PRESENTASI KASUS

INFEKSI SALURAN KEMIH
OLEH: DHITA KEMALA RATU
PEMBIMBING Dr. HAMI ZULKIFLI ABBAS, Sp.PD, FINASIM, MH.Kes. Dr. SIBLI, Sp.PD Dr. SUNHADI

PRESENTASI KASUS
Identitas Pasien  Nama : Ny.W  Jenis kelamin : Perempuan  Umur : 47 tahun  Alamat : Susukan  Pekerjaan : Pedagang  Agama : Islam  Tgl masuk : 22-06-2013  No.CM : 810179

Keluhan Utama :  Demam sejak 2 hari sebelum masuk RS

Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke RSUD Arjawinangun dengan keluhan demam. Demam dirasakan sejak 2 hari SMRS. Demam bersifat naik turun sepanjang hari dan timbul mendadak. Pasien sempat demam dan menggigil saat menjelang malam hari. Pasien juga mengeluhkan buang air kecil terasa panas sejak 3 hari SMRS. BAK sedikitsedikit namun sering. Saat BAK pasien terkadang merasa tidak lampias atau anyanganyangan sejak 7 hari SMRS. Terkadang pasien harus agak mengejan saat ingin BAK. Warna BAK kuning pekat jernih. Tidak keruh, tidak terdapat seperti gumpalan, batu, atau pasir pada air kencing pasien. Pasien mengaku

Tidak ada mimisan atau perdarahan gusi. Nyeri tidak menjalar. tidak ada BAB hitam atau mencret. Nyeri tidak berubah dengan perubahan posisi tubuh atau menggerak-gerakkan pinggang. Tidak ada keluhan mata kuning. Nafsu makan pasien dirasakan menurun . Tidak ada nyeri otot atau sendi.Pasien juga mengeluh mual sejak 3 hari SMRS namun tidak terdapat muntah. Pasien merasa nyeri diperut bawah dan pada pinggang kanan sejak 2 hari SMRS. Selain itu Buang air besar lancar.

 Riwayat penyakit paru tidak ada.  Riwayat kencing manis sejak 5 tahun yang lalu. pasien mengaku mulai jarang kontrol dan minum obat.  Riwayat sakit kuning tidak ada  .Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat Hipertensi dimiliki pasien sejak 2 tahun lalu. pasien mengaku jarang minum obat.

Riwayat Penyakit Keluarga :  Pasien mengaku tidak ada keluarga yang mempunyai penyakit yang sama dan tidak ada yang mempunyai penyakit kencing manis. Pasien berobat dengan menggunakan . Sehari-hari pasien berkeliling menjual tempe ke pasar atau warung. Riwayat Alergi : Tidak ada Riwayat Sosio Ekonomi  Pasien bekerja sebagai pedagang tempe.

8 0 C  BB : 70 kg  TB : 155 cm  BBI : 49.Pemeriksaan Fisik Kesadaran : composmentis. isi penuh)  Pernapasan : 20 x/menit (normal)  Suhu : 37.5 kg  IMT : 29.  Keadaan umum : tampak sakit sedang  Tekanan darah : 150/80 mmHg  Nadi : 100 x/menit (Reguler.14 (overweight)  .

membran timpani intak. Sklera ikterik -/-. tidak ada secret. . tidak ada caries dentis. pernafasan cuping hidung tidak ada  Mulut : Bibir tidak kering. bentuk normal. Katarak (-/-)  Telinga : Liang lapang.Kepala  Bentuk : Normal simetris  Rambut : Hitam beruban dan tidak mudah rontok  Mata : Konjunctiva anemis -/-. tidak hiperemis. Pupil bulat isokor ditengah. tidak ada kelainan.  Hidung : Septum ditengah sekret tidak ada. lidah tidak kotor. tonsil T1-T1.

Thoraks  Inspeksi : Bentuk dada kanan kiri simetris.Leher  Bentuk Normal. deviasi trakea (-). retraksi (-)  Palpasi : fremitus taktil dan vokal kanan sama dengan kiri  Perkusi : sonor pada kedua lapangan paru  Auskultasi : vbs kanan = kiri. tidak ada penonjolan masa. ronki -/-. pergerakan nafas kanan sama dengan kiri . JVP tidak meningkat. Wheezing -/- . Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan KGB.

murmur (-). . gallop (-).Jantung  Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak  Palpasi : Iktus kordis teraba di sela iga V LMCS.  Perkusi Batas jantung : ◦ Batas atas jantung : sela iga III garis parasternalis sinistra ◦ Batas kiri jantung : sela iga V garis midclavicularis sinistra ◦ Batas kanan jantung : sela iga V linea parasternalis sinistra  Auskultasi : BJ S1 dan S2 normal regular.

simetris  Auskultasi : Bising usus (+) normal  Perkusi : suara timpani pada lapang abdomen. undulasi (-).Abdomen Inspeksi : cembung. hepar dan lien tidak teraba membesar. nyeri supra pubik (+)  . tidak ada pelebaran vena. nyeri ketok sudut kostovertebra dextra (+)  Palpasi : tidak teraba massa. shifting dullness (-).

kulit tidak kering dan tidak berkeringat.  . Tidak dinilai  Ekstremitas  Akral hangat.Genitalia  Tak ada keluhan. Edema (-) . CRT <2”.

8 0.Darah Lengkap (22 Juni 2013) LAB WBC LYM MON RESULT 18.2 14.0 150.0 7.1-1.0-400.0-10.0-8.74 H L 10^3/ % % % 2.8 82.0-34.127 14.7 L g/dl % 11.7 0.0-17.0 35.0-80.0 25.6 3.0-35.6 34.0-18.50 10.0-50.0-55.0-11.0 50.0 1.2 35.20 L 10^6/ HGB HCT MCV MCH MCHC RDW PLT MPV PCT POW 12.0-16.3 163 7.0-100.0 4.0 .8 2.0-12.5 2.0-5.0 GRANUL LYM % MON% GRANUL% RBC 15.5 FLAGS H UNIT 10^3/ 10^3/ 10^3/ NORMAL 4.0 % % 0.0 31.5 12.0 0.0-6.2 94.0 pg g/dl % 10^3/ 26.0 10.0 80.0 2.7 32.200-0.

72 Normal 10-50 mg/dL 0.6-1.38 mg/dL Kadar Gula Darah Sewaktu 22 Juni 2013 23 Juni 2013 24 Juni 2013 25 Juni 2013 243 mg/dL 183 mg/dL 164 mg/dL 157 mg/dL .1 0.Fungsi Ginjal (Tgl 22 Juni 2013) Fungsi Ginjal Ureum Kreatinin Hasil 20.

0-8.005 – 1.015 Negative (+) 1 Negative Negative (+) 1 (+) 2 Metode Carik Celup Carik Celup Carik Celup Carik Celup Carik Celup Carik Celup Carik Celup Carik Celup Carik Celup Nilai Normal Kuning jernih 5.Urin Rutin 22 Juni 2013 Pemeriksaan Warna PH Berat Jenis Nitrit Protein Glukosa Keton Bilirubin Urobilinogen Sedimen Leukosit Eritrosit Epitel Kristal Silinder (+) 11-14 (+) 3-5 (+) 5-7 Negative Negative /LPB /LPB /LPB /LPB /LPB Hasil Kuning 6.0 1.0 1.030 Negatif Negatif Satuan - .

71 1.6-1.38 mg/dL 3.0 mg/dL .53 Nilai normal 10-50 mg/dL 0.34 – 7.Fungsi Ginjal tanggal 24 Juni 2013 Pemeriksaan Ureum Kreatinin Uric Acid Hasil 16 0.

USG Abdomen Kesan: Tak Tampak kelainan VF. dan vesica urinaria. pankreas. renal. serta Mc Burney. .

frekuensi. dan mual. menggigil. piuria. polakisuria. demam.Resume Pasien 47 tahun dengan keluhan: disuria. eritrosit dan epitel urin (+)  . nyeri ketok sudut kostovertebra.  Laboratorium : lekositosis. proteinuria. hipertensi. nyeri suprapubik.  Pemeriksaan fisis : febris. nyeri pinggang. dan hiperglikemik. nyeri tekan suprapubik.

Daftar Masalah Infeksi Saluran Kemih  DM tipe 2 overweight tidak terkontrol  Hipertensi Grade II  .

Infeksi Saluran Kemih Anamnesis :  ISK bawah frekuensi.Pengkajian Masalah 1. nyeri tekan suprapubik. demam. kultur urin (+): bakteriuria >105/ml urin . menggigil.  ISK atas :nyeri pinggang. nyeri ketok sudut kostovertebra  Laboratorium : lekositosis. hematuria Pemeriksaan fisis :  febris. nyeri suprapubik. disuria terminal. lekosituria >10 per lapangan pandang besar. mual dan muntah. polakisuria.

foto BNO-IVP. gula darah. tes fungsi ginjal. urinalisis. kultur urin dan tes resistensi kuman. USG ginjal TERAPI Nonfarmakologis : •Banyak minum bila fungsi ginjal masih baik •Menjaga higiene genitalia eksterna Farmakologis : •Antimikroba berdasarkan pola kuman yang ada Ciprofloxacin 2 x 200 mg IV  .Planning:  PEMERIKSAAN PENUNJANG:  DL.

2. Hipertensi  Atas dasar : peningkatan tekanan darah lebih dari atau sama dengan 160 atau lebih dari atau sama dengan 100.  Assasment : Hipertensi Grade II .

5mg .Planning : Non farmakologis :  Latihan fisik ringan  Mengurangi asupan garam  Farmakologis :  Captopril 2 x 12.

BMI 29. .14 (overweight). polifagia. polidipsi. Diabetes Melitus Tipe 2 overweight tidak terkontrol  Atas dasar : gula darah puasa lebih dari 126 atau gula darah sewaktu lebih dari 200 dan gejala klasik DM yaitu poliuria. kaki kesemutan dan baal.3.

lemak 304 kalori setara dengan 33 gram). Farmakologis:  Glimepiride 2 x 3 mg . Protein 304 kalori setara dengan 76 gram. Planning ◦ Pemeriksaan penunjang :     Tes Gula darah puasa dan 2 jam pp Lipid profil Rontgen Thorax PA Cek fungsi ginjal Terapi Non farmakologis :   Diet kebutuhan kalori : 1522 kalori ( KH 900 kalori setara dengan 225 gram.

VBS +/+ Rk -/. Murmur (-). Demam (+) O:  T : 150/90 mmHg  P : 88 x/menit  R : 22 x/menit  S : 38.3 0 C Kepala : KA -/-. SI -/Leher : KGB tidak membesar. BJ 1 dan 2 normal regular. gallop (-) Abdomen : cembung lembut. sonor pada seluruh lapang paru. nyeri tekan pinggang kanan (+). Terapi : Infus RL 20 tpm makro Ciprofloxacin 2 x 200 mg Glimepirid 2 x 3 mg PO Paracetamol 2 x 3 mg Captopril 2 x 12. nyeri perut diatas tulang kemaluan (+).5 mg Ranitidin 2x1 25 mg/ml inj. nyeri ketok CVA (-) H/L tidak membesar Eks : Akral hangat +/+ edema -/-. panas saat BAK (+). JVP tidak meningkat Tho : B dan G simetris.wh -/-. CRT <2”.iv .Follow Up 22 Juni 2013 S : nyeri pinggang (+).

SI -/Leher : KGB tidak membesar. Terapi :  Infus RL 20 tpm makro  Ciprofloxacin 2 x 200 mg  Glimepirid 2 x 3 mg PO  Paracetamol 2 x 3 mg  Captopril 2 x 12.wh -/-.23 Juni 2013 S : nyeri pinggang (-). Murmur (-). JVP tidak meningkat Tho : B dan G simetris. gallop (-) Abdomen : cembung lembut. BJ 1 dan 2 normal regular. H/L tidak membesar Eks : Akral hangat +/+ edema -/-. Demam (+) O:  T : 150/90 mmHg  P : 88 x/menit  R : 22 x/menit  S : 37. VBS +/+ Rk -/. nyeri tekan pinggang kanan (-). nyeri perut diatas tulang kemaluan (+). CRT <2”.8 0 C Kepala : KA -/-. nyeri ketok CVA (-) nyeri tekan suprapubik (+). sonor pada seluruh lapang paru.iv . panas saat BAK (+).5 mg  Ranitidin 2x1 25 mg/ml inj.

wh -/-. CRT <2”. nyeri tekan pinggang kanan (-). SI -/Leher : KGB tidak membesar.24 Juni 2013 S : nyeri pinggang (-).5 mg . BJ 1 dan 2 normal regular. Demam (-) O:     T : 140/90 mmHg P : 88 x/menit R : 22 x/menit S : 37. JVP tidak meningkat Tho : B dan G simetris. VBS +/+ Rk -/. nyeri perut diatas tulang kemaluan (-). nyeri ketok CVA (-) H/L tidak membesar Eks : Akral hangat +/+ edema -/-. Murmur (-). sonor pada seluruh lapang paru. panas saat BAK (-). Terapi :   Infus RL 20 tpm makro Ciprofloxacin 2 x 200 mg    Glimepirid 2 x 3 mg PO Paracetamol 2 x 3 mg Captopril 2 x 12. gallop (-) Abdomen : cembung lembut.8 0 C Kepala : KA -/-.

JVP tidak meningkat Tho : B dan G simetris. Demam (-) O:  T : 140/90 mmHg  P : 86 x/menit  R : 22 x/menit  S : 36. Murmur (-). nyeri perut diatas tulang kemaluan (-).wh -/-. Terapi :  Infus RL 20 tpm makro  Ciprofloxacin 2 x 200 mg  Glimepirid 2 x 3 mg PO  Paracetamol 2 x 3 mg  Captopril 2 x 12. nyeri ketok CVA () H/L tidak membesar Eks : Akral hangat +/+ edema -/-. panas saat BAK (-). BJ 1 dan 2 normal regular.5 mg  Ranitidin 2x1 25 mg/ml inj.7 0 C Kepala : KA -/-. VBS +/+ Rk -/. gallop (-) Abdomen : cembung lembut. SI -/Leher : KGB tidak membesar. CRT <2”.25 Juni 2013 S : nyeri pinggang (-).iv . nyeri tekan suprapubik (-). sonor pada seluruh lapang paru.

nyeri tekan pinggang kanan (-). JVP tidak meningkat Tho : B dan G simetris. Murmur (-). sonor pada seluruh lapang paru. Terapi :  Infus RL 20 tpm makro  Ciprofloxacin 2 x 200 mg  Glimepirid 2 x 3 mg PO  Paracetamol 2 x 3 mg  Captopril 2 x 12.26 Juni 2013 S : nyeri pinggang (-). nyeri ketok CVA (-) H/L tidak membesar Eks : Akral hangat +/+ edema -/-.3 0 C Kepala : KA -/-.wh -/-. SI -/Leher : KGB tidak membesar. nyeri perut diatas tulang kemaluan (-). gallop (-) Abdomen : cembung lembut.iv . Demam (-) O: T : 140/90 mmHg  P : 88 x/menit  R : 22 x/menit  S : 36. panas saat BAK (-). VBS +/+ Rk -/.5 mg  Ranitidin 2x1 25 mg/ml inj. BJ 1 dan 2 normal regular. CRT <2”.

nyeri ketok CVA (-) H/L tidak membesar Eks : Akral hangat +/+ edema -/-. VBS +/+ Rk -/. Murmur (-). CRT <2”. nyeri tekan pinggang kanan (-). SI -/Leher : KGB tidak membesar.27 Juni 2013 S : keluhan (-) O: T : 140/90 mmHg  P : 88 x/menit  R : 22 x/menit  S : 36.wh -/-. Terapi :  Infus RL 20 tpm makro  Ciprofloxacin 2 x 200 mg  Glimepirid 2 x 3 mg PO  Paracetamol 2 x 3 mg  Captopril 2 x 12. JVP tidak meningkat Tho : B dan G simetris. BJ 1 dan 2 normal regular. sonor pada seluruh lapang paru.iv .3 0 C Kepala : KA -/-. gallop (-) Abdomen : cembung lembut.5 mg  Ranitidin 2x1 25 mg/ml inj.

Planning : Rawat Jalan Glimepiride 2 x 3 mg Captopril 2 x 12.3 0 C Kepala : KA -/-. JVP tidak meningkat Tho : B dan G simetris. CRT <2”. VBS +/+ Rk -/. SI -/Leher : KGB tidak membesar. BJ 1 dan 2 normal regular. Murmur (-). gallop (-) Abdomen : cembung lembut.28 Juni 2013 S: keluhan(-) O: T : 140/90 mmHg  P : 88 x/menit  R : 22 x/menit  S : 36. sonor pada seluruh lapang paru.5 mg . nyeri suprapubik(-).wh -/-. nyeri ketok CVA (-) H/L tidak membesar Eks : Akral hangat +/+ edema -/-.

Prognosis Quo ad vitam : Dubia ad bonam  Quo ad functionam : Dubia ad bonam  Quo ad sanactionam : Dubia ad bonam  .

Tinjauan Pustaka anatomi .

.

 ISK akhir-akhir ini juga didefinisikan sebagai suatu respon inflamasi tubuh terhadap invasi mikroorganisme pada urothelium3.Definisi Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan bakteriuria patogen dengan colony forming units per mL CFU/ ml urin > 105.6  . dan lekositouria >10 per lapangan pandang besar. disertai manifestasi klinik4.

4.4 .    Beberapa istilah yang perlu dipahami: Bakteriuria bermakna (significant backteriuri) adalah keberadaan mikroorganisme murni (tidak terkontaminasi flora normal dari uretra) lebih dari 105 colony forming units per mL (cfu/ml) biakan urin dan tanpa lekosituria1.4 Bakteriuria asimtomatik (covert bacteriuria) adalah bakteriuria bermakna tanpa manifestasi klinik1. Bakteriuria simtomatik adalah bakteriuria bermakna dengan manifestasi klinik1.

 ISK cenderung terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki  . dan faktor predisposisi yang mengakibatkan perubahan struktur saluran kemih termasuk ginjal. gender.Epidemilogi Infeksi saluran kemih merupakan salah satu penyakit yang paling sering ditemukan di praktik umum.  Kejadian ISK dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti usia. prevalensi bakteriuria.

Klebsiella spp dan Stafilokokus dengan koagulase negatif  Pseudomonas spp dan MO lainnya seperti Stafilokokus jarang dijumpai.  .Etiologi Eschericia coli merupakan MO yang paling sering diisolasi dari pasien dengan ISK simtomatik maupun asimtomatik  Mikroorganisme lainnya yang sering ditemukan seperti Proteus spp (33% ISK anak laki-laki berusia 5 tahun).

Klasifikasi 1. ditandai primer oleh radang jaringan interstitial sekunder mengenai tubulus dan mengenai kapiler glomerulus. disertai manifestasi klinik dan bakteriuria tanpa ditemukan kelainan radiologik3. Pada PNK juga sering ditemukan pembentukan jaringan ikat parenkim1.  Pielonefritis Kronik (PNK) adalah kelainan jaringan interstitial (primer) dan sekunder mengenai tubulus dan glomerulus. mempunyai hubungan dengan infeksi bakteri (immediate atau late effect) dengan atau tanpa bakteriuria dan selalu disertai kelainan-kelainan radiologi. . Infeksi Saluran Kemih Atas  Infeksi saluran kemih atas terdiri dari pielonefritis dan pielitis  Pielonefritis akut (PNA) adalah radang akut dari ginjal.4.

biasanya ringan dan sembuh spontan (self-limited disease) atau berat disertai penyulit ISKA (pielonefritis akut)  Sistitis kronik adalah radang kandung kemih yang menyerang berulang-ulang (recurrent attact of cystitis) dan dapat menyebabkan kelainan-kelainan atau penyulit dari saluran  .2. prostatitis dan epidimitis. Infeksi Saluran Kemih Bawah Infeksi saluran kemih bawah terdiri dari sistitis.  Sistitis terbagi menjadi sistitis akut dan sistitis kronik. serta sindrom uretra.  Sistitis akut adalah radang selaput mukosa kandung kemih (vesika urinaria) yang timbulnya mendadak. uretritis.

Manifestasi Klinis Lokal   Disuria Polakisuria Sistemik  Panas badan sampai menggigil        Stranguria Tenesmus Nokturia Enuresis nocturnal Prostatismus Inkontinesia Nyeri uretra      Septicemia dan syok Perubahan urinalisis Hematuria Piuria Chylusuria Pneumaturia    Nyeri kandung kemih Nyeri kolik Nyeri ginjal .

.

Pemeriksaan mikroskopik dengan pembesaran 400x ditemukan bakteriuria >105 CFU per ml. . Analisis urin rutin Pemeriksaan analisa urin rutin terdiri dari. Sifatnya ringan dan kurang dari 1 gram per 24 jam. Lekosituria (piuria) 10/LPB hanya ditemukan pada 6085% dari pasien-pasien dengan bakteriuria bermakna (CFU per ml >105).  pH urin: Bila bahan urin masih segar dan pH >8 (alkalis) selalu menunjukkan adanya infeksi saluran kemih yang berhubungan dengan mikroorganisme pemecah urea (ureasplitting organism)  Proteinuria (albuminuria): Albuminuria hanya ditemukan ISK atas.  Pemeriksaan mikroskopik urin: Sedimen urin tanpa putar (100 x) dan sedimen urin dengan putar 2500 x/menit selama 5 menit.Pemeriksaan Penunjang Diagnosis 1.

Mikrobiologi Interpretasi sesuai dengan kriteria bakteriura patogen yakni CFU per ml >105 (2x) berturut-turut dari UTK. Renal Imaging Procedures1 Renal imaging procedures digunakan untuk mengidentifikasi faktor predisposisi ISK. foto polos abdomen.2. atau CFU per ml >105 dari aspirasi supra pubik. CFU per ml >105 (1x) dari UTK disertai gejala klinis ISK. CFU per ml >105 (1x) dari UTK disertai lekositouria > 10 per ml tanpa putar. . yang biasa digunakan adalah USG. 3. pielografi intravena. tidak spesifik dan tidak dapat menentukan tipe bakteriuria. 4.. micturating cystogram dan isotop scanning. Menurut kriteria Kunin yakni CFU per ml >105 (3x) berturut-turut dari UTK. Uji Biokimia4 Uji biokimia ini hanya sebagai uji saring (skrinning) karena tidak sensitif.

Infeksi saluran kemih bawah (ISKB)  Prinsip manajemen ISKB adalah dengan meningkatkan intake cairan. dan kalau perlu terapi simtomatik untuk alkanisasi urin dengan natrium bikarbonat 16-20 gram per hari . pemberian antibiotik yang adekuat. 2.Terapi 1. Infeksi saluran kemih atas (ISKA) 1  Pada umumnya pasien dengan pielonefritis akut (PNA) memerlukan rawat inap untuk memelihara status hidrasi dan terapi antibiotik parenteral minimal 48 jam.

.

Komplikasi     1. Komplikasi emphysematous cystitis. pielonefritis yang terkait spesies kandida dan infeksi gram negatif lainnya dapat dijumpai pada pasien DM. ISK sederhana (uncomplicated) yaitu non-obstruksi dan bukan pada perempuan hamil pada umumnya merupakan penyakit ringan (self limited disease) dan tidak menyebablan akibat lanjut jangka lama. . 2. ISK tipe berkomplikasi (complicated) ISK tipe berkomplikasi biasanya terjadi pada perempuan hamil dan pasien dengan diabetes mellitus. Selain itu basiluria asimtomatik (BAS) merupakan risiko untuk pielonefritis diikuti penurun laju filtrasi glomerulus (LFG).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful