Anda di halaman 1dari 47

PEMBERIAN ANASTESI PADA GERIATRI DENGAN GANGLION POPLITEA (KISTA BAKER)

Pembimbing: dr., Bambang S. Sp.An dr. Ricka L., Sp.An. Dipresentasikan oleh : Aldila ineke, Masna Hasbi, Mulyadin, Rizky tri Agustin, Titin Prihatini

Identitas Pasien
Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Agama Status Perkawinan No. RM Tanggal masuk RS Bangsal Dokter Anestesi Macam Operasi Macam Anestesi Tanggal Operasi : Tn. K : 77 tahun : Laki - laki : Solo : Islam : Kawin : 250xxx : 16 Juli 2013 : Abu Bakar : dr. Ricka Lesmana ,Sp.An : Ekstirpasi : Regional Anestesi dengan Teknik Spinal Anestesi : 16 Juli 2013

Dokter yang merawat : dr. Djoko Dlidir, Sp.B Diagnosis Pre Operatif : Ganglion Poplitea Sinistra

KELUHAN UTAMA

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke RS PKU Muhammadiyah Surakarta dengan keluhan terdapat benjolan pada belakang lutut kiri.

Benjolan dirasakan selama 4 hari terakhir, nyeri (-), panas (-), nyeri tekan (-), namun dirasa mengganggu karena terasa mengganjal di kaki pasien, dan benjolan dirasa membesar.

Pasien tidak pernah mengobati keluhannya sebelumnya Berdasarkan keterangan pasien, pasien sebelumnya belum pernah menderita penyakit serupa.

Riwayat Hipertensi : (-) Riwayat Diabetes Mellitus : (-) Riwayat Asma : (-) Riwayat Stroke Sebelumnya : (-) Riwayat Penyakit Jantung : (-) Riwayat Alergi Obat / Makanan : (-) Riwayat Operasi Sebelumnya : (-) Riwayat Batuk Lama : (-) Riwayat Merokok : (-) Riwayat Gigi Palsu / Tanggal/ Berlubang/ Goyah : (-) Riwayat Trauma : (+) Jatuh mendadak 3 hari yg lalu (dari data medik)

Riwayat Hipertensi Riwayat Diabetes Mellitus Riwayat Alergi

: (-) : (-) : (-)

Riwayat Asma
Riwayat Penyakit Jantung

: (-)
: (-)

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
TD S Rr N : : : : 140/60 mmHg 36,8C 20 x /menit 56 x / menit

Vital Sign :

Pemeriksaan Fisik
Kulit
Ikterik (+), petekie (-), acne (-), turgor cukup, hiperpigmentasi (-), kulit kering (-), kulit hiperemis (-), sikatrik (-)

Kepala
Bentuk mesosefal, rambut warna hitam, mudah rontok (-).

Mata
Konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), injeksi konjungtiva (-/-), pupil isokor, reflek cahaya (+/+) normal, edema palpebra (-/-), strabismus (-/-).

Hidung
Nafas cuping hidung (-), deformitas (-), darah (-/-), sekret (-/-).

Telinga
Deformitas (-/-), darah (-/-), sekret (-/-).

Mulut
Sianosis (-), gusi berdarah (-), kering (-), stomatitis (-), pucat (-), lidah tifoid (-), papil lidah atropi (-), luka pada sudut bibir (-).

Leher
JVP R 0, trakea di tengah, pembesaran tiroid (-), pembesaran kelenjar getah bening (-).

PEMERIKSAAN FISIK (cor)


Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak Palpasi : Iktus kordis tidak kuat angkat Perkusi : Batas jantung kiri atas : SIC II linea parasternalis sinistra kiri bawah : SIC V 2 cm medial linea midclavicularis sinistra kanan atas : SIC II linea parasternalis dextra kanan bawah : SIC IV linea parasternalis dextra pinggang jantung : SIC II-III parasternalis sinistra Konfigurasi jantung kesan tidak melebar Auskultasi :Bunyi jantung I-II murni, intensitas normal, reguler, bising (-), gallop (-)

PEMERIKSAAN FISIK (pulmo)


Inspeksi : kelainan bentuk (-), simetris (+), pelebaran vena superfisial (-), spider nevi (-), ketinggalan gerak (-), retraksi otot bantu pernapasan (-)

Palpasi : Ketinggalan gerak Depan Belakang Belakang


-

Fremitus Depan
n n n n n n n n

PEMERIKSAAN FISIK (pulmo)


Perkusi :
S S S S S S S S

R: redup S: sonor Auskultasi : SDV (+/+), ronki (-/-), wheezing (-/-)

PEMERIKSAAN FISIK
ABDOMEN
Inspeksi : dinding perut // dinding dada, venektasi (-), sikatrik (-), distended (-) Auskultasi : peristaltik (+) normal Perkusi : timpani, pekak alih (-), undulasi (-) Palpasi : supel, hepar tidak teraba membesar, lien tidak teraba membesar, defans muskuler (-), nyeri tekan (-)

EXTREMITAS SUPERIOR et INFERIOR


Clubbing finger (-), pitting edema (-), sianosis (-), pucat (-), akral hangat (+), eritema palmar (-), spoon nail (-), deformitas (-),

Status Lokalis

Inspeksi

: Massa (+)

Palpasi : teraba masa konsistensi kenyal, tidak mobile, batas tegas tidak nyeri tekan, tidak ada tanda radang, permukaan licin.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Indeks WBC Hitung Lymph Mono Neu Eos Baso Hb RBC Hct MCV MCH MCHC RDW PLT LED: Jam I Jam II 7 7,3 1 0 11,2 g/dL 4 106L 34,8 % 87 fl 28 pg 32,2g/dL 14,1 % 324 103/uL 36 99 (100-300) (11 16 gr/dL) (3,5-5,5 x 106) ( 37-50 %) ( 82-95 fl) (27-31 pg) (32-36 g/dL) jenis: 16-07-2013 5 103/L 19 Normal (4,010,0 10/L)

Indeks SGOT SGPT Lemak: TG HDL LDL Creat UA Glukosa Darah Puasa Glukosa Urine Waktu Perdarahan Waktu Pembekuan Chol

16-07-2013 21,4 U/l 61 U/l 151 mg/dl 61 mg/dl 49 mg/dl 83 mg/dl 0,77 mg/dl 3,7 mg/dl 90 mg/dl 1 min 30 sec 4 min 0 sec

Normal (0-31 U/l) (0-31 U/l) (140-200 mg/dl) (36-165 mg/dl) (45-150 mg/dl) (0-190 mg/dl) (0,7-1,2mg/dl) (2,4-5,7 mg/dl) (<140 mg/dl)

1-5 min 2-6 min

ASSESMENT/ DIAGNOSIS KERJA


Diagnosis kerja : ganglion poplitea sinistra

TERAPI
Ekstirpasi

RENCANA ANESTESI
Persiapan Operasi Persetujuan operasi tertulis Puasa 6 jam pre operatif Infus RL 20 tetes / menit Jenis Anestesi : Regional Anestesi

Teknik Anestesi
Premedikasi Maintenance

: Anestesi Spinal
:: O2 2 liter/menit

Obat Anestesi Regional : Bupivacain Monitoring tanda vital selama anestesi setiap 5 menit Perawatan pasca anestesi di ruang pemulihan

TATA LAKSANA ANESTESI


Cek persetujuan operasi Periksa tanda vital dan keadaan umum Lama puasa > 6 jam Cek obat obatan dan alat anestesi Infus RL 20 tetes / menit Posisi lateral Pakaian pasien diganti dengan pakaian operasi

Di Ruang Persiapan

TATALAKSANA ANASTESI DI RUANG OPERASI


Jam 13.50 pasien masuk OK, manset dan monitor dipasang, TD 151/65 mmHg, HR 60 x/menit, SpO2 94 %. Pasien dikembalikan pada posisi lateral. Oksigen 2 liter/menit. Jam 13.50 infus Asering flab I

Jam 13.55 dilakukan anestesi spinal dengan prosedur :


Pasien duduk dengan punggung fleksi maksimal

Setelah jarum di ruang subarachnoid ditandai menetesnya cairan LCS, silet dicabut dan disuntikkan Decain 15 mg ditutup plester.

Jam 14.05 Operasi dimulai, tanda vital dimulai Jam 14.05 infus Asering flab II Jam 14.20 injeksi iv Granon 5 ml Jam 14.40 injeksi iv Ketesse 2 ml Jam 14.45 injeksi Flamicont 5 ml melalui drain

Dilakukan antiseptis pada daerah kulit punggung bawah menggunakan iodine 1%.

Menggunakan sarung tangan steril, pungsi lumbal menggunakan jarum spinal no.26 pada bidang median dengan arah 10 30 derajat terhadap horizontal ke arah kranial pada ruang VL 3 4.

Jam 14.55 operasi selesai, pasien dipindahkan ke ruang pemulihan.

MONITORING SELAMA ANESTESI


Jam Nadi TD SpO2 Keterangan Infus Asering flab I II Injeksi Decain 15 mg

14.05 14.10 14.15 14.20 14.25 14.30 14.35 14.40 14.45 14.50 14.55

60 56 58 52 50 50 48 49 49 48 48

151/65 139/66 116/58 104/53 102/53 115/55 108/52 111/54 108/53 110/55 118/58

94 % 94 % 94 % 94 % 94 % 93 % 94 % 94 % 93 % 94 % 94 %

Injeksi Granon 1 ml

Injeksi Ketesse 2 ml injeksi drain Flamicont 5 ml melalui

Pindah ke Ruang Pemulihan

RECOVERY ROOM
Jam Nadi TD SpO2 Keterangan Posisi supine 94% 94% 94% 94% 94% 94% Pasien 94% bangsal pindah ke Infus Asering 10 tpm

15.00 15.05 15.10 15.15 15.20 15.25 15.30

48 49 50 48 48 50 50

117/60 112/58 112/57 110/54 108/53 116/56 112/54

TERAPI CAIRAN
Perhitungan cairan pada kasus ini adalah (BB = 58 kg)
Defisit cairan karena puasa 6 jam (2ml/kg/jam) = 2 x 58 x 6 = 696 cc Preloading cairan preoperasi (10-20 ml/kg dalam 15 menit) = 10 x 58 = 580 cc Kebutuhan cairan selama operasi + kebutuhan operasi besar (lama 1 jam) : = (2 ml/kg/jam) + (8 ml/kg/jam) = (2 x 58 x 1) + (8 x 58 x 1) = 116 + 464 = 580 cc Jadi kebutuhan cairan total = 696 + 580 + 580 = 1856 cc

GANGLION POPLITEA (Kista Baker)

Definisi
Ganglion Poplitea (Kista Baker) adalah pembengkakan yang disebabkan oleh cairan dari sendi lutut menonjol dibagian belakang lutut. Bagian belakang lutut disebut juga sebagai daerah poplitea. Ganglion Poplitea (Kista Baker) merupakan distensi cairan dari bursa antara tendon gastrocnemius dan semimembranosus melalui komunikan dengan sendi lutut. Disebut juga bursa gastrocnemiosemimembranos us.

Etiologi
Osteoarthritis (OA) Rhematoid arthritis (RA)

Hipermobilitas sendi lutu

Penumpukan cairan sendi Gamglion Poplitea (Kista Baker)

Terjebak dalam kapsul sendi

nonjol dalam kapsul sendi belakang lutut

Gejala Klinis
Terdapat tonjolan halus di belakang sendi lutut atau di atas betis

Biasanya tidak menimbulkan rasa sakit sebelum pecah


Dapat menyebabkan sakit ringan atau tidak nyaman di belakang lutut, terutama ketika berolahraga Jika kista pecah, bisa menyebabkan pembengkakan yang menyakitkan Gejala-gejala kista pecah serupa dengan thrombophlebitis dari tungkai bawah

Diagnosis

Diagnosis berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik serta kadang melalui pemeriksaan diagnostik. Diagnosis Ganglion poplitea (kista Baker) secara efektif dengan MRI karena distensi cairan dari bursa gastrocnemiosemimembranosus baik digambarkan.

Penalaksanaan
Konservatif :
Ketika radang sendi menyebabkan pembengkakan lutut kronis aspirasi sendi) dan menyuntikkan kortikosteroid longacting(seperti triamcinolone acetonide) untuk mencegah pembentukan kista baker

Jika kista sudah pecahNSAID. Jika kista yang pecah menyebabkan thrombophlebitis di vena popliteal, keadaan ini diobati dengan istirahat di tempat tidur, mengangkat kaki, kompres hangat dan antikoagulan. Kadang-kadang, antibiotika diperlukan juga. Operatif : menghilangkan kista dengan pembedahan merupakan pilihan jika tindakan lain tidak efektif yaitu dengan eksisi

Farmakologi Klinis
ikatan protein plasma

farmakodinamik.

Faktor-faktor yang mempengaruhi respons farmakologi pasien berusia lanjut:


metabolisme obat

tubuh

Farmakologi Klinis Obat-obat Anestesi Spesifik


a. Anestesi Inhalasi

Mungkin adanya gangguan karena penuaan pada kanal ion, aktivitas sinaptik, atau sensitivitas reseptor ikut bertanggung jawab terhadap perubahan farmakodinamik.

b. Anestesi iv dan benzodiazepine

Perubahan farmakokinetik sesuai usia (disebabkan karena penurunan klirens dan volume distribusi inisial)

c. Opiat

Pasien berusia lanjut hanya memerlukan sedikit obat untuk menghilangkan rasa nyeri.

d. Pelumpuh Otot

Durasi kerja mungkin akan memanjang, bila obat tersebut tergantung pada metabolisme ginjal atau hati.

e. Anestesia neuraksial dan blok saraf perifer

Klirens plasma lokal anestesi ymenurun pada pasien berusia lanjut. menjadi faktor yang mengurangi penambahan dosis dan jumlah infus selama pemberian dosis berulang dan teknik infus berkesinambungan.

Mungkin terdapat peranan anestesi yang bekerja singkat untuk pasien berusia lanjut

Opioid mungkin lebih baik menggunakan opioid dengan kerja singkat seperti remifentanil

Sama halnya dengan pilihan menggunakan pelumpuh ototdengan kerja yang lebih singkat.

Anestesi Regional berbanding Anestesi Umum


Bukti menunjukkan sedikit perbedaan hasil antara anestesi regional dan anestesi umum pada pasien berusia lanjut

Data menunjukkan: pasien berusia lanjut lebih rentan terhadap episode hipoksia selama dalam ruang pemulihan.
Pasien dengan anestesi regional mempunyai risiko hipoksemia yang lebih rendah. Komplikasi paru yang terjadi pada anestesi regional juga lebih sedikit.

Masalah-masalah umum pada unit perawatan post anestesi


Penanganan masalah paru pre dan post operatif merupakan hal yang penting.

Pasien berusia lanjut mempunyai risiko yang lebih tinggi mengalami aspirasi sekunder terhadap penurunan progresif pada diskriminasi sensorik laringofaringeal. Serta disfungsi proses menelan.

Disfungsi kognitif postoperatif


Risiko terjadinya penurunan kognitif postoperatif:

usia, tingkat pendidikan yang rendah, gangguan kognitif preoperatif, depresi, dan prosedur pembedahan.
Insidens disfungsi kognitif setelah pembedahan nonjantung pasien usia >65 tahun: 26% pada minggu pertama dan 10% pada bulan ketiga.

Penanganan Nyeri Akut Post Operatif


Adanya penurunan persepsi sakit sejalan dengan bertambahnya usia.

Hasil Perawatan Intensif


Pasien yang mampu bertahan setelah keluar dari ICU berhubungan erat tingkat keparahan penyakit saat masuk, sedangkan usia dan status fungsional prehospital berhubungan erat tingkat survival jangka panjang.

DAFTAR PUSTAKA
1. Darmojo B. Geriatri Ed. 4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2009. Hal 3-4; 56-66. 2. Allison B., Forest Sheppard. Geriatric Anesthesia. In : World Journal of Anesthesiology. USA: Departemen of Anesthesiology National Naval Medical Centre; 2009;4:323-336. 3. Shafer SL. The Pharmacology of Anesthetic Drugs In Elderly Patient. Journal of Anesthesiology. England: Departemen of Anesthesiology; 2000;18:1-29.

4. Miller R. Millers Anesthesia 2 Ed. 7. 71:2261-73