Anda di halaman 1dari 6

Nama : Tri Eka Julianto Amrullah NPM : 1081700021

Fakultas Kedokteran UNSWAGATI Lelaki Tua dengan Sesak Nafas Seorang lelaki tua berusia 65 tahun datang ke UGD mengeluh sulit bernafas. Ia menjelaskan sesak nafas yang semakin memburuk yang disertai dengan dada seperti terikat, wheezing, dan batuk. Sesak nafasnya sangat berat sehingga ia tidak dapat berjalan dari kursinya ke kamar mandi tanpa menjadi terengah-engah. Ia baru-baru ini sembuh dari flu, dengan hidung tersumbat, lendir jernih, dan batuk nonproduktif selama beberapa hari. Ia mengatakan bahwa ia tidak pernah sakit seumur hidupnya dan tidak pernah ke dokter selama 2 dekade, bagaimanpun ia mengakui ia telah secara bertahap mengurangi aktifitasnya seperti berkebun, dan berjalan-jalan, karena ia mudah "masuk angin". Ia merokok 2 bungkus roko sehari, suatu kebiasaan yang ia coba hentikan selama 30 tahu. Pada pemeriksaan fisik, pasien sadar tetapi tampak sesak nafas ringan, dengan retraksi sedang dan "pursed-lipped breathing". Ia tidak demam, TD 140/85 mmHg, dan nadinya 103 x/menit, dan reguler. Frekuensi nafas 28 x/menit dan dari pulse oximetry menunjukan 85% pada waktu pasien menghirup udara ruangan. Pada aukultasi didapatkan ekspirasi yang memanjang dan wheezing ekspiratori pada lapangan paru atas. Pemeriksaan jantung didapatkan suara jantung terdengar jauh. Tidak ada murmur dan gallop atau pericardial rub. Kulitnya kering dan dingin. Didapatkan edema dipergelangan kakinya tetapi tidak ada sianosis atau clubbing. Kata Kunci Sesak nafas Laki-laki usia 65 th Dada seperti terikat, wheezing, batuk Hidung tersumbat, lender jernih, batuk non produktif. Perokok berat Pemeriksaan fisis Nafas ringan dengan retraksi sedang Pursed-lipped brething, tidak demam. Auskultasi: ekspirasi memanjang, wheezing ekspiratori lap. Paru atas, suara jantung terdengar jauh. Vital sign : TD : 140/85 mmHgNadi: 103x/mnt, Frek. Nafas : 28x/mnt, Pulse oximetry 85%

Kulit kering dan dingin Edema dipergelangan kaki

Daftar Masalah 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Definisi sesak nafas Penyakit apa saja yang disertai sesak nafas Perbedaan sesak nafas karena paru-paru dan jantung Definisi dan patofisiologi wheezing. Kenapa terjadi edema pada pergelangan kaki Definisi PPOK Etiologi PPOK Patofisiologi PPOK Pemeriksaan penunjang

10. Penatalaksanaan

Analisis masalah 1. 2. Gangguan yang ditandai oleh frekuensi nafas yang meningkat karena sulit bernafas. Pulmonal : PPOK, asma, bronkitis, pneumonia, TB

Jantung : gagal jantung, infark myokard, anemia. Lain : trauma 3. Jantung : oedem tungkai, dekompensasi cordis dextra, kadar oksigen dalam darah Paru-paru : Control nafas : kompensasi nafas, cth: asidosis metabolic Pertukaran gas : pertukaran gas di alveoli terganggu, cth: pneumoni Saluran : penyempitan saluran nafas, cth: asma 4. Wheezing : suara nafas tambahan ketika ekspirasi karena penyempitan saluran nafas. Patofisiologi : akibat terjadinya bronkospasme pada saluran nafas. 5. Sasaran Belajar (SB) 6. PPOK : penyakit paru kronik ditandai dengan hambatan aliran darah, tidak reversible bersifat progresif, dengan gejala klinis, seperti sesak nafas, batuk kronik dengan atau tanpa sputum. 7. Faktor resiko : asap rokok, polusi udara, infeksi saluran nafas yang berulang, hyperaktivitas bronkus, defisiensi antitrypsin. 8. Patofisiologi PPOK : Droplet infeksi -> partikel gas -> sal.nafas -> bronkus -> hypersekresmukus -> alveoli -> pertukaran gas terganggu -> respon inflamasi -> penumpukan udara -> air trapping -> PPOK.

9.

Spirometri, Radiologi, Pemeriksaan Lab sputum, analisa gas darah (SB)

10. Penatalaksanaan : Edukasi Terapi oksigen Rehabilitasi Ventilasi mekanik Nutrisi Obat-obatan : bronkodilator, antiinflamasi, mukolisin. Main Problem PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik)

Sasaran Belajar : 1. 2. 3. Edema Edema menunjukkan adanya cairan berlebihan di jaringan tubuh. Salah satu penyebab edema paling sering dan paling serius adalah gagal jantung. Pada gagal jantung, jantung gagal memompa darah secara normal dari vena ke dalam arteri, hal ini meningkatkan tekanan vena dan tekanan kapiler yang menyebabkan peningkatan filtrasi kapiler. Selain itu tekanan arteri cenderung turun, menyebabkan penurunan ekskresi garam dan air oleh renal, yang meningkatkan volume darah dan lebih lanjut meningkatkan volume darah dan lebih lanjut meningkatkan tekanan hidrostatik kapiler sehingga edemamakin bertambah. Pada pasien dengan gagal jantung kiri tanpa gagal jantung kanan yang bermakna darah dipompa secara normal ke paru-paru oleh jantung kanan tapi tidak dapat keluar dengan mudah dari vena pulmonalis ke jantung kiri karena sisi kiri jantung ini sangat lemah. Akibatnya semua tekanan pembuluh paru , termasuk tekanan kapiler paru meningkat jauh diatas normal, menyebabkan edema paru berat dan mengancam jiwa. Bila tidak ditangani, akumulasi cairan dalam paru akan bertambah dengan cepat, dan menyebabkan kematian dalam beberapa jam. Edema perifer mulai timbul pada dasarnya terjadi akibat retensi cairan oleh ginjal. Retensi cairan meningkatkan tekanan pengisian sistemik rata-rata, yang mengakibatkan peningkatan Mekanisme edema Pemeriksaan penunjang (analisa gas darah) PPOK Penatalaksanaan PPOK

kecenderungan aliran darah yang kembali ke jantung. Hal ini meningkatkan tekananatrium kanan hingga ke nilai lebih tinggi dan mengembalikan tekanan arteri ke nilai normal. Oleh karena itu tekanan kapiler sekarang juga meningkat dengan nyata, sehingga menyebabkan masuknya cairan ke dalam jaringan dan menimbulkan edema yang hebat. Analisa Gas Darah Pemeriksaan gas darah digunakan sebagai pegangan dalam penanganan pasien-pasien penyakit berat yang akut dan menahun. Pemeriksaan gas darah dipakai untuk menilai keseimbangan asam basa dalam tubuh, kadar oksigen dalam darah, kadar karbondioksida dalam darah. Ukuran-ukuran dalam analisa gas darah: PH normal 7,35-7,45 Pa CO2 normal 35-45 mmHg Pa O2 normal 80-100 mmHg Total CO2 dalam plasma normal 24-31 mEq/l HCO3 normal 21-30 mEq/l PPOK (Penyakit Paru Obstruktif kronik) Berdasarkan Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD), dibagi atas 4 derajat : 1. Derajat I: COPD ringan Dengan atau tanpa gejala klinis (batuk produksi sputum). Keterbatasan aliran udara ringan (VEP1 / KVP < 70%; VEP1 > 80% Prediksi). Pada derajat ini, orang tersebut mungkin tidak menyadari bahwa fungsi parunya abnormal. 2. Derajat II: COPD sedang Semakin memburuknya hambatan aliran udara (VEP1 / KVP < 70%; 50% < VEP1 < 80%), disertai dengan adanya pemendekan dalam bernafas. Dalam tingkat ini pasien biasanya mulai mencari pengobatan oleh karena sesak nafas yang dialaminya. 3. Derajat III: COPD berat Ditandai dengan keterbatasan / hambatan aliran udara yang semakin memburuk (VEP 1 / KVP < 70%; 30% VEP1 < 50% prediksi). Terjadi sesak nafas yang semakin memberat,

penurunan kapasitas latihan dan eksaserbasi yang berulang yang berdampak pada kualitas hidup pasien.

4. Derajat IV: COPD sangat berat Keterbatasan / hambatan aliran udara yang berat (VEP1 / KVP < 70%; VEP1 < 30% prediksi) atau VEP1 < 50% prediksi ditambah dengan adanya gagal nafas kronik dan gagal jantung kanan.

Terapi Farmakologis a. Bronkodilator Secara inhalasi (MDI), kecuali preparat tak tersedia / tak terjangkau Rutin (bila gejala menetap) atau hanya bila diperlukan (gejala intermitten) 3 golongan : I. Agonis -2: fenopterol, salbutamol, albuterol, terbutalin, formoterol,

salmeterol II. III. Antikolinergik: ipratropium bromid, oksitroprium bromid Metilxantin: teofilin lepas lambat, bila kombinasi memuaskan Dianjurkan bronkodilator kombinasi daripada meningkatkan dosis bronkodilator monoterapi b. Steroid c. PPOK yang menunjukkan respon pada uji steroid PPOK dengan VEP1 < 50% prediksi (derajat III dan IV) Eksaserbasi akut -2 dan steroid belum

Obat-obat tambahan lain Mukolitik (mukokinetik, mukoregulator) : ambroksol, karbosistein, gliserol iodida Antioksidan : N-Asetil-sistein Imunoregulator (imunostimulator, imunomodulator): tidak rutin Antitusif : tidak rutin Vaksinasi : influenza, pneumokokus

Terapi Non-Farmakologis Rehabilitasi : latihan fisik, latihan endurance, latihan pernapasan, rehabilitasi psikososia Terapi oksigen jangka panjang (>15 jam sehari): pada PPOK derajat IV, AGD(analisa gas darah ) : PaO2 < 55 mmHg, atau SO2 < 88% dengan atau tanpa hiperkapnia PaO2 55-60 mmHg, atau SaO2 < 88% disertai hipertensi pulmonal, edema perifer karena gagal jantung, polisitemia

Penatalaksanaan PPOK eksaserbasi akut di rumah : bronkodilator seperti pada PPOK stabil, dosis 4-6 kali 2-4 hirup sehari. Steroid oral dapat diberikan selama 10-14 ahri. Bila infeksi: diberikan antibiotika spektrum luas (termasuk S.pneumonie, H influenzae, M catarrhalis). Terapi eksaserbasi akut di rumah sakit: Terapi oksigen terkontrol, melalui kanul nasal atau venturi mask Bronkodilator: inhalasi agonis 2 (dosis & frekwensi ditingkatkan) + antikolinergik.

Pada eksaserbasi akut berat: + aminofilin (0,5 mg/kgBB/jam) Steroid: prednisolon 30-40 mg PO selama 10-14 hari. Steroid intravena: pada keadaan berat. Antibiotika terhadap S pneumonie, H influenza, M catarrhalis. Ventilasi mekanik pada: gagal akut atau kronik Indikasi rawat inap : Eksaserbasi sedang dan berat Terdapat komplikasi Infeksi saluran napas berat Gagal napas akut pada gagal napas kronik Gagal jantung kanan

Indikasi rawat ICU : Sesak berat setelah penanganan adekuat di ruang gawat darurat atau ruang rawat. Kesadaran menurun, letargi, atau kelemahan otot-otot respirasi. Setelah pemberian oksigen tetapi terjadi hipoksemia atau perburukan PaO 2 > 50 mmHg memerlukan ventilasi mekanik (invasif atau non invasif).

REFERENSI 1. Fauci Anthony S, et all. Harrison Principles of Internal Medicine. 17 Edition. The McGrawHill Companies. America. 2008. 2. 3. Guyton A.C., Hall J.E. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta. EGC. 2007. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I , Simadibrata KM, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II, Edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI , 2006.
th