter meninggal dunia atau karena halangan yang sah tidak dapat hadir atau tidak di panggil karena jauh tempat tinggalnya atau karena sebab lain yang berhubungan dengan kepentingan Negara. c. Sebagai keterangan yang dapat menguatkan keyakinan hakim Maksudnya sebagai keterangan yang menguat kan keyakinan hakim dalam hal keterangna dokter itu di berikan secara lisan di sidang pengadilan tanpa sumpah / janji karena dokter tetap menolak mengucapkannya. Syarat sahnya keterangan ahli yaitu :8 a) keterangan diberiakan kepada ahli b) memiliki keahlian khusus dalam bidang tertentu c) menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya d) diberikan dibawah sumpah Keterangan ahli sebagai alat bukti yang sah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : a) dengan cara meminta keterangan ahli pada taraf penyidikan sebagaimana pasal 133 KUHAP. menurut pasal ini keterangan ahli diberikan secara tertulis melalui surat. atas permintaan ini ahli menerangkan hasil pemeriksaannya dalam bentuk laporan. b) keterangan diberikan secara lisan dan langsung di pengadilan (pasal 179 dan 186 KUHAP). pada prinsipnya alat bukti keterangan ahli tidak mempunyai nilai kekuatan pembutian yang mengikat dan menentukan. dengan demikian nilai keterangan pembuktian keterangan ahli sama dengan nilai kekuatan yang melekat pada alat bukti keterangan saksi namun penilaian hakim harus benar-benar bertanggung jawab atas landasan moril demi terwujudnya kebenaran materill. Jadi hasil pemeriksaan autopsi kehakiman yang dituangkan kedalam suatu bentuk tertulis yang lazimnya disebut dengan visum et repertum, juga dikelompokkan sebagai alat bukti surat, yang menuntut pasal 184 KUHAP termasuk kepada sebagai salah satu alat bukti yang sa, oleh karena itu hasil dari autopsi kehakiman yang dinamakan visum et repertum jenazah mempunyai peranan penting dalam proses pemeriksaan perkara pidana di pengadilan baik bagi keluarga korban terdakwa maupun bagi para penegak hukum khususnya hakim. Bagi keluarga korban dengan diadakannya visum terhadap tubuh nayat korban maka akan mengetahui dengan jelas sebab-sebab kematiannya apakah korban mati akibat dan peristiwa kejahatan atau mati dengan wajar, misalnya mendapat serangan jantung secara mendadak sehingga dalam hal ini apabila si korban itu ternyata mati akibat dari peristiwa kejahatan ( berdasarkan hasil pemeriskaan tubuh mayat ) maka si penjahat segera diselidiki dan dikejar segala salah sangka yang timbul didalam hati mereka dapat dihilangkan.

DEFINISI DAN DASAR HUKUM VeR Visum et Repertum adalah keterangan tertulis yang dibuat dokter atas permintaan tertulis (resmi) penyidik tentang pemeriksaan medis terhadap seseorang manusia baik hidup maupun mati ataupun bagian dari tubuh manusia, berupa temuan dan interpretasinya, di bawah sumpah dan untuk kepentingan peradilan.2 Menurut Budiyanto et al, dasar hukum Visum et Repertum adalah sebagai berikut:2 Pasal 133 KUHAP menyebutkan: (1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. (2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. Penyidik yang dimaksud di sini adalah penyidik sesuai dengan pasal 6(1) butir a, yaitu penyidik yang pejabat Polisi Negara RI. Penyidik ini adalah penyidik tunggal bagi pidana umum, termasuk pidana yang berkaitan dengan kesehatan dan jiwa manusia. Oleh karena visum et repertum adalah keterangan ahli mengenai pidana yang berkaitan dengan kesehatan jiwa manusia, maka penyidik pegawai negeri sipil tidak berwenang meminta visum et repertum, karena mereka hanya mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing (Pasal 7(2) KUHAP).2 Sanksi hukum bila dokter menolak permintaan penyidik, dapat dikenakan sanki pidana : Pasal 216 KUHP : Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasar- kan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau mengga-galkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah. PERANAN dan FUNGSI VeR Visum et repertum adalah salah satu alat bukti yang sah sebagaimana tertulis dalam pasal 184 KUHP. Visum et repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia, dimana VeR menguraikan segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medik yang tertuang di dalam bagian pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap sebagai pengganti barang bukti.2 Visum et repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter mengenai hasil pemeriksaan medik tersebut yang tertuang di dalam bagian kesimpulan. Dengan demikian visum et repertum secara utuh telah menjembatani ilmu kedokteran dengan ilmu hukum

sehingga dengan membaca visum et repertum, dapat diketahui dengan jelas apa yang telah terjadi pada seseorang, dan para praktisi hukum dapat menerapkan norma-norma hukum pada perkara pidana yang menyangkut tubuh dan jiwa manusia.2 Apabila visum et repertum belum dapat menjernihkan duduk persoalan di sidang pengadilan, maka hakim dapat meminta keterangan ahli atau diajukannya bahan baru, seperti yang tercantum dalam KUHAP, yang memungkinkan dilakukannya pemeriksaan atau penelitian ulang atas barang bukti, apabila timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasehat hukumnya terhadap suatu hasil pemeriksaan. Hal ini sesuai dengan pasal 180 KUHAP.2 Bagi penyidik (Polisi/Polisi Militer) visum et repertum berguna untuk mengungkapkan perkara. Bagi Penuntut Umum (Jaksa) keterangan itu berguna untuk menentukan pasal yang akan didakwakan, sedangkan bagi Hakim sebagai alat bukti formal untuk menjatuhkan pidana atau membebaskan seseorang dari tuntutan hukum. Untuk itu perlu dibuat suatu Standar Prosedur Operasional Prosedur (SPO) pada suatu Rumah Sakit tentang tata laksana pengadaan visum et repertum.3
Alat Bukti Alat bukti berdasarkan pasal 184(1) KUHP yaitu: a. Keterangan saksi; Berdasarkan pasal 1 butir 27 KUHP bahwa keterangan saksi adalah keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa Pidana yang ia sendiri, Ia lihat sendiri Ia alami sendiri dengan menyebut alasan Pengetahunnya Itu. Keterangan saksi yang tidak memenuhi kriteria tersebut, tidak mempunyai kekuatan sebagai alat bukti. Keterangan saksi seperti itu disebut Testimonium deauditu. Pasal 185 ayat 6 KUHP, mengatur bahwa dalam menilai kebenaran keterangan seorang saksi, Hakim harus sungguh-sungguh memperhatikan hal-hal sebagai berikut: - Persesuaian antara keterangan saksi satu dengan yang lain. - Persesuaian antara keterangan saksi dengan alat bukti lain. - Atasan yang mungkin dipergunakan oleh saksi untuk member, keterangan yang tertentu. - Cara hidup dan kesusilaan saksi serta segala sesuau yang pada umumnya dapat mempengaruhi dapat tidaknya keterangan itu dipercaya. Bahwa keterangan saksi yang telah memenuhi kriteria dan persyaratanpersyaratan tersebut diatas hanya mempunyai kekuatan sebagai alat bukti yang sah apabila keterangan itu dinyatakan dalam sidang pengadilan dengan disumpah terlebih dahulu. Berikut ini dikemukakan beberapa Yurispuredensi baik Sebelum maupun sesudah berlakunya KUHAP, mengenai alat bukti keterangan saksi, untuk dipedomani, antara lain: - Putusan MA Tanggal 1 Desember 1996 No. 137 K/Kr/1956 menentukan bahwa keterangan saksi yang diberikan di sidang Pengadilan tanpa disumpah dapat dipergunakan sebagai tambahan upaya pembuktian yang besesuaian keterangan saksi itu. - Putusan MA Tanggal 15 Februari 1958 No.202 K/Kr 1957 menentukan bahwa keterangan seorang saksi saja tidak merupakan alat bukti yang sah, kecuali hanya untuk membuktikan salah satu unsur dakwaan. - Putusan MA Tanggal 8 September I 983 No. 932 K/Pid/1 982, membatalkan putusan Pengadilan Tinggi dan membebaskan terdakwa, dengan alasan saksi

tidak sempat didengar keterangannya. walaupun visum et repertum ada dan telah dibacakan. - Putusan M.A. Tanggal 15 Agustus 1993, No-298 K/Pid/ 1982, membatalkan putusan Pengadilan Tinggi, dan membebaskan terdakwa, karena tidak ada Seorang SakSi dibawah sumpah, maupun alat bukti lain yang mendukung keterbuktian kesalahan terdakwa baik perkosaan maupun perzinahan. - Putusan M.A Tanggal 13 September 1983 No. 391 K/ Pid1983, memerintahkan Pengadilan Negeri membuka kembali pemeriksaan sidang, guna mendengar saksi-saksi a decharge yang diajukan oleh pembela , karena Pengadilan, Negeri dan Pengadilan Tinggi Medan menolak memeriksa saksi a decharge yang diajukan terdakwa.

Keterangan Ahli; Menurut pasal 1 butir 28 KUHAP, keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh Seorang yang memiliki keahlian khusus, tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan suatu pemeriksaan . Berdasarkan pasal 186 KUHAP, bahwa keterangan ahli ialah apa yang ahli menyatakan disidang Pengadilan dan berdasarkan pasal 179 ayat (2) KUHAP, ahli mengangkat sumpah atau mengucapkan janji akan memberikan keterangannya. Berbeda dengan keterangan saksi maka didepan Penyidik, ahli yang didengar keterangannya Sudah harus, mengangkat sumpah atau janji (pasal 120 (2) KUHAP). (Untuk keterangan ahli baca pasal 1 butir 28, pasal 120, pasal 179, pasaI 180 KUHAP). c. Surat; Berdasarkan pasal 187 KUHAP, alat bukti Surat adalah Surat yang dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah jabatan, adalah: - Berita Acara dan Surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh ia umum yang berwenang atau yang dibuat dihadapannya yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu; - Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau Surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tat laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan; - Surat keterangan dad Seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai suatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya ; - Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian yang lain.

Sedang Surat lainnya yang diperoleh dan hasil perneriksaan perkara pidana dapat dipergunakan hanya Sebagai alat bukti petunjuk jika ada Penyesuaian dengan alat bukti lainnya yang menunjukan bahwa tersangka bersalah. Berikut ini dikemukakan beberapa Yurisprudensi mengenai alat bukti Surat untuk dipedomani:

- Putusan Mahkamah Agung No. 70 K/Kr/1 958 tanggal 17 Maret 1959 menentukan bahwa alat bukti surat dalam perdata berlaku juga dalam pidana. - Putusan Mahkamah Agung No. 148/K/Kr/1 959 tanggal 19 Agustus 19W mennetukan bahwa di indahkan atau tidaknya sesuatu surat adalah termasuk bidang kebijaksanaan judex facti. - Putusan Mahkamah Agung No. 47 K/Kr/1 959 9 Mei 1959 menentukan bahwa adanya surat perjanjian tidak berarti bahwa perkara adalah merupakan sesuatu perkara perdata yang tidak bisa dituntut dimuka Hakim Pidana. - Putusan Mahkamah Agung No. 226 K/Kr/1959 tanggal 26 April 1959 menentukan bahwa surat-surat pemeriksaan penyidik (Polisi) yang tidak ditanda tangani terdakwa, tidak dapat menyebabkan batainya perneriksaan, karena yang menjadi dasar putusan Hakim adalah hasil pemeriksaan Hakim di sidang Pengadilan.

KETERANGAN AHLI DALAM HUKUM ACARA PIDANA DI INDONESIA Bab ini membahas sejarah pengaturan keterangan ahli dalam hukum acara pidana di Indonesia. Selanjutnya, pasal-pasal mengenai keterangan ahli yang terpencar dalam KUHAP dianalisis dengan dihubungkan satu sama lain, serta diuraikan lebih lanjut melalui beberapa teori hukum yang relevan. Ketentuan mengenai keterangan ahli yang terdapat dalam Rancangan KUHAP juga akan dibahas dengan menganalisis pasal-pasal yang perlu disempurnakan. 2.1 Keterangan Ahli dalam HIR dan KUHAP Pada masa diberlakukannya Het Herzienne Inlands Reglement (HIR) sebagai pedoman hukum acara pidana di Indonesia, keterangan ahli tidak dikenal sebagai alat bukti tersendiri. Pasal 295 HIR menyebutkan alat-alat bukti yang sah terdiri dari kesaksian, surat-surat, pengakuan dan petunjuk-petunjuk (aanwijzingen). R Atang Ranoemihardja menjelaskan ahli sebagai bagian dari kesaksian, yaitu keterangan-keterangan yang diberikan oleh orang-orang yang secara langsung ataupun tidak langsung menghayati adanya perbuatan kejahatan.1 Menurut Ranoemihardja, dalam kesaksian dikenal saksi-saksi sebagai berikut: a. Saksi biasa, yaitu kesaksian yang diberikan oleh orang umum. b. Saksi ahli, yaitu kesaksian yang diberikan oleh orang yang mempunyai keahlian.
1 Orang

yang dimaksud menghayati adanya perbuatan kejahatan secara langsung maupun tidak langsung, misalnya: a. Orang yang langsung menjadi korban kejahatan. b. Orang-orang yang dengan mata kepala sendiri menyaksikan adanya perbuatan kejahatan. c. Orang yang secara tidak langsungmengetahui adanya perbuatan kejahatan/ketitipan barang yang berasal dari pencurian, membeli barang dari curian). Lihat dalam R Atang Ranoemihardja, Hukum Acara Pidana, (Bandung: Tarsito, 1980), hlm. 57-58. Dalam konteks definisi kesaksian dengan contoh-contoh tersebut, maka pendapat Ranoemihardja yang menggolongkan ahli sebagai bagian dari saksi menjadi ambigu.

c. Saksi a charge, yaitu saksi yang dipilih dan diajukan oleh jaksa dikarenakan kesaksiannya memberatkan terdakwa. d. Saksi a de charge, yaitu saksi yang dipilih dan diajukan atas

permintaan terdakwa.2 Yahya Harahap menilai saat diberlakukannya HIR, keterangan ahli tidak dipandang sebagai alat bukti yang sah, melainkan hanya sebagai keterangan keahlian belaka. Hakim dapat menjadikan keterangan keahlian itu sebagai pendapatnya sendiri jika hakim menilai keterangan ahli tersebut dapat diterima.3 Setelah KUHAP berlaku di Indonesia sebagai pengganti ketentuan hukum acara pidana dalam HIR, keterangan ahli termasuk sebagai salah satu alat bukti yang sah. Selain di Indonesia, keterangan ahli juga menjadi salah satu alat bukti dalam hukum acara pidana modern di sejumlah negara, termasuk Belanda.4 Ketentuan mengenai keterangan ahli dalam KUHAP tidak diatur secara spesifik dan berurutan pada satu bab, melainkan berada dalam sejumlah pasal yang terpencar.
..

Dengan keberadaan pasal-pasal mengenai keterangan ahli yang terpencarpencar tersebut, Yahya Harahap memandang persoalan keterangan ahli terutama sebagai alat bukti tidak bisa dipahami hanya dengan bertumpu pada pasal dan penjelasan Pasal 186 KUHAP.5 Apalagi, masalah keterangan ahli juga tidak disinggung lebih lanjut dalam peraturan pelaksana KUHAP yaitu Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1983 Tentang Pelaksanaan KUHAP. Selain dalam KUHAP, masalah keterangan ahli juga terdapat dalam KUHP. Dalam hal ini, KUHP mengatur sanksi pidana bagi ahli yang menolak memberi keterangan untuk kepentingan pemeriksaan perkara pidana. Pasal 224, Buku Kedua Bab VIII tentang Kejahatan Terhadap Penguasa Umum menentukan sanksi tersebut sebagai berikut: Barang siapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-undang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus dipenuhinya, diancam: 1. Dalam perkara pidana, dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan; 2. Dalam perkara lain, dengan pidana penjara paling lama enam bulan. KUHP juga menentukan ahli yang tidak datang ke pengadilan secara melawan hukum dapat dikenai pasal mengenai pelanggaran sebagaimana yang diatur dalam Pasal 522, Buku Ketiga Bab III tentang Pelanggaran Terhadap Penguasa Umum, yang berbunyi: Barang siapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa, tidak datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah. Dalam KUHAP, keterangan ahli merupakan salah satu alat bukti untuk mendapatkan kebenaran materiil. Sebagaimana yang dikemukakan Andi Hamzah, bagian terpenting dari hukum acara pidana adalah pembuktian tentang benar tidaknya terdakwa melakukan perbuatan yang didakwakan, sebab pada momen tersebut, hak asasi manusia dipertaruhkan. Oleh karena itulah maka hukum acara pidana bertujuan untuk mencari kebenaran materiil yang diperoleh melalui alatalat bukti. Dalam menilai kekuatan pembuktian dari alat-alat bukti yang ada, Indonesia menganut sistem pembuktian yang sama dengan Belanda dan negaranegara Eropa Kontinental yang lainnya, yaitu hakim dengan keyakinannya sendiri yang menilai alat bukti yang diajukan. Andi Hamzah menjelaskan beberapa teori mengenai pembuktian untuk mencari kebenaran materiil, sebagai berikut:
Kualifikasi dan ..., Rafiqa Qurrata A'yun, FH UI, 2010

27
Universitas Indonesia

a. Teori pembuktian berdasarkan undang-undang secara positif (positief wettelijk bewijstheorie) atau teori pembuktian formal (formele bewijstheorie), yaitu pembuktian yang hanya didasarkan hanya kepada undang-undang. Artinya jika telah terbukti suatu perbuatan sesuai dengan alat-alat bukti yang disebutkan undang-undang, maka keyakinan hakim tidak diperlukan sama sekali. Wirjono Prodjodikoro menolak teori yang saat ini sudah tidak ada penganutnya lagi. b. Teori pembuktian berdasarkan keyakinan hakim melulu (conviction intime), yaitu pembuktian yang didasarkan pada keyakinan hati nurani hakim, sehingga pemidanaan dimungkinkan tanpa didasarkan kepada alatalat bukti dalam undang-undang. c. Teori pembuktian berdasarkan keyakinan hakim atas alasan yang logis (la conviciton raisonnee), dimana hakim dapat memutuskan seseorang bersalah berdasarkan keyakinannya yang didasarkan pada dasar-dasar pembuktian, dengan disertai suatu simpulan berlandaskan peraturanperaturan pembuktian tertentu. d. Teori pembuktian berdasarkan undang-undang secara negatif (negatief wettelijk) yaitu pembuktian harus didasarkan kepada undang-undang disertai dengan keyakinan hakim yang diperoleh oleh alat-alat bukti tersebut. Teori ini dianut oleh HIR maupun KUHAP, serta Ned. Sv yang lama dan yang baru.6 Representasi teori pembuktian berdasarkan undang-undang secara negatif yang dianut Indonesia terdapat pada Pasal 183 KUHAP yang berbunyi: Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang, kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya. Menurut D Simons, dalam sistem pembuktian yang berdasarkan undangundang secara negatif (negatief wettelijk bewijstheorie), pemidanaan didasarkan kepada pembuktian yang berganda (dubbel en grondslag), yaitu pada peraturan
6 Hamzah,

op.cit., hlm. 245-253. Kualifikasi dan ..., Rafiqa Qurrata A'yun, FH UI, 2010

28
Universitas Indonesia

undang-undang dan pada keyakinan hakim.7 Dengan demikian, keterangan ahli sebagai alat bukti juga idealnya disertai keyakinan hakim dengan disertai argumen yang kuat. Djoko Prakoso mengemukakan tiga bagian dalam hukum pembuktian, yaitu: 1. Penjelasan alat-alat bukti yang dapat dipakai oleh hakim untuk mendapat gambaran dari peristiwa pidana yang sudah lampau (opsomming van bewijsmiddelen). 2. Penguraian cara bagaimana alat-alat bukti itu dipergunakan (bewijsvoering). 3. Kekuatan pembuktian dari masing-masing alat-alat bukti itu (bewijskracht der bewijsmiddelen).8 Menurut Karim Nasution, jika hakim atas dasar alat-alat bukti yang sah telah yakin bahwa sesuatu tindak pidana benar-benar telah terjadi dan terdakwa dalam hal tersebut bersalah, maka terdapatlah bukti yang sempurna, yaitu bukti yang sah dan meyakinkan. Oleh karena itu, pembuktian haruslah dianggap tidak lengkap jika keyakinan hakim didasarkan atas alat-alat bukti yang tidak dikenal

dalam undang-undang, atau didasarkan atas alat bukti yang tidak mencukupi. Hakim juga tidak boleh memperoleh keyakinan dari macam-macam keadaan yang diketahuinya dari luar persidangan, tetapi harus memperolehnya dari alat-alat bukti yang sah dan terdapat dalam persidangan, sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan undang-undang.9 Sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 184 KUHAP, alat bukti sah ialah: 1. Keterangan saksi 2. Keterangan ahli 3. Surat 4. Petunjuk, dan 5. Keterangan terdakwa Menurut Yahya Harahap, penempatan keterangan ahli pada urutan kedua setelah keterangan saksi adalah representasi penilaian pembuat undang-undang yang memandang penting fungsi keterangan ahli. Hal tersebut juga dapat dicatat sebagai salah satu kemajuan dalam pembaruan hukum, karena pembuat undangundang menyadari bahwa peran ahli sangat penting dalam penyelesaian perkara pidana. Perkembangan ilmu dan teknologi juga berdampak pada kualitas metode kejahatan, sehingga harus diimbangi dengan kualitas dan metode pembuktian yang memerlukan pengetahuan dan keahlian.10 Dengan demikian, fungsi ahli dalam pembuktian perkara pidana memang sudah dianggap signifikan seiring dengan perkembangan zaman. Gagasan utama dari upaya pencarian bukti dengan meminta keterangan ahli adalah membuat terang tindak pidana. Dengan mengaitkannya dengan Pasal 184 ayat (1) dan Pasal 186 KUHAP dengan Pasal 1 butir 28 KUHAP, maka keterangan ahli yang bernilai sebagai alat bukti haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut: i. Harus merupakan keterangan yang diberikan oleh seseorang yang mempunyai keahlian khusus tentang sesuatu yang ada hubungannya dengan perkara pidana yang sedang diperiksa. ii. Sedang keterangan yang diberikan seorang ahli tapi tidak mempunyai keahlian khusus tentang suatu keadaan yang ada hubungannya dengan perkara pidana yang bersangkutan, tidak mempunyai nilai sebagai alat bukti yang sah. Yahya Harahap menilai Pasal 120 KUHAP juga menegaskan pengertian keterangan ahli ditinjau dari segi alat bukti dan pembuktian. Jika dihubungkan dengan Pasal 1 butir 28 KUHAP, maka keterangan ahli dapat dinilai sebagai alat bukti yang memiliki kekuatan pembuktian memiliki syarat berikut: i. Keterangan ahli yang memiliki keahlian khusus dalam bidangnya sehubungan dengan perkara pidana yang sedang diperiksa. ii. Bentuk keterangan yang diberikannya sesuai dengan keahlian khusus yang dimilikinya, berbentuk keterangan menurut pengetahuannya.12 Alat bukti keterangan ahli tidak memiliki kekuatan pembuktian yang mengikat atau kerap diistilahkan dengan nilai kekuatan pembuktian bebas atau vrij bewijskracht. Artinya, nilai kekuatan pembuktian yang sempurna dan menentukan tidak melekat kepadanya. Hakim pun tidak terikat untuk menerima kebenaran keterangan ahli yang dimaksud dan bebas menilainya. Sesuai dengan prinsip minimum pembuktian yang diatur dalam Pasal 183 KUHAP, keterangan

ahli yang berdiri sendiri saja tanpa didukung oleh salah satu alat bukti yang lain tidak cukup dan tidak memadai untuk membuktikan kesalahan terdakwa. Oleh karena itu, keterangan ahli juga harus ditunjang dengan alat bukti lainnya. Jika dalam pemeriksaan suatu perkara, alat buktinya hanya terdiri dari beberapa keterangan ahli, Yahya Harahap menilai hal tersebut tetaplah bernilai satu pembuktian. Alasannya, apa yang diungkap dan diterangkan kedua alat bukti keterangan ahli itu hanya berupa penjelasan suatu hal atau keadaan tertentu, namun mengenai pelaku kejahatan sama sekali tidak terungkap dalam keterangan ahli-ahli tersebut. Selain itu, pada umumnya keterangan ahli hanyalah merupakan pendapat ahli mengenai hal atau keadaan tertentu menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya. Oleh karena itu, keterangan ahli pada umumnya hanya bersifat melengkapi atau mencukupi nilai pembuktian alat bukti yang lain.13 Dalam Pasal 186 KUHAP dinyatakan, keterangan ahli sebagai alat bukti adalah apa yang seorang ahli nyatakan pada sidang pengadilan. Menurut M Karjadi dan R Soesilo, pasal tersebut menentukan bukti keterangan ahli bukanlah apa yang diterangkan ahli di muka penyidik atau penuntut umum. Sekalipun keterangan itu disampaikan dengan mengingat sumpah diwaktu menerima jabatan atau pekerjaan, namun bukti keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan pada sidang pengadilan setelah ia mengucapkan sumpah atau janji di hadapan hakim.
Universitas Indonesia

Yahya Harahap berpendapat, uraian Pasal 186 yang tidak diikuti rincian lebih lanjut soal keterangan ahli dalam pasal-pasal selanjutnya tidak mampu menjelaskan masalah yang dikandungnya.15 Hal tersebut karena Pasal 186 sebagai ketentuan yang mengatur keterangan ahli dari sudut pembuktian bukan merupakan pasal tunggal yang berdiri sendiri. Untuk memahami keterangan ahli sebagai alat bukti, maka diperlukan penjajakan lebih lanjut atas pasal-pasal lain dalam KUHAP yang terkait dengan keterangan ahli, antara lain Pasal 1 butir 28, Pasal 120, Pasal 133, dan Pasal 179. Yahya Harahap juga merujuk Pasal 1 butir 28 KUHAP yang memuat pengertian dan tujuan keterangan ahli untuk menjelaskan makna keterangan ahli sebagai alat bukti, yaitu dengan memahami manfaat yang dituju oleh pemeriksaan keterangan ahli guna kepentingan pembuktian.16 Tata cara pembuktian keterangan ahli sebagai alat bukti dapat ditempuh pada tahap penyidikan maupun keterangan secara lisan dan langsung di muka sidang pengadilan. Dengan demikian, keterangan ahli sebagai alat bukti dapat dimaknai dengan menelaah ketentuan KUHAP yang mengatur tata cara pemeriksaan keterangan ahli baik dalam tahap penyidikan maupun tahap persidangan. 2.2 Keterangan Ahli dalam Penyidikan Meski Pasal 186 KUHAP menyatakan keterangan ahli sebagai alat bukti adalah apa yang seorang ahli nyatakan pada sidang pengadilan, namun di sisi lain keterangan ahli juga dapat diminta pada taraf penyidikan. Pada tahap tersebut, penyidik berupaya mencari dan mendapatkan atau setidak-tidaknya mendekati kebenaran materiil, yaitu kebenaran yang selengkap-lengkapnya dari suatu perkara pidana.17 Sebagai bagian pertama dari hukum acara pidana, maka rangkaian penyelidikan dan penyidikan termasuk dalam pemeriksaan pendahuluan sebelum dilakukannya pemeriksaan pada persidangan di pengadilan. Menurut M Karjadi dan R Soesilo, yang terpenting dari penyidikan adalah mencari dan

mengumpulkan bukti-bukti yang secara sistematis melalui proses sebagai berikut: a. Informasi, yaitu menyidik dan mengumpulkan keterangan-keterangan serta bukti-bukti oleh polisi yang biasa disebut mengolah tempat kejahatan. b. Interogasi, yaitu memeriksa dan mendengar orang-orang yang dicurigai dan saksi-saksi yang biasanya dapat diperoleh di tempat kejahatan. c. Instrumentarium, yaitu pemakaian alat-alat teknik untuk penyidikan perkara, seperti fotografi, mikroskop, dan lain-lain di tempat kejahatan.18 Dari penjelasan tersebut, maka dalam proses penyidikan hampir selalu dibutuhkan keahlian instrumentarium yang tidak otomatis dimiliki oleh seluruh penyidik. Meski perihal teknis yang disebutkan masih relatif sederhana jika dibandingkan dengan perkembangan saat ini (misalnya dengan keberadaan uji DNA), namun telah disadari bahwa ahli yang kompeten dalam bidangnya memiliki peran signifikan dalam membantu penyidik proses mencari dan mengumpulkan bukti. Kewenangan penyidik untuk meminta keterangan ahli diatur dalam Pasal 120 ayat (1) dan Pasal 133 ayat (1) KUHAP. Pasal 120 ayat (2) selanjutnya menentukan ahli mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di muka penyidik bahwa ia akan memberi keterangan menurut pengetahuannya dengan sebaikbaiknya. Pasal tersebut juga menjelaskan ahli berhak menolak memberikan keterangan yang diminta penyidik jika berkaitan dengan rahasia pekerjaan atau jabatan, serta harkat dan martabatnya. M Karjadi dan R Soesilo berpendapat, ahli yang dimintai keterangan dalam penyidikan sebenarnya dapat diperiksa sebagai seorang saksi biasa tanpa disumpah, maupun diminta pendapatnya sebagai seorang ahli dengan disumpah terlebih dahulu atau berjanji di muka penyidik untuk memberi keterangan menurut pengetahuannya yang sebaik-baiknya. Demikian halnya dengan ketentuan Pasal 133 KUHAP, penyidik dapat meminta keterangan ahli kedokteran kehakiman atau dokter dalam penanganan korban luka, keracunan, ataupun mati yang diduga disebabkan oleh suatu peristiwa yang merupakan tindak pidana. Menurut M Karjadi dan R Soesilo, dokter sebagai seorang ahli harus tunduk pada Pasal 120 KUHAP yang mensyaratkan ahli untuk bersumpah terlebih dahulu di muka penyidik. Namun karena hal itu kerap sukar dilaksanakan, maka dokter mengeluarkan surat keterangan yang disebut visum et repertum.20 Menurut Yahya Harahap, laporan berupa visum et repertum itu dibuat oleh ahli kedokteran kehakiman dengan mengingat sumpah di waktu ahli menerima jabatan atau pekerjaan. Dengan demikian, keterangan yang dituangkan dalam laporan atau visum et repertum mempunyai sifat dan nilai sebagai alat bukti yang sah menurut undang-undang.21 Selain oleh penyidik, ahli juga dapat diajukan oleh tersangka. Ketentuan Pasal 65 KUHAP menerangkan hak tersangka untuk mengusahakan dan mengajukan saksi dan atau seseorang yang memiliki keahlian khusus guna memberikan keterangan yang menguntungkan bagi dirinya. Dari sejumlah ketentuan KUHAP yang mengatur tentang keterangan ahli, Yahya Harahap menilai terdapat dualisme dalam menjelaskan keterangan ahli yang diberikan saat penyidikan dan berbentuk laporan sebagai alat bukti. Keterangan ahli yang berbentuk laporan atau visum et repertum tetap dapat dinilai sebagai alat bukti keterangan ahli yang berbentuk laporan. Di sisi lain, alat bukti keterangan ahli yang berbentuk laporan juga menyentuh alat bukti surat.

Pasal 187 huruf c KUHAP menjelaskan surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya yang diminta secara resmi tergolong sebagai alat bukti yang sah. Pasal tersebut dinilai mengandung pengertian yang sama dengan penjelasan Pasal 186 KUHAP yang menerangkan keterangan ahli dapat diberikan dalam penyidikan dan dituangkan dalam bentuk laporan.22 Menurut Yahya Harahap, meskipun Pasal 187 huruf c KUHAP tidak menerangkan dengan tegas mengenai tahapan pemeriksaan mana pembuatan surat keterangan ahli tersebut dilakukan, namun hal itu tidak menjadi masalah. Alasannya, bentuk laporan yang disebut dalam penjelasan Pasal 186 memiliki nilai pembuktian yang serupa dengan alat bukti surat keterangan dari seorang ahli sebagaimana yang diatur dalam Pasal 187 huruf c, yaitu memiliki kekuatan pembuktian yang bebas dan tidak mengikat. Meski demikian, Yahya Harahap berpendapat dualisme tersebut tidak menimbulkan permasalahan dan akibat dalam pembuktian.23 Perihal keterangan ahli berbentuk laporan yang dapat dianggap sebagai alat bukti surat juga disinggung oleh Martiman Prodjohamidjojo dalam menganalisis penjelasan Pasal 133 ayat (2) KUHAP yang berbunyi Keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli, sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan. Menurut Prodjohamidjojo, keterangan ahli kedokteran atau keterangan yang dimaksud dalam penjelasan Pasal 133 ayat (2) tersebut adalah keterangan yang diberikan dalam proses penyidikan dan bukan dalam sidang. Dengan demikian, keterangan dokter bukan ahli kehakiman dapat dianggap sebagai alat surat sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 184 ayat (1) huruf c. Sedangkan jika keterangan dokter bukan ahli kehakiman itu diberikan dalam sidang, maka harus dianggap sebagai alat bukti keterangan saksi.24 2.3 Keterangan Ahli dalam Pembuktian di Persidangan Alat bukti keterangan ahli dapat diajukan dalam pemeriksaan perkara pidana di persidangan oleh pihak penuntut umum, terdakwa, maupun hakim. Jika terdapat keterangan ahli yang belum diminta dalam pemeriksaan yang dilakukan penyidik atau penuntut umum, maka keterangan ahli itu dapat diajukan untuk disampaikan dalam pemeriksaan perkara di pengadilan. Selain itu, keterangan ahli yang telah disampaikan dalam penyidikan juga dapat disampaikan kembali dalam persidangan jika dikehendaki atau dianggap perlu. Sebagaimana Pasal 180 ayat (1) KUHAP, hakim ketua sidang dapat meminta ahli hadir dalam persidangan untuk menyampaikan keterangan secara lisan dan langsung di muka pengadilan dan akan dicatat dalam pemeriksaan sidang pengadilan oleh panitera. Ayat selanjutnya menjelaskan hakim dapat pula memerintahkan suatu penelitian ulang atas keterangan ahli jika timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa. Selain penuntut umum dan hakim, terdakwa pun berhak mengusahakan dan mengajukan ahli untuk memberikan keterangan. Meski tidak secara langsung menjelaskan istilah ahli, namun Pasal 65 KUHAP menyebutkan terdakwa berhak mengusahakan dan mengajukan saksi dan atau seseorang yang memiliki keahlian khusus guna memberikan keterangan yang menguntungkan bagi dirinya. Sebagai salah satu hak terdakwa, maka hakim pun berkewajiban memperhatikan hal tersebut. Dalam konteks pemeriksaan di sidang pengadilan, sikap hakim adalah een objektieve beoordeling van een objektieve positie, yaitu hakim harus memperhatikan kepentingan berbagai pihak, baik itu kepentingan terdakwa, saksi, maupun kepentingan penuntut umum. Seperti halnya adagium

audio alteram partem, hakim harus mendengar kedua belah pihak. Sesuai kode etik hakim, maka ada sejumlah pegangan tingkah laku yang harus menjadi pedoman hakim. Salah satunya, semua pihak yang berperkara berhak atas kesempatan dan perlakuan yang sama untuk didengar, diberikan kesempatan untuk membela diri, mengajukan bukti-bukti, serta memperoleh informasi dalam proses pemeriksaan (a fair heraring).25 Salah satu jalan terdakwa untuk membela diri yang harus diperhatikan oleh hakim adalah hak mengajukan keterangan ahli di muka persidangan sebagai salah satu alat bukti. Dalam keterangan yang disampaikan di persidangan, ahli tidak dapat hanya berpegang pada sumpah atau janji pada waktu ahli tersebut menerima jabatan atau pekerjaannya, melainkan harus mengucapkan sumpah atau janji terlebih dahulu sebelum memberi keterangan. Dengan memenuhi tata cara tersebut, maka keterangan ahli dapat menjadi alat bukti yang sah menurut undangundang dan mempunyai nilai kekuatan pembuktian.26 Pendapat berbeda dikemukakan oleh Martiman Prodjohamidjojo yang menilai tidak ada rasionya jika ahli disumpah saat menyampaikan keterangannya, karena ahli telah disumpah ketika ia menerima jabatan.27 Kepada seorang ahli, diberlakukan segala aturan yang berlaku pada saksi.28 Namun, diantara keduanya terdapat perbedaan dalam hal keterangan yang diberikan maupun lafal sumpah yang dinyatakan sebelum memberi keterangan. Sebagaimana yang diatur dalam ketentuan umum Pasal 1 butir 26 KUHAP, saksi memberikan keterangan mengenai suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri. Sementara itu ahli memberikan keterangan berisi pengetahuan sesuai dengan keahliannya. Lafal sumpah saksi pun berbeda dengan lafal sumpah ahli. Lafal bagi saksi berbunyi: ... Saya bersumpah bahwa saya akan menerangkan yang benar, tak lain daripada yang sebenarnya. Sedangkan lafal bagi ahli berbunyi: ... Saya bersumpah bahwa saya akan memberikan pendapat tentang soal-soal yang dikemukakan menurut pengetahuan saya sebaik-baiknya.29 Dengan demikian, maka ahli bukanlah orang yang akan memberi keterangan mengenai fakta yang ia dengar atau ia lihat. Ahli justru menyampaikan pendapat sebagaimana pengetahuan yang dikuasainya. 2.4 Keterangan Ahli Hukum Pidana dan Ius Curia Novit KUHAP tidak menyebutkan batasan yang rinci tentang siapa yang dimaksud dengan ahli yang keterangannya dapat dijadikan sebagai salah satu alat bukti. Tidak ada pula ketentuan dalam KUHAP yang melarang para pihak dalam pemeriksaan di sidang pengadilan menghadirkan ahli hukum untuk memberikan keterangan sebagai salah satu alat bukti. Namun urgensi menghadirkan ahli hukum pidana untuk memberi keterangan di pengadilan kerap dipertanyakan. Hal ini karena para pihak yang berhadapan di pengadilan, yaitu penasihat hukum yang mendampingi terdakwa, penuntut umum, serta hakim dianggap telah memiliki
27 Menurut

Prodjohamidjojo, prinsip bahwa setiap saksi wajib mengucapkan sumpah atau janji menurut agama dan keyakinan masing-masing sebelum memberikan keterangan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 160 ayat (3) KUHAP tidak perlu dipertahankan terhadap saksi ahli.

pengetahuan hukum pidana. Sebagaimana prinsip ius curia novit, hakim bahkan dianggap sudah tahu hukum sehingga tidak diperbolehkan menolak suatu perkara dengan alasan tidak ada hukumnya. Selain alasan ius curia novit, penolakan terhadap keterangan ahli hukum pidana juga didasarkan pada pendapat bahwa segala sesuatu yang menyangkut penerapan hukum merupakan tugas hakim. Dengan alasan tersebut, keberadaaan ahli hukum pidana yang memberi

keterangan dalam persidangan perkara pidana lantas dianggap kurang tepat. Namun menurut Martiman Prodjohamidjojo, ada kalanya peraturan perundang-undangan seringkali membutuhkan penjelasan lebih lanjut saat diterapkan kepada hal-hal yang konkret. Hal tersebut disebabkan oleh kondisi undang-undang yang tidak lengkap seluruhnya. Selain itu, hakim juga memiliki peran dalam pembentukan hukum. Oleh karena penafsiran bukan semata-mata pekerjaan akal, juga tidak semata-mata sesuatu yang logis, akan tetapi dalam hal tersebut hakim harus memilih pelbagai kemungkinan, yang harus menilai. Penafsiran juga merupakan tambahan undang-undang, karena peraturan undang-undang yang dapat ditafsirkan dengan aneka jalan, tidak lengkap seluruhnya. Sebagai juga dalam perundang-undangan, dalam tiap penafsiran terdapat anasir yang mencitakan, karena mana pada asasnya hakim juga berbuat sebagai pembentuk undang-undang.30 Jika mengacu pada ketentuan Pasal 65 KUHAP yang menerangkan tentang hak tersangka atau terdakwa untuk mengusahakan dan mengajukan ahli, M Karjadi dan R Soesilo berpendapat bahwa mereka yang memiliki keahlian
Menurut Prodjohamidjojo, hukum pidana tidak memberikan syarat-syarat penafsiran. Oleh karena itu, maka penafsiran disandarkan kepada doktrin dan yurisprudensi yang mengajarkan berbagai cara penafsiran, yaitu: a. Penafsiran menurut tata bahasa b. Penafsiran logis c. Penafsiran sistematis d. Penafsiran meluaskan e. Penafsiran menyempitkan f. Penafsiran historis undang-undang g. Penafsiran historis hukum h. Penafsiran analogis i. Penasiran sosiologis j. Penafsiran futuristis atau anticiperend k. Redenering a contrario l. Penafsiran atas rasa keadilan

khusus merupakan ahli dari segala bidang. Tidak terdapat batasan ahli apakah yang dimaksudkan KUHAP. M Karjadi dan R Soesilo bahkan memberi contoh ahli pijat badan sampai profesor dalam bidang psikologi sebagai ahli yang dimaksudkan dalam pasal tersebut.31 Pendapat tersebut menunjukkan argumen bahwa ahli hukum pidana juga memiliki hak yang sama untuk menyampaikan keterangannya di muka pengadilan sebagaimana ahli-ahli lain di luar bidang ilmu hukum. Menurut Busyro Muqoddas, kehadiran seorang ahli dalam persidangan bukan hal yang tabu sekalipun ahli tersebut memiliki keahlian sama dengan hakim. Namun, hakim tidak boleh membabi buta mengikuti pendapat ahli tersebut.32 Bagaimana hakim menyikapi pendapat ahli hukum pidana juga akan menguji bagaimana keyakinan hakim dalam memutus suatu perkara. Dudu Duswara Machmudin menilai keyakinan hakim mempunyai peranan dominan dalam memutus suatu prkara di pengadilan. Meski demikian, bentuk putusannya itu harus didukung oleh argumentasi yuridis rasional.33 Hal serupa juga dikemukakan oleh Djoko Prakoso yang menilai keyakinan hakim bukan timbul dengan sendirinya. Menurut Djoko, keyakinan hakim harus timbul dari alat-alat bukti yang sah yang disebut dalam undang-undang. Selanjutnya, hakim berkewajiban menjelaskan perihal keyakinannya.

Tidaklah dapat dipertanggungjawabkan suatu putusan yang walaupun sudah cukup alat-alat bukti yang sah, hakim dengan begitu saja menyatakan bahwa ia tidak yakin, dan karena itu ia membebaskan terdakwa tanpa menjelaskan lebih lanjut apa sebab-sebabnya ia tidak yakin tersebut.34 Jika majelis hakim yang memeriksa perkara itu gelap dan samar tentang suatu keadaan yang memerlukan pemecahan oleh seorang ahli, maka sudah seharusnya sidang pengadilan segera meminta keterangan ahli. Menurut Yahya Harahap, hakim pada dasarnya bukan manusia generalis yang serba tahu.35 Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Martiman Prodjohamidjojo sebagai berikut: Sebagai asas dalam peradilan, hakim tidak boleh menolak suatu perkara yang diajukan kepadanya sekalipun hukum atau undang-undang tidak mengaturnya. Ia harus menemukan hukum itu. Hal itu bukan berarti hakim dianggap tahu segalanya atau dianggap sebagai manusia serba tahu, karena itu ia membutuhkan dan menggunakan keterangan seorang ahli agar memperoleh pengetahuan yang mendalam tentang suatu hal yang menyangkut perkara yang ditanganinya.36 Namun dalam menguraikan pendapatnya mengenai ahli apakah yang diperlukan untuk memberi keterangan di persidangan, Prodjohamidjojo tidak menyinggung mengenai ahli hukum pidana. Contoh yang diberikan adalah ahliahli teknik di luar bidang ilmu hukum, seperti ahli listrik dan ahli beton. Hal serupa juga dinyatakan R Soesilo yang memberi contoh ahli atau orang yang mempunyai keahlian khusus, seperti ahli tentang ilmu daktiloskopi, ahli dalam ilmu perbintangan, ahli tentang obat-obatan.37 Hal itu menunjukkan kecenderungan kuatnya pendapat bahwa ahli yang diperlukan untuk kepentingan pemeriksaan perkara pidana adalah ahli-ahli di luar ilmu hukum pidana. Dalam hal ilmu pengetahuan yang bagaimana yang dapat dipergunakan atau yang berlaku dalam kaitannya dengan diperlukannya keterangan ahli, van Bemmelen memberikan penjelasannya bahwa ilmu tulisan, ilmu senjata, pengetahuan tentang sidik jari dan sebagainya, termasuk ilmu pengetahuan (wetenschap) menurut pengertian Ned.Sv (Nederlandse Strafvordering). Oleh karena itu seseorang dapat didengar keterangannya sebagai ahli mengenai persoalan tertentu yang menurut pertimbangan hakim orang itu mengetahui bidang tersebut secara khusus.38 Dari penjelasan ini, maka van Bemmelen tidak membatasi ahli dalam bidang ilmu apakah yang dikehendaki untuk disampaikan di muka pengadilan. 2.5 Keterangan Ahli dalam Rancangan KUHAP Dalam Rancangan KUHAP (RKUHAP) Indonesia tahun 2009, pengaturan mengenai keterangan ahli tidak memuat perubahan signifikan jika dibandingkan dengan KUHAP yang berlaku saat ini. Definisi ahli tidak dijelaskan secara rinci, namun peranan ahli disebutkan dalam Pasal 1 butir 27 RKUHAP yang berbunyi: Ahli adalah seseorang yang mempunyai keahlian di bidang tertentu yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan.39 Pengertian ahli dalam pasal tersebut secara lugas menunjukkan keberadaan ahli yang diperlukan dalam tahap-tahap pemeriksaan perkara pidana, mulai dari penyidikan, penuntutan, sampai pemeriksaan di pengadilan. Kewenangan penyidik untuk meminta pendapat ahli dan pengaturan tentang ahli kedokteran kehakiman juga masih mengadopsi KUHAP, demikian

pula ketentuan mengenai hak tersangka atau terdakwa untuk mengajukan ahli guna memberikan keterangan yang menguntungkan. Keterangan ahli sebagai alat bukti yang sah tetap tercantum dalam RKUHAP meski tidak lagi berada pada urutan kedua, melainkan pada urutan keempat. Alat bukti yang sah mencakup: a. barang bukti; b. surat-surat; c. bukti elektronik; d. keterangan seorang ahli; e. keterangan seorang saksi; f. keterangan terdakwa; dan g. pengamatan hakim.40 Secara substansi, jumlah ketentuan mengenai keterangan ahli dalam RKUHAP cenderung tidak mengalami perubahan yang substansial dari KUHAP. Ketentuan-ketentuan baru bersifat melengkapi secara teknis, misalnya Pasal 155 RKUHAP yang berbunyi: Pertanyaan yang bersifat menjerat dilarang diajukan kepada saksi atau ahli, atau kepada terdakwa.41 Jika dibandingkan dengan Pasal 166 KUHAP, sebenarnya tidak ada perbedaan berarti dalam RKUHAP. Akan tetapi, tampak bahwa ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi saksi dan berlaku pula bagi ahli dipertegas lagi dengan menyertakan frase ahli dalam pasal tersebut. Akan tetapi, hal-hal yang sering diperdebatkan menyangkut keterangan ahli tidak diformulasikan dalam RKUHAP. Misalnya, apakah keberadaaan ahli hukum pidana yang memberi keterangan dalam pemeriksaan perkara pidana di pengadilan menyalahi prinsip ius curia novit. RKUHAP juga tidak mencoba memperjelas tentang kualifikasi ahli yang dapat membantu proses pembuktian perkara pidana. Padahal, penjelasan mengenai ahli dapat membantu penegak hukum dalam proses pemeriksaan perkara pidana, terutama sebagai pegangan dalam memilih ahli dan menimbang keterangan yang disampaikannya. Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa KUHAP yang berlaku saat ini masih kurang optimal untuk menjadi pedoman bagi penegak hukum dalam memanfaatkan keterangan ahli untuk kepentingan pemeriksaan perkara pidana. Hal tersebut karena ketentuan-ketentuan mengenai keterangan ahli masih kurang jelas dan spesifik. Pasal-pasal yang terpencar adakalanya menimbulkan penafsiran berbeda, misalnya mengenai keterangan ahli dalam penyidikan dan keterangan ahli dalam persidangan yang memiliki kedudukan berbeda satu sama lain. Contoh lainnya adalah tidak adanya ketentuan mengenai keterangan semacam apa yang dapat disampaikan ahli dan bidang ilmu pengetahuan apa saja yang diperlukan. Dalam praktiknya, masalah keterangan ahli yang menyentuh fakta persidangan, dan penolakan terhadap keterangan ahli hukum pidana seringkali menjadi perdebatan di antara para pihak. Di sisi lain, ketiadaan pengaturan yang jelas membuat sikap hakim maupun jaksa juga terpecah. Ada hakim yang menerima pendapat ahli hukum pidana, namun ada pula yang menolaknya. Ada jaksa yang menolak ahli hukum pidana, namun ada pula jaksa yang mengajukan ahli hukum pidana untuk memperkuat dakwaannya. Masalah demikian seharusnya dapat diantisipasi dalam RKUHAP yang kelak menjadi pegangan penegak hukum. Sayangnya, RKUHAP 2009 masih belum mengakomodasi masalah-masalah mengenai keterangan ahli yang muncul dari kekurangan dalam KUHAP yang berlaku saat ini.

Lebih lanjut, masalah kualifikasi ahli dalam proses pembuktian dianalisis pada bab 3 tesis ini, dengan mencakup pembahasan teori-teori mengenai urgensi keterangan ahli, standar keahlian serta ilmu pengetahuan yang dibutuhkan. Selain itu, masalah urgensi ahli hukum pidana dan pertentangan pendapat ahli juga akan ditelaah dengan menyertakan pendapat para praktisi hukum acara pidana.