Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kapsul adalah bentuk sediaan padat yang terbungkus dalam suatu cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Kebanyakan kapsul-kapsul yang diedarkan dipasaran adalah kapsul yang semuanya dapat ditelan oleh pasien,untuk keuntungan dalam pengobatan. Begitu pula,kapsul dapat dibuat untuk disisipkan kedalam rektum sehingga obat dilepaskan dan diabsorpsi di tempat tersebut,atau isi kapsul dapat dipindahkan dari cangkang gelatin dan digunakan sebagai pengukur yang dini dari obat-obat bentuk serbuk, istilah kapsul berasal dari bahasa latin capsula yang berarti kotak kecil. (Ansel,2005). Pada abad ke XIX ada masalah dengan rasa dan bau obat yang tidak enak, khususnya herbal sehingga diciptakannya kapsul. Sediaan dalam bentuk kapsul sangat menguntungkan karena rasa dan bau yang tidak mengenakkan, dapat tertutupi sehingga semakin mudah untuk ditelan atau dikonsumsi. Selain itu juga, lebih cepat mengerjakannya dibanding sediaan lain berupa tablet dan pil yang memerlukan zat tambahan. Disamping bentuknya yang menarik dan praktis, keuntungan lainnya dari sediaan kapsul yaitu, dokter dapat mengkombinasikan beberapa macam obat dan dosis yang berbeda sesuai kebutuhan pasien. Umumnya kapsul terbuat dari gelatin yang mudah larut dalam lambung, tetapi dapat juga dibuat dari pati atau bahan lain yang sesuai. Gelatin terbuat dari tulang sapi, kulit sapi, kulit babi dan kulit ikan. Pada pembuatan, kapsul berasal dari gelatin dari tulang sapi dan kulit sapi sedikit digunakan karena mahal, sulit didapat, dan membutuhkan waktu yang lama untuk pengerjaaannya. Sehingga gelatin yang banyak digunakan dalam pembuatan kapsul adalah dari kulit babi. Karena murah, mudah didapat, dan membutuhkan waktu cepat dalam pengerjaannya Sedangkan gelatin yang terbuat dari kulit ikan masih dalam pengembangan dan penelitian. Peracikan sediaan obat berupa kapsul yang memenuhi persyaratan farmasetik penting diketahui untuk dapat diterapkan pada pelayanan kefarmasian. Sehingga pengetahuan tentang cara-cara pembuatan kapsul,jenis-jenis cangkang kapsul dan karakteristiknya,macam-macam kapsul,bobot dan volume ukuran kapsul,cara pengisian kapsul,persyaratan kapsul dan permasalahan dalam pembuatan kapsul penting diketahui sebagai pedoman dalam memuat

kapsul yang memenuhi kriteria dan dapat diterima (dikonsumsi) oleh pasien untuk tujuan pengobatan.

1.2

Tujuan 1. Mengetahui macam-macam kapsul serta keuntungun dan kerugiannya 2. Memahami cara-cara pembuatan kapsul 3. Mengetahui persyaratan dalam pembuatan kapsul

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi Kapsul Kapsul adalah bentukan , yang memiliki bodi berongga elastis dan ukuran yang berbeda, serta mengandung sejumlah bahan obat padat ( berbentuk serbuk, digranulasi, dipeletasi atau ditabletasi ) . Kadang kadang juga cairan yang dikentalkan atau seiaan yang dileburkan . seiaan obat berdosis tersebut dinyatakan sebagai kapsul , dimana bahan obat tertutup rapat oleh gelatin atau bahan lain yang cocok (Voight,1995) Kapsul dapat didefinisiskan sebagai bentuk sediaan padat, dimana satu macam bahan obat atau lebih dan/ atau bahan inert lainnya yang dimasukkan kedalam cangkang atau wadah kecil yang umumnya dibuat dari gelatin yang sesuai . tergantung pada formulasinya kapsul dari gelatin bias lunak dan bias juga keras. Kebanyakan kapsul kapsul yang diedarkan dipasaran adalah kapsul yang semuanya dapat ditelan oleh pasien, untuk keuntungan dalam pengobatan. Begitu pula, kapsul dapat dibuat untuk disisipkan kedalam rectum sehingga obat dilepaskan dan diabsorpsi ditempat tersebut, atau isi kapsul dapat dipindahkan dari cangkang gelatin dan digunakan sebagai pengukur dini dari obat obat bentuk serbuk (Ansel,2005) 2.2 Macam Macam Kapsul 1. Kapsul cangkang keras ( capsulae durae, hard capsul ) Kapsul ini terdiri atas bagian wadah dan tutup yang terbuat dari metilselulosa, gelatin, pati, atau bahan lain yang sesuai. Ukuran cangkang kapsul bervariasi dari nomor paling kecil, yaitu 5 sampai nomor paling besar 000, kecuali cangkang kapsul untuk hewan. Umumnya, ukuran terbesar 000 merupakan ukuran yang dapat diberikan kepada pasien . Ada juga ukuran 0 yang bentuknya memanjang ( dikenal sebagai ukuran OE ) sehingga memberikan kapasitas yang lebih besar tanapa peningkatan diameter ini biasanya mengandung air 10 15 %. Cangkang kapsul ini biasanya diiisi dengan bahan padat atau serbuk, butiran atau granul. Campuran serbuk yang cenderung meleleh dapat diisikan kedalam kapsul cangkang keras jika menggunakan absorben, seperti atau silicon dioksida . Kapsul cangkang keras ini hanya memiliki satu

bentuk dan dipakai untuk pemakaian per oral. (Syamsuni, 2005)

Penutupan cangkang kapsul gelatin keras dapat dilakukan dengan memberikan lekukan khas pada bagian tutup dan induk serta melakukan pemanasan langsung atau menggunakan energy ultrasonic, sedangkan penutupan cangkang kapsul pati keras dilakukan dengan cara pelekatan, yaitu dengan mengoleskan caiaran campuran air alcohol kemidian dikeringkan. (Syamsuni, 2005) 2. Kapsul cangkang lunak ( capsulae molles capsul ) Kapsul jenis ini merupakan satu kesatuan berbentuk bulat atau silindris ( pearl ) atau bulat telur ( globula ) yang dibuat dari gelatin ( kadang disebut gel lunak ) atau bahan lain yang sesuai . Biasanya lebih tebal daripada cangkang keras dan dapat diplastisasi dengan penambahan senyawa poliol, seperti sorbitol atau gliseril. Kapsul ini biasanya mengandung air 6 13 % diisi dengan bahan cairan bukan air seperti polietilenglikol (PEG ) berbobot molekul rendah, atau dapat juga diisi denga bahan padat , serbuk, atau zat padat kering . Kapsul cangkang luanak memiliki bermacam macam bentuk dan biasanya dapat dipakai untuk rute oral, vaginal, rectal, atau topical . Bila ditinjau dari segi formulasi, teknologi, dan biofarmasi, kapsul berisi cairan dari jenis kapsul apapun lebih seragam daripada kapsul berisi serbuk kering dari jenis cangkang yang sama. Selain itu, terdapat sediaan tablet berbentuk kapsul yangdisebut kapsitab atau kaplet. (Syamsuni, 2005)

2.3 Keuntungan dan Kerugian Sediaan Kapsul Keuntungan pemberian sediaan kapsul, antara lain (Syamsuni, 2005) : a. Bentuknya menarik dan praktis b. Cangkang kapsul tidak berasa sehingga dapat menutupi obat yang memiliki rasa dan berbau tidak enak c. Mudah ditelan dan cepat hancur/larut dalam perut sehingga obat cepat diabsorpsi d. Dapat dikombinasikan beberapa macam obat dan dosis yang berbeda beda sesuai kebutuhan pasien e. Kapsul dapat diisi dengan cepat karena tidak memerlukan bahan tambahan / pembantu seperti pembuatan pil dan tablet. Kerugian pemberian bentuk sediaan kapsul, antaralain (Syamsuni, 2005) : a. Tidak dapat digunakan untuk zat zat yang mudah menguap karena pori pori kapsul tidak dapat menahan penguapan
4

b. Tidak dapat digunakan untuk zat zat yang higroskopis ( menyerap lembab ) c. Tidak dapat digunakan untuk zat zat yang dapat bereaksi dengan cangkang kapsul d. Tidak dapat diberikan untuk balita e. Tidak bias dibagi bagi.

2.4. Bobot dan Volume Ukuran Kapsul Bobot dan volume obat yang dapat isiskan kedalam kapsul tergantung pada sifat bahan obat itu sendiri . Ketepatan dan kecepatan dalam pemilihan ukuran kapsul biasanya berdasarkan pengalaman atau pengerjaan secara eksperimental (Syamsuni, 2005) Dalam menyiapkan resep untuk sediaan kapsul, ukuran kapsul hendaknya dicatat untuk memudahkan bila diperlukan pembuatan ulang . selain itu perlu diperhatikan apabila seorang psien mendapatkan dua macam kapsul sekaligus, jangan diberikan dalam warna yang sama untuk menghindari kesalahan minimum obat tersebut (Syamsuni,2005)

2.5. Cara Pembuatan Kapsul Ada tiga cara pengisian kapsul , yaitu dengan (Syamsuni, 2005) : a. Tangan Cara ini merupakan yang paling sederhana karena menggunakan tangan tanpa menggunakan bantuna alat lain. Cara ini sering dikerjakan diapotek untuk melayani resep dokter. Bila melakukan pengisian dengan cara ini, sebaiknya menggunakan sarung tangan untuk mencegah alergi yang mungkin timbul karena tidak tahan terhadap obat tersebut. Untuk memasukkan obat kedalam kapsul, dapat dilakukan dengan cara membagi serbuk sesuai jumlah kapsul yang diminta. Selanjutnya , tiap bagian serbuk tadi dimasukkan kedalanm badan kapsul lalu ditutup.

b. Alat bukan mesin Alat yang dimaksud disini adalah alat yang menggunakan tangan manusia. Dengan alat ini, akan didapatkan kapsul yang lebih seragam dan pengerjaannya yanga dapat lebih cepat karena dalam satu kali pembuatan dapat dihasilkan berpuluh puluh kapsul. Alat ini terdiri atas dua bagian, yaitu bagian yang tetap dan yang bergerak.

Cara pengisian kapsul memakai cara ini yakni pertama buka bagia bagian kapsul , kemudian badan kapsul dimasukkan kedalam lubang pada bagian alat yang tidak bergerak / tetap. Selanjutnya taburkan serbuk yang akan dimasukkan kedalam kapsul, laluratakan dengan bantuan alat kertas film kemudian tutup kapsul dengan cara merapatkan atau menggerakkan bagian alat yang bergerak.(Syamsuni, 2005)

c. Alat Mesin Untuk memproduksi kapsul secara besar besaran dan menjaga keseragaman kapsul, perlu digunakan alat otomatis mulai dari membuka, mengisi, sampai menutup kapsul

(Syamsuni, 2005) .

2.6 Persoalan dalam Pembuatan Sediaan Kapsul a. Serbuk yang memiliki bobot jenis ringan atau berbentuk Kristal harus digerus terlebih dahulu sebelum dimasukka kedalam kapsul. b. Serbuk yang mudah mencair akan merusak dinding kapsul sehingga mudah rapuh. Kerapuahan ini disebabkan oleh bahan obat yang bersifat higroskopis, yaitu menyerap air dari cangkang kapsul. Diatasi dengan menambahkan bahan yang inert. c. Campuran bahan memiliki titik lebur lebih rendah daripada titik lebur masing masing bahan obat yang menyebabkan kapsul akan menjadi lembek , bahkan lengket satu sama lain. Dapat diatasi dengan menambah bahan yang inert atau memasukkan masing masing bahan dalam kapsul kecil , kemudian kedua bahan itu dimasukkan kedalam kapsul yang lebih besar. d. Bahan cairan kental yang jumlahnya sedikit dapat dikeringkan dengan menambah bahan inert . kemudian baru dimasukkan kedlam kapsul. Tetapi bahan itu harus dibuat menjadi massa pil dahulu bila jumlahnya banyak baru dimasukkan kedalam kapsul. e. Minyak lemak dapat langsung dimasukkan kedalam kapsul kemudian ditutup . Namun, minyak yang mudah menguap akan merusak dinding kapsul sehingga harus diencerka dahulu dengan minyak lemak sampai kadarnya dibawah 40% sebelum dimasukkan kedalam kapsul (Syamsuni , 2005).

2.7. Cara Penyimpanan Kapsul Kapsul sebaik baiknya disimpan dalam tempat atau ruangan yang : a. Tidak terlalu lembap atau dingin dan kering b. Terbuat dari botol gelas, tertutup rapat dan diberi bahan pengering ( silica gel ) c. Terbuat dari wadah botol plastik, tertutup rapat , dan juga diberi bahn pengering d. Terbuat dari aluminium foil dalam blister atau strip (Syamsuni, 2005).

2.8. Persyaratan Kapsul Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi menurut FI ed III, yaitu ( Syamsuni, 2005 ) : 1. Keseragaman Bobot a. Untuk kelompok kapsul yang berisi bahan padat Timbang 20 kapsul sekaligus, kemudian timbang lagi satu per satu dan catat bobotnya . Keluarkan semua isi kapsul, timbang seluruh bagian cangkang kapsul Hitung bobot isi tiap kapsul dan hitung bobot rata rata isi tiap kapsul Kapsul ini memenuhi syarat FI jika perbedaan dalam persen bobot isi tiap kapsul terhadap bobot rata rata tiap isi kapsul tidak boleh lebih dari yang ditetapkan dalam kolom A dan B. b. Untuk kelompok kapsul yang berisi bahan cair atau setengah padat /salep/ pasta Timbang 10 kapsul sekaligus, kemudian timbang lagi satu per satu Keluarkan semua isi kapsul , cuci cangkang kapsul dengan eter, buang caiaran cucian , dan biarkan hingga berbau eter lagi Timbang seluruh bagian cangkang kapsul Hitung bobot isi kapsul dan bobot rata rata isi tiap kapsul Kapsul ini mememenuhi syarat FI jika perbedaan dalam persen bobot isi tiap kapsul terhadap bobot rat rata tiap kapsul tidak lebih dari 7,5 % (Syamsuni, 2005)

2. Waktu hancur Waktu hancur ditentukan dengan suatu alat yang disebut disintegrator tester yang terdiri atas ( Syamsuni, 2005 ) Lima buah tabung yang transparan dengan ukuran p.80 100 mm, d.d 28 mm, d.l 30 mm. Ujung bawah dilengkapi kawat kasa tahan karat dengan lubang yang sesuai pengayak no 4 Bak berisi air dengan suhu 36 38 derajat celcius sebanyak 100 ml dengan kedalaman tidak kurang dari 15 cm sehingga dapat dinaik turunkan secar teratur. Kedudukan kawat kasa pada posisi tertinggi berada tepat diatas permukaan air dan kedudukan terendah mulut keranjang berada tepat dibawah permukaan air. Cara pengujian waktu hancur a. Masukkan 5 butir kapsul kedalam keranjang ( setiap tabung untuk satu kapsul ) b. Naik turunkan keranjang secara teratur sebanyak 30x setiap menit c. Kapsul dinyatakan hancur bila sudah tidak ada lagi bagian kapsul yang tertinggal diatas kasa. d. Waktu hancur kapsul yang paling lama hancur diantara kelima kapsul itu dinyatakan sebagai waktu hancur kapsul yang bersangkutan. e. Kapsul memenuhi syarat FI bila waktu hancurnya tidak lebih dari 15 menit (Syamsuni, 2005)

BAB III KASUS


Sediaan kapsul merupakan jenis sediaan farmasi yang sangat banyak digunakan karena alasan kepraktisannya dan dapat menutupi rasa yang tidak menyenangkan dari obat. Umumnya cangkang kapsul terbuat dari gelatin yang kebanyakan diproduksi dari babi sehingga diragukan kehalalanya. Saat ini telah tersedia cangkang kapsul lain dari bahan non gelatin seperti HPMCKaragenan akan tetapi belum banyak bukti ilmiah yang memperlihatkan kesetaraan efektifitas perlindungan dengan kapsul gelatin termasuk untuk zat aktif ketoprofen. Penelitian ini bertujuan untuk melihat stabilitas kadar dan disolusi ketoprofen dari kapsul gelatin dan HPMC-karagenan. Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi penyiapan bahan uji, penetapan karakteristik pendahuluan bahan uji, pembuatan sediaan, evaluasi sediaan, sampai penentuan stabilitas sediaan uji selama 28 hari masa penyimpanan.

1. Penyiapan bahan uji Penyiapan bahan uji meliputi bahan aktif ketoprofen, bahan pembantu pembuatan isi kapsul seperti laktosa, PVP, magnesium stearat dan cangkang kapsul. Pada tahap formulasi sediaan kapsul ketoprofen, sediaan dibuat dengan metode granulasi basah.Bahan pembantu sebagai pengisi, pengikatdan pelincir ditambahkan untuk memperbaiki sifat aliran dari granul yang diperoleh. Evaluasi dari granul yang diperoleh meliputi kadar lembab, kecepatan aliran granul serta bobot granul per cangkang. Granul yang telah memenuhi persyaratan farmasetik kemudian dimasukkan dalam cangkang kapsul gelatin dan HPMC-Karagenan untuk diuji stabilitas selama 28 hari penyimpanan pada 400C. 2. Uji stabilitas sediaan Uji stabilitas sediaan meliputi pengujian kecepatan disolusi dan kadar zat aktif dalam sediaan kapsul ketoprofen. Penetapan kecepatan disolusi dilakukan menggunakan alat disolusi tipe 1 terhadap sediaan yang telah disimpan selama 4 minggu, penentuan kadar ketoprofen yang terdisolusi menggunakan metode spektrofotometri ultraviolet. 3. Penentuan kadar zat aktif Penentuan kadar zat aktif dilakukan pada kapsul ketoprofen yang menggunakan cangkang gelatin
9

dan HPMC-Karagenan, pengujian ini dilakukan pada minggu ke-1, 2, 3 dan 4. Penetapan kadar ketoprofen pada uji stabilitas ini dilakukan dengan metode Spektrofotometri ultraviolet. 4. Pengolahan hasil Hasil yang diperoleh dari uji stabilitas sediaan ketoprofen dalam cangkang kapsul gelatin dan sediaan dalam cangkang kapsul HPMC-karagenan diolah secara statistik menggunakan metode t- student. Pengolahan data secara statistik ini bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya perbedaan yang signifikan dari setiap hasil uji antara jenis cangkang kapsul yang digunakan.

10

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


Dalam tahap pertama penelitian ini, dilakukan orientasi formula granul, dan penentuan bobot rata-rata granul per cangkang kapsul. Dalam tahap orientasi formula granul dilakukan variasi terhadap konsentrasi pengikat yaitu PVP dan cara penambahan pengikat tersebut. Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut Tabel 1. : Bahan Konsentrasi (%) F1 PVP Etanol Ac-di-sol Laktosa Mg Stearat Talk 2 qs 3 ad 100 1 2 F2 4 qs 3 ad 100 1 2

Pada tahap orientasi diatas digunakan dua variasi kosentrasi pengikat yaitu 2 dan 4 %. Kegunaan pengikat dalam formulasi granul adalah untuk membentuk massa granul yang kompak sehingga granul tidak mudah pecah pada proses selanjutnya sehingga sifat aliran granul dapat stabil. Penambahan pengikat dilakukan dengan cara mencampurkan pengikat dengan bahan-bahan lain kemudian cairan pengikat disemprotkan pada campuran serbuk sampai menghasilkan massa lembab. Hasil orientasi formula granul dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil Evaluasi Granul Ketoprofen Parameter Kadar air (%) Kecepatan alir (gr/s) Bobot per cangkang (gr) F1 0,91 0,74 0,328 F2 2,3 1 0,27

Berdasarkan data di atas maka dipilih formula F2 karena memberikan granul dengan kecepatan aliran yang lebih baik.Kecepatan alir yang tinggi menunjukkankeseragam ukuran granul.Sehingga
11

hal ini dapat menjamin keseragaman kandungan zat aktif dalam setiap cangkang kapsul.Formula F2 mengandung PVP 4% lebih tinggi dibanding formula F1 sehingga dapat mengikat granul dengan lebih baik. Tahap selanjutnya adalah pembuatan kurva kalibrasi larutan ketoprofen dalam larutan dapar fosfat pH 6,8. Ketoprofen merupakan senyawa asam lemah dengan nilai pKa 4,6 dan kelarutan yang rendah dalam air. Untuk meningkatkan kelarutan ketoprofen, digunakan larutan dapar pH 6,8. Dapar fosfat pH 6,8 dibuat dengan cara mencampurkan NaH2PO4.2H2O dengan NaH2PO4. Proses pelarutan untuk membuat larutan stok dengan konsentrasi 1000 ppm berlangsung agak lama dan memerlukan proses pemanasan untuk mempercepat proses pelarutan. Konsentrasi yang akan dibuat sebagai standar adalah 12, 10, 8, 6, dan 4 ppm, serta serapan diukur pada panjang gelombang 260 nm. Larutan baku ketoprofen dalam berbagai konsentrasi diukur absorbansinya pada panjang gelombang 260 nm kemudian dibuat kurva kalibrasi. Hasil yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 3 dan Gambar 1. Tabel 3. Hasil Pengukuran Absorbansi Pada Berbagai Konsentrasi Ketoprofen Parameter Kadar air (%) Kecepatan alir (gr/s) Bobot per cangkang (gr) F1 0,91 0,74 0,328 F2 2,3 1 0,27

Tahapan selanjutnya adalah penentuan stabilitas sediaan dalam penyimpanan pada suhu 400C selama 28 hari. Kemudian dievaluasi stabilitasnya meliputi penetapan kadar zat aktif dan dan penetuan kecepatan disolusi. Kadar ketoprofen dalam kapsul dinyatakan dalam persen berat ketoprofen per berat isi kapsul. Hasil penetapan kadar dapat dilihat pada Tabel 4. Secara umum kedua jenis sediaan mengalami penurunan kadar ketoprofen, selama penyimpanan. Sifat gelatin dalam penyimpanan adalah selalu menyesuaikan kelembabannya dengan kelembaban lingkungan. Ketika ditempatkan pada kondisi kelembaban tinggi gelatin akan mengalami peningkatan kelembaban, demikian juga sebaliknya Sedangkan cangkang kapsul HPMC-karagenan memiliki proteksi terhadap perubahan kelembaban yang lebih baik dibanding gelatin, akan tetapi kemampuan proteksi terhadap permeabilitas oksigennya lebih rendah (Richardson, 2011). Hal ini yang menyebabkan terjadi penurunan kadar ketoprofen baik pada kapsul gelatin maupun karagenan. Berdasar uji statistik t-student, terdapat perbedan bermakna dari persen penurunan
12

kadar ketoprofen antara kedua jenis kapsul setelah penyimpanan 28 hari pada suhu 400C. Dimana persen penurunan kadar ketoprofen dari kapsul HPMC-Karagenan lebih besar dibandingkan dengan gelatin. Hal ini menunjukan degradasi ketoprofen yang disebabkan oleh oksidasi lebih cepat dibandingkan degradasi karena meningkatnya kelembaban. Bila dilihat penurunan kadar ketoprofenpada kedua jenis kapsul relatif besar untuk rentang waktu penyimpanan 28 hari. Hal tersebut dapat terjadi karena penyimpanan kapsul tidak pada kemasan yang mampu memberikan perlindungan sempurna dari pengaruh lingkungan luar. Akan lebih baik bila kapsul disimpan dalam kemasan seperti yang ada di pasaran yaitu kemasan strip atau blister. Selain penetapan kadar zat aktif dilakukan juga penentuan kecepatan disolusi kapsul untuk melihat pengaruh cangkang kapsul selama penyimpanan terhadap kecepatan disolusi sediaan. Sediaan kapsul ketoprofen dalam cangkang kapsul gelatin dan HPMC-Karagen disimpan pada suhu 400C selama 28 hari (1 bulan) kemudian dibandingkan nilai kecepatan disolusinya. Hasil uji kecepatan disolusi pada bulan ke-1 dapat dilihat dalam Tabel 5. Tabel 4. Kadar Ketoprofen Dalam Sediaan Kapsul Selama Penyimpanan Minggu Kadar dalam kapsul (%b/b) Kapsul HPMC-Karagenan 1 2 3 4 % penurunan kadar 14,850,16 16,050,43 14,051,62 12,530,29 2,33 0,36 Kapsul Gelatin 14,390,43 16,250.98 14,900,72 13,450,33 0,93 0,53

Ketoprofen termasuk dalam bahan obat kelas II pada sistem pengelompokan Biopharmaceutical Classification System (BCS). Senyawa yang digolongkan pada kelompok kelas II memiliki permeabilitas yang baik tetapi kelarutan dalam airnya rendah (Sheng,2006). Pengaturan pH medium disolusi dapat meningkatkan jumlah zat aktif yang terdisolusi. Oleh sebab itu, dalam penentuan kecepatan disolusi digunakan medium dapar fosfat pH 6,8 yang merupakan pH dimana kelarutan ketoprofen maksimal. Setelah penyimpanan kapsul selama 28 hari pada suhu 40oC terdapat perbedaan kecepatan dan jumlah terdisolusi dari kapsul karagenan dan gelatin.Pengujian statistik menunjukkan bahwa
13

terdapat perbedaan bermakna dari jumlah ketoprofen terdisolusi dari kedua cangkang kapsul dimenit ke-120.Pada menit ke-120 jumlah ketoprofen terdisolusi dari kapsul gelatin lebih baik dibanding kapsul karagenan. Kapsul gelatin bersifat menyerap air selama penyimpanan sehingga akan lebih mempercepat waktu hancur dan kecepatan disolusinya. Dijelaskan dalam pustaka bila cangkang kapsul karagenan-HPMC dapat berinteraksi dengangaram kalium dalam medium disolusi sehingga menghalangi pelepasan obat dari cangkang kapsul (Ku. 2011).Sehingga untuk penelitian selanjutnya lebih baik digunakan dapar dengan komponen yang berbeda untuk menghasilkan data yang lebih akurat.
Gambar 1. Kurva kalibrasi ketoprofen

Tabel 5. Hasil Uji Kecepatan Disolusi Sediaan Ketoprofen

Jumlah terdisolusi (mg) Kapsul Karagenan 22,060,55 30,080,11 30,770,12 31,030,19 Kapsul Gelatin 20,581,49 30,174,3 36,225,99 37,51,79

14

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan Dari hasil pengamatan pada penelitian tersebut diatas dapat disimpulkan beberapa hal berikut : 1. Terjadi penurunan kadar ketoprofen dalam kapsul gelatin dan dalam kapsul HPMCkaragenan pada penyimpanan di suhu 40oC selama 28 hari. Persen penurunan kada ketoprofen pada sediaan dalam kapsul HPMC-karagenan lebih besar disbanding kapsul gelatin yang berbeda bermakna secara statistik (P<0,05). 2. Setelah penyimpanan 28 hari, jumlah ketoprofen terdisolusi pada menit ke-120 dari cangkang kapsul gelatin lebih tinggi dibandingkan cangkang kapsul HPMC-Karagenan yang berbeda bermakna secara statistik (P<0,05).

15