Anda di halaman 1dari 38

Gangguan pendengaran tipe konduktif

Gangguan pendengaran konduktif terjadi ketika hantaran suara melalui telinga luar dan/telinga tengah mengalami gangguan yang diantaranya disebabkan oleh :
1. 2. 3. 4. 5. 6.

Adanya serumen/ kotoran telinga Gendang telinga yang mengalami perforasi (bolong) akibat penggunaan cotton bud atau benda lainnya Infeksi telinga tengah yang menimbulkan ada cairan Diperkirakan 10 % dari kasus gangguan pendengaran yang terjadi merupakan gangguan pendengaran tipe Konduktif Dimana biasanya dapat mengakibatkan penurunan pendengaran derajat ringan sampai dengan sedang Gangguan pendengaran tipe konduktif seringkali dapat ditangani secara medis, bahkan banyak ditemukan pendengaran dapat kembali normal.

Pada kasus gangguan pendengaran tipe konduktif, volume suara yang didengar berkurang. Gejala-gejala gangguan pendengaran tipe konduktif adalah sebagai berikut :
1.

2. 3. 4. 5. 6. 7.

Suka menaikan volume (diatas volume rata-rata orag dengan pendengaran normal) pada saat menonton TV ataupun mendengarkan radio. Meminta lawan bicara untuk mengulang percakapan. Merasa mendengar lebih baik di salah satu telinga. Sulit mendengar percakapan melalui telepon. Menganggap orang lain berbicara tidak jelas atau bergumam. Tidak jelas mendengar suara percakapan. Sulit mendengar ditempat bising

Pada kasus gangguan pendengaran tipe konduktif, ketika volume suara dinaikkan pada tingkat yang dibutuhkan, biasanya suara (percakapan) akan langsung terdengar lebih jelas dan sekaligus dapat dipahami. Jadi jika seseorang yang mengalami gangguan pendengaran tipe konduktif sedang menonton TV kemudian ia menaikan volume TV tersebut maka pada umumnya orang tersebut dapat mendengar secara jelas. Ada beberapa gejala yang timbul pada gangguan pendengaran konduktif seperti Merasakan sakit pada telinga, Keluar cairan dari telinga, Telinga merasa tersumbat tergantung dari penyebabnya. ada kasus gangguan pendengaran tipe sensori neural, volume suara yang didengar juga berkurang dan hal tersebut menyebabkan bunyi maupun suara percakapan tidak dapat ditangkap dengan jelas.

Orang yang mengalami gangguan pendengaran tipe sensori neural kadang-kadang suka mengatakan bahwasanya mereka dapat mendengar orang berbicara tapi tidak dapat memahami seluruh kata-kata yang didengar. Syukurnya, saat ini banyak teknik penanganan gangguan pendengaran yang baru dan lebih efektif dibanding sebelumnya, untuk membantu orang yang mengalami gangguan pendengaran untuk mendengar lebih baik sehingga lebih produktif dalam mengisi kehidupan. Tinitus, dikenal sebagai bunyi mendenging yang berasal dari dalam telinga, seringkali terkait dengan adanya gangguan pendengaran. Tinitus juga didefinisikan sebagai bunyi denging ataupun bunyi bising lainnya yang terdengar dari dalam telinga ataupun kepala pada saat tidak ada suara dari luar. Tinitus dianggap bukan merupakan penyakit, namun sebuah gejala yang melatarbelakangi kondisi-kondisi yang terjadi pada telinga, syaraf pendengaran ataupun pada lokasi lainnya. Tinitus dapat dikategorikan ringan atau berat, jarang atau kronis. Penanganan suatu gangguan pendengaran,apakah itu dengan tindakan medis ataupun dengan pemakaian alat bantu dengar dapat mengurangi tinnitus. Saat ini Penanganan tinnitus yang baru dan efektif juga telah tersedia. Oleh karena itu sebuah pemeriksaan pendengaran yang menyeluruh adalah suatu langkah pertama yang penting dilakukan untuk menilai tingkat permasalahan dan penanganan tinitus.

Pendengaran diperlakukan didasarkan pada penyebab gangguan pendengaran. Biasanya orang-orang dengan gangguan pendengaran konduktif manfaat dari terapi dan mungkin diresepkan alat bantu. Namun, orang-orang dengan gangguan pendengaran sensorineural mungkin memiliki kondisi yang lebih permanen yang tidak diobati. Hal ini karena pada pasien tersebut saraf dan sel-sel rambut yang sensitif di koklea rusak dan ini tidak dapat diperbaiki dan ini tetap rusak seumur hidup seseorang. Namun, ada metode untuk berurusan dengan pendengaran yang dapat meningkatkan kualitas hidup. (1-5)

Perawatan rontok pendengaran


Perawatan pendengaran termasuk: Penghapusan lilin atau benda asing yang mengarah ke pendengaran konduktif Infeksi akut atau panjang istilah telinga tengah juga dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Ini harus diperlakukan dengan antibiotik yang sesuai. Telinga drum perforasi setelah infeksi atau cedera dapat diperbaiki dengan operasi yang disebut tympanoplasty. Sebuah lipatan jaringan diambil dan membran diperbaiki untuk memulihkan pendengaran.

Alat bantu dengar

Ini adalah perangkat yang berfungsi untuk meningkatkan volume suara yang memasuki telinga dan membantu orang untuk mendengar lebih jelas. Ini termasuk bagian seperti mikrofon, penguat, loudspeaker dan baterai. Alat bantu dengar sebelumnya yang besar dan sering terlihat. Hari ini bantuan sangat kecil dan tidak kentara dan dapat dipakai di dalam telinga. Bantuan bekerja hanya dengan mikrofon mengambil suara, dan penguat meningkatkan volume. Ini dapat juga membedakan kebisingan latar belakang dan percakapan dan selektif membantu mendengar percakapan. Alat bantu dengar (BTE) di belakang telinga tersedia hari ini yang duduk dalam telinga dan memiliki sebuah ramuan yang terjadi di belakang telinga. Ini mungkin memiliki dua mikrofon yang membantu pasien untuk mendengarkan suara di sekitar umum atau untuk fokus pada percakapan atau suara dari arah tertentu. Jenis lain adalah alat bantu dengar di-the-telinga (ITE) dan benar-benar di-the-kanal (CIC) alat bantu. Alat bantu juga mungkin tubuh-dikenakan (BW) alat bantu dengar dengan sebuah kotak kecil yang mengandung mikrofon dijepit ke pakaian atau ditempatkan dalam saku. Ini dapat digunakan dengan manfaat terbaik ringan hingga sedang pendengaran dan tidak berguna mendalam dan sensorineural tuli. Beberapa alat bantu berguna dalam tulang konduksi cacat. Ini bergetar dalam menanggapi suara yang terjadi ke dalam mikrofon. Berbagai lain adalah tulang berlabuh mendengar bantuan disebut tulang berlabuh alat bantu (BAHA). Berbagai lain adalah CROS alat bantu yang berguna dalam orang-orang yang hanya memiliki pendengaran dalam satu telinga. Bantuan mengambil suara ke telinga buruk dan mengirimkan ke telinga yang baik. BiCROS alat bantu dapat digunakan juga pada orang-orang yang belum mendengar di satu telinga dan terbatas mendengar di telinga. Beberapa orang juga dapat menggunakan sekali pakai alat bantu.

Perawatan lain untuk pendengaran


Beberapa pasien mungkin perlu telinga tengah implan juga. Ini dimasukkan dalam telinga dengan bantuan sebuah prosedur bedah pendek. Ini membantu ossicles untuk melakukan suara dalam telinga. Implan koklea-ini adalah batin telinga bionik yang dapat ditempatkan dalam telinga dengan operasi. Ini dapat digunakan pada pasien dengan gangguan pendengaran sensorineural di kedua telinga.

Pasien dengan moderat untuk mendalam pendengaran perlu belajar bahasa isyarat atau bibir membaca. Ini termasuk Inggris bahasa isyarat (BSL) atau menandatangani Inggris dan Paget Gorman menandatangani pidato.

Metode untuk mengatasi gangguan pendengaran


Pasien dengan gangguan pendengaran mungkin mengadopsi tips sederhana untuk mengatasi. Ini termasuk: Pasien perlu sendiri tentang gangguan pendengaran mereka bahwa pembicara berbicara lebih keras dan lebih jelas Jangan resor untuk bentuk pendek dan berbisik Melihat bibir speaker ketika mereka berbicara membantu Percakapan dapat diadakan di tempat-tempat yang tenang untuk mudah understandability Keluarga dan teman dukungan untuk pasien dengan gangguan pendengaran sangat penting untuk mengatasi dengan pendengaran

Pencegahan pendengaran
Pencegahan pendengaran melibatkan mengurangi risiko. Ini termasuk: Infeksi telinga harus diperlakukan di masa kanak-kanak sehingga mereka tidak mengarah ke jangka panjang pendengaran Telinga lilin akumulasi harus dicegah Tidak ada yang harus dimasukkan ke dalam telinga kanal. Ini termasuk mainan, tunas kapas, kapas dan jaringan. Suara keras dari sistem musik, lingkungan kerja dapat merusak pendengaran. Ini harus dihindari atau telinga khusus perlindungan peralatan harus diadopsi. Karena infeksi virus tertentu dapat menyebabkan gangguan pendengaran semua anak perlu vaksinasi terhadap infeksi campak, rubella, dan gondok

A.Konsep dasar medis

a.Pengertian

Tuli Konduktif atau Conductive Hearing Loss (CHL) adalah jenis ketulian yang tidak dapat mendengar suara berfrekuensi rendah. Misalnya tidak dapat mendengar huruf U dari kata susu sehingga penderita mendengarnya ss. Biasanya gangguan ini reversible karena kelainannya terdapat di telinga luar dan telinga tengah. (Purnawan Junadi,dkk. 1997, hal. 238)

b.Etiologi

1.Kelainan bawaan (Kongenital) Atresia liang telinga, hipoplasia telinga tengah, kelainan posisi tulang-tulang pendengaran dan otosklerosis. Penyakit otosklerosis banyak ditemukan pada bangsa kulit putih

2.Gangguan pendengaran yang didapat, misl otitis media

c.Patofisiologi

Saat terjadi trauma akan menimbulkan suatu peradangan bias saja menimbulkan luka, nyeri kemudian terjadi penumpukan serumen atau otorrhea. Penumpukan serumen yang terjadi dapat mengakibatkan transmisi bunyi atau suara yang terganggu sehingga penderita tidak dapat mempersepsikan bunyi atau suara yang di dengarnya.

d.Manisfestasi Klinik

-rasa penuh pada telinga -pembengkakan pada telinga bagian tengah dan luar -rasa gatal -trauma -tinnitus

e.Penatalaksanaan

Liang telinga di bersihkan secara teratur. dapat diberikan larutan asam asetat 2-5 % dalam alcohol yang di teteskan ke liang teling atau salep anti jamur. Tes suara bisikan, Tes garputala

f.pemeriksaan diagnostic

-ray

B.Konsep dasar keperawatan

a.Pengkajian ainan nyeri, infeksi saluran nafas atas yang berulang, riwayat infeksi

b.Diagnosa Keperawatan

1.Nyeri berhubungan dengan proses peradangan 2.Gangguan sensori / presepsi berhubungan dengan kerusakan pada telinga tengah 3.Intoleransi aktifitas berhubungan dengan nyeri 4.Isolasi sosial berhubungan dengan nyeri, otore 5.Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan 6.Ansietas berhubungan dengan prosedur perubahan status kesehatan dan pengobatan

c.Intervensi Keperawatan

1.Nyeri berhubungan dengan proses peradangan Tujuan : Pasien mengambarkan nyeri dalam keadan minimal atau tidak ada nyeri

1.kaji nyeri, lokasi,karasteristik, mulai timbul, frekuensi dan intensitas, gunakan tingkat ukuran nyeri R/ : untuk mengukur tingkat/kualitas nyeri guna intervensi selanjutnya 2.ajarkan dan bantu dengan alternative teknik pengurangan nyeri (misalnya imajinasi, musik, relaksasi) R/ : pengalihan perhatian dapat mengurangi nyeri 3.ubah posisi setiap 2 sampai 4 jam R/ : posisi yang nyaman dapat membantu mengurangi tingkat nyeri. 4.berikan analgesik jika dipesankan R/ : analgesic dapat mengurangi nyeri.

2.Gangguan sensori / persepsi berhubungan dengan kerusakan pada telinga tengah Tujuan : Klien memperlihatkan persepsi pendengaran yang baik

1.Kaji tingkat gangguan persepsi pendengaran klien R/ : untuk mengukur tingkat pendengaran pasien guna intervensi selanjutnya 2.Berbicara pada bagian sisi telinga yang baik R/ : berbicara pada bagian sisi telinga yang baik dapat membatu klien dalam proses komunikasi 3.Bersihkan bagian telinga yang kotor R/ : telinga yang bersih dapat membantu dalam proses pendengaran yang baik 4.Kolaborasi dengan dokter dengan tindakan pembedahan R/: tindakan pembedahan dapat membatu klien memperoleh pendengaran yang baik

3.Intoleransi aktifitas berhubungan dengan nyeri Tujuan : klien dapat melakukan aktivitas dengan baik

1.Kaji tingkat intoleransi klien R/ : Untuk mengetahui tingkat aktivitas klien guna intervensi selanjutnya 2.Bantu klien untuk melakukan aktifitas sehari-hari R/ : Bantuan terhadap aktifitas klien dapat mempermudah pemenuhan kebutuhan klien 3.Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas yang ringan R/ : Aktivitas yang ringan dapat membantu mengurangi energy yang keluar 4.Libatkan keluarga untuk proses perawatan dan aktivitas klien R/ : Keluarga memiliki peranan penting dalam aktifitas sehari-hari klien selama perawatan 5.Ajurkan klien untuk istirahat yang cukup R/ : Istirahat yang cukup dapat mebantu meminimalkan pengeluaran energy.

4.Isolasi sosial berhubungan dengan nyeri, otorrhea. Tujuan : pola koping klien adekuat

1.Kaji tingkat koping klien terhadap penyakit yang dialaminya R/ : Untuk mengetahui tingkat koping pasien terhadap penyakitnya guna intervensi selanjutnya. 2.Kaji tingkat pola koping keluarga terhadap penyakit yang dialami klien R/ : Pola koping keluarga mempengaruhi koping pasien terhadap penykitnya 3.Berikan informasi yang adekuat mengenai penyakit yang dialami klien. R/ : Informasi adekuat dapat memperbaiki koping pasien terhadap penyakitnya

4.Berikan motivasi kepada klien dalam menghadapi penyakitnya R/ : Motivasi dapat membantu pasien dalam menghadapi penyakitnya dan menjalani pengobatan sehingga klien tidak merasa sendirian. 5.Anjurkan keluarga untuk selalu memotivasi klien. R/ : Motivasi dari keluarga sangat membantu proses koping pasien.

5.Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan Tujuan : klien dapat mengerti mengenai penyakitnya.

1.Kaji tingkat pendidikan klien R/ : Untuk mengetahui tingkat pendidikan klien guna intervensi selanjutnya 2.Kaji tingkat pengetahuan klien tentang prognosis penyakitnya R/ : untuk mengukur sejauh mana klien mengetahui tentang penyakitnya 3.Berikan informasi yang lengkap mengenai penyakit klien. R/ : informasi yang lengkap dapat menambah pengetahuan klien sekaligus mengurangi tingkat kecemasa 4.Berikan informasi yang akurat jika klien membutuhkan informasi tentang penyakitnya. R/ : pemberian informasi yang akurat dapat menambah informasi tentang penyakit yang dialami klien

6. Ansietas berhubungan dengan prosedur perubahan status kesehatan dan pengobatan tujuan : klien memperlihatkan ekspresi wajah yang ceria.

1.kaji tingkat ansietas klien terhadap penyakitnya R/ : untuk mengukur tingakt kecemasan klien terhadap penyakitnya guna implementasi selanjutnya. 2.Kaji tingkat pengetahuan klien tentang penyakitnya R/ : sebagai tolak ukur untuk memberikan informasi selanjutnya mengenai penyakit yang di alaminya. 3.Berikan informasi klien tentang penyakitnya.

R/: Informasi yang adekuat dapat mengurangi kecemassan klien terhadap penyakitnya 4.Berikan dorongan pada klien dalam menghadapi penyakitnya. R/: Dorongan yang adekuat dapat menurunkan tingkat kecemasan klien sekaligus memberikan perhatian kepada klien. 5.Libatkan keluarga klien dalam proses pengobatan R/: Keluarga klien memiliki peranan penting dalam proses penyembuhan dan menurunkan tingkat kecemasan klien.

d.Implementasi Implementasi dilaksanakan sesuai dengan intervensi yang telah dibuat dengan menyesuaikan terhadap kondisi klien.

E.Evaluasi 1.Pasien mengambarkan nyeri dalam keadan minimal atau tidak ada nyeri 2.Klien memperlihatkan persepsi pendengaran yang baik 3.Klien dapat melakukan aktivitas dengan baik 4.Pola koping klien adekuat 5.Klien dapat mengeti dengan penyakitnya 6.klien memperlihatkan ekspresi wajah yang ceria.

KETULIAN PENDAHULUAN Yang dimaksud "ketulian" disini adalah sama dengan "kurang pendengaran", yang dalam buku-buku ditulis deafness atau hearing loss. Di dalam buku pedoman praktis penyelenggaraan sekolah luar biasa Departemen P dan K, kata "tuli" menggambarkan adanya kekurangan pendengaran 70 db atau lebih pada telinga yang terbaik. Dalam tulisan ini antara kata-kata "ketulian", "kurang pendengaran" dan "tuli" mempunyai arti yang hampir sama.

Untuk mengetahui jenis ketulian diperlukan pemeriksaan pendengaran. Dapat dari cara yang paling sederhana sampai dengan memakai alat elektro-akustik yang disebut audiometer. Dengan menggunakan audiometer ini jenis ketulian dengan mudah dapat ditentukan. PENYEBAB KETULIAN Banyak sekali penyebab ketulian, tergantung bagaimana tolak ukur kita dalam memahami penyebab ketulian tersebut, berikut ini ada beberapa klasifikasi penyebab ketulian berdasarkan beberapa tolak ukur. Berdasarkan kelainan patologi, ketulian dapat disebabkan oleh karena : kelainan kongenital. trauma. benda asing. radang. neoplasma (tumor). Semua kelainan patologi tersebut dapat menimbulkan ketulian, terutama bila prosesnya di telinga. Berdasarkan lokalisasi proses kelainan. Sesuai dengan anatomi telinga, sehingga proses kelainannya dapat terjadi di : telinga luar. telinga tengah. telinga dalam. syaraf telinga. batang otak. otak. Berdasarkan jenis ketulian. Tuli penghantaran atau tuli konduksi, bila proses kelainannya berada di telinga luar ataupun di telinga tengah, yang pada umumnya dapat dikoreksi baik dengan obat-obatan dan alat dengar maupun secara operasi. Tuli syaraf (sensorineural), bila proses kelainannya di telinga dalam atau di syarafnya, karena pada umumnya irreversible.

Tuli campuran, yaitu campuran antara tuli penghantaran dan tuli penghantaran dan tuli syaraf. Tuli sentral, bila proses kelainnya terdapat di batang otak atau di otaknya sendiri. Berdasarkan derajat ketuliannya atau kehidupan sosial. Tuli (sama sekali tidak dapat mendengar). Kekurangan pendengaran, yang dapat dibedakan atas : ringan sedang berat Kekurangan pendengaran ringan : Penderita akan mendapat kesukaran didalam komunikasi jarak jauh, sehingga mempunyai handikap di dalam forum pertemuan. Misalnya : pertemuan sosial ataupun pertemuan ilmiah. Klinis penderita sukar diajak bercakap-cakap pada jarak kurang lebih tiga meter Pada pemeriksaan audiometri nada murni, pada frekuensi percakapan turun 15 dB sampai 30 dB. Kekurangan pendengaran sedang : Selain penderita mendapat kesukaran di dalam komunikasi jarak jauh, juga pada jarak dekat. Jadi penderita tidak dapat mengikuti percakapan sehari-hari. Klinis percakapan pada jarak satu meter sudah mendapat kesukaran untuk mengerti arti kata. Pada pemeriksaan audiometri nada murni pada frekuensi percakapan turun sampai 30 dB sampai 60 dB. Kekurangan pendengaran berat : Biasanya penderita sudah tidak dapat diajak berkomunikasi dengan suara biasa, sehingga untuk dapat menangkap arti kata-kata, suara perlu dikeraskan (menaikkan amplitudo) yaitu dengan berteriak atau dengan megafon amplifier. Pada pemeriksaan audiometri nada murni, penurunannya mencapai 60 dB atau lebih. Selain daripada itu, ada pula yang membagi kekurangan pendengaran atas empat kategori ringan : 15 dB - 30 dB. sedang : 30 dB - 50 dB. berat : 50 dB - 80 dB. berat sekali : 80 dB - 100 dB. Berdasarkan waktu terjadinya tuli, dapat dibedakan atas : Kongenital (tuli sejak lahir) Herediter (penyakit turunan) Aplasia (agenesis)

Abiotrofi. Penyimpangan kromosom (Chromosomal aberation) Prenatal (infra uterin) masa kehamilan. Keracunan. Infeksi virus. Penyakit menahun pada ibu. Perinatal (waktu lahir). Trauma/persalinan sukar atau lama. Anoksia. Prematur. Narkose yang dalam. Tuli yang didapat ("acquired hearing loss"). kekurangan pendengaran tipe penghantaran. kekurangan pendengaran tipe sensori neural Untuk memahami tentang gangguan telinga berupa ketulian, maka sangatlah penting untuk mengetahui anatomi dan fisiologi normal telinga, sebab dengan mengetahui anatomi normal telinga maka kita dapat mengetahui gangguan ketulian ini dapat berupa tuli konduksi, atau tuli sensoneural atau tuli campuran. Tuli konduktif Tuli konduktif, disebabkan oleh kelainan yang terdapat di telinga luar atau telinga tengah. Tuli konduktif berhubungan dengan ganguan penghantaran suara ke telinga dalam. Padahal untuk mendengar suatu bunyi, maka suara tersebut harus diteruskan ketelinga dalam yang kemudian akan diubah menjadi sinyal listrik untuk di interpretasikan ke pusat pendengaran di otak. Jika terjadi gangguan dalam hantaran suara baik pada telinga luar maupun telinga tengah sehingga tidak dapat mendengar suara berfrekuensi rendah, maka merupakan tuli konduktif. Penyebab tuli konduksi Ganguan yang menyebabkan tuli konduktif berarti berbagai gangguan yang menyebabkan terhambatnya konduksi suara ke telinga tengah, Jadi jika ada berbagai gangguan pada telinga luar maupun telinga tengah sehingga menyebabkan gangguan hantaran suara, maka ini termasuk tuli konduktif.

Umumnya, gangguan pendengaran konduktif tidak menyebabkan ketidakmampuan total untuk mendengar, tetapi menyebabkan hilangnya kenyaringan dan kehilangan kejelasan. Dengan kata lain, suara didengar, tapi suara tersebut lemah, teredam, dan terdistorsi. Berbagai gangguan yang menyebabkan tuli konduktif adalah : Gangguan pada telinga luar, yaitu mulai dari daun telinga, liang telinga, ataupun sampai pada membran Tymphani. Microtia dan atresia liang telinga Mikrotia merupakan suatu dimana daun telinga bentuknya lebih kecil dan tak sempurna, sedangkan atresia liang telinga berarti suatu keadaan dimana tidak terbentuknya liang telinga. keadaan ini umumnya di dapat sejak lahir yang merupakan kelainan embriologi dan sering terjadi pada salah satu telinga, namun dapat juga terjadi pada kedua telinga. Jika terjadi pada kedua telinga, maka kemungkinan adanya syndroma kranio-facial Penyebab keadaan ini belum di ketahui secara pasti, di duga ada hubungannya dengan faktor genetik, infeksi virus, intoksikasi bahan kimia dan obat teratogenik untuk menggugurkan kandungan Kedua keadaan ini dapat menyebabkan tuli konduktif karena : Pada Bentuk daun telinga yang kecil walaupun tidak sepenuhnya menyebabkan ketulian namun berdampak pada sedikitnya frekuensi dan kekuatan suara yang masuk ke telinga dalam, karena fungsi daun telinga adalah untuk mengumpulkan suara dari dunia luar untuk di bawa ke telinga tengah, Jadi jika suara sedikit di kumpulkan maka akan menyebabkan gangguan pendengaran. Tidak semua mikrotia menyebabkan gangguan tuli konduktif, keadaan ini dapat menyebabkan tuli konduktif jika di sertai atresia liang telinga. Atresia liang telinga (tidak ada liang telinga) akan menyebabkan tidak bisanya suara atau bunyi sampai pada telinga tengah, sehingga otomatis tidak ada suara yang masuk ketelinga tengah. Adanya cairan (sekret, air) ataupun benda asing pada liang telinga Adanya benda asing pada liang telinga, baik berupa cairan, biji-bijian ataupun seranggga dapat menggangu konduksi atau hantaran suara. Benda asing pada liang telinga dapat berupa benda mati ataupun benda hidup misalnya serangga. Untuk mengatasi masalah ini, sebaiknya untuk serangga atau benda yang hidup dimatikan dahulu baru kemudian di keluarkan dari liang telinga. Gangguan pendengaran bisa terjadi akibat sumbatan langsung pada liang telinga ataupun karena penderita mencoba membersihkan sehingga resiko terdorong ke bagian tulang kanalis, terjadi laserasi kulit dan membran timpani sehingga terjadi nyeri dan penurunan pendengaran

Selain keluhan berupa gangguan tuli konduktif, dapat juga merasa tidak enak ditelinga, rasa nyeri telinga / otalgia, sekret bisa bercampur darah, keadaan sakit kepala, pada keadaan lanjut meningitis Polip telinga Polip telinga adalah pertumbuhan massa lunak di saluran (eksternal) telinga luar. Ini dapat menempel pada gendang telinga (membran timpani), atau mungkin tumbuh dari ruang telinga tengah. Polip telinga biasanya terbentuk dari iritasi kronis pada kulit saluran telinga atau gendang telinga, iritasi kronis ini paling sering disebabkan oleh infeksi ( otitis externs kronis), ataupun karena Cholesteatoma, tumor ataupun benda asing. Gejala klinis polip telinga berhubungan dengan masalah infeksi yang mendasarinya. Seringkali ada rasa sakit dan gatal di liang telinga, dan mungkin ada beberapa drainase yang terinfeksi. Karena saluran telinga memiliki pertumbuhan polip di dalamnya, sehingga mencegah suara masuk ke telinga tengah akibatnya adanya gangguan tuli konduktif Sumbatan oleh serumen Serumen adalah hasil dari produksi kelenjar sebasea, kelenjar seruminosa yang terdapat dibagian kartilago liang telinga luar dan epitel kulit yang terlepas dan pertikel debu. Dalam keadaan normal serumen terdapat disepertiga luar liang telinga karena kelenjar tersebut hanya ditemukan didaerah ini dan keluar dengan sendirinya dari liang telinga akibat migrasi epitel kulit yang bergerak dari arah membrane timpani menuju keluar serta dibantu oleh gerakan rahang sewaktu mengunyah. Serumen memiliki banyak manfaat antara lain menjaga kanalis akustikus eksternus dengan barier proteksi yang akan melapisi dan mambasahi kanalis. Sifat lengketnya yang alami dapat menangkap benda asing, menjaga secara langsung kontak dengan bermacam-macam organisme, polutan, dan serangga. Serumen juga mepunyai pH asam (sekitar 4-5) sehinnga tidak dapat ditumbuhi oleh organisme sehingga dapat membantu menurunkan resiko infeksi pada kanalis akustikus eksternus. Tanpa kotoran telinga, kulit dalam telinga akan menjadi kering, pecah-pecah, terinfeksi atau terendam air dan sakit. Gejala dapat timbul jika sekresi serumen berlebihan akibatnya dapat terjadi sumbatan serumen akibatnya pendengaran berkurang sehingga menyebabkan tuli konduktif. Rasa nyeri timbul apabila serumen keras membatu dan menekan dinding liang telinga. Telinga berdengung (tinitus), pusing (vertigo) bila serumen telah menekan membrane timpani,kadang-kadang disertai batuk oleh karena rangsangan nervus vagus melalui cabang aurikuler. Otitis eksterna Otitis eksterna biasanya ditunjukkan dengan adanya infeksi bakteri pada kulit liang telinga tetapi dapat juga disebabkan oleh infeksi jamur. Infeksi ini bisa menyerang seluruh saluran (otitis eksterna generalisata) atau hanya pada daerah tertentu sebagai bisul (furunkel).

Pada umumnya penyebab dari otitis eksterna adalah infeksi bakteri seperti Staphyilococcus aureus, Staphylococcus albus, E. colli. Selain itu juga dapat disebabkan oleh penyebaran yang luas dari proses dermatologis yang non-infeksius Keluhannya dapat berupa adanya nyeri telinga (otalgia) dari yang sedang sampai berat, berkurangnya atau hilangnya pendengaran, tinnitus atau dengung, demam, discharge yang keluar dari telinga, gatalgatal (khususnya pada infeksi jamur atau otitis eksterna kronik), rasa nyeri yang sangat berat (biasanya pada pasien yang imunocompopromais, diabetes, otitis eksterna maligna). Selain itu juga ditemukan adanya tanda nyeri tekan pada tragus dan sakit pada saat mengunyah atau membuka mulut jika keadaannya berat. Tuli konduktif yang terjadi biasanya karena bisul atau farukel menymbat liang telinga ataupun pada kondisi kronis dapat di temukan keluarnya cairan berbau busuk, cairan ini dapat mengganggu konduksi suara yang masuk ke teling tengah Tumor pada telinga luar dan tengah Tumor di telinga luar atau tengah, salah satu dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Tumor pada dasarnya merupakan istilah yang menggambarkan adanya suatu benjolan yang abnormal. Tumor pada telinga luar dapat berupa tumor jinak maupun ganas. Tumor jinak yang biasa di temukan berupa oxostose, adenoma, osteoma. Sedangkan tumor ganas dapat berupa squamosa sel karsinoma, basal sel karsinoma dan adenokarsinoma. Tumor pada telinga tengah dapat berupa tumor jinak yaitu polip, granuloma dan glomus jugulare, sedangkan tumor ganasnya dapat berupa squamosa sel karsinoma, sarkoma dan adenokarsinoma. Tumor yang ada pada telinga luar maupun tengah akan menutup saluran telinga sehingga akan menyebabkan hilangnya pendengaran dan juga menyebabkan kotoran pada telinga Sumbatan tuba eustachius Sumbatan pada tuba dapat menyebabkan tuli konduktif. Sumbatan pada tuba dapat di sebabkan oleh perubahan tekanan udara luar dengan telinga tengah, akibat kegagalan membuka tuba oleh karena ganguan pada otot m.tensor velipalatini (biasanya pada gangguan kongenital ataupun akibat desakan tumor. Adanya sumbatan tuba ini akan menyebabkan rupturnya pembuluh pembluh darah kapiler- kapiler kecil yang ada pada telinga tengah, akibatnya terjadi penumpukan cairan di telingah tengah. Adanya penumpukan cairan di telinga tengah ini akan mengganggu konduksi suara. Infeksi telinga tengah Infeksi telinga tengah atau otitis media, merupakan infeksi telinga pada telinga tengah yang umumnya di sebabkan oleh bakteri. Dapat di bedakan atas otitis media akut dan kronis. Kejadian otitis media akut lebih sering terjadi pada anak-anak.

Hilangnya pendengaran pada otitis media bisa karena kerusakan membrana timpani berupa perforasi, ruptura, sikatriks yang terjadi pada otitis media akut supuratif, ataupun akibat glue ear yaitu menumpuknya cairan kental seperti lem yang di sebabkan oleh hasil sisa dari Otitis media supuratif kronis maupun karena otitis media efusi kronis. cairan (darah atau hematotimpanum karena trauma kepala) Hemotimpanum dapat diartikan terdapatnya darah pada kavum timpani dengan membrana timpani berwarna merah atau biru. Warna tidak normal ini disebabkan oleh cairan steril bersama darah di dalam telinga tengah. Keadaan ini dapat menyebabkan tuli konduktif, biasanya ada sensasi penuh atau tekanan. Hemotimpanum bukan merupakan suatu penyakit akan tetapi lebih kepada suatu gejala dari penyakit yang sering disebabkan oleh karena trauma. Tuli konduktif dapat terjadi oleh adanya darah yang memenuhi kavum tympani. Pada umumnya hemotimpanum disebabkan oleh epistaksis, gangguan darah dan trauma tumpul kepala. Dan yang paling dilaporkan adalah hemotimpanum yang terjadi akibat trauma kepala. Barotrauma dapat juga menyebabkan hemotimpanum misalnya, perjalanan udara dan hyperbaric oxygen chamber, penyelaman kompresi udara (SCUBA) atau penyelaman dengan menahan napas. Barotrauma telinga tengah tidak jarang menimbulkan kerusakan telinga dalam. Gangguan pada tulang- tulang pendengaran Gerakan sendi tulang pendengaran terganggu oleh sikatriks, mengalami destruksi karena otitis media, oleh ankilosis stapes pada otosklerosis, adanya perlekatan-perlekatan dan luksasi karena trauma maupun infeksi, atau bawaan karena tak terbentuk salah satu osikula. Otalgia Otalgia adalah suatu gejala yang lazim terjadi, dan bisa dilukiskan sebagai rasa terbakar, berdenyut atau menusuk, bisa bersifat ringan atau sangat hebat, atau konsisten dan intermittent atau sementara. Pada keadaan terakhir, biasanya sesuai ini dilukiskan sebagai nyeri tajam yang masuk Rasa nyeri pada telinga ini karena telinga dipersarafi oleh saraf yang kaya (nervus kranialis V, VII, IX, dan X selain cabang saraf servikalis kedua dan ketiga), maka kulit di tempat ini menjadi sangat sensitif. Penyebab otalgia dapat dibedakan menjadi dua , yaitu Otalgia primer dan Otalgia sekunder. Otalgia primer di sebabkan Otitis Externa, Polikondritis, Otitis Media, Barotrauma, Mastoiditis Supuratif akut. Pada Otalgia sekunder dapat di karenakan nyeri alih (Reffered otalgia) oleh Nervus Trigeminus (N.V) seperti penyakit Gigi, Iritasi Sinus Paranasal, Iritasi Durameter, Lesi di rongga mulut. Otalgia sekunder juga akibat Nyeri alih oleh nervus fasialis (bells palsy, infeksi herpes zoster), Nyeri alih oleh nervus glossopharyngeal (Tonsilitis akut, peritonsilitis atau abes peritonsilar)

Kehilangan pendengaran akibat otalgia dapat terjadi melalui mekanisme yaitu Nyeri di temporomandibularis, nyeri dari bagian lain seperti laring, faring, vertigo, iritasi lokal, kemudian nyeri ini menjalar, nyeri ini menjalar ke telinga karena kulit telinga banyak saraf (nervus kranialis V, VII, IX, dan X selain cabang saraf servikalis kedua dan ketiga.) akibat selanjutnya Kulit menjadi sensitif, Bila tidak diatasi kemungkinan saraf menjadi kebas akibatnya Gangguan pendengaran karena saraf kurang peka Otosklerosis Otosklerosis adalah penyakit pada kapsul tulang labirin yang mengalami spongiosis si daerah kaki stapes, sehingga stapes menjadi kaku dan tidak dapat menghantarkan getaran suara ke labirin dengan baik. Otosklerosis merupakan salah satu penyebab umum tuli konduktif pada orang dewasa. Otosklerosis merupakan gangguan herediter yang dimulai sejak remaja dengan bentuk dominant autosomal yang diwariskan. Keratosis obsturans eksterna Keratosis obliterans adalah pertumbuhan yang berlebihan dari jaringan epitel liang telinga luar, berwarna putih seperti mutiara, sehingga membentuk gumpalan dan menimbulkan rasa penuh serta kurang dengar. Keratosis obturans pada umumnya terjadi pada pasien usia muda antara umur 5-20 tahun dan dapat menyerang satu atau kedua telinga. Etiologi keratosis obturans hingga saat ini belum diketahui. Namun, mungkin disebabkan akibat dari eksema, seboroik dan furonkulosis. Penyakit ini kadang-kadang dihubungkan dengan bronkiektasis dan sinusitis kronik Pada pasien dengan keratosis obturans terdapat tuli konduktif akut, nyeri yang hebat, liang telinga yang lebih lebar (karena adanya erosi tulang yang menyeluruh sehingga liang telinga tampak lebih luas), membran timpani utuh tapi lebih tebal dan jarang ditemukan adanya sekresi telinga. Gangguan pendengaran dan rasa nyeri yang hebat disebabkan oleh desakan gumpalan epitel berkeratin di liang telinga Kolesteatom Kolesteatom adalah suatu kista epiterial yang berisi deskuamasi epitel (keratin). Deskuamasi tersebut dapat berasal dari kanalis auditoris externus (liang telinga) atau membrana timpani. Apabila terbentuk terus dapat menumpuk sehingga menyebabkan kolesteatom bertambah besar. Kolesteatoma dapat terjadi di kavum timpani dan atau mastoid Kolesteatoma biasanya terjadi karena tuba eustachian yang tidak berfungsi dengan baik karena terdapatnya infeksi pada telinga tengah. Saat tuba eustachian tidak berfungsi dengan baik udara pada telinga tengah diserap oleh tubuh dan menyebabkan di telinga tengah sebagian terjadi hampa udara. Keadaan ini menyebabkan pars plasida di atas colum maleus membentuk kantong retraksi, migrasi epitel membran timpani melalui kantong yang mengalami retraksi ini sehingga terjadi akumulasi keratin.

Kantong tersebut menjadi kolesteatoma. Perforasi telinga tengah yang disebabkan oleh infeksi kronik atau trauma langsung dapat menjadi kolesteatoma Kolesteatoma sangat berbahaya dan merusak jaringan sekitarnya yang dapat mengakibatkan hilangnya pendengaran dengan akibatnya hilangnya tulang mastoid, osikula, dan pembungkus tulang saraf fasialis. Selain itu gangguan pendengaran juga dapat terjadi karena daerah yang sakit atau kolesteatoma, dapat menghambat bunyi dengan efektif ke fenestra ovalis.

ASKEP TULI KONDUKTIF DAN SENSORI


BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Berkurangnya pendengaran adalah penurunan fungsi pendengaran pada salah satu ataupun kedua telinga. Sedangkan Tuli adalah penurunan fungsi pendengaran yang sangat beratyang bisa disebabkan oleh suatu masalah mekanis di dalam saluran telinga atau di dalam telinga tengah yang menghalangi penghantaran suara (penurunan fungsi pendengaran konduktif). Selain itu disebabkan oleh kerusakan pada telinga dalam, saraf pendengaran atau jalur saraf pendengaran di otak yang merupakan penurunan fungsi pendengaran sensorineural (Billy Antony, 2008). Gangguan pendengaran merupakan defisit sensorik yang paling sering pada populasi manusia, mempengaruhi lebih dari 250 juta orang di dunia.Di dunia, menurut perkiraan WHO pada tahun 2005 terdapat 278 juta orang menderita gangguan pendengaran, 75 - 140 juta diantaranya terdapat di Asia Tenggara. Sedangkan pada bayi, terdapat 0,1 0,2% menderita tuli sejak lahir atau setiap 1.000 kelahiran hidup terdapat 1 2 bayi yang menderita tuli. Dari hasil "WHO Multi Center Study" pada tahun 1998, Indonesia termasuk 4 (empat) negara di Asia Tenggara dengan prevalensi ketulian yang cukup tinggi (4,6%) yang dapat menimbulkan masalah sosial di tengah masyarakat. Ketulian dibagi menjadi dua. Ketuliandibidang konduksi atau disebut tuli konduksi dimana kelainan terletak antara meatus akustikus eksterna sampai dengan tulang pendengaran stapes. Tuli di bidang konduksi ini biasanya dapat ditolong baik dengan pengobatan atau dengan suatu tindakan misalnya pembedahan.Tuli yang lain yaitu tuli persepsi (sensori neural hearing-loss)dimana letak kelainan mulai dari organ korti di koklea sampai dengan pusat pendengaran di otak. Tuli persepsi ini biasanya sulit dalam pengobatannya.Apabila tuli konduksi dan tuli persepsi timbul bersamaan disebut tuli campuran.

1.2 Tujuan Penulisan 1.2.1 Tujuan Umum Dapat menganalisa asuhan keperawatan pada klien dengan tuli konduksi dan sensorineural. 1.2.2 Tujuan Khusus

1. Menjelaskan definisi dari tuli konduksi dan sensorineural. 2. Menjelaskan etoilogi dari tuli konduksi dan sensorineural. 3. Menjelaskan klasifikasi dari tuli konduksi dan sensorineural. 4. Menjelaskan patofisiologi dari tuli konduksi dan sensorineural. 5. Menjelaskan manifestasi klinis dari tuli konduksi dan sensorineural. 6. Menjelaskan penetalaksanaan medis dari tuli konduksi dan sensorineural. 7. Menjelaskan pengkajian pada asuhan keperawatan klien tuli konduksi dansensorineural. 8. Menjelaskan diagnosa keperawatan pada asuhan keperawatan klien tuli konduksi dan sensorineural. 9. Menjelaskan rencana tindakan/intervensi pada asuhan keperawatan tuli konduksi dan sensorineural. 10. Menjelaskan kriteria hasil pada setiap diagnosa keperawatan pada asuhan keperawatan klien dengantuli konduksi dan sensorineural.

1.3 Manfaat 1.3.1 Bagi Mahasiswa Mahasiswa dapat lebih memahami hal-hal yang berkaitan dengan tuli konduksi dansensorineural. 1.3.2 Bagi Perawat Perawat atau tenaga kesehatan memiliki pengetahuan yang lebih luas tentang tuli konduksi dansensorineural sehingga dapat melakukan asuhan keperawatan secara profesional.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP TELINGA 1. ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PENDENGARAN Telinga dibagi 3 bagian, yaitu: a. Telinga luar (auris eksterna) Aurikulum : menangkap gelombang suara dan meneruskannya ke MAE Meatus akustikus eksternus : meneruskan gelombang suara ke membrane timpani Membran timpani : untuk proses resonansi

b. Telinga tengah (auris media) Kavum timpani : tempat tulang tulang pendengaran berada

Tuba Eustachius : saluran yang menghubungkan antara telinga tengah dengan telinga dalam Antrum & sel-sel mastoid

b. Telinga dalam (auris interna = labirin) Koklea (organ auditivus) : untuk keseimbangan Labirin vestibuler (organ vestibuler /status) : untuk keseimbangan

2. PROSES PENDENGARAN Gelombang suara yang berasal dari udara ditangkap oleh aurikulla kemudian diteruskan ke MAE ( Meatus Akustikus Externa ), kemudian dilanjutkan ke membran timpani. Setelah masuk di membran timpani, gelombang udara tersebut menggerakkan tulang tulang pendengaran, yang terdiri dari tulang incus, stapes dan maleus. Setelah itu menuju ke foramen ovale. Dari foramen ovale, merangsang Koklea untuk mengeluarkan cairan. Cairan koklea tersebut kemudian menuju ke membran basilaris, merangsang pergerakan hair cells. Diteruskan ke cortex auditorius. Kemudian kita dapat mendengar suatu bunyi. B. KONSEP TULI KONDUKTIF 1. DEFINISI

Tuli Konduktif atau Conductive Hearing Loss (CHL) adalah jenis ketulian yang tidak dapat mendengar suara berfrekuensi rendah. Misalnya tidak dapat mendengar huruf U dari kata susu sehingga penderita mendengarnya ss. Biasanya gangguan ini reversible karena kelainannya terdapat di telinga luar dan telinga tengah(Purnawan Junadi,dkk. 1997, hal. 238). Tuli kondusif adalah kerusakan pada bagian telinga luar dan tengah, sehingga menghambat bunyibunyian yang akan masuk ke dalam telinga. Kelainan telinga luar yang menyebabkan tuli kondusif adalah otalgia, atresia liang telinga, sumbatan oleh serumen, otitis eksterna sirkumskripta, otitis eksterna maligna, dan osteoma liang teliga. Kelainan telinga tengah yang menyebabkan tuli kondusif ialah sumbatan tuba eustachius, otitis media, otosklerosis, timpanisklerosia, hemotimpanum, dan dislokasi tulang pendengaran. (Indro Soetirto: 2003)

2. ETIOLOGI Pada telinga luar dan telinga tengah proses degenerasi dapat menyebabkan perubahan atau kelainan diantaranya sebagai berikut : a. Berkurangnya elastisitas dan bertambah besarnya ukuran daun telinga (pinna) b. Atropi dan bertambah kakunya liang telinga c. Penumpukan serumen d. Membrane tympani bertambah tebal dan kaku e. Kekuatan sendi tulang-tulang pendengaran f. Kelainan bawaan (Kongenital) Atresia liang telinga, hipoplasia telinga tengah, kelainan posisi tulang-tulang pendengaran dan otosklerosis. Penyakit otosklerosis banyak ditemukan pada bangsa kulit putih g. Gangguan pendengaran yang didapat, misal otitis media

3. MANIFESTASI KLINIS a. rasa penuh pada telinga b. pembengkakan pada telinga bagian tengah dan luar

c. rasa gatal d. trauma e. tinnitus 4. PATOFISIOLOGI Saat terjadi trauma akan menimbulkan suatu peradangan bias saja menimbulkan luka, nyeri kemudian terjadi penumpukan serumen atau otorrhea. Penumpukan serumen yang terjadi dapat mengakibatkan transmisi bunyi atau suara yang terganggu sehingga penderita tidak dapat mempersepsikan bunyi atau suara yang di dengarnya.

5. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Audiometri X-ray 6. PENALAKSANAAN Liang telinga di bersihkan secara teratur. dapat diberikan larutan asam asetat 2-5 % dalam alcohol yang di teteskan ke liang teling atau salep anti jamur. Tes suara bisikan, Tes garputala.

C. KONSEP TULI SENSORINEURAL 1. DEFINISI Tuli sensorineural adalah kerusakan telinga bagian dalam dan hubungan saraf otak yang terbagi atas tuli sensorineural koklea dan tuli sensorineural retrokoklea.Tuli sensorineural koklea disebabkan aplasia, labirinitis, intoksikasi obat ototaksik atau alkohol.Dapat juga disebabkan tuli mendadak, tauma kapitis, trauma akustik dan pemaparan bising tuli sensorineural retrokoklea disebabkan neuoroma akustik, tumor sudut pons serebellum, mieloma multipel, cedera otak, perdarahan otak, dan kelainan otak lainnya. (Indro Soetirto: 2003)

2. ETIOLOGI

Faktor-faktor resiko tinggi yang penyebab tuli sensorineural yaitu: a. Tuli Bawaan (Genetik). b. Tuli Rubella. c. Tuli dan Kelahiran Prematur d. Tuli Ototosik.

3. KLASIFIKASI Dibagi menjadi tuli sensori neural coklea atau retrokoklea. a. Tuli sensori neural coclea

- Aplasia (kongenital) - Labirintitis oleh bakteri/virus - Intoksikasi obat streptomisin, kanamisin, garamisin, neomisin, kina, asetosal atau alkohol. - Trauma kapitis - Trauma akustik - Pemaparan bising - Presbicusis
b. Tuli sensori neural retrokoklea

- Neuroma akustik - Tumor sudut pons serebellum - Cidera otak - Perdarahan otak

4. MANIFESTASI KLINIS

Rasa tidak enak di telinga, tersumbat, dan pendengaran terganggu. Rasa nyeri akan timbul bila benda asing tersebut adalah serangga yang masuk dan bergerak serta melukai dinding liang telinga. Pada inspeksi telinga dengan atau tanpa corong telingaakan tampak benda asing tersebut.

5. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK a. Pemeriksaan Dengan Garputala Pada dewasa, pendengaran melalui hantaran udara dinilai dengan menempatkan garputala yang telah digetarkan di dekat telinga sehingga suara harus melewati udara agar sampai ke telinga.Penurunan fungsi pendengaran atau ambang pendengaran subnormal bisa menunjukkan adanya kelainan pada saluran telinga, telinga tengah, telinga dalam, sarat pendengaran atau jalur saraf pendengaran di otak.Pada dewasa, pendengaran melalui hantaran tulang dinilai dengan menempatkan ujung pegangan garputala yang telah digetarkan pada prosesus mastoideus (tulang yang menonjol di belakang telinga). Getaran akan diteruskan ke seluruh tulang tengkorak, termasuk tulang koklea di telinga dalam. Koklea mengandung sel-sel rambut yang merubah getaran menjadi gelombang saraf, yang selanjutnya akan berjalan di sepanjang saraf pendengaran. Pemeriksaan ini hanya menilai telinga dalam, saraf pendengaran dan jalur saraf pendengaran di otak. Jika pendengaran melalui hantaran udara menurun, tetapi pendengaran melalui hantaran tulang normal, dikatakan terjadi tuli konduktif.Jika pendengaran melalui hantaran udara dan tulang menurun, maka terjadi tuli sensorineural. Kadang pada seorang penderita, tuli konduktif dan sensorineural terjadi secara bersamaan b. Audiometri Audiometri dapat mengukur penurunan fungsi pendengaran secara tepat, yaitu dengan menggunakan suatu alat elektronik (audiometer) yang menghasilkan suara dengan ketinggian dan volume tertentu. Ambang pendengaran untuk serangkaian nada ditentukan dengan mengurangi volume dari setiap nada sehingga penderita tidak lagi dapat mendengarnya.Telinga kiri dan telinga kanan diperiksa secara terpisah.Untuk mengukur pendengaran melalui hantaran udara digunakan earphone, sedangkan untuk mengukur pendengaran melalui hantaran tulang digunakan sebuah alat yang digetarkan, yang kemudian diletakkan pada prosesus mastoideus. c. Audimetri Ambang Bicara Audiometri ambang bicara mengukur seberapa keras suara harus diucapkan supaya bisa dimengerti. Kepada penderita diperdengarkan kata-kata yang terdiri dari 2 suku kata yang memiliki aksentuasi yang sama, pada volume tertentu. Dilakukan perekaman terhadap volume dimana penderita dapat mengulang separuh kata-kata yang diucapkan dengan benar.

d. Diskriminasi Dengan diskriminasi dilakukan penilaian terhadap kemampuan untuk membedakan kata-kata yang bunyinya hampir sama. Digunakan kata-kata yang terdiri dari 1 suku kata, yang bunyinya hampir sama.Pada tuli konduktif, nilai diskriminasi (persentasi kata-kata yang diulang dengan benar)biasanya berada dalam batas normal.Pada tuli sensori, nilai diskriminasi berada di bawahnormal.Pada tuli neural, nilai diskriminasi berada jauh di bawah normal. e. Timpanometri Timpanometri merupakan sejenis audiometri, yang mengukur impedansi (tahanan terhadap tekanan) pada telinga tengah.Timpanometri digunakan untuk membantu menentukan penyebab dari tuli konduktif.Prosedur in tidak memerlukan partisipasi aktif dari penderita dan biasanya digunakan padaanak-anak.Timpanometer terdiri dari sebuah mikrofon dan sebuah sumber suara yang terus menerus menghasilkan suara dan dipasang di saluran telinga.Dengan alat ini bisa diketahui berapa banyak suara yang melalui telinga tengah dan berapabanyak suara yang dipantulkan kembali sebagai perubahan tekanan di saluran telinga.Hasil pemeriksaan menunjukkan apakah masalahnya berupa: penyumbatan tuba eustakius (saluran yang menghubungkan telinga tengah dengan hidung bagian belakang) cairan di dalam telinga tengah kelainan pada rantai ketiga tulang pendengaran yang menghantarkan suara melalui telinga tengah. Timpanometri juga bisa menunjukkan adanya perubahan pada kontraksi otot stapedius, yangmelekat pada tulang stapes (salah satu tulang pendengaran di telinga tengah).Dalam keadaan normal, otot ini memberikan respon terhadap suara-suara yang keras/gaduh(refleks akustik) sehingga mengurangi penghantaran suara dan melindungi telinga tengah.Jika terjadi penurunan fungsi pendengaran neural, maka refleks akustik akan berubah ataumenjadi lambat. Dengan refleks yang lambat, otot stapedius tidak dapat tetap berkontraksiselama telinga menerima suara yang gaduh. f. Respon Auditoris Batang Otak Pemeriksaan ini mengukur gelombang saraf di otak yang timbul akibat rangsangan pada saraf pendengaran.Respon auditoris batang otak juga dapat digunakan untuk memantau fungsi otak tertentu pada penderita koma atau penderita yang menjalani pembedahan otak. g. Elektrokokleografi Elektrokokleografi digunakan untuk mengukur aktivitas koklea dan saraf pendengaran.Kadang pemeriksaan ini bisa membantu menentukan penyebab dari penurunan fungsipendengaran sensorineural.Elektrokokleografi dan respon auditoris batang otak bisa digunakan untuk

menilaipendengaran pada penderita yang tidak dapat atau tidak mau memberikan respon bawah sadarterhadap suara.Misalnya untuk mengetahui ketulian pada anak-anak dan bayi atau untuk memeriksa hipakusis psikogenik (orang yang berpura-pura tuli).Beberapa pemeriksaan pendengaran bisa mengetahui adanya kelainan pada daerah yang mengolah pendengaran di otak. Pemeriksaan tersebut mengukur kemampuan untuk: mengartikan dan memahami percakapan yang dikacaukan memahami pesan yang disampaikan ke telinga kanan pada saat telinga kiri menerima pesan yang lain menggabungkan pesan yang tidak lengkap yang disampaikan pada kedua telinga menjadi pesan yang bermakna menentukan sumber suara pada saat suara diperdengarkan di kedua telinga pada waktu yang bersamaan. Jalur saraf dari setiap telinga menyilang ke sisi otak yang berlawanan, karena itu kelainan pada otak kanan akan mempengaruhi pendengaran pada telinga kiri. Kelainan pada batang otak bisa mempengaruhi kemampuan dalam menggabungkan pesan yang tidak lengkap menjadi pesan yang bermakna dan dalam menentukan sumber suara. Beberapa pemeriksaan yang khusus dilakukan pada anak anak adalah: 1. Free Field Test Dilakukan pada ruangan kedap suara dan diberikan rangsangan suara dalam berbagai frekuensi untuk menilai respons anak terhadap bunyi 2. Behavioral Observation (0 6 bulan) Pada pemeriksaan ini diamati respons terhadap sumber bunyi berupa perubahan sikap atau refleks pada bayi yang sedang diperiksa 3. Conditioned Test (2 4 tahun) Anak dilatih untuk melakukan suatu kegiatan saat mendengar suara stimuli tertentu. 4. B.E.R.A (Brain Evoked Response Audiometry) Dapat menilai fungsi pendengaran anak atau bayi yang tidak kooperatif

6. PENATALAKSANAAN

Pengobatan untuk penurunan fungsi pendengaran tergantung kepada penyebabnya.Jika penurunan fungsi pendengaran konduktif disebabkan oleh adanya cairan di telinga tengah atau kotoran di saluran telinga, maka dilakukan pembuangan cairan dan kotoran tersebut.Jika penyebabnya tidak dapat diatasi, maka digunakan alat bantu dengar atau kadang dilakukan pencangkokan koklea. a. Alat bantu dengar Alat bantu dengar merupakan suatu alat elektronik yang dioperasikan dengan batere, yang berfungsi memperkuat dan merubah suara sehingga komunikasi bisa berjalan dengan lancar. Alat bantu dengar terdiri dari: - Sebuah mikrofon untuk menangkap suara - Sebuah amplifier untuk meningkatkan volume suara - Sebuah speaker utnuk menghantarkan suara yang volumenya telah dinaikkan. Berdasarkan hasil tes fungsi pendengaran, seorang audiologis bisa menentukan apakah penderita sudah memerlukan alat bantu dengar atau belum (audiologis adalah seorang profesional kesehatan yang ahli dalam mengenali dan menentukan beratnya gangguan fungsi pendengaran). Alat bantu dengar sangat membantu proses pendengaran dan pemahaman percakapan pada penderita penurunan fungsi pendengaran sensorineural. Dalam menentukan suatu alat bantu dengar, seorang audiologis biasanya akan mempertimbangkan hal-hal berikut: - kemampuan mendengar penderita - aktivitas di rumah maupun di tempat bekerja - keterbatasan fisik - keadaan medis - penampilan - harga 1) Alat Bantu Dengar Hantaran Udara Alat ini paling banyak digunakan, biasanya dipasang di dalam saluran telinga dengan sebuah penutup kedap udara atau sebuah selang kecil yang terbuka. 2) Alat Bantu Dengar Yang Dipasang Di Badan Digunakan pada penderita tuli dan merupakan alat bantu dengar yang paling kuat. Alat ini disimpan dalam saku kemeja atau celana dan dihubungkan dengan sebuah kabel ke alat yang dipasang di saluran telinga.Alat ini seringkali dipakai oleh bayi dan anak-anak karena pemakaiannya lebih mudah dan tidak mudah rusak. 3) Alat Bantu Dengar Yang Dipasang Di Belakang Telinga

Digunakan untuk penderita gangguan fungsi pendengaran sedang sampai berat.Alat ini dipasang di belakang telinga dan relatif tidak terlihat oleh orang lain. 4) CROS (contralateral routing of signals) Alat ini digunakan oleh penderita yang hanya mengalami gangguan fungsi pendengaran pada salah satu telinganya.Mikrofon dipasang pada telinga yang tidak berfungsi dan suaranya diarahkan kepada telinga yang berfungsi melalui sebuah kabel atau sebuah transmiter radio berukuran mini.Dengan alat ini, penderita dapat mendengarkan suara dari sisi telinga yang tidak berfungsi. 5) BICROS (bilateral CROS) Jika telinga yang masih berfungsi juga mengalami penuruna fungsi pendengaran yang ringan,maka suara dari kedua telinga bisa diperkeras dengan alat ini. 6) Alat Bantu Dengar Hantaran Tulang Alat ini digunakan oleh penderita yang tidak dapat memakai alat bantu dengar hantaran udara, misalnya penderita yang terlahir tanpa saluran telinga atau jika dari telinganya keluar cairan otore. Alat ini dipasang di kepala, biasanya di belakang telinga dengan bantuan sebuah pita elastis.Suara dihantarkan melalui tulang tengkorak ke telinga dalam. Beberapa alat bantu dengar hantaran tulang bisa ditanamkan pada tulang di belakang telinga. b. Pencangkokan koklea Pencangkokan koklea (implan koklea) dilakukan pada penderita tuli berat yang tidak dapat mendengar meskipun telah menggunakan alat bantu dengar. Alat ini dicangkokkan di bawah kulit di belakang telinga dan terdiri dari 4 bagian: Sebuah mikrofon untuk menangkap suara dari sekitar Sebuah prosesor percakapan yang berfungsi memilih dan mengubah suara yang tertangkap oleh mikrofon Sebuah transmiter dan stimulator/penerima yang berfungsi menerima sinyal dari prosesor percakapan dan merubahnya menjadi gelombang listrik Elektroda, berfungsi mengumpulkan gelombang dari stimulator dan mengirimnya ke otak. Suatu implan tidak mengembalikan ataupun menciptakan fungsi pendengaran yang normal, tetapi bisa memberikan pemahaman auditoris kepada penderita tuli dan membantu mereka dalam memahami percakapan. Implan koklea sangat berbeda dengan alat bantu dengar. Alat bantu dengar berfungsi memperkeras suara. Implan koklea menggantikan fungsi dari bagian telinga dalam yang mengalami kerusakan.

Jika fungsi pendengaran normal, gelombang suara diubah menjadi gelombang listrik oleh telinga dalam.Gelombang listrik ini lalu dikirim ke otak dan kita menerimanya sebagai suara. Implan koklea bekerja dengan cara yang sama. Secara elektronik, implan koklea menemukan bunyi yang berarti dan kemudian mengirimnya ke otak.

D. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN a. Pengkajian Riwayat : identitas pasien, riwayat adanya kelainan nyeri, infeksi saluran nafas atas yang berulang, riwayat infeksi nyeri telinga rasa penuh dan penurunan pendengaran suhu meningkat malaise vertigo Aktifitas terbatas Takut mengahadapi tindakan pembedahan

b. Pemeriksaan fisik B1(breathing) berulang B2(blood) kardiovaskuler : tidak ada kelainan pada sistem : infeksi saluran pernafasan atas yang

B3(brain) telingga B4(bladder) B5(bowel) B6(bone&muskuluskeletal)

: pusing, vertigo,nyeri, rasa penuh pada

: tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : malaise, aktivitas terbatas, suhu meningkat

c. Diagnosa keperawatan 1. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan 2. Gangguan sensori / presepsi berhubungan dengan kerusakan pada telingatengah 3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan nyeri 4. Isolasi sosial berhubungan dengan nyeri, otore 5. Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan 6. Ansietas berhubungan dengan prosedur perubahan status kesehatan dan pengobatan 7. Cemas berhubuangan dengan prosedur operasi, diagnosis, prognosis, anestesi, nyeri, hilangnya fungsi, kemungkinan penurunan pendengaran lebih besar setelah operasi. 8. Gangguan harga diri rendah berhubungan dengan berkurangnya pendengaran.

d. Intervensi Keperawatan 1. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan Tujuan : Pasien mengambarkan nyeri dalam keadan minimal atau tidak ada nyeri Intervensi: Kaji nyeri, lokasi,karasteristik, mulai timbul, frekuensi dan intensitas, gunakan tingkat ukuran nyeri R/ : untuk mengukur tingkat/kualitas nyeri guna intervensi selanjutnya Ajarkan dan bantu dengan alternative teknik pengurangan nyeri (misalnya imajinasi, musik, relaksasi) R/ : pengalihan perhatian dapat mengurangi nyeri Ubah posisi setiap 2 sampai 4 jam R/ : posisi yang nyaman dapat membantu mengurangi tingkat nyeri.

Berikan analgesik jika dipesankan R/ : analgesic dapat mengurangi nyeri.

2. Gangguan sensori / persepsi berhubungan dengan kerusakan pada telinga tengah Tujuan : Klien memperlihatkan persepsi pendengaran yang baik Intervensi: Kaji tingkat gangguan persepsi pendengaran klien R/ : untuk mengukur tingkat pendengaran pasien guna intervensi selanjutnya Berbicara pada bagian sisi telinga yang baik R/ : berbicara pada bagian sisi telinga yang baik dapat membatu klien dalam proses komunikasi Bersihkan bagian telinga yang kotor R/ : telinga yang bersih dapat membantu dalam proses pendengaran yang baik Kolaborasi dengan dokter dengan tindakan pembedahan R/: tindakan pembedahan dapat membatu klien memperoleh pendengaran yang baik 3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan nyeri Tujuan : klien dapat melakukan aktivitas dengan baik Intervensi: Kaji tingkat intoleransi klien R/ : Untuk mengetahui tingkat aktivitas klien guna intervensi selanjutnya Bantu klien untuk melakukan aktifitas sehari-hari R/ : Bantuan terhadap aktifitas klien dapat mempermudah pemenuhan kebutuhan klien Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas yang ringan R/ : Aktivitas yang ringan dapat membantu mengurangi energy yang keluar Libatkan keluarga untuk proses perawatan dan aktivitas klien R/ : Keluarga memiliki peranan penting dalam aktifitas sehari-hari klien selama perawatan Ajurkan klien untuk istirahat yang cukup R/ : Istirahat yang cukup dapat mebantu meminimalkan pengeluaran energy.

4. Isolasi sosial berhubungan dengan nyeri, otorrhea. Tujuan : pola koping klien adekuat Intervensi:

Kaji tingkat koping klien terhadap penyakit yang dialaminya R/ : Untuk mengetahui tingkat koping pasien terhadap penyakitnya guna intervensi selanjutnya. Kaji tingkat pola koping keluarga terhadap penyakit yang dialami klien R/ : Pola koping keluarga mempengaruhi koping pasien terhadap penykitnya Berikan informasi yang adekuat mengenai penyakit yang dialami klien. R/ : Informasi adekuat dapat memperbaiki koping pasien terhadap penyakitnya Berikan motivasi kepada klien dalam menghadapi penyakitnya R/ : Motivasi dapat membantu pasien dalam menghadapi penyakitnya dan menjalani pengobatan sehingga klien tidak merasa sendirian. Anjurkan keluarga untuk selalu memotivasi klien. R/ : Motivasi dari keluarga sangat membantu proses koping pasien.

5. Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan Tujuan : klien dapat mengerti mengenai penyakitnya. Intervensi: Kaji tingkat pendidikan klien R/ : Untuk mengetahui tingkat pendidikan klien guna intervensi selanjutnya Kaji tingkat pengetahuan klien tentang prognosis penyakitnya R/ : untuk mengukur sejauh mana klien mengetahui tentang penyakitnya Berikan informasi yang lengkap mengenai penyakit klien. R/ : informasi yang lengkap dapat menambah pengetahuan klien sekaligus mengurangi tingkat kecemasan Berikan informasi yang akurat jika klien membutuhkan informasi tentang penyakitnya. R/ : pemberian informasi yang akurat dapat menambah informasi tentang penyakit yang dialami klien

6. Ansietas berhubungan dengan prosedur perubahan status kesehatan dan pengobatan Tujuan : klien memperlihatkan ekspresi wajah yang ceria. Intervensi: Kaji tingkat ansietas klien terhadap penyakitnya R/ : untuk mengukur tingakt kecemasan klien terhadap penyakitnya guna implementasi selanjutnya.

Kaji tingkat pengetahuan klien tentang penyakitnya R/ : sebagai tolak ukur untuk memberikan informasi selanjutnya mengenai penyakit yang di alaminya. Berikan informasi klien tentang penyakitnya. R/: Informasi yang adekuat dapat mengurangi kecemassan klien terhadap penyakitnya Berikan dorongan pada klien dalam menghadapi penyakitnya. R/: Dorongan yang adekuat dapat menurunkan tingkat kecemasan klien sekaligus memberikan perhatian kepada klien. Libatkan keluarga klien dalam proses pengobatan R/: Keluarga klien memiliki peranan penting dalam proses penyembuhan dan menurunkan tingkat kecemasan klien.

7. Cemas berhubuangan dengan prosedur operasi, diagnosis, prognosis, anestesi, nyeri, hilangnya fungsi, kemungkinan penurunan pendengaran lebih besar setelah operasi. Tujuan : Rasa cemas klien akan berkurang/hilang. Kriteria hasil : Klien mampu mengungkapkan ketakutan/kekhawatirannya. Intervensi Keperawatan : Mengatakan hal sejujurnya kepada klien ketika mendiskusikan mengenai kemungkinan kemajuan dari fungsi pendengarannya untuk mempertahankan harapan klien dalam berkomunikasi. R/ Harapan-harapan yang tidak realistik tiak dapat mengurangi kecemasan, justru malah menimbulkan ketidak percayaan klien terhadap perawat. Menunjukkan kepada klien bahwa dia dapat berkomunikasi dengan efektif tanpa menggunakan alat khusus, sehingga dapat mengurangi rasa cemasnya. Berikan informasi mengenai kelompok yang juga pernah mengalami gangguan seperti yang dialami klien untuk memberikan dukungan kepada klien. R/ Dukungan dari bebarapa orang yang memiliki pengalaman yang sama akan sangat membantu klien. Berikan informasi mengenai sumber-sumber dan alat-lat yang tersedia yang dapat membantu klien. R/ Agar klien menyadari sumber-sumber apa saja yang ada disekitarnya yang dapat mendukung dia untuk berkomunikasi.

8. Gangguan harga diri rendah berhubungan dengan berkurangnya pendengaran. Tujuan : Pendengaran menjadi normal, sehingga meningkatkan rasa percaya diri klien

riteria Hasil : Percaya diri klien meningkat karena dapat mendengar dengan normal.

Intervensi keperawatan : Menggunakan alat bantu pendengaran, seperti koklear implant. R/ dengan menggunakan alat bantu pendengaran meningkatkan respon pendengaran klien, sehingga klien dapat mendengar suara dengan normal, sehingga komunikasi klien dengan orang lain tetap lancar. Ajari klien menggunakan bahasa isyarat, atau body language dan media tulisan. R/ Klien dapat berkomunikasi dengan orang lain dengan menggunakan bahasa tubuh atau bahasa isyarat lainnya dan bisa juga dengan ditulis, sehingga komunikasi klien tetap lancar. Ajari keluarga dan kolega klien untuk berbicara lebih keras atau cenderung mendekat ke telinga yang sehat. R/ Memudahkan klien untuk mendengar, sehingga komunikasi klien tetap lancar, harga diri klien meningkat. e. Implementasi Implementasi dilaksanakan sesuai dengan intervensi yang telah dibuat dengan menyesuaikan terhadap kondisi klien. f. Evaluasi 1. Pasien mengambarkan nyeri dalam keadan minimal atau tidak ada nyeri 2. Klien memperlihatkan persepsi pendengaran yang baik 3. Klien dapat melakukan aktivitas dengan baik 4. Pola koping klien adekuat 5. Klien dapat mengeti dengan penyakitnya 6. Klien memperlihatkan ekspresi wajah yang ceria

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Ketuliandibidang konduksi atau disebut tuli konduksi dimana kelainanterletak antara meatus akustikus eksterna sampai dengana tulangpendengaran stapes. Tuli di bidang konduksi ini biasanya dapatditolong dengan memuaskan, baik dengan pengobatan ataudengan suatu tindakan misalnya pembedahan.Tuli yang lain yaitu tuli persepsi (sensori neural hearing-loss) dimana letak kelainan mulai dari organ korti di kokleasampai dengan pusat pendengaran di otak. Tuli persepsi inibiasanya sulit dalam pengobatannya.Apabila tuli konduksi dan tuli persepsi timbul bersamaan,disebut tuli campuran.Untuk mengetahui jenis ketulian diperlukan pemeriksaanpendengaran. B. Saran Untuk mencgah terjadinya tuli perepsi maupun tuli konduksi, sebaiknya : 1. Hindari suara keras, ramai dan kebisingan. 2. Hindari diet yang berlemak.Hal-hal lain yang dianjurkan ialah hindari dingin yang berlebihan, rokok yang berlebihan dan stres. Anemia, kekuranganvitamin dan insufisiensi kardiovaskular juga harus segera diobati.

DAFTAR PUSTAKA Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. EGC. Jakarta. George L, Adams. 1997. BOEIS : Buku ajar Penyakit THT. Edisi 6. EGC. Jakarta. Iskandar, H. Nurbaiti,dkk 1997. Buku Ajar Ilmu Penyakit THT. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. Mukmin, Sri; Herawati, Sri. 1999. Teknik Pemeriksaan THT. Laboratorium Ilmu Penyakit THT, FK UNAIR. Surabaya. Pedoman Diagnosis dan Terapi, Lab/UPF Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorokan RSUD Dr Soetomo Surabaya

Rukmin, Sri; Herawati, Sri. 1999. Teknik Pemeriksaan THT. EGC. Jakarta. http://www.nezfine.files.wordpress.com20100520.pdf diakses pada tanggal 14 November 2011 http://www.scribd.com/doc/23723412/TULI-SENSORINEURALdiakses pada tanggal14 November 2011 Soetirto, Indro.2003. Tuli Akibat Bising dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok Ed.3 Editor: H. Efiaty A.Soepardi dkk. Jakarta: FKUI