Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN Pembunuhan Anak Sendiri (PAS) adalah merupakan suatu bentuk kejahatan terhadap nyawa yang unik

sifatnya. Unik dalam arti si pelaku pembunuhan haruslah ibu kandungnya sendiri, dan alasan atau motivasi untuk melakukan kejahatan tersebut adalah karena si ibu takut ketahuan bahwa ia telah melahirkan anak; oleh karena anak tersebut umumnya adalah hasil hubungan gelap.1 Pembunuhan anak sendiri (PAS) menurut undang-undang Indonesia adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu atas anaknya pada ketika dilahirkan atau tidak berapa lama setelah dilahirkan, karena takut ketahuan bahwa ia melahirkan anak. Dengan demikian, persyaratan yang harus dipenuhi dalam kasus pembunuhan anak sendiri adalah :1 Pelakunya adalah hanya ibu kandungnya. Waktunya adalah pada saat dilahirkan atau tidak lama kemudian. Sehingga boleh dianggap pada saat belum timbul rasa kasih saying seorang ibu terhadap anaknya. Bila rasa kasih saying sudah timbul maka ibu tersebut akan merawat dan bukan membunuh anaknya. Psikis ibu. Ini karena ibu membunuh anaknya disebabkan terdorong oleh rasa ketakutan akan diketahui orang lain setelah melahirkan, biasanya anak yang dibunuh didapat dari hubungan yang tidak sah. Cara yang paling sering digunakan dalam kasus PAS adalah membuat keadaan asfiksia mekanik yaitu pembekapan, pencekikan, penjeratan dan penyumbatan. Di Jakarta dilaporkan bahwa 90-95% dari sekitar 30-40 kasus PAS per tahun dilakukan dengan cara asfiksia mekanik. Bentuk kekerasan lainnya adalah kekerasan tumpul di kepala (5-10%) dan kekerasan tajam pada leher atau dada (1 kasus dalam 6-7 tahun). Berikut dilaporkan kasus PAS dengan kekerasan multipel.2

BAB II 1

PEMBUNUHAN ANAK SENDIRI 2.1 ASPEK HUKUM Pada tindak pidana Pembunuhan Anak Sendiri, terdapat tiga unsur yang khas, yaitu pelaku adalah ibu kandung dari bayi yang bersangkutan, pembunuhan dilakukan dalam tenggang waktu tertentu dan si ibu dalam keadaan kejiwaan takut akan ketahuan bahwa ia melahirkan anak. Dalam KUHP, pembunuhan anak sendiri tercantum di dalam bab kejahatan terhadap nyawa orang. Kasus-kasus pembunuhan anak sendiri dapat dihubungkan dengan pasal 341, 342 & 343 KUHP sebagai berikut :3 Pasal 341 KUHP Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak, pada saat dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam karena membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Pasal 342 KUHP Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan melahirkan anak, pada saat dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. Pasal 343 KUHP Bagi orang lain yang turut serta melakukan kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 KUHP diartikan sebagai pembunuhan atau pembunuhan berencana. Pasal 181 KUHP Barang siapa mengubur, menyembunyikan, membawa lari atau menghilangkan mayat dengan maksud menyembunyikan kematian atau kelahirannya, diancam dengan pidana penjara selama 9 bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Pasal 305 KUHP

Barang siapa menempatkan anak yang umurnya belum tujuh tahun untuk ditemukan atau meninggalkan anak itu dengan maksud untuk melepaskan diri daripadanya, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun 6 bulan. Pasal 306 KUHP (1) Jika salah satu perbuatan berdasarkan pasal 304 dan 305 itu mengakibatkan lukaluka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama 7 tahun 6 bulan. (2) Jika mengakibatkan kematian, pidana penjara paling lama 9 tahun. Pasal 308 KUHP Jika seorang ibu karena takut akan diketahui orang tentang kelahiran anaknya, tidak lama sesudah melahirkan, menempatkan anaknya untuk ditemukan atau meninggalkannya dengan maksud untuk melepaskan diri dari padanya, maka maksimum pidana tersebut dalam pasal 305 dan 306 dikurangi separuh. 2.2 PROSEDUR MEDIKOLEGAL Yaitu tatacara prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek yang berkaitan dengan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum. Secara garis besar prosedur mediko-legal mengacu kepada peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia, dan pada beberapa bidang juga mengacu kepada sumpah dokter dan etika kedokteran Lingkup Prosedur medikolegal pengadaan visum et repertum tentang pemeriksaan kedokteran terhadap tersangka. pemberian keterangan ahli pada masa sebelum dan pemberian keterangan ahli di dalam persidangan persidangan dan pemberian keterangan ahli di dalam persidangan, kaitan visum et repertum dengan rahasia kedokteran, tentang penerbitan Surat Keterangan Kematian dan Surat Keterangan Medik , tentang fitness / kompetensi pasien untuk menghadapi pemeriksaan penyidik 3

Kewajiban dokter membantu peradilan

Pasal 133 KUHAP (1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun matiyang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.4 (2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. 4 (3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.4 Penjelasan pasal 133 KUHAP : (2) Keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli, sedang keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan.4

Sangsi bagi pelanggar kewajiban dokter Pasal 216 KUHP (1) Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu,atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya,demikian pula yang diberikuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah,menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.4

(2) Yang disamakan dengan pegawai negeri yang tersebut dalam bagian pertama ayat diatas ini ialah semua orang yang menurut peraturan undang-undang selalu atau sementara diwajibkan menjalankan suatu jabatan umum apapun juga.4 (3) Kalau pada waktu melakukan kejahatan itu belum lagi dua tahun sesudah pemidanaan yang dahulu menjadi tetap karena kejahatan yang sama itu juga, maka pidana itu dapat ditambah sepertiganya.4 Pasal 222 KUHP Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalangi-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.4 Pasal 224 KUHP Barang siapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli atau juru bahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang menurut undang-undang ia harus melakukannya :4 1) 2) Pasal 522 KUHP Barang siapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli, atau juru bahasa, tidak datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda paling banyak Sembilan ratus rupiah.4 2.3 VISUM ET REPERTUM Visum et Repertum adalah keterangan yang dibuat dokter atas permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medis terhadap manusia, hidup maupun mati, ataupun bagian/diduga bagian tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah untuk kepentingan peradilan.5 dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan bulan. dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6 bulan.

Visum et Repertum dibuat berdasarkan Undang-Undang yaitu pasal 120, 179 dan 133 KUHAP dan dokter dilindungi dari ancaman membuka rahasia jabatan meskipun Visum et Repertum dibuat dan dibuka tanpa izin pasien, asalkan ada permintaan dari penyidik dan digunakan untuk kepentingan peradilan. Peranan dan fungsi Visum et Repertum adalah sebagai salah satu alat bukti yang sah sebagaimana tertulis dalam pasal 84 KUHAP. Dikenal beberapa jenis Visum et Repertum, yaitu :5 Visum et Repertum Perlukaan atau Keracunan Visum et Repertum Kejahatan Susila Visum et Repertum Jenazah Visum et Repertum Psikiatrik Tiga jenis visum yang pertama adalah Visum et Repertum mengenai tubuh atau raga manusia yang berstatus sebagai korban, sedangkan jenis keempat adalah mengenai mental atau jiwa tersangka atau terdakwa atau saksi lain dari suatu tindak pidana. Pada kasus 2 ini, yaitu pembunuhan anak sendiri (PAS) juga mungkin terkait dengan masalah psikis ibu. Disini diterangkan berkenaa visum et repertum psikiatrik yang perlu dibuat oleh karena adanya pasal 44(1) KUHP yang berbunyi : barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan padanya disebabkan karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya atau terganggu karena penyakit, tidak dipidana. Jadi yang dapat dikenakan pasal ini tidak hanya orang menderita penyakit jiwa (psikosis), tetapi juga orang yang retardasi mental. Apabila penyakit jiwa yang ditemukan, maka harus dibuktikan apakah penyakit itu telah ada sewaktu tindak pidana tersebut dilakukan. Visum et repertum psikiatrik diperuntukkan bagi tersangka atau terdakwa pelaku tindak pidana, bukan bagi korban sebagaimana visum et repertum lainnya. Selain itu, ia menguraikan tentang segi kejiwaan manusia, bukan segi fisik atau raga manusia. Visum et repertum psikiatrik lebih baik hanya dilakukan oleh dokter spesialis psikiatri yang bekerja di rumah sakit jiwa atau rumah sakit umum. 6

Visum et repertum terdiri dari 5 bagian tetap, yaitu:5 1. Pro Justisia. Kata ini diletakkan di bagian atas untuk menjelaskan bahwa visum et repertum dibuat untuk tujuan peradilan. VeR tidak memerlukan materai untuk dapat dijadikan sebagai alat bukti di depan sidang pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum. 2. Pendahuluan. Kata pendahuluan sendiri tidak ditulis dalam VeR, melainkan langsung dituliskan berupa kalimat-kalimat di bawah judul. Bagian ini menerangkan penyidik pemintanya berikut nomor dan tanggal, surat permintaannya, tempat dan waktu pemeriksaan, serta identitas korban yang diperiksa. 3. Pemberitaan. Bagian ini berjudul "Hasil Pemeriksaan", berisi semua keterangan pemeriksaan. Temuan hasil pemeriksaan medik bersifat rahasia dan yang tidak berhubungan dengan perkaranya tidak dituangkan dalam bagian pemberitaan dan dianggap tetap sebagai [[rahasia kedokteran. 4. Kesimpulan. Bagian ini berjudul "kesimpulan" dan berisi pendapat dokter terhadap hasil pemeriksaan. 5. Penutup. Bagian ini tidak berjudul dan berisikan kalimat baku "Demikianlah visum et repertum ini saya buat dengan sesungguhnya berdasarkan keilmuan saya dan dengan mengingat sumpah sesuai dengan kitab undang-undang hukum acara pidana/KUHAP".

2.4 PEMERIKSAAN PADA BAYI Bila bayi lahir mati kemudian dilakukan tindakan membunuh, maka hal ini bukanlah pembunuhan anak sendiri ataupun pembunuhan. Oleh itu, dokter haruslah dapat memeriksa mayat bayi, bila diminta bantuannya oleh penyidik, diharap dapat menjawab pertanyaanpertanyaan seperti : Apakah bayi baru dilahirkan sudah dirawat atau belum dirawat? Apakah bayi sudah mampu hidup terus di luar kandungan ibu (viable) atau belum (non-viable)? 7

Umur bayi dalam kandungan, premature, matur, atau postmatur? Sudah bernapas (lahir hidup) atau belum (lahir mati)? Bila terbukti lahir hidup dan telah dirawat, berapa jam/hari umur bayi tersebut (umur setelah dilahirkan)? Adakah tanda-tanda kekerasan? Bila terbukti lahir hidup, apakah sebab matinya

Tanda-tanda kehidupan pada bayi :6 1. Pernapasan : paru mengembang dan udara dalam lambung atau usus 2. Menangis 3. Pergerakan otot 4. Sirkulasi darah & denyut jantung serta perubahan Hb. 5. Isi usus 6. Keadaan tali pusat. Apabila terdapat kasus pembunuhan anak sendiri (PAS), pertama-tama sekali ditentukan adakah mayat bayi baru lahir itu : 1. Lahir hidup atau lahir mati. Bila bayi lahir mati maka kasus tersebut bukan merupakan kasus pembunuhan, atau penelantaran anak hingga menimbulkan kematian. Lahir mati (still birth) Adalah kematian hasil konsepsi sebelum kehamilan ( baik sebelum ataupun setelah kehammilan berumur 28 minggu dalam kandungan). Kematian ditandai oleh janin yang tidak bernapas atau menunjukkan tanda kehidupan lain, seperti denyut jantung, denyut nadi tali puast atau gerakan otot rangka.1,6 Kemudian dilihat tanda-tanda maserasi (aseptic decomposition) yaitu merupakan proses pembusukan intrauterine, yang berlangsung dari luar ke dalam (berlainan dengan proses pembusukan yang berlangsung dari dalam ke luar). Tanda maserasi baru terlihat setelah 8-10 hari kematian in-uteri. Bila kematian baru terjadi 3 atau 4 hari, hanya terlihat perubahan pada kulit 8

sahaja, berupa vesikel atau bula yang berisi cairan kemerahan. Bila vesikel atau bula memecah akan terlihat kulit berwarna merah kecoklatan. Tanda-tanda lain adalah epidermis berwarna putih dan berkeriput, bau tengik(bukan bau busuk), tubuh mengalami perlunakan sehingga dada terlihat mendatar, sendi lengan dan tungkai lunak, sehingga dapat dilakukan hiperekstensi, otot atau tendon terlepas dari tulang. Pada bayi yang mengalami maserasi, organ-organ tampak basah tetapi tidak berbau busuk. Bila janin telah lama sekali meninggal dalam kandungan, akan terbentuk litopedion.6 Pada bayi lahir mati, dada belum mengembang. Iga masih datar dan diafragma masih setinggi iga ke 3-4. Sering sukar dinilai bila mayat membusuk. Pemeriksaan makroskopik paru. Paru-paru mungkin masih tersembunyi di belakang kandung jantung atau telah megisi rongga dada. Paru-paru berwarna kelabu ungu merata seperti hati, konsistensi padat, tidak teraba derik udara dan pleura yang longgar (slack pleura). Berat paru kira-kira 1/70x berat badan. Uji apung paru. Uji ini harus dilakukan dengan teknik tanpa sentuh (no touch technique), paru-paru tidak disentuh untuk menghindari timbulnya artefak pada sediaan histopatologik jaringan paru. Pengeluaran organ dari lidah sampai paru dilakukan dengan forsep atau pinset bedah dan scalpel, tidak boleh dipegang denga tangan. Setelah semua organ leher dan dada dikeluarkan dari tubuh, lalu dimasukkan ke dalam air dan dilihat apakah mengapung atau tenggelam. Kemudian paru-paru kiri dan kanan dilepaskan dan dimasukkan kembali ke dalam air, dan dilihat apakah menggapung atau tenggelam. Setelah itu tiap lobus dipisahkan dan dimasukkan ke dalam air, dan dilihat apakah menggapung atau tenggelam. 5 potong kecil dari bagian perifer tiap lobus dimasukkan kedalam air, dan diperhatikan apakah menggapung atau tenggelam. Paru bayi baru lahir mati masih dapat mengapung oleh karena kemungkinan adanya gas pembusukan. Hasil negative belum berarti pasti lahir mati karena adanya kemungkinan bayi dilahirkan hidup tapi kemudian berhenti bernapas meskipun jantung masih berdenyut, sehingga udara dalam alveoli diresorpsi. Pada hasil uji negative ini, pemeriksaan histopatologik paru harus dilakukan untuk memastikan bayi lahir mati atau lahir hidup. Hasil uji apung paru positif berarti pasti lahir hidup. Bila sudah jelas terjadi pembusukan, maka uji apung paru tidak dianjurkan untuk dilakukan. Biasanya paru dengan perangai makroskopik lahir mati akan memberikan hasil uji apung paru negatif ( tenggelam). 9

Mikroskopik paru-paru. Setelah paru-paru dilakukan fiksasi

dikeluarkan dengan teknik tanpa sentuh,

dengan larutan formalin. Setelah fiksasi selama 48jam, kemudian dibuat

sediaan histopatologi . Biasanya digunakan perwarnaan HE dan bila membusuk digunakan pewarnaan Gomori atau Ladewig. Tanda khas untuk paru bayi belum bernapas adalah adanya tonjolan (projection), yang berbentuk seperti bantal (cushion like) yang kemudian akan bertambah tinggi dengan dasar menipis sehingga tampak seperti gada (club like). Pada permukaan ujung bebas projection tampak kapiler yang berisi banyak darah. Pada bayi belum bernapas yang sudah membusuk yang diwarnai dengan perwarnaan Gomori atau Ladewig, tampak serabut-serabut retikulin pada permukaan dinding alveoli berkelok-kelok seperti rambut kerinting, sedangkan pada projection berjalan di bawah kapiler sejajar dengan permukaan projection dan membentuk gelung-gelung terbuka (open loops). Mungkin juga ditemukan tanda inhalasi cairan amnion yang luas karena asfiksia intrauterine, mislnya akibat tertekannya tali pusat atau solusio plasenta sehingga terjadi pernapasan janin premature (intrauterine submersion). Tampak sel-sel verniks akibat deskuamasi sel-sel permukaan kulit, berbentuk persegi panjang dengan inti piknotik berbentuk huruf S, bila dilihat dari atas samping terlihat seperti bawang (onion bulb). Lahir mati ditandai pula oleh ditemukannya keadaan yang tidak memungkinkan terjadinya kehidupan, seperti trauma persalinan yang hebat, perdarahan otak yang hebat, dengan atau tanpa robekan tentorium serebelli, pneumonia intrauterine, kelainan congenital yang fatal seperti anensefalus dan sebagainya.1 Lahir hidup (live birth) Adalah keluar atau dikeluarkannya hasil konsepsi yang lengkap, yang setelah pemisahan, bernapas atau menunjukkan tanda kehidupan lain, tanpa mempersoalkan usia gestasi, sudah atau belumnya tali pusat dipotong atau uri dilahirkan.1,6 Pada pemeriksaan dapat ditemukan dada sudah mengembang dan diafragma sudah turun sampai sela iga 4-5. . Pada pemeriksaan makroskopik paru, paru sudah mengisi rongga dada dan menutupi sebagian kandung jantung. Paaru berwarna merah muda tidak merata dengan pleura yang tegang (taut pleura), dan menunjukkan gambaran mozaik karena alveoli sudah terisi udara. Apeks paru kanan paling dulu atau jelas terisi karena halangan paling minimal. Gambaran marmer terjadi akibat pembuluh darah interstisial berisi darah. Konsistensi seperti spons, teraba 10

derik udara. Pada pengirisan paru dalam air terlihat jelas keluarnya gelembung udara dan darah. Berat paru bertambah hingga dua kali atau kira-kira 1/35 x berat badan karena berfungsinya sirkulasi darah jantung-paru.6 Uji apung paru memberikan hasil positif. Pada pemeriksaan mikroskopik paru menunjukkan alveoli paru yang mengembang sempurna dengan atau tanpa emfisema obstruktif, serta tidak terlihat adanya projection. Pada perwarnaan Gomori atau Ladewig, serabut retikulin akan tampak tegang. 2. Menentukan bayi cukup bulan (Matur) atau belum cukup bulan (premature) ataukah viable atau non viable Pada premature dan non viable, kemungkinan bayi tersebut meninggal akibat proses alamiah besar sekali sedangkan kemungkinan mati akibat pembunuhan anak sendiri adalah kecil. Viable Adalah keadaan bayi/janin yang dapat hidup di luar kandungan lepas dari ibunya. Kriteria untuk ini adalah : 6 Umur kehamilan Panjang badan(kepala-tumit) Panjang badan (kepala-tungging) Berat badan Lingkar kepala Tidak ada cacat bawaan yang fatal : > 28 minggu : > 35 cm : > 23 cm : > 1000g : > 32 cm

Kriteria bayi cukup bulan :6 Usia kehamilan Berat badan Panjang badan (kepala-tumit) Panjang badan (kepala-tungging) Lingkar kepala oksipito frontal Diameter dada ( antero-posterior) Diameter perut ( antero-posterior) : 37 42 minggu : 2500 3000 g : 46 50 cm : > 30 cm : 33 34 cm : 8 9 cm : 7 8 cm 11

Lingkar dada Lingkar perut

: 30 33 cm : 28 30 cm

Ciri-ciri eksternal bayi cukup bulan :1 Lanugo sedikit, terdapat pada dahi, punggung dan bahu. Pembentukan tulang rawan telinga telah sempurna ( bila daun telinga dilipat cepat kembali ke keadaan semula). Diameter tonjolan susu 7 mm atau lebih. Kuku-kuku jari telah melewati ujung-ujung jari. Garis-garis telapak kaki dan tangan telah terdapat melebihi 2/3 bagian depan kaki. Testis sudah turun ke dalam skrotum. Labia minora sudah tertutup oelh labia mayora yang telah berkembang sempurna. Kulit berwarna merah muda Lemak bawah kulit cukup merata sehingga kulit tidak menkeriput. Batas tumbuh rambut depan dan belakang sudah terbentuk. Rambut kepala telatif kasar. Alis mata sudah lengkap. Skin opacity cukup tebal. Pusat penulangan pada epifise distal femur dan proksimal tibia sudah terbentuk.

3. Menentukan tanda-tanda bayi sudah atau belum dirawat. Pada bayi yang telah dirawat dapat ditemukan hal-hal sebagai berikut ;1,6 Pakaian. Bayi dipakaikan pakaian atau penutup tubuh. Pada bayi belum dirawat tidak dipakaikan pakaian. Tali pusat. Tali pusat telah terikat, diputuskan dengan gunting atau pisau lebih kurang 5 cm dari pusat bayi dan diberikan obat antiseptic. Bila tali pusat dimasukkan ke dalam air, akan terlihat ujungnya terpotong rata. Pada bayi belum dirawat, tali pusat masih berhubungan dengan plasenta dan ujungnya terpotong tidak rata atau terpotong rata tapi tidak diikat. 12

Verniks kaseosa (lemak bayi) telah dibersihkan dan juga bekas-bekas darah serta lender. Pada bayi yang belum dirawat, masih dapat ditemukan di lipatan kulit; ketiak, belakang telinga, lipat paha dan lipat leher.

4. Menentukan bayi ada kemampuan hidup atau bernapas Bayi dilahirkan dalam keadaan hidup dan bernapas. Untuk mengetahui apakah bayi yang dilahirkan benar-benar hidup, hal ini dapat diketahui melalui pemeriksaan terhadap tiga fungsi utama organ tubuh manusia yaitu respirasi, sirkulasi dan aktivitas otak. Terdapat beberapa pemeriksaan yang harus dilakaukan bagi menentukan bayi sudah bernapas atau tidak Rongga dada yang telah mengembang, pada pemeriksaan didapati diafragma yang letaknya rendah, setinggi iga ke-5 atau ke-6. Pada bayi yang telah bernapas, paru tampak mengembang dan telah mengisi sebagian besar rongga dada. Tertelannya udara (yang menyertai pernapasan) mangakibatkan telinga tengah dan saluran pencernaan mengandung udara. Gambaran makroskopis paru. Paru-paru bayi yang sudah bernapas (sudah teraerasikan) berwarna merah muda tidak homogen tetapi berupa bercak-bercak (mottled) dan menunjukkan gambaran mozaik . Uji apung paru positif yang membuktikan telah terdapatnya udara dalam alveoli paru. Pada pemeriksaan mikroskopik akan tampak jaringan paru dengan alveoli yang telah terbuka dengan dinding alveoli yang tipis 5. Menentukan umur bayi intra dan ekstra uterin Penentuan umur janin/embrio dalam kandungan menggunakan rumor De Haas, adalah untuk 5 bulan pertama, panjang kepala-tumit (cm) = kuadrat umur gestasi (bulan) dan selanjutnya = umur gestasi (bulan) x 5 (lihat table 1). Perkiraan umur janin dapat pula dilakukan dengan melihat pusat penulangan (ossification centers) sebagai berikut (lihat table 2).1

13

Tabel 1 Penentuan Umur Janin6 Umur (bulan) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Panjang badan (kepala-tumit) (cm) 1x1=1 2x2=2 3x3=9 4 x 4 = 16 5 x 5 = 25 6 x 5 = 30 7 x 5 = 35 8 x 5 = 40 9 x 5 = 45

Tabel 2 Penentuan Umur Janin6 Pusat penulangan pada Klavikula Tulang panjang(diafisis) Iskium Pubis Kalkaneus Manubrium sterni Talus Sternum bawah Distal femur Umur (bulan) 1.5 2 3 4 5-6 6 Akhir 7 Akhir 8 Akhir 9/setelah lahir 14

Proksimal tibia Kuboid

Akhir 9/setelah lahir Akhir 9/setelah lahir, bayi perempuan lebih cepat

Pemeriksaan pusat penulangan dapat dilakukan secara radiologis atau saat autopsy dengan cara sebagai berikut:1 Kalkaneus dan kuboid. Lakukan dorsofleksi kaki dan buat insisi mulai dari antara jari kaki ke 3 dan ke 4 ke arah tengah tumit. Dengan cara ini dapat dilihat pusat penulangan pada kalkaneus dan kuboid serta talus. Distal femur dan proksimal tibia. Lakukan fleksi tungkai bawah pda sendi lutut dan buat insisi melintang pada lutut. Patella dilepas dengan memotong ligamentum patella. Buat irisan pada femur dari arah distal ke proksimal sampai terlihat pusat penu langan pada epifisis distal femur (bukan penulangan diafisis). Hal sama dilakukan terhadap ujung proksimal tibia dengan irisan dari proksimal kea rah distal. Pusat penulangan terletak di bagian tengah berbentuk oval berwarna merah dengan diameter 4-6mm.

Penentuan umur bayi ekstra uterin didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi setelah bayi dilahirkan, misalnya :1,6 Udara dalam saluran cerna. Bila hanya terdapat dalam lambung atau duodenum berarti hidup beberapa saat, dalam usus halus berarti telah hidup 1-2 jam, bila dalam usus besar telah hidup 5-6 jam dan bila telah terdapat dalam rectum berarti telah hidup 12 jam. Mekonium dalam kolon. Mekonium akan keluar semua kira-kira dalam waktu 24 jam setelah lahir. Perubahan tali pusat. Setelah bayi keluar akan terjadi proses pengeringan tali pusat baik dilahirkan hidup maupuun mati. Pada tempat lekat akan terbentuk lingkiran merah setelah bayi hidup kira-kira 36 jam. Kemudian tali pusat akan mongering menjadi seperti benang dalam waktu 6-8 hari dan akan terjadi penyembuhan luka yang sempurna bila tidak terjadi infeksi dalam waktu 15 hari. Pada pemeriksaan mikroskopik daerah yang akan melepas akan tampak reaksi inflamasi yang mulai timbul setelah 24 jam berupa sebukan 15

sel-sel leukosit berinti banyak, kemudian akan terlihat granulasi.

sel-sel limfosit dan jaringan

Eritrosit berinti akan hilang dalam 24 jam pertama setelah lahir, namun kadangkala masih dapt ditemukan dalam sinusoid hati. Ginjal. Pada hari 2-4 akan terdapat deposit asam urat yang berwarna jingga berbentuk kipas (fan-shapped), lebih banyak dalam pyramid daripada medulla ginjal. Hal ini akan menghilang setelah hari ke 4 saat metabolism telah terjadi.

Perubahan sirkulasi darah. Setelah bayi lahir, akang terjadi obliterasi arteri dan vena umbilicus dalam waktu 3-4 hari. Duktus venosus akan tertutup setealh 3-4 minggu dan foramen ovale akan tertutup setelah minggu 3- 1 bulan tetapi kadang-kadang tidak menutup walaupun sudah tidak berfungsi lagi. Duktus arteriosus akan tertutp setelah 3 minggu 1 bulan.

6. Menentukan ada atau tidak trauma lahir Trauma lahir dapat menyebabkan timbulnya tanda-tanda kekerasan seperti :1 i. Kaput suksedaneum. Kaput suksadeum dapat memberikan gambaran lamanya persalinan. Makin lama persalinan berlangsung, timbul kaput suksadeum yang makin hebat. Secara makroskopik akan terlihat sebagai edema pada kulit kepala bagian dalam di daaerah presentasi terendah yang berwarna kemerahan. Kaput suksadeum dapat melewati perbatasan antar sutara tulang tengkorak dan tidak terdapat perdarahan dibawah periosteum tulang tengkorak. Mikroskopik terlihat jaringan yang mengalami edema dengan perdarahan disekitar pembuluh darah. ii. Sefalhematom, perdarahan setempat di antara periosteum dan permukaan luar tulang atap tengkorak dan tidak melampaui sutura tulang tengkorak akibat molase yang hebat. Umumnya terdapat pada tulang parietal dan skuama tulang oksipital. Makroskopik terlihat sebagai perdarahan di bawah periosteum terbatas pada satu tulang dan tidak melewati sutura. iii. Fraktur tulang tengkorak. Patah tulang tengkorak jarang terjadi pada trauma lahir, biasanya hanya berupa cekungan tulang saja pada tulang ubun-ubun (celluloid ball fracture). Penggunaan forceps dapat menyebabkan fraktur tulang tengkorak dengan robekan otak. 16

iv.

Perdarah intrakranial yang sering terjadi adalah perdarah subdural akibat laserasi tentorium serebeli dan falks serebri ; robekan vena galena di dekat pertemuannya dengan sinus rektus; robekan sinus sagitalis superior dan sinus transverses dan robekan bridging veins dekat sinus sagitalis superior. Perdarahan ini timbul pada molase yang hebat atau kompresi kepala yang cepat dan mendadak oleh jalan lahir yang belum melemas (pada partus persipitatus).

v. vi.

Perdarahan subaraknoid atau intraventrikular jarang terjadi. Umumnya terjadi pada bayi premature akibat belum sempurna berkembangnya jaringan otak. Perdarahan epidural sangat jarang terjadi karena duramater melakat erat pada tulang tengkorak bayi.

7. Melihat ada atau tidak tanda-tanda kekerasan Diperhatikan tanda pembekapan di sekitar mulut dan hidung, serta memar pada mukosa bibir dan pipi. Tanda pencekikan atau jerat pada leher, memar atau lecet pada tengkuk dan lain-lain. Pada pembedahan jenazah; perhatikan pada leher, adakah tanda-tanda penekanan, resapan darah pada kulit sebelah dalam. Pada bayi, karena jaringan lebih elastic dibandingkan orang dewasa maka tanda-tanda kekerasan lebih jarang terdapat. Perhatikan apakah terdapat benda asing dalam jalan napas. Mulut, apakah terdapat benda asing dan perhatikan palatum mole apakah terdapat robekan.1 8. Memeriksa ada atau tidak barang/benda yang menyertai pada mayat bayi Pemeriksaan ini penting untuk menemukan barang bukti seperti adanya baju/kain yang menyertai pada pembungkus mayat bayi. Mungkin pada serpihan baju/kain tersebut terdapat darah atau cairan yang berasal dari wanita tersangka.1

2.5 PEMERIKSAAN WANITA TERSANGKA Pada wanita yang tersangka dalam kasus pembunuhan anak sendiri dapat dilakukan pemeriksaan seperti :7,8 i. Tanda-tanda kehamilan : Striae gravidarum Linea nigra 17

spider veins eritema palmar

ii.

Tanda-tanda melahirkan : Terdapat sisa plasenta Terdapat luka jalan lahir terutama robekan cervix dan vagina Adanya perdarahan Keadaan umum yang lemas dan pucat Lihat alat-alat kandungan seperti cervix dan uterus serta dilihat juga rectum, kandung kemih, dinding perut dan perineum Sekret vagina (lochia, flour albus)

iii.

Pemeriksaan psikis Pada kasus pembunuhan, harus diingat bahwa ibu berada dalam keadaan panik sehingga

ia akan melakukan tindakan kekerasan yang berlebihan walaupun sebenarnya bayi tersebut berada dalam keadaan tidak berdaya dan lemah sekali. Mungkin juga si ibu mengalami kelainan psikologik pada kehamilan dan nifas seperti depresi, mudah marah, rasa takut, personality disorders dan lain-lain.

2.6 PEMERIKSAAN PEMBUKTIAN Pemeriksaan pembuktian adalah sangat penting dalam kasus pembunuhan anak sendiri. Ini karena untuk mengetahui apakah ada hubungan antara mayat bayi dengan wanita yang tersangka. Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah :9 18

1. Identifikasi DNA Prinsipnya ada bagian DNA manusia yang bersifat individual spesifik dimana dalam kromosom umumnya berkumpul pada daerah telomere. DNA yang biasa digunakan dalam tes ada dua yaitu DNA mitokondria dan DNA inti sel. Perbedaan kedua DNA ini hanyalah terletak pada lokasi DNA tersebut berada dalam sel, yang satu dalam inti sel sehingga disebut DNA inti sel, sedangkan yang satu terdapat di mitokondria dan disebut DNA mitokondria. Di dalam kasus PAS ini, tes DNA yang dapat dilakukan adalah tes maternitas dengan memeriksa DNA mitokondria (mt-DNA). Hal ini adalah karena di dalam sel janin, mt-DNA anak hanya berasal dari mt-DNA ibunya saja. Semua anak dari ibu yang sama, mt-DNAnya sama dengan milik ibunya. Tes maternitas adalah tes DNA untuk menentukan apakah seorang wanita adalah ibu biologis dari seorang anak. Seperti pada tes paternitas, tes ini membandingkan pola DNA anak dengan terduga ibu untuk menentukan kecocokan DNA anak yang diwariskan dari terduga ibu. Pada identifikasi DNA ini, mempunyai ketepatan pemeriksaan sangat tinggi (lebih dari 99,99%) dan relatif cepat serta mudah.9 2. Pemeriksaan serologi Pemeriksaan serologik betujuan untuk menentukan golongan darah .Penentuan golongan darah pada jenazah yang telah membusuk dapat dilakukan dengan memeriksa rambut, kuku dan tulang.9 3. Pemeriksaan histopatologi Pada kasus pembunuhan anak, pemeriksaan ini penting untuk menentukan usia janin dengan melakukan pemeriksaan histopatologi paru janin.9 Interpretasi temuan pada mayat bayi

19

Penyebab kematian tersering pada pembunuhan anak sendiri adalah mati lemas (asfiksia). Kematian dapat pula diakibatkan oleh proses persalinan (trauma lahir); kecelakaan (misalnya bayi terjatuh, partus precipitatus); pembunuhan atau alamiah (penyakit). Cara yang tersering dilakukan adalah yang menimbulkan asfiksia dengan jalan pembekapan, penyumbatan jalan napas, penjeratan, pencekikan dan penenggelaman. Kadangkadang bayi dimasukkan ke dalam lemari, kopor dan sebagainya. Pembunuhan dengan melakukan kekerasan tumpul pada kepala jarang dijumpai. Bila digunakan cara ini, biasanya dilakukan dengan berulang-ulang, meliputi daerah yang luas hingga menyebabkan patah atau retak tulang tengkorak dan memar jaringan orak. Sebaliknya pada trauma lahir, biasanya hanya dijumpai kelainan yang terbatas, jarang sekali ditemukan fraktur tulang tengkorak dan memar jaringan otak. Pembunuhan dengan senjata tajam jarang ditemukan. Pembunuhan dengan jalan membakar, menyiramkan cairan panas, memberikan racun dan memuntir kepala sangat jarang terjadi.

Interpretasi temuan pada wanita tersangka Pada pemeriksaan wanita tersangka, jika dapat ditemukan seperti tanda-tanda kehamilan dan tanda-tanda melahirkan dalam waktu terdekat dengan dijumpai mayat bayi dapat diduga wanita tersebut adalah ibu kepada mayat bayi yang dijumpai. Selain itu, dilihat juga psikis si ibu sewaktu pemeriksaan. Mungkin emosi ibu tidak terkawal atau mengalami baby blue sindrom.

2.7 KESIMPULAN Bunuh bayi adalah merupakan suatu bentuk kejahatan terhadap nyawa yang unik sifatnya. Unik dalam arti si pelaku pembunuhan haruslah ibu kandungnya sendiri, dan alasan atau motifasi untuk melakukannya kejahatan tersebut adalah karena si ibu takut ketahuan bahwa ia telah melahirkan anak, oleh karena anak tersebut adalah anak sebagai hasil hubungan gelap. Selain kedua hal tadi, keunikan lainnya adalah saat dilakukannya tindakan untuk menghilangkan nyawa si anak, yaitu pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, yang dalam hal ini patokannya adalah sudah ada atau belum ada tanda-tanda perawatan, dibersihkan, 20

dipotong tali pusatnya, atau diberi pakaian. Saat dilakukannya kejahatan tersebut dikaitkan dengan keadaan mental emosional dari si ibu, selain rasa malu, takut, benci, serta nyeri bercampur aduk menjadi satu, sehingga perbuatannya itu dianggap dilakukan tidak dalam keadaan mental yang tenang, sadar, serta dengan perhitungan matang. Inilah yang menjelaskan mengapa ancaman hukuman pada kasus pembunuhan bayi lebih ringan bila dibandingkan dengan kasus pembunuhan lainnya. Berdasarkan pemeriksaan pada mayat bayi dan wanita tersangka, dapat diketahui ada atau tidak hubungan antara mayat bayi dengan si ibu. Selain itu, dapat diketahui penyebab kematian, mekanisme kematian dan cara kematian. Penyebab pembunuhan anak paling sering adalah akibat pencekikan dan mekanisme kematian adalah asfiksia. Oleh itu, dokter haruslah melakukan pemeriksaan apabila diminta penyidik dan sekaligus dapat menemukan tersangka.

21

BAB III PENUTUP Dalam suatu tindak pidana yang menimbulkan korban, dalam hal ini korban meninggal, dokter diharapkan dapat menjelaskan penyebab kematian yang bersangkutan, bagaimana mekanisme terjadinya kematian, serta membantu dalam perkiraan saat kematian dan cara kematian. Pada kasus bunuh bayi, jaksa harus membuktikan bahwa bayi dilahirkan dalam keadaan hidup dan kematian bayi itu adalah akibat tindakan criminal berupa kekerasan terhadap bayi tersebut. Telah lama sekali diketahui, bahwa seorang bayi yang bayi lahir mudah sekali menjadi korban tindakan criminal . Dalam hal ini, maka dokter harus memeriksa mayat bayi dan ibu (tersangka) untuk mencari bukti berupa tanda-tanda baru melahirkan.

22

DAFTAR PUSTAKA 1. Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian kedokteran forensik. Edisi ke - 1. Cetakan ke 2. Jakarta: FKUI; 1997.h.165-76. 2. Surya D, dkk. Pembunuhan anak sendiri (PAS) dengan kekerasan multipel. Majalah Indonesia. Volume 58 nomor 9. September 2008. 3. Pembunuhan anak sendiri dan penelantaran anak. Dalam: Peraturan perundang-undangan bidang kedokteran. Cetakan ke 2. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 1994.h.40. 4. Prosedur medikolegal. Dalam: Peraturan perundang-undangan bidang kedokteran. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 1994.h.11-6. 5. Visum et Repertum. Dalam: Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Cetakan ke 2. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 1997.h. 5-16. 6. Hoediyanto H. Pembunuhan anak (infanticide). Bagian ilmu kedokteran forensik FK UNAIR. 17 Agustus 2008. Diunduh dari www.fk.uwks.ac.id. 09 Januari 2009.
7. Hadijanto B. Aspek psikologik pada kehamilan, persalinan, dan nifas. Dalam: Ilmu

Kebidanan. Edisi ke 4. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo;2009.h.85865. 8. Hanafiah T M. Diagnosis kehamilan. Dalam: Ilmu Kebidanan. Edisi ke 4. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawi Rohardjo; 2009.h.213-20.

9. Pemeriksaan Pembuktian. Diunduh dari www.medikastore.com. 18 Maret 2010.

23

24