Anda di halaman 1dari 10

Format Kerja 1 Inventarisasi Satuan Peristiwa

No. 1 Peristiwa Maka sembah Nobat Rom Syah Ya tuanku Syah Alam banyaklah pula ampun kurnia Syah Alam menganugerahkan pada patik hamba, maka Nobat Rom Syah pun bermohon pula kepada Raja Dewa Mengerna Hai saudaraku Nobat Rom Syah belumlah rasanya puas hatiku lagi kita bersuka-sukaan dengan adinda itu Inderaputera. Apatah daya kita kerana Tamar Jalis, anak Tamar Buga belumlah puas dan belum putus pekerjaan itu lagi. Inderaputera berkirim kain bekas tubuhnya akan isterinya Tuan Puteri Jamjam Dewi Gemala dan berkirim sembah kepada Tahir Johan Syah. Hai sau'daraku jika ada barang suatu pekerjaan jangan tuan hamba alpakan hamba Nobat Rom Syah pun berjalan kembali ke negerinya serta dengan bala tenteranya itu sampailah ke negerinya sudah. Wahai anakku baik-baik penaruh ayahanda akan Inderaputera ini kepada anakku dan sampaikanlah barang kisahnya kerana kasihnya banyak kepada anakku supaya masyhurlah nama anakku pada tanah manusia. Raja Dewa Lela Mengerna menyembah kepada Raja Bahtadhar Syah dan segala rajaraja itu pun bermohon kepada Raja Dewa Lela Mengerna dan pada Inderaputera Maka segala raja-raja itu pun bermohon kepada Raja Dewa Lela Mengerna dan pada Inderaputera Raja Dewa Lela Mengerna dan Narator Nobat Rom Syah Letak Hal. 39; paragraf 1; D1; kalimat ke-1-2

Raja Dewa Mengerna

Hal. 39; paragraf 1; D2; kalimat ke-3

Pengarang

Hal. 39; paragraf 2; kalimat ke-1

Nobat Rom Syah Pengarang

Hal. 39; paragraf 3; D3; kalimat ke-1 Hal. 39; paragraf 3; kalimat ke-2

Raja Bahtadhar Syah

Hal. 39; paragraf 4; D4; kalimat ke-2

Pengarang

Hal. 39; paragraf 5; kalimat ke-1

Pengarang

Hal. 39; paragraf 5; kalimat ke-1

Pengarang

Hal. 39; paragraf 5;

10

11

12

13

14

15

16

17 18 19

hikmat tuan puteri itu pun habislah diperolehnya dan arif bijaksananya tuan Puteri Seri Ratna Gemala Nehran pun diperolehnya habis Inderaputera pun makin bertambah-tambah arifnya dan bijaksananya Inderaputera diterbangkan oleh jin Tamar Buga, dan Inderaputera jatuh ke tanah Dewa Lela Inderaputera beroleh isteri anak Raja Gurjanis yang bernama Tuan Puteri Telela Madu Ratna dan nama negerinya Zanun. Inderaputera dikepung oleh Raja Gurjanis pada mahligai Tuan Puteri Telela Madu Ratna Inderaputera bertemu dengan bukit permata dan bukit zamrut dan bukit emas dan bukit tembaga suasa dan bukit perak dan bukit besi Raja Dewa Lela Mengerna dan Inderaputera pergi berburu daripada pagi-pagi hari datang kepada petang seekor perburuan pun tiada diperolehnya Hai saudaraku tunggu hamba seketika di sini, hamba hendak pergi buang air Baiklah saudaraku Raja Dewa Lela Mengerna pun pergilah mencari tempat Ialu berjalan Inderaputera pun berhentilah di bawah pohon kayu itu. Maka ia pun turun dari atas kudanya itu dan kudanya itu pun ditambatkannya di bawah pohon kayu itu Maka Inderaputera pun tidurlah serta melepaskan senjatanya di atas hamparan kudanya itu dan pedangnya pun didakapnya tidur Tamar Buga mendengar anaknya mati dibunuh oleh Inderaputera, maka ia pun terlalu marahnya seraya ia pergi mencari Inderaputera Maka Tamar Buga pergi mencari kepada tempat itu dan dilihat oleh

kalimat ke-3

Pengarang

Hal. 39; paragraf 5; kalimat ke-4 Hal. 39; paragraf 6; kalimat ke-1 Hal. 39; paragraf 6; kalimat ke 1-2

Pengarang

Pengarang

Pengarang

Hal. 39; paragraf 6; kalimat ke-2 Hal. 39; paragraf 6; kalimat ke-2

Pengarang

Pengarang

Hal. 39; paragraf 7; kalimat ke-1

Raja Dewa Lela Mengerna Inderaputera Pengarang Pengarang

Hal. 39; paragraf 7; D5; kalimat ke-2 Hal. 39; paragraf 8;D6; kalimat ke-1 Hal. 39; paragraf 8; kalimat ke-1 Hal. 39; paragraf 8; kalimat ke-2

20

Pengarang

Hal. 39; paragraf 8; kalimat ke-3

21

Pengarang

Hal. 39; paragraf 8; kalimat ke-4

22

Pengarang

Hal. 39; paragraf 8; kalimat ke-4-6

23

24

25

26

27

28 29 30 31 32 33

Tamar Buga Inderaputera lagi tidur di bawah pohon kayu itu yang rendang itu Maka fikir Tamar Buga, Manusia ini gerangan Inderaputera Maka Tamar Buga pun segera menerbangkan ke udara. Maka hendak dibuangkannya ke dalam lautkalzum Maka dirasa oleh Inderaputera akan tubuhnya sejuk seraya dibuka matanya Ia pun segera mengunus pedangnya lalu diparangkan kepada Tamar Buga Inderaputera dan Tamar Buga pun jatuh ke bumi keduanya terdiri di bumi Hai orang muda, siapa namamu? Namaku Inderaputera, siapa namamu? Jikalau engkau sungguh laki-laki parangkanlah aku sekali lagi. Hai dewa tiadalah adat dua kali berturut-turut. Maka Tamar Buga pun bertempik lalu rebah mati Kemudian maka Inderaputera pun memandang ke kiri ke kanan. Maka dilihatnya padang yang amat luas dan beberapa padang dan bukit yang tinggi-tinggi dan sepohon kayu pun tiada dan sehelai rumput pun tiada Tanah manakah gerangan ini ? Inderaputera pun berjalan naik bukit turun bukit dan masuk hutan, terbit hutan dan masuk padang terbit padang dan beberapa Inderaputera bertemu dengan sungai terlalu amat luas tetapi airnya tiada dalam sehingga lutut juga dalamnya Maka air sungai itu pun berombak seperti bunyi-bunyian dan ketam itu pun bertepok dan karang pun bersorak dan siput pun bertanduktanduk

Pengarang

Hal. 40; paragraf 9; kalimat ke-1 Hal. 40; paragraf 9; kalimat ke-3-4

Pengarang

Pengarang

Hal. 40; paragraf 9; kalimat ke-5 Hal. 40; paragraf 9; kalimat ke-6 Hal. 40; paragraf 9; kalimat ke-7 Hal. 40; paragraf 10; D7; kalimat ke-1 Hal. 40; paragraf 10; D8; kalimat ke-2 Hal. 40; paragraf 1; D9; kalimat ke-1 Hal. 40; paragraf 12; D10; kalimat ke-1 Hal. 40; paragraf 13; kalimat ke-1 Hal. 40; paragraf 13; kalimat ke-2-3

Pengarang

Pengarang

Tamar Buga Inderaputera Tamar Buga Inderaputera Pengarang Pengarang

34 35

Inderaputera Pengarang

Hal. 40; paragraf 13; D11; kalimat ke-5 Hal. 40; paragraf 13; kalimat ke-5

36

Pengarang

Hal. 40; paragraf 14; kalimat ke-1

37

38

39

40

41

42

43

44 45 46

Datanglah Inderaputera anak Maharaja Bikrama Buspa dendam kita sekalian lamanya, sudah sekarang baharu bertemu. Ajaib sekali aku melihat karangkarangan itu pun mendatangkan kita. Maka karang-karangan itu pun masak seraya dimakan oleh Inderaputera karang-karangan itu dan kulitnya itu dilontarkannya ke dalam sungai Segala karang-karangan itu pun hidup pula semula menjadi beribu-ribu sekaliannya itu pula, sekaliannya tertawa Inderaputera pun berjalan ke hulu sungai itu airnya terlalu manis dirasai oleh Inderaputera air sungai itu Seketika lagi maka timbul bunga tanjung putih terlalu permai rupanya itu Datang Inderaputera anak Maharaja Bikrama Buspa, dendam kita sekian lamanya baharulah kita bertemu. Maka menjadi airnya mawar Dan seketika lagi timbul pula bunga tanjung merah Datang Inderaputera anak Maharaja Bikrama Buspa, dendam kami sekian lamanya sekarang baharulah bertemu padamu. Maka oleh Inderaputera diambilnya bunga tanjung merah itu lalu dipersuntingkannya Maka seketika lagi timbul pula bunga tanjung biru Datanglah Inderaputera anak Maharaja Bikrama Buspa, dendamnya kami sekarang baharulah bertemu padamu. Bunga tanjung biru itu pun menjadi perca emas dan seketika lagi timbul pula bunga tanjung kuning Datang Inderaputera anak Raja

Karang

Hal. 40; paragraf 15; D12; kalimat ke-1

Inderaputera

Hal. 40; paragraf 16; D13; kalimat ke-1 Hal. 40; paragraf 17; kalimat ke-1

Pengarang

Pengarang

Hal. 40; paragraf 17; kalimat ke-2

Pengarang

Hal. 40; paragraf 18; kalimat ke-2

Pengarang

Hal. 41; paragraf 18; kalimat ke-3 Hal. 41; paragraf 19; D14; kalimat ke-1 Hal. 41; paragraf 19; kalimat ke-3 Hal. 41; paragraf 20; kalimat ke-1 Hal. 41; paragraf 20; D15; kalimat ke-2

Bunga tanjung

Pengarang Pengarang Bunga tanjung merah

47

Pengarang

Hal. 41; paragraf 21; kalimat ke-1 Hal. 41; paragraf 21; kalimat ke-3 Hal. 41; paragraf 21;D16; kalimat ke-4

48 49

Pengarang Bunga tanjung biru

50

Pengarang

Hal. 41; paragraf 21; kalimat ke-5

51

Bunga tanjung

Hal. 41; paragraf

52 53

54

55

56

57 58

59

60

61

62

63

Bikrama Buspa dendamnya kami sekian lamanya, sekarang baharulah datang bertemu dengannya kami Inderaputera pun pergi pula pada hilir sungai itu Seketika lagi maka angin pun bertiup, maka air sungai itu pun berombak Maka ikan pun timbul seraya berpantun dan berseloka dan ketam pun bersyair Datang Inderaputera anak Maharaja Bikrama Buspa, maka dendamnya kita sekian lamanya sekarang inilah baharu bertemu. Maka diambilnya ikan dan ketam itu, lalu dimakannya dan tulangnya itu dilontarkannya ke dalam sungai itu Inderaputera berjalan melalui bukit dan padang Inderaputera pun bertemu dengan suatu padang maha luas dan dilihat olehnya beberapa pohon bungabungaan Datang Inderaputera anak Maharaja Bikrama Buspa dan sekian lamanya sekarang baharulah bertemu. Maka lalu diambilnya oleh Inderaputera bunga itu ditaruhnya dideseirnya, Seketika menjadi karang-karangan kaca kuning Seraya berjalan dan tiap-tiap dia jalan, yang bertemu dengan bunga itu sekeliannya mendatang akan Inderaputera juga Datang Inderaputera anak Maharaja Bikrama Buspa, dendam kami sekian lamanya, sekarang baharu bertemu. Inderaputera seketika lagi bertemu dengan sekuntum bunga pula terlalu indah-indah rupanya itu

biru

21;D17; kalimat ke-6

Pengarang Pengarang

Hal. 41; paragraf 22; kalimat ke-1 Hal. 41; paragraf 22; kalimat ke-2 Hal. 41; paragraf 22; kalimat ke-3 Hal. 41; paragraf 23; D18; kalimat ke-1

Pengarang

Ikan dan ketam

Pengarang

Hal. 41; paragraf 24; kalimat ke-2-5 Hal. 41; paragraf 24; kalimat ke-10 Hal. 41; paragraf 25; kalimat ke-1

Pengarang Pengarang

Bunga

Hal. 41; paragraf 26; D19; kalimat ke-1 Hal. 41; paragraf 27; kalimat ke-2

Pengarang

Pengarang

Hal. 41; paragraf 27; kalimat ke-3

Bunga srigading Pengarang

Hal. 41; paragraf 28; D20; kalimat ke-1 Hal. 41; paragraf 29; kalimat ke-1

Format Kerja 2 Identifikasi Kesamaan Peristiwa


No. 1. 2. 3. Kesamaan Peristiwa 1=3 35 = 57 = 58 37 = 43 = 46 = 49 = 55 = 59 = 62 42 = 45 = 48 = 50 = 58 = 63 47 = 60 36 = 53 Keterangan Menyembah raja atau tuan Inderaputera berjalan melewati padang Datang Inderaputera anak Maharaja Bikrama Buspa, maka dendamnya kita sekian lamanya sekarang inilah baharu bertemu. Inderaputera bertemu bunga Inderaputera mengambil bunga Air sungai berombak

4. 5. 6.

Format Kerja 3 Identifikasi Perbedaan Peristiwa


No. 1. Perbedaan Peristiwa 20 x 25 Keterangan 20 = Maka Inderaputera pun tidurlah serta melepaskan senjatanya di atas hamparan kudanya itu dan pedangnya pun didakapnya tidur. 25 = Maka dirasa oleh Inderaputera akan tubuhnya sejuk seraya dibuka matanya. 24 = Maka Tamar Buga pun segera menerbangkan ke udara. Maka hendak dibuangkannya ke dalam lautkalzum. 27 = Inderaputera dan Tamar Buga pun jatuh ke bumi keduanya terdiri di bumi. 41 = Inderaputera pun berjalan ke hulu sungai itu airnya terlalu manis dirasai oleh Inderaputera air sungai itu. 52 = Inderaputera pun pergi pula pada hilir sungai itu

2.

24 x 27

3.

41 x 52

Format Kerja 4 Interpretasi dan Pembuktian Satuan Peristiwa


No A 1 Kode Satuan Interpretasi Satuan Peristiwa Latar Belakang Permasalahan Paragraf 1 Kehidupan Inderaputera yang dijatuhkan di tanah Dewa Lela Paragraf 2-3 Perburuan Inderaputera dan dewa Lela yang tidak mendapatkan apa-apa Paragraf 4-8 Pembuktian Teks

..dan peri mengatakan tatkala Inderaputera jatuh ke tanah Dewa Lela Tatkala sekali persetua Raja Dewa Lela Mengerna dan Inderaputera pergi berburu daripada pagi-pagi hari datang kepada petang seekor perburuan pun tiada diperolehnya Maka Tamar Buga pun bertempik lalu rebah mati

Prasangka buruk Tamar Buga berdampak buruk bagi dirinya Paragraf 8-12 Perjalanan Inderaputera yang mengantarkan ia kepada sebuah hulu sungai Paragraf 13-16 Perjalanan dan 20-25 Inderaputera di hilir sungai yang menemui berbagai macam bunga

Sebermula pada hulu sungai itu airnya manis dan sama tengah itu sungai itu lemak

Maka Inderaputera pun hairan melihat berbagai-bagai warnanya. Syahadan Inderaputera pun berjalan ke hulu sungai itu airnya terlalu manis dirasai oleh Inderaputera air sungai itu. Seketika lagi maka timbul bunga tanjung putih terlalu permai rupanya itu Hatta Inderaputera pun pergi pula pada hilir sungai itu, airnya tawar dengan sejuknya. Seketika lagi maka angin pun bertiup, maka air sungai itu pun berombak berpalu-paluan seperti bunyi-bunyian terlalu ramai bunyinya itu. Maka ikan pun timbul seraya berpantun dan berseloka dan ketam pun bersyair. Maka Inderaputera pun hairan seketika dan ombak pun berhenti Hatta maka Inderaputera pun bertemu dengan bukit dan dilihatnya oleh

6.

Paragraf 17-19 Inderaputera menemukan ketam dan ikan

7.

Paragraf 26-42 Inderaputera

melakukan perjalanan melewati berbagai macam bukit 8. Paragraf 43 Inderaputera berjalan melalui hutan, padang, dan gunung api

9.

Paragraf 44

Inderaputera bertemu peri Langkurba dan pengawalpengawalnya

10.

Paragraf 45-50 Inderaputera melakukan negosiasi dengan peri agar peri dapat menerbangkan gunung berapi

11. 12.

Paragraf 51-52 Inderaputera jatuh ke tasik Bahrul Asyikin Paragraf 53-54 Inderaputera melihat berbagai anak raja yang memakai pakaian dan mahkota keemasan

13.

Paragraf 55-60 Terjadi badai yang mengakibatkan banjir

14.

Paragraf 61-71 Inderaputera menjelaskan siapa dirinya kepada rajaraja

Inderaputera daripada jauh suatu bukit terlalu hebat gilanggemilang dan bukit-bukit itu pun berdengungdengung seperti halilintar bunyinya Maka ia pun berjalan pula beberapa melalui hutan dan padang. Maka Inderaputera pun bertemu dengan binatang berbagai-bagai rupanya. Maka Inderaputera pun sampai ke gunun api. Maka dilihatnya dari jauh gunung itu bernyala-nyala memancar-mancar seperti sampai ke udara Maka dicitanya peri Langkurba nenek Tuan Puteri Seri Ratna Gemala Nehran dan seketika itu juga keluarlah empat pengawal jin dari dalam gemala hikmatitu Hai saudaraku terbangkan apalah kiranya aku kepada mahligai Tuan Puteri Seri Ratna Gemala Nehran. Jikalau hambamu menerbangkan tuan hamba hubaya-hubaya jangan tuan hamba minta air. Jika tuan hamba minta air nescaya jatuh tuan hamba ke tasik Bahrul Asyik itu. Hai saudaraku terbangkanlah aku, tiadaku minta akan air. Maka ia pun jatuhlah ke tasik Bahrul Asyikin Syahadan dilihatnya oleh Inderaputera di atas lancang itu segala anak raja-raja semuanya asal daripada dewa dan anak raja jin dan anak raja peri dan anak raja cendera dan sekaliannya memakai pakaian keemasan dan memakai mahkota yang keemasan Maka dengan seketika itu juga turun angin ribut taufan kelam-kabut guruh petir kilat sabung-menyabung. Maka tasik Bahrul Asyikin berombaklah dengan segala lancang dan pelang itu pun habislah karam Sahut Inderaputera, Hai anak-anak raja-raja bahawa hambalah yang bernama Inderaputera anak Maharaja Bikrama Buspa, hambalah manusia. Maka diceterakannyalah segala hal-

15.

Paragraf 72

Inderaputera sampai di tasik Baharul Asyikin

16.

Paragraf 73-77 Inderaputera bersantai di tepi tasik. Ditengah waktu santainya, ia melihat seorang permpuan dan dua orang laki-laki

17. 18.

Paragraf 78

Pulau Biram mengalami badai

Paragraf 79-94 Inderaputera bertemu empat orang perempuan yang menceritakan tentang Puteri Cahaya Segenda Iram

19.

Paragraf 102113

Inderaputera bertemu
Tuan Puteri Seganda Cahaya Iram dan anak kedua raja mambang

ahwal daripada permulaan datang kepada kesudahannya Maka Inderaputera pun sampailah ke tasik Bahrul Asyikin dan dilihatnya tasik itu rumputnya daripada kumakum a dan pasirnya daripada emas urai dan gersiknya itu daripada kapur barus dan lumpurnya itu daripada kasturi dan batunya itu daripada permata yang indah-indah. Syahadan pada tengah tasik itu ada suatu pulau bernama Biram Dewa seperti gajah rupanya sebab itulah maka dinamai Pulau Biram Dewa itu Hatta maka Inderaputera pun duduk bermain-mainlah ditepi tasik itu berjalan-jalan melihat segala yang indah-indah itu Maka dilihatnya oleh Inderaputera pada Pulau Biram. Dewa itu ada seorang perempuan terlalu amat elok rupanya. Maka seketika lagi maka datanglah pula dua orang laki-laki terlalu amat pantas dan sikapnya, datangnya daripada ghaib mengusir perempuan itu Ada pun Pulau Biram Dewa itu seperti taufan dan seperti guruh bunyinya Maka dilihat oleh Inderaputera empat orang perempuan berdiri pada tasik itu terurai-urai rambutnya seperti menampar dadanya telah hilanglah tuan puteri Hatta maka inang pengasuh Tuan Puteri Cahaya Seganda Iram itu pun berceterakanlah kepada Inderaputera Maka baginda menamai puteranya itu Puteri Seganda Cahaya Iram kerana tuan puteri itu dapat menjadikan dirinya itu permata dan seketika dapat menjadikan dirinya itu bunga tanjung sebab itulah maka dinamai Tuan Puteri Seganda Cahaya Irarn.. Syahadan maka ia pun segeralah berseru-seru akan Tuan Puteri Seganda Cahaya Iram itu. Kalakian maka bunga tanjung biru itu pun timbullah dan hari pun petanglah. Maka disambut oleh inang penga-

20.

Paragraf 114-

21.

Paragraf 116118

Inderaputera pergi ke tasik bersama anak kedua raja mambang dan Tuan Puteri Seganda Cahaya Iram Anak kedua raja mambang serupa dengan Tuan Puteri Seganda Cahaya Iram Inderaputera diajak ke negeri Tuan Puteri Seganda Cahaya Inderaputera disambut baik di negeri itu dan hidup bahagia di sana

suhnya akan bunga tanjung biru itu. Arakian maka tuan puteri pun menjadikan dirinya manusia terlalu l ah elok rupanya Maka Inderaputera pun pergilah ke tasik itu membawa anak raja mambang kedua itu serta dengan Tuan Puteri Seganda Cahaya Iram Maka dengan seketika itu juga bayang-bayang tuan puteri pun menjadi seorang perempuan serupa dengan Tuan Puteri Seganda Cahaya Iram itu tiadalah lagi bersalahan Hatta maka Inderaputera pun berjalanlah dibawa oleh Tuan Puteri Seganda Cahaya lram ke negerinya diiringkan oleh Gerdana Kilat dan Dikar Agus Hatta beberapa lamanya Inderaputera di dalam negeri itu bersuka-sukaan tiadalah tersebut perkataannya lagi

22.

Paragraf 120122

23.

Paragraf 123135

B 1

2. 3.

Permasalahan Utama Paragraf 1-7 Kehidupan Inderaputera di tanah Dewa Lela Paragraf 8-101 Perjalanan Inderaputera Paragraf 102- Pertemuan 135 Inderaputera dengan Tuan Puteri Seganda Cahaya Iram