Anda di halaman 1dari 12

Definisi Karsinoma sel basal ( BCC ) atau basalioma adalah neoplasma maligna yang berasal dari sel basal

epidermis ataupun sel folikel rambut sehingga dapat timbul pada kulit yang berambut (Manuaba, 2010 ). Karsinoma sel basal merupakan suatu tumor ganas kulit yang berasal dari pertumbuhan neoplastik sel basal epidermis dan apendiks kulit ( Harahap, 2000 ). Epidemiologi Karsinoma sel basal merupakan keganasan palpebra terbanyak, yaitu 90-95% dari keganasan palpebra. Basal sel karsinoma paling sering mengenai pinggir bawah palpebra (5060%) dan dekat kantus medial (25-30%), serta jarang mengenai palpebra superior(15%) dan kantus medial (5%)3 Karsinoma sel basal bersifat tumbuh lambat, lokal invasif dan destruktif, dan hampir tidak pernah bermetastasis (0,0028-0,1%), oleh karena itu jarang dilakukan tindakan diagnostik untuk metastasis. Meskipun demikian, metastasisnya pernah dilaporkan, yaitu bermetastasis ke paru-paru3. - Kematian akibat BCC sangat jarang. Jika BCC dibiarkan dapat berkembang menyebabkan peningkatan morbiditas dan kecacatan. - BCC di kantus medius biasanya tumbuh lebih dalam dan invasif sehingga menyebabkan kehilangan fungsi saraf. - Pieg et al melaporkan angka kekambuhan 5,36% setelah eksisi tumor, peningkatan kasus sebesar 14,7% setelah operasi kedua dan 50% setelah operasi ketiga dan keempat. Tingginya angka kekambuhan diperkirakan 60% ditemukan pada lesi kantus medial, dikarenakan sifat lesi ini lebih invasif dan sulit diobati.

- Insiden karsinoma sel basal meningkat pada pasien dengan immunocompromised. Ras; karsinoma sel basal lebih banyak terjadi pada ras kulit putih daripada kulit hitam. Jenis kelamin; karsinoma sel basal lebih sering terjadi pada laki-laki dari pada Etiologi Etiologinya belum dikatuhui dengan pasti. Tetapi terdapat beberapa faktor resiko yang dapat menyababkan perkembangan karsinoma sel basal meliputi 3: Pajanan sinar matahari yang lama dan tanpa proteksi. Lightly pigmented skin, eyes, dan hair. Peningkatan usia (biasa ditemukan pada dekade 6 dan 7) Pajanan radiasi ion dan paparan lingkungan (hidrokarbon dan pestisida) Genetik seperti, defek replikasi dan repair DNA yang diturunkan pada Xeroderma pigmentosa Patofisiologi Radiasi telah terbukti menyebabkan pembentukan tumor melalui dua mekanisme. Mekanisme pertama meliputi inisiasi dan prolong seluler proliferasi, dengan cara demikian terjadi peningkatan kesalahan transkripsi yang menyebabkan transformasi seluler. Mekanisme kedua yaitu secara langsung merusak replikasi DNA, menyebabkan mutasi dari sel yang mengaktifkan proto-onkogen atau deaktivasi tumor supresor gen3. Karsinoma sel basal pada kelopak mata adalah tumor epitel yang paling umum, tetapi patogenesis dari molekular genetik masih belum jelas. Mutasi dari p53 (pada kasus ini, overekspresi gen p53) dapat merupakan bagain intergral dari sekuensial yang patogenik. Zhang et al menunjukkan bahwa paparan sinar UV spesifik dapat mengubah nukleotida

dari 2 tumor supresor gen yaitu p53 dan PTCH, keduanya mengimplikasikan perkembangan onset yang cepat dari karsinoma sel basal3. Secara imunologi, mekanisme paparan radiasi UV menyebabkan perkembangan dari karsinoma sel basal melalui supresi sistem imun kulit, dan tidak responsifnya sistem imun terhadap tumor kulit. Efek lokalnya berupa penurunan dari sel Langerhan, sel dendritik Tepidermal, T-helper, dan lebih jauh lagi proliferasi T-suppresor sel dan melepaskan imunosupresi faktor (tumor necrosis factor-, interleukin-1, prostaglandin, interleukin10), diyakini sebagai agen patogenik dalam perkembangan karsinoma sel basal3. Diagnosis2 1. Anamnesis - Pasien sering mengeluh dengan ulkus yang tidak sembuh dan sering berdarah akibat trauma ringan. - Anamnesis selalu berhubungan dengan paparan sinar matahari atau pekerjaan diluar ruangan. - Gejala tidak disertai rasa sakit. 2. Pemeriksaan fisik Secara klinis, karsinoma sel basal terdapat beberapa tipe. Meskipun kebanyakan tumor memiliki karakteristik tidak nyeri, bernodul, mengkilat, menonjol, terfiksasi, seperti mutiara, batas melingkar, dan dengan pelebaran pembuluh darah kecil disekitarnya.

Secara klinis, karsinoma sel basal dapat dikelompokkan dalam 3 tipe: nodular, nodulo-ulseratif (ulkus roden), dan bentuk morphea atau sklerotik. Nodular o Bentuk paling sering o Lesi mengkilat, nodul seperti mutiara dengan teleangiektasi. o Tumbuh lambat, 0,5cm dalam 1-2 tahun. o Dapat berpigmentasi menandakan adanya melanin (melanosis sekunder) dan dapat disalah artikan secara klinik sebagai melanoma malignum. o Lesi dapat berdarah, akibat deposisi hemosiderin. o Tumor dapat berbentuk kista, yang dapat disalah artikan sebagai kista inklusi dari kelopak mata. o Tidak terdeteksi atau tidak diobati, nodul tumor dapat membentuk ulkus dibagian tengahnya dan menjadi bentuk awal dari BCC nodulo-ulseratif. Nodulo-ulseratif o Dengan ciri khas, ulkus di bagian sentral, dapat meluas pada kasus-kasus yang tidak ditangani, oleh karenanya disebut juga ulkus roden. o Tumor ditandari dengan batas melingkar yang seperti mutiara o Pembuluh darah dilatasi disekitar batas tumor. o Jika tidak diobati, tumor dapat meluas dan merusak sebagian besar kelopak mata Bentuk Morphea (Sklerosing) o Kasusnya jarang ditemukan. o Bentuknya pucat, batas tidak tegas, dengan plak indurasi o Tumor tumbuh dibawah epidermis, yang menyebabkan lebih ekstensi pada palpasi daripada inspeksi.

Gambar 1. Karsinoma sel basal nodul-ulseratif 3. Pemeriksaan penunjang Gambaran radiologis Gambaran radiologis dari tulang wajah dan orbita dan jaringan lunak dapat membantu mendiagnosis tumor kantus media yang dalam atau invasive. Penggunaan ultrasonografi (USG) dianggap controversial. Penggunaan USG untuk membedakan lesi jinak dengan ganas memiliki akurasi yang rendah yaitu sekitar 20%. Laser Doppler merupakan sarana yang berguna dalam menentukan batas tumor. Telah dilaporkan bahwa perfusi kulit kelopak mata secara statistik lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lain pada tubuh dan rata-rata perfusi pada kulit pretarsal 50% lebih besar dibandingkan dengan kulit preseptal. Secara histologis perfusi kutaneus pada karsinoma sel basal meningkat secara signifikan. Laser dopler dapat membantu membedakan lesi adneksa kulit jinak dengan ganas dan menentukan batas tumor.

Tes Lainnya - Sitologi Untuk menegakkan diagnosis karsinoma sel basal yang definitif dan akurat. Pemeriksaan sitologis sangat dibutuhkan dan biasanya didapatkan melalui biopsi eksisional. Bagaimanapun pemeriksaan sitologi telah

memberikan alternatif pemeriksaan yang dapat membantu menegakkan diagnosis selama kunjungan pertama. Teknik ini telah dilaporkan memiliki akurasi yang cukup baik. Namun sensitifitasnya dalam mendiagnosis karsinoma sel basal belum diketahui. Pada makalah Barton et al pasien yang menjalani pemeriksaan sitologis dengan biopsi eksisional memiliki sensitifitas 92% dalam mendiagnosis BCC dengan akurasi prediksi 75%. Nilai ini dibandingkan dengan kelompok pasien yang menggunakan pemeriksaan histologis dengan biopsi insisional yang diikuti dengan biopsi eksisional yang menunjukan sensitifitas 100% dalam

mendiagnosis karsinoma sel basal dan akurasi prediksi 96%. - Pemeriksaan patologi anatomi Tipe nodular : tipe nodular ditemukan pada lebih dari 70% (73,4%) dari keseluruhan tipe gambaran histologis. Kumpulan sel basalioid ditemukan dalam berbagai ukuran. Sel-sel tumor memperlihatkan gambaran palisade perifer. Sel-sel tersebut memiliki nukleus yang luas, oval, dan memanjang dengan sedikit sitoplasma. Sel-sel tersebut juga dapat pleomorfik atau atipikal dan dapat mengandung bentuk mitotik. Batas yang jelas antara sel yang normal dengan sel neoplasma dapat terlihat melalui mikroskop. Artefak kontraksi (vakuol kontraktil) pada lobus perifer tumor yang merupakan hasil dari penyusutan stroma kaya musin

selama proses pembuatan spesimen. Desmoplasia (perubahan pseudokarsinoma) dapat telihat disekitar stroma. Varian tipe nodular : - Kista - yang berisi darah dan sel tumor yang nekrosis, gambaran ini terlihat pada massa sel yang besar dan tumor yang tumbuh cepat. - Basoskuamosa memiliki komponen basal dan skuamosa - Keratotik kumpulan keratin - Adenoid produksi musin (berbusa, jernih, dan sedikit basofil) - Pigmented melanoma, nevus, dan deposit besi (hemosiderin). 2.6 Penatalaksanaan Tujuan utama penatalaksanaan adalah eradikasi tumor, mempertahankan fungsi penglihatan, hasil kosmetik yang baik dan angka penyembuhan yang tinggi. Tingkat rekurensi yang tinggi menyebabkan harus dilakukannya penatalaksanaan yang baik1,2,8. Secara umum terapi berupa eksisi lalu pemeriksaan sediaan beku untuk memastikan tepi luka eksisi sudah bebas dari tumor atau dengan pembedahan beku. Radiasi diusahakan untuk tidak dilakukan karena dampak negatif sinar ionisasi7. Tindakan-tindakan yang biasa dilakukan untuk basalioma3 : 1. Radioterapi Indikasinya adalah tumor yang kambuh, lesi primer pada otot atau dengan bedah okuloplasti yang luas berakibat jelek pada kosmetik. Efek sampingnya adalah dermatitis, keratinisasi konjungtiva, dan keratitis kronis. Kontraindikasinya adalah xeroderma pigmentosa, verukaformis, epidermodisplasia, dan sindroma nevus sel basal.

2. Kemoterapi Tidak menyembuhkan tetapi membantu menangani lesi superficial, lesi di medial kantus, basal sel karsinoma yang kambuh dan invasive, dan tumor yang luas jika dioperasi akan berakibat deformitas dan kelainan fungsi kosmetik. Dengan menggunakan obat tazarotene (tazoraca) secara topical, efek samping setelah penghentian adalah kekeringan atau iritasi kulit. 3. Fotodinamik terapi (PDT) PDT dengan fotosensitizer efektif untuk terapi tumor kulit epitel superficial. Disarankan PDT dengan asam d-aminoalfeolin, dengan indikasi : a. Tumor yang kambuh dengan operasi okuloplasti luas pada system retina atropi jaringan dan jaringan parut. b. Pasien yang sudah tua atau pasien yang seharusnya melakukan operasi rekonstruksi okuloplasti luas. c. Tumor yang tidak dapat diketahui dengan pemeriksaan klinis. d. Tumor kambuhan yang sulit atau operasi okuloplasti luas pada system retina. 4. Operasi a. Teknik lama adalah cryosurgery, terapi radiasi, elektrodesikasi, dan kuret, serta bedah eksisi. Masing-masing metode digunakan sesuai situasi dan pilihan atau kemampuan dari ahli mata, dengan tingkat keberhasilan 85%-95%. b. Teknik baru adalah operasi mikrografi Mohs. Dengan tingkat keberhasilan pada basal sel karsinoma primer 96% dan pada yang kambuhan 90%.

Tindakan tergantung ukuran tumor dan stadiumnya 1: 1. Bila tumor terbatas hanya pada adneksa a. Eksisi 3-5 mm dari batas makroskopis tumor yang dipandu oleh pemeriksaan potong beku. b. Ukuran tumor lebih dari palpebra, operasi bersama subbagian rekonstruksi. Defek kulit dan otot direkonstruksi dengan local skin flat. Defek pada lempeng tarsus dan konjungtiva palpebra bias dijahit ujung ke ujung bila defeknya kecil dari 1/3 lebar palpebra. Jika defek lebih besar konjungtivo tarsal flap jadi pilihan. Jika flep tidak biasa digunakan, transplantasi jaringan seperti chondromuccsal composite graft dapat dilakukan. 2. Tumor sudah menginvasi orbita a. Eksentrasi Prinsipnya adalah mengangkat bola mata serta seluruh atau sebagian palpebra, tergantung pada luas jaringan yang diinfiltrasi oleh tumor. b. Radioterapi Memberi respon terapi yang baik dengan tingkat keberhasilan 90%-95%. Digunakan dosis kuratif 45-60 Gy dalam 23-30 fraksi pemberian. 3. Tumor sudah menginvasi intrakranial-sinus paranasalis Bila sudah inoperabel dilakukan tindakan radioterapi paliatif.

Kontrol setelah pengobatan perlu dilakukan untuk mengawasi terjadinya kekambuhan dan mendeteksi adanya tumor baru yang mungkin timbul. Kemungkinan rekuren dilaporkan antara 11%-49%. 1. Untuk jenis sklerotik tiap 6 bulan selama 3 tahun 2. Untuk jenis lainnya tiap 1 tahun 2.7 Prognosis Prognosis baik, pada tumor yang dideteksi secara dini atau eksisi dengan tepi sayatan bebas tumor sehingga rekonstruksi dapat dilakukan maksimal. Jarang mengalami kekambuhan tapi kalau terjadi akan cenderung untuk lebih agresif dan lebih sulit ditangani1,2,3,8. Bila tumor masih berlokasi di palpebra dan lesinya tidak terlalu luas, dapat dilakukan eksisi luas dengan tidak mengorbankan bola mata. Bila eksisi tumor ini adekuat, dibantu dengan menilai tepi sayatannya secara potong beku, angka kesembuhan penderita akan meningkat. Pada penilaian patologi anatomi sebaiknya dinilai juga dasar sayatan. Ini untuk mencegah tersisanya sel-sel tumor, karena tumor mudah berinvasi kejaringan dibawahnya yaitu orbita. Bila orbita telah terinvasi sel-sel tumor, konsekuensinya yaitu jaringan orbita beserta bola mata harus ikut diangkat pada pembedahan (eksentrasi orbita). Operasi radikal ini harus dilakukan walau visus masih baik, karena kebutaan tidak dapat dihindari. Bila kondisi penderita buruk dan invasi sel-sel tumor telah sampai ke cranium, hanya dapat dilakukan radiasi paliatif. Terapi radiasi ini dapat juga dilakukan pada stadium dini dengan keuntungannya tidak hilangnya jaringan, tapi kerugiannya yaitu dosis radiasi tidak diterima secara merata karena palpebra merupakan daerah yang tidak nyata terutama daerah kantus2.

Kerugian lain yaitu terbentuknya jaringan fibrotik, sehingga bila kambuh akan terjadi didalam orbita. Padahal biasanya kekambuhan itu terjadi didaerah sentral atau perifer

palpebra. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebaiknya terapi harus dilakukan sedini mungkin pada saat lesi belum terlalu luas, dan penatalaksanaan eksisi silakukan sesempurna mungkin2.

DAFTAR PUSTAKA

1. American Academy of Ophthalmology Eye System M. D. Association. 2008. Ophthalmic Pathology and Intraocular Tumors 2. Moeloek, NF R Sandra, TA Usman, Agustus 2000. Keganasan Pada Adneksa Mata, Palpebra dan Konjungtiva. Dalam : continuing Ophtalmological Education 2000. Jakarta, 26 Agustus 2000. 3. Hon-Vu QD, 2005. Basal cell carcinoma, eyelid. Last update : 12 Januari 2009. Diakses dari http://www.eMedicine.com.september 2005. 4. Rahmi A, April 2006. Gambaran Karsinoma Palpebra di Bagian Mata RS. Dr. M. Djamil Padang. Skripsi, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang. 5. Snell RS. 1997. Clinical Anatomy part 3, eds III. Dr. Jan Tambayong, Penerjemah. Anatomi Klinik Bagian III. Jakarta: EGC, hlm 52-55, 113-115. 6. Wasitatmadja SM, 1999. Anatomi Kulit. Dalam : A. Juanda eds III. Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI, hal 1-30 7. Sjamsuhidayat R, Wim de jong, 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC. Hlm 331-335. 8. H. Neering, BBR Kroon, 1999. Tumor Kulit. Dalam : Onkologi. Dr. Arjono, SpPD. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.,hlm 445-466.