Anda di halaman 1dari 8

PENDAHULUAN Spektrum cedera traumatik pada otak bervariasi dari cedera ringan dankadang-kadang tak disadari sampai cedera

berat dengan morbiditas dan mortalitas yang nyata. Angka kejadian pasti dari cedera kepala sulit ditentukan karena berbagai faktor, misalnya sebagian kasus-kasus yang fatal tidak pernah sampai ke RS, dilain pihak banyak kasus yang ringan tidak datang pada dokter kecuali bila kemudian timbul komplikasi. Dari penelitian di Skotlandia dan Kanada ditemukan bahwa perbandinganpasen cedera kepala yang tidak dirawat di RS terhadap pasen yang dirawat adalah 4-5 : 1. Insiden cedera kepala yang nyata yang memerlukan perawatan di RS dapat diperkirakan 480.000 kasus pertahun (200 kasus/100.000 orang), yang meliputi concussion, fraktur tengkorak, perdarahan intrakranial, laserasi otak, hematoma dan cedera serius lainnya. Dari total ini 75-85% adalah concussion dan sekuele cedera kepala ringan. Cedera kepala paling banyak terjadi pada laki-laki berumur antara 15- 24 tahun, dan biasanya karena kecelakaan kendaraan bermotor. Menurut Rimer et al dari 1200 pasen yang dirawat di RS dengan cedera kepala tertutup, 55% diobati untuk cedera kepala ringan (minor). Banyak pasen-pasen dengan cedera ringan yang datang kedokter untuk pertama kalinya karena gejala yang terus berlanjut, dikenal sebagai sindroma postconcussion. Berdasarkan informasi statistik yang diketahui, masalah cedera kepala ringan adalah gangguan sekuele pasca trauma dan dengan akibat gangguan produktivitas. Salah satu sekuele pasca trauma adalah amnesia post trauma. Kejadian ini sering dialami oleh pasien mengalami trauma. Terutama trauma fisik, walaupun trauma psikologis juga bisa menyebabkan amnesia. Yang akan dibahas pada referat ini adalah trauma fisik. TRAUMA KEPALA Definisi dan klasifikasi dari trauma kepala (trauma kapitis) Benturan pada kepala dapat ringan tapi juga bisa sangat keras. Dampaknya sangat tergantung pada keras ringannya benturan atau ada tidaknya kerusakan yang ditimbulkannya mulai dari kerusakan pada tulang tengkorak,isi rongga tengkorak mulai dari meninges, pembuluh darah pada meninges sampai pada otak itu sendiri. Di Amerika Serikat hampir 1 juta kecelakaan lalu lintas terjadi setiap tahunnya yang mengakibatkan trauma kepala dan sepertiga diantaranya membawa kematian. Kecelakaan terbanyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas terutama pengendara mobil dan sepeda motor. Definis dan klasifikasi trauma kepala dibagi berdasarkan gejala klinis sebagai berikut : 1. Gegar otak/Commotio Cerebri : suatu keadaan dimana seseorang tidak sadar (pingsan) dalam waktu yang pendek, karena adanya benturan pada kepala (trauma kepala). Pada gegar otak tidak ada cedera pada susunan saraf pusat, tak ada gangguan pada pembuluh darah dan liquor serebro spinal juga memperlihatkan profil yang normal. Ciri khas pada gegar otak adalah : - adanya amnesia yaitu ketidak mampuan untuk mengingat kejadian baru sebelum atau sesudah adanya trauma kepala.

- Kehilangan kesadaran bisa bersifat hilang timbul (intermiten) - Gangguanf fungsi vegatatif (sistem saraf otonom) seperti : nafas menjadi lambat, denyut nadi (bradikardi) dan tekanan darah menurun (hipotensi). - Gangguan motorik sadar seperti : hipotonia, arefleksia, dan gejala Babinski. - Gegar otak yang tidak punya komplikasi akan bisa sembuh kembali, tapi pasien bisa mengalami amnesia residual. - Tampilan klinisnya sebagai berikut : Tidak sadar , biasanya tidak lebih dari 30 menit Gangguan vegetatif : nafas melambat, denyut nadi melambat,hipotensi Bingung (mental confussion) Gangguan motorik sadar : otot skelet lemah, hipotensi,gejala Babinski. Berat ringannya gegar otak tergantung pada lama amnesia paska trauma kepala seperti di bawah ini : Tingkat Gegar Otak Lama Amnesia Sangat ringan 0-5 menit Ringan 5-60 menit Sedang 1-24 jam Berat 1-7 hari Sangat berat >7 hari Lama amnesia paska trauma diukur mulai dari ingatan terakhir sebelum trauma sampai pulihnya kembali ingatan setelah trauma. Biasanya am nesia dibedakan atas : Retrograde amnesia : periode amnesia sebelum trauma Anterograde amnesia : periode amnesia paska trauma. 2 .Contusio Cerebri Contusio cerebri : adalah tidak sadar diri disertai adanya kerusakan (lesi) otak. Disini terdapat tanda-tanda kerusakan saraf yang berlanjut sesudah fase akut dilewati. Kerusakan otak tersebut bisa dalam bentuk nekrosis sel saraf pada korteks dan adanya edema cerebri.Kerusakan korteks serebri yang paling sering terjadi adalah di daerah bawah lobus frontalis dan temporalis. Hal ini disebabkan karena adanya goyangan otak berulang yang membentur dataran dalam tulang tengkorak. Kalau ada benturan pada tulang occiput, maka bisa terjadi contusion occipitalis yang disertai contusio frontalis (contre coup). 3. Sindroma paska contusio cerebri. Biasanya terjadi pada benturan kepala yang berat atau ringan. Gejalanya adalah sakit kepala, pusing, gampang lelah, daya ingat hilang dan tak mampu berkonsentrasi. 4. Perdarahan epidural (Hematoma epidural) Biasanya terjadi karena benturan pada os temporalis yang diikuti oleh tidak sadar diri singkat dan cepat pulih kembali. Perdarahan epidural biasanya meliputi 15-30 % perdarahan otak. Sesuai dengan namanya ,hematoma terbentuk dalam cavum epidural. Hampir 90 % kejadian ini dialami oleh usia muda (15-30 tahun),yang mengalami fraktur tengkorak disertai pecahnya pembuluh

darah di daerah epidural. Paling banyak terjadi (70 %) pada os temporalis atau area temporoparietalis. Fraktur tersebut menyebabkan putusnya A. Meningea media atau vena yang menyertainya. Angka kematian karena perdarahan epidural bisa mencapai 20 %. 5. Perdarahan subdural (Hematoma subdural) Terjadi karena adanya benturan ringan pada kepala , darah menumpuk dalam cavum sub dural. Gejala baru muncul setelah beberapa minggu atau beberapa bulan kemudian, sesuai dengan akumulasi darah dalam cavum itu. Perdarahan disini disebabkan karena pecahnya vena vena kecil yang menghubungkan cavum subarachnoidea dengan sinus duramater sehingga perdarahannya bersifat difus. Biasa terjadi pada usia diatas 40 tahun atau lebih , terutama pada lansia dimana otak mulai mengkerut yang menyebabkan tertariknya vena penghubung tadi, sehingga pecah. Hematoma subdural dapat dibagi atas : a. Hematoma subdural akut : dalam waktu < 3 hari b. Hematoma subdural subakut : dalam waktu 3 hari-3 minggu c. Hematoma subdural kronis : dalam waktu > 3 minggu. 6. Perdarahan subarachnoidea Pingsan berlanjut 1 beberapa jam. Leher kaku dan likuor serebro spinal yang mengandung darah adalah ciri khas dari perdarahan ini. 7. Perdarahan intraserebri. Terbanyak ditemukan pada lobus temporalis dan frontalis. Biasanya perdarahan terjadi di permukaan lobus. Perdarahan ini harus dibedakan dengan perdarahan intraserebri akibat hipertensi, amyloid angiopati, pecahnya angioma dan aneurisma. 8. Fraktur basis kranii Gejala klinis dan pemeriksaan CT Scan kepala lebih diandalkan untuk menetapkan diagnosa pasti. Karena sinus menjadi terbuka, maka akan ada udara intrakranial yang terlihat pada CT Scan kepala. Karena sinus terbuka, maka cairan likuor bisa masuk ke dalam sinus paranasalis atau mengalir keluar melalui telinga/hidung yang dikenal dengan otorrhoe/rhinorrhoe lcs. 9. Fraktur tekan tulang tengkorak (depressed skull fractures) Ada beberapa kemungkinan: disertai dengan lesi kulit kepala disebut sebagai luka composit, atau disertai sobeknya duramater (disebut sebagai penetrasi. Diagnosis pasti dilakukan dengan membuat foto Rontgen, CT Scan atau MRI kepala. Komplikasi yang bisa terjadi adalah infeksi meninges (meningitis). Bisa timbul dalam bentuk sebagai berikut : Kerusakan difus (Ensefalopati paska trauma) Kerusakan lokal Hidrosefalus Gangguan nervi kranialis (N.olfactorius/N I, N.Opticus/N.II, N.facialis/N.VII,N.abducent/N.VI, N.Vestibulocochlearis/N.VIII).

AMNESIA Amnesia (dari Bahasa Yunani ) adalah kondisi terganggunya daya ingat. Penyebab amnesia dapat berupa organik atau fungsional. Penyebab organik dapat berupa kerusakan otak, akibat trauma atau penyakit, atau penggunaan obat-obatan (biasanya yang bersifat sedatif). Penyebab fungsional adalah faktor psikologis, seperti halnya mekanisme pertahanan ego. Amnesia dapat pula terjadi secara spontan, seperti terjadi pada transient global amnesia. Jenis amnesia global ini umum terjadi mulai usia pertengahan sampai usia tua, terutama pada pria, dan biasanya berlangsung kurang dari 24 jam. amnesia hanya berlangsung selama beberapa menit sampai beberapa jam dan akan menghilang dengan sendirinya. pada cedera otak yang hebat, amnesi bisa bersifat menetap. Mekanisme otak untuk menerima informasi dan mengingatnya kembali dari memori terutama terletak di dalam lobus oksipitalis, lobus parietalis dan lobus temporalis. Dampak lain dari amnesia adalah ketidakmampuan membayangkan masa depan. Penelitian terakhir yang dipublikasikan dalam jaringan di Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa amnesia dengan kerusakan pada hippocampus tidak dapat membayangkan masa depan. Hal ini terjadi karena bila seorang yang normal membayangkan masa depan, mereka menggunakan pengalaman masa lalu untuk mengkonstruksi skenario yang mungkin dihadapi. Sebagai contoh, seseorang yang mencoba membayangkan apa yang akan terjadi dalam pesta yang hendak didatanginya akan menggunakan pengalaman pesta sebelumnya untuk membantu mengkonstruksi kejadian di masa depan. Ingatan yang bisa terkena amnesia: - ingatan segera : ingatan akan peristiwa yang terjadi beberapa detik sebelumnya - ingatan menengah : ingatan akan peristiwa yang terjadi beberapa detik sampai beberapa hari sebelumnya - ingatan jangka panjang : ingatan akan peristiwa di masa lalu. Jenis-jenis amnesia 1. Amnesia menyeluruh sekejap Merupakan serangan lupa akan waktu, tempat dan orang, yang terjadi secara mendadak dan berat. serangan bisa hanya terjadi satu kali seumur hidup, atau bisa juga berulang. serangan berlangsung selama 30 menit sampai 12 jam atau lebih. arteri kecil di otak mungkin mengalami penyumbatan sementara sebagai akibat dari aterosklerosis. Pada penderita muda, sakit kepala migren (yang untuk sementara waktu menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otak) bisa menyebabkan anemia menyeluruh sekejap. peminum alkohol atau pemakai obat penenang dalam jumlah yang berlebihan (misalnya barbiturat dan benzodiazepin), juga bisa mengalami serangan ini. penderita bisa mengalami kehilangan orientasi ruang dan waktu secara total serta ingatan akan peristiwa yang terjadi beberapa tahun sebelumnya. setelah suatu serangan, kebingungan biasanya akan segera menghilang dan penderita sembuh total. 2. Sindroma wernicke-korsakoff alkoholik dan penderita kekurangan gizi lainnya bisa mengalami amnesia. Sindroma ini terdiri dari kebingungan akut (sejenisensefalopati) dan amnesia yang berlangsung lama. Kedua hal tersebut terjadi karena kelainan fungsi otak akibat kekurang vitamin b1 (tiamin). mengkonsumsi sejumlah besar alkohol tanpa memakan makanan yang mengandung tiamin menyebabkan berkurangnya pasokan vitamin ini ke otak. penderita kekurangan gizi yang

mengkonsumsi sejumlah besar cairan lainnya atau sejumlah besar cairan infus setelah pembedahan, juga bisa mengalami ensefalopati wernicke.penderita ensefalopai wernicke akut mengalami kelainan mata (misalnya kelumpuhan pergerakan mata, penglihatan ganda atau nistagmus), tatapan matanya kosong, linglung dan mengantuk. Untuk mengatasi masalah ini biasanya diberikan infus tiamin. jika tidak diobati bisa berakibat fatal. Amnesia korsakoff terjadi bersamaan dengan ensefalopati wernicke. Jika serangan ensefalopati terjadi berulang dan berat atau jika terjadi gejala putus alkohol, maka amnesia korsakoff bisa bersifat menetap. hilangnya ingatan yang berat disertai dengan agitasi dan delirium. penderita mampu mengadakan interaksi sosial dan mengadakan perbincangan yang masuk akal meskipun tidak mampu mengingat peristiwa yang terjadi beberapa hari, bulan atau tahun, bahkan beberapa menit sebelumnya. Amnesia korsakoff juga bisa terjadi setelah cedera kepala yang hebat, cardiac arrest atau ensefalitis akut. pemberian tiamin kepada alkoholik kadang bisa memperbaiki ensefalopati wernicke, tetapi tidak selalu dapat memperbaiki amnesi korsakoff. Jika pemakaian alkohol dihentikan atau penyakit yang mendasarinya diobati, kadang kelainan ini menghilang dengan sendirinya. 3. Amnesia Lakunar, yakni amnesia tidak bisa mengingat satu kejadian. 4. Amnesia emosional, yakni hilangnya ingatan karena trauma psikologis, biasanya bersifat sementara. 5. Transient global amnesia merupakan kehilangan sementara seluruh memori namun secara khusus disertai anterograde amnesia dan juga retrograde amnesia ringan. Ini sangat jarang terjadi dan umumnya terjadi pada orang usia lanjut dengan penyakit vaskuler. Penyebab terjadinya amnesia bervariasi mulai dari trauma psikologis sampai kerusakan otak karena. Kerusakan otak bisa disebabkan oleh trauma/kecelakaan, tumor, stroke, maupun pembengkakan otak 6. Amnesia Lakunar, merupakan ketidakmampuan mengingat kejadian tertentu. 7. Anterograde amnesia Kejadian baru dalam ingatan jangka pendek tidak ditransfer ke ingatan jangka panjang yang permanen. Penderitanya tidak akan bisa mengingat apapun yang terjadi setelah munculnya amnesia ini walaupun baru berlalu sesaat. 8. Retrograde amnesia Ketidakmampuan memunculkan kembali ingatan masa lalu yang lebih dari peristiwa lupa biasa. Kedua kategori amnesia terakhir dapat muncul bersamaan pada pasien yang sama. Contohnya seperti pada pengendara sepeda motor yang tidak mengingat akan pergi kemana dia sebelum tabrakan (retrograde amnesia), juga melupakan tentang kejadian di rumah sakit dua hari setelahnya (anterograde amnesia). PROSES PEMBENTUKAN MEMORI Proses pembentukan ingatan merupakan proses yang kompleks dan masih belum banyak dimengerti. Ingatan atau memori merupakan hasil dari perubahan kimia atau struktural pada penyaluran sinyal yang terjadi antar sel saraf satu dan lainnya. Adanya

perubahan tersebut mengakibatkan terbentuknya semacam jalur perambatan sinyal. Jalur ini disebut dengan memory traces. Sinyal dapat berjalan sepanjang memory traces tersebut menuju ke otak. Pertama-tama, memori disimpan sebagai memori jangka pendek. Memori jangka pendek adalah memori yang bertahan dalam hitungan detik sampai jam, seperti ketika kita mengingat nomor telepon. Memori jangka panjang bisa bertahan dalam hitungan hari, tahun, bahkan seumur hidup. Proses perubahan memori jangka pendek dan jangka panjang disebut proses konsolidasi. Pada proses tersebut, memori jangka pendek mengalami perangsangan berulang-ulang sehingga terjadi perubahan yang lebih permanen pada sel saraf. Proses tersebut diduga terjadi pada bagian temporal otak yang disebut hipokampus. Amnesia retrograde biasanya terjadi setelah insiden yang mengganggu aktivitas listrik otak, misalnya karena stroke atau benturan pada kepala. Pada saat itu, memori jangka pendek terganggu sehingga orang tersebut tidak dapat mengingat kejadian beberapa jam sebelum insiden tersebut. Trauma yang lebih parah dapat pula mengganggu memori jangka panjang. Pada amnesia anterograde, yang terjadi adalah ketidakmampuan menyimpan memori pada penyimpanan jangka panjang untuk kemudian dikeluarkan kembali. Biasanya amnesia ini terkait dengan kerusakan pada bagian temporal otak yang bertanggung jawab untuk konsolidasi. Orang yang menderita amnesia tipe ini dapat mengingat apa yang mereka pelajari sebelum terjadinya amnesia, tapi mereka tidak dapat menyimpan memori baru yang permanen. Di samping itu, pada kasus-kasus amnesia, memori yang menyangkut kemampuan-kemampuan yang dipelajari seperti kemampuan bahasa, berolahraga, berhitung, termasuk identitas diri tidak akan hilang kecuali pada kasus transient global amnesia yang jarang sekali terjadi. Jadi, jangan mudah percaya jika pada film yang Anda tonton sang tokoh mengalami amnesia sampai lupa identitas dirinya. Orang-orang yang menderita amnesia biasanya akan pulih seiring berjalannya waktu. Selama proses pemulihan, mereka biasanya mengingat memori yang sudah lebih lama disimpan, lalu baru mengingat memori yang lebih baru terjadi, sampai seluruh memori yang hilang pulih. Akan tetapi, memori yang terjadi sekitar waktu terjadinya amnesia terkadang tidak pernah pulih. Untuk mempercepat pemulihan amnesia, biasanya diberikan terapi atau obat-obatan yang meningkatkan fungsi otak. Di luar terapi dan obat-obatan, cara yang paling ampuh adalah menyediakan kondisi yang memberi rasa aman bagi penderita. POST TRAUMA AMNESIA Definisi dan Deskripsi Post traumatic amnesia didefinisikan pertama kali oleh Russell dan Smith sebagai periode setelah trauma kapitis dimana informasi tentang kejadian yang berlangsung tidak tersimpan Russel dan Smith kemudian memperhalus konsep PTA untuk memfokuskan pada gangguan penyimpanan informasi kejadian yang berlangsung. Dalam istilah neuropsikologi kognitif, PTA adalah suatu gangguan pada memori episodik yang digambarkan sebagai ketidakmampuan pasien untuk menyimpan informasi kejadian yang terjadi dalam konteks temporospatial yang spesifik. Akan

tetapi, fase penyembuhan dini setelah gangguan kesadaran juga dikarakteristikkan oleh gangguan atensi dan perubahan behavioral yang bervariasi dari mulai letargi sampai dengan agitasi. Posttraumatic Amnesia adalah suatu gangguan mental yang dikarakteristikkan oleh disorientasi, gangguan atensi, kegagalan memori kejadian dari hari ke hari, ilusi, dan salah dalam mengenali keluarga, teman dan staf medis. Patofisiologi Dasar patologi dari PTA masih tidak jelas, meskipun korelasinya terhadap MRI terlihat mengindikasikan sesuatu yang berasal dari hemisfer dibanding dengan diencephalic. Memori dan new learning dipercaya melibatkan korteks serebral, proyeksi subkortikal, hippocampal formation (gyrus dentatus, hipokampus, gyrus parahippocampal), dan diensefalon, terutama bagian medial dari dorsomedial dan adjacent midline nuclei of thalamus. Sebagai tambahan, lesi pada lobus frontalis juga dapat menyebabkan perubahan pada behavior, termasuk iritabilitas, aggresiveness, dan hilangnya inhibisi dan judgment. Sekarang ini, telah didapati bukti adanya keterlibatan lobus frontalis kanan pada atensi. Trauma kapitis dapat bersifat primer maupun sekunder. Cedera primer dihasilkan oleh tekanan akselerasi dan deselerasi yang merusak kandungan intrakranial oleh karena pergerakan yang tidak seimbang dari tengkorak dan otak. Akan tetapi, faktor yang paling penting pada cedera otak traumatik adalah shearing yang berupa tekanan rotasi yang cepat dan berulang terhadap otak segera setelah trauma kapitis. Concussion mengakibatkan tekanan shearing yang singkat dan penyembuhan komplet. Jika tekanan shearing lebih banyak dan berulang, kerusakan akson pun menjadi lebih banyak, durasi hilangnya kesadaran lebih panjang dan penyembuhan melambat. Dalam praktek, gambaran klinisnya adalah koma yang diikuti dengan PTA. Oleh karena itu tingkat keparahan trauma kapitis tertutup dapat dinilai dengan durasi koma dan PTA. Sedangkan suatu contusion adalah suatu trauma yang lebih luas terhadap otak dimana robekan jaringan yang memperlihatkan tekanan shearing dengan gangguan akson yang disebabkan oleh axonal shearing dan injury terhadap otak dengan dampak ke permukaan tulang : bagian medial, ujung dan dasar lobus frontalis dan bagian anterior dari lobus temporalis paling sering terlibat. Area yang rusak adalah berbentuk kerucut dengan dasar pada permukaan otak, terutama mengenai lapisan pertama dari korteks. Klasifikasi Posttraumatic amnesia dapat dibagi dalam 2 tipe. Tipe yang pertama adalah retrograde, yang didefinisikan oleh Cartlidge dan Shaw, sebagai hilangnya kemampuan secara total atau parsial untuk mengingat kejadian yang telah terjadi dalam jangka waktu sesaat sebelum trauma kapitis. Lamanya amnesia retrograde biasanya akan menurun secara progresif. Tipe yang kedua dari PTA adalah amnesia anterograde, suatu defisit dalam membentuk memori baru setelah kecelakaan, yang menyebabkan penurunan atensi dan persepsi yang tidak akurat. Memori anterograde merupakan fungsi terakhir yang paling sering kembali setelah sembuh dari hilangnya kesadaran

Untuk menilai apakah seseorang mengalami amnesia post trauma bisa dilakukan tes objektif kepada pasien. Tes yang biasa digunakan adalah Tes Orientasi dan Amnesia Galvelston (TOAG) dan ada pula tes lain seperti RNS. Test Orientasi dan Amnesia Galveston (TOAG) Di antara beberapa penilaian PTA yang tersedia sekarang, TOAG adalah yang paling banyak digunakan . Penilaian ini pendek dan mudah digunakan. Penilaiannya terdiri dari sejumlah poin yang ditambahkan ketika menjawab dengan benar atau jumlah kesalahan. Skor yang mendekati angka 100 , berarti fungsi masih terjaga. Tes ini dapat diberikan beberapa kali dalam sehari, meskipun pada hari yang berturut-turut. Sehingga dapat dibuat grafik untuk menggambarkan perjalanan kapasitas dari mulai waktu tertentu sampai orientasi total tercapai. Pengarang dari test ini percaya bahwa tes ini sesuai bagi seorang pasien untuk memulai pemeriksaan kognitif ketika skor 75 atau lebih dicapai pada tes ini yang mengindikasikan pasien tidak konfusion dan disorientasi lagi. Akan tetapi validitas dan reabilitas TOAG dan statusnya sebagai "gold standard" dalam penilaian PTA masih suatu subjek yang diperdebatkan. Neurobehavioral Rating Scale (NRS) Neurobehavioral Rating Scale pada awalnya dikembangkan untuk memeriksa perubahan behavior akibat trauma. Berdasarkan "suatu wawancara yang berstruktur" yang menitikberatkan pada laporan pasien sendiri terhadap simtom dan gejala, self-appraisal, planning, dan beberapa aspek tertentu dari fungsi kognitif, meliputi orientasi, memori, reasoning, dan atensi, pemeriksa mengevaluasi respon spesifik dan penggabungan dengan observasi behavioral untuk menentukan level tiap-tiap 27 subskala, dengan memilih 1 dari 7 tingkatan, berkisar dari 1 = tidak ada sampai dengan 7 = sangat berat. Total skor dari NRS merupakan penjumlahan dari skor 27 subskala Suatu studi telah menguji reability dan validity dari NRS, baik pada awal maupun tahap lanjut dari trauma kapitis terhadap 101 penderita dengan trauma kapitis tertutup. Neurobehavioral Rating Scale telah memperlihatkan interrater reliability yang memuaskan pada studi ini. Pemeriksaan NRS memiliki korelasi baik terhadap tingkat keparahan trauma maupun tingkat kronisitas dari trauma kapitis. Peneliti menyebutkan sampai saat ini hanya NRS yang telah divalidasi untuk pemeriksaan neurobehavior pada penderita trauma kapitis tertutup. DAFTAR PUSTAKA 1. Mardjono M., Sidharta P., Mekanisme Trauma Susunan Saraf, NEUROLOGI KLINIS DASAR, ed. 9, Jakarta: Dian Rakyat, 2003:249-260. 2. http://www.emedicine.com/neuro.htm 3. http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/03_GangguanBahasaPersepsidanMemor i.pdf/03_GangguanBahasaPersepsidanMemori.html 4. http://library.usu.ac.id/download/fk/bedah-iskandar%20japardi45.pdf