Anda di halaman 1dari 31

GOLONGAN TETRASIKLIN DAN KLORAMFENIKOL Kelompok 4 : 1. Fajar dwi j 2. Heru winarno 3.

parniningsih

1.ASAL DAN KIMIA

Yg pertama ditemukan ialah klortetrasiklin, dihasilkan oleh Streptomyces aureofaciens.

Kmd ditemukan oksitetrasiklin dr Streptomyces rimosus.

Tetrasiklin dibuat secara semisintetik dr klortetrasiklin, dpt juga diperoleh dr spesies Streptomyces lain.

Tetrasiklin

Tetrasiklin merupakan basa yg sukar larut

dlm air, btk garam natrium atau garam


HCI-nya mudah larut.

Dlm keadaan kering, btk basa dan garam


HCl tetrasiklin bersifat relatif stabil.

Dlm larutan, sangat labil, cepat berkurang


potensinya.

Mekanisme kerja

Golongan tetrasiklin menghambat sintesis protein bakteri pd ribosomnya.

Paling sedikit terjadi 2 proses masuknya antibiotik ke dlm ribosom bakteri gram-negatif,
pertama yg disbt difusi pasif melalui kanal hidrofilik,
ke dua ialah sistem transpor aktif.

Setelah masuk maka antibiotik berikatan dg ribosom 30S dan menghalangi masuknya komplek tRNA-asam amino pd lokasi asam

STRUKTUR KIMIA GOL. TETRASIKLIN

GOL. TETRASIKLIN Resistensi. Beberapa spesies kuman, terutama streptokokus beta hemolitkus, E. coli, Pseudomonas aeruginosa, Str. pneumoniae, N. gonorrhoeae, Bacteroides, Shigela dan S. aureus makin meningkat resistensinya terhadap tetrasiklin. Resistensi terhadap satu jenis tetrasiklin biasanya disertai resistensi terhadap semua tetrasiklin lainnya, kecuali minosiklin pada resistensi S. aureus dan doksisiklin pada resistensi B. fragilis.

Farmakokinetik Absorpsi. Sekitar 30-80 % tetrasiklin diserap dalam saluran cerna. Doksisiklin dan minosiklin diserap lebih dari 90 %. Absorpsi ini sebagian besar berlangsung di lambung dan usus halus bagian atas. Adanya makanan dlm lambung menghambat penyerapan golongan tetrasiklin, kecuali minosiklin dan doksisiklin.

Lanjutan

Absorpsi berbagai jenis tetrasiklin dihambat dlm derajat tertentu oleh pH tinggi dan pembtkan khelat yaitu kompleks tetrasiklin dg suatu zat lain yg sukar diserap seperti Al-hidroksida, garam Ca dan Mg yg biasanya terdpt dlm antasid, dan juga Fe. Tetrasiklin diberikan seblm makan atau 2 jam sesudh makan Tetrasiklin fosfat kompleks tidak terbukti lebih baik absorpsinya dan sediaan tetrasiklin biasa.

distribusi

Dalam plasma semua jenis tetrasiklin terikat oleh protein plasma dalam jumlah yang bervariasi.

Pemberian oral 250 mg tetrasiklin, klortetrasiklin dan oksitetrasiklin tiap 6 jam menghasilkan kadar sekitar 2.0-2.5 mg/ml. Masa paruh doksisiklin tidak berubah pada insufisiensi ginjal sehingga obat ini boleh diberikan pada gagal ginjal.

Lanjutan

Dalam cairan serebrospinal (CSS) kadar golongan tetrasiklin hanya 10-20 % kadar dalam serum. Penetrasi ke CSS ini tidak tergantung dari adanya meningitis. Penetrasi ke cairan tubuh lain dan jaringan tubuh cukup baik. Obat golongan ini ditimbun dalam sistem retikuloendotelial di hati, limpa dan sumsum tulang, serta di dentin dan email dari gigi yang belum bererupsi. Golongan tetrasiklin menembus sawar uri, dan terdapat dalam air susu ibu dalam kadar yang relatif tinggi. Dibandingkan dengan tetrasiklin lainnya, doksisiklin dan minosiklln daya penetrasinya ke jaringan leblh baik.

Ekskresi

Pd pemberian per oral kira-kira 20 - 55 % golongan tetrasiklin diekskresi melalul urin.

Golongan tetrasiklin yg diekskresi oleh hati ke

dlm empedu mencapai kadar 10 kali kadar dlm


serum. Sabagian besar obat yg diekskresi ke dlm lumen usus ini mengalami sirkulasi

enterohepatik; maka obat ini masih terdpt dlm


darah utk wkt lama setelah terapi dihentikan.

Lanjutan
Antibiotik golongan tetrasiklin dibagi menjadi 3 golongan berdasarkan sifat termakokinetiknya : 1. Tetrasiklin, klortetrasiklin dan oksitetrasiklin. Absorpsi kelompok tetrasiklin ini tdk lengkap dg masa paruh 6-12 jam. 2. Dimetilklortetrasiklin. Absorpsinya lbh baik dan masa paruhnya kira-kira 16 jam shg cukup diberikan 150 mg per oral tiap 6 jam, 3. Doksisiklin dan minosiklin. Absorpsinya baik sekall dan masa paruhnya 17-20 jam. Tetrasiklin golongan Ini cukup diberikan 1 atau 2 kali 100 mg sehari.

Efek samping
Efek samping yang mungkin timbul akibat pemberian golongan tetrasiklin dapat dibedakan dalam 3 kelompok yaitu reaksi kepekaan, reaksi toksik dan iritatif serta reaksi yang timbul akibat perubahan biologlk. REAKSI KEPEKAAN.

Reaksi kulit yang mungkin timbul akibat pemberian golongan tetrasiklin ialah erupsi rnorbiliformis,

urtikaria dan dermatitis eksfoliatif. Reaksi yang lebih


hebat ialah udem angioneurotik dan reaksi anafilaksis. Demam dan eosinofilia dapat pula terjadi pada waktu

REAKSI TOKSIK DAN IRITATIF Iritasi lambung terutama dg oksitetrasiklin dan doksisiklin. Terjadi tromboflebitis pd pemberian iv dan rasa nyeri setempat bila golongan tetrasiklin disuntikkan im tanpa anestetik lokal. Terapi lama menimbulkan kelainan darah tepi spt leukositosis, limfosit atipik, granulasi toksik pd granulosit dn trombositopenia Reaksi fototoksik pd pemberian demetilklortetrasiklin.

Lanjutan
Hepatotoksisitas dpt terjadi pd pemberian golongan tetrasiklin dosis tinggi (lebih dari 2 gram sehari) dan paling sering terjadi setelah pemberian parenteral. Pada gigi susu maupun gigi tetap, tetrasiklin dpt menimbulkan disgenesis, perubahan warna permanen dan kecenderungan terjadinya karies. Perubahan warna bervariasi dr kuning coklat sampai kelabu tua. Jangan digunakan mulai pertengahan kedua kehamilan sampai anak berumur 8 tahun. Pemberian pd neonatus dpt mengakibatkan peninggian tek. intrakranial dan mengakibatkan fontanel menonjol. Pd keadaan ini tdk ditemukan kelainan CSS dan bila terapi dihentikan maka tekanannya akan menurun kembali

Interaksi obat

Bila tetrasiklin diberikan dg metoksifluoran maka dpt menyebabkan nefrotoksik. Bila dikombinasikan dg penisilin maka aktivitas antimikrobanya dihambat. Karena penggunaannya yang berlebih, dewasa ini terjadi resistensi yang mengurangi efektivitas tetrasiklin.

Penyakit yg obat pilihannya golongan tetrasiklin ialah:



riketsiosis. infeksi klamidia. uretritis nonspesifik. infeksi mycoplasma pneumoniae, basil, kokus, venerik. akne vulgaris. infeksi lain: actinomycosis, frambusia, leptospirosis. penggunaan topikal. profilaksis penykt paru obstruktif menah

SEDIAAN DAN POSOLOGI GOL TETRASIKLIN

Merk dagang
1. 2. 3. 4.

5.

Bufacyn 500 isi 100 kapsul Hitetra 500 isi 100 kapsul Novabiotic 500 isi 100 kapsul Selesiklin 500 isi 100 kapsul Suprabiotic 500 isi 100 kapsul

KLORAMFENIKOL

KLORAMFENIKOL

KLORAMFENIKOL
1. ASAL DAN KIMIA Kloramfenikol dIisolasi th 1947 dr Streptomyces venezuelae. Penggunaan obat ini meluas dg cepat sampai pd th 1950. Kloramfenikol merupakan kristal putih yg sukar larut dlm air (1 : 400) dan rasanya sangat pahit.

farmakokinetik
Setelah pemberian oral, kloramfenikol diserap dg cepat. Kadar puncak dlm darah tercapai dalam 2 jam. Masa paruh eliminasi pd dewasa kurang lebih 3 jam, pada bayi berumur kurang dari 2 minggu sekitar 24 jam. Kira-kira 50 % kloramfenikol dlm darah terikat dg albumin. Obat ini didistribusikan secara baik ke berbagai jaringan tubuh, termasuk jaringan otak, cairan serebrospinal dan mata.

Lanjutan,,,
Di dalam hati kloramfenikol mengalami konyugasi dengan asam glukuronat oleh enzim glukuronil transferase. Dalam waktu 24 jam, 80- 90 % kloramfenikol yg diberikan oral telah diekskresi melalui ginjal. Pd gagal ginjal, masa paruh kloramfenikol btk aktif tdk banyak berubah tetapi metabolitnya yg nontoksik mengalami kumulasi. Untuk pemberian secara parenteral digunakan kloramfenikol suksinat yang akan dihidrolisis dalam jaringan dan membebaskan kloramfenikol.

interaksi

Dalam dosis lerapi, kloramfenikol menghambat biotransformasi tolbutamid, fenitoin, dikumarol dan obat lain yang dimetabolisme oleh enzim mikrosom hepar. Dengan demikian toksisitas obat-obat ini lebih tinggi bila diberikan bersama

kloramfenikol. lnteraksi obat dengan


fenobarbital dan rifampisin akan memperpendek waktu paruh dari

Efek samping
REAKSI HEMATOLOGIK. Terdapat dalam 2 bentuk. Yang pertama ialah reaksi toksik dengan manifestasi depresi sumsum tulang. Kelainan darah yang terlihat ialah anemia, retikulositopenia, peningkatan serum iron dan iron binding capacity serta vakuolisasi seri eritrosil bentuk muda. Reaksi ini terlihat bila kadar kloramfenikol dalam serum melampaui 25 mg/ml.

Lanjutan

Bentuk yang kedua prognosisnya sangat buruk karena anemia yang timbul bersifat ireversibel. Timbulnya tidak tergantung dari besarnya dosis atau lama pengobatan. Bentuk yang hebat bermanifestasi sebagai anemia aplastik dengan pansitopenia. Insidens berkisar antara 1:24.00050.000. Efek samping ini diduga merupakan reaksi idiosinkrasi dan mungkin disebabkan oleh adanya kelainan genetik.

REAKSI ALERGI. Menimbulkn kemerahn kulit, angioudem, urtikaria dn anafilaksis REAKSI SALURAN CERNA. Mual, muntah, glositis, diare dan enterokolitis. SINDROM GRAY. Pd neonatus, terutama bayi prematur yg mendpt dosis tinggi (200 mg/kgBB) dpt timbul sindrom Gray, biasanya pd hr ke 2 sampai hr ke 9 masa terapi, ratarata hr ke 4. Mula-mula bayi muntah, tidak mau menyusu, pernapasan cepat dan tdk teratur, perut kembung, sianosis dan diare dg tinja berwarna hijau dan bayi tampak sakit berat. Pd hr berikutnya tubuh bayi menjadi lemas dan berwarna keabu-abuan: terjadi pula hipotermia. Angka kematian 40%, sisanya sembuh sempurna. Efek toksik ini diduga disebabkan

Lanjutan,,

Sistem konyugasi oleh enzim glukuronil transferase belum sempurna dan Kloramfenikol yg tdk terkonyugasi belum dpt diekskresi dg baik oleh ginjal. Utk mengurangi efek samping ini, dosis kloramfenikol utk bayi berumur kurang dr 1 bln tdk boleh lbh 25 mg/kgBB sehari. Setelah umur ini, dosis 50 mg/kgBB biasanya tdk menimbulkan efek samping tsb.

6. SEDIAAN DAN POSOLOGI Sediaan dan posologi kloramfenikol dan Tiamfenikol

Merk dagang
1.

2.
3. 4. 5. 6.

Bufacetin 250 isi 100 kaps Chloram 250 INF 120 kaps Farsycol kaps isi 100 kaps Kalmicetin kaps isi 100 kaps Microtina isi 100 kaps Novachlor kaps 250 isi 100 kaps