Anda di halaman 1dari 22

PROPOSAL TUGAS AKHIR

ANALISIS NILAI POWDER FACTOR (PF) OPERASI PEMBORAN DAN PELEDAKAN OVERBURDEN BATUBARA TERHADAP PRODUKTIVITAS PENGUPASAN OVERBURDEN DI PT. ASMIN KOALINDO TUHUP (AKT) KECAMATAN LAUNG TUHUP KABUPATEN MURUNG RAYA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

Diajukan Oleh : HARIADI (DBD 109 047)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS PALANGKA RAYA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN 2013

HALAMAN PENGESAHAN PROPOSAL PENELITIAN TUGAS AKHIR Diajukan Kepada PT. ASMIN KOALINDO TUHUP (AKT) Sebagai salah satu syarat untuk melaksanakan Penelitian Tugas Akhir (TA) Oleh : Nama Alamat Jurusan : : Hariadi (DBD 109 047)

Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Palangka Raya Jl. H. Timang No.1 (73112) INDONESIA Telp : 0536 3226487
Fax : 0536 - 3226487

Alamat Rumah

Hariadi Jl. Raden Patah No. 49, Palangka Raya (KAL-TENG) Telp. 085751978788 Palangka Raya, Juni 2013

Menyetujui Dosen Koordinator Tugas Akhir,

Mahasiswa,

Neny Sukmawatie, S. Hut., MP NIP. 19760614 200801 2 020 Mengetahui, Ketua Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Palangka Raya

HARIADI NIM. DBD 109 047

BUDHI ETER SILAM, ST NIP. 132 317 928

1.

JUDUL Pelaksanaan Tugas Akhir merupakan salah satu studi lapangan dalam

perkuliahan pada Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Palangkaraya. Penulis bermaksud melaksanakan Tugas Akhir di PT. ASMIN KOALINDO TUHUP (AKT), dimana judul yang penulis ajukan adalah Analisis Nilai Powder Factor (PF) Operasi Pemboran Dan Peledakan Overburden Batubara Terhadap Produktivitas Pengupasan Overburden. 2. LATAR BELAKANG Salah satu kegiatan yang dilakukan pada usaha pertambangan batubara ialah kegiatan pengupasan overburden sebagai lapisan atas yang menutupi lapisan batubara. Dikarenakan lapisan overburden di lokasi tambang PT. Asmin Koalindo Tuhup batuan yang cukup keras, maka perlu dilakukan operasi pemboran dan peledakan dalam rangka membongkar overburden tersebut. Di dalam operasi peledakan, ada parameter yang disebut sebagai Powder Factor (PF), diartikan sebagai perbandingan jumlah bahan peledak yang akan dipakai dengan batuan hasil peledakan. Perencanaan operasi peledakan dengan nilai Powder Factor yang tepat sangat menentukan produktivitas pengupasan overburden tersebut. Dengan memilih judul ini, Peneliti mengharapkan dapat menganalisis nilai Powder Factor pada operasi peledakan overburden batubara dan kaitannya dalam memaksimalkan produktivitas pengupasan overbuden pada perusahaan yang telah dipilih. 3. MAKSUD DAN TUJUAN Secara akademis, penelitian Tugas Akhir ini dimaksudkan sebagai salah satu syarat kelulusan Studi Strata Satu Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Palangka Raya serta sebagai tolak ukur terhadap wawasan dan pengetahuan yang telah didapat dibangku kuliah terhadap kegiatan di lapangan. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat dan menganalisis apakah geometri, pola peledakan, dan powder factor yang diterapkan pada daerah kerja pemboran dan peledakan overburden itu sudah cocok, maksimal, dan

terfragmentasi baik dengan produktivitas pengupasan overburden yang dilakukan. Artinya menganalisis powder factor dengan mengarah ke tingkat ekonomis suatu proses peledakan dan menghubungkannya dengan

produktivitas peralatan pengupasan overburden (alat gali-muat dan alat angkut). Apakah telah berjalan dengan baik dan mampu menghasilkan angka powder factor yang ekonomis dengan produktivitas peralatan pengupasan overburden yang maksimal dan memenuhi target perusahaan. 4. MANFAAT PENELITIAN Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah dapat diketahuinya nilai powder factor terhadap produktifitas alat gali muat dan alat angkut dalam kegiatan pengupasan overburden. 5. RUMUSAN MASALAH Pada saat akan memulai operasi penambangan batubara, terdapat lapisan penutup (overburden) yang harus dikupas terlebih dahulu. Lapisan overburden ini berupa bebatuan keras dan lunak. Bebatuan lunak dapat langsung dikupas dengan menggunakan alat ripping dan gali-muat. Sedangkan untuk lapisan batuan keras maka akan memerlukan adanya operasi pemboran dan peledakan guna membongkarnya, menjadikannya sebagai fragmen-fragmen kecil yang siap untuk digali dan dimuat. Untuk mendapatkan fragmentasi hasil peledakan yang baik, diperlukan rancangan geometri, pola peledakan serta penentuan powder factor yang ekonomis. Guna mendapatkan ukuran powder factor yang pas untuk menghasilkan produktivitas alat pengupasan (gali-muat dan angkut) yang maksimal. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka dilakukan analisis terhadap rancangan geometri peledakan dan powder factor yang dipakai. Dalam analisis ini akan dilakukan dengan pengamatan terhadap beberapa faktor yang mempengaruhi operasi pemboran dan peledakan, yaitu rancangan pola dan geometri, jenis batuan, jenis bahan peledak, jumlah material yang akan diledakan, kinerja dan produktivitas alat.

Data yang diperoleh dari pengamatan tersebut akan dijadikan sebagai dasar untuk menganalisis operasi pemboran dan peledakan secara teoritis, termasuk desain geometri, pola lubang bor, pola pengisian handak, dan powder factor. Agar sekiranya dapat dibandingkan dengan aktualisasi dilapangan. Sehingga bila ada kekurangan, maka dapat diperbaiki dan dicocokan. Pemecahan masalah ini berhasil apabila didapat fragmentasi hasil peledakan yang sesuai dengan spesifikasi yang mampu di gali-muat dan angkut oleh alat mekanis dan tercipta produktivitas kerja yang maksimal. 6. BATASAN MASALAH Penelitian ini dibatasi hanya terletak pada lingkup kegiatan pemboran dan peledakan overburden serta produktivitas alat gali muat dalam pengupasan overburden. 7. DASAR TEORI

7.1. Pemboran dan Peledakan a. Diameter Lubang Tembak Diameter lubang tembak yang biasanya dipilih disesuaikan dengan sifatsifat fisik batuan yang akan diledakkan. Apabila batuan yang akan diledakkan sukar pecah maka penggunaan diameter lubang tembak yang kecil akan dapat menghasilkan energi peledakkan yang lebih baik. b. Kemiringan Lubang Tembak 1) Lubang Tembak Vertikal Suatu jenjang dengan arah lubang tembak vertikal diledakkan, maka bagian lantai jenjang akan menerima gelombang tekan terbesar. Gelombang tekan tersebut sebagian akan dipantulkan pada bidang bebas dan sebagian lagi diteruskan pada bagian bawah lantai jenjang (lihat gambar dibawah). 2) Lubang Tembak Miring Pada lubang tembak miring, bidang bebas akan menerima gelombang tekan untuk dipantulkan lebih besar dan gelombang tekan yang diteruskan pada bagian bawah lantai jenjang lebih kecil (lihat gambar

dibawah). Dengan demikian sebagian besar gelombang tekan yang dihasilkan oleh bahan peledak digunakan untuk membongkar batuan. c. Pola Pemboran Pola pemboran merupakan suatu pola pada kegiatan pemboran dengan menempatkan lubang lubang tembak secara sistematis. Berdasarkan letak letak lubang bor maka pola pemboran pada umumnya dibedakan menjadi dua macam, yaitu : 1) Pola pemboran sejajar (paralel pattern) 2) Pola pemboran selang-seling (staggered pattern)

Daerah bongkar besar

Lantai Atas 45
0

Daerah backbreak Stemming Gel.Tekan diteruskan Gel.Tekan dipantulkan

45

Lantai Bawah

Lubang tembak tegak


Daerah bongkar besar Daerah backbreak

Lantai Atas 45
0

Stemming Gel.Tekan diteruskan Gel.Tekan dipantulkan

45
0

Lantai Bawah

Lubang tembak miring

Gambar 1.1 Pemboran Dengan Lubang Tembak Tegak dan Lubang Tembak Miring Pola pemboran sejajar adalah pola dengan penempatan lubanglubang tembak yang saling sejajar pada setiap kolomnya. Sedangkan pola pemboran selang-seling, adalah pola dengan penempatan lubang-lubang tembak secara selang seling pada setiap kolomnya. Dalam penerapannya di lapangan, pola pemboran sejajar merupakan pola yang lebih mudah dalam melakukan pemboran dan untuk pengaturan lebih lanjut. Tetapi perolehan fragmentasi batuannya kurang seragam, sedangkan pola pemboran selang seling lebih sulit penanganannya di lapangan namun fragmentasi batuannya lebih baik dan seragam.

Menurut hasil penelitian di lapangan pada jenis batuan kompak, menunjukan bahwa hasil produktivitas dan fragmentasi peledakan dengan menggunakan pola pemboran selang-seling lebih baik dari pada pola pemboran sejajar, hal ini disebabkan energi yang dihasilkan pada pemboran selang-seling lebih optimal dalam mendistribusikan energi peledakan yang bekerja dalam batuan.

A. Pola pemboran
sejajar (paralel).

B Free Face

S = Spasi S B. Pola pemboran B = Burden


selang-seling (staggered).

B B Free Face

S = Spasi B = Burden

Gambar 1.2. Pola Pemboran d. Pola Peledakkan Pola peledakan merupakan urutan waktu peledakan antara lubang lubang bor dalam satu baris dengan lubang bor pada baris berikutnya ataupun antara lubang bor yang satu dengan lubang bor yang lainnya. Pola peledakan ini ditentukan berdasarkan urutan waktu peledakan serta arah runtuhan material yang diharapkan. Berdasarkan arah runtuhan batuan, pola peledakan diklasifikasikan sebagai berikut (Gambar 1.3) : a. Box Cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya ke depan dan membentuk kotak b. Corner cut (echelon cut) , yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya ke salah satu sudut dari bidang bebasnya.

c.

V cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya kedepan dan membentuk huruf V. Berdasarkan urutan waktu peledakan, maka pola peledakan

diklasifikasikan sebagai berikut : a. Pola peledakan serentak, yaitu suatu pola yang menerapkan peledakan secara serentak untuk semua lubang tembak. b. Pola peledakan beruntun, yaitu suatu pola yang menerapkan peledakan dengan waktu tunda antara baris yang satu dengan baris lainnya. Setiap lubang tembak yang akan diledakkan harus memiliki ruang yang cukup kearah bidang bebas terdekat agar energi terkonsentrasi secara maksimal sehingga lubang tembak akan terdesak, mengembang, dan pecah. Secara teoritis, dengan adanya tiga bidang bebas (free face) maka kuat tarik batuan akan berkurang sehingga meningkatkan energi ledakan untuk pemecahan batuan dengan syarat lokasi dua bidang bebasnya memiliki jarak yang sama terhadap lubang tembak. e. Kecepatan Pemboran - Cycle Time Ct = Pt + Bt + St + Ft + Dt Dimana : Ct = Cycle time Pt = Waktu untuk mengambil posisi (positioning time) Bt = Waktu untuk membor (boring time) St = Waktu untuk menambah, mengganti batang bor Ft Dt = Waktu untuk mencabut rod dan membersihkan lubang = Waktu untuk mengatasi hambatan-hambatan (delay time)

Bidang Bebas 2 1 3 1 1
1

BOX CUT 1 2 1 3

Bidang Bebas

2 3 4

1 2 3

0 1 2

1 2 3

2 3 4
Keterangan : 1, 2, = Nomor urutan peledakan = Arah runtuhan batuan

Bidang Bebas 5 4 3 2 1

ECHELON CUT
Keterangan :

6 7

5 6

4 5

3 4

2 3

1, 2, = Nomor urutan peledakan = Arah runtuhan batuan

Gambar 1.3 Pola Peledakan Berdasarkan Arah Runtuhan Batuan

- Kecepatan pemboran H1 Vt1 = Ct Dimana : Vt = Kecepatan pemboran H = Kedalaman lubang tembak Ct = Cycle time

- Kecepatan pemboran rata-rata (GDR) Vt1 + Vt2 + . . . + Vtn Vt = n Dimana : n = Jumlah pengamatan f. Volume Setara A x L Veq = n x H Dimana : A = luas daerah yang akan diledakkan L = tinggi jenjang n = jumlah lubang tembak

H = kedalaman lubang tembak g. Produksi Alat Bor P = Vt x Veq x E Dimana : P Vt = produksi alat bor = kecepatan pemboran

Veq = volume setara E = effesiensi kerja alat bor

h. Geometri Peledakkan - Konya Teori B = 3,15 De ( SGe/SGr )1/3 Dimana : B = Burden

SGe = SG bahan peledak SGr = SG batuan De = Diameter lubang tembak - R.L. Ash Teori Ep AF1 = { Epst }1/3

dest AF2 = { de Dimana : Ep = energi potensial bahan peledak }1/3

Epst = energi potensial peledak standart de = densitas batuan yang diledakkan

dest = densitas batuan standart

KB terkoreksi = KB standart x AF1 x AF2 KB terkoreksi x De B = 12 Hubungan antar variabel R.L Ash : - Burden Ratio 12 B Kb = De - Hole Depth Ratio H = Kh x B - Sub Drilling Ratio J = Kj x B - Stemming Ratio T = Kt x B - Spacing Ratio S = Ks x B i. Metode Peledakkan Sampai saat ini dikenal ada empat jenis metode peledakkan, yaitu : Metode sumbu api Metode sumbu ledak Metode Listrik Metode Non Electric (nonel) Ks = 1,1 - 1,8 Kt = 0,7 - 1,0 Kj = 0,2 - 0,4 Kh = 1,5 - 4,0

Sedangkan kebutuhan mengenai peralatan dan perlengkapan tergantung dari metode yang akan digunakan. j. Kapasitas Produksi 1. Jumlah batuan yang diledakkan W = A x L x dr Dimana : W A = berat batuan = luas daerah yang akan diledakkan

L = tinggi jenjang dr = densitas batuan 2. Penentuan Tingkat Fragmentasi Batuan Hasil Peledakan Penentuan tingkat fragmentasi batuan hasil peledakan dengan cara membandingkan antara volume nyata batuan hasil peledakan dengan volume batuan yang tidak memerlukan pemecahan ulang. Fragmentasi batuan yang memerlukan pemecahan ulang dinyatakan sebagai bongkah (boulder) dari hasil peledakan, sehingga diperlukan upaya pemecahan ulang agar batuan tersebut bisa digunakan. Dalam menentukan tingkat fragmentasi batuan hasil peledakan ada beberapa metode yang bisa digunakan, seperti : 1) Metode photography 2) Metode photogrametry 3) Metode photography berkecepatan tinggi 4) Analisa produtivitas alat muat 5) Analisa volume material pada pemecahan ulang 6) Analisa visual komputer

7) Analisa kenampakan kualitatif 8) Analisa ayakan 9) Analisa produktivitas alat peremuk Penentuan fragmentasi batuan hasil peledakan di PT. Asmin Koalindo Tuhup nantinya ialah dengan menerapkan analisa

produktivitas alat muat. Cara ini digunakan karena lebih teliti dalam perhitungannya.

X = A (V/Q)0,8 . Q0,17 . (E/115)-0,63 Dimana : X = ukuran fragmentasi batuan A = faktor batuan V = volume batuan yang dihancurkan tiap lubang tembak Q = berat bahan peledak E = energi potensial relatif 3. Bahan peledak yang diperlukan E = de x Pc x N Dimana : E = jumlah bahan peledak yang diperlukan

de = densitas bahan peledak Pe = tinggi kolom isian bahan peledak N = jumlah lubang tembak

4. Powder Factor (PF) W Pf = E 5. Blasting Ratio (BR) E Br = W 7.2. Produktivitas Alat Gali Muat dan Alat Angkut Kemampuan produksi penambangan dapat diketahui dengan melakukan perhitungan kemampuan produksi alat mekanis masing-masing rangkaian kerja yang telah ditetapkan. Kemampuan produksi alat muat dan alat angkut dapat digunakan untuk menilai kemampuan kerja dari suatu alat. Semakin besar hasil produksi suatu alat dalam waktu yang singkat berarti produktifitas alat tersebut juga akan semakin baik. a. Produktivitas alat gali muat :

Kb Eff 3600 Ct

Keterangan : Q = produktivitas alat muat (ton/jam) untuk batubara, ( bcm/jam) untuk interburden Kb = kapasitas bucket

Eff Ct

= Faktor efisiensi alat = waktu edar alat muat/excavator, detik.

Waktu Edar Alat Muat Merupakan total waktu pada alat muat, yang dimulai dari pengisian bucket sampai dengan menumpahkan muatan ke dalam alat angkut dan kembali kosong. Rumus : CTm = Keterangan : CTm = Waktu edar excavator, menit Tm1 = Waktu menggali material, detik Tm2 = Waktu berputar (swing) dengan bucket terisi muatan, detik Tm3 = Waktu menumpahkan muatan, detik Tm4 = Waktu berputar (swing) dengan bucket kosong, detik T1 + T2 + T3 + T4 60

b. Produktivitas alat angkut

Kb x Eff x 60 Ct

Keterangan : Q = produktivitas alat angkut, (ton/jam) untuk batubara, (bcm/jam) untuk interburden Kb Eff = kapasitas bucket = faktor efisiensi alat

Ct

= waktu edar truk, menit

Waktu Edar Alat Angkut Waktu edar alat angkut (dump truck) pada umumnya terdiri dari waktu menunggu alat untuk dimuat, waktu mengatur posisi untuk dimuati, waktu diisi muatan, waktu mengangkut muatan, waktu dumping, dan waktu kembali kosong. Rumus : CT = Keterangan : Cta = Waktu edar alat angkut, menit Ta1 = Waktu mengambil posisi untuk siap dimuati, detik Ta2 = Waktu diisi muatan, detik Ta3 = Waktu mengangkut muatan, detik Ta4 = Waktu mengambil posisi untuk penumpahan, detik Ta5 = Waktu muatan ditumpahkan (dumping), detik Ta6 = Waktu kembali kosong, detik Waktu edar yang diperoleh setiap unit alat mekanis berbeda, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu : 1. Kondisi Tempat Kerja Tempat kerja yang luas akan memperkecil waktu edar alat. Dengan ruang gerak yang cukup luas, berbagai pengambilan posisi dapat dilakukan dengan mudah, seperti untuk berputar, menggambil posisi sebelum diisi muatan atau penumpahan serta untuk kegiatan pemuatan. Dengan demikian alat tidak perlu maju mundur untuk mengambil posisi karena ruang gerak cukup luas, sehingga akan meningkatkan produktivitas kerja alat. Ta1 + Ta2 + Ta3 + Ta4 + Ta5 + Ta6 60

2.

Kekerasan Meterial Material yang keras akan lebih sukar untuk diuraikan, digali atau dikupas oleh alat mekanis. Hal ini akan menurunkan produktivitas alat.

3.

Keadaan Jalan Angkut Pemilihan alat-alat mekanis untuk transportasi sangat ditentukan oleh keadaan jalan angkut yang dilalui. Fungsi jalan adalah untuk menunjang operasi tambang terutama dalam kegiatan pengangkutan. Dimana kekerasan, kehalusan, kemiringan dan lebar jalan sangat berpengaruh terhadap waktu edarnya. Waktu edar alat angkut akan semakin kecil apabila alat tersebut dioperasikan pada kondisi jalan yang diperkeras, halus dan tanjakan relatif datar, sehingga akan meningkatkan produktivitas kerja alat.

4.

Metode Pemuatan

8.

WAKTU PELAKSANAAN TUGAS AKHIR Adapun waktu pelaksanaan Tugas Akhir yang diajukan adalah dua bulan. Terhitung minggu pertama bulan Agustus sampai dengan minggu terakhir bulan September. Susunan langkah kerja yang diusulkan adalah sebagai berikut: Agustus Kegiatan I Studi Literatur Observasi Lapangan Pengambilan Data Pengolahan dan Analisis Data II II IV I II III September IV

9.

METODE PENELITIAN Adapun penulisan laporan penelitian ini didasarkan pada 3 metode, yaitu: 1. Metode Pustaka Metode ini dilakukan dengan mencari bahan-bahan pustaka yang menunjang, yang diperoleh dari data perusahaan terkait, perpustakaan, penelitian terdahulu, internet, peta, grafik, tabel dan spesifikasi alat. 2. Metode Observasi Metode ini dilakukan dengan melakukan peninjauan lapangan untuk melakukan pengamatan langsung terhadap topografi daerah, vegetasi, cuaca, penentuan titik-titik pengamatan, Checking terhadap permasalahan serta data-data lain yang akan berhubungan dengan topik yang diambil. Kemudian dilanjutkan dengan pengambilan data yang meliputi : a. b. c. Data spesifikasi overburden Data spesifikasi peralatan peledakan Metode pemboran dan peledakan, metode pengupasan dan

pengangkutan d. e. f. Operasi pemboran dan peledakan, rangkaian, handak, powder factor Menghitung biaya operasi alat Penilaian efektifitas dan produktivitas kerja alat

Data yang diambil nantinya akan diproses lebih lanjut dengan beberapa perhitungan, selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel, grafik, atau rangkaian perhitungan pada penyelesaian dalam suatu proses tertentu. 3. Metode Interview ( Wawancara ) Metode ini dilakukan dengan cara tanya jawab kepada pengawas operational pada PT. Asmin Koalindo Tuhup.

10.

PERMOHONAN FASILITAS Dengan segala kerendahan hati dan penuh harapan mahasiswa meminta kebijaksanaan dari pihak PT. Asmin Koalindo Tuhup untuk dapat mendukung

terlaksananya kegiatan penelitian Tugas Akhir ini, dengan bersedia menyediakan fasilitas berupa : 1. 2. 3. Tempat tinggal atau mess selama melakukan penelitian Konsumsi Peralatan, perlengkapan dan akomodasi penunjang dalam kegiatan Tugas Akhir 4. 5. Transportasi selama kegiatan berlangsung, serta Peralatan lainnya yang berupa sarana dan prasarana sebagai penunjang dalam kegiatan Tugas akhir. 11. PENUTUP Demikian proposal ini dibuat sebagai bahan pertimbangan bagi pihak perusahaan dengan harapan dapat diterima dan diproses lebih lanjut guna memudahkan pelaksanaan Penelitian Tugas Akhir ini nantinya. Adapun jika judul yang penulis ajukan tidak sesuai dengan keadaan perusahaan saat ini ataupun ada permasalahan lain, sehingga judul yang diajukan tidak dapat diterima dan diproses, maka harapan penulis perusahaan dapat memberikan kebijaksanaan yang berupa masukan ataupun usulan lain untuk penelitian tugas akhir ini. Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan proposal ini banyak terdapat kekurangan atau kekeliruan baik itu dari segi penulisan maupun teori yang tercantum, untuk itu penulis mengaharapkan adanya saran konstuktif untuk perbaikan dan penyempurnaan Penelitian Tugas Akhir ini nantinya.

CURRICULUM VITAE

Nama Jenis Kelamin Tempat / Tanggal Lahir Kewarganegaraan Tinggi / Berat Badan Kesehatan Alamat Lengkap

: Hariadi : Laki - Laki : Muara Untu, 8 Agustus 1989 : Indonesia : 167 cm / 74 kg : Baik : Jl. Raden Patah No. 49 Kelurahan Menteng Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya

Agama No. Telepon / HP Email

: Islam : 085751978788 : hariadi.miners09@yahoo.com

Riwayat Pendidikan SD SLTP SMU : SD Negeri 2 Muara Untu (Tahun 1995 - 2001) : SLTP Negeri 2 Puruk Cahu (Tahun 2001 - 2004) : SMK Syuhada Teknologi Banjarmasin (Tahun 2006 2009) Jurusan Teknik Mesin Perkakas Perguruan Tinggi : Universitas Palangka Raya (Tahun 2009 - Sekarang) Fakultas Teknik Jurusan Teknik Pertambangan

Anda mungkin juga menyukai