Anda di halaman 1dari 126

100TOKOH

CENDIKIAWAN
MUSLIM
Abu A'la Maududi

Runtuhnya khilafah pada 1924 mengakibatkan kehidupan Maududi mengalami


perubahan besar. Dia jadi sinis terhadap nasionalisme yang ia yakini hanya menyesatkan
orang Turki dan Mesir, dan menyebabkan mereka merongrong kesatuan muslim dengan
cara menolak imperium ‘Utsmaniah dan kekhalifahan muslim.

Disinilah Maududi menjadi lebih mengetahui kesadaran politik kaum muslimin dan jadi
aktif dalam urusan agamanya. Namun, saat itu fokus tulisan-tulisannya belum juga
mengarah pada kebangkitan Islam.

Sayyid Abul A’la Maududi adalah figur penting dalam kebangkitan Islam pada dasawarsa
terakhir. Ia lahir dalam keluarga syarif (keluarga tokoh muslim India Utara) di
Aurangabad, India Selatan, tepatnya pada 25 September 1903 (3 Rajab 1321 H). Rasa
dekat keluarga ini dengan warisan pemerintahan Muslim India dan kebenciannya
terhadap Inggris, memainkan peranan sentral dalam membentuk pandangan Maududi di
kemudian hari.

Ahmad Hasan, ayahnya Maududi, sangat menyukai tasawuf. Ia berhasil menciptakan


kondisi yang sangat religius dan zuhud bagi pendidikan anak-anaknya. Ia berupaya
membesarkan anak-anaknya dalam kultur syarif. Karenanya, sistem pendidikan yang ia
terapkan cenderung klasik. Dalam sistem ini tidak ada pelajaran bahasa Inggris dan
modern, yang ada hanya bahasa Arab, Persia, dan Urdu. Karena itu, Maududi jadi ahli
bahasa Arab pada usia muda.

Pada usia sebelas tahun, Maududi masuk sekolah di Aurangabad. Di sini ia mendapatkan
pelajaran modern. Namun, lima tahun kemudian ia terpaksa meninggalkan sekolah
formalnya setelah ayahnya sakit keras dan kemudian wafat. Yang menarik, pada saat itu
Maududi kurang menaruh minat pada soal-soal agama, ia hanya suka politik. Karenanya,
Maududi tidak pernah mengakui dirinya sebagai ‘alim. Kebanyakan biografi Maududi
hanya menyebut dirinya sebagai jurnalis yang belajar agama sendiri. Semangat

1
nasionalisme Indianya tumbuh subur. Dalam beberapa esainya, ia memuji pimpinan
Partai Kongres, khususnya Mahatma Gandhi dan Madan Muhan Malaviya.

Pada 1919 dia ke Jubalpur untuk bekerja di minggua partai pro Kongres yang bernama
Taj. Di sini dia jadi sepenuhnya aktif dalam gerakan khilafah, serta aktif memobilisasi
kaum muslim untuk mendukung Partai Kongres.

Kemudian Maududi kembali ke Delhi dan berkenalan dengan pemimpin penting Khilafah
seperti Muhammad ‘Ali. Bersamanya, Maududi menerbitkan surat kabar nasionalis,
Hamdard. Namun itu tidak lama. Selama itulah pandangan politik Maududi kian religius.
Dia bergabung dengan Tahrik-I Hijrah (gerakan hijrah) yang mendorong kaum muslim
India untuk meninggalkan India ke Afganistan yang dianggap sebagai Dar al-Islam
(negeri Islam).

Pada 1921 Maududi berkenalan dengan pemimpin Jami’ati ‘Ulama Hind (masyarakat
ulama India). Ulama jami’at yang terkesan dengan bakat maududi kemudian menarik
Maududi sebagai editor surat kabar resmi mereka, Muslim. Hingga 1924 Maududi
bekerja sebagai editor muslim. Disinilah Maududi menjadi lebih mengetahui kesadaran
politik kaum muslimin dan jadi aktif dalam urusan agamanya. Namun, saat itu tulisan-
tulisannya belum juga mengarah pada kebangkitan Islam.

Di Delhi, Maududi memiliki peluang untuk terus belajar dan menumbuhkan minat
intelektualnya. Ia belajar bahasa Inggris dan membaca karya-karya Barat. Jami’at
mendorongnya untuk mengenyam pendidikan formal agama. Dia memulai dars-I nizami,
sebuah silabus pendidikan agama yang populer di sekolah agama Asia Selatan sejak abad
ke delapan belas. Pada 1926, ia menerima sertifikat pendidikan agama dan jadi ulama.

Runtuhnya khilafah pada 1924 mengakibatkan kehidupan Maududi mengalami


perubahan besar. Dia jadi sinis terhadap nasionalisme yang ia yakini hanya menyesatkan
orang Turki dan Mesir, dan menyebabkan mereka merongrong kesatuan muslim dengan
cara menolak imperium ‘Utsmaniah dan kekhalifahan muslim. Dia juga tak lagi percaya
pada nasionalisme India. Dia beranggapan bahwa Partai Kongres hanya mengutamakan
kepentingan Hindu dengan kedok sentimen nasionalis. Dia ungkapkan ketidaksukaannya
pada nasionalisme dan sekutu muslimnya.

Sejak itu, sebagai upaya menentang imperialisme, Maududi menganjurkan aksi Islami,
bukan nasionalis. Ia percaya aksi yang ia anjurkan akan melindungi kepentingan
muslimin. Hal ini memberi tempat bagi wacana kebangkitan.

Pada 1925, seorang Muslim membunuh Swami Shradhnand, pemimpin kebangkitan


Hindu. Swami memancing kemarahan kaum muslimin karena dengan erang-terangan
meremehkan keyakinan kaum muslimin. Kematiannya Swami menimbulkan kritik media
massa bahwa Islam adalah agama kekerasan. Maududi pun bertindak. Ia menulis
bukunya yang terkenal mengenai perang dan damai, kekerasan dan jihad dalam Islam, Al
Jihad fi Al Islam. Buku ini berisi penjelasan sistematis sikap Muslim mengenai jihad,
sekaligus sebagai tanggapan atas kritik terhadap Islam. Buku ini mendapat sambutan

2
hangat dari kaum muslimin. Hal ini semakin menegaskan Maududi sebagai intelektual
umat.

Sisa terakhir pemerintahan muslim pada saat itu kelihatan semakin tidak pasti. Maududi
pun berupaya mencari faktor penyebab semakin pudarnya kekuasaan muslim. Dia
berkesimpulan, selama berabad-abad Islam telah dirusak oleh masuknya adat istiadat
lokal dan masuknya kultur asing yang mengaburkan ajaran sejatinya. Karenanya
Maududi mengusulkan pembaharuan Islam kepada pemerintahan saat itu, namun tidak
digubris. Hal ini mendorong Maududi mencari solusi sosio-politik menyeluruh yang baru
untuk melindungi kaum muslimin.

Gagasannya ia wujudkan dengan mendirikan Jama’at Islami (partai Islam), tepatnya pada
Agustus 1941, bersama sejumlah aktifis Islam dan ulama muda. Segera setelah berdiri,
Jama’ati Islami pindah ke Pathankot, tempat dimana Jama’at mengembangkan struktur
partai, sikap politik, ideologi, dan rencana aksi.

Sejak itulah Maududi mengosentrasikan dirinya memimpin umat menuju keselamatan


politik dan agama. Sejak itu pula banyak karyanya terlahir di tengah-tengah umat. Ketika
India pecah, Jama’at juga terpecah. Maududi, bersama 385 anggota jama’at memilih
Pakistan. Markasnya berpindah ke Lahore, dan Maududi sebagai pemimpinnya. Sejak itu
karir politik dan intelektual Maududi erat kaitannya dengan perkembangan Jama’at. Dia
telah "kembali" kepada Islam, dengan membawa pandangan baru yang religius. [Majalah
Percikan Iman No. 4 Tahun I Oktober 2000]

ABU UBAY AL BAKRI


Saat fafar intelektual muslim memancar ke segenap penjuru bumi, nama-nama ilmuwan
Islam tercatat dengan tinta emas dari lembar abad ke abad. Mereka datang dari berbagai
disiplin ilmu, dengan penguasaan pengetahuan yang mengagumkan, diiringi berbagai
penemuan yang mencengangkan.

Dari deretan nama-nama besar itu, tercatatlah Abu Ubayd Al Bakri sebagai seorang
geografer terbesar abad XI atau bertepatan dengan abad ke-5 H. Selain menguasai ilmu
geografi, beliau juga mahir dalam disiplin ilmu botani, filologi, dan bibliofil atau pecinta
buku.

Beliau merupakan putra seorang penguasa kerajaan kecil di Pesisir Atlantik, sebelah
selatan Semenanjung Iberia dan sebelah barat Niebla (Labla). Kerajaan yang bertajuk
Huelva dan Saltes ini didirkan pada 403 H atau 1012 M. Dari kampung halamannya
inilah, Abu Ubayd memulai pengembaraan ilmiahnya. Ilmuwan yang tidak banyak
terungkap tentang detil hidupnya ini berguru pada tokoh-tokoh terkemuka. satu
diantaranya Abu Marwan bin Hayyan yang merupakan ahli tarikh. Dalam rentang waktu
tidak begitu lama, nama beliau pun segera meroket sebagai penulis terkenal.

3
Putra Izza Ad Dwala ini menyusun dua buah buku geografi monumental yang membuat
namanya terkenal di jazirah Arab. Buku dengan titel "Mu'jamma Ista'jam" merupakan
sebuah daftar toponyms (nama-nama tempat) yang sebagian besar terletak di Jazirah
Arab. Sebagai pengantar bukunya, beliau memaparkan setting geografis Arab zaman dulu
secara menarik disertai pemukiman dari masing-masing suku bangsa yang terkenal waktu
itu.

Karya monumental lainnya berjudul "Al Masalik wa Al Mamalik". Hasil curah


gagasannya yang satu ini terdiri dari beberapa jilid yang secara sendiri-sendiri membahas
satu tema pokok. Jilid pengantarnya terbagi dalam geografi umum, muslim, dan non
muslim. Walau tidak diterbitkan secara utuh, tetapi bagian yang menyangkut muslim
barat telah lama diketahui lewat penerbitan dan terjemahan bahasa Prancis oleh Mac
Guckin de Slane.

Pada 1831 M, Quatremere di Paris telah menerbitkan beberapa bagian Al Masalik.


Penerbitan ini juga didahului oleh penerjemahan singkat Al Masalik, masih oleh
Quatremere. Bagian ini berisi materi yang berhubungan dengan Andalusia. Selain itu,
kutipan-kutipan Al Masalik termasuk dalam sebuah kompilasi sejarah Geografis berjudul
"Ar Rawd Al Mikhtar" yang ditulis oleh Ibnu Abdul Mun'im Al Himyari as Sabri.

Masih dalam disiplin geografi, buku lain yang beliau tulis adalah "Itineraries and
Kingdoms" atau "Rencana-rencana Perjalanan dan Kerajaan-kerajaan". Buku ini tidak
hanya memuat keterangan-keterangan dan faktor-faktor yang bersifat geografis, tetapi
juga mencakup uraian komprehensif mengenai politik, sosial historis, bahkan etnografi
(ilmu bangsa-bangsa).

Walau hal ini pernah idsinggung dalam Al Masalik, tetapi paling tidak mempunyai nilai
informasi yang sangat berharga. Buku ini mengandung pemikiran-pemikiran metodis dan
pertanyaan pokok yang harus dijawab juga gambaran tentang sketsa-sketsa historis yang
sebelumnya tidak pernah diungkap.

Kecemerlangan Abu Ubayd di bidang geografi juga tercermin dalam karya-karya yang
berbentuk laporan mengenai Al Idrisi dan Al Moravid. Laporan ini masih dianggap
sebagai bahan yang paling dapat diandalkan bagi suatu dokumentasi mengenai asal-usul
kedua dinasti tersebut. Gambaran tentang Ifikriya, Maghribi, dan Sudan juga dikupas
dengan menarik.

Karya-karya lainnya tersebar diluar disiplin ilmu geografi, terutama di bidang ilmu
botani. Tulisan "Kitab An Nabat" menjadi rujukan kaum naturalist (penyelidik alam),
tidak hanya di Andalusia tetapi juga di luar Andalusia. Bahkan penulis buku "Umdat At
Tabib fi Syarh Al Ashab", Ibnu Abdu Al Ishbili, menjadikan buku ini sebagai narasumber
tulisannya.

Permata ilmu yang ditinggalkan ilmuwan ini menjadi pelita intelektual para ilmuwan
berikutnya. Perjalanan keilmuwan beliau berakhir ketika Yang Mahakuasa

4
memanggilnya. Beliau menutup mata pada bulan Syawwal 487 H atau bertepatan dengan
November 1094 M di Kordoba. [Tabloid MQ EDISI/ 6/TH.II/OKTOBER 2001]

t
Al Battani

Sejak berabad-abad lamanya, astronomi dan matematika begitu lekat dengan umat Islam.
Tak heran bila sejumlah ilmuwan di kedua bidang tersebut bermunculan. Salah seorang di
antaranya adalah Abu Abdallah Muhammad Ibn Jabir Ibn Sinan Al-Battani. Ia lebih
dikenal dengan panggilan Al-Battani atau Albatenius.

Al Battani lahir di Battan, Harran, Suriah pada sekitar 858 M. Keluarganya merupakan
penganut sekte Sabbian yang melakukan ritual penyembahan terhadap bintang. Namun ia
tak mengikuti jejak langkah nenek moyangnya, ia lebih memilih memeluk Islam.
Ketertarikannya dengan benda-benda yang ada di langit membuat Al Battani kemudian
menekuni astronomi. Secara informal ia mendapatkan pendidikan dari ayahnya yang juga
seorang ilmuwan, Jabir Ibn San'an Al-Battani. Keyakinan ini menguat dengan adanya
bukti kemampuan Al Battani membuat dan menggunakan sejumlah perangkat alat
astronomi seperti yang dilakukan ayahnya.

Beberapa saat kemudian, ia meninggalkan Harran menuju Raqqa yang terletak di tepi
Sungai Eufrat, di sana ia melanjutkan pendidikannya. Di kota inilah ia melakukan
beragam penelitian hingga ia menemukan berbagai penemuan cemerlangnya. Pada saat
itu, Raqqa menjadi terkenal dan mencapai kemakmuran. Ini disebabkan karena kalifah
Harun Al Rashid, khalifah kelima dalam dinasti Abbasiyah, pada 14 September 786
membangun sejumlah istana di kota tersebut. Ini merupakan penghargaan atas sejumlah
penemuan yang dihasilkan oleh penelitian yang dilakukan Al Battani. Usai pembangunan
sejumlah istana di Raqqa, kota ini menjadi pusat kegiatan baik ilmu pengetahuan maupun
perniagaan yang ramai.

Buah pikirnya dalam bidang astronomi yang mendapatkan pengakuan dunia adalah
lamanya bumi mengelilingi bumi. Berdasarkan perhitungannya, ia menyatakan bahwa
bumi mengelilingi pusat tata surya tersebut dalam waktu 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan
24 detik. Perhitungannya mendekati dengan perhitungan terakhir yang dianggap lebih
akurat.

Itulah hasil jerih payahnya selama 42 tahun melakukan penelitian yang diawali pada
musa mudanya di Raqqa, Suriah. Ia menemukan bahwa garis bujur terajauh matahari
mengalami peningkatan sebesar 16,47 derajat sejak perhitungan yang dilakukan oleh
Ptolemy. Ini membuahkan penemuan yang penting mengenai gerak lengkung matahari.

Al Battani juga menentukan secara akurat kemiringin ekliptik, panjangnya musim, dan
orbit matahari. Ia pun bahkan berhasil menemukan orbit bulan dan planet dan

5
menetapkan teori baru untuk menentukan sebuah kondisi kemungkinan terlihatnya bulan
baru. Ini terkait dengan pergantian dari sebuah bulan ke bulan lainnya.

Penemuannya mengenai garis lengkung bulan dan matahari, pada 1749 kemudian
digunakan oleh Dunthorne untuk menentukan gerak akselerasi bulan. Dalam bidang
matematika, Al Battani juga memberikan kontribusi gemilang terutama dalam
trigonometri. Laiknya, ilmuwan Muslim lainnya, ia pun menuliskan pengetahuannya di
kedua bidang itu ke dalam sejumlah buku.

Bukunya tentang astronomi yang paling terkenal adalah Kitab Al Zij. Buku ini
diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12 dengan judul De Scienta Stellerum
u De Numeris Stellerum et Motibus oleh Plato dari Tivoli. Terjemahan tertua dari
karyanya itu masih ada di Vatikan. Terjemahan buku tersebut tak melulu dalam bahasa
latin tetapi juga bahasa lainnya.

Terjemahan ini keluar pada 1116 sedangkan edisi cetaknya beredar pada 1537 dan pada
1645. Sementara terjemahan karya tersebut ke dalam bahasa Spanyol muncul pada abad
ke-13. Pada masa selanjutnya baik terjemahan karya Al Battani dalam bahasa Latin
maupun Spanyol tetap bertahan dan digunakan secara luas.

Tak heran bila tulisannya, sangat memberikan pengaruh bagi perkembangan ilmu
pengetahuan di Eropa hingga datangnya masa Pencerahan. Dalam Fihrist, yang
dikompilasi Ibn An-Nadim pada 988, karya ini merupakan kumpulan Muslim
berpengaruh pada abad ke-10, dinyatakan bahwa Al Battani merupakan ahli astronomi
yang memberikan gambaran akurat mengenai bulan dan matahari.

Informasi lain yang tertuang dalam Fihrist menyatakan pula bahwa Al Battani melakukan
penelitian antara tahun 877 dan 918. Tak hanya itu, di dalamnya juga termuat informasi
mengenai akhir hidup sang ilmuwan ini. Fihrist menyatakan bahwa Al Battani meninggal
dunia dalam sebuah perjalanan dari Raqqa ke Baghdad. Perjalanan ini dilakukan sebagai
bentuk protes karena ia dikenai pajak yang berlebih. Al Battani memang mencapai
Baghdad untuk menyampaikan keluhannya kepada pihak pemerintah. Namun kemudian
ia menghembuskan nafas terakhirnya ketika dalam perjalanan pulang dari Baghdad ke
Raqqa. (fer)[republika.co.id]

Al Idris

"Syarif Al Idrisi adalah dosen ilmu Geografi bagi orang-orang Eropa dan senantiasa
dianggap sebagai guru di sana selama tiga abad, karena pada waktu itu belum ada suatu
peta dunia selain yang telah dibuatnya". (Goother, ahli sejarah).

Al-Idrisi (1100 - 1166 M) dikenal masyarakat Barat sebagai seorang ahli Geografi yang
telah membuat bola dunia dari bahan perak seberat 400 ons untuk Raja Roger II dari

6
Sicilia (Sekarang kita kenal sebagai nama pulau di selatan Italia). Beberapa mahasiswa
menyanjungnya sebagai ahli Geografi terbesar di abad pertengahan. Nama lengkapnya
adalah Abu Abdullah Muhammad Ibn Muhammad Ibn Abdullah Ibn Idris Ash Sharif. Ia
dilahirkan di Ceuta, Spanyol tahun 493 H/1100 M.

Idris menempuh pendidikannya di Cordova. Seperti Geografer lainnya, ia pun bepergian


ke tempat-tempat yang jauh termasuk Asia dan Afrika, untuk mengumpulkan data
Geografi. Mayoritas Geografer muslim di masa Idris, telah mampu membuat ukuran
permukaan bumi yang akurat. Ketika itu beberapa peta dunia juga telah dibuat, namun
tak sesempurna karya Idris. Dari bahan-bahan yang telah dikumpulkan, Idris
mengkombinasikan sendiri temuan-temuannya menjadi sebuah pengetahuan baru.
Karyanya banyak menyajikan data komprehensif dari setiap wilayah di dunia. Sehingga
saat itu Idris menjadi sangat dikenal dan mulai dilirik oleh kalangan navigator laut Eropa
dan militer.

Kemasyhuran Idris dan kompetensinya di bidang Geografi terdengar oleh Roger II, Raja
Norman dari Sicilia (1129-1140 M). Roger II mengundang dan memfasilitasi Idris untuk
membuat peta dunia paling baru saat itu. Idris menyanggupi, namun ia mengajukan syarat
bahwa dalam peta itu ia ingin memasukkan data wilayah Sicilia yang pernah berada di
bawah kekuasaan kaum muslimin sebelum Raja Roger berkuasa.

Peta pesanan sang Raja diwujudkan Idris ke dalam bentuk bola dunia (globe) seberat 400
ons, yang secara cermat memuat danau dan sungai, kota-kota besar, daratan serta
pegunungan. Idris membedakan pula antara tanah yang subur (pertanian) dan tanah yang
gersang. Ia juga memasukkan beberapa informasi tentang jarak, panjang dan ketinggian
secara tepat. Bola dunianya itu dilengkapi dengan Kitab Al-Rujari (Roger's book),
sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Roger. Buku ini digambarkan sebagai bentuk
deskripsi paling teliti dan cermat di dunia pada abad pertengahan.

Buku Idris lainnya yang berjudul Nuzhat al-Mushtaq fi Ikhtiraq al-Afaq (Kesenangan
untuk Orang-orang yang Ingin Mengadakan Perjalanan Menembus Berbagai Iklim)
menjadi sebuah ensiklopedi yang berisi peta secara detil dan informasi lengkap negara-
negara Eropa. Setelah menyelesaikan buku itu, Idris membuat kembali sebuah kompilasi
ensiklopedi yang lebih komprehensif berjudul Rawd Unnas wa-Nuzhat al-Nafs
(Kenikmatan Lelaki dan Kesenangan Jiwa). Pengetahuannya tentang kaum negro dari
Timbuktu di Sudan dan asal sumber air sungai Nil di Mesir menjadi salah satu bukti
keakuratannya yang menakjubkan.

Selain bidang Geografi Idris juga memberi sumbangan bagi perkembangan ilmu
kedokteran. Ketika itu ia menyusun sebuah buku berjudul Kitab Al Jamili Sifat Ashtat al
Nabatat. Dalam buku tersebut, Idris membuat pandangan dan memadukan semua literatur
dari berbagai subjek ilmu kedokteran serta menggabungkannya dengan metode
pengobatan ilmuwan Islam ditambah dengan beberapa riset yang dikumpulkannya ketika
ia melakukan perjalanan. Misalnya nama-nama obat dalam beberapa bahasa, termasuk
Berber (Arab), Suriah, Persia, Hindi, Yunani dan bahasa Latin.

7
Beberapa karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, diantaranya ke bahasa
Spanyol (1793), Jerman (1828), Perancis (1840) oleh Amedie Jaubert, dan ke bahasa
Italia (1885).

Selama beberapa abad, karya-karyanya menjadi buku yang sangat populer di daratan
Eropa. Salah satu bukunya yang telah diterjemahkan, diterbitkan di Roma pada tahun
1619. Nama Al-Idris tidak dicantumkan pada terjemahan tersebut. Christopher Columbus
menggunakan peta asli yang dibuat oleh Idris. Al Idris wafat pada tahun 560 H/1165 M.
[Majalah HIKAYAH edisi 06 Shafar 1424 H]

Al Khawarizmi

Dunia Islam benar-benar sebuah peradaban yang lengkap jika kita mau mempelajarinya.
Dari obat-obatan sampai matematika ada di dalamnya, begitu juga para ahlinya. Di antara
kita, banyak sekali yang mengenal dan mungkin pernah belajar satu teori matematika
yang bernama Algoritma. Sebuah teori yang mempermudah manusia menghitung dalam
jumlah besar dengan menggunakan sistem decimal. Jika kita pernah mempelajari, ada
satu pertanyaan menarik, pernahkah kita tahu siapa yang pertama kali menemukan dan
memperkenalkan rumus Algoritma? Tak lain dan tak bukan adalah orang-orang Islam.

Adalah Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa Al Khawarizmi, seorang intelektual Islam
yang lahir pada tahun 770 Masehi, di sebuah kota bernama Khawarizmi. Tak ada data
yang pasti tentang tanggal dan kapan tepatnya Al Khawarizmi dilahirkan. Khawarizmi
adalah sebuah kota kecil sederhana di pinggiran sungai Oxus, tepatnya di bagian selatan
sungai itu. Sungai Oxus adalah satu sungai yang mengalir panjang dan membelah negara
Uzbekistan.

Uzbekistan, adalah sebuah negara muslim yang besar sebelum tentara Rusia mengambil
alih dan menggempur daerah itu pada tahun 1873. Ratusan tahun lebih Uzbekistan berada
dalam tatanan pemerintahan Islam dengan penduduk mayoritas Islam yang hidup
makmur dengan rahmat melimpah. Tapi rupanya, hal ini membuat orang-orang Rusia
mulai melirik Uzbekistan menjadi satu di antara banyak negara jajahannya.

Itulah kenapa Al Khawarizmi dipanggil dengan sebutan Al Khawarizmi, untuk


menunjukkan tempat awal dilahirkannya tokoh kita kali ini. Pada saat Al Khawarizmi
masih kecil, kedua orang tuanya berimigran, pindah dari Uzbekistan menuju Baghdad,
Irak. Saat itu Irak di bawah pemerintahan Khalifah Al Ma'mun yang memerintah
sepanjang tahun 813 sampai 833.

Kelak di kota inilah lahir sebuah konsep matematika yang oleh orang Barat dan kita di
sini sekarang, menyebutnya sebagai Algoritma. Entah bagaimana awalnya sampai
menjadi Algoritma, tapi yang jelas ia berasal dari kata Al Khawarizmi. Mungkin orang-

8
orang Barat dengan lidahnya terlalu sulit menyebutkan dengan fasih kata Al Khawarizmi
sehingga menjadi Algoritma.

Al Khawarizmi adalah seorang tokoh matematika besar yang pernah dilahirkan Islam dan
disumbangkan pada peradaban dunia. Dan mungkin tak seratus tahun sekali akan lahir ke
dunia orang-orang seperti dia. Meski namanya dikenal sebagai seorang ahli dalam bidang
matematika, sebenarnya ia juga ahli dalam bidang yang lain. Al Khawarizmi juga seorang
astronomi, ia juga seorang yang ahli dalam ilmu geografi dan segala seluk belum tentang
tanah dan bumi.

Ini yang menarik dalam Islam, seorang tokoh yang ahli dan dikenal dalam satu bidang,
selalu saja ahli pula dalam bidang yang lain. Ada kesimpulan yang bisa ditarik dari sini,
bahwa Islam adalah sebuah tatanan menyeluruh yang tak terpisahkan. Belajar matematika
tak lepas pula belajar astronomi. Belajar astronomi tak ketinggalan pula belajar tentang
keindahan alam dan itu tak terlepas pula dari pelajaran tauhid. Bahwa kedahsyatan alam
ini tercipta karena kebesaran Allah pada manusia dan semesta.

Al Khawarizmi selain terkenal dengan teori Algoritmanya, ia juga dikenal sebagai


seorang yang membangun teori-teori matematika lain, di antaranya Aljabar. Salah satu
kehebatan Al Khawarizmi adalah, ia tak hanya mengenali satu hal sebagai subyek saja,
tapi ia juga mampu menyelesaikan masalah yang ada dalam subyek tersebut. Dunia
benar-benar tak bisa lepas dari jasa-jasa orang-orang Islam.

Aljabar diambil dari kata depan judul buku yang dikarang oleh Al Khawarizmi, "Al Jabr
wa Al Muqabilah". Dalam buku ini ia merumuskan dan menjelaskan secara detail table
trigonometri yang biasa kita pelajari saat ini. Tak hanya itu, jika kita pelajari secara detail,
buku ini ternyata mengenalkan teori-teori kalkulus dasar dengan gampang.

Selain karya-karyanya di bidang matematika, Al Khawarizmi juga melahirkan karya


dalam bidang astronomi. Ia membuat tabel yang mengelompokkan ilmu perbintangan ini.
Pada awal abad 12, karya-karya Al Khawarizmi diterjemahkan ke dalam bahasa lain, dan
yang pertama kali adalah bahasa latin oleh Adelard of bath dan Gerard of Cremona. Kita-
kita itu adalah, The Treatise of Arithmetic, Al Muqala fi Hisab Al Jabr wa Al Muqabilah.

Di banyak universitas di Eropa, buku-buku karya Al Khawarizmi masih menjadi acuan


dan text book untuk mahasiswa di sana sampai pertengahan abad ke enam belas. Karya-
karyanya, setelah di terjemahkan dalam bahasa Latin, kemudian menyusul bahasa-bahasa
lain seperti bahasa-bahasa yang digunakan di Eropa dan terakhir diterjemahkan dalam
bahasa Cina.

Dalam bidang astronomi pun, Al Khawarizmi menyumbangkan karya-karya besarnya


yang tak terbatas. Begitu juga dalam bidang geografi, ia membuat koreksi-koreksi
mendasar pada pemikiran filsuf Yunani tentang geografi. Dalam sejarah tercatat tujuh
puluh orang yang ahli dalam bidang geografi bekerja di bawah koordinasi Al
Khawarizmi. Grup ini kemudian melahirkan peta bumi yang kita kenal sebagai globe
untuk pertama kali. Karya ini dikenal dunia pada tahun 830 masehi.

9
Sepuluh tahun kemudian, tahun 840, Al Khawarizmi meninggal dunia dengan warisannya
khazanah dalam ilmu pengetahuan dunia. Kita yang masih hidup saat ini, tak bisa
berbicara matematika tanpa menyebut nama Al Khawarizmi. Kita juga tak bisa
bersenang-senang, tanpa mengucapkan terima kasih pada Al Khawarizmi saat
mempermainkan bola dunia alias globe. Tapi yang lebih penting dari itu adalah,
bagaimana caranya kita semua, mampu menjadi seperti dia. Menerangi dunia dan
memberi pencerahan dengan Ilmu-ilmu Islam. Kita pasti bisa! (NN)

Al Mawardi

Khazanah intelektual Islam era kekhalifahan Abbasiyah pernah mengukir sejarah emas
dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan pemikiran keagamaan. Salah satu tokoh
terkemuka sekaligus pemikir dan peletak dasar keilmuan politik Islam penyangga
kemajuan Abbasiyah itu adalah Al Mawardi. Tokoh yang pernah menjadi qadhi (hakim)
dan duta keliling khalifah ini, menjadi penyelamat berbagai kekacauan politik di
negaranya, Basrah (kini Irak). "Al Khatib of Baghdad," tulis seorang orientalis.

Ulama penganut mazhab Syafi'i ini bernama lengkap Abu al Hasan Ali bin Habib al
Mawardi. Lahir di kota pusat peradaban Islam klasik, Basrah (Baghdad) pada 386 H/975
M, Al Mawardi menerima pendidikan pertamanya di kota kelahirannya. Ia belajar ilmu
hukum dari Abul Qasim Abdul Wahid as Saimari, seorang ahli hukum mazhab Syafi'i
yang terkenal.

Kemudian, pindah ke Baghdad melanjutkan pelajaran hukum, tata bahasa, dan


kesusastraan dari Abdullah al Bafi dan Syaikh Abdul Hamid al Isfraini. Dalam waktu
singkat ia telah menguasai dengan baik ilmu-ilmu agama, seperti hadis dan fiqh, juga
politik, filsafat, etika dan sastra.

Sebagai seorang penasihat politik, Al Mawardi menempati kedudukan yang penting di


antara sarjana-sarjana Muslim. Dia diakui secara universal sebagai salah seorang ahli
hukum terbesar pada zamannya. Al Mawardi mengemukakan fiqh madzhab Syafi'i dalam
karya besarnya Al Hawi, yang dipakai sebagai buku rujukan tentang hukum mazhab
Syafi'i oleh ahli-ahli hukum di kemudian hari, termasuk Al Isnavi yang sangat memuji
buku ini. Buku ini terdiri 8.000 halaman, diringkas oleh Al Mawardi dalam 40 halaman
berjudul Al Iqra.

Menelaah pemikiran Al Mawardi, bisa dikatakan cukup dengan membaca karyanya, Al


Ahkaam Al Shultoniyah (Hukum-hukum Kekuasaan), yang menjadi master piece-nya.

10
Meskipun ia juga menulis beberapa buku lainnya, namun dalam buku //Al Ahkaam Al
Shultoniyah// inilah pokok pemikiran dan gagasannya menyatu.

Dalam magnum opusnya ini, termuat prinsip-prinsip politik kontemporer dan kekuasaan,
yang pada masanya dapat dikatakan sebagai pemikiran maju, bahkan sampai kini
sekalipun. Misalnya, dalam buku itu dibahas masalah pengangkatan imamah (kepala
negara/pemimpin), pengangkatan menteri, gubernur, panglima perang, jihad bagi
kemaslahatan umum, jabatan hakim, jabatan wali pidana. Selain itu, juga dibahas
masalah imam shalat, zakat, fa'i dan ghanimah (harta peninggalan dan pampasan perang),
ketentuan pemberian tanah, ketentuan daerah-daerah yang berbeda status, hukum seputar
tindak kriminal, fasilitas umum, penentuan pajak dan jizyah, masalah protektorat,
masalah dokumen negara dan lain sebagainya.

Baginya, imam (yang dalam pemikirannya adalah seorang raja, presiden, sultan)
merupakan sesuatu yang niscaya. Artinya, keberadaannya sangat penting dalam suatu
masyarakat atau negara. Karena itu, jelasnya, tanpa imam akan timbul suasana chaos.
Manusia menjadi tidak bermartabat, begitu juga suatu bangsa menjadi tidak berharga.

Lantas bagaimana ketentuan seorang imamah yang dianggap legal? Dalam hal ini, Al
Mawardi menjelaskan, jabatan imamah (kepemimpinan) dinilai sah apabila memenuhi
dua metodologi. Pertama, dia dipilih oleh parlemen (ahlul halli wal aqdi). Mereka inilah
yang memiliki wewenang untuk mengikat dan mengurai, atau juga disebut model Al
Ikhtiar. Kedua, ditunjuk oleh imam sebelumnya. Model pertama selaras dengan
demokrasi dalam konteks modern. Sementara, tipe kedua, Al Mawardi merujuk pada
eksperimen sejarah, yakni pengangkatan khalifah Umar bin Khattab oleh khalifah
sebelumnya, Abu Bakar Ash Shiddiq.

Dalam masalah pemecatan seorang khalifah, Al Mawardi menyebutkan dua hal yang
mengubah kondite dirinya, dan karenanya ia harus mundur dari jabatannya itu. Pertama,
cacat dalam keadilannya (bisa disebabkan akibat syahwat, atau akibat syubhat. Kedua,
cacat tubuh.

Dalam kaitan ini adalah cacat pancaindera (termasuk cacat yang menghalangi seseorang
untuk diangkat sebagai seorang imam, seperti hilang ingatan secara permanen, hilang
penglihatan). Selain itu, juga cacat organ tubuh, dan cacat tindakan. Sedangkan cacat
yang tidak menghalangi untuk diangkat sebagai imam, seperti cacat hidung yang
menyebabkan tidak mampu mencium bau sesuatu, cacat alat perasa, seperti membedakan
rasa makanan.

Berkaitan dengan masalah jihad, Al Mawardi menegaskan, selain perintah jihad kepada
orang kafir, jihad dibagi menjadi tiga bagian : jihad untuk memerangi orang murtad, jihad
melawan para pemberontak (dikenal juga sebagai bughat), dan jihad melawan para
pengacau keamanan. Bila kita cermati, pembagian versi Al Mawardi ini selalu
tersangkut-paut dengan politik kekuasaan, alias mengalami reduksi dari maknanya yang
luas.

11
Dalam hubungannya jihad terhadap mereka yang murtad, Al Mawardi membagi dua
kondisi. Pertama, mereka berdomisili di negara Islam dan tidak memiliki wilayah
otonom. Dalam kondisi seperti ini, mereka tidak berhak diperangi, melainkan perlu
diteliti latar belakang keputusannya untuk kemudian diupayakan bertobat. Kedua, mereka
memiliki wilayah otonom di luar wilayah Islam. Mereka wajib diperangi.

Soal jihad melawan pemberontak, ia menulis, "Jika salah satu kelompok dari kaum
Muslimin memberontak, menentang pendapat (kebijakan) jamaah kaum Muslimin
lainnya, dan menganut pendapat yang mereka ciptakan sendiri; jika dengan pendapatnya
itu mereka masih taat kepada sang imam, tidak memiliki daerah otonom di mana mereka
berdomisili di dalamnya, mereka terpencar yang memungkinkan untuk ditangkap, berada
dalam jangkauan negara Islam, maka mereka dibiarkan, tidak diperangi, kewajiban dan
hak mereka sama dengan kaum Muslimin lainnya.

Dalam banyak hal, khususnya dalam konteks demokrasi dan politik modern, sulit rasanya
menerapkan konsep dan pemikiran Al Mawardi secara penuh. Barangkali, hanya
beberapa bagian, semisal dalam masalah kualifikasi dan pengangkatan seorang imam,
juga masalah pembagian kekuasaan di bawahnya. Namun demikian, wacana Al Mawardi
ini sangat berbobot ketika diletakkan sebagai antitesis dari kegagalan teori demokrasi,
dan sumbangan khazanah berharga bagi perkembangan politik Islam modern.

Bahkan, harus diakui pula bahwa pemikiran dan gagasannya memiliki pengaruh besar
atas penulis-penulis generasi selanjutnya, terutama di negeri-negeri Islam. Pengaruhnya
ini misalnya, terlihat pada karya Nizamul Mulk Tusi, yakni Siyasat Nama, dan
Prolegomena karya Ibn Khaldun. Khaldun, yang diakui sebagai peletak dasar sosiologi,
dan pengarang terkemuka mengenai ekonomi politik tak ragu lagi telah melebihi Al
Mawardi dalam banyak hal.

Setelah seluruh hayatnya diabdikan untuk dunia ilmu dan kemaslahatan umat, Sang
Khaliq akhirnya memanggil Al Mawardi pada 1058 M, dalam usia 83 tahun.

Pada tahun 1037 M, khalifah Al Qadir, mengundang empat orang ahli hukum mewakili
keempat mazhab fikih (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali). Mereka diminta menulis
sebuah buku fikih. Al Mawardi terpilih untuk menulis buku fikih mazhab Syafi'i.

Setelah selesai, hanya dua orang yang memenuhi permintaan khalifah sesuai yang
diharapkan, yakni Al Quduri dengan bukunya Al Mukhtashor (Ringkasan), dan Al
Mawardi dengan kitabnya Kitab Al Iqna'.

Khalifah memuji karya Al Mawardi sebagai yang terbaik, dan menyuruh para penulis
kerajaan untuk menyalinnya, lalu menyebarluaskannya ke seluruh perpustakaan Islam di
wilayah kekuasaannya.

Selain kedua karyanya, yakni Kitab Al Iqna', dan Al Ahkaam al Shultoniyah, Mawardi
yang sejak kecil bercita-cita menjadi pegawai negeri ini juga menulis buku Adab al Wazir
(Etika Menteri), Siyasat al Malik (Politik Raja), Tahsil un Nasr wat Ta'jit uz Zafar

12
(Memudahkan Penaklukan dan Mempercepat Kemenangan). Al Ahkam al Shultoniyah
telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Italia, Indonesia, dan Urdu.

Al Mawardi juga menulis buku tentang 'perumpamaan' dalam Alquran, yang menurut
pendapat As Suyuthi, merupakan buku pertama dalam soal ini. Menekankan pentingnya
buku ini, Al Mawardi menulis, "Salah satu dari ilmu Quran yang pokok adalah ilmu
'ibarat' atau 'umpama'.'' (her)[republika.co.id]

Al Zahrawi

Dalam dunia kedokteran, nama Albucasis alias Al Zahrawi tidak pernah luntur. Apalagi
bila merunut pada penemuan penyakit hemofilia. Penyakit ini sebenarnya telah ada sejak
lama sekali, dan belum memiliki nama. Talmud, yaitu sekumpulan tulisan para rabi
Yahudi, 2 abad setelah Masehi menyatakan bahwa seorang bayi laki-laki tidak harus
dikhitan jika dua kakak laki-lakinya mengalami kematian akibat dikhitan.

Titik terang ditemukan setelah Al Zahrawi pada abad ke-12 menulis dalam bukunya
mengenai sebuah keluarga yang setiap anak laki-lakinya meninggal setelah terjadi
perdarahan akibat luka kecil. Ia menduga hal tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Kata
hemofilia pertama kali muncul pada sebuah tulisan yang ditulis oleh Hopff di Universitas
Zurich, tahun 1828. Dan menurut ensiklopedia Britanica, istilah hemofilia (haemophilia)
pertama kali diperkenalkan oleh seorang dokter berkebangsaan Jerman, Johann Lukas
Schonlein (1793 - 1864), pada tahun 1928. Lukas menelusur aneka catatan kedokteran,
termasuk tulisan Al Zahrawi atau Albucasis itu.

Albucasis lahir sebagai Abu al-Qasim Khalaf bin Abbas Al-Zahrawi di Al Zahra'a, 6 mil
utara Cordoba di Andalusia (sekarang Spanyol), tahun 936. Dia mengawali karirnya
sebagai dokter bedah dan pengajar di beberapa sekolah kedokteran. Namanya mulai
menjadi perbincangan di dunia kedokteran setelah dia meluncurkan buku yang kemudian
menjadi buku paling populer di dunia kedokteran, At-Tasrif liman 'Ajiza 'an at-Ta'lif
(Metode Pengobatan).

Dalam buku itu, ia banyak menguraikan tentang hal-hal baru dalam operasi medis. Apa
yang ditulisnya merupakan cetak biru dari apa yang dilakukannya selama 50 tahun
melang melintang dalam dunia pengobatan. Bahkan, bukunya dianggap sebagai ikhtisar
ensiklopedi kedokteran. Al Zahrawi juga menciptakan sejumlah alat bantu operasi. Ada
tiga kelompok alat yang diciptakannya, yaitu instrumen untuk mengoperasi bagian dalam
telinga, instrumen untuk inspeksi internal saluran kencing, dan instrumen untuk
membuang sel asing dalam kerongkongan.

13
Di atas semua itu, ia terkenal sebagai pakar operasi yang piawai mengaplikasikan aneka
teknik paling tidak untuk 50 jenis operasi yang berbeda. Dia jugalah yang pertama
menguraikan secara detil operasi klasik terhadap kanker payudara, lithotrities untuk
'menggempur' batu ginjal, dan teknik membuang kista di kelenjar tiroid. Dia juga
termasuk salah satu penggagas operasi plastik, atau setidaknya, dialah yang
memancangkan prosedur bedah plastik pertama kali.

Dalam bukunya, Al-Tasrif, Al-Zahrawi mendiskusikan tentang penyiapan aneka obat-


obatan yang diperlukan untuk penyembuhan pasca operasi, yang dalam dunia pengobatan
modern dikenal sebagai ophthalmologi atau sejenisnya. Dalam penyiapan obat-obatan itu,
ia mengenalkan tehnik sublimasi. Al Zahrawi juga ahli dalam bidang kedoteran gigi.
Bukunya memuat beberapa piranti penting dalam perawatan gigi. Misalnya thereof, alat
yang sangat vital dalam operasi gigi.

Di buku yang sama, ia juga mendiskusikan beberapa kelainan pada gigi dan problem
deformasi gigi serta bagaimana cara untuk mengoreksinya. Ia juga memciptakan sebuah
teknik untuk menyiapkan gigi artifisial dan cara memasangnya. Al-Tasrif dialihbahasakan
ke dalam bahasa Latin pada abad pertengahan oleh Gherard of Cremona. Sejumlah editor
lain di Eropa mengikutinya, dengan menerjemahkannya ke dalam bahasa mereka. Buku
dengan sejumlah diagram dan ilustrasi alat bedah yang digunakan Al Zahrawi ini
kemudian masuk ke kampus-kampus dan menjadi buku wajib mahasiswa kedokteran.

Al Zahrawi disebut oleh Pietro Argallata (meninggal tahun 1423) sebagai "Pimpinan
segala operasi bedah tanpa keraguan". Jacques Delechamps (1513-1588), ahli bedah
Prancis lainnya, menyebut Al Zahrawi sebagai pemikir jempolan abad pertengahan
hingga Renaissance. Ia merujuk komentarnya pada kitab At Tasrif karya Al Zahrawi yang
banyak dirujuk dokter-dokter pada masa itu.

Al Zahrawi menjadi pakar kedokteran populer di zamannya. Bahkan hingga lima abad
setelah kematiannya, bukunya tetap menjadi buku wajib bagi para dokter di berbagai
belahan dunia. Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan kedokterannya, menurut Dr Cambell,
pakar sejarah pengobatan Arab, dimasukkan dalam kurikulum fakultas kedokteran di
seluruh belahan Eropa. Dia juga dikenal sebagai fisikawan andal kebanggaan Raja Al-
Hakam II dari Spanyol. Setelah malang melintang di dunia kedokteran dengan sejumlah
temuan baru, Al Zahrawi berpulang pada tahun 1013. Namanya tercatat dengan tinta
emas dalam dunia kedokteran modern hingga kini. (tri/islamonline)[republika.co.id]

Hadits merupakan salah satu rujukan sumber hukum Islam di samping


kitab suci Al-Qur'an. Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW itulah terkandung jawaban
dan solusi masalah yang dihadapi oleh umat di berbagai bidang kehidupan. Berbicara
tentang ilmu hadits, umat Islam tidak akan melupakan jasa Al-Albani. Ia merupakan salah
satu tokoh pembaharu Islam abad ini.

14
Karya dan jasa-jasanya cukup banyak dan sangat membantu umat Islam terutama dalam
menghidupkan kembali ilmu hadits. Ia berjasa memurnikan ajaran Islam dari hadits-
hadits lemah dan palsu serta meneliti derajat hadits. Al-Albani mempunyai nama lengkap
Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh al-Albani. Dilahirkan pada tahun
1333 H di kota Ashqadar, ibu kota Albania masa lampau. Ia dibesarkan di tengah
keluarga yang tak berpunya secara materi, namun sangat kaya ilmu. Ayah al-Albani
bernama Al Haj Nuh adalah lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syari'at di ibukota
negara dinasti Utsmaniyah (kini Istambul).

Ketika Raja Ahmad Zagha naik tahta di Albania dan mengubah sistem pemerintahan
menjadi pemerintah sekuler, Syeikh Nuh amat mengkhawatirkan dirinya dan diri
keluarganya. Akhirnya ia memutuskan untuk berhijrah ke Syam dalam rangka
menyelamatkan agamanya dan karena takut terkena fitnah. Dari sana, ia sekeluarga
bertolak ke Damaskus. Setiba di Damaskus, Syeikh al-Albani kecil mulai mempelajari
bahasa Arab. Al-Albani kecil masuk sekolah madrasah yang dikelola oleh Jum'iyah al-
Is'af al-Khairiyah. Ia terus belajar di sekolah tersebut hingga kelas terakhir dan lulus di
tingkat Ibtida'iyah.

Selanjutnya, ia meneruskan belajarnya langsung kepada para syekh. Ia mempelajari Al-


Qur'an dari ayahnya sampai selesai, disamping juga mempelajari sebagian fikih madzab
Hanafi. Al-Albani juga mempelajari keterampilan memperbaiki jam dari ayahnya sampai
mahir betul. Keterampilan ini kemudian menjadi salah satu mata pencahariannya. Pada
umur 20 tahun, pemuda Al-Albani mulai mengkonsentrasi diri pada ilmu hadits.
Ketertarikannya itu berawal dari pembahasan-pembahasan yang ada dalam majalah al-
Manar, sebuah majalah yang diterbitkan oleh Syekh Muhammad Rasyid Ridha. Tulisan-
tulisan sang Syekh, sangat memukau hatinya.

Kegiatan pertama di bidang ini ialah menyalin sebuah kitab berjudul Al-Mughni 'an
Hamli al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ishabah min al-Akhbar, karya al-Iraqi, berupa takhrij
terhadap hadits-hadits yang terdapat pada Ihya' Ulumuddin-nya Al-Ghazali. Awalnya
kegiatan Al-Albani dalam bidang hadits ini ditentang oleh ayahnya. Ia mengomentarinya
begini, ''Sesungguhnya ilmu hadits adalah pekerjaan orang-orang pailit (bangkrut).''
Namun Syekh al-Albani justru semakin cinta terhadap dunia hadits. Pada perkembangan
berikutnya, Al-Albani tidak memiliki cukup uang untuk membeli kitab-kitab. Karenanya,
beliau memanfaatkan Perpustakaan adh-Dhahiriyah di Damaskus. Di samping juga
meminjam buku-buku dari beberapa perpustakaan khusus.

Begitulah, hadits menjadi kesibukan rutinnya sampai-sampai ia menutup kios reparasi


jamnya. Al-Albani lebih betah berlama-lama dalam perpustakaan adh-Dhahiriyah,
sehingga setiap harinya mencapai 12 jam. Tidak pernah istirahat mentelaah kitab-kitab
hadits, kecuali jika waktu shalat tiba. Untuk makannya, seringkali hanya sedikit makanan
yang dibawanya ke perpustakaan. Akhirnya kepala kantor perpustakaan memberikan
sebuah ruangan khusus di perpustakaan untuknya. Bahkan kemudian ia diberi wewenang
untuk membawa kunci perpustakaan. Dengan demikian, Al-Albani makin leluasa
mempelajari banyak sumber.

15
Syekh Al-Albani pernah dua kali mendekam dalam penjara. Kali pertama selama satu
bulan dan kali kedua selama enam bulan. Itu tidak lain karena gigihnya beliau berdakwah
kepada sunnah dan memerangi bid'ah sehingga orang-orang yang dengki kepadanya
menebarkan fitnah.

Pengalaman mengajarnya dilakukan ketika menjadi pengajar di Jami'ah Islamiyah


(Universitas Islam Madinah) selama tiga tahun. Dari tahun 1381-1383 H, ia mengajar
tentang hadits dan ilmu-ilmu hadits. Setelah itu ia pindah ke Yordania. Pada tahun 1388
H, Departemen Pendidikan meminta kepada Syekh Al-Albani untuk menjadi ketua
jurusan Dirasah Islamiyah pada Fakultas Pasca Sarjana di sebuah Perguruan Tinggi di
Kerajaan Yordania.

Tetapi situasi dan kondisi saat itu tidak memungkinkan beliau memenuhi permintaan itu.
Pada tahun 1395-1398 H ia kembali ke Madinah untuk bertugas sebagai anggota Majelis
Tinggi Jam'iyah Islamiyah di sana. Di negeri itu pula, Al-Albani mendapat penghargaan
tertinggi dari kerajaan Saudi Arabia berupa King Faisal Fundation tanggal 14 Dzulkaidah
1419 H. Sebelum berpulang, Syekh Al-Albani berwasiat agar perpustakaan pribadinya,
baik berupa buku-buku yang sudah dicetak, buku-buku hasil foto kopi, manuskrip-
manuskrip (yang ditulis olehnya ataupun orang lain) seluruhnya diserahkan kepada pihak
Perpustakaan Jami'ah. Ia wafat pada hari Jum'at malam Sabtu tanggal 21 Jumada
Tsaniyah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yordania.

Karya-karya beliau amat banyak, ada yang sudah dicetak, ada yang masih berupa
manuskrip dan ada yang mafqud (hilang). Jumlahnya sekitar 218 judul. Karya yang
terkenal antara lain :
* Dabuz-Zifaf fi As-Sunnah al-Muthahharah
* Al-Ajwibah an-Nafi'ah 'ala as'ilah masjid al-Jami'ah
* Silisilah al-Ahadits ash Shahihah
* Silisilah al-Ahadits adh-Dha'ifah wal Maudhu'ah
* At-Tawasul wa anwa'uhu
* Ahkam Al-Jana'iz wabida'uha.

Di samping itu, beliau juga memiliki buku kumpulan ceramah, bantahan terhadap
berbagai pemikiran sesat, dan buku berisi jawaban-jawaban tentang pelbagai masalah
yang bermanfaat. (yus/berbagai sumber)[republi
Al-Jazari

''Tak mungkin mengabaikan hasil karya Al-Jazari yang begitu penting. Dalam bukunya, ia
begitu detail memaparkan instruksi untuk mendesain, merakit, dan membuat sebuah
mesin'' (Donald Hill).

Kalimat di atas merupakan komentar Donald Hill, seorang ahli teknik asal Inggris yang
tertarik dengan sejarah teknologi, atas buku karya ahli teknik Muslim yang ternama, Al-
Jazari.

16
Al-Jazari merupakan ahli teknik yang luar biasa pada masanya. Nama lengkapnya adalah
Badi Al-Zaman Abullezz Ibn Alrazz Al-Jazari. Dia tinggal di Diyar Bakir, Turki, selama
abad kedua belas.

Ia dipanggil Al-Jazari karena lahir di Al-Jazira, sebuah wilayah yang terletak di antara
Tigris dan Efrat, Irak. Seperti ayahnya ia mengabdi pada raja-raja Urtuq atau Artuqid di
Diyar Bakir dari 1174 sampai 1200 sebagai ahli teknik.

Pada 1206 ia merampungkan sebuah karya dalam bentuk buku yang berkaitan dengan
dunia teknik. Bukunya bertajuk Al-Jami Baim Al-Ilm wal Amal Al-Nafi Fi Sinat'at Al
Hiyal. Bukunya ini berisi tentang teori dan praktik mekanik.

Karyanya ini sangat berbeda dengan karya ilmuwan lainnya, karena dengan piawainya
Al-Jazari membeberkan secara detail hal yang terkait dengan mekanika. Dan merupakan
kontribusi yang sangat berharga dalam sejarah teknik.

Keunggulan buku tersebut mengundang decak kagum dari ahli teknik asal Inggris,
Donald Hill (1974). Donald berkomentar bahwa dalam sejarah, begitu pentingnya karya
Al-Jazari tersebut. Pasalnya, kata dia, dalam buku Al-Jazari, terdapat instruksi untuk
merancang, merakit, dan membuat mesin.

Ia menjabarkan sekitar lima puluh peralatan mekanik dalam enam kategori yang berbeda.
Termasuk jam air, alat mencuci tangan atau mesin wadu dan mesin pemompa air.

Pada acara World of Islam Festival yang diselenggarakan di Inggris pada 1976, banyak
orang yang berdecak kagum dengan hasil karya Al-Jazari. Pasalnya, Science Museum
merekonstruksi kerja gemilang Al-Jazari, yaitu jam air.

Ketertarikan Donald Hill terhadap karya Al-Jazari membuatnya terdorong untuk


menerjemahkan karya Al-Jazari pada 1974, atau enam abad dan enam puluh delapan
tahun setelah pengarangnya menyelesaikan karyanya.

Tulisan Al-Jazari juga dianggap unik karena memberikan gambaran yang begitu detail
dan jelas. Sebab ahli teknik lainnya lebih banyak mengetahui teori saja atau mereka
menyembunyikan pengetahuannya dari orang lain. Bahkan ia pun menggambarkan
metode rekonstruksi peralatan yang ia temukan.

Karyanya juga dianggap sebagai sebuah manuskrip terkenal di dunia, yang dianggap
sebagai teks penting untuk mempelajari sejarah teknologi. Isinya diilustrasikan dengan
miniatur yang menakjubkan. Hasil kerjanya ini kerap menarik perhatian bahkan dari
dunia Barat.

Dengan karya gemilangnya, ilmuwan dan ahli teknik Muslim ini telah membawa
masyarakat Islam pada abad ke-12 pada kejayaan. Ia hidup dan bekerja di Mesopotamia
selama 25 tahun. Ia mengabdi di istana Artuqid, kala itu di bawah naungan Sultan Nasir
al-Din Mahmoud.

17
Al-Jazari memberikan kontribusi yang pentng bagi dunia ilmu pengetahuan dan
masyarakat. Mesin pemompa air yang dipaparkan dalam bukunya, menjadi salah satu
karya yang inspiratif. Terutama bagi sarjana teknik dari belahan negari Barat.

Jika menilik sejarah, pasokan air untuk minum, keperluan rumah tangga, irigasi dan
kepentingan industri merupakan hal vital di negara-negara Muslim. Namun demikian,
yang sering menjadi masalah adalah terkait dengan alat yang efektif untuk memompa air
dari sumber airnya.

Masyarakat zaman dulu memang telah memanfaatkan sejumlah peralatan untuk


mendapatkan air. Yaitu, Shaduf maupun Saqiya. Shaduf dikenal pada masa kuno, baik di
Mesir maupun Assyria. Alat ini terdiri dari balok panjang yang ditopang di antara dua
pilar dengan balok kayu horizontal.

Sementara Saqiya merupakan mesin bertenaga hewan. Mekanisme sentralnya terdiri dari
dua gigi. Tenaga binatang yang digunakan adalah keledai maupun unta dan Saqiya
terkenal pada zaman Roma.

Para ilmuwan Muslim melakukan eksplorasi peralatan tersebut untuk mendapatkan hasil
yang lebih memuaskan. Al-Jazari merintis jalan ke sana dengan menguraikan mesin yang
mampu menghasilkan air dalam jumlah lebih banyak dibandingkan dengan mesin yang
pernah ada sebelumnya.

Al-Jazari, kala itu, memikul tanggung jawab untuk merancang lima mesin pada abad
ketiga belas. Dua mesin pertamanya merupakan modifikasi terhadap Shaduf, mesin
ketiganya adalah pengembangan dari Saqiya di mana tenaga air menggantikan tenaga
binatang.

Satu mesin yang sejenis dengan Saqiya diletakkan di Sungai Yazid di Damaskus dan
diperkirakan mampu memasok kebutuhan air di rumah sakit yang berada di dekat sungai
tersebut.

Mesin keempat adalah mesin yang menggunakan balok dan tenaga binatang. Balok
digerakkan secara naik turun oleh sebuah mekanisme yang melibatkan gigi gerigi dan
sebuah engkol.

Mesin itu diketahui merupakan mesin pertama kalinya yang menggunakan engkol
sebagai bagian dari sebuah mesin. Di Eropa hal ini baru terjadi pada abad 15. Dan hal itu
dianggap sebagai pencapaian yang luar biasa.

Pasalnya, engkol mesin merupakan peralatan mekanis yang penting setelah roda. Ia
menghasilkan gerakan berputar yang terus menerus. Pada masa sebelumnya memang
telah ditemukan engkol mesin, namun digerakkan dengan tangan. Tetapi, engkol yang
terhubung dengan sistem rod di sebuah mesin yang berputar ceritanya lain.

18
Penemuan engkol mesin sejenis itu oleh sejarawan teknologi dianggap sebagai peralatan
mekanik yang paling penting bagi orang-orang Eropa yang hidup pada awal abad kelima
belas. Bertrand Gille menyatakan bahwa sistem tersebut sebelumnya tak diketahui dan
sangat terbatas penggunaannya.

Pada 1206 engkol mesin yang terhubung dengan sistem rod sepenuhnya dikembangkan
pada mesin pemompa air yang dibuat Al-jazari. Ini dilakukan tiga abad sebelum
Francesco di Giorgio Martini melakukannya.

Sedangkan mesin kelima, adalah mesin pompa yang digerakkan oleh air yang merupakan
peralatan yang memperlihatkan kemajuan lebih radikal. Gerakan roda air yang ada dalam
mesin itu menggerakan piston yang saling berhubungan.

Kemudian, silinder piston tersebut terhubung dengan pipa penyedot. Dan pipa penyedot
selanjutnya menyedot air dari sumber air dan membagikannya ke sistem pasokan air.
Pompa ini merupakan contoh awal dari double-acting principle. Taqi al-Din kemudian
menjabarkannya kembali mesin kelima dalam bukunya pada abad keenam belas.
[republika.co.id]

Al-Ya'qubi

Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan pernah dirasakan umat Islam berabad-abad


lampau. Ketika itu, banyak ilmuwan dan cendekiawan Muslim mengharu biru jagad
keilmuan dunia yang hingga kini pun karya-karya mereka masih menjadi bahan rujukan.

Dalam kaitan ini, seorang Muslim bernama al-Ya'qubi terkenal sebagai ahli di bidang
ilmu geografi. Sejarah mencatat, dia hidup di Baghdad pada masa pemerintahan khalifah
Abbasiyah, al-Mu'tamid (257 H/870 M - 279 H/892 M). Selain pakar pada bidang
geografi, al-Ya'qubi juga dikenal sebagai seorang sejarawan dan pengembara.

Tidak diketahui secara pasti tanggal lahir dari tokoh bernama lengkap Ahmad bin Abi
Ya'qub Ishaq bin Ja'far bin Wahab bin Waddih ini. Hanya yang jelas, kakeknya adalah
seorang maula' (budak) khalifah Abbasiyah, al-Mansur.

Kariernya terbilang cukup cemerlang di kerajaan. Ia misalnya pernah menjadi sekretaris


al-khalifah (negara) Abbasiyah. Ia juga sempat mengadakan pengembaraan panjang ke
Armenia, Transoksania (Asia Tengah), Iran, India, Mesir, Hedzjaz (Hijaz) serta Afrika
Utara. Dalam pengembaraannya tersebut banyak informasi mengenai sejarah dan
geografi yang ia peroleh.

Berdasarkan pengalamannya pergi ke sejumlah negara, maka pada tahun 891 al-Ya'qubi
menulis sebuah buku berjudul Kitab al-Buldan (Buku Negeri-negeri). Buku ini termasuk
kitab yang tertua dalam sejarah ilmu geografi dunia. Karenanya, buku tersebut pun lantas

19
diterbitkan kembali oleh sebuah penerbit di Leiden, Belanda, dengan mengambil judul
Ibn Waddih qui dicitur al-Ya'qubi historiae.

Di samping itu, bagi negara-negara yang dikunjungi dan termuat dalam buku tadi,
merupakan informasi kesejarahan tidak ternilai. Pada awal bukunya, al-Ya'qubi
menerangkan secara terperinci kota Baghdad dan Samarra (utara Baghdad). Setelah itu
berturut-turut ia menggambarkan mengenai negeri Iran, Semenanjung Arabia, Suriah,
Mesir, Nubia (utara Sudan), Afrika Utara dan lainnya. Tak hanya mengenai geografi
wilayah, buku itu juga menerangkan tentang keadaan sosial dan sejarah dinasti-dinasti
yang sedang berkuasa di masing-masing negeri.

Ada satu buku karyanya lagi yang juga terkenal, yakni Tarikh al-Ya'qubi, buku ini pun
sudah diterbitkan kembali di Leiden dalam dua jilid. Dalam bukunya al-Ya'qubi masih
mempertahankan ciri khasnya, yakni kronologis yang akurat. Pada jilid pertama,
difokuskan pada sejarah dunia kuno, seperti peristiwa-peristiwa yang berhubungan pada
penciptaan alam semesta, Nabi Adam AS dan putra-putranya, peristiwa banjir besar pada
zaman Nabi Nuh AS dan masih banyak lagi. Kemudian ia melukiskan sejarah kerajaan-
kerajaan kuno, semisal Assyria, Babylonia, Abessinia, India, Yunani, Romawi, Persia,
Cina, Armenia dan lain-lain. Dalam setiap kali melukiskan kerajaan-kerajaan itu, dia
kerap mengdeskripsikan keterangan geografis, iklim, agama serta kepercayaan dan
perkembangan ilmu pengetahuan mereka, termasuk filsafat dan kebudayaannya.

Sementara jilid kedua, berisi sejarah Islam yang disusun berdasarkan urutan para
khalifah, hingga tahun 259 H pada masa pemerintahan al-Mu'tamid. Diawali dengan
kelahiran, riwayat hidup serta perang yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, baru
kemudian tentang para khalifah. Berkenaan dengan metode penulisan jilid kedua ini, ia
mengatakan, "Saya menulis kitab ini berdasarkan riwayat-riwayat para ilmuwan dan ahli
hadis yang lalu, termasuk tulisan-tulisan para sejarawan yang berkaitan dengan as-siyar
(riwayat hidup Nabi Muhammad SAW), al-akhbar wa at-tarikh (berita dan sejarah). Saya
tidak berpretensi bahwa buku ini merupakan karya yang orisinal. Saya berusaha
mengumpulkan makalah dan riwayat itu, meskipun sebenarnya karya-karya itu berbeda-
beda dalam menyebutkan tahun dan peristiwanya."

Di samping dua buku tadi, al-Ya'qubi juga meninggalkan sebuah makalah yang
merupakan penggalan lain dari Tarikh al-Ya'qubi yang diterbitkan oleh Matbaah an-Najaf
al-Asyraf di Irak dan sebuah karya singkat berjudul Musyakalah an-Nass li Zamanihim
(Kesamaan Manusia pada Masa Mereka). Buku yang satu ini --sudah diterbitkan kembali
di Beirut-- membahas bagaimana masyarakat berusaha mengikuti dan mencontoh
kehidupan para penguasa, terutama tentang para khalifah Umayyah dan Abbasiyah.

Kitab al-Buldan bisa disebut sebagai kitab paling berharga dalam bentuk karya rihlah
(pengembaraan) dan ilmu geografi. Di dalamnya dijelaskan pengembaraan yang dia
lakukan dan tugas-tugas negara yang dia emban, yaitu pada masa dinasti Tahiriah di
Khurasan dan dinasti Tulun di Mesir dan Suriah, di samping sejumlah informasi yang
dikutipnya dari yang lain. Al-Ya'qubi menggunakan langgam sejarah sendiri tanpa

20
mengikuti langgam sejarah sebelumnya. Ia juga berusaha mengembangkan pendekatan
eksperimental dalam menulis.

Pengembaraan al-Ya'qubi ke Transoksania memberikan manfaat besar bagi generasi


berikutnya. Misalnya, ia menyaksikan langsung bagaimana para khalifah Abbasiyah
mengambil anak-anak berkebangsaan Turki dan Fergana di Turkistan, dan
menuangkannya dalam buku al-Buldan. Ia berkata, "Ekspansi Islam sudah sampai ke
negeri Transoksania. Para pegawai di sana mengirimkan hadiah-hadiah kepada khalifah,
di antaranya dalam bentuk anak-anak berkebangsaan Turki dan Fergana. Pengambilan
seperti itu semakin mudah pada masa al-Mu'tasim karena ibunya berasal dari sana.
Pengambilan anak-anak itu mencapai jumlah ribuan, sebagian dibeli dan sebagian lagi
dalam bentuk hadiah. Jumlah mereka terus bertambah banyak hingga mencapai 18 ribu,
semuanya menetap di Baghdad. Penduduk Baghdad menjadi resah karena tingkah laku
mereka yang buruk. Sehubungan dengan itu, al-Mu'tasim kemudian mendirikan sebuah
kota di sebelah utara Baghdad untuk mereka, yaitu kota Samarra. Sebagian besar mereka
kemudian dijadikan tentara."

Setiap kali, al-Ya'qubi menceritakan secara mendetil tentang negeri-negeri yang pernah
dikunjunginya. Jalan-jalan digambarkan dengan sangat terperinci, begitu pula ladang-
ladang gandum, perkebunan kurma, taman-taman dan sungai serta sumber-sumber air,
sebagaimana ia menggambarkan corak masyarakatnya yang majemuk. (yus/ensiklopedi
islam)[republika.co.id]
Bayazid Al-Bustami

"Tlah kutanamkan cinta dalam jiwaku dan takkan luruh sampai hari akhir kelak. Engkau
tlah melukai jiwaku ketika Engkau menghampiriku. Hasratku berkembang, cintaku
merekah. Dia tuangkan air untuk kuteguk. Dia telah memacu jiwaku dengan secangkir
cinta. Yang telah mengisi samudra persahabatan." (Bayazid Al-Bustami)

Tokoh-tokoh sufi besar telah banyak lahir di sepanjang sejarah Islam. Dengan
pemahaman mereka tentang agama dan Tuhannya, kemudian mereka meletakkan dasar
ajarannya. Menjadi panutan banyak pengikutnya hingga melintas batas tempat dan waktu.
Salah satu sufi besar yang dikenal dalam khazanah Islam adalah Abu Yazid Taifur bin Isa
bin Surusyan al-Bustami atau karib dipanggil Bayazid Al-Bustami. Ia lahir pada 805 M,
di Bastam, sebuah desa di Iran bagian Utara.

Ia berasal dari keluarga yang terhormat dan terpelajar. Ayahnya, Isa bin Surusyan,
merupakan pemuka masyarakat di Bastam sedangkan ibunya dikenal sebagai orang yang
zuhud. Bayazid sangat patuh terhadap ibunya. Sedangkan kakeknya adalah pemeluk
Majusi yang kemudian berislam. Tak ayal jika kondisi keluarganya yang terpelajar
membuatnya terdorong untuk belajar, memahami serta melaksanakan ajaran agamanya.
Ia pun mencontoh laku spiritual yang dijalani ibunya dengan hidup zuhud.

Bahkan bakti kepada ibunya telah memberikannya pula pada pengalaman spiritual yang
mengesankan. Dalam Tadhkirat al-Awliya yang ditulis Sheikh Fariddedin Attar,
dikisahkan bahwa suatu malam ibunya terbangun dan menginginkan segelas air. Dirinya

21
kemudian bergegas ingin membawakan segelas air yang diinginkan ibunya tersebut.
Sayang, tak setetes air pun yang ia temukan. Dalam malam yang gelap dan dingin
Bayazid kemudian keluar rumah mencari sumber air. Ia pun mendapatkannya.

Namun ibunya telah tertidur kembali, dan Bayazid menunggu di samping tempat tidur
ibunya. Menjelang fajar, ibunya terbangun dan mendapatkan segelas air dari Bayazid.
Kemudian Bayazid pun menceritakan bagaimana ia mendapatkan air tersebut. Ibunya
sambil meneguk air dalam gelas lantas mendoakan dirinya. Betapa ia merasakan
kebahagiaan didoakan ibu yang ia sayangi. Dalam mempelajari ilmu, kondisi lingkungan
keluarganya rupanya memberikan pengaruh yang sangat baik.

Tak hanya di kota kelahirannya, ia bahkan pergi menuju kota di luar Iran untuk
memenuhi dahaga akan ilmu. Tak heran jika ia memiliki ratusan guru dan mendapatkan
beragam ilmu dari gurunya itu. Pada masanya, ia pun kerap kritis dengan perilaku agama
yang dilaksanakan masyarakat. Ia menganggap bahwa perilaku keagamaan mereka hanya
menekankan ritual keagamaan. Tak heran jika Bayazid merasa bahwa aplikasi keagamaan
yang ditunaikan oleh orang-orang di zamannya dirasakan sebagai hal yang superficial
dan hipokrit.

Karena semuanya hanya ditujukan untuk keselamatan individual di dunia dan di akhirat
kelak, bagi Bayazid, perilaku keagamaan yaang konvensional seperti itu hanya untuk
memenuhi kepentingan sendiri dan ego. Padahal menurutnya memperturutkan ego justru
malah bertentangan dengan Tuhan. Hal inilah yang kemudian mendorong Bayazid Al-
Bustami selama bertahun-tahun mendisiplinkan diri untuk menata ego dan nafs hingga
nafs yang ia miliki telah menjelma menjadi cermin baginya.

Sampai suatu hari, ia merasakan bahwa dirinya merasa ujub, merasa lebih besar
dibandingkan orang lain. Maka ia pun berkemas diri dan menuju ke Kota Khorasan. Ia
tinggal di sebuah tempat berteduh dan berjanji kepada dirinya sendiri tak akan
meninggalkan tempat itu sampai mendapatkan teguran dari Allah. Pada hari keempat ia
melihat seorang pengendara unta menuju ke arahnya. Sebuah pikiran melayang dalam
benaknya bahwa ia bisa menghentikan unta tersebut di tempat ia berada.

Melihat ke arah Bustami, pengendara unta itu berkata, 'Jangan menghancurkan Bastam
dan Bayazid secara bersamaan.'' Ia terpana dan menanyakan dari mana orang tersebut
datang. Kemudian dijawab bahwa ia datang dari tempat yang mengeluarkan janji (hati).
Sebelum meninggalkan Bayazid, orang itu pun berkata, ''Bayazid jaga dan lindungilah
hatimu.'' Bayazid tak pernah melupakan peristiwa itu. Dalam kajian tasawuf, Bayazid
mengenal tasawuf dari seorang India, Abu Ali as-Sindi, yang mengajarinya ajaran al-fana
fi at-tauhid (keluluhan dalam tauhid).

Salah satu perkataan Bayazid yang menunjukkan kecenderungannya dalam tasawuf


adalah, "Aku telah mengetahui Allah melalui Allah dan aku telah mengetahui hal ihwal
selain Allah dengan cahaya Allah." Ia juga menyatakan bahwa jika Allah mencintai
hamba-Nya, Dia akan menjamin tiga tanda sebagai bukti cinta-Nya : Kekayaan seperti
kayanya samudra, kemurahan seperti murahnya matahari memberikan sinarnya, dan

22
keindahan seperti indahnya bumi. Dalam keluluhannya itulah kemudian Bayazid terkenal
dengan istilah ittihad, yang berarti bersatunya sufi dengan Tuhan.

Bayazid juga kerap disebut sebagai salah satu sufi Shatta, sufi yang terpesona dengan
cinta yang bersifat ketuhanan dan percaya terjadinya peleburan antara dirinya dengan
Tuhan. Laiknya Al-Hallaj dengan perkataannya, anna al-haq (aku adalah kebenaran),
Bayazid juga terkenal "Maha suci aku, maha suci aku, alangkah maha agungnya aku."
Tak pelak kemudian paham Bayazid ini mendapatkan kecaman dari ulama syariat, karena
dipandang menyesatkan.

Para ulama itu menilai ajaran Bayazid tentang ittihad adalah sesat dan menyimpang dari
syariat dan akidah serta menunjukkan penghujatan terhadap Tuhan. Ucapannya yang lain
adalah "Sesungguhnya aku adalah Allah. Tidak ada Tuhan selain aku. Maka sembahlah
aku." Secara harfiah, Bayazid dianggap kafir. Namun sebagian kalangan juga
memberikan pembelaan terhadap pandangan Bayazid. Menurutnya, ittihad yang dicapai
Bayazid adalah pengalaman spiritualnya yang diliputi perasaan bahwa dirinya bersatu
dengan Tuhan.

Dalam ittihad yang dirasakan hanya satu wujud, meskipun sebenarnya ada dua wujud
yang berbeda, yaitu sang sufi dan Tuhan. Pada tingkat ini, sang sufi kehilangan kesadaran
tentang dirinya sendiri dan segala sesuatu selain Tuhan. Sehingga yang tersisa hanyalah
kesadaran tentang Tuhan. Paham ini tetap mempertahankan perbedaan antara Tuhan dan
manusia. Sebuah percakapan Bayazid dengan muridnya, menunjukkan dengan jelas
bahwa ia penganut paham al fana fi at tauhid.

Salah satu pengikut Bayazid Al-Bustami adalah Zhun Nun al-Misri. Ketika Bayazid
menanyakan siapa yang dicarinya, Zhun Nun menjawab bahwa ia mencari Bayazid.
Bayazid pun mengatakan bahwa selama empat puluh tahun hingga bertemu Zhun Nun,
belum menemukan dirinya. Dari perkataan tersebut, Zhun Nun menyatakan bahwa
gurunya telah kehilangan dirinya karena melebur di dalam cinta Allah. Itulah yang
menyebabkan mengapa ia mencoba menemukan dirinya kembali.

Dalam buku Kashf al-Mahjub karya Hujwiri, diceritakan bahwa Bayazid pergi ke
Makkah untuk menunaikan ibadah haji berbekal rasa ingin tahu yang tinggi serta niat
sepenuh hati. Hanya satu hal yang ia ingin capai, dapat melihat Allah. Namun ketika tiba
di baitullah, ia pun kecewa karena hanya menyaksikan sebuah bangunan dari batu dan
lempung. Sejak itu ia bertekad untuk terus menunaikan ibadah haji ke Makkah hingga
melihat Tuhan.

Setelah perjalanan ketiganya kemudian terpikir bahwa ia melihat Tuhan dan melebur
dengan dirinya. Meski dengan pertentangan mengenai ajaran yang ia tinggalkan, banyak
sarjana Muslim yang mengaku bahwa Bayazid telah menorehkan warna dalam khazanah
Islam dan menganggapnya sebagai guru. Di antaranya adalah Ibn Taymiyya yang
menyatakan bahwa Bayazid adalah gurunya. Bayazid, katanya, tak akan menyatu dengan
sesuatu kecuali dengan Tuhan dan tak meminta kecuali kepada Tuhan.

23
Ia pun mengutip perkataan sang sufi "Aku tak menginginkan apa yang tak diinginkan
Tuhan." Bayazid mempertahankan pendiriannya meski beberapa kali ia harus mengalami
pengusiran dari kota kelahirannya. Pada usia 70 tahun, 875 M, di Bastam, kota
kelahirannya, Bayazid Al-Bustami menghembuskan nafas yang terakhir. Ia hingga kini
dianggap sebagai peletak dasar ajaran sufi dan menjadi sufi pada masa awal

Ibnu Sina Hingga Abdus Salam

Dalam perjalanan sejarah Hadiah Nobel sepanjang sekitar 100 tahun, baru ada empat
Muslim yang mendapatkan anugerah itu. Mereka adalah almarhum Presiden Mesir
Anwar Sadat, sastrawan Mesir Najib Mahfudz, lmuwan Pakistan Abdus Salam, dan
terakhir ilmuwan asal Mesir yang menetap di AS, Ahmad Zuwaeli asal Mesir. Dua yang
pertama mendapatkah Penghargaan Nobel di bidang perdamaian dan sastra. Sedangkan
Abdus Salam di bidang fisika dan Zuwaeli--yang juga hafiz Quran--di bidang kimia pada
2000.

Hadiah Nobel adalah penghargaan yang diberikan oleh Alfred Nobel (1833-1896) sejak
tahun 1901 untuk lima bidang: fisika, kimia, kedokteran, sastra, dan perdamaian. Pada
1968 bertambah lagi satu bidang, yaitu ekonomi. Penghargaan Nobel, terutama di bidang
ilmu pengetahuan, diberikan kepada seorang ilmuwan atas penemuan yang dinyatakan
sangat bermanfaat bagi kemanusiaan dalam bidangnya masing-masing.

Jauh sebelum Abdus Salam dan Zuwaeli, sekitar 9 atau 10 abad lalu, dunia Islam
sebenarnya sudah mempunyai ilmuwan-ilmuwan besar, bahkan mungkin lebih besar dari
mereka yang pernah mendapatkan Hadiah Nobel. Mereka antara lain: Al-Kindi (pendiri
psikofisik), Al-Khawarizmi (bapak aljabar dan geografi), Abu Al-Zahrawi (penemu acuan
gips modern), Abu Said Al-Sijzi (penemu sistem heliosentrik dan pendahulu Galileo),
Ibnu Haitham (penemu teknik fotografi dan energi solar), Ibnu Sina (bapak ilmu
kedokteran modern), Al-Ghazali (penemu pusat paru jantung), Ibnu Rusyd (perintis ilmu
jaringan tubuh), Ibnu Nafis (penemu peredaran darah paru-paru), dan Ibnu Khaldun
(bapak sosiologi dan politik).

Berikut profil singkat di antara para ilmuwan Muslim itu beserta penemuan-penemuan
mereka:

IBNU SINA

24
Nama lengkapnya Abu Ali Al-Husain Ibnu Abdullah Ibnu Sina. Lahir pada 980 di Ifsyia
Karmitan, Asia Tengah, dan wafat pada 1037. Pada usia 10 tahun, ia sudah hafal Alquran.

Ibnu Sina dikenal sebagai the faher of doctors (bapak kedokteran). Selain kedokteran, ia
juga menguasai fisika, matematika, astronomi, sejarah, dan filsafat dan kedokteran.

Sebagai dokter, ia lebih suka tindakan preventif daripada kuratif dan selalu menguatkan
aspek spiritual dan fisik pasien secara simultan dalam pengobatannya. Bahwa temperatur,
makanan, minuman, limbah, udara, keseimbangan gerak dan fikiran, tidur dan kerja
mempengaruhi kesehatan, itu semua terbukti, dan sekarang menjadi masalah lingkungan
yang utama.

Katanya, udara yang terkontaminasi uap dari rawa, danau, saluran drainase, asap atau
jelaga dapat membahayakan kesehatan. Kini diketahui, gas itu adalah hasil proses
anaerobik air limbah yakni CH4 (metana), H2S dan NH3.

Dari sejumlah risalah kesehatannya, Ibnu Sina punya dua teori segitiga pengobatan.
Pertama, Triangular Theory of Islamic Medicine yang menyatakan kaitan antara Allah,
manusia, dan pengobatan. Teori kedua, adanya 'hubungan antara badan, fikiran, dan
semangat' pada kesehatan manusia.

Topik artikelnya yang lain adalah tentang penyakit jantung yang ada di dalam Kitab
Adwiyat al-Qalbiyah (risalah obat untuk sakit jantung). Kitab ini diterjemahkan Arnold of
Villanova dengan judul De Viribus Cordis di Spanyol. Karya lainnya, Urjuzah fit Tibb,
sebuah manual medis, dibahasalatinkan oleh Armengaud Blasius (meninggal tahun 1312)
menjadi Cantica di Montpellier, Perancis. Termasuk, risalah penyakit malaria yang
diadopsi sembilan abad kemudian oleh Prof Wagner von Jauree dari Vienna sehingga
menerima Nobel bidang fisiologi tahun 1927.

Karya medis pemilik magnum opus untuk buku al-Qanun fit Tibb atau Canon of
Medicine ini, menurut MS Khan, ada sekitar 48 buah dalam bentuk buku dan risalah,
sebagian menyatakan mencapai ratusan judul.

JABIR IBNU HAYYAN

Jabir ibnu Hayyan (721-815 H) di Barat dikenal dengan nama Geber. Sampai akhir abad
17, ia -- bersama dengan Zakaria Razi -- sangat menonjol sebagai ahli kimia termasyhur
yang dihasilkan abad pertengahan. Anak seorang penjual obat di Kufah (Irak) ini juga
merupakan seorang sufi.

Dalam penemuannya, Jabir membuat instrumen pemotong, peleburan dan pengkristalan.


Ia menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi,
pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi,
dan oksidasi-reduksi. Jabir pula menyiapkan tekniknya, mirip semua 'technique' kimia

25
modern. Ia membedakan antara penyulingan langsung yang memakai bejana basah dan
tak langsung yang memakai bejana kering. Dia pula yang pertama mengklaim bahwa air
hanya dapat dimurnikan melalui proses penyulingan.

Khusus menyangkut fungsi dua ilmu dasar kimia, yakni kalsinasi dan reduksi, Jabir
menjelaskan, untuk mengembangkan kedua dasar ilmu itu, pertama yang harus dilakukan
adalah mendata kembali dengan metoda-metoda yang lebih sempurna, yakni metoda
penguapan, sublimasi, destilasi, penglarutan, dan penghabluran. Setelah itu,
memodifikasi dan mengoreksi teori Aristoteles mengenai dasar logam, yang tetap tidak
berubah sejak awal abad ke-18 M. Dalam setiap karyanya, Jabir melaluinya dengan
terlebih dahulu melakukan riset dan eksperimen.

Dalam bidang kimia, karya Jabir ibnu Hayyan mencapai lebih 500 buah, tapi hanya
beberapa yang sampai pada zaman Renaissance. Di antara bukunya yang terkenal adalah
Al Hikmah Al Falsafiyah, diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul Summa
Perfectionis.

Dalam buku ini, antara lain dikemukakan reaksi kimia: ''Air raksa (merkuri) dan belerang
(sulfur) bersatu membentuk satu produk tunggal, tetapi adalah salah menganggap bahwa
produk ini sama sekali baru dan merkuri serta sulfur berubah keseluruhannya secara
lengkap. Yang benar adalah bahwa keduanya mempertahankan karakteristik alaminya,
dan segala yang terjadi adalah sebagian dari kedua bahan itu berinteraksi dan bercampur
sedemikian rupa sehingga tidak mungkin membedakannya secara seksama.''

''Jika dihendaki memisahkan bagian-bagian terkecil dari dua kategori itu oleh instrumen
khusus, maka akan tampak bahwa tiap elemen (unsur) mempertahankan karakteristik
teoretisnya. Hasilnya adalah suatu kombinasi kimiawi antara unsur yang terdapat dalam
keadaan keterkaitan permanen tanpa perubahan karakteristik dari masing-masing unsur.''

Ide-ide eksperimen Jabir itu sekarang lebih dikenal/dipakai sebagai dasar untuk
mengklasifikasikan unsur-unsur kimia, utamanya pada bahan metal, nonmetal dan
penguraian zat kimia.

IBNU KHALDUN

Bernama lengkap Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Al
Hasan bin Jabir bin Muhammad bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Ibn Khaldun, pemikir
(1332-1406) kelahiran Tunisia ini dikenal sebagai bapak sosiologi dan politik. Al
Muqaddimah merupakan karya monumental pertama yang memuat prinsip-prinsip
politik, strata suatu masyarakat, dan teori dissintegrasi.

Dalam karyanya itu, Khaldun memetakan masyarakat dengan interaksi sosial, politik,
ekonomi, dan geografi yang melingkupinya. Pendekatan ini dianggap menjadi terobosan
yang sangat signifikan. Menurutnya, organisme dapat tumbuh dan matang, karena sebab-
sebab nyata yang mempengaruhinya. Pengaruh itu universal dan pasti. Tak ada kebetulan

26
dalam sejarah sosial kecuali sebab dan akibatnya semata, sebagian jelas dan diketahui,
sebagian lagi tidak.

Formasi masyarakat, tulisnya, sebagai hasrat manusia untuk berkumpul, bersaing, lalu
memperebutkan kepemimpinan. Mereka diikat dengan solidaritas ashabiyah (ungkapan
pra-Islam) yang diarahkan oleh para pimpinannya. Ia memperkirakan bahwa solidaritas
itu berlangsung empat generasi. Model ini menempatkan Ibn Khaldun sebagai penganut
teori siklus sejarah. Masyarakat lahir, tumbuh, berkembang, lalu mati untuk diganti
dengan yang lain. Demikian seterusnya.

Al Muqaddimah juga mengupas asal muasal suatu masyarakat, lahirnya kota dan desa,
dan sebagainya. Karya emasnya itu hingga kini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa,
termasuk Indonesia.

ABDUS SALAM

Abdus Salam (1926-1996) merupakan ilmuwan Muslim pertama yang mendapatkan


Hadiah Nobel (bidang fisika/1979). Meraih gelar doktor di usia sangat muda, 26 tahun,
dari Cambridge University, Inggris, Salam aktif melakukan penelitian di bidang fisika.
Dari penelitiannya, ia berhasil merumuskan teori neutrino pada umur 31 tahun.

Sebelum ini terungkap, ada empat macam gaya fundamental di jagat raya yang jarak
kerja serta kekuatannya berbeda satu sama lainnya, yakni: gaya gravitasional (gaya
terlemah dan berjarak paling jauh), gaya elektromagnetik (lebih kuat dari gravitasional),
gaya nuklir jenis kuat atau gaya inti yang mengikat proton dan neutron dalam inti atom,
dan gaya nuklir jenis lemah. Gaya nuklir jenis lemah dan kuat menjamin keselarasan
gerak zarah-zarah (partikel) penyusun inti atom dan kemantapan zarah itu sendiri.

Hasil penelitian Abdus Salam memberi indikasi kuat bahwa, pada dasarnya tidak ada
perbedaan yang terlalu prinsipil antara gaya nuklir dan kelistrikan. Bentuk energi nuklir
jenis lemah sebenarnya identik dengan bentuk energi elektromagnetik. Kebenaran hasil
penelitian Salam ini didukung oleh hasil eksperimen laboratorium Riset Eropa di Genewa
pada 1973 tentang adanya interaksi 'arus netral' yang merupakan bagian pokok dari
prediksi teori penemuan Abdus Salam, yaitu 'teori medan terpadu'. Pada 1978,
eksperimen di Pusat Akselerator Linier, Stanford, Amerika, memperkuat hasil penemuan
Salam. [republika.co.id]
Ibn Al-Nafis

Di bangku sekolah menengah, kita telah mengenal bagaimana darah yang ada di dalam
jantung mengalir. Dari bilik kanan jantung mengalir ke bilik kiri jantung melalui
pembuluh darah. Teori ini telah berkembang lama di dunia kedokteran dan menjadi
kebenaran yang dianut dalam dunia kedokteran modern dewasa ini. Namun tak banyak
yang tahu, siapa yang pertama kali yang mengemukakan teori tersebut. Dia adalah Ibn
Al-Nafis yang dikenal sebagai dokter juga ahli hukum Islam.

27
Nama lengkapnya adalah Ala-al-Din Abu al-Hasan Ali Ibn Abi al-Hazm al-Qarshi al-
Dimashqi, yang karib dipanggil Ibn Al-Nafis. Ia dilahirkan di Damaskus, Irak, pada 1213
M. Masa kecilnya ia habiskan di Damaskus hingga ia menempuh pendidikan dalam
bidang kedokteran di Medical College Hospital (Bimaristan Al-Noori) di bawah
bimbingan Muhaththab al-Din Abd al-Rahim. Selain itu, ia pun mempelajari hukum
Islam. Makanya di kemudian hari selain terkenal sebagai dokter ia juga dikenal sebagai
pakar hukum Islam bermazhab Syafi'i. Setelah menyelesaikan studinya di bidang
kedokteran dan hukum Islam di Damaskus, pada 1236, Nafis meninggalkan tanah
kelahirannya menuju Kairo, Mesir. Di sana, ia belajar di Rumah Sakit Al-Nassri.

Prestasinya yang gemilang membuat ia ditunjuk sebagai direktur di rumah sakit tersebut.
Sejumlah dokter spesialis di Kairo juga mendapatkan sentuhannya, termasuk Ibn al-Quff
al-Masihi, yang di kemudian hari dikenal sebagai dokter bedah terbaik di Kairo. Al-Nafis
dapat dikatakan sebagai dokter yang bekerja secara integral karena ia terus mempelajari
ilmu kedokteran, dan memperkayanya melalui berbagai observasi yang ia lakukan. Hal
inilah yang membuat namanya menjulang dalam perkembangan ilmu kedokteran baik di
Timur maupun Barat. Ia menjadi orang pertama yang menerangkan secara tepat hal ihwal
paru-paru serta memberikan gambaran mengenai saluran pernafasan juga interaksi antara
saluran udara dengan darah dalam tubuh manusia.

Ia memaparkan secara jelas pula mengenai fungsi pembuluh arteri dalam jantung sebagai
pemasok darah bagi otot jantung (Cardiac Musculature). Penemuannya mengenai
peredaran darah paru merupakan penemuan yang menarik dan topik yang penuh
perdebatan. Al-Nafis memberikan pengaruh besar bagi perkembangan ilmu kedokteran
Eropa pada abad ke-16. Di antara dokter terkenal yang terpengaruh dan terinspirasi oleh
pendapat Al-Nafis adalah Sarveratus, Colombo, serta Harvey. Jasa Al-Nafis dalam dunia
kedokteran diungkap lagi pada 1924. Saat itu, seorang dokter asal Mesir, Dr. Muhyo Al-
Deen Altawi, menemukan sebuah catatan yang bertajuk Commentary on the Anatomy of
Canon of Avicenna di perpusatakaan negara Prussian, Berlin.

Pada saat itu, ia tengah belajar sejarah pengobatan Arab di Fakultas Kedokteran, Albert
Ludwigs University, Jerman. Muhyo menyatakan bahwa catatan tersebut merupakan
salah satu karya ilmiah terbaik, buah pikiran Al-Nafis mengenai anatomi, patologi, dan
fisiologi. Karya tersebut, mengungkap sebuah fakta ilmiah penting yang kemudian
diabaikan begitu saja, yaitu gambaran tentang peredaran darah paru. Muhyo
mengungkapkan teori yang diterima sebelum penemuan besar Ibn Al-Nafis, mengenai
peredaran darah paru, adalah teori yang dilontarkan oleh Galen pada abad kedua. Teori
tersebut menerangkan bahwa darah mengalir dari bilik kanan jantung melalui pori-pori
yang terdapat pada katup jantung ke bilik kiri jantung.

Dalam teorinya, Galen juga menyebutkan bahwa sistem pembuluh vena terpisah dari
sistem pembuluh arteri kecuali terjadi kontak antara keduanya melalui pori-pori. Al-Nafis
meyakini bahwa darah yang berasal dari bilik kanan jantung harus mengalir ke bilik kiri
jantung namun tak ada penghubung antara dua bilik tersebut. Katup jantung tak
berlubang dan berpori baik yang terlihat maupun tak terlihat seperti teori yang
dikemukakan Galen. Nafis menambahkan bahwa darah dari bilik kanan jantung mengalir

28
melalui pembuluh arteri ke paru-paru. Kemudian darah itu bercampur dengan udara dan
mengalir melalui pembuluh vena ke bilik kiri jantung dan membentuk spirit vital. Di
bagian lain, Al-Nafis mengajukan sebuah postulat meski dalam dunia kedokteran apa
yang ia lontarkan tersebut jarang sekali dibicarakan.

Ia menyatakan bahwa nutrisi bagi jantung diesktrak dari pembuluh darah yang melalui
dinding-dinding jantung. Hal ini ia katakan untuk menepis pendapat Ibn Sina yang
menyatakan nutrisi bagi jantung berasal dari darah yang berada di bilik kanan jantung.
Justru nutrisi jantung diperoleh dari darah yang mengalir melalui pembuluh darah yang
merembes ke badan jantung. Dengan postulatnya ini, Ibn Al-Nafis meletakkan konsep
dasar peredaran darah jantung. Namun kegemilangan Al-Nafis dalam bidang kedokteran
ini belum dikenal selain di kawasan Arab. Baru tiga abad setelah itu, Eropa mengenal
penemuan-penemuan besar dalam bidang kedokteran melalui terjemahan tulisan-tulisan
Al-Nafis dalam bahasa latin oleh Andrea Alpago pada 1547.

Tak lama kemudian, tepatnya pada 1553, Michael Servetus memaparkan tentang
peredaran darah paru itu dalam buku teologinya yang berjudul Christianismi Restitutio.
Andreas Vesalius menjelaskan tentang konsep peradaran darah paru dalam bukunya, De
Fabrica, dengan cara yang sama dengan Ibn Al-Nafis. Sebuah penelitian yang menarik
menunjukkan bahwa pada edisi pertama bukunya, 1543, Vesalius sependapat dengan
Galen. Ia menuliskan bahwa darah mengalir melalui sekat jantung dari bilik kanan ke
bilik kiri jantung. Dan pada edisi keduanya, 1555, ia menyangkal tulisannya itu sebagai
gantinya ia berpendapat bahwa dirinya tidak melihat bagaimana darah dalam kuantitas
kecil dapat ditransfer melalui saluran tertentu yang ada pada sekat jantung dari bilik
kanan ke bilik kiri jantung. Penjelasan lain yang sama dengan penjelasan Ibn Al-Nafis
diberikan oleh Realdus Colombo pada 1559 dalam bukunya, De re Anatomica.

Kemudian pada 1628, William Harvey, mendemonstrasikan hal tersebut dengan observasi
anatomik binatang dalam laboratorium mengenai gerakan darah dari bilik kanan ke paru-
paru dan kembalinya darah dari bilik kiri jantung melalui pembuluh vena dan ia
menegaskan bahwa ia tak dapat menemukan pori-pori apapun yang terdapat pada sekat
tebal tersebut. Karya lain Al-Nafis adalah Kitab al-Mukhtar fi al-Aghdhiya, yang
mengupas tentang efek diet bagi kesehatan. Selain itu, juga Kitab al-Shamil fi al-Tibb,
semula ia rencanakan menjadi sebuah ensiklopedia yang terdiri dari 300 jilid, tapi
terhenti di tengah jalan karena Al-Nafis wafat. Sebelum Ibn Al-Nafis menghembuskan
nafas terakhirnya, pada 1288, ia menghibahkan perpustakaan dan kliniknya untuk Rumah
Sakit

Ibn Haitham

Islam sering kali mendapat stigma sebagai agama yang terbelakang. Padahal, kontribusi
ilmuwan Islam bagi dunia ilmu pengetahuan tidaklah sedikit. Ibn Haitham contohnya.
Sejarah optik mencatat, dialah bapak ilmu optik yang mengurai bagaimana kerja mata
'mencerna' penampakan suatu obyek. Nama lengkap ilmuwan ini Abu Al Muhammad al-
Hassan ibnu al-Haitham.

29
Publik Barat mengenalnya sebagai Alhazen. Dia lahir di Basrah pada tahun 965 Masehi.
Awal pendidikan didapatkan di Basrah sebelum dilantik menjadi pegawai pemerintah di
kota kelahirannya itu. Namun ia tidak sreg dengan kehidupan birokrat. Ia pun
memutuskan keluar untuk kemudian merantau ke Ahwaz dan Baghdad. Di perantauan, ia
mengasah otaknya dengan beragam ilmu. Kecintaannya kepada ilmu membawanya
berhijrah ke Mesir. Di negeri ini, ia melakukan penelitian mengenai aliran dan saluran
Sungai Nil serta menyalin buku-buku tentang matematika dan ilmu falak.

Tujuannya adalah untuk mendapatkan uang tambahan dalam meneruskan pendidikannya


di Universitas al-Azhar. Belajar yang dilakukannya secara otodidak justru membuatnya
menjadi seorang yang mahir dalam bidang ilmu pengetahuan, ilmu falak, matematika,
geometri, pengobatan, dan filsafat. Tulisannya mengenai mata, telah menjadi salah satu
rujukan penting dalam bidang penelitian sains di Barat. Malahan kajiannya mengenai
pengobatan mata telah menjadi asas bagi kajian dunia modern mengenai pengobatan
mata. Penelitiannya mengenai cahaya telah memberikan ilham kepada ahli sains Barat
seperti Boger, Bacon, dan Kepler menciptakan mikroskop serta teleskop. Dialah orang
pertama yang menulis dan menemukan pelbagai data penting mengenai cahaya.

Beberapa buah buku mengenai cahaya yang ditulisnya telah diterjemahkan ke dalam
bahasa Inggris, antaranya adalah Light dan On Twilight Phenomena. Kajiannya banyak
membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta
bayang-bayang dan gerhana. Menurut Ibnu Haitham, cahaya fajar bermula apabila
matahari berada di garis 19 derajat ufuk timur. Warna merah pada senja akan hilang
apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk barat. Dalam kajiannya, beliau juga
berjaya menghasilkan kedudukan cahaya seperti bias cahaya dan pembalikan cahaya.

Ibnu Haitham juga turut melakukan percobaan terhadap kaca yang dibakar dan dari situ
tercetuslah teori lensa pembesar. Teori itu telah digunakan oleh para saintis di Itali untuk
menghasilkan kaca pembesar pertama di dunia. Yang lebih menakjubkan ialah Ibnu
Haitham telah menemukan prinsip isi padu udara sebelum seorang ilmuwan bernama
Tricella mengetahui hal tersebut 500 tahun kemudian. Ibnu Haitham juga telah
menengarai perihal gaya gravitasi bumi sebelum Issac Newton mengetahuinya. Selain itu,
teori Ibnu Haitham mengenai jiwa manusia sebagai satu rentetan perasaan yang
bersambung secara teratur telah memberikan ilham kepada ilmuwan Barat untuk
menghasilkan tayangan gambar.

Teorinya telah membawa kepada penemuan film yang kemudiannya disambung-sambung


dan dimainkan pada para penonton sebagaimana yang dapat kita tonton pada masa kini.
Selain sains, Ibnu Haitham juga banyak menulis mengenai filsafat, logika, metafisika,
dan persoalan yang berkaitan dengan keagamaan. Beliau turut menulis ulasan dan
ringkasan terhadap karya-karya sarjana terdahulu. Penulisan filsafatnya banyak tertumpu
kepada aspek kebenaran dalam masalah yang menjadi pertikaian. Padanya pertikaian
mengenai sesuatu perkara bermula dari pendekatan yang digunakan dalam mengenalinya.
Dia juga berpendapat bahwa kebenaran hanyalah satu. Oleh sebab itu semua dakwaan
kebenaran wajar diragukan dalam menilai semua pandangan yang ada.

30
Pandangannya mengenai filsafat amat menarik untuk dikaji hingga saat ini. Bagi Ibnu
Haitham, filsafat tidak dapat dipisahkan dari ilmu matematika, sains, dan ketuhanan.
Ketiga bidang dan cabang ilmu ini harus dikuasai. Dan untuk menguasainya seseorang
perlu menggunakan waktu mudanya dengan sepenuhnya. Apabila umur makin
meningkat, kekuatan fisikal dan mental akan turut mengalami kemerosotan. Ibnu
Haitham membuktikan dirinya begitu bergairah mencari dan mendalami ilmu
pengetahuan pada usia mudanya. Banyak buku yang dihasilkannya dan masih menjadi
rujukan hingga saat ini.

Di antara buku-bukunya itu adalah Al-Jami' fi Usul al-Hisab yang mengandung teori-teori
ilmu matemetika dan matemetika penganalisaan; Kitab al-Tahlil wa al-Tarkib mengenai
ilmu geometri; Kitab Tahlil al-Masa'il al-'Adadiyah tentang aljabar; Maqalah fi Istikhraj
Simat al-Qiblah yang mengupas tentang arah kiblat; Maqalah fima Tad'u llaih mengenai
penggunaan geometri dalam urusan hukum syarak; dan Risalah fi Sina'at al-Syi'r
mengenai teknik penulisan puisi. Walaupun menjadi orang terkenal di zamannya, namun
Ibnu Haitham tetap hidup dalam kesederhanaan. Ia dikenal sebagai orang yang miskin
materi tapi kaya ilmu pengetahuan. (yus)[republika.co.id]
Ibn Miskawayh

Abad kesepuluh masehi menjadi periode gemilang dalam perkembangan peradaban


Islam. Pada masa itu, para intelektual Muslim telah sampai pada puncak kematangan
pemikiran dan berbagai ide. Bahkan beragam ide yang berasal dari tradisi intelektual di
luar Islam, khususnya filsafat Yunani.

Apalagi kala itu, pada saat Dinasti Abasid berkuasa, gencar melakukan translasi atau
penerjemahaan karya-karya dari berbagai bidang ilmu ke dalam bahasa Arab. Tak ayal
jika banyak Dar al-Ilm (semacam perpustakaan umum) didirikan. Bukan hanya di pusat
pemerintahan, Baghdad, tetapi juga di Kairo, Kordoba, dan di belahan dunia Islam
lainnya.

Tak hanya perpustakaan umum yang tumbuh bak cendawan di musim hujan,
perpustakaan pribadi juga banyak bermunculan. Mudahnya akses ke berbagai
pengetahuan ini tak heran membuat banyak kalangan yang membuat majelis kajian untuk
berdiskusi mengenai hal ihwal agama, filsafat maupun bidang lainnya.

Pada masa seperti inilah kemudian muncul seorang intelektual Muslim terkemuka dalam
bidang etika, bernama Abu Ali Ahmad bin Muhammad bin Yaqub Miskawayh atau lebih
dikenal Ibn Miskawayh. Ia lahir pada 940 M di Rayy, sebuah kota yang berada di Iran.
Hingga beranjak dewasa, ia habiskan waktunya di tanah kelahirannya.

Kemudian Ibn Miskawayh meninggalkan kota kelahirannya menuju Baghdad, Irak. Ia


bekerja sebagai pustakawan di perpustakaan umum pada masa pemerintah dinasti Abasid.
Ia bekerja di sana hingga beberapa kali pergantian kekuasaan terjadi. Perpustakaan bagi
dirinya merupakan sekolah yang membuatnya mampu berinteraksi dengan berbagai ilmu
pengetahuan.

31
Ia secara tekun dan serius melakukan kajian di bidang filsafat, sejarah dan kedokteran,
bahkan kimia. Di antara kajian yang menjadi perhatian utamanya adalah filsafat Yunani
dan sejarah. Kedua kajian inilah di kemudian hari mengantarnya menjadi intelektual yang
mengagumkan dalam kedua bidang tersebut.

Seperti ilmuwan yang hidup di zamannya, Ibn Misakawayh mempelajari filsafat dan
sejarah sebagai alat untuk menemukan kebanaran. Namun, ia lebih memberi tekanan
kepada kajian filsafat terutama filsafat etika. Ia merumuskan langkah bagaimana
membangun moral yang sehat serta menguraikan cara-cara membangun jiwa yang
harmonis.

Di kemudian hari ia lebih dikenal sebagai seorang Islam humanis. Pasalnya ia memiliki
kecenderungan agar Islam dapat masuk ke dalam sistem praktik rasional yang lebih luas
pada semua ranah kemanusiaan. Dengan kajian filsafat Yunani ia kemudian terpengaruh
oleh pemikiran Neoplatonisme baik pada sisi teori maupun praktik.

Label humanis bagi Ibn Miskawayh juga disematkan oleh kalangan pemikir Muslim,
misalnya, Mohamed Arkoun pada 1969 menyematkan label terhadap dirinya sebagai
seorang humanis. Namun hal ini dilihat dalam sudut pandang tradisi intelektual Islam,
bukan dalam tradisi intelektual humanisme Eropa.

Dalam kajian filsafat etika, Ibn Miskawayh menelurkan karya monumental yaitu Tahdib
al-Akhlaq (pembinaan akhlak). Dalam kitab yang terdiri atas tujuh bagian ini, secara
umum ia membicarakan bagaimana seseorang dapat mencapai kebahagiaan tertinggi
melalui moral yang sehat.

Hal ini menggambarkan bagaimana berbagai bagian jiwa diharmonikan untuk mencapai
kebahagiaan. Ini adalah peran filsuf moral atau etika memberikan resep bagi kesehatan
moral yang berpijak pada kombinasi pengembangan intelektual dan praktik keseharian.

Pada bagian awal dalam kitabnya, ia membicarakan tentang jiwa dan sifat-sifatnya.
Seseorang akan mampu menggapai kebahagiaan hidup jika ia mampu menciptakan
kebahagiaan moral dengan memenuhi sifat-sifat jiwa. Di antaranya adalah kedahagaan
jiwa terhadap asupan ilmu.

Ibn Miskwayh memandang bahwa ilmu akan menuntun manusia untuk tak hanya
bergantung kepada hal yang bersifat materi. Selanjutnya akan membuat manusia
memiliki kebijaksanaan dalam meniti hidup yang akhirnya menjadikannya sebagai
manusia yang sempurna. Itulah, kata Miskawayh, salah satu sifat yang dimiliki oleh jiwa.

Dalam penjelasan berikutnya, ia menguraikan tentang jenis kebahagiaan dan sifat-sifat


yang dimilikinya. Dalam pandangannnya, setiap manusia mampu mencapai setiap jenis
kebahagiaan dengan cara memenuhi sifat-sifat kebahagiaan itu. Ada dua hal yang dapat
mempengaruhi manusia dalam mencapai kebahagiaan itu, yaitu kondisi eskternal dan
internal dirinya.

32
Kondisi internal yang mempengaruhi pemikiran dan arah moral seseorang adalah
kesehatan tubuh dan bagaimana kemampuan dirinya mengendalikan temperamen.
Sedangkan kondisi eskternal adalah keadaan yang terkait dengan hubungan dirinya
dengan orang lain serta lingkungan di sekitarnya. Di dalamnya termasuk, teman
sepergaulan, anak-anaknya dan kesejahteraan dirinya.

Kedua kondisi inilah yang kemudian memperkaya jiwanya dalam mencapai kebahagiaan
dirinya. Selain Tahdib al-Akhlaq, ia juga menulis kitab yang bertajuk Jawidan Khirad
(hikmah yang tak lekang waktu) dan Tartib as-Saadah (kaidah kebahagiaan). Karya-karya
tersebut mendapatkan pujian besar dari para ilmuwan barat dan dianggap sebagai karya
yang dapat disejajarkan dengan Nicomachean Ethics karya Aristoteles.

Ia juga menuliskan karya lain di bidang etika yaitu al-Fauz al-Akbar (kemenangan besar),
al-Fauz al-asghar (kemenangan kecil) dianggap sebagai karya filsafat yang sejajar dengan
karya Al-Farabi, Arau Ahl al-madinah (pikiran penduduk kota). Kemudian Ajwibah wa
al-Asilah fi an-Nafs wa al-Aql as-Siyar (tentang aturan hidup) dan Taharat an-Nafs (suci
dari nafsu).

Sementara itu, dalam kajian sejarah Ibn Miskawayh menelurkan pula karya monumental.
Salah satu karyanya adalah Tajarib al-Umam (pengalaman bangsa-bangsa), dianggap
karyanya yang terbaik dalam bidang sejarah. Meski tak banyak, dalam bidang kedokteran
ia menghasilkan karya yang bertajuk al-Asyribah, merupakan kajian tentang minuman
dan pengaruhnya terhadap kesehatan.

Setelah lama ia berada di Baghdad untuk belajar dan bekerja dengan berbagai karya
gemilangnya, Ibn Miskawayh kemudian kembali ke Iran, tepatnya ke Kota Isfahan.
Beberapa lama setelah kepulangan ke negerinya sendiri, Ibn Miskawayh menghembuskan
napasnya yang terakhir pada 16 Februari 1030 M dalam usia 90 tahun. [republika.co.id]
Ibnu Bajjah

Umat Islam telah sampai ke tanah Spanyol (Andalusia) semenjak zaman sahabat Rasul.
Kedatangan mereka telah berhasil mempengaruhi kehidupan masyarakat di sana
khususnya dalam bidang keilmuan. Sepanjang pemerintahan Islam di Spanyol, telah lahir
sejumlah cendikiawan dan sarjana dalam pelbagai bidang ilmu. Sebagian mereka ialah
ahli sains, matematika, astronomi, perobatan, filsafat, sastra, dan sebagainya.

Abu Bakr Muhammad Ibn Yahya al-Saigh atau lebih terkenal sebagai Ibnu Bajjah adalah
salah seorang diantara para cendekiawan Muslim tersebut. Terlahir di Saragossa tahun
1082 M, Ibnu Bajjah merupakan seorang sastrawan dan ahli bahasa yang unggul. Ia
pernah menjadi penyair bagi golongan al-Murabbitin yang dipimpin oleh Abu Bakr
Ibrahim Ibn Tafalwit.

Selain itu, Ibnu Bajjah juga ahli di bidang musik dan pemain gambus yang handal. Ia
juga seorang yang hafal Al-Qur'an. Dalam waktu yang sama, Ibnu Bajjah amat terkenal
dalam bidang perobatan dan merupakan salah seorang dokter terkenal yang pernah
dilahirkan di Andalusia.

33
Kehebatannya pun turut terlihat dalam bidang politik sehingga ia dilantik menjadi
menteri semasa Abu Bakr Ibrahim berkuasa di Saragossa. Lebih menakjubkan lagi, beliau
dapat menguasai ilmu matematika, fisika, dan falak. Pada kesempatan itu beliau banyak
menulis buku yang berkaitan dengan ilmu logika. Kemampuannya menguasai berbagai
ilmu itu menjadikannya seorang sarjana teragung bahkan tiada bandingan di Andalusia
dan barangkali di dunia Islam. Sumbangannya dalam bidang keilmuan begitu besar.

Dalam bidang filsafat umpamanya, kemampuan Ibnu Bajjah setara dengan al-Farabi
ataupun Aristoteles. Dalam bidang ini ia mengemukakan gagasan filsafat ketuhanan yang
menetapkan manusia boleh berhubungan dengan akal fa'al melalui perantaraan ilmu
pengetahuan dan pembangunan potensi manusia.

Menurut Ibnu Bajjah, manusia boleh mendekati Tuhan melalui amalan berfikir dan tidak
semestinya melalui amalan tasawuf yang dikemukakan oleh Iman al-Ghazali. Dengan
ilmu dan amalan berfikir, segala keutamaan dan perbuatan moral dapat diarahkan untuk
memimpin serta menguasai jiwa. Usaha ini dapat menumpas sifat hewaniah yang
bersarang dalam hati dan diri manusia.

Berdasarkan pendapatnya, seseorang harus mengupayakan perjuangannya untuk


berhubung dengan alam bersama-sama dengan masyarakatnya ataupun secara terpisah.
Kalau masyarakat itu tidak baik maka seseorang itu harus menyepi dan menyendiri.

Pandangan filsafat Ibnu Bajjah ini jelas dipengaruhi oleh ide-ide al-Farabi. Pemikiran
filsafatnya ini dapat diikuti dalam Risalah al-Wida dan kitab Tadbir al-Muttawwahid yang
secara umum merupakan pembelaan kepada karya-karya al-Farabi dan Ibn Sina kecuali
bagian yang berkenaan dengan sistem menyepi dan menyendiri.

Namun, ada sebagian pemikir mengatakan bahwa kitab tersebut sama dengan buku al-
Madinah al-Fadhilah yang ditulis al-Farabi. Dalam buku itu, al-Farabi menjelaskan
pandangan beliau mengenai politik dan falsafah. Semasa membicarakan tentang politik,
al-Farabi telah mencadangkan supaya sebuah negara kebajikan yang diketuai oleh ahli
filsafat diwujudkan.

Satu persamaan yang kentara antara al-Farabi dengan Ibnu Bajjah ialah kedua-duanya
meletakkan ilmu mengatasi segala-galanya. Mereka hampir sependapat bahwa akal dan
wahyu merupakan satu hakekat yang padu. Upaya untuk memisahkan kedua-duanya
hanya akan melahirkan sebuah masyarakat dan negara yang pincang.

Oleh sebab itu, akal dan wahyu harus menjadi dasar dan asas pembinaan sebuah negara
serta masyarakat yang bahagia. Ibnu Bajjah berpendapat bahwa akal boleh menyebabkan
manusia mengenali apa saja kewujudan benda atau Tuhan. Akal boleh mengenali dengan
sendiri perkara-perkara tersebut tanpa dipengaruhi oleh unsur-unsur kerohanian melalui
amalan tasawuf.

34
Selain itu, Ibnu Bajjah juga telah menulis sebuah buku yang berjudul Al-Nafs yang
membicarakan persoalan yang berkaitan dengan jiwa. Pembicaraan itu banyak
dipengaruhi oleh gagasan pemikiran filsafat Yunani. Oleh sebab itulah, Ibnu Bajjah
banyak membuat ulasan terhadap karya dan hasil tulisan Aristoteles, Galenos, al-Farabi,
dan al-Razi.

Minatnya dalam soal yang berkaitan dengan ketuhanan dan metafisika jauh mengatasi
bidang ilmu lain meski beliau mahir dalam ilmu psikologi, politik, perobatan, aljabar, dan
sebagainya. Sewaktu membicarakan ilmu logika, Ibnu Bajjah berpendapat bahwa sesuatu
yang dianggap ada itu sama ada benar-benar ada atau tidak ada bergantung pada yang
diyakini ada atau hanyalah suatu kemungkinan. Justru apa yang diyakini itulah
sebenarnya satu kebenaran dan sesuatu kemungkinan itu boleh jadi mungkin benar dan
tidak benar.

Kenyataannya, banyak perkara di dunia ini yang tidak dapat diuraikan menggunakan
logika. Jadi, Ibnu Bajjah belajar ilmu-ilmu lain untuk membantunya memahaminya hal-
hal berkaitan dengan metafisika.

Ilmu sains dan fisika misalnya digunakan oleh Ibnu Bajjah untuk menguraikan persoalan
benda dan rupa. Menurut Ibnu Bajjah, benda tidak mungkin terwujud tanpa rupa tetapi
rupa tanpa benda mungkin wujud. Oleh sebab itu, kita boleh menggambarkan sesuatu
dalam bentuk dan rupa yang berbeda-beda.

Masih banyak lagi pemikiran filsafat Ibnu Bajjah yang tidak diketahui karena sebagian
besar karya tulisnya telah musnah. Bahan yang tinggal dan sampai kepada kita hanya
merupakan sisa-sisa dokumen yang berserakan di beberapa perpustakaan di Eropa.
Setengah pandangan filsafatnya jelas mendahului zamannya.

Sebagai contoh, beliau telah lama menggunakan ungkapan manusia sebagai makhluk
sosial, sebelum para sarjana Barat berbuat demikian. Begitu juga konsep masyarakat
madani telah dibicarakan dalam tulisannya secara tidak langsung. Sesungguhnya Ibnu
Bajjah merupakan tokoh ilmuwan yang hebat.

Namun kehebatannya inilah yang mengundang cemburu beberapa kalangan. Perasaan


dengki dan cemburu ini menyebabkannya diracuni dan akhirnya meninggal dunia pada
tahun 1138. Biar pun umur Ibnu Bajjah tidak panjang tetapi sumbangan dan
pemikirannya telah meletakkan dasar yang kokoh bagi perkembangan ilmu dan filsafat di
bumi Andalusia. [republi
Ibnu Khaldun

Siapa yang tidak kenal nama Ibnu Khaldun. Kebanyakan dari kita pasti tahu atau sering
membaca namanya. Namanya sering dipakai untuk nama sekolah atau perguruan. Tentu
saja orang tidak akan sembarang memilih nama untuk sekolah atau perguruannya. Ibnu
Khaldun, kalau ia masih hidup tentu tidak akan menyangka namanya begitu universal
digunakan orang.

35
Ibnu Khaldun secara luas dikenal sebagai peletak batu pertama alias pelopor dan
sekaligus bapak ilmu sosiologi dan sejarah sains. Dan ia lebih dikenal lagi karena buku
Muqaddimah-nya atau di Barat sana dikenal dengan 'Prolegomena'.

Ibnu Khaldun sebenarnya punya nama asli Abdullah al Rahman Ibnu Muhammad. Lahir
di Tunisia dari keluarga kelas bangsawan di tahun 723 Hijriah atau tahun 1332 SM.
Keluarganya sendiri bukan berasal dari Tunisia, mereka hijrah ke Tunisia dari Seville,
wilayah Spanyol yang berpenduduk Islam.

Ibnu Khaldun banyak belajar di Tunisia dan Fez , ia mempelajari Qur'an, Hadits, cabang-
cabang ilmu Islam lainnya seperti ilmu teologi dialektikal dan hukum-hukum Islam.
Dengan semangat belajar dan keingintahuannya yang besar, ia juga mempelajari
matematika, astronomi, filosofi dan literatur Arab. Ini yang menjadikannya dalam usia
belasan sudah bekerja pada Sultan Barquq, seorang Kaisar di Mesir.

Sebelum dikenal sebagai penulis buku yang kelak menjadi adi karya dalam sejarah dunia,
Ibnu Khaldun banyak menghabiskan waktu, tenaga dan kepandaiannya bergelut dengan
dunia politik praktis. Ia bekerja untuk pemerintah Tunisia dan Fez (Maroko), Granada
(Islam Spayol) dan Biaja (di Afrika Utara). Tahun 1375 ia mengasingkan diri ke Granada,
Spanyol, dari Afrika Utara karena melarikan diri dari Turmoil di Afrika Utara.

Sayangnya, karena kegiatan politiknya di masa lalu, pemerintah Granada menolaknya.


Ibnu Khaldun kemudian menuju Aljazair. Selama empat tahun ia tinggal di sebuah desa
kecil bernama Qalat Ibnu Salama. Di sana pula ia mulai menulis Muqaddimah. Karya ini
kelak menempatkan namanya di antara nama-nama besar sejarawan, sosiolog dan filosof
dunia.

Muqaddimah telah membuat intelektual dunia dulu dan kini, di Timur dan Barat geleng-
geleng kepala dibuatnya. Hasil pemikirannya yang sangat cemerlang, ditulisnya dalam
buku itu. Bagian pertama bukunya, Al 'Ibar, sangat tajam, rasional dan analitik meninjau
masalah-masalah manusia dan sejarah.

Pada buku inilah Ibnu Khaldun, menurut banyak intelektual dunia, telah memberi arah
pada ilmu-ilmu psikologi, ekonomi, lingkungan hidup dan sosial. Beliau juga
menganalisa hubungan dinamis dan menggambarkan perasan-perasaan antar manusia. Al
'Asabiyya, memberi pandangan baru pada kekuatan penduduk dan politik.

Ibnu Khaldun selain terkenal sebagai penulis sejarah dan manusia, dikenal juga sebagai
seorang kritikus sejarah yang disegani. Ia pula yang mengenalkan ilmu analisa tentang
peradaban manusia. Tak hanya itu faktor-faktor yang mendukung ilmu analisa ia
kenalkan pula.

Karena hal in pula ia menemukan ilmu-ilmu baru yang berkaitan dengan perdaban
manusia. Misalnya, ilmu pembangunan sosial yang saat ini biasa kita sebut dengan ilmu
sosiologi.

36
Ada satu satu pernyataan atau argumen Ibnu Khaldun yang sampai saat ini masih dibuat
pijakan banyak ilmuwan. "Sejarah ada subyek menuju hukum-hukum universal," begitu
katanya. Ini adalah satu contoh bagaimana Ibnu Khaldun dijadikan rujukan dunia
sosiologi internasional.

Pemikiran-pemikiran Ibnu Khaldun saat itu sebenarnya sudah sangat maju, misalnya saja
ia berpendapat bahwa kehidupan beragama adalah satu hal pokok yang mampu
menyatukan jazirah Arab saat itu. Tahu sendiri kan, berapa banyak suku dan bani yang
ada di sana. Apalagi tipikal orang padang pasir kan panas-panas bawaannya.

Tak hanya itu, Ibnu Khaldun pun jauh hari sudah menyimpulkan beberapa penyebab
kehancuran sebuah negara atau pemerintahan. "Ketidakadilan, kekecewaan rakyat dan
tirani adalah langkah awal kehancuran sebuah negara," begitu katanya. Dan saat ini
banyak contoh yang bisa kita lihat betapa tiga hal yang disebutkan Ibnu Khaldun
berabad-abad lalu benar adanya.

Selain sebagai sejarawan dan sosiolog, Ibnu Khaldun dikenal pula sebagai seorang
pioneer atau perintis pendidikan modern. Ia seorang yang sangat percaya pada kekuatan
akal bukan kekuatan fisik. Menurutnya kekuatan fisik hanya membuat seseorang menjadi
malas, hipokrit dan pembohong besar. Akal yes, okol no!

Ibnu Khaldun hidup di Mesir pada zaman Mesir sedang mengalami kemerosotan.
Pendidikannya anjlok, moralnya bobrok dan sebagian besar masyarakat tidak merasa
perlu belajar dan berhati-hati. Ini yang membuat Ibnu Khaldun banyak menghabiskan
waktu mengumpulkan data, mengingatkan orang tentang pentingnya peradaban.

Pemikiran dan analisa Ibnu Khaldun, kelak banyak memberikan warna dan pengaruh
pada dunia ilmu sosial, politik, sejarah, filosofi dan pendidikan. Kini berabad-abad
setelah ia wafat, pemikirannya yang cemerlang serta idenya yang brilian masih bisa kita
rasakan. Satu hal yang menjadikannya seperti itu, ia belajar Islam dengan benar.

Ternyata kebaikan dan ilmu, mampu mengalahkan umur manusia yang hanya sejengkal.
[masjid_annahl]

Ibnu Qoyyim

Nama lengkap Ibnu Qoyyim adalah Muhammad bin Abu Bakar bin Said bin Hariz
Azzar'ie. Ia berasal dari Damsyik. Nama julukannya adalah syamsuddin. Nama sehari-
harinya ia dipanggil "Abu Abdullah".

Mengapa ia dipanggil Ibnu Qoyyim? Padahal dilihat dari nama sebenarnya ia tidak ada
kaitan dengan nama Qoyyim. Persoalannya, ayahnya adalah seorang pendiri dan
pengasuh perguruan "Al-Jauziyah"n, daerah pasar gandum di kota Damsyik. Karena

37
bapaknya adalah pendiri (qoyyim) perguruan tersebut, maka ia dipanggil dengan "Ibnu
Qoyyim Al Jauziyah". Tapi singkatnya ia dipanggil "Ibnu Qoyyim".

Ibnu Qoyyim dilahirkan di kota Damsyik (sekarang Damaskus) tahun 691 H (1292 M). Ia
dibesarkan dalam keluarga ilmuwan. Kondisi askripsi ini dilimpahkan pada Ibnu
Qoyyim, sehingga ia menjadi terkenal, lantaran situasi ketika ia dilahirkan dan
dibesarkan, kota Damsyik tengah berada dalamkeadaan puncak peradaban ilmu
pengetahuan. Dan ISlam merupakan bagian yang sangat internalized dalam setiap
individu maupun masyarakatnya.

Ilmu pengetahuan dan peradaban Islam sangat kental di kota Damsyik. Sehingga
lembaga-lembaga pendidikan atau sekolah-sekolah bertebaran di mana-mana. Namun
Ibnu Qoyyim menjadikan ayahnya sebagai gurunya langsung. Ia mendapat bimbingan
dpengarahan dari ayahnya sendiri. Luas ilmu yang dimiliki Ibnu Qoyyim karena sangat
dipengaruhi oleh berbagai guru lain yang menjadi ulama terkenal seperti: Ahmad Ibnu
Taimiyah, Ibnu Syirazi, dan lain-lain. Dengan demikian tidak mengherankan ia menjadi
ulama yang kondang di abad ke-8 hijriyah.

Fikiran-fikirannya sangat tajam dan cemerlang. Keistiqomahan sangat tercermin dalam


tulisan-tulisan dan sikapnya terhadap fenomena-fenomena kemaksiatan yang ada. Ia
melontarkan fikiranfiirannya mengenai kemaksiatan dan dampak-dampaknya pada
pribadi dan masyarakat.

Pertama: Karena berbuat maksiat, maka seseorang akan terbiasa dengan kemaksiatan. Hal
ini dapat dipahami dalam masyarakat. Seseorang pada awalnya merasa aneh dengan
kemaksiatan yang ada di lingkungan. Kemudian, ia mencoba mencicipibuah terlarang
(maksiat). Lama-kelamaan akan terdorong untuk melakukan tindakan maksiat berikutnya.
akhirnya, tindakan coba-coba tersebut berakhir menjadi kebiasaan. Kemaksiatan
(kesenangan semu) ini menjadi kebiasaan karena peranan syetan yang idak henti-hentinya
mengganggumanusia untuk menjadi abdi mereka.

Kedua: Karena melakukan perbuatan maksiat, seseorang kehilangan rasa malu. ras malu
merupakan cerminan pribadi manusia. Bila manusia sudah kehilangan rasa malu,
pandangan, hati dan pendengarannya seakan-akan tertutup dari kebenaran. Dengan
demikian ketiadaan rasa malu pada diri manusia digambarkan sebagai tanpa rasa. karsa
dan karya yang bersifat kemanusiaan.

Ibnu Qoyyim tida melepaskan dirinya dari proses belajar dan mengjar (bima tu'allimu nal
kitab wa bima kuntum tadrusun). Ia mengajar di perguruan Al Jauziyah, milik ayahnya.
Profesi gurunya ia tekuni meskipun ia sudah menjadi ulama termasyhur dan disegani.
Murid-muridnya banyak sekali. Muridnya yang turut muncul ke permukaan anatar lain
Ibnu Katsir. Keulamaannya sangat tercermin dengan sikap hidupnya yang bisa menjadi
teladan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Begitu juga di sela-sela waktunya
sebagai pendidik dan tokoh refernsi keagamaan masyarakat, ia tidak melupakan diri
untuk mengkonstruksikan fikiran-fikirannya dalam bentuk buku.

38
Sejak kecil, Ibnu Qoyyim sudah nampak bakat intelektualitas dan keulamaannya. Ia giat
belajar, terbuka sifat pribadinya, rendah hatinya, tenang penampilannya, disenangi sikap
dan kearifan fikirannya oleh masyarakat, tegar ucapannya walaupun harus menghadapi
resiko. Sifat-sifat tersebut terkumpul dalam perilaunya dan turut pula menshibghah
kebudayaan dan pengetahuan yang ada.

Kepribadian dan prilakunya yang menarik dan menonjol tersebut lantaran ia begitu sulit
melepaskan diri dari Qurän dan Hadits. Setelah ia menghafal Al-Qurän secara sempurna,
dilanjutkan dengan menhafal Hadits. Ia pun m enjadikan sastra dan bahasa sebagai pusat
perhatiannya. Kompleksitas pengetahuan dalam dirinya didukung oleh manhaj yang
tertata dengan baik, tercermin dalam kajian, fikiran dalam buku-bukunya. ia begitu sabar,
sistematik dan teliti uraiannya, pembahasannya luas dan mendalam. Dengan demikian,
tulisannya terasa tersuguhkan dengan lengkap, serasi dan berkesinambungan.

Karena itu, tidak mengherankan bila seorang doktor dari Al Azhar yakni Al Ustadz
Husaini Ali Ridwan membahas secara khusus mengenai tulisan Ibnu Qoyyim. [Majalah
Sabili No. 33 Tahun II Januari 1991]

Ibnu Rusydi

Abul al Walid Muhammad Ibnu Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Rusydi, yang kemudian
lebih dikenal dengan nama Ibnu Rusydi atau Averrous, merupakan seorang ilmuwan
muslim yang sangat berpengaruh pada abad ke-12 dan beberapa abad berikutnya. Ia
adalah seorang filosof yang telah berjasa mengintegrasikan Islam dengan tradisi
pemikiran Yunani.

Ibnu Rusydi dilahirkan pada tahun 1126 M di Qurtubah (Cordoba) dari sebuah keluarga
bangsawan terkemuka. Ayahnya adalah seorang ahli hukum yang cukup berpengaruh di
Cordoba, dan banyak pula saudaranya yang menduduki posisi penting di pemerintahan.
Latar belakang kelauarga tersebut sangat mempengaruhi proses pembentukan tingkat
intelektualitasnya di kemudian hari.

Kebesaran Ibnu Rusydi sebagai seorang pemikir sangat dipengaruhi oleh zeitgeist atau
jiwa zamannya. Abad ke-12 dan beberapa abad sebelumnya merupakan zaman keemasan
bagi perkembangan ilmu pengetahuan di Dunia Islam, yang berpusat di Semenanjung
Andalusia (Spanyol) di bawah pemerintahan Dinasti Abasiyah. Para penguasa muslim
pada masa itu mendukung sekali perkembangan ilmu pengetahuan, bahkan mereka sering
memerintahkan para ilmuwan untuk menggali kembali warisan intelektual Yunani yang
masih tersisa, sehingga nama-nama ilmuwan besar Yunani seperti Aristoteles, Plato,
Phitagoras, ataupun Euclides dengan karya-karyanya masih tetap terpelihara sampai
sekarang.

39
Liku-liku perjalanan hidup pemikir besar ini sangatlah menarik. Ibnu Rusydi dapat
digolongkan sebagai seorang ilmuwan yang komplit. Selain sebagai seorang ahli filsafat,
ia juga dikenal sebagai seorang yang ahli dalam bidang kedokteran, sastra, logika, ilmu-
ilmu pasti, di samping sangat menguasai pula pengetahuan keislaman, khususnya dalam
tafsir Al Qur’an dan Hadits ataupun dalam bidang hukum dan fikih. Bahkan karya
terbesarnya dalam bidang kedokteran, yaitu Al Kuliyat Fil-Tibb atau (Hal-Hal yang
Umum tentang Ilmu Pengobatan) telah menjadi rujukan utama dalam bidang kedokteran.

Kecerdasan yang luar biasa dan pemahamannya yang mendalam dalam banyak disiplin
ilmu, menyebabkan ia diangkat menjadi kepala qadi atau hakim agung Cordoba, jabatan
yang pernah dipegang oleh kakeknya pada masa pemerintahan Dinasti al Murabitun di
Afrika Utara.Posisi yang prestisius dan tentunya diimpikan banyak orang. Posisi tersebut
ia pegang pada masa pemerintahan Khalihaf Abu Ya’kub Yusuf dan anaknya Khalifah
Abu Yusuf.

Hal terpenting dari kiprah Ibnu Rusydi dalam bidang ilmu pengetahuan adalah usahanya
untuk menerjemahkan dan melengkapi karya-karya pemikir Yunani, terutama karya
Aristoteles dan Plato, yang mempunyai pengaruh selama berabad-abad lamanya. Antara
tahun 1169-1195, Ibnu Rusydi menulis satu segi komentar terhadap karya-karya
Aristoteles, seperti De Organon, De Anima, Phiysica, Metaphisica, De Partibus Animalia,
Parna Naturalisi, Metodologica, Rhetorica, dan Nichomachean Ethick. Semua
komentarnya tergabung dalam sebuah versi Latin melengkapi karya Aristoteles.
Komentar-komentarnya sangat berpengaruh terhadap pembentukan tradisi intelektual
kaum Yahudi dan Nasrani.

Analisanya telah mampu menghadirkan secara lengkap pemikiran Aristoteles. Ia pun


melengkapi telaahnya dengan menggunanakan komentar-komentar klasik dari Themisius,
Alexander of Aphiordisius, al Farabi dengan Falasifah-nya, dan komentar Ibnu Sina.
Komentarnya terhadap percobaan Aristoteles mengenai ilmu-ilmu alam, memperlihatkan
kemampuan luar biasa dalam menghasilkan sebuah observasi. [Majalah Percikan Iman
No.6 Tahun I Desember 2000]

Ibnu Sina

Sejarah mencatat lima fase perkembangan dalam rentang perjalanan filsafat muslim.
Tahap pertama adalah ketika fondasi filsafat muslim diletakkan (berlangsung dari abad 1
H/7 M hingga jatuhnya Baghdad --pusat ilmu dan studi Islam-- pada pertengahan abad 7
H/14 M ke tangan Hulagu Khan dari Mongol). Setengah abad berikutnya terbentang
tahap kedua yang merupakan masa menjamurnya fanatisme. Hingga awal abad ke-12
H/28 M, dunia filsafat muslim mulai terengah dalam keterpakuan tekstual pada fase
ketiganya, yang disusul kemudian dengan setengah abad zaman kegelapan Islam --atau
tepatnya masa kematian kreatifitas muslim-- pada tahap keempat. Pada pertengahan abad

40
ke-13 H/19 M, filsafat muslim memasuki fase kelima yang merupakan periode
renaissance modern. Pada fase ini filsafat muslim menunjukkan tanda-tanda kebangkitan.

Periode renaissance modern dalam Islam ditandai dengan munculnya model perjuangan
politis untuk melepaskan diri dari dominasi bangsa asing dan konformitas kehidupan dan
pemikiran. Pada masa ini, Islam tidak saja melahirkan generasi filsuf biasa, namun para
filsuf yang juga handal memimpin gerakan politik dan pembaharu sosial, serta eksekutif
yang sarat ilmu. Mereka menumpahkan kreativitas pemikiran mereka dalam karya-karya
monumental yang menjadi kebanggaan dan pengakuan dunia. Di samping itu, investasi
tersebut telah menjadi sumber rujukan pengembangan studi untuk para generasi pelanjut
sampai saat ini.

Akan sangat menarik bila kita mengikuti perjalanan filsuf muslim yang mampu bertahan
menancapkan akar pemikirannya di tengah belenggu abad pertengahan. Ia adalah Ibnu
Sina, yang di Eropa lebih dikenal dengan nama Avicenna. Filsuf yang memiliki nama
lengkap Abu Ali Al Hosain Ibn Abdullah Ibn Sina, dilahirkan pada tahun 340 H/980 M di
Afsyana, suatu tempat di daerah Bukhara. Di tempat itulah ia menghafal Al-Qur’an dan
mempelajari ilmu-ilmu agama serta astronomi sampai memasuki tahun kesepuluh dari
kehidupannya. Ilmu kedokteran ia kuasai sebelum usianya mencapai 16 tahun. Sebelum
mempelajari ilmu kedokteran, ia pun mempelajari matematika, fisika, logika, dan ilmu
metafisika.

Menginjak usia 17 tahun, Ibnu Sina berhasil menangani penyakit Khalifah Nuh bin
Manshur. Karenanya, ia mendapatkan izin untuk belajar di perpustakaan pribadi khalifah.
Di perpustakaan tersebut, ia mendapatkan keleluasaan untuk mendalami ilmunya.
Koleksi buku-buku yang sukar didapat itu dipelajarinya dengan penuh suka cita.

Semenjak kematian ayahnya, saat usianya 22 tahun, Ibnu Sina meninggalkan Bukhara
menjuju Jurjan dan kemudian ke Khawarazm sampai akhirnya ke Mamadzan. Berbagai
keunikan pemikiran filsafatnya telah memperoleh penghargaan yang semakin tinggi
hingga masa modern. Ia berhasil membangun filsafat sebagai sitim yang lengkap dan
terperinci.

Meskipun Al Ghazali dan Fakhr Al Din Al Razi pernah menyerang pemikirannya, namun
dunia tidak dapat menolak semangat keaslian dari sistim filsafat yang dibangunnya. Ia
menunjukkan jiwa jenius dalam menemukan metode-metode dan alasan-alasan yang
menopang perumusan kembali pemikiran rasional murni dan teradisi intelektual
Hellenisme yang diwarisinya. Kreativitasnya semakin unik dengan kombinasi pemikiran
Islam yang kental.

Karakteristik yang paling mendasar dari pemikiran Ibnu Sina adalah pencapaian definisi
dengan metode pemisahan dan pembedaan konsep secara tegas dan keras sehingga
mampu mengusik temperamen modern. Ia mengemukakan secara berulang-ulang pada
setiap kesempatan tentang pembuktian pemikirannya dalam hal dualisme tubuh dan akal,
doktrin universal, serta teori tentang esensi dan eksistensi.

41
Keaslian pemikiran Ibnu Sina rupanya bukan saja menghadirkan keunikan sekaligus
kekaguman dunia Islam abad pertengahan. Orde dominikian, bahkan masa Teolog Barat
memperoleh pengaruh kuat dari pemikirannya. Perumusan kembali Teologi Katolik
Roma yang digagas Albert Yang Agung dan terutama oleh Thomas Aquinas secara
mendasar dipengaruhi oleh pemikiran Ibnu Sina. Selain itu, penerjemah De Anima,
Gundisalvus menulis De Anima yang sebagian besar isinya merupakan pengambilan
besar-besaran doktrin-doktrin Ibnu Sina. Demikian juga para filsuf dan ilmuwan abad
pertengahan seperti Robert Grosseteste dan Roger Bacon yang menginternalisasi
sebagaian besar pemikiran Ibnu Sina.

Untuk memahami teologi dan metafisika Aquinas, setiap orang pasti harus merujuk
kepada pemahaman jasa pemikiran yang diterimanya dari Ibnu Sina. Semua orang dapat
melihat pengaruh filsuf besar muslim ini dalam karya Aquinas, Summa Theologica dan
Summa Contra Gentiles yang merupakan karya terbersarnya.

Kesibukan Ibnu Sina sebagai filsuf, dokter, sekaligus menteri pada pemerintahan
Syamsuddaulah di Hamadzan tidak menghalanginya untuk menghadirkan karya-karya
monumentalnya. Asy-Syifa adalah buku filsafat yang terpenting dan terbesar dari Ibnu
Sina. Di dalamnya diulas secara mendalam tentang logika, fisika, matematika, dan
metafisika ketuhanan. Naskah-naskahnya telah tersebar di perpustakaan Barat dan Timur.
An-Najat adalah nama yang ia berikan untuk buku yang meringkas kajian-kajian yang
dipaparkan Asy-Syifa. Buku diterbitkan di Roma pada tahun 1593 serta di Mesir tahun
1331.

Bagian metafisika dan fisika pernah dicetak dengan cetakan batu di Taheran. Pada tahuh
1951 pemerintah Mesir dan Arab membentuk panitia penyunting ensiklopedi Asy-Syifa
di Kairo yang sebagian besar telah diterbitkan. Pasal keenam dari bagian fisika yang
merupakan landasan pembentukan psikologi modern diterbitkan lembaga keilmuan
Cekoslovakia di Praha yang juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis. Bagian
logika telah diterbitkan Kairo pada tahun 1954 dengan nama Al Burhan.

Di bidang kedokteran, ia melahirkan kitab Al Qonun yang disebut orang-orang Barat


sebagai Canon of Medicine. Al Qonun sempat menjadi referensi utama di universitas-
universitas Eropa sampai abad ke-17. Al Qonun juga pernah diterbitkan di Roma tahun
1593 M dan di India pada tahun 1323 M.

Buku terakhir yang paling baik menurut para filsuf dunia adalah Al Isyarat wat-Tanbihat
yang pernah diterbitkan di Leiden pada tahun 1892. Terakhir, buku ini diterbitkan di
Kairo pada tahun 1947.

Di tengah kesungguhan meramu pemikiran filsafat Islam yang unik di antara berbagai
kesibukannya, Ibnu Sina jatuh sakit, dan pada akhirnya di usia yang ke-57 beliau wafat di
Hamadzan pada tahun 428 H/1037 M. Ia meninggalkan dunia Islam dengan warisan
karya-karyanya yang senantiasa dijadikan acuan dan rujukan umat. Pertanyaan yang
timbul kemudian adalah, mampukah dunia Islam melahirkan kembali Ibnu Sina-Ibnu

42
Sina lainnya? Wallahu A’lam. Semoga…. [Majalah Percikan Iman No. 4 Tahun II April
2001]

Ibnu Taimiyah

Nama lengkap beliau adalah Taqiyuddin Abdul Abbas Ahmad bin Abdul Salam bin
Abdullah bin Muhammad bin Taimiyah Al-Harrani Al-Hambali, yang lahir pada hari
Isnin, 10 Rabiul Awwal 66l H. (22 Januari 1263 M) di Harran. Ayah beliau adalah
seorang alim ahli agama, seorang besar dalam bidang agama Islam, iaitu Syihabuddin
Abu Ahmad Halim Ibnu Taimiyah. Ayah beliau ini adalah seorang Imam Muhaqqiq yang
banyak ilmunya, meninggal tahun 681H Neneknya adalah Syeikhul Islam, Majduddin
Abul Barakat Abbas Salam Ibnu Taimiyah, seorang Hafiz Hadith yang ternama.

Kerana diburu oleh bangsa Monggol, maka ayah beliau pindah ke Damaskus dengan
seluruh keluarganya. Di Damaskus itulah beliau mempelajari agama Islam, yang ternyata
sebagai anak yang cerdas. Guru beliau antara lain adalah ulama besar yang bernama
Zainuddin Abdul Daim Al-Mukaddasi, Najmuddin Ibnu Asakir, dan seorang ulama
perempuan terkenal, Zainab binti Makki, dan sebagainya yang lebih dari seratus guru lagi
banyaknya.

Beliau kuat ingatan, cepat hafal, lekas faham, dan tidak bosan membaca serta tidak
pernah beristirehat di dalam menambah ilmu, juga dalam perjuangannya.

Setelah ayah beliau meninggal dunia, beliau menggantikan ayah beliau mengajarkan ilmu
fiqh dalam mazhab Hambali dan dalam ilmu tafsir. Pada tahun 691H. (1292 M) beliau
pergi haji, dan di Kota Makkah beliau bertemu dengan ramai ulama besar. Ramai ulama
yang beliau tinggalkan namanya kerana salah dalam sesuatu debat dan pendapat di dalam
masalah hukum.

Itulah Ibnu Taimiyah, ulama besar yang merengkuk dalam penjara Mesir. Baru saja
beliau bebas dari penjara, kemudian ditangkap lagi dan dipenjarakan yang kedua kalinya
selama setengah tahun lagi. Sebabnya kerana beliau menulis sebuah kitab yang isinya
tentang masalah ketuhanan yang tidak disetujui oleh para ulama. Di dalam, penjara yang
hanya setengah tahun itu beliau berhasil menginsafkan banduan yang merengkok
bersama beliau sehingga semua yang insaf itu menjadi pendukung beliau dan menjadi
pengikut yang setia. (Ada sumber yang mengatakan bahawa di penjara yang kedua ini
selama satu setengah tahun lagi lamanya).

Adapun isi kitab yang menyebabkan beliau di penjara yang kedua itu adalah beliau
menentang ajaran Tasawwuf Ittihadiyah yang menyatakan bahawa Allah boleh hulul
(bertempat) dalam tubuh makhluk. Jelasnya kepercayaan hulul ialah kepercayaan bahawa
Allah bersemayam dalam tubuh salah seorang yang memungkinkan untuk itu kerana
kemurnian jiwanya atau kesucian rohnya. Adapun kepercayaan ittihad (Al-lttihad) ialah
kepercayaan tentang Allah yang dapat bersatu dengan manusia. Apabila telah terjadi
ittihad, maka orang yang bersangkutan tak sedar diri.

43
Hal ini mereka namakan makwu, atau sampai kepada tingkat lenyapnya zat yang fana
dengan Zat Allah yang baqa. Kalau sudah sampai tingkat yang begini, maka segala yang
diucapkan tidak terkena hukum syirik walaupun pada zahirnya syirik, kerana orang yang
mengucapkan itu sedang dalam keadaan sukar atau mabuk kepayang. Di antara kaum sufi
dan Guru Thariqat mempercayai melancarkan faham ini adalah Umar Ibnul Faridh dan
Ibnu ‘Ath’allal.

Itulah faham sesat yang beliau tentang, tetapi beliau bahkan di penjara selama satu
setengah tahun di Syam. Baru beberapa hari keluar dari penjara yang kedua, ia ditangkap
lagi dan dipenjarakan selama lapan bulan lamanya di Aleksandria, kerana fatwa beliau
pula yang tidak sesuai dengan faham para ulama.

Keluar dari penjara Aleksandria, beliau dipanggil oleh Sultan Nashir Qalaun untuk
memberikan fatwa di muka umum. Sebabnya sampai sikap sultan demikian ialah kerana
sultan senang terhadap sifat terus-terang beliau. Beliau bersedia memberikan fatwa atau
ceramah di muka umum, dan ternyata fatwa beliau itu menggemparkan para ulama yang
bermazhab Syafi’e, namun beliau tetap dikasihi oleh Sultan. Bahkan beliau mendapat
tawaran menjadi professor pada sebuah Sekolah Tinggi yang didirikan oleh Putera
Mahkota.

Dalam tahun 1313 beliau diminta untuk memimpin peperangan lagi ke Syiria. Beliau
diangkat menjadi professor lagi dalam sebuah Sekolah Tinggi, tetapi pada bulan Ogos
1318 beliau dilarang mengeluarkan fatwa oleh Penguasa, padahal fatwa-fatwa beliau itu
diperlukan umat saat itu. Dengan diam-diam para murid beliau mengumpulkan fatwa-
fatwa beliau yang cemerlang itu dan berhasil dibukukan, kemudian dicetak, yang
bernama “Fatwa Ibnu Taimiyah” Alangkah sedih hati rakyat yang ternyata masih ramai
yang mencintai beliau.

Mereka tetap mendatangi beliau minta fatwa-fatwa, terlebih lagi rakyat baru lepas
rindunya terhadap beliau yang baru pulang ke Kota Damsyik yang beliau tinggalkan
selama lebih dari tujuh tahun, dalam waktu itu beliau hidup dari penjara ke penjara.

Beberapa waktu kemudian beliau ditangkap lagi dan dipenjarakan yang keempat kalinya
selama lima bulan lapan hari.

Demikianlah hidup beliau, dari penjara ke penjara. Semua perkara yang dijadikan
masalah telah beliau keluarkan fatwanya. Soal talak tiga di dalam satu majlis hanya satu
yang jatuh, tentang beliau melarang berziarah ke Masjid atas kubur keramat kecuali
Masjid Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah dan Baitul Muqaddis di
Jerusalem. Juga sekitar masalah keTuhanan dan memurnikan ajaran Islam, mengamalkan
ibadah yang murni menurut faham yang terdahulu, iaitu faham salaf. Juga masalah syirik
dan bid’ah yang membahayakan akidah Islam beliau tentang, agar Islam kembali kepada
kemurniannya seperti zaman salaf.

Yang terakhir beliau ditangkap lagi atas perintah Sultan dalam bulan Sya’ban 726 H.
(Julai 1326 M) dan kemudian dipenjarakan yang kelima kalinya selama 20 bulan. Kali ini

44
kamar tahanannya amat sempit dan bertembok tebal. Dalam kamar tahanannya itu beliau
tetap menulis, kerana menulis itu yang membawa kebahagiaan bagi beliau. Beliau
dilarang berfatwa kemudian menulis, bahkan isi tulisannya sangat bagus.

Maka walaupun beliau hidup dalam lingkungan tembok penjara yang tebal, tetapi hati
beliau tidak sedih dan tidak pula gundah. Dalam penjara inilah beliau berkata yang
kemudian terkenal sampai sekarang, iaitu: “Orang yang terpenjara ialah yang dipenjara
syaitan, orang yang terkurung ialah orang yang dikurung syaitan. Dan dipenjara yang
sebenarnya ialah yang dipenjarakan hawa nafsunya. Bila orang-orang yang
memenjarakan saya ini tahu bahawa saya dalam penjara ini merasa bahagia dan merasa
merdeka, maka merekapun akan dengki atas kemerdekaan saya ini, dan akhirnya mereka
tentulah mengeluarkan saya dari penjara ini.”

Setelah petugas tahu bahawa beliau dalam penjara terus menulis, maka semua kitab dan
alat-alat tulis beliau dirampas dan dikeluarkan dari kamar penjara. Itulah hukuman yang
paling kejam bagi beliau. Keadaan ini beliau terima dengan hati sedih dan bercucuran air
mata.

Dalam penjara terakhir ini beliau bersama dengan para murid beliau yang juga
dimasukkan dalam tahanan. Namun semua pengikut beliau yang ditahan itu telah
dibebaskan, kecuali seorang murid beliau yang paling setia yang masih menyertai beliau
dalam penjara, iaitu Ibnul Qayyim Al-Jauziyah (691-751H).

Setelah tidak boleh menulis lagi, beliau pun mengambil kitab suci Al-Quran yang tidak
ikut dirampas. Beliau baca Al-Quran itu sampai penat, kemudian berzikir dan solat,
membaca Al-Quran lagi bertilawat, kemudian solat dan berzikir. Demikianlah yang beliau
kerjakan, sehingga sejak beliau tidak boleh menulis telah menamatkan (mengkhatamkan)
membaca Al-Quran 80 (lapan puluh kali).

Dan ketika beliau membaca akan masuk ke 81 kalinya, tetapi ketika sampai kepada ayat
yang ertinya,” ... Sesungguhnya orang yang muttaqin itu akan duduk di dalam syurga dan
sungai-sungai yang mengalir di bawahnya, di dalam kedudukan yang benar, pada sisi
Tuhan Allah Yang Maha Kuasa.” Beliau pun tidak dapat meneruskan bacaannya lagi,
kerana jatuh sakit selama 20 hari.

Saat itu beliau telah berusia 67 tahun, dan telah merengkuk dalam penjara yang terakhir
itu selama lebih dari 20 bulan lamanya, dan ketika itu sakit beliau semakin bertambah.
Orang ramai tidak mengetahui bahawa beliau dalam keadaan sakit, kerana yang
mengurus diri beliau hanyalah Ibnul Qayyim Al-Jauziyah muridnya yang setia. Baru
setelah muadzin berseru dari atas menara bahawa beliau telah pulang ke rahmatullah,
berduyun-duyun orang mengerumuni gerbang penjara.

Ramai orang yang terisak menangis dan meratapi kematian beliau. Juga ramai orang yang
ingin mengambil berkah dari hanya melihat wajah beliau, memegang jenazah beliau dan
bahkan ada yang mencium beliau.

45
Beliau meninggal dunia hari Isnin, 20 Zul Kaedah 728 H. (26-28 September 1328 M),
dalam usia 67 tahun, setelah sakit dalam penjara lebih dari 20 hari. Beliau
menghembuskan nafas yang terakhir di atas tikar solatnya, sedang dalam keadaan
membaca Al-Quran.

Walaupun begitu beliau seorang yang banyak dibenci terutama oleh mereka yang
bermazhab Syafi’e, tetapi jenazah beliau diiringkan ke pusara oleh 200,000 orang lelaki
dan 15,000 orang wanita.

Demikianlah akibat yang dialami oleh beliau dalam memperjuangkan kebenaran, demi
tegaknya agama Islam di atas dunia. [daarut-tauhiid.org]
mam Al Baihaqi

Imam Al Baihaqi -- bernama lengkap Imam Al-Hafith Al-Mutaqin Abu Bakr Ahmed ibn
Al-Hussein ibn Ali ibn Musa Al Khusrujardi Al-Baihaqi, adalah seorang ulama besar dari
Khurasan (desa kecil di pinggiran kota Baihaq) dan penulis banyak buku terkenal.

Masa pendidikannya dijalani bersama sejumlah ulama terkenal dari berbagai negara, di
antaranya Iman Abul Hassan Muhammed ibn Al-Hussein Al Alawi, Abu Tahir Al-Ziyadi,
Abu Abdullah Al-Hakim, penulis kitab "Al Mustadrik of Sahih Muslim and Sahih Al-
Bukhari", Abu Abdur-Rahman Al-Sulami, Abu Bakr ibn Furik, Abu Ali Al-Ruthabari of
Khusran, Halal ibn Muhammed Al-Hafaar, dan Ibn Busran.

Para ulama itu tinggal di berbagai tempat terpencar. Oleh karenanya, Imam Baihaqi harus
menempuh jarak cukup jauh dan menghabiskan banyak waktu untuk bisa bermajelis
dengan mereka. Namun, semua itu dijalani dengan senang hati, demi memuaskan dahaga
batinnya terhadap ilmu Islam.

As-Sabki menyatakan: "Imam Baihaqi merupakan satu di antara sekian banyak imam
terkemuka dan memberi petunjuk bagi umat Muslim. Dialah pula yang sering kita sebut
sebagai 'Tali Allah' dan memiliki pengetahuan luas mengenai ilmu agama, fikih serta
penghapal hadits."

Abdul-Ghaffar Al-Farsi Al-Naisabouri dalam bukunya "Thail Tareekh Naisabouri": Abu


Bakr Al-Baihaqi Al Hafith, Al Usuli Din, menghabiskan waktunya untuk mempelajari
beragam ilmu agama dan ilmu pengetahuan lainnya. Dia belajar ilmu aqidah dan
bepergian ke Irak serta Hijaz (Arab Saudi) kemudian banyak menulis buku.

Imam Baihaqi juga mengumpulkan Hadits-hadits dari beragam sumber terpercaya.


Pemimpin Islam memintanya pindah dari Nihiya ke Naisabor untuk tujuan mendengarkan
penjelasannya langsung dan mengadakan bedah buku. Maka di tahun 441, para pemimpin
Islam itu membentuk sebuah majelis guna mendengarkan penjelasan mengenai buku 'Al
Ma'rifa'. Banyak imam terkemuka turut hadir.

46
Imam Baihaqi hidup ketika kekacauan sedang marak di berbagai negeri Islam. Saat itu
kaum Muslim terpecah-belah berdasarkan politik, fikih, dan pemikiran. Antara kelompok
yang satu dengan yang lain berusaha saling menyalahkan dan menjatuhkan, sehingga
mempermudah musuh dari luar, yakni bangsa Romawi, untuk menceraiberaikan mereka.

Dalam masa krisis ini, Imam Baihaqi hadir sebagai pribadi yang berkomitmen terhadap
ajaran agama. Dia memberikan teladan bagaimana seharusnya menerjemahkan ajaran
Islam dalam perilaku keseharian.

Sementara itu, dalam Wafiyatul A'yam, Ibnu Khalkan menulis, "Dia hidup zuhud, banyak
beribadah, wara', dan mencontoh para salafus shalih."

Beliau terkenal sebagai seorang yang memiliki kecintaan besar terhadap hadits dan fikih.
Dari situlah kemudian Imam Baihaqi populer sebagai pakar ilmu hadits dan fikih.

Setelah sekian lama menuntut ilmu kepada para ulama senior di berbagai negeri Islam,
Imam Baihaqi kembali lagi ke tempat asalnya, kota Baihaq. Di sana, dia mulai
menyebarkan berbagai ilmu yang telah didapatnya selama mengembara ke berbagai
negeri Islam. Ia mulai banyak mengajar.

Selain mengajar, dia juga aktif menulis buku. Dia termasuk dalam deretan para penulis
buku yang produktif. Diperkirakan, buku-buku tulisannya mencapai seribu jilid. Tema
yang dikajinya sangat beragam, mulai dari akidah, hadits, fikih, hingga tarikh. Banyak
ulama yang hadir lebih kemudian, yang mengapresiasi karya-karyanya itu. Hal itu
lantaran pembahasannya yang demikian luas dan mendalam.

Meski dipandang sebagai ahli hadits, namun banyak kalangan menilai Baihaqi tidak
cukup mengenal karya-karya hadits dari Tarmizi, Nasa'i, dan Ibn Majah. Dia juga tidak
pernah berjumpa dengan buku hadits atau Masnad Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali).
Dia menggunakan Mustadrak al-Hakim karya Imam al-Hakim secara bebas.

Menurut ad-Dahabi, seorang ulama hadits, kajian Baihaqi dalam hadits tidak begitu
besar, namun beliau mahir meriwayatkan hadits karena benar-benar mengetahui sub-sub
bagian hadits dan para tokohnya yang telah muncul dalam isnad-isnad (sandaran :
rangkaian perawi hadits).

Di antara larya-karya Baihaqi, Kitab as-Sunnan al-Kubra yang terbit di Hyderabat, India,
10 jilid tahun 1344-1355, menjadi karya paling terkenal. Buku ini pernah mendapat
penghargaan tertinggi.

Dari pernyataan as-Subki, ahli fikih, usul fikih serta hadits, tidak ada yang lebih baik dari
kitab ini, baik dalam penyesuaian susunannya maupun mutunya.

Dalam karya tersebut ada catatan-catatan yang selalu ditambahkan mengenai nilai-nilai
atau hal lainnya, seperti hadits-hadits dan para ahli hadits. Selain itu, setiap jilid cetakan

47
Hyderabat itu memuat indeks yang berharga mengenai tokoh-tokoh dari tiga generasi
pertama ahli-ahli hadits yang dijumpai dengan disertai petunjuk periwayatannya.

Itulah di antara sumbangsih dan peninggalan berharga dari Imam Baihaqi. Dia
mewariskan ilmu-ilmunya untuk ditanamkan di dada para muridnya. Di samping telah
pula mengabadikannya ke dalam berbagai bentuk karya tulis yang hingga sekarang pun
tidak usai-usai juga dikaji orang.

Imam terkemuka ini meninggal dunia di Nisabur, Iran, tanggal 10 Jumadilawal 458 H (9
April 1066). Dia lantas dibawa ke tanah kelahirannya dan dimakamkan di sana.
Penduduk kota Baihaq berpendapat, bahwa kota merekalah yang lebih patut sebagai
tempat peristirahatan terakhir seorang pecinta hadits dan fikih, seperti Imam Baihaqi.

Sejumlah buku penting lain telah menjadi peninggalannya yang tidak ternilai. Antara lain
buku "As-Sunnan Al Kubra", "Sheub Al Iman", "Tha La'il An Nabuwwa", "Al Asma wa
As Sifat", dan "Ma'rifat As Sunnan cal Al Athaar". (yus)[republika.co.id]
Imam Bukhari

Siapa tak kenal Imam Bukhari. Di kalangan muhadditsin (pakar Hadits), dia menjadi
narasumber utama tentang ilmu Hadits. Sementara di kalangan peminat sejarah Islam dan
pesantren, ia menjadi rujukan penting. Jejak perjuangannya banyak melahirkan ulama
dan tokoh besar. Lihatlah perawi-perawi Hadits terkenal semisal Imam Muslim, Imam
Tirmidzi, Imam Nasai, Ibnu Majjah, dan Abu Daud, adalah bekas anak didiknya.
Karenanya, ia dijuluki Amirul-Mu'minin fil Hadits (pemimpin orang Mukmin dalam
Hadits), gelar tertinggi bagi ahli Hadits.

Terlahir dengan nama Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al Mughirah
ibn Bardizbah, (lebih dikenal dengan nama Imam Bukhari), ia guru para muhadditsin
ternama. Lahir di Bukhara pada 13 Syawwal 194 H (21 Juli 810 M). Ayah Bukhari selain
berilmu, juga sangat wara' (menghindari yang subhat/meragukan dan haram) dan takwa.

Keunggulan dan kejeniusan Imam Bukhari sudah tampak sejak masih kecil. Allah
menganugerahkan kepadanya hati yang bersih dan otak yang cerdas, pikiran yang tajam
dan daya hafalan yang sangat kuat, khususnya dalam menghafal Hadits.

Ketika berusia 10 tahun, ia sudah banyak menghafal Hadits. Pada usia 16 tahun ia
bersama ibu dan kakaknya mengunjungi berbagai kota suci. Dalam petualangannya itu,
banyak ulama dan tokoh-tokoh negerinya yang ia temui untuk belajar Hadits, bertukar
pikiran dan berdiskusi dengan mereka. Di usia 16 tahun, Imam Bukhari sudah hafal kitab
Sunan Ibn Mubarak dan Waki.

Rasyid ibn Ismail, kakak sang Imam menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberapa
murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid
lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia dicela membuang waktu karena
tidak mencatat.

48
Bukhari diam tak menjawab. Suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan itu, Bukhari
meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka. Tercenganglah mereka semua,
lantaran Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 Hadits, lengkap dengan keterangan
yang tidak sempat mereka catat.

Tahun 210 H, Bukhari berangkat ke Baitullah untuk menunaikan haji, disertai ibu dan
saudaranya, Ahmad. Saudaranya ini kemudian pulang kembali ke Bukhara, sedang dia
memilih menetap di Mekkah. Meski di Baitullah, namun sesekali ia pergi ke Madinah. Di
kedua Tanah Suci itulah ia menulis sebagian karya-karyanya dan menyusun dasar-dasar
kitab Al Jami' As Sahih dan pendahuluannya.

Ia juga menulis Tarikh Kabir-nya di dekat makam Nabi SAW. Sementara itu ketiga buku
tarikhnya, As Sagir, Al Awsat, dan Al Kabir, lahir dari kemampuannya yang tinggi
mengenai pengetahuan terhadap tokoh-tokoh dan kepandaiannya memberikan kritik,
sehingga ia pernah berkata, sedikit sekali nama-nama yang disebutkan dalam tarikh yang
tidak ia ketahui kisahnya.

Karya-karyanya itu tak lepas dari pengembaraannya ke banyak negeri : Syam, Mesir,
Baghdad, Kuffah, dan Jazirah Arab, yang banyak memberikan inspirasi dan gagasan.
Berkat kejeniusannya itu, Imam Bukhari berhasil merawi Hadits dari 80.000 perawi dan
menghafalnya rinci dengan sumbernya.

Imam Muslim bin Al Hajjaj, pengarang kitab As Sahih Muslim menceritakan : "Ketika
Muhammad bin Ismail datang ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang kepala
daerah, para ulama dan penduduk Naisabur memberikan sambutan seperti apa yang
mereka berikan kepadanya." Mereka menyambut kedatangannya dari luar kota sejauh dua
atau tiga marhalah (100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya Az Zihli berkata :
"Barang siapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin Ismail besok pagi,
lakukanlah, sebab aku sendiri akan ikut menyambutnya."

Sementara itu, Az Zihli berpesan kepada para penduduk agar menghadiri dan mengikuti
pengajian yang diberikannya. Ia berkata : "Pergilah kalian kepada orang alim dan saleh
itu, ikuti dan dengarkan pengajiannya." Sayang, tak lama kemudian ia mendapat fitnah
dari orang-orang yang dengki. Mereka menuduh sang Imam sebagai orang yang
berpendapat bahwa "Al-Qur'an adalah makhluk".

Hal inilah yang menimbulkan kebencian dan kemarahan gurunya, Az Zihli kepadanya.
Kata Az Zihli : "Barang siapa berpendapat lafadz-lafadz Al-Qur'an adalah makhluk, maka
ia adalah ahli bid'ah. Ia tidak boleh diajak bicara dan majelisnya tidak boleh didatangi.
Dan barang siapa masih mengunjungi majelisnya, curigailah dia." Setelah adanya
ultimatum tersebut, orang-orang mulai menjauhinya.

Sebenarnya, Imam Bukhari terlepas dari fitnah yang dituduhkan kepadanya itu.
Diceritakan, seseorang berdiri dan mengajukan pertanyaan kepadanya : "Bagaimana
pendapat Anda tentang lafadz-lafadz Al-Qur'an, makhluk ataukah bukan?" Bukhari

49
berpaling dari orang itu dan tidak mau menjawab kendati pertanyaan itu diajukan sampai
tiga kali.

Tetapi orang itu terus mendesak. Ia pun menjawab : "Al-Qur'an adalah kalam Allah,
bukan makhluk, sedangkan perbuatan manusia adalah makhluk dan fitnah merupakan
bid'ah." Pendapat yang dikemukakan Imam Bukhari ini, yakni dengan membedakan
antara yang dibaca dengan bacaan, adalah pendapat yang menjadi pegangan para ulama
ahli tahqiq (pengambil kebijakan) dan ulama salaf. Tetapi dengki dan iri adalah buta dan
tuli.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Bukhari pernah berkata : "Iman adalah
perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang.

Al-Quran adalah kalam Allah, bukan makhluk. Sahabat Rasulullah SAW, yang paling
utama adalah Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Dengan berpegang pada keimanan
inilah aku hidup, aku mati dan dibangkitkan di akhirat kelak, insya Allah." Di lain
kesempatan, ia berkata : "Barang siapa menuduhku berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-
Qur'an adalah makhluk, ia adalah pendusta."

Selain mencurahkan seluruh intelegensi dan daya ingatnya pada karya terbesarnya, Sahih
Bukhari, Imam Bukhari juga melaksanakan tugas itu dengan dedikasi dan kesalehan. Ia
selalu mandi dan berdoa sebelum menulis buku itu. Sebagian buku tersebut ditulisnya di
samping makam Nabi di Madinah. Imam Durami, guru Imam Bukhari, mengakui
keluasan wawasan Hadits muridnya ini : "Di antara ciptaan Tuhan pada masanya, Imam
Bukharilah agaknya yang paling bijaksana."

Suatu ketika penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari. Isinya,
meminta dirinya agar menetap di negeri itu (Samarkand). Ia pun pergi memenuhi
permohonan mereka. Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah desa kecil
terletak dua farsakh (sekitar 10 Km) sebelum Samarkand, dan desa itu terdapat beberapa
familinya, ia pun singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi mereka.

Tetapi di desa itu Imam Bukhari jatuh sakit hingga menemui ajalnya. Ia wafat pada
malam Idul Fitri tahun 256 H (31 Agustus 870 M), dalam usia 62 tahun kurang 13 hari.
Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahwa jika meninggal nanti jenazahnya agar
dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu
dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat.

Selain terkenal sebagai seorang alim, Imam Bukhari ternyata tidak melupakan kegiatan
lain, yakni olahraga. Ia misalnya sering belajar memanah sampai mahir, sehingga
dikatakan sepanjang hidupnya, sang Imam tidak pernah luput dalam memanah kecuali
hanya dua kali. Keadaan itu timbul sebagai pengamalan sunnah Rasul yang mendorong
dan menganjurkan kaum Muslimin belajar menggunakan anak panah dan alat-alat perang
lainnya.

Ia juga produktif dalam berkarya. Banyak buku telah dikarangnya, di antaranya : Al Jami'
as-Sahih (Sahih Bukhari), Al Adab Al Mufrad, At Tarikh As Sagir, At Tarikh Al Awsat, At

50
Tarikh Al Kabir, At Tafsir Al Kabir, Al Musnad Al Kabir, Kitab Al 'Ilal. Selain itu, ia juga
menulis kitab Raf'ul Yadain fis Salah, Birrul Walidain, Kitab Al Asyribah, Al Qira'ah
Khalf Al Imam, Kitab Ad Du'afa, Asami as Sahabah, Kitab Al Kuna.

Kitab Al Jami' As Shahih (Sahih Bukhari), menjadi karya monumental Imam Bukhari.
Dalam sebuah riwayat diceritakan, Imam Bukhari berkata : "Aku bermimpi melihat
Rasulullah SAW; seolah-olah aku berdiri di hadapannya, sambil memegang kipas yang
kupergunakan untuk menjaganya. Kemudian aku tanyakan mimpi itu kepada sebagian
ahli ta'bir, ia menjelaskan bahwa aku akan menghancurkan dan mengikis habis
kebohongan dari Hadits Rasulullah SAW. Mimpi inilah, antara lain, yang mendorongku
untuk melahirkan kitab Al Jami' As Sahih."

Dalam menghimpun Hadits sahih dalam kitabnya, Imam Bukhari menggunakan kaidah-
kaidah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan kesahihan Hadits-haditsnya
dapat dipertanggungjawabkan. Ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti dan
menyelidiki keadaan para perawi, serta memperoleh secara pasti kesahihan Hadits-hadits
yang diriwayatkannya.

Imam Bukhari senantiasa membandingkan Hadits-hadits yang diriwayatkan, satu dengan


lainnya, menyaringnya dan memilih mana yang menurutnya paling sahih. Sehingga
kitabnya merupakan batu uji dan penyaring bagi Hadits-hadits tersebut. Hal ini tercermin
dari perkataannya : "Aku susun kitab Al Jami' ini yang dipilih dari 600.000 Hadits selama
16 tahun." (her)[republika.co.id]

Imam Hanbali

"Ia murid paling cendekia yang pernah saya jumpai selama di Baghdad. Sikapnya
menghadapi sidang pengadilan dan menanggung petaka akibat tekanan khalifah
Abbasiyyah selama 15 tahun karena menolak doktrin resmi Mu'tazilah merupakan saksi
hidup watak agung dan kegigihan yang mengabdikannya sebagai tokoh besar sepanjang
masa."

Penilaian itu diungkapkan Imam Syafi'i, yang tak lain adalah guru Imam Hanbali.
Menurut Syafi'i, perjuangan mempertahankan keyakinan yang tak sesuai dengan
pemikiran seseorang, selalu menghadapi risiko antara hidup dan mati. Dan Imam Hanbali
membuktikan hal itu.

Imam Hanbali yang dikenal ahli dan pakar hadits ini memang sangat memberikan
perhatian besar pada ilmu yang satu ini. Kegigihan dan kesungguhannya telah melahirkan
banyak ulama dan perawi hadits terkenal semisal Imam Bukhari, Imam Muslim, dan
Imam Abu Daud yang tak lain buah didikannya. Karya-karya mereka seperti Sahih
Bukhari, Sahih Muslim atau Sunan Abu Daud menjadi kitab hadits standar yang menjadi
rujukan umat Islam di seluruh dunia dalam memahami ajaran Islam yang disampaikan
Rasulullah SAW lewat hadits-haditsnya.

51
Kepakaran Imam Hanbali dalam ilmu hadits memang tak diragukan lagi sehingga
mengundang banyak tokoh ulama berguru kepadanya. Menurut putra sulungnya,
Abdullah bin Ahmad, Imam Hanbali hafal hingga 700.000 hadits di luar kepala.

Hadits sejumlah itu, diseleksi secara ketat dan ditulisnya kembali dalam kitab karyanya
Al Musnad. Dalam kitab tersebut, hanya 40.000 hadits yang dituliskan kembali dengan
susunan berdasarkan tertib nama sahabat yang meriwayatkan. Umumnya hadits dalam
kitab ini berderajat sahih dan hanya sedikit yang berderajat dhaif. Berdasar penelitian
Abdul Aziz al Khuli, seorang ulama bahasa yang banyak menulis biografi tokoh sahabat,
sebenarnya hadits yang termuat dalam Al Musnad berjumlah 30 ribu karena ada sekitar
10 ribu hadits yang berulang.

Kepandaian Imam Hanbali dalam ilmu hadits, bukan datang begitu saja. Tokoh kelahiran
Baghdad, 780 M (wafat 855 M) ini, dikenal sebagai ulama yang gigih mendalami ilmu.
Lahir dengan nama Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Imam Hanbali dibesarkan oleh
ibunya, karena sang ayah meninggal dalam usia muda. Hingga usia 16 tahun, Hanbali
belajar Al-Qur'an dan ilmu-ilmu agama lain kepada ulama-ulama Baghdad.

Setelah itu, ia mengunjungi para ulama terkenal di berbagai tempat seperti Kufah, Basra,
Syam, Yaman, Mekkah dan Madinah. Beberapa gurunya antara lain Hammad bin Khalid,
Ismail bil Aliyyah, Muzaffar bin Mudrik, Walin bin Muslim, dan Musa bin Tariq. Dari
merekalah Hanbali muda mendalami fikih, hadits, tafsir, kalam, dan bahasa. Karena
kecerdasan dan ketekunannya, Hanbali dapat menyerap semua pelajaran dengan baik.

Kecintaannya kepada ilmu begitu luar biasa. Karenanya, setiap kali mendengar ada ulama
terkenal di suatu tempat, ia rela menempuh perjalanan jauh dan waktu lama hanya untuk
menimba ilmu dari sang ulama. Kecintaan kepada ilmu jua yang menjadikan Hanbali rela
tak menikah dalam usia muda. Ia baru menikah setelah usia 40 tahun.

Pertama kali, ia menikah dengan Aisyah binti Fadl dan dikaruniai seorang putra bernama
Saleh. Ketika Aisyah meninggal, ia menikah kembali dengan Raihanah dan dikarunia
putra bernama Abdullah. Istri keduanya pun meninggal dan Hanbali menikah untuk
terakhir kalinya dengan seorang jariyah, hamba sahaya wanita bernama Husinah. Darinya
ia memperoleh lima orang anak yaitu Zainab, Hasan, Husain, Muhammad, dan Said.

Tak hanya pandai, Imam Hanbali dikenal tekun beribadah dan dermawan. Imam Ibrahim
bin Hani, salah seorang ulama terkenal yang jadi sahabatnya menjadi saksi akan
kezuhudan Imam Hanbali. ''Hampir setiap hari ia berpuasa dan tidurnya pun sedikit sekali
di waktu malam. Ia lebih banyak shalat malam dan witir hingga Shubuh tiba,'' katanya.

Imam Malik

Dalam sebuah kunjungan ke kota Madinah, Khalifah Bani Abbasiyyah, Harun Al Rasyid
(penguasa saat itu), tertarik mengikuti ceramah al muwatta' (himpunan hadits) yang
diadakan Imam Malik. Untuk hal ini, khalifah mengutus orang memanggil Imam.

52
''Rasyid, leluhur Anda selalu melindungi pelajaran hadits. Mereka amat menghormatinya.
Bila sebagai khalifah Anda tidak menghormatinya, tak seorang pun akan menaruh hormat
lagi. Manusia yang mencari ilmu, sementara ilmu tidak akan mencari manusia,'' nasihat
Imam Malik kepada Khalifah Harun.

Sedianya, khalifah ingin jamaah meninggalkan ruangan tempat ceramah itu diadakan.
Namun, permintaan itu tak dikabulkan Malik. ''Saya tidak dapat mengorbankan
kepentingan umum hanya untuk kepentingan seorang pribadi.'' Sang khalifah pun
akhirnya mengikuti ceramah bersama dua putranya dan duduk berdampingan dengan
rakyat kecil.

Imam Malik yang bernama lengkap Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi
Amir bin Amr bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris al Asbahi, lahir di
Madinah pada tahun 712 M dan wafat tahun 796 M. Berasal dari keluarga Arab
terhormat, berstatus sosial tinggi, baik sebelum maupun sesudah datangnya Islam. Tanah
asal leluhurnya adalah Yaman, namun setelah nenek moyangnya menganut Islam, mereka
pindah ke Madinah. Kakeknya, Abu Amir, adalah anggota keluarga pertama yang
memeluk agama Islam pada tahun 2 H. Saat itu, Madinah adalah kota 'ilmu' yang sangat
terkenal.

Kakek dan ayahnya termasuk kelompok ulama hadits terpandang di Madinah. Karenanya,
sejak kecil Imam Malik tak berniat meninggalkan Madinah untuk mencari ilmu. Ia
merasa Madinah adalah kota dengan sumber ilmu yang berlimpah lewat kehadiran
ulama-ulama besarnya.

Kendati demikian, dalam mencari ilmu Imam Malik rela mengorbankan apa saja.
Menurut satu riwayat, sang imam sampai harus menjual tiang rumahnya hanya untuk
membayar biaya pendidikannya. Menurutnya, tak layak seorang yang mencapai derajat
intelektual tertinggi sebelum berhasil mengatasi kemiskinan. Kemiskinan, katanya,
adalah ujian hakiki seorang manusia.

Karena keluarganya ulama ahli hadits, maka Imam Malik pun menekuni pelajaran hadits
kepada ayah dan paman-pamannya. Kendati demikian, ia pernah berguru pada ulama-
ulama terkenal seperti Nafi' bin Abi Nuaim, Ibnu Syihab az Zuhri, Abul Zinad, Hasyim
bin Urwa, Yahya bin Said al Anshari, dan Muhammad bin Munkadir. Gurunya yang lain
adalah Abdurrahman bin Hurmuz, tabi'in ahli hadits, fikih, fatwa dan ilmu berdebat; juga
Imam Jafar Shadiq dan Rabi Rayi.

Dalam usia muda, Imam Malik telah menguasai banyak ilmu. Kecintaannya kepada ilmu
menjadikan hampir seluruh hidupnya diabdikan dalam dunia pendidikan. Tidak kurang
empat khalifah, mulai dari Al Mansur, Al Mahdi, Hadi Harun, dan Al Ma'mun, pernah
jadi murid Imam Malik. Ulama besar, Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi'i pun pernah
menimba ilmu dari Imam Malik. Belum lagi ilmuwan dan para ahli lainnya. Menurut
sebuah riwayat disebutkan murid terkenal Imam Malik mencapai 1.300 orang.

53
Ciri pengajaran Imam Malik adalah disiplin, ketentraman, dan rasa hormat murid kepada
gurunya. Prinsip ini dijunjung tinggi olehnya sehingga tak segan-segan ia menegur keras
murid-muridnya yang melanggar prinsip tersebut. Pernah suatu kali Khalifah Mansur
membahas sebuah hadits dengan nada agak keras. Sang imam marah dan berkata,
''Jangan melengking bila sedang membahas hadits Nabi.''

Ketegasan sikap Imam Malik bukan sekali saja. Berulangkali, manakala dihadapkan pada
keinginan penguasa yang tak sejalan dengan aqidah Islamiyah, Imam Malik menentang
tanpa takut risiko yang dihadapinya. Salah satunya dengan Ja'far, gubernur Madinah.
Suatu ketika, gubernur yang masih keponakan Khalifah Abbasiyah, Al Mansur, meminta
seluruh penduduk Madinah melakukan bai'at (janji setia) kepada khalifah. Namun, Imam
Malik yang saat itu baru berusia 25 tahun merasa tak mungkin penduduk Madinah
melakukan bai'at kepada khalifah yang mereka tak sukai.

Ia pun mengingatkan gubernur tentang tak berlakunya bai'at tanpa keikhlasan seperti
tidak sahnya perceraian paksa. Ja'far meminta Imam Malik tak menyebarluaskan
pandangannya tersebut, tapi ditolaknya. Gubernur Ja'far merasa terhina sekali. Ia pun
memerintahkan pengawalnya menghukum dera Imam Malik sebanyak 70 kali. Dalam
kondisi berlumuran darah, sang imam diarak keliling Madinah dengan untanya. Dengan
hal itu, Ja'far seakan mengingatkan orang banyak, ulama yang mereka hormati tak dapat
menghalangi kehendak sang penguasa.

Namun, ternyata Khalifah Mansur tidak berkenan dengan kelakuan keponakannya itu.
Mendengar kabar penyiksaan itu, khalifah segera mengirim utusan untuk menghukum
keponakannya dan memerintahkan untuk meminta maaf kepada sang imam. Untuk
menebus kesalahan itu, khalifah meminta Imam Malik bermukim di ibukota Baghdad dan
menjadi salah seorang penasihatnya. Khalifah mengirimkan uang 3.000 dinar untuk
keperluan perjalanan sang imam. Namun, undangan itu pun ditolaknya. Imam Malik
lebih suka tidak meninggalkan kota Madinah. Hingga akhir hayatnya, ia tak pernah pergi
keluar Madinah kecuali untuk berhaji.

Pengendalian diri dan kesabaran Imam Malik membuat ia ternama di seantero dunia
Islam. Pernah semua orang panik lari ketika segerombolan Kharijis bersenjatakan pedang
memasuki masjid Kuffah. Tetapi, Imam Malik yang sedang shalat tanpa cemas tidak
beranjak dari tempatnya. Mencium tangan khalifah apabila menghadap di baliurang
sudah menjadi adat kebiasaan, namun Imam Malik tidak pernah tunduk pada penghinaan
seperti itu. Sebaliknya, ia sangat hormat pada para cendekiawan, sehingga pernah ia
menawarkan tempat duduknya sendiri kepada Imam Abu Hanifah yang mengunjunginya.

***

Dari Al Muwatta' Hingga Madzhab Maliki

Al Muwatta' adalah kitab fikih berdasarkan himpunan hadits-hadits pilihan. Santri mana
yang tak kenal kitab yang satu ini. Ia menjadi rujukan penting, khususnya di kalangan
pesantren dan ulama kontemporer. Karya terbesar Imam Malik ini dinilai memiliki

54
banyak keistimwaan. Ia disusun berdasarkan klasifikasi fikih dengan memperinci kaidah
fikih yang diambil dari hadits dan fatwa sahabat.

Menurut beberapa riwayat, sesungguhnya Al Muwatta' tak akan lahir bila Imam Malik
tidak 'dipaksa' Khalifah Mansur. Setelah penolakan untuk ke Baghdad, Khalifah Al
Mansur meminta Imam Malik mengumpulkan hadits dan membukukannya. Awalnya,
Imam Malik enggan melakukan itu. Namun, karena dipandang tak ada salahnya
melakukan hal tersebut, akhirnya lahirlah Al Muwatta'. Ditulis di masa Al Mansur (754-
775 M) dan baru selesai di masa Al Mahdi (775-785 M).

Dunia Islam mengakui Al Muwatta' sebagai karya pilihan yang tak ada duanya. Menurut
Syah Walilullah, kitab ini merupakan himpunan hadits paling shahih dan terpilih. Imam
Malik memang menekankan betul terujinya para perawi. Semula, kitab ini memuat 10
ribu hadits. Namun, lewat penelitian ulang, Imam Malik hanya memasukkan 1.720
hadits. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dengan 16 edisi yang
berlainan. Selain Al Muwatta', Imam Malik juga menyusun kitab Al Mudawwanah al
Kubra, yang berisi fatwa-fatwa dan jawaban Imam Malik atas berbagai persoalan.

Imam Malik tak hanya meninggalkan warisan buku. Ia juga mewariskan mazhab fikih di
kalangan Islam Sunni, yang disebut sebagai Mazhab Maliki. Selain fatwa-fatwa Imam
Malik dan Al Muwatta', kitab-kitab seperti Al Mudawwanah al Kubra, Bidayatul
Mujtahid wa Nihaayatul Muqtashid (karya Ibnu Rusyd), Matan ar Risalah fi al Fiqh al
Maliki (karya Abu Muhammad Abdullah bin Zaid), Asl al Madarik Syarh Irsyad al
Masalik fi Fiqh al Imam Malik (karya Shihabuddin al Baghdadi), dan Bulgah as Salik li
Aqrab al Masalik (karya Syeikh Ahmad as Sawi), menjadi rujukan utama mazhab Maliki.

Di samping sangat konsisten memegang teguh hadits, mazhab ini juga dikenal amat
mengedepankan aspek kemaslahatan dalam menetapkan hukum. Secara berurutan,
sumber hukum yang dikembangkan dalam Mazhab Maliki adalah Al-Qur'an, Sunnah
Rasulullah SAW, amalan sahabat, tradisi masyarakat Madinah (amal ahli al Madinah),
qiyas (analogi), dan al maslahah al mursalah (kemaslahatan yang tidak didukung atau
dilarang oleh dalil tertentu).

Mazhab Maliki pernah menjadi mazhab resmi di Mekah, Madinah, Irak, Mesir, Aljazair,
Tunisia, Andalusia (kini Spanyol), Marokko, dan Sudan. Kecuali di tiga negara yang
disebut terakhir, jumlah pengikut mazhab Maliki kini menyusut. Mayoritas penduduk
Mekah dan Madinah saat ini mengikuti Mazhab Hanbali. Di Iran dan Mesir, jumlah
pengikut Mazhab Maliki juga tidak banyak. Hanya Marokko saat ini satu-satunya negara
yang secara resmi menganut Mazhab Maliki. (her)[republika.co.id]
Imam Muslim

Siapa tak kenal Imam Muslim. Di kalangan santri, karya-karyanya masih menjadi
rujukan penting berkaitan dengan ilmu Hadits. Di bidang ini (periwayatan Hadits),
namanya sering disandingkan dengan Imam Bukhari, penghimpun dan perawi Hadits
terbaik. Karena itu, nama Imam Muslim dan Imam Bukhari kerap kali bersanding dalam
periwayatan sebuah Hadits.

55
Keduanya pun, dalam literatur Islam, kemudian dikenal dengan sebutan Imam Syaikhaan
(dua ulama besar perawi Hadits). Bahkan, tak jarang sebuah Hadits hanya ditulis
perawinya dengan nama rawahu syaikhaan maksudnya tak lain Hadits tersebut
diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Dilahirkan di Naisabur pada 202 H/817 M, Imam Muslim bernama lengkap Imam Abul
Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi an Naisaburi. Naisabur
(kini termasuk wilayah Rusia, Red) dalam sejarah Islam kala itu termasuk dalam sebutan
Maa Wara'a an Nahr. Artinya, daerah-daerah yang terletak di sekitar Sungai Jihun di
Uzbekistan, Asia Tengah. Pada masa Dinasti Samanid, Naisabur menjadi pusat
pemerintahan dan perdagangan selama lebih kurang 150 tahun. Seperti halnya Baghdad
di abad pertengahan, Naisabur, juga Bukhara (kota kelahiran Imam Bukhari) sebagai
salah satu kota ilmu dan pusat peradaban di kawasan Asia Tengah. Di sini pula bermukim
banyak ulama besar.

Perhatian dan minat Imam Muslim terhadap ilmu Hadits memang luar biasa. Sejak usia
dini, ia telah berkonsentrasi mempelajari Hadits. Beruntung, ia dianugerahi kelebihan
berupa ketajaman berfikir dan ingatan hafalan. Ketika berusia sepuluh tahun, Imam
Muslim sering datang dan berguru pada ahli Hadits, Imam Ad Dakhili. Setahun
kemudian, ia mulai menghafal Hadits Nabi SAW, dan mulai berani mengoreksi kesalahan
dari gurunya yang salah menyebutkan periwayatan Hadits.

Selain kepada Ad Dakhili, Imam Muslim pun tak segan-segan bertanya kepada banyak
ulama di berbagai tempat dan negara. Berpetualang kemudian menjadi aktivitas rutin
dirinya hanya untuk sekadar mencari silsilah dan urutan yang benar sebuah Hadits.

Ia misalnya pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya. Dalam
lawatannya itu, tak terhindarkan Imam Muslim banyak bertemu dan mengunjungi ulama-
ulama kenamaan untuk berguru Hadits kepada mereka. Di Khurasan, ia berguru kepada
Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di Ray ia berguru kepada Muhammad bin
Mahran dan Abu 'Ansan. Di Irak ia belajar Hadits kepada Ahmad bin Hambal dan
Abdullah bin Maslamah; di Hijaz belajar kepada Sa'id bin Mansur dan Abu Mas'Abuzar;
di Mesir berguru kepada 'Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan ulama ahli Hadits
lainnya.

Bagi Imam Muslim, Baghdad memiliki arti tersendiri. Di kota inilah ia berkali-kali
berkunjung untuk belajar kepada ulama-ulama ahli Hadits. Kunjungannya yang terakhir
ia lakukan pada tahun 259 H. Ketika Imam Bukhari datang ke Naisabur, Imam Muslim
sering mendatanginya untuk bertukar pikiran sekaligus berguru padanya. Saat itu, Imam
Bukhari yang memang lebih senior, lebih menguasai ilmu Hadits ketimbang dirinya.

Ketika terjadi fitnah atau kesenjangan antara Bukhari dan Az Zihli, ia bergabung kepada
Bukhari. Sayang, hal ini kemudian menjadi sebab terputusnya hubungan dirinya dengan
Imam Az Zihli. Lebih tragis lagi, hubungan tak baik itu merembet ke masalah ilmu, yakni
dalam hal penghimpunan dan periwayatan Hadits-hadits Nabi SAW.

56
Imam Muslim dalam kitab Sahihnya maupun kitab-kitab lainnya tidak memasukkan
Hadits-hadits yang diterima dari Az Zihli, padahal ia adalah gurunya. Hal serupa juga ia
lakukan terhadap Bukhari. Tampaknya bagi Imam Muslim tak ada pilihan lain kecuali
tidak memasukkan ke dalam Sahihnya Hadits-hadits yang diterima dari kedua gurunya
itu. Kendati demikian, dirinya tetap mengakui mereka sebagai gurunya.

Imam Muslim yang dikenal sangat tawadu' dan wara' dalam ilmu itu telah meriwayatkan
puluhan ribu Hadits. Menurut Muhammad Ajaj Al Khatib, guru besar Hadits pada
Universitas Damaskus, Syria, Hadits yang tercantum dalam karya besar Imam Muslim,
Sahih Muslim, berjumlah 3.030 Hadits tanpa pengulangan. Bila dihitung dengan
pengulangan, katanya, berjumlah sekitar 10.000 Hadits. Sementara menurut Imam Al
Khuli, ulama besar asal Mesir, Hadits yang terdapat dalam karya Muslim tersebut
berjumlah 4.000 Hadits tanpa pengulangan, dan 7.275 dengan pengulangan. Jumlah
Hadits yang ia tulis dalam Sahih Muslim itu diambil dan disaring dari sekitar 300.000
Hadits yang ia ketahui. Untuk menyaring Hadits-hadits tersebut, Imam Muslim
membutuhkan waktu 15 tahun.

Soal metode penyusunan Hadits, Imam Muslim menerapkan prinsip-prinsip ilmu jarh,
dan ta'dil, suatu ilmu yang digunakan untuk menilai cacat tidaknya suatu Hadits. Ia juga
menggunakan sighat at tahammul (metode-metode penerimaan riwayat), seperti
haddasani (menyampaikan kepada saya), haddasana (menyampaikan kepada kami),
akhbarana (mengabarkan kepada saya), akhabarana (mengabarkan kepada kami), dan
qaalaa (ia berkata).

Berkat kesungguhan dan keseriusannya, Imam Muslim menjadi orang kedua terbaik
dalam masalah ilmu Hadits (sanad, matan, kritik, dan seleksinya) setelah Imam Bukhari.
"Di dunia ini orang yang benar-benar ahli di bidang Hadits hanya empat orang; salah satu
di antaranya adalah Imam Muslim," komentar ulama besar Abu Quraisy Al Hafiz.
Maksud ungkapan itu tak lain adalah ahli-ahli Hadits terkemuka yang hidup di masa Abu
Quraisy. Jejak panjang perjuangan Imam Muslim berakhir pada Ahad sore, 24 Rajab 261,
ketika Sang Khaliq menghendaki dirinya menghadap. (hery)[republika.
Imam Muslim

Siapa tak kenal Imam Muslim. Di kalangan santri, karya-karyanya masih menjadi
rujukan penting berkaitan dengan ilmu Hadits. Di bidang ini (periwayatan Hadits),
namanya sering disandingkan dengan Imam Bukhari, penghimpun dan perawi Hadits
terbaik. Karena itu, nama Imam Muslim dan Imam Bukhari kerap kali bersanding dalam
periwayatan sebuah Hadits.

Keduanya pun, dalam literatur Islam, kemudian dikenal dengan sebutan Imam Syaikhaan
(dua ulama besar perawi Hadits). Bahkan, tak jarang sebuah Hadits hanya ditulis
perawinya dengan nama rawahu syaikhaan maksudnya tak lain Hadits tersebut
diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

57
Dilahirkan di Naisabur pada 202 H/817 M, Imam Muslim bernama lengkap Imam Abul
Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi an Naisaburi. Naisabur
(kini termasuk wilayah Rusia, Red) dalam sejarah Islam kala itu termasuk dalam sebutan
Maa Wara'a an Nahr. Artinya, daerah-daerah yang terletak di sekitar Sungai Jihun di
Uzbekistan, Asia Tengah. Pada masa Dinasti Samanid, Naisabur menjadi pusat
pemerintahan dan perdagangan selama lebih kurang 150 tahun. Seperti halnya Baghdad
di abad pertengahan, Naisabur, juga Bukhara (kota kelahiran Imam Bukhari) sebagai
salah satu kota ilmu dan pusat peradaban di kawasan Asia Tengah. Di sini pula bermukim
banyak ulama besar.

Perhatian dan minat Imam Muslim terhadap ilmu Hadits memang luar biasa. Sejak usia
dini, ia telah berkonsentrasi mempelajari Hadits. Beruntung, ia dianugerahi kelebihan
berupa ketajaman berfikir dan ingatan hafalan. Ketika berusia sepuluh tahun, Imam
Muslim sering datang dan berguru pada ahli Hadits, Imam Ad Dakhili. Setahun
kemudian, ia mulai menghafal Hadits Nabi SAW, dan mulai berani mengoreksi kesalahan
dari gurunya yang salah menyebutkan periwayatan Hadits.

Selain kepada Ad Dakhili, Imam Muslim pun tak segan-segan bertanya kepada banyak
ulama di berbagai tempat dan negara. Berpetualang kemudian menjadi aktivitas rutin
dirinya hanya untuk sekadar mencari silsilah dan urutan yang benar sebuah Hadits.

Ia misalnya pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya. Dalam
lawatannya itu, tak terhindarkan Imam Muslim banyak bertemu dan mengunjungi ulama-
ulama kenamaan untuk berguru Hadits kepada mereka. Di Khurasan, ia berguru kepada
Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di Ray ia berguru kepada Muhammad bin
Mahran dan Abu 'Ansan. Di Irak ia belajar Hadits kepada Ahmad bin Hambal dan
Abdullah bin Maslamah; di Hijaz belajar kepada Sa'id bin Mansur dan Abu Mas'Abuzar;
di Mesir berguru kepada 'Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan ulama ahli Hadits
lainnya.

Bagi Imam Muslim, Baghdad memiliki arti tersendiri. Di kota inilah ia berkali-kali
berkunjung untuk belajar kepada ulama-ulama ahli Hadits. Kunjungannya yang terakhir
ia lakukan pada tahun 259 H. Ketika Imam Bukhari datang ke Naisabur, Imam Muslim
sering mendatanginya untuk bertukar pikiran sekaligus berguru padanya. Saat itu, Imam
Bukhari yang memang lebih senior, lebih menguasai ilmu Hadits ketimbang dirinya.

Ketika terjadi fitnah atau kesenjangan antara Bukhari dan Az Zihli, ia bergabung kepada
Bukhari. Sayang, hal ini kemudian menjadi sebab terputusnya hubungan dirinya dengan
Imam Az Zihli. Lebih tragis lagi, hubungan tak baik itu merembet ke masalah ilmu, yakni
dalam hal penghimpunan dan periwayatan Hadits-hadits Nabi SAW.

Imam Muslim dalam kitab Sahihnya maupun kitab-kitab lainnya tidak memasukkan
Hadits-hadits yang diterima dari Az Zihli, padahal ia adalah gurunya. Hal serupa juga ia
lakukan terhadap Bukhari. Tampaknya bagi Imam Muslim tak ada pilihan lain kecuali
tidak memasukkan ke dalam Sahihnya Hadits-hadits yang diterima dari kedua gurunya
itu. Kendati demikian, dirinya tetap mengakui mereka sebagai gurunya.

58
Imam Muslim yang dikenal sangat tawadu' dan wara' dalam ilmu itu telah meriwayatkan
puluhan ribu Hadits. Menurut Muhammad Ajaj Al Khatib, guru besar Hadits pada
Universitas Damaskus, Syria, Hadits yang tercantum dalam karya besar Imam Muslim,
Sahih Muslim, berjumlah 3.030 Hadits tanpa pengulangan. Bila dihitung dengan
pengulangan, katanya, berjumlah sekitar 10.000 Hadits. Sementara menurut Imam Al
Khuli, ulama besar asal Mesir, Hadits yang terdapat dalam karya Muslim tersebut
berjumlah 4.000 Hadits tanpa pengulangan, dan 7.275 dengan pengulangan. Jumlah
Hadits yang ia tulis dalam Sahih Muslim itu diambil dan disaring dari sekitar 300.000
Hadits yang ia ketahui. Untuk menyaring Hadits-hadits tersebut, Imam Muslim
membutuhkan waktu 15 tahun.

Soal metode penyusunan Hadits, Imam Muslim menerapkan prinsip-prinsip ilmu jarh,
dan ta'dil, suatu ilmu yang digunakan untuk menilai cacat tidaknya suatu Hadits. Ia juga
menggunakan sighat at tahammul (metode-metode penerimaan riwayat), seperti
haddasani (menyampaikan kepada saya), haddasana (menyampaikan kepada kami),
akhbarana (mengabarkan kepada saya), akhabarana (mengabarkan kepada kami), dan
qaalaa (ia berkata).

Berkat kesungguhan dan keseriusannya, Imam Muslim menjadi orang kedua terbaik
dalam masalah ilmu Hadits (sanad, matan, kritik, dan seleksinya) setelah Imam Bukhari.
"Di dunia ini orang yang benar-benar ahli di bidang Hadits hanya empat orang; salah satu
di antaranya adalah Imam Muslim," komentar ulama besar Abu Quraisy Al Hafiz.
Maksud ungkapan itu tak lain adalah ahli-ahli Hadits terkemuka yang hidup di masa Abu
Quraisy. Jejak panjang perjuangan Imam Muslim berakhir pada Ahad sore, 24 Rajab 261,
ketika Sang Khaliq menghendaki dirinya menghadap. (hery)[republika.co.id]
Imam Syafi'i

Ummat Islam sangat beruntung pernah memiliki ulama sekaligus perawi hadits yang
sangat disegani itu. Dialah Imam Syafi'i. Saat berusia sembilan tahun, seluruh ayat Al-
Qur'an dihafalnya dengan lancar (bahkan ia sempat 16 kali khatam Al-Qur'an, dalam
perjalanannya antara Makkah dan Madinah). Setahun kemudian, isi kitab Al-Muwatta
karya Imam Malik yang berisi 1.720 hadits pilihan juga dihafalnya tanpa cacat.

Kecerdasan membuat dirinya dalam usia 15 tahun telah duduk di kursi mufti kota Mekah,
sebuah jabatan prestisius untuk ukuran masa itu. Kendati demikian, Imam Syafi'i yang
bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Idris As Syafi'i tak pernah merasa puas
menuntut ilmu. Bagi Imam Syafi'i, panggilan terkenalnya, semakin dalam menekuni
sebuah ilmu, semakin banyak yang ia belum mengerti. Karena itu, tak heran guru dari
Imam Syafi'i demikian banyak, sama banyaknya dengan para muridnya.

Lahir di Gaza, Palestina pada 150 H/767 M (w. Cairo, 20 Januari 820), Imam Syafii
hidup di masa Kekhalifahan Harun Al-Rasyid, Al-Amin, dan Al-Ma'mun dari Dinasti
Abbasiyah. Ia termasuk keturunan bangsawan Quraisy dan masih keluarga jauh
Rasulullah SAW. Dari ayahnya, garis keturunan bertemu di Abdul Manaf, kakek ketiga
Rasulullah. Dari ibunya, ia cicit Ali bin Abi Thalib.

59
Semasa dalam kandungan, orang tuanya meninggalkan Mekah menuju Gaza, di wilayah
Palestina. Setibanya di Gaza, ayahnya jatuh sakit dan berpulang ke rahmatullah. Syafi'i
diasuh dan dibesarkan oleh ibunya dalam kondisi prihatin, serba kekurangan. Usia dua
tahun, bersama ibunya, ia kembali ke Mekkah. Di kota inilah Syafi'i mendapat
pengasuhan ibu dan keluarganya secara lebih intensif.

Setelah hafal Al-Qur'an, Syafi'i menekuni pula kesusasteraan Arab. Ia pun bermukim di
dusun Badui, Banu Hudail, selama beberapa tahun. Di dusun ini ia mendalami bahasa,
kesusasteraan, dan adat istiadat Arab yang asli. Karena ketekunan dan kepandaiannya,
Syafi'i kemudian dikenal sebagai pakar dalam bahasa dan kesusasteraan Arab.

Puas belajar sastra Arab di tempatnya yang asli, Syafi'i kembali ke Mekah untuk belajar
ilmu fikih. Gurunya, seorang ulama besar dan mufti kota Mekah, Imam Muslim bin
Khalid az-Zanni. Ia pun belajar hadits dari Imam Sufyan bin Uyainah dan Al-Qur'an dari
Imam Ismail bin Qastantin. Secara khusus, ia yang telah hafal Al-Muwatta' berhasrat
menemui sang penulisnya, Imam Malik, di Madinah. Hasratnya ini tercapai dan demi
mendengar kepandaian Syafi'i, Imam Malik merasa sayang dan menyuruh tinggal di
rumahnya sambil memperdalam ilmunya. Sejak itu, Syafi'i mendapat tugas untuk
mendiktekan isi kitab Al-Muwatta' kepada murid-murid Imam Malik.

Imam Syafi'i pun meninggalkan Madinah menuju Irak. Di negeri ini ia berguru kepada
Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad bin Hasan, keduanya sahabat Imam Abu Hanifah
atau Imam Hanafi. Setelah dua tahun di Irak, Syafi'i melanjutkan pengembaraannya ke
Persia, Hirah, Palestina, dan Ramallah, sebuah kota dekat Baitulmakdis (Yerusalem).
Tujuannya hanya satu, menuntut ilmu pada ulama-ulama terkemuka dan mencari
pengalaman. Dari Ramalah, ia kembali ke Madinah dan tinggal bersama Imam Malik
hingga wafatnya ulama besar tersebut.

Atas undangan Wali Negeri Yaman, Abdullah bin Hasan, Imam Syafi'i berdiam di negeri
ini dan menjadi penasihat urusan hukum. Di Yaman, Imam Syafi'i juga mengajar. Murid-
muridnya banyak dari berbagai pelosok negeri. Oleh Abdullah bin Hasan ia dinikahkan
dengan seorang putri bangsawan bernama Siti Hamidah bin Nafi yang masih cicit Usman
bin Affan. Dari perkawinan itu, Imam Syafi'i dianugerahi tiga orang anak, Abdullah,
Fatimah, dan Zainab.

Syafi'i terpaksa keluar dari Yaman karena ia ditangkap dengan tuduhan bersekongkol
dengan kalangan Syi'ah mencoba menggulingkan pemerintahan. Ia pun dibawa ke
Baghdad menghadap Khalifah Harun Al-Rasyid. Karena terbukti tak bersalah, ia pun
dibebaskan.

Permintaan mengajar datang dari Mesir. Abbas bin Musa, wali negeri itu, memintanya
datang. Dengan berat hati, Imam Syafi'i meninggalkan Baghdad dan mulai mengajar di
Masjid Amr bin Ash. Biasanya, ia mulai mengajar sejak pagi hari hingga menjelang
Dzuhur. Di negeri inilah, Imam Syafi'i berhasil menyelesaikan beberapa buku karyanya.

60
Sekalipun menguasai hampir seluruh disiplin ilmu, dalam lentera keilmuan dan
keagamaan Imam Syafi'i lebih dikenal sebagai ahli hadits dan hukum. Pusat
pemikirannya boleh dibilang terfokus pada dua cabang ilmu tersebut. Pembelaannya yang
besar terhadap sunnah Nabi, menjadikan Syafi'i digelari sebagai Nasiir as Sunnah, atau
pembela sunnah Nabi.

Dalam pandangannya, sunnah Nabi mempunyai kedudukan yang begitu tinggi. Malah
beberapa kalangan menyebut Syafi'i yang menyetarakan kedudukan sunnah dengan Al-
Qur'an dalam kaitannya sebagai sumber hukum Islam. Karena itu, di mata Imam Syafi'i,
setiap hukum yang ditetapkan Rasulullah pada hakikatnya merupakan hasil pemahaman
yang diperoleh Nabi dari pemahamannya terhadap Al-Qur'an.

Selain kepada kedua sumber tersebut, Al-Qur'an dan hadits, dalam mengambil ketetapan
dan keputusan suatu hukum, Imam Syafi'i juga mengakui dan memakai ijma'
(kesepakatan ulama), qias (analogi), dan istidlal (penalaran) sebagai dasar hukum Islam.
Dalam karyanya, Ar Risalaah, kelima dasar ini dipaparkan secara jelas dan gamblang.

Dalam kaitannya dengan sunnah, Imam Syafi'i juga memakai hadits ahaad (perawinya
satu orang), dan hadis mutawwatir (perawinya banyak orang). Menurutnya, bila dalam
sunnah pun tidak didapati nasnya, ia mengambil ijma' sahabat. Namun, jika tetap tak
didapati juga, imam Syafi'i memakai qias sebagai jalan ketetapan hukum. Demikian pula,
jika tidak ada dalil dalam qias dan ijma', maka istidlal sebagai jalan terakhir memutuskan
suatu hukum.

Berkaitan dengan bid'ah, imam Syafi'i berpendapat, bahwa bid'ah ada dua macam; bid'ah
terpuji dan bid'ah sesat. Dikatakan terpuji jika bid'ah itu selaras dengan prinsip-prinsip
sunnah. Sebaliknya, jika bertentangan dengan sunnah, dikatakan bid'ah sesat, dan karena
itu tertolak. Sementara itu, dalam soal taklid, Imam Syafi'i selalu memberikan perhatian
kepada para muridnya agar tidak menerima begitu saja pendapat-pendapat dan hasil
ijtihadnya. Ia tidak senang murid-muridnya bertaklid buta kepada pendapat-pendapatnya.

Sebaliknya, ia selalu menyuruh murid-muridnya untuk bersikap kritis dan berhati-hati


dalam menerima suatu pendapat. Dalam kaitan ini pula, imam Syafi'i terkenal dengan
ungkapannya, "Inilah ijtihadku. Apabila kalian menemukan ijtihad lain yang lebih baik
dari (ijtihadku), maka ikutilah ijtihad tersebut." Ungkapan bijak itu hingga kini menjadi
pelajaran penting dalam kaitannya dengan kehidupan beragama di Indonesia.

***

Madzhab Syafi'i

Doktrin keagamaan, khususnya dalam bidang fikih, yang diajarkan Imam Syafi'i pada
para pengikutnya kemudian dikenal sebagai Madzhab Syafi'i. Salah satu penganutnya
adalah aliran Ahlussunnah wal Jamaah yang dikembangkan di Indonesia oleh kalangan
NU. Madzhab ini mendasarkan sumber hukumnya pada Al-Qur'an, sunnah, ijma', dan
qias.

61
Madzhab ini mula-mula tumbuh dan berkembang di Irak. Di sinilah pertama kalinya
Imam Syafi'i menyampaikan pikiran dan gagasannya kepada para ulama ketika ia
melawat daerah ini dalam rangka menambah wawasannya. Paham ini pernah mendapat
tentangan keras pada masa Dinasti Fathimiyah, yang memerintah di Mesir.

Dari sini madzhab Syafi'i terus berkembang ke berbagai wilayah, seperti Baghdad,
Pakistan, Syria, India, Yaman, Persia (Iran), Hejaz. Di masa kini, Madzhab Syafii telah
berkembang luas hingga Afrika, Asia (khususnya di negara-negara Asia Tenggara), dan
beberapa negara bekas Uni Soviet.

Dasar terpenting dalam madzhab ini adalah pemikiran dan gagasan-gagasan Imam Syafi'i
dalam buku-bukunya, selain kelima dasar hukum tersebut di atas. Di antara karya-karya
imam Syafi'i adalah Ar-Risalah, karya Imam Syafi'i yang khusus membahas ushul fikih.
Buku ini sampai sekarang jadi kitab standar ushul fikih. Kemudian, Al-Umm, kitab fikih
yang komprehensif. Kitab itu sekarang terdiri dari tujuh jilid yang mencakup isi beberapa
kitab karangannya seperti Siyar al-Ausai, Jima al-Ilmi, Ibtal al-Istihan, dan ar-Radd ala
Muhammab ibn Hasan.

Selain itu juga buku Al-Musnad, berisi tentang hadits-hadits Nabi SAW yang dihimpun
dalam kitab Al-Umm. Serta Ikhtilaf al-Hadits, kitab yang menjelaskan tentang perbedaan-
perbedaan yang ada dalam hadits. Sebagian besar karya Imam Syafi'i itu ditulis ketika ia
bermukim di Mesir. Periode ini dikenal sebagai qaul jadid (pendapat-pendapat baru).
Sementara pikiran-pikiran dan hasil ijtihad sebelumnya dikenal sebagai qaul qadim.
(her)[republika.co.id]

Imam Tirmizi

Khazanah keilmuan Islam klasik mencatat sosok ini sebagai salah satu periwayat dan ahli
Hadits utama, selain Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, dan sederet nama
lainnya. Karyanya, Kitab Al Jami', atau biasa dikenal dengan kitab Jami' Tirmizi, menjadi
salah satu rujukan penting berkaitan masalah Hadits dan ilmunya, serta termasuk dalam
Kutubus Sittah (enam kitab pokok di bidang Hadits) dan ensiklopedia Hadits terkenal.
Sosok penuh tawadhu' dan ahli ibadah ini tak lain adalah Imam Tirmizi.

Dilahirkan pada 279 H di kota Tirmiz, Imam Tirmizi bernama lengkap Imam Al-Hafiz
Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin Ad-Dahhak As-Sulami At-Tirmizi.
Sejak kecil, Imam Tirmizi gemar belajar ilmu dan mencari Hadits. Untuk keperluan inilah
ia mengembara ke berbagai negeri : Hijaz, Irak, Khurasan, dan lain-lain.

Dalam lawatannya itu, ia banyak mengunjungi ulama-ulama besar dan guru-guru Hadits
untuk mendengar Hadits dan kemudian dihafal dan dicatatnya dengan baik. Di antara
gurunya adalah; Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Abu Daud. Selain itu, ia juga

62
belajar pada Imam Ishak bin Musa, Mahmud bin Gailan, Said bin Abdurrahman, Ali bin
Hajar, Ahmad bin Muni', dan lainnya.

Perjalanan panjang pengembaraannya mencari ilmu, bertukar pikiran, dan


mengumpulkan Hadits itu mengantarkan dirinya sebagai ulama Hadits yang sangat
disegani kalangan ulama semasanya. Kendati demikian, takdir menggariskan lain. Daya
upaya mulianya itu pula yang pada akhir kehidupannya mendapat musibah kebutaan, dan
beberapa tahun lamanya ia hidup sebagai tuna netra. Dalam kondisi seperti inilah, Imam
Tirmizi meninggal dunia. Ia wafat di Tirmiz pada usia 70 tahun.

Di kemudian hari, kumpulan Hadits dan ilmu-ilmunya dipelajari dan diriwayatkan oleh
banyak ulama, di antaranya; Makhul ibnul-Fadl, Muhammad bin Mahmud Anbar,
Hammad bin Syakir, Abd bin Muhammad An-Nasfiyyun, Al-Haisam bin Kulaib Asy-
Syasyi, Ahmad bin Yusuf An-Nasafi, Abul-Abbas Muhammad bin Mahbud Al-Mahbubi,
yang meriwayatkan kitab Al-Jami' daripadanya, dan lain-lain. Mereka ini pula murid-
murid Imam Tirmizi.

Banyak kalangan ulama dan ahli Hadits mengakui kekuatan dan kelebihan dalam diri
Imam Tirmizi. Selain itu, kesalehan dan ketakwaannya pun tak dapat diragukan lagi.
Salah satu ulama itu, Ibnu Hibban Al-Busti, pakar Hadits, mengakui kemampuan Tirmizi
dalam menghafal, menghimpun, menyusun, dan meneliti Hadits, sehingga menjadikan
dirinya sumber pengambilan Hadits para ulama terkenal, termasuk Imam Bukhari.

Sementara kalangan ulama lainnya mengungkapkan, Imam Tirmizi adalah sosok yang
dapat dipercaya, amanah, dan sangat teliti. Kisah yang dikemukakan Al-Hafiz Ibnu Hajar
dalam Tahzib At-Tahzibnya, dari Ahmad bin Abdullah bin Abu Dawud, berikut adalah
salah satu bukti kelebihan sang Imam :

Saya mendengar Abu Isa At-Tirmizi berkata : Pada suatu waktu dalam perjalanan menuju
Mekkah, dan ketika itu saya telah menulis dua jilid buku berisi Hadits-hadits berasal dari
seorang guru. Guru tersebut berpapasan dengan kami. Lalu saya bertanya-tanya mengenai
dia, mereka menjawab bahwa dialah orang yang kumaksudkan itu. Kemudian saya
menemuinya.

Saya mengira bahwa 'dua jilid kitab' itu ada padaku. Ternyata yang kubawa bukanlah dua
jilid tersebut, melainkan dua jilid lain yang mirip dengannya. Ketika saya bertemu
dengannya, saya memohon kepadanya untuk mendengar Hadits, dan ia mengabulkan
permohonan itu.

Kemudian ia membacakan Hadits yang dihafalnya. Di sela-sela pembacaan itu ia mencuri


pandang dan melihat bahwa kertas yang kupegang masih putih bersih tanpa ada tulisan
sesuatu apa pun. Melihat kenyataan ini, ia berkata, 'Tidakkah engkau malu kepadaku?'
Lalu aku bercerita dan menjelaskan kepadanya bahwa apa yang ia bacakan itu telah
kuhafal semuanya.

63
'Coba bacakan!,' suruhnya. Aku pun membacakan seluruhnya secara beruntun. Ia
bertanya lagi, 'Apakah telah engkau hafalkan sebelum datang kepadaku?' 'Tidak,'
jawabku. Kemudian saya meminta lagi agar dia meriwayatkan Hadits yang lain. Ia pun
kemudian membacakan 40 Hadits yang tergolong Hadits-hadits sulit atau gharib lalu
berkata, 'Coba ulangi apa yang kubacakan tadi.' Lalu aku membacakannya dari pertama
sampai selesai, dan ia berkomentar, 'Aku belum pernah melihat orang seperti engkau.'

Selain dikenal sebagai ahli dan penghafal Hadits, mengetahui kelemahan-kelemahan dan
perawi-perawinya, Imam Tirmizi juga dikenal sebagai ahli fiqh dengan wawasan dan
pandangan luas. Pandangan-pandangan tentang fiqh itu misalnya, dapat ditemukan dalam
kitabnya Al-Jami'.

Kajian-kajiannya mengenai persoalan fiqh ini pula mencerminkan dirinya sebagai ulama
yang sangat berpengalaman dan mengerti betul duduk permasalahan yang sebenarnya.
Sebagai tamsil, penjelasannya terhadap sebuah Hadits mengenai penangguhan membayar
piutang yang dilakukan si berutang yang sudah mampu, sebagai berikut :

"Muhammad bin Basysyar bin Mahdi menceritakan kepada kami. Sufyan menceritakan
kepada kami, dari Abi Az-Zunad, dari Al-Arai dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW,
bersabda : Penangguhan membayar utang (yang dilakukan oleh si berutang) yang mampu
adalah suatu kezaliman. Apabila seseorang di antara kamu dipindahkan utangnya kepada
orang lain yang mampu membayar, hendaklah pemindahan utang itu diterimanya."

Bagaimana penjelasan sang Imam? "Sebagian ahli ilmu berkata : 'Apabila seseorang
dipindahkan piutangnya kepada orang lain yang mampu membayar dan ia menerima
pemindahan itu, maka bebaslah orang yang memindahkan (muhil) itu, dan bagi orang
yang dipindahkan piutangnya (muhtal) tidak dibolehkan menuntut kepada muhil.'

Sementara sebagian ahli lainnya mengatakan: 'Apabila harta seseorang (muhtal) menjadi
rugi disebabkan kepailitan muhal 'alaih, maka baginya dibolehkan menuntut bayar
kepada orang pertama (muhil).

Alasannya adalah, tidak ada kerugian atas harta benda seorang Muslim. Menurut Ibnu
Ishak, perkataan 'Tidak ada kerugian atas harta benda seorang Muslim' ini adalah
'Apabila seseorang dipindahkan piutangnya kepada orang lain yang dikiranya mampu,
namun ternyata orang lain itu tidak mampu, maka tidak ada kerugian atas harta benda
orang Muslim (yang dipindahkan utangnya) itu'," demikian penjelasan Imam Tirmizi.

Ini adalah satu contoh yang menunjukkan kepada kita, betapa cemerlangnya pemikiran
fiqh Imam Tirmizi dalam memahami nash-nash Hadits, serta betapa luas dan orisinal
pandangannya itu. Hingga meninggalnya, Imam Tirmizi telah menulis puluhan kitab,
diantaranya : Kitab Al-Jami', terkenal dengan sebutan Sunan at-Tirmizi, Kitab Al-'Ilal,
Kitab At-Tarikh, Kitab Asy-Syama'il an-Nabawiyyah, Kitab Az-Zuhd, dan Kitab Al-
Asma' wal-Kuna.

64
Selain dikenal dengan sebutan Kitab Jami' Tirmizi, kitab ini juga dikenal dengan nama
Sunan At-Tirmizi. Di kalangan muhaddisin (ahli Hadits), kitab ini menjadi rujukan
utama, selain kitab-kitab sejenis lainnya dari Imam Bukhari maupun Imam Muslim.

Kitab Sunan Tirmizi dianggap sangat penting lantaran kitab ini betul-betul
memperhatikan ta'lil (penentuan nilai) Hadits dengan menyebutkan secara eksplisit
Hadits yang sahih. Itu sebabnya, kitab ini menduduki peringkat ke-4 dalam urutan
Kutubus Sittah, atau menurut penulis buku Kasyf Az Zunuun, Hajji Khalfah (w. 1657),
kedudukan Sunan Tirmizi berada pada tingkat ke-3 dalam hierarki Kutubus Sittah.

Tidak seperti kitab Hadits Imam Bukhari, atau yang ditulis Imam Muslim dan lainnya,
kitab Sunan Tirmizi dapat dipahami oleh siapa saja, yang memahami bahasa Arab
tentunya. Dalam menyeleksi Hadits untuk kitabnya itu, Imam Tirmizi bertolak pada dasar
apakah Hadits itu dipakai oleh fuqaha (ahli fikih) sebagai hujjah (dalil) atau tidak.
Sebaliknya, Tirmizi tidak menyaring Hadits dari aspek Hadits itu dhaif atau tidak. Itu
sebabnya, ia selalu memberikan uraian tentang nilai Hadits, bahkan uraian perbandingan
dan kesimpulannya.

Diriwayatkan, bahwa ia pernah berkata : "Semua Hadits yang terdapat dalam kitab ini
adalah dapat diamalkan." Oleh karena itu, sebagian besar ahli ilmu menggunakannya
(sebagai pegangan), kecuali dua Hadits, yaitu: Pertama, yang artinya: "Sesungguhnya
Rasulullah SAW menjamak shalat Dhuhur dengan Ashar, dan Maghrib dengan Isya, tanpa
adanya sebab takut dan dalam perjalanan.'' Juga Hadits, "Jika ia peminum khamar,
minum lagi pada yang keempat kalinya, maka bunuhlah dia."

Hadits ini adalah mansukh (terhapus) dan ijma' ulama menunjukkan demikian.
Sedangkan mengenai shalat jamak, para ulama berbeda pendapat atau tidak sepakat untuk
meninggalkannya. Sebagian besar ulama berpendapat boleh hukumnya melakukan shalat
jamak di rumah selama tidak dijadikan kebiasaan. Pendapat ini adalah pendapat Ibn Sirin
dan Asyab serta sebagian besar ahli fiqh dan ahli Hadits juga Ibn Munzir.

Beberapa keistimewaan Kitab Jami' atau Sunan Tirmizi adalah, pencantuman riwayat dari
sahabat lain mengenai masalah yang dibahas dalam Hadits pokok (Hadits al Bab), baik
isinya yang semakna maupun yang berbeda, bahkan yang bertentangan sama sekali
secara langsung maupun tidak langsung.

Selain itu, keistimewaan yang langsung kaitannya dengan ulum al Hadits (ilmu-ilmu
Hadits) adalah masalah ta'lil Hadits. Hadits-hadits yang dimuat disebutkan nilainya
dengan jelas, bahkan nilai rawinya yang dianggap penting. Kitab ini dinilai positif karena
dapat digunakan untuk penerapan praktis kaidah-kaidah ilmu Hadits, khususnya ta'lil
Hadits tersebut. (her)[republika.co.id]

65
Imam Tirmizi

Khazanah keilmuan Islam klasik mencatat sosok ini sebagai salah satu periwayat dan ahli
Hadits utama, selain Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, dan sederet nama
lainnya. Karyanya, Kitab Al Jami', atau biasa dikenal dengan kitab Jami' Tirmizi, menjadi
salah satu rujukan penting berkaitan masalah Hadits dan ilmunya, serta termasuk dalam
Kutubus Sittah (enam kitab pokok di bidang Hadits) dan ensiklopedia Hadits terkenal.
Sosok penuh tawadhu' dan ahli ibadah ini tak lain adalah Imam Tirmizi.

Dilahirkan pada 279 H di kota Tirmiz, Imam Tirmizi bernama lengkap Imam Al-Hafiz
Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin Ad-Dahhak As-Sulami At-Tirmizi.
Sejak kecil, Imam Tirmizi gemar belajar ilmu dan mencari Hadits. Untuk keperluan inilah
ia mengembara ke berbagai negeri : Hijaz, Irak, Khurasan, dan lain-lain.

Dalam lawatannya itu, ia banyak mengunjungi ulama-ulama besar dan guru-guru Hadits
untuk mendengar Hadits dan kemudian dihafal dan dicatatnya dengan baik. Di antara
gurunya adalah; Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Abu Daud. Selain itu, ia juga
belajar pada Imam Ishak bin Musa, Mahmud bin Gailan, Said bin Abdurrahman, Ali bin
Hajar, Ahmad bin Muni', dan lainnya.

Perjalanan panjang pengembaraannya mencari ilmu, bertukar pikiran, dan


mengumpulkan Hadits itu mengantarkan dirinya sebagai ulama Hadits yang sangat
disegani kalangan ulama semasanya. Kendati demikian, takdir menggariskan lain. Daya
upaya mulianya itu pula yang pada akhir kehidupannya mendapat musibah kebutaan, dan
beberapa tahun lamanya ia hidup sebagai tuna netra. Dalam kondisi seperti inilah, Imam
Tirmizi meninggal dunia. Ia wafat di Tirmiz pada usia 70 tahun.

Di kemudian hari, kumpulan Hadits dan ilmu-ilmunya dipelajari dan diriwayatkan oleh
banyak ulama, di antaranya; Makhul ibnul-Fadl, Muhammad bin Mahmud Anbar,
Hammad bin Syakir, Abd bin Muhammad An-Nasfiyyun, Al-Haisam bin Kulaib Asy-
Syasyi, Ahmad bin Yusuf An-Nasafi, Abul-Abbas Muhammad bin Mahbud Al-Mahbubi,
yang meriwayatkan kitab Al-Jami' daripadanya, dan lain-lain. Mereka ini pula murid-
murid Imam Tirmizi.

Banyak kalangan ulama dan ahli Hadits mengakui kekuatan dan kelebihan dalam diri
Imam Tirmizi. Selain itu, kesalehan dan ketakwaannya pun tak dapat diragukan lagi.
Salah satu ulama itu, Ibnu Hibban Al-Busti, pakar Hadits, mengakui kemampuan Tirmizi
dalam menghafal, menghimpun, menyusun, dan meneliti Hadits, sehingga menjadikan
dirinya sumber pengambilan Hadits para ulama terkenal, termasuk Imam Bukhari.

Sementara kalangan ulama lainnya mengungkapkan, Imam Tirmizi adalah sosok yang
dapat dipercaya, amanah, dan sangat teliti. Kisah yang dikemukakan Al-Hafiz Ibnu Hajar
dalam Tahzib At-Tahzibnya, dari Ahmad bin Abdullah bin Abu Dawud, berikut adalah
salah satu bukti kelebihan sang Imam :

66
Saya mendengar Abu Isa At-Tirmizi berkata : Pada suatu waktu dalam perjalanan menuju
Mekkah, dan ketika itu saya telah menulis dua jilid buku berisi Hadits-hadits berasal dari
seorang guru. Guru tersebut berpapasan dengan kami. Lalu saya bertanya-tanya mengenai
dia, mereka menjawab bahwa dialah orang yang kumaksudkan itu. Kemudian saya
menemuinya.

Saya mengira bahwa 'dua jilid kitab' itu ada padaku. Ternyata yang kubawa bukanlah dua
jilid tersebut, melainkan dua jilid lain yang mirip dengannya. Ketika saya bertemu
dengannya, saya memohon kepadanya untuk mendengar Hadits, dan ia mengabulkan
permohonan itu.

Kemudian ia membacakan Hadits yang dihafalnya. Di sela-sela pembacaan itu ia mencuri


pandang dan melihat bahwa kertas yang kupegang masih putih bersih tanpa ada tulisan
sesuatu apa pun. Melihat kenyataan ini, ia berkata, 'Tidakkah engkau malu kepadaku?'
Lalu aku bercerita dan menjelaskan kepadanya bahwa apa yang ia bacakan itu telah
kuhafal semuanya.

'Coba bacakan!,' suruhnya. Aku pun membacakan seluruhnya secara beruntun. Ia


bertanya lagi, 'Apakah telah engkau hafalkan sebelum datang kepadaku?' 'Tidak,'
jawabku. Kemudian saya meminta lagi agar dia meriwayatkan Hadits yang lain. Ia pun
kemudian membacakan 40 Hadits yang tergolong Hadits-hadits sulit atau gharib lalu
berkata, 'Coba ulangi apa yang kubacakan tadi.' Lalu aku membacakannya dari pertama
sampai selesai, dan ia berkomentar, 'Aku belum pernah melihat orang seperti engkau.'

Selain dikenal sebagai ahli dan penghafal Hadits, mengetahui kelemahan-kelemahan dan
perawi-perawinya, Imam Tirmizi juga dikenal sebagai ahli fiqh dengan wawasan dan
pandangan luas. Pandangan-pandangan tentang fiqh itu misalnya, dapat ditemukan dalam
kitabnya Al-Jami'.

Kajian-kajiannya mengenai persoalan fiqh ini pula mencerminkan dirinya sebagai ulama
yang sangat berpengalaman dan mengerti betul duduk permasalahan yang sebenarnya.
Sebagai tamsil, penjelasannya terhadap sebuah Hadits mengenai penangguhan membayar
piutang yang dilakukan si berutang yang sudah mampu, sebagai berikut :

"Muhammad bin Basysyar bin Mahdi menceritakan kepada kami. Sufyan menceritakan
kepada kami, dari Abi Az-Zunad, dari Al-Arai dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW,
bersabda : Penangguhan membayar utang (yang dilakukan oleh si berutang) yang mampu
adalah suatu kezaliman. Apabila seseorang di antara kamu dipindahkan utangnya kepada
orang lain yang mampu membayar, hendaklah pemindahan utang itu diterimanya."

Bagaimana penjelasan sang Imam? "Sebagian ahli ilmu berkata : 'Apabila seseorang
dipindahkan piutangnya kepada orang lain yang mampu membayar dan ia menerima
pemindahan itu, maka bebaslah orang yang memindahkan (muhil) itu, dan bagi orang
yang dipindahkan piutangnya (muhtal) tidak dibolehkan menuntut kepada muhil.'

67
Sementara sebagian ahli lainnya mengatakan: 'Apabila harta seseorang (muhtal) menjadi
rugi disebabkan kepailitan muhal 'alaih, maka baginya dibolehkan menuntut bayar
kepada orang pertama (muhil).

Alasannya adalah, tidak ada kerugian atas harta benda seorang Muslim. Menurut Ibnu
Ishak, perkataan 'Tidak ada kerugian atas harta benda seorang Muslim' ini adalah
'Apabila seseorang dipindahkan piutangnya kepada orang lain yang dikiranya mampu,
namun ternyata orang lain itu tidak mampu, maka tidak ada kerugian atas harta benda
orang Muslim (yang dipindahkan utangnya) itu'," demikian penjelasan Imam Tirmizi.

Ini adalah satu contoh yang menunjukkan kepada kita, betapa cemerlangnya pemikiran
fiqh Imam Tirmizi dalam memahami nash-nash Hadits, serta betapa luas dan orisinal
pandangannya itu. Hingga meninggalnya, Imam Tirmizi telah menulis puluhan kitab,
diantaranya : Kitab Al-Jami', terkenal dengan sebutan Sunan at-Tirmizi, Kitab Al-'Ilal,
Kitab At-Tarikh, Kitab Asy-Syama'il an-Nabawiyyah, Kitab Az-Zuhd, dan Kitab Al-
Asma' wal-Kuna.

Selain dikenal dengan sebutan Kitab Jami' Tirmizi, kitab ini juga dikenal dengan nama
Sunan At-Tirmizi. Di kalangan muhaddisin (ahli Hadits), kitab ini menjadi rujukan
utama, selain kitab-kitab sejenis lainnya dari Imam Bukhari maupun Imam Muslim.

Kitab Sunan Tirmizi dianggap sangat penting lantaran kitab ini betul-betul
memperhatikan ta'lil (penentuan nilai) Hadits dengan menyebutkan secara eksplisit
Hadits yang sahih. Itu sebabnya, kitab ini menduduki peringkat ke-4 dalam urutan
Kutubus Sittah, atau menurut penulis buku Kasyf Az Zunuun, Hajji Khalfah (w. 1657),
kedudukan Sunan Tirmizi berada pada tingkat ke-3 dalam hierarki Kutubus Sittah.

Tidak seperti kitab Hadits Imam Bukhari, atau yang ditulis Imam Muslim dan lainnya,
kitab Sunan Tirmizi dapat dipahami oleh siapa saja, yang memahami bahasa Arab
tentunya. Dalam menyeleksi Hadits untuk kitabnya itu, Imam Tirmizi bertolak pada dasar
apakah Hadits itu dipakai oleh fuqaha (ahli fikih) sebagai hujjah (dalil) atau tidak.
Sebaliknya, Tirmizi tidak menyaring Hadits dari aspek Hadits itu dhaif atau tidak. Itu
sebabnya, ia selalu memberikan uraian tentang nilai Hadits, bahkan uraian perbandingan
dan kesimpulannya.

Diriwayatkan, bahwa ia pernah berkata : "Semua Hadits yang terdapat dalam kitab ini
adalah dapat diamalkan." Oleh karena itu, sebagian besar ahli ilmu menggunakannya
(sebagai pegangan), kecuali dua Hadits, yaitu: Pertama, yang artinya: "Sesungguhnya
Rasulullah SAW menjamak shalat Dhuhur dengan Ashar, dan Maghrib dengan Isya, tanpa
adanya sebab takut dan dalam perjalanan.'' Juga Hadits, "Jika ia peminum khamar,
minum lagi pada yang keempat kalinya, maka bunuhlah dia."

Hadits ini adalah mansukh (terhapus) dan ijma' ulama menunjukkan demikian.
Sedangkan mengenai shalat jamak, para ulama berbeda pendapat atau tidak sepakat untuk
meninggalkannya. Sebagian besar ulama berpendapat boleh hukumnya melakukan shalat

68
jamak di rumah selama tidak dijadikan kebiasaan. Pendapat ini adalah pendapat Ibn Sirin
dan Asyab serta sebagian besar ahli fiqh dan ahli Hadits juga Ibn Munzir.

Beberapa keistimewaan Kitab Jami' atau Sunan Tirmizi adalah, pencantuman riwayat dari
sahabat lain mengenai masalah yang dibahas dalam Hadits pokok (Hadits al Bab), baik
isinya yang semakna maupun yang berbeda, bahkan yang bertentangan sama sekali
secara langsung maupun tidak langsung.

Selain itu, keistimewaan yang langsung kaitannya dengan ulum al Hadits (ilmu-ilmu
Hadits) adalah masalah ta'lil Hadits. Hadits-hadits yang dimuat disebutkan nilainya
dengan jelas, bahkan nilai rawinya yang dianggap penting. Kitab ini dinilai positif karena
dapat digunakan untuk penerapan praktis kaidah-kaidah ilmu Hadits, khususnya ta'lil
Hadits tersebut. (her)[republika.co.id]

Jabir Ibn Hayyan

Jauh sebelum berkembang pesat seperti sekarang, ilmu kimia telah dikenal luas
masyarakat abad pertengahan. Saat itulah awal mula cabang ilmu eksakta ini ada. Tapi,
tahukah Anda siapa penemu dan pengembang ilmu kimia ini? Adalah Abu Musa Jabir Ibn
Hayyan (721-815 H), ilmuwan Muslim pertama yang menemukan dan mengenalkan
disiplin ilmu kimia tersebut.

Lahir di pusat peradaban Islam klasik, Kuffah (Irak), ilmuwan Muslim ini lebih dikenal
dengan nama Ibnu Hayyan, dan di Barat disebut dengan nama Ibnu Geber. Ayahnya,
seorang penjual obat, meninggal sebagai 'syuhada' demi penyebaran ajaran Syi'ah. Jabir
kecil menerima pendidikannya dari raja bani Umayyah, Khalid ibnu Yazid ibnu
Muawiyyah, dan imam terkenal, Jakfar Sadiq. Ia juga pernah berguru pada Barmaki
Vizier pada masa kekhalifahan Abbasiyah pimpinan Harun Al Rasyid.

Ditemukannya kimia oleh Hayyan ini membuktikan, bahwa ulama di masa lalu tidak
melulu lihai dalam ilmu-ilmu agama, tapi sekaligus juga menguasai ilmu-ilmu umum.
"Sesudah ilmu kedokteran, astronomi, dan matematika, bangsa Arab memberikan
sumbangannya yang terbesar di bidang kimia," tulis sejarawan Barat, Philip K Hitti,
dalam History of The Arabs.

Berkat penemuannya ini pula, Jabir dijuluki sebagai Bapak Kimia Modern. Dalam
karirnya, ia pernah bekerja di laboratorium dekat Bawwabah di Damaskus. Jabir
mendasari eksperimennya secara kuantitatif dan instrumen yang dibuatnya sendiri,
menggunakan bahan berasal dari logam, tumbuhan, dan hewani. Adalah menjadi
kebiasaannya mengakhiri uraian suatu eksperimen dengan menuliskan : ''Saya pertama
kali mengetahuinya dengan melalui tangan dan otak saya, dan saya menelitinya hingga
sebenar mungkin, dan saya mencari kesalahan yang mungkin masih terpendam.'' Dari
Damaskus ia kembali ke kota kelahirannya, Kuffah. Setelah 200 tahun kewafatannya,

69
ketika penggalian tanah dilakukan untuk pembuatan jalan, laboratoriumnya yang telah
punah, ditemukan. Di dalamnya didapati peralatan kimianya yang hingga kini masih
mempesona, dan sebatang emas yang cukup berat."

Jabir ibnu Hayyan membuat instrumen pemotong, peleburan dan pengkristalan. Ia


menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan
kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi, dan
oksidasi-reduksi. Semua ini telah ia siapkan tekniknya, praktis hampir semua 'technique'
kimia modern. Ia membedakan antara penyulingan langsung yang memakai bejana basah
dan tak langsung yang memakai bejana kering. Dialah yang pertama mengklaim bahwa
air hanya dapat dimurnikan melalui proses penyulingan.

Khusus menyangkut fungsi dua ilmu dasar kimia, yakni kalsinasi dan reduksi, Jabir
menjelaskan, bahwa untuk mengembangkan kedua dasar ilmu itu, pertama yang harus
dilakukan adalah mendata kembali dengan metoda-metoda yang lebih sempurna, yakni
metoda penguapan, sublimasi, destilasi, penglarutan, dan penghabluran. Setelah itu, papar
Jabir, memodifikasi dan mengoreksi teori Aristoteles mengenai dasar logam, yang tetap
tidak berubah sejak awal abad ke 18 M. Dalam setiap karyanya, Jabir melaluinya dengan
terlebih dahulu melakukan riset dan eksperimen. Metode inilah yang mengantarkannya
menjadi ilmuwan besar Islam yang mewarnai renaissance dunia Barat.

Namun demikian, Jabir tetap saja seorang yang tawadu' dan berkepribadian
mengagumkan. "Dalam mempelajari kimia dan ilmu fisika lainnya, Jabir
memperkenalkan eksperimen objektif, suatu keinginan memperbaiki ketidakjelasan
spekulasi Yunani. Akurat dalam pengamatan gejala, dan tekun mengumpulkan fakta.
Berkat dirinya, bangsa Arab tidak mengalami kesulitan dalam menyusun hipotesa yang
wajar," tulis Robert Briffault.

Menurut Briffault, kimia, proses pertama penguraian logam yang dilakukan oleh para
metalurg dan ahli permata Mesir, mengkombinasikan logam dengan berbagai campuran
dan mewarnainya, sehingga mirip dengan proses pembuatan emas. Proses demikian, yang
tadinya sangat dirahasiakan, dan menjadi monopoli perguruan tinggi, dan oleh para
pendeta disamarkan ke dalam formula mistik biasa, di tangan Jabir bin Hayyan menjadi
terbuka dan disebarluaskan melalui penyelidikan, dan diorganisasikan dengan
bersemangat.

Terobosan Jabir lainnya dalam bidang kimia adalah preparasi asam sendawa, hidroklorik,
asam sitrat dan asam tartar. Penekanan Jabir di bidang eksperimen sistematis ini dikenal
tak ada duanya di dunia. Inilah sebabnya, mengapa Jabir diberi kehormatan sebagai
'Bapak Ilmu Kimia Modern' oleh sejawatnya di seluruh dunia. Dalam tulisan Max
Mayerhaff, bahkan disebutkan, jika ingin mencari akar pengembangan ilmu kimia di
daratan Eropa, maka carilah langsung ke karya-karya Jabir Ibn Hayyan.

Puaskah Jabir? Tidak! Ia terus mengembangkan keilmuannya sampai batas tak tertentu.
Dalam hal teori keseimbangan misalnya, diakui para ilmuwan modern sebagai terobosan
baru dalam prinsip dan praktik alkemi dari masa sebelumnya. Sangat spekulatif, di mana

70
Jabir berusaha mengkaji keseimbangan kimiawi yang ada di dalam suatu interaksi zat-zat
berdasarkan sistem numerologi (studi mengenai arti klenik dari sesuatu dan pengaruhnya
atas hidup manusia) yang diterapkannya dalam kaitan dengan alfabet 28 huruf Arab untuk
memperkirakan proporsi alamiah dari produk sebagai hasil dari reaktan yang bereaksi.
Sistem ini niscaya memiliki arti esoterik, karena kemudian telah menjadi pendahulu
penulisan jalannya reaksi kimia.

Jelas dengan ditemukannya proses pembuatan asam anorganik oleh Jabir telah
memberikan arti penting dalam sejarah kimia. Di antaranya adalah hasil penyulingan
tawas, amonia khlorida, potasium nitrat dan asam sulferik. Pelbagai jenis asam
diproduksi pada kurun waktu eksperimen kimia yang merupakan bahan material berharga
untuk beberapa proses industrial. Penguraian beberapa asam terdapat di dalam salah satu
manuskripnya berjudul Sandaqal-Hikmah (Rongga Dada Kearifan).

Seluruh karya Jabir ibnu Hayyan lebih dari 500 studi kimia, tetapi hanya beberapa yang
sampai pada zaman Renaissance. Korpus studi kimia Jabir mencakup penguraian metode
dan peralatan dari pelbagai pengoperasian kimiawi dan fisikawi yang diketahui pada
zamannya. Di antara bukunya yang terkenal adalah Al Hikmah Al Falsafiyah yang
diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul Summa Perfectionis.

Suatu pernyataan dari buku ini mengenai reaksi kimia adalah : "Air raksa (merkuri) dan
belerang (sulfur) bersatu membentuk satu produk tunggal, tetapi adalah salah
menganggap bahwa produk ini sama sekali baru dan merkuri serta sulfur berubah
keseluruhannya secara lengkap.

Yang benar adalah bahwa keduanya mempertahankan karakteristik alaminya, dan segala
yang terjadi adalah sebagian dari kedua bahan itu berinteraksi dan bercampur, sedemikian
rupa sehingga tidak mungkin membedakannya secara seksama. Jika dihendaki
memisahkan bagian-bagian terkecil dari dua kategori itu oleh instrumen khusus, maka
akan tampak bahwa tiap elemen (unsur) mempertahankan karakteristik teoretisnya.
Hasilnya adalah suatu kombinasi kimiawi antara unsur yang terdapat dalam keadaan
keterkaitan permanen tanpa perubahan karakteristik dari masing-masing unsur."

Ide-ide eksperimen Jabir itu sekarang lebih dikenal/dipakai sebagai dasar untuk
mengklasifikasikan unsur-unsur kimia, utamanya pada bahan metal, nonmetal dan
penguraian zat kimia. Dalam bidang ini, ia merumuskan tiga tipe berbeda dari zat kimia
berdasarkan unsur-unsurnya : 1) Air (spirits), yakni yang mempengaruhi penguapan pada
proses pemanasan, seperti pada bahan camphor, arsenik dan amonium klorida, 2) Metal,
seperti pada emas, perak, timah, tembaga, besi, dan 3) Bahan campuran, yang dapat
dikonversi menjadi semacam bubuk. Dengan prestasinya itu, dunia ilmu pengetahuan
modern pantas 'berterima kasih' padanya.

Di abad pertengahan risalah-risalah Jabir di bidang ilmu kimia --termasuk kitabnya yang
masyhur, yakni Kitab Al-Kimya dan Kitab Al-Sab'een, telah diterjemahkan ke dalam
bahasa Latin. Terjemahan Kitab Al-Kimya bahkan telah diterbitkan oleh ilmuwan Inggris,

71
Robert Chester tahun 1444, dengan judul //The Book of the Composition of Alchemy.
Buku kedua (Kitab Al-Sab'een), diterjemahkan juga oleh Gerard Cremona.

Berikutnya di tahun 1678, seorang Inggris lainnya, Richard Russel, mengalihbahasakan


karya Jabir yang lain dengan judul Summa of Perfection. Berbeda dengan pengarang
sebelumnya, Richard-lah yang pertama kali menyebut Jabir dengan sebutan Geber, dan
memuji Jabir sebagai seorang pangeran Arab dan filsuf. Buku ini kemudian menjadi
sangat populer di Eropa selama beberapa abad lamanya. Dan telah pula memberi
pengaruh pada evolusi ilmu kimia modern.

Karya lainnya yang telah diterbitkan adalah; Kitab al Rahmah, Kitab al Tajmi, Al Zilaq al
Sharqi, Book of The Kingdom, Book of Eastern Mercury, dan Book of Balance (ketiga
buku terakhir diterjemahkan oleh Berthelot). "Di dalamnya kita menemukan pandangan
yang sangat mendalam mengenai metode riset kimia," tulis George Sarton.
(her)[republika.co.id]
Jafar al-Sadiq

Ilmu bagai gumpalan cahaya bagi pemilikya. Ia akan memancarkan cahaya kemilau bagi
orang di sekitarnya. Bahkan berduyun orang yang memburunya untuk mendapatkan
cahaya ilmunya. Itulah cahaya ilmu yang dimiliki oleh Imam Jafar al-Sadiq, yang tak
hanya menguasai ilmu keagamaan namun juga menguasai fisika, kimia, matematika, dan
ilmu pengobatan.

Imam Jafar al-Sadiq adalah putra tertua Imam Muhamad Baqir yang merupakan ahlul
bait Nabi Muhammad. Nama pendeknya adalah Jafar, namun kemudian ia dikenal pula
dengan sebutan al-Sadiq dan Abu Abd Allah. Lalu ia lebih sering dipanggil dengan
sebutan Imam Jafar al-Sadiq. Ia lahir di Madinah, pada Senin, 17 Rabiul Awwal 83 H
atau 20 April 702 M. Baik tanggal, hari dan bulan kelahiran Jafar al-Sadiq sama dengan
masa kelahiran Nabi Muhammad.

Ibunya adalah Umm Farwah yang biasa dipanggil Fatimah, putri dari al-Qassim putra
Muhammad bin Abu Bakar. Dengan demikian, Umm Farwah ini merupakan keturunan
sahabat utama Nabi Muhammad, Abu Bakar Siddik. Pada saat kelahiran Jafar, ayahnya,
Imam al-Baqir berusia 26 tahun dan kakeknya, Imam Zainal Abidin masih hidup. Hingga
umur 12 tahun, Jafar mendapatkan tempaan ilmu ketuhanan dari kakeknya, Imam Zainal
Abidin.

Setelah itu, hingga berumur 31 tahun ia mendapatkan bimbingan dari ayahnya sendiri,
Imam al-Baqir yang mengajarkannya ilmu hadis. Untuk ilmu hadis, ia memiliki dua
sumber pengetahuan yaitu dari ayahnya melalui Ali bin Abi Thalib dan kakek ibunya al-
Qassim. Kemudian ia memperluas ilmu pengetahuan hadisnya dengan berguru pada
ulama lainnya yaitu Urwa, Aata, Nafi, dan Zuhri. Dua sufyan yaitu Sufyan ats-Tsauri dan
Sufyan ibn Uyayna, Imam Malik, Imam Abu Hanifa, dan al-Qattan di kemudian hari
banyak meriwayatkan hadis melalui dirinya demikian pula dengan ulama lainnya.

72
Ia juga dikenal sebagai mufasir Al-Qur'an, ahli hukum Islam, dan salah satu mujtahid
terbesar di Madinah. Dengan keluasan ilmu agamanya, tak heran jika banyak kalangan
yang belajar dari Jafar al-Sadiq seperti Abu Hanafi, pendiri mazhab Hanafi yang
menimba ilmu darinya selama dua tahun dan menyatakan bahwa Jafar Sadiq memiliki
ketinggian ilmu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Demikian pula dengan Imam Malik
bin Anas yang merupakan pendiri mazhab Maliki. Tak ayal jika dikatakan bahwa Jafar
Sadiq telah melahirkan ribuan ulama hadis dan sarjana agama.

Pengetahuannya tentang agama memang ia ajarkan ke semua orang bahkan kepada


mereka yang datang dari negeri yang jauh. Jumlah muridnya suatu waktu mencapai
empat ribu orang. Di antara mereka adalah ahli hukum Islam, tafsir, hadis dan
sebagainya. Imam Jafar as-Sadiq juga dianugerahi Tuhan jiwa yang memesona yang
menjadi model bagi orang lain. Banyak sifat yang dapat direkam oleh para sejarawan dari
dirinya.

Ia adalah orang yang dermawan, sabar, pemaaf dan suka menolong orang lain. Suatu saat
paceklik melanda Madinah, ia yang memiliki persediaan bahan makanan berupa gandum
memang tak mengkhawatirkan hal itu. Namun kemudian, ia menjualnya dan menyatakan
bahwa gandum tak akan digunakan di dapurnya dan kemudian tepung gandum ia bagikan
kepada mereka yang memerlukannya. Pemimpin agama lain juga kerap datang untuk
beradu argumentasi mengenai keyakinan yang mereka miliki. Ia selalu dapat
mengalahkan mereka.

Ketika mereka pergi dengan menanggung kekalahan kemudian Imam Jafar Sadiq
menceritakan kepada muridnya agar berhati-hati dengan titik lemah umat Islam terhadap
agamanya. Kadangkala dia juga beradu argumentasi dengan orang-orang yang tak
mempercayai keberadaan Tuhan. Kedalamannya dalam ilmu agama kemudian
membuatnya merintis sebuah mazhab yang disebut Mazhab Jafariyah. Mazhab ini
menempatkan Al-Qur'an sebagai sumber utama hukum Islam, kemudian sunnah, ijma,
dan akal. Dalam menggali hukum dari Al-Qur'an mereka tidak harus berpegang pada
makna lahirnya melainkan juga makna batinnya.

Selain agama dia juga mengajarkan fisika, matematika, kimia, maupun ilmu pengobatan.
Jabir ibn Hayyan dari Tarus yang merupakan pionir dalam fisika, kimia, dan matematika
adalah salah satu muridnya yang menuliskan tentang ratusan subjek kajian berdasarkan
ajaran yang diberikan Jafar al-Sadiq. Penguasaan yang luas terhadap sejumlah ilmu itu
memang didukung oleh kondisi di masa ia hidup. Kala itu, terjadi interaksi yang dalam
antara pemikiran Islam dan ilmu pengetahuan serta orang-orang yang berasal dari bangsa
lain.

Selama masa tersebut berbagai karya dari banyak sarjana dan pemikir secara luas
diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sains, filsafat, dan pemikiran dari bangsa lain
terutama Yunani diterjemahkan dari bahasa aslinya ke dalam bahasa arab. Kaum Muslim
mempelajari ilmu pengetahuan tersebut, menambahkan, memperkaya dan memperluas
cakupannya. Hasilnya, mewujudlah gerakan saintifik dan ideologi yang aktif. Kaum

73
Muslim kemudian menguasai dengan baik ilmu pengobatan, astronomi, kimia, fisika, dan
matematika dibandingkan lainnya.

Filsafat, logika, dan ilmu lainnya diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa
Persia. Selain adanya perkembangan saintifik dan kultural selama hidup Imam Jafar
Sadiq, juga terdapat gerakan dalam berbagai bidang. Kejadian politik, ekonomi, dan
sosial memerlukan pemecahan yang sesuai dengan hukum Islam. Hal ini menyebabkan
munculnya pandangan lembaga pemikiran. sarjana atau ulama secara aktif terlibat dalam
mencoba menemukan jawaban yang benar untuk menjawab permasalahan tersebut.

Dengan keadaan seperti itulah serta aktivitas kultural dan saintifik Imam Jafar Sadiq
hidup dan memiliki tanggung jawab yang besar sebagai seorang ulama, guru dalam
domain kultural dan agama. Seluruh hidupnya ia isi dengan mengajarkan ilmu yang
dimiliki. Hingga ia memiliki kedudukan yang kuat di kalangan masyarakat tetapi ia tak
tergiur untuk meraih kekuasaan. Namun popularitas Jafar al-Sadiq di kalangan
masyarakat membuat penguasa Abbasid, Mansur Ad-Dawaniqi, merasa khawatir.

Kemudian membuat rencana untuk mengenyahkannya. Kalifah Abbasid sebelumnya,


Abdul-Abbas al-Saffah, sebenarnya telah membawanya ke Irak, namun tak lama
kemudian Jafar al-Sadiq dikembalikan lagi ke tanah kelahirannya, Madinah. Dan pada
saat kekuasaan di tangan Mansur ad-Dawaniqi, dilakukan pengawasan ketat terhadap
Jafar al-Sadiq.

Merasa tak puas, Mansur memerintahkan Gubernur Madinah, Muhammad bin Suleima,
untuk membunuhnya dengan menggunakan racun. Dan ternyata usahanya berhasil. Imam
Jafar Sadiq meninggal pada 15 Syawal 148 H atau 4 Desember 765 pada usia 65 tahun.
Pemakamanya dipimpin oleh putranya Imam Musa al-Kazim. Jafar al-Sadiq dimakamkan
di pemakaman Jannat al-Baqi di mana Imam Hasan, Imam Zainal Abidin dan Imam al-
Baqir dimakamkan. [republika.co.id]

Jamaluddin Al-Afghani

Sayyid Jamaluddin Al-Afghani adalah pahlawan besar dan salah seorang putra terbaik
Islam. Kebesaran dan kiprahnya membahana hingga ke seluruh penjuru dunia. Sepak
terjangnya dalam menggerakkan kesadaran umat Islam dan gerakan revolusionernya
yang membangkitkan dunia Islam, menjadikan dirinya orang yang paling dicari oleh
pemerintahan kolonial ketika itu, Inggris. Tapi, komitmen dan konsistennya yang sangat
tinggi terhadap nasib umat Islam, membuat Al-Afghani tak pernah kenal lelah apalagi
menyerah.

Bagaimana kebesaran dan kekaguman terhadap penggerak kebangkitan dunia Islam dan
salah seorang pembaru Islam paling banyak dirujuk berbagai kalangan ini terlihat dari
pengakuan sastrawan dan pemikir besar Muslim abad 20, Sir Muhammad Iqbal : ''... Jiwa
yang tak mau diam itu selalu mengembara dari negara Islam satu ke negara Islam lain.

74
Memang, Al-Afghani tak pernah menuntut sebutan sebagai pembaharu, tetapi tidak ada
seorang pun di zaman ini yang lebih mampu mengungkapkan getaran jiwa agama Islam
melebihi dirinya. Semangat dan pengaruhnya masih tetap besar bagi dunia Islam, dan tak
ada seorang pun tahu kapan berakhirnya...''

Ia cahaya besar dalam kegelapan Islam abad ke-13 Hijriah. Dari Afghanistan, sinarnya
memancar ke seantero dunia. Jamaluddin Al-Afhgani dilahirkan tahun 1838. Tempat
kelahirannya sulit dipastikan. Ia mengaku dilahirkan di Asadabad, Konar, distrik Kabul,
Afghanistan. Versi lain, terutama dari lawan-lawan politiknya, menyebutkan Jamaluddin
dilahirkan di Asadabad dekat Hamadan, Iran. Menurut versi ini, Jamaluddin mengaku
lahir di Afghanistan dengan maksud menyelamatkan dirinya dari kesewenangan penguasa
Persia (Iran) yang tidak menyukainya.

Al-Afghani menghabiskan masa kecil dan remajanya di Afghanistan, namun banyak


berjuang di Mesir, India, bahkan sampai ke Perancis. Pada usia 18 tahun di Kabul,
Jamaluddin tidak hanya menguasai ilmu keagamaan, tetapi juga mendalami falsafah,
hukum, sejarah, metafisika, kedokteran, sains, astronomi, dan astrologi. Ia seorang yang
sangat cerdas jauh melampaui remaja-remaja seusianya. Setelah menguasai berbagai
disiplin ilmu, Jamaluddin ke India. Kemampuannya berbicara dan pengetahuannya yang
dalam, pemuda berusia 18 tahun ini memukau banyak orang. Ia orator yang tangguh. Ia
mendorong rakyat India untuk bangkit melawan kekuasaan Inggris. Hasilnya, pada 1857
muncul kesadaran baru di kalangan pribumi India melawan penjajah. Perang
kemerdekaan pertama di India pun meletus.

Dari India, Jamaluddin melanjutkan perjalanan ke Mekkah. Di Kabul, sepulang


menunaikan ibadah haji, ia diminta penguasa Afghanistan, Pangeran Dost Muhammad
Khan, untuk membantunya. Tahun 1864, Jamaluddin yang progresif, menjadi panesihat
Sher Ali Khan. Beberapa tahun kemudian diangkat menjadi Perdana Menteri oleh
Muhammad A'zam Khan. Namun, karena campur tangan Inggris dan kekalahannya atas
golongan yang disokong Inggris, Jamaluddin akhirnya meninggalkan Kabul ke Mekkah.
Inggris yang menilai Jamaluddin sebagai tokoh berbahaya karena ide-ide
pembaharuannya, terus mengawasinya. Ia tidak diperkenankan melalui jalan darat, juga
tak diperkenankan bertemu dengan pemimpin-pemimpin India. Melalui jalan laut,
Jamaluddin kemudian pergi ke Kairo dan menetap di sini.

Pada awalnya, Jamaluddin mencoba menjauhi dari politik dengan memusatkan diri
mempelajari ilmu pengetahuan dan sastra Arab. Rumahnya dijadikan tempat pertemuan
para pengikutnya. Di sinilah ia memberikan kuliah dan berdiskusi dengan berbagai
kalangan, termasuk intelektual muda, mahasiswa, dan tokoh-tokoh pergerakan. Salah
seorang muridnya adalah Mohammad Abduh dan Saad Zaglul, pemimpin kemerdekaan
Mesir. Melihat campur tangan Inggris di Mesir, Jamaluddin akhirnya kembali ke politik.
Ia melihat Inggris tidak menginginkan Islam bersatu dan kuat. Jamaluddin memasuki
perkumpulan Freemason, organisasi yang beranggotakan tokoh-tokoh politik Mesir. Dari
sini, 1879, terbentuk partai politik bernama Hizb al-Watani (Partai Kebangsaan). Partai
ini antara lain menanamkan kesadaran berbangsa, memperjuangkan pendidikan universal,
dan kemerdekaan pers. Aktivitas politik Jamaluddin memberikan pengaruh besar bagi

75
umat Islam. Ia mendorong bangkitnya gerakan berpikir sehingga Mesir mencapai
kemajuan.

Seperti juga di Kabul dan India, Inggris memperlihatkan ketidaksukaannya kepada


Jamaluddin. Inggris menghasut kaum teolog ortodox melawan Jamaluddin. Ini menjadi
alasan Inggris mengusir Jamaluddin dari Mesir, 1879. Jamaluddin kemudian pergi ke
Hyderabad Deccau (India). Di sini, ia menulis risalah yang sangat terkenal : Pembuktian
Kesalahan Kaum Materialis. Risalah ini menimbulkan gejolak besar kalangan materialis.

Pada 1882, Jamaluddin ke Paris. Ia mendirikan perkumpulan al Urwatulwuthqa.


Organisasi ini kemudian menerbitkan jurnal yang mengecam keras Barat. Penguasa Barat
melarang jurnal ini diedarkan di negara-negara muslim karena dikhawatirkan dapat
menimbulkan semangat persatuan Islam. Karena dilarang diedarkan, usia jurnal ini hanya
delapan bulan. Aktivitas Jamaluddin tidak hanya di Paris, ia juga bergerak di berbagai
negara Eropa. Ia berdiskusi tentang Islam di London, di antaranya dengan Lord Salisbury,
yang berkuasa ketika itu. Ia pergi ke Rusia, membangun pengaruh di kalangan
cendekiawan Rusia dan menjadi orang kepercayaan Tsar. Karena pengaruhnya itu, Rusia
memperkenankan orang Islam mencetak Al-Qur'an dan buku-buku agama Islam, yang
sebelumnya dilarang.

Pengaruh Jamaluddin juga menyebar ke Persia. Shah Nasiruddin Qachar, penguasa


Persia, menawarkan posisi perdana menteri. Awalnya, Jamaluddin ragu-ragu, namun
akhirnya ia menerima posisi itu. Ide-ide pembaharuan Islam, membuat Jamaluddin
semakin populer di Persia. Ini mengkhawatirkan Nasiruddin, apalagi Jamaluddin terang-
terangan mengkritik praktik-praktik kekuasan penguasa Persia itu. Jamaluddin,
revolusioner dan antitirani itu kemudian ditangkap dan diusir, namun kesadaran rakyat
telah bangkit untuk menumbangkan Nasiruddin.

Pada 1892, Jamaluddin ke Istambul, Turki, atas permintaan Sultan Abdul Hamid. Sultan
ketika itu ingin memanfaatkan pengaruh Jamaluddin atas negara-negara Islam untuk
menentang Eropa, yang ketika itu mendesak kedudukan Kerajaan Usmani (Ottoman) di
Timur Tengah. Namun upaya Sultan itu gagal. Pada satu sisi, Jamaluddin berjuang untuk
terbentuknya pemerintahan demokratis, sedangkan Nasiruddin mempertahankan
kekuasaan otokrasi lama. Sultan akhirnya membatasi kegiatan-kegiatan Jamaluddin dan
melarangnya ke luar Istambul. Jamaluddin wafat di Istambul, 9 Maret 1897 dalam usia 59
tahun. Sepanjang hayatnya, Jamaluddin Al-Afghani telah menulis puluhan karya tulis dan
buku, antara lain : Pembahasan tentang Sesuatu yang Melemahkan Orang-orang Islam;
Tipu Muslihat Orientalis, Risalah untuk Menjawab Golongan Kristen; Hilangnya Timur
dan Barat; Hakikat Manusia dan Hakikat Tanah Air.

Jamaluddin melihat kemunduran umat Islam bukan karena Islam tidak sesuai dengan
perubahan zaman, melainkan telah dipengaruhi oleh sifat statis, fatalis, meninggalkan
akhlak yang tinggi, dan melupakan ilmu pengetahuan. Ini, menurutnya, umat Islam telah
meninggalkan ajaran Islam sebenarnya. Islam menghendaki umatnya dinamis, mencintai
ilmu pengetahuan, dan tidak fatalis. Sifat statis membuat umat Islam tidak berkembang

76
dan hanya mengikuti apa yang telah menjadi ijtihad ulama sebelum mereka. Mereka
hanya pasarah pada nasib.

Faktor lain, menurut Jamaluddin, salah paham terhadap qadla (ketentuan Tuhan yang
belum terjadi) dan qadar (ketentuaan Tuhan yang sudah terjadi). Paham itu membuat
umat Islam tidak mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Jamaluddin menyebutkan,
qadha dan qadar mengandung pengertian bahwa segala sesuatu terjadi menurut sebab-
musabab (kausalitas). Lemahnya pendidikan dan kurangnya pengetahuan umat tentang
dasar-dasar ajaran agama, lemahnya persaudaraan, perpecahan umat Islam yang diikuti
pemerintahan yang obsolut, mempercayakan kepemimpinan kepada yang tidak dipercaya,
dan kurangnya pertahanan militer, merupakan faktor-faktor yang membawa kemunduran
umat Islam.

Jamaluddin menyebutkan, Islam mencakup segala aspek kehidupan, baik ibadah, hukum,
dan sosial. Corak pemerintahan otokrasi harus diubah menjadi demokrasi. Persatuan umat
Islam harus diwujudkan kembali. Menurutnya, kekuatan umat Islam bergantung pada
keberhasilan membina persatuan dan kerja sama. Jamaluddin juga menyorot soal peran
wanita. Ia menilai kaum pria dan wanita, sama dalam beberapa hal. Keduanya
mempunyai akal untuk berpikir. Tidak ada halangan bagi wanita untuk bekerja jika situasi
menuntut untuk itu. Jamaluddin menginginkan pria dan wanita meraih kemajuan dan
bekerja sama mewujudkan Islam yang maju dan dinamis.

Jamaluddin tak hanya pandai bicara. Malang melintang ke berbagai negara ia lakukan
bagi tercapainya renaisans (kebangkitan) dunia Islam. Proyeknya itu kemudian dikenal
dengan "Pan Islamisme", sebuah gagasan untuk membangkitkan dan menyatukan dunia
Arab khususunya, dan dunia Islam umumnya untuk melawan kolonialisme Barat, Inggris,
dan Perancis khususnya yang kala itu banyak menduduki dan menjajah dunia Islam dan
negara-negara berkembang. Secara umum, inti Pan-Islamisme Jamaluddin itu terletak
pada ide bahwa Islam adalah satu-satunya ikatan kesatuan kaum Muslim. Jika ikatan itu
diperkokoh, jika ia menjadi sumber kehidupan dan pusat loyalitas mereka, maka
kekuatan solidaritas yang luar biasa akan memungkinkan pembentukan dan pemeliharaan
negara Islam yang kuat dan stabil. Berbagai kalangan, seperti ditulis pakar sejarah
Azyumardi Azra dalam Historiografi Islam Kontemporer, menilai ide Jamaluddin itu
sebenarnya sebagai entitas politik Islam universal. Mau tak mau, ia pun bersentuhan
langsung dengan para penjajah itu.

Dengan gagasannya ini, Al-Afghani mengubah Islam menjadi ideologi anti-kolonialis


yang menyerukan aksi politik menentang Barat. Baginya, Islam adalah faktor yang paling
esensial untuk perjuangan kaum Muslim melawan Eropa, dan Barat pada umumnya.
Namun demikian, pada saat yang sama Al-Afghani juga mendukung ide semacam
nasionalisme, lebih tepatnya "nasionalitas" (jinsiyyah) dan "cinta tanah air"
(wathaniyyah). Sepintas, dua gagasan ini boleh jadi kontradiktif dengan gagasannya
tentang Pan-Islamisme. Namun, tampaknya Jamaluddin tak ambil pusing. Baginya, bila
dua 'entitas' itu dapat disatukan menjadi sebuah kekuatan besar yang dapat merubah nasib
dunia Islam, mengapa tidak dicoba? Pada sisi inilah tampaknya seluruh hidupnya ia
dedikasikan. (Hery Sucipto)[republika.co.id]

77
Laksamana Cheng Ho

Dalam sejarah Indonesia, Laksamana Sam Po Kong dikenal dengan nama Zheng He,
Cheng Ho, Sam Po Toa Lang, Sam Po Thay Jien, Sam Po Thay Kam, dan lain-lain.
Laksamana Sam Po Kong berasal dari bangsa Hui, salah satu bangsa minoritas Tionghoa.
Laksamana Cheng Ho adalah sosok bahariawan muslim Tionghoa yang tangguh dan
berjasa besar terhadap pembauran, penyebaran, serta perkembangan Islam di Nusantara.
Cheng Ho (1371 - 1435) adalah pria muslim keturunan Tionghoa, berasal dari propinsi
Yunnan di Asia Barat Daya. Ia lahir dari keluarga muslim taat dan telah menjalankan
ibadah haji yang dikenal dengan haji Ma.

Konon, pada usia sekitar 10 tahun Cheng Ho ditangkap oleh tentara Ming di Yunnan.
Pangeran dari Yen, Chung Ti, tertarik melihat Cheng Ho kecil yang pintar, tampan, dan
taat beribadah. Kemudian ia dijadikan anak asuh. Cheng Ho tumbuh menjadi pemuda
pemberani dan brilian. Di kemudian hari ia memegang posisi penting sebagai Admiral
Utama dalam angkatan perang.

Pada saat kaisar Cheung Tsu berkuasa, cheng Ho diangkat menjadi admiral utama armada
laut untuk memimpin ekspedisi pertama ke laut selatan pada tahun 1406. Sebagai
admiral, Cheng Ho telah tujuh kali melakukan ekspedisi ke Asia Barat Daya dan Asia
Tenggara. Selama 28 tahun (1405 - 1433 M) Cheng Ho telah melakukan pelayaran
muhibah ke berbagai penjuru dunia dengan memimpin kurang lebih 208 kapal berukuran
besar, menengah, dan kecil yang disertai dengan kurang lebih 27.800 awak kapal. Misi
muhibah pelayaran yang dilaksanakan oleh Laksamana Cheng Ho bukan untuk
melaksanakan ekspansi, melainkan melaksanakan misi perdagangan, diplomatik,
perdamaian, dan persahabatan. Ini merupakan pelayaran yang menakjubkan, berbeda
dengan pengembaraan yang dilakukan oleh pelaut Barat seperti Cristopherus Colombus,
Vasco da Gamma, atau pun Magelhaes.

Sebagai bahariawan besar sepanjang sejarah pelayaran dunia, kurang lebih selama 28
tahun telah tercipta 24 peta navigasi yang berisi peta mengenai geografi lautan. Selain itu,
Cheng Ho sebagai muslim Tiong Hoa, berperan penting dalam menyebarkan agama Islam
di Nusantara dan kawasan Asia Tenggara.

Pada perjalanan pelayaran muhibah ke-7, Cheng Ho telah berhasil menjalankan misi
kaisar Ming Ta'i-Teu (berkuasa tahun 1368 - 1398), yaitu misi melaksanakan ibadah haji
bagi keluarga istana Ming pada tahun 1432 - 1433. Misi ibadah haji ini sengaja
dirahasiakan karena pada saat itu, bagi keluarga istana Ming menjalankan ibadah haji
secara terbuka sama halnya dengan membuka selubung latar belakang kesukuan dan
agama.

Untuk mengesankan bahwa pelayaran haji ini tidak ada hubungannya dengan keluarga
istana, sengaja diutus Hung Pao sebagai pimpinan rombongan. Rombongan haji itu tidak
diikuti oleh semua armada dalam rombongan ekspedisi ke-7. Rombongan haji ini
berangkat dari Calleut (kuli, kota kuno) di India menuju Mekkah (Tien Fang).

78
Demikianlah misi perjuangan dan misi rahasia menunaikan ibadah haji yang dijalankan
Cheng Ho, dan misi tersebut berhasil. Akan tetapi Cheng Ho merasa sedih karena tidak
bisa bebas berlayar menuju tanah leluhurnya, Mekkah, untuk beribadah haji dan
berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Sebelumnya, pada ekspedisi ke-5, armada
Cheng Ho telah berhasil mencapai pantai timur Afrika dalam waktu tiga tahun. Dalam
kesempatan tersebut, armada Cheng Ho berkunjung ke kerajaan di Semenanjung Arabiah
dan menunaikan panggilan Allah ke mekkah.

Sejarah tentang perjalanan muhibah Cheng Ho, hingga saat ini masih tetap diminati oleh
berbagai kalangan, baik kalangan masyarakat Indonesia pada umumnya, maupun
masyarakat keturunan Tionghoa. Chneg Ho telah menjadi duta pembauran negeri
Tiongkok untuk Indonesia yang diutus oleh kaisar Dinasti Ming pada tahun Yong Le ke-3
(1405). Dalam tujuh kali perjalanan muhibahnya ke Indonesia, Laksamana Cheng Ho
berkunjung ke Sumatera dan Pulau Jawa sebanyak enam kali.

Kunjungan pertama adalah ke Jawa, Samudera Pasai, Lamrbi (Aceh Raya), dan
Palembang. Sebagian besar daerah yang pernah dikunjungi Cheng Ho menjadi pusat
dagang dan dakwah, diantaranya Palembang, Aceh, Batak, Pulau Gresik, Semarang (di
sekitar Gedong Batu), Surabaya, Mojokerto, Sunda Kelapa, Ancol, dan lain-lain. Gerakan
dakwah pada masa itu telah mendorong kemajuan usaha perdagangan dan perekonomian
di Indonesia.

Dalam perjalanan muhibahnya, setiap kali singgah di suatu daerah ia banyak menciptakan
pembauran melalui bidang perdagangan, pertanian, dan peternakan.

Misi muhibah yang dilakukan Cheng Ho memberikan mamfaat yang besar bagi negeri
yang dikunjunginya. [Majalah Percikan Iman No. 9 Tahun II September 2001]
Malik bin Nabi

Banyak pemikir Islam yang menuangkan buah pemikirannya demi kejayaan kembali
peradaban Islam. Apalagi banyak negeri-negeri yang berpenduduk mayoritas Islam
mengalami penjajahan sehingga dapat merusak tatanan kehidupan masyarakat Islam di
negeri tersebut.

Pasalnya, para bangsa penjajah itu secara sistematik merombak semua peradaban yang
ada. Mereka telah memiliki nilai sendiri dan berusaha menanamkannya pada masyarakat
Islam yang mereka jajah. Tak heran jika peradaban para imperialis tertinggal dan menjadi
pijakan masyarakat meski bertentangan arus dengan peradaban agamanya.

Salah satu pemikir Islam yang hidup dan mengamati kondisi keterpurukan dan
ketimpangan sebagai akibat imperialisme adalah Malik bin Nabi. Ia begitu gigih
memberikan gagasan membangun kembali peradaban Islam yang tak jarang terurai akibat
imperialisme yang mendera negeri-negeri Muslim tersebut. Malik memiliki nama
lengkap Malik bin el-Haj Umar binel-Hadlari bin Mustofa bin Nabi. Ia dilahirkan pada 2

79
Januari 1905, di Kota Konstantin, Aljazair. Hingga sekolah menengah ia tetap berada di
kota kelahirannya dan mulai tertarik mengamati segala peristiwa yang ada di sekitarnya.

Setelah menamatkan sekolah menengah, ia kemudian melanjutkan studinya di Paris,


Prancis. Di negeri ini, ia berhasil meraih gelar insinyur di bidang elektro pada 1935. Usai
menamatkan pendidikannya itu rupanya ia tak langsung kembali ke negeri asalnya,
namun berkeliling ke negara-negara Islam.

Beragam kejadian ia saksikan, misalnya ketimpangan sosial dan kesenjangan ekonomi


yang terjadi dalam tatanan kehidupan masyarakat di negara yang ia singgahi karena
adanya penjajahan atau imperialisme. Sementara di negeranya sendiri, Aljazair, juga
serupa juga sempat terjadi.

Pada masa imperialisme, dunia Islam mengalami penderitaan yang berkepanjangan.


Malik bin Nabi menggambarkan penderitaan ini sebagai penyakit kronik yang tak bisa
disembuhkan lagi. Namun sayangnya, umat Islam seringkali tak sadar akan penyakit
yang dideritanya itu.

Melalui pengalaman inilah kemudian ia menganggap fenomena kehidupan adalah sebagai


proses untuk memahami peradaban. Pengamatannya yang tersimpan dalam benaknya
selama ini kemudian mendorongnya untuk menggagas metodologi peradaban.

Buah pikirannya kemudian ia tuangkan dalam bukunya di bawah seri 'Musykilay Al-
Hadharat' atau Problem Peradaban. Dalam karyanya itu, ia menyatakan bahwa peradaban
berjalan laiknya matahari. Ia mengitari bumi di atas cakrawala setiap bangsa Timur dan
Barat.

Siapa yang mampu menangkap momentum dan menggunakan kesempatan, merekalah


yang akan mewarnai peradaban. Ia bahkan menyanggah kalangan seiman yang meyakini
bahwa kemajuan dan kemunduran adalah sebuah takdir yang telah ditetapkan oleh Tuhan.

Dalam bukunya, Membangun Dunia Baru Islam, terbitan Mizan, tahun 1994, pemikir
yang seringkali disebut sebagai pewaris pemikiran sejarawan besar Ibn Khaldun ini,
memaparkan bahwa untuk membangun kebangkitan umat dari keterbelakangan, hal yang
perlu diperhatikan adalah faktor manusia, tanah (materi) dan waktu melalui pendekatan
analisis budaya yang diuraikan secara filosofis.

Berpijak pada pemikirannya ini kemudian Muslim dapat menyimak bagaimana sebaiknya
umat Islam membangun peradaban barunya. Setelah umat mengalami masa-masa
keterbelakangan akibat penjajahan. Dengan bekal ilmu eksakta yang dimiliki, tak heran
jika analisis Malik bin Nabi terhadap sejarah dan masa depan umat menjadi unik.
Pasalnya, teori yang ia kembangkan banyak yang berpijak pada rumus-rumus matematika
dan fisika.

Ia menyatakan pula, dalam pandangam Islam lahirnya peradaban digerakkan oleh


turunnya wahyu dari Tuhan. Wahyu itulah yang menjadi pedoman bagi manusia untuk

80
menempuh jalan terbaik. Dari sinilah kemudian akan muncul sebuah peradaban umat
yang baik dan paripurna.

Sejarah memperlihatkan, sebelum datangnya Islam bangsa Arab merupakan bangsa yang
buta akan makna hidup serta tak mampu menggunakan potensi kemanusiaanya secara
baik. Demikian pula dengan alam serta waktu yang mereka miliki, tak dapat menciptakan
sebuah peradaban.

Islam kemudian datang, lalu ketiga unsur itu berkembang dalam sanubari mereka dan
akhirnya mampu membentuk peradaban baru. Perintah membaca (iqra) mampu
membangkitkan kesadaran mereka untuk hidup menjadi manusia sejati. Mereka juga
kemudian menyadari akan alamnya, karena dalam kitab sucinya memberikan arahan
untuk memikirkan alam di sekitarnya.

Kegigihan Malik bin Nabi membangun peradaban umat telah menciptakan analisa yang
lengkap tentang jatuh bangunnya peradaban. Ia mengungkapkan bahwa peradaban tak
terikat dengan takdir, tetapi tergantung pada sikap manusia sendiri.

Di sisi lain, kebudayaan manusia harusnya dapat bersumbangsih bagi peradaban manusia
secara keseluruhan. Di mana sandaran utamanya adalah terciptanya trans peradaban
antarbangsa yang sempat terputus. Guna membangunnya kembali perlu dibentuk proyek
Islamic Commonwealth atau Persemakmuran Islam.

Malik membagi persemakmuran itu menjadi dunia Islam Afrika, Arab, Iran (Paris,
Pakistan dan Afghanistan) dan dunia Islam Malaysia (Indonesia, dan Melayu. Dunia
Islam Cina dan dunia Islam Eropa-Amerika.

Dalam sejarah pemikiran Islam kontemporer, Malik bin Nabi dikenal memiliki alur
pemikiran yang sama dengan Jamaluddin Al-Afghani, Muhamad Abduh, Rosyid Ridha,
maupu Thantawi Jauhari, yang bisa mengaitkan antara Islam realitas dan Islam
tradisional.

Buah pikirnya yang memiliki nuansa politik, budaya, ekonomi maupun sosial menjadi
tawaran alternatif dalam memecahkan masalah yang tengah dihadapi oleh dunia Islam.
Bahkan negara Barat juga tertarik dengan pemikiran-pemikiran tajamnya.

Pada 1956, Malik bin Nabi singgah di Mesir. Departemen Penerangan Mesir kala itu
memberikan kesempatan kepada Malik bin Nabi untuk menerjemahkan buku karyanya
yang sebagian besar masih tertulis dalam bahasa Prancis ke dalam bahasa Arab. Tujuh
tahun kemudian, 1963, ia kembali ke kampung halamannya dan dipercaya menjadi
Direktur Utama Perguruan Tinggi Al-Jazair.

Hanya empat tahun ia menduduki jabatan tersebut. Setelah undur diri ia lebih banyak
berkonsentrasi dalam kerja intelektual dan menjadi pembicara dalam berbagai seminar,
baik di dalam maupun luar negeri. Ia telah lakukan sebuah upaya besar berupa jihad

81
intelektual demi majunya kembali peradaban Islam. Pada 31 Oktober 1973 Malik bin
Nabi kembali ke haribaan Allah SWT untuk selama-lamanya. [republika.co.id]
Muhammad Abduh

Akhir abad 18 atau awal abad 19. Dunia Islam tercabik-cabik oleh penjajah. Mesir,
Sudan, Pakistan dan Bangladesh (India), Malaysia, serta Brunei diduduki Inggris.
Aljazair, Tunisia, dan Maroko dijajah Perancis. Italia mendapat bagian Libia. Sedangkan
Indonesia jadi jajahan Belanda.

Sementara itu, pada waktu yang sama, Kekhalifahan Turki Usmani yang menjadi simbol
'kebesaran' Islam sudah seperti orang sakit. Daerah kekuasaannya dikapling-kapling oleh
bangsa-bangsa Eropa. Untuk menyelamatkan Turki, Mustafa Kamal Attaturk pada 1923
mengubah sistem pemerintahan kesultanan menjadi republik yang sekuler. Sejak itu,
sistem kekhalifahan di dunia Islam pun berakhir.

Pada masa-masa itu, boleh dikata, merupakan kemunduran dunia Islam. Kemunduran
yang sebenarnya sudah dimulai sekitar enam abad sebelumnya. Yaitu sejak jatuhnya
pemerintahan Islam di Andalusia dan kemudian Kekhalifahan Bani Abbasiyah di
Baghdad oleh tentara Mongol. Selama itu pula pemikiran Islam juga mengalami
kemandegan.

Baru pada abad ke-19, kondisi itu mencair dengan munculnya para pemikir dan tokoh
Islam yang coba mengelaborasi kembali pemahaman keagamaan yang disesuaikan
dengan perkembangan masyarakat. Nama-nama seperti Jamaluddin Al-Afghani,
Muhammad bin Abdul Wahab, Sheikh Muhammad Rasyid Ridha, dan Sheikh
Muhammad Abduh, menjadi pelopor kebekuan pemikiran keislaman tersebut.

Sejarah mencatat, kiprah Muhammad Abduh secara khusus dinilai tidak saja telah
membangkitkan gerakan revolusioner melalui pemikiran-pemikirannya, tapi sekaligus
menjadi cikal bakal dari munculnya faham 'Kiri Islam' dan 'Kanan Islam' melalui murid-
muridnya. Gerakan revolusionernya itu telah membuat takut pemerintah kolonial.
Munculnya gerakan perlawanan umat Islam terhadap penjajah Eropa antara lain juga
dipengaruhi oleh pemikiran Abduh.

Abduh, bernama lengkap Muhammad Abduh bin Hassan Khair Allah, lahir di Desa
Mahallat Nashr, Provinsi Gharbiyah, Mesir, pada 1265 H atau 1849 M. Ia mengenal
agama pertama kali dari dari orangtuanya. Dalam usia belasan tahun, ia sudah hafal Al-
Qur'an dan menguasai seluruh isi kitab suci itu dengan baik. Abduh kemudian
melanjutkan pendidikan formalnya di Thanta, di sebuah lembaga pendidikan Masjid Al-
Ahmad, milik Al-Azhar.

Seorang gurunya, Sheikh Darwisy, dengan tekun membimbing dan mengajari ilmu dan
mengarahkannya pada kehidupan sufi. Tahun 1871 Abduh bertemu dengan Sayyid
Jamaluddin Al-Afghani. Pertemuan ini mempunyai arti penting bagi perjalanan hidup
Abduh selanjutnya. Pada Jamaluddin ia belajar filsafat, ilmu kalam, ilmu pasti dan ilmu
pengetahuan lain yang juga diperoleh di Al-Azhar.

82
Metode diskusi yang diterapkan Jamaluddin menarik minat Abduh. Sementara itu, dalam
karirnya, Abduh pernah menjadi dosen di Al-Azhar, Darul Ulum (kini Universitas Kairo)
dan perguruan bahasa Khedevi. Selain itu, ia juga pernah menjadi Mufti Mesir dan
menjabat sebagai hakim agung. Di bidang jurnalistik, Abduh menjadi salah satu penulis
produktif dan pernah menjadi pemimpin redaksi koran Waqa'i Al Mishriyyah, harian
milik pemerintah yang mengupas persoalan-persoalan sosial, politik, agama, dan negara.
Kiprah panjangnya baru berakhir pada 1905, ketika Sang Khalik memanggilnya untuk
selamanya.

***

Gagasan Pembaruan

Kontribusi pembaruan pemikiran Abduh paling menonjol dan menjadi fokus gerakannya
meliputi dua bidang : pembaruan teologi dan hukum. Dua aspek inilah yang dianggapnya
sangat vital, yang pada masanya dilupakan umat Islam, sehingga benih kemunduran di
hampir segala lini kehidupan pun tak bisa dihindari.

Pemikiran teologi Abduh didasari oleh tiga hal, yaitu : kebebasan manusia dalam memilih
perbuatan, kepercayaan yang kuat terhadap sunnah Allah, dan fungsi akal yang sangat
dominan dalam menggunakan kebebasan. Pandangan Abduh tentang perbuatan manusia
bertolak dari satu deduksi, bahwa manusia adalah makhluk yang bebas dalam memilih
perbuatannya.

Namun demikian, kebebasan tersebut bukanlah kebebasan yang tanpa batas. Seperti
ditulis Muhammad Imarah dalam bukunya Al A'maal Al Kaamilah lil Imam Muhammad
Abduh, (Cairo), setidaknya ada dua ketentuan yang menurut Abduh sangat mendasari
perbuatan manusia, yakni : (1) Manusia melakukan perbuatan dengan daya dan
kemampuannya. (2) Kekuasaan Allah adalah tempat kembali semua yang terjadi.

Berkaitan dengan pemikiran teologisnya, Abduh memandang akal berperan penting


dalam mencapai pengetahuan yang hakiki tentang iman. Akal dalam sistem teologi
Abduh bahkan memiliki kekuatan yang sangat tinggi. Berkat akal, orang dapat
mengetahui adanya Tuhan dan sifat-sifat-Nya, mengetahui adanya hidup di akhirat,
mengetahui kewajiban terhadap Tuhan, mengetahui kebaikan dan kejahatan, serta
mengetahui kewajiban membuat hukum-hukum. Tetapi, itu bukan berarti manusia tak
membutuhkan wahyu sebagai petunjuk hidup mereka.

Menurut Abduh, wahyu tetap dibutuhkan, sebab wahyu sesungguhnya memiliki dua
fungsi utama, yakni menolong akal untuk mengetahui secara rinci mengenai kehidupan
akhirat, dan menguatkan akal agar mampu mendidik manusia untuk hidup secara damai
dalam lingkungan sosialnya.

Dengan pemahaman seperti ini, seorang mukmin baru dapat 'mengenali' Tuhan dengan
baik yang tercermin melalui tindakan-tindakan dan kehendak baik manusia. Dalam

83
bukunya, Hasyiyah 'Ala Syarh Dawani lil Aqaid, ia berpendapat, sifat-sifat Tuhan adalah
esensi Tuhan itu sendiri.

Dalam aspek hukum, pemikiran Abduh tercermin dalam tiga prinsip, yaitu : Al-Qur'an
sebagai sumber syariah, memerangi taqlid, dan berpegang kuat pada akal dalam
memahami ayat-ayat Al-Qur'an. Abduh membagi syariah menjadi dua macam, yaitu;
qath'i (pasti) dan zhanni (tidak pasti). Hukum syariah jenis pertama wajib bagi setiap
Muslim mengetahui dan mengamalkan tanpa interpretasi, karena ia jelas tersebut dalam
Al-Qur'an dan Hadits. Sedangkan hukum syariah jenis kedua datang dengan tunjukan
nash dan ijma' yang tidak pasti.

Jenis hukum kedua inilah yang menjadi lapangan ijtihad para mujtahid. Dalam konteks
ini, ijtihad Abduh nampak begitu jelas. Berbeda pendapat, menurutnya adalah wajar dan
merupakan tabiat manusia. Keseragaman berfikir dalam semua hal adalah sesuatu yang
tidak mungkin diwujudkan.

Yang membawa bencana perpecahan, menurutnya, jika pendapat-pendapat yang berbeda


tersebut dijadikan tempat berhukum dengan tunduk pada pendapat tertentu tanpa berani
mengritik dan mengajukan pendapat lain. Sikap yang harus diambil umat Islam dalam
menghadapi perbedaan pendapat adalah dengan kembali kepada sumber aslinya, yaitu Al-
Qur'an dan Sunnah. Bagi yang berilmu pengetahuan wajib berijtihad, sedang bagi orang
awam bertanya kepada orang yang ahli dalam bidang agama.

Ia menyarankan agar para ahli fikih membentuk tim yang bekerja untuk mengadakan
penelitian tentang pendapat yang terkuat di antara pendapat-pendapat yang ada.
Kemudian keputusan tim itulah yang dijadikan pegangan umat Islam. Di samping
bertugas memfilter, tim ahli fikih tersebut juga bertugas mengadakan reinterpretasi
terhadap hasil ijtihad ulama maupun madzhab masa lalu. Jadi, menurutnya, bermadzhab
berarti mencontoh metode ber-istinbath hukum.

Peran dan kiprah Mohammad Abduh dalam mengangkat citra Islam dan kualitas umatnya
dari keterpurukan memang tak kecil. Dialah seorang mujaddid dan mujtahid sekaligus,
yang pada masanya, bukan saja mengalami tentangan internal maupun eksternal. Berkat
upayanya, meski belum begitu maksimal, modernisme pemikirannya mulai kelihatan.
Dalam amatan cendekiawan Muslim Dr Nurcholish Madjid (Islam Kemoderenan dan Ke-
Indonesiaan, Mizan : 1987), 'modernisme' Abduh, antara lain, tercermin dalam sikapnya
yang apresiatif terhadap filsafat. Ia peroleh wawasan itu dari gurunya, Jamaluddin Al-
Afghani, seorang penganjur gigih Pan-Islamisme dan orator politik yang memukau.

Di Indonesia, pemikiran Abduh banyak mempengaruhi perjalanan dan patron ormas


Islam, Muhammadiyah, di mana banyak persamaan antara keduanya. Di antara warisan
intelektualnya adalah Risalah al-Tauhid. Sedangkan Tafsir Al Manar merupakan
kumpulan pidato-pidato, pikiran-pikiran, dan ceramah-ceramahnya yang ditulis oleh
muridnya, syeikh Mohammad Rasyid Ridha. [republika.co.id]
Muhammad Ali Pasya

84
Negara Mesir sejak masa lampau sudah memiliki budaya yang tinggi. Begitu pula pada
saat sekarang ini, Mesir masih memegang peranan penting dalam kancah budaya, sosial,
dan politik di kawasan Timur Tengah. Ini tak terlepas dari jasa seseorang yang bernama
Muhammad Ali Pasya, pelopor pembaruan dan Bapak Pembangunan Mesir modern.

Sejatinya, Muhammad Ali bukanlah orang Mesir asli. Dia berasal dari dusun Kavala-
Albania dan lahir sekitar tahun 1765. Orang tuanya hanyalah pedagang rokok eceran dan
hidup kurang mampu. Kondisi tersebut mendorong Muhammad Ali bekerja keras sejak
masih kecil. Kesibukannya bekerja pada akhirnya tidak memberinya kesempatan untuk
mengenyam dunia pendidikan. Akibatnya, dia pun menjadi tidak pandai membaca dan
menulis.

Menginjak dewasa, Muhammad Ali bekerja sebagai pemungut pajak. Di sini dia mulai
memperlihatkan kecakapannya sehingga tiap tugas yang dibebankan, terlaksana dengan
baik. Tak cuma itu, nasib baiknya berlanjut tatkala Gubernur Utsmani mengambilnya
sebagai menantu.

Kemudian dia masuk ke kemiliteran. Muhammad Ali menjadi ahli strategi andal,
kariernya pun terus menanjak. Dan saat memangku jabatan selaku salah satu komandan
pasukan Ottoman, tahun 1798 Muhammad Ali dikirim ke Mesir (saat itu adalah salah satu
provinsi Ottoman) untuk membantu Inggris memerangi tentara Prancis pimpinan
Napoleon Bonaparte. Dalam pertempuran tersebut, dia kembali menunjukkan kecakapan
serta keberanian sampai selanjutnya diangkat sebagai kolonel.

Setelah tentara Prancis meninggalkan Mesir tahun 1801, terjadi kekosongan politik di
negara tersebut. Oleh Muhammad Ali, hal tersebut dinilainya sebagai satu kesempatan
untuk mengambil alih kekuasaan. Situasi vakum ini memunculkan tiga kekuatan yang
bertujuan ingin merebut kekuasaan pula. Yakni Khursyid Pasya dari Istambul-Turki,
kaum Mamluk yang menginginkan kembali kekuasaannya yang lepas setelah kedatangan
Prancis, serta Muhammad Ali sendiri.

Awalnya, Muhammad Ali belum terang-terangan menunjukkan niatnya itu. Dirinya


menyadari, agar bisa mewujudkan harapan, maka pertama kali yang perlu dilakukan
adalah mendapatkan dukungan rakyat. Maka dia pun lantas mengambil sikap mengadu
domba dua kekuatan lain. Lama kelamaan, simpati dari rakyat Mesir yang sudah benci
terhadap kaum Mamluk diperolehnya. Sedangkan pada kesempatan sama, tentara Turki di
bawah pimpinan Khursyid Pasya ternyata sebagian besar berasal dari Albania. Ini
membuat simpati rakyat kepada Turki berkurang.

Dengan kelemahan yang ada pada dua pesaingnya itu, Muhammad Ali mempunyai
kedudukan lebih kuat guna merebut kekuasaan. Barulah setelah dinilainya situasi politik
kian mendukungnya, segera saja dia menghancurkan kekuasaan Mamluk dan Khursyid
Pasha. Serta merta, pasukan sultan Turki dipaksa kembali ke Istambul. Seperti disebutkan
dalam buku Ensiklopedi Islam, maka tahun 1805, Istambul mengangkatnya sebagai Pasya
(gubernur) Mesir.

85
Pemerintahannya berjalan dengan keras. Di awal kekuasaan, pengaruh kaum Mamluk di
Mesir belum sepenuhnya pudar. Oleh katena itu, Muhammad Ali berupaya
menyingkirkan terlebih dulu pihak-pihak penentang kekuasaannya. Tahun 1811, kaum
Mamluk dapat ditaklukkan. Setelah semua ancaman dieliminir, mulailah berbagai
pembaruan dikerjakan.

Salah satu bidang yang menjadi fokus pembaruannya adalah militer. Menurut
pendapatnya, melalui kekuatan militer akan dapat mengamankan kekuasaan serta upaya
pembangunan. Disadari, mengembangkan kekuatan militer hanya bisa dicapai dengan
penguasaan pengetahuan modern. Terkait masalah tersebut, tahun 1819 dia mengutus
seorang kolonel Prancis bernama Save --yang kemudian beralih ke agama Islam dengan
nama Sulaiman Pasya-- guna memodernisasi angkatan bersenjata Mesir.

Dibangunlah sekolah militer di Kairo serta Akademi Industri Bahari juga Sekolah
Perwira Angkatan Laut di Alesandria. Selain itu, ratusan perwira Mesir dikirimnya ke
Eropa untuk menimba ilmu kemiliteran.

Pembaruan pada bidang perekonomian juga menjadi perhatian serius. Beragam kegiatan
dilaksanakan untuk memacu pertumbuhan ekonomi negara serta meningkatkan
kesejahteraan rakyat. Sejumlah irigasi dibangun, impor kapas dari India dan Sudan, dan
juga mendatangkan tenaga ahli pertanian dari Eropa. Modernisasi bidang angkutan umum
dan industri menjadi fokus utama awal pemerintahan Muhammad Ali.

Pendidikan serta ilmu pengetahuan adalah pula unsur penting gerakan pembaruan
Muhammad Ali di Mesir. Demi tujuan itu, dibentuklah kementerian pendidikan dan
sejumlah lembaga pendidikan. Antara lain Sekolah Teknik (1816), Sekolah Kedokteran
(1827), Sekolah Apoteker (1829), Sekolah Pertambangan (1834), dan Sekolah
Penerjemahan (1836).

Sekolah-sekolah tersebut telah menerapkan sistem pengajaran modern yang antara lain
diadopsi dari Eropa. Demikian pula tenaga pengajarnya, selain dari Mesir sendiri, juga
guru dari Eropa didatangkan. Antara tahun 1813-1849, sejumlah pelajar Mesir dikirim ke
Italia, Prancis, Inggris, dan Austria.

Untuk mendukung percepatan pembangunan dan pembaruan Mesir, penerjemahan buku-


buku berbahasa asing --terutama dari Eropa-- terus dilakukan, seperti ilmu fisika, sastra,
kedokteran dan lain-lain. Hasilnya pun cukup menggembirakan dan membawa pengaruh
besar bagi rakyat Mesir. Mereka lebih mengenal dunia luar serta mengetahui
perkembangan dunia Islam pada umumnya.

Apa yang telah dilaksanakan Muhammad Ali Pasya ketika memimpin Mesir, telah
mampu mewujudkan Mesir menjadi sebuah negara modern. Hingga kini, Mesir masih
dipandang sebagai pusat ilmu pengetahuan di kawasan Timur Tengah.

Keberadaan universitas terkenal Al-Azhar makin memperkokoh kedudukan Mesir dalam


bidang ilmu pengetahuan Islam. Ribuan mahasiswa dari berbagai negara di dunia, setiap

86
tahunnya menimba ilmu di sini. Semua itu salah satunya adalah berkat jasa-jasa
Muhammad Ali Pasya, yang lantas dijuluki Bapak Pembangunan Mesir Modern.
[republika.co.id]

Muhammad Ar Razi

Muhammad Ar Razi adalah salah satu putera mahkota intelektualisme Islam. Selain Ibnu
Sina (Avicenna) yang dikenal sebagai perintis awal ilmu kedokteran, Muhammad bin
Zakaria Ar Razi (lebih dikenal dengan nama Ar Razi) juga menduduki derajat sebagai
perintis kedokteran modern.

Dilahirkan di Rayy, dekat Teheran, Iran, pada 846 M (wafat di kota yang sama pada 925
M), Ar Razi yang bernama lengkap Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Ar Razi itu sejak
kecil telah menunjukkan minat yang besar terhadap ilmu pengetahuan.

Namun demikian, ia yang dididik dan dibesarkan dalam lingkungan agama yang ketat,
sebenarnya baru tertarik dan menekuni secara serius masalah-masalah kedokteran justru
di usia tua. Hanya saja, meski keseriusannya terhadap disiplin ilmu yang satu ini telah
ada sejak muda, kepakaran dan kejeniusan Ar Razi pada bidang kedokteran jauh
melampaui dari keahliannya di masa tua. Hal inilah yang menempatkan dirinya pada
deretan ilmuwan Muslim yang sangat disegani dan dihormati dunia Barat. Sebagian ahli
sejarah menyebutkan, Ar Razi sebenarnya telah menggeluti filsafat, kimia, matematika,
dan kesastraan sejak muda.

Mengutip ahli sejarah Ibnu Khallikan, seorang penulis biografi Barat, AJ Aberry, dalam
pengantar buku Ar Razi, The Spiritual Physic of Rhazes (Penyembuhan Ruhani),
menulis, "Di masa mudanya, ia gemar main kecapi dan menekuni musik vokal. Namun
ketika beranjak dewasa, dia meninggalkan hobinya ini seraya mengatakan bahwa musik
yang berasal dari antara kumis dan jenggot tidak punya daya tarik dan pesona untuk
dipuji serta dikagumi."

Sejak inilah, beberapa sumber menyebutkan Ar Razi lebih banyak memfokuskan dirinya
pada tradisi intelektualisme di sekitar filsafat, logika, eksakta, dan kedokteran. Yang
terakhir ini, seperti disinggung di atas, mendapat porsi khusus dari energinya di usia tua.
Pada bidang ini, ia sampai meluangkan waktu khusus ke Baghdad, Irak, guna
memperdalam kedokteran.

Kala itu, Baghdad dikenal pada puncak keemasan intelektualisme. Baghdad yang kala itu
menjadi pusat pemerintahan imperium Bani Abbasiyah, semakin menegaskan diri sebagai
pusat ilmu pengetahuan, khususnya ketika tahta kekuasaan diperintah oleh Khalifah Al
Manshur (754-775 M), Harun Al Rasyid (wafat 809 M), hingga Khalifah Al Makmun
(813-833 M). Di kota Baghdad ini, Ar Razi berguru pada Humayun Ibnu Ishaq, seorang
ulama yang menguasai ilmu pengobatan dengan baik.

Dari guru yang telah lama berpraktik di bidang pengobatan inilah, Ar Razi menguasai
dengan baik dasar-dasar teknik pengobatan. Sekembali dari Baghdad, Ar Razi

87
memutuskan untuk membaktikan dirinya pada masyarakat, khususnya pada bidang yang
selama ini ia tekuni, kedokteran. Dalam waktu tak lama, lantaran kepakarannya, ia
memperoleh perhatian khusus dari penguasa setempat.

Karena reputasi dan kelebihannya itulah pemerintah kemudian memutuskan memberi


amanat pada dirinya untuk memimpin sebuah rumah sakit di Teheran. Selain menjadi
dokter, tokoh yang dikenal pula dengan kerendahan hatinya ini tak kurang
mengoptimalkan pengabdiannya dengan mengajar. Tercatat, para mahasiswanya tak
hanya berdatangan dari berbagai penjuru dunia Islam, tapi juga dari negara-negara Barat.
Setiap kuliahnya selalu dipadati para mahasiswa.

Patut dicatat, Ar Razi menerapkan metode perkuliahan yang bisa dikata unik tapi sangat
mendidik. Yakni perkuliahan diatur sedemikian rupa agar beberapa penceramah senior
dan yunior dapat membahas berbagai macam pertanyaan yang mampu mereka jawab, dan
hanya merujuk kepadanya jika persoalan-persoalan yang melampaui batas jangkauan
pengetahuan mereka. Tampaknya, cara ini pula yang kini banyak dikembangkan di
mayoritas universitas terkemuka di Barat dan sebagian di dunia Timur.

Dalam perjalanan karirnya ini pula, tokoh yang di Barat dikenal dengan nama Rhazes ini
harus meninggalkan pengabdiannya di kota kelahirannya untuk memenuhi penggilan
penguasa Baghdad. Di kota ini, penguasa setempat mempercayai Ar Razi sebagai kepala
rumah sakit di kota yang juga dikenal dengan sebutan "Kota Seribu Satu Malam" ini.
Dengan demikian, selain memberikan teori-teorinya, Ar Razi juga langsung
mempraktikkan ilmunya dalam perawatan pasien di berbagai rumah sakit di Teheran dan
Baghdad.

Selama menekuni dunia pengobatan, Ar Razi dikenal memiliki reputasi luar biasa.
Puluhan buku telah ia tulis. Melalui karya-karyanya itulah ia mengilhami kemajuan dan
perkembangan kedokteran modern, khususnya di dunia Barat. Selama 35 tahun ia
berpraktik pada disiplin ilmu tersebut, Ar Razi tak hanya berkeliling dari satu tempat ke
tempat lain di Baghdad maupun di Rayy, Teheran. Tapi sekaligus juga daerah-daerah di
luar kedua kota itu tak kurang ia kunjungi untuk pengabdian pada masyarakat setempat.

Di tengah-tengah keseriusan dan makin meningkatnya penguasaan ilmu kedokteran, Ar


Razi yang makin tua usia terserang penyakit katarak hingga membuat matanya buta.
Penglihatannya praktis tak berfungsi. Ketika ia dianjurkan untuk berbekam, konon Ar
Razi menjawab, "Tidak, aku sudah demikian lama melihat seluruh dunia ini sehingga aku
pun lelah karenanya."

Pengabdian dan kejeniusan Ar Razi ini diakui Barat. Banyak ilmuwan Barat
menyebutnya sebagai pioner terbesar dunia Islam di bidang kedokteran. "Razhes
merupakan tabib (dokter) terbesar dunia Islam, dan satu yang terbesar sepanjang sejarah,"
jelas Max Mayerhof.

Sementara sejarawan Barat terkenal, George Sarton mengomentari Ar Razi dengan cerdas
sekali. Katanya, "Ar Razi dari Persia itu tidak hanya tabib terbesar dunia Islam dan Abad

88
Pertengahan. Ia juga kimiawan dan fisikawan. Ia bisa dinyatakan sebagai salah seorang
perintis latrokimia zaman Renaisans. Maju di bidang teori, ia memadukan
pengetahuannya yang luas melalui kebijaksanaan Hippokratis." Maka pada tempatnya
bila umat manusia, Barat khususnya, berutang budi dan mesti berterima kasih pada sosok
ini. (hery sucipto)[republika.co.id]
uhammad Bin Abdul Wahab

Saat Islam jatuh ke jurang keruntuhan (abad ke-18), kerusakan budi dan moral amat
parah. Pendidikan terhenti, pemerintahan menjadi despotis, kadang terjadi anarki, agama
membeku, ketauhidan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW telah diselubungi khurafat,
mesjid-mesjid ditinggalkan oleh golongan besar yang awam, azimat dan penangkal
penyakit merajalela sebagai “kepercayaan baru” umat, menziarahi kuburan “orang-orang
keramat” mentradisi, pemujaan terhadap “orang-orang suci” yang dijadikan sebagai
“perantara” komunikasi dengan tuhan, menggejala. Minum arak dan mengisap candu jadi
hal biasa, pelacuran merajalela, dan akhlak merosot serta kehormatan diri rusak.

Dunia Islam diliputi kegelapan. Tapi tiba-tiba, bergemalah seruan dari padang pasir yang
luas – tempat lahir Islam di tanah Arab – memanggil Umat Islam kembali ke jalan yang
benar. Adalah Muhammad bin Abdul Wahab yang menggemakan seruan itu. Ia
menggerakkan Umat Islam untuk memperbaiki jiwa dan membangkitkan kemegahan dan
kebesaran Islam.

Abdul Wahab adalah sosok pembaharu yang cukup berpengaruh sekaligus berhasil
menggedor mata hati umat. Ia melancarkan gerakan pembaharuannya berdasarkan ide-ide
Ibnu Taimiyah. Gerakannya ini dikenal dengan Wahabiyah atau Wahabisme, suatu
gerakan pemurnian ajaran Islam yang berkembang menjadi gerakan pembaharuan
pemikiran umat Islam.

Muhammad bin Abdul Wahab lahir di desa Ainiyah Nejed pada tahun 1703M/1115H. Ia
lahir di tengah lingkungan masyarakat yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang
sederhana dan asli, sesuai dengan watak Arabnya.

Semenjak kecil Abdul Wahab amat tertarik mendalami agama. Pada tahap awal, ia belajar
agama pada ayahnya sendiri, yaitu Abdul Wahab, seorang ulama Ahlussunah wal
Jama’ah. Pada usia remaja, seusai menunaikan ibadah haji, untuk kedua kalinya ia pergi
ke Makkah untuk menuntut ilmu dan tinggal di sana. Di Madinah ia berguru pada dua
orang ulama bernama Sulaiman al Kurdi dan Muhammad Hajad al Sindi. Setelah itu, ia
melanjutkan petualangannya ke Irak, tepatnya ke Basrah selama 4 tahun dan Baghdad 5
tahun.

Di Baghdad ia menikah dengan wanita kaya raya. Ketika istrinya meninggal, ia merantau
lagi ke Kurdistan selama 1 tahun, dan selama beberapa tahun ke Hamadan dan Isfahan
(Iran). Ia pun mendalami ilmu filsafat dan tasawuf selama di Iran. Akhirnya, ia kembali
lagi ke Nejed.

89
Dalam perantauannya, Abdul Wahab menyaksikan berbagai bentuk praktek agama yang –
menurutnya – jauh menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Ia melihat maraknya
pemujaan terhadap wali, kuburan, dan lain-lain. Salah satu aspek yang cukup mendapat
perhatian dari Abdul Wahab adalah masalah taklid (mengikuti pendapat/paham orang lain
secara membabi buta) yang merupakan sumber kebekuan atau kejumudan pemikiran
Umat Islam sendiri. Padahal untuk memahami ajaran yang terkandung dalam Al Qur’an
dan Hadits, orang harus berijtihad. Karena itu, pintu ijtihad tidak perlu ditutup.

Ketika kembali ke Nejed Abdul Wahab bertekad untuk menyebarkan reformasi dan
pemurnian Islam, menggedor pintu hati dan pikiran umat. Pada tahun 1714 M, di usia
yang masih muda, ia memulai gerakan pembaharuannya berdasarkan ide-ide
pembaharuan Islam Ibnu Taimiyah yang telah didalaminya melalui kitab-kitabnya.
Lahirnya Wahabisme yang kata Rifyal Ka’bah dalam Islam dan Fundamentalisme (1984),
menyalahkan pemujaan orang-orang shaleh dan menentang semua khurafat dan bid’ah.
Wahabisme telah menjiwai gerakan untuk kembali pada monoteisme (tauhid) seperti
yang ada di masyarakat Islam pada permulaan sejarah Islam.

Praktek-praktek bid’ah dan syirik dipandang Abdul Wahab sebagai situasi jahiliyah.
Pokok pemikirannya lebih terarah pada “gerakan pemurnian ajaran tauhid” yang muncul
sebagai reaksi atas paham ajaran tauhid yang berkembang (dan menyimpang).

Gerakan Wahabisme makin berkembang berkat dukungan seorang penguasa Nejed, yakni
Muhammad Ibnu Saud. Lambat laun padang pasir Arab ditempa oleh “duet” Wahab –
Saud dan menjadi kesatuan politik keagamaan, seperti yang diwujudkan Nabi
Muhammad SAW. Muhammad Ibnu Saud memang menjadi pengikut Wahabisme fanatik
pertama dan utama. Keturunannya pun hingga sekarang, yakni keluarga kerajaan Arab
Saudi, menjadi pendukung utama Wahabisme.

Abdul Wahab wafat tahun 1787M/1206H. Awal abad XX Wahabisme bangkit kembali di
bawah kepemimpinan putera Muhammad Ibnu Saud, yakni Abdul Aziz Ibnu Saud.
Penguasa Nejed yang baru, berhasil menaklukan Makkah (1924), Madinah (1925),
Jeddah, dan daerah sekitarnya. Pada tahun 1926 ia mengumumkan dirinya sebagai raja
Hijaz. Tahun 1932 ia mendirikan kerajaan Arab Saudi. Secara turun temurun,
keturunannya pun menjadi Raja Saudi, hingga Raja Fahd saat ini. [Tabloid MQ EDISI
5/TH.II/SEPTEMBER 2001]
Muhammad Iqbal

Muhammad Iqbal, itulah tokoh muslim abad 20 yang berjaya dan berjasa di pelbagai
bidang, baik itu politik, filsafat, sastra, dan sudah tentu agama. Iqbal menguasai ilmu
filsafat Barat yang diklaim dan diagung-agungkan oleh masyarakat Barat sebagai dasar
pijakan bagi kemajuan perdaban Eropa. Selain sebagai filsuf yang kreatif, beliau dikenal
pula sebagai seorang penyair yang berbakat.

Muhammad Iqbal dilahirkan di India, tepatnya di Sialkot tanggal 22 Februari 1873, pada
masa itu India masih menjadi daerah penjajahan kolonial Inggris. Tak heran pergolakan
dan perjuangan di tanah hisdudtan itu melahirkan banyak tokoh muslim terkenal dan

90
berpengaruh tidak hanya bagi India namun juga masyarakat dunia, terutama dunia
muslim, diantaranya Syekh Ahmad Khan (1817-1898), Abul a'la Al Maududi,
Muhammad Ali Jinnah, Wahiduddin Khan, serta Muhammad Iqbal, seorang yang tidak
pernah bisa dilupakan dalam perjuangan membebaskan negerinya dari cengkraman
penjajahan, bahkan mencita-citakan terbentuknya masyarakat yang berdasarkan wahyu
Allah Swt. Ia berjuang melaluikesusastraan berupa syair-syair, puisi, prosa.

Sebagai seorang muslim, Iqbal muda disekolahkan dan dididik oleh ayahnya yang
seorang sufi dengan didikan Al-Qurän. Sejak kecil ia senang membaca dan menghafal Al-
Qurän. Ayahnya pernah berkata, "Jika kamu ingi memahami Al-Qurän, bacalah seolah ia
diturunkan kepadamu." dikemudian hari Iqbal selalu menjadikan Al-Qurän sebagai dasar
pijakan dalam segala pemikiran. Nilai religiusitas dalam filsafat dan puisi-puisinya sangat
kental terasa.

Iqbal muda memiliki seorang guru, Maulana Mir Hasan yang membimbing Iqbal muda
dengan didikan Islam menjadi seorang penyair yang memiliki nilai religiusotas sekaligus
seorang pejuang muslim yang hidupnya diabadikan untuk keyakinannya. Selain Maulana
Mir Hasan, ia pun berguru pada seorang Inggris yang terkenal berjasa pada dunia Islam,
Sir Thomas Arnold. Ialah ang mengenalkan Iqbal pada perdaban dan filsafat Barat.

Kecerdasan Iqbal sejak kuliah telah terlihat, bahkan ia menjadi satu-satunya murid
Thomas Arnold yang mengajar mata kuliah filsafat Islam di Goverment School. Untuk
mendalami filsafat Barat, ia pergi ke Eropa selama tiga tahun untuk berguru pada
Professor Mac Taggart sehingga ia berhasil memboyong gelar doktor melalui disertasinya
di Universitas Munich dengan judul The Development of Metaphysics in Persia,
sekaligus menjadi karya pertama Iqbal dalam filsafat.Perjalannya selama tiga tahun
membawa perubahan pemikirannya, ia mengalami culture shock dengan bertemunya dua
peradaban dalam dirinya yaitu peradaban Timur dan Barat, di bidang filsafat ini ia
mampu menyerap dengan cepat pemikiran Barat. Istimewanya, hal itu tak mengubah
sedikitpun keyakinan dan pijakan Iqbal terhdap Islam, bahkan di kemudian hari ia sangat
piawai membangun sistem filsafatnya sendiri yang berdasar pada Al-Qurän. Ia pun
meramalkan keruntuhan sekaligus membuka aib filsafat dan peradaban Barat seperti yang
tercantum dalam syairnya,
Walau Eropa dikelilingi pesona seni dan ilmu
Sebenarnya Lembah Kegelapan ini kekurangan Mata Air Kehidupan
Wahai penduduk benua Barat
bumi Tuhan bukanlah kedai
Apa yang kalian anggap berharga 'kan terbukti ak bernilai
Peradaban kalian 'kan bunuh diri dengan senjatanya sendiri
Sarang yang kalian bangun di atas kerapuhan dahan pasti tak kan lama bisa bertahan
Laksana buah yang ranum Eropa hampir gugur,
Biarlah kita saksikan, dalam pengakuannya ia meluncur.

***

91
Pusinya tidak hanya menggambarkan keindahannya dan kekuatan jiwa yang mampu
membuat pembacanya terpana, tetapi juga sarat akan prediksi peradaban serta pemikiran
yang jauh ke depan. Tidak hanya itu, puisinya menggambarkan pula ide-ide
pemikirannya, filsafat, sikap politik, dan lain-lain.

Antara lain merumuskan manusia ideal sebagai 'Insan Kamil' sebagai perwujudan
khalifah di muka bumi (QS. 2:30) yang sudah pada wujud berkuasabukan lagi pada
kehendak untuk berkuasa.

Puisi, bagi Iqbal menawarkan saluran untuk mencitakan ide-idenya seperti dalam
karyanya Asra I Khudi dan Rumuz I Bekhudi tentang insan kamil (Mard I Mu'min)
sebagai manusia ideal serta masyarakat ideal yang berbasiskan Al-Qurän. Karyanya yang
paling terkenal adalah Javid Nama (kitab Keabadian) yang oleh Iqbal diabadikan sebagai
nama anak satu-satunya.

Dunia politik pun digelutinya saat ia menjadi advokat, setelah terpilih menjadi anggota
legislatif Punjab tahun 1927. Tahun 1930 ia terpilih mejadi Ketua sidang tahunan Liga
Muslim. Bersama Muhammad ali Jinnah, beliau merancang berdirinya negara Islam
Pakistan. Iqbal mulai sering berkeliling tidak hanya di India tetapi ke luar negeri untuk
berceramah. Ceramah-ceramahnya dikumpulkan dan diberi judul The Recontruction of
Religious Thought in Islam sebagai karya filsafatnya yang kedua.

Iqbal meninggal dalam usia enam puluh tahun. Kepergiannya membuat dunia
kesusastraan kehilangan salah satu "putera"nya yang sangat berbakat, seperti yang
diucapkn oleh sahabatnya Muhammad Ali Jinnah:

"Ia adalah seorang penyair yang sulit dicari tandingannya, namanya dikenal di berbagai
penjuru, ungkapannya tetap abadi, usahanya bagi bangsa dan negerinya pantas
disejajarkan dengan tokoh terbesar India, kematiannya merupakan kehilangan besar bagi
rakyat, muslim khususnya." [Majalah Percikan Iman No.2 Tahun II Februari 2001]
Mulla Sadra

Filsafat tak asing di kalangan sarjana Muslim. Mereka banyak bergelut dengan filsafat
dan mengembangkannya menjadi sebuah aliran filsafat tersendiri. Maka tak heran jika
kemudian lahir filosof Muslim yang memberikan pengaruh besar dalam jagad filsafat.

Sebut saja misalnya, Sadr al-Din Muhammad ibnu Ibrahim ibn Yahya al-Qawami al-
Shirazi, yang dikenal dengan Mulla Sadra atau Sadr al-Muta'allihin. Para muridnya
memanggilnya dengan sebutan Akhund. Ia dilahirkan di Shiraz, Iran, sekitar 1571, dari
keluarga terpandang, Qawam.

Ayah Mulla Sadra, Ibrahim bin Yahya Al Qawami Al Shirazi, merupakan orang berilmu
dan saleh. Ia pun pernah menjabat sebagai Gubernur provinsi Fars. Sang ayah memiliki
kekuasaan yang istimewa di kota Shiraz. Tak heran jika Mulla Sadra mendapatkan
perhatian dan pendidikan yang terbaik.

92
Apalagi berabad sebelumnya, Shiraz merupakan pusat ilmu, baik filsafat maupun ilmu
tradisional lainnya. Kondisi ini membuatnya cepat menguasai beragam ilmu baik Bahasa
Arab maupun Persia, Alquran dan Hadis serta bidang ilmu lainnya.

Meski demikian, hal itu tak membuat Mulla Sadra merasa puas. Maka untuk memuaskan
rasa dahaganya akan ilmu, ia meninggalkan kota kelahirannya menuju Isfahan. Di sana ia
mendapatkan bimbingan dari dua orang guru yang mumpuni keilmuannya.

Yaitu Syekh Baha Al-Din Al-Amili, biasa disebut Syekh Baha'i, yang terkenal sebagai
teolog, sufi, ahli hukum, filosof juga seorang penyair. Ilmu-ilmu keagamaan ia serap dari
gurunya itu. Pada periode yang sama, Mulla Sadra juga mendapatkan bimbingan dari
Sayid Muhammad Baqir Astrabadi, lebih dikenal Mir Damad, terutama ilmu-ilmu
intelektual.

Lalu ia meninggalkan Isfahan untuk menuju desa Kahak. Ia menjalani kehidupan


menyendiri untuk memenuhi dahaga spiritualnya. Langkah yang ia tempuh juga
merupakan upaya untuk menghindari tekanan yang ia terima dari kalangan intelektual
lainnya terhadap doktrin gnostik dan metafisik yang ia lontarkan.

Tak hanya itu, jalan yang ia tempuh ternyata bertolak dari kesadaran dalam dirinya.
Sebelumnya, ia begitu mengandalkan kemampuan intelektualnya. Mulla Sadra tersadar,
seharusnya berserah diri kepada Allah dengan jiwa yang suci dan ikhlas merupakan jalan
yang ia tempuh pula.

Laku spiritual yang ia tempuh ternyata memberikan sebuah pencerahan diri. Ia


menyatakan bahwa kebenaran mistik pada dasarnya adalah kebenaran intelektual.
Pengalaman mistik merupakan pengalaman kognitif. Pemikirannya itu ia tuangkan dalam
sebuah karya Al-Hikmah Al-Mutaaliyah fi Al-Asfar Al-Aqliyyah al-Arba'ah (Empat
Perjalanan Intelektual).

Empat perjalanan intelektual tersebut, yang pertama adalah perjalanan penciptaan menuju
kepada kebenaran (al-haqq). Di sini, Mulla Sadra meletakkan dasar ontologinya, dan
merupakan cerminan dari jalan sufi yang melakukan pengendalian hawa nafsu yang
rendah.

Pada perjalanan kedua, di dalam kebenaran dengan kebenaran, merupakan tahap di mana
para sufi mulai tertarik dengan beragam manifestasi. Ia berhubungan dengan substansi
yang sederhana, yaitu intelegensi, jiwa, dan tubuh termasuk bahasannya tentang ilmu-
ilmu alam.

Pada perjalanan ketiga, dari kebenaran menuju sebuah kreasi bersama kebenaran, yang
merupakan pengalaman sufi annihilation in the Godhead, dalam hal ini, ia berhubungan
dengan theodicy. Sedangkan perjalanan keempat adalah perjalanan bersama kebenaran
dalam kreasi. Di mana ia memaparkan secara lengkap dan sistematik mengenai
perkembangan jiwa manusia.

93
Melalui karyanya ini, Mulla Sadra dianggap sebagai filosof yang membangkitkan
kembali gairah filsafat kala itu. Pasalnya, ia memiliki kemampuan mengelaborasikan
aliran filsafat Peripatetik yang diperkenalkan oleh Ibnu Sina yang dikemudian hari
diusung pula oleh Nasir al-Din al Tusi.

Selain itu, Filsafat Iluminasi yang diperkenalkan Shihab al-Din al-Suhrawardi, Mistitisme
dari Sufisme Ibn al-'Arabi berkembang sampai abad kesepuluh. Sejumlah filosof
berupaya menggabungkan beragam warisan ini dalam karya tulis mereka.

Namun, Mulla Sadra dapat melakukannya secara gemilang. Kemudian ia membentuk


pemikirannya sendiri yang selanjutnya dikenal sebagai mazhab Al-Hikmah Al-
Mutaa'liyah atau Metaphilosophy. Pada karyanya ini tak hanya memuat sintesis dari
beragam pandangan terdahulu mengenai makna dari istilah dan konsep filsafat. Namun,
ia mengemukakan bermacam definisi tentang hikmah atau filasafat.

Misalnya, pada bagian pendahuluan karyanya, ia menyatakan bahwa hikmah tak hanya
menekankan pengetahuan teoritis akan tetapi termasuk pula pelepasan diri dari hawa
nafsu dan penyucian dari kotoran yang bersifat material. Baginya, filsafat merupakan
ilmu pengetahuan yang tinggi dan memiliki asal-usul ketuhanan karena berasal dari para
nabi.

Tak hanya menulis, ia pun mengajarkan ilmunya. Allahwirdi Khan, Gubernur Shiraz kala
itu, membangun lembaga pendidikan dan mengundangnya untuk mengajar di sana.
Kedalaman ilmunya tak ayal membuatnya memiliki banyak murid yang datang tak hanya
dari Shiraz. Hal inilah yang kemudian mampu mengembalikan Shiraz sebagai pusat ilmu.

Mulla Sadra telah melahirkan banyak penerus yang memberikan kontribusi dalam
perkembangan filsafat di Persia pada periode berikutnya. Paling tidak ada dua orang
penerusnya yang sangat terkenal, yaitu Mulla Abd Al Razzak Lahiji dan Mulla Muhsin
Faidh Khasyani.

Razzak Lahiji membuat ringkasan kecenderungan aliran Paripatetik sang guru dalam
Bahasa Persia, tak heran jika ia lebih dikenal di negerinya itu. Sedangkan murid lainnya,
Kasyani lebih menekankan aspek gnostik yang diajarkan oleh Mulla Sadra. Keintiman
hubungan murid guru ini, juga ditunjukkan dengan pernikahan keduanya dengan putri-
putri Mulla Sadra.

Kegiatan intelektual Mulla Sadra yang dipraktikkan dalam aktivitas mengajar dan
menulis ia barengi dengan laku spiritual yang mengagumkan. Salah satu contohnya, ia
menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki selama tujuh kali. Laku spritual yang
semakin intens telah memberinya pencerahan-pencerahan bagi dirinya dalam menekuni
dunianya.

Sekembalinya dari tanah suci yang ketujuh kalinya, ia menderita sakit di Basrah. Mulla
Sadra menghembuskan napas terakhirnya di Basrah pada 1640. Meski demikian,

94
namanya tetap hidup hingga kini melalui karya tulisnya yang menarik perhatian para
cerdik cendekia.

Sebut saja karya monumentalnya, Al-Hikmah Al-Mutaaliyah fi Al-Asfar Al Aqliyyah Al-


Arbaah. Karya lainnya, Al Syawahid Al Rububiyyah fi Al Manahij Al-Sulukiyyah,
dianggap sebagai ringkasan dari Al-Hikmah Al-Mutaaliyah, ada juga Al-Mabda wa Al
Maad salah satu karya Mulla Sadra yang berhubungan dengan metafisika, kosmogoni,
dan eskatologi. (fer)[republika.co.id]
mar Al-Mokhtar

Lelaki renta itu melangkah menuju tiang gantungan. Kedua tangannya terbelenggu
namun matanya masih tetap berbinar. Raut mukanya tak menampakkan rasa takut sedikit
pun. Ia begitu gagah walaupun maut tengah merambat mendekatinya.

Suasana sendu justru menyergap orang-orang di sekelilingnya. Mereka menatap lelaki


berusia 80 tahun itu, dengan wajah muram. Air mata tak dapat mereka bendung pula.
Bahkan beberapa saat kemudian, jerit tangis bersahutan.

Tatkala mereka melihat lingkaran tali tiang gantungan, menjerat leher pahlawan mereka,
Omar Al-Mokhtar. Singa Padang Pasir itu, berpulang ke Rahmatullah, pada 16 September
1931 di Kota Solouq. Usai sudah perjuangannya melawan penjajahan Italia.

Omar Al-Mokhtar memang dipandang sebagai simbol perlawanan terhadap penjajahan


Italia bagi rakyat Libya. Sejak Italia mulai menancapkan cengkeramannya di negeri
tersebut pada Oktober 1911. Ia telah menjadi pionir untuk menyalakan bara perjuangan
rakyat Libya.

Gelora perjuangannya juga merambat kepada rakyat Libya lainnya, dan melahirkan para
mujahid seperti Ramadan As-Swaihli, Mohammad Farhat Az-Zawi, Al-Fadeel Bo-Omar,
Solaiman Al-Barouni dan Silima An-Nailiah.

Usaha Italia menguasai Libya, dilakukan dengan menyerang dan menguasai kota-kota
pantai seperti Tripoli, Benghazi, Misrata dan Derna secara beruntun. Meski demikian,
Omar kerap menjadi batu sandungan mereka. Ia mampu membangkitkan semangat
perjuangan rakyat Libya.

Perlawanan mereka telah menciptakan sejumlah pertempuran hebat. Misalnya


pertempuran yang terjadi di Al-Hani dekat Tripoli pada 23 Oktober 1911, Ar-Rmaila
dekat Misrata, Al-Fwaihat dekat Benghazi pada Maret 1912 dan Wadi Ash-Shwaer dekat
Derna.

Bahkan tak jarang perjuangan rakyat Libya menuai hasil gemilang. Kala itu, mereka
terlibat dalam pertempuran besar di Al-Gherthabiya, dekat Sirt pada April 1915. Italia
kehilangan ribuan serdadu. Pertempuran semacam ini sering terjadi, membuat Italia harus
melalui tahun demi tahun untuk menguasai negeri ini.

95
Meski pada akhirnya, wilayah-wilayah yang dipertahankan oleh para mujahidin jatuh
pula ke tangan penjajah. Jatuhnya wilayah demi wilayah membuat para pejuang
meninggalkan rumahnya dan menuju ke pegunungan. Mereka tak berdiam diri, namun
merencanakan beragam serangan lanjutan.

Pada 1922 Omar mengorganisir para mujahidin dan mengobarkan kembali perlawanan
terhadap pendudukan Italia atas negerinya. Ia mengumpulkan kembali mujahidin di The
Green Mountain (Aj-Jabal Al-Akdar), bagian Tenggara Libya. Hal itu terjadi setelah
Perang Dunia I ketika Italia berpikir telah mampu meredam sepenuhnya perlawanan
rakyat Libya.

Perlawanan yang kembali mencuat membuat otoritas Italia merasakan bahaya yang
mengancam. Mereka tak mau membiarkan perlawanan semakin merajalela. Lalu
pemerintah pusat Italia Badolio yang terkenal haus darah untuk meredam bara
perlawanan tersebut.

Ia tak hanya mendapatkan tugas memimpin pertempuran untuk menumpas Omar Al-
Mokhtar dan pasukannya. Bahkan ia pun diizinkan untuk membunuh rakyat jelata yang
hidup tenang baik di desa maupun pegunungan hanya karena di anggap membantu para
mujahidin.

Beberapa saat kemudian, sang diktator, Musolini, juga mengirimkan komandan yang
berperilaku seperti Badolio. Ia mengemban tugas yang sama untuk mengenyahkan
nyawa-nyawa orang yang tak berdosa dan tak lupa menumpas gerakan mujahidin.

Dan Musolini berpikir bahwa untuk menyelesaikan masalah Libya secara tuntas adalah
Rodolfo Grasiani. Bahkan kepada kabinetnya Musolini menyatakan kedatangan Grasiani
kelak membuat suasana di Libya dapat terkontrol sepenuhnya.

Kala itu, Grasiani setuju pergi ke Libya dengan catatan tak ada aturan yang dapat
membelenggunya dalam melakukan berbagai tindakan di Libya. Bahkan peraturan
internasional sekalipun. Sebelum ditugaskan ke Libya, ia pergi ke Morj, Switzerland
untuk merencanakan serangan terhadap Libya.

Rancangan Grasiani tentu saja disetujui sepenunya oleh Musolini. Pasalnya, ia berpegang
pada prinsip ''jika tak bersamaku maka kalian adalah lawanku''. Dengan demikian untuk
menguasai Libya segala cara harus dihalalkan tak peduli akan mengorbankan banyak
jiwa yang tak berdosa.

Rencana pertama Grasiani adalah mengisolir Libya serta mencegah adanya kontak baik
langsung maupun tak langsung dengan mujahidin dan negara tetangganya yang memasok
senjata dan informasi kepada para pejuang Libya. Ia membangun kawat berduri
sepanjang 300 km, tinggi 2 meter dan lebar 3 meter dari pelabuhan Bardiyat Slaiman
Libya Utara sampai Al-Jagboub Libya Tenggara.

96
Rencana lainnya adalah membangun kamp konsentrasi di mana ribuan warga Libya harus
hidup dalam pengawasan angkatan perang Italia. Ia membangun kamp konsentrasi di Al-
Aghaila, Al-Maghroun, Solouq, dan Al-Abiyar.

Pada akhir November 1929 semua warga Libya yang hidup di tenda di Al-Jabal Al-
Akdar, Mortaf-Aat Al-Thahir dari Beneena Utara sampai Ash-Shlaithemiya Selatan, dari
Tawkera ke bagian selatan padang pasir Balt Abdel-Hafeeth, digiring untuk hidup di
kamp-kamp konsentrasi.

Kehidupan rakyat Libya di kamp sangat mengerikan. Bahkan ribuan warga Libya mati
kelaparan. Tak jarang pula mereka mati karena ditembak atau digantung sebab diyakini
membantu perjuangan para mujahidin.

Pada 1933, Ketua Departemen Kesehatan Angkatan Darat Italia, Dr Todesky menuliskan
dalam bukunya bertajuk Cerinaica Today. Dalam bukunya itu ia menyebutkan bahwa dari
Mei sampai September 1930, lebih dari 80 ribu warga Libya dipaksa meninggalkan tanah
kelahirannya dan hidup di kamp konsentrasi.

Iring-iringan warga Libya yang berjumlah 300 orang sekali jalan, mendapat kawalah
ketat dari militer Italia. Todesky melanjutkan bahwa pada akhir 1930 semua warga Libya
yang hidup di tenda-tenda dipaksa untuk hidup di kamp konsentrasi. Sebanyak 55 persen
dari 80 ribu warga Libya meninggal di kamp konsentrasi tersebut.

Seorang sejarawan Libya, Mahmoud Ali At-Taeb menyatakan bahwa pada November
1930 paling tidak terdapat 17 pemakaman dalam sehari terjadi di kamp konsetrasi akibat
kelaparan, penyakit, dan depresi.

Di luar kamp konsentrasi, mujahidin yang bertahan di daerah pegunungan terus berjuang
melawan penjajahan Italia. Namun pada 1931 mujahidin kehabisan bahan pangan dan
amunisi. Pimpinan mujahidin, Omar Al-Mokhtar, sakit-sakitan dan banyak mujadihin
memintanya untuk berhenti dan meninggalkan negeri tersebut. Namun ia menolak
tawaran tersebut dan tetap mengobarkan perjuangan.

Atas kegigihannya melawan penjajahan Italia tak heran jika ia dijuluki sebagai 'Singa
Padang Pasir'. Meski akhirnya, usia senja tak mampu membuatnya bertahan untuk
memanggul senjata. Ia ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung. Eksekusi tetap
dilakukan tanpa mempertimbangkan kerentaan Omar Al-Mokhtar dan hukum
internasional.

Semakin redupnya bara perlawanan, membuat Italia akhirnya dapat menguasai Libya
setelah melakukan pertempuran selama 20 tahun. Meski Italia hanya mampu berkuasa di
sana hingga 1943 akibat kekalahannya di Perang Dunia II. Libya kemudian berada di
bawah kekuasaan pasukan sekutu hingga 24 Desember 1951. [republika.co.id]
Piri Reis

97
Lautan luas tak Allah ciptakan sia-sia. Melalui laut, Allah bimbing makhluknya untuk
menyelami misteri alam. Bahkan hamparan air itu, menjadi perantara lahirnya seorang
yang gagah nan cerdas. Menorehkan prestasi gemilang yang mencengangkan.

Ia adalah laksamana Piri Reis. Selain mumpuni mengarungi hamparan air yang luas, ia
mampu pula menuangkan rekaman perjalanannya ke dalam sebuah karya monumental.
Bahkan karyanya ini, menjadi panduan penting dalam dunia Geografi dan Ilmu
Pelayaran.

Piri Reis lahir pada 1465, di Gallipoli, Turki, yang merupakan wilayah pantai. Ayahnya
bernama Haci Mehmet, sedangkan pamannya merupakan seorang laksamana terkenal
kala itu, Kemal Reis.

Seperti anak-anak pada umumnya yang dipengaruhi lingkungan di mana ia hidup. Sejak
dini ia bergelut dengan pantai dan kebiasaan untuk berlayar. Tak heran ketika umurnya
baru 12 tahun, ia telah bergabung bersama pamannya, Kemal Reis.

Meski masih belia, rupanya ia sarat pengetahuan. Ia tak merasa gamang berlayar bersama
pamannya. Dan masa itu menjadi awal karir baginya untuk mengarungi lautan dan
samudera bersama Kemal Reis. Selama 14 tahun sang paman memberikan bimbingannya.

Sepak terjang Kemal Reis di laut lepas, membuat Kesultanan Ottoman memberinya
kedudukan di Angkatan Laut kesultanan pada 1494. Tambahan tenaganya membuat
angkatan laut Kesultanan Ottoman semakin kuat. Mereka terkenal, dengan perjuangan
tanpa akhir bagi tegaknya Islam.

Bergabungnya, Kemal Reis di angkatan laut kesultanan, membuat Piri pun akhirnya
bergabung pula beberapa saat kemudian. Ia tetap berada di bawah komando sang paman.
Meski ia pun dipercaya memimpin pasukan kecil.

Setiap jeda waktu, Piri seringkali pulang ke kampung halamannya. Di sana ia tak tinggal
diam, namun menuangkan rekaman dari perjalanannya selama ini ke dalam sebuah karya.
Terbukti, pada 1513 ia mampu menghasilkan sebuah peta dunia. Dalam karyanya itu, ia
memetakan Laut Atlantik serta pantai-pantai di Eropa, karyanya diberi tajuk I-Bahriye.

Pada 1516-1517 Piri Reis mendapat mandat untuk memimpin pasukan Ottoman melawan
Mesir. Dalam kesempatan ini Piri berlayar ke Kairo melalui Nil dan kemudian
menggambarkan sebuah peta dan memberikan informasi yang detail tentang wilayah
tersebut.

Setelah Mesir bergabung dengan kesultanan Ottoman, Piri memiliki kesempatan


melakukan hubungan personal dengan pemegang tampuk kekuasaan di sana, Yavuz
Selim. Ia memperlihatkan peta yang telah ia gambar kepada sang sultan. Hasil karyanya
itu juga ditambahkan ke dalam Bahriye.

98
Pertempuran dahsyat ia alami juga bersama pamannya ketika melawan pasukan dari
Venesia pada 1520. Dan pasukan Ottoman saat itu mampu memukul mundur pasukan
musuh. Hal ini merupakan kemenangan yang besar bagi Ottoman.

Kegembiraan yang ia rasakan beberapa saat kemudian berubah menjadi duka. Sang
paman, Kemal Reis, gugur. Untuk menggantikan posisi Kemal Reis, pihak pemerintah
kemudian menunjuk Piri Reis menjadi laksamana Kesultanan Ottoman.

Meski ia telah menjadi laksamana yang begitu padat kegiatannya, ia tetap sempatkan
untuk menuliskan rekaman perjalanannya selama ini. Pada 1528 sampai 1529, Piri
melengkapi peta pertamanya yang tercantum dalam I-Bahriye.

Kali ini, ia berhasil memetakan wilayah Barat Daya Atlantik, sebuah wilayah yang
disebut dunia baru yang terletak dari Venezuela hingga bagian selatan Greenland. Jadi tak
hanya kemenangan di laut yang ia rasakan.

Dengan kenyataan ini, Piri Reis juga telah memberikan kontribusi bagi ilmu
pengetahuan, terutama Geografi dan Nautika atau Ilmu Pelayaran. Ilmu yang mereka
kembangkan tak hanya berguna bagi kalangan Islam, namun berlaku secara universal.

Sang waktu terus merambat. Piri Reis, sang laksamana, telah memberikan sumbangsih
bagi kebesaran Kesultanan Ottoman juga keharuman Islam. Ia telah menorehkan prestasi
besar dengan karyanya I-Bahriye yang menjadi panduan bagi orang-orang setelahnya,
dalam berlayar. Ia mangkat pada 1554.

Ratusan tahun kemudian, pada 1929, sekelompok sejarawan berkeliling di istana Topkapi
di Konstantinopel. Mereka menemukan peta buatan Piri Reis. Bagian peta yang
ditemukan di museum Topkaki pada 1929 itu, ditandatangi oleh Piri Reis dan bertanggal
Muharam 919 atau 9 Maret-7 April 1513.

Para ilmuwan itu terlihat heran karena peta yang ada di tangan mereka merupakan outline
pantai Amerika Utara dan Selatan. Terdapat pula peta Antartika, di mana wilayah tersebut
belum ditemukan hingga 1818.

Arlington T. Mallerey, pakar peta kuno, semula merasa bingung dengan peta karya Piri
Reis. Pasalnya, data geografis pada peta tersebut tak berada dalam posisi yang tepat.

Namun dengan bantuan US Navy Hydrographic Bureau, Mallerey membuat sebuah grid
dan mentransfer peta Piri Reis ke dalam sebuah globe. Betapa terkejutnya ia karena peta
tersebut ternyata sangat akurat.

Studi lanjutan dilakukan oleh Professor Charles H Hapgood dan Richard W Strachan.
Mereka menemukan bahwa gambar karya Piri Reis kemungkinan merupakan gambar
aerial yang diprediksikan dari ketinggian. Sungai, lembah, pegunungan, pulau dan
padang pasir, digambarkan dengan akurasi yang tak lazim.

99
Contohnya, Greenland direpresentasikan sebagai dua pulau yang berbeda. Kejanggalan
ini akhirnya juga pupus setelah ada konfirmasi yang dilakukan ekspedisi kutub yang
dilakukan ilmuwan Prancis. Mereka menyatakan bahwa kala itu terjadi gempa yang
membuat lapisan es merekah dan menghasilkan ruang pemisah.

Pada Januari 1966, di majalah Fate, Profesor Charles H Hapgood menjelaskan penemuan
yang mengagumkan tersebut. Ini merupakan hal yang luar biasa, ia dapat memetakan
tempat di mana seorang pun tak dapat menemukan Antartika hingga 1818.

Hapgood terperangah, betapa lengkapnya peta tersebut dan langsung mengubah


anggapannya selama ini bahwa Muslim tak memiliki ilmu Kartograpi yang baik.
Ilmuwan Jerman, P Kahle, melakukan analisis dan gambaran bahwa Piri merupakan
kartograper yang andal dan hebat. [r
Rabiah Al Adawiyah

"Aku mengabdi kepada Tuhan tidak untuk mendapatkan pahala apa pun. Jangan takut
pada neraka, jangan pula mendambakan surga. Aku akan menjadi abdi yang tidak baik
jika pengabdianku untuk mendapatkan keuntungan materi. Aku berkewajiban mengabdi-
Nya hanya untuk kasih sayang-Nya saja.

Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut kepada neraka, bakarlah aku di
dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku
darinya. Tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan
memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi kepadaku."

Ratusan tahun lalu sufi besar, Rabiah Al Adawiyah, mengungkapkan kalimat bijak yang
kemudian dikenal sebagai konsep 'Mahabbah'-nya itu. Bukan apa-apa, memang. Bagi
Rabiah, ibadah dilakoninya semata kasih sayang Tuhan kepada dirinya. Kasih sayang itu,
kata Rabiah, mutiara paling berharga bagi manusia, jika saja manusia itu mengetahui
rahasia di baliknya.

Dilahirkan di Basrah, Irak, pada tahun 713 M, Rabiah Basri, atau lebih dikenal dengan
nama Rabiah Al Adawiyah, berasal dari keluarga yang hina dina. Kedua orang tuanya
meninggal ketika ia masih kecil. Begitu pula ketiga kakaknya, meninggal ketika wabah
kelaparan melanda kota Basrah. Dalam kesendirian itu, akhirnya Rabiah jatuh ke tangan
orang yang kejam, yang lalu menjualnya sebagai budak belian dengan harga tak seberapa.
Majikan barunya pun tak kalah bengisnya.

Setelah bebas, Rabiah pergi ke tempat-tempat sunyi untuk menjalani hidup dengan
bermeditasi, dan akhirnya sampailah ia di sebuah gubuk dekat Basrah. Di sini ia hidup
bertapa. Sebuah tikar butut, sebuah kendil dari tanah, dan sebuah batu bata, adalah harta
yang ia punyai dan teman dalam menjalani hidup kepertapaan.

Praktis sejak itu, seluruh hidupnya hanya ia abdikan pada Allah SWT. Berdoa dan
berdzikir adalah hiasan hidupnya. Saking sibuknya mengurus 'akhirat', ia lalai dengan
urusan duniawi, termasuk membangun rumah tangga. Meski banyak pinangan datang,

100
termasuk dari gubernur Basrah dan seorang suci-mistis terkenal, Hasan Basri, Rabiah
tetap tak tertarik menyudahi masa lajangnya. Hal ini ia jalani hingga akhir hayatnya, pada
tahun 801 M, dalam usia 88 tahun.

Dalam perjalanan kesufiannya, kesendirian, kesunyian, kesakitan, hingga penderitaan


tampak lumer jadi satu; ritme heroik menuju cinta kepada Sang Ada (The Ultimate
Being).

Tak heran jika ia 'merendahkan manusia' dan mengabdi pada dorongan untuk meraih
kesempurnaan tertinggi. Ia jelajahi ranah mistik, yang jadi wilayah dalam dari agama,
hingga mendapatkan eloknya cinta yang tidak dialami oleh kaum Muslim formal.
Menjadi sufi dalam perjalanan Rabiah adalah ''berlalu dari sekadar Ada menjadi Benar-
benar Ada''. Dan Sufisme Rabiah merupakan pilihan dari jebakan-jebakan ciptaan yang
tak berguna.

Karena cintanya kepada Allah, Rabiah sampai tidak menyisakan sejengkal pun rasa
cintanya untuk manusia. Sufyan Tsauri, seorang sufi yang hidup semasa dengannya,
sempat terheran-heran dengan sikap Rabiah. Pasalnya, Sufyan pernah melihat bagaimana
Rabiah menolak cinta seorang pangeran yang kaya raya demi cintanya kepada Allah. Dia
tidak tergoda dengan kenikmatan duniawi, apalagi harta.

Itu sebabnya, Rabiah dipandang sebagai pelopor model tasawuf mahabbah (cinta mistik),
yaitu penyerahan diri total kepada "Kekasih" (Allah). Hakikat tasawufnya adalah habbul
illah (mencintai tuhan Allah SWT). Bagi Rabiah, mahabbah tak lain sebagai martabat
untuk mencapai tingkat makrifat (ilmu yang dalam untuk mencari dan mencapai
kebenaran dan hakikat) diperolehnya setelah melalui martabat-martabat kesufian, dari
tingkat ibadah dan zuhud (tapa) ke tingkat ridha (rahmat) dan ihsan (kebajikan), sehingga
cintanya betul-betul hanya untuk Allah SWT.

Di mata Rabiah, dorongan mahabbah kepada Allah SWT berasal dari dirinya, juga
lantaran hak Allah untuk dipuja dan dicinta. Puncak pertemuan mahabbah antara hamba
dan cinta kasih Allah-lah yang menjadi akhir keinginannya. Lantaran ini pula, puisi-puisi
mahabbah kepada Allah yang banyak diciptakan sufi-sufi masyhur, seringkali
dinisbahkan kepadanya.

Dengan pengembaraannya yang bagai tak bertepi dalam mengarungi dunia mistik itu,
oleh banyak kalangan pengamal tarekat dan tasawuf Rabiah digolongkan sosok sufi yang
fenomenal. Letak fenomenal seorang Rabiah, selain pada keyakinannya bahwa segala
cinta hanya milik Allah, juga lantaran kerendah-hatian dirinya.

Soal kasih sayang Allah tadi misalnya, membuat dirinya tidak membenci setan. "Tidak!
Kasih sayang Tuhan tidak mengenal kebencian terhadap setan," jawab Rabiah ketika
suatu kali ia ditanya apakah dirinya benci kepada setan.

Bukti cinta Rabiah yang begitu besar melampaui batas-batas segalanya, di antaranya
terlihat dalam syairnya yang masyhur berikut :

101
"Aku mencintai-Mu dengan dua cinta; cinta karena diriku, dan cinta karena diri-Mu.
Cinta karena diriku adalah keadaanku yang senantiasa mengingat-Mu.

Cinta karena diri-Mu adalah keadaan-Mu yang mengungkapkan tabir, sehingga Engkau
kulihat. Baik untuk ini, maupun untuk itu, pujianku bukanlah bagiku; bagi-Mu lah pujian
untuk semuanya. Buah hatiku, hanya Engkaulah yang kukasihi; beri ampunlah pembuat
dosa yang datang ke hadirat-Mu. Engkaulah harapanku, kebahagiaanku, dan
kesenanganku; hatiku enggan mencintai selain Engkau."

Suatu hari, Sufyan Tsauri datang kepada Rabiah. Di depan dirinya, Sufyan mengangkat
kedua tangannya, dan berdoa, "Tuhan Yang Mahakuasa, saya memohon harta duniawi
dari-Mu." Mendengar doa itu, Rabiah kontak menangis. Ditanya mengapa dirinya
menangis, Rabiah menjawab, "Harta yang sesungguhnya itu hanya didapat setelah
menanggalkan segala yang bersifat duniawi ini, dan aku melihat Anda hanya mencarinya
di dunia saja."

Sementara itu, di saat lain, terbetik kabar seseorang mengirim uang 40 dinar kepada
Rabiah. Ia menangis dan menengadahkan tangannya ke atas, "Engkau tahu, Ya Allah, aku
tak pernah meminta harta dunia dari-Mu, sekalipun Kau-lah pencipta dunia ini. Lantas
bagaimana aku menerima uang dari seseorang, sedangkan uang itu sesungguhnya bukan
kepunyaannya?"

Tak hanya bagaimana kerendahan dan ketakberdayaan seorang hamba ia tunjukkan di


hadapan Tuhannya, Rabiah juga senantiasa mengajarkan sifat dan sikap kerendah-hatian
dan tawadhu kepada murid-muridnya.

Ia juga melarang para muridnya itu menunjukkan perbuatan baik mereka kepada siapa
pun. Bahkan, Rabiah meminta murid-muridnya itu untuk menyembunyikan perbuatan
baik mereka, sebagaimana menutupi-nutupi perbuatan jahat mereka.

Bagi Rabiah, segala penyakit dilihatnya sebagai cobaan yang datang dari Allah. Terhadap
masalah ini, Rabiah selalu memikul setiap cobaan yang datang itu dengan penuh tabah
dan kesabaran. Rasa sakit yang dahsyat sekalipun, tidak pernah mengganggunya dari
perhatian dan pengabdiannya kepada Tuhannya. Bahkan, sering ia tidak menyadari ada
bagian tubuhnya terluka sampai ia diberitahu orang lain.

Suatu saat misalnya, kepalanya terbentur batang pohon hingga berdarah. Seseorang yang
melihat darah bercucuran itu, dengan hati-hati bertanya, "Apakah Anda tidak merasa
sakit?"
"Aku dengan segala ragaku mengabdi kepada Allah SWT. Aku berhubungan erat dengan-
Nya, aku disibukkan-Nya dengan hal-hal lain daripada hal-hal yang pada umumnya
kalian rasakan," jawab Rabiah.

Sekalipun penuh liku, banyak kalangan mengakui kehidupan Rabiah tak sedikit
menyisakan keajaiban, yakni keajaiban milik orang-orang suci. Rabiah misalnya,

102
mendapatkan makanan dari tamu-tamunya dengan cara yang aneh-aneh. Disebutkan,
ketika Rabiah menghadapi maut, ia minta kepada teman-temannya untuk
meninggalkannya.

Rabiah lalu menyilakan para utusan Tuhan lewat. Ketika teman-teman Rabiah keluar itu,
mereka mendengar Rabiah mengucapkan syahadat, lantas terdengar suara menjawab,
"Sukma, tenanglah, kembalilah kepada Tuhanmu, legakan hatimu pada-Nya. Ini akan
memberikan kepuasan kepada-Nya."

Dalam batas yang ada, Rabiah adalah 'hidup' dan senantiasa akan terus 'hidup' melalui
pekerti ilmunya.
Sayyid Quthb

Tidak lama setelah penembakan terhadap Hasan Al-Bana, terjadilah penangkapan besar-
besaran terhadap anggota Ihwanul Muslimin oleh regim Nasser, yang beliau waktu itu
menjawat tugas Perdana Menteri dan Ketua Dewan Revolusi Mesir. Anggota Ikhwanul
Muslimin yang ditangkap ketika itu sebanyak 10,000 (sepuluh ribu) anggota dan
seluruhnya dimasukkan ke dalam penjara, termasuk mereka yang berjasa dalam perang
melawan Inggeris di Suez. Baru 20 hari sejak penangkapan besar-besaran itu, terdapat
1,000 orang tahanan anggota Ikhwanul Muslimin yang mati akibat seksaan dan
penganiayaan. Dan 6 (enam) orang yang dijatuhi hukuman mati.

Di antara anggota-anggota Ikhwanul Muslimin yang ditahan dalam penjara itu adalah
Hakim Dr. Abdul Qadir Audah, Muhammad Faraghali, dan Sayyid Quthub. Para tahanan
itu tidak sedikit yang dijatuhi hukuman penjara antara 15 tahun sampai seumur hidup,
dan juga hukuman mati, dan kerja paksa memotong dan memecah batu-batu di gunung-
ganang. Mereka yang membangkang mogok tidak mahu kerja paksa kemudian ditembak.
Pernah kejadian yang mogok itu ditembak sekaligus 22 orang dalam penjara mereka.
Kejadian itu pada tahun 1977.

Adapun Sayyid Quthub, beliau pernah dihebohkan oleh pihak lnggris, barangsiapa yang
dapat menangkapnya akan mendapat hadiah 2000 Pound Sterling.

Sayyid Quthub ini lahir pada tahun 1903 di Musha, sebuah kota kecil di Asyut, Mesir.
Beliau telah hafal Al-Quran 30 Juz sejak masih anak-anak, meraih gelaran sarjana dalam
tahun 1933 dari Universitas Cairo, kemudian bekerja pada Kementerian Pendidikan.
Kementerian Pendidikan kemudiannya mengirim beliau untuk belajar di Amerika
Syarikat selama dua tahun.

Sepulang dari Amerika Syarikat beliau ke Inggris, Swiss, dan Itali. Sepulangnya dari luar
negeri beliau kemudian menyatakan keyakinannya bahawa Mesir harus membebaskan
diri dari kebudayaan asing yang negatif dan merusak keperibadian Islam serta ketimuran
itu.

Beliau adalah seorang penyair dan sasterawan yang hasil karyanya diperhatikan orang.
Pada tahun 1946 beliau menulis buku berjudul “Al-’Adalatul Ijtima’iyah Fil Islam”

103
(Keadilan Sosial Di Dalam Islam). Buku ini amat popular dan cemerlang sehingga
menjadikan beliau termasyhur. Apalagi setelah buku ini diterjemahkan ke dalam berbagai
bahasa, beliau benar-benar seorang tokoh yang berwawasan. Terutama buku ini sebagai
jawapan dari sikap Nasser yang mengumandangkan Sosialisme Arab itu.

Sebenarnya Sayyid Quthub ditahan jauh sebelum peristiwa “Sandiwara Penentangan”


terhadap Nasser pada tanggal 26 Oktober 1954, yaitu dua hari setelah Ikhwanul Muslimin
dilarang oleh Nasser. Adapun kesalahan beliau yang paling banyak ialah kerana beliau
mengarang dan menulis beberapa buku yang bersifat semangat Islam. Selain “Keadilan
Sosial Dalam Islam,” juga buku “Mu’alimut Thar” (Tonggak-tonggak Jalan) yang isinya
menolak kebudayaan jahiliyah moden dalam segala bentuk dan praktiknya.

Kekejaman terhadap para tahanan dan terhadap beliau dari penguasa mesir tak terkira.
Melebihi Nazi Jerman. Hal ini telah diungkapkan oleh para bekas tahanan yang kemudian
selamat kembali kepada keluarga mereka. Mereka banyak berkisah tentang kekejaman
penguasa zaman Raja Farouk mahupun oleh Pemerintah Nasser. Ramai para bekas
tahanan itu yang bercerita sambil bercucuran air mata bila teringat kawan-kawannya yang
mati diseksa dan dibantai di hadapan mata kepala mereka sendiri. Hukuman cambuk,
cucian otak dengan alat-alat elektronik sehingga para korban menjadi hilang akal, dan
sebagainya. Bermacam-macam tuduhan yang dilontarkan. Tuduhan palsu, fitnah yang
dibuat-buat, yang kesemuanya itu tidak ada kesempatan bagi para anggota Ikhwan untuk
membela diri. Mereka tetap mengatakan Ikhwanul Muslimin salah, mengkhianati negara
dan bangsa, dan sebagainya serta tuduhan-tuduhan yang tidak masuk akal.

Adik Sayyid Quthub yang bernama Muhammad Quthub meninggal dalam penjara. Dan
Sayyid Quthub sendiri dibebaskan oleh penguasa pada tahun 1964 atas usaha Presiden
lrak, Abdus Salam Aref almarhum. Selepas dari tahanan ini keluarlah buku beliau
berjudul “Tonggak-tonggak Islam,” sehingga pada bulan Ogos 1965 beliau ditangkap dan
ditahan lagi bersama 46.000 (empat puluh enam ribu) anggota Ikhwanul Muslimin.

Dalam pengadilan beliau berkata, “Aku tahu bahawa kali ini yang dikehendaki oleh
pemerintah (Nasser) adalah kepalaku. Sama sekali aku tidak menyesali kematianku,
sebaliknya aku berbahagia kerana mati demi cinta. Tinggal sejarah yang memutuskan,
siapakah yang benar, Ikhwan ataukah regim ini.

Ketika beliau di mahkamah pada tahun 1954 juga berkata: “Apabila tuan-tuan
menghendaki kepada saya, inilah aku dengan kepalaku di atas tapak tanganku sendiri!”

Pada bulan Agustus 1966 Mahkamah Tentera menjatuhkan hukuman gantung kepada
tokoh Ikhwanul Muslimin termasuk beliau. Dengan sebuah senyum pada hari Isnin, di
waktu fajar menyingsing tanggal 29 Agustus 1966, beliau meninggal dunia di tiang
gantung sebagai jalan untuk menemui Allah!

Demikianlah hukum yang terjadi di dunia ini, yang benar belum tentu menang dan yang
salah belum tentu kalah. Namun pada umumnya yang berkuasa itulah yang dibenar-
benarkan, kerana pihak yang tidak mendapat kesempatan untuk berbicara kerana bukan

104
penguasa, walau tidak kuasa berkata bahawa dirinya benar. Dan Nasser merasa dirinya di
pihak yang benar sehingga Ikhwanul Muslimin dianggap sebagai pengkhianat bangsa dan
negara. Padahal setiap Mesir ditimpa bahaya, penguasa selalu minta tolong kepada para
anggota Ikhwanul Muslimin untuk tampil ke depan membela tanah air, tetapi setelah
keadaan aman, Ikhwanul Muslimin dijauhkan dari kebenaran, diketepikan, dianggap
sebagai organisasi yang najis dan ekstrim.

Demikianlah nasib para pejuang dalam membela kebenaran, bahawa risiko yang
dihadapinya tidak sedikit dan bahkan sering membawa korban, diseksa, dianiaya dan
demikian itulah cara Allah untuk mengetahui keimanan dan ketakwaan seseorang.
Dengan demikian, jelaslah bahawa siapa saja yang tidak mahu berjuang untuk membela
kebenaran adalah orang yang lemah mentalnya, dan akan mendapat seksa di akhirat nanti.
[daaru
Shalahuddin Yussuf Al-Ayubi

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pertama kali diselenggarakan oleh Muzaffar
ibn Baktati, raja Mesir yang terkenal arif dan bijaksana. Sedangkan pencetus ide
peringatan adalah panglima perangnya, Shalahuddin Yussuf Al-Ayubi (abad ke-6 M),
sosok pemimpin pasukan Islam yang pernah mengalahkan pasukan Kristen dalam Perang
Salib.

Shalahuddin juga merupakan panglima Islam di masa Khalifah Muiz Liddinillah dari
dinasti Bani Fathimiyah di Mesir (berkuasa 365 H/975 M). Seperti disebutkan dalam
Ensiklopedia Islam untuk Pelajar, ia kemudian juga gigih menyelenggarakan peringatan
Maulid Nabi dari tahun ke tahun di masanya.

Mengapa Shalahuddin merasa perlu mengadakan peringatan Maulid? Sang panglima


berpendapat, ketika Perang Salib terjadi, motivasi umat Islam sangat menurun, sementara
motivasi pasukan Salib (Kristen) meningkat. Hal ini tentu tidak kondusif bagi pasukan
Islam, sehingga Shalahuddin merasa perlu membangkitkan kembali semangat umat Islam
sebagaimana umat Kristen dengan perayaan Natal-nya. Maka, sang panglima ini
kemudian mengadakan peringatan hari lahir Muhammad SAW yang kemudian dikenal
dengan sebutan Maulid Nabi.

Bila dalam peringatan Natal kaum Kristen dikisahkan tentang keagungan Yesus, maka
dalam peringatan Maulid, Shalahuddin menggemakan kisah perang yang dilakukan Nabi
SAW. Tapi belakangan, yang dibacakan pada acara peringatan Maulid tersebut berubah,
bukan lagi kisah perang, melainkan kisah lahir dan hidup sang Nabi SAW. Kisah perang
tampaknya dianggap tak lagi relevan lagi.

Kini, meskipun tak ada lagi perang fisik di kalangan umat Islam, peringatan Maulid Nabi
tampaknya masih perlu dilakukan. Selain dimaksudkan untuk meneladani akhlak
Muhammad SAW, peringatan Maulid juga diperuntukkan untuk perang yang lebih besar,
yakni perang melawan hawa nafsu, kemungkaran, dan kemaksiatan. Krisis
berkepanjangan bangsa Indonesia saat ini, antara lain disebabkan merajalelanya

105
kemaksiatan, kemungkaran dan tidak adanya penegakan nilai-nilai moral. Hawa nafsu
lebih mendominasi kehidupan umat manusia saat ini ketimbang moral.

Perang dalam bentuk non-fisik inilah yang dinilai lebih berat dari perang fisik. Apalagi di
tengah perkembangan globalisasi saat ini, yang tak jarang memperlemah semangat
keimanan umat Islam, maka peringatan Maulid Nabi SAW menjadi sangat penting.
[republika.co.id]

Sir Sayid Ahmad Khan

Dia menerima penghargaan dan gelar dari pemerintah Inggris, tapi ia mengembalikan
semua hadiah yang diberikan mereka padanya. Sir Sayid Ahmad Khan dikenal sebagai
seorang tokoh pembaharu di kalangan umat Islam India pada abad ke-19. Dia dilahirkan
di India pada tahun 1817. Nenek moyangnya berasal dari Semenanjung Arab yang
kemudian hijrah ke Herat, Persia (Iran), karena tekanan politik pada zaman dinasti Bani
Umayyah.

Dari Herat mereka hijrah ke Hindustan (India) dan menetap di sana. Ayahnya bernama al-
Muttaqi, seorang ulama yang saleh. Ahmad Khan memiliki pertalian darah dengan Nabi
Muhammad SAW melalui cucu beliau dari keturunan Fatimah az-Zahra dan Ali bin Abi
Talib. Karena itulah dia bergelar sayid. lbunya seorang wanita cerdas dan pandai
mendidik anak-anaknya. Ahmad Khan memulai pendidikannya dalam pengetahuan
agama secara tradisional.

Di samping itu beliau juga mempelajari bahasa Persia dan bahasa Arab, matematika,
mekanika, sejarah, dan berbagai ilmu pengetahuan lainnya. Beliau pun banyak membaca
buku-buku ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang ilmu. Hal ini menjadikannya
sebagai seorang yang luas ilmu pengetahuannya, berpikiran maju, dan dapat menerima
ilmu pengetahuan modern. Sejak sang ayah meninggal tahun 1838, Ahmad Khan mulai
bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, karena ibunya enggan menerima
tunjangan pensiun dari istana.

la bekerja pada Serikat India Timur, kemudian ia pindah bekerja sebagai hakim di
Fatehpur (1841). Selanjutnya ia dipindahkan ke Bignaur. Dan pada tahun 1846 ia kembali
lagi ke Delhi. Masa delapan tahun di Delhi merupakan masa yang paling berharga dalam
hidupnya karena ia dapat melanjutkan pelajarannya. Ketika terjadi pemberontakan umat
Hindu dan umat Islam terhadap penguasa Inggris pada tanggal 10 Mei 1857, Ahmad
Khan berada di Bignaur sebagai salah seorang pegawai peradilan.

Dalam peristiwa ini ia tidak ikut memberontak, bahkan banyak membantu melepaskan
orang-orang Inggris yang teraniaya di Bignaur. Atas jasa-jasanya, pemerintah Inggris
menganugerahkan gelar Sir dan memberikan berbagai hadiah kepadanya. Ahmad Khan
menerima gelar tersebut, tetapi ia menolak hadiah-hadiah itu, kecuali kesempatan untuk
berkunjung ke Inggris pada tahun 1869. Kesempatan tersebut dimanfaatkan olehnya

106
untuk meneliti lebih jauh sistem pendidikan serta menyaksikan perkembangan dan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Inggris.

Ahmad Khan pun menjelaskan kepada pemerintah Inggris bahwa dalam pemberontakan
di tahun 1857, umat Islam tidaklah memainkan peran utama. Hal itu dijelaskan lewat
buku yang berisikan catatan kronologis pemberotakan tersebut (Tarikhi Sarkhasi Bijnaur,
1858). Buku lainnya, berjudul Asbab Baghawat-i Hind (1858) yang diterjemahkan dalam
bahasa Inggris, The Causes of the Indian Revolt (Sebab-sebab Revolusi India), juga
menceritakan hal yang sama. Ahmad Khan berhasil mendamaikan umat Islam dengan
pemerintah Inggris.

Dia pun berusaha keras untuk memajukan umat Islam India dan kembali menulis
beberapa buku yang menyiratkan bahwa umat Islam hendaknya bekerja sama dengan
pemerintah Inggris untuk mencapai kesejahteraan, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Bukunya antara lain Risalah tentang Orang-orang Saleh (Risalat Khair Khawahan
Musulman) dan Hukum Memakan Makanan Ahli Kitab (Ahkam Ta'am Ahl al-Kitab).
Setelah berhasil mendamaikan umat Islam dan pemerintah Inggris, Ahmad Khan mulai
memunculkan ide-idenya dalam rangka memajukan umat Islam.

Menurut Ahmad Khan, umat Islam terbelakang, bodoh, dan miskin, karena mereka tidak
memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi modern sebagaimana yang dimiliki oleh negara
Eropa lainnya. la berpendapat bahwa ilmu pengetahuan modern dan teknologi adalah
hasil pendayagunaan akal yang maksimal. Sejalan dengan itu, Al-Qur'an sangat
mendorong umat Islam untuk mempergunakan akal dalam bidang-bidang yang sangat
luas, walaupun jangkauan akal tersebut terbatas. Sir Ahmad Khan kemudian mendirikan
lembaga pendidikan pertama yaitu Sekolah Inggris di Mudarabad pada tahun 1861.

Untuk menunjang lembaga pendidikan tersebut, Sir Ahmad Khan pada tahun 1864
mendirikan The Scientific Society (Translation Society) sebagai lembaga penerjemahan
ilmu pengetahuan modern ke dalam bahasa Urdu. la juga membentuk Panitia Peningkatan
Pendidikan Umat Islam dan Panitia Dana Pembentukan Perguruan Tinggi Islam. Pada
setiap kesempatan, Sir Ahmad Khan selalu mengemukakan pendapatnya bahwa satu-
satunya cara untuk mengubah pola berpikir umat Islam India dari keterbelakangannya
adalah melalui pendidikan.

Beliau pun mencurahkan segala perhatiannya pada bidang ini hingga akhir hayatnya.
Aligarh Muslim University yang berdiri tahun 1920 (sekarang masih eksis) adalah wujud
karya nyata sang ulama. Menerobos pakem di negaranya, sistem sekolah ini mengadopsi
konsep pendidikan modern bagi generasi muda. Kiprah perguruan tinggi inilah yang
membuatnya dijuluki sebagai bapak pendidikan modern India. Sejumlah tokoh penting
pernah mempunyai sangkutan sejarah dengan perguruan tinggi ini.

Sebut misalnya tokoh pergerakan nomor satu India, Mahatma Gandhi dan Ishwari Prasad.
Mantan presiden India, Zakir Hussain dan presiden Maldives, Abdul Ghayoom juga
pernah tercatat sebagai siswa perguruan tinggi ini. Perguruan tinggi ini memiliki 12

107
fakultas yang semuanya diunggulkan, yaitu seni budaya, ilmu sosial, sains, Life Sciences,
bisnis, teknik dan teknologi, kedokteran, pengobatan tradisional, hukum, pertanian,
manajemen, dan teologi. Saat ini, mahasiswa di Aligarh datang dari seluruh dunia,
terutama Asia Barat, Asia Tenggara, dan Afrika. Para mahasiswa ini tinggal dalam
asrama.

Sunan Gunung Jati

Bangsa Portugis merebut Malaka pada tahun 1511 M yang kemudian diikuti dengan
penaklukan daerah Pasai (Aceh). Pendudukan Portugis terhadap Pasai (Aceh) rupanya
menimbulkan dendam membara di dada seorang pemuda bernama Falatehan. Perasaan
benci kepada penjajah berkobar dan dia bertekad untuk terus memerangi kaum imperialis
yang telah berlaku sewenang-wenang terhadap wilayah dan agamanya.

Falatehan kemudian menyingkir dari tanah kelahirannya itu dan pergi ke Tanah Suci
Makkah. Di sana Falatehan menuntut ilmu dan memperdalam pengetahuannya tentang
agama Islam.

Tiga tahun lamanya beliau menetap dan merantau ke tanah Arab dengan harapan
sekembalinya ke tanah air, orang-orang Portugis sudah pergi meninggalkan bumi Tanah
Pasai. Akan tetapi pada kenyataannya orang-orang Portugis itu masih berada di sana
menguasai sebagian besar wilayah Pasai. Falatehan pun bertambah sedih dan marah
hatinya.

Melihat kondisi tersebut, untuk kedua kalinya Falatehan terpaksa meninggalkan tanah
kelahirannya dan menuju tanah Jawa. Kedatangan Falatehan mendapat sambutan baik
dari pihak Kerajaan Islam Demak yang pada masa itu diperintah oleh Raden Trennggono
(1521-1546 M).

Ketika itu Kerajaan Demak tengah mengalami masa keemasannya. Daerah kekuasannya
bertambah luas dan memiliki armada laut yang kuat. Pada zaman Pati Unus (1518-1521),
Demak pernah menyerang Portugis di Malaka, namun tidak berhasil.

Pada masa Trenggono pula, beberapa daerah di Jawa Barat dapat di-Islam-kan dan
langsung berada di bawah kekuasaan kerajaan Demak. Salah satu orang yang berjasa
dalam segala pencapaian tersebut adalah Falatehan. Karenanya kedatangan Faletehan
dianggap sebagai satu aset paling penting dan besar artinya bagi upaya penyebaran serta
pengembangan agama Islam selanjutnya di Pulau Jawa.

Terkesan dengan kiprah Falatehan, maka berpikir keraslah Raden Trenggono untuk
berusaha memikat hati pemuda ini agar merasa senang dan tetap tinggal di Jawa.
Falatehan pun dia nikahkan dengan adik perempuannya. Setelah itu bertambah eratlah
hubungan persahabatan keduanya, penuh kekeluargaan.

Saat itu sebagian besar penduduk Jawa Barat masih belum mengenal Islam. Wilayah
tersebut termasuk dalam kekuasaan pengaruh orang Hindu, Banten, dan Kerajaan

108
Pajajaran. Karenanya atas izin Raden Trenggono, akhirnya dikirimlah suatu ekspedisi
menuju Banten di bawah pimpinan Falatehan yang bertujuan menyiarkan agama Islam di
sana.

Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan dengan sukarela penguasaan wilayah


Banten yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten. Kegigihan dan kerja
keras anggota ekspedisi itu berbuah hasil. Beberapa lama kemudian, sebagian besar
wilayah Sunda Kelapa juga dapat dikuasai Falatehan. Kontrol penuh diberlakukan pada
dua wilayah tersebut. Sehingga ketika bangsa Portugis berlabuh di Sunda Kelapa, mereka
langsung diusir oleh Falatehan.

Tahun 1527, Fransisco De Sa berhasil dipukul mundul oleh Falatehan, dengan menderita
kerugian cukup besar. Ini memaksa orang-orang Portugis kembali ke Malaka. Satu tahun
kemudian, wilayah Cirebon jatuh ke tangan Falatehan. Dengan demikian Banten, Sunda
Kelapa, dan Cirebon berada di bawah kekuasanaan Falatehan secara penuh.

Falatehan yang selanjutnya dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati, merintis jalur
perhubungan di pantai utara Jawa Barat, dan sepanjang pesisir utara sejak dari Banten-
Sunda Kelapa, Cirebon, Demak, Jepara, Kudus, Tuban, dan juga Gresik berada di bawah
kekuasaan Islam.

Sejak itu Sunan Gunung Jati tidak lagi tinggal di Demak, melainkan menetap di Cirebon
hingga akhir hayatnya. Meski beliau berhasil meng-Islam-kan beberapa daerah di Jawa
Barat, namun kekuasaan tertinggi tetap berada di tangan Demak. Sesudah Trenggono
wafat, barulah Sunan Gunung Jati memisahkan diri dari ikatan Kerajaan Demak.

Sunan Gunung Jati, Falatehan atau Fatahillah, menurut beberapa ahli sejarah, berasal dari
Pasai, sebelah utara Aceh. Namun ada juga yang mengatakan, beliau mempunyai darah
keturunan Persia. Beberapa yang lain menyatakan bahwa Sunan Gunung Jati adalah putra
dari Raja Makkah (Arab) yang menikah dengan putri kerajaan Pajajaran (Sunda).

Ada yang memperkirakan Sunan Gunung Jati lahir tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai
Rara Santang, putri dari raja Pajajaran, Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah
Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari
Palestina.

Di samping itu, Sunan Gunung jati mempunyai banyak nama, di antaranya Muhammad
Nurudin, Syekh Nurullah, Sayyid Kamil, Bulqiyah, Syekh Madzkurullah, Syarif
Hidayatullah, Makdum Jati. Sedang menurut babad-babad (cerita), nama asli Sunan
Gunung Jati sangatlah panjang, yaitu Syekh Nuruddin Ibrahim Ibnu Israil, Syarif
Hidayatullah, Said Kamil, Maulana Syekh Makdum Rahmatullah.

Mengenai nama Sunan Gunung Jati, menurut dugaan Prof Hoesin Djajadiningrat, yang
dimaksudkan dengan Falatehan, kemungkinan berasal dari bahasa Arab Fatkhan, dari
kata Fath. Hal ini mengingat bahwa dalam tahun 1919 ada seorang naib dari kawedanan
Singen Lor, di Semarang yang bernama Haji Mohammad Fathkan. Menurut penyelidikan

109
Dr BJO Schrieke, salah seorang orientalis Barat yang terkenal, mengatakan bahwa nama
Falatehan itu mungkin berasal dari perkataan Arab: Fatahillah.

Banyak kisah yang kadang tak masuk akal dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Di
antaranya bahwa beliau pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra' Mi'raj, lalu
bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaiman.
(Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii).

Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak usia 14 tahun. Pendidikan agama
didapatnya dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul
berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga
dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.

Tercatat Sunan Gunung Jati merupakan satu-satunya wali songo yang pernah memimpin
pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra raja untuk
menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.

Beliau menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas dalam menyampaikan


dakwahnya. Kendati demikian, ia juga mendekati rakyat dengan cara membangun
infrastruktur berupa jalan yang menghubungkan antar wilayah.

Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk menekuni dakwah.
Kekuasaan dilimpahkan kepada Pangeran Pasarean.

Berdasarkan catatan sejarah, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon
(dulu Carbon) tahun 1589. Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati,
sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon arah barat. [republik
Syaikh Baha'uddin Naqsyabandi

Syaikh Naqsyabandi, Imam dari Thariqat Naqsyabandi yang tiada tandingannya. Beliau
lahir pada tahun 1317 M, di desa Qasr al-'Arifan, di dekat Bukhara. Setelah beliau
menguasai ilmu syari'ah pada usia muda 18 tahun, beliau tetap menemani Syaikh
Muhammad Baba as-Samasi, yang merupakan seorang ahli hadits di Asia Tengah.
Sepeninggal Syaikh-nya, beliau mengikuti Syaikh Amir Kulal, yang melanjutkan dan
menyempurnakan pelatihannya baik dalam ilmu zhahir maupun bathin.

Murid-murid Syaikh Amir Kulal biasanya melakukan dzikr zahar (dengan suara keras)
ketika duduk bersama, dan dzikir khafi (dalam hati) bilamana sedang sendirian. Walau
tak pernah mengkritik ataupun keberatan, namun Syaikh Naqsyabandi lebih menyukai
dzikir khafi. Mengenai hal ini, beliau berkata, "Terdapat dua cara berdzikir; satu khafi
dan lainnya zahar. Saya memilih yang khafi karena dia lebih kuat dan oleh karenanya
lebih disukai." Kemudian dzikir khafi inilah yang menjadi ciri pembeda Naqsybandiyya
di antara thariqat-thariqat lainnya.

Syaikh Naqsyabandi melaksanakan ibadah Haji tiga kali, di mana setelah itu, beliau
tinggal di Merv dan Bukhara. Menjelang akhir hayatnya, beliau kembali ke kampung

110
halamannya, Qasr al-'Arifan. Pengajarannya dikutip di mana-mana dan namanya disebut
oleh siapa saja. Pengunjung berdatangan dari berbagai penjuru untuk meminta
nasihatnya. Mereka menerima pengajaran di sekolah dan masjidnya, suatu kompleks
yang dapat menampung lebih dari lima ribu orang.

Sekolah ini merupakan pusat studi Islam yang terbesar di Asia Tengah dan masih ada
hingga saat ini. Baru-baru ini bangunan tersebut direnovasi dan dibuka kembali setelah
bertahan selama tujuh puluh tahun dalam masa pemerintahan komunis. Pengajaran
Syaihh Naqsyabandi mengubah hati para muridnya dari kegelapan hingga menemukan
cahaya. Beliau terus mengajarkan ilmu tentang Ke-Esaan Allah yang telah dikhususkan
oleh para pendahulunya, dengan penekanan pada ihsan bagi para pengikutnya sesuai
hadits Rasulullah, "Ihsan adalah beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-
Nya."

Ketika Syaikh Naqsybandi wafat, beliau dimakamkan di kebunnya, sebagaimana


permintaannya. Raja-raja penerus Bukhara merawat madrasah dan masjidnya. Mereka
memperluas dan menambahkan waqafnya. Syaikh-Syaikh penerus Thariqat Naqsyabandi
menuliskan banyak biografi tentang Syaikh Naqsyabandi. Salah satunya adalah Mas'ud
al-Bukhari dan Syarif al-Jarjani, yang menyusun Awrad Baha'uddin yang menceritakan
tentang kehidupan beliau dan karya-karyanya termasuk fatwanya.

Syaikh Muhammad Parsa, yang wafat di Madinah pada tahun 822 H (1419 M) menulis
Risalah Qudsiyyah yang di dalamnya terdapat tulisan tentang kehidupan Syaikh
Naqsyabandi, kehebatan-kehebatannya, serta pengajaran-pengajarannya. Tulisan-tulisan
warisan Syaikh Naqsyabandi mencakup beberapa buku. Di antaranya adalah Awrad an-
Naqsybandiyyah, wiridan Syaikh Naqsyabandi. Buku lainnya adalah Tanbih al-Ghafilin.
Buku ketiga adalah Maslakul Anwar. Yang keempat adalah Hidayyatu-s-Salikan wa
Tuhfat at-Talibin.

Beliau meninggalkan banyak pernyataan hormat memuji Rasulullah dan beliau pun
menulis banyak aturan. Salah satu pendapatnya adalah bahwa semua jenis dan praktek
peribadatan yang berbeda, baik yang wajib maupun sunnat, diperbolehkan bagi para
muridnya dalam rangka mencapai kebenaran. Shalat, puasa, zakat, mujahadah (berusaha
keras) dan zuhud (penyangkalan diri) ditekankan sebagai jalan menuju Allah Yang Maha
Kuasa.

Syaikh Naqsyabandi membangun sekolahnya atas dasar pembaharuan pengajaran agama


Islam. Beliau menggarisbawahi pentingnya mengamalkan al-Qur'an dan pengajaran
Sunnah. Ketika mereka bertanya kepada beliau, "Apa persyaratan bagi yang ingin
mengikuti thariqatmu?" Beliau menjawab, "Mengikuti Sunnah Rasulullah." Beliau lalu
melanjutkan, "Thariqat kami adalah sesuatu yang langka. Yang menjaga 'Urwat ul-
Wutsqa, ikatan yang tak terputuskan, dan tak meminta apapun dari pengikutnya
melainkan untuk selalu memegang teguh Sunnah yang murni dari Rasulullah SAW dan
mengikuti jalan para Sahabat dalam ijtihad (usaha untuk Allah) mereka.

111
Sekolah Naqsyabandi merupakan jalan termudah dan paling sederhana bagi para murid
untuk memahami tauhid. Dia mengharuskan pengikutnya untuk mencari peribadatan
yang sempurna kepada Allah baik secara umum maupun pribadi dengan jalan
melaksanakan adab Sunnah Rasulullah secara sempurna. Juga mendorong orang agar
menjalankan jenis ibadah yang paling ketat ('azhima) dan untuk mengabaikan keringanan
(rukhsah). Juga terbebas dari bias dan bid'ah.

Dia tak menuntut pemeluknya untuk terus-menerus berada dalam keadaan lapar dan
terjaga. Begitulah Naqsyabandiyyah telah mengatur agar tetap terpelihara dari pengaruh-
pengaruh orang yang kurang faham dan orang yang pura-pura mengetahui banyak hal
(musya'wazan). Ringkasnya, bisa dikatakan bahwa thariqat Naqsybandiyyah adalah ibu
dari semua thariqat dan penunjuk bagi seluruh kepercayaan spiritual. Inilah jalan yang
paling aman, paling bijak, serta paling jelas. Inilah maqam pelepas dahaga termurni,
saripati yang tersuling. Naqsybandiyyah tak ada hubungannya dengan serangan apapun
karena menjalankan Sunnah Rasulullah tercinta." (imma)
Syaikh Baha'uddin Naqsyabandi

Syaikh Naqsyabandi, Imam dari Thariqat Naqsyabandi yang tiada tandingannya. Beliau
lahir pada tahun 1317 M, di desa Qasr al-'Arifan, di dekat Bukhara. Setelah beliau
menguasai ilmu syari'ah pada usia muda 18 tahun, beliau tetap menemani Syaikh
Muhammad Baba as-Samasi, yang merupakan seorang ahli hadits di Asia Tengah.
Sepeninggal Syaikh-nya, beliau mengikuti Syaikh Amir Kulal, yang melanjutkan dan
menyempurnakan pelatihannya baik dalam ilmu zhahir maupun bathin.

Murid-murid Syaikh Amir Kulal biasanya melakukan dzikr zahar (dengan suara keras)
ketika duduk bersama, dan dzikir khafi (dalam hati) bilamana sedang sendirian. Walau
tak pernah mengkritik ataupun keberatan, namun Syaikh Naqsyabandi lebih menyukai
dzikir khafi. Mengenai hal ini, beliau berkata, "Terdapat dua cara berdzikir; satu khafi
dan lainnya zahar. Saya memilih yang khafi karena dia lebih kuat dan oleh karenanya
lebih disukai." Kemudian dzikir khafi inilah yang menjadi ciri pembeda Naqsybandiyya
di antara thariqat-thariqat lainnya.

Syaikh Naqsyabandi melaksanakan ibadah Haji tiga kali, di mana setelah itu, beliau
tinggal di Merv dan Bukhara. Menjelang akhir hayatnya, beliau kembali ke kampung
halamannya, Qasr al-'Arifan. Pengajarannya dikutip di mana-mana dan namanya disebut
oleh siapa saja. Pengunjung berdatangan dari berbagai penjuru untuk meminta
nasihatnya. Mereka menerima pengajaran di sekolah dan masjidnya, suatu kompleks
yang dapat menampung lebih dari lima ribu orang.

Sekolah ini merupakan pusat studi Islam yang terbesar di Asia Tengah dan masih ada
hingga saat ini. Baru-baru ini bangunan tersebut direnovasi dan dibuka kembali setelah
bertahan selama tujuh puluh tahun dalam masa pemerintahan komunis. Pengajaran
Syaihh Naqsyabandi mengubah hati para muridnya dari kegelapan hingga menemukan
cahaya. Beliau terus mengajarkan ilmu tentang Ke-Esaan Allah yang telah dikhususkan
oleh para pendahulunya, dengan penekanan pada ihsan bagi para pengikutnya sesuai

112
hadits Rasulullah, "Ihsan adalah beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-
Nya."

Ketika Syaikh Naqsybandi wafat, beliau dimakamkan di kebunnya, sebagaimana


permintaannya. Raja-raja penerus Bukhara merawat madrasah dan masjidnya. Mereka
memperluas dan menambahkan waqafnya. Syaikh-Syaikh penerus Thariqat Naqsyabandi
menuliskan banyak biografi tentang Syaikh Naqsyabandi. Salah satunya adalah Mas'ud
al-Bukhari dan Syarif al-Jarjani, yang menyusun Awrad Baha'uddin yang menceritakan
tentang kehidupan beliau dan karya-karyanya termasuk fatwanya.

Syaikh Muhammad Parsa, yang wafat di Madinah pada tahun 822 H (1419 M) menulis
Risalah Qudsiyyah yang di dalamnya terdapat tulisan tentang kehidupan Syaikh
Naqsyabandi, kehebatan-kehebatannya, serta pengajaran-pengajarannya. Tulisan-tulisan
warisan Syaikh Naqsyabandi mencakup beberapa buku. Di antaranya adalah Awrad an-
Naqsybandiyyah, wiridan Syaikh Naqsyabandi. Buku lainnya adalah Tanbih al-Ghafilin.
Buku ketiga adalah Maslakul Anwar. Yang keempat adalah Hidayyatu-s-Salikan wa
Tuhfat at-Talibin.

Beliau meninggalkan banyak pernyataan hormat memuji Rasulullah dan beliau pun
menulis banyak aturan. Salah satu pendapatnya adalah bahwa semua jenis dan praktek
peribadatan yang berbeda, baik yang wajib maupun sunnat, diperbolehkan bagi para
muridnya dalam rangka mencapai kebenaran. Shalat, puasa, zakat, mujahadah (berusaha
keras) dan zuhud (penyangkalan diri) ditekankan sebagai jalan menuju Allah Yang Maha
Kuasa.

Syaikh Naqsyabandi membangun sekolahnya atas dasar pembaharuan pengajaran agama


Islam. Beliau menggarisbawahi pentingnya mengamalkan al-Qur'an dan pengajaran
Sunnah. Ketika mereka bertanya kepada beliau, "Apa persyaratan bagi yang ingin
mengikuti thariqatmu?" Beliau menjawab, "Mengikuti Sunnah Rasulullah." Beliau lalu
melanjutkan, "Thariqat kami adalah sesuatu yang langka. Yang menjaga 'Urwat ul-
Wutsqa, ikatan yang tak terputuskan, dan tak meminta apapun dari pengikutnya
melainkan untuk selalu memegang teguh Sunnah yang murni dari Rasulullah SAW dan
mengikuti jalan para Sahabat dalam ijtihad (usaha untuk Allah) mereka.

Sekolah Naqsyabandi merupakan jalan termudah dan paling sederhana bagi para murid
untuk memahami tauhid. Dia mengharuskan pengikutnya untuk mencari peribadatan
yang sempurna kepada Allah baik secara umum maupun pribadi dengan jalan
melaksanakan adab Sunnah Rasulullah secara sempurna. Juga mendorong orang agar
menjalankan jenis ibadah yang paling ketat ('azhima) dan untuk mengabaikan keringanan
(rukhsah). Juga terbebas dari bias dan bid'ah.

Dia tak menuntut pemeluknya untuk terus-menerus berada dalam keadaan lapar dan
terjaga. Begitulah Naqsyabandiyyah telah mengatur agar tetap terpelihara dari pengaruh-
pengaruh orang yang kurang faham dan orang yang pura-pura mengetahui banyak hal
(musya'wazan). Ringkasnya, bisa dikatakan bahwa thariqat Naqsybandiyyah adalah ibu
dari semua thariqat dan penunjuk bagi seluruh kepercayaan spiritual. Inilah jalan yang

113
paling aman, paling bijak, serta paling jelas. Inilah maqam pelepas dahaga termurni,
saripati yang tersuling. Naqsybandiyyah tak ada hubungannya dengan serangan apapun
karena menjalankan Sunnah Rasulullah tercinta." (imma)
Syeikh Abdul Qadir Jaelani

Nama tokoh ini bagi kebanyakan Muslim tak asing lagi. Apalagi di dunia sufisme dan
tarekat, dia dinilai sebagai salah seorang pengembang aliran tarekat Islam, yakni tarekat
Qadiriyah, yang kini banyak diikuti Muslim di berbagai belahan dunia, tak terkecuali
Indonesia. Dia adalah Syeikh Abdul Qadir Jaelani. Beberapa kalangan kerap kali juga
menyebut pendiri tarekat Qadiriyah ini sebagai tokoh spiritual yang mencapai derajat
wali sehingga banyak cerita atau hikayat yang menempatkan dirinya dalam posisi amat
istimewa, luar biasa dan penuh kekeramatan.

Dilahirkan di Gilan atau Jailan di selatan Laut Kaspia, Persia (kini Iran) pada 1
Ramadhan 470 H (1077 M), ia bernama lengkap Sayyid Abu Muhammad Abdul Qadir.
Kata "Jailani" di belakang nama Syeikh Qadir tampaknya merujuk pada kampung
kelahirannya. Ayahnya bernama Abu Shaleh, seorang yang taat kepada Allah dan
memiliki hubungan keturunan dengan Imam Hasan, putra sulung Sayyidina Imam Ali ra
(saudara sepupu Nabi SAW) dengan Fatimah, anak perempuan Rasulullah.

Sedangkan ibunya adalah putri Abdullah, Shaumayya, wanita yang begitu taat
menjalankan agama, merupakan keturunan Imam Husain, anak Imam Ali dengan
Fatimah. Dengan demikian, Syeikh Abdul Qadir, yang di kalangan Muslim Indonesia
dikenal dengan sebutan Syeikh Dul Kadir ini adalah anak keturunan Hasan dan Husain,
yang secara tak langsung masih memiliki keturunan nasab dengan Rasulullah SAW.

Sejak kecil, Syeikh Dul Kadir dikenal sebagai anak yang pendiam, mempunyai etika dan
sopan santun yang tinggi. Di usia dini itu, ia kerap kali termenung dan sangat cenderung
kepada dunia mistik (pengalaman keruhanian). Menginjak usia 18 tahun, terlihat betapa
Syeikh Dul Kadir sangat tamak terhadap ilmu dan ingin selalu bersama-sama dengan
orang-orang shaleh. Kondisi inilah yang mendorong dirinya di usia muda untuk berkelana
ke negeri pusat ilmu kala itu, yakni Baghdad (Irak).

Tokoh ini kehilangan ayahnya pada usia muda. Ia kemudian dipelihara dan dididik
kakeknya hingga usia 17 tahun. Pada usia itu, ia dikirim ke Baghdad untuk menimba ilmu
yang lebih tinggi. Di Baghdad, Syeikh Dul Kadir menjadi murid kesayangan Abu Zakaria
Tabrezi, rektor Jamiat Nizhamiah, salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka saat itu.
Delapan tahun menuntut ilmu di perguruan itu, Syeikh Dul Kadir berhasil menguasai
berbagai ilmu pengetahuan yang diajarkan.

Otaknya yang cerdas dan ingatan yang kuat membuat ia jadi salah satu lulusan terbaik
sekolah tersebut. Setelah menguasai perbendaharaan ilmu, Syeikh Dul Kadir tertarik
melakukan pelatihan ruhani. Ia pun menjadi murid Syeikh Abu Said Mukhzumi, orang
shaleh termasyhur pada masa itu. Tampaknya perpaduan dua perguruan, pemikiran dan
ruhani tersebut, membuat Syeikh Dul Kadir mampu menjadi salah seorang ulama yang
disegani di Baghdad.

114
Dalam buku Menyingkap Rahasia Keghaiban Hati disebutkan, sebagian kalangan Muslim
saat itu menjuluki dirinya dengan sebutan Ghautsul A'zham (wali Allah yang paling
agung). Menurut pemahaman para sufi, "Ghauts" berada di bawah peringkat para nabi
dalam derajat keruhanian dan dalam menyampaikan rahmat Allah kepada manusia.

Padahal tokoh ini sebenarnya lebih dari itu. Ia merupakan tokoh yang mampu
memadukan syariat (ajaran agama) dan tarekat (spiritualisme) dalam kehidupan sehari-
hari. Menengok kehidupannya di abad 11 Masehi yang penuh dengan pertentangan antara
spiritualisme ekstrim Mansur Hallaj dan rasionalisme Muktazilah, maka keberhasilannya
memadukan keduanya dalam praktik kehidupan merupakan prestasi puncak yang berhasil
diraih seorang ulama. Kala itu, dunia Islam penuh dengan kekacauan dan pergolakan.
Umat dan para pemimpinnya jatuh dalam dekadensi politik dan moralitas. Zaman emas
khalifah Abbasiyah telah lampau. Kekhalifahan Islam jatuh ke tangan khalifah yang
lemah, tenggelam dalam kehidupan mewah dan suka berfoya-foya.

Kefasihan Syeikh Dul Kadir dalam bertutur dan kekayaan batin yang dimiliki membuat
setiap ceramah yang dilakukannya mampu menarik massa demikian besar. Tak kurang
dari 70-80 ribu massa hadir setiap kali Syeikh Dul Kadir mengadakan pengajian. Tak
hanya khayalak ramai hadir dalam setiap pengajiannya, namun juga pembesar bahkan
khalifah Abbasiyah sendiri datang hanya untuk mendengarkan setiap ulasan ajaran Islam
yang dibawakannya.

Hampir selama 40 tahun lamanya, Syeikh Dul Kadir membimbing masyarakat ramai
lewat pengajian dan madrasah yang didirikannya. Pada usia 91 tahun, ia pun berpulang
ke Rahmatullah dengan meninggalkan warisan tak ternilai. Dan putra-putrinya yang
berjumlah banyak (20 putra dan 29 putri, menurut Ensiklopedi Indonesia, Red)
meneruskan ajaran dan pelatihan ruhani yang pernah diajarkan Syeikh Dul Kadir.

Putra-putranya itulah bersama para muridnya yang akhirnya membentuk tarekat-tarekat


dengan sebutan Qadiriyah, menisbatkan pada nama guru dan ayah mereka. Awalnya,
tarekat ini berkembang pertama kali di Irak, Syria, Mesir, dan Yaman. Pada tahap
berikutnya, tarekat ini menyebar ke berbagai penjuru dunia Islam, termasuk Indonesia.
Selain tertua, sampai sekarang tarekat ini dianggap paling banyak mendapat pengikut
dibanding tarekat-tarekat lainnya.

Perjalanan panjang Syeikh Dul Kadir baru berakhir ketika atas kehendak Yang
Mahakuasa, pendiri tarekat shufiyyah Al Qadiriyah ini dipanggil menghadap Sang Ilahi
Rabbi pada 11 Rabiul Awwal 561 H (1166 M). Oleh para pengikutnya, tanggal wafatnya
ini selalu dikenang dan mempunyai arti tersendiri. Bahkan di India dan Pakistan, hingga
kini, tanggal tersebut dinamai dengan "Jiarwin Sharif." [republika.co.id]
Syekh Ahmad Khatib

Syekh Ahmad Khatib adalah seorang ulama besar di Indonesia. Walaupun namanya
kurang begitu familiar di telinga kita, peranan beliau cukup sentral dalam perjalanan

115
sejarah perjuangan umat Islam Indonesia, terutama pada dua dasawarsa terakhir abad ke-
19 dan 10-15 tahun pertama abad ke-20.

Beliau dilahirkan di Ranah Minang, tepatnya di Bukit Tinggi, pada tahun 1855 dari
keluarga yang berlatar belakang agama dan adat yang kuat. Ayahnya seorang hakim dari
golongan Padri yang sangat menentang keberadaan Belanda di Minangkabau.

Masa kecil Ahmad Khatib dihabiskan untuk belajar dan menuntut ilmu. Pada usia 10
tahun, ia masuk sekolah rendah milik Belanda. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan
ke sekolah guru atau kweekschool di Bukit Tinggi. Seperti layaknya anak-anak dari
golongan Padri, selain belajar di sekolah formal, ia juga belajar ilmu agama pada pada
orang tuanya dan guru mengaji di meunasah (madrasah).

Pada usia 21 tahun, Ahmad Khatib pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan
memperdalam ilmu agama. Di sana ia mendapatkan wawasan baru, tidak hanya ilmu
agama, tetapi juga wawasan tentang kondisi dunia Islam yang sedang terpuruk.

Melalui pertemuan dengan jama’ah haji dari seluruh dunia, ataupun melalui dialog dan
tukar pikiran dengan guru-guru dan rekan-rekannya, Ahmad Khatib mendapatkan suatu
kesadaran akan pentingnya persatuan dan reformasi kesadaran umat dalam mengubah
keadaan. Di Mekah, beliau berhasil meraih "puncak karier" sebagai ulama, ia diangkat
sebagai imam Madzhab Syafi’i di Masjidil Haram –yang merupakan kedudukan tertinggi
dalam otoritas mengajarkan agama- dan berhak menyandang gelar syekh.

Menurut catatan sejarah, Syekh Ahmad Khatib merupakan salah seorang tokoh penting
yang memelopori gerakan pembaharuan Islam di Indonesia, khususnya daerah
Minangkabau. Meskipun sampai akhir hayatnya ia tak pernah kembali ke tanah
kelahirannya, ia tetap menjalin hubungan yang intens dengan Nusantara melalui orang-
orang Indonesia yang menunaikan ibadah haji atau pun mereka yang sengaja
memperdalam ilmu agama di Mekah.

Banyak murid Syekh Ahmad Khatib yang kemudian menjadi ulama besar Indonesia yang
memelopori gerakan pembaharuan agama dan sebagai tokoh perlawanan terhadap
Belanda. Mereka menjadi pembaharu-pembaharu pertama di daerahnya, seperti Syekh
Muhammad Djamil Djambek, Haji Abdul Karim Amrullah (ayah Hamka), dan Haji
Abdulllah Ahmad, serta Kiai Ahmad Dahlan. Sebagian dari murid-muridnya tetap
merupakan pemimpin dalam lingkungan tradisi, Syekh Sulaiman Ar-Rasuli dari Cakung
Bukittingi, K.H. Hasjim Asj’ari, Kiai Wahab Hasballah , dan Kiai Bisri Syamsuri,
misalnya.

Pada dasarnya ada beberapa faktor yang melatarbelakangi corak pemikiran Syekh ahmad
Khatib. Pertama, ia berada di tengah-tengah meningkatnya Islamic Revivalism yang
berpusat di Mekah. Kedua, pada masa itu tengah berkembang perasaan anti-kolonialisme
di dunia Islam. Posisinya sebagai Imam Madzhab Syafi’i di Masjidil Haram telah
memungkinkan ia mentransmisikan pemikiran-pemikiran reformasi Islam kepada murid-
muridnya, di samping tentunya pengajaran ilmu-ilmu agama.

116
Setidaknya ada dua bidang yang menjadi sasaran dari pemikirannnya, yaitu bidang
pendidikan/akidah dan bidang politik. Dalam bidang akidah, Syekh Ahmad Khatib
banyak menentang praktek-praktek adat dan tingkah laku yang bertentangan dengan
ajaran Islam, terutama di daerah Minangkabau sebagai tanah kelahirannya. Hal ini dapat
dilihat dari publikasi tulisan-tulisannya, di antaranya tentang salah satu tarekat (Tarekat
Naqsabandiyah) di Minangkabau yang banyak bertentangan dengan syari’at Islam, selain
itu tentang penolakan terhadap sistem waris adat Minangkabau.

Publikasi tulisan-tulisan tersebut telah membangkitkan semangat dan cita-cita


pembaharuan Islam di Minangkabau, yang kemudian merembet ke daerah-daerah
lainnya, terutama ke Pulau Jawa.

Di bidang politik, pemikiran Syekh Khatib juga cukup berpengaruh. Menurut Haji Agus
Salim, dalam suatu seminar di Cornel University (4 Maret 1953), Syekh Ahmad Khatib
adalah seseorang yang anti Belanda. Perasaan itu selalu ia gelorakan kepada murid-
muridnya di Mekah. Prinsipnya, "Berperang melawan penjajah adalah jihad di Jalan
Allah."

Kebenciannya terhadap Belanda dapat dilihat pada hubungannya yang kurang baik
dengan Snouck Hurgronje, ketika ilmuwan dan orientalis Belanda tersebut sedang berada
di Mekah pada tahun 1885.

Melihat fakta-fakta tersebut, nyatalah bahwa peranan Syekh Ahmad Khatib tidak bisa
dianggap kecil. Meskipun tidak terlibat langsung dalam perlawanan melawan kolonial
Belanda, pemikiran dan publikasi tulisan-tulisannya telah menjadi "katalisator" bagi
gerakan umat Islam dalam menemukan jati dirinya kembali. Pada tahun 1916, beliau
wafat di Mekah dalam usia 61 tahun. [Majalah Percikan Iman No. 5 Tahun I November
2000]

Thoriq bin Ziyad

Sejarah mencatat bahwa penyebaran Islam sejak zaman Rasulullah hingga pasca Khulafa
ur Rasyidin berkembang pesat. Pada masa Dinasti Umayah, Islam sudah menguasai
sebagian besar wilayah Andalusia (sekarang Spanyol). Thoriq bin Ziyad adalah seorang
mujahid yang dikenal pada peristiwa penaklukan itu. Hingga kini namanya diabadikan
sebagai nama sebuah bukit karang di wilayah tersebut "Jabbal Thoriq" atau dikenal
sebagai Jibraltar. Kalau sempat kita lihat peta dunia maka nama itupun juga digunakan
sebagai nama selat diantara benua Afrika dan Eropa.

Nama lengkapnya Thoriq bin Ziyad bin Abdullah bin Walgho bin Walfajun bin Niber
Ghosin bin Walhas bin Yathufat bin Nafzau As-Shodafi. Ia berasal dari garis keturunan
Ash-Shodaf yang secara turun-temurun bermukim di Al-Atlas, sebuah desa yang subur
dan terletak di antara perbukitan. Suku Ash Shodaf terkenal ulet, pemberani, kuat dan

117
tangguh. Sebelum penaklukan oleh pasukan Islam, keadaan Spanyol sungguh
memprihatinkan. Sejak tahun 597 M, saat negeri itu dikuasai bangsa Gotic dari Jerman
dengan penguasanya yang terakhir Raja Roderick, negeri ini bertambah kacau. Di bawah
kekuasaan raja yang dzalim itu masyarakat terbagi dalam beberapa kelas.

Kelas pertama terdiri dari para keluarga raja, bangsawan, orang kaya, tuan tanah dan
penguasa wilayah. Mereka hidup bergelimang kemewahan, berfoya-foya dan mengumbar
nafsu kebinatangan.
Kelas ke dua terdiri dari para pendeta. Merekalah sebenarnya yang bertanggung jawab
atas kehancuran negeri. Mereka menjilat para penguasa dan menginjak-injak rakyat.
Kelas ke tiga terdiri dari para pegawai negeri, yaitu pengawal, penjaga istana dan
pegawai kantor pemerintahan. Mereka hidup pas-pasan dan seringkali dijadikan alat para
penguasa untuk memeras rakyat.
Kelas ke empat terdiri dari buruh tani, serdadu berpangkat rendah, pelayan dan budak.
Kelas paling rendah inilah yang paling menderita hidupnya.

Rakyat sangat menderita terutama kelas bawah. Mereka selalu menjadi korban dari
kebijakan Raja Roderick. Akibatnya sebagian besar dari mereka mengungsi ke negara
terdekat yaitu Afrika Utara, negeri yang penduduknya bisa menikmati keadilan,
kesamaan hak, keamanan dan kemakmuran di bawah penguasa yang adil, arif dan
bijaksana yaitu Musa bin Nusair.

Sebagian besar orang yang mengungsi ke Afrika Utara tersebut adalah para pemeluk
agama Yahudi dan Nasrani. Di antara mereka terdapat Julian, Gubernur Ceuta yang putri
kesayangannya, Florinda telah dinodai oleh Raja Roderick. Selamanya Gubernur Julian
tidak dapat memaafkan kebiadaban Raja Gotic tersebut.

Di Afrika Utara (Sekarang sedikitnya ada lima negeri di pantai utara benua Afrika:
Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya dan Mesir, di sini tidak ada keterangan, mungkin yang
tahu bisa membantu), mereka mendapatkan perlindungan dan jaminan keadilan dan
kesejahteraan dari orang-orang Islam. Mereka diperlakukan dengan sangat baik yang
mereka tidak mendapatkannya di negeri mereka sendiri.

Sebelum kedatangan Gubernur Julian dan rombongannya, sebenarnya Musa bin Nusair
sudah mendengar kabar bahwa Spanyol dalam keadaan yang sangat rapuh. Setelah
mendapat persetujuan Khalifah Al Walid bin Abdul Malik, Musa bin Nusair segera
mengirimkan satu pasukan perintis ke Spanyol dengan komandan Abu Zar'ah Thorif yang
terkenal cerdik, pemberani dan tangguh serta berpengalaman dengan wilayah Spanyol.

Pada hari Kamis, 4 Ramadhan 91 H atau 2 April 710 M, Abu Zar'ah Thorif berangkat
meninggalkan Afrika dengan membawa 400 pasukan pejalan kaki ditambah 100 orang
pasukan berkuda. Mereka menyeberangi selat antara Afrika dan Eropa dengan
menggunakan delapan kapal yang telah dipersiapkan, empat diantaranya adalah bantuan
dari Gubernur Julian yang ingin menghancurkan Raja Roderick. Tiga pekan berikutnya,
tepatnya hari Sabtu tanggal 25 Ramadhan 91 H atau 23 April 710 M, rombongan pasukan
Islam melakukan pendaratan di sebuah pulau kecil tak jauh dari kota Tarife yang akan

118
menjadi sasaran serangan pertama. Pendaratan sengaja dilakukan pada malam hari agar
tidak diketahui musuh.

Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, petang harinya Abu Zar'ah Thorif


memerintahkan pasukannya melakukan serangan gencar ke berbagai wilayah, terutama di
pusat kota. Pasukan Islam tidak banyak mendapatkan perlawanan karena keadaan
Spanyol lemah. Dengan mudah mereka dapat menguasai beberapa kota di sepanjang
pantai, meski jumlah pasukan Islam tidak sebanding pasukan musuh. Jauh lebih sedikit.
Pasukan Islam dengan komandan Abu Zar'ah Thorif pulang ke Afrika dengan membawa
kemenangan telak. Hanya beberapa orang yang syahid di medan perang. Selain ratusan
orang tawanan, mereka juga berhasil membawa unta rampasan plus ghanimah yang
cukup banyak.

Kemenangan gemilang ini membangkitkan semangat Gubernur Musa bin Nusair untuk
menakhlukkan seluruh Spanyol. Hal ini sangat penting mengingat wilayah itu merupakan
pintu gerbang daratan Eropa. Oleh karena itu, ia memerintahkan Thoriq bin Ziyad untuk
melakukan penyerangan ke dua.

Thoriq dikenal jujur, cerdik dan berkemauan kuat, gagah berani menghadapi setiap
tantangan, berpengaruh besar bagi para pengikutnya, ikhlas dalam berjuang dan
semangatnya selalu membara.

Pada hari Senin, 3 Mei 711 M, Thoriq bersama 7.000 anggota pasukannya menyeberangi
selat antara Afrika dan Eropa dengan armada kapal. Setelah mendarat di wilayah
Spanyol, Thoriq mengumpulkan seluruh anggota pasukannya di atas sebuah bukit karang
yang hingga kini bukit itu dikenal dengan nama "Jibraltar". Di bukit karang inilah Thoriq
bin Ziyad memerintahkan pasukannya untuk membakar seluruh armada kapal yang baru
saja mereka gunakan menyeberangi selat Afrika-Eropa tadi.

Seorang anggota pasukan yang tidak mengerti maksud panglimanya kemudian bertanya:
"Apa maksud Anda?", anggota pasukan yang lain pun bertanya, "Kalau kapal-kapal itu
dibakar, bagaimana nanti kita bisa pulang?" Dengan tegas sambil menghunus pedang ia
menjawab, "Kita datang ke sini bukan untuk kembali. Kita hanya memiliki dua pilihan,
yaitu menaklukkan negeri ini lalu tinggal di sini atau kita semua binasa."

Kemudian Sang Panglima yang gagah berani inipun memberi pengarahan kepada seluruh
anggota pasukan yang dipimpinnya. "Wahai seluruh pasukan, ke mana lagi kalian akan
lari? Di belakang kalian adalah laut, dan di depan kalian adalah musuh. Demi Allah, satu-
satunya milik kalian saat ini hanyalah kejujuran dan kesabaran. Musuh dengan jumlah
besar dan persenjataan lengkap telah siap menyongsong kalian. Sementara senjata kalian
adalah pedang. Kalian akan terbantu jika kalian berhasil merebut senjata dan
perlengkapan musuh kalian. Karena itu, secepatnya kalian harus melumpuhkan mereka.
Sebab kalau tidak, kalian akan menemukan kesulitan besar. Itulah sebabnya kalian harus
lebih dahulu menyerang mereka agar kekuatan mereka lumpuh. Musuh kalian sudah
bertekad bulat akan mempertahankan negeri mereka sampai titik darah penghabisan. Kita
harus bertekad bulat untuk menyerang mereka hingga syahid. Sungguh sama sekali saya

119
tidak bermaksud menakuti kalian. Mari kita galang saling percaya di antara kita,
keberanian kita, bahu membahu dan saling membantu, membulatkan tekad untuk menjadi
pembela agama Allah, menegakkan kalimat-Nya. Percayalah, sesungguhnya Allah SWT
adalah penolong utama kalian. Dan sayalah orang pertama yang akan memenuhi seruan
ini di hadapan kalian. Saya akan menghadapi sendiri Raja Roderick yang sombong itu.
Saya akan membunuhnya. Atau siapapun boleh melakukannya jika lebih dulu bertemu
dengannya di medan pertempuran. Dengan membunuhnya maka negeri ini akan dengan
mudah kita kuasai".

Pidato pengarahan Thoriq ini membakar semangat pasukan Islam untuk segera
bertempur. Mendengar pasukan Islam mendarat di wilayahnya Raja Roderick segera
mempersiapkan angkatan perang besar yang terdiri lebih dari 100.000 tentara dengan
membawa persenjataan lengkap. Jumlah pasukan yang lebih besar ini tidak
menggoyahkan semangat pasukan Islam. Apalagi Gubernur Musa mengirimkan pasukan
tambahan sebanyak 5.000 orang dipimpin oleh Thorif bin Muluk. Jadi jumlah pasukan
Islam seluruhnya adalah 12.000 orang. Thoriq dan pasukannya terus bergerak ke arah
kota Cordova. Mereka menyusuri pantai hingga tiba di kota Torife yang telah
ditakhlukkan sebelumnya oleh pasukan perintis yang dipimpin oleh Abu Zar'ah.

Kedua pasukan bergerak ke arah berlawanan untuk saling berhadapan. Pasukan Islam
dipimpin oleh Thoriq bin Ziyad yang bergerak laksana ombak samudera. Baju-baju besi
yang mereka kenakan, sorban-sorban putih yang menutup kepala mereka, kilatan pedang
yang mereka genggam, tampak mendominasi suasana penuh semangat yang senantiasa
dikobarkan oleh Thoriq bin Ziyad, Sang Panglima.

Sementara di pihak musuh, Raja Roderick memimpin pasukan dengan diapit para
pengawal yang bersenjata lengkap dan terkesan mewah.

Pada hari Ahad, 28 Ramadhan atau 19 Juli 711 M, kedua pasukan bertemu dan bertempur
di dekat muara Sungai Barbate. Jumlah yang tidak seimbang membuat pasukan Islam
terdesak di awal pertempuran. Hal ini menggugah Gubernur Julian dan anak buahnya
menyusup ke pasukan Roderick dan menyebarkan opini ke tengah-tengah mereka bahwa
pasukan Islam hanya mengincar Roderick dan tidak untuk menjajah negeri mereka.
Upaya Julian dan anak buahnya berhasil. Banyak pasukan Roderick yang melarikan diri
dari medan perang. Akibatnya mereka kacau balau dan kesempatan ini dimanfaatkan
Thoriq bin Ziyad untuk mencari dan membunuh Roderick. Selanjutnya seluruh markas
pertahanan dapat dikuasai dengan mudah. Kemenangan pasukan Islam ini melumpuhkan
semangat pasukan Spanyol.

Berita keberhasilan itu sangat menggembirakan Gubernur Musa bin Nusair. Ia kemudian
membantu Thoriq untuk segera menaklukkan seluruh Spanyol dan negara-negara Eropa
lainnya.

Setahun kemudian, tepatnya hari Rabu, 16 Ramadhan 93 H, ia bertolak ke Spanyol


dengan membawa 10.000 pasukan. Mereka berhasil menduduki Merida, Sionia dan
Sevilla yang belum ditakhlukkan oleh pasukan Thoriq. Sementara itu Thoriq dengan

120
jumlah pasukan yang tersisa terus melakukan penaklukan ke beberapa wilayah yang
tersisa. Ia membagi pasukannya ke dalam empat kelompok dan menugaskan para
pembantunya ke Cordova, Granada dan Malaga. Sedangkan ia sendiri bersama pasukan
utamanya segera menuju toledo, ibukota Spanyol waktu itu. Semua kota itu dapat
dikuasai tanpa perlawanan. Spanyol dapat dilumpuhkan karena kecepatan gerak pasukan
Islam.

Musa bin Nusair dan Thoriq bin Ziyad akhirnya bertemu di Toledo. Keduanya kemudian
bergabung dan menghadapi musuh di Ecija. Kemenangan pun diraih pasukan Islam
meski tak sedikit yang gugur sebagai syuhada. Selanjutnya pasukan gabungan ini
bergerak ke wilayah Pyrenie, Perancis.

Beberapa tahun kemudian, Portugis pun ditakhlukkan dan namanya diganti menjadi "Al
Gharb" berarti Barat. Sebelum seluruh Eropa dapat ditaklukkan, yang sebenarnya mudah
karena tidak ada kekuatan berarti yang melawan mereka, Khalifah Al Walid bin Abdul
Malik memanggil Thoriq dan Musa ke Damaskus (Ibukota Syiria/Suriah, negeri di
sebelah utara Irak). Thoriq pergi sendiri ke Damaskus, sementara Musa bin Nusair sibuk
menyusun pemerintahan baru di Spanyol.

Beberapa waktu setelah itu Thoriq sakit-sakitan dan kemudian Allah SWT
memanggilnya. Tidak banyak yang mengetahui akhir kehidupan beliau. [Sumber:
Majalah HIKAYAH Edisi 06, Shafar 1424/ April 2003]

Klab Santri
Timur Leng

"Tidak mungkin adalah kata-kata yang ada dalam kamus orang-orang bodoh," kata
Napoleon ketika ia bersama pasukannya yang hebat mendaki sebuah tebing yang sulit di
pegunungan Alpen. Tapi ia tidak berbuat sesuai dengan prinsipnya itu, dan terpaksa
mengakui keberadaan dunia ini setelah ia mengalami kekalahan di Lipzi dan Waterloo.

Kata-kata ini ditolak keras oleh Timur Leng, penakluk besar Asia, yang berasal dari
keluarga rendahan tapi berhasil mengalahkan dua raja terbesar pada masa hidupnya;
Toktamish raja Mongol dan Bayazid Yildrim raja Turki.

Timur lahir dari sebuah keluarga miskin di kota Hijau. Bapaknya, seorang kepala Tartar
Barlas, banyak menghabiskan masa hidupnya bersama-sama orang suci. Timur sendiri
banyak dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Islam dari bapaknya.

Sebagai pemuda pendiam, ia tidak suka akan perbuatan-perbuatan bodoh yang bisa
menyedot waktunya. Dan selama hidupnya ia tidak punya waktu untuk bergurau. Timur,
juga pemuda yang cerdas sekaligus pemberani dan bijaksana. Ia mempersatukan suku
Tar-tar yang selalu bentrok antar suku. Kota Hijau berhasil ia rebut, dengan
kecerdasannya. Ia menyebar bala tentaranya yang kecil di sekeliling kota. Mereka

121
menebang dahan-dahan yang menimbulkan tebaran abu yang luas, dan pasukan jahat
menyangka mereka diserang oleh angkatan perang yang besar; mereka lantas menyerah.
Ini terjadi di awal karirnya.

Pada waktu yang sama, ketika melawan jendral jahat yang hebat bernama Bikijuk, lagi-
lagi otak jeniusnya mengalir. Timur menyebarkan orang-orangnya sepanjang malam,
memerintahkan mereka menyalakan api sebanyak mungkin di perkemahan musuh.
Musuh merasa ketakutan begitu melihat api sebanyak itu dan segera pergi sebelum fajar
menyingsing. Salah satu penulis kroniknya mengatakan, "Sungguh beruntung raja Timur
selalu mengalahkan sebuah angkatan perang hanya dengan api dan merebut sebuah kota
hanya dengan sebuah debu".

Setelah berhasil menunjukan superioritasnya sebagai seorang pemimpin dan prajurit,


Timur dipilih sebagai komandan bangsa Tar Tar oleh ulama-ulama Islam yang dipimpin
tokoh rohani Zainuddin. Tidak hanya bangsa Tar Tar saja yang merasakan kehebatan
Timur Leng, bahkan negri Heart_sebuah kota penting yang memiliki beratus ratus
lembaga pendidikan bisa dikuasainya.

Ancaman terbesar yang dihadapi oleh bangsa Tar Tar adalah orang-orang Mongol yang
dipimpin oleh anak cucu Jengis Khan, Toktamish. Gerombolan ini ketika itu pada puncak
kekuatannya berkuasa di dataran Rusia-Siberia, tidak henti-hentinya menggempur bangsa
Tartar. Pada suatu ketika di musim dingin Toktamish datang dengan kekuatan yang sangat
kuat ke arah sungai Syr. Para penasihat Timur pada saat itu menyarankan agar Timur
menunggu pasukannya yang tersebar supaya berkumpul, tapi karena keyakinannya pada
Allah beliau sanggup untuk memimpin pasukannya yang dibagi kedalam resimen-
resimen kecil. Dengan mengendarai kuda dibawah guyuran hujan dan salju, walaupun
sebagian kuda mereka terbenam ke dalam lumpur setinggi lutut, dengan hebatnya Timur
dan pasukannya menyerang bagian pos-pos luar gerombolan Toktamish dan merasuk ke
dalam divisi-divisinya. Manuvernya yang hebat dan sangat mengagumkan itu membuat
pasukan Toktamish mundur.

Timur mengarah pada Persia untuk melakukan pengembangan Islam.Persia yang saat itu
di pimpin oleh Muzaffar, pun ditaklukkan.

Setelah Persia, ambisinya menuju penaklukan Cina, yang saat itu banyak menyembah
berhala.. Rupanya ini menjadi ambisi terakhir dari perjalanan Timur Leng. Dalam
perjalanan dari Samarkand menuju Cina, Timur kembali ke Haribaan Sang Pencipta,
meninggalkan sekitar seperempat juta prajurit yang dipimpinnya saat itu.

Timur Leng, adalah sosok pribadi berlian, sederhana, jujur, yang tidak menyukai sikap
pongah, kebohongan, maupun berpesta pora membuang waktu. Ia lebih suka berpihak
pada kebenaran meski harus berhadapan dengan hal yang sangat di bencinya. Meski
pejuang yang gigih, tidak pernah ia berlaku kejam kepada musuhnya yang teraniaya.

122
Timur tidak pernah mengenal arti kegagalan. Walau berasal dari lapisan masyarakat kecil,
ia begitu besar dengan amanah yang diembannya, demi tegaknya kalimat Tauhid di bumi
ini. [Tabloid MQ EDISI 10/TH.II/FEBRUARI 2002]
Ziryab

Menurut sejarawan muslim Ibn Hayyan, gelar Ziryab alias si burung hitam disematkan
kepada Abul-Hasan Al Ibn Nafi, karena pria kelahiran Baghdad 789 M ini, memiliki kulit
legam. Namun suaranya jernih dan perilaku yang mengesankan. Dan dalam blantika seni,
Ziryab mencatatkan namanya sebagai salah satu pelopor dalam dunia seni musik dan
suara.

Sejumlah sejarawan Arab menyatakan bahwa Ziryab adalah seorang budak yang
kemudian dibebaskan. Lalu ia menjadi pelayan keluarga Al-Mahdi, khalifah Baghdad
pada masa dinasti Abbasiah. Tak lama kemudian ia menjadi musisi istana pada masa
khalifah Harun Al-Rasyid, penerus Al-Mahdi setelah dia mangkat. Harun memang
terkenal sebagai khalifah yang gandrung akan musik. Tak heran jika ia memboyong
banyak musisi ke istananya di Baghdad.

Kala itu yang menjadi musisi kesayangan Harun adalah Ishaq Al-Mawsili. Untuk
mencetak kader musisi istana, Ishaq pun mendapatkan izin untuk membuka sekolah
musik di istana. Salah satu muridnya adalah Ziryab, yang telah bekerja di istana beberapa
tahun sebelumnya. Si burung hitam, ternyata murid yang cerdas dan memiliki
pendengaran yang tajam.

Di luar pelajaran, ia bahkan kerap mencuri dengar dan mempelajari lagu yang
didendangkan gurunya. Padahal lagu-lagu Ishaq terkenal begitu kompleks dan tak mudah
dipahami. Bahkan oleh seorang pakar musik sekalipun. Namun Ziryab mampu menyerap
dan memperkaya wawasannya tentang musik.

Ishaq sendiri tak mengetahui sejauh mana muridnya ini menguasai ilmu musik yang
diajarkannya. Hingga suatu saat Harun Al-Rasyid meminta Ziryab memainkan musik di
hadapannya. Ziryab memainkan musik dengan bagus. Dengan melodi yang jelas dan
sarat emosi. Ia telah memainkan alat musik buatannya sendiri.

Sang khalifah terpesona atas kemampuan si burung hitam. Dan meminta Ishaq bersedia
membantu Ziryab mengembangkan talentanya itu. Namun nampaknya sang guru terbakar
dengki. Ia merasa posisinya sebagai musisi istana terancam. Maka ia pun mengancam
akan membunuh Ziryab, memintanya untuk meninggalkan Baghdad setelah memberinya
bekal uang.

Dengan terpaksa Ziryab meninggalkan istana dan kota kelahirannya, Baghdad. Sang
khalifah hanya tahu dari Ishaq bahwa Ziryab mengalami gangguan mental hingga ia
meninggalkan Baghdad. Akhirnya, Ziryab beserta keluarganya meninggalkan Baghdad
menuju Mesir.

123
Dari negeri Spinx ini, ia melanjutkan perjalanan ke Afrika Utara dan akhirnya terdampar
di Tunisia. Pada saat itu, Tunisia berada di bawah kekuasaan dinasti Aghlabid, dengan
khalifah Ziyadat Allah I. Sebenarnya ia disambut dengan baik di sana, namun ia lebih
tertarik melanjutkan perjalanan menuju Kordoba, Spanyol.

Di bawah kendali Bani Ummayah, Kordoba berkembang dengan cepat menjadi pusat
perkembangan budaya sejajar dengan Baghdad. Ia menilai bahwa kota tersebut menjadi
tempat yang cocok bagi perkembangan bakatnya. Sebelum berangkat, Ziryab menuliskan
surat untuk Al-Hakam, khalifah yang berkuasa, menceritakan kemampuan bermusiknya.

Tak lama berselang, Al-Hakam membalas surat tersebut. Mengundang Ziryab untuk
bertandang ke istana. Ia pun dijanjikan gaji dan fasilitas yang besar. Kegembiraan
membuncah di dadanya. Maka ia beserta keluarganya segera berkemas dan menyeberang
selat Gibraltar. Pada 822 ia mendarat di Spanyol.

Namun ia sangat terpukul mendengar Al-Hakam ternyata telah meninggal dunia. Seketika
ia merasa kecewa dan akan kembali ke Afrika Utara. Namun kemudian ia bertemu
dengan seorang musisi penganut Yahudi yang mengabdi di istana di Kordoba, Abu al-
Nasr Mansur. Ia merekomendasikan Ziryab kepada khalifah baru, Abd al-Rahman II,
yang kemudian mengundangnya ke istana.

Keduanya ternyata sebaya, berumur 33 tahun, dan mereka cocok dalam berbagai ide.
Ziryab diterima di istana, dan mendapatkan gaji besar serta berbagai fasilitas. Ia pun
dianugerahi lahan pertanian produktif. Ziryab semakin akrab dengan Abd Rahman dan
selalu terlibat dalam pembicaran mengenai berbagai hal seperti sejarah, seni maupun
sains.

Tak lama berselang, ia mengemban tugas sebagai menteri kebudayaan. Salah satu proyek
pertamanya adalah mendirikan sekolah musik. Yang terbuka bagi mereka yang memiliki
talenta. Baik dari kalangan berpunya maupun kaum fakir. Sekolah ini dalam beberapa
waktu telah maju pesat, dibarengi berbagai penemuan baik dalam gaya maupun
instrumen musik.

Selain mengajarkan musik, dengan cepat ia mengenalkan berbagai inovasinya dalam


bidang musik. Hingga ia mendapat gelar, yang dalam istilah ensiklopedia Islam sebagai
pencetus tradisi musik bagi muslim spanyol. Ia melakukan revolusi dalam bermusik. Ia
adalah orang yang pertama kali mengenalkan lute (sejenis sitar) secara umum kepada
orang-orang Spanyol dan Eropa.

Ia mengajarkan harmoni dan komposisi, kemudian mengembangkannya secara mendalam


pada abad-abad berikutnya. Dalam teori musik, ia menetapkan parameter metrikal dan
ritmikal bebas serta menciptakan cara-cara baru untuk berekspresi yang disebut maluf.
Dan, inilah yang menjadi salah satu langkah briliannya dalam bermusik.

Maluf adalah semua bentuk nyanyian klasik, yang didasarkan pada puisi arab klasik yang
lebih dikenal sebagai qasidah atau ode. Termasuk di dalamnya adalah muwashsah, bentuk

124
post-clasic yang tak secara kaku terkait dengan qasidah. Namun bentuk terpenting, adalah
struktur inti maluf yang disebut nuba.

Sebuah nuba adalah dua gerakan musikal yang saling berpadu dalam satu maqam
tunggal. Memungkinkan untuk melahirkan melodi serta improvisasi dalam sebuah skala.
Setiap nuba berlangsung selama satu jam, yang dimainkan beragam instrumen serta
lusinan vokal dalam sebuah sekuen tradisional.

Ziryab juga ayah yang mengawal perkembangan anak-anaknya. Delapan anak laki-laki
dan dua anak perempuannya mengikuti jejak ayahnya bergerak di bidang musik walau
tak semuanya menjadi terkenal seperti ayahnya. Ubaidillah adalah anak laki-laki Ziryab
yang menjadi penyanyi terkenal, meski kakaknya, Qasim, memiliki suara yang lebih
merdu. Menurut Ibn Hayyan, anak pertama Ziryab, Abd al-Rahman, mengasingkan diri.
Ia merasa terpukul dengan kematian ayahnya, lima tahun setelah Abd Al-Rahman II
meninggal. (fer)[republika.co.id]

125
+9

126