Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH FARMASI FISIKA SIFAT ALIR CAIRAN

Disusun oleh : Nama : Lisania Ines Surya Adhi Nugraha Rose Verginie Erita Angky Glori ( 118114001 ) ( 118114003 ) ( 118114004 ) ( 118114005 )

Bonaventura Sukintoko P ( 118114006 ) Kelompok Tanggal : A1 : 09 Mei 2012

LABORATORIUM FARMASI FISIKA FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2012

SIFAT ALIR CAIRAN


TUJUAN
Mempelajari sifat alir cairan dan dapat menentukan tipe-tipe cairan berdasarkan sifat aliran

LATAR BELAKANG
Pada zaman modern ini tuntutan akan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin tinggi. Aplikasi dari perkembangan dan kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi perlu dimanfaatkan dalam berbagai bidang kehidupan, tak terkecuali pada aplikasi farmasi. Semakin hari formulasi sediaan farmasi yang ada semakin menunjukkan peningkatan kualitas sehingga mampu memberikan pelayanan yang maksimal pada pasien. Kualitas formulasi sediaan farmasi seperti pasta, lotion, cream, emulsi, suspensi dan lainnya perlu ditingkatkan untuk mendukung kinerja sediaan yang baik. Kualitas yang harus ada pada sediaan farmasi yang diformulasi misalnya keseragaman dosis, konsistensi sediaan, stabilitas sediaan, bioavailabilitas dan pengemasan sediaan yang baik. Salah satu dasar yang harus ada dalam ilmu formulasi sediaan farmasi adalah tentang rheologi atau sifat alir cairan. Dengan mengetahui karakteristik suatu zat yang akan digunakan dalam formulasi sediaan farmasi dan menentukan tipe alirnya, maka kita akan lebih mudah dalam melakukan formulasi suatu sediaan sehingga diharapkan akan menghasilkan sediaan yang aman dan berkualitas secara terapeutik. Dengan mempelajari sifat alir cairan mahasiswa diharapkan mampu berperan dalam formulasi sediaan farmasi, analisis sediaan farmasi dan mampu memilih alat yang tepat untuk pembuatan sediaan farmasi.

DASAR TEORI
Secara umum cairan digolongkan dalam cairan newton dan non-newton, tergantung pada hubungan antara shear rate dan tekanan yang diterapkan. Gaya shear ditimbulkan oleh interaksi secara cairan yang bergerak dan permukaan 1

dimana cairan itu mengalir selama pencampuran. Shear rate dapat didefinisikan sebagai turunan dari kecepatan sesuai jarak yang diukur terhadap arah aliran. Viskositas dinamis adalah perbandingan antara shear stress terhadap shear rate. Untuk cairan Newton shear rate sebanding dengan tekanan yang diberikan , dan cairan demikian mempunyai viskositas dinamis yang tidak tergantung dari laju aliran. Sebaliknya cairan non-Newton menghasilkan viskositas dinamis nyata yang merupakan fungsi dari shear stress ( Lachaman, 1989). Sifat aliran dan sifat pencampuran dari cairan diatur oleh tiga hukum atau dasar-dasar utama, yaitu : konservasi massa, konservasi ketetapan energy, dan hukum-hukum klasik dari gerakan. Mekanisme Pencampuran cairan secara esensial masuk ke dalam enam kategori : Transpor bulk. Gerakan sejumlah bahan yang relatif banyak yang dicampur dari satu tempat ke tempat lain dalam suatu sistem merupakan transport bulk. Sirkulasi sederhana dari bahan dalam mikser tidak perlu menghasilkan pencampuran yang efisien. Supaya efektif, transport bulk harus menghasilkan penyusunan kembali atau pertukaran dari berbagai bagian bahan yang akan dicampur. Pencampuran Turbulen. Gejala pencampuran turbulen merupakan akibat langsung dari aliran cairan turbulen yang ditandai oleh turun naiknya kecepatan cairan secara acak pada tiap-tiap kenaikan titik pada sistem. Umumnya dengan turbulensi, cairan mempunyai kecepatan sesaat yang berlainan pada tempat-tempat yang berbeda pada saat yang sama . Pencampuran Laminer. Garis lurus atau aliran laminar sering terjadi jika cairan yang sangat kental diproses. Hal itu juga terjadi jika pengadukan relatif tembus, dan dapat berada berdampingan dengan permukaan stasioner pada bejana di mana aliran adalah turbulen secara predominan. Jika dua cairan yang tidak sama dicampur melalui aliran laminar, shear yang timbul dapat meregangkan antarpermukaan diantara keduanya. Difusi molekuler. Mekanisme paling bertanggung jawab dalam

pencampuran sampai tingkat molekuler adalah difusi yang disebabkan gerakan termal molekul-molekul. Jika itu terjadi bersamaan dengan aliran laminar, difusi molekuler cenderung mengurangi diskontinuitas yang 2

tajam pada antarpermukaan di antara lapisan lapisan cairan, dan jika dibiarkan berlanjut untuk waktu yang cukup, menghasilkan pencampuran sempurna. Penurunan konsentrasi pada perbatasan semula merupakan fungsi penurunan waktu, mendekati nol jika pencampuran mendekati selesai. Skala dan intensitsas pemisahan . Kualitas campuran harus diuji secara teliti atas dasar beberapa ukuran dari distribusi acak komponen komponennya. Transpor bulk, aliran turbulen dan aliran laminar semuanya berakibat pada pemisahan dari gumpalan-gumpalan cairancairan yang akan dicampur. Masing-masing gumpalan menahan suatu komposisi internal yang konstan dan merata. Ini dapat diubah hanya jika difusi molekuler dalam hal cairan dan gas, atau gerakan antarpartikel dalam hal serbuk, cenderung menghilangkan penurunan konsentrasi antara gumpalan-gumpalan yang berdekatan. Ketergantungan waktu. Pada halhal tertentu, mekanisme yang aktif mengadakan pencampuran akan tergantung pada waktu dalam

kepentingan relatifnya ( Lachaman, 1989).

selama

proses

pencampuran berlangsung

Sama halnya dalam gas, dalam cairan pun dapat terjadi aliran. Di dalam gas, aliran itu terjadi dengan sempurna karena interaksi antar molekul kecil sekali bahkan sama dengan nol. Namun dalam cairan tidak mungkin terdapat aliran yang sempurna seperti dalam gas. Hal ini karena interaksi antar molekul dalam cairan tidak mungkin sama dengan nol. Bila di dalam aliran itu diambil dua titik yang segaris dalam arah yang sama dengan arah aliran, maka akan terdapat dua kemungkinan macam aliran. Bila arah dan besar aliran tidak berubah hingga terjadi keseimbangan aliran, maka aliran itu disebut steram line. Dalam aliran stream line tidak terjadi gerakan aliran partikel yang melintang. Bila arah dan besar aliran tidak sama, maka di dalam aliran itu terjadi (turbulensi)

Pada aliran stream line debit di setiap penampang di sepanjang aliran itu tidak berubah. Sifat ini dipergunakan Bernoulli untuk mempelajari aliran cairan (Suyono, 1988). Karakteristik suatu cairan dijelaskan dengan mematuhi Hukum Newton, yang mana disebut Newtonian. Bagaimanapun, kebanyakan cairan dalam bidang farmasi tidak mengikuti hukum ini sebagai viskositas cairan yang memiliki variasi dengan rate of shear.Alasan ini digunakan karena cairan yang digunakan bukanlah cairan yang sederhana seperti air dan sirup, tetapi dispersi sistem koloid termasuk emulsi gel dan suspensi. Veegum mempunyai tipe alir thiksotropi. Ketika tidak ada shear, viskositasnya meningkat seiring waktu sedangkan dengan adanya shearing rate yang konstan akan menyebabkan menurunnya viskositas seiring waktu , ketika ada shear , strukturnya pecah/rusak/terganggu secara cepat, dengan kerusakan berikutnya menjadi perlaha-lahan. Veegum bisa juga pseudoplastis , karena bertambahnya viskositas. Polimer adalah substansi yang ketika yang ditambahkan ke campuran air, viskositasnya akan meningkat tanpa mengubah sifat alirnya. Polimer sebagai thickening agent digunakan untuk mengentalkan dan menstabilkan cairan, emulsi dan suspensi. Mereka semua larut dalam fase cair sebagai campuran koloid yang membentuk suatu struktur kohesif internal lemah (Attwood, 2008). shearing rate (pecahnya struktur) berakibat menurunnya

PEMBAHASAN
Rheologi (dari bahasa yunani rheos yang berarti mengalir dan logos berarti ilmu) adalah ilmu tentang aliran atau perubahan bentuk (deformasi) di bawah tekanan. Kegunaan mempelajari rheologi dalam kestabilan obat adalah : 1. Dalam pencampuran dan aliran bahan-bahan 2. Pengemasan bahan tersebut ke dalam wadah serta pengeluarannya saat akan dipakai 3. Memberi pengaruh terhadap daya terima pasien yaitu seperti dalam hal kenyamanan pasien tersebut yang lebih menyenangi dalam penggunaan bentuk sediaan, misalnya pasien lebih nyaman menggunakan lotion dari pada salep 4. Kestabilan fisis 5. Ketersediaan hayati (biological avaibility) 6. Pemilihan peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan (produksi)

Pengukuran rheologi digunakan untuk mengkarakterisasi kemudahan penuangan dari botol, penekanan atau pemencetan dari suatu tube untuk wadah lain yang dapat berubah bentuk, pemeliharaan bentuk produk dalam suatu bejana atau sesudah pengeluaran, penggosokan bentuk produk di atas atau ke dalam kulit, dan bahkan pemompaan produk dari pencampuran dan penyimpanan ke alat pengisian (filling) . Yang terpenting adalah sifat isi dan aliran yang dikehendaki tahan untuk self-life yang diisyaratkan bagi produk tersebut.

Shearing stress (F) : adalah gaya per satuan luas yang menciptakan perubahan bentuk. Dua bidang sejajar berjarak x; antara bidang-bidang dibatasi. Puncak, tersebut, isi kental bidang A, bergerak

secara horizontal dengan kecepatan v karena aksi dengan gaya F. Bidang B yang lebih bawah tidak bergerak. Akibatnya ada
Gambar 1 :

suatu perubahan kecepatan v/x antara bidang-bidang tersebut. Perubahan ini didefinisikan sebagai rate of shear (G). PENGGOLONGAN TIPE ALIRAN 1. Sistem Newton Newton adalah orang pertama yang mempelajari sifat-sifat aliran dari cairan secara kuantitatif. Dia menemukan bahwa makin besar viskositas suatu cairan, akan makin besar pula gaya persatuan luas (shearing

stress) yang diperlukan untuk menghasilkan rate of shear tertentu, rate of shear harus berbanding lurus dengan shearing stress . adalah koefisien viskositas atau viskositas. Satuan viskositas adalah poise, didefinisikan sebagai gaya geser yang diperlukan agar menghasilkan kecepatan 1 cm/detik di antara dua bidang sejajar cairan yang masingmasing luasnya 1 cm2 dan dipisahkan oleh jarak 1 cm.

Istilah fluiditas (f) didefinisikan sebagai kebalikan dari viskositas

Viskositas kinematik (), adalah viskositas mutlak seperti didefiniskan di atas di bagi oleh kerapatan cairan. Satuan viskositas kinematik adalah stoke (s) dan centistoke (cs)

Aliran newton adalah jenis aliran yang ideal. Pada umumnya cairan yang bersifat ideal adalah pelarut, campuran pelarut, dan larutan sejati. Shearing stress (S) atau gaya yang diperlukan per satuan luas berbanding lurus dengan kecepatan aliran yang dihasilkan atau Rate of Shear (G). contohnya adalah gliserol

Gambar 2 : Kurva aliran Newton

2. Sistem Non Newton Hampir seluruh sistem disperse termasuk sediaan-sediaan farmasi yang berbentuk emulsi, suspensi dan sediaan setengah padat tidak mengikuti hukum newton (Non Newtonian Bodies).

Plastis Tidak dipengaruhi waktu

Pseudoplastis

Dilatan Non Newton Tiksotropik

Di pengaruhi waktu

Antitiksotropik

Rheopeksi

Gambar 3 : Bagan macam-macam aliran non-Newton

Aliran Plastis

: yield value

S = G Rate of share

Gambar 4 : Kurva aliran non-Newton plastis

Kurva aliran plastis tidak melalui titik (0,0) tapi memotong sumbu shearing stress pada suatu titik tertentu dikenal sebagai harga yield. Yield value adalah harga yang harus dipenuhi agar cairan mulai mengalir, sebelum yield value zat bertindak sebagai bahan elastis setelah yield value siatem mengalir sesuai dengan sistem newton dimana shearing stress berbanding dengan rate of shear. Adanya Yield value disebabkan oleh adanya kontak antara partikel-

partikel yang berdekatan (disebabkan oleh gaya van der Waals), yang harus dipecah sebelum aliran dapat terjadi. Sekali yield value terlampaui, tiap kenaikan shearing stress selanjutnya mengakibatkan kenaikan yang berbanding langsung pada rate of shear. Pada umumnya plastis menyerupai sistem Newton pada shear stress di atas yield value.

Aliran Pseudoplastis

S = G Rate of share
Gambar 5 : kurva aliran non-Newton pseudoplastis

Kurva tidak linier dan tidak ada yield value (melengkung).Viskositas menurun dengan meningkatnya rate of share. Terjadi pada molekul berantai panjang seperti polimer-polimer termasuk gom, tragakan, Na-alginat, metil selulosa, karboksimetilselulosa. Rheogram lengkung untuk bahan-bahan

pseudoplastis disebabkan karena kerja shearing terhadap molekul-molekul yang secara normal tidak beraturan mulai menyusun sumbu yang panjang dalam arah aliran. Pengarahan ini mengurangi tahanan dalam dari bahan tersebut dan mengakibatkan rate of shear yang lebih besar pada tiap shearing stress berikutnya. Jadi meningkatnya shearing stress menyebabkan keteraturan polimer sehingga mengurang tahanan dan lebih meningkatkan rate of share pada shearing stress berikutnya Sistem pseudoplastis disebut pula sebagai sistem geser encer ( shearthinning) karena dengan menaikkan tekanan geser viskositas menjadi turun. Contoh klasik adalah kecap atau saus tomat yang untuk mengeluarkannya dari botol harus mengocoknya kuat-kuat.

Aliran Dilatan

Gambar 6 : kurva aliran non-Newton dilatan

Sistem aliran dilatan disebut juga sebagai system geser kental (shearthickening system). Istilah dilatan dikaitkan dengan meningkatnya volume . Zat-zat yang mempunyai sifat-sifat aliran dilatan dimiliki oleh suspensi yang berkonsentrasi tinggi (>50%) dari partikel yang terdeflokulasi, contohnya adalah pencampuran veegum dan CMC. Viskositas meningkat dengan bertambahnya rate of shear. Jika stress dihilangkan, suatu sistem dilatan kembali ke keadaan fluiditas aslinya. Mekanisme sistem aliran dilatan : Pada saat istirahat, partikel-partikel tersebut tersusun rapat dengan volume antar partikel atau volume void (kosong) minimum. Tetapi jumlah pembawa dalam suspensi tersebut cukup untuk mengisi volume ini dan menyebabkan partikel-partikel bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya pada rate of shear rendah. Pada saat shear stress meningkat, bulk dari sistem tersebut mengembang atau memuai. Partikel-partikel tersebut, dalam usahanya untuk bergerak lebih cepat satu melampaui lainnya, mengambil bentuk kemasan terbuka. Susunan tersebut mengakibatkan meningkatnya volume void (kosong) di antara partikel. Jumlah pembawa yang tinggal adalah tetap ( konstan) dan pada beberapa titik menjadi tidak cukup untuk mengisi ruang-ruang kosong antar partikel menjadi lebih besar. Oleh karena itu hambatan aliran meningkat karena partikel-partikel tidak terbasahi atau dilumasi secara sempurna lagi oleh pembawa tersebut, sehingga suspensi akan seperti pasta yang kaku. Bahanbahan dilatan bisa menjadi padat pada kondisi shear yang tinggi, dengan demikian dapat merusak alat pada proses pembuatan. 10

Aliran Tiksotropi

Gambar 7 : kurva aliran non-Newton tiksotropi

Pada sistem non newton (plastis dan pseudoplastis), kurva menurun seringkali disebelah kiri dari kurva yang menaik yang menunjukan bahan tersebut mempunyai konsistensi lebih rendah pada setiap harga rate of shear pada kurva yang menurun dibandingkan pada kurva yang menaik. Ini menunjukkan adanya pemecahan struktur yang tidak terbentuk kembali dengan segera jika stress tersebut dihilangkan atau dikurangi. Gejala ini disebut tiksotropi. Tiksotropi adalah suatu pemulihan yang isotherm dan lambat pada pendiaman suatu bahan yang kehilangan konsistensinya karena shearing. Tiksotropi hanya dapat diterapkan untuk shear-thinning system. Tiksotropi terjadi karena proses pemulihan yang lambat dari konsistensi Gel-Sol-Gel (proses pertama berlangsung cepat sedangkan proses kedua berlangsung lebih

lambat).. Contohnya : magma magnesia

11

Aliran Antitiksotropi

Gambar 8 : kurva aliran non-Newton antitiksotropi

Anti Tiksotropi ditunjukkan dengan kurva menurun berada di kanan kurva menaik (konsistensinya meningkat) .

Rheopeksi

Gambar 8 : kurva aliran non-Newton rheopeksi

Rheopeksi adalah suatu gejala dimana suatu sol membentuk suatu gel lebih cepat jika diaduk perlahan-lahan atau kalau di share daripada jika dibiarkan membentuk gel tersebut tanpa pengadukan.

12

Pada tipe pseudoplastis dan plastis, kecepatan pemadatan sol tiksotropi melalui gerakan kuat dan teratur disebut rheopeksi. Pada tipe dilatan disebut antirheopeksi yaitu penurunan konsistensi akibat geseran pada saat didiamkan. Salah satu cara menentukan sifat alir adalah dengan viscometer stormer yang prinsipnya adalah perputaran rotor yang merupakan aplikasi kecepatan geser dan penambahan beban aplikasi dari gaya gesek. Semakin berat beban yang digunakan, maka kecepatan perputaran rotor akan semakin cepat karena ada energi yang ditambahkan. Gesekan antara rotor dengan senyawa yang diuji akan meningkatkan suhu. Suhu yang meningkat menyebabkan ikatan antar partikel renggang sehingga viskositas menurun dan kecepatan mengalir menaik. Setelah itu ditentukan waktu yang digunakan rotor untuk memutar sebanyak 25 kali. Pemutaran 25 kali telah mewakili tipe dari sifat alir tersebut. Sifat-sifat yang dapat mempengaruhi sifat alir suatu zat meliputi : 1. Suhu : kenaikan suhu akan menyebabkan gerak antar partikel merenggang, sehingga viskositas akan menurun dan waktu alir akan semakin cepat karena zat semakin mudah mengalir. 2. Viskositas : semakin tinggi viskositas menyebabkan tahanannya akan semakin besar sehingga zat tersebut makin sulit mengalir dan sebaliknya. Viskositas berbanding terbalik dengan sifat alir 3. Kerapatan : semakin tinggi kerapatan suatu zat, jarak antar partikel akan semakin sempit, viskositas semakin besar dan zat semakin sulit untuk mengalir. Sifat alir berbanding terbalik dengan kerapatan. 4. Konsentrasi : semakin tinggi konsentrasi suatu zat, maka jumlah partikel semakin banyak sehingga viskositas semakin tinggi dan zat semakin sulit mengalir. Sifat alir berbanding terbalik dengan konsentrasi.

Kegunaan rheologi dalam formulasi : Untuk sediaan farmasi cair tipe aliran yang diinginkan adalah tiksotropik Mempunyai pengendapan) Akan menjadi cair bila dikocok dan mudah untuk dituang konsistensi tinggi dalam wadah (mencegah

13

Contoh aplikasi rheologi dalam bidang Farmasi :

Aplikasi di bidang produk sabun pembersih wajah, susu kedelai (Glycine soja Sieb. & Zucc) diketahui mengandung bahan yang berfungsi sebagai humektan karena kandingan alanin, glisin, prolin, serin, dan asam amino lainnya. Selain itu susu kedelai juga memiliki fungsi emolien karena kandungan asam oleat, linoleat, linolenat, arakhidonat, dan asam lemak lainnya. dalam penelitian ini akan diformulasi sediaan sabun cair wajah mengandung 15% susu kedelai yang berfungsi sebagai emolien dan humektan untuk menjaga agar kulit tetap bersih, lembut, dan lembab, serta mencegah kekeringan kulit. Dalam pembuatan sabun, bahan utamanya adalah surfaktan dari golongan anionic yang berfungsi sebagai pembersih. Selain itu, ditambahkan pula surfaktan amfoter atau nonionic untuk mengurangi iritasi yang disebabkan dari surfaktan anionic. Salah satu surfaktan anionic yang digunakan adalah Lauret-7-sitrat yang merupakan jenis surfaktan lunak. Surfaktan ini juga memiliki keunggulan karena fungsinya sebagai pelembab sehingga mencegah kulit wajah menjadi kering. Lauret-7-sitrat juga dapat berfungsi sebagai peningkat busa, yang dengan penambahan susu kedelai sifat membusa dari surfaktan yang ada dalam formula standar menjadi berkurang. Penggunaan surfaktan Lauret-7-sitrat akan divariasi dengan konsentrasi 1%;2%;3% (0% Lauret-7-sulfat sebagai kontrol), agar didapat busa yang semakin meningkat dan stabil serta tidak mengiritasi kulit, karena akan dikombinasi dengan natrium lauret sulfat dari surfaktan anionic, dan juga digunakan kokamid DEA sebagai surfaktan nonionic untuk mengurangi iritasi yang ditimbulkan oleh surfaktan anionic. Bahan tambahan lain adalah hidroksipropil metil selulosa (HPMC) sebagai pengental, BHA sebagai

antioksidan, dinatrium EDTA sebagai pengkelat, serta 5-bromo-5-nitro-1,3dioksan sebagai pengawet. Dalam pembuatan sediaan sabun cair wajah, salah satu evaluasi dalam pembuatan sediaan sabun adalah evaluasi viskositas dan sifat alir. Viskositas diukur menggunakan viscometer Brookfield tipe LV dengan mengamati angka pada skala viscometer dengan kecepatan tertentu pada suhu kamar. Sediaan dimasukkan ke dalam wajah berupa gelas piala dan spindle yang sesuai sampai batas yang ditentukan, lalu diputar dengan kecepatan tertentu sampai jarum 14

merah viscometer menunjuk pada skala yang konstan. Sifat alir diukur dengan mengubah kecepatan viscometer sehingga didapat viskositas pada berbagai kecepatan geser (rpm). Sufat alir dapat diketahui dengan cara membuat kurva hubungan antara kecepatan geser(rpm) dengan gaya (dyne/cm3) sesuai dengan data yang diperoleh. Hasil evaluasinya adalah pengukuran viskositas pada sediaan sabun cair wajah Formula I sampai IV menunjukkan bahwa sediaan sabun cair wajah formula IV yaitu konsentrasi Laurat-7-sitrat sebesar 3% mempunyai viskositas yang paling tinggi dan formula I yang memiliki konsentrasi Laurat-7-sitrat sebesar 1% terendah, sehingga dapat dinyatakan bahwa dengan bertambahnya konsentrasi lauret-7-sitrat menungkat pula viskositasnya. Hal ini disebabkan karena lauret-7-sitrat merupakan surfaktan yang berfungsi sebagai peningkat viskositas. Penyimpanan pada suhu lebih tinggi dapat menyebabkan terjadinya pemutusan rantai polimer sehingga kedudukan molekul-molekul menjadi renggang, akibatnya viskositasnya turun. Hal ini sesuai dengan hukum Arrhenius, bahwa semua sediaan yang disimpan selama periode waktu tertentu pada suhu yang lebih tinggi dari suhu kamar akan mengalami penurunan viskositas.Dapat disimpulkan bahwa semua formula yang disimpan pada suhu 25C dan 40C mempunyai sifat alir pseudoplastis dengan viskositas 9050-18420 cPs, memberikan kekentalan yang membuat sediaan tersebyt mudah untuk dituang.

15

KESIMPULAN
Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat alir cairan adalah konsentrasi, suhu, kerapatan, viskositas, dan beban. Berdasarkan sifat alirnya, tipe aliran dibagi menjadi dua yaitu Newtonian dan non-Newtonian. Non-Newtonian berupa plastis, pseudoplastis, dan dilatan.

DAFTAR PUSTAKA
Attwood, 2008, Physical Pharmacy, University of Manchester, UK London, PP. 74-75, 82-86. Aulton, 2007, Pharmaceutics the Design and Manufacture of Medicine, Churchill Livingstone, New York, PP. 49-53. Lachaman, 1989, Teori dan Praktek Farmasi Industri, UI press : Jakarta, PP. 1-8. Suyono, 1988, Kimia Fisika 1, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Jakarta, PP.44. Swarbrick, 2000, Pharmaceutical Emulsion and Suspensions, Marcel Dekker Inc, New York, PP. 559-573.

16

Anda mungkin juga menyukai