Anda di halaman 1dari 8

Kritik dr.Fachmi terhadap makalah saya pada presentasi hari Kamis, 21 April 2005 pukul 10.00 WIB: 1.

Perhitungan target yang ingin dicapai bukan penurunan angka kejadian herpes zoster yang berlanjut menjadi PHN, tetapi peningkatan pengetahuan petugas kesehatan tentang herpes zoster (pakai angka asumsi saja) 2. Evaluasi dan Pemantauan harus dibedakan, jadi dibuat bab yang terpisah

PERENCANAAN PELAYANAN KESEHATAN PROGRAM YANKES PADA VARISELA ZOSTER Oleh: Indriati Purwasari (04993100054)

I. I.1

PENDAHULUAN Fakta Deskriptif Herpes zoster adalah penyakit yang disebabkan oleh virus varisela zoster. 1-7 Infeksi ini terjadi setelah infeksi primer

dari virus tersebut (chickenpox), merupakan reaktivasi virus laten yang berdiam di ganglion posterior susunan saraf tepi dan ganglion kranialis.1-7 Herpes zoster akan timbul pada saat kekebalan tubuh menurun. Hal ini terkait dengan proses menua, immunosupresi, intrauterine exposure, dan terkena infeksi varisela pada usia di bawah 18 bulan.3,4 Chickenpox sendiri merupakan penyakit akut infeksi primer yang sangat menular. 1-7 Tersebar kosmopolit dan terutama menyerang anak-anak.1,3 Transmisi penyakit ini terjadi secara aerogen dan kontak dengan lesi. 1,3-5 Orang yang pernah terinfeksi primer oleh virus ini 15-20% akan mengalami reaktivasi menjadi herpes zoster. 5,6 Herpes zoster jarang ditemui sebelum usia 12 tahun (1% kasus), dan terbanyak pada usia 40 tahun ke atas (81%). 7 Pada ibu hamil yang terinfeksi varisela pada usia kehamilan 13-24 minggu, 0,8% bayinya akan mengalami herpes zoster. 6 Sedangkan ibu yang terinfeksi saat usia kehamilan 25-36 minggu, 1,7% bayinya berisiko mengalami herpes zoster. 6 Sedangkan, insiden herpes zoster pada penderita yang terinfeksi HIV 15 kali lebih tinggi dari yang tidak terinfeksi. Di Kanada, biaya medis yang dikeluarkan untuk varisela diperkirakan sekitar 122,4 juta dolar setiap tahunnya atau 353 dolar per individu.6 Biaya yang ditujukan untuk individu sebesar 81%, 9% untuk perawatan medis, dan 10% untuk rumah sakit.6 Melihat besarnya biaya medis yang harus dikeluarkan untuk varisela, maka tentu saja mencegah lebih baik dari pada mengobati. Usaha untuk pencegahan ini dilakukan dengan pemberian vaksin. Meskipun demikian, angka kejadian penyakit ini masih cukup tinggi, dilaporkan setiap tahunnya hampir terdapat 60 juta kasus chickenpox di seluruh dunia, 15-20% bereaktivasi menjadi herpes zoster. Di Amerika insiden herpes zoster mencapai 2-3 kasus per 1000 per tahun (hampir 750.000 kasus per tahun), dan angka kejadian tersebut tinggi pada orang tua dan immunocompromised. Angka kejadian herpes zoster di dunia belum didata dengan baik, diperkirakan hampir sama dengan insiden di Amerika yaitu sekitar 5 kasus per 1000 per tahun. Sementara di Indonesia, prevalensi herpes zoster kurang dari 1% (Lumintang, 1993). 8 (i get the prevalence, Sir) Sedangkan di Palembang, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kotamadya Palembang pada tahun 2004 terdapat 3720 kasus varisela dan diperkirakan 20% dari kasus tersebut atau 744 kasus bereaktivasi menjadi herpes zoster. Di Indonesia, vaksinansi cacar termasuk dalam Program Imunisasi non PPI (Program Pengembangan Imunisasi) atau imunisasi yang tidak diwajibkan, namun dianjurkan. 7 Imunisasi anjuran diberikan pada sekelompok masyarakat yang

keadaan lingkungannya mempunyai risiko tinggi untuk terjangkit penyakit. Orang-orang yang berisiko terjangkit varisela antara lain adalah petugas kesehatan, ibu yang memiliki anak usia risiko, guru yang mengajar anak-anak usia risiko, keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan immunocompromised, turis mancanegara. Vaksinasi diberikan pada anak usia 1 tahun dan diberikan vaksinasi ulang pada saat berusia 12 tahun. 4,7 Bila vaksinasi pertama diberiakan pada saat anak berusia di atas 12 tahun, maka hendaknya diberikan vaksinasi ulang 6-8 minggu kemudian. 4,7 I.2 Analisis Situasi Teoritis dan Empirik Kejadian herpes zoster masih ada di dunia, termasuk di Indonesia. Meskipun bukan termasuk ke dalam sepuluh penyakit kulit tertinggi di dunia, dan tidak mematikan, namun komplikasinya cukup mengganggu daily activity seseorang.9 Komplikasi terbanyak dan sering dialami oleh penderita herpes zoster adalah postherpetic neuralgia atau nyeri pascaherpes.9-11 Sembilan puluh lima persen penderita herpes zoster menderita nyeri, namun, terkadang nyeri tersebut terus dirasakan walaupun rash sudah mereda.10-11 Kondisi inilah yang dikenal dengan postherpetic neuralgia (PHN). Menurut data yang dihimpun Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), jumlah mantan penderita herpes zoster yang berlanjut ke nyeri pascaherpes sekitar 10-15% dari populasi.11 Faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya PHN ditinjau dari teori Blumn dibedakan menjadi empat faktor, yaitu faktor biologi, faktor lingkungan, faktor mutu pelayanan kesehatan, dan faktor perilaku. berhubungan dalam mempengaruhi terjadinya suatu penyakit. Faktor Biologi dan Lingkungan Faktor usia sangat menentukan kerentanan serangan PHN. 9-11 Semakin tua usia seseorang saat menderita herpes zoster, maka makin tinggi pula risiko terkena PHN. Data RSCM menyebutkan bahwa usia di atas 50 tahun kemungkinan mengalami PHN sebesar 40%, di atas 60 tahun 50%, dan di atas 80 tahun menjadi 80% dari populasi. 10-11 Infeksi herpes zoster pada usia kanak-kanak lebih menguntungkan. Selain gejala yang tidak berat, anak juga mendapatkan kekebalan tubuh alami yang tahan lebih lama. Namun, di negara-negara tropis, termasuk Indonesia, orang lebih jarang terkena pada tingkat usia ini, kecuali pada penderita AIDS, keganasan, orang yang menerima terapi imunosupresif, kemoterapi dan radiasi, dan kelainan immunocompromised lainnya.11 Berdasarkan data herpes zoster jarang ditemui sebelum usia 12 tahun (1% kasus), dan terbanyak pada usia 40 tahun ke atas (81%). 7 Hal ini diduga disebabkan karena faktor iklim yang menghambat pertumbuhan virus. 11 Faktor Pelayanan Kesehatan dan Perilaku Herpes zoster harus cepat ditangani. Paling tidak dalam waktu tiga hari sejak muncul demam, penderita harus segera diberi obat-obatan antivirus yang sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Karena apabila tidak dapat menyebabkan komplikasi seperti PHN. PHN merupakan episode lanjutan dari herpes zoster yang diusahakan jangan sampai terjadi karena menyebabkan penderitaan yang hebat dan dapat terjadi selama bertahun-tahun. Terjadinya PHN dapat disebabkan oleh terlambatnya pengobatan herpes zoster sehingga virus sempat merusak atau terjadi disfungsi jaringan saraf di sekitarnya.10-11 Selain itu, pengobatan antiviral yang tidak adekuat juga dapat menyebabkan herpes zoster yang berlanjut menjadi PHN.9-11 Keterlambatan dan ketidakadekuatan pengobatan dapat disebabkan oleh minimnya pengetahuan petugas kesehatan mengenai diagnosis dan penatalaksanaan herpes zoster. Jadi, untuk mencegah herpes zoster berlanjut menjadi PHN petugas kesehatan harus tahu bagaimana mendiagnosis dini dan memberikan pengobatan yang cepat dan adekuat. (mungkin Anda tidak mengomentari analisis saya, tetapi saya pribadi merasa analisis ini kurang cantik tanpa data tentang persentase herpes zoster yang berlanjut menjadi PHN akibat pengobatan yang terlambat dan tidak adekuat, agar menunjang teori yg ada. Unfortunately, i didnt get the data) II. RUMUSAN MASALAH PROGRAM Sepuluh sampai limabelas persen dari penderita herpes zoster mengalami PHN. Dari 744 kasus herpes zoster di Palembang diperkirakan 111 penderita berlanjut menjadi PHN (dengan asumsi 15% populasi herpes zoster berlanjut menjadi PHN). Banyak faktor yang menjadi penyebab kasus herpes zoster berlanjut menjadi PHN, namun yang menjadi masalah utama adalah pada factor pelayanan kesehatan, yaitu keterlambatan diagnosis dan pengobatan yang tidak Keempat faktor ini saling

adekuat. Minimnya pengetahuan petugas kesehatan tentang herpes zoster merupakan derterminan yang menonjol menyebabkan penderita yang datang berobat terlambat didiagnosis dan pengobatan pun menjadi terlambat atau bahkan tidak adekuat. Untuk itu perlu dilakukan kegiatan-kegiatan yang dapat menyelesaikan akar masalah tersebut dengan jalan meningkatkan pengetahuan petugas dan juga masyarakat mengenai herpes zoster. III. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH TUJUAN PROGRAM Tujuan Umum Meningkatnya Pengetahuan Petugas Kesehatan tentang Penatalaksanaan Herpes Zoster Tujuan Khusus Tujuan khusus dari program ini adalah meningkatnya pengetahuan petugas kesehatan dari 45,9% menjadi 50,5% selama periode pelaksanaan program (6 bulan). Besarnya target peningkatan pengetahuan petugas kesehatan, dengan asumsi hanya 45.9% dari peugas kesehatan di kotamadya Palembang yang memiliki pengetahuan yang cukup baik mengenai herpes zoster, adalah: (Asumsi 45.9% saya dapat dari --> berdasarkan data Dinkes Palembang tahun 2004, jumlah petugas kesehatan di 36 Puskesmas di palembang adalah 947 oarang. Terdiri dari 13 org S2, 98 org S1, 324 org D1D3, 500 org SMA, 7 org SMP, dan 5 org SD. org atau 45.9%) Saya berasumsi yang memiliki pengetahuan yg cukup baik tentang herpes zoster adalah petugas kesehatan yang berpendidikan S2 sampai D1-D3. Jadi, 435 org dari 947

Good Assumption !!!

Catatan Perhitungan Target:


p1 p2

1.96 = p1 p2 q1 q2 N1 N2

p1q1 N1

p2q2 N2

: 45.9% (besarnya masalah sebelum program dalam %) : target (besarnya masalah setelah program dalam %) : 54.1% (100% - p1) : 100% - p2 : 947 orang (populasi petugas kesehatan di 36 Puskesmas di Palembang berdasarkan data Dinkes tahun 2004) : 947 orang (populasi petugas kesehatan di 36 Puskesmas di Palembang berdasarkan data Dinkes tahun 2004)

Dari hasil di atas akan didapatkan persamaan kuadrat p2, yang dapat dicari hasilnya dengan rumus di bawah ini: p2 =
b b 2 4ac 2a

Sehingga didapat p2 (target) sebesar 50.5%

1. 2.

Mengadakan kuliah penyegaran bagi petugas kesehatan mengenai diagnosis dan penatalaksanaan herpes zoster untuk mereview pengetahuan dan menambah info-info terbaru mengenai herpes zoster. Mengadakan penyuluhan tentang herpes zoster kepada masyarakat meliputi distribusi dan frekuensi, faktor risiko, cara penularan, gejala klinis, komplikasi, pengobatan serta pentingnya pencegahan dengan vaksinasi agar masyarakat segera datang ke pusat-pusat pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan tindakan pencegahan ataupun pengobatan.

3.

Menganjurkan kepada pemerintah agar memasukkan kuliah penyegaran bagi petugas kesehatan sebagai salah satu program kerja rutinnya. Alternatif terbaik dalam memecahkan masalah untuk mengurangi risiko PHN adalah dengan mengadakan kuliah

penyegaran untuk petugas kesehatan agar pengetahuan petugas kesehatan tentang herpes zoster di review kembali dan menambah info-info terbaru mengenai herpes zoster. Alternatif tersebut dipilih karena yang menjadi masalah utama penyebab PHN adalah pengobatan yang terlambat dan tidak adekuat. Hal ini sebagian besar terjadi akibat minimnya pengetahuan petugas kesehatan tentang herpes zoster sehingga diagnosis terlambat ditegakkan dan pengobatan pun menjadi terlambat atau bahkan tidak adekuat. IV. 1. 2. PROGRAM/KEGIATAN Alternatif program u meningkatkan pengetahuan petugas adalah: Mengadakan kuliah penyegaran bagi petugas kesehatan mengenai diagnosis dan penatalaksanaan herpes zoster untuk mereview pengetahuan dan menambah info-info terbaru mengenai herpes zoster. Mengadakan penyuluhan tentang herpes zoster kepada masyarakat meliputi distribusi dan frekuensi, faktor risiko, cara penularan, gejala klinis, komplikasi, pengobatan serta pentingnya pencegahan dengan vaksinasi agar masyarakat segera datang ke pusat-pusat pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan tindakan pencegahan ataupun pengobatan. 3. TIDAK RELEVAN !!! Menganjurkan kepada pemerintah agar memasukkan kuliah penyegaran bagi petugas kesehatan sebagai salah satu program kerja rutinnya. Alternatif terbaik dalam memecahkan masalah untuk mengurangi risiko PHN adalah dengan mengadakan kuliah penyegaran untuk petugas kesehatan agar pengetahuan petugas kesehatan tentang herpes zoster di review kembali dan menambah info-info terbaru mengenai herpes zoster. Alternatif tersebut dipilih karena yang menjadi masalah utama penyebab PHN adalah pengobatan yang terlambat dan tidak adekuat. Hal ini sebagian besar terjadi akibat minimnya pengetahuan petugas kesehatan tentang herpes zoster sehingga diagnosis terlambat ditegakkan dan pengobatan pun menjadi terlambat atau bahkan tidak adekuat. Kuliah penyegaran Diagnosis dan Penatalaksanaan Herpes Zoster bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan di Palembang dalam menegakkan diagnosis herpes zoster secara cepat dan tepat sehingga penderita yang datang ke pusat-pusat pelayanan kesehatan dapat diberikan pengobatan yang cepat dan adekuat. Dengan begitu, diharapkan angka kejadian penderita herpes zoster yang berlanjut menjadi PHN di Palembang dapat berkurang. Besarnya target peningkatan pengetahuan petugas kesehatan, dengan asumsi hanya 45.9% dari peugas kesehatan di kotamadya Palembang yang memiliki pengetahuan yang cukup baik mengenai herpes zoster, adalah: (Asumsi 45.9% saya dapat dari --> berdasarkan data Dinkes Palembang tahun 2004, jumlah petugas kesehatan di 36 Puskesmas di palembang adalah 947 oarang. Terdiri dari 13 org S2, 98 org S1, 324 org D1D3, 500 org SMA, 7 org SMP, dan 5 org SD. org atau 45.9%)
p1 p2

Saya berasumsi yang memiliki pengetahuan yg cukup baik

tentang herpes zoster adalah petugas kesehatan yang berpendidikan S2 sampai D1-D3. Jadi, 435 org dari 947

1.96 = p1 p2 q1 q2

p1q1 N1

p2q2 N2

: 45.9% (besarnya masalah sebelum program dalam %) : target (besarnya masalah setelah program dalam %) : 54.1% (100% - p1) : 100% - p2

N1 N2

: 947 orang (populasi petugas kesehatan di 36 Puskesmas di Palembang berdasarkan data Dinkes tahun 2004) : 947 orang (populasi petugas kesehatan di 36 Puskesmas di Palembang berdasarkan data Dinkes tahun 2004)

Dari hasil di atas akan didapatkan persamaan kuadrat p2, yang dapat dicari hasilnya dengan rumus di bawah ini: p2 =
b b 2 4ac 2a

Sehingga didapat p2 (target) sebesar 50.5% V. STRATEGI INTERVENSI Program kuliah penyegaran bagi petugas kesehatan seyogyanya diadakan secara rutin dan teratur oleh dinas kesehatan. Materi yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan di wilayah dinas tersebut. Hal ini bertujuan agar petugas kesehatan mengingat kembali bagaimana penanganan kasus-kasus yang mungkin jarang terjadi atau sering terjadi namun membutuhkan penanganan khusus. Juga menambah pengetahuan, terutama mengenai info-info terbaru dari dunia kesehatan yang berhubungan dengan kasus tersebut. Untuk itu kami mencoba mengintervensi Dinas Kesehatan Kotamdya Palembang untuk membuat sebuah program kuliah penyegaran rutin bagi petugas kesehatan di 36 Puskesmas di kotamdya Palembang. Intervensi yang mungkin dilakukan adalah dengan melakukan audiensi dengan pihak Dinas Kesehatan Kotamadya Palembang. Namun untuk sementara waktu, seiring dengan usaha pendekatan institusi, kami melakukan pendekatan komunitas. Strategi yang dilakukan adalah memberikan informasi dan edukasi dengan mengadakan Kuliah Penyegaran Diagnosis dan Penatalaksanaan Herpes Zoster kepada petugas kesehatan di kaotamadya Palembang. Dengan demikian, mereka dapat mengingat kembali pengetahuan mereka dalam mengobati pasien herpes zoster yang datang ke pusat pelayanan kesehatan tempatnya bekerja agar jangan sampai berlanjut menjadi PHN. VI. Rencana dan Jadwal Kegiatan VI. 1 Rencana Kegiatan Persiapan (Preparation Activities) a. Penyusunan proposal, perencanaan anggaran biaya, mengurus izin ke Dinas Kesehatan Kotamadya Palembang b. Melakukan audisi kepada pihak pemerintah setempat, instansi swasta, dan tokoh masyarakat dalam usaha mencari dukungan baik dana maupun legalitas. c. Persiapan materi kuliah dan pembicara d. Persiapan tempat dan peralatan e. Kegiatan publikasi meliputi penyebaran undangan ke 36 Puskesmas di kotamadya Palembang VI. 2 Rencana Kegiatan Pelaksanaan (Implementation Activities) Kuliah Penyegaran Diagnosis dan Penatalaksanaan Herpes Zoster Hari/Tanggal Waktu Tempat Sasaran Kegiatan : Sabtu/ 14 Mei 2005 : 08.00 12.00 : Aula Dinas Kesehatan Kotamadya Palembang : Petugas kesehatan yang merupakan perwakilan dari setiap Puskesmas yang ada di kotamadya Palembang : Pengisian kuisioner (pretest) Kuliah penyegaran Posttest Target : 100 peserta

VII. Rencana Pembiayaan

No 1 2 Pembuatan proposal

Kegiatan Rp. Rp.

Biaya 75.000,1.000.000,-

Sumber Dana Kas organisasi Dana bantuan dari pemerintah/instansi swasta/tokoh masyarakat Kas organisasi Dana bantuan dari pemerintah/instansi swasta/tokoh masyarakat Dana bantuan dari pemerintah/instansi swasta/tokoh masyarakat Dana bantuan dari pemerintah/instansi swasta/tokoh masyarakat Dana bantuan dari pemerintah/instansi swasta/tokoh masyarakat Dana bantuan dari pemerintah/instansi swasta/tokoh masyarakat Dana bantuan dari pemerintah/instansi swasta/tokoh masyarakat Dana bantuan dari pemerintah/instansi swasta/tokoh masyarakat

Pembuatan dan perbanyakan kuisioner

3 4

Undangan Sewa gedung dan peralatan (kursi, sound system, LCD)

Rp. Rp.

50.000,1.500.000,-

Perbanyakan makalah

Rp.

500.000,-

Honor 3 orang pembicara @ Rp. 100.000,-

Rp.

300.000,-

Konsumsi 100 orang peserta @ Rp. 1.000,-

Rp.

125.000,-

Dokumentasi

Rp.

100.000,-

Transportasi

Rp.

100.000,-

10

Keamanan

Rp.

100.000,-

Total biaya yang dibutuhkan

Rp.

3.850.000,-

VIII. Evaluasi Pada akhir kegiatan dilakukan evaluasi untuk menilai keberhasilan kegiatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi meliputi keberhasilan unsur masukan, unsur proses, dan unsur keluaran. 1. Keberhasilan unsur masukan: adanya kerjasama dengan Dinas Kesehatan Kotamadya Palembang dan sponsor, tersedianya dana dan sarana yang mendukung pelaksanaan kegiatan, serta jumlah peserta sesuai target yang ingin dicapai 2. Keberhasilan unsur proses: terselenggaranya kegiatan Kuliah Penyegaran Diagnosis dan Penatalaksanaan Herpes Zoster dengan baik 3. Keberhasilan unsur keluaran: meningkatnya pengetahuan petugas kesehatan di kotamadya Palembang tentang diagnosis dan Penatalaksanaan herpes zoster sehingga angka kejadian PHN menjadi berkurang

Instrumen yang digunakan untuk evaluasi unsur keluaran adalah kuisioner. Kuisioner yang dipakai untuk posttest sama dengan kuisioner yang dipakai untuk pretest. Hasil pengisian kuisioner diperhitungkan dalam bentuk persentase dan kemudian dibandingkan dengan persentase pengetahuan petugas kesehatan sebelum mendapatkan kuliah penyegaran, apakah terdapat peningkatan pengetahuan. IX. PEMANTAUAN Pemantauan hasil kegiatan bermanfaat untuk mengetahui bahwa tujuan yang telah dicapai melalui kegiatan Kuliah Penyegaran, yaitu peningkatan pengetahuan petugas kesehatan dalam menegakkan diagnosis dan mengobati herpes zoster, tetap terjaga secara kualitas dan kuantitas. Pemantauan dilakukan dengan cara pengisian kuisioner oleh petugas kesehatan di 36 Puskesmas di Palembang secara berkala, yakni setiap 6 bulan. Kuisioner yang dipakai adalah kuisioner yang sama dengan kuisioner pada pretest dan posttest. Hasil kuisoner diperhitungkan dalam bentuk persentase dan kemudian dibandingkan dengan persentase pengetahuan petugas pada saat posttest. Apabila terjadi penurunan pengetahuan petugas di bawah target yang telah ditentukan sebelum kegiatan (50.5%), maka perlu dilakukan Kuliah Penyegaran kembali. Dok, apa yang jadi standard bahwa program/kegiatan perlu dilakukan kembali? Penurunan sebanyak berapa % yang jadi patokkan? Apakah boleh seperti yang saya lakukan, dengan mengambil target sebagai standard? LAMPIRAN: JADWAL KEGIATAN

No

Kegiatan I II III

Pekan IV V VI

1 2 3 4 5 6 7

Menyusun proposal Pencarian dana sponsor Pengadaan sarana dan prasarana kegiatan Penyebaran undangan Pelaksanaan kegiatan kuliah penyegaran Evaluasi kegiatan Setiap 6 bulan Pemantauan

DAFTAR PUSTAKA

1. 2.

Hassan R, Alatas H. Buku Kuliah 1 Ilmu Kesahatan Anak. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI; 1998. p2534. Handoko R. Penyakit virus. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-3. Jakarta: FKUI; 1999. p107-15.

3.

Anonim. Facts about Chickenpox and Shingles for Adult. Available from: URL: http://www.nfid.org/factsheets/varicellaadult.html .

4.

Gershon. Herpesviruses. 19 November 2003. Available from: URL: http://www.emedicine.com. Anonim. Varicella and Varicella Vaccine. Available from: URL: http://www.cdc.gov-nip-publications-pinkvaricella.rtf.

5.

6.

Anonim. Varicella. Available from: URL: http://www.brown.edu/courses/Bio_160/Projects2000/communityhealth/html .

7. 8.

Satari H. Varisela. Dalam: Ranuh IGN, dkk. Buku Imunisasi IDAI. Jakarta: Satgas Imunisasi IDAI; 2001. p123-6. Cholis M. Reactivation of Latent Varicella Zoster Virus. Medical Journal of Indonesia 1997 Jul- September; 6(3): 149-52.

9.

Anonim. Herpes Zoster, Nyeri Saraf di Usia Senja. Available from: URL: http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2002/05/1/kes01.html .

10.

Eastern J. Herpes Zoster. 18 Oktober 2004. Available from: URL: http://www.emedicine.com/neuro/topic390.htm .

11.

McElveen W. Postherpetic Neuralgia. 11 April 2005. Available from: URL: http://www.emedicine.com/neuro/topic317.htm .