Anda di halaman 1dari 3

Nama Semester Mata Kuliah

: Arie Pranata : IV A : Psikologi Belajar Penguatan (Reinforcement)

Penguatan adalah proses belajar untuk meningkatkan kemungkinan dari sebuah perilaku dengan memberikan atau menghilangkan rangsangan. Prinsip penguatan dibagi menjadi dua, yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. a. Positive Reinforcement (Penguatan Positif) Penguatan positif (positive reinforcement) adalah suatu rangsangan yang diberikan untuk memperkuat kemungkinan munculnya suatu perilaku yang baik sehingga respons menjadi meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung. Sebagai contoh, seorang anak yang pada dasarnya memiliki sifat pemalu diminta oleh guru maju ke depan kelas untuk menceritakan sebuah gambar yang dibuat oleh anak itu sendiri. Setelah anak tersebut membacakan cerita, guru memberikan pujian kepada anak tersebut dan teman-teman sekelasnya bertepuk tangan. Ketika hal tersebut berlangsung berulangulang, maka pada akhirnya anak tersebut menjadi lebih berani untuk maju ke depan kelas, bahkan kemungkinan sifat pemalunya akan hilang. Rangsangan yang diberikan untuk penguatan positif dapat berupa hal-hal dasar seperti, makanan, minuman, dan kenyamanan pisikal. Selain itu, beberapa hal-hal lain seperti uang, persahabatan, cinta, pujian, penghargaan, perhatian, dan kesuksesan karir juga dapat digunakan sebagai rangsangan penguatan positif. Dua hal penting dalam menggunakan penguatan positif adalah timing (pengaturan waktu) dan konsistensi dalam pemberian penguatan. Timing (pengaturan waktu) -> stimulus positif harus diberikan dalam jangka waktu yang singkat mengikuti respon dari objek. Consistency -> merupakan sifat dasar dari awal proses blajar berdasarkan jadwal pemberian penguatan positif dimana penguat positif harus diberikan setelah ada respon dari objek.

b. Negative Reinforcement (Penguatan Negatif) Negative Reinforcement adalah peningkatan frekwensi suatu perilaku positif karena hilangnya rangsangan yang merugikan (tidak menyenangkan). Sebagai contoh, seorang ibu yang memarahi anaknya setiap pagi karena tidak membersihkan tempat tidur, tetapi suatu pagi si anak tersebut membersihkan tempat tidurnya tanpa di suruh dan si ibu tidak memarahinya, pada akhirnya si anak akan semakin rajin membersihkan tempat tidurnya diringi dengan berkurangnya frekwensi sikap kemarahan dari ibunya. Perbedaan mutlak penguatan negatif dengan penguatan positif terletak pada penghilangan dan penambahan stimulus yang sama-sama bertujuan untuk meningkatkan suatu perilaku yangbaik. * Penguatan Positif + Stimulus => Perilaku baik * Penguatan Negatif Stimulus => Perilaku baik

Nama Semester Mata Kuliah

: Sri Muliani : IV A : Psikologi Belajar

Reinforcement
Istilah reinforcement dalam dunia psikologi secara umum sering diartikan sebagai penguat perilaku individu. Perilaku yang diberikan reinforcement dapat berakibat diulanginya perilaku atau dihentikannya perilaku. Reinforcement biasanya dibagi menjadi dua bagian yaitu reinforcement negative dan reinforcement positif. Reinforcement negative adalah berupa hukuman (Punishment) sedangkan reinforcement positif biasanya diartikan sebagai hadiah (reward). Hadiah dan Reinforcement Telah di paparkan di atas bahwa reinforcement dibagi menjadi penguat positif dan penguat negative. Penguat positif adalah berupa hadiah. Hadiah ini diberikan apabila perilaku individu atau hasil suatu perilaku sesuai dengan yang diharapkan. Pemberian hadiah ini diharapkan mampu membuat individu mempertahankan keberhasilan perilakunya atau bahkan dapat lebih meningkatkan hasil dari perilaku tersebut. Prinsip reinforcement positif berupa hadiah ini dapat kita hubungkan dengan prinsip ekonomi. Dimana individu cenderung melakukan sesuatu yang kecil atau sedikit tetapi yang hasilnya besar atau sesuatu yang keuntungannya besar. Contohnya jika dengan membeli obat dengan harga murah bisa mengurangi rasa sakit maka tidak perlu membeli obat yang mahal. Hadiah (reward) dapat dikatakan juga sebagai reinforcement stimuli yang berakibat terjadinya pengulangan kembali suatu perilaku serta akan meningkatkan kecepatan terjadinya respon. Seorang peminta-minta jika kita beri uang (reward) maka perbuatannya tersebut cenderung akan diulangi. (Walgito, 2004) Hukuman dan Reinforcement Reinforcement negative disebut juga dengan hukuman. Jika pada reinforcement positif berupa hadiah dapat menyebabkan terulang kembali suatu perilaku maka penguat negative ini sebaliknya. Ketika suatu perilaku di beri penguat negative maka perilaku tersebut cenderung akan berhenti dan diharapkan tidak akan terulang kembali. Pemberian reinforcement negative ini jika kita hubungkan dengan pemberian hukuman dalam proses belajar mengajar tidaklah semudah yang diperkirakan, dan pemberian hukuman terhadap suatu respon dapat menimbulkan akibat-akibat yang tidak terduga dan bermacam-macam. Akibat dari hukuman yang muncul dalam proses belajar dan tidak terpecahkan disebut dengan punishment paradox. Pemberian hukuman yang berakibat kepada diulanginya perilaku sehingga menghasilkan sesuatu yang lebih baik adalah berhubungan dengan need yang kedua yaitu need for achievement. Jadi individu yang cenderung mengulangi kembali perilaku walaupun mendapatkan respon yang negative dapat kita katakan memiliki motivasi berprestasi yang tinggi. Dimana pemberian hukuman dijadikan cambuk untuk menjadi lebih baik dan berprestasi. Sehingga jika dihubungkan dengan situasi belajar dapat disimpulkan bahwa apabila ada peserta didik yang setelah ujian dan mendapatkan nilai rendah langsung menyobek atau menyimpan hasil tesnya untuk kemudian dilupakan adalah peserta didik yang memiliki motivasi rendah. Sedangkan jika ada peserta didik yang setelah mendapatkan hasil ujian kecil langsung mencari akar permasalahan dan menyadari kesalahan kemudian mengulang kembali sehingga menghasilkan nilai yang lebih baik dapat kita katakan individu tersebut memiliki motivasi tinggi.

Nama Semester Mata Kuliah

: Nurhayati : IV A : Psikologi Belajar

REINFORCEMENT
Pengertian Adalah proses dimana tingkah laku diperkuat oleh konsekuensi yang segera mengikuti tingkah laku tersebut. Saat sebuah tingkah laku mengalami penguatan maka tingkah laku tersebut akan cenderung untuk muncul kembali pada masa mendatang. Contoh: Pada percobaan yang dilakukan oleh Thorndike (tahun 1911), Ia meletakkan seekor kucing yang lapar pada sebuah kandang. Di sisi luar kandang yang dapat dilihat oleh kucing, Thorndike meletakkan makanan. Pintu kandang akan terbuka jika kucing memukul tuas yang ada pada pintu. Pintu tidak akan terbuka kecuali kucing dapat memukul tuas tersebut. Setelah melakukan beberapa gerakan, akhirnya kucing dapat memukul tuas tersebut dan akhirnya pintu terbuka sehingga kucing tersebut dapat mengambil makanan tersebut. Perlakuan yang sama dilakukan pada waktu yang berbeda dan ternyata kucing dengan segera mampu membuka pintu kandang dengan memukul tuas yang ada. Pada contoh ini, kucing tersebut akan cenderung untuk memukul tuas saat ini dimasukkan kedalam kandang, karena tingkah laku tersebuat segera menghasilkan akibat terbukanya pintu dan kucing dapat mengambil makanan yang ada. Mengambil makanan (pada kucing yang lapar tersebut) merupakan konsekuensi yang reinforced (memperkuat) tingkah laku kucing memukul tuas yang ada. Dari contoh di atas, reinforcement dapat didefinisikan sebagai: 1. Kejadian perilaku tertentu 2. Diikuti oleh akibat yang segera mengikutinya 3. Hasilnya menguatkan tingkah laku tersebut. Jenis-Jenis Reinforcement 1. Positif Reinforcement Kejadian sebuah tingkah laku Diikuti oleh penambahan stimulus atau peningkatan intensitas dari stimulus yang hasilnya menguatkan tingkah laku tersebut. Contoh : Saat anak bertingkah laku tantrum di toko, ia mendapatkan permen (positif reinforcer/penguat positif diberikan). Akibatnya, anak akan cenderung untuk tantrum di toko. 2. Negatif Reinforcement Kejadian sebuah tingkah laku Diikuti oleh penghilangan stimulus atau penurunan intensitas stimulus yang hasilnya menguatkan tingkah laku tersebut. Contoh: Tingkah laku Ibu yang membelikan anak permen berhasil mengurangi atau menghentikan tingkah laku tantrum anak (stimulus yang tidak disukai menghilang). Akibatnya, Ibu akan cenderung untuk membelikan anak permen saat anak bertingkah laku tantrum di toko.