Anda di halaman 1dari 12

Mengenal Baja tahan karat (Stainless steel) dalam Industri Makanan dan Minuman

Stainless Steel Stainless steel adalah logam paduan dari beberapa unsur logam dengan komposisi tertentu. Sehingga didapatkan sifat baru dari logam tersebut yang lebih kuat, lebih tahan terhadap korosif, dan sifat unggul lainnya. Stainless steel terbagi menjadi beberapa grade berdasarkan struktur metalurginya. Khusus untuk aplikasi dalam pembuatan mesin pengolah makanan, biasanya digunakan jenis stainless steel food grade (SS 304). Penggunaan alat pengolah makanan yang terbuat dari logam tahan karat ( stainless steel) food grade sudah menjadi kebutuhan bagi industri pengolah makanan. Hal ini dilakukan agar kualitas produk makanan atau minuman yang dihasilkan tetap terjaga dan aman bagi kesehatan konsumen. Berikut beberapa alasan perlunya penggunaan plat stainless steel food grade pada alat pengolah makanan dan minuman yaitu : 1. Untuk menghindari kontaminasi kimia baja terhadap produk makanan Dengan memilih tipe stainless steel yang tepat, maka hampir tidak ada kontaminasi bahan kimia logam terhadap produk olahan makanan, seperti perubahan warna dan rasa. Biasanya grade yang tepat untuk produk makanan dan minuman adalah grade SS 304. 2. Mudah dibersihkan, anti korosif, dan tahan terhadap bakteri Pada hi-grade stainless steel mudah dibersihkan dari kontaminasi luar karena memiliki permukaan yang halus. Sifat keras dan ketahanan impak baja tahan karat juga memberikan dampak positif saat proses pembersihan komponen dilakukan. Ketahanan terhadap korosi yang tinggi memudahkan pengguna dapat membersihkan dengan pembersih dan disinfektant yang tergolong korosif.

3. Sifat mekanik yang cukup baik secara keseluruhan Kekuatan, ketahanan, dan ketahanan abrasi yang tinggi pada baja tahan karat (stainless steel) austenitik nilai positif dalam penggunaan untuk aplikasi di industri makanan dan minuman. Berikut beberapa aplikasi penggunaan komponen terbuat dari baja tahan karat (stainless steel) yaitu: 1. Industri Pengolahan Buah (Keripik buah, jus buah, dll) Secara umum mesin-mesin pengolahannya terbuat dari stainless food grade. Biasanya tipe yang digunakan untuk komponen mesin produksi adalah tipe SS 304. Pada industri keripik buah, mesin yang menggunakan komponen stainless steel adalah mesin Vacuum Frying (mesin penggoreng vakum) dan mesin Spinner (mesin peniris minyak). Tipe stainless steel yang digunakan adalah tipe SS 304 karena panas yang dibutuhkan termasuk rendah (kurang dari 100oC). 2. Industri Susu Di Industri susu, penggunaan komponen yang terbuat dari stainless steel sangat dominan di segala proses produksi. Mulai dari pengelolaan susu di peternakan, alat pengiriman susu seperti jalur pipa digunakan untuk menyalurkan susu ke tangki penyimpan dingin, umumnya menggunakan tipe SS 304. Pada plant proses produksi susu, semua komponen juga terbuat dari stainless steel seperti tangki-tangki penyimpanan, pasteurizing plate heat exchanger, perpipaan, pompa, sistem pembersih, dan lain-lain. Tipe SS 304 umumnya digunakan dalam komponen-komponen tersebut. 3. Industri yang lainnya Penggunaan baja tahan karat juga digunakan industri lainnya seperti industri kue, pengolahan daging, restoran, dan industri agro lainnya. Melihat alasan penggunaan dan aplikasi dari baja tahan karat ( stainless steel) dalam industri makanan dan minuman, maka industri pembuat mesin atau alat pengolah makanan dan minuman perlu menjaga kualitas produk mesin yang dihasilkan. Yakni dengan konsisten menggunakan jenis grade stainless steel yang tepat sesuai kebutuhan penggunaan.

Austenitic stainless steel merupakan material yang memiliki ketahanan terhadap korosi yang tinggi. Penggunaan material ini terus berkembang hingga dalam aplikasinya austenitic stainless steel tidak hanya diperoleh melalui proses pengerolan, namun juga dapat dihasilkan dari proses pengelasan overlay yang biasanya dilakukan untuk keperluan maintenance peralatan. Perbedaan proses pembuatan ini akan mengakibatkan perbedaan kualitas material termasuk juga ketahanan terhadap korosi dan sifat mekaniknya Dalam penelitian ini dibandingkan kualitas ketahanan terhadap korosi dan sifat mekanik antara SS 304 hasil dari pengelasan overlay dengan SS 304 hasil pengerolan. Pengujian SCC dilakukan dengan memvariasikan konsentrasi larutan MgCl2 dan jarak kaki specimen U-bend. Juga dilakukan pembandingan terjadinya general corrosion dengan pencelupan material ke dalam larutan H2SO4. Untuk pengujian sifat mekanik dilakukan melalui pengujian kekerasan dengan metode Rockwell C dan pengujian tarik. Dari percobaan yang telah dilakukan dapat diketahui SS 316 hasil pengelasan overlay memiliki ketahanan terhadap SCC dan general corrosion yang lebih baik dibandingkan SS 304 hasil pengerolan. Selain itu juga dapat dilihat bahwa SS 304 hasil pengelasan overlay memiliki kekuatan tarik, elongation, dan harga kekerasan yang lebih rendah dibandingkan SS 304 hasil pengerolan. Pembuatan baja tahan karat (cast stainless steel) membutuhkan salah satu unsur bahan baku yang sangat penting yaitu nikel murni. Kebutuhan nikel murni ini cukup tinggi sedangkan harganya paling tinggi diantara harga bahan baku lainnya dan saat ini masih diimpor. Telah dilakukan penelitian untuk memanfaatkan ferronikel dengan menambahkan unsur khrom yang hasilnya disebut ferronikelkhrom (FeNi-Cr) lokal. Bahan tersebut juga telah diteliti sebagai bahan baku pembuatan material baja cor tahan karat. Meskipun cukup berhasil namun hasilnya kurang begitu memuaskan karena masih terdapat impurities pada hasil pemaduan. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan ferronikel sebagai bahan baku baja cor tahan karat disamping untuk mengetahui pengaruh prosentase penggunaan ferronikel (Fe-Ni) terhadap sifat mekanis, struktur mikro dan ketahanan korosi baja tahan karat austenitik SS 304 (CF8M). Diharapkan bahan baku lokal ini dapat menggantikan nikel impor sebagai bahan baku baja cor tahan karat. Pada penelitian ini Fe-Ni lokal ditambahkan pada bahan baku coran lain dengan penambahan prosentase sebanyak 0%, 23 %, 45 % dan 70 %. Dari masing-masing prosentase tersebut dilakukan proses pengecoran (foundry) , dibuat sampel untuk uji komposisi, uji tarik, uji kekerasan, uji ketangguhan, analisa struktur mikro baik dengan mikroskop optik maupun SEM (Scanning Electron Microscope) dan pengujian korosi. Hasil penelitian

menunjukan bahwa semua sampel yang dibuat memiliki komposisi kimia sesuai standar SS 304 (CF8M)sehingga bahan baku Fe-Ni dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku baja cor tahan karat SS 304 meskipun masih ditemukan adanya impurities pada setiap prosentase penambahan Fe-Ni. Pada semua prosentase FeNi kekuatan tarik dan kekerasan yang didapat masih dibawah SS 304 standar namun lebih ulet darpada SS 304 standar. Nikel adalah unsur yang sangat penting pada pembuatan coran baja tahan karat. Diantara harga bahan baku lainnya nikel adalah yang paling tinggi, dan scat ini masih diimpor. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh penggunaan ferronickelchrom (Fe-Ni-Cr) lokal terhadap ketahanan korosi dan struktur mikro CF8M (SS 316), dibandingkan dengan nikel impor. Diharapkan bahan baku lokal ini dapat mensubstitusi nikel impor sebagai bahan baku coran baja tahan karat. Variabel penelitian yang digunakan adalah penambahan persentase Fe-Ni lokal pada bahan baku coran sebanyak 0%, 23 %, 45 %, dan 79 %. Dari masing-masing persentase tersebut dilakukan proses pengecoran (foundry) dan dilakukan pembuatan sampel untuk uji komposisi, uji ketahanan korosi (metode Polarisasi), dan analisa struktur mikro, baik dengan menggunakan mikroskop optic dan SEM (Scanning Electron Microscope). Untuk dibandingkan dengan baja cor CF8M (SS 316) yang dibuat dengan nikel impor. Hasil pengujian menunjukkan bahwa komposisi kimia sampel sesuai dalam rentang standard CF8M (Stainless Steel ripe 316). Sampel hasil coran yang memiliki persentase 45% Fe-Ni-Cr lokal dan 23% Fe-Ni-Cr lokal mendekati sifat ketahan korosi bahan baku impor 0% Fe-Ni-Cr lokal (100% impor), 0,01-0, 1 mpy (1/1000 inch). Persentase 79% Fe-Ni-Cr lokal memberikan efek penurunan ketahanan korosi 0,84mpy. Hal ini disebabkan karena terdapatnya banyak impurities (kotoran), berupa inklusi MnS serta tidak samanya komposisi paduan peningkat ketahanan korosi yaitu Molibdenum.

No

CODE MATERIAL AISI 304 (1) AISI 304 (2) AISI 304 (3)

1 2 3

YIELD STRESS (mm) 543.024 518.55 545.188

ULTIMATE STRESS (Mpa) 856.3074353 829.6792875 859.7190187

2.1. Baja stainless merupakan baja paduan yang mengandung minimal 10,5% Cr. Sedikit baja stainless mengandung lebih dari 30% Cr atau kurang dari 50% Fe. Karakteristik khusus baja stainless adalah pembentukan lapisan film kromium oksida (Cr 2O3). Lapisan ini berkarakter kuat,tidak mudah pecah dan tidak terlihat secara kasat mata. Lapisan kromium oksida dapat membentuk kembali jika lapisan rusak dengan kehadiran oksigen. Pemilihan baja stainless didasarkan dengan sifat-sifat materialnya antara lain ketahanan korosi, fabrikasi, mekanik, dan biaya produk. Penambahan unsur-unsur tertentu kedalam baja stainless dilakukan dengan tujuan sebagai berikut : 1. Penambahan Molibdenum (Mo) bertujuan untuk memperbaiki ketahanan korosi pitting dan korosi celah 2. Unsur karbon rendah dan penambahan unsur penstabil karbida (titanium atau niobium) bertujuan menekan korosi batas butir pada material yang mengalami proses sensitasi. 3. Penambahan kromium (Cr) bertujuan meningkatkan ketahanan korosi dengan membentuk lapisan oksida (Cr2O3) dan ketahanan terhadap oksidasi temperatur tinggi. 4. Penambahan nikel (Ni) bertujuan untuk meningkatkan ketahanan korosi dalam media pengkorosi netral atau lemah. Nikel juga meningkatkan keuletan dan mampu bentuk logam. Penambahan nikel meningkatkan ketahanan korosi tegangan. 5. Penambahan unsur molybdenum (Mo) untuk meningkatkan ketahanan korosi pitting di lingkungan klorida. 6. Unsur aluminium (Al) meningkatkan pembentukan lapisan oksida pada temperature tinggi. Umumnya berdasarkan paduan unsur kimia dan menjadilima katagori[4]. Lima katagori tersebut yaitu : Baja stainless martensitik. Baja ini merupakan paduan kromium dan karbon yang memiliki struktur martensit bodycentered cubic (bcc) terdistorsi saat kondisi bahan dikeraskan. Baja ini merupakan ferromagnetic, bersifat dapat dikeraskan dan umumnya tahan korosi di lingkungan kurang korosif. Kandungan kromium umumnya berkisar antara 10,5 18%, dan karbon melebihi 1,2%. Kandungan kromium dan karbon dijaga agar mendaptkan struktur martensit saat proses pengerasan. Karbida berlebih meningkatkan ketahanan aus. Unsur niobium, silicon,tungsten dan vanadium ditambah untuk memperbaiki proses temper setelah proses pengerasan. Sedikit kandungan nikel meningkatkan ketahan korosi dan ketangguhan. Baja stainless Ferritik Baja jenis ini mempunyai struktur body centered cubic (bcc). Unsur kromium ditambahkan ke paduan sebagai penstabil ferrit. Kandungan kromium umumnya kisaran 10,5 30%. Beberapa tipe baja mengandung unsur molybdenum, silicon, aluminium, titanium dan niobium. Unsur sulfur ditambahkan untuk memperbaiki sifat mesin. Paduan ini merupakan ferromagnetic dan mempunyai sifat ulet dan mampu bentuk baik namun kekuatan di presentasibaja stainless dibagi

lingkungan suhu tinggi lebih rendah dibandingkan baja stainless austenitic. Kandungan karbon rendah pada baja ferritik tidak dapat dikeraskan dengan perlakuan panas. Tingkat kekerasan beberapa tipe baja stainless ferritik dapat ditingkatkan dengan cara celup cepat. Metode celup cepat merupakan proses pencelupan banda kerja secara cepat dari keadaan temperature tinggi ke temperature ruang. Sifat mampu las, keuletan, ketahanan korosi dapat ditingktakan dengan mengatur kandungan tertentu unsur karbon dan nitrogen. Baja Stainless austenitik Baja Stainless austenititk merupakan paduan logam besi-krom-nikel yang mengandung 1620% kromium, 7-22%wt nikel, dan nitrogen. Logam paduan ini merupakan paduan berbasis ferrous dan struktur kristal face centered cubic (fcc). Struktur kristal akan tetap berfasa austenit bila unsur nikel dalampaduan diganti mangan (Mn) karena kedua unsur merupakan penstabil fasa austenit. Fasa austenitic tidak akan berubah saat perlakuan panas anil kemudian didinginkan pada temperatur ruang. Baja stainless austenitik tidak dapat dikeraskan melalui perlakuan celup cepat (quenching). Umumnya jenis baja ini dapat tetap menjaga sifat asutenitik pada temperature ruang, lebih bersifat ulet dan memiliki ketahanan korosi lebih baik dibandingkan baja stainless ferritik dan martensit. Setiap jenis baja stainless austenitic memiliki karakteristik khusus tergantung dari penambahan unsur pemadunya terlihat pada Gambar 1.

Baja stainless austenitic hanya bisa dikeraskan melalui pengerjaan dingin. Material ini mempunyai kekuatan tinggi di lingkungan suhu tinggi dan bersifat cryogenic. Tipe 2xx mengandung nitrogen, mangan 415,5%wt, dan kandungan 7%wt nikel. Tipe 3xx mengandung unsur nikel tinggi dan maksimal kandungan mangan 2%wt. Unsur molybdenum, tembaga, silicon, aluminium,titanium dan niobium ditambah dengan karakter material tertentu seperti ketahanan korosi sumuran atau oksidasi. Sulfur ditambah pada tipe tertentu untuk memperbaiki sifat mampu mesin.

Salah satu jenis baja stainless austenitic adalah AISI 304. Baja austenitic ini mempunyai struktur kubus satuan bidang (face center cubic) dan merupakan baja dengan ketahanan korosi tinggi. Komposisi unsur unsur pemadu yang terkandung dalam AISI 304 akan menentukan sifat mekanik dan ketahanan korosi. Baja AISI 304 mempunyai kadar karbon sangat rendah 0,08%wt. Kadar kromium berkisar 18-20%wt dan nikel 8-10,5%wt yang terlihat pada Tabel 1. Kadar kromium cukup tinggi membentuk lapisan Cr2O3 yang protektif untuk meningkatkan ketahanan korosi. Komposisi karbon rendah untuk meminimalisai sensitasi akibat proses pengelasan. Tabel 1. Komposisi kimia baja AISI 304[4] Unsur C Mn P S Si Cr Ni Mo Ni Cu Fe %wt 0,08 2 0,45 0,03 0,75 18-20 8-10,5 0 0,10 0 Balance

Komposisi kandungan unsure dalam baja AISI 304 tersebut diperoleh sifat mekanik material yang ditunjukan pada Tabel 2. Tabel 2. Sifat mekanik AISI 304 [4] Poison 0,270,30 Tensile 515 Yield 205 Elong 40 Hard 88 Mod 193 Density 8

Keterangan : Poison : Rasio Poison Tensile : Tensile strength (MPa) Yield : Yield Strength (MPa) Elong : elongation % Hard : Kekerasan (HVN) Mod : Modulus elastisitas (GPa) Density : berat jenis (Kg/m3)

Tabel 3. Sifat fisik dan listrik AISI 304 pada kondisi annealed[4] Thermal ekspansi (10-6/C) 17,2 Thermal konduktivitas Spesific heat (J/kg-K) Resistivitas (10-9W-m) (W/m-K) 16,2 500 720

Baja stainless dupleks Jenis baja ini merupakan paduan campuran struktur ferrite (bcc) dan austenit.Umumnya paduan-paduan didesain mengandung kadar seimbang tiap fasa saat kondisi anil. Paduan utama material adalah kromium dan nikel, tapi nitrogen, molybdenum,tembaga,silicon dan tungsten ditambah untuk menstabilkan struktur dan memperbaiki sifat tahan korosi. Ketahanan korosi baja stainless dupleks hampir sama dengan baja stainless austenitik. Kelebihan baja stainless dupleks yaitu nilai tegangan tarik dan luluh tinggi dan ketahanan korosi retak tegang lebih baik dari pada baja stainless austenitik. Ketangguhan baja stainless dupleks antara baja austenitic dan ferritik. Baja stainless pengerasan endapan Jenis baja ini merupakan paduan unsure utama kromium-nikel yang mengandung unsur precipitation-hardening antara lain tembaga, aluminium, atau titanium. Baja ini berstruktur austenitic atau martensitik dalam kondisi anil. Kondisi baja berfasa austenitic dalam keadaan anil dapat diubah menjadi fasa martensit melalui perlakuan panas. Kekuatan material melalui pengerasan endapan pada struktur martensit.

Min - - -Baja tahan karat atau lebih dikenal dengan Stainless Steel adalah senyawa besi yang mengandung setidaknya 10,5% Kromium untuk mencegah proses korosi (pengkaratan logam). Kemampuan tahan karat diperoleh dari terbentuknya lapisan film oksida Kromium, dimana lapisan oksida ini menghalangi proses oksidasi besi (Ferum). 1. 12-14% Kromium(Cr), dimana sifat mekanik bajanya sangat tergantung dari kandungan unsur karbon (C). 2. Baja dengan pengerasan lanjut, 10-12% Kromium(Cr), 0.12% Karbon (C) dengan sedikit tambahan unsur-unsur Mo, V, Nb, Ni dengan kekuatan tekanan mencapai 927 Mpa dipergunakan untuk bilah turbin gas. 3. Baja Kromium tinggi, 17%Cr, 2,5% Ni. Memiliki ketahanan korosi yang sangat tinggi. Dipergunakan untuk poros pompa, katup dan fitting yang bekerja pada tekanan dan temperatur tinggi tetapi tidak cocok untuk kondisi asam. 4. magnet tidak dapat menempel pada bahan stainless steel

Amonia merupakan salah satu bahan kimia yang umum terdapat dalam limbah rumah tangga, peternakan, pabrik pupuk nitrogen, pabrik amonia dan pabrik asam nitrat dengan jumlah yang berbeda-beda. Kadar nitrogen yang berlebih dari limbah dengan kandungan amonia merupakan sumber nutrient bagi tumbuhan air, sehingga terjadi pertumbuhan yang tidak

terkendali yang mengakibatkan eutrofikasi dan terganggunya keseimbangan ekosistem. Elektrolisa oksidasi amonia secara langsung merupakan salah satu cara yang dapat diaplikasikan pada pengolahan limbah dengan kandungan amonia karena merupakan teknologi yang sederhana serta hasil samping berupa gas nitrogen tidak membutuhkan pengolahan lebih lanjut langsung dapat dilepas ke lingkungan. Dalam penelitian ini dikaji pengaruh faktor-faktor densitas arus, pH dan konsentrasi ion Cl terhadap konsentrasi amonia sisa, konversi serta efisiensi faraday pada proses elektrolisa amonia dengan mempergunakan elektroda stainless steel dan platina. Variabel-variabel pH, densitas arus dan konsentrasi NaCl mempengaruhi konversi secara positif. Hal itu dapat dilihat dari konsentrasi amonia sisa yang semakin kecil dengan penambahan nilai ketiga variabel tersebut. Dengan semakin kecilnya konsentrasi amonia sisa berarti semakin besar jumlah amonia yang bereaksi dan terkonversi menjadi produk. Sehingga konversi menjadi semakin besar dengan semakin besarnya nilai ketiga variabel. Konversi terbesar adalah 30,16 % dicapai pada variabel pH = 12,5 , densitas arus = 15 mA/cm2 dan konsentrasi NaCl = 300 ppm. pH dan densitas arus berpengaruh positif terhadap efisiensi Faraday. Kenaikan nilai kedua variabel tersebut mengakibatkan peningkatan efisiensi Faraday. Sedangkan penambahan nilai variabel densitas arus akan menurunkan efisiensi Faraday. Efisiensi Faraday tertinggi sebesar 78,43 % dicapai pada kondisi pH = 12,5, densitas arus = 15 mA/cm2 dan konsentrasi NaCl = 300 ppm. Kinetika reaksi pengurangan amonia menunjukan orde satu semu dan nilai konstanta kecepatan reaksi k dipengaruhi oleh variabel pH, densitas arus dan ion klorida. Kata kunci: amonia, elektrolisa, platina, stainless steel - 16 2 10 18 3

Chrom ini membentuk Protective Layer (lapisan pelindung anti korosi) yang merupakan hasil oksidasi Oksigen terhadap Chrom yang terjadi secara spontan.

4. Jenis - Jenis stainless steel1. Austenitic2. Ferritic3. Martensitic4. Precipitation-Hardening Martensitic5. Duplex

5. AUSTENITIC STAINLESS STEELAustenitic Stainless Steel mengandung maksimum 0.15% Carbon, 16-15% Chrom dan cukup Nikel atau Mangaan untuk mempertahankan Struktur Austenitic pada segala temperatur.Komposisi yang sering dgunakan pada peralatan makan adalah 18/10 atau 18% Chrom dan 10% Nikel.Molybdenum (Mo), Titanium (Ti), atau Tembaga (Cu) berfungsi untuk meningkatkan ketahanan terhadap temperatur serta korosi.Austenitic juga cocok untuk Aplikasi temperatur rendah karena unsur Nikel yang membuat Stainless Steel tidak menjadi rapuh pada temperatur rendah.

6. AUSTENITIC STAINLESS STEEL > 8% NIKEL

7. Uji Tarik Stainless Steel Austenitic 8. FERRITIC STAINLESS STEELFerritic Stainless Steel Mengandung kadar Chrom bervariasi antara 10,5-27% dan sangat sedikit Nikel. Beberapa tipe mangandung Timbal. Komposisi yang sering digunakan adalah Molybdenum, Aluminium dan Titanium.Ketahanan terhadap Korosinya tidak begitu istimewa karena kadar Chrom dan Nikel yang lebih rendah dan relatif lebih sulit d Machining, tetapi relatif lebih murah.Beberapa Grade Ferritic yang sering digunakan 18Cr-2Mo, 26Cr- 1Mo, 29Cr4Mo, dan 29.Cr-4Mo-2Ni

9. APLIKASI FERRITIC 10. MARTENSITIC STANLESS STEELMartensitic Stainless Steel mengandung unsur Chrom yang lebih rendah daripada Austenitic dan Ferritic (12- 14%), Molybdenum (0,21%), Nikel (kurang dari 2%) dan kadar kabon relatif tinggi (0.11%).Martensitic Stainless Steel tidak lebih tahan korosi daripada Austenitic dan Ferritic. Tetapi sangat kuat dan tangguh. Sangat Machinable dan dapat dperkeras dengan perlakuan panas.

11. MARTENSITIC 12. MARTENSITIC 13. APLIKASI MARTENSITIC 14. PRECIPITATION-HARDENING STAINLESS STEELPrecipitation Hardening Stainless Steel adalah Stainless Steel yang tingkat ketahanan korosinya sebanding dengan Austenitic. Dan dapat dikeraskan sampai melebihi Martensitic Stainless Steel.Hal ini terjadi karena dibentuknya suatu endapan dalam struktur mikro logam. Sehingga gerakan deformasi menjadi terhambat dan memperkuat material stainless steel. Pembentukan disebabkan penambahan unsur Tembaga (Cu), Titanium (Ti), Niobium (Nb) dan Aluminium (Al). Proses

penguatan umumnya terjadi pada saat dilakukan pengerjaan dingin (cold work).

15. PRECIPITATION HARDENING STAINLESS STEEL

16. APLIKASI PRECIPITATIONHARDENING STAINLESS STEEL

17. DUPLEX STAINLESS STEELDuplex Stainless Steel memiliki mikrostruktur campuran dari Austenitic dan Ferritic. Duplex Ferritic-Austenitic memiliki kombinasi sifat tahan korosi dan temperatur relatif tinggi atau secara khusus tahan terhadap Stress Corrosion Cracking.Ketahanan terhadap Stress Corrosion Crackingnya dbawah Ferritic, tetapi ketangguhannya jauh lebih baik daripada Ferritic sedangkan Kekuatannya kira-kira 2 kali lipat dari Austenitic.Duplex Mengandung Chrom yang tinggi (19-32%), Molybdenum (diatas 5%) dan Nikel yang lebih sedikit daripada Austenitic.

18. DUPLEX 19. DUPLEX 20. DUPLEX 21. SUPER DUPLEX 22. PERBANDINGAN SIFAT MEKANIKJenis Respon Ketahanan Metode Keuleta Ketahan Ketaha KemampStainless Magnet Korosi Hardening n an Temp nan uanSteel Tinggi Temp Welding RendahAustenitic Tidak Sgt Tinggi Cold Work Sgt Sgt Sgt Sgt Tinggi Tinggi Tinggi TinggiDuplex Ya Sedang Tidak Ada Sedang Rendah Sedang TinggiFerritic Ya Sedang Tidak Ada Sedang Tinggi Rendah RendahMartensitic Ya Sedang Quence Rendah Rendah Rendah Rendah and Temper