Anda di halaman 1dari 16

PORTFOLIO

Nama : Zahrosofi Ahmadah Nim : 00910710139

TOPIK Tanggal (kasus)

: Tension Type Hedache :18 Juli 2013

Deskripsi: Nn S merasakan kepala terasa berat sejak 7 hari yang lalu, nyeri kepala dirasakan mulai dari belakang dan kemudian diikuti samping kanan kiri

Tujuan: Definisi, Manifestasi Klinis,etiologi, Rencana terapi.

Data Pasien Nama Usia Nomor Registrasi tgl dan jam pemeriksaan. Keluhan utama Anamnesa : Nn S : 21 tahun :10777xxx : 12 Juli 2013 pukul 10.30 : nyeri kepala : pasien mengeluh nyeri kepala, nyeri kepala seperti terikat

terutama disisi belakang menjalar ke sisi kanan dan kiri. Nyeri kepala dirasakan sejak 7 hari yang lalu, pasien sudah meminum obat asam mefenamat namun nyeri belum membaik. Nyeri tidak berkurang dengan istirahat. Saat ini pasien sedang dalam masa penyelesaian skripsi. Tidak didapatkan riwayat panas dan fotofobia. Riwayat Mual Muntah (-) Nyeri kronik progresif () pelo (-) merot (-) gagguan penglihatan (-) lemah badan (-) Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat keluarga Riwayat Sosial :: adek memiliki riwayat penyakit yang sama :

Status internal compos mentis, T=110/70 mmHg, N=80x/m RR=20x/m Tax=36.5C Head an -/- ict -/-

Thorax cor S1S2 normal, murmur(-) pulmo rh -/- wh -/Abdomen flat, supel, BS normal, met (-) Extremities edema -/ Status neurologi: GCS 456 Fungsi luhur normal MS Kaku kuduk(-) Nervus cranialis: PBI 3mm/3mm RC+/+ RK+/+ N III, IV, VI, VII, XII dbn Sensoris dbn Motoris Tonus NIN NIN Physiological Reflex : B +2/+2 T +2/+2 K +2/+2 A +2/+2 ANS : retensi uri(-), alvi (-) Tes cerebellum: dbN Tes nyeri perikranial: tidak didapatkan bertambah nyeri Working Diagnosa: Planning Diagnosa: Planning Therapy: Farmakologis: Paracetamol 400 mg Diazepam Amitriptilin Caffein 1 mg 5 mg 30 mg Tension type headache Power 5I5 5I5 Patological Reflex : H -/- O -/T-/B-/C-/G -/-

Tatalaksana non farmakologis: KIE management stress dan bisa dilakukan pemijatan untuk merilekskan otot otot supaya tidak tegang Edukasi:

Dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik, didapatkan pasien terkena TTH, yang disebabakan kekakuan otot- otot pada leher, sehingga diberikan obat untuk mengurangi rasa nyeri kepala dan untuk relaksasi otot otot yang tegang, namun, perlu diperhatikan juga pada pasien ini TTH dipicu oleh stressor yakni skripsi, sehingga pasien harus pandai untuk memanajemen stress tersebut, karena jika pemicu tidak diselesaikan, maka pengobatan pun akan sia sia. Juga, bila dirasa perlu pasien juga bisa memijat bagian leher dan kepla untuk merelaksasikan otot lehar dan kepala. Resep Dr sofi Jl cendana no. 12 Sip 0341 0341 No telp 090909009 Malang, 12 Juli 2013

R/

paracetamol 400 mg Diazepam Amitriptilin Caffein 1 mg 4 mg 30mg

Mf la pulv da in caps No. XIV S 2 dd caps I Pro: Nn S Usia: 21 tahun Alamat; Malang

Data Utama bahan Diagnosa 1. Diagnosis/Gambaran Klinis: Sakit kepala terasa seperti terikat di bagian belkang kemudian menjalar kesisi kanan kiri. 2. Riwayat pengobatan: diberikan obat asam mefenamat 3. Riwayat Penyakit: 4. Riwayat Keluarga: ada saudara kandung yang mengidap penyakit yang sama 5. Riwayat social: mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyelesaikan skripsi Hasil pembelajaran 1. Definisi TTH 2. Epidemiologi

3. Gejala Klinik 4. Pemeriksaan fisik 5. Klasifikasi dan Kriteria Diagnosa tension-type headache 6. Etiologi TTH 7. patofisiologi 8. Terapi 9. Diagnosis banding 10. Prognosis

1.

Definisi TTH Nyeri kepala tegang otot adalah bentuk sakit kepala yang paling sering dijumpai dan

sering dihubungkan dengan jangka waktu dan peningkatan stress. Orang-orang yang cenderung menderita nyeri kepala mempunyai kepribadian yang tidak banyak berbeda. sikap hidup yang serba kaku, sangat berhati-hati, sangat cermat serta menginginkan semua yang dilakukan serba sempurna dan juga cenderung untuk mendendam. Pada akhirnya, terjadi peningkatan tekanan jiwa dan penurunan tenaga. Pada saat itulah terjadi gangguan dan ketidakpuasan membangkitkan reaksi pada otot-otot kepala, leher, bahu, serta vaskularisasi kepala sehingga timbul nyeri kepala. Nyeri sepertiinilah yang disebut nyeri kepala tegang otot. Nyeri kepala ini disebabkan oleh ketegangan otot di leher, bahu dan kepala. Nyeri ini tersebar secara difus dan sifat nyerinya mulai dari ringan hingga sedang. Menurut lama berlangsungnya, nyeri kepala tegang otot ini dibagi menjadi nyeri kepala episodik dan nyeri kepala kronis. Nyeri kepala tegang otot dikatakan episodic jika perlangsungannya kurang dari 15 hari dengan serangan yang terjadi kurang dari 1 hari perbulan (12 hari dalam 1 tahun). Nyeri kepala ini sangat umum dan banyak ditemukan di masyarakat, tetapi tidak memerlukan penanganan khusus dan dapat sembuh dengan pemberian analgetik sedangkan apabila nyeri kepala tegang otot tersebut berlangsung lebih dari 15 hari selama 6 bulan terakhir dikatakan nyeri kepala tegang otot kronis (pada pasien ini sesuai dengan dianosa TTH yakni pasien menyebutkan nyeri kepala terasa berat buka berdenyut dan berlangsung sejak 7 hari yang lalu, tidak membaik dengan istirahat dan dilatarbelakangi stressor yakni skripsi)

2.

Epidemiologi Di Amerika serikat, hanya 1-4 % pasien dengan keluhan nyeri kepala yang masuk ke

Instalasi Rawat Darurat, tetapi merupakan alasan terbanyak pasien berkonsultasi kepada

dokter. 90% dari nyeri kepala tersebut merupakan nyeri kepala tegang otot.Frekuensi nyeri kepala ini tidak berbeda dari wilayah yang satu dengan wilayah yang lainnya. Jika berdasarkan jenis kelamin, nyeri kepala ini lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki dengan perbandingan 3:1. Semua usia dapat terkena, namun sebagian besar pasien adalah orang dewasa muda yang berumur berkisar antara 20-40 tahun. Riwayat dalam keluarga dapat ditemukan. (sesuai dengan kriteria pasien ini berjenis kelamin wanita dengan usia dewasa muda 21 tahun, sesuai dengan epidemiologi TTH)

3.

Gejala Klinik

Nyeri kepala tegang otot biasa berlangsung selama 30 menit hingga 1 minggu penuh. Nyeri bisa dirasakan kadang - kadang atau terus menerus. Nyeri pada awalnya dirasakan pasien pada leher bagian belakang kemudian menjalar ke kepala bagian belakang selanjutnya menjalar ke bagian depan. Selain itu, nyeri ini juga dapat menjalar ke bahu. Nyeri kepala dirasakan seperti kepala berat, pegal, rasa kencang pada daerah bitemporal dan bioksipital, atau seperti diikat di sekeliling kepala. Nyeri kepala tipe ini tidak berdenyut. Pada nyeri kepala ini tidak disertai mual ataupun muntah tetapi anoreksia mungkin saja terjadi. Pasien juga mengalami fotofobia dan fonofobia. Gejala lain yang juga dapat ditemukan seperti insomnia (gangguan tidur yang sering terbangun atau bangun dini hari), nafas pendek, konstipasi, berat badan menurun, palpitasi dan gangguan haid. Pada nyeri kepala tegang otot yang kronis biasanya merupakan manifestasi konflik psikologis yang mendasarinya seperti kecemasan dan depresi. Oleh sebab itu, perlu dievaluasi adanya stres kehidupan, pekerjaan, kebiasaan, sifat kepribadian tipe perfeksionis, kehidupan perkawinan, kehidupan sosial, seksual, dan cara pasien mengatasinya. Keluhan emosi antara lain perasaan bersalah, putus asa, tidak berharga, takut sakit ataupun takut mati. Keluhan psikis yaitu konsentrasi buruk, minat menurun, ambisi menurun atau hilang, daya ingat buruk dan keinginan bunuh diri.

(sesuai dengan pasien ini, dimana nyeri kepala terasa pada hampir seluruh bagian kepala dari depan ke belakang bilateral dan tidak berdenyut selain itu didapatkan faktor pemicunya yakni stressor skirpsi) 4. Pemeriksaan Fisik Tidak ada pemeriksaan fisik yang berarti untuk mendiagnosis nyeri kepala tegang otot ini. Pada pemeriksaan fisik, tanda vital harus normal, pemeriksaan neurologis normal. Pemeriksaan yang dilakukan berupa pemeriksaan kepala dan leher serta pemeriksaan neurologis yang meliputi kekuatan motorik, refleks, koordinasi, dan sensasi. Pemeriksaan mata dilakukan untuk mengetahui adanya peningkatan tekanan pada bola mata yang bisa menyebabkan sakit kepala. Pemeriksaan daya ingat jangka pendek dan fungsi mental pasien juga dilakukan dengan menanyakan beberapa pertanyaan. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menyingkirkan berbagai penyakit yang serius yang memiliki gejala nyeri kepala seperti tumor atau aneurisma dan penyakit lainnya (sesuai dengan keadaan pasien yang tidak didapatkan kelainan pada status neurologisnya)

5.

Klasifikasi dan Kriteria Diagnosa tension-type headache

1. Infrequent episodic tension-type headache Kriteria Diagnosa TTH infrekuen: A. Paling tidak terdapat 10 episode serangan dalam <1 hari/bulan (atau <12 hari/ tahun), dan memenuhi kriteria B-D B. nyeri kepala berakhir dalam 30 menit 7 hari C. nyeri kepala paling tidak terdapat 2 gejala khas: a. bilateral, b. menekan mengikat, tidak berdenyut, c. Intensitasnya mild atau moderate, d. Tidak diperberat dengan aktifitas rutin seperti berjalan atau naik tangga D. Tidak didapatkan: a. tidak ada mual/ muntah b. lebih dari saatu keluhan fonofobia/ fotofobia, E. tidak ada hubungannya dengan penyakit nyeri kepala lain.

A. TTH infrekuen yang berhubungan dengan nyeri tekan perikranial Kriteria Diagnosa: 1. Memenuhi kriteria A-E dari TTH yang infrekuen 2. Nyeri tekan perikranial meningkat pada palpasi manual B. TTH infrekuen yang tidak berhubungan dengan nyeri tekan perikranial Kriteria Diagnosa: 1. Memenuhi kriteria A-E dari TTH yang infrekuen 2. Nyeri tekan perikranial tidak meningkat pada palpasi manual 2..Frequent episodic tension-type headache A. TTH episodik yang frekuen berhubungan dengan yeri tekan perikranial B. TTH episodik yang frekuen tidak berhubungan dengan nyeri tekan perikranial Kriteria Diagnosa TTH episodic frekuen: A. Paling tidak terdapat 10 episode serangan dalam 1- 15 hari/bulan dalam waktu paling tidak selama 3 bulan (atau 12 -180hari pertahunnya), B. nyeri kepala berakhir dalam 30 menit 7 hari C. nyeri kepala paling tidak terdapat 2 gejala khas: a. bilateral, b. menekan mengikat, tidak berdenyut, c. Intensitasnya mild atau moderate,

d. Tidak diperberat dengan aktifitas rutin seperti berjalan atau naik tangga D. Tidak didapatkan: a. tidak ada mual/ muntah b. lebih dari saatu keluhan fonofobia/ fotofobia, E. tidak ada hubungannya dengan penyakit nyeri kepala lain.

A. TTH frekuen yang berhubungan dengan nyeri tekan perikranial Kriteria Diagnosa: 3. Memenuhi kriteria A-E dari TTH yang frekuen 4. Nyeri tekan perikranial meningkat pada palpasi manual B. TTH frekuen yang tidak berhubungan dengan nyeri tekan perikranial Kriteria Diagnosa: 3. Memenuhi kriteria A-E dari TTH yang frekuen 4. Nyeri tekan perikranial tidak meningkat pada palpasi manual 3.Chronic tension-type headache Kriteria Diagnosa TTH kronik: A. Nyeri Kepala timbul 15 hari/bulan. Berlangsung> 3 bulan (180 hari/tahun) dan juga memenuhi kriteria B-D B. nyeri kepala berlangsung beberapa jam atau terus menerus C. nyeri kepala paling tidak terdapat 2 gejala khas: a. bilateral, b. menekan mengikat, tidak berdenyut, c. Intensitasnya mild atau moderate, d. Tidak diperberat dengan aktifitas rutin seperti berjalan atau naik tangga D. Tidak didapatkan: a. tidak ada mual/ muntah b. lebih dari saatu keluhan fonofobia/ fotofobia, E. tidak ada hubungannya dengan penyakit nyeri kepala lain.

A. TTH kronik yang berhubungan dengan nyeri tekan perikranial Kriteria Diagnosa: 1. Memenuhi kriteria A-E dari TTH kronik 2. Nyeri tekan perikranial meningkat pada palpasi manual B. TTH kronik yang tidak berhubungan dengan nyeri tekan perikranial Kriteria Diagnosa: 1. Memenuhi kriteria A-E dari TTH yang kronik

2.

Nyeri tekan perikranial tidak pada palpasi manual

meningkat

4.Probable tension-type headache Dijumpai memenuhi kriteria TTH akan tetapi kurang satu kriteria untuk TTH bercampur dengan salah satu kriteria probable migrane. Nyeri kepala berlangsung >15 hari/bulan selama > 3 bulan (atau > 180 hari/tahun), nyeri kepala berlangsung selama sekian jam atau terus menerus kontinyu, bilateral, rasa menekan/mengikat, intensitas mild or moderate, tidak ada severe nausea atau vomiting, mungkin ada fotopobia/ fonopobia, tidak ada hubungannya dengan penyakit kepala lainnya, paling tidak masa 2 bulan terakhir. (pasien ini termasuk dalam TTH tipe Infrequent episodic tension-type headache nyeri dirasakan selama 7 hari, nyeri bilateral seperti terikat )

6.

Etiologi Tension (keteganggan) dan stress. Tiredness (Kelelahan). Ansietas (kecemasan). Lama membaca, mengetik atau konsentrasi (eye strain) Posture yang buruk. Jejas pada leher dan spine. Tekanan darah yang tinggi. Physical dan stress emotional
(pada pasien ini cenderung pemicunya adalah stressor pada psikologis pasien

yang tengah menghadapi sidang skripsi) 7. Patofisiologi Meskipun nyeri kepala tegang otot ini sangat umum ditemukan,patofisiologinya masih tetap tidak jelas. Penelitian menunjukkan bahwa mekanisme nyeri kepala ini tergantung terhadap otot yang terlibat yakni otot wajah,leher dan bahu. Patomekanisme nyeri kepala tegang otot ini masih menjadi bahan penilitian tetapi telah ada beberapa teori-teori yang diduga menyebabkan nyeri kepala jenis ini. Salah satu teori yang paling populer mengenai penyebab nyeri kepala ini adalah kontraksi otot wajah, leher, dan bahu. Otot-otot yang biasanya terlibat antara lain m. splenius

capitis, m. temporalis, m. masseter, m. sternocleidomastoideus, m.trapezius, m. cervicalis posterior, dan m. levator scapulae. Penelitian mengatakan bahwa para penderita nyeri kepala ini mungkin mempunyai ketegangan otot wajah dan kepala yang lebih besar daripada orang lain yang menyebabkan mereka lebih mudah terserang sakit kepala setelah adanya kontraksi otot. Kontraksi ini dapat dipicu oleh posisi tubuh yang dipertahankan lama sehingga menyebabkan ketegangan pada otot ataupun posisi tidur yang salah. Ada juga yang mengatakan bahwa pasien dengan sakit kepala kronis bisa sangat sensitif terhadap nyeri secara umum atau terjadi peningkatan nyeri terhadap kontraksi otot. Sebuah teori juga mengatakan ketegangan atau stres yang menghasilkan kontraksi otot di sekitar tulang tengkorak menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah sehingga aliran darah berkurang yang menyebabkan terhambatnya oksigen dan menumpuknya hasil metabolisme yang akhirnya akan menyebabkan nyeri. Para peneliti sekarang mulai percaya bahwa nyeri kepala ini bisa timbul akibat perubahan dari zat kimia tertentu di otak - serotonin, endorphin, dan beberapa zat kimia lain - yang membantu dalam komunikasi saraf. Ini serupa dengan perubahan biokimia yang berhubungan dengan migren. Meskipun belum diketahui bagaimana zat-zat kimia ini berfluktuasi, ada anggapan bahwa proses ini mengaktifkan jalur nyeri terhadap otak dan mengganggu kemampuan otak untuk menekan nyeri. Pada satu sisi, ketegangan otot di leher dan kulit kepala bisa menyebabkan sakit kepala pada orang dengan gangguan zat kimia. Di sisi lain, ketegangan otot bisa merupakan hasil dari perubahan zat kimia ini.Karena nyeri kepala tipe ini dan migren melibatkan perubahan yang mirip pada otak, beberapa peneliti percaya bahwa kedua tipe sakit kepala ini berhubungan. Beberapa ahli berpendapat bahwa migren bisa disebabkan oleh nyeri kepala tegang otot yang berulang. Migren bisa dibedakan saat nyeri yang terasa menjadi sangat hebat. Ada juga yang beranggapan migren yang ringan adalah suatu jenis nyeri kepala tegang otot yang ringan (pada pasien ini mekanisme stressor dicurigai menyebabkan kontraksi otot di sekitar tulang tengkorak sehingga menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah sehingga aliran darah berkurang yang menyebabkan terhambatnya oksigen dan menumpuknya hasil metabolisme yang akhirnya akan menyebabkan nyeri) 8. Terapi 1. Terapi Farmakologi A.I. Pada serangan akut -> Tidak boleh melebihi 2 kali/minggu a. Analgetik: ibuprofen 800 mg/hari, acetaminophen 1000 mg/hari/aspirin 1000 mg/hari, naproxen 660-760/ hari, diclofenac 50-100 mg/hari b. Caffeine (analgetik ajuvan) 65 mg

c. Kombinasi : 325 mg aspirin, acetaminophem + 40 mg caffeine d. Muscle relaxant seperti cyclobenzaprine, chlorzoaxazone A.II. untuk akut dan kronik: a. anti-depresanL Penggunaan antidepresan terutama jenis trisiklik (amitriptilin) sering diteliti sebagai terapeutik maupun pencegahan TTH. Obat ini mempunyai efek analgetika dengan mengurangi firing rate of trigeminal nucleus caudatus. a. Anti ansietas: Baik pada pengibatan kronik dan preventif terutama pada penderita dengan komorbid ansietas . golongan benzodiazepine dan butalbutal sering dipakai kekurangannya obat ini bersifat adiktif dan sulit dikontrol sehingga dapat memperburuk nyeri kepalanya. 2. Terapi non farmakologikal 1. 2. 3. 4. Pengobatan fisik: 1. 2. Latihan postur dan posisi Massage, ultrasound, aual terapi, kompres panas/dingin 3. 4. Traksi Akupuntur dan TENS (transccutaneus Control diet Terapi fisik Hidari pemakaina harian obat analgesic, sedative dan ergotamine Behavior treatment

electrical Stimulation) Terapi behavior: Bisa dilakuan biofeedback , stress management tterapi, reassurance, konseling, relaxation terapi, kognitif behavior terapi. Harus diberika penanganan jelas mengenai patofisiolohi sederhana dan pengobatanya dan tension type headache bukanlah penyakit yang serius seperti tumor otak, perdarahan otak, dan sebagainya sehingga dapat megurangi

ketegangganya Terapi psikologis:

Dalam hal ini harus diberikan penerangan agar oenderita bisa menerima kasil yang didapat sekedar cukup realistic 3. Terapi preventif farmakologis Indikasi: Perlu diberikan pada penderita yang sering mendapatka serangan nyeri kepala pada tension type headache episodic dan serangan yang lebih dari 15 hari dalam satu bulan Prinsip pengobatan: 1. Obat berdasarkan lini pertama efektivitas efek samping, da komorbid penderita 2. Mulai dengan dosis rendah, dinaikkan sampai efektif atau tercapai dosis maksimal 3. Obat dibaerikan dalam jangka waktu seminggu/lebih 4. Bisa diganti obat yang lain bila obat pertama gagal 5. Sedapat mungkin mono terapi Pilihan pertama untuk terapi preventif adalah antidepresan trisiklim amitriptilin (dosis mulai 10-25 mg pada malam hari, jika dosis tersebut belum memeberikan efek dosis dapat ditingkatkan secara gradual mmenjadi 125 mg. preparat lain yang dapat diguankan sebagai profialksis terutama untuk TTH kronik episodic dan migren adalah sodium valproatm venlaxinem atau topiramat dengan dosis yang sama dengan preventif migren (pada pasien ini diberikan obat komninasi PDAC yang berisi paracetamol sebagai analgetik, diazepam sebagi muscle relaxant, Amitriptylin sebagai antidepressant, serta Caffeine sebagai analgetik adjuvant merupakan

kombinasi yang mencakup seluruh teori terapi pada TTH meskipun tidak diberikan sesuai pengobatan lini awal namun pegobatan dengan regimen PDAC sudah mencakup seluruh kebutuhan pasien ini dan diharpakan dnegan dosis yang sesuai maka dengan obat ini dapat membantu pasien, selain itu KIE megenai mengurangi stressor juga harus diberitahukan karena stressor merupakan salah satu penyebab TTH, jadi pengobatan TTH haruslah holistic,) 9. Diagnosis Banding

Migrain Istilah migrain berasal dari kata Yunani yang berarti sakit kepala sesisi. Memang pada 2/3 penderita migrain, nyeri dirasakan secara unilateral, tetapi pada 1/3 lainnya dinyatakan pada kedua belah sisi secara bergantian dan tidak teratur. Rasa nyeri ini disebabkan oleh adanya dilatasi pembuluh darah besar intrakranial dan dibebaskannya substansi neurokinin ketika vasodilatasi terjadi. Penyebab vasodilatasi ini belum diketahui.

Terdapat dua syndrome klinis migrain, yaitu migrain dengan aura dan migrain tanpa aura. Selama beberapa tahun, migrain dengan aura dikatakan sebagai migrain klasik dan sindrom yang kedua dikatakan sebagai migraine umum. Migrain disertai aura diawali dengan adanya gangguan pada fungsi saraf, terutama visual, diikuti oleh nyeri kepala hemikranial (unilateral), mual, dan kadang muntah, kejadian ini terjadi berurutan selama beberapa jam kadang pula terjadi dalam sehari penuh bahkan lebih. Migrain tanpa aura merupakan nyeri kepala hemikranial disertai atau tanpa mual muntah yang terjadi secara tiba-tiba tanpa gangguan fungsi saraf sebagai pertanda dan gejala ini terjadi dalam beberapa menit atau jam. Aspek

hemikranial dan sensasi berdenyut merupakan karakteristik paling khas yang membedakan migrain dengan jenis nyeri kepala lainnya. Nyeri kepala Cluster Nyeri kepala cluster merupakan sindroma nyeri kepala yang lebih sering terjadi pada pria dibanding wanita. Nyeri kepala cluster ini pada umumnya terjadi pada usia yang lebih tua dibanding dengan migraine. Nyeri pada sindrom ini terjadi hemikranial pada daerah yang lebih kecil dibanding migraine, sering kali pada daerah orbital, sehingga dikatakan sebagai klaster. Jika serangan terjadi, nyeri ini dirasakan sangat berat, nyeri tidak berdenyut konstan selama beberapa menit hingga 2 jam. Namun pada penelitian yang dilakukan oleh Donnet, kebanyakan pasien mengalami serangan dengan durasi 30 hingga 60 menit.Tidak seperti migraine, nyeri kepala cluster selalu unilateral dan biasanya terjadi pada region yang sama secara berulangulang. Nyeri kepala ini umumnya terjadi pada malam hari, membangunkan pasien dari tidur, terjadi tiap hari,seringkali terjadi lebih dari sekali dalam satu hari. Nyeri kepala ini bermulai sebagai sensasi terbakar (burning sensastion) pada aspek lateral dari hidung atau sebagai sensasi tekanan pada mata. Injeksi konjunctiva dan lakrimasi ipsilateral, kongesti nasal, ptosis, photophobia, sindrom Horner, bahkan ditemukan pula pasien dengan gejala gastrointestinal.

10. Prognosis Nyeri kepala tegang otot ini pada kondisi tertentu dapat menyebabkan nyeri yang menyakitkan, tetapi tidak membahayakan. Nyeri ini dapat sembuh dengan perawatan ataupun dengan menyelesaikan masalah yang menjadi latar belakangnya jika merupakan nyeri kepala tegang otot yang timbul akibat pengaruh psikis. Nyeri kepala ini dapat sembuh dengan terapi obat berupa analgetik. Nyeri kepala tipe tegang ini biasanya mudah diobati sendiri. Dengan pengobatan, relaksasi, perubahan pola hidup, dan terapi lain, lebih dari 90% pasien sembuh dengan baik. (pada pasien ini prognosisnya baik jika pasien mampu mengatasi masalahnya yakni stressor psikisnya, obat obatan dapat membantu pasien ini untuk menguragi nyeri kepalanya) Daftar Pustaka

Konsensus Nasional III Diagnostik dan Penatalaksanaan Nyeri Kepala. Kelompok Studi Nyeri Kepala Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) tahun 2010. Halaman 3136 Tension Type Headache. Wibisono Y. Neurology in daily practice.2010.diterbitka oleh: Bagian/UPF Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Hasan Sadikin bandung.hal 107-115 Referat Nyeri Kepala Tipe tegang. Anrishadi.2013 .http://www.scribd.com/doc/72459158/referatNyeri-kepala-tipe-tegang diakses pada tanggal 21 Juli 2013.