UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH KEBIJAKAN FISKAL DAN KEBIJAKAN MONETER DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA DALAM ANALISA JANGKA PENDEK DAN JANGKA MENENGAH DARI TAHUN 2004 HINGGA TAHUN 2011

TUGAS INDIVIDUAL EKONOMI MAKRO

GARY LINGGAR 1206297296

FAKULTAS EKONOMI MAGISTER AKUNTANSI – PPAk. SALEMBA APRIL 2013

Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada mata ajaran lain kecuali saya/kami menyatakan dengan jelas bahwa saya/kami menyatakan menggunakannya.STATEMENT OF AUTHORSHIP “Saya/kami yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa makalah/tugas terlampir adalah murni hasil pekerjaan saya/kami sendiri.Sc. Tidak ada pekerjaan orang lain yang saya/kami gunakan tanpa menyebutkan sumbernya. Hirawan S..D . Susijati B. M.. Saya/kami memahami bahwa tugas yang saya/kami kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme. Ph.E.” Nama NPM Tanda tangan : Gary Linggar : 1206297296 : Mata Ajaran Judul Makalah/Tugas : Ekonomi Makro : Pengaruh Kebijakan Fiskal Dan Kebijakan Moneter Dalam Perekonomian Indonesia Dalam Analisa Jangka Pendek Dan Jangka Menengah Dari Tahun 2004 Hingga Tahun 2011 Tanggal Dosen : 1 April 2013 : Prof.

ABSTRAK Nama NPM Program Studi Judul : Gary Linggar : 1206297296 : Magister Akuntansi : Pengaruh Kebijakan Fiskal Dan Kebijakan Moneter Dalam Perekonomian Indonesia Dalam Analisa Jangka Pendek Dan Jangka Menengah Dari Tahun 2004 Hingga Tahun 2011 Makalah ini membahas mengenai peran kebijakan fiskal dan kebijakan moneter di perekonomian Indonesia. Dengan pergeseran kurva tersebut. price level dan interest rate di kurva-kurva tersebut di jangka pendek dan menengah.5%. Kebijakan moneter ekspansif tersebut akan menggeser kurva IS-LM dan kurva AD-AS. Selain itu. Dilihat dari kebijakan. dengan menurunkan interest rate dari 12. terlihat secara nyata bahwa pada tahun 2005 hingga tahun 2009. baik jangka pendek maupun jangka menengah. Bank Indonesia menjalankan kebijakan moneter ekspansif. . mahasiswa mencoba untuk memperhatikan perubahan-perubahan dalam output level.75% menjadi 6. mahasiswa juga mencoba untuk menganalisis lebih lanjut dengan menggunakan Phillips Curve dan Okun’s Law .

setelah membahas kebijakankebijakan yang diambil. mahasiswa mencoba untuk membuktikan pengaruh-pengaruh kebijakan tersebut terhadap keadaan perekonomian Indonesia yang sebenarnya pada tahun 2004 hingga 2011. output. .BAB I PENDAHULUAN Menurut Blanchard. kurva AS-AD. Secara umum. unemployment rate hingga inflasi. mahasiswa akan mencoba untuk mempresentasikan hasil akhir dari indikator-indikator tersebut. Oleh karena itu. mulai dari interest rate. indikator perekonomian dapat dilihat pada pergerakan di kurva IS-LM. dan kemudian akan menghubungkan antara kebijakan fiskal dan kebijakan moneter dengan hasil akhir dari indikator tersebut. Phillips Curve dan Okun’s Law. Pembahasan akan dimulai dengan kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia. Dalam makalah ini. kebijakan fiskal dan kebijakan moneter dapat berpengaruh terhadap keadaan perekonomian.

BAB II KEBIJAKAN FISKAL DAN KEBIJAKAN MONETER DI INDONESIA Dalam mengelola perekonomian Indonesia. Pemerintah Indonesia mempunyai peran di kebijakan fiskal melalui Government Spending dan Tax. penghasilan yang terdistribusikan. kebijakan perbankan. Pada sosialisasi Inflation Targeting Framework (ITF). Tujuan kebijakan moneter adalah mencapai stabilitas nilai uang dan menjaga likuiditas perekonomian. Pada sosialisasi ITF. Selain itu. Kerja sama tersebut bertujuan untuk mencapai tujuan akhir dengan pasti. BI menggunakan sasaran inflasi dengan mengatur BI rate. BI menjelaskan tujuan dan peran pada masing-masing kebijakan-kebijakan dan tujuan akhirnya. BI memiliki tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. dikatakan bahwa BI mengatur kebijakan moneter dengan menjaga stabilitas nilai tukar. seperti uang beredar dan suku bunga. untuk menjaga sasaran laju inflasi. Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Bank Indonesia. stabilitas nilai tukar uang dan kebijakan moneter lainnya.1 Kebijakan Moneter Berdasarkan UU No. untuk mencapai tujuan akhir yang dijelaskan di atas. sehingga tercapai stabilitas harga dan sistem keuangan. unemployment turun. 2. dan Bank Indonesia mempunyai peran di kebijakan moneter melalui pengelolaan money supply.3 tahun 2004 pasal 7 tentang Bank Indonesia. Pada website BI. yaitu kesejahteraan masyarakat. Peran-peran tersebut mempunyai tujuan akhir. Sedangkan tujuan kebijakan fiskal adalah mencapai perkembangan GDP stabil. . BI juga melakukan kebijakan moneter melalui penetapan sasaran-sasaran moneter.

dengan menurunkan BI rate. lebih diutamakan kebijakan moneter BI yang menjaga uang beredar yang dicapai dengan pengaturan BI rate.5% .75% April 2006 – Januari 2008 12.9. BI berharap bahwa money supply yang beredar akan .id/ Dengan menaikkan BI rate. Oleh karena itu.bi.5% . karena sesuai dengan pembahasan di buku Blanchard.0% Januari 2008 – Oktober 2008 8. Sedangkan kebijakan-kebijakan moneter lainnya tidak dibahas.Gambar 2. BI berharap bahwa money supply yang beredar akan berkurang.0% .6. Periode BI Rate July 2005 – Desember 2005 8.5% Oktober 2008 – September 2009 9. BI dapat menjaga uang beredar dengan melakukan pengendalian terhadap suku bunga BI Rate. untuk mempersempit pembahasan dan agar pembahasan lebih terfokus.go. Sedangkan.12.8. akan terdapat sejumlah error yang timbul sebagai akibat defisiensinya kebijakan moneter lainnya.75% Desember 2005 – April 2006 12.1 Inflation Targeting Sumber: Sosialisasi Inflation Targeting Framework (2005) Dalam pembahasan ini.75% .1 BI Rate Indonesia Secara Umum Tahun 2005 – 2011 Sumber: http://www.5% Oktober 2009 – Desember 2011 6.25% Tabel 2.

98% 19. Perubahan terjadi pada tahun 2010 dimana pajak terhadap perusahaan diturunkan dari 28% menjadi 25%.2 Kebijakan Fiskal Pemerintah Indonesia (Billion IDR) Sumber: Data Pokok APBN 2005-2011 Dari data pokok APBN tersebut.613.224.80) (4.10 1.726.70) (115.649. terlihat bahwa Pemerintah Indonesia ingin menjaga defisit anggaran pada sekitar -1%.14% 2011 17.70 757.60 (14. Defisit anggaran sangat bergantung pada pembelanjaan negara yang dapat dikendalikan oleh Pemerintah Indonesia.632.618.40 667.046.20) (29. Perubahan peraturan pajak pada tahun 2010 tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap pendapatan negara.70 5.91% 19.37% 17.70 6.90) (133.50% -1.128.339.950.08% 2009 16.086.80 509. Pada sub bab selanjutnya.2 Kebijakan Fiskal Kebijakan Fiskal dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Dari data tersebut.382. Pendapatan negara diatur secara tidak langsung melalui penetapan peraturan pajak.141.87% -2.441.52% 2006 19.85% -0.80 1.121. Kebijakan fiskal yang dilakukan Indonesia adalah penentuan Government Spending dan pajak di APBN.20 4.40 848. 2.5% yang mengindikasikan bahwa BI mengaplikasikan kebijakan moneter ekspansif.730.90 985.70 937.408.92% -1.893.356.774. Secara umum.253.80 3.126. peraturan pajak selama tahun 2005-2011 hanya mengalami satu kali perubahan.843.987.951. Namun.87% 2007 19. mahasiswa mencoba untuk melihat prosentasi belanja negara dan pendapatan negara didasarkan pada GDP.18% 17.789.3 Kebijakan Fiskal Pemerintah Indonesia (% GDP) Sumber: Data Pokok APBN 2005-2011 .006.20 707.763.58% 2010 18.806.83% -0. akan dibahas dampak dari perubahan BI rate ini.70% 15.50) (49.75% menjadi 6.11% -0. dimana pendapatan negara stabil di sekitar angka 15% dari GDP.609.398.26% 2008 19.216. dan pendapatan negara yang tidak diatur secara langsung. Berikut adalah kebijakan fiskal yang diambil oleh Pemerintah Indonesia: GDP (Billion IDR) Belanja Negara (Billion IDR) Pendapatan Negara (Billion IDR) Defisit Anggaran (Billion IDR) 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2.50 7.202.369.01% 15.bertambah.20 992.676.16% 15.60) Tabel 2.20 637.10 981.747.65% Tabel 2.10 3.30) (88.50 1. Belanja Negara (% GDP) Pendapatan Negara (% GDP) Defisit Anggaran (% GDP) 2005 18.20 495.12% -1.281. terlihat bahwa BI mencoba untuk menurunkan BI rate dari 12.146.

00% 19.00% 17.00% 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 0.00% -1.00% 16.50% -1.00% 15.00% 18.00% 14.50% -2.00% 13.2 Belanja dan Pendapatan Negara (% GDP) Sumber: Dioleh sendiri oleh Penulis .00% -2.Belanja dan Pendapatan Negara (% GDP) 21.00% -0.00% 20.50% Belanja Negara (% GDP) Defisit Anggaran (% GDP) Pendapatan Negara (% GDP) Gambar 2.

9. pada jangka menengah kurva LM akan bergerak kembali ke tempat semula. karena terdapat berbagai kebijakan-kebijakan moneter dan pengaruh-pengaruh lainnya selain kebijakan fiskal dan BI rate.25%. Terlihat pada tabel di bawah ini. price level di pasar terus berubah.5% .bi. 3.5% Oktober 2009 – Desember 2011 6.1 BI Rate Dan Dampaknya Sumber: http://www. Defisit anggaran dari tahun 2005 hingga tahun 2011 tetap terjaga disekitar angka 0% hingga 2%.6. kurva AS-AD. kurva LM akan bergerak ke kanan pada jangka pendek. pergerakan BI rate dan akibatnya terhadap LM. Namun. Selain itu. Mahasiswa memperkirakan bahwa ketidaktepatan dampak kebijakan tersebut.75% ke 6. Blanchard mengatakan bahwa penggambaran kurva ISLM berdasarkan price level yang sama.0% . akan dibahas mengenai hasil dari indikator-indikator. Sedangkan pada realisasinya. ekuilibrium ISLM tidak dapat benar-benar menggambarkan pengaruh dari kebijakan moneter dan fiskal dengan tepat.1 Kurva IS-LM Secara umum. Namun. dibuatlah ekuilibrium ISLM.75% .0% Januari 2008 – Oktober 2008 8.75% April 2006 – Januari 2008 12.go.8.5% Oktober 2008 – September 2009 9. . Phillips Curve dan Okun’s Law. Namun. terlihat bahwa BI rate yang diatur oleh BI mengalami fluktuasi yang cukup radikal. Periode BI Rate July 2005 – Desember 2005 8.BAB III INDIKATOR-INDIKATOR PEREKONOMIAN INDONESIA Dalam bab ini. sehingga seharusnya tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kurva IS-LM pada jangka panjang. Pemerintah Indonesia tidak menjalankan kebijakan fiskal yang radikal.12.5% . yang terdiri dari kurva IS-LM.25% Tabel 3. Dengan monetary expansion.5% dan stabil di angka 6. ditemukan data-data pada tabel di bawah ini.75% Desember 2005 – April 2006 12. Kebijakan ini merupakan monetary expansion. Dapat dilihat bahwa BI mencoba untuk menurunkan BI rate dari 12.id/ Shift of LM Up None Down Up Down None Sebagai realisasi pada kurva ISLM. Dari datadata ini.

000.00 5. mahasiswa perkirakan.950. dimana kurva LM bergeser ke kanan secara signifikan.10% 2006 3.00% 2. Namun.Seperti pada contohnya. GDP (Trillion IDR) BI Rate (3 Bulan rata-rata) 2005 2.000. GDP di Indonesia tidak pernah mengalami penurunan.613. sedangkan kurva IS bergeser dengan kurang signifikan ke kanan.00 7.73 6.79 6.00 Nominal GDP (Trillion IDR) Gambar 3.1 Ekuilibrium IS-LM Tahun 2005-2011 Sumber: Dioleh sendiri oleh Penulis Sebagai kesimpulan.774.00 4. Namun.00 3. Kurva IS. dari tahun 2005 hingga tahun 2009.000. karena kebijakan periode dilakukan selama bertahap.36 9. apabila terdapat kenaikan BI rate yang mengakibatkan money supply berkurang. dapat dilihat bahwa secara kasar kurva LM bergeser secara signifikan ke kanan.00 8. Namun.60% 2010 6.50% Tabel 3.44 7. maka pengaruh terhadap jangka menengah belum benar-benar terlihat. bergeser sebagai akibat dari pengaruh dari price level dan pertumbuhan GDP.951. dimana pertumbuhan GDP Indonesia mencapai 25% pada tahun 2008.000.000. seharusnya GDP mengalami penurunan.253.00% 2.339. dengan diterapkannya kebijakan monetary expansion.00% 12.50% 2011 7. terlihat bahwa monetary expansion berpengaruh terhadap jangka pendek.00% 2008 4.00% BI Rate 8.2 GDP dan BI Rate 2005-2011 Sumber: Data Pokok APBN 2005-2001 Ekuilibrium IS-LM (2005-2011) 14.30% 2009 5.000. .70% 2007 3.89 8.000.00% 4.00% 0.22 11.28 9. pada realisasinya.00% 6.00% 10.00 6.006.

Penurunan BI rate akan mengakibatkan niat masyarakat untuk menabung menjadi berkurang. Mahasiswa hanya mendapatkan grafik dari price level.3. mahasiswa tidak menemukan angka yang pasti terhadap price level.2 Kurva AS-AD Dari pembahasan-pembahasan di atas. Sedangkan. diketahui bahwa secara umum BI melakukan monetary expansion. yaitu monetary expansion. untuk kurun waktu 2004 hingga 2010. adalah bertambah. Kebijakan monetary expansion dilihat dari BI rate yang turun dari 12. sehingga peredaran uang menjadi lebih banyak. diketahui bahwa dengan melakukan monetary expansion akan berpengaruh terhadap indikator-indikator sebagai berikut di jangka pendek dan jangka menengah: 1) Jangka Pendek a) Output Level: bertambah b) Interest Rate: berkurang c) Price Level: bertambah 2) Jangka Menengah a) Output Level: tidak mengalami perubahan b) Interest Rate: tidak mengalami perubahan c) Price Level: bertambah Output level dan interest rate dapat dilihat dari data-data di atas. untuk price level. . Namun. mahasiswa mencoba untuk mencari data. yang menunjukkan bahwa price level di Indonesia.25%. pembahasan hanya akan membahas kebijakan moneter BI.75% menjadi stabil di angka 6. dengan menurunkan BI rate mulai pada tahun 2006 hingga tahun 2011 dan Pemerintah Indonesia tidak melakukan kebijakan fiskal secara radikal. Apabila menilik dari pembahasan Blanchard. Oleh karena itu.

Dengan begitu. Sehingga pada tahun 2005 dan tahun 2009 dapat terlihat pengaruh kebijakan pada jangka pendek.1 Kurva AS-AD Jangka Pendek Pada kurva ASAD. Seperti yang sudah dibahas di sub bab ISLM.org/ 3. price level bertambah dan interest rate berkurang. Sedangkan pada tahun 2009 hingga 2011 merupakan akibat dari dampak kebijakan jangka menengah.2 Price Level of Consumption 2004 . sehingga produktivitas bertambah dan GDP bertambah. masyarakat lebih konsumtif. Dengan tingkat pertumbuhan GDP di sekitar angka 20%. terlihat bahwa output level (GDP) terus bertambah.Gambar 3. kebijakan monetary expansion dilakukan secara bertahap dari tahun 2005 hingga 2009. Kebijakan monetary expansion akan menggeser kurva LM ke kanan. . terdapat aggregate supply dan aggregate demand. Dengan semakin banyaknya uang yang beredar di masyarakat. Dari tahun 2005 hingga 2009.2010 Sumber: FRED http://research.770Trilliun sampai Rp5.stiouisfed. sehingga juga akan menggeser kurva AD ke kanan.2. output seharusnya bertambah. Mulai dari Rp2.613Trilliun. Hal ini memperlihatkan bahwa pengaruh kebijakan moneter mempunyai dampak langsung terhadap GDP.

Oleh karena itu. Dampak kebijakan terbukti dari realisasi data di Indonesia pada tahun 2005-2009. Hal ini diakibatkan karena kurva AS bergeser ke atas dan mengimplikasikan price level semakin bertambah. BI tidak melepas kendali atas interest rate. Pada kenyataannya. 3. Seharusnya pada jangka menengah. Namun. namun price level semakin bertambah. Dari pembahasan singkat di atas. Namun. Namun. Namun.2. dan kemudian . terlihat secara implisit bahwa sebenarnya kebijakan moneter ekspansif tersebut berakibat secara nyata. terlihat jelas bahwa pertumbuhan GDP Indonesia turun secara cukup drastis. BI melakukan kebijakan moneter dengan mengendalikan BI rate.5%. angka dari GDP terus bertambah. Hal ini dikarenakan pada jangka pendek.Untuk interest rate. masyarakat akan mencoba untuk menjual barang dengan harga yang lebih mahal. interest rate turun dari 12. kebijakan moneter ekspansif akan mengakibatkan GDP dan interest rate menjadi kembali ke angka semula.613Trilliun menjadi Rp7. hal yang perlu dilihat adalah turunnya pertumbuhan GDP. diketahui bahwa dampak dari kebijakan moneter mempunyai dampak langsung terhadap GDP. sebagai sketsa awal dari dampak kebijakan tersebut. mahasiswa akan mencoba untuk menampilkan pengaruh kebijakan moneter tersebut. sebenarnya jangka menengah dari kebijakan moneter ini belum benar-benar terlihat. jelas bahwa pada jangka pendek tahun 2005-2009. Walaupun begitu. turun menjadi sekitar 12%. Dari tahun 2005 hingga 2009. dari Rp5. Jangka menengah dari kebijakan dapat dilihat mulai dari tahun 2009 hingga tahun 2011. walaupun secara implisit. Pada tahun 2009. seperti terdapatnya kebijakan-kebijakan moneter lainnya. Dari angka di sekitar 20%. Dengan GDP yang bertambah dan demand agregat yang bertambah.25% dari tahun 2009 hingga 2011.2 Kurva AS-AD Jangka Menengah Jangka menengah merupakan kelanjutan dari jangka pendek. yang merupakan analisis jangka pendek. interest rate dan price level. price level melebihi price level expectation. sehingga interest rate dijaga tetap disekitar angka 6.5%.006Trilliun. terlihat pada gambar di atas bahwa price level di Indonesia mengalami kenaikan.75% hingga 6. Pada tahun 2009 hingga tahun 2011. penurunan interest rate dihentikan dan stabil pada angka 6. Oleh karena itu. hal tersebut tidak tergambar secara jelas dan eksplisit karena berbagai faktor. Kenaikan harga tersebut akan membuat price level menjadi naik.

maka perubahan inflasi akan semakin berkurang. Dengan hasil regresi yang mahasiswa dapat. dan apabila diatas 6.77.98%.77 dibawah 6. Data yang diregresikan hanyalah 8 data. menurut penerapan regresi statistika. maka angka di atas merupakan angka yang bias dan tidak dapat dipercaya kebenarannya. .3 Phillips Curve Phillips Curve mencoba untuk memperlihatkan hubungan antara perubahan antara inflation rate dengan unemployment rate. Dimana. pemberi kerja mencoba untuk menyesuaikan price level expectation terhadap price level. seharusnya minimal diperlukan 20 data untuk membuat hasil regresi menjadi valid. 3. Namun. Selain itu. maka inflasi akan bertambah. inflasi akan berkurang. dari tahun 2004 hingga 2011 adalah misleading. mahasiswa tetap mencoba untuk memperlihatkan hasil regresi tersebut. menunjukkan bahwa phillips curve Indonesia. Dengan kenaikan price level expectation.di jangka menengah ini. Hasil regresi menunjukkan bahwa rumus Phillips curve adalah sebagai berikut: Rumus tersebut memperlihatkan bahwa tingkat unemployment berpengaruh terhadap perubahan inflasi sebesar 0. Kemungkinan besar. namun hasil regresi menunjukkan angka statistik yang dianggap bias.98. Sehingga pada akhirnya price level menjadi naik secara drastis dan GDP akan turun. Mahasiswa mencoba untuk meregresikan data-data perubahan inflasi dan unemployment rate dari tahun 2004 hingga 2011.12%. Namun. phillips curve ini menjadi bias dan misleading karena kurangnya data. dengan R Square yang hanya sebesar 10. akan menambah kenaikan price level. Apabila unemployment dikali dengan 0. Phillips curve menunjukkan bahwa semakin tinggi unemployment.

Mahasiswa juga mencoba untuk meregresikan okun’s law dari tahun 2005 hingga tahun 2010.2% saja.00% 12.3 Phillips Curve Indonesia 2004-2011 Sumber: Diolah oleh Penulis 3.7754x .2% saja GDP growth berpengaruh terhadap change unemployment rate. Dimana seharusnya data minimal yang diperlukan adalah 20 data. Namun.00% 4.4 Okun’s Law Okun’s Law menjelaskan bahwa semakin tinggi angka employment.00% -8.00% y = 0.00% -4.0698 R² = 0.1012 Gambar 3. karena data yang diregresikan hanyalah enam data. dimana seharusnya tidak terdapat simbol tanda tambah di rumus tersebut. Kembali lagi.00% -2. dimana R Square yang didapat hanyalah sebesar 19. R Square mengartikan bahwa hanya sebesar 19.Phillips Curve 6. ditemukan rumus sebagai berikut: Dari rumus yang muncul tersebut. Dari hasil regresi. .00% Unemployment Rate Series1 Linear (Series1) 10. hasil regresi adalah bias dan misleading. maka semakin tinggi pula GDP. mungkin hasil regresi tersebut tidak menunjukkan angka yang sebenarnya.00% Change in Inflation 2.00% 7. Sekali lagi.00% 11.00% 6.00% 8.00% 0.00% -6.00% 9. mahasiswa mencoba untuk mempresentasikan hasil regresi okun’s law. dapat terlihat bahwa hasil regresi Okun’s Law adalah salah.0.

00% 22.00% -0.0044 R² = 0.192 Output Growth Series1 Linear (Series1) Gambar 3.20% -0.60% -0.00% 28.00% 14.00% -1.00% y = -0.80% -1.00% 12.00% 20.4 Okun’s Law 2005-2010 Sumber: Diolah oleh Penulis .00% 16.40% 10.00% 26.40% -0.0.Okun's Law Change in Unemployment Rate 0.00% 24.20% -1.02x .00% 18.

Untuk menganalisis lebih lanjut. dengan diindikasikannya pertumbuhan GDP yang turun drastis. sehingga tidak dapat digunakan.BAB IV KESIMPULAN Sebagai kesimpulan. yaitu diindikasikannya dengan GDP meningkat secara signifikan. Namun. Sedangkan kebijakan moneter ekspansif berdampak secara implisit terhadap jangka menengah di Indonesia. . terlihat bahwa kebijakan moneter ekspansif berdampak secara langsung terhadap jangka pendek di Indonesia. interest rate turun dan price level naik. mahasiswa mencoba untuk meregresikan Phillips Curve dan Okun’s Law. interest rate yang tetap dan price level yang kian bertambah. hasil regresi menunjukkan bahwa data-data yang dihasilkan adalah bias. dari dampak kebijakan moneter ekspansif.