Anda di halaman 1dari 13

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

VULNUS LACERATUM
Diajukan sebagai Tugas Dalam Menyelesaikan Kegiatan Kepanitraan Senior di Bagian/SMF Ilmu Family Medicine

Oleh:

Cut Riska Devi Yanti Reysa Nanda

0707101010032 0707101050016

BAGIAN/SMF FAMILY MEDICINE FAKULTAS KEDOKTERAN UNSYIAH/RSUDZA BANDA ACEH JUNI, 2013

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbilalamin Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayahNya, sehingga penyusunan tinjauan pustaka yang berjudul : Vulnus Laceratum dapat terselesaikan dengan baik. Kalimat serta sholawat selalu teriringi kepada Nabi Muhammad SAW atas bimbingan yang diberikan kepada pengikut-pengikutnya. Amin. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan tinjauan pustaka ini dapat terselesaikan berkat bantuan, dukungan, bimbingan serta arahan dari banyak pihak. Terima kasih kepada dr. Dahril, Sp.U yang telah membimbing kami selama ini dan penulis juga mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan dokter muda yang telah memberi dukungan dan semangat. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan tinjauan pustaka ini masih banyak kekurangannya, meskipun demikian penulis telah berusaha semaksimal mungkin dalam mengerjakannya. Segala kritik dan saran yang bersifat membangun akan penulis terima dengan senang hati. Harapan penulis semoga tinjauan pustaka ini dapat bermanfaat baik bagi penulis sendiri maupun orang lain yang memerlukan. Billahi Fi Sabilil Haq Fastabiqul Khairat

Banda Aceh, 3 Juni 2013

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

Luka sepertinya tidak asing lagi dalam kehidupan kita sehari-hari,setiap orang dipastikan telah pernah mengalaminya. Luka ini bisa saja terjadi dimana-mana, bisa didalam rumah maupun diluar seperti dijalan raya, kebun dan sebagainya. Luka biasanya disebabkan oleh trauma tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik, gigitan hewan dan lain sebagainya. Luka jaringan adalah keadaan hilang/terputusnya kontinuitas jaringan. Luka adalah sebuah injuri pada jaringan yang mengganggu proses selular normal, luka dapat juga dijabarkan dengan adanya kerusakan pada kuntinuitas/ kesatuan jaringan tubuh yang biasanya disertai dengan kehilangan substansi jaringan. Jenis luka bermacam-macam tergantung penyebabnya. Penyembuhan luka terjadi bertahap tergantung dari jenis luka dan juga faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka itu sendiri.

BAB II ILUSTRASI KASUS

I.

Identitas Nama Umur : Tn. M : 41 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki Alamat Agama Pekerjaan : Lampulo : Islam : Nelayan

II.

Anamnesa

Keluhan Utama : Luka pada kepala Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien kontrol ulang luka robek yang sudah dijahit pada kepala. Luka sudah mulai mengering dan sakit mulai berkurang. Awalnya keluhan luka robek dikepala pada saat pasien sedang bekerja. Pasien bekerja sebagai seorang nelayan, pada saat kejadian pasien sedang membersihkan kapal lalu pasien terpeleset dan kepalanya terbentur dengan benda tumpul dan lalu terjatuh ditepi laut. Riwayat Penyakit Dahulu : -

Riwayat Penyakit Keluarga : Riwayat Pengobatan Riwayat Kebiasaan Sosial : gentamisin salep :-

III.

Pemeriksaan Fisik Vital Sign Tekanan Darah Nadi : 120/80 mmHg : 86 x/menit

Frekuensi Napas : 22 x/menit Temperatur Kepala Mata : Afebris : luka terjahit 4 jahitan : Ikterik (- /-), Konjungtiva palpebra inferior pucat (- /-)

Telinga/Hidung/Mulut : NCH (-) Tenggorokan : Dalam batas normal

Dagu : Luka terjahit 4 jahitan Thoraks : I = Simetris, jejas (-), retraksi intercostae (-) P = Simetris, SF kiri = SF kanan P = Sonor (+/+) A = Vesikuler (+/+), Rhonki (-/-), Wheezing (-/-) Cor : BJ I > BJ II, bising (-)

Abdomen : I = simetris P= Soepel, NT (-) P= Timpani A= Peristaltik (+) Ekstremitas : udem (-/-), nyeri (-/-), sianosis (-/-)

IV.

Diagnosa Sementara Vulnus laceratum

V.

Penatalaksanaan Non medikamentosa: Merawat luka dengan baik Menggunakan obat teratur Kembali untuk lepas jahitan 3 hari lagi

Medikamentosa: Ganti perban Gentamisin salep 2 x 1 (setelah mandi)

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

3.1 PENGERTIAN VULNUS LACERATUM Vulnus laceratum adalah terjadinya gangguan kontinuitas suatu jaringan sehingga terjadi pemisahan jaringan yang semula normal atau luka robek terjadi akibat kekerasan yang hebat sehingga memutuskan jaringan. Secara umum luka dapat dibagi menjadi 2 yaitu: 1) Simple, bila hanya melibatkan kulit. 2) Kompukatum, bila melibatkan kulit dan jaringan dibawahnya. Trauma arteri umumnya dapat disebabkan oleh trauma benda tajam ( 50 % ) misalnya karena tembakan, luka-luka tusuk, trauma kecelakaan kerja atau kecelakaan lalu lintas, trauma arteri dibedakan berdasarkan beratnya cedera : 1) Derajat I adalah robekan adviticia dan media, tanpa menembus dinding. 2) Derajat II adalah robekan varsial sehingga dinding arteri juga terluka dan biasanya menimbulkan pendarahan yang hebat. 3) Derajat III adalah pembuluh darah putus total, gambaran klinis menunjukan pendarahan yang tidak besar, arteri akan mengalami vasokontriksi dan retraksi sehingga masuk ke jaringan karen elastisitasnya. 3.2 ETIOLOGI Etiologi :

Mekanis / traumatis: Terpukul, tersayat,tergencet tertusuk ,tertembak dll Perubahan suhu: Terbakar, terseduh air panas Zat kimia: akibat bahan bahan kimia Ledakan Sengatan listrik Biologis: sengatan lebah, gigitan serangga ,gigitan ular, gigitan binatang dll Elektris: Tersengat listrik,terkena petir

3.3 JENIS- JENIS LUKA Luka dibedakan berdasarkan : 1) Berdasarkan penyebab a) Ekskoriasi atau luka lecet b) Vulnus scisum atau luka sayat c) Vulnus laseratum atau luka robek d) Vulnus punctum atau luka tusuk e) Vulnus morsum atau luka karena gigitan binatang f) Vulnus combotio atau luka bakar 2) Berdasarkan ada/tidaknya kehilangan jaringan a) Ekskoriasi b) Skin avulsion c) Skin loss 3) Berdasarkan derajat kontaminasi a) Luka bersih a) Luka sayat elektif b) Steril, potensial terinfeksi c)Tidak ada kontak dengan orofaring, traktus respiratorius, traktus elementarius, traktus genitourinarius. b) Luka bersih tercemar a) Luka sayat elektif b) Potensi terinfeksi : spillage minimal, flora normal c) Kontak elimentarius dan genitourinarius dengan orofaring, respiratorius, d) Proses penyembuhan lebih lama c) Luka tercemar a) Potensi terinfeksi: spillage dari traktus elimentarius, kandung empedu, traktus genitourinarius, urine. b) Luka trauma baru : laserasi, fraktur terbuka, luka penetrasi d) Luka kotor a) Akibat proses pembedahan yang sangat terkontaminasi

b) Perforasi visera, abses, trauma lama Trauma tajam menyebabkan :


Luka iris : Vulnus scisum / incisivum Luka tusuk : Vulnus ictum Luka gigitan : Vulnus morsum Luka tusuk : Vulnus Penetrans

Trauma tumpul menyebabkan :


Luka terbuka : Vulnus apertum Luka tertutup : Vulnus occlusum + Luka lecet : Vulnus excoriatio Luka memar : contusio + hematome

Tembakan menyebabkan : Vulnus sclepetorum

3.4 GEJALA KLINIS Tanda-tanda umum adalah syok dan syndroma remuk ( cris syndroma ), dan tanda-tanda lokal adalah biasanya terjadi nyeri dan pendarahan. Syok sering terjadi akibat kegagalan sirkulasi perifer ditandai dengan tekanan darah menurun hingga tidak teraba, keringat dingin dan lemah, kesadaran menurun hingga tidak sadar. Syok dapat terjadi akibat adanya daerah yang hancur misalnya otot-otot pada daerah yang luka, sehingga hemoglobin turut hancur dan menumpuk di ginjal yang mengakibatkan kelainan yang disebut lower Nepron / Neprosis, tandanya urine berwarna merah, disuria hingga anuria dan ureum darah meningkat.

3.5 PENATALAKSANAAN Dalam manajemen perawatan luka ada beberapa tahap yang dilakukan yaitu evaluasi luka, tindakan aseptik, pembersihan luka, penjahitan luka, penutupan luka, pembalutan, pemberian antibiotik dan pengangkatan jahitan. Penanganan pertama : Evaluasi luka meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik (lokasi dan eksplorasi)

Anestesi lokal / umum Pembilasan luka (cairan garam faali) Sterilisasi luka (yodium povidum 1 %, klorheksidin %, yodium 3 %, alkohol 70 %)

Luka dikelilingi dengan kain steril Pembersihan luka ( debrideman ) Kotoran, benda asing, eksisi jaringan mati, eksisi pinggir kulit . Hemostasis baik Jahitan primer jika diharapkan penyembuhan primer Biarkan luka terbuka jika diharapkan sanatio primer tertunda Pemasangan pengalir ( drainage ) Pembalut Amati luka pada hari kedua, ketiga atau keempat untuk mempertimbangkan : Pemasangan penjahitan kulit primer tertunda jika ternyata tidak ada infeksi dan ternyata timbul jaringan granulasi sehat di dasar luka untuk mencapai penyembuhan primer tertunda

Biarkan luka terbuka jika ada infeksi atau jaringan granulasi yang tidak kelihatan baik, selanjutnya

Tunggu epitelisasi permukaan luka dari pinggir ( penyembuhan sekunder )

3.6 PENYEMBUHAN LUKA Fase Inflamasi


Fase Inflamasi : berlangsung mulai terjadi luka sampai hari ke 5 Terjadi akibat sel mast dalam jaringan ikat menghasilkan serotonin dan histamin yang meningkatkan permiabilitas kapiler sehingga terjadi eksudasi cairan, penumpukan sel radang disertai vasodilatasi setempat yang menyebabkan udem dan pembengkakan yang ditandai dengan warna kemerahan karena kapiler melebar (rubor), suhu hangat (kalor), rasa nyeri (dolor) dan pembengkakan (tumor).

Fase proliferasi / fibroplastic / granulasi :

Terjadi mulai akhir fase inflamasi sampai akhir minggu ke 3. Pada fase ini luka dipenuhi sel radang, fibroblast dan kolagen, membentuk jaringan berwarna kemerahan dengan permukaan yang berbenjol halus yang disebut jaringan granulasi.

Proses ini baru berhenti setelah ephitel saling menyentuh dan menutup seluruh permukaan luka.

Fase penyudahan / Pematangan.

Fase ini berlangsung berbulan bulan dan dinyatakan berakhir jika semua tanda radang telah hilang.

Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri penyerapan kembali jaringan yang berlebih, pengerutan sesuai dengan gaya grafitasi, dan akhirnya perupaan kembali jaringan yang baru dibentuk.

3.7 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYEMBUHAN LUKA


a. Faktor lokal: 1. Besar/lebar luka Luka lebar atau besar biasanya sembuh lebih lambat dari luka kecil 2. Lokalisasi luka Luka-luka yang terdapat di daerah dengan vaskularisasi baik (kepala dan wajah) sembuh lebih cepat daripada luka yang berada di daerah dengan vaskularisasi sedikit/buruk. Luka-luka di daerah banyak pergerakan (sendi sendi) sembuh lebih lambat daripada di daerah yang sedikit/tidak bergerak 3. Kebersihan luka Luka bersih sembuh lebih cepat dari luka kotor 4. Bentuk luka Luka dengan bentuk sederhana sembuh lebih cepat. Misalnya vulnus ekskorisio atau vulnus scissum sembuh lebih cepat dari vulnus laceratum. 5. Infeksi

Luka terinfeksi sembuh lebih sulit dan lama.. b. Faktor umum: 1. Usia pasien Pada anak-anak dan orang muda luka sembuh lebih cepat dibandingkan pada orangtua. 2. Keadaan gizi Pada penderita dengan gangguan gizi misalnya malnutrisi, defisiensi dan avitaminosis vitamin tertentu, anemia, kaheksia, dan sebagainya, luka sembuh lebih lambat. 3. Penyakit penderita Pada penderita dengan penyakit tertentu misalnya diabetes militus, terutama yang tak terkendali, luka sukar dan lambat sembuhnya

BAB IV KESIMPULAN

Luka jaringan adalah keadaan hilang/terputusnya kontinuitas jaringan. Luka adalah sebuah injuri pada jaringan yang mengganggu proses selular normal, luka dapat juga dijabarkan dengan adanya kerusakan pada kuntinuitas/ kesatuan jaringan tubuh yang biasanya disertai dengan kehilangan substansi jaringan. Dalam manajemen perawatan luka ada beberapa tahap yang dilakukan yaitu evaluasi luka, tindakan aseptik, pembersihan luka, penjahitan luka, penutupan luka, pembalutan, pemberian antibiotik dan pengangkatan jahitan. Proses penyembuhan luka terdiri dari beberapa fase antara lain fase inflamasi, fase proliferasi dan fase pematangan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan luka antara lain faktor lokal: Besar/lebar luka, lokalisasi luka, kebersihan luka, luka bersih sembuh, bentuk luka, ada tidaknya infeksi. Faktor umum: usia, keadaan gizi dan penyakit penderita.

DAFTAR PUSTAKA

1. Saputra, F. 2011. Luka. Available at: http://www.scribd.com/doc/70735896/LUKA. [diakses pada: 5 Februari 2013] 2. Suparyanto. 2010. Macam-macam Luka. Bahan Kuliah. Universitas Pembangunan Veteran. 3. Setiawan, H. 2010. Konsep Luka dan Perawatan Luka. Available at: http://www.scribd.com/doc/45329835/Konsep-Luka-Dan-Perawatan-Luka. [diakses pada: 5 Februari 2013] 4. Silalahi, D. 2012. Luka dan Penyembuhan Luka. Available http://www.scribd.com/doc/97104868/Vulnus-Luka-Dan-Peyembuhan-Luka. [diakses pada: 5 Februari 2013] at:

5. Wadi, MA. 2012. Perawatan Luka. Available at: http://www.nwu.ac.id/kampus/636-perawatan-luka. [diakses pada: 5 Februari 2013] 6. UNS 2012. Manajemen Luka. Available at: https://www.fk.uns.ac.id/index.php/download/file. [diakses pada: 5 Februari 2013]