UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH KEBIJAKAN FISKAL DAN KEBIJAKAN MONETER DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA DALAM ANALISA JANGKA PENDEK DAN JANGKA MENENGAH DARI TAHUN 2004 HINGGA TAHUN 2011

TUGAS INDIVIDUAL EKONOMI MAKRO

GARY LINGGAR 1206297296

FAKULTAS EKONOMI MAGISTER AKUNTANSI – PPAk. SALEMBA APRIL 2013

Sc.. Hirawan S.E. Tidak ada pekerjaan orang lain yang saya/kami gunakan tanpa menyebutkan sumbernya. Ph. Saya/kami memahami bahwa tugas yang saya/kami kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.STATEMENT OF AUTHORSHIP “Saya/kami yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa makalah/tugas terlampir adalah murni hasil pekerjaan saya/kami sendiri. Susijati B. M.” Nama NPM Tanda tangan : Gary Linggar : 1206297296 : Mata Ajaran Judul Makalah/Tugas : Ekonomi Makro : Pengaruh Kebijakan Fiskal Dan Kebijakan Moneter Dalam Perekonomian Indonesia Dalam Analisa Jangka Pendek Dan Jangka Menengah Dari Tahun 2004 Hingga Tahun 2011 Tanggal Dosen : 1 April 2013 : Prof.D .. Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada mata ajaran lain kecuali saya/kami menyatakan dengan jelas bahwa saya/kami menyatakan menggunakannya.

. Kebijakan moneter ekspansif tersebut akan menggeser kurva IS-LM dan kurva AD-AS. baik jangka pendek maupun jangka menengah. terlihat secara nyata bahwa pada tahun 2005 hingga tahun 2009. Bank Indonesia menjalankan kebijakan moneter ekspansif.ABSTRAK Nama NPM Program Studi Judul : Gary Linggar : 1206297296 : Magister Akuntansi : Pengaruh Kebijakan Fiskal Dan Kebijakan Moneter Dalam Perekonomian Indonesia Dalam Analisa Jangka Pendek Dan Jangka Menengah Dari Tahun 2004 Hingga Tahun 2011 Makalah ini membahas mengenai peran kebijakan fiskal dan kebijakan moneter di perekonomian Indonesia.75% menjadi 6. Dengan pergeseran kurva tersebut. price level dan interest rate di kurva-kurva tersebut di jangka pendek dan menengah. mahasiswa juga mencoba untuk menganalisis lebih lanjut dengan menggunakan Phillips Curve dan Okun’s Law . dengan menurunkan interest rate dari 12. Selain itu. mahasiswa mencoba untuk memperhatikan perubahan-perubahan dalam output level.5%. Dilihat dari kebijakan.

kebijakan fiskal dan kebijakan moneter dapat berpengaruh terhadap keadaan perekonomian. kurva AS-AD. unemployment rate hingga inflasi. setelah membahas kebijakankebijakan yang diambil. indikator perekonomian dapat dilihat pada pergerakan di kurva IS-LM. Phillips Curve dan Okun’s Law. mulai dari interest rate. Secara umum. Pembahasan akan dimulai dengan kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia. Dalam makalah ini. . dan kemudian akan menghubungkan antara kebijakan fiskal dan kebijakan moneter dengan hasil akhir dari indikator tersebut.BAB I PENDAHULUAN Menurut Blanchard. output. mahasiswa mencoba untuk membuktikan pengaruh-pengaruh kebijakan tersebut terhadap keadaan perekonomian Indonesia yang sebenarnya pada tahun 2004 hingga 2011. Oleh karena itu. mahasiswa akan mencoba untuk mempresentasikan hasil akhir dari indikator-indikator tersebut.

kebijakan perbankan. . BI memiliki tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Selain itu. Peran-peran tersebut mempunyai tujuan akhir. Pada sosialisasi Inflation Targeting Framework (ITF). Tujuan kebijakan moneter adalah mencapai stabilitas nilai uang dan menjaga likuiditas perekonomian.1 Kebijakan Moneter Berdasarkan UU No. untuk mencapai tujuan akhir yang dijelaskan di atas.BAB II KEBIJAKAN FISKAL DAN KEBIJAKAN MONETER DI INDONESIA Dalam mengelola perekonomian Indonesia. Pada sosialisasi ITF. sehingga tercapai stabilitas harga dan sistem keuangan.3 tahun 2004 pasal 7 tentang Bank Indonesia. penghasilan yang terdistribusikan. BI menggunakan sasaran inflasi dengan mengatur BI rate. stabilitas nilai tukar uang dan kebijakan moneter lainnya. Kerja sama tersebut bertujuan untuk mencapai tujuan akhir dengan pasti. unemployment turun. dikatakan bahwa BI mengatur kebijakan moneter dengan menjaga stabilitas nilai tukar. Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Bank Indonesia. BI juga melakukan kebijakan moneter melalui penetapan sasaran-sasaran moneter. BI menjelaskan tujuan dan peran pada masing-masing kebijakan-kebijakan dan tujuan akhirnya. untuk menjaga sasaran laju inflasi. Sedangkan tujuan kebijakan fiskal adalah mencapai perkembangan GDP stabil. 2. seperti uang beredar dan suku bunga. Pada website BI. dan Bank Indonesia mempunyai peran di kebijakan moneter melalui pengelolaan money supply. Pemerintah Indonesia mempunyai peran di kebijakan fiskal melalui Government Spending dan Tax. yaitu kesejahteraan masyarakat.

go. untuk mempersempit pembahasan dan agar pembahasan lebih terfokus.id/ Dengan menaikkan BI rate. dengan menurunkan BI rate. BI dapat menjaga uang beredar dengan melakukan pengendalian terhadap suku bunga BI Rate.Gambar 2.0% . akan terdapat sejumlah error yang timbul sebagai akibat defisiensinya kebijakan moneter lainnya.12.bi. BI berharap bahwa money supply yang beredar akan berkurang.75% April 2006 – Januari 2008 12.5% Oktober 2009 – Desember 2011 6.0% Januari 2008 – Oktober 2008 8.5% . Sedangkan kebijakan-kebijakan moneter lainnya tidak dibahas. BI berharap bahwa money supply yang beredar akan .75% Desember 2005 – April 2006 12.8. lebih diutamakan kebijakan moneter BI yang menjaga uang beredar yang dicapai dengan pengaturan BI rate.9. Sedangkan. karena sesuai dengan pembahasan di buku Blanchard. Oleh karena itu.5% .25% Tabel 2.6.5% Oktober 2008 – September 2009 9.1 BI Rate Indonesia Secara Umum Tahun 2005 – 2011 Sumber: http://www.1 Inflation Targeting Sumber: Sosialisasi Inflation Targeting Framework (2005) Dalam pembahasan ini.75% . Periode BI Rate July 2005 – Desember 2005 8.

618.12% -1. Perubahan terjadi pada tahun 2010 dimana pajak terhadap perusahaan diturunkan dari 28% menjadi 25%.50) (49.20) (29.18% 17.730.01% 15.216.58% 2010 18.91% 19.65% Tabel 2.2 Kebijakan Fiskal Kebijakan Fiskal dilakukan oleh Pemerintah Indonesia.50 1.92% -1.50 7.bertambah.224.987.676.80 1.20 495. Namun.441.20 4. Dari data tersebut.20 707.11% -0.70 937. Pendapatan negara diatur secara tidak langsung melalui penetapan peraturan pajak.950.70 757. terlihat bahwa BI mencoba untuk menurunkan BI rate dari 12.26% 2008 19.80 3.14% 2011 17.763.356.806.141. dan pendapatan negara yang tidak diatur secara langsung.893.951.70 6.726.10 3.747.609.086. Berikut adalah kebijakan fiskal yang diambil oleh Pemerintah Indonesia: GDP (Billion IDR) Belanja Negara (Billion IDR) Pendapatan Negara (Billion IDR) Defisit Anggaran (Billion IDR) 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2.006. peraturan pajak selama tahun 2005-2011 hanya mengalami satu kali perubahan. Perubahan peraturan pajak pada tahun 2010 tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap pendapatan negara.08% 2009 16.80) (4.98% 19.281.2 Kebijakan Fiskal Pemerintah Indonesia (Billion IDR) Sumber: Data Pokok APBN 2005-2011 Dari data pokok APBN tersebut. Belanja Negara (% GDP) Pendapatan Negara (% GDP) Defisit Anggaran (% GDP) 2005 18.80 509.202.20 992.87% -2.398.408.87% 2007 19.3 Kebijakan Fiskal Pemerintah Indonesia (% GDP) Sumber: Data Pokok APBN 2005-2011 .369.046.85% -0.843.253.10 1.126.40 667. Defisit anggaran sangat bergantung pada pembelanjaan negara yang dapat dikendalikan oleh Pemerintah Indonesia.90) (133.128. Pada sub bab selanjutnya.20 637.146.70 5.789.649.632.16% 15.50% -1.83% -0.10 981. Secara umum.70% 15.70) (115. terlihat bahwa Pemerintah Indonesia ingin menjaga defisit anggaran pada sekitar -1%.382.121.37% 17.5% yang mengindikasikan bahwa BI mengaplikasikan kebijakan moneter ekspansif.339. mahasiswa mencoba untuk melihat prosentasi belanja negara dan pendapatan negara didasarkan pada GDP.60 (14.90 985. akan dibahas dampak dari perubahan BI rate ini.613.75% menjadi 6.30) (88. dimana pendapatan negara stabil di sekitar angka 15% dari GDP.52% 2006 19.40 848.60) Tabel 2. Kebijakan fiskal yang dilakukan Indonesia adalah penentuan Government Spending dan pajak di APBN. 2.774.

50% -2.00% 14.00% -1.50% Belanja Negara (% GDP) Defisit Anggaran (% GDP) Pendapatan Negara (% GDP) Gambar 2.00% -2.Belanja dan Pendapatan Negara (% GDP) 21.00% 13.00% 16.50% -1.00% 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 0.00% 19.2 Belanja dan Pendapatan Negara (% GDP) Sumber: Dioleh sendiri oleh Penulis .00% 20.00% 17.00% -0.00% 18.00% 15.

ditemukan data-data pada tabel di bawah ini. sehingga seharusnya tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kurva IS-LM pada jangka panjang.75% .9.1 Kurva IS-LM Secara umum. ekuilibrium ISLM tidak dapat benar-benar menggambarkan pengaruh dari kebijakan moneter dan fiskal dengan tepat. kurva LM akan bergerak ke kanan pada jangka pendek. Namun. Sedangkan pada realisasinya.5% . Namun. Periode BI Rate July 2005 – Desember 2005 8. Mahasiswa memperkirakan bahwa ketidaktepatan dampak kebijakan tersebut.0% .75% Desember 2005 – April 2006 12.0% Januari 2008 – Oktober 2008 8. price level di pasar terus berubah.25% Tabel 3. .12. yang terdiri dari kurva IS-LM.5% Oktober 2008 – September 2009 9. Dengan monetary expansion.go. Blanchard mengatakan bahwa penggambaran kurva ISLM berdasarkan price level yang sama.75% ke 6. terlihat bahwa BI rate yang diatur oleh BI mengalami fluktuasi yang cukup radikal. akan dibahas mengenai hasil dari indikator-indikator. dibuatlah ekuilibrium ISLM.id/ Shift of LM Up None Down Up Down None Sebagai realisasi pada kurva ISLM. Dari datadata ini. 3. pergerakan BI rate dan akibatnya terhadap LM. Terlihat pada tabel di bawah ini. kurva AS-AD.25%. Selain itu.BAB III INDIKATOR-INDIKATOR PEREKONOMIAN INDONESIA Dalam bab ini.5% dan stabil di angka 6.6. Defisit anggaran dari tahun 2005 hingga tahun 2011 tetap terjaga disekitar angka 0% hingga 2%.5% Oktober 2009 – Desember 2011 6.8. karena terdapat berbagai kebijakan-kebijakan moneter dan pengaruh-pengaruh lainnya selain kebijakan fiskal dan BI rate. Pemerintah Indonesia tidak menjalankan kebijakan fiskal yang radikal. pada jangka menengah kurva LM akan bergerak kembali ke tempat semula.5% . Dapat dilihat bahwa BI mencoba untuk menurunkan BI rate dari 12.1 BI Rate Dan Dampaknya Sumber: http://www. Namun. Kebijakan ini merupakan monetary expansion.75% April 2006 – Januari 2008 12. Phillips Curve dan Okun’s Law.bi.

70% 2007 3. Kurva IS.774.00% 6.2 GDP dan BI Rate 2005-2011 Sumber: Data Pokok APBN 2005-2001 Ekuilibrium IS-LM (2005-2011) 14. dari tahun 2005 hingga tahun 2009. sedangkan kurva IS bergeser dengan kurang signifikan ke kanan. mahasiswa perkirakan.36 9.00 4.000.50% Tabel 3.339.00% 2. dapat dilihat bahwa secara kasar kurva LM bergeser secara signifikan ke kanan.00% 2008 4.00% 10.00 Nominal GDP (Trillion IDR) Gambar 3.00% BI Rate 8.28 9. Namun. Namun.50% 2011 7.44 7. apabila terdapat kenaikan BI rate yang mengakibatkan money supply berkurang.000.00% 2. maka pengaruh terhadap jangka menengah belum benar-benar terlihat. terlihat bahwa monetary expansion berpengaruh terhadap jangka pendek.22 11.950.00 5.000.89 8.00% 0.60% 2010 6. GDP (Trillion IDR) BI Rate (3 Bulan rata-rata) 2005 2.30% 2009 5.00 6. karena kebijakan periode dilakukan selama bertahap.00 3.10% 2006 3. dengan diterapkannya kebijakan monetary expansion.000.00 8. .00 7.79 6. dimana pertumbuhan GDP Indonesia mencapai 25% pada tahun 2008.1 Ekuilibrium IS-LM Tahun 2005-2011 Sumber: Dioleh sendiri oleh Penulis Sebagai kesimpulan. pada realisasinya.951.73 6. dimana kurva LM bergeser ke kanan secara signifikan. Namun.Seperti pada contohnya.613.000.00% 4.000. GDP di Indonesia tidak pernah mengalami penurunan. bergeser sebagai akibat dari pengaruh dari price level dan pertumbuhan GDP.006.000. seharusnya GDP mengalami penurunan.253.00% 12.

dengan menurunkan BI rate mulai pada tahun 2006 hingga tahun 2011 dan Pemerintah Indonesia tidak melakukan kebijakan fiskal secara radikal. mahasiswa mencoba untuk mencari data. untuk price level.25%. sehingga peredaran uang menjadi lebih banyak. Sedangkan. yang menunjukkan bahwa price level di Indonesia. mahasiswa tidak menemukan angka yang pasti terhadap price level. untuk kurun waktu 2004 hingga 2010.75% menjadi stabil di angka 6. . Apabila menilik dari pembahasan Blanchard. diketahui bahwa dengan melakukan monetary expansion akan berpengaruh terhadap indikator-indikator sebagai berikut di jangka pendek dan jangka menengah: 1) Jangka Pendek a) Output Level: bertambah b) Interest Rate: berkurang c) Price Level: bertambah 2) Jangka Menengah a) Output Level: tidak mengalami perubahan b) Interest Rate: tidak mengalami perubahan c) Price Level: bertambah Output level dan interest rate dapat dilihat dari data-data di atas. Kebijakan monetary expansion dilihat dari BI rate yang turun dari 12. yaitu monetary expansion. pembahasan hanya akan membahas kebijakan moneter BI. Mahasiswa hanya mendapatkan grafik dari price level. Oleh karena itu.2 Kurva AS-AD Dari pembahasan-pembahasan di atas.3. Penurunan BI rate akan mengakibatkan niat masyarakat untuk menabung menjadi berkurang. diketahui bahwa secara umum BI melakukan monetary expansion. Namun. adalah bertambah.

price level bertambah dan interest rate berkurang.Gambar 3. masyarakat lebih konsumtif. Seperti yang sudah dibahas di sub bab ISLM. sehingga produktivitas bertambah dan GDP bertambah. . Mulai dari Rp2.2. Hal ini memperlihatkan bahwa pengaruh kebijakan moneter mempunyai dampak langsung terhadap GDP. Sehingga pada tahun 2005 dan tahun 2009 dapat terlihat pengaruh kebijakan pada jangka pendek. Kebijakan monetary expansion akan menggeser kurva LM ke kanan. Sedangkan pada tahun 2009 hingga 2011 merupakan akibat dari dampak kebijakan jangka menengah.org/ 3. Dari tahun 2005 hingga 2009. output seharusnya bertambah. Dengan semakin banyaknya uang yang beredar di masyarakat. Dengan begitu. terdapat aggregate supply dan aggregate demand.770Trilliun sampai Rp5. terlihat bahwa output level (GDP) terus bertambah.stiouisfed. sehingga juga akan menggeser kurva AD ke kanan.1 Kurva AS-AD Jangka Pendek Pada kurva ASAD.2 Price Level of Consumption 2004 . kebijakan monetary expansion dilakukan secara bertahap dari tahun 2005 hingga 2009. Dengan tingkat pertumbuhan GDP di sekitar angka 20%.613Trilliun.2010 Sumber: FRED http://research.

Dengan GDP yang bertambah dan demand agregat yang bertambah. dari Rp5.5%.2. namun price level semakin bertambah. turun menjadi sekitar 12%. Pada tahun 2009 hingga tahun 2011. kebijakan moneter ekspansif akan mengakibatkan GDP dan interest rate menjadi kembali ke angka semula. Dampak kebijakan terbukti dari realisasi data di Indonesia pada tahun 2005-2009. yang merupakan analisis jangka pendek. Pada tahun 2009.006Trilliun. diketahui bahwa dampak dari kebijakan moneter mempunyai dampak langsung terhadap GDP. terlihat pada gambar di atas bahwa price level di Indonesia mengalami kenaikan. hal yang perlu dilihat adalah turunnya pertumbuhan GDP.5%. Oleh karena itu.2 Kurva AS-AD Jangka Menengah Jangka menengah merupakan kelanjutan dari jangka pendek.75% hingga 6. sehingga interest rate dijaga tetap disekitar angka 6. penurunan interest rate dihentikan dan stabil pada angka 6. jelas bahwa pada jangka pendek tahun 2005-2009. terlihat jelas bahwa pertumbuhan GDP Indonesia turun secara cukup drastis. Walaupun begitu. Namun. sebagai sketsa awal dari dampak kebijakan tersebut. price level melebihi price level expectation. Pada kenyataannya.25% dari tahun 2009 hingga 2011. Seharusnya pada jangka menengah. interest rate turun dari 12.Untuk interest rate. Namun. seperti terdapatnya kebijakan-kebijakan moneter lainnya. 3. walaupun secara implisit. masyarakat akan mencoba untuk menjual barang dengan harga yang lebih mahal. hal tersebut tidak tergambar secara jelas dan eksplisit karena berbagai faktor. Hal ini dikarenakan pada jangka pendek. Namun. Jangka menengah dari kebijakan dapat dilihat mulai dari tahun 2009 hingga tahun 2011. Dari pembahasan singkat di atas. Kenaikan harga tersebut akan membuat price level menjadi naik. angka dari GDP terus bertambah. interest rate dan price level. BI melakukan kebijakan moneter dengan mengendalikan BI rate. Dari angka di sekitar 20%. Hal ini diakibatkan karena kurva AS bergeser ke atas dan mengimplikasikan price level semakin bertambah. dan kemudian . Oleh karena itu. terlihat secara implisit bahwa sebenarnya kebijakan moneter ekspansif tersebut berakibat secara nyata. BI tidak melepas kendali atas interest rate. mahasiswa akan mencoba untuk menampilkan pengaruh kebijakan moneter tersebut. Dari tahun 2005 hingga 2009. Namun. sebenarnya jangka menengah dari kebijakan moneter ini belum benar-benar terlihat.613Trilliun menjadi Rp7.

namun hasil regresi menunjukkan angka statistik yang dianggap bias. mahasiswa tetap mencoba untuk memperlihatkan hasil regresi tersebut. Dengan kenaikan price level expectation. menurut penerapan regresi statistika. Phillips curve menunjukkan bahwa semakin tinggi unemployment. Kemungkinan besar.di jangka menengah ini.98.77 dibawah 6. Selain itu. Namun.77.12%. 3. Sehingga pada akhirnya price level menjadi naik secara drastis dan GDP akan turun. Mahasiswa mencoba untuk meregresikan data-data perubahan inflasi dan unemployment rate dari tahun 2004 hingga 2011. dengan R Square yang hanya sebesar 10. akan menambah kenaikan price level. Namun. . maka inflasi akan bertambah. dan apabila diatas 6. Dimana. Dengan hasil regresi yang mahasiswa dapat. seharusnya minimal diperlukan 20 data untuk membuat hasil regresi menjadi valid. inflasi akan berkurang. pemberi kerja mencoba untuk menyesuaikan price level expectation terhadap price level. maka perubahan inflasi akan semakin berkurang. Data yang diregresikan hanyalah 8 data. dari tahun 2004 hingga 2011 adalah misleading.3 Phillips Curve Phillips Curve mencoba untuk memperlihatkan hubungan antara perubahan antara inflation rate dengan unemployment rate. menunjukkan bahwa phillips curve Indonesia. Hasil regresi menunjukkan bahwa rumus Phillips curve adalah sebagai berikut: Rumus tersebut memperlihatkan bahwa tingkat unemployment berpengaruh terhadap perubahan inflasi sebesar 0. maka angka di atas merupakan angka yang bias dan tidak dapat dipercaya kebenarannya.98%. phillips curve ini menjadi bias dan misleading karena kurangnya data. Apabila unemployment dikali dengan 0.

maka semakin tinggi pula GDP. Mahasiswa juga mencoba untuk meregresikan okun’s law dari tahun 2005 hingga tahun 2010. karena data yang diregresikan hanyalah enam data. Dari hasil regresi. Sekali lagi. hasil regresi adalah bias dan misleading. Kembali lagi.00% 0.00% 4.2% saja GDP growth berpengaruh terhadap change unemployment rate.00% -8. R Square mengartikan bahwa hanya sebesar 19.1012 Gambar 3.00% 12.0698 R² = 0.3 Phillips Curve Indonesia 2004-2011 Sumber: Diolah oleh Penulis 3. dimana R Square yang didapat hanyalah sebesar 19.4 Okun’s Law Okun’s Law menjelaskan bahwa semakin tinggi angka employment.00% 6.0.7754x .00% -4.00% 8.00% 11.00% Change in Inflation 2.00% -2.00% 7. dapat terlihat bahwa hasil regresi Okun’s Law adalah salah.00% 9. Namun.00% -6. Dimana seharusnya data minimal yang diperlukan adalah 20 data. mahasiswa mencoba untuk mempresentasikan hasil regresi okun’s law. mungkin hasil regresi tersebut tidak menunjukkan angka yang sebenarnya.00% Unemployment Rate Series1 Linear (Series1) 10. dimana seharusnya tidak terdapat simbol tanda tambah di rumus tersebut. .Phillips Curve 6.2% saja.00% y = 0. ditemukan rumus sebagai berikut: Dari rumus yang muncul tersebut.

00% 20.00% -1.02x .40% -0.80% -1.00% 18.00% 14.00% 16.20% -0.00% y = -0.40% 10.00% 22.60% -0.00% -0.00% 26.192 Output Growth Series1 Linear (Series1) Gambar 3.4 Okun’s Law 2005-2010 Sumber: Diolah oleh Penulis .20% -1.Okun's Law Change in Unemployment Rate 0.0.0044 R² = 0.00% 28.00% 12.00% 24.

mahasiswa mencoba untuk meregresikan Phillips Curve dan Okun’s Law. Untuk menganalisis lebih lanjut. Sedangkan kebijakan moneter ekspansif berdampak secara implisit terhadap jangka menengah di Indonesia. sehingga tidak dapat digunakan. . interest rate turun dan price level naik.BAB IV KESIMPULAN Sebagai kesimpulan. dengan diindikasikannya pertumbuhan GDP yang turun drastis. Namun. dari dampak kebijakan moneter ekspansif. yaitu diindikasikannya dengan GDP meningkat secara signifikan. terlihat bahwa kebijakan moneter ekspansif berdampak secara langsung terhadap jangka pendek di Indonesia. interest rate yang tetap dan price level yang kian bertambah. hasil regresi menunjukkan bahwa data-data yang dihasilkan adalah bias.