Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Tujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dilakukan secara berkelanjutan. Berdasarkan visi pembangunan nasional melalui pembangungan kesehatan yang ingin dicapai untuk mewujudkan lndonesia sehat 2010. Visi pembangunan gizi adalah mewujudkan keluarga mandiri sadar gizi untuk mencapai status gizi keluarga yang optimal. Keadaan gizi dapat dipengaruhi oleh keadaan fisiologis, dan juga oleh keadaan ekonomi, sosial, politik dan budaya. Pada saat ini, selain dampak dari krisis ekonomi yang masih terasa, juga keadaan dampak dari bencana nasional mempengaruhi status kesehatan pada umumnya dan status gizi khususnya. Keadaan gizi meliputi proses penyediaan dan penggunaan gizi untuk pertumbuhan, perkembangan, pemeliharaan dan aktifitas. Kurang gizi dapat terjadi dari beberapa akibat, yaitu ketidak seimbangan asupan zat-zat gizi, faktor penyakit pencernaan, absorbsi dan penyakit infeksi. Gambaran perkembangan keadaan gizi masyarakat menunjukkan kecenderungan yang sejalan. Prevalensi kurang energi protein, yang kemudian disebut masalah gizi makro, pada balita turun dari 37.5 % pada tahun 1989 menjadi 26.4 % pada tahun 1999, keadaan ini juga diikuti dengan prevalensi masalah gizi lain. Upaya untuk mencegah semakin memburuknya keadaan gizi masyarakat di masa datang perlu dilakukan dengan segera dan direncanakan sesuai masalah daerah sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam pelaksanaan desentralisasi. Keadaan ini diharapkan dapat semakin mempercepat sasaran nasional dan global dalam menetapkan program yang sistematis mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan. Sejalan dengan sasaran global dan perkembangan keadaan gizi masyarakat rumusan tujuan umum program pangan dan gizi tahun 2001-2005 yaitu menjamin ketahanan pangan tingkat keluarga mencegah dan menurunkan masalah grzi, mewujudkan hidup sehat dan status gizi yang optimal. Menyadari faktor penyebab masalah gizi yang sangat komplek, maka perlu dirumuskan strategi program gizi khususnya pada program perbaikan gizi makro, sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan nomor: l277Menkes/SK/)02001 tentang Organisasi dan tata kerja Departemen Kesehatan.

B.

Perumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan UPKG, Tujuan, sasaran, dasar pemikiran yang melandasi UPKG, pokokpokok kegiatan UPKG, dan langkah-langkah dalam pelaksanaan UPKG? 2. Bagaimana dengan masalah perbaikan gizi dalam masyarakat sekarang ini atau dalam skala nasional (Gizi Makro)?

C.

Tujuan

1. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan UPKG, Tujuan, sasaran dasar pemikiran yang melandasi UPKG, dan langkah-langkah dalam pelaksanaan UPKG? 2. Menjelaskan bagaimana masalah perbaikan gizi dalam masyarakat sekarang ini atau dalam skala nasional bisa disebut juga perbaikan gizi makro dari hal pengertian, penyebab masalah, tujuan dan sasaran, pelaksanaan evalusai, dan pendanaan?

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Usaha Perbaikan gizi Keluarga (UPGK) adalah usaha perbaikan gizi masyarakat yang berintikan penyuluhan gizi, melalui peningkatan peran serta masyarakat dan didukung kegiatan yang bersifat lintas sektoral, Dilaksanakan oleh berbagai sektor terkait (kesehatan, BKKBN, Pertanian Dalam Negeri), Dikbud, PKK dan lain-lain. ( Depkes RI. 1993: 2) Pengertian lain mengenai UPGK adalah: a. Merupakan usaha keluarga sendiri untuk memperbaiki keadaan gizi seluruh anggota keluarga b. Dilaksanakan oleh keluarga dan masyarakat dengan kader sebagai penggerak masyarakat dan petugas berbagai sektor sebagai motivator, pembimbing dan pembina, c. Merupakan bagian dari kehidupan keluarga sehari-hari dan juga merupakan bagian integral dari pembangunan nasional untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat d. Secara operasional adalah rangkaian kegiatan yang saling mendukung untuk melaksanakan alih teknologi sederhana kepada keluarga dan masyarakat. B. Tujuan UPGK a. Tujuan Umum: Mendorong perubahan sikap dan perilaku yang mendukung perbaikan gizi anak balita dan keluarga melalui peningkatan pengertian, partisipasi dan pemerataan hasil kegiatan untuk mencapai keluarga sadar gizi menuju terjadinya manusia berkualitas. b. Tujuan Khusus 1. Partisipasi dan pemerataan kegiatan: a) Semua anggota masyarakat ikut serta aktif dalam penyelenggaraan kegiatan. Penanggung jawab kegiatan adalah anggota masyarakat setempat yang telah mendapat latihan. b) Pada daerah UPGK, kegiatan meluas ke semua RW c) Pada setiap RW, semua balita (anak dibawah 5 tahun), ibu hamil dan ibu menyusui tercakup dalam kegiatan. 2. Perubahan tingkah laku yang mendukung tercapainya perbaikan Gizi. a) Semua balita ditimbang setiap bulan, dan hasil timbangannya dicatat di KMS b) Semua bayi disusui ibunya sampai usia 2 tahun atau lebih dan mendapat makanan lain yang sesuai dengan kebutuhannya c) Semua anak yang berumur l-4 tahun mendapat 1 kapsul vitamin A dosis tinggi 3

setiap 6 bulan d) Semua anak yang mencret segera diberi minum larutan gula garam atau larutan oralit. D. Sasaran UPGK Secara garis besar sasaran UPGK dapat dikelompokkan menjadi : a. Sasaran Langsung: Sasaran langsung adalah perorangan atau keluarga yang bersedia melakukan sesuatu terhadap dirinya sendiri dalam rangka mewujudkan keluarga sadar gizi. Sasaran ini pada garis besarnya dapat disegmentasikan menjadi: a) Keluarga Balita (Ibu, ayah, anggota keluarga yang ditugasi mengasuh anak) b) Ibu muda c) Ibu Hamil d) Ibu menyusui e) Masyarakat umum b. Sasaran tidak langsung: Yang dimaksud dengan sasaran tidak langsung adalah perorangan atau institusi yang diharapkan dapat membantu secara aktif baik sebagai pengajar (motivator), maupun sebagai penyedia jasa kelompok UPGK dalarn rangka melembagakan dan memberdayakan keluarga sadar gizi. Sasaran ini antara lain terdiri dari: a) Kelompok yang mempunyai pengaruh dan menentukan dalam proses pengambilan keputusan misalnya : pemuka masyarakat baik formal maupun informal (pemuka agama, kepala adat dan lain-lain ) b) Kelompok / institusi masyarakat di tingkat desa, KPD, KWT, PKK, Pramuka, Karang Taruna, LSM, LKMD, Lembaga Agama Kader dan lain sebagainya. c) Kelompok Petugas KIE dari sektor-sektor yang terkait dalam berbagai tingkat daerah, meliputi: (1) Sektor kesehatan (Petugas Rumah sakit, Petugas Puskesmas dan lain-lain) (2) Sektor Keagamaan (Petugas KUA, motivator UPGK jalur agama penyuluh agama, guru agarna) (3) Sektor Pertanian (4) Sektor BKKBN (5) Sektor Pendidikan E. Dasar pemikiran yang melandasi Usaha Perbaikan Gizi Keluarga.

Empat masalah gizi utama yang banyak ditemukan di berbagai wilayah bahkan di berbagai Negara berkembang yaitu KKP, kekurangan Vitamin A, anemia gizi, gondok endemik, pada umumnya menyerang kelompok penduduk yang tergolong rawan (winerable) yaitu : bayi, anak usia di bawah lima tahun (balita), Ibu Hamil dan Ibu menyusui. usaha perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu di bawah koordinasi yang baik, yang bertujuan 4

menurunkan jumlah penderita gangguan gizi, bahkan jika mungkin menghilangkan bahaya gangguan gizi pada kelompok penduduk yang rawan itu. Apabila masalah gizi semata-mata dilihat dari sudut kesehatan masyarakat, maka usaha penanggulangannya pun dapat dilakukan dengan menggunakan dasar-dasar usaha kesehatan masyarakat: a) Mempertinggi tingkat gizi penduduk terutama golongan Rawan melalui berbagai kegiatan yang bertujuan memperbaiki kualitas makanan keluarga pemanfaatan air susu ibu (ASI) secara tepat, menanamkan rasa sadar gizi pada setiap anggota keluarga dan sebagainya. b) Memberikan perlindungan khusus terhadap kemungkinan terjadinya gangguan gizi tertentu seperti kekurangan vitamin A, anemia gizi, penyakit gondok. Kepada semua anak di bawah usia 5 tahun diberikan kapsul vitamin A dosis tinggi sekali setiap 6 bulan guna melindungi anak terhadap kemungkinan menderita defisiensi vitamin A, memberikan suntikan larutan Iodium kepada penduduk yang tinggal di daerah endemik penyakit gondok, memberikan tablet besi kepada setiap ibu hamil. c) Melakukan pengamatan dini terhadap penyakit gangguan gizi dan melakukan usaha penanggulangan secara cepat dan tepat. Kegiatan ini dapat dilakukan secara berkala berupa pengawasan terhadap pertumbuhan anak melalui penimbangan berat badan sekali sebulan dengan menggunakan kartu menuju sehat (KMS). d) Mengatasi akibat yang mungkin timbul dengan jalan memberikan perawatan yang intensif. Penderita gangguan gizi yang dalam keadaan berat harus segera dikirim ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang lebih baik sehingga akibat yang ditimbulkan gangguan gizi ini dapat dibatasi seminimal mungkin. F. Pokok-pokok kegiatan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga

Dengan berpedoman pada dasar pemikiran Usaha perbaikan Gizi keluarga maka dapatlah ditetapkan pokok-pokok kegiatan UPGK sebagai berikut : a) Pengawasan gizi anak Balita melalui penimbangan berat badan secara teratur dan terus menerus setiap bulan dengan menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS). b) Pemberian bimbingan dan nasihat pada Ibu sangat penting dalam usaha menumbuhkan perilaku gizi yang positif yang diperlukan dalam UPGK. Dalam memberikan bimbingan dan nasihat, ada enam pesan gizi pokok yang menjadi titik berat penyuluhan, yaitu sebagai berikut : 1. "Anak yang sehat, berat badannya akan selalu bertambah" 2. "Sampai usia 4 bulan, bayi cukup diberi ASI saja" 3. mulai usia bulan ke-5 anak harus sudah mulai diberi makanan pendamping ASI" 4. "Memasuki usia tahun ke-2. anak dapat diberi makanan biasa. Susuilah anak selama mungkin selagi ASI masih ada." 5. Ibu hamil harus makan lebih banyak dari biasanya" 5

6. "Ibu menyusui harus minum air 8 gelas sehari." c) Pelayanan pertolongan gizi diberikan untuk menanggulangi penderita gangguan gizi terutama penderita difisiensi vitamin A. Penderita anemia gizi dan pencegahan terjadinya dehidrasi pada anak yang menderita diare. Akan tetapi memberikan pertolongan gizi juga diberikan kepada mereka yang tidak memperlihatkan tanda- tanda defisiensi vitamin A atau anemia gizi. Pemberian kapsul vitamin A dan tablet besi lebih berfungsi sebagai upaya pencegahan dan perlindungan terhadap kemungkinan terjadinya defisiensi. d) Pemulihan gizi bagi kanak-kanak penderita KKP dilakukan dengan jalan memberikan makanan tambahan guna memenuhi kebutuhan anak akan zat gizi, terutama kalori dan protein. Pemberian makanan tambahan makanan dengan mengutamakan penggunaan bahan makanan yang tinggi kadar kalori dan proteinnya, terutama dari jenis kacang atau hasil olahannya (kacang hijau, kacang merah, tahu, tempe, dan sebagainya). Kanak kanak penderita KKP tersebut akan mendapatkan tambahan makanan dalam jangka waktu antara 60 hari sampai 90 hari, tergantung pada berat ringannya KKP yang diderita. e) Hubungan timbal balik yang erat antara kejadian gangguan gizi dengan adanya penyakit infeksi pada anak-anak menjadikan kegiatan penanggulangan berbagai penyakit infeksi melalui imunisasi sebagai kegiatan penunjang UPGK yang sangat penting. Karena kegiatan dasar UPGK tersebut harus ditunjang pula oleh kegiatan Immunisasi. f) Jarak kelahiran anak yang terlalu rapat merupakan salah satu faktor yang mempertinggi resiko anak akan menderita KKP. Karenanya motivasi dan pelayanan KB sangat diperlukan untuk menunjang kegiatan UPGK. g) Penderita KKP yang disertai penyakit infeksi hanya dapat dipulihkan tingkat gizinya apabila penyakit infeksi yang dideritanya sudah disembuhkan. Untuk itu perlu pula dilakukan kegiatan rujukan penderita penyakit infeksi ke puskesmas terdekat atau ke Rumah Sakit sebagai pelengkap kegiatan UPGK. h) Makanan yang dimakan anak akan sangat ditentukan oleh macam makanan yang disajikan ibunya di meja makan, dan makanan yang disajikan ibu juga tergantung pada bahan makanan apa yang tersedia dan dapat dimasak oleh ibu. Pekarangan dapat mempunyai arti penting sebagai sumber bahan makanan keluarga apabila dimanfaatkan secara berdaya guna dan berhasil guna. Karenanya pemanfaatan pekarangan juga baik sekali dikembangkan guna membantu dan mendorong tumbuhnya swadaya keluarga untuk perbaikan gizi.

G. Langkah-langkah dalam pelaksanaan UPGK Untuk dapat melaksanakan UPGK di suatu wilayah atau desa, dilalkukan langkah-langkah sebagai berikut: a) Penyiapan masyarakat dan sarana pelaksanaan kegiatan Oleh karena UPGK memerlukan keterlibatan aktif masyarak maka sebelum memulai kegiatan UPGK perlu dilakukan kegiatan untuk mempersiapkan masyarakat sehingga mereka mengambil bagian dan turut bertanggung jawab dalam pelaksanaan berbagai kegiatan yang dilakukan. b) Tata cara pelaksanaan kegiatan di panti gizi desa atau pos penimbangan. 6

Pelaksanaan berbagai kegiatan UPGK dipusatkan di panti gizi desa. Bangunan untuk panti gizi desa dapat menggunakan ruangan yang ada di balai desa atau dapat juga di rumah penduduk yang bersedia meminjamkannya. Apabila penduduk desa cukup banyak dan desa itu besar, maka panti gizi desa desa dapat diperluas jangkauannya dengan mendirikan pos penimbangan/pos pelayanan gizi. Dengan demikian jangkauan kegiatan juga dapat diperluas sehingga lebih banyak anak balita yang dapat dicakup oleh kegiatan UPGK itu. Pelayanaan gizi di pos penimbangan dan di panti gizi desa dilakukan dengan tata carayang disebut jalur pelayanan 4 meja. Anak balita yang dibawa oleh ibunya ke pos pelayanan gizilpos penimbangan di meja I. setelah selesai maka anak akan ditimbang berat badannya oleh petugas pelaksana meja II. Setelah selesai penirnbangan, maka pelayanan dilanjutkan ke meja III. di meja itu berat badan anak sewaktu di timbang akan dicatat di buku penimbangandan juga diterapkan pada KMS yang dibawa oleh ibu. Di meja IV akan diberikan bimbingan dan penyuluhan kepada ibu dari anak balita tersebut, baik berkaitan dengan berat badan anak, laju pertumbuhan anak, pengaturan makanan anak, maupun berkaitan dengan kesehatan umum anak dan ibu, pemberian vitamin A dosis tinggi, dan sebagainya. c) Pelayanan kesehatan TerPadu Beberapa bentuk program pelayanan kesehatan selain ditujukan bagi sasaran yang sama yaitu anak balita dan ibu juga mempunyai tujuan yang sama yaitu meningkatkan kesehatan anak dan menurunnya angka kematian bayi dan anak. Program-program pelayanan kesehatan itu antara lain : pfogram kebaikan gizi (UPGK), program pemeliharaan kesehatan ibu dan anak (KIA), program imunisasi, program penanggulangan diare pada anak- anak, program keluarga berencana (KB) dan sebagainya. Apabila program-program pelayanan kesehatan yang ditujukan pada sasaran yang sama tersebut dapat dilakukan secara serentak bersama-sama di suatu wilayah atau desa, maka setiap anak balita yang menjadi sasaran program pelayanan akan mendapatkan beberapa macam pelayanan kesehatan sekaligus. Jadi seorang anak yang dibawa oleh ibunya ke panti gizi atau pos penimbangan selain memperoleh pelayanan gizi (penimbangan, penyuluhan, pemberian-pemberian pertolongan gizi makanan tambahan) juga sekaligus dapat memperoleh layanan imunisasi, pemeriksaan kesehatan, jika anak mencret maka kepada anak tersebut akan diberikan oralit dan obat, dan Ibu akan memperoleh mengenai cara perawatan kesehatan keluarga. Selain itu Ibu yang memerlukan layanan KB juga sekaligus dapat dilayani di pos penimbangan atau panti gizi. Pelayanan seperti inilah yang disebut pelayanan kesehatan terpadu yang dikembangkan oleh departemen kesehatan di desa-desa di seluruh Indonesia. Bagi keluarga sendiri pelayanan kesehatan terpadu itu sangat menguntungkan karena ibu tidak perlu berkali-kali datang ke pos penimbangan, ke pos KB, ke pos kesehatan yang sering kali letaknya terpisahpisah dan jauh.

H. Masalah Perbaikan Gizi Makro. Keadaan gizi meliputi proses penyediaan dan penggunaan gizi untuk pertumbuhan, perkembangan, dan pemeliharaan serta aktifitas Keadaan kurang gizi Masalah gizi terbagi menjadi masalah gizi makro dan mikro. Masalah gizi makro adalah masalah yang utamanya disebabkan kekurangan atau ketidakseimbangan asupan energy dan Protein. Manifestasi dari masalah gizi makro, bila terjadi pada wanita usia subur dan ibu hamil yang Kurang Energi Kronis (KEK) adalah berat badan bayi baru lahir yang rendah (BBLR). Bila terjadi pada anak Balita akan mengakibatkan marasmus, kwashiorkor atau marasmic- kwashiorkor dan selanjutnya akan terjadi gangguan pertumbuahan pada anak usia sekolah. Program perbaikkan gizi makro diarahkan untuk menurunkan maslaah gizi makro yang utamanya mengatasi masalah kekurangan energy proein terutama di daerah miskin baik di pedesaan maupun di perkotaan dengan meningkatkan keadaan gizi keluarga, meningkatkan partisipasi masyarakat, meningkatkan kualitas pelayanan gizi baik di puskesmas maupun di posyandu, dan meningkatkan konsumsi energy dan protein pada balita gizi buruk. Strategi yang dilakukan untuk mengatasi masalah gizi makro adalah melalui pemberdayaan keluarga di bidang kesehatan dan gizi, pemberdayaan masyarakat di bidang gizi, pemberdayaan petugas dan subsidi langsung berupa dana untuk pembelian makanan tambahan dan penyuluhan pada balita gizi buruk dan ibu hamil. Evaluasi juga dilaksanakan dalam pelaksanaan program perbaikan gizi makro, yaitu dimulai dari evaluasi input dan proses output dan impac dengan tujuan untuk menilai persiapan, pelaksanaan, pencapaian target dan prevalensi status gizi pada sasaran. Tujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dilakukan secara berkelanjutan. Berdasarkan visi pembangunan nasional melalui pembangungan kesehatan yang ingin dicapai untuk mewujudkan Indonesia sehat 2010. Visi pembangunan gizi adalah mewujudkan keluarga mandiri sadar gizi untuk mencapai status gizi keluarga yang optimal. Keadaan gizi dapat dipengaruhi oleh keadaan fisiologis, dan juga oleh keadaan ekonomi, sosial, politik dan budaya. Pada saat ini, selain dampak dari krisis ekonomi yang masih terasa juga keadaan dampak dari bencana nasional mempengaruhi status kesehatan pada umumnya dan status gizi khususnya. Keadaan gizi meliputi proses penyediaan dan penggunaan gizi untuk pertumbuhan, perkembangan, pemeliharaan dan aktifitas. Kurang gizi dapat terjadi dari beberapa akibat, yaitu ketidakseimbangan asupan zat-zat gizi, faktor penyakit pencernaan, absorsi dan penyakit infeksi. Gambaran perkembangan keadaan gizi masyarakat menunjukkan kecendrungan yang sejalan. Prevalensi kurang energy protein, yang kemudian disebut masalah gizi makro, pada balita turun dari 37.5 % pada tahun 1989 menjadi 26.4 % pada tahun 1999, keadaan ini juga diikuti prelevansi masalah gizi yang lain.

Upaya untuk mencegah semakin memburuknya keadaan gizi masyarakat di masa datang perlu dilakukan dengan segera dan direncanakan sesuai masalah daerah sejalan dengan kebijkan pemerintah dalam pelaksaan desentralisasi. KLeadaan ini diharapkan dapat semakin mempercepat sasaran nasional dan global dalam menetapkan program yang sistematis mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan. Sejalan dengan sasaran global dan perkembangan keadaan gizi masyarakat, rumusan tujuan umum program pangan dan gizi tahun 2001-2005 yaitu menjamin ketahan pangan tingkat keluarga, mencegah dan menurunkan masalah gizi, mewujudkan hidup sehat dan status gizi yang optimal. Menyadari faktor penyebab masalah gizi yang sangat komplek dan arah kebijkan desentralisasi, maka perlu dirumuskan strategi program gizi khususnya pada program perbaikan gizi makro, sesuai dengan Surat Keputusan Mentri Kesehatan nomor: 1277/Menkes/SKDil/2001. Tentang Organisasi dan tata,kerja Departemen Kesehatan. a. Pengertian Masalah gizi makro adalah: masalah gizi yang utamanya disebabkan oleh kekurangan atau ketidakseimbangan asupan energI dan protein. Status gizi masyarakat dapat digambarkan terutama pada status anak balita dan wanita hamil. Oleh karena itu sasaran dari program perbaikan gizi makro ini berdasarkan siklus kehidupan yaitu dimulai dari wanita usia subur, dewasa, ibu hamil, bayi baru lahir, balita, dan anak sekolah. b. Gambaran Gizi Makro 1. Masalah 1.1. Berat Bayi lahir Rendah (BBLR) Kelompok masyarakat yang paling menderita akibat dari dampak krisis ekonomi terhadap kesehatan adalah ibu dan pada akhrirnya akan mempengaruhi kualitas bayi yang dilahirkan dan anak yang dibesarkan. Bayi dengan berat lahir rendah adalah salah satu hasil dari ibu hamil yang menderita kurang energi kronis dan akan mempunyai status gizi buruk. BBLR berkaitan dengan tingginya angka kematian bayi dan balita juga dapat berdampak serius terhadap kuatitas generasi mendatang yaitu akan memperlambat pertumbuhan dan perkembangan mental anak, sertia berpengaruh pada penurunan kecerdasan (IQ). Setiap anak yang berstatus gizi buruk mempunyai resiko kehilangan IQ 10 - 13 poin. Pada tahun 1999 diperkirakan terdapat kurang lebihl, 3 juta anak bergizi buruk, maka berarti terjadi potensi kehilangan IQ sebesar 22 juta poin. Sementara itu prevalensi BBLR pada saat ini diperkirakan 7 14 % (yaitu sekitar 459.200 - 900.000 bayi).

1.2. Gizi Kurang pada Balita Gizi Kurang merupakan salah satu masalah gizi utama pada balita di Indonesia. Berdasarkan hasil susenas data gizi kurang tahun 1999 adalah 26.4 %, sementara itu data gizi buruk tahun 1995 yaitu 11.4 %. Sedangkan untuk tahun 2000 prevalensi gizi kurang 24.9 % dan gizi buruk 7.1% . Gizi buruk adalah keadaan kurang gizi tingkat berat yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dari makanan sehari-hari dan terjadi dalam waktu yang cukup lama. Tanda-tanda klinis dari gizi buruk secara garis besar dapat dibedakan marasmus, kwashiorkor atau marasmickwashiorkor. 1.3. Gangguan Pertumbuhan Dampak selanjutnya dan gizi buruk pada anak balita adalah terjadinya gangguan pertumbuhan pada anak usia sekolah. Gangguan ini akan menjadi serius bila tidak ditangani secara intensif. Hasil Survei Tinggi Badan Anak Baru masuk Sekolah (TB-ABS) di lima popinsi (Jawa Barat, Jawa Tengah, NTT, Maluku dan Irian Jaya) pada tahun 1994 dan tahun 1998 menurjukkan prevalensi gangguan pertumbuhan anak usia 5 9 tahun masing-masng 42.4 % dan 37.8 %. Dari angka tersebut terjadi penurunan yang cukup berarti, tetapi secara umum, prevalensi gangguan pertumbuhan ini masih tinggi.

1.4. Kurang Energi Kronis (KEK) KEK dapat terjadi pada Wanita Usia Subur (WuS) dan pada ibu hamil (bumil). KEK adalah keadaan dimana ibu menderita keadaan kekurangan makanan yang berlangsung menahun (kronis) yang mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan pada ibu. (Departemen Kesehatan, 1995). 1.4.1. Pada Wanita Usia Subur (WUS) Pemantauan kesehatan dan status gizi pada WUS merupakan pendekatan yang potensial datam kaitannya dengan upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak- Kondisi WUS yang sehat dan berstatus gizi baik akan menghasilkan bayi dengan kualitas yang baik, dan akan mempunyai risiko yang kecil terhadap timbulnya penyakit selama kehamilan dan melahirkan. Dari data susenas pada tahun 1999 menunjukkan bahwa status gtzi pada WUS yang menderita KEK (LILA <23.5 cm) sebanyak 24.2%. Hasil analisis IMT pada 27 ibukota propinsi menunjukkan KEK paila wanita dewasa (IMT< l8'5) sebesar 15.l %.

1.4.2. Pada Ibu Hamil (Bumil) Ibu hamil yang menderita KEK mempunyai risiko kematian ibu mendadak pada masa perinatal atau risiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR). pada keadaan ini banyak ibu yang meninggal karena perdarahan, sehingga akan meningkatkan angka kematian ibu dan anak.

10

Data SDKI tatrun 1997 angka kematian bayi adalatr 52.2 per 1000 kelahiran hidup dan dari data SDKI tauun 1994 angka kematian ibu adalah 390 kematian ibu pertahun 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan dari data susenas pada tahun 1999, ibu hamil yang mengalami risiko KEK adalah 27,6%. Penyebab Masalah UNICEF (19S8) telah mengembangkan kerangka konsep makro (lihat skema.) sebagai salah satu strategi untuk menanggulangi masalah kurang gizi. Dalam kerangka tersebut ditunjukkan bahwa masalah gizi kurang dapat disebabkan oleh:

A. Penyebab langsung Makanan dan penyakit dapat secara langsung menyebabkan Timbulnya gizi kurang tidak hanya dikarenakan asupan makanan yang kurang, tetapi juga penyakit. Anak yang mendapat cukup makanan tetapi sering menderita sakil pada akhirnya dapat menderita gizi kurang. Demikian pula pada anak yang tidak memperoleh cukup makan, maka daya tahan tububnya akan melemah dan akan mudah terserang penyakit. B. Penyebab tidak langsung

Ada 3 penyebab tidak langsung yang menyebabkan gizi kurang yaitu : - Ketahanan pangan keluarga yang kurang memadai. Setiap keluarga diharapkan mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarganya dalam jumlah yang cukup baik jumlah maupun mutu gizinya. - Pola pengasuhan anak kurang memadai. Setiap keluarga dan mayarakat diharapkan dapat menyediakan waktu perhatian, dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh kembang dengan baik baik fisik, mental dan sosial. - Pelayanan kesehatan dan lingkungan kurang memadai. Sistim pelayanan kesehatan yang ada diharapkan dapat menjamin penyediaan air bersih dan sarana pelayanan kesehatan dasar yang terjangkau oleh setiap keluarga yang membutuhkan. Ketiga faktor tersebut berkaitan dengan tingkat pendidikan, pengetahuan dan ketrmapilan keluarga. Makin tinggi tingkat pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan, makin baik tingkat ketahanan pangan keluarg4 makin baik pola pengasuhan maka akan makin banyak keluarga yang memanfaatkan pelayanan kesehatan.

C.

Pokok masalah di masyarakat

Kurangnya pemberdayaan keluarga dan kurangnya pemanfaatan sumber daya masyarakat berkaitan dengan berbagai faktor langsung maupun tidak langsung.

11

D. Akar masalah Kurangnya pemberdayaan wanita dan keluarga serta kurangnya pemanfaatan sumber daya masyarakat terkait dengan meningkatnya pengangguran, inflasi dan kemiskinan yang disebabkan oleh krisis ekonomi, politik dan keresahan sosial yang menimpa Indonesia sejak tahun 1997. Keadaan tersebut teleh memicu munculnya kasus-kasus gizi buruk akibat kemiskinan dan ketahanan pangan keluarga yang tidak memadai. Pemerintah dapat melaksanakan berbagai upaya untuk menunrnkan penderita gizi kurang yaitu antaru lain dengan cara menjamin setiap ibu menyusui ASI eksklusif, merjamin setiap ibu memperoleh pendampingan dan dukungan program gizi. Sesuai dengan skema berikut, upaya perbaikan gizi tidak hanya melibatkan soal teknis kesehatan akan tetapi menyangkut aspek sosial, politik, ekonomi, ideologi dan kebudayaan. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dilakukan upaya terintegrasi lintas program maupun lintas sektor terkait baik di tingkat pusat maupun tingkat propinsi dan kabupaten. Tujuan dan Sasaran Program perbaikan gizi makro diarahkan pada kelompok wanita usia subur, pria/wanita dewas4 bayi dengan berat lahir rendah, ibu hamil, ibu menyusui, ibu yang mempunyai batit4 batita dan anak sekolah. 1. Tujuan Umum: Menurunkan masalah gizi makro utamanya masalah kurang energi protein terutama di daerah miskin baik di pedesaan maupum di perkotaan. 2. Tujuan Khusus: 1. Meningkatkan keadaan gizi keluarga dengan mewujudkan perilaku keluarga yang sadar gizi 2. Meningkatkan partisipasi masyarakat dan pemerataan kegiatan pelayanan gizi ke seluruh wilayah perdesaan dan perkotaan 3. Meningkatkan kualitas pelayanan gizi baik di puskesmas maupun di posyandu untuk menurunkan prevalensi masalah gizi kurang dan gizi lebih 4. Meningkatkan konsumsi energi dan protein pada balita yang gizi buruk yang benar-benar membutuhkan.

3. Sasaran : Untuk mencapai tujuan tersebut, telah ditetapkan sasaran nasional pembangunan di bidang pangan dan gizi tahun 2002-2005. Sedangkan sasaran di tingkat daerah harus direncanakan sesuai dengan potensi daerah. Sasaran tingkat nasional adalah: 12

1. Sekurang-kurangnya 80% keluarga telah mandiri sadar gizi 2. Menurunnya prevalensi kurang energi kronis (KEK) ibu hamil menjadi 0 % 3. Menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita dari 26,4 % (1999) menjadi 20 % (2005) dan gizi buruk dal1- 8,l % (1999) menjadi 5% (2005) 4. Mencegah meningkatnya prevalensi gizi lebih pada anak balita dan dewasa setinggi- tingginya berturut-turut 3 % darn 10% 5. Menurunnya prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) menjadi setinggi tinggtrnya 7% Strategi Untuk mencapai tujuan tersebut diatas, akan ditempuh strategi pokok sebagai acuan penanggulangan masalah gizi makro, sebagai berikut : A. Pemberdayaan keluarga dibidang kesehatan dan gizi Pemberdayaan keluarga adalah proses dimana keluarga- keluarga yang mempunyai masalah kesehatan dan gizi bekerja bersama-sama menanggulangi masalah yang mereka hadapi. Cara terbaik untuk membantu mereka adalah ikut berpartisipasi dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi. Upaya perbaikan gizi yang dilakukan adalah dengan meningkatkan kemandirian dengan fokus keluarga mandiri sadar gizi dengan harapan mereka dapat mengenal dan mencari pemecahan masalah yang dihadapi. Kegiatan operasional yang dilaksanakan adalah: 1. Pemetaan keluarga mandiri sadar gizi oleh dasawisma dalam rangka survey mawas diri masalah gizi keluarga. 2. Asuhan dan konseling gizi Pada akhir tahun 2005, 50% institusi pelayanan kesehatan telat melaksanakan asuhan dan konseling gizi bagi keluarga dengan tenaga profesional dengan menggunakan tatalaksana asuhan dan konseling gizi.

B. Pemberdeyaan masyarakat di bidang gizi Pemberdayaan masyarakat di bidang gizi dimaksudkan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memerangi kelaparan dan peduli terhadap masalah gizi yang muncul di masyarakat. Masyarakat harus dilibatkan dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi penanggulangan masalah gizi makro, sehingga akan tercipta komitmen yang baik antara masyarakat dan petugas. Hal-hal yang perlu dilakukan dalam rangka pemberdayaan masyarakat adalah:

1. Pemberdayaan ekonomi mikro Kegiatan dilaksanakan secara lintas sektor terutama dalam rangka income generating 13

2. Advocacy Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperoleh dukungan baik teknis maupun nonteknis dari pemerintah daerah setempat untuk memobilisasi sumber daya masyarakat Yang dimiliki Fasilitasi Memberikan bantuan teknis dan peratatan dalam rangka memperlancar kegiatan penanggulangan gizi makro berbasis masyarakat, misalnya home economic set untuk PMT. 3. Pemberdayaan Petugas Agar kualitas pelayanan gizi meningkat, maka diharapkan para petugas kesehatan dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dilakukan serangkaian kegiatan dalam peningkatan peran petugas yaitu antara lain dengan memberikan pengetahuan dan ketrampilan baik melalui kegiatan workshop dan capacrty building. 4. Subsidi langsung Subsidi diberikan dalam bentuk paket dana untuk pembelian makanan tambahan dan penyuluhan kepada balita gizi buruk dan ibu hamil kurang energi kronis. Pelaksanaan A. Pemberdayaan keluarga di bidang kesehatan dan gizi Pemetaan keluarga mandiri sadar gizi oleh dasawisma dalam rangka survey mawas diri masalah gizi keluarga. Tujuan : mengidentifikasi keluarga-keluarga yang belum melaksanakan perilaku gizi yang baik dan benar Kegiatan: - Pelatihan Kadarzi bagi Kader dasawisma - Pengadaan bahan-bahan pemetaan - Pemetaan, analisa dan tindak lanjutnya 2. Asuhan dan konseling gizi bagi keluarga yang belum menerapkan perilaku gizi yang baik dan benar. Tujuan : meningkatkan kemandirian anggota keluarga dalam pelayanan gizi. Kegiatan: - Menyusun standar tat a laksana asuhan dan konseling gizi - Melaksanakan kegiatan asuhan dan konseling gi di setiap sarana pelayanan kesehatan - Melaksanakan kegiatan asuhan gizi melalui penyuluhan kelompok mengenai makanan padat gizi dari bahan lokal - Melaksanakan kegiatan asuhan dan konseling gizi secara profesional. 3. Kampanye keluarga mandiri sadar gizi Tujuan : meningkatkan kepedulian keluarga untuk selalu menerapkan perilaku gizi yangbaik dan benar Kegiatan: - Pengadaan bahan-bahan KIE lokal - Pesan-pesan Kadarzi melalui kelompok kesenian tradisional 14

- Pesan-pesan Kadarzi melalui media cetak dan elektronik B. Pemberdayaan masyarakat di bidang gizi 1. Pemberdayaan ekonomi mikro Kegiatan dilaksanakan secara lintas sektor terutama dalam rangka "income Generating Tujuan : meningkatkan pendapatan keluarga Kegiatan: - Usaha Bersama : pengembangan koperasi simpan pinjam - Pemanfaatan pekarangan bekerjasama dengan sektor pertanian 2. Advocacy dan sosialisasi - Advocacy dan sosialisasi program pemberdayaan keluarga di bidang gizi kepada Gubenur dan Bupati 3. Fasilitasi

Memberikan bantuan teknis dan peralatan dalam rangka memperlancar kegiatan penanggulangan gizi makro berbasis masyarakat. Kegiatan: - Bantuan teknis untuk petugas lapangan : Pengadaan konsultan, pelatihan/workshop - Pengadaan sarana : dacin, food model, home economic set, bahan-bahan KIE dll

C. Pemberdayaan Petugas Tujuan : Meningkatkan ketrampilan petugas dalam memberikan pelayanan gizi sesuai dengan standar. Kegiatan: 1. Workshop tata laksana gizi buruk tingkat kabupaten, puskesmas dan RT 2. Workshop tata laksana penanggulangan WUS KEK tingkat kabupaten, puskesmds dan RT 3. Capacity building tentang perencanaan daerah untuk menanggulangi masalah gizi makro. 4. Subsidi langsung Tujuan : meningkatkan keadaan gizibalitadan ibu hamil Subsidi dalam diberikan dalam bentuk paket dana untuk pembelian makanan tambalran dan penyuluhan kepada balita gizi buruk dan wanita usia subur kurang energi kronis. Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah : 1. Identifikasi sasaran yang perlu disubsidi (target sasaran) Target sasaran ditentukan berdasarkan hasil antropometri yang dilaksanakan langsung di lapangan dengan beberapa tambahan kriteria antara lain : balita dan Ibu harnil tergolong miskin, jumlah anggota keluarga lebih dari 3, kondisi rumah dan sarana air bersih kurang memadai. 15

2. Distribusi dana subsidi secara langsung ke keluarga melalui bidan di desa. Bidan di desa menjelaskan cam penggunaan dana dan mekanisme PMT (sesuai Pedoman Tata laksana Gizi Buruk di Rumah Tangga) 3. Evaluasi PMT : penggunaan dana proses PMT dan perubahan status gizi

Evaluasi Evaluasi ditujukan untuk menilai : 1. Input : ketenagaan (jumlah dan kualitas), dan fasilitas dan sarana pelayanan kesehatan dll. 2. Proses : menilai pelaksanaan kegiatan apakah telah mencapai target yang ditetapkan, mengidentifikasi kendala dan masalah yang dihadapi serta pemecahannya. 3. Output : menilai pencapaian setiap kegiatan penanggulangan gizi makro. 4. Impact : Menilai prevalensi status gizi pada sasaran.

Kegiatan: Pelaksanaan evaluasi akan dilakukan oleh pihak ketiga agar tidak terjadi subjektivitas hasil evaluasi dengan tahap-tahap sebagai berikut : - Penunjukkan pelaksana evaluasi, misalnya LSM di bidang kesehatan Universitas. - Evaluasi dilaksanakan secara berkesinambungan dengan rentang waktu satu tahun sekali. Akan tetapi setiap 6 bulan dilakukan monitoring terhadap kegiatan yang sedang berjalan. - Hasil evaluasi tahunan digunakan sebagai dasar dalam perencanaan selanjutnya. Pendanaan Sumber dana berasal dari : APBN dan sumber lainnya.

16

BAB III PENUTUP Kesimpulan dan Saran

Dapat ditarik kesimpulan Tujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas sumberdaya manusia yang dilakukan secara berkelanjutan. Berdasarkan visi pembangunan nasional melalui pembangungan kesehatan yang ingin dicapai untuk mewujudkan lndonesia sehat 2010. Visi pembangunan gizi adalah mewujudkan keluarga mandiri sadar gizi untuk mencapai status gizi keluarga yang optimal. Dalam Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) adalah usaha perbaikan gizi masyarakat yang berintikan penyuluhan gizi, melalui peningkatan peran serta masyarakat dan didukung kegiatan yang bersifat lintas sektoral, Dilaksanakan oleh berbagai sektor terkait kesehatan, BKKBN, Pertanian Dalam Negeri), Dikbud, PKK dan lain-lain. Dengan adanya makalah ini dapat membantu atau menambah wawasan pengetahuan kita tentang masalah perbaikan gizi dikeluarga maupun masyarakat.

17

DAFTAR PUSTAKA

Alimul Hidayat, A2is.2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Jakarta : Salemba Madika Arikunto, S. 2002. Metode Penelitian. Jakatta: Rhineka Cipta Dep. Kes RI 1979. Buku Pedoman Petugas Lapangan UPGK. Jakarta : Dep. Kes RI Dep. Kes RI 1993. Pedoman KIE-UPGK. Jakaxta : Dep. Kes RI Karnus Besar Bahasa Indonesia 1989. Jakarta : PT. Grarnedia Notoatmodjo, Soekidjo.2003. Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rhineka Cipta Notoatmodjo, doekidjo.2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rhineka Cipta Nursalam, 2002. Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian IlmuKeperawatan. Jakarta: Salemba Medika Soediaoetama" Achmad Djaeni. Prof Dr. 2000. Ilmu Gizi. Jakarta Timur: Dian Rakyat http://www.gizi.net/kebijakan-gizildownloadlPanzi-Final.doc, diakses 28 Februari 2008 http://groups.yahoo.conr/group/sarikata/, diakses tanggal 4 Maret 2008 http://docs.yahoo.com/info/terms/, diakses tanggal 4 Maret 2008 _The Impact of Asian Financial Crisis on Health Sector in Indonesia" www.health indonesia.pdf, 12 Marct 2A02 RI dan WHO, Rencana Aksi Pangan dan Gizi Nasional 2001 - 2005, Jakart4 Agustus 2000 Direltorat Gizi Masyarakat, Panduan Pemberian Makanan Gizi Buruk Pasca Rawat Inap di Rumah Tangga Jakarta 2000 Direktorat Gizi Masyarakat, Tata Laksana Penanggulangan Gizi Buruk, Jakarta 2000 Tim KewaspadaanPangan dan Gizi Pusat, Situasi Pangan dangizidi lndonesia, Jakarta 2000 Departemen Kesehatan, Status Gizi dan Imunisasi Ibu dan Anak di Indonesi Jakarta, 1999

18

Departemen Kesehatan, Tunfirtan Praktis Bagi Tenaga gizi Puskesmas, Bekalku Membina Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)' Jakart4 1999 Tim Koordinasi Penanggulangan masalah Gizi Pangan dan Gizi, Gerakan nasional penanggulangan m asalah Pangan dan Gizi di Indonesia. Jakarta 1999

19