Anda di halaman 1dari 6

Sigma Epsilon ISSN 0853-9103

KAJIAN TEKNOLOGI REAKTOR KOGENERASI SEBAGAI PENDUKUNG ENERGI TERBARUKAN Oleh Piping Supriatna Pusat Teknologi Reaktor dan Keselamatan Nuklir - BATAN ABSTRAK KAJIAN TEKNOLOGI REAKTOR KOGENERASI SEBAGAI PENDUKUNG ENERGI TERBARUKAN. Kebutuhan energi listrik dunia semakin meningkat, ketersediaan energi tak terbarukan semakin menipis, populasi penduduk dunia terus bertambah, juga semakin parahnya kerusakan lingkungan alam akibat polusi dari penggunaan teknologi yang kurang bijaksana sulit untuk dihindari. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu terobosan baru dalam rekayasa dan pemanfaatan sumber energi secara efisien, efektif dan tepat guna. Dalam makalah ini dibahas kajian analisis penyelesaian masalah di atas berdasarkan perkembangan teknologi baru dalam rekayasa dan pemanfaatan energi, yang meliputi peningkatan efisiensi termal dari reaktor nuklir dan dukungan teknologi produksi hidrogen sebagai sumber energi yang terbarukan. Dari beberapa alternatif teknolgi reaktor yang ada, reaktor HTGR memberikan nilai efisiensi termal paling tinggi (45-50%?, dan dari berbagai alternatif proses untuk produksi hidrogen skala industri, proses I-S cycle, memberikan efisiensi produksi paling tinggi (47%). Berdasarkan kedua kepentingan tersebut di atas, maka teknologi reaktor kogenerasi merupakan pilihan untuk pembangkit-an energi listrik dan produksi hidrogen. Hasil analisis perbandingan dari beberapa jenis reaktor kogenerasi ternyata jenis GTHTR300C lebih efektif untuk produksi hidrogen dibandingkan yang lainnya. Reaktor ini dengan daya 600 MWth mampu untuk memproduksi hidrogen pada temperatur 850oC sebanyak 1.9 s.d. 2.4 ton per jam. Kata kunci: reaktor kogenerasi, energi terbarukan, lingkungan

ABSTRACT STUDY OF COGENERATION TECHNOLOGY REACTOR AS RENEWABLE ENERGY SUPPORT. Trend of electrical energy consumption of the world always increase, renewable energy resources decrease time by time, and damage of environment caused by unwise implementation technology is difficult to be avoided. To resolve this problem inovative technology must be implemented for using energy resource efficiently and effectively. In this report has been analyzed problem solving above, base on progress of new technology in engineering generation of energy, i.e. efficiency increassing of nuclear power and hydrogen production. HTGR gives highest efficiency (45%-50%) than the other, and the proses of I-S cycle is also gives highest production efficiency (47%) than other process. Base on both interest, the cogeneration reactor of GTHTR300C is the best choice for electric power and hidrogen production. Cogeneration Reactor of GTHTR300C by power on 600 MWth at 850 oC is able to produce hydrogen 1.9 up to 2.4 ton per hour.

Keywords: cogeneration reactor, renewable energy, environment


PENDAHULUAN Berbagai jenis pembangkit tenaga listrik diciptakan oleh para ahli untuk memenuhi kebutuhan energi listrik, namun muncul masalah lainnya akibat pemakaian energi secara global, seperti terus meningkatnya kebutuhan dunia akan energi khususnya untuk keperluan transportasi, terbatasnya persediaan energi terbarukan, dan semakin parahnya kerusakan lingkungan akibat polusi dari penggunaan energi yang tidak terkendali, sehingga temperatur bumi rata-rata meningkat terus (global warming) [1]. Dalam hal ini para ahli energi mencoba membuat terobosan baru dalam penciptaan sumber energi yang bersifat ramah lingkungan, terbarukan, portable, efektif dan efisien. Tujuannya tiada lain adalah untuk mengatasi krisis penyediaan energi dan menghindari dampak kerusakan lingkungan hidup akibat global warming. Salah satu alternatif diantaranya adalah dengan penggunaan gas hidrogen sebagai bahan bakar bentuk fuel-cell dan non fuel-cell (hydrogen-fuelled internal combustion engines and gas turbines)[2]. Bahan bakar gas hidrogen merupakan alternatif pilihan yang bijaksana sebagai sumber energi, karena bersifat ramah lingkungan, terbarukan, portable dan memiliki efisiensi tinggi (bisa mencapai 70% s.d. 80%) serta bahan dasar pembentuk gas hidrogen adalah air (H2O) yang persediaannya melimpah di dunia ini. Untuk mencapai tujuan tsb. di atas muncul permasalahan dalam hal produksi hidrogen dalam skala industri, untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar gas hidrogen bagi masyarakat luas. Produksi

Vol.12 No. 4 November 2008

117

Sigma Epsilon ISSN 0853-9103

hidrogen dalam skala industri lebih efektif dilakukan pada temperatur tinggi. (di atas 800oC), yang pengoperasiannya perlu didukung oleh teknologi reaktor kogenerasi yang merupakan pengembangan dari reaktor temperatur tinggi, yang memiliki temperature outlet sangat tinggi (950oC s.d. 1000 oC)[3]. Banyak cara untuk proses produksi hidrogen, tapi dari sekian banyak proses perlu dipilih proses produksi hidrogen yang memiliki efisiensi produksi tinggi dan memiliki kemampuan produksi dalam skala industri. Demikian pula dengan reaktor kogenerasi yang mendukung produksi dalam skala industri, ada beberapa jenis reaktor kogenerasi yang mampu memproduksi hidrogen dalam skala industri, yang dipilih adalah reaktor kogenerasi yang memiliki efisiensi produksi tinggi dan mampu memproduksi hidrogen dalam jumlah yang sangat besar (skala industri). Prosedur pemilihan proses produksi hidrogen yang paling tepat untuk dilakukan, dilaksanakan dengan membandingkan tingkat keefektifan dalam proses produksinya dengan beberapa proses produksi hidrogen lainnya. Demikian juga dengan pemilihan teknologi reaktor kogenerasi sebagai pendukung yang efektif untuk produksi hidrogen dalam skala industri, dilakukan dengan menggunakan metoda SWOT. METODOLOGI Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi studi literatur produksi hidrogen, teknologi reaktor pada umumnya dan teknologi reaktor kogenerasi, pemilihan sumber energi terbarukan dan teknologi produksi hidrogen untuk skala industri, dan juga pemilihan teknologi reaktor kogenerasi yang efektif untuk produksi hidrogen dalam skala industri, dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT. Kondisi awal dari analisis SWOT ini adalah keadaan dimana semakin meningkatnya kebutuhan energi listrik dunia, terbatasnya persediaan energi terbarukan, dan semakin parahnya kerusakan lingkungan. Hasil yang diharapkan dari analisis ini adalah terpenuhinya kebutuhan energi listrik dunia, dengan memanfaatkan teknologi yang dapat mendukung ketersediaan energi terbarukan dan teknologi ini lebih bersifat ramah terhadap lingkungan. TEORI Hidrogen sebagai bahan bakar Fuel-cell Fuel-cell dengan bahan bakar gas hidrogen yang perkembangan teknologi dan implementasinya paling diminati oleh konsumen di negara maju. Fuel-Cell merupakan sumber energi yang memiliki efisiensi relatif tinggi (50% - 70%?, nonpolutan, modular, portable, life time panjang,

bisa diisi ulang (rechargeable) dan tidak ada bagian yang bergerak (tidak mengalami kerusakan fisik). Berdasarkan tipe elektrolit yang digunakan, jenis fuel-cell terdiri dari Alkalin (KOH cair) fuel-cell, phosphoric acid fuel-cell, molten carbonate fuelcell, solid oxide fuel-cell dan Polymer ion Exchange Membrane (PEM) fuel-cell, dll[1]. Di negara maju (Amerika, Jepang, dll), penggunaan fuel-cell jenis ini sudah biasa digunakan untuk keperluan umum, seperti misalnya fuel-cell seukuran minivan beroperasi di berbagai rumah sakit dan tempat terpencil di Amerika, yang tidak terjangkau oleh jaringan listrik. Di masa yang akan datang penggunaan teknologi ini banyak diimplementasikan pada micro fuel-cell, yang bisa menampung lebih banyak energi dengan ukuran yang lebih kecil (untuk keperluan mobile device seperti untuk Personal Digital Assistant (PDA) secara umum, handphone, walkman, laptop, dll.) [4]. Sistem Pembuatan Gas Hidrogen Pembentukan gas hidrogen dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya adalah steam reforming, advance steam reforming, electrolysis, thermochemical water splitting dan sulfur-iodine cycle. Dari sekian banyak cara untuk memproduksi gas hidrogen, cara sulfur-iodine cycle (lihat Gambar 1) paling banyak mendapat perhatian para ahli, karena cara ini memiliki efisiensi produksi paling tinggi yaitu 47%. Tantangan yang dihadapi disini adalah : Proses harus dilaksanakan pada temperatur tinggi ( > 800oC ). Keseluruhan proses sebagai siklus terpadu sampai saat ini belum bisa dilaksanakan. Perhitungan ekonomi untuk sulfur-iodine cycle belum bisa dilaksanakan.

Gambar 1. Diagram proses sulfur- iodine cycle[2]

Sulfur-iodine cycle dapat memproduksi gas hidrogen dengan efisiensi 47%, dan jika produksi gas hidrogen ini bersamaan dengan pembangkitan listrik melalui reaktor temperatur sangat tinggi,

118

Vol.12 No. 4 November 2008

Sigma Epsilon ISSN 0853-9103

efisiensi produksi dapat mencapai 52%. Teknologi pembentukan gas hidrogen dengan cara sulfuriodine cycle sebagai siklus terpadu prosesnya cukup kompleks, yang terdiri dari : (1) pembentukan asam (H2SO4 dan HI) berikut daur ulangnya, (2) memisahkan/ mengkonsentrasikan H2SO4 dan mengurai-kannya, serta (3) memisahkan / konsentrasikan HI dan menguraikannya. Untuk lebih jelasnya diagram proses sulfur-iodine cycle dapat dilihat pada Gambar 1. Sistem Reaktor Kogenerasi Reaktor kogenerasi pada dasarnya merupakan reaktor temperatur tinggi (High Temperature Reactor / HTR), namun dalam pemanfaatan keluaran panas dari reaktor tidak hanya untuk pembangkitan tenaga listrik saja, melainkan juga untuk produksi hidrogen dan/atau desalinasi (produksi air bersih) dengan bahan dasar air laut. Konsep dasar fungsi dan aplikasinya dari reaktor kogenerasi dengan dapat dilihat pada Gambar 2. Desain dari reaktor generasi ke-4 (GenIV) merupakan jenis reaktor temperatur tinggi (HTR), ada yang berpendingin gas dan ada pula Tabel 1. Data spesifikasi reaktor generasi ke-4 (GEN-IV)[3]
Reaktor cepat berpendingin gas (GFR) Reaktor cepat berpendingin pb (LFR) Reaktor berpendingin garam leleh (MSR) Reaktor cepat ber-pendingin na (SFR) Reaktor berpendingin air superkritis (SCWR) Reaktor gas temperatur sangat tinggi (VHTR) Spektrum neutron Cepat Cepat Epitermal Cepat Termal / cepat Termal Pendingin helium Pb-Bi garam florida sodium air helium Temperatur ( oC ) 850 550 800 700 - 800 550 510 550 1000 Tekanan Tinggi Rendah Rendah Rendah tinggi Tinggi

yang berpendingin bukan gas, seperti dapat dilihat pada Tabel 1. Demikian juga dengan fungsi dan kegunaannya, ada yang merupakan reaktor kogenerasi, dan ada pula yang sebagai pembangkit tenaga listrik saja, seperti Sodium cooled Fast Reactor (SFR) dan Super Critical Water cooled Reactor (SCWR)[3].

Gambar 2. Konsep dasar reaktor kogenerasi

Bahan bakar U-238 U-238 Garam UF U-238 & MOx UO2 UO2 pris / pebbles

Daur bahan bakar tertutup di lok. PLTN tertutup di wilayahnya tertutup tertutup terbuka - t tertutup - c terbuka

Daya reaktor (MWe) 288 50 - 150 300 - 400, 1200 1000 150 - 500 500 - 1500 1500 250

Pembangkit / produksi listrik / hidrogen listrik / hidrogen listrik / hidrogen listrik listrik listrik / hidrogen

Gambar 3. reaktor kogenerasi dari GTHTR300C (Jepang)[5]

Vol.12 No. 4 November 2008

119

Sigma Epsilon ISSN 0853-9103

Contoh reaktor kogenerasi untuk pembangkitan tenaga listrik, produksi hidrogen dan desalinasi adalah GTHTR300C Jepang [5] (lihat gambar 3). Khusus untuk reaktor GEN-IV, hanya yang memiliki output thermal diatas 800oC yang memungkinkan untuk memproduksi gas hidrogen seperti yang terlihat pada Tabel 1, namun reaktor GEN-IV yang desainnya dedicated sebagai reaktor kogenerasi yang memproduksi gas hidrogen adalah VHTR. Raktor GTHTR300C yang dikembangkan oleh JAERI, merupakan hasil modifikasi dari High Temp. engineering Test Reactor (HTTR)[6], dan Gas Turbine-Modular High temperature Reactor (GT-MHR)[7]. Bentuk lain dari jenis reaktor ini yang khusus untuk electricity adalah GTHTR300. Karena sifatnya modular desain dari reaktor GTHTR300 (Gambar 4) bisa dimodifikasi menjadi GTHTR300C. Sebagai perbandingan dengan reaktor VHTR yang juga merupakan reaktor kogenerasi, dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Parameter reaktor untuk produksi hidrogen


Parameter Daya reaktor MWth Temepartur (in/out) oC Debit helium kg/sec Eff. instalasi netto % Produksi hidrogen ton/hour HTTR[6] 600 540 / 950 350 44 0.09 GTHTR300[5] 600 587 / 850 403-439 45 - 50 --GTHTR300C[5] 600 594 / 950 324 45.7 1.9-2.4 VHTR[3] 600 640 / 1000 320 + 50 13.13

Gambar 5. reaktor VHTR [3] PEMBAHASAN Banyak pilihan untuk menentukan teknologi yang diperlukan sebagai perangkat konversi energi, namun perangkat konversi energi ini harus memiliki kriteria ramah lingkungan, terbarukan, modular, portable dan memiliki efisiensi tinggi. Ternyata fuel cell khususnya untuk jenis PEM fuel cell yang menggunakan bahan dasar hidrogen adalah yang terbaik, yang memiliki efisiensi cukup tinggi (50-70%). Fuel cell dapat dibentuk menjadi pembangkit energi listrik yang memiliki rentang daya yang cukup lebar, sehingga sangat cocok untuk diterapkan pada industri kecil dan menengah, yang berlokasi di daerah terpencil yang tidak terjangkau oleh jaringan listrik PLN. Teknologi pendukung yang diperlukan untuk sumber energi terbarukan ini adalah teknologi yang mampu untuk memproduksi hidrogen dalam jumlah besar (skala industri). Seperti yang telah diterangkan sebelumnya bahwa dari sekian banyak cara untuk memproduksi gas hidrogen, cara sulfuriodine cycle adalah yang paling tepat, hanya dalam hal ini untuk memperoleh efisiensi produksi yang tinggi dalam proses ini memerlukan temperatur tinggi, seperti yang terlihat pada Gambar 1 proses pemisahan ini memerlukan temperatur minimal 830oC, semakin tinggi temperaturnya semakin baik efisiensi produksinya. Untuk memilih jenis reaktor kogenerasi yang tepat untuk produksi hidrogen, berdasarkan beberapa jenis reaktor kogenerasi yang dibandingkan, dilakukan dengan analisis SWOT pada Tabel 3.

Gambar 4. reaktor GTHTR300[5] VHTR merupakan langkah lanjutan dari pengembangan reaktor jenis HTGR. Reaktor jenis ini (VHTR) mampu memproduksi hidrogen hanya dari panas tinggi yang dihasilkan dengan bahan dasar air, melalui proses termokimia iodium-sulfur (I-S). Sistem VHTR (lihat Gambar 5) dengan daya 600 MWth mampu untuk memproduksi hidrogen (pada temperatur 850oC dan tekanan 3 atmosfir) lebih dari 2 juta m3 per hari[3] (setara dengan 13,127 ton/hari). VHTR juga dapat membangkitkan listrik dengan efisiensi lebih tinggi yaitu di atas 50% pada temperatur 1000oC, dibandingkan dengan GTMHR atau Pebble Bed Modular Reactor (PBMR) yang mampu membangkitkan listrik dengan efisiensi 47% pada temperatur 850oC. Sebagai reaktor kogenerasi, pembangkitan panas VHTR dapat dimanfaatkan pada pengilangan minyak, industri petrokimia, dan memproses minyak mentah dalam jumlah besar. Selain itu panas yang dihasilkan oleh teras reaktor nuklir dengan temperatur lebih dari 1000oC, dapat digunakan untuk keperluan proses pada pabrik baja, almunium oksida dan produksi almunium.

120

Vol.12 No. 4 November 2008

Sigma Epsilon ISSN 0853-9103

Tabel 3. Analisis SWOT reaktor kogenerasi[5]


Analisis SWOT Strength HTTR[6] Outlet temp. 950oC eff. 44% ; pilot stage Tidak modular. produksi hidrogen 0.09 ton/hour Peningkat kuantitas pengujian Tingkat keamanan GTHTR300C Outlet temp. 950oC. eff. 45.7% ; modular produksi hidrogen 1.9-2.4 ton/hour Tahap desain Peningkat efisiensi dan produktivitas hidrogen Tingkat keamanan

VHTR[3] Outlet temp. 1000oC. eff. 50% produksi hidrogen 13.13 ton/hari Tidak modular, (ku-rang ekonomis untuk investasi pembangun-annya), baru tahap desain. Peningkat efisiensi dan produktivitas hidrogen Tingkat keamanan

Weakness Opportunity Threat

Temperatur tinggi yang diperlukan bisa diperoleh dari reaktor kogenerasi, yang mampu untuk pembangkitan tenaga listrik, produksi Hidrogen dan desalinasi. Jenis reaktor kogenerasi yang cocok untuk memproduksi hidrogen dalam skala industri adalah GTHTR300C, yang mampu memproduksi hidrogen sebesar 2,4 ton per jam. Produksi hidrogen dalam skala industri inilah yang merupakan kunci keberhasilan dalam membentuk dan memanfaatkan energi terbarukan yang ramah lingkungan. Untuk lebih memastikan kelebihan GTHTR300C sebagai reaktor kogenerasi yang cocok untuk produksi hidrogen dalam skala industri, berdasarkan analisis SWOT, sebagai berikut : Strength GTHTR300C merupakan reaktor dari jenis HTR (High Temperatur Reactor) dengan pendingin gas helium, yang memiliki efisiensi termal cukup tinggi (sekitar 40% s.d. 50%). Reaktor ini juga merupakan hasil pengembangan dari GT-MHR yang bersifat modular, sehingga untuk pembangunannya bisa dilakukan secara bertahap (lebih meringankan dari segi ekonomi/investasi), sesuai dengan modul kogenerasi yang diprioritaskan. Dari beberapa jenis reaktor kogenerasi (lihat tabel 3), maka GTHTR300C memliki kemampuan produksi hidrogen lebih besar dibandingkan yang lainnya, yaitu mampu memproduksi hidrogen sebesar 2,4 ton per jam. Weakness Kelemahan yang ada dari desain reaktor kogenerasi ini adalah diatas kertas memang terlihat sangat menjanjikan, namun dalam pelaksanaannya masih terbentur sulitnya pekerjaan produksi hidrogen dalam bentuk siklus I-S, sulitnya sistem pemisahan gas hidrogen dari unsur lainnya yang pekerjaannnya melibatkan teknologi membran, dll. Opportunity Dalam menyongsong kebutuhan tenaga listrik dunia yang semakin meningkat, dan kecenderungan penggunaan energi terbarukan merupakan pilihan utama, maka pengoperasian reaktor kogenerasi GTHTR300C dengan efisiensi produksi sekitar 80%, memproduksi hidrogen

sebanyak 2,4 ton per jam untuk setiap unitnya, sangat mendukung penggunaan energi terbarukan yang dibutuhkan oleh para konsumen energi listrik. Threat GTHTR300C sebagai jenis reaktor temperatur tinggi, memerlukan tingkat keamanan yang lebih baik dibandingkan jenis reaktor generasi-III, baik dalam hal teknologi pendinginan maupun penyekatan panas keluaran dari reaktor. Demikian juga masalah sistem pendingin reaktor dalam bentuk gas helium, yang memerlukan teknik transfer panas khusus yaitu dengan siklus Brayton. Dalam analisis SWOT dua strategi digunakan untuk mengatasi keadaan dimana semakin meningkatnya kebutuhan energi listrik dunia, terbatasnya persediaan energi terbarukan, dan semakin parahnya kerusakan lingkungan. Hasil yang diharapkan dari analisis ini adalah terpenuhinya kebutuhan energi listrik dunia, dengan memanfaatkan teknologi yang dapat mendukung ketersediaan energi terbarukan dan teknologi ini lebih bersifat ramah terhadap lingkungan. Strategi pertama diambil dari kuadran (W-T), yaitu untuk mengatasi permasalahan yang muncul pada weakness dan strength pada analisis SWOT di atas. Hal ini bisa diselesaikan dengan menerapkan seutuhnya konsep desain reaktor nuklir generasiIV, yang diimplementasikan pada pembangunan reaktor kogenerasi GTHTR300C. Adapun kriteria desain reaktor nuklir kogenerasi ini adalah:

Sustainability yang menyangkut resources input, dan nonproliferation. wastes output Keberlanjutan eksistensi sistem PLTN supaya tetap bisa beroperasi secara normal dalam jangka panjang, sedikit limbah radioaktif dan berumur pendek dan ramah lingkungan. Daur ulang limbah dilakukan langsung di dalam sistem PLTN. Safety & reliability yang menyangkut excellence, core damage dan emergency response. Keamanan dan keandalan dalam pengoperasian PLTN supaya berjalan secara sempuna (error free), dengan menerapkan peraturan yang ketat untuk menghindari terjadinya kegagalan akibat human error, dan penerapan teknologi expert

Vol.12 No. 4 November 2008

121

Sigma Epsilon ISSN 0853-9103

system untuk menghindari terjadinya kegagalan akibat design error. Perbaikan desain teras reaktor untuk menekan probabilitas kerusakan teras pada saat reaktor beroperasi. Economics yang menyangkut life cycle cost dan risk to capital. Biaya operasional dan biaya perawatan secara ekonomi harus lebih kompetitif, dan resiko finansial harus lebih kecil jika dibandingkan dengan teknologi pembangkit listrik lainnya[3].
Strategi kedua diambil dari kuadran (S-O), yaitu untuk memanfaatkan kelebihan yang ada pada aspek internal dan eksternal dari desain GTHTR300C yaitu strength dan opportunity pada analisis SWOT di atas. Reaktor ini memiliki kelebihan dari segi efisiensi produksi cukup tinggi (79%) yang diproyeksikan di masa mendatang efisiensi produksi reaktor ini bisa mendekati 100%. Reaktor GTHTR300C yang bersifat modular memungkinkan pembangunan reaktor ini bisa dilakukan secara bertahap, sehingga lebih meringankan dari segi investasi ekonomi. Selain itu reaktor jenis ini juga memiliki kemampuan produksi hidrogen paling tinggi dibandingkan dengan dengan jenis reaktor kogenerasi lainnya yaitu sebesar 2,4 ton per jam. Semakin meningkatnya kebutuhan energi listrik dunia dan semakin terbatasnya persediaan energi terbarukan, maka jelaslah bahwa pembangunan reaktor GTHTR300C sebagai pendukung energi terbarukan, perlu mendapat dukungan baik dari segi litbang maupun investasi, dari semua pihak yang terkait demi meningkatkan kesejahteraan dan kenyamanan hidup bagi semua umat manusia di muka bumi ini. KESIMPULAN Banyak faktor dalam mengambil kebijaksanaan pemakaian energi, di antaranya adalah yang mendukung keberlanjutan kehidupan dan kesejahteraan umat manusia, kebijaksanaan ini diantaranya adalah sumber energi harus bersifat ramah lingkungan, terbarukan, dan untuk kebutuhan energi transportasi dan mobile activity harus bersifat portable dan memiliki efisiensi tinggi. Dari semua alternatif pilihan teknologi yang ada maka fuel cell dengan bahan bakar hidrogen adalah yang terbaik sebagai sumber energi

terbarukan, yang dapat digunakan oleh masyarakat secara masal. Memerlukan pasokan bahan bakar hidrogen secara besar-besaran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pengguna fuel cell, secara berkelanjutan sebagaimana halnya pasokan bahan bakar minyak (BBM) saat ini. Hidrogen sebagai bahan bakar fuell cell harus bisa diproduksi secara besar-besaran untuk memenuhi kebutuhan pemakaiannya. Produksi hidrogen dalam skala industri sangat tepat dilakukan dengan cara sulfur-iodine cycle yang didukung oleh reaktor generasi yang mampu untuk menghasilkan temperatur tinggi sampai 9501000oC. Berdasarkan hasil analisis diperoleh reaktor generasi yang paling efektif untuk produksi hidrogen adalah dari jenis GTHTR300C hasil pengembangan oleh JAERI Jepang, yang mampu memproduksi hidrogen sampai 2,4 ton per jam. DAFTAR PUSTAKA 1. 2. ANONYMOUS, Teknologi Fuel Cell, Konsorsium Fuel Cell Indonesia, Jakarta, 2005. SCHULTZ, K., Thermochemical Production of Hydrogen from Solar and Nuclear Energy, Presentation to the Stanford Global Climate and Energy Project, General Atomics, San Diego CA, 14 April 2003. ANONYMOUS, A Technology Roadmap for Generation-IV Nuclear Energy System, GIF002-00, December 2002. http://europa.eu.int/comm/research/energy/fu/f u_cpa/article_1238_en.htm, Agustus 2005. KUNITOMI, K. et.al, GTHTR300C for Hydrogen Cogeneration, Department of Advanced Nuclear Heat Technology, Oarai Research Establishment, JAERI, September 2004. SAKABA, N. et.al, Hydrogen production by thermochemical water-splitting IS process utilizing heat from high-temperature reactor HTTR, HTGR Cogeneration Design and assessment Group, Oarai, Higashiibaraki, Ibaraki, 311-1393, Japan, June 2006. LABAR, MP., The Gas Turbine-Modular Helium Reactor, General Atomics, 3550 General Atomics Court, San Diego, CA 921211122, April 2002.

3. 4. 5.

6.

7.

122

Vol.12 No. 4 November 2008

Anda mungkin juga menyukai