Anda di halaman 1dari 26

Obat-obatan yang mempengaruhi Sistem Pernafasan

drh. Abadi Sutisna, MSi drh. Aulia Andi M, MSi

Top score
100

93 90 84

: : : :

Aguinta Nilam Regina Wulandari Aulia Syifak B. Zulfikar Hizbul I.

Dini Nurwahyuni

Gangguan Sistem Pernafasan


ASMA

RINITIS
BATUK CRD

Obat-obatan yang Mengaruhi Sistem Pernafasan Antagonis adrenergik Obat obat yang digunakan untuk ASMA
Kortikosteroid Kromolin dan nedokromil Ipratropium Teofilin

Obat obat yang digunakan untuk RINITIS

Antagonis adrenergik Anti histamin Kortikosteroid Kromolin Antagonis adrenergik Kortikosteroid Ipratropium Dektrometorfan Opiat

Obat obat yang digunakan untuk PARU OBSTRUKTIF KRONIK

Obat obat yang digunakan untuk BATUK

Mekanisme kerja Obat Pada Sistem Pernafasan Umumnya


Merelaksasi Otot polos bronkial

Memodulasi respons peradangan

ASMA
paparan alergen, menghirup zat iritan yang menyebakan hiperaktivitas bronkial dan peradangan pada mukosa kontraksi otot polos bronkus, Inflamasi dinding bronkus, dan Peningkatan sekresi mukus

kontriksi bronkus
bronkokonstriksi akut
yang menyebabkan : Pernafasan singkat, batuk, sesak nafas, mengi, pernafasan cepat

PENGOBATA N ASMA
Keparahan Penyakit sebelum pengobatan Ringan < dari 2 x bronkokonstriktif perminggu Sedang > 2 x bronkokonstriktif perminggu

Meskipun kontikosteroid efektif untuk asma ringan, tapi harus dicadangkan untuk asma sedang- berat sampai resiko pengobatan yang lama dengan glukokortikoid inhalasi dapat ditegakkan
Pengobatan Agonis 2 inhalasi Glukokortikoid inhalasi ? Kromolin inhalasi Glukokortikoid inhalasi

Berat bronkokonstriktif harian

Glukokortikoid inhalasi ditambah oral

Terapi oral harian selang seling harus digunakan untuk meminimalkan efek samping sistemik

Rute Obat
INHALASI

obat langsung disalurkan ke jaringan tujuan jalan nafas efektif dalam dosis yang tidak menyebabkan efek sistemik yang berarti

ORAL Parenteral

Agonis adrenergik
Agonis 2 bronkodilator poten untuk

merelaksasi otot polos Tidak punya efek anti inflamasi jadi sebaiknya dikombinasi Obat dengan masa kerja singkat : onset 15-30 menit , durasi 4-6 jam Contoh : Epinefrin, Pirbuterol, Terbutalin albuterol ES : takikardia, hiperglikemia, hipokalemia, hipomagnesemia

Obat yang masa kerja panjang : Salmeterol, durasi lebih dari 12 jam Tidak dapat digunakan untuk serangan asma akut

Onset dan Durasi Bronkodilator agonis adrenergik Inhalasi


Onset (menit) Durasi (jam)

Epinefrin Isoproterenol Albuterol Salmeterol

< 15 < 15 15-30 45-60

0,5 3 4 12

Metaproterenol < 15 Terbutalin <15

4 3

Kortikosteroid
Efektif untuk anti inflamasi

1.

Efek pada paru-paru : tidak langsung memiliki efek pada otot polos jumlah & aktivitas sel-sel yang terlibat dalam inflamasi saluran nafas makrofag, eosinofil, dan limfosit T. Inhalasi berkepanjangan : hipersensitivitas otot polos Efek ; menghilangkan edema mukosa, menurunkan permeabilitas kapiler, menghambat pelepasan leukotrien

2. Farmakokinetik
a. Obat inhalasi : menurunkan kebutuhan pengobatan sistemik. kelemahannya : 80-90% glukokortikoid inhalasi terkumpul di mulut dan faring atau tertelan. 10-20% ysng masuk kr saluran pernafasan Glukokortikoid dapat diabsorpsi di usus dam mengalami first pass effect di hati. Contoh:Betametason, triamsinolon, flunisolid b. Steroid sistemik Untuk asma berat diperlukan metilprednisolon iv atau prednisolon oral setelah mengalami perbaikan dosis dikurangi bertahap

Perinhalasi ; Beklometason Flunisolid Flutikason, Triamsinolon

IM ; Kortison Desoksikortikoster on Triamsinolon

Semua kortiskosteroid dapat diberikan per -oral Topikal : Beklometason Deksametason Hidrokortison Triamsinolon

IV, IM ; Deksametason Hidrokortison Metilprednisolon Prednisolon

Efek Samping Jangka Panjang Kortikosteroid :


Gangguan keseimbangan kalsium negatif osteoporosis Gangguan Penyembuhan luka peningkatan resiko infeksi Peningkatan nafsu makan Hipertensi Edema (moon face, jerawat ) Ulkus peptikum Euforia Psikosis

Antagonis Kolinergik
Obat antikolinergik relatif kurang efektif

dibandingkan agonis adrenergik Bekerja menghambat kontraksi otot polos saluran nafas yang diatur oleh vagus dan sekresi mukus Contoh : Ipratropium inhalasi (derivat atropin) digunakan untuk yang tidak bisa mentolerir agonis adrenergik Onset sangat lambat, relatif tidak ada efek samping

Teofilin
Bronkodilator yang membebaskan obstruksi

saluran nafas pada asma kronis, mengurangi gejala penyakit kronik Terapi teofilin telah digantikan secara luas oleh agonis adrenergik dan kortikosteroid Teofilin diabsorpsi oleh saluran pencernan Kelebihan dosis dapat menyebabkan kejang dan aritmia yang dapat menyebabkan kematian (rentang terapeutik yang sempit) Berinteraksi negatif dengan banyak obat.

RINITIS ALERGIKA
Peradangan membran mukosa hidung yang ditandai

oleh bersin, gatal pada hidung, ingus cair dan hidung tersumbat. Penyebab serangan alergen inhalasi (debu, serbuk sari, bulu binatang) yang berinteraksi dengan sel mast dibungkus oleh IgE, dibangkitkan sebagai respon terhadap paparan alergen terdahulu Sel mast melepaskan mediator-mediator : histamin, leukotrien dan faktor kemotaktik spasme bronkiolus, penebalan mukosa karena edema dan infiltrasi seluluar Terapi antihistamin oral dengan dekongestan Efek samping sistemik dari rute oral ( sedasi, insomnia, aritmia jantung) pengobatan intranasal

Anti histamin (penyekat reseptor H1 )


Contoh : difenhidramin, klorfeniramin, lorantadin,

terfenadin, astemizol efektif untuk rinitis kerena pelepasan histamin. Bila gejala rinitis deisertai dengan sumbatan hidung, efektif jika dikombinasi dengan dekongestan

Agonis Adrenergik
dekongestan nasal : contoh : Fenilefrin,

Oksimetazol menyempitkan arteriol yang berdilatasi pada mukosa hidung dan mengurangi reseintensi saluran nafas. Jika diberikan per inhalasi onset cepat dan efek sistemik kecil Jika diberikan per- oral durasi lebih panjang tapi efek sitemik meningkat. Dapat terjadi rebound pada penggunaan jangka panjang

Kromolin
Kromolin intranasal mungkin berguna, terutama

bila pemberian sebelum kontak dengan alergen

BATUK
Kodein, hidrokodon dan hidromorfon

menurunkan sensitifitas pusat batuk di SSP terhadap rangsangan perifer dan menurunkan sekresi mukosa. Efek terjadi pada dosis lebih rendah daripada dosis untuk analgesik Dekstrometorpfan , (derivat morfin) menekan erespons pusat batuk. Tidak punya potensi analgesik.