Anda di halaman 1dari 18

Ilmu Pengetahuan Sosial mencakup berbagai kajian ilmu. a.

Apakah yang dipelajari dalam IPS dan bagaimana kedudukan ilmu Geografi dalam IPS? b. Berikan contoh kajian IPS Terpadu sesuai dengan bidang kajian yang anda kuasai (lengkapi dengan bagan).

JAWABAN a. Guna menjawab pertanyaan tentang apa yang dipelajari dalam IPS, sebelumnya perlu dikemukakan terlebih dahulu definisi IPS itu sendiri. Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan penyederhanaan atau adaptasi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan.1 Ilmu-ilmu sosial yang dimaksud di sini meliputi sejarah, geografi, sosiologi, antropologi, ekonomi, kewarganegaraan, hukum, dan politik. National Council for the Social Studies (NCSS) mendefinisikan IPS sebagai berikut: Social Studies is the integrated study of the social sciences and humanities to promote civic competence. Within the school program, social studies provides coordinated, systematic study drawing upon such disciplines as anthropology, archeology, economics, geography, history, law, philosophy, political science, psychology, religion, and sociology, as well as appropriate content from the humanities, mathematics, and natural sciences. The primary purpose of social studies is to help young people develop the ability to make informed and reasoned decisions for the public good as citizens of a culturally diverse, democratic society in an interdependent world (Sapriya, dalam Suprayogi, dkk., 2011: 7). Berdasarkan definisi di atas, dapat dipetakan bahwa kajian dari IPS adalah masyarakat, yang ditinjau dari perspektif antropologi, arkeologi, ekonomi, geografi, sejarah, hukum, kewarganegaraan, filsafat, ilmu politik, psikologi, religi, dan sosiologi. Ilmu-ilmu sosial di atas memberi kontribusi berupa bahan kajian bagi IPS.2 Secara singkat kontribusi masing-masing ilmu sosial seperti dijabarkan di bawah ini. 1) Geografi, memberi kontribusi dalam hal: Tempat di permukaan bumi memiliki kekhususan yang membedakan dari satu tempat ke tempat lain. Pilihan yang dibuat oleh manusia untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungannya tergantung pada nilai budaya, kebutuhan ekonomi, tingkat penguasaan teknologi, dan faktor alami. 2) Sejarah, memberi kontribusi dalam hal: Perjuangan manusia memperoleh kemerdekaan dan hak asasi baru berlangsung dalam kurun waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan keberadaan manusia di dunia. Sejarah permulaan suatu negara mempunyai pengaruh terhadap kebudayaan, tradisi, kepercayaan, sikap, dan cara hidup warga negaranya. 3) Antropologi, memberi kontribusi dalam hal: Setiap masyarakat telah membentuk sistem kepercayaan, pengetahuan, nilai, tradisi, dan keterampilan yang disebut kebudayaan masyarakat.

Istilah IPS dibedakan dengan istilah Ilmu-Ilmu Sosial dan Pendidikan IPS. Lihat buku Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial karya Suprayogi, dkk (2011). hlm. 1-2. 2 Ibid. hlm. 45-46.

4)

5)

6)

7)

Seni musik, arsitektur, makanan, dan adat kebiasaan dari masyarakat yang bersangkutan membangun identitas nasionalnya. Sosiologi, memberi kontribusi dalam hal: Kelas sosial selalu terdapat dalam masyarakat, meskipun dasar dari perbedaan kelas dan tingkat keketatan struktur kelas tersebut bervariasi. Lingkungan sosial seseorang dibesarkan dan dididik serta hidup memberi pengaruh yang mendasar terhadap pertumbuhan atau perkembangan setiap individu. Ekonomi, memberi kontribusi dalam hal: Masyarakat modern melihat kesejahteraan ekonomi sebagai tujuan yang diinginkan oleh anggota masyarakatnya. Dalam dunia yang modern, saling ketergantungan antar bangsa menimbulkan terjadinya pertukaran dan perdagangan kebutuhan barang, jasa, dan informasi. Psikologi Sosial, memberi kontribusi dalam hal: Sikap dan perilaku seseorang dipengaruhi oleh masyarakat tempat ia tinggal atau hidup dalam waktu yang relatif lama. Setiap orang pernah mengalami frustasi, tetapi tinggi rendahnya frustasi tergantung pada tantangan yang dihadapi dan pengendalian diri. Ilmu Politik/Ilmu Kewarganegaraan, memberi kontribusi dalam hal: Pemerintahan yang stabil memberi kemudahan bagi perkembangan ekonomi dan sosial bangsa. Masyarakat demokratis tergantung kepada warga negara yang secara intelektual dan moral mampu melakukan tindakan pemerintahan.

Berdasarkan pemisahan ilmu-ilmu sosial di atas beserta kontribusinya, dapat disimpulkan bahwa geografi merupakan salah satu mata pelajaran dari cabang IPS. Dapat juga dikatakan bahwa geografi merupakan bidang kajian IPS, yang memberi kontribusi bagi kajian IPS. Sumbangan terbesar geografi adalah tempat atau bumi sebagai tempat tinggal manusia. Di mana manusia dengan lingkungannya berinteraksi dan membentuk karakteristik tempat tertentu berbeda dengan lainnya. Dengan demikian geografi adalah ilmu pengetahuan sintesis bukan ilmu pengetahuan sistematik, seperti sejarah, sosiologi, ekonomi dan antropologi. Hal yang perlu disampaikan lagi, kaitannya dengan kontribusi geografi bagi IPS adalah: Pertama, konsep geografi adalah ilmu tentang keadaan permukaan bumi dan penduduknya serta hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannya. Konsepkonsep geografi diantaranya: lokasi, kawasan, interaksi keruangan, struktur internal kota, persepsi lingkungan, distribusi keruangan, dan keterjangkauan. Konsep-konsep ini kemudian digunakan IPS untuk mengkaji materi-materi ilmu-ilmu sosial lainnya. Misal, ketika berbicara mengenai sejarah persebaran agama Hindu-Budha, analisis mengenai hal ini tentu membutuhkan kajian geografi, khususnya konsep distribusi keruangan. Kedua, kontribusi geografi dalam hal generalisasi diantaranya: 1) tempat di permukaan bumi memiliki kekhususan yang membedakan dari suatu tempat dari yang lain; 2) pilihan yang dibuat oleh manusia untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungannya tergantung pada nilai budaya, kebutuhan ekonomi, tingkat penguasaan teknologi, dan faktor alami. Kontribusi geografi bagi IPS adalah cara pandang geografi yang menyangkut persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dalam konteks keruangan, kewilayahan, dan kelingkungan digunakan untuk mensinergikan, menyelaraskan, dan menyeimbangkan kepentingan manusia, mahluk hidup lainnya dengan alam agar keberlangsungan tetap terjaga hingga mampu diwariskan pada generasi berikutnya. b. Kajian IPS Tema IPS utama yang akan dibahas adalah Sejarah Kerajaan Hindu-Budha.

Kajian sejarah terhadap perkembangan kerajaan-kerajaan Hindu-Budha diawali munculnya Kerajaan Kutai (Kalimantan Timur), Kerajaan Tarumanegara (Jawa Barat), Kerajaan Sriwijaya (Sumatra), Kerjaan Kalingga, Kerajaan Sanjaya, Kerjaan Syailendra, Kerajaan Isyana, Kerajaan Darmawangsa, Kerajaan Airlangga, Kerajaan Kediri, Kerajaan Singasari, dan Kerajaan Majapahit (Jawa Timur), dan masih banyak lagi kerajaan HinduBudha di Indonesia.3 Masing-masing kerajaan memiliki cerita (sejarah), yang dapat dijelaskan menurut urutan waktu tertentu. Dan masing-masing kerajaan memiliki tokoh-tokoh utamanya, serta peninggalan-peninggalan penting yang dapat menjadi bukti keberadaan kerajaan tersebut. Secara geografis, perkembangan kerajaan Hindu-Budha berkembang dari wilayah Indonesia bagian barat, kemudian secara perlahan menyebar menuju Indonesia bagian tengah dan timur. Selain itu, kajian keruangan akan menghasilkan simpulan bahwa sebagian besar kerajaan Hindu-Budha berkembang di wilayah pesisir pantai dan/atau sungai. Kajian ekonomi akan menempatkan ini sebagai upaya kerajaan dan atau masyarakat kaitannya dengan kegiatan ekonomi. Masyarakat saat itu memanfaatkan sarana transportasi laut atau sungai untuk mendistribusikan barang dagangan ke berbagai tempat. Pasar-pasar tradisional pun banyak berkembang di wilayah-wilayah dekat laut dan/atau sungai. Secara sosiologis, penyebaran kerajaan yang bercorak agama Hindu-Budha merupakan hasil dari proses interaksi antarmasyarakat di berbagai belahan wilayah Indonesia. Kegiatan-kegiatan kerjasama antarkerajaan muncul dalam wujud perdagangan. Konflik juga merupakan fakta sosiologis yang muncul seiring tumbuh dan matinya suatu kerajaan. Secara antropologis, agama Hindu-Budha juga syarat akan nilai-nilai budaya. Kebudayaan Hindu-Budha mewujud dalam tiga ranah, yakni sistem ide, ritual, dan artefak. Sistem ide/gagasan yang khas dengan Hindu-Budha adalah ajaran-ajaran (dharma) tentang kebajikan yang tertuang dalam kitab Weda (Hindu) dan Tri Pitaka (Budha). Ritual-ritual sebagai hasil pengaruh budaya Hindu-Budha di Indonesia meliputi hari raya nyepi, upacara galungan, waisak, dan lain sebagainya. Artefak-artefak yang dihasilkan berupa Candi Prambanan, Borobudur, Candi di dataran tinggi Dieng, Candi Gedong Songo, dan beberapa peninggalan-peninggalan candi lainnya yang tersebar di wilayah nusantara.4 Kerajaan-kerajaan Hindu-Budha yang ada, tumbuh, berkembang, dan mati, semuanya merupakan suatu proses politik yang dimainkan oleh para elit kerajaan. Kajian politik akan menempatkan sistem pemerintahan raja-raja sebagai fokus utamanya. Kajian ilmu hukum akan mencoba mengkaji hukum-hukum adat yang dihasilkan dari perkembangan kerajaan-kerajaan Hindu-Budha. Misalkan dalam kitab Tri Pitaka terdapat ajaran moral untuk mencapai Nirwana dengan melalui Samadhi, dan setiap golongan berbeda kewajiban moralnya. Ajaran-ajaran moral tersebut meliputi Dasasyiila, Saptasyiila, dan Pancasyiila. Dalam pancasyiila terdapat ajaran untuk tidak membunuh,

Daftar kerajaan ini berdasarkan materi perkuliahan Pendidikan Pancasila. Lihat buku Pendidikan Pancasila karya A.T. Soegito (2012). 4 Lihat Koenjaraningrat. 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. Yogyakarya: Rineka Cipta.

larangan mencuri, larangan berzina, larangan berdusta, dan larangan minum minuman keras.5 Secara skematis, materi di atas dapat dijelaskan melalui gambar di bawah ini: Sejarah: Sejarah perkembangan Kerajaan Hindu-Budha Geografi: Lokasi persebaran Kerajaan Hindu-Budha Ekonomi: Lokasi kerajaan di sisi laut/sungai berpengaruh terhadap kegiatan ekonomi Sosiologi: Interaksi (kerjasama & konflik) sebagai faktor tumbuh & matinya kerajaan Antropologi: Asimilasi & Akulturasi budaya Hindu-Budha Politik: Sistem pemerintahan kerajaan Hukum: Kitab Suci agama Hindu-Budha Gambar 1. Skema Kajian IPS terhadap Perkembangan Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia6 Gambar 1. Menggambarkan secara jelas kontribusi masing-masing ilmu sosial dalam mengkaji perkembangan Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia. Kontribusi ilmu-ilmu sosial tersebut berupa fakta-fakta, konsep-konsep, dan teori-teori. Sehingga menjadi satu kesatuan kajian IPS (terintegrasi) mengenai perkembangan Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia.
5 6

FAKTA

KONSEP

Kajian IPS terhadap Perkembangan Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia

TEORI

Baca Kaelan. 2010. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma. Diadopsi dari Suprayogi, dkk. (2011) hlm. 42.

Geografi merupakan ilmu yang memiliki ciri khusus. a. Bagaimana lingkup kajian dan ciri khas ilmu Geografi, sehingga beda dengan ilmu lain. b. Apakah obyek formal dan obyek material dalam geografi. Jelaskan dengan contohnya sesuai dengan bidang kajian yang anda tekuni.

JAWABAN a. Ruang lingkup Geografi dapat digambarkan dalam diagram di bawah ini,7

Litosfer Atmosfer Geografi Fisik Hidrosfer Biosfer

Geologi, Geomorfologi, Soils Meteorologi, Klimatologi Hidrologi, Oceanografi

Biogeografi
Geografi Politik, Manusia, Sosial, Ekonomi, Budaya, dll.

Geografi

Geografi Manusia Geografi Regional Geografi Teknik

Antroposfer
Kartografi Penginderaan Jauh Geografi Matematik

Gambar 2. Bagan Ruang Lingkup Geografi

Bagan tentang ruang lingkup geografi ini dikutip dari Murtianto Hendro. 2008. Modul Belajar Geografi. Bandung: FIPS-UPI.

Gambar 2. menunjukkan betapa luasnya cakupan geografi, meliputi geografi fisik, geografi manusia, geografi regional, dan geografi teknik. Masing-masing cabang tersebut juga memiliki sub-sub lagi, seperti yang digambarkan pada bagan di atas. Pendapat lain dikemukakan oleh Rhoads Murphey dalam bukunya The Scope of Geography, mengemukakan tentang tiga pokok ruang lingkup studi geografi, yaitu : 1) Interaksi antarmanusia dengan lingkungan fisik yang merupakan salah satu keanekaragaman wilayah. 2) Persebaran dan keterkaitan penduduk di bumi dengan sejumlah aspek keruangan. 3) Kajian terhadap region dan analisis dari region yang mempunyai ciri khusus. Ciri khas geografi adalah bidang kajiannya, yakni lingkungan dan kehidupan di dalamnya, serta interaksi di antara keduanya. Kajian-kajian tentang ruang (lingkungan) dan hubungan antara manusia dan lingkungan inilah yang tidak ditemukan dalam ilmu-ilmu sosial lainnya. b. Geografi mempunyai objek formal dan material, objek formal berupa pendekatan keruangan, pendekatan kelingkungan, pendekatan kewilayahan. Sedangkan objek material meliputi, litosfer, atmosfer, hidrosfer, biosfer, dan antroposfer (Suharyono dan Moch. Amin 1994: 2-15). Sumber lain memberikan penjelasan lebih rinci, bahwa: Obyek Formal Obyek formal adalah sudut pandang dan cara berpikir terhadap suatu gejala di muka bumi, baik yan sifatnya fisik maupun sosial yang dilihat dari sudut pandang keruangan (spasial). Dalam geograf selalu ditanyakan mengenai dimana gejala itu terjadi di tempat tersebut. Di sini ilmu geografi diharapkan mampu menjawab berbagai pertanyaan sebagai berikut: 1) Apa (what), berkaitan dengan struktur, pola, fungsi dan proses gejala atau kejadian di permukaan bumi. 2) Di mana (where), berkaitan dengan tempat atau letak suatu obyek geografi di permukaan bumi. 3) Berapa (how much/many), berkaitan dengan hal-hal yang menyatakan ukuran (jarak, luas, isi, dan waktu) suatu obyek geografi dalam bentuk angka-angka. 4) Mengapa (why), berkaitan dengan rangkaian waktu dan tempat, latar belakang, atau interaksi dan interdependensi suatu gejala, peristiwa dan motivasi manusia. 5) Bagaimana (how), berkaitan dengan penjabaran suatu pola, fungsi, dan proses gejala dan peristiwa. 6) Kapan (when), berkaitan dengan waktu kejadian yang berlangsung, baik waktu yang lampau, sekarang, maupun yang akan datang. 7) Siapa (who), berkaitan dengan subyek atau pelaku dari suatu kejadian atau peristiwa. Obyek Material Obyek material geografi adalah sasaran atau isi kajian geografi. Obyek material yang umum dan luas adalah geosfer, meliputi: 1) Lithosfer (lapisan keras), merupakan lapisan luar dari bumi kita. Lapisan ini disebut lapisan kerak bumi dalam ilmu geologi. 2) Atmosfer (lapisan udara), terutama adalah lapisan atmosfer bawah yang dikenal sebagai troposfer. 3) Hidrosfer (lapisan air), baik yang berupa lautan, danau, sungai dan air tanah. 4) Biosfer (lapisan dan tempat hidup), yang terdiri atas hewan, tumbuhan dan manisia sebagai suatu komunitas bukan sebagai individu.

5) Pedosfer (lapisan tanah), merupakan lapisan batuan yang telah mengalami pelapukan, baik pelapukan fisik, organik, maupun kimia. Jadi secara nyata obyek material geografi meliputi gejala-gejala yang terdapat dan terjadi di muka bumi, seperti aspek batuan, tanah, gempa bumi, cuaca, iklim, gunung api, udara, air, serta flora dan fauna yang terkait dengan kehidupan manusia. Contoh kajian objek formal dan objek material geografi terhadap muatan materi sosiologi. Mawarti, Diah Ayu., dkk. (2013) dalam makalah Ritual di Seputar Alur Kegiatan Masyarakat Petani dan Nelayan Jawa: suatu Analisis Keruangan dan SosioAntropologis8 menjelaskan bahwa ada keterkaitan antara ruang hidup manusia dengan ritual-ritual religi yang dilakukan masyarakat. Masyarakat petani memiliki ritual-ritual persembahan kepada alam yang dilakukan sebelum, saat masa tanam, dan pasca panen. Karakeristik ritual masyarakat petani adalah ritual dilakukan di darat dan sifatnya lebih cenderung mengarah kepada bancaan, atau syukuran dan makan bersama. Masyarakat nelayan juga memiliki ritual-ritual persembahan kepada alam, yang dilakukan sebelum, dan setelah masa berlayar. Karakteristik ritual masyarakat nalayan sedikit berbeda dengan masyarakat petani. Ritual yang diselenggarakan masyarakat nelayan biasanya berupa sedekah bumi dan dilakukan di wilayah lautan. Sedekah-sedekah bumi tersebut dilarungkan di laut kemudian diperrebutkan oleh masyarakat yang turut serta dalam proses larung. Kesamaan di antara dua kategori ritual di atas adalah keduanya sama-sama ditujukan sebagai wujud permohonan keselamatan, kelancaran selama proses bertani dan berlayar, serta ekspresi rasa syukur terhadap Tuhan dan alam yang telah memberi kehidupan kepada masyarakat. Senada dengan makalah di atas, Setyowati (2012) dalam buku ajar Kearifan Lokal dalam Menjaga Lingkungan Perairan, Kepulauan, dan Pegunungan juga menjabarkan bagaimana keterkaitan antara konsep objek formal dan material geografi dengan polapola kearifan lokal pada masyarakat perairan, kepulauan, dan pegunungan. Hasil penelitian yang dibahas menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bentuk atau pola kearifan lokal masyarakat dalam ruang hidup atau kondisi geografis yang berbeda.9

Makalah Ritual di Seputar Alur Kegiatan Masyarakat Petani dan Nelayan Jawa: suatu Analisis Keruangan dan Sosio-Antropologis disajikan oleh Diah Ayu Mawarti, Didi Pramono, dan Andhika Nanda Perdhana, dalam presentasi mata kuliah Perspektif Geografi yang diampu oleh Prof. Dr. Dewi Liesnoor Setyowati, M.Si. pada bulan Juni 2013. 9 Setyowati, Dewi Liesnoor (2012). Buku Ajar Kearifan Lokal dalam Menjaga Lingkungan Perairan, Kepulauan, dan Pegunungan. Semarang: tidak diterbitkan.

Berikan uraian dari sudut pandang perspektif geografi tentang tema berikut ini a. Kajian Kehidupan Manusia pada Masyarakat Nelayan dan Petani b. Menurut saudara, apakah kajian kearifan lokal dapat dianalisis melalui pendekatan geografi. Berikan contohnya.

JAWABAN a. Perspektif Geografi tentang Manusia pada Masyarakat Nelayan dan Petani. Pendekatan geografi meliputi pendekatan keruangan, kelingkungan, dan kewilayahan. Jika mendasarkan pada ketiga ranah tersebut, akan ada perbedaan yang cukup signifikan antara masyarakat petani dan nelayan. Guna menjawab lebih jauh pertanyaan ini, akan dipaparkan dua kajian tentang masyarakat petani dan nelayan sebagai berikut. Mawarti, Diah Ayu., dkk. (2013) dalam makalah Ritual di Seputar Alur Kegiatan Masyarakat Petani dan Nelayan Jawa: suatu Analisis Keruangan dan SosioAntropologis10 menjelaskan bahwa ada keterkaitan antara ruang hidup manusia dengan ritual-ritual religi yang dilakukan masyarakat. Masyarakat petani memiliki ritual-ritual persembahan kepada alam yang dilakukan sebelum, saat masa tanam, dan pasca panen. Karakeristik ritual masyarakat petani adalah ritual dilakukan di darat dan sifatnya lebih cenderung mengarah kepada bancaan, atau syukuran dan makan bersama. Contoh ritual-ritual yang dilakukan oleh masyarakat petani diantaranya Slametan AdegAdeg yang dilakukan oleh suku Osing (Banyuwangi), Ritual Among Tebal yang dilakukan di Lereng Gunung Sumbing (Temanggung), Ritual Sengkolo (Nganjuk-Jatim), Ritual Rigen (Temanggung), Ritual Pegnantin Tebu (Mojokerto-Jatim), Ritual Kenduren Lekas Macul, Selamatan Kepungan/Kenduren Lekas Nandur, Ritual Kenduren Wiwit, Ritual Ngarot (Indramayu-Jabar), Ritual Kawin Kucing (Pasuruan-Jatim), Ritual Sawah dan Labuh Tandur (Suku Osing-Banyuwangi), Ritual Nylameti Pari, Ritual Golong Sewu dan Among Tani (Temanggung), Ritual Awak Petik Tembakau (Temanggung), Ritual Mimiti (Banyumas), Ritual Wiwitan (Bantul-Yogyakarta), Ritual Methil (Madiun-Jatim), Ritual Semar Gugat (Temanggung), Ritual Seblang dan Kebo-Keboan serta Ritual Selamatan Panen-Nggampung (Suku Osing-Banyuwangi), Upacara Bersih Sendhang Pokak (Klaten), Ritual Mapag Sri (Indramayu), Ritual Tutup Tandur (Lumajang-Jatim), dan Ritual Seribu Ketupat (Temanggung). Contoh-contoh di atas dapat ditarik suatu benang merah, bahwa manusia akan melakukan interaksi-interaksi tertentu dengan alam. Hal ini sebagai wujud ekspresi keselarasan hubungan antara manusia dengan lingkungan. Hubungan masyarakat petani dengan alam memiliki karakteristik diantaranya ritual dilaksanakan di darat, ritual lebih bersifat bancaan (makan bersama), ritual ditujukan sebagai permohonan doa agar diberi kelancaran masa tanam dan panen, dan sebagai ucap rasa syukur masyarakat kepada Tuhan melalui alam. Masyarakat nelayan juga memiliki ritual-ritual persembahan kepada alam, yang dilakukan sebelum, dan setelah masa berlayar. Karakteristik ritual masyarakat nalayan sedikit berbeda dengan masyarakat petani. Ritual yang diselenggarakan masyarakat nelayan biasanya berupa sedekah bumi dan dilakukan di wilayah lautan. Sedekah-sedekah bumi
10

Makalah Ritual di Seputar Alur Kegiatan Masyarakat Petani dan Nelayan Jawa: suatu Analisis Keruangan dan Sosio-Antropologis disajikan oleh Diah Ayu Mawarti, Didi Pramono, dan Andhika Nanda Perdhana, dalam presentasi mata kuliah Perspektif Geografi yang diampu oleh Prof. Dr. Dewi Liesnoor Setyowati, M.Si. pada bulan Juni 2013.

tersebut dilarungkan di laut kemudian diperrebutkan oleh masyarakat yang turut serta dalam proses larung. Contoh ritual-ritual yang dilakukan oleh masyarakat nelayan diantaranya Sedekah Laut/Nadran (Tegal), Upacara Labuhan (Karanganyar-Jateng), Sedekah Bumi (KalioriRembang), Swalan/Larung Sesaji (Cilacap), dan Sedekah Laut/Nyadran (Pekalongan). Contoh-contoh ritual di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik ritual masyarakat nelayan lebih kepada persembahan kepada alam. Ada beberapa sesaji-sesaji yang diperuntukkan bagi alam sekitar. Berbeda dengan ritual masyarakat petani yang lebih bersifat bancaan (makan bersama). Ritual masyarakat nelayan dilakukan di wilayah laut. Masing-masing masyarakat (petani dan nelayan) mempunyai ritual yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat pemahaman dan kecerdasan serta kemampuan beradaptasi manusia setempat terhadap lingkungan. Masyarakat petani mempunyai cara pandang yang berbeda dalam mengelola alamnya jika dibandingkan dengan masyarakat nelayan, karena sumber daya yang dimiliki juga berbeda. Kajian kedua adalah apa yang ditulis Setyowati (2012) dalam buku ajar Kearifan Lokal dalam Menjaga Lingkungan Perairan, Kepulauan, dan Pegunungan.11 Buku ajar ini, salah satunya menyoroti masalah masyarakat petani dan nelayan ditinjau dari kearifan lokal yang mereka bangun demi kelestarian lingkungan. Studi kasus dilakukan di masyarakat petani di Pegunungan Kendeng-Pati, Pegunungan Muria-Kudus, dan masyarakat nelayan Karimunjawa. Buku ajar ini disusun secara sistematis, diawali dengan menjelaskan gambaran umum wilayah, mulai dari kondisi geografis, kondisi biofisik, kondisi masyarakat, dan sejarah perkembangan wilayahnya. Selanjutnya dipaparkan mengenai berbagai kearifan lokal yang ada di masyarakat. Dua kajian tersebut saling berhubungan, di mana kondisi fisik suatu wilayah akan berpengaruh terhadap cara berpikir masyarakat, termasuk dalam membangun kearifan lokal guna melestarikan lingkungan tempat tinggalnya. Hasil penelitian menujukkan ada beberapa kearifan lokal yang dibangun oleh masingmasing masyarakat, baik masyarakat petani maupun nelayan. Dan masing-masing memiliki karakteristik kearifan lokal yang berbeda. Pada intinya sama, masyarakat menciptakan aturan tidak tertulis yang berbentuk kepercayaan di luar logika, yang tujuannya untuk menjaga kelestarian alam. Perlu ditegaskan kembali di sini bahwa, masyarakat akan bertindak/melakukan adaptasi, atau menciptakan sesuatu berdasarkan tempat di mana masyarakat tersebut tinggal. Sangat jelas sekali bahwa pendekatan keruangan, kelingkungan, dan kewilayahan menjalankan fungsi strategis dalam menganalisis masyarakat petani dan nelayan. b. Kajian kearifan lokal dapat dianalisis melalui pendekatan geografi. Geografi menyoal tentang lingkungan, hubungan manusia dan lingkungannya,12 serta segala macam permasalahan yang timbul di dalamnya. Kearifan lokal merupakan salah satu upaya manusia untuk mencegah masalah-masalah kerusakan alam. Secara rinci akan dijelaskan di bawah ini.

11

Setyowati, Dewi Liesnoor (2012). Buku Ajar Kearifan Lokal dalam Menjaga Lingkungan Perairan, Kepulauan, dan Pegunungan. Semarang: tidak diterbitkan. 12 Melalui pendekatan keruangan, pendekatan kelingkungan, dan pendekatan kewilayahan.

Manusia awalnya hidup secara sederhana dan tunduk pada alam, manusia hidup dengan jalan mengembara dan berburu, hidup dalam kelompok kecil di dalam gua. Karena jumlah hewan buruan semakin berkurang, manusia semakin berpikir keras untuk mencari pengganti sumber pangan mereka. Manusia mulai bercocok tanam, manusia kini hidup dengan memanfaatkan alam, selaras dengan alam, dan hidup mulai menetap pada areaarea yang subur. Perkembangan intelektual manusia mengarahkan pada upaya-upaya penaklukan alam. Mulai dari ditemukannya mesin uap, mobil, pembangkit listrik, perahu, pesawat, telepon, komputer, dan mesin-mesin lainnya yang dapat mereduksi ruang dan waktu. Dari sinilah industrialisasi dimulai. Manusia mulai hidup dengan jalan mengeksplorasi dan mengeksploitasi alam. Kondisi ini berakibat rusaknya lingkungan. Di lain sisi, melalui industrialisasi taaf hidup manusia meningkat. Upaya adaptif manusia adalah dengan jalan menciptakan aturan-aturan untuk kelestarian alam. Aturan tersebut dapat berupa aturan tertulis dan aturan-aturan yang tidak tertulis. Aturan tidak tertulis ini di dalam masyarakat Indonesia dikenal dengan istilah kearifan lokal. Kearifan lokal adalah kegiatan atau pengetahuan termasuk di dalamnya kepercayaan suatu masyarakat dalam rangka mengelola alam yang berorientasi pada kelestarian lingkungan. Dampak dari kearifan lokal juga dirasakan pada kelestarian kebudayaan dan kehidupan msyarakat lokal, karena kearifan lokal terbentuk dari interaksi manusia dengan lingkungannya. Masing-masing wilayah mempunyai sistem kearifan lokal yang berbedabeda sesuai dengan tingkat pemahaman dan kecerdasan serta kemampuan beradaptasi manusia setempat terhadap linkungan. Masyarakat petani mempunyai cara pandang yang berbeda dalam mengelola alamnya jika dibandingkan dengan masyarakat daratan atau masyarakat pegunungan, karena sumber daya yang dimiliki juga berbeda (Setyowati, 2012: 2-7). Dalam hal inilah pendekatan geografi (keruangan, kelingkungan, dan kewilayahan) memainkan peranannya. Masyarakat pegunungan dengan wilayah hutan yang luas, pasti dia akan memiliki kearifan lokal tentang pelestarian hutan. Berbeda dengan masyarakat wilayah laut, pasti kearifan lokal yang dimiliki adalah tentang pelestarian wilayah pantai dan lautnya. Dan kearifan-kearifan lokal ini biasanya berbentuk kepercayaan di luar logika. Namun, apapun itu bentuknya, yang jelas itu semua merupakan wujud upaya manusia untuk pemanfaatan alam dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.13

13

Jawaban nomor 3 poin b terinspirasi dari Buku Ajar Kearifan Lokal dalam Menjaga Lingkungan Perairan, Kepulauan, dan Pegunungan, karya Setyowati (2012).

Berbagai bidang ilmu dapat dikaji dan dianalisis melalui pandangan ilmu geografi (Perspektif Geografi). a. Berikan uraian atau kajian tentang kerusakan lahan dalam perspektif geografi. b. Bagaimana dampak pemanasan global terhadap kehidupan di permukaan bumi?

JAWABAN a. Perspektif Geografi tentang Kerusakan Lahan Contoh kasus yang dikaji adalah tanah longsor di Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Masalah kerusakan lingkungan ini akan dikaji menggunakan pendekatan geografi. Analisis Keruangan What : Lahan yang longsor. Longsor adalah suatu peristiwa geologi yang terjadi karena pergerakan masa batuan atau tanah dengan berbagai tipe dan jenis seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah.14 Where : Longsor terjadi di Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat.15 When : Minggu, 24 Maret 2013 Why : Tanah longsor seringkali dipicu oleh curah hujan tinggi dan terjadi selama beberapa hari. Struktur tanah yang labil sangat mudah mengalami longsor hingga mengakibatkan bencana khususnya bagi masyarakat yang berada di posisi lebih rendah. Tanah longsor juga dapat dipicu oleh getaran gempa hingga merontokkan struktur tanah di atas.16 Longsor juga bisa disebabkan oleh:17 erosi yang disebabkan aliran air permukaan atau air hujan, sungaisungai atau gelombang laut yang menggerus kaki lereng-lereng bertambah curam; lereng dari bebatuan dan tanah diperlemah melalui saturasi yang diakibatkan hujan lebat; gempa bumi menyebabkan getaran, tekanan pada partikel-partikel mineral dan bidang lemah pada massa batuan dan tanah yang mengakibatkan longsornya lereng-lereng tersebut; gunung berapi menciptakan simpanan debu yang lengang, hujan lebat dan aliran debu-debu; getaran dari mesin, lalu lintas, penggunaan bahan-bahan peledak, dan bahkan petir; dan berat yang terlalu berlebihan, misalnya dari berkumpulnya hujan atau salju. How : proses terjadinya longsor diawali oleh tingkah hewan-hewan di sekitar lokasi yang aneh dan tidak seperti biasanya. Kemudian akan diikuti oleh suara ledakan dan gemuruh. Setelah itu, tanah akan turun (longsor)

14 15

Lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_longsor Lihat http://www.koran-sindo.com/node/302586 16 Lihat http://bnpb.go.id/page/read/32/tanah-longsor 17 Lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_longsor

Who : Tanah longsor merupakan gejala alam, yang biasanya disebabkan oleh ulah manusia yang tidak melestarikan alam Analisis Kelingkungan Jika dianalisis dari faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya longsor, maka akan nampak hubungan antara manusia dan lingkungan yang tidak baik. Manusia sangat bersikap ekspoitatif, melakukan penebangan hutan tanpa ada upaya reboisasi. Akibatnya, ketika terjadi hujan lebat, kemampuan tanah untuk menyerap air hujan tidak optimal, sehingga kondisi tanah menjadi gembur dan rawan longsor. Ketika sudah demikian, sesuai hukum alam (gravitasi) tanah akan mengarah ke daerah yang lebih rendah. Analisis Kewilayahan Analisis kewilayahan merupakan kombinasi antara pendekatan keruangan dan kelingkungan. Jadi, peristiwa longsor di Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat pada hari Minggu, 24 Maret 2013 merupakan gejala alam yang salah satunya disebabkan oleh ulah manusia yang serakah, dan bersifat ekspoitatif. Mengekspoitasi alam tanpa ada upaya melestarikannya. Akibatnya ketika terjadi hujan lebat, tanah yang sudah tidak bertanaman tidak mampu menampung debit air, tanah tidak mampu menyerap air secara optimal. Akhirnya, terjadilah peristiwa longsor. Memperhatikan kerusakan lahan sebagaimana dikemukakan di atas, perlu ada upaya konservasi lahan. Upaya untuk mengatasi kerusakan lahan adalah sebagai berikut: 1) Metode Konservasi, yaitu dengan melakukan penanaman berbagai jenis tanaman. Fungsi tanaman untuk melindungi tanah terhadap daya tumbukan butir-butir air hujan, melindungi tanah terhadap daya perusak aliran air di atas permukaan dan memperbaiki penyerapan air oleh tanaman. Beberapa cara yang dapat dilakukan dalam usaha konservasi tanah secara vegetasi adalah: Pembenaman sisa-sisa tanaman ke dalam tanah akan meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap air dan memelihara unsur hara tanaman. Penanaman tanaman penutuo tanah, ada tiga jenis, yakni tanaman penutup tanah tinggi, tanah sedang, dan tanah rendah. Pergiliran tanaman, yakni sistem penanaman berbagai tanaman secara bergilir dalam urutan waktu tertentu pada sebidang tanah. Penenaman tumbuhan dalam jalur, yakni sistem bercocok tanam dengan cara beberapa jenis tumbuhan ditanam jalur yang berseling-seling pada sebidang tanah dan disusun memotong lereng atau menurut garis kontur. 2) Metode Teknis Mekanis, yaitu usaha-usaha pengawetan tanah untuk mengurangi banyaknya tanah yang hilang di daerah lahan pertanian edngan cara-cara mekanis. Usaha pengendalian erosi secara teknis mekanis berupa bangunan-bangunan teknis pada lahan yang miring, berupa teras dan saluran pembuangan air. Pembuatan Teras, maksud pembuatan teras adalah untuk mengubah permukaan tanah miring menjadi bertingkat-tingkat untuk mengurangi kecepatan aliran permukaan dan menahan serta menampung air, agar lebih banyak air yang meresap ke dalam tanah. Saluran Pembuangan Air, merupakan sistem terbuka yang dibuat pada permukaan tanah yang sudah diteras dengan arah tegak lurus dengan arah garis kontur dengan maksud menampung sisa aliran permukaan untuk disalurkan ke tempat yang aman dari bahaya erosi dan longsornya tanah.

DAM Penahan, adalah bendungan kecil dan sederhana yang dibuat pada alur/parit alam, dengan urugan tanah diperkuat dengan maksud untuk mengendapkan lumpur hasil erosi dari lahan bagian atasnya. Penghijauan, adalah penanaman tanaman pada tanah-tanah rakyat dan tanah lainnya yang telah mengalami kerusakan baik di dataran tinggi maupun dataran rendah yang berada di luar kawasan hutan dengan pohon-pohon terpilih atau rumput-rumputan dengan maksud pengawetan tanah dan dapat memberikan tambahan pendapatan bagi para petani atau pemilik tanah yang bersangkutan. 3) Metode Kimiawi, yaitu usaha konservasi dengan menggunakan bahan-bahan pemantap tanah, seperti soil conditioner. b. Dampak Global Warming terhadap Kehidupan di Permukaan Bumi. Sebelum jauh berbicara mengenai dampak global warming, terlebih dahulu akan digambarkan secara singkat proses pemanasan global, berikut gambaran ringkasnya.

Gambar 2. Skema Pemanasan Global Sumber: www.google.com Maslin (2004), dalam salah satu bukunya Global Warming a Very Short Introduction menjelaskan bahwa The IPCC 2001 report estimates that global mean surface temperature could rise by between 1.4 and 5.8C by 2100, which would mean that, in addition, global mean sea level would rise between 20 and 88 cm by 2100. Future climate change will have impacts on all factors affecting human society, including coastal regions, storms and floods, health and water resources, agriculture, and biodiversity. Below are reviewed each of these key areas of concern and the possible impact of climate change as assessed by the IPCC.

Dalam buku ini dijelaskan bahwa pemanasan global akan menyebabkan peningkatan temperatur antara 1,4 sampai 5,80C di tahun 2100, tinggi permukaan air laut akan meningkat sekitar 20 sampai 80 cm, dan juga akan memberi dampak pada kehidupan sosial, termasuk di wilayah garis pantai, badai dan banjir, kesehatan dan sumber air bersih, lingkungan agrikultur dan biodiversitas. Winarso (2009) juga mengemukakan dampak pemanasan global,18 diantaranya: a. Daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara akan memanas lebih dari daerahdaerah lain di Bumi. b. gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. c. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. d. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat. e. Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1% untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1% dalam seratus tahun terakhir ini). f. Badai akan menjadi lebih sering. g. air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. h. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. i. beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. j. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim. k. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. l. Di daerah tropis kemungkinan gagal panen juga akan semakin besar. m. Di saat musim tanam sistem DAS maupun tanah tidak mampu menyimpan air sehingga terjadilah banjir. n. pola curah hujan yang berubah, misalnya hujan yang biasanya turun dalam sebulan tetapi kenyataannya turun seminggu. o. Tanaman pangan dan hutan juga dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat. p. naiknya muka air laut. Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. q. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. r. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10-25 cm (4-10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan memprediksi akan terjadi peningkatan lebih lanjut sekitar 9-88 cm (4-35 inchi) pada abad ke-21. s. Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia.
18

Winarso, Paulus Agus merupakan Staf Pengajar di Akademi Meteorologi dan Geofisika-Jakarta. Beliau menulis Modul tentang Pemanasan dan Perubahan Iklim Global.

t. Hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. u. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. v. lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. w. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. x. Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, seperti demam dengue, demam kuning, dan encephalitis. Para ilmuan juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora mold dan serbuk sari. y. Pemanasan global bisa membuat sebagian besar area dunia tak dapat didiami. Dunia mengalami kekurangan air dan makanan, peperangan dan migrasi tersebar luas. z. Isyu terpenting disini adalah ketidakyakinan dalam prediksi akan sebaran regional dari peningkatan misalnya 30C dari suhu global walaupun proyeksi tentatif dapatlah dilakukan. Kawasan tropis mungkin akan mengalami dampak kenaikan relatif lebih kecil dengan penurunan curah hujan pada daerah kering dan kenaikan curah hujan pada daerah lembab. Kawasan berlintang besar (high latitude) akan mengalami kenaikan suhu lebih besar. Summer yang kering akan lebih sering terjadi di kawasan berlintang tengah di Northern Hemisphere, dan oleh karena ekspansi air laut dan mencairnya es kutub, muka air laut mungkin akan naik sekitar 20-140 cm. Secara regional, mungkin akan terjadi perubahan pola suhu, hujan, angin, dan curah hujan. Angin ribut tropis akan semakin sering terjadi dan berbahaya, di kawasan pantai banjir akan lebih sering melanda. Dampak pemanasan global terhadap beberapa bidang kehidupan di antaranya sebagai berikut:19 a. Dampak pemanasan global terhadap lingkungan alami Perubahan cuaca akan memberi dampak terhadap pertanian, kehutanan, dan ekosistem alami. Beberapa kawasan pertanian dan hutan akan kehilangan produktivitasnya, lainnya malah meningkat membuat pola produksi bahan makanan dan perkayuan bergeser. Pergeseran ini akan menyebabkan perubahan ekonomi wilayah yang cukup berarti, intra dan antarnegara. Ancaman sediaan bahan makanan beberapa negara akan mengubah pola perdagangan antar wilayah, sebaran keuntungan akan berbeda-beda. Kegiatan wisata juga akan banyak terpengaruh, keuntungan positif dan negatif akan terlihat antarwilayah geografis. Di beberapa belahan wilayah nampaknya dampak pemanasan mulai dirasakan sebagai isyu nyata, sedangkan di belahan lainnya tingkat keprihatinan akan masalah ini masih tak terukur. IPCC (2001) menjelaskan bahwa perubahan iklim regional, terutama kenaikan suhu, yang terjadi akhir-akhir ini telah mempengaruhi sistem fisik dan biologis di beberapa kawasan. b. Dampak pemanasan global terhadap muka air laut Terlepas dari ketidakpastian di atas, setiap pemanasan terhadap lingkungan global akan berakibat kepada sejumlah kenaikan muka air laut (kemal). Kemal akibat ekspansi air laut dan mencairnya wilayah kutub dapatlah dikatakan merupakan penyebab kerusakan terbesar dan termahal dari gejala pemanasan global ini. Selama abad ke-20 telah terjadi kenaikan suhu rata-rata permukaan sebesar 0,6 0,20C (IPCC Working Group 2; 2001) dan kemudian telah terjadi kemal sebesar 10-25 cm dan diperkirakan pada abad ke-21 ini akan terus mengalami percepatan (Nicholls dan
19

Baca Winarso, Paulus Agus. 2009. Modul Pemanasan dan Perubahan Iklim Global. Jakarta: Akademi Meteorologi dan Geofisika.

Klein; 2001). Berdasarkan kecenderungan yang ada saja, dengan hanya melihat penyebab dari GRK saja, diprediksikan bahwa pemanasan global kemungkinan besar akan menaikkan mal setinggi 15 cm pada 2050 dan 34 cm pada 2100. Ada 10% kemungkinan malah mal naik setinggi 30 cm pada 2050 dan 65 cm di 2100. Kemudian ada 1% kemungkinan mal akan naik 1 m pada 100 tahun yad (sekitar 2095). Dengan kenaikan suhu rata-rata permukaan terhadap keadaan 1990 sebesar 1,4-5,80C sampai tahun 2100 sesuai proyeksi di depan tadi maka akan terjadi kemal sebesar 9-88 cm saat itu (IPCC Working Group 2; 2001). c. Dampak pemanasan global terhadap manusia Dampak langsung terhadap manusia akan berupa kematian (diperkirakan sebesar 8 juta jiwa pada periode 2000-2020 jika tak ada upaya yang serius dalam menangani produksi GRK). Bentuk-bentuknya adalah seperti sakit dan kematian akibat gelombang panas, polusi udara, cuaca ekstrim, penyakit infeksi dari nyamuk, penyakit yang bersumber dari pemanfaataan air, menurunnya sediaan air bersih, dan menurunnya sediaan bahan makanan. IPCC (2001) melaporkan bahwa telah terlihat adanya indikasi pendahuluan akan eksistensi beberapa dampak nyata terhadap sistem sosial dn ekonomi wilayah akibat meningkatnya flood and droughts di beberapa kawasan.

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_longsor http://www.koran-sindo.com/node/302586 http://bnpb.go.id/page/read/32/tanah-longsor http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_longsor Kaelan. 2010. Pendidikan Pancasila.Yogyakarta: Paradigma. Koentjaraningrat. 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Maslin, Mark. 2004. Global Warming a Very Short Introduction. New York: Oxford University Press. Mawarti, Diah Ayu, dkk. 2013. Ritual di Seputar Alur Kegiatan Masyarakat Petani dan Nelayan Jawa: suatu Analisis Keruangan dan Sosio-Antropologis. Makalah. Dipresentasikan pada mata kuliah Perspektif Geografi yang diampu oleh Prof. Dr. Dewi Liesnoor Setyowati, M.Si. pada bulan Juni 2013. Murtianto, Hendro. 2008. Modul Belajar Geografi. Bandung: FIPS-UPI. Setyowati, Dewi Liesnoor. 2012. Buku Ajar Kearifan Lokal Dalam Menjaga Lingkungan Perairan, Kepulauan, dan Pegunungan. Hibah Penulisan Buku Teks Perguruan Tinggi. Semarang: tidak diterbitkan. Soegito, A.T., 2012. Pendidikan Pancasila. Semarang: Unnes Press. Suprayogi, dkk. 2011. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Semarang: Widya Karya. Winarso, Paulus Agus. 2009. Modul Pemanasan dan Perubahan Iklim Global. Jakarta: Akademi Meteorologi dan Geofisika.

Anda mungkin juga menyukai