Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Fimosis dan parafimosis merupakan suatu kelainan pada penis, dimana kulit yang menutupi gland penis, atau prepusium sangat sulit untuk diretraksi melalui gland penis.1 Fimosis merupakan kondisi dimana prepusium tidak dapat diretraksi ke bagian proksimal dari gland penis, sedangkan parafimosis adalah kondisi dimana prepusium yang telah diretraksi, tidak dapat dikembalikan pada keadaan semula sehingga menimbulkan jeratan pada penis dibelakang sulkus koronarius. Kedua kondisi ini dapat menyebabkan kondisi patologis pada penis.1,2 Secara epidemiologi, angka kejadian fimosis dan parafimosis di Indonesia masih belum diketahui. Untuk fimosis, pada tahun 2006 di Taiwan, diperiksa dari 2.149 anak laki-laki yang bersekolah, menunjukkan bahwa 50% pada anak lakilaki berumur 7 tahun mengalami fimosis, namun angka kejadiannya menurun menjadi 8% pada anak laki-laki usia 13 tahun.2 Fimosis dan parafimosis menjadi masalah kesehatan dan masalah sosial yang cukup serius, karena dapat mempengaruhi kualitas hidup penderita, baik pendidikan, aktivitas harian, dan kenyaman. Yang menjadi dasar serius dalam hal medis bahwa fimosis dan parafimosis akan menyebabkan infeksi saluran kemih di masa mendatang, dan nantinya akan dapat berkembang menjadi pyelonefritis kronis, dan dapat berujung pada gagal ginjal kronik.3 Mengingat angka morbiditas yang meningkat akibat dari fimosis dan parafimosis, dan dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius, untuk itu diperlukan pemahaman yang lebih dalam tentang fimosis dan parafimosis mulai dari definisi, penyebab, perjalanan penyakit, diagnosis hingga penatalaksanaan.

1.2 RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : Apa definisi dari fimosis dan parafimosis? Apa etiologi dan bagaimana patofisiologi dari fimosis dan parafimosis? Apa manifestasi klinis yang timbul dari fimosis dan parafimosis? Bagaimana diagnosis dari fimosis dan parafimosis? Apakah komplikasi dari fimosis dan parafimosis? Bagaimana penatalaksanaan fimosis dan parafimosis? Bagaimana prognosis untuk penderita fimosis dan parafimosis?

1.3 TUJUAN Adapun tujuan dari paper ini adalah untuk mengetahui bagaimana definisi dari fimosis dan parafimosis, serta bagaimana etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis, komplikasi, penatalaksanaannya, dan prognosis yang dapat diberikan pada penderita fimosis dan parafimosis. Tujuan lain dari penulisan paper ini adalah untuk mengetahui cara mencari references yang relevan di jurnal medis, buku, dan berbagai sumber lainnya di internet.

1.4 METODE PENULISAN Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode studi pustaka yang mengkaji atau menelaah reference untuk mendapatkan informasi yang lengkap mengenai pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis, penatalaksanaan, dan KIE dari fimosis dan parafimosis.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Definisi Fimosis adalah suatu keadaan dimana terjadi penyempitan pada ujung prepusium. Kelainan ini menyebabkan bayi atau anak sulit berkemih, sehingga prepusium menggelembung seperti balon. Bayi atau anak sering menangis sebelum urin keluar.4

Gambar 1 Fimosis Parafimosis adalah suatu keadaan dimana prepusium penis yang diretraksi sampai di sulkus koronarius tidak dapat dikembalikan pada keadaan semula dan menimbulkan jeratan pada penis dibelakang sulkus koronarius.4

Gambar 2 Parafimosis

2.2 Etiologi Penyebab fimosis dibedakan menjadi dua yaitu fimosis fisiologis (kongenital) dan fimosis patologis. Fimosis fisiologis (kongenital) disebabkan oleh genetik yang menyebabkan ujung prepusium mengalami penyempitan sejak lahir, sehingga tidak dapat diretraksi.4 Fimosis patologis disebakan oleh infeksi yang terjadi pada gland penisdan prepusium. Hal ini berkaitan dengan kebersihan alat kelamin yang buruk, adanya peradangan kronik glans penis dan kulit preputium (balanoposthitis kronik) Parafimosis disebabkan oleh tindakan menarik prepusium secara paksa ke proksimal. Pada orang dewasa parafimosis juga dapat disebabkan pada saat bersenggama, masturbasi atau setelah pemasangan kateter.4

2.3 Patofisiologi

Patofisiologi fimosis dapat dibagi menjadi dua, yaitu fimosis fisiologis dan patologis. Fimosis fisiologi terjadi karena ujung prepusium sempit sehingga prepusium tidak dapat diretraksi. Ujung prepusium seharusnya melebar seiring bertambahnya umur namun pada kasus ini ujung prepusium tidak mengalami perkembangan sehingga tetap sempit. Fimosis patologis disebabkan karena adanya infeksi di gland penis. Fimosis ini terjadi karena seringnya infeksi pada bagian prepusium dan gland penis yang menyebabkan terbentuknya jaringan parut sehingga prepusim menyempit.5,6 Pada pasien fimosis memiliki resiko tinggi untuk menjadi parafimosis bila prepusium dipaksa diretraksi tapi tidak dapat dikembalikan. Parafimosis ini menyebabkan gland penis terjepit sehingga aliran darah ke gland penis terhambat. Jika ini dibiarkan terlalu lama dapat menyababkan kematian sel pada gland penis.5,6

2.4 Manifestasi klinis

Fimosis menyebabkan gangguan aliran urine berupa sulit kencing, pancaran urine mengecil, menggelembungnya ujung prepusium penis pada saat miksi, dan menimbulkan retensi urine. Higiene lokal yang kurang bersih menyebabkan terjadinya infeksi pada prepusium (postitis), infeksi pada glans penis (balanitis) atau infeksi pada glans dan prepusium penis (balanopostitis).4,7 Kadangkala pasien dibawa berobat oleh orang tuanya karena ada benjolan lunak di ujung penis yang tak lain adalah korpus smegma yaitu timbunan smegma di dalam sakus prepusium penis. Smegma terjadi dari sel sel mukosa prepusium dan glans penis yang mengalami deskuamasi oleh bakteri yang ada di dalamnya.7 Parafimosis atau pembengkakan yang sangat nyeri pada prepusium bagian distal dari phimotic ring, terjadi bila prepusium tetap retraksi untuk waktu lama. Hal ini menyebabkan terjadinya obstruksi vena dan bendungan pada gland penis yang sangat nyeri. Pembengkakan dapat membuat penurunan prepusium yang meliputi gland penis menjadi sulit.4,7 Seiring waktu, gangguan aliran vena dan limfatik ke penis menjadi terbendung dan semakin membengkak. Dengan berjalannya proses

pembengkakan, suplai darah menjadi berkurang dan dapat menyebabkan terjadinya infark/nekrosis penis, gangren, bahkan autoamputasi.7

2.5 Diagnosis Fimosis dan Parafimosis dapat dideteksi dengan pemeriksaan fisik tanpa memerlukan pemeriksaan penunjang. Pada pemeriksaan fisik kasus fimosis, dapat ditemukan kulit yang tidak dapat diretaksi melewati gland penis. Pada fimosis fisiologis, bagian preputial orifice tidak ada luka dan terlihat sehat, sedangkan pada fimosis patologis terdapat jaringan fibrus berwana putih yang melingkar.5,6

Parafimosis biasanya muncul dengan rasa sakit, bengkak pada kepala penis yang ada pada pasien yang belum di sirkumsisi. Parafimosis biasanya sering muncul pada beberapa populasi, diantaranya anak anak yang menarik paksa prepusium nya atau anak yang lupa mengembalikan prepusium ke posisi semula sehabis mandi, orang dewasa yang terkena parafimosis akibat aktivitas seks yang berlebihan, lelaki dengan balanoposthitis kronis, pasien dengan kateter yang kulitnya tidak di kebalikan ke posisi semula setelah pemasangan atau pembersihan.5,6 Pada pemeriksaan fisik pada kasus parafimosis, dapat ditemukan juga kulit penis yang teretaksi sampai di belakang gland penis dan tidak dapat dikembalikan ke posisi normal sehingga prepusium mengekang gland penis. Warna gland penis akan semakin berwarna pucat dan bengkak. Seiring perjalanan waktu keadaan ini akan mengakibatkan nekrosis sel di gland penis, warnanya akan menjadi biru atau hitam dan gland penis akan terasa keras saat di palpasi.4,5,6

2.6 Komplikasi Parafimosis harus dianggap sebagai kondisi darurat karena retraksi prepusium yang terlalu sempit di belakang glans penis ke sulkus glandularis dapat mengganggu perfusi permukaan prepusium distal dari cincin konstriksi dan juga pada glans penis dengan risiko terjadinya nekrosis.3,8 Jika parafimosis tidak segera diterapi, hal ini dapat mengganggu aliran darah ke ujung distal dari penis (penis tip). Pada kasus yang ekstrim, hal ini mungkin dapat menyebabkan kerusakan atau cedera ujung penis, gangren maupun hilangnya ujung penis (penis tip).3,8

2.7 Penatalaksanaan

Fimosis tidak dianjurkan melakukan dilatasi atau retraksi yang di paksakan karena dapat menimbulkan luka dan terbentuknya sikatrik pada ujung prepusium sebagai fimosis sekunder. Fimosis yang di sertai balanitis xerotika obliterans dapat di

diberikan salep dexametason 0,1% yang di oleskan 3 atau 4 kali sehari. Diharapkan setelah pemberian selama 6 minggu, preposium dapat di retraksi spontan.7,8 Pada fimosis yang menimbulkan keluhan miksi, menggelembungnya ujung prepusium pada saat miksi, atau fimosis yang disertai dengan infeksi postitis merupakan indikasi untuk dilakukan sirkumsisi. Tentunya pada balinitis atau postitis harus diberikan antibiotika dahulu sebelum sirkumsisi.8 Parafimosis prepusium diusahakan untuk dikembalikan secara manual dengan teknik memijat gland penis selama 3-5 menit diharapkan edema dapat berkurang dan secara perlahan-lahan prepusium dapat dikembalikan pada tempatnya. Jika usaha ini tidak berhasil, dilakukan dorsum insisi pada jeratan sehingga prepusium dapat dikembalikan pada tempatnya. Setelah edema dan proses inflamasi menghilang pasien dianjurkan untuk menjalani siskumsisi.7,8

Gambar 5. Manual Reduction pada Parafimosis

2.8 Prognosis Prognosis dan outcome dari fimosis dan parafimosis akan semakin baik manakala kondisi penyakit ini semakin dini dan cepat pula didiagnosis dan ditangani.8

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Fimosis adalah suatu keadaan dimana terjadi penyempitan pada ujung prepusium. Kelainan ini menyebabkan bayi atau anak sulit berkemih, sehingga prepusium menggelembung seperti balon. Hal ini dapat menyebabkan gangguan aliran urine berupa sulit kencing, pancaran urine mengecil, menggelembungnya ujung prepusium penis pada saat miksi, dan menimbulkan retensi urine. Higiene lokal yang kurang bersih menyebabkan terjadinya infeksi pada prepusium (postitis), infeksi pada glans penis (balanitis) atau infeksi pada glans dan prepusium penis (balanopostitis). Fimosis tidak dianjurkan melakukan dilatasi atau retraksi yang di paksakan karena dapat menimbulkan luka dan terbentuknya sikatrik pada ujung prepusium. fimosis yang disertai dengan infeksi postitis merupakan indikasi untuk dilakukan sirkumsis. Parafimosis merupakan kasus gawat darurat yang merupakan kondisi dimana kulit preputium setelah ditarik ke belakang batang penis sampai di sulkus koronarius tidak dapat dikembalikan ke posisi semula ke depan batang penis. Kulit preputium yang tidak bisa kembali ke depan batang penis akan menjepit penis sehingga menimbulkan bendungan aliran darah yang disebabkan gangguan aliran balik vena superfisial sedangkan aliran arteri tetap berjalan normal. Hal ini menyebabkan edema glans penis dan dirasakan nyeri. Jika dibiarkan bagian penis disebelah distal jeratan makin membengkak yang akhirnya bisa mengalami nekrosis glans penis. Prepusium diusahakan untuk dikembalikan secara manual dengan teknik memijat gland penis selama 3-5 menit diharapkan edema berkurang dan secara perlahan-lahan prepusium dikembalikan pada tempatnya. Walaupun demikian, setelah parafimosis diatasi secara darurat, selanjutnya diperlukan tindakan sirkumsisi secara berencana oleh karena kondisi parafimosis tersebut dapat berulang atau kambuh kembali.

Daftar Pustaka

1. McCance KL, Huether SE, Brasher VL, Rote NS. Pathophysiology: The Biologic Basic for Disease in Adults and Children. Canada 2010; 850-51 2. Hayashi Y, Kojima Y, Mizuno K, Kohri K. Prepuce: phimosis, paraphimosis, and circumcision. The Scientific World Journal 2011; 11: 289-301 3. Wang F, Bai M, Xing T, Li J, Chen Y, Jian G, Xue Q, Wang N. Phimosis: a cause of chronic kidney disease. Afr. J. Microbiol. Res. 2012; 6 (3): 70103 4. Yutaro H, Kojima Y, Imizuro K, et al. Prepuce: Phimosis, Paraphimosis and circumsicion. 2011. (accessed : 20 maret 2013) downloaded from URL www.thescientificworld.com 5. McHoney, Merrill; Lakhoo, Kokila. Phimosis, Meatal Stenosis, and Paraphimosis. Download at http://www.globalhelp.org/publications/books/help_pedsurgeryafrica96.pdf. Acces on March 17, 2013. 6. Z Ghory, MD, Hina; L Dyne, MD, Pamela. Phimosis and Paraphimosis. 7. Jeffrey M Donohoe; Jason O Burnette; James A Brown (October 7, 2009). "Paraphimosis". eMedicine. 8. Basuki B Purnomo. Dasar-dasar Urologi. Edisi Kedua. 2009. Sagung Seto. Hal 149-150

10

Anda mungkin juga menyukai