Anda di halaman 1dari 4

MEMBANGUN MASJID CITA RASA PIKNIK Dalam sejarah perkembangan Islam, masjid adalah sumber inspirasi yang tak

pernah habis untuk ditulis. Hal ini sangat wajar mengingat masjid memiliki banyak potensi untuk membangkitkan potensi umat Islam baik pendidikan, politik ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan. Kita dapat melihat misalnya bagaimana Rasulullah SAW menjadikan masjid sebagai majelis ilmu, menyusun strategi perang dan mendidik umat untuk tetap istiqomah dalam memeluk Islam. Secara utuh Rasulullah SAW menyulap masjid menjadi pusat peradaban dunia Islam. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari fakta sejarah dimana masjid adalah institusi pertama yang dibangun ketika Rasulullah SAW pertama kali sampai di kota Madinah, yakni masjid Quba. Pembangunan masjid Quba sangat strategis sebab menjadi tempat berkembangnya penyebaran dakwah Islam. Dengan pandangan visionernya Rasulullah SAW membuat masjid sebagai pusat pergerakan dan pembentukan generasi muda pilihan yang akan meneruskan dakwah islam. Masjid juga menjadi tempat menimba pengetahuan dimana para sahabat rutin duduk mengelilingi Rasulullah SAW untuk mendengar dan melakukan tanya jawab berkaitan urusan agama dan kehidupan sehari-hari. Tak kalah mempesona, selama hampir 700 tahun masjid dapat menjadi simbol persatuan dan persaudaraan umat Islam. Melalui masjid Rasulullah SAW membangun budaya masyarakat baru yang lebih dinamis dan progressif. Masjid adalah rumah Allah yang dibangun atas dasar keimanan dan ketaqwaan. Sinergitas masjid dan pendidikan juga tercermin dalam kebijakan membangun universitas yang berada di dalam masjid, seperti masjid Al Azhar, Kairo, Mesir. Di masa sekarang, Masjid Al Azhar menjadi sumber pengetahuan dan sukses melahirkan ilmuwan muslim yang mewarnai dunia pengetahuan modern. Mempopulerkan Wisata Masjid Bagaimana kondisi masjid sekarang khususnya di Indonesia? Jika diamati potensi masjid di Indonesia sangat tinggi. Berdasarkan data Lembaga Tamir Masjid Indonesia misalnya jumlah masjid seluruh Indonesia yang di bawah jaringan LTMI sampai sekarang mencapai 125.000 masjid dari total masjid seluruh Indonesia yang kini berjumlah sekitar 700.000. Jumlah sebanyak itu menjadi peluang yang besar jika mampu dimanfaatkan dan dikelola dengan baik. Sedangkan berdasarkan data Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla pertumbuhan masjid di Indoensia dalam waktu 20 tahun terakhir cukup tinggi yakni mencapai 63 persen. Saat ini, jumlah keseluruhan masjid di Indonesia mencapai 290 ribu dan 500 surau. Sehingga dapat dipastikan dalam setiap 250 umat muslim memiliki satu rumah ibadah. Fenomena ini menunjukkan bagaimana perkembangan Islam khususnya masjid sangat berkembang pesat.

Sedangkan jumlah secara keseluruhan berdasarkan data Departemen Agama tahun 2004, jumlah masjid di Indonesia sebanyak 643.834 buah. Jumlah itu meningkat dari data tahun 1977 yang mencapai 392.044 buah. Diperkirakan, jumlah masjid dan mushala di Indonesia saat ini antara 600-800 ribu buah. Sebuah angka dashyat seandainya mampu diberdayakan secara optimal untuk memajukan umat Islam. Besarnya jumlah masjid di Indonesia tentu adalah peluang menggiurkan jika mampu dikelola sebagai ladang bisnis. Salah satunya membangkitkan wisata masjid yang disinergikan dengan sektor strategis kehidupan umat manusia seperti pendidikan, kepemudaan dan sosial. Hemat penulis, ada empat peluang strategis yang dapat dimanfaatkan umat Islam jika mampu menjalankan konsep wisata masjid. Pertama, pembangun pusat pendidikan dalam berbagai jenjang pendidikan sebagai daya tarik untuk menarik wisatawan ke masjid. Jika mengacu kepada sistem pendidikan di Al Azhar, pembuatan lembaga pendidikan menyatu dengan masjid adalah strategi jitu. Penyatuan itu membuat pendidikan spritual dan duniawi menyatu sehingga terinternalisasi secara utuh. Dengan menjadikan pendidikan sebagai bagian penting masjid, para orang tua siswa dan pihak sekolah dapat menikmati sajian spritual sehingga masjid dapat berkembang sebagai pusat wisata pendidikan. Dalam skala jangka pendek, lembaga pendidikan juga dapat membuat kegiatan sesuai momentum Hari Besar Umat Islam. Misalnya menyambut bulan suci Ramadhan dapat dilaksanakan kegiatan Ramadhan Fair yang menjual berbagai perlengkapan kebutuhan masyarakat maupun sekolah dengan harga terjangkau. Hal ini dapat berimplikasi kepada perekonomian masyarakat sekitar yang membutuhkan berbagai kebutuhan pangan dan sandang. Dari segi penjual, ini adalah peluang besar untuk memasarkan produk mereka kepada pembeli baik orang tua siswa maupun masyarakat sekitar. Dalam konteks ini roda perekonomian dijalankan dengan memanfaatkan proses wisata masjid. Kedua pemanfaatan wisata masjid untuk meningkatkan kreatifitas dan inovasi pemuda dalam memajukan masjid. Dalam aspek kepemudaan, masjid dapat mengadakan berbagai seminar, lomba dan konser musik religius yang merangkul pemuda agar mencintai masjid. Berbagai kegiatan itu dapat berkolaborasi dengan komunitas kepemudaan, remaja masjid setempat, institusi pemerintah maupun swasta yang menganggarkan dana untuk kepentingan memakmurkan masjid. Apalagi dunia anak muda sarat intelektual dan menjunjung tinggi kreativitas sehingga pendalaman ilmu pengetahuan melalui seminar dapat menjadi solusi. Tentunya seminar yang dilaksanakan sesuai kebutuhan anak muda dan menyesuaikan konteks kekinian, misalnya mengadakan seminar partisipasi politik pemuda untuk mencegah pemuda menjadi golput dengan bekerjasama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Para pemuda juga dapat diajak mencintai masjid dengan mengadakan lomba seperti cerdas cermat, menulis (puisi, cerpen dan lainnya) dan konser musik religius. Apalagi belakangan banyak band yang mengusung tema religius seperti Gigi, Ungu, Wali dan lainnya.

Menjamurnya penggemar band tersebut menjadi peluang meningkatkan kunjungan ke masjid sekaligus penghibur dalam menyemarakan masjid sebagai pusat kreativitas kepemudaan. Kehadiran para band tersebut tentu diharapkan menjadi warna baru para penggemar musik bahwa masjid juga dapat dijadikan wisata bercita rasa seni. Ketiga wisata masjid sebagai pusat kegiatan sosial kemasyarakatan. Belakangan ini masyarakat Indonesia mengalami kedukaan mendalam dengan kehadiran berbagai bencana yang datang bertubi-tubi. Tsunami, gempa bumi dan banjir seolah akrab dalam dunia kehidupan manusia Indonesia. Namun bagaikan logam, bencana menghadirkan dua sisi yang dapat dipandang secara berbeda. Dalam setiap bencana terkandung potensi hikmah, dimana bencana dapat menjadi ajang menghadirkan kepekaan sosial, mengetuk pintu nurani dan membangkitkan kesadaran untuk peduli kepada penderitaan saudara seaqidah dan setanah air. Adanya bencana membuka peluang wisata amal dimana para pengurus dan kepemudaan masjid membuka peluang kotak amal baik yang diletakkan di masjid atau sepanjang jalan menuju masjid. Selain itu aktivis masjid dapat memanfaatkan teknologi seperti Short Message Servis (SMS), pembuatan facebook jaring dana Bencana, twitter peduli bencana dan melelang pernak-pernik tokoh Islam untuk dimanfaatkan dalam berbagai kegiatan sosial. Semua itu dapat dipakai sebagai bentuk dukungan kegiatan sosial yang mampu menumbuhkan kepekaan sosial dalam kehidupan bermasyarakat khususnya kalangan umat Islam. Masa Depan Wisata Masjid Melihat perkembangan dan potensi masjid, sudah selayaknya umat Islam melemparkan senyum optimisme. Wisata masjid dengan varian pendidikan, kepemudaan dan sosial adalah salah satu tawaran strategis bagaimana membangkitkanbudaya piknik ke masjid. Adanya wisata masjid diharapkan membuka mata umat Islam untuk mencintai masjid. Cinta yang dibingkai perasaan memiliki sehingga hatinya selalu terpaut dengan masjid. Penulis optimis paradigma wisata masjid akan mampu membangkitkan perekonomian umat Islam. Pasalnya, masjid tak lagi dipandang sebatas pertarungan orang yang kalah, dimana ketika masa tua menjelang baru mendekati masjid. Sudah waktunya, kita meyakini masjid adalah ruh kebangkitan Islam dan mencintai masjid harus dimulai sejak dini. Apalagi Rasulullah SAW sudah menegaskan salah satu ciri orang yang dinaungi syafaat Allah SWT adalah para pencinta masjid.

Biografi Penulis Nama Penulis No Hp : Inggar Saputra : 085781614946

Email

: genmuslim.100@gmail.com

Alamat : Jalan Cipinang Pulomaja RT 007 RW 10 No 1 Kel. Cipinang Besar Utara, Kec. Jatinegara Jakarta Timur 13410 Syarat dan ketentuan Lomba

Naskah harus asli buatan sendiri, berbahasa Indonesia antara 500 sampai 2000 kata Peserta boleh mengirimkan karya lebih dari satu Naskah belum pernah dipublikasikan di media manapun baik cetak maupun online Setiap naskah diberi judul, nama penulis, biografi singkat penulis, gambar/ilustrasi foto untuk artikel, no hp, email dan alamat penulis Naskah dikirim melalui email ke wasathon@gmail.com Semua naskah akan dipublikasikan di media online http://wasathon.com Akan dipilih 3 orang pemenang pilihan dengan artikel terbaik Memfolow dan mention Twitter @wasathonmagz serta konfirmasi keikutsertaan peserta dengan me- like fanpage wasathonmagz di FB dengan alamat di http://www.facebook.com/pages/Wasathon/295227110540721 Lomba akan dimulai pada tanggal 21 Juni ditutup tanggal 21 Juli 2013 Pengumuman lomba 27 Juli 2013 bisa dilihat di http://wasathon.com

HADIAH LOMBA

1. Hadiah 1 : Uang Rp 1.000.000 dan paket buku 2. Hadiah 2: Uang Rp. 750.000 dan paket buku 3. Hadiah 3. Uang Rp.500.000 dan paket buku