Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Sejarah dan perkembangan Ilmu Forensik tidak dapat dipisahkan dari sejarah dan perkembangan hukum acara pidana. Sebagaimana diketahui bahwa kejahatan yang terjadi di muka bumi ini sama usia tuanya dengan sejarah manusianya itu sendiri. Luka merupakan salah satu kasus tersering dalam kedokteran Forensik. Luka bisa terjadi pada korban hidup maupun korban mati. Dalam sebuah survey di sebuah rumah sakit di selatan tenggara kota London dimana didapatkan 425 pasien yang dirawat oleh karena kekerasan fisik yang disengaja. Beberapa jenis senjata digunakan pada 68 dari 147 kasus penyerangan di jalan raya, terdapat 12 % dari penyerangan menggunakan besi batangan dan pemukul baseball atau benda benda serupa dengan itu, lalu di ikuti dengan penggunaan pisau 18%, terdapat nilai yang sangat berarti dari kasus penusukan, sekitar 47% kasus yang masuk rumah sakit dan 90% mengalami luka yang serius. Hal yang harus dicatat bahwa terdapat 2 dari 3 penyerangan terjadi di dalam tempat tinggal atau klub-klub dengan menggunakan pisau, kaca, dan bermacam-macam senjata. 40% kasus penikaman terjadi di jalan raya dan 23% di dalam tempat tinggal dan klub-klub, 50% pasien sedang mabuk atau minum pada saat sebelum waktu penyerangan, 27% pasien tersebut adalah penganguran. Luka-luka yang disebabkan oleh pukulan (46%), tendangan (17%) bermacam-macam senjata (17%), pisau dan pecahan kaca (15%) sisanya disebabkan oleh gigitan manusia dan penyebab-penyebab lain yang tidak diketahui. Selama tahun 2006, jumlah kejahatan meningkat dari 256.543 (tahun 2005) menjadi 296.119. Inilah peningkatan kejahatan yakni sekitar 15,43 persen. Jumlah penduduk yang beresiko terkena kejahatan ratarata 123 orang per 100.000 penduduk Indonesia di 2006. Bila dibandingkan tahun 2005 terjadi kenaikan 1,65 persen. Pada pasal 133 ayat (1) KUHAP dan pasal 179 ayat (1) KUHAP dijelaskan bahwa penyidik berwenang meminta keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau bahkan ahli lainnya. Keterangan ahli tersebut adalah Visum et Repertum, dimana di dalamnya terdapat penjabaran tentang keadaan korban, baik korban luka, keracunan, ataupun
1

mati yang diduga karena tindak pidana. Bagi dokter yang bekerja di Indonesia perlu mengetahui ilmu kedokteran Forensik termasuk cara membuat Visum et Repertum. Seorang dokter perlu menguasai pengetahuan tentang mendeskripsikan luka, tujuannya untuk mempermudah tugas-tugasnya dalam membuat Visum et Repertum yang baik dan benar sehingga dapat digunakan sebagai alat bukti yang bisa meyakinkan hakim untuk memutuskan suatu tindak pidana. Pada kenyataannya dalam praktek, dokter sering mengalami kesulitan dalam membuat Visum et Repertum karena kurangnya pengetahuan tentang luka. Padahal Visum et Repertum harus di buat sedemikian rupa, yaitu memenuhi persyaratan formal dan material, sehingga dapat dipakai sebagai alat bukti yang sah di sidang pengadilan. Dengan demikian, jelas bagi kita bahwa sebagai kalangan medis, penting untuk mengetahui dan mendeskripsikan berbagai hal mengenai luka dan trauma. Sehingga traumatologi menjadi pokok pembahasan dalam makalah ini.

I.2 Tujuan Penulisan


Dengan penyusunan referat ini kami berharap seorang dokter atau calon dokter mampu mendeskripsikan luka secara benar sehingga mampu membuat Visum et Repertum yang baik dan benar sehingga dapat digunakan sebagai alat bukti yang bisa meyakinkan hakim untuk memutuskan suatu tindak pidana.

I.3 Manfaat Penulisan


I.3.1 Bagi Ilmu Pengetahuan Referat ini diharapkan mampu memberikan informasi dan pengetahuan mengenai traumatologi. I.3.2 Bagi Masyarakat Referat ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat mengenai berbagai hal mengenai traumatologi.

BAB II
2

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Definisi
Traumatologi berasal dari kata trauma dan logos. Trauma berarti kekerasan atas jaringan tubuh yang masih hidup, sedang logos berarti ilmu. Jadi traumatologi merupakan ilmu yang mempelajari semua aspek yang berkaitan dengan kekerasan terhadap jaringan tubuh manusia yang masih hidup.

II.2 Jenis Penyebab Trauma


Kekerasan yang mengenai tubuh seseorang dapat menimbulkan efek pada fisik maupun psikisnya. Efek fisik berupa luka- luka yang kalau di periksa dengan teliti akan dapat di ketahui jenis penyebabnya yaitu : A. Bendabenda Mekanik 1. Benda Tajam Ciri- ciri umum dari luka benda tajam adalah sebagai berikut : - Garis batas luka biasanya teratur, tepinya rata dan sudutnya runcing - Bila ditautkan akan mejadi rapat (karena benda tersebut hanya memisahkan, tidak menghancurkan jaringan) dan membentuk garis lurus dari sedikit lengkung. - Tebing luka rata dan tidak ada jembatan jaringan. - Daerah di sekitar garis batas luka tidak ada memar

2. Benda Tumpul Kekerasan oleh benda keras dan tumpul dapat mengakibatkan berbagai macam jenis luka, antara lain : a. Memar ( kontusi ) Memar merupakan salah satu bentuk luka yang ditandai oleh kerusakan jaringan tanpa disertai diskontinuitas permukaan kulit. Kerusakan tersebut disebabkan oleh pecahnya kapiler sehingga darah keluar dan meresap ke jaringan di sekitarnya. Mulamula terlihat pembengkakan, berwarna merah kebiruan. Sesudah 4 sampai 5 hari berubah menjadi kuning kehijauan dan sesudah lebih dari seminggu menjadi kekuningan. Pada orang yang menderita penyakit defisiensi atau menderita kelainan darah, kerusakan yang terjadi akibat trauma tumpul tersebut akan lebih besar dibandingkan pada orang normal. Oleh sebab itu, besar kecilnya memar tidak dapat di jadikan ukuran untuk menentukan besar kecilnya benda penyebabnya atau keras tidaknya pukulan. Pada wanita atau orangorang yang gemuk juga akan mudah terjadi memar. Dilihat sepintas lalu luka memar terlihat seperti lebam mayat, tetapi jika di periksa dengan seksama akan dapat dilihat perbedaan perbedaanya, yaitu : Memar Lokasi Pembengkakan Bila ditekan Mikroskopik Bisa dimana saja Positif Warna tetap Reaksi jaringan (+) Lebam mayat Pada bagian terendah Negatif Memucat/menghilang Reaksi jaringan (-)

Memar

Lebam mayat

b. Luka lecet ( abrasi ) Luka lecet adalah luka yang disebabkan oleh rusaknya atau lepasnya lapisan luar dari kulit, yang ciri cirinya adalah : o Bentuk luka tidak teratur o Batas luka tidak teratur o Tepi luka tidak rata o Kadang kadang di temukan sedikit perdarahan o Permukaannya tertutup oleh krusta ( serum yang telah mengering ) o Warna coklat kemerahan Pada pemeriksan mikroskopik terlihat adanya beberapa bagian yang masih di tutupi epitel dan reaksi jaringan ( inflamasi )

Bentuk luka lecet kadangkadang dapat memberi petunjuk tentang benda penyebabnya; seperti misalnnya kuku, ban mobil, tali atau ikat pinggang. Luka lecet
5

juga dapat terjadi sesudah orang meninggal dunia, dengan tanda tanda sebagai berikut : o Warna kuning mengkilat o Lokasi biasanya didaerah penonjolan tulang o Pemeriksaan mikroskopik tidak di temukan adanya sisa- sia epitel dan tidak di temukan reaksi jaringan. c. Luka terbuka / robek ( laserasi ) Luka terbuka / robek adalah luka yang disebabkan karena persentuhan dengan benda tumpul dengan kekuatan yang mampu merobek seluruh lapisan kulit dan jaringan di bawahnya, yang ciricirinya sebagai berikut : o Bentuk garis batas luka tidak teratur dan tepi luka tak rata o Bila ditautkan tidak dapat rapat ( karena sebagaian jaringan hancur ) o Tebing luka tak rata serta terdapat jembatan jaringan o Di sekitar garis batas luka di temukan memar o Lokasi luka lebih mudah terjadi pada daerah yang dekat dengan tulang ( misalnya daerah kepala, muka atau ekstremitas )

Karena terjadinya luka disebabkan oleh robeknya jaringan maka bentuk dari luka tersebut tidak menggambarkan bentuk dari benda penyebabnya. Jika benda tumpul yang mempunyai permukaan bulat atau persegi dipukulkan pada kepala maka luka robek yang terjadi tidak berbentuk bulat atau persegi. Kekerasan akibat benda tajam
6

dapat menimbulkan luka yang bentuknya tergantung dari cara benda tajam itu mengenai sasaran. Jika diiriskan akan mengakibatkan luka iris, jika di tusukan akan mengakibatkan luka tusuk dan jika di bacokan (di ayunkan dengan tenaga yang kuat) akan mengakibatkan luka bacok. Kekerasan akibat benda tumpul dapat menyebabkan luka memar, luka lecet atau luka robek. Perbedaan trauma tajam dan trauma tumpul Trauma a. Bentuk luka b. Tepi luka c. Jembatan jaringan d. Rambut e. Dasar luka f. Sekitar luka Tajam Teratur Rata Tidak ada Ikut terpotong Berupa garis atau titik Tidak ada luka lain Tumpul Tidak teratur Tidak rata Ada Tidak ikut terpotong Tidak teratur Ada luka lecet atau memar

3. Benda Yang Mudah Pecah ( kaca ) Kekerasan oleh benda yang mudah pecah ( misal kaca ), dapat mengakibatkan luka luka campuran; yang terdiri atas luka iris, luka tusuk dan luka lecet. Pada daerah luka atau sekitarnya biasanya tertinggal fragmen-fragmen dari benda yang mudah pecah itu. Jika yang menjadi penyebabnya adalah kaca mobil maka luka-luka campuran yang terjadi hanya terdiri atas luka lecet dan luka iris saja, sebab kaca mobil sengaja dirancang sedemikian rupa sehingga kalau pecah akan terurai menjadi bagian-bagian kecil.

B. Benda Fisik Kekerasan fisik adalah kekerasan yang disebabkan oleh benda-benda fisik, antara lain: Benda bersuhu tinggi
7

Benda bersuhu rendah Sengatan listrik Petir Tekanan (barotrauma)

1. Benda bersuhu tinggi Kekerasan dengan benda bersuhu tinggi akan menimbulkan luka bakar yang cirinya amat tergantung pada bendanya, ketinggian suhunya, serta lamanya berkontak dengan benda tersebut. Api, benda padat panas atau membara dapat mengakibatkan luka bakar derajat I,II,III dan IV. Zat cair panas dapat mengakibatkan luka bakar derajat I, II dan III.

Luka bakar derajat I

Luka bakar derajat II

Luka bakar derajat III

Luka bakar derajat IV

2. Benda bersuhu rendah Kekerasan oleh benda bersuhu dingin (rendah) biasanya dialami oleh bagian tubuh yang terbuka, seperti misalnya tangan, kaki, telinga atau hidung. Mula-mula pada daerah tersebut akan terjadi vasokonstriksi pembuluh darah superficial sehingga terlihat pucat. Selanjutnya akan terjadi paralisis kontrol vasomotor yang menyebabkan daerah tersebut berubah menjadi kemerahan. Pada keadaan yang lebih berat akan berubah menjadi gangren.

3. Sengatan listrik Sengatan oleh benda bermuatan listrik dapat menimbulkan luka bakar sebagai akibat berubahnya energi listrik menjadi energi panas. Besarnya pengaruh listrik pada jaringan tersebut tergantung dari besarnya tegangan (voltase), kuatnya arus (ampere), besarnya tahanan kulit (ohm), dan kontak serta luasnya daerah yang terkena kontak. Bentuk luka pada daerah kontak (tempat masuknya arus) berupa kerusakan jaringan kulit dengan tepi agak menonjol dan di sekitarnya terdapat daerah pucat, dikelilingi daerah hipereremis. Sering ditemukan adanya metalisasi.
9

Pada tempat keluarnya arus dari tubuh juga sering ditemukan adanya luka. Bahkan kadang-kadang bagian baju atau sepatu yang dilalui arus listrik ketika meninggalkan tubuh juga ikut terbakar.Tegangan arus kurang dari 65 volt biasanya tidak mebahayakan, tetapi tegangan antara 65-1000 volt dapat mematikan. Sedangkan kuat arus (ampere) yang dapat mematikan adalah 100 mA. Kematian tersebut terjadi akibat fibrilasi ventrikel, kelumpuhan otot pernapasan atau pusat pernapasan. Sedangkan faktor yang sering mempengaruhi kefatalan adalah kesadaran seseorang akan adanya listrik pada benda yang dipegangnya. Bagi orang-orang yang tidak menyadari adanya arus listrik pada benda yang dipegangnya biasanya pengaruhnya lebih berat dibanding orang-orang yang pekerjaannya setiap hari berhubungan dengan listrik.

4. Petir Petir terjadi karena adanya loncatan arus listrik di awan yang tegangannya dapat mencapai 10 mega volt dengan kuat arus sekitar 100.000 A ke tanah. Luka-luka karena sambaran petir pada hakekatnya merupakan luka-luka gabungan akibat listrik, panas dan ledakan udara. Luka akibat panas berupa luka bakar dan luka akibat ledakan udara berupa luka-luka yang mirip dengan luka akibat persentuhan dengan beda tumpul. Dapat terjadi kematian akibat efek arus listrik yang melumpuhkan susunan saraf pusat, menyebabkan fibrilasi ventrikel. Kematian juga dapat terjadi karena efek ledakan atau efek dari gas panas yang ditimbulkannya. Pada korban mati sering ditemukan adanya arborecent mark (percabangan pembuluh darah terlihat seperti
10

percabangan pohon), metalisasi benda-benda dari logam yang dipakai, magnetisasi benda-benda dari logam yang dipakai. Pakaian korban terbakar atau robek-robek.

5. Tekanan (barotrauma) Trauma akibat perubahan tekanan pada medium yang ada di sekitar tubuh manusia dapat menimbulkan kelainan atau gangguan yang sering disebut disbarisme yang terdiri atas 2 macam, yaitu: a. Hiperbarik: Sindroma ini disebabkan oleh tekanan tinggi, antara lain: Turun dari ketinggian secara mendadak (saat pesawat mendarat atau turun gunung) Berada di kedalaman air: pada penyelam bebas, scuba diving (menyelam dengan tangki oksigen), snorkling (menyelam dengan tube di mulut) penyelam dengan pakaian khusus. Gejala yang ditimbulkan oleh perubahan tekanan tersebut dapat berupa: Barotraumas pulmoner: pneumotoraks, emboli udara atau emfisema interstitialis. Barotalgia: rasa nyeri, membran tympani pecah, perdarahan, vertigo, dizziness. Barodontalgia: pengumpulan gas yang menyebabkan rasa nyeri atau bahkan meletus. Narkosis nitrogen: amnesia, disorientasi.

b. Hipobarik Sindroma ini disebabkan oleh perubahan tekanan rendah, antara lain:

11

Naik tempat tinggi secara mendadak saat pesawat mengudara atau saat pesawat meluncur ke ruang angkasa.

Berada di ruangan bertekanan rendah, misalnya dalam decompression chamber.

Gejala yang ditimbulkannya disebabkan oleh pembentukan dan pengumpulan gelembung-gelembung udara di dalam jaringan lunak atau organ-organ berongga. Gejala tersebut antara lain: Sendi-sendi terasa kaku disertai nyeri hebat Rongga dada dirasakan tercekik, sesak napas dan batuk yang hebat. Gejala pada susunan saraf tergantung letak emboli dan letak emfisema subkutan Rongga perut terasa kembung Gigi geligi terasa nyeri.

C. Kombinasi Benda Mekanik dan Fisik Luka akibat tembakan senjata api pada dasarnya merupakan luka yang disebabkan oleh trauma benda mekanik (benda tumpul) dan fisik (panas), yaitu anak peluru yang jalannya giroskopik (berputar/mengebor). Mengingat lapisan kulit memiliki elastisitas yang kurang baik dibandingkan lapisan di bawahnya, maka jaringan yang hancur akibat terjangan anak peluru lebih luas. Akibatnya bentuk luka tembak masuk terdiri atas lubang, dikelilingi cincin lecet yang diameternya lebih besar. Diameter cincin tersebut lebih mendekati kaliber pelurunya. Sedangkan luka akibat senjata yang tidak menggunakan mesiu sebagai tenaga pendorong anak pelurunya (senjata angin) pada hakekatnya merupakan luka yang disebabkan oleh persentuhan dengan benda tumpul saja.
12

Ciri-ciri luka tembak amat bergantung pada jenis senjata yang ditembakkan, jarak tembakan, arah tembakan, serta posisinya (sebagai tempat masuk atau keluarnya anak peluru).

D. Zat Kimia Korosif Zat-zat kimia korosif dapat menimbulkan luka-luka apabila mengenai tubuh manusia. Ciri-ciri lukanya amat tergantung pada golongan zat kimia tersebut. 1. Golongan asam Termasuk zat kimia korosif dari golongan asam antara lain: Asam mineral, antara lain: H2SO4, HCl dan NO3 Asam organik, antara lain: asam oksalat, asam formiat dan asam asetat Garam mineral, antara lain: AgNO3 dan zinc chloride Halogen, antara lain: F, Cl, Ba dan J

Cara kerja zat kimia korosif dari golongan ini sehingga mengakibatkan luka, ialah: Mengekstraksi air dan jaringan Mengkoagulasi protein menjadi albuminat Mengubah hemoglobin menjadi acid hematin

Ciri-ciri luka yang terjadi akibat zat-zat asam korosif tersebut ialah: Terlihat kering

13

Berwarna coklat kehitaman, kecuali yang disebabkan oleh nitrit acid berwarna kuning kehijauan

Perabaan keras dan kasar

2. Golongan basa Zat-zat kimia korosif yang termasuk golongan basa antara lain: KOH NaOH NH4OH

Cara kerja dari zat-zat tersebut sehingga menimbulkan luka adalah: Mengadakan ikatan denga protoplasma sehingga membentuk alkaline albumin dan sabun Mengubah hemoglobin menjadi alkaline hematine

Ciri-ciri luka yang terjadi sebagai akibat persentuhan dengan zat-zat ini adalah: Terlihat basah dan edematous Berwarna merah kecoklatan Perabaan lunak dan licin

II.3 Waktu Terjadinya Kekerasan


Waktu terjadinya kekerasan merupakan hal yang sangat penting bagi keperluan penuntutan oleh penuntut umum, pembelaan oleh penasehat hukum terdakwa serta untuk penentuan keputusan oleh hakim. Dalam banyak kasus, informasi tentang waktu terjadinya kekerasan itu akan dapat digunakan sebagai bahan analisa guna mengungkapkan banyak hal, tidak seharusnya seseorang dituduh atau dihukum jika pada saat terjadinya tindak pidana ia berada ditempat yang jauh dari tempat kejadian perkara.
14

Dengan melakukan pemeriksaan yang teliti, akan dapat ditentukan : Luka terjadi antemortem atau postmortem. Umur luka.

A. Luka Antemortem dan Postmortem Jika pada tubuh jenazah ditemukan luka maka pertanyaannya ialah luka itu terjadi sebelum atau sesudah mati. Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu dicari ada tidaknya tanda-tanda intravital. Jika ditemukan berarti luka terjadi sebelum mati dan demikian pula sebaliknya. Tanda intravital itu sendiri pada hakekatnya merupakan tanda yang menunjukan bahwa : Jaringan setempat masih hidup ketika terjadi trauma. Organ dalam masih berfungsi ketika terjadi trauma.

1. Jaringan setempat masih hidup ketika terjadi trauma. Tanda-tanda bahwa jaringan yang terkena trauma masih dalam keadaan hidup ketika terjadi trauma antara lain : a. Retraksi jaringan Terjadi karena serabut-serabut elastis dibawah kulit terpotong dan kemudian mengkerut sambil menarik kulit diatasnya. Jika arah luka memotong serabut secara tegak lurus maka bentuk luka akan menganga, tetapi jika arah luka sejajar dengan serabut elastis maka bentuk luka tak begitu menganga. b. Reaksi vaskuler Bentuk reaksi vaskuler tergantung dari jenis trauma, yaitu : Pada trauma suhu panas, bentuk reaksi intravitalnya berupa : - Eritema (kulit berwarna kemerahan)
15

- Vesikel atau bulla Pada trauma benda keras dan tumpul, bentuk intravital berupa : - Kontusi atau memar

c. Reaksi mikroorganisme (infeksi). Jika tubuh dari orang yang masih hidup mendapat trauma dan meninggalkan luka terbuka maka kuman-kuman akan masuk serta menimbulkan infeksi yang ciricirinya sebagai berikut : - Warna kemerahan. - Terlihat bengkak. - Terdapat pus. - Bila sudah lama telihat adanya jaringan granulasi. d. Reaksi biokimiawi. Jika jaringan yang masih hidup mendapat trauma maka pada daerah tersebut akan terjadi aktivitas biokimiawi berupa : - Kenaikan kadar serotonin(kadar maksimal terjadi 10 menit sesudah trauma). - Kanaikan kadar histamine (kadar maksimal terjadi 20-30 menit sesudah trauma). - Kanaikan kadar enzim (ATP, aminopeptidase, acid-phosphatase) yang terjadi beberapa jam sesudah trauma sebagai akibat dari mekanisme pertahanan jaringan.

2. Organ dalam masih berfungsi saat terjadi trauma. Jika organ dalam (jantung atau paru-paru) masih dalam keadaan berfungsi ketika terjadi trauma maka tanda-tandanya antara lain :
16

a. Perdarahan hebat (profuse bleeding) Trauma yang terjadi pada orang hidup akan menimbulkan perdarahan yang banyak sebab jantung masih bekerja sehingga terus-menerus memompa darah keluar lewat luka. Berbeda sekali dengan trauma yang terjadi sesudah mati sebab keluarnya darah disini secara pasif karena pengaruh gravitasi sehingga jumlahnya tidak banyak. Perdarahan pada luka intravital dibagi menjadi 2 yaitu perdarahan internal dan eksternal. Perdarahan internal mudah dibuktikan karena darah tertampung dirongga badan (rongga perut, rongga dada, rongga panggul, rongga kepala, dan kantong perikardium) sehingga dapat diukur pada waktu otopsi. Sedangkan perdarahan eksternal (darah tumpah ditempat kejadian) hanya dapat disimpulkan jika pada waktu otopsi ditemukan tanda-tanda anemis (muka dan organ-organ dalam pucat) disertai tanda-tanda limpa melisut, jantung dan nadi utama tidak berisi darah.

b. Emboli udara Terdiri atas emboli udara venosa (pulmoner) dan emboli udara arterial (sistemik). Emboli udara venosa terjadi jika lumen dari vena yang terpotong tidak mengalami kolap karena terfiksir dengan baik seperti misalnya vena jugularis eksterna atau subclavia. Udara akan masuk ketika tekanan dijantung kanan negatif. Gelembung udara yang terkumpul di jantung kanan dapat terus menuju kedaerah paru-paru sehingga dapat mengganggu fungsinya. Emboli arterial dapat terjadi sebagai kelanjutan dari emboli udara venosa pada penderita foramen ovale persisten atau sebagai akibat dari tindakan pneumotorak artefisial atau karena luka-luka yang menembus paru-paru. Kematian dapat terjadi akibat gelembung udara masuk pembuluh darah koroner atau otak.

c. Emboli lemak
17

Emboli lemak dapat terjadi pada trauma tumpul yang mengenai jaringan berlemak atau trauma yang mengakibatkan patah tulang panjang. Akibatnya, jaringan lemak akan mengalami pencairan dan kemudian masuk kedalam pembuluh darah vena yang pecah menuju atrium kanan, ventrikel kanan dan dapat terus menuju daerah paru-paru.

d. Pneumotorak Jika dinding dada menderita luka tembus atau paru-paru menderita luka, sementara paru-paru itu sendiri tetap berfungsi maka luka tersebut dapat berfungsi sebagai ventil. Akibatnya, udara luar atau udara paru-paru akan masuk ke rongga pleura setiap inspirasi. Semakin lama udara yang masuk kerongga pleura, semakin banyak yang pada akhirnya akan menghalangi pengembangan paru-paru sehingga pada akhirnya paru-paru menjadi kolap.

e. Emfisema kulit (krepitasi kulit) Jika trauma pada dada mengakibatkan tulang iga patah dan menusuk paruparu maka pada setiap ekspirasi udara paru-paru dapat masuk ke jaringan ikat dibawah kulit. Pada palpasi akan terasa ada krepitasi disekitar daerah trauma. Keadaan seperti ini tidak mungkin terjadi jika trauma terjadi sesudah orang meninggal dunia. Jika trauma terjadi sesudah orang meninggal dunia maka kelainan-kelainan tersebut diatas tidak mungkin terjadi mengingat pada saat itu jantung dan paruparunya sudah berhenti bekerja. B. Umur Luka Untuk mengetahui kapan terjadinya kekerasan, perlu diketahui umur luka. Hanya saja, tidak ada satupun metode yang dapat digunakan untuk menilai dengan tepat kapan suatu
18

kekerasan (baik pada korban hidup ataupun mati) dilakukan mengingat adanya faktor individual, penyulit (misalnya infeksi, kelainan darah atau penyakit defisiensi) serta faktor kualitas dari kekerasan itu sendiri. Kendati demikian ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk memperkirakannya, yaitu dengan melakukan : Pemeriksaan makroskopik. Pemeriksaan mikroskopik (histologik). Pemeriksaan histokemik (histochemical examination). Pemeriksaan biokemik (biochemical examination).

1. Pemeriksaan makroskopik. Pemeriksaan dengan mata telanjang atas luka dapat memperkirakan berapa umur luka tersebut. Pada korban hidup, perkiraan dihitung dari saat trauma sampai saat diperiksa dan pada korban mati, mulai dari saat trauma sampai saat kematiannya. Pada kekerasan dengan benda tumpul, umur luka dapat diperkirakan dengan mengamati perubahan-perubahan yang terjadi. Mula-mula pada daerah yang mengalami trauma akan terlihat pembengkakan akibat ekstravasasi dan inflamasi, berwarna merah kebiruan. Sesudah 4 samapai 5 hari warna tersebut berubah menjadi kuning kehijauan dan sesudah lebih dari seminggu menjadi kekuningan. Pada luka robek atau terbuka juga dapat diperkirakan umurnya dengan mengamati perubahanperubahannya. Dalam selang waktu 12jam sesudah trauma akan terjadi pembengkakan pada tepi luka, selanjutnya kondisi luka akan di dominasi oleh tanda-tanda inflamasi dan kemudian di susul tanda-tanda penyembuhan. 2. Pemeriksaan mikroskopik. Mengingat hasil pemeriksaan makroskopik sangat variatif dan jauh dari ketetapan maka perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopik pada korban mati. Selain berguna bagi penentuan intravitalisasi luka, pemeriksaan mikroskopik juga dapat menentukan umur luka secara lebih teliti. Caranya ialah dengan mengamati perubahan-perubahan histologiknya.
19

Menurut Walcher, Robertson dan Hodge, infiltrasi perivaskuler dari leukosit polimorfonukler dapat dilihat dengan jelas pada kasus-kasus dengan periode survival sekitar 4 jam atau lebih. Dilatasi kapiler dan marginasi sel leukosit mungkin dapat dilihat lebih dini lagi, bahkan dalam beberapa menit sesudah trauma. Leukosit yang mula-mula masuk kejaringan adalah jenis polimorfonuklear. Pada stadium berikutnya akan tampak monosit, namun leukosit jenis ini jarang ditemukan pada eksudat kurang dari 12 jam sesudah trauma. Pada trauma dengan inflamasi aseptik, proses eksudasi akan mencapai puncaknya dalam waktu 48 jam. Epitelisasi baru terjadi pada hari ketiga, sedangkan sel-sel fibroblast mulai

menunjukan perubahan reaktif ( dalam bentuk proliferasi ) sekitar 15 jam sesudah trauma. Tingkat proliferasi tersebut serta proses pembentukan kapiler-kapiler baru sangat variatif, tetapi biasanya jaringan granulasi lengkap dengan vaskularisasinya akan terbentuk paling tidak sesudah 3 hari.serabut-serabut kolagen yang baru juga mulai tebentuk 4 atau 5 hari sesudah trauma. Pada luka-luka kecil, kemungkinan jaringan perut tampak pada akhir minggu pertama. Biasanya sekitar 12 hari sesudah trauma, aktifitas sl-sel epitel dan jaringan dibawah nya mengalami tahapan regresi. Akibatnya jaringan epitel akan mengalami atrofi, vaakularisasi jaringan di bawahnya juga berkurang diganti serabut-serabut kolagen,sampai beberapa minggu sesudah penyembuhannya, serabut-serabut elastis masih tampak lebih banyak dari jaringan yang tak terkena trauma. Perubahan-perubahan histologik dari luka ini sangat dipengaruhi oleh ada tidaknya infeksi dan perlu diketahui bahwa infeksi akan memperlambat proses penyembuhan luka. 3. Pemeriksaan Histokemik Perubahan-perubahan morfologik dari jaringan hidup yang mendapat trauma merupakan akibat dari fenomena fungsional yang sering sejalan dengan aktifitas enzim, yaitu protein yang berfungsi sebagai katalisator reaksi biologik. Oleh sebab itu di temukannya enzim yang bertanggung jawab terhadap perubahan tersebut dapat membuktikan lebih dini tentang adanya trauma sebelum perubahan morfologiknya dapat dilihat. Pemeriksaan histokemik ini didasarkan pada reaksi yang dapat dilihat dengan pemeriksaan mikroskopik dengan menambahkan zat-zat tertentu. Mula-mula luka atau
20

bagian dari luka dipotong dengan mengikutsertakan jaringan disekitarnya, kira-kira setengah inci. Separo dari potongan itu difiksasi dengan menggunakan formalin 10% didalam refrigerator dengan suhu 4 derajat celcius sepanjang malam untuk membuktikan adanya aktifitas esterase dan fosfatase. Separonya lagi dibekukan dengan isopentane dengan menggunakan es kering (dry ice) guna mendeteksi adanya adenosine triphosphatase dan aminopeptidase. Peningkatan aktifitas adenosine triphosphatase dan esterase dapat dilihat lebih dini, yaitu setengah jam setelah trauma. Peningkatan aktifitas aminopeptidase dapat dilihat sesudah 2 jam, sedangkan peningkatan acid phosphatase dan alkali phosphatase sesudah 4 jam. 4. Pemeriksaan Biokemik. Meskipun pemeriksaan histokemik lebih banyak menolong, tetapi reaksi trauma yang dapat ditunjukkannya masih memerlukan waktu yang relatif panjang yaitu beberapa jam sesudah trauma. Padahal yang sering terjadi korban mati beberapa saat sesudah trauma sehingga belum dapat dilihat reaksinya dengan metode tersebut. Oleh sebab itu perlu dilakukan pemeriksaan biokemik. Perlu diketahui bahwa histamine dan serotonin merupakan zat vasoaktif yang bertanggung jawab terhadap terjadinya inflamasi akut, terutama pada stadium yang paling awal dari trauma. Penerapannya bagi kepentingan forensik telah dipublikasikan untuk yang pertama kali pada tahun 1965 oleh Vazekas dan Viragos-Kis. Mereka melaporkan adanya kenaikan histamine bebas pada jejas jerat antemortem pada kasus menggantung. Oleh peneliti lain dibuktikan bahwa kenaikan histamin terjadi 20-30 menit sesudah trauma sedangkan serotonin naik setelah 10 menit.

II.4 Cara Melakukan Kekerasan


Dengan melihat bentuk serta ciri-ciri luka, dapat juga diketahui cara benda penyebabnya digunakan. Sudah barang tentu tergantung dari jenis benda penyebab luka tersebut. Untuk senjata tajam, cara senjata itu digunakan dapat dibedakan, yaitu: Diiriskan
21

Ditusukkan Dibacokkan

Untuk senjata api, cara senjata itu ditembakkan juga dapat ditentukan, yaitu: Secara tegak lurus atau miring Dengan jarak tembak tempel, dekat, sedang atau jauh

1. DIIRISKAN Diiriskan artinya bahwa mata tajam dari senjata tersebut ditekankan lebih dahulu ke suatu bagian dari tubuh kemudian digeser ke arah yang sesuai dengan arah senjata. Luka yang ditimbulkannya merupakan luka iris (incised wound) yang ciri-cirinya: Sesuai ciri-ciri umum luka akibat senjata tajam Panjang luka lebih besar dari dalamnya luka

2. DITUSUKKAN Ditusukkan artinya bagian ujung dari senjata tajam ditembakkan pada suatu bagian dari tubuh dengan arah tegak lurus atau miring dan kemudian ditekan ke dalam tubuh sesuai arah tadi. Luka yang ditimbulkan merupakan luka tusuk (stab wound) yang ciri-cirinya: Sesuai ciri-ciri umum luka akibat senjata tajam
22

Dalam luka lebih besar dari panjangnya luka

3. DIBACOKKAN Dibacokkan artinya bahwa senjata tajam yang ukurannya relatif besar dan diayunkan dengan tenaga yang kuat sehingga mata tajam dari senjata tersebut mengenai suatu bagian dari tubuh. Tulang-tulang dibawahnya biasanya berfungsi sebagai bantalan sehingga ikut menderita luka. Luka yang ditimbulkannya merupakan luka bacok (chop wound) yang ciri-cirinya: Sesuai ciri-ciri umum luka akibat senjata tajam Ukuran luka besar dan menganga Panjang luka kurang lebih sama dengan dalam luka Biasanya tulang-tulang dibawahnya ikut menderita luka Jika senjata yang digunakan tidak begitu tajam maka disekitar garis batas luka terdapat memar.

4. DITEMBAKKAN Jika ditembakkan tegak lurus ke arah permukaan tubuh, maka ciri-cirinya:
23

Letak lubang luka terhadap cincin lecet konsentris Jika ditembakkan secara miring ke arah permukaan tubuh maka ciri-cirinya: Letak lubang luka terhadap cincin lecet episentris Jika ditembakkan dengan jarak kontak maka luka yang terjadi mempunyai ciri-ciri: Bentuknya seperti bintang (cruciform) Terlihat memar berbentuk sirkuler akibat hentakan balik dari moncong senjata Jika ditembakkan dengan jarak dekat (1 inci 2 kaki) maka ciri-ciri dari luka yang terjadi adalah: Berupa lubang berbentuk bulat yang dikelilingi cincin lecet Terdapat produk dari mesiu (tatto, sisa-sisa mesiu atau jelaga) Jika ditembakkan dengan jarak jauh (lebih dari 2 kaki) maka ciri-ciri dari luka yang terjadi adalah: Berupa lubang berbentuk bulat yang dikelilingi cincin lecet Tidak ditemukan produk mesiu

II.5. Akibat Trauma


A. Aspek Medik Berdasarkan prinsip inersia (principle of inertia) dari Galileo Galilei, setiap benda akan tetap pada bentuk dan ukurannya sampai ada kekuatan luar yang mampu merubahnya. Selanjutnya Isaac Newton dengan 3 buah hukumnya berhasil menemukan metode yang dapat dipakai untuk mengukur dan menghitung energi. Dengan dasar-dasar tadi maka dapat diterangkan bagaimana suatu energi potensial dalam bentuk kekerasan berubah menjadi energi kinetik yang mampu menimbulkan luka, yaitu kerusakan jaringan yang dapat disertai atau tidak disertai oleh diskontinuitas permukaan kulit. Konsekuensi dari luka yang ditimbulkan oleh trauma dapat berupa :

1. Kelainan fisik / organik.

24

Bentuk dari kelainan fisik atau organik ini dapat berupa : - Hilangnya jaringan atau bagian dari tubuh. - Hilangnya sebagian atau seluruh organ tertentu.
2. Gangguan fungsi dari organ tubuh tertentu.

Bentuk dari gangguan fungsi ini tergantung dari organ atau bagian tubuh yang terkena trauma. Contoh dari gangguan fungsi antara lain lumpuh, buta, tuli atau terganggunya fungsi organ-organ dalam. 3. Infeksi Seperti diketahui bahwa kulit atau membrana mukosa merupakan barier terhadap infeksi. Bila kulit atau membrana tersebut rusak maka kuman akan masuk lewat pintu ini. Bahkan kuman dapat masuk lewat daerah memar atau bahkan iritasi akibat benda yang terkontaminasi oleh kuman. Jenis kuman dapat berupa Streptococcus, Staphylococcus, Eschericia coli, Proteus vulgaris, Clostridium tetani serta kuman yang menyebabkan gas gangren. 4. Penyakit Trauma sering dianggap sebagai precipitating factor terjadinya penyakit jantung walaupun hubungan kausalnya sulit diterangkan dan masih dalam kontroversi.
5. Kelainan psikis

Trauma, meskipun tidak menimbulkan kerusakan otak, kemungkinan dapat menjadi precipitating factor bagi terjadinya kelainan mental yang spektrumnya amat luas; yaitu dapat berupa compensational neurosis, anxiety neurosis, dementia praecox primer (schizophrenia), manic depressive atau psikosis. Kepribadian serta potensi individu untuk terjadinya reaksi mental yang abnormal merupakan faktor utama timbulnya gangguan mental tersebut; meliputi jenis, derajat serta lamanya gangguan. Oleh sebab itu pada setiap gangguan mental post-trauma perlu dikaji elemen-elemen dasarnya yang terdiri atas latar belakang mental dan emosi serta nilai relatif bagi yang bersangkutan atas jaringan atau organ yang terkena trauma. Secara umum dapat diterima bahwa hubungan antara kerusakan jaringan tubuh atau organ dengan psikosis post trauma didasarkan atas :
25

Keadaan mental benar-benar sehat sebelum trauma. Trauma telah merusak susunan syaraf pusat. Trauma, tanpa mempersoalkan lokasinya, mengancam kehidupan seseorang. Trauma menimbulkan kerusakan pada bagian yang struktur atau fungsinya dapat mempengaruhi emosi organ genital, payudara, mata, tangan atau wajah.

Korban cemas akan lamanya waktu penderitaan. Psikosis terjadi dalam tenggang waktu yang masuk akal. Korban dihantui oleh kejadian (kejahatan atau kecelakaan) yang menimpanya.

B. Aspek Yuridis Jika dari sudut medik, luka merupakan kerusakan jaringan (baik disertai atau tidak disertai diskontinuitas permukaan kulit) akibat trauma maka dari sudut hukum, luka merupakan kelainan yang dapat disebabkan oleh suatu tindak pidana, baik yang bersifat intensional (sengaja), recklessness (ceroboh), atau negligence (kurang hati-hati). Untuk menentukan berat ringannya hukuman perlu ditentukan lebih dahulu berat ringannya luka. Kebijakan hukum pidana didalam penentuan berat ringannya luka tersebut didasarkan atas pengaruhnya terhadap : - Kesehatan jasmani. - Kesehatan rohani. - Kelangsungan hidup janin di dalam kandungan. Estetika jasmani Pekerjaan jabatan atau pekerjaan mata pencaharian.

- Fungsi alat indera : 1. Luka ringan. Luka ringan adalah luka yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencahariannya. 2. Luka sedang.
26

Luka yang mengakibatkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencahariannya untuk sementara waktu. 3. Luka berat. Luka yang sebagaimana diuraikan di dalam pasal 90 KUHP, yang terdiri atas: a. Luka atau penyakit yang tidak dapat diharapkan akan sembuh dengan sempurna. Pengertian tidak akan sembuh dengan sempurna lebih ditujukan pada fungsinya. Contohnya trauma pada satu mata yang menyebabkan kornea robek. Sesudah dijahit sembuh, tetapi mata tersebut tidak dapat melihat. b. Luka yang dapat mendatangkan bahaya maut. Dapat mendatangkan bahaya maut pengertiannya memiliki potensi untuk menimbulkan kematian, tetapi sesudah diobati dapat sembuh. c. Luka yang menimbulkan rintangan tetap dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencahariannya. Luka yang dari sudut medik tidak membahayakan jiwa, dari sudut hukum dapat dikategorikan sebagai luka berat. Contohnya trauma pada tangan kiri pemain biola atau pada wajah seorang peragawati dapat dikategorikan luka berat jika akibatnya mereka tidak dapat lagi menjalankan pekerjaan tersebut selamanya. d. Kehilangan salah satu dari panca indera. Jika trauma menimbulkan kebutaan satu mata atau kehilangan pendengaran satu telinga, tidak dapat digolongkan kehilangan indera. Meskipun demikian tetap digolongkan sebagai luka berat berdasarkan butir (a) di atas. e. Cacat besar atau kudung. f. Lumpuh. g. Gangguan daya pikir lebih dari 4 minggu lamanya. Gangguan daya pikir tidak harus berupa kehilangan kesadaran tetapi dapat juga berupa amnesia, disorientasi, anxietas, depresi atau gangguan jiwa lainnya. h. Keguguran atau kematian janin seorang perempuan. Yang dimaksud dengan keguguran ialah keluarnya janin sebelum masa waktunya, yaitu tidak
27

didahului oleh proses sebagaimana umumnya terjadi seorang wanita ketika melahirkan. Sedangkan, kematian janin mengandung pengertian bahwa janin tidak lagi menunjukkan tanda-tanda hidup, tidak dipersoalkan bayi keluar atau tidak dari perut ibunya.

II.6 Kontek Peristiwa Penyebab Luka


Latar belakang terjadinya luka dapat disebabkan oleh peristiwa pembunuhan, bunuh diri atau kecelakaan. 1. Pembunuhan Ciri-ciri lukanya adalah: Lokasi luka di sembarang tempat, yaitu daerah yang mematikan maupun yang tidak mematikan Lokasi tersebut di daerah yang dapat dijangkau maupun yang tidak dapat dijangkau oleh tangan korban Pakaian yang menutupi daerah luka ikut robek terkena senjata Dapat ditemukan luka tangkisan (defensive wounds), yaitu pada korban yang sadar ketika mengalami serangan. Luka tangkisan tersebut terjadi akibat reflek menahan serangan sehingga letak luka tangkisan biasanya pada lengan bawah bagian luar.

2. Bunuh diri Ciri-ciri lukanya adalah: Lokasi luka pada daerah yang dapat mematikan secara cepat Lokasi tersebut dapat dijangkau oleh tangan yang bersangkutan Pakaian yang menutupi luka tidak ikut robek oleh senjata Ditemukan luka-luka percobaan (tentative wounds).
28

Luka percobaan tersebut terjadi karena yang bersangkutan masih ragu-ragu atau karena sedang memilih letak senjata yang pas sambil mengumpulkan keberaniannya, sehingga ciri-ciri luka percobaan adalah: Jumlahnya lebih dari satu Lokasinya di sekitar luka yang mematikan Kualitas lukanya dangkal Tidak mematikan

3. Kecelakaan Jika ciri-ciri luka yang ditemukan tidak menggambarkan pembunuhan atau bunuh diri maka kemungkinannya adalah akibat kecelakaan. Untuk lebih memastikannya perlu dilakukan pemeriksaan di tempat kejadian.

29

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

III.1 Kesimpulan
1. Luka pada Ilmu Kedokteran Forensik merupakan salah satu bagian terpenting. Luka

bisa terjadi pada korban hidup maupun korban mati. Luka bisa terjadi akibat kekerasan mekanik, kekerasan fisik, & kekerasan kimiawi. Luka dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis benda, yaitu akibat kekerasan benda tumpul, akibat benda tajam, akibat tembakan senjata api, akibat benda yang muda pecah, akibat suhu/temperatur, akibat trauma listrik, akibat petir, dan akibat zat kimia korosif. Selain itu luka bisa diketahui waktu terjadinya kekerasan, apakah luka terjadi antemortem atau postmortem. Terkadang dari luka kita bisa mengetahui umur luka. Walaupun belum ada satupun metode yang digunakan untuk menilai dengan tepat kapan suatu kekerasan dilakukan mengingat adanya berbagai macam faktor yang mempengaruhinya; seperti faktor infeksi, kelainan darah, atau penyakit defisiensi. Dari deskripsi luka kita sebagai dokter juga dapat membantu pihak hukum untuk menentukan kualifikasi luka sesuai dengan KUHP Bab XX pasal 351 dan 352 serta Bab IX pasal 90. Yang pada tindak pidana untuk menentukan hukuman yang diberikan kepada pelaku kekerasan dengan melihat deskripsi luka yang kita buat. Oleh karena itu diharapkan kita sebagai calon dokter yang nantinya sebagai dokter di masyarakat umum akan banyak menemukan kasus kekerasan yang menyebabkan luka baik pada korban hidup maupun korban mati, bisa mendeskripsikan luka sebaikbaiknya dalam Visum et Repertum.

III.2 Saran
1. Seorang dokter atau calon dokter harus belajar mendiskripsikan luka sehingga mampu membuat Visum et Repertum yang baik dan benar.
30

2. Seorang dokter atau calon dokter tidak hanya mempelajari ilmu kedokteran tetapi juga mengetahui hukum kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Herlambang, Penggalih Mahardika. Mekanisme Biomolekuler Luka Memar [online]. 2010. Available at: http://sibermedik.files.wordpress.com/2008/10/biomol-memar_rev.pdf 2. Wales J. Visum et Repertum. [online]. 2010. Available at : http://Id.Wikipedia.Org/Wiki/Visum_Et_Repertum. 3. Dahlan, Sofwan. Pembuatan Visum Et Repertum. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang : 2003. 4. Sjamsuhidajat, Wim de Jong. Luka. Dalam: Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed.2, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2004. 5. Dahlan, Sofwan. Traumatologi. Dalam: Ilmu Kedokteran Forensik. Badan Penerbit Universitas Diponegoro.Semarang.2004. Hal 67-91. 6. Apuranto, Hariadi. Luka tumpul [online]. 2010. Available at: www.fk.uwks.ac.id/elib/Arsip/Departemen/.../LUKA%20TUMPUL.pdf 7. Apuranto, Hariadi. Luka tajam [online]. 2010. Available at : www.fk.uwks.ac.id/elib/.../LUKA %20AKIBAT%20BENDA%20TAJAM.pdf 8. Budiyanto, Arif. Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta : 1997. Hal 37-54. 9. Idries, Abdul Mun'im. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Binarupa Aksara: Jakarta 1997. Hal 85-129. 10.Turner Ralph. For1ensik science. [online]. 2009. Available at : http://www.Portalkriminal.Com/Index 11.Anonim. 2010. http://www.freewebs.com/patofisiologi-luka/index.html 12. Anonim. 2010. http://ayumi.inube.com/blog/34039/forensic-electric%20trauma/html 13. Anonim. 2011. http://moduldanskill.blogspot.com/2011/06/traumatologi-forensik.html 14. Satyo, Alfred.C. Aspek Medikolegal Luka pada Forensik Klinik. Majalah Kedokteran Nusantara Vol.39. Universitas Sumatera Utara: Medan: Desember 2006. Hal 430-432

31