Anda di halaman 1dari 25

A.

Pengertian Perusahaan : adalah suatu bentuk kegiatan yang bertujuan untuk menhghasilkan barang/jasa dengan menggunakan sumber daya tertentu, kemudian dijual kepada konsumen. Dari hasil penjualan tersebut, perusahaan memperoleh penghasilan (revenue). 1. Tujuan Perusahaan : Tujuan dari setiap perusahaan dapat dibedakan menjadi tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang. Dalam jangka pendek, baik perusahaan besar maupun kecil mempunyai tujuan yang sama, yaitu untuk mencapai laba maksimum ( Max ) . Yang dimaksud dengan laba adalah selisih positif antara penghasilan dan biaya ( = TR - TC) . Selisih antara penghasilan dan biaya ini dapat dilihat secara total atau per unit barang/jasa yang dihasilkan/rata-rata. Dalam jangka panjang, tujuan perusahaan adalah memaksimumkan nilai perusahaan yang diperoleh dengan cara mendiskontokan perolehan laba setiap tahun dengan faktor diskonto tertentu

[ Maximum Value =

(1 + r )
t =1

]. Untuk dapat mencapai maksimum nilai

perusahaan dapat dilakukan dengan cara antara lain, memaksimalkan output (baik kuantitas maupun kualitas), memaksimalkan kemampuan staff dan tenaga kerja, memaksimalkan layanan, serta memaksimalkan fasilitas yang diperlukan. 2. Teori Produksi : Teori produksi merupakan analisis mengenai bagaimana seharusnya seorang pengusaha mengkombinasikan berbagai macam faktor produksi pada tingkat teknologi tertentu untuk menghasilkan sejumlah produk tertentu secara efisien.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

21

a. Teori Produksi dengan Satu Input Variabel Proses produksi pada umumnya membutuhkan berbagai macam faktor produksi. Untuk memudahkan analisis, kita asumsikan bahwa dalam suatu proses produksi tertentu diperlukan satu faktor produksi yang bersifat variabel (variabel input), misalnya tenaga kerja langsung atau bahan baku. Input variabel tersebut dikombinasikan dalam proporsi yang berbeda-beda dengan satu faktor produksi yang bersifat tetap (fixed input), misalnya tanah, guna menghasilkan output tertentu. 1). Input Tetap (Fixed Input) : adalah faktor produksi yang dalam jangka pendek jumlah yang digunakan dalam proses produksi tidak dapat diubah, bila keadaan pasar menghendaki perubahan jumlah output. Contohnya : gedung; mesin-mesin; manajerial personel. 2). Input Variabel (Variable Input ): adalah faktor produksi dimana jumlahnya dapat diubah-ubah dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang, sesuai dengan jumlah output yang dihasilkan. Contoh variabel input : tenaga kerja langsung; bahan mentah. b. Proses Produksi Jangka Pendek (short run ) : Dalam jangka pendek, salah satu input yang digunakan bersifat tetap (fixed input) sementara yang lainnya bersifat variabel. Jadi dalam periode jangka pendek, output dapat diubah jumlahnya dengan cara mengubah input variabelnya dan dengan peralatan mesin yang ada. c. Proses Produksi Jangka Panjang (long run) Dalam jangka panjang semua input bersifat variabel. Artinya dalam jangka panjang bukan hanya seluruh input yang dapat diubah, tetapi skala produksi dan teknologi juga dapat diubah. 3. Fungsi Produksi : adalah suatu skedul (tabel atau persamaan matematis) yang menggambarkan jumlah output maksimum yang dapat dihasilkan dari satu set faktor produksi tertentu, pada tingkat teknologi tertentu pula. a. Produksi Total (Total Product = TP atau Q) : yaitu jumlah output yang dihasilkan dari suatu set kombinasi faktor produksi tertentu, pada tingkat teknologi tertentu. b. Produksi Rata-Rata (Average Product = AP) : yaitu produksi rata-rata yang diperoleh dari Total produksi dibagi jumlah input variabel yang digunakan misal, tenaga kerja (Labour = L). (AP =TP/L.)

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

22

c. Marginal Product (MP) : yaitu besarnya perubahan output sebagai akibat perubahan satu unit input variabel. (MP = TP/L) Tabel 7.1 Produksi Dengan Satu Input Variabel Petak Tenaga Kerja yang Produksi Total Produksi Ratarata (AP) 10 12 13 13 12,2 11 9,4 8 Produksi Marjinal (MP) 10 14 15 13 9 5 0 -2 Tanah digunakan (L) (TP) I 1 10 II 2 24 III 3 39 IV 4 52 V 5 61 VI 6 66 VII 7 66 VIII 8 64 Catatan : setiap petak tanah luasnya sama yaitu 1 Ha. Bila data dalam tabel kita lukiskan : Gambar 7.1 Kurva TP, AP, dan MP

TP

66 60 40 20 0
AP,MP

TP

15 10 AP 5 0

MP 1 2 3 4 5 6 7 8 9

B. Ciri-ciri khusus dari suatu proses produksi :

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

23

1. Kurva TP mula-mula naik secara lambat, lama kelamaan semakin cepat, kemudian kecepatan kenaikkannya semakin berkurang sampai akhirnya mencapai titik maksimum dan kemudian menurun. Bentuk kurva TP seperti ini mencerminkan hukum pertambahan hasil produksi yang semakin berkurang (the law of demininshing marginal physical returns) 2. Kurva AP dan MP menurun 3. Kurva MP > AP bila AP menaik , MP = AP bila AP mencapai maksimum dan MP < AP bila AP menurun. Secara matematis dapat diperlihatkan sebagai berikut : Diketahui Q = f (K, L) persamaan fungsi produksi dimana L = input variabel dan K = input tetap. Produksi rata-rata (AP) = Q/L = f(K,L)/L Produksi maksimum bila Q/L = 0, karena AP = mula-mula naik, mencapai maksimum dan kemudian

f (K, L) Q u = = AP mencapai L v L

maksimum bila : f (K, L)

AP u ' v - v ' u = = 0 , dimana u = f (K, L) v = L, maka u = L v2


v = 1. Maka AP maksimum bila tercapai

dan

AP f '(K, L) L - 1 . f (K, L) = = 0 f (K,L) L 1 . f (K,L) = 0 L L2


Hal ini berarti f '(K,L).L = f (K,L). Bila kedua ruas dibagi dengan L maka : f
'

(K,L) =

f (K, L) f (K, L) karena f '(K,L) = MP dan = AP. L L

Maka saat AP mencapai maksimum MP = AP Contoh : Diketahui fungsi produksi berbentuk TP = 15L + 6L2 L3 dengan L sebagai input variabel. Buktikan ketika AP maksimum nilai AP = MP. Jawab : AP = MP = TP = 15 + 6 L - L2 L TP = 15 +12 L - 3 L2 L

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

24

APmax tercapai ketika

AP = 0 atau MP = AP L

15 + 12 L 3 L2 = 15 + 6L L2 -6L + 2L2 = 0 2 L2 = 6L 2L = 6 L=3 Pada L = 3, maka AP = 15 + 6L L2 = 15 + 6(3) (3)2 = 24 MP = 15 + 12 L 3 L2 = 15 + 12(3) 3(3)2 = 24 Terbukti pada saat AP maksimum, nilai AP = MP = 24

C. Hubungan antara TP, AP, dan MP Gambar 7.2 Tahap-tahap Produksi

TP II I 2 3 TP III

TP mula-mula bergerak naik secara lambat, kemudian naik semakin cepat. Kenaikan TP tercepat terjadi pada titik 1 pada saat TP mencapai titik 1,MP mencapai, maksi-mum dititik 4. Bila dari titik 1, input variabel terus ditambah, maka TP akan terus naik dengan kecepatan yang mulai menurun. Pada saat TP mencapai titik 2, AP mencapai maksimum dititik 5 Dari titik 2, bila peng-gunaan input variabel terus ditambah, maka TP akan terus naik dengan tingkat kenaikan (MP) yang sema-kin menurun demikian juga dengan AP dan ini terjadi terus sampai titik 3 Pada saat TP mencapai titik maksimum dititik 3, MP mencapai nol dititik 6. Dari titik 3 ini bila input variabel terus ditambah penggunaan-nya, maka TP akan turun dan MP menjadi negatif.

0 AP, AM 4 5

AP 0 6 MP L

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

25

1. Tahap-tahap Produksi a. Tahap I belum efisien, karena pada tahap ini total produksi (TP) masih dapat ditingkatkan. Karena pada tahap ini AP dan MP menaik dengan semakin ditambahnya input variabel. b. Tahap II merupakan tahap produksi yang paling efisien. Karena pada tahap ini peningkatan produksi akan dapat mengurangi / menekan biaya produksi per unit. c. Tahap III merupakan tahap produksi yang tidak efisien lagi. Karena penambahan input variabel justru akan menyebabkan penurunan Total Produksi. 2. Elastisitas Produksi : Elastisitas produksi diartikan sebagai proporsi perubahan output sebagai akibat proporsi perubahan input variable yang digunakan. Secara formula dapat dituliskan sebagai berikut : Q =
Q L Q L : = x Q L L Q

7.1

karena

L 1 Q Q = = MPL dan = AP maka maka rumus elastisitas Q APL L L

produksi juga dapat dituliskan sebagai : Q = MPL x 7.2 Ada beberapa interpretasi dari nilai Q tersebut : a. Bila nilai Q > 1 atau MPL > APL

1 MPL = ....... APL APL

Proses produksinya bersifat

Increasing Return to Scale (IRS), artinya bila input variable ditambah 10%, maka output akan bertambah > 10%. Ini terjadi antara titik 0 sampai menjelang titik 2 pada kurva TP. b. Bila nilai Q = 1 atau MPL = APL

Proses produksinya bersifat

Constant Return to Scale (CRS), artinya bila input variable ditambah 10%, maka output juga akan bertambah 10%. Ini terjadi tepat di titik 2 pada kurva TP. c. Bila nilai Q < 1 atau MPL < APL

Proses produksinya bersifat

Decreasing Return to Scale (DRS), artinya bila input variable ditambah

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

26

10%, maka output akan bertambah < 10%. Ini terjadi antara titik 2 sampai menjelang titik 3 pada kurva TP. d. Bila nilai Q = 0 atau MPL = 0 Proses produksinya bersifat Zerro Return to Scale (ZRS), artinya bila input variable ditambah berapapun, maka output tidak akan bertambah. Ini terjadi tepat pada titik 3 pada kurva TP. e. Bila nilai Q < 0 atau MPL sudah negatif Proses produksinya bersifat Negative Return to Scale (NRS), artinya bila input variable ditambah, maka output justru akan berkurang/ menurun. Ini terjadi setelah titik 3 pada kurva TP. Contoh : Diketahui fungsi produksi berbentuk Q = 15X + 6X2 X3 dengan X sebagai input variabel. Tentukan : a. Besarnya X ketika Q = 1 b. Buktikan pada saat Q = 1 ; nilai AP = MP c. Besarnya X pada tingkat Q maksimum d. Besarnya Q pada tingkat X keseimbangan Jawab : a. TP = 15X + 6X2 X3 AP = TP/X = 15 + 6X X2 MP = dTP/dX = 15 + 12X 3X2 Ketika Q = 1 berarti MP/AP = 1

MP 15 + 12 X 3 X 2 = =1 AP 15 + 6 X X 2
15 + 12X 3X2 = 15 + 6X X2 6X - 2X2 = 0 2X2 = 6X 2X = 6

X=3

b. Pada saat Q = 1 atau X = 3, maka AP = 15 + 6X X2 = 15 + 6(3) (3)2 = 24 MP = 15 + 12X 3X2 = 15 + 12(3) 3(3)2 = 24 Terbukti pada saat Q = 1, AP = MP = 24 c. TPmax bila dTP/dX = 0

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

27

dTP/dX = 15 + 12X 3X2 = 0, bila kedua ruas dibagi dengan -3 X2 4X 5 = 0 (X + 1) (X 5) = 0 X1 = -1 dan X2 = 5 Jadi TPmax tercapai pada saat X = 5 d. Pada X = 5, nilai TP = 15X + 6X2 X3 = 15(5) + 6(5)2 (5)3 = 100 3. Aspek-aspek Produksi Untuk lebih memahami bagaimana caranya menurunkan beberapa aspek produksi dari sebuah fungsi produksi Cobb-Douglas, dapatlah digunakan model bentuk fungsi produksi Cobb-Douglas yang umum sebagai berikut : Q = A.L .K .. 7.3 dimana : Q = Output L, K = Input, dengan asumsi L sebagai input variabel A = Konstanta yang memperlihatkan tingkat perkembangan teknologi ; = Masing-masing merupakan parameter L & K Dari bentuk fungsi produksi Cobb-Douglas tersebut diatas, dapatlah diturunkan beberapa aspek produksi sebagai berikut : a. Produksi batas (Marginal Product) dari faktor produksi 1). Produksi Batas dari faktor produksi L yaitu MPL MPL = Q/L = A L -1 K = (A.L.K ) . L-1 = Karena Q = APL maka MPL = . APL. L Q K Q L

2). Produksi Batas dari faktor produksi K yaitu MPK. MPK = Q/K = .A.L.K -1 = (A.L.K)K-1 = Karena Q = APK maka MPK = . APK K

b. Tingkat Batas penggantian secara teknis antara faktor produksi L terhadap K (Marginal Rate of Technical Substitution, MRTSL for K) MRTSL,K =
Q / L (Q / L ) K = = . Q / K (Q / K ) L

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

28

c. Intensitas penggunaan faktor produksi (factor intensity). Dalam model fungsi produksi Cobb-Douglas, intensitas penggunaan faktor dapat di lihat pada ratio parameternya. (/) o o Bila / > 1, intensive) Bila / < 1, Intensive) d. Tingkat efisiensi proses produksi secara keseluruhan ( Efficiency of production). Dalam model fungsi produksi Cobb-Douglas ini, efisiensi organisasi proses produksi secara keseluruhan tercermin dari besar kecilnya nilai A Bila nilai A semakin besar berarti semakin efisien Bila nilai A semakin kecil, berarti semakin inefisien e. Derajat perubahan output, apabila semua inputnya diubah dengan proporsi yang sama (return to scale) Bila (+) = 1, berarti fungsi produksinya berbentuk Homogenous Linear berderajat satu (Constant Return to Scale). Artinya bila input berubah 10% (ditambah atau dikurangi), maka output juga akan berubah 10% (bertambah atau berkurang). Atau bila elastisitas produksi Q = 1 Bila ( + ) > 1, fungsi produksinya berbentuk Increasing Return to Scale. Artinya bila input berubah 10%, maka Output akan berubah > 10%. Atau bila elastisitas produksi Q > 1 Bila ( + ) < 1, fungsi produksinya berbentuk Decreasing Return to Scale. Artinya bila input berubah 10%, maka output berubah <10% . Atau bila elastisitas produksi Q < 1 berarti produksi lebih bersifat padat modal (Capital berarti produksi lebih bersifat padat karya (Labour

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

29

D. Teori Produksi Dengan Dua Input Variabel Tabel 7.2 Produksi Dengan Dua Input Variabel Luas Tanah per petak 8 Ha 7 Ha 6 Ha 5 Ha 4 Ha 3 Ha 2 Ha 1 Ha 9 13 16 15 13 10 6 3 1 46 46 42 37 30 24 12 6 2 69 69 66 60 54 39 17 8 3 Output Dalam Kwintal 92 91 88 80 72 52 21 9 4 109 108 106 100 85 61 24 10 5 124 123 120 113 93 66 36 10 6 136,0 134,0 128,0 120,0 95,0 66,0 25,5 9,0 7 144,0 144,0 132,0 121,0 95,0 64,0 24,5 7,0 8

TK/petak

Tabel di atas menunjukkan prinsip-prinsip dasar teori produksi, baik TK dan Tanah sebagai faktor produksi variabel. Tabel ini juga menunjukkan bahwa antara kedua faktor produksi tersebut ada hubungan secara fisik, terbukti ada beberapa tingkat output yang dapat dihasilkan dengan menggunakan berbagai kombinasi faktor yang berbeda. Dalam contoh ini, minimal ada 2 macam kombinasi input yang dapat digunakan untuk menghasilkan sejumlah output yang sama. Dengan kata lain, satu jenis faktor produksi dapat digantikan peranannya oleh jenis faktor produksi yang lain dalam menghasilkan sejumlah output tertentu. Satu hal yang sangat penting bagi seorang produsen dalam hal ini adalah memilih satu tingkat kombinasi faktor produksi tertentu yang dapat meminimisir besarnya biaya produksi dalam menghasilkan sejumlah output tertentu. Untuk memilih kombinasi faktor produksi yang memerlukan biaya terkecil ( the least cost input combination) diperlukan pengetahuan akan kemungkinan saling mengganti diantara faktor-faktor produksi yang digunakan dan juga harga relatif dari input-input tersebut. 1. Isoquant Produksi : Isoquant adalah suatu kurva yang menunjukkan semua kombinasi faktor produksi yang mungkin secara fisik dapat menghasilkan sejumlah output tertentu Gambar 7.3 Isoquan Produksi

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

30

K K15 K10 K5 K4 K3 0 L1 L2 A C1 B IQ3 IQ2 1 A IQ1


1

IQ4

Kombinasi penggunaan input L dan K dititik A (L1 dan K10) maupun kombinasi pengguna-an input dititik A' (L6 dan K3) akan menghasilkan tingkat output yang sama yaitu sebesar IQ. Demikian pula hal-nya untuk kombinasi penggu-naan input dititik B dan B' akan menghasilkan output sebesar IQ2

L6 L9 L12

2. Fungsi Produksi Leontief (fixed proportions production function) Fungsi produksi yang mempunyai proporsi tetap adalah untuk menggambarkan bahwa hanya ada satu kombinasi faktor produksi yang dapat menghasilkan sejumlah output tertentu. Gambar 7.4 Bentuk Lain Kurva Isoquan

K 8 6 4 2 0

Input K dan L bersifat Komplemen Sempurna

Input K dan L bersifat Subsitusi Sempurna

R 300R 200R 100R 2 4 6 8 10 12 L 0 L

3. Marginal Rate of Technical Substitution (MRTSL.K) MRTS mengukur berkurangnya salah satu jenis faktor produksi per unit akibat kenaikan faktor produksi yang lain untuk mempertahankan tingkat output yang sama. MRTSL
for K

pada suatu titik dalam sebuah isoquant adalah sama dengan

minus nilai kemiringan IQ dititik tersebut.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

31

MPL MTRSL, K = MPK


Apabila terjadi pergeser-an dari P ke R, berarti tingkat output yang sama diproduksi dengan meng-gunakan L lebih banyak dan K lebih sedikit.

K2 K1

P R IQ1 L1 L2 IQ2 L

MRTSL.K yang semakin berkurang : Tingkat batas penggantian secara teknis adalah perbandingan antara MPL dan MPK . Bila L digunakan sebagai ganti K, maka MPL turun dan MPK naik. Dengan digunakannya L sebagai ganti K sepanjang IQ tertentu (output tidak berubah), maka MRTSL.K semakin kecil. Daerah Produksi yang Ekonomis : Gambar 7.5 Daerah Produksi Yang Ekonomis

K RL 3 2 1 6 4 0 5 IQ1 IQ2 L IQ3 RL


Daerah produksi yang ekonomis adalah daerah IQ yang dibatasi oleh Garis tembereng (Ridge Line = RL)

E. Kombinasi Faktor-faktor Produksi yang Optimal

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

32

Faktor produksi mempunyai tingkat harga pasar tertentu. Penentuan faktor produksi mana yang akan digunakan, produsen harus mempertimbangkan besarnya harga relatif dari faktor-faktor produksi tersebut. Hal ini dilakukan bila produsen ingin meminimumkan biaya untuk menghasilkan sejumlah output tertentu, atau ingin memaksimumkan output dengan sejumlah biaya tertentu. Dengan asumsi produsen berada pada pasar persaingan sempurna dan harga faktor produksi ditentukan oleh pasar, maka dianggap produksi hanya memerlukan dua faktor input yaitu K dan L. Maka besarnya biaya produksi (Isocost) dapat dinyatakan sebagai berikut C = r K + w L ...........7.4 Dimana : C = besarnya biaya untuk menghasilkan sejumlah output r = harga dari input K per unit w = harga dari input L per unit K.L = masing-masing input yang digunakan Persamaan (7.3) juga dapat dituliskan sebagai berikut : K = C/r 7.5 Dimana C/r adalah intercept garis biaya terhadap sumbu K sedangkan - w/r adalah slope dari garis biaya. Tanda minus mempunyai arti bahwa antara K dan L mempunyai hubungan yang negatif (terbalik) persamaan (7.4) bila kita lukiskan w L r

K
C r

K = C/r -

w r

C w

F. Memaksimisasi Output dengan sejumlah biaya tertentu.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

33

Output maksimum yang bisa dihasilkan dengan sejumlah biaya tertentu tercapai pada saat IQ produksi bersinggungan dengan garis biaya (Isocost) pada suatu titik. Pada titik singgung tersebut, slope IQ

= slope isocost

MRTSL.K = .7.6

MPL MPK

w/r .............

Persamaan (7.5) merupakan syarat keseimbangan produsen (maksimisasi output dengan sejumlah biaya tertentu)

K
- Pada titik P MRTSL.K > w/r

P S E IQ2 IQ1 L IQ3 R

- Pada titik R MRTSL.K < w/r - Pada titik E MRTSL.K = w/r

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

34

Soal : 1. Dalam teori teori produksi terdapat dua jenis input yang digunakan, yaitu input tetap dan input variabel. a. Jelaskan pengertian kedua jenis input tersebut berikut contohnya. b. Jelaskan tujuan perusahaan dalam jangka pendek dan jangka panjang. 2. Dalam teori produksi dikenal ada teori produksi jangka pendek dan teori produksi jangka panjang. a. Bilakah hukum pertambahan hasil (the law of deminishing marginal return ) mulai berlaku. Berapa besarnya elastisitas produksi ketika AP = MP ? b. Apa yang dimaksud dengan prinsip the least cost input combination dan bilakah keseimbangan produsen tercapai ? 3. Berdasarkan jangka waktu, teori produksi dapat dibedakan antara teori produksi jangka pendek dan jangka panjang. a. Jelaskan dengan menggunakan kurva, tiga tahapan produksi pada teori produksi jangka pendek. Apa yang dimaksud dengan hukum pertambahan hasil yang semakin berkurang (The law of diminishing marginal return)? b. Mengapa penggal isokuan produksi (IQ) yang dibatasi oleh garis tembereng (ridge line) dikatakan sebagai daerah produksi yang ekonomis ? Perlihatkan secara grafik daerah produksi yang ekonomis tersebut. 4. Jelaskan yang dimaksud dengan jalur ekspansi produksi (expantion path). 5. Produsen dengan menggunakan sejumlah anggaran tertentu selalu berusaha memaksimalkan hasil produksinya. Jelaskan syarat-syarat tercapainya produksi yang optimal. Perlihatkan dengan kurva kondisi tersebut. 6. Fungsi produksi Cobb Douglas berbentuk Q = 6 K2/3 L1/3. Bila harga input K dan L per unit adalah $ 8 dan $ 5, sementara pengusaha memiliki anggaran biaya produksi sebesar $200. Tentukan : a. Penggunaan input K dan L yang optimal. b. Berapa besarnya tingkat output (Q) pada penggunaan input tersebut. c. Berapa besarnya slope IQ (MRTS) pada titik keseimbangan tersebut. 7. Berdasarkan soal no. 6 di atas, tentukan jenis skala hasil ( return to scale) dan intensitas faktor produksi yang digunakan.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

35

A. Faktor- faktor Penentu Besarnya Biaya Produksi : Ada 3 (tiga) hal yang menentukan besarnya biaya produksi yang dikeluarkan oleh produsen : 1. Kondisi fisik proses produksi, hal ini bisa dilihat dari bentuk fungsi produksinya. 2. Harga faktor produksi. Tinggi rendahnya harga faktor produksi akan menentukan bentuk isocost. 3. Efisiensi kerja pengusaha pengusaha dalam akan memimpin produksi. Efisiensi kepemimpinan mampu mengarahkan penggunaan

kombinasi faktor produksi secara optimal dalam menghasilkan sejumlah produksi tertentu. Kombinasi faktor produksi yang optimal terjadi bila tingkat batas penggantian faktor produksi secara teknis sama besarnya dengan tingkat perbandingan harga faktor produksi itu sendiri (MRTSL,K = w/r)

B. Beberapa Pengertian Biaya Produksi : 1. Biaya produksi sosial (social opportunity cost), yaitu memperlihatkan besarnya alokasi biaya untuk barang Y yang harus dikorbankan sebagai akibat tambahan satu unit barang X yang di produksi. Biaya produksi sosial ini disebut juga biaya alternatif. 2. Biaya produksi private, adalah biaya yang dikeluarkan perusahaan berdasarkan pencatatan akuntansi. 3. Biaya produksi eksplisit, yaitu biaya yang dikeluarkan perusahaan guna membeli/ membayar faktor-faktor produksi diluar pengusaha. 4. Biaya produksi implisit, yaitu biaya yang seharusnya dikeluarkan pengusaha guna membayar faktor-faktor produksi termasuk yang dimiliki pengusaha itu sendiri. yang dimiliki oleh

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

36

C. Teori Biaya Jangka Pendek : Dalam teori produksi jangka pendek terdapat input tetap dan input variabel, maka kompsisi biaya jangka pendek juga akan berbentuk biaya tetap dan biaya variabel. 1. Biaya Tetap (Fixed Cost = FC), yaitu komponen biaya yang besarnya tidak tergantung kepada besar kecilnya jumlah produksi / output. Contoh biaya tetap : gaji karyawan tetap, sewa gedung, abodemen listrik/ telepon, penyusutan dan lain-lain. 2. Biaya Variabel (Variabel Cost = VC), yaitu biaya yang besarnya berubahubah, tergantung kepada besar kecilnya jumlah produksi / output. Contoh biaya variabel : biaya bahan baku dan bahan penunjang, upah tenaga kerja yang langsung terlibat dalam proses produksi dan lain-lain. 3. Biaya Total (Total Cost = TC), yaitu seluruh biaya yang dikeluarkan pengusaha dalam menghasilkan sejumlah output tertentu.TC= FC+ VC 4. Konsep Biaya Rata-rata (Average Cost) dan Biaya Marjinal. a. Biaya Tetap Rata-rata (Average Fixed Cost = AFC), yaitu total biaya tetap dibagi jumlah output. AFC = FC/Q, dimana Q = jumlah output. b. Biaya Variabel Rata-rata (Average Variabel Cost = AVC), yaitu total biaya varibel dibagai jumlah output. AVC = VC/Q. c. Biaya Total Rata-rata (Average Total Cost = ATC atau AC), yaitu biaya total dibagi dengan jumlah output. AC = TC/Q. d. Biaya Marjinal (Marginal Cost = MC), yaitu perubahan biaya sebagai akibat adanya perubahan satu unit output yang dihasilkan. MC = dTC/dQ =

TC n TC n -1 Q n Q n -1

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

37

Gambar 8.1 Kurva Biaya Total Dan Biaya Rata-rata

TC

VC

FC 0 C MC AC AVC Q

AFC 0 Q

5. Menentukan Hubungan Antara MC dengan MP; AVC dengan AP Bila diketahui K sebagai input tetap dan L sebagai input variabel. Sedangkan r dan w masing-masing adalah harga input tetap dan input variabel. Maka FC = K . r = k dan VC = L . w, sehingga pendek FC = 0, maka MC = w . L/Q, sementara maka dL/dQ = 1/MP. Sehingga MC = w (1/MP) = w/MP. Dengan cara yang sama kita dapat menentukan hubungan AVC dengan AP. AVC = VC/Q = (L .w)/Q = w L/Q. Karena AP = Q/L, maka L/Q = 1/AP sehingga AVC = w (1/AP) = w/AP TC = k + L . w MP = dQ/dL, MC = dTC/dQ = FC/Q + VC/Q = k + L w/Q. Karena dalam jangka

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

38

6. Hubungan MC dengan ATC dan AVC Bila


dATC = 0 maka MC = ATC dan dQ dAVC = 0 maka MC = AVC dQ

bila

Tabel 8.1 Hubungan FC, VC, TC, AFC, AVC, dan AC Q (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 FC (2) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 VC (3) 10 16 21 26 30 36 45,5 56 72 90 109 130,4 160 198,2 249,5 TC (2+3) 110 116 121 126 130 136 145,5 156 172 190 209 230,4 260 298,2 349,5 AFC (2/1) 100 50 33,33 25 20 16,67 14,29 12,50 11,11 10 9,09 8,33 7,69 7,14 6,67 AVC (3/1) 10 8 7 6,50 6 6 6,50 7 8 9 9,91 10,87 12,31 14,16 16,63 ATC (2+3)/1 110 58 40,33 31,50 26 22,67 20,78 19,50 19,10 19 19 19,20 20 21,30 23,30 MC = dTC/dQ 6 5 5 4 6 9,50 10,50 16 18 19 21,40 29,60 38,20 51,30

D. Teori Biaya Jangka Panjang Dalam jangka panjang seluruh input bersifat variabel. Artinya, dalam jangka panjang pengusaha bukan saja dapat merubah komposisi seluruh input, tetapi juga bisa merubah skala produksi maupun teknik produksi. Sehingga dalam jangka panjang kita hanya menganalisis biaya variabel yang dicerminkan oleh biaya rata-rata jangka panjang (Long Run Average Cost = LAC) 1. Bentuk kurva Biaya Rata-rata Jangka Panjang (LAC) Bentuk kurva biaya rata-rata jangka pendek SAC maupun kurva biaya ratarata jangka panjang LAC menyerupai bentuk huruf U (U shape) SAC berbentuk U karena pengaruh FC (AFC semakin kecil dengan semakin besarnya tingkat Q), juga karena pengaruh dari The law of deminishing marginal return. Sementara bentuk LAC yang mempunyai huruf U

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

39

dipengaruhi oleh Return to scale in the production function dan economic of scale / diseconomic of scale perusahaan.

Gambar 8.2 Kurva Biaya Jangka Panjang (LAC)

SAC SAC SAC 0


2. Skala Ekonomis Perusahaan (Economic of Scale)

LAC

SAC SAC Q

Skala ekonomis perusahaan diperlihatkan oleh semakin rendahnya biaya rata-rata jangka panjang. Skala ekonomis perusahaan juga diperlihatkan oleh kurva LAC yang menurun. Faktor-faktor yang mempengaruhi skala ekonomis perusahaan a. Adanya spesialisasi kerja yang baik dalam perusahaan. Karena dengan spesialisasi kerja ini akan menyebabkan produktivitas tenaga kerja meningkat, sehingga biaya rata-ratanya menurun. b. Tingkat teknologi yang digunakan. Semakin canggih teknologi yang digunakan artinya semakin produktif dan efisien kegiatan operasi perusahaan. c. Kapasitas perusahaan. Perusahaan akan semakin ekonomis bila beroperasi secara kapasitas penuh (full capacity). 3. Skala Disekonomis Perusahaan (Diseconomic of Scale) Skala disekonomis perusahaan diperlihatkan pada kurva LAC yang menaik. Skala disekonomis perusahaan terjadi karena beberapa hal. a. Terbatasnya kemampuan untuk mencapai kepemimpinan yang efisien. b. Pada saat permulaan perluasan usaha. c. Terbatasnya daya serap pasar. Gambar 8.3 Pengaruh Skala hasil dan Skala Ekonomis Terhadap LAC

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

40

C LAC

4. Koefisien Fungsi ( ) Koefisien fungsi ( ) memperlihatkan besarnya perubahan output sebagai akibat berubahnya seluruh input. = ( Q/ Q)/ ..... 8.1 dimana adalah prosentase perubahan seluruh input ( = K/K = L/L). Koefisien fungsi ini mempunyai tiga kemungkinan : Bila > 1 disebut dengan Increasing Return to Scale Bila = 1 disebut dengan Constant Return to Scale Bila < 1 disebut dengan Decreasing Return to Scale Jika dihubungkan dengan fungsi produksi Q = f (K, L) dan jika kedua input berubah, maka : Q = MPK . K + MPL . L . .8.2 Dengan membagi persamaan (8.2) dengan Q dan dilakukan sedikit manipulasi matematik, maka diperoleh : Q/Q = K/Q . MPK . K/K + L/Q . MPL . L/L .......8.3 Karena persamaan (8.1) = Q/ Q/ atau = Q/Q . , dimana

= . K/K = L/L, maka persamaan (8.3) dapat ditulis sebagai berikut Q/Q = (K/Q . MPK + L/Q . MPL) ....8.4 Bila persamaan (1) disubsitusikan dengan persamaan (8.4), diperoleh :

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

41

= K/Q . MPK + L/Q . MPL ...8.5 dimana K/Q dan L/Q masing-masing adalah pangsa (share) K dan L terhadap jumlah output. Jika masing-masing pangsa dikalikan dengan marginal outputnya, maka diperoleh koefisien fungsi ( ) seperti pada persamaan (8.5). Bila persamaan (8.5) dikalikan dengan suatu bilangan tertentu yang tidak merubah nilai persamaan tersebut, maka : ...8.6 Untuk mencapai tingkat produksi yang efisien maka MPK/r = MPL/w , maka persamaan (8.6) dapat ditulis sebagai berikut : .8.7 Jika biaya dianggap sebagai jumlah seluruh pengeluaran untuk input yang digunakan untuk menghasilkan Q, maka jumlah biaya dapat ditulis : C = r.K + w.L .....8.8 Karena C/Q = LAC dan r/MPK = LMC maka persamaan (8.7) dapat ditulis sebagai berikut : = LAC / LMC .......8.9 Jika prosentase perubahan biaya dibagi dengan prosentase perubahan output disebut dengan Elastisitas Biaya (C) maka : C = 8.10 atau C = LMC/LAC, sebab C/Q = LMC dan C/Q = LAC. Hubungan dengan C adalah : C = 1/ ..8.11 Implikasinya bila > 1 maka C < 1. Dengan kata lain bila fungsi produksi memberikan tambahan output semakin besar maka berarti membutuhkan biaya yang semakin kecil. 5. Biaya Jangka Panjang dan Perubahan Harga Input.
C/C C Q = . Q/Q Q C

MPK r. K MPL w.L . + . r Q w Q

...

MPK r.K + w.L ( ) .... r Q

...

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

42

Bila r atau w berubah, maka jumlah biaya (C) akan berubah pula, dan hubungannya positif, dimana setiap kenaikkan harga input akan menyebabkan naiknya biaya rata-rata (ATC). Pada bagian sebelumnya telah disebutkan bila kenaikkan ATC akan menambah jumlah permintaan terhadap input, maka input tersebut tergolong normal/ superior. Tetapi bila kenaikkan ATC menyebabkan berkurangnya jumlah permintaan terhadap input, maka input tersebut tergolong inferior. Selanjutnya bila inputnya superior, dampak kenaikan harga input akan menggeser kurva LMC ke kiri. Sebaliknya bila inputnya barang normal/ inferior, dampak kenaikan harga input akan menggeser kurva LMC ke kanan. Gambar 8.4 Dampak Perubahan Harga Input

INFERIOR C MC1 AC1 C

NORMAL C MC1 AC1

SUPERIOR MC 1 AC1

MC0 AC0

MC 0

AC0

MC0 AC0

Q 0

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

43

Soal : 1. Sesuai dengan teori produksi, maka dalam teori biaya produksi juga dikenal adanya teori biaya produksi jangka pendek dan teori produksi jangka panjang. a. Jelaskan perbedaan kedua teori biaya tersebut. Mengapa kurva MC selalu memotong kurva AC maupun AVC pada titik-titik minimumnya. b. Jelaskan pengaruh skala hasil ( return to scale) dan skala ekonomis/ skala disekonomis terhadap bentuk kurva LAC. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi skala ekonomis/ skala disekonomis tersebut. 2. Dalam teori biaya produksi dikenal adanya analisis biaya total serta analisis biaya rata- rata dan biaya marginal. Jelaskan mengapa kurva MC selalu memotong kurva AC maupun AVC pada titik-titik minimumnya. Bagaiman pengaruh skala ekonomis/ skala disekonomis terhadap bentuk kurva LAC. 3. Dalam teori biaya produksi jangka panjang, seluruh biaya bersifat variable dan direpresentasikan oleh biaya rata-rata jangka panjang (LAC). Jelaskan faktor apa saja yang mempengaruhi LAC berbentuk huruf U. Apa saja faktor yang menyebabkan skala ekonomis dan skala disekonomis. 4. Perhatikan tabel berikut Q TC TFC 0 200 1 2 3 4 5 260 6 7 8 9 10 TVC 20 116 14 10 72 19 39 144 18 AC AFC AVC MC -

Tentukan : a. Lengkapi table di atas. b. Pada tingkat output berapa ketika MC = AVC c. Gambarkan kurva masing-masing biaya berdasarkan data di atas.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

44

5. Sebuah perusahaan memiliki biaya produksi rata-rata (AC) = Q 2 24 Q + 890. Tentukan : a. Fungsi TC dan MC. b. Berapa nilai Q pada saat AC minimum. c. Buktikan ketika AC minimum, nilai AC = MC

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Yusman, SE, MM. TEORI EKONOMI

45