Anda di halaman 1dari 19

PENYAKIT PARU TERKAIT KERJA BRONKITIS KRONIK Tugas Mata Kuliah Penyakit Akibat Kerja Disusun oleh Apriastuti

Puspitasari, 0706272585 Putri Wulandari C., 0706273745 Rika Nurhayati, 0706273865 FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK, 2009 Created By: Apriastuti Puspitasari, Putri Wulandari, dan Rika Nurhayati; K3 FKM UI 2 BAB I PENDAHULUAN Menurut Robert L. Wilkins dan James B. Dexter dalam buku Respiratory Diseases: Principles of Patient Care, bronkitis kronis adalah salah satu penyakit paru dimana pasien memiliki batuk produktif kronik yang berhubungan dengan inflamasi bronchus. Untuk membuat diagnosis, para ahli menyatakan bahwa jangka waktu kronik pada penyakit ini adalah selama batuk produktif muncul, minimal selama tiga bulan setahun dan pada dua tahun berturut-turut. Sebelum diketahui menderita Bronkitis kronis, pada awalnya pasien yang mengalami batuk produktif yang panjang biasanya terdiagnosis oleh dokter mengalami tuberculosis, kanker paru, dan congestive heart failure. Bronkitis kronik sering disamakan dengan emfisema, padahal keduanya berbeda. Kedua penyakit ini sering ditemukan pada penderita Penyakit Paru Obstruktif Menahun (PPOM). PPOM merupakan penyebab kematian keempat di Amerika Serikat. Diperkirakan 12 juta orang Amerika menderita bronkitis kronik dan atau emfisema (National Heart, Lung, and Blood Institute, 1986). Sedangkan American Thoracic Society dalam buku Standards for

the diagnosis and care of patients with chronic obstructive pulmonary disease tahun 1995, sekitar 10 juta orang Amerika menderita PPOM, dan menyebabkan 40.000 kematian setiap tahun. Sedangkan Tjandra Yoga Aditama dosen FK UI, dalam Cermin Dunia Kedokteran No. 84 tahun 1993 menyatakan bahwa di Indonesia penyakit asma, bronkitis dan emfisema merupakan penyebab kematian ke 10. Bronkitis, asma dan penyakit saluran napas lain menduduki peringkat ke lima dalam pola morbiditas di negara kita. PPOM menyerang pria dua kali lebih banyak daripada wanita, diperkirakan karena pria merupakan perokok yang lebih berat dibandingkan wanita, tetapi insidensnya pada wanita semakin meningkat dan stabil pada pria (Price, 1992). Untuk Bronkitis kronis, jumlah orang dewasa yang terdiagnosa kronik Bronkitis pada tahun 2007 di Amerika Serikat adalah 7,6 juta orang. Dampak yang timbul akibat menderita penyakit bronkitis kronis adalah infeksi saluran napas yang berat dan sering, penyempitan dan penyumbatan bronchus, sulit bernafas,d i sa b il i ty, hingga kematian. Kebiasaan merokok merupakan faktor penting yang berkontribusi menyebabkan bronkitis kronik. Menurut American Academy of Family Physian, lebih dari 90 persen pasien bronkitis kronis memiliki riwayat pernah menjad perokok. Tetapi terdapat faktor lain yang sedikit kontribusinya menyebabkan bronkitis kronik yaitu infeksi virus atau bakteri, polusi udara (ozon dan nitrogen dioksida/NO2), terpajan iritan di tempat kerja, dan lain-lain. Iritan-iritan yang dapat menyebabkan penyakit ini diantaranya uap logam (fume) dari bahan-bahan kimia seperti sulfur dioksida (SO2), hidrogen sulfida (H2S), bromin (Br), amonia (NH3), asam kuat, beberapa organic solvent, dan klorin (Cl). Debu juga dapat menyebabkan bronkitis kronis, seperti debu batu bara atau debu pertanian (www.pdrhealth.com).

Created By: Apriastuti Puspitasari, Putri Wulandari, dan Rika Nurhayati; K3 FKM UI 5 b. Farings (pharynx) Farings merupakan merupakan pipa (tuba) yang terdiri dari jaringan otot. Terletak disebelah posterior dari cavum nasi dan cavum oris (rongga mulut). Farings terdiri dari nasofarings (nasopharynx), terletak dibelakang cavum nasi; orofarings (oropharynx); dan laringofarings (Bantas, 2007). c. Larings (larynx) Laring menghubungkan antara faring dan trakea. Laring ini ditopang sembilan kartilago. Kartilago tersebut terdiri dari kartilago tiroid (jakun) dan kartilago krikoid. Pada laring juga terdapat pita suara yang berfungsi sebagai sumber keluarnya suara manusia. Selain itu juga terdapat epiglottis yang berfungsi untuk menutup pernafasan ketika makan dan sebaliknya. d. Trachea Trakea merupakan saluran pernafasan yang bermula dari laring sampai ke percabangan paru-paru (bronkus) yang dibentuk oleh 16 sampai 20 cincin kartilago yang terdiri dari tulangtulang rawan yang berbentuk seperti C. Trakea dilapisi oleh selaput lendir yang terdiri atas epitilium bersilia dan sel cangkir.

Gambar 1. Traktus Respiratorius Bagian Atas Created By: Apriastuti Puspitasari, Putri Wulandari, dan Rika Nurhayati; K3 FKM UI 6 2.1.1.2 Traktus Respiratorius Bagian Bawah (Di Dalam Cavum Thorax) a. Paru-paru (pulmo) Paru-paru merupakan alat yang paling vital dalam sisitem pernafasan karena pada paruparu inilah terjadinya pergantian oksigen dan karbondioksida secara difusi dalam tubuh. Pergantian gas itu secara tepat terjadi pada alveolus ( gelembung paru-paru). Paru- paru terletak dalam rongga torak. Secara anatomi paru-paru kanan memiliki 3 lobus dan paru-paru kiri memiliki 2 lobus (Bantas, 2007). Paru-paru terdiri dari : 1. Bronchus Bronkus merupakan percabagan saluran pernafasan pada dua paru-paru. Berdasarkan anatominya terdiri atas bronkus primer, bronkus sekunder, dan bronkus tersier. Bronkus primer kanan lebih pendek, lebih tebal, dan lebih lurus dibandingkan dengan yang sebelah kiri. Objek asing yang masuk biasanya ditempatkan pada bronkus kanan. Setiap bronkus primer bercabang 9 sampai 12 kali untuk membentuk bronkus sekunder dan tersier. Bronkus sekunder dan tersier ini juga disebut sebagai bronkiolus. 2. Bronchiolus Pada dinding bronchiolus tidak terdapat kartilago. Bronchiolus terdiri dari otot polos, hal tersebut secara klinis penting pada penyakit asma, dimana terjadi spasme pada otot-otot polos bronchiolus. Cabang-cabang bronchiolus berakhir pada sekelompok alveoli, yaitu kantungkantung udara pada paru-paru. 3. Alveolus

Alveolus merupakan unit fungsional dari paru-paru. Fungsi alveolus sebagai tempat terjadinya pertukaran gas. Alveolus disusun oleh selapis se-sel epitel skuameus . Pada ruangan diantara kelompok-kelompok alveoli terdapat jaringan ikat elastik, yang penting untuk exhalasi . b. Membran pleura

Created By: Apriastuti Puspitasari, Putri Wulandari, dan Rika Nurhayati; K3 FKM UI 7 Paru-paru ditutup oleh membran tipis yang disebut membrane pleura. Membran pleura terdiri dari Pleura parietalis (luar) dan viceralis ( dalam). Pleura parietalis melindungi paru-paru dari gesekan dengan tulang-tulang iga dan dada, sedangkan pleura viceralis melindungi paruparu dari gesekan alveolus sehingga tidak saling menempel Gambar 2. Traktus Respiratorius 2.1.2 Fungsi Pernafasan dan Non-Pernafasan dari Paru a. Respirasi : pertukaran gas O2 dan CO2. b. Keseimbangan asam basa. c. Keseimbangan cairan. d. Keseimbangan suhu tubuh. e. Membantu venous return darah kea tr i u m kanan selama fase inspirasi. f. Endokrin: keseimbangan bahan vaso aktif, histamine, serotonin, ECF dana n g i o ten si n. g. Perlindungan terhadap infeksi:ma kr ofa g yang akan membunuh bakteri. 2.1.3 Mekanisme Pernafasan mekanisme pernapasan dibedakan atas dua macam, yaitu pernapasan dada dan pernapasan perut. Pernapasan dada dan perut terjadi secara bersamaan.

a. Pernapasan Dada Created By: Apriastuti Puspitasari, Putri Wulandari, dan Rika Nurhayati; K3 FKM UI 8 Pernapasan dada adalah pernapasan yang melibatkan otot antartulang rusuk. Mekanismenya dapat dibedakan sebagai berikut. 1. Fase inspirasi. Fase ini berupa berkontraksinya otot antartulang rusuk sehingga rongga dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga dada menjadi lebih kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya oksigen masuk. 2. Fase ekspirasi. Fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya otot antara tulang rusuk ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya tulang rusuk sehingga rongga dada menjadi kecil. Sebagai akibatnya, tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan luar, sehingga udara dalam rongga dada yang kaya karbon dioksida keluar. b. Pernapasan Perut Pernapasan perut merupakan pernapasan yang mekanismenya melibatkan aktifitas otot-otot diafragma yang membatasi rongga perut dan rongga dada. Mekanisme pernapasan perut dapat dibedakan menjadi dua tahap yakni sebagai berikut. 1. Fase Inspirasi. Pada fase ini otot diafragma berkontraksi sehingga diafragma mendatar, akibatnya rongga dada membesar dan tekanan menjadi kecil sehingga udara luar masuk. 2. Fase Ekspirasi. Fase ekspirasi merupakan fase berelaksasinya otot diafragma (kembali ke posisi semula, mengembang) sehingga rongga dada mengecil dan tekanan menjadi lebih besar, akibatnya udara keluar dari paru-paru. 2.2 Interaksi Pajanan dan Gangguan Kesehatan Penyakit Paru Akibat Pekerjaan terjadi akibat terhirupnya atau terinhalasinya partikel, kabut, uap atau gas yang berbahaya pada saat seseorang sedang bekerja. Lokasi tersangkutnya zat tersebut pada saluran pernafasan atau paru-paru dan jenis penyakit paru yang terjadi, tergantung kepada ukuran dan jenis partikel yang terhirup. Partikel yang lebih besar mungkin

akan terperangkap di dalam hidung atau saluran pernafasan yang besar, tetapi partikel yang sangat kecil bisa sampai ke paru-paru. Di dalam paru-paru, beberapa partikel dicerna dan bisa diserap ke dalam aliran darah. Partikel yang lebih padat yang tidak dapat dicerna akan dikeluarkan oleh sistem pertahanan tubuh (Saffira, 2009). Created By: Apriastuti Puspitasari, Putri Wulandari, dan Rika Nurhayati; K3 FKM UI 9 Bronkitis kronik timbul sebagai akibat dari adanya pajanan terhadap agent infeksi maupun non-infeksi (terutama rokok tembakau). Agen non-infeksi masuk ke dalam tubuh melalui jalur inhalasi. Agen non-infeksi seperti polusi udara terinhalasi ketika pekerja sedang beraktifitas di lingkungan kerjanya. Iritan akan menyebabkan timbulnya respon inflamasi yang akan menyebabkan vasodilatasi, kongesti, edema mukosa dan bronchospasme. Tidak seperti emfisema, Bronkitis lebih mempengaruhi jalan nafas kecil dan besar dibandingkan pada alveolinya. Aliran udara dapat atau mungkin juga tidak mengalami hambatan. Pekerja dengan Bronkitis kronis akan mengalami (Saffira, 2009): a. Peningkatan ukuran dan jumlah kelenjar mukus pada bronchi besar, yang mana akan meningkatkan produksi mukus. b. Mukus lebih kental. c. Kerusakan fungsi cilliary sehingga menurunkan mekanisme pembersihan mukus. Oleh karena itu, mucocilliary defence dari paru mengalami kerusakan dan meningkatkan kecenderungan untuk terserang infeksi. Ketika infeksi timbul, kelenjar mukus akan menjadi hipertropi dan hiperplasia sehingga produksi mukus akan meningkat. Dinding bronchial meradang dan menebal (seringkali sampai dua kali ketebalan normal) dan mengganggu aliran udara. Mukus kental ini bersama-sama dengan produksi mukus yang banyak akan menghambat beberapa aliran udara kecil dan mempersempit saluran udara besar. Bronkitis

kronis mula-mula mempengaruhi hanya pada bronchus besar, tetapi biasanya seluruh saluran nafas akan terkena. 2.3 Jenis dan Penyebab Penyakit Bronkitis kronik merupakan salah satu Penyakit Paru Obstruktif Kronik (COPD). Penyakit Paru Obstruktif Kronik (COPD) adalah suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran patofisiologi utamanya (Komar, 1995). Bronkitis kronis menunjukkan kelainan pada bronchus yang sifatnya menahun (berlangsung lama) dan disebabkan oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari luar bronchus maupun dari bronchus itu sendiri, merupakan keadaan yang berkaitan dengan produksi mukus takeobronkial yang berlebihan sehingga cukup untuk menimbulkan batuk dengan ekspektorasi sedikitnya 3 bulan dalam setahun untuk lebih dari 2 tahun secara berturut-turut. Gambar 3. Bronkitis Kronis Temuan patologis utama pada bronkitis kronik adalah hipertrofi kelenjar mukosa bronkus dan peningkatan jumlah sel goblet dengan infiltrasi sel-sel radang dan edema mukosa bronkus. Pembentukan mukus yang meningkat mengakibatkan gejala khas yaitu batuk produktif. Batuk kronik yang disertai peningkatan sekresi bronkus tampaknya mempengaruhi bronkiolus yang kecil sedemikian rupa sehingga bronkiolus tersebut rusak dan dindingnya melebar (Price, 1992). Menurut Barry S. Levy dalam bukunya Preventing Occupational Disease and Injury tahun 2005, bronkitis kronik merupakan penyakit yang diakibatkan oleh multifaktor. Penyebab lingkungan merupakan penyebab yang mencolok dengan kehadiran semua faktor-faktor lingkungan yang berbahaya. Tak hanya itu, penelitian membuktikan genetik juga mempengaruhi

munculnya penyakit ini dengan interaksigen e -en vi r on men t. Infeksi viral yang akut dan kronik pada saluran pernapasan juka memegang peran penting dalam asal- usul dan persistensi bronkitis kronik. Faktor penyebab Bronkitis kronik terdiri dari agen infeksi dan agen non-infeksi. Agen infeksi yaitu virus dan bakteri seperti stafilokokus, sterptokokus, pneumokokus, dan haemophilus influenzae. Agen non-infeksi yaitu merokok, polusi udara, dan pajanan iritan yang biasanya terdapat pada daerah industri. Pajanan iritan dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu bahan kimia yang spesifik seperti sulfur dioksida (SO2), hidrogen sulfida (H2S), bromin (Br), amonia (NH3), asam kuat, beberapa organic solvent, dan klorin (Cl); debu dan aerosol yang ditemukan di pembangunan rumah atau gedung, pabrik semen, penambangan batubara dan penambangan lainnya, pengecoran logam, pabrik karet, pengelasan, dan tempat penghacuran batu, ; dan debu-debu pertanian seperti debu kapas, rami, potasium, dan fosfat (Levy, 2005). Polusi udara yang terus menerus juga merupakan predisposisi infeksi rekuren karena polusi memperlambat aktivitas silia dan fagositosis, sehingga timbunan mukus meningkat sedangkan mekanisme pertahanannya sendiri melemah (Saffira, 2009). Bronkitis kronis dapat merupakan komplikasi kelainan patologik yang mengenai beberapa alat tubuh (Saffira, 2009), yaitu : a. Penyakit Jantung Menahun, baik pada katup maupun myocardium. Kongesti menahun pada dinding bronchus melemahkan daya tahannya sehingga infeksi bakteri mudah terjadi. b. Infeksi sinus paranasalis dan Rongga mulut, merupakan sumber bakteri yang dapat menyerang dinding bronchus. c. Dilatasi Bronchus (Bronchiectasi), menyebabkan gangguan susunan dan fungsi dinding bronchus sehingga infeksi bakteri mudah terjadi. 2.4 Pekerja Berisiko Berikut ini pekerja yang berisiko bronkitis kronis berdasarkan iritan penyebabnya di lingkungan kerja :

Penyakit bronkitis kronik juga diawali dengan kebiasaan merokok, sehingga pekerja yang merokok lebih berisiko terkena penyakit bronkitis kronik dibandingkan dengan pekerja yang tidak merokok karena pekerja yang merokok lebih cepat mengalami penurunan atau kerusakan fungsi paru, dapat menimbulkan kelumpuhan bulu getar selaput lendir bronchus sehingga drainase lendir terganggu. Kumpulan lendir tersebut merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri. 2.5 Gejala Klinik dan Dasar Diagnosis 2.5.1 Gejala Klinik Gejala yang sering muncul pada penderita bronchitis kronik adalah batuk. Namun sulit melakukan diagnosis apakah seseorang menderita bronkitis kronik hanya dengan melihat batuk. 1. Batuk produktif Sifat batuk yang terdapat pada penderita bronchitis kronik berupa batuk yang berdahak kental terus-menerus menandakan terjadinya inflamasi lokal dan banyaknya kemungkinan kolonisasi dan infeksi bakteri. Kekentalan sputum (dahak) akan meningkat tajam sebagai hasil dari kehadiran DNA bebas (berat molekul dan kekentalan tinggi). Batuk produktif yang berdahak terjadi pada perokok dengan angka lebih dari 50% (Calverley, P.M.A., Georgopoulos, D., 2006). Hal ini biasanya terjadi dalam waktu sepuluh tahun setelah mulai terbiasa merokok. Pada COPD atau bronkitis kronik, batuk biasanya parah atau kambuh pada pagi hari namun sering kali disalahartikan sebagai 'batuk perokok'. Namun, pada perokok yang berhenti, batuk akan hilang namun kerusakan pada fungsi paru akan menetap. 2. Sesak napas Sesak napas merupakan gejala yang paling signifikan pada pasien COPD. Sesak napas dapat didefinisikan sebagai usaha pernapasan yang meningkat atau tidak sesuai. Gejala ini

merupakan gejala yang dirasakan oleh pasien. Pasien biasanya mendeskripsikan sesak napas sebagai kesulitan dalam melakukan inspiratori 3. Suara nafas mendecit Penyempitan saluran pernapasan yang terus-menerus dan obstruksi mukus dapat menyebabkan terjadinya suara nafas yang mendecit. Keluhan ini sulit untuk dievaluasi karena sifat dasarnya yang memang terputus-putus, tidak muncul terus-menerus serta pemahaman pasien mengenai hal ini memang terbatas. Gambar 4. Perbedaan bronkus yang normal dengan bronkus yang memiliki penyakit bronkitis 2.5.2 Dasar Diagnosis Secara umum pendekatan cara diagnosis penyakit bronkitis kronik berupa anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. 1. Anamnesis Anamnesis dilakukan dengan wawancara pada penderita atau pekerja mengenai riwayat pekerjaan, pajanan, dan riwayat penyakit. Selain itu, anamnesis dapat dari data pajanan dan MSDS. Riwayat merokok merupakan hal yang penting untuk diketahui karena kebiasaan merokok berkontribusi besar dalam timbulnya penyakit bronkitis kronik. 2. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan melihat tanda-tanda yang umum seperti batuk yang retentif, suara napas yang mendecit, dan juga cyanosis di bagian lidah dan membran mukosa akibat pengaruh sekunder polisitemia. Dari postur, penderita memiliki kecenderunganov er wei gh t. Sedangkan melihat dari usia, kebanyakan penderita berumur 45-60 tahun. Penderita bronkitis kronik juga mengalami perubahan pada jantung berupa pembesaran jantung, cor pulmonal.

Pemeriksaan fisik yang dapat digunakan untuk mengukur paru-paru antara lain adalah Uji fungsi paru adalah tes yang dilakukan untuk mengukur kemampuan paru-paru dalam melakukan pertukaran oksigen dan karbon dioksida.

Created By: Apriastuti Puspitasari, Putri Wulandari, dan Rika Nurhayati; K3 FKM UI 15 Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan melihat tanda-tanda yang umum seperti batuk yang retentif, suara napas yang mendecit, dan juga cyanosis di bagian lidah dan membran mukosa akibat pengaruh sekunder polisitemia. Dari postur, penderita memiliki kecenderunganov er wei gh t. Sedangkan melihat dari usia, kebanyakan penderita berumur 45-60 tahun. Penderita bronkitis kronik juga mengalami perubahan pada jantung berupa pembesaran jantung, cor pulmonal. Pemeriksaan fisik yang dapat digunakan untuk mengukur paru-paru antara lain adalah Uji fungsi paru adalah tes yang dilakukan untuk mengukur kemampuan paru-paru dalam melakukan pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Gambar 5. Tes Faal Paru (Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000) Tes ini dilakukan menggunakan alat-alat khusus dan di dalamnya terdapat beberapa

tes, di antaranya: a. Spirometri Pengukuran dilakukan menggunakan spirometer. Spirometri merupakan salah satu evaluasi paru yang sederhana. Fungsi dari spirometri sendiri antara lain untuk menentukan seberapa baik menerima, menahan, dan menggunakan udara, untuk memonitor penyakit paru, untuk memonitor keefektifan dari sebuah pengobatan, untuk menentukan tingkat keparahan sebuah penyakit paru, untuk menentukan apakah penyakit paru tersebut restriktif (penurunan laju udara) atau obstruktif (gangguan laju udara). b. Pengukuran peak flow rate Peak flow rate (PFR) adalah kecepatan maksimum aliran ekspirasi selama ekshalasi paksa (WHO, 1992). Uji yang dilakukan mengukur seberapa cepat seseorang dapat meniupkan udara keluar dari paru-paru. Pada penderita asma atau beberapa penyakit paru lainnya, besar jalan udara di dalam paru-paru akan semakin mengecil. Hal ini akan menyebabkan melambatnya kecepatan udara yang meninggalkan paru-paru. Evaluasi ini penting untuk mengevaluasi pengontrolan dari sebuah penyakit. Gambar 6. Tafsiran Hasil Pengukuran Arus Puncak Ekspirasi (APE) (Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000). c. Arterial blood gas (ABG) Tes darah ini merupakan tes yang digunakan untuk melihat kemampuan paru-paru menyediakan darah dengan oksigen dan menghilangkan karbon dioksida, dan untuk mengukur pH darah. d. Pulse oximetry Pengukuran dilakukan menggunakan oksimeter. Oksimeter berfungsi untuk mengukur kadar oksigen di dalam darah 3. Evaluasi laboratorium (Pemeriksaan non-fisik)

Pengukuran ini digunakan untuk melihat kenaikan jumlah sel darah merah jika terdapat hipoksemia kronik. Jumlah sel darah putih akan meningkat jika terdapat infeksi pada pasien pneumonia. Namun, pada penderita bronkitis kronik, pengukuran jumlah sel darah ini tidaklah terlalu abnormal. Identifikasi pasien COPD yang mengalami polycythaemia sangatlah penting karena hal ini merupakan faktor predisposi kejadian-kejadian yang berhubungan dengan vaskular. Seseorang dapat diduga mengalami polycythaemia bila hematokrit >47% pada wanita dan >52% pada pria. b. Radiografi dada Bronkitis kronik juga dapat dilihat melalui radiografi dada. Pada penderita bronkitis kronik biasanya radiografi dada menemukan peningkatan volume dada dengan diafragma dalam keadaan hiperinflasi. Kemudian, dinding bronchial juga mengalami penebalan. Ukuran jantung membesar menyebabkan volume jantung sebelah kanan terbebani terlalu berat. 2.6 Metode Surveilans 2.6.1 Pekerja Surveilans merupakan suatu kegiatan yang sistemik untuk mengumpulkan, membandingkan, menganalisis dan mengintepretasikan data; mendesiminasikan informasi kepada yang membutuhkan untuk melakukan aksi (Helda, 2007). Tujuan dari surveilans adalah untuk melakukan deteksi dini terhadap suatu penyakit. Surveilans kesehatan paru pada pekerja dapat dilakukan dengan menggunakan perangkat diagnosis seperti anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Dari pemeriksaan tersebut dapat dideteksi gangguan respirasi berupa batuk, berdahak, dan sesak menggunakan kuesioner standar dan pemeriksaan fisik; deteksi gangguan fungsi paru menggunakan tes spirometri; deteksi kelainan anatomi termasuk fibrosis jaringan paru melalui foto toraks.

Hasil dari surveilans pada pekerja kemudian akan digunakan untuk melakukan pengendalian. Pengendalian pada penderita bronkitis kronik berupa program promosi, pencegahan, dan pengendalian. 2.6.2 Lingkungan Surveilans di lingkungan kerja dapat dilakukan melalui tiga tahap rekognisi, evaluasi, dan pengendalian. Surveilans di lingkungan mengukur variabel-variabel apa saja yang berkontribusi pada timbulnya kasus bronkitis kronik seperti asap rokok serta iritan-iritan lain yang terdapat d tempat kerja sesuai dengan karakteristik tempat kerjanya. Bila surveilans di lingkungan telah dilakukan maka bandingkan hasilnya dengan standar yang ada (misalnya TLV). Hasil tersebut penting untuk melihat apakah pajanan yang diterima pekerja besar dan berkontribusi menimbulkan bronkitis kronik. Bila pajanan telah melewati ambang batas maka harus segera dilakukan pengendalian dapat berupa eliminasi, substitusi, minimisasi, engineering control, administrative control, dan PPE 2.7 Program Promosi, Pencegahan, dan Pengendalian 2.7.1 Promosi Kesehatan Kerja terhadap Penyakit Bronkitis Kronis Menurut OttawaCh a r ter WHO 1986, promosi kesehatan terdiri atas 1.Build healthy public policy 2.Create supportive environment 3.Strengthen community skills 4.Develop personal skills 5.Reorient health service Sesuai dengan definisi di atas, promosi kesehatan untuk penyakit bronkitis kronis adalah sebagai berikut: 1.Build healthy public policy Kebijakan dan komitmen merupakan modal utama dalam mengendalikan masalah penyakit akibat kerja pada suatu perusahaan. Fungsi kebijakan itu sendiri adalah untuk menjamin

atau memastikan bahwa kebijakan tersebut berkembang di semua sektor, sehingga dapat berkontribusi dalam membentuk tempat kerja yang sehat. 2.Create supportive environment Membentuk lingkungan yang kondusif secara fisik, sosial, ekonomi, kultural, dan spiritual, yang dapat melahirkan efek positif terhadap kesehatan pekerja. Misalnya, pada teknologi yang digunakan dan kondisi lingkungan yang baik seperti udara bersih dan air. Tak hanya itu, organisasi kerja juga harus baik agar tidak menimbulkan stres pada pekerja, dan lainlain. Membuat area bebas rokok merupakan cara yang efektif dalam mengendalikan penyakit paru di perusahaan. 3.Strengthen community skills Dengan meningkatkan pengetahuan pentingnya hidup sehat pada komunitas, maka setiap individu secara otomatis akan mengikuti langkah yang diambil pada komunitasnya. Hal ini dapat memberi efek positif pada peningkatan derajat kesehatan masing-masing pekerja. Misalnya dengan melakukan training penggunaan masker pada para pekerja, sehingga dapat mengurangi inhalasi fume, polusi udaram, dan lain-lain ke dalam tubuh pekerja. 4.Develop personal skills Skill pada setiap individu juga harus ditanamkan agar menjadi pribadi yang pintar dan memiliki pengetahuan yang baik. Dengan cara ini, setiap individu diharapkan mampu berpikir dengan logis mengenai pentingnya hidup sehat. Misalnya dengan memberikan trainingtraining pola hidup sehat, agar mengindari aktivitas merokok, dan sebagainya. 5.Reorient health services Dengan membuat sistem yang fokus kepada kebutuhan seluruh pekerja dan mengadakan pelayanan kesehatan yang menghubungkan provider dengan user. Misalnya dengan

memberikan pelayanan konseling masalah kesehatan dan psikologi yang dapat mempengaruhi kesehatan pekerja. Materi yang diberikan dalam promosi kesehatan penyakit paru, khususnya bronkitis kronis adalah sebagai berikut Perilaku hidup sehat, seperti tidak merokok, olah raga, dan lain-lain

Created By: Apriastuti Puspitasari, Putri Wulandari, dan Rika Nurhayati; K3 FKM UI 20 Perilaku kerja sehat, seperti menggunakan APD, dan bekerja sesuai SOP. Hak dan kewajiban pekerja agar mendapat lingkungan kerja yang sehat. 2.7.2 Pencegahan Penyakit Bronkitis Kronis Pencegahan-pencegahan yang dilakukan agar terhindar dari bronkitis kronik adalah a. Menghindari merokok, karena merokok merupakan akar penyebab utama bronkitis kronik. b. Menghindari iritan, seperti polusi udara,fu me, dan lain-lain.

c. Menghindari terkena infeksi saluran respirasi. Flu dapat menjadi predisposisi jika telah terkena penyakit bronkitis kronik, oleh karena itu cuci tangan dengan sabun sangat efektif menghindari infeksi virus atau kuman ke dalam tubuh. d. Mengurangi pajanan dengan teknik-teknik pengendalian industrial higiene, yaitu eliminasi, subtitusi, engineering control, administrative control, APD, dan sebagainya. e. Melakukan surveilens kesehatan dengan pembagian kuesioner secara periodik. Hal ini sangat direkomendasikan pada para pekerja yang berisiko bronkitis kronik (Levy, 2005). 2.7.3 Treatment Penyakit Bronkitis Kronis

Karena merokok merupakan penyebab utama bronkitis kronis, maka langkah penting yang harus diambil adalah keluar dari kebiasaan merokok tersebut. Dengan mengikuti program-program stop merokok atau mengikuti grup-grup dan asosiasi stop merokok tertentu, pekerja diharapkan dapat menemukan teman-teman yang memiliki masalah penyakit yang sama sehingga dapat saling bertukar pikiran. Cara menghilangkan kebiasaan merokok ini misalnya dengan mengganti rokok dengan inhaler, permen karet, dan lain-lain. Created By: Apriastuti Puspitasari, Putri Wulandari, dan Rika Nurhayati; K3 FKM UI 21 BAB III PENUTUP

Bronkitis kronik adalah salah satu penyakit terkait kerja yang termasuk dalam Penyakit Paru Obstruktif Menahun (PPOM), selain emfisema dan asma. Penyakit ini ditandai dengan batuk produktif selama minimal tiga bulan setahun dan pada dua tahun berturut- turut. Bronkitis kronik merupakan penyakit yang diakibatkan oleh multifaktor, tetapi faktor penting yang

menyebabkan bronkitis kronik adalah kebiasaan merokok. Faktor lain yang juga berkontribusi adalah infeksi virus atau bakteri, polusi udara, terpajan iritan di tempat kerja, seperti uap logam sulfur dioksida, hidrogen sulfida, bromin, beberapa organic solvent, klorin dan lain-lain.

Gejala klinik bronkitis kronis diantaranya adalah batuk produktif, sesak napas, suara napas mendecit. Sedangkan dasar diagnosisnya adalah berupa anamnesis, pemeriksaan fisik berupa tanda-tanda umum serta uji fungsi paru, dan evaluasi laboratorium berupa tes darah dan radiografi dada. Metode surveilans dilakukan pada pekerja dan lingkungan. Surveilans pada lingkungan dapat dilakukan dengan pengukuran asap rokok serta iritan di tempat kerja. Promosi kesehatan serta pencegahan yang dilakukan biasanya cenderung fokus pada penghentian kebiasaan merokok. Untuk mengatasi iritan penyebab bronkitis kronis di lingkungan bisa digunakan melalui teknik pengendalian industrial higiene, seperti eliminasi, subtitusi, isolasi, dan lain-lain. Created By: Apriastuti Puspitasari, Putri Wulandari, dan Rika Nurhayati; K3 FKM UI 22 DAFTAR PUSTAKA Bantas, Krisnawati. Modul Kuliah Anatomi Fisiologi : Sistem Respirasi. Depok: Fakultas

Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2007.

Barry S. Levy, et al. Preventing Occupational and Injury. Washington : DC.APHA, 2005.

Dahlan, Zul. Penegakan Diagnosis dan Terapi Asma dengan Metode Obyektif. Dari Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000. Kumar, Robbins Contran. Dasar Patologi Penyakit. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran, 1995. Lax, Michael B., et al. Recognizing Occupational Disease: Taking an Effective Occupational

History . http://www.aafp.org/afp/980915ap/lax.html [18 September 2009].

La-Dou-J. Occupational Medicine. Connecticut: Prentice Hall, 1990.

Saffira, Rizkia. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan COPD. http://irmanweb.files.wordpress.com/2008/07/asuhan-keperawatan-pada-pasiendengan-copd.pdf [ 28 September 2009 ]. Price, Sylvia Anderson-Lorraine McCarty. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.

Jakarta : EGC, 1992. Wilkins, Robert L-James R. Dexter. Respiratory Disease : Principles of Patient Care. USA : F.A Davis Company, 1993. WHO. Deteksi Dini Penyakit Akibat Kerja. Jakarta : EGC. Chronic Bronchitis.htt p:/ / ww w. pdrh eal th. com/ di sease/ di sease mono.aspx?contentFileName=BHG01PU03.xml&contentName=Chronic+Bronchitis& contentId=25 [18 September 2009].